EPISTEMOLOGI FENOMENOLOGIS (EDMUND HUSSERL) EPISTEMOLOGI FENOMENOLOGIS (EDMUND HUSSERL)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata KuliahFilsafat Ilmu : Topik-topik Epistemologi Mata KuliahFilsafat Ilmu : Topik-topik Epistemologi Dosen Pengampu : Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag Dosen Pengampu : Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag
Oleh Oleh
Muhajirun
Muhajirun Najah Najah NIM. NIM. 1720401001917204010019
Rahma
Rahma Putri Putri Kholifatul. U Kholifatul. U NIM.17204010036NIM.17204010036
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PROGAM MAGISTER FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN PROGAM MAGISTER FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI NEGERI SUNAN KALIJAGASUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
YOGYAKARTA 2017
BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar Belakang MasalahLatar Belakang Masalah
Ilmu filsafat adalah ilmu yang menjadi induk segala pengetahuan. Filsafat Ilmu filsafat adalah ilmu yang menjadi induk segala pengetahuan. Filsafat merupakan sebuah sistem yang komprehensif dari ide-ide mengenai keadaan yang merupakan sebuah sistem yang komprehensif dari ide-ide mengenai keadaan yang murni dan realitas yang terjadi dalam hidup. Filsafat juga dapat dijadikan paduan murni dan realitas yang terjadi dalam hidup. Filsafat juga dapat dijadikan paduan dalam kehidupan karena hal-hal yang berada di dalam lingkupnya selalu dalam kehidupan karena hal-hal yang berada di dalam lingkupnya selalu menyangkut sesuatu yang mendasar dan membutuhkan penghayatan. Filsafat menyangkut sesuatu yang mendasar dan membutuhkan penghayatan. Filsafat digunakan untuk menentukan jalan yang akan diambil seseorang dalam digunakan untuk menentukan jalan yang akan diambil seseorang dalam kehidupannya. Filsafat juga memberi petunjuk mengenai tata cara pergaulan antara kehidupannya. Filsafat juga memberi petunjuk mengenai tata cara pergaulan antara sesama.
sesama.
Tak lepas dari semua ini, pada dasarnya filsafat adalah bersumber dari Tak lepas dari semua ini, pada dasarnya filsafat adalah bersumber dari pertumbuhannya
pertumbuhannya pola pola pikir pikir manusia. manusia. Semua Semua yang yang ada, ada, atau atau yang yang telah telah ada ada bisabisa diperhatikan dan dipikirkan secara rasional. Karena berpikir adalah aktifitas diperhatikan dan dipikirkan secara rasional. Karena berpikir adalah aktifitas individu dan manusia mempunyai kemerdekaan untuk berpikir. Berpikir secara individu dan manusia mempunyai kemerdekaan untuk berpikir. Berpikir secara mendalam untuk menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung mendalam untuk menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya.
jawabkan keabsahannya.
Dengan demikian dapat dikata bahwa berfilsafat adalah mendalami sesuatu Dengan demikian dapat dikata bahwa berfilsafat adalah mendalami sesuatu secara mendalam berdasarkan penalaran yang dimiliki seseorang. Dan akhirnya bisa secara mendalam berdasarkan penalaran yang dimiliki seseorang. Dan akhirnya bisa melahirkan aliran fenomenologi yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Perlu melahirkan aliran fenomenologi yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Perlu kita ketahui sekilas bahwa Ilmu fenomenologi dalam filsafat yang membahas kita ketahui sekilas bahwa Ilmu fenomenologi dalam filsafat yang membahas tentang sebuah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan dirinya tentang sebuah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan dirinya sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya.
sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya.
Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa indonesia biasa yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) dipakai istilah gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos)
tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri
yang tampak atau yang menampakkan diri
fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang
pandang orang orang yang yang terlibat terlibat di di dalamnya. dalamnya. Tradisi Tradisi ini ini memberi memberi penekanan penekanan yangyang besar
besar pada pada persepsi persepsi dan dan interpretasi interpretasi orang orang mengenai mengenai pengalaman pengalaman mereka mereka sendiri.sendiri. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui
personal melalui dialog dialog atau percakapanatau percakapan. Bagi . Bagi seorang fenomenoloseorang fenomenolog, kisah g, kisah seorangseorang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa juga dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan Fenomenolog disebut objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan Fenomenolog cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran hidup.
hidup.
Dalam perkembangannya, munculnya filsafat fenomenologi telah Dalam perkembangannya, munculnya filsafat fenomenologi telah memberikan pengaruh yang sangat luas, dimana hampir semua disiplin keilmuan memberikan pengaruh yang sangat luas, dimana hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, mendapatkan inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, arsitektur sampai penelitian tentang agama semuanya memperoleh nafas baru arsitektur sampai penelitian tentang agama semuanya memperoleh nafas baru dengan munculnya fenomenologi.
dengan munculnya fenomenologi.
B.
B. Rumusan MasalahRumusan Masalah
1.
1. Apakah yang dimaksud dengan filsafat fenomologis ?Apakah yang dimaksud dengan filsafat fenomologis ? 2.
2. Bagaimana sejarah terciptanya filsafat fenomologis ?Bagaimana sejarah terciptanya filsafat fenomologis ? 3.
C.
C. Tujuan PenulisanTujuan Penulisan
1.
1. Untuk mengetahui apa iti filsafat fenomologisUntuk mengetahui apa iti filsafat fenomologis 2.
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah terciptanya filsafat fenomologisUntuk mengetahui bagaimana sejarah terciptanya filsafat fenomologis 3.
BAB II BAB II
PEMBAHASAN PEMBAHASAN
1.
1. Pengertian Filsafat FenomonologisPengertian Filsafat Fenomonologis
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani:
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani: Phainestai Phainestai yang artinyayang artinya “menunjukkan” dan “menampakkan diri sendiri”.
“menunjukkan” dan “menampakkan diri sendiri”.11
Sebagai aliran epistemology Sebagai aliran epistemology..
dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah
dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala gejala. Secara istilah, fenomenologi. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan
adalah ilmu pengetahuan (logos)(logos) tentang apa yang tampak.tentang apa yang tampak.22 Dari pengertian tersebut Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri
fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.. SeorangSeorang Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang
menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensievidensi yang yang langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran,
langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at“a way of looking at things”
things”..33
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa fenomenologi ini mengacu Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang terlibat di kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang terlibat di dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang besar pada persepsi dan interpretasi dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang besar pada persepsi dan interpretasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri. Fenomenologi melihat komunikasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seo
percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seo rang individu adalah lebih pentingrang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut fenomenologi dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati. Fenomenologi juga
1 Muhammad Muslih,
1 Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Belukar), hlm. 144., (Yogyakarta: Belukar), hlm. 144. 2 K. Bertens,
2 K. Bertens, Filsafat Barat Filsafat Barat Abad XX: Inggris-JermanAbad XX: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 1981) hlm. 109.(Jakarta: Gramedia, 1981) hlm. 109. 3 Doni Gahral Adian,
cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut objektivisme atau cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut objektivisme atau positivisme).
positivisme). Hal Hal demikian demikian dikarenakan dikarenakan Fenomenolog Fenomenolog cenderung cenderung yakin yakin bahwabahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran hidup.
tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran hidup.
Jelasnya, fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang Jelasnya, fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala
“hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi presuposisi. Langkah pertamanya adalah. Langkah pertamanya adalah menghindari semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus menghindari semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak boleh
boleh dipaksakan dipaksakan sebelum sebelum pengalaman pengalaman menjelaskannya menjelaskannya sendiri sendiri dari dari dan dan dalamdalam pengalaman itu sendiri.
pengalaman itu sendiri.
Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun
historis apapun — — apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Programapakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan.
lekat, dan penuh penghayatan.44
2.
2. Sejarah Filsafat FenomonologisSejarah Filsafat Fenomonologis
Metode yang
Metode yang dipelopori oleh dipelopori oleh Husserl Husserl adalah metode adalah metode fenomonologis untukfenomonologis untuk pertama
pertama kalinya kalinya dipakai dipakai oleh oleh J.H. J.H. Lambert Lambert (1728-1777) (1728-1777) dalam dalam bukunyabukunya Neues Neues Organon
Organon (1764). Kemudian istilah itupun dipergunakan Kant, dan Hegel dan(1764). Kemudian istilah itupun dipergunakan Kant, dan Hegel dan
4 Doni Gahral Adian,
sejumlah filsuf lain baru kemudian Husserl memakai istilah itu untuk menunjukkan sejumlah filsuf lain baru kemudian Husserl memakai istilah itu untuk menunjukkan metode berfikir tepat yang khusus.
metode berfikir tepat yang khusus.55
Fonomenologi ini bersumber dari pembedaan yang dilakukan oleh Fonomenologi ini bersumber dari pembedaan yang dilakukan oleh Immanuel Khan antara noumental (alam yang sesungguhnya) dan phenomenal Immanuel Khan antara noumental (alam yang sesungguhnya) dan phenomenal (yang tampak/terlihat) dan juga merupakan pengembangan dari phenomenology of (yang tampak/terlihat) dan juga merupakan pengembangan dari phenomenology of spiritnya Hegel. Husserl adalah juga seorang ahli metematika
spiritnya Hegel. Husserl adalah juga seorang ahli metematika yang mengembangkanyang mengembangkan filsafatnya dengan bertolak dari filsafat ilmu. Ia merasa berapa pentingnya memberi filsafatnya dengan bertolak dari filsafat ilmu. Ia merasa berapa pentingnya memberi landasan pemikiran filsafat kepada persoalan-persoalan teroritis yang diajukan demi landasan pemikiran filsafat kepada persoalan-persoalan teroritis yang diajukan demi mencapai kebenaran. Ia pun bertekad untuk mencapai kebenaran itu akan tetapi, mencapai kebenaran. Ia pun bertekad untuk mencapai kebenaran itu akan tetapi, Husserl melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian Husserl melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dan kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat diandalkan. Karena itu ia merasa perlu mencari dan menciptakan suatu dapat diandalkan. Karena itu ia merasa perlu mencari dan menciptakan suatu metode yang benar-benar ilmiah. Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah metode yang benar-benar ilmiah. Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan adalah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa manipulasinya.
realitas yang sesungguhnya tanpa manipulasinya.66
Untuk mengembangkan metode yang demikian itu, perhatian haruslah Untuk mengembangkan metode yang demikian itu, perhatian haruslah terpusat kepada fenomena itu tanpa praduga apapun. Itu terungkap lewat slogan terpusat kepada fenomena itu tanpa praduga apapun. Itu terungkap lewat slogan yang terkenal dikalangan penganut fenomenologi,. Dalam keterarahan ke benda itu yang terkenal dikalangan penganut fenomenologi,. Dalam keterarahan ke benda itu sesungguhnya benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat sesungguhnya benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian itu, lahirlah metode dirinya sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian itu, lahirlah metode fenomenologis.
fenomenologis.77
5 Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat ( Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm, 118 5 Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat ( Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm, 118 6 Ibid., 119
6 Ibid., 119
7 Anton Bakker,
Husserl mau menetukan metode filosofis ilmiah, yang lepas dari segala Husserl mau menetukan metode filosofis ilmiah, yang lepas dari segala prasangka
prasangka metafisis. metafisis. Metode Metode ini ini harus harus menjamin menjamin filsafat filsafat sebagai sebagai suatu suatu sistemsistem pengetahuan
pengetahuan yang yang terjalin terjalin oleh oleh alasan-alasan alasan-alasan sedemikian sedemikian rupa, rupa, sehingga sehingga setiapsetiap langkah berdasarkan langkah sebelumnya secara niscaya. Sistem demikian langkah berdasarkan langkah sebelumnya secara niscaya. Sistem demikian memerlukan pemahaman-pemahaman dasariah yang jelas, dan susunan sistematis memerlukan pemahaman-pemahaman dasariah yang jelas, dan susunan sistematis yang ketat.
yang ketat. ..
Antara tahun 1970 dan 1995 banyak karya Husserl dibukukan dari Antara tahun 1970 dan 1995 banyak karya Husserl dibukukan dari manuskripnya, antara lain Logische Untersuchungen, Krisis der Europise manuskripnya, antara lain Logische Untersuchungen, Krisis der Europise Wissenschaften und Transcendentale Phenomenologi, Forrmale und Wissenschaften und Transcendentale Phenomenologi, Forrmale und Transcendentale Logik, Phenomenologische Psychologie, dan Ideen II. Banyak Transcendentale Logik, Phenomenologische Psychologie, dan Ideen II. Banyak karya Husserl lainnya juga dibukukan pada tahun-tahun tersebut. Meskipun Husserl karya Husserl lainnya juga dibukukan pada tahun-tahun tersebut. Meskipun Husserl meninggal tahun 1935 ternyata pemikiran filsafatnya menjadi solusi atas kebutuhan meninggal tahun 1935 ternyata pemikiran filsafatnya menjadi solusi atas kebutuhan ilmu yang dikuasai oleh filsafat ilmu positivisme.
ilmu yang dikuasai oleh filsafat ilmu positivisme.88
3.
3. Filsafat Fenomonologis HusserlFilsafat Fenomonologis Husserl
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859
Edmund Husserl (1859 – – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya
8 Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu Pengembangan, ( Yogyakarta : Rake Sarasin, 2015), hlm. 169 8 Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu Pengembangan, ( Yogyakarta : Rake Sarasin, 2015), hlm. 169
adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
pengalaman inderawi (fenomen).99
Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman
pengalaman-pengalaman langsung langsung : : religius, religius, moral, moral, estetis, estetis, konseptual, konseptual, sertaserta inderawi. Perhatian filsafat, menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan inderawi. Perhatian filsafat, menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang
tentang Labenswelt Labenswelt (dunia kehidupan) atau (dunia kehidupan) atau Erlebnisse Erlebnisse (kehidupan subjektif dan (kehidupan subjektif dan batiniah).
batiniah). Penyelidikan Penyelidikan ini ini hendaknya hendaknya menekankan menekankan watak watak intensional intensional kesadaran,kesadaran, dan tanpa mengandalkan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.
dan tanpa mengandalkan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.1010
Dalam mengembankan metode fenomenologisnya itu, Husserl menyadari Dalam mengembankan metode fenomenologisnya itu, Husserl menyadari betapa
betapa sulitnya sulitnya membiarkan membiarkan benda-benda benda-benda itu itu sendiri sendiri mengungkapkan mengungkapkan hakikathakikat dirinya yang murni, sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Menurut Husserl itu dirinya yang murni, sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Menurut Husserl itu karena fenomena atau objek dalam hubungan dengan kesadaran tidak secara karena fenomena atau objek dalam hubungan dengan kesadaran tidak secara langsung menampakkan hakikat dirinya. Hakikat fenomena yang sesungguhnya langsung menampakkan hakikat dirinya. Hakikat fenomena yang sesungguhnya berada
berada dibalik dibalik yang yang menampakkan menampakkan diri diri itu. itu. pengamatan pengamatan pertama pertama belum belum sanggupsanggup membuat fenomena ini mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan membuat fenomena ini mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang disebut dengan pengamatan intuitif.
pengamatan kedua yang disebut dengan pengamatan intuitif.1111
Pengamatan
Pengamatan intuitif intuitif harus melewati tiga tahap reduksi atau tiga tahap harus melewati tiga tahap reduksi atau tiga tahap penyaringan.
penyaringan. Ketiga Ketiga tahap tahap penyaringan penyaringan itu itu ialahialah reduksi fenomenologis, reduksireduksi fenomenologis, reduksi eidetis, reduksi trasendental
eidetis, reduksi trasendental . Lewat ketiga tahap reduksi, Husserl berharap akan. Lewat ketiga tahap reduksi, Husserl berharap akan
9 Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat Ilmu ( Yogyakarta : Balai Aksara, Yudhistira, Pustaka 9 Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat Ilmu ( Yogyakarta : Balai Aksara, Yudhistira, Pustaka Sa’adiyah
Sa’adiyah, 1984), hlm. 110, 1984), hlm. 110 10
10 Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 119Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 119 11 Ibid.., hlm. 199
sanggup membuat fenomena itu mengungkapkan hakikat dirinya dengan semurni sanggup membuat fenomena itu mengungkapkan hakikat dirinya dengan semurni mungkin.
mungkin.1212
Reduksi
Reduksi fenomenologisfenomenologis ditempuh dengan menyisihkan atau menyaring ditempuh dengan menyisihkan atau menyaring pengalaman
pengalaman pengamatan pengamatan pertama pertama yang yang terarah terarah kepada kepada eksistensi eksistensi fenomena.fenomena. Pengalaman indrawi itu tidak ditolak, tetapi perlu disisihkan dan disaring lebih Pengalaman indrawi itu tidak ditolak, tetapi perlu disisihkan dan disaring lebih dahulu sehingga tersingkirlah segala prasangka, praanggapan, dan pra teori baik dahulu sehingga tersingkirlah segala prasangka, praanggapan, dan pra teori baik yang berdsarkan keyakinan tradisinal, maupun berdasarkan keyakinan agmis, yang berdsarkan keyakinan tradisinal, maupun berdasarkan keyakinan agmis, bahkan
bahkan seluruh seluruh keyakinan keyakinan dan dan pandangan pandangan yang yang telah telah dimiliki dimiliki sebelumnya. sebelumnya. SegalaSegala sesuatu yang diketahui dan dipahami, lewat pengamatan biasa terhadap fenomena sesuatu yang diketahui dan dipahami, lewat pengamatan biasa terhadap fenomena itu, harus diuji sedemikian rupa dan tidak boleh diterima begitu saja. Fenomena itu itu, harus diuji sedemikian rupa dan tidak boleh diterima begitu saja. Fenomena itu diamati dalam hubungannnya dengan kesadaran tanpa melakukan refleksi terhadap diamati dalam hubungannnya dengan kesadaran tanpa melakukan refleksi terhadap fakta-fakta yang ditemukan lewat pengamatan itu karena yang utama dalam hidup fakta-fakta yang ditemukan lewat pengamatan itu karena yang utama dalam hidup ini ialah menemukan dan menyingkirkan subjektivitas yang merupakan penghambat ini ialah menemukan dan menyingkirkan subjektivitas yang merupakan penghambat bagi fenomena itu dalam mengungkapkan hakikat dirinya.
bagi fenomena itu dalam mengungkapkan hakikat dirinya.1313
Reduksi
Reduksi eideticeidetic, menurut Husserl, tidak lain dari upaya untuk menemukan, menurut Husserl, tidak lain dari upaya untuk menemukan eidos atau hakikat fenomena yang tersembunyi. Pada tahap ini, segala sesuatu yang eidos atau hakikat fenomena yang tersembunyi. Pada tahap ini, segala sesuatu yang dianggap sebagai hakikat fenomena yang diamati harus disaring untuk menemukan dianggap sebagai hakikat fenomena yang diamati harus disaring untuk menemukan hakikat yang sesungguhnya dari fenomena itu. itu berarti segala sesuatu yang dilihat hakikat yang sesungguhnya dari fenomena itu. itu berarti segala sesuatu yang dilihat harus dianalisis secara cermat dan lengkap agar tidak ada yang terlupakan. Dalam harus dianalisis secara cermat dan lengkap agar tidak ada yang terlupakan. Dalam upaya menganalisis fenomena yang diamati dengan cermat dan lengkap itu, upaya menganalisis fenomena yang diamati dengan cermat dan lengkap itu, perhatian pengamat harus senantiasa terarah kepada isi yang paling fundamental dan perhatian pengamat harus senantiasa terarah kepada isi yang paling fundamental dan
segala sesuatu yang bersifat paling hakiki. segala sesuatu yang bersifat paling hakiki.
12
12 Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 199Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 199 13Ibid., hlm. 119
Reduksi
Reduksi trasendental trasendental , menyisihkan dan menyaring semua hubungan antara, menyisihkan dan menyaring semua hubungan antara fenomena yang diamati dan fenomena lainnya. Misalnya saja fenomena yang fenomena yang diamati dan fenomena lainnya. Misalnya saja fenomena yang diamati itu adalah kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa diri kita sendiri diamati itu adalah kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa diri kita sendiri senantiasa memiliki hubungan dengan fenomena lainnya, yang berada diluar dari senantiasa memiliki hubungan dengan fenomena lainnya, yang berada diluar dari kita. Ketergantungan yang demikian itu membuat kita senantiasa berada dalam kita. Ketergantungan yang demikian itu membuat kita senantiasa berada dalam situasi yang tertentu. Seperti kita sedang makan, sedang menulis, sedang mandi, dan situasi yang tertentu. Seperti kita sedang makan, sedang menulis, sedang mandi, dan sebaginya. Pengalaman-pengalaman yang demikian itu jelas merupakan hal-hal sebaginya. Pengalaman-pengalaman yang demikian itu jelas merupakan hal-hal yang harus disisihkan karena merupakan bagian dari kesadaran empiris. Reduksi yang harus disisihkan karena merupakan bagian dari kesadaran empiris. Reduksi trasendental harus menemukan kesadaran murni dengan menyisihkan kesadaran trasendental harus menemukan kesadaran murni dengan menyisihkan kesadaran empiris sehingga kesadaran diri sendiri tidak lagi berlandaskan pada keterhubungan empiris sehingga kesadaran diri sendiri tidak lagi berlandaskan pada keterhubungan dengan fenomena lainnya. Kesadaran diri yang telah bebas dari kesadaran empiris dengan fenomena lainnya. Kesadaran diri yang telah bebas dari kesadaran empiris itu mengatasi seluruh pengalaman, maka bersifat trasendental.
itu mengatasi seluruh pengalaman, maka bersifat trasendental.1414
Sebagai reaksi terhadap pendahulunya, terdapat dua prinsip yang cukup Sebagai reaksi terhadap pendahulunya, terdapat dua prinsip yang cukup penting dalam fenomenologi menurut Husserl, yakni dua prinsip: prinsip
penting dalam fenomenologi menurut Husserl, yakni dua prinsip: prinsip epocheepoche dan
dan eidetic visioneidetic vision dan konsep “duniadan konsep “dunia--kehidupan” (kehidupan” ( Lebenswelt. Lebenswelt.1515 1)
1) PrinsipPrinsip epocheepoche dandan eidetic visioneidetic vision
Husserl mengajukan konsepsi yang berbeda dengan Husserl mengajukan konsepsi yang berbeda dengan pendahulunya dm
pendahulunya dmengenai proses engenai proses keilmuan. Tugas keilmuan. Tugas utama Fenomenologiutama Fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinya lepas Bagi Husserl, realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau menurut ungkapan
menurut ungkapan Martin Heideger juga seorang fenomenolog: “sifatMartin Heideger juga seorang fenomenolog: “sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia” Noumena realitas itu membutuhkan keberadaan manusia” Noumena
14
14 Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 120Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat…., hlm. 120
15
membutuhkan tempat tinggal ruang untuk berada, ruang itu adalah membutuhkan tempat tinggal ruang untuk berada, ruang itu adalah manusia.
manusia.
Husserl dalam hal ini mengajukan metode epoche. Kata epoche berasal Husserl dalam hal ini mengajukan metode epoche. Kata epoche berasal dari kata yunani, yang berarti menunda putusan atau mengosongkan diri dari kata yunani, yang berarti menunda putusan atau mengosongkan diri dari keyakinan tertentu. Tanpa memberikan putusan benar salahnya dari keyakinan tertentu. Tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Dalam hal ini Husserl mengatakan , bahwa epoche terlebih dahulu. Dalam hal ini Husserl mengatakan , bahwa epoche merupakan
merupakan thesis of natural stand pointthesis of natural stand point (tesis tentang pendirian yang(tesis tentang pendirian yang natural) dalam arti fenomena yang tampil dalam kesadaraan adalah natural) dalam arti fenomena yang tampil dalam kesadaraan adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.
benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.
Metode epoche merupakan langkah pertama untuk mencapai Metode epoche merupakan langkah pertama untuk mencapai esensi fenomena dengan menunda putusan terlebih dahulu. Langkah esensi fenomena dengan menunda putusan terlebih dahulu. Langkah kedua . Husserl menyebutya dengan eidetic vision atau membuat ide, kedua . Husserl menyebutya dengan eidetic vision atau membuat ide, eidetic vision ini juga disebut reduksi, yani menyaring fenomena untuk eidetic vision ini juga disebut reduksi, yani menyaring fenomena untuk sampai ke eideosnya, sampai keintisarinya atau yang sejatinya. Hasil sampai ke eideosnya, sampai keintisarinya atau yang sejatinya. Hasil dari proses reduksi ini disebut
dari proses reduksi ini disebut wesenschau,wesenschau, artinya sampai padaartinya sampai pada hakikatnya.
hakikatnya. 2)
2) Konsep “duniaKonsep “dunia--kehidupan” (kehidupan” (labenswelt)labenswelt)
Dalam kaitannya dengan ilmu social, memperbincangkan Dalam kaitannya dengan ilmu social, memperbincangkan fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembecaraan mengenai konsep fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembecaraan mengenai konsep labenswelt. Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas labenswelt. Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu social serta menyelamatkan subjek pengetahuan. Edmund ilmu-ilmu social serta menyelamatkan subjek pengetahuan. Edmund Husserl dalam bukunya “
Husserl dalam bukunya “the crisis of European Science andthe crisis of European Science and tran
tran scendental scendental Phennomenology”Phennomenology” menyatakan bahwa kpnsep yangmenyatakan bahwa kpnsep yang dapat menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan yang tengah mengalami dapat menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan yang tengah mengalami
krisis akibat pola piker positivistic dan saintistik, mnurutnya dunia krisis akibat pola piker positivistic dan saintistik, mnurutnya dunia kehidupan adalah dasar makna yang dilupakan bagi ilmu pengetahuan. kehidupan adalah dasar makna yang dilupakan bagi ilmu pengetahuan. Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih, dunia sebagaimana manusia menghayati dalam kurang lebih, dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spntanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia spntanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan kita. Yakni unsur dunia seharihari yang kita libati dan hidupi kenyataan kita. Yakni unsur dunia seharihari yang kita libati dan hidupi sebelum kita menteorikannya atau merefleksikannya secara filosofis. sebelum kita menteorikannya atau merefleksikannya secara filosofis.
BAB III BAB III PENUTUP PENUTUP 1. 1. KesimpulanKesimpulan
Fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau Fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri
segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.. SeorangSeorang Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang
menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensievidensi yang yang langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran,
langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at“a way of looking at things”
things”..
Metode
Metode yang yang dipelopori dipelopori oleh oleh Husserl Husserl adalah metadalah metode ode fenomonologisfenomonologis untuk pertama kalinya dipakai oleh J.H. Lambert (1728-1777) dalam bukunya untuk pertama kalinya dipakai oleh J.H. Lambert (1728-1777) dalam bukunya Neues Organon
Neues Organon (1764). Kemudian istilah itupun dipergunakan Kant, dan Hegel(1764). Kemudian istilah itupun dipergunakan Kant, dan Hegel dan sejumlah filsuf lain baru kemudian Husserl memakai istilah itu untuk dan sejumlah filsuf lain baru kemudian Husserl memakai istilah itu untuk menunjukkan metode berfikir tepat yang khusus.
menunjukkan metode berfikir tepat yang khusus.
Dalam mengembankan metode fenomenologisnya itu, Husserl menyadari Dalam mengembankan metode fenomenologisnya itu, Husserl menyadari betapa
betapa sulitnya sulitnya membiarkan membiarkan benda-benda benda-benda itu itu sendiri sendiri mengungkapkan mengungkapkan hakikathakikat dirinya yang murni, sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Menurut Husserl dirinya yang murni, sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Menurut Husserl hakikat fenomena yang sesungguhnya berada dibalik yang menampakkan diri hakikat fenomena yang sesungguhnya berada dibalik yang menampakkan diri itu. Pengamatan pertama belum sanggup membuat fenomena ini itu. Pengamatan pertama belum sanggup membuat fenomena ini mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang disebut dengan pengamatan intuitif.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Anton Bakker,
Anton Bakker, Metode-M Metode-Metode Filsaetode Filsafat Ilmu Yogfat Ilmu Yogyakartayakarta : Balai Aksara, Yudhistira, Pustaka : Balai Aksara, Yudhistira, Pustaka Sa’adiyah, 1984
Sa’adiyah, 1984 Jan Hendrik Rapar
Jan Hendrik Rapar , Pengan , Pengantar Filsafat tar Filsafat Yogyakarta: Kanisius, 1996 Yogyakarta: Kanisius, 1996
Muhammad Muslih
Muhammad Muslih , Filsafat Ilmu, , Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Belukar. 2016. Yogyakarta: Belukar. 2016. K. Bertens,
K. Bertens, Filsafat Barat Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman JakartaAbad XX: Inggris-Jerman Jakarta: Gramedia, 1981: Gramedia, 1981 Adian, Doni Gahral,
Adian, Doni Gahral, Pilar Pilar Filasafat Kontemporer Pilar Pilar Filasafat Kontemporer Yogyakarta: Jala Sutra, 2002Yogyakarta: Jala Sutra, 2002
Noeng, M