1
PERSONAL BRANDING CALEG DPRD PEREMPUAN KOTA MEDAN (Studi Kualitatif Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan)
Nurbani, Yasmin Nabilah Faisal
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Personal Branding Caleg DPRD Perempuan Kota Medan” (Studi Kualitatif Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan). Penelitian ini bertujuan untuk. Untuk mendeskripsikan Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan dan Melihat keterwakilan perempuan dalam politik khususnya di DPRD Kota Medan. Teori yang menjadi pendukung dalam penelitian ini antara lain Komunikasi Politik, Personal Branding, dan Teori Marketing Mix Dalam Politik. Personal Branding adalah proses mengelola image dan persepsi publik terhadap caleg perempuan DPRD Kota Medan dilihat berdasarkan delapan konsep utama personal branding (the eight laws of personal branding) dan karakteristik personal branding yang kuat (khas, relevan, dan konsisten). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan data-data sekunder yang bersumber dari in-depth interview dengan keempat informan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian, personal branding caleg DPRD Kota Medan Periode 2019-2024 memenuhi keseluruhan konsep-konsep utama personal branding dan karakteristik sebuah personal brand yang kuat dan juga sudah diuji keabsahan datanya melalui beberapa sumber baik itu dalam bentuk dokumentasi maupun dari sumber lain, sumber lain dalam penelitian ini melalui pandangan dari sosok pengamat politik di Kota Medan.
Kata Kunci : Komunikasi Politik, Personal Branding, Caleg Perempuan, Pemilu.
PENDAHULUAN Konteks Masalah
Peran gender dalam masyarakat saat ini masih menyebabkan subordinasi terhadap perempuan terutama dalam pekerjaan. Anggapan bahwa perempuan tidak bisa tampil sebagai pemimpin, menimbulkan akibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang kurang penting. Isu keterwakilan perempuan dalam dunia politik merupakan soal yang akan terus mewarnai ranah politik di belahan dunia manapun. Selama ini, ada kesan bahwa dunia politik adalah dunia laki-laki. Kesan ini muncul karena adanya image yang menggambarkan kehidupan politik, bahwa politik itu kotor, keras, penuh intik atau semacamnya. Akibatnya, dibelahan dunia manapun jumlah wanita yang terjun dunia politik relatif kecil, termasuk di negara-negara yang tingkat demokrasi dan persamaan hak asasinya yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan
2
permasalahan perempuan dan politik masih menjadi tema penting dalam perhelatan demokrasi.
Ada begitu banyak persoalan yang selalu dihadapi oleh kaum perempuan, seperti kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan/diskriminasi sering disebut-sebut sebagai persoalan krusial yang dialami kaum perempuan dari masa ke masa. Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan tidak teratasinya berbagai persoalan yang terjadi pada perempuan. Salah satunya adalah berbagai kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan kaum perempuan. Kebijakan yang dihasilkan oleh para pengambil kebijakan terkadang tidak mengakomodir kepentingan perempuan. Untuk itu kaum perempuan perlu mengambil bagian bahkan menjadi sebuah keharusan untuk berpolitik. Karena hanya dengan berpolitiklah kaum perempuan dapat campur tangan dalam berbagai kebijakan yang ada, hanya dengan berpolitik saja kaum perempuan dapat ikut merumuskan kebijakan yang proporsional, hanya dengan berpolitiklah kepentingan kaum perempuan dapat diakomodir dengan baik melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.
Khusus keterlibatan perempuan dalam politik pada era reformasi menemukan momentumnya ketika pada tanggal 18 Februari 2013, DPR mengesahkan UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD, dimana salah satu klausul yang dianggap progresif sekaligus kontroversial adalah dicantumkannya “kuota 30 persen perempuan” dalam nominasi calon legislatif di berbagai tingkatan, yang tercantum dalam pasal 65 ayat (1).
Masuknya perempuan ke dalam sektor publik diharapkan dapat menjadi kekuatan penekan sekaligus eksekutor dalam isu – isu publik khususnya yang menyangkut hajat hidup perempuan, partisipasi perempuan di parlemen juga membersitkan secercah harapan, dimana perempuan dapat mengelimanasi kebijakan publik. Suatu kesadaran baru yang selama ini cenderung bercorak maskulin. Yang perlu ditekankan adalah kaum perempuan ingin mengambil bagian dalam bidang politik karena didasari oleh suatu dalil bahwa melalui bidang politiklah segala kebijakan yang bersentuhan dengan masalah publik dapat dibuat secara proporsional.Secara implicit bermakna perempuan harus mengubah tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara melalui partisipasi dalam pembuatan kebijakan public.
Pada pemilu 2019-2024 di Kota Medan dari 729 bakal calon legislatif yang diusung oleh 20 partai politik, terpilih 7 calon legislatif perempuan yang menjadi anggota legislatif. Dari 7 orang calon legislatif yang terpilih, terdapat 2 orang perempuan yang juga terpilih menjadi anggota legislatif yang pernah lolos pada pemilihan umum legislatif 2014 yaitu Dame Duma Sari Hutagalung (Partai Gerindra) dan Modesta Marpaung, Amkeb, Skm (Partai Golkar). Berikut adalah nama caleg perermpuan Kota Medan yang menang pada pemilihan umum 2019-2024 :
1.1 Tabel Data Caleg Pe rempuan DPRD Kota Medan Terpilih Periode 2019-2024
Nama Asal Partai No
Urut
Dapil Jumlah
Suara Netty Yuniati
Siregar Partai Gerindra
3 Modesta Marpaung,
Amkeb, Skm Partai Golkar
5 3 6.622 Suara
Dame Duma Sari
Hutagalung Partai Gerindra
2 1 5.250 Suara Margaret MS Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 2 2 8.737 Suara Dhiayul Hayati, S.Ag, M.Pd Partai Keadilan Sejahtera 1 5 8.843 Suara
Siti Suciati, SH Partai Gerindra 3 2 5.318 Suara Sumber : Hasil Penelitian
Peneliti juga melihat fakta ketertinggalan perempuan dalam politik di Indonesia, khususnya di Kota Medan pertama-tama bukan karena sistem politik yang menghalangi mereka, melainkan nilai-nilai yang dihayati dalam kebudayaan, tidak memungkinkan dan mendorong perempuan untuk berani terlibat dalam dunia politik. Karena itu, strategi yang tepat untuk mengatasi ketertinggalan perempuan dalam politik adalah membangkitkan kesadaran masyarakat terutama masyarakat yang berjenis kelamin perempuan untuk mendukung caleg perempuan mengambil bagian dalam pemilihan umum yaitu perlu menghancurkan pemahaman masyarakat yang selalu menganggap laki-laki lebih unggul dalam segala hal. Karena pembentukan pemahaman itu terjadi dalam proses kebudayaan, maka jalan yang sesuai untuk itu adalah jalan kebudayaan.
Berdasarkan konteks masalah diatas, peneliti tertarik untuk meneliti caleg perempuan terkait dengan personal brandingnya sehingga dari sekian caleg perempuan yang ikut pemilu hanya 7 orang anggota legislatif yang berhasil memenangkan pemilihan umum legislatif tahun 2014 di Kota Medan. Berdasarkan fakta ketertinggalan perempuan dalam dunia politik di Indonesia, khususnya di Kota Medan dalam Pemilihan Umum pada tanggal 17 April 2019, peneliti tertarik meneliti Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan
Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan?”
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan Personal Branding Calon Legislatif Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan
2. Melihat keterwakilan perempuan dalam politik khususnya di DPRD Kota Medan
KAJIAN PUSTAKA
Paradigma diartikan sebagai kumpulan longgar tentang asumsi secara logis dianut bersama konsep, atau preposisi yang mengarahkan cara berfikir dan cara
4
penelitian (Moleong, 2010:14). Melakukan suatu penelitian pasti memerlukan paradigma, dimana sebuah paradigma dijadikan sebagai kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap sesuatu kehidupan sosial. Paradigma juga merupakan inti dari penelitian. paradigma memiliki posisi dan kedudukan yang kuat dalam ilmu pengetahuan, namun paradigma dapat mengalami perubahan sesuai kemajuan pengetahuan dan kepentingan praktis masyarakat. Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu pertimbangan ekstensial atau epitemologis yang panjang (Mulyana, 2003 : 9). Paradigma dalam penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami semua masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian.
Kajian Teori
1. Personal Branding
Personal Branding adalah proses dimana manusia dipandang dan dinilai sebagai sebuah brand oleh target market. Personal branding juga merupakan seni menarik lebih banyak klien dengan secara aktif membentuk persepsi publik. Dikatakan bahwa manusia dapat mengendalikan cara bagaimana manusia itu sendiri dipersepsikan oleh target market. (Rampersad, 2009 : 67).
Konsep Utama Personal Branding
Peter Montoya (2002 : 57-141) menyatakan bahwa ada delapan hal berikut adalah konsep utama yang dapat dijadikan acuan dalam membangun suatu personal branding seseorang, yaitu :
1. Spesialisasi (The Law of Specialization)
Montoya menyebut bahwa personal brand yang baik layaknya sinar laser, yakni terfokus dan bersinar intens pada satu area kecil. Sebuah personal brand harus terkonsentrasi pada kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu.
2. Kepemimpinan (The Law of Leadership)
Menurut Montoya, pada dasarnya orang ingin dipengaruhi. Mereka menginginkan sosok pemimpin, yakni seseorang yang dapat menghilangkan rasa ketidakpastian dan menawarkan mereka kejelasan. Membentuk unsur kepemimpinan tidak berarti individu harus menjadi yang terbaik dalam semua bidang. Kepemimpinan dapat dibentuk melalui keunggulan (dipandang sebagai seorang ahli dalam bidang tertentu), posisi (memiliki posisi penting), atau pengakuan (misalnya, melalui penghargaan atas pencapaian tertentu). 3. Kepribadian (The Law of Personality)
Personal branding yang baik menggambarkan kepribadian individu dalam segala aspek, artinya bukan hanya kelebihan atau kesempurnaan, tetapi juga ketidaksempurnaan individu tersebut karena orang lain justru menyukai sosok yang apa adanya, yaitu yang memiliki kelemahan seperti selayaknya seorang manusia.
4. Perbedaan (The Law of Distinctiveness)
Sebuah personal brand yang efektif perlu memiliki kesan yang kuat dengan menjadi berbeda dari orang lain di dalam bidang atau bisnis yang sama.
5
5. Kenampakan (The Law of Visibility)
Untuk menjadi sukses, personal brand harus terlihat secara konsisten atau terus-menerus hingga personal brand orang tersebut dikenal. Hal ini karena kenampakan lebih penting dibandingkan keahlian.
6. Kesatuan (The Law of Unity)
Realita kehidupan pribadi seseorang harus sejalan dengan nilai dan perilaku yang telah ditentukan dari personal brand yang dibangun. 7. Keteguhan (The Law of Persistence)
Karena membentuk personal brand memerlukan waktu yang lama, individu harus memiliki keteguhan terhadap personal brand awal yang telah dibentuk, tanpa ragu atau ingin mengubahnya.
8. Maksud baik (The Law of Goodwill)
Pengaruh sebuah personal brand akan lebih besar apabila individu tersebut dipersepsikan secara positif.
Karakteristik Personal Branding
McNally dan Speak (dalam Imawati, 2016: 179) menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam merancang personal brand yang kuat, yakni sebagai berikut :
a. Khas, yakni personal brand yang tidak hanya berbeda, tetapi merupakan cerminan dari ide-ide dan nilai-nilai dalam diri Anda yang membentuk kekhasan Anda.
b. Relevan, yakni apa yang diwakili oleh personal brand tersebut relevan dengan apa yang dianggap penting atau dibutuhkan oleh orang lain. c. Konsisten, yakni menjalankan personal brand yang dirancang secara
terus-menerus sehingga audiens dapat mengidentifikasi personal brand Anda dengan mudah dan jelas.
Menurut McNally (dalam Imawati, 2016: 179) ketika personal brand yang dirancang memiliki kekhasan atau perbedaan, relevan, dan konsisten, maka audiens akan mulai melihat dan memahami personal brand tersebut. Jelas terlihat ada banyak keuntungan pada diri kita jika memiliki personal branding yang kuat sebab hal tersebut mampu mempengaruhi persepsi orang dalam melihat dan menilai kualitas yang dimiliki diri sendiri, serta mampu menciptakan identitas diri yang mudah diingat oleh orang lain, membuat prospek diri kita yang menjadi satu-satunya jalan keluar bagi masalah mereka, dan yang paling penting personal branding mampu memposisikan diri berada diatas dalam persaingan sehingga membuat diri kita unik dan lebih baik ketimbang pesaing lain.
METODOLOGI PENELITIAN
Menurut Krisyantono (2006 : 66) metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, maksudnya metode ini adalah metode penelitian yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang biasa digunakan untuk meneliti, menguraikan dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai
6
fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat,model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu (Bungin, 2007: 68).
Penelaah berbagai sumber data ini membutuhkan berbagai macam instrumen pengumpulan data. Karena itu, peneliti dapat menggunakan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi-dokumentasi, kuesioner (hasil survei), rekaman, bukti-bukti fisik, dan sebagainya.
Berdasarkan beberapa pendapat teori diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang memfokuskan pada masalah yang terjadi di lapangan yang ditemukan langsung oleh peneliti.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2.1 Personal Branding Calon Legislatif Pe rempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan
1. Analisis Konsep Utama Personal Branding
Montoya (2002) mengusulkan delapan konsep utama untuk personal branding, yakni spesialisasi (the law of specialization), kepemimpinan (the law of leadership), kepribadian (the law of personality), perbedaan (the law of distinctiveness), kenampakan (the law of visibility), kesatuan (the law of unity), keteguhan (the law of persistence), dan maksud baik (the law of goodwill). Analisis delapan konsep utama dalam personal brand yang dimiliki oleh keempat informan dalam penelitian ini adalah :
a) Personal Branding yang terbentuk pada Dame Duma Sari Hutagalung, S.E
Dari 8 konsep utama yang diusulkan oleh Montoya, peneliti menganalisis bahwasanya ibu Dhiya memiliki 8 konsep utama dalam pembentukan personal branding, diantaranya :
Spesialisasi
Ibu Duma Ibu Duma memiliki ciri khas dalam membentuk brand beliau yaitu dalam akun sosial media.
Kepemimpinan
Beliau sangat sering turun ke lapangan dan berjumpa langsung dengan masyarakat untuk berinteraksi sehingga masyarakat yakin untuk memilih ibu Duma yang memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup baik.
Kepribadian
Ramah, humble, dan sopan kepada setiap orang. Perbedaan
Beliau akan terlihat seperti orang yang serius, menjaga image yang sudah melekat pada dirinya. Ibu Duma tampil berbeda, Ibu Duma adalah orang yang humanis, ramah sehingga cepat lebih akrab dengan masyarakat jika bertatap muka langsung dengannya.
Terlihat
Brand yang sering terlihat bukan hanya menampilkan karakter diri. Cara berpakaian Ibu Duma yang elegan, glamour, dan stylish merupakan ciri khas dari ibu Duma.
7 Kesatuan
Citra diri yang dibangun ibu Duma sesuai dengan karakter diri dari beliau dalam kehidupannya sehari-hari yaitu ramah, dan humanis.
Keteguhan
Menampilkan keteguhan ibu Duma terhadap bentuk personal branding berupa janji-janji program yang telah dibangun sejak awal saat kampanye seperti mendirikan Rumah Aspirasi yang gunanya untuk membantu mengatasi masyarakat Kota Medan dalam mengatasi permasalahan seperti pengurusan BPJS, akte lahir, akte nikah dan sebagainya.
Maksud baik
Dalam proses wawancara yang dilakukan dengan Ibu Duma adalah peneliti melihat bahwa sosok Ibu Duma sudah mendapat kesan dari masyarakat terkhusus daerah pemilihannya dan dipersepsikan sebagai sosok yang baik karena melihat apa yang sudah dilakukannya sewaktu kampanye maupun kehidupannya sehari-hari sebelum ia mencaleg sehingga menciptakan kesan dalam benak masyarakat.
b) Personal Branding yang terbentuk pada Ibu Dhiyaul Hayati, S.Ag, M.Pd
Dari 8 konsep utama yang diusulkan oleh Montoya, peneliti menganalisis bahwasanya ibu Dhiya memiliki 7 konsep utama dalam pembentukan personal branding, diantaranya :
Spesialisasi
Ibu Dhiya memiliki ciri khas dalam membentuk brand beliau melalui postingan akun sosial medianya.
Kepemimpinan
Pencapaian Ibu Dhiya selama menjadi anggota PKS dan saat ini menjadi bendahara umum PKS yang sudah mengalami pelatihan pengkaderan semasa mudanya, dan menjadi acuan peneliti untuk menilai bahwa Ibu Dhiya adalah sosok perempuan yang punya jiwa kepemimpinan yang bisa diandalkan masyarakat terkhusus pada dapilnya. Beliau mengelola PAUD Cinta Ummi di Ladang Bambu, Medan Tuntungan.
Kepribadian
Ramah, murah senyum, dan sopan Terlihat
Brand yang sering terlihat bukan hanya menampilkan karakter diri. Cara berpakaian Ibu Dhiya juga memiliki arti dan tujuan branding pada beliau. Cara berpakaian yang simple dan sederhana menjadi ciri khas yang mudah dikenali dan diingat oleh masyarakat.
Kesatuan
Kepribadian Ibu Dhiya yang ditampilkan dalam akun facebook -nya dan kehidupan dalam bermasyarakat sesuai dengan karakter Ibu Dhiya yang muslimah, humble, dan humanis.
Keteguhan
Personal brand agar tetap tumbuh dan semakin kuat adalah dengan tetap seperti apa yang telah Ibu Dhiya tuangkan dalam postingan di facebook -nya,
8
yaitu dalam memposting status pendidikan politik lewat akun facebook maupun dalam aksi bersosialisasi atau turun ke masyarakat.
Maksud baik
Dalam proses wawancara yang dilakukan dengan Ibu Dhiya adalah peneliti melihat bahwa sosok Ibu Dhiya sudah mendapat kesan dari masyarakat terkhusus daerah pemilihannya dan dipersepsikan sebagai sosok yang baik karena melihat apa yang sudah dilakukannya sewaktu kampanye maupun kehidupannya sehari-hari sebelum ia mencaleg sehingga menciptakan kesan dalam benak masyarakat
c) Personal Branding yang terbentuk pada Ibu Margaret MS
Dari 8 konsep utama yang diusulkan oleh Montoya, peneliti menganalisis bahwasanya ibu Dhiya memiliki 7 konsep utama dalam pembentukan personal branding, diantaranya :
Spesialisasi
Ibu Margaret adalah wiraswasta bersuku batak asli Kepemimpinan
Sikap yang baik dan humble sehingga masyarakat terkhusus di dapilnya yakin bahwa Ibu Margaret bisa memimpin masyarakatnya lebih baik lagi.
Kepribadian
Ramah, toleransi, dan sopan. Perbedaan
Ibu Margaret melakukan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya khususnya di dapilnya dalam pengurusan KIS dan KIP.
Terlihat
Ibu Margaret selalu tampil sebagai seorang yang mau berkerja keras dan aktif. Kesatuan
Dengan basic sebagai bidan, ibu Margaret menyesuaikan basicnya dengan program-program yang dilakukan selama kampanye, seperti pengurusan KIS dan KIP.
Keteguhan
Hidup dengan berpatokan pada ideologi partainya yaitu ideologi Pancasila. d) Personal Branding yang terbentuk pada Ibu Siti Suciati, S.H
Dari 8 konsep utama yang diusulkan oleh Montoya, peneliti menganalisis bahwasanya ibu Dhiya memiliki 2 konsep utama dalam pembentukan personal branding, diantaranya :
Kepribadian
Ramah, humble, dan apa adanya dan tidak melihat faktor kedudukan seseorang dapat dilihat hasil wawancara yaitu beliau mau turun ke masyarakat kalangan bawah dan pesisir pantai.
Terlihat
Ibu Uci selalu tampil sebagai seorang yang lembut dalam bertutur kata dan pribadi yang tenang. Brand yang sering terlihat dari Ibu Uci adalah dari cara berpakaian. Cara berpakaian Ibu Uci yang stylish, glamour, dan elegant merupakan ciri khas Ibu Uci yang diamati oleh peneliti.
9 2. Analisis Karakteristik Personal Brand :
Menurut McNally (2012), personal brand yang kuat memiliki karakteristik khas, relevan dan konsisten. Analisis karakteristik personal brand dari 4 informan caleg perempuan dalam memenangkan pemilu legislatif periode 2019-2024 di DPRD Kota Medan ialah sebagai berikut :
Informan I (Dhiyaul Hayati, S.Ag, M.Pd) :
a. Khas, ibu Dhiya mempunyai program kerja yang dijanjikan yaitu : pemberdayaan ekonomi masyarakat berupa peningkatan ekonomi masyarakat, mengadvokasi masyarakat yang merasa kesulitan dalam mendapatkan hukum dasarnya KTP, kartu keluarga, BPJS dan “Maghrib Mengaji”. Masyarakat secara keseluruhan merasakan kualitas nilai-nilai yang ada pada diri ibu Dhiya. Sebagai perempuan, ibu Dhiya juga layak menjadi pemimpin untuk Kota Medan dikarenakan ibu Dhiya terkesan orang yang memiliki pendirian tetap dan pantang menyerah. Dilihat dari sisi penampilan, ibu Dhiya yang selalu tampil di ranah publik dengan apa adanya, sederhana, tidak bermegah, low profile, dan tertutup untuk menjaga harkat dan martabat sebagai perempuan.
b. Relevan, sebuah keuntungan atau kerugian bergantung output atau hasil kinerjanya ibu Dhiya. Secara keseluruhan, masyarakat senang ketika ibu Dhiya menggunakan aktivitas agama seperti pengajian, perwiritan sebagai pendekatan untuk mencari dukungan suara politik. Hal tersebut dikarenakan ibu Dhiya memang merupakan pribadi yang komunikatif dan pendekatannya dengan masyarakat yang sama dengan latar belakang sebagai anggota PKS yang mana ideologi dari partai tersebut adalah ideologi islam, serta pendukung ibu Dhiya adalah mayoritas yang beragama islam.
c. Konsisten, pada aspek ini memperlihatkan apa yang telah dilakukan dan diperjuangkan oleh ibu Dhiya dalam politik sangatlah konsisten. Hal ini dikarenakan latar belakang ibu Dhiya yang pernah menjadi anggota dewan pada tahun 2004-2009 selalu melakukan kampanye politik guna memperoleh dukungan suara dari masyarakat dengan strategi direct selling door to door dan berkumpul dengan masyarakat.
Informan II (Margaret MS) :
a. Khas, ibu Margaret tidak pernah menyebarkan program yang dijanjikan kepada masyarakat. Masyarakat secara keseluruhan merasakan nilai-nilai yang ada pada diri ibu Margaret. Sebagai perempuan diumur yang terbilang masih muda, ibu Margaret layak menjadi pemimpin untuk Kota Medan terkhusus pada dapilnya dikarenakan ibu Margaret masih memiliki jiwa muda yang aktif dan kokoh berdiri tanpa ada gesekan-gesekan calon legislatif sekitarnya yang lebih unggul. Dilihat dari sisi penampilan, ibu Margaret yang selalu tampil di masyarakat dengan apa adanya dan sederhana.
b. Relevan, secara keseluruhan ibu Margaret menggunakan aktivitas kampanyenya sesuai dengan latar belakang yang dimilikinya. Beliau adalah seorang bidan, ibu Margaret lebih memusatkan perhatiannya dalam mengurus segala kebutuhan masyarakat khususnya dalam persoalan kesehatan. Hal inilah yang mempunyai daya tarik masyarakat dalam memilih ibu Margaret
10
yang lebih menunjukkan bukti nyata daripada program-program yang dijanjikan.
c. Konsisten, pada aspek ini memperlihatkan kegiatan ibu Margaret selama mencaleg sangatlah konsisten dalam hal kesehatan dan pendidikan. Ibu Margaret mencari dukungan masyarakat dengan melakukan hal yang berbeda dengan informan lainnya. Ibu Margaret lebih aktif mempraktikkan dalam pengurusan kartu kesehatan. Tak lupa juga beliau kampanye melakukan pendekatan dengan masyarakat kerumah-rumah untuk membrandingkan diri beliau.
Informan III (Siti Suciati, S.H) :
a. Khas, berdasarkan hasil analisis pada karakteristik khas ini dapat disimpulkan bahwa kekhasan/keunikan caleg ibu Uci dari sisi basic yaitu dulunya caleg Uci merupakan seorang lulusan S1 Hukum UISU dan memiliki brand dari sisi pekerjaan yaitu wiraswasta, hal ini membuat beliau memiliki keunikan tersendiri, dimana beliau masuk ke dunia bisnis dan politik. Di samping itu juga, beliau memiliki keunikan dari sisi pengalaman organisasi, yaitu ia pernah menjadi anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Kantor Dewan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI Sumut) dan menjabat sebagai bendahara, GINSI (Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia) Sumatera Utara menjabat sebagai sekretaris, dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kota Medan menjabat sebagai wakil ketua 1, hal ini yang membuat brand ibu Uci berbeda dengan caleg lainnya dalam hal keaktifan organisasi. Dalam kehidupannya pada saat ia menjadi caleg, beliau juga sering terjun ke masyarakat terutama ke pesisir pantai untuk mendengarkan suka-duka masyarakat.
b. Relevan, berdasarkan hasil analisis terhadap data relevan, dapat disimpulkan bahwa dari sisi citra caleg ibu Uci merupakan seorang yang ramah dengan siapa saja terutama di daerah pemilihannya dan terkhususnya di daerah pemilihan Medan Marelan. Citra ini sangat berpengaruh bagi ibu Uci dalam memenangi pemilihan umum legislatif. Selain itu, informan ini juga didukung oleh tim sukses yang berasal dari keluarga, kalangan bawah seperti penjual bakso, tukang es krim, pegawai pabrik, dan supir-supir truk untuk mendukung ia menang dan mendapat dukungan dari masyarakat.
c. Konsisten, berdasarkan hasil analisis terhadap data konsisten, dapat disimpulkan bahwa ibu Uci melakukan kampanye pemilu, bentuk kampanye pemilu yang dilakukan oleh ibu Uci adalah untuk memberikan informasi bahwasanya tidak hanya melakukan pemilihan legislatif, melainkan ada pemilihan presiden. Kampanya politik juga dilakukan ibu Uci untuk memperoleh dukungan suara dari masyarakat, yaitu silaturahmi ke rumah-rumah masyarakat (door to door) untuk mengenalkan profile, visi dan misi dari beliau, berkumpul dengan masyarakat, menyampaikan maksud dan tujuannya, dan juga meminta dukungan dari masyarakat. Ibu Uci bisa lebih akrab dan lebih dikenal masyarakat (pemilu) di dapilnya, beliau saat turun ke masyarakat tidak memberikan janji akan tetapi hanya meminta dukungan dari masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa ibu Uci mempunyai brand yang membuat masyarakat memilih ibu Uci bukan karena janji-janji yang
11
diberikan, akan tetapi mereka memilih ibu Uci karena menurut mereka ibu Uci datang dengan humble dan menjadi bagian masyarakat.
Informan IV (Dame Duma Sari Hutagalung, S.E) :
a. Khas, ibu Duma mempunyai program kerja yaitu membangun dan mempertahankan “Rumah Aspirasi” guna membantu masyarakat dalam mengurus permasalahan yang berhubungan dengan administrasi seperti BPJS, KTP, akte nikah, dsbnya. Sebagai perempuan, ibu Duma layak diangkat menjadi pemimpin untuk Kota Medan, berpendirian tetap dalam mempertahankan hak-hak perempuan dalam ranah politik. Ibu Duma yang selalu tampil di ranah publik dengan glamour, elegant akan tetapi beliau selalu menunjukkan sikap dermawan dan peduli dengan masyarakat.
b. Relevan, jika dilihat dari latar belakang yang dimiliki ibu Duma yaitu sarjana ekonomi, ibu Duma sangat memahami permasalahan dan kebutuhan masyarakat yang mana masyarakat selalu mengalami kesulitan jika berhubungan dengan administrasi yang mana administrasi itu tergolong dengan permasalahan ekonomi.
c. Konsisten, pada aspek ini memperlihatkan apa yang telah dilakukan ibu Duma dalam bermasyarakat dan politik konsisten. Hal ini dikarenakan latar belakang ibu Duma sebagai sarjana ekonomi lebih mementingkan permasalahan administrasi.
4.2.2 Keterwakilan Perempuan Dalam Politik Khususnya di DPRD Kota Medan
Berdasarkan hasil wawancara dengan keempat informan, secara umum pendapat dari para informan mengenai keterwakilan perempuan dalam politik khususnya di DPRD Kota Medan. Pada Informan 1 menjelaskan bahwasanya politik memang identik dengan laki-laki, dan banyak beranggapan politik itu kotor dan keras, sehingga kurangnya keterwakilan di DPRD, akan tetapi pada partai PKS (Partai Keadilan Sejahtera), beliau mengatakan bahwa keterwakilan perempuan dalam pengkaderan perempuan itu banyak dan rata-rata semuanya sudah mengambilan peran-perannya masing-masing. Informan 2 dan 4 mengatakan keterwakilan perempuan dalam DPRD Kota Medan memanglah kurang, dikarenakan sudah diterapkan prinsip dari pemerintahan bahwasanya keterwakilan perempuan di DPR hanya sekitar 30%, dan saat ini keterwakilan perempuan tidak terlalu menonjol, dikarenakan dalam pemilu 2019-2024 hanya enam calon legislatif perempuan yang diterima di DPRD Kota Medan. Berbeda pendapat dengan informan 3, beliau mengatakan keterwakilan perempuan selama ini di Kota Medan sangat bagus, dikarenakan banyak yang terwakili di daerahnya, akan tetapi keterwakilan anggota dewan di Medan Utara sedikit keterwakilan perempuan.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan judul Personal Branding Caleg DPRD Perempuan Kota Medan, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Personal branding Caleg DPRD Perempuan Perempuan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif Periode 2019-2024 di DPRD Kota
12
Medan hampir memenuhi keseluruhan konsep utama personal branding (the eight laws of personal branding), yakni spesialisasi (the law of specialization), kepemimpinan (the law of leadership), kepribadian (the law of personality), perbedaan (the law of distinctiveness), kenampakan (the law of visibility), kesatuan (the law of unity), keteguhan (the law of persistence), dan maksud baik (the law of goodwill). Hanya satu informan yaitu ibu Duma yang memenuhi keseluruhan konsep utama personal branding, dua informan yaitu ibu Dhiyaul dan ibu Margaret hanya memenuhi 7 konsep utama personal branding, konsep utama personal branding yang tidak dimiliki ibu Dhiayul yakni perbedaan (the law of distinctiveness), begitu sebaliknya pada ibu Margaret, peneliti melihat bahwasanya beliau tidak memenuhi konsep maksud baik (the law of goodwill). Pada ibu Uci, beliau hanya memenuhi dua konsep utama saja yaitu kepribadian (the law of personality) dan kenampakan (the law of visibility).
2. Personal brand keempat informan penelitian ini juga memenuhi karakteristik sebuah personal brand yang kuat karena memenuhi unsur khas, relevan dan konsisten.
3. Keterwakilan perempuan dalam politik khususnya di DPRD Kota Medan cukup mengalami variasi jawaban yang berbeda-beda. Akan tetapi, secara keseluruhan jawaban mengarah bahwasanya keterwakilan perempuan di Kota Medan sangatlah kurang terwakili terkhususnya di DPRD Kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin.Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Moleong, Lexy J. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Montoya, Peter. (2002). The Personal Branding Phenomenon: Realize Greater Influence, Explosive Income Growth and Rapid Career Advancement by Applying the Branding Techniques of Michael, Martha & Oprah. Peter Montoya Incorporated.
Mulyana, Dedi. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Rampersad, H. K. (2009). Authentic Personal Branding: A New Blueprint for Building and Aligning a Powerful Leadership Brand . Charlotte, NC: Information Age Publishing Inc.
Sumber Jurnal :
Imawati, V. A. (2016). Analisis Personal Branding Fashion Blogger Diana Rikasari. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol. 5, No. 3