• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marheni, Hasanuddin, Pinde dan Wirda Suziani Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Marheni, Hasanuddin, Pinde dan Wirda Suziani Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Test of Pathogenical Metarhizium anisopliae Fungus and Cordyceps militaris Fungus

against Shoots of Palm Weevils Larvae (Oryctes rhinoceros) (Coleoptera:

Scarabaeidae) Mortality in the Laboratory

Marheni, Hasanuddin, Pinde dan Wirda Suziani

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU

Abstract

This research examine the pathogenity of entomopathogen M. anisopliae and C. militaris against O. rhinoceros larvae in the Laboratory. This research used completely randomized design (CRD) nonfactorial with seven treatments and four replications, namely A0 (control), A1, A2, A3 (applied to M. anisopliae fungus each 10, 15, and 20 grams corn media), A4, A5, A6 (applied to C. militaris fungus each 10, 15, 20 grams corn media). The results showed the highest percentage of mortality larvae in treatment A3 (applied M. anisopliae fungus on corn media) at 100.00%, and there are the lowest in treatment A4 (applied C. militaris fungus on corn media) at 70.00%. The highest percentage of time emergence of the test fungal colony in larvae infected found in treatment A3 (applied M. anisopliae fungus on corn media) at 100.00%, and and there are the lowest in treatment A4 (applied C. militaris fungus on corn media) at 55.00%. The result showed that the entomophatogen M. anisopliae fungus more effective use in contolling the O. rhinoceros larvae compared with the C. militaris fungus, but both of them can be used to control O. rhinoceros larvae to be a environmentally friendly.

Keyswords :

Oryctes rhinoceros, Metarhizium anisopliae, Cordyceps militaris.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji patogenitas dari jamur entomopatogen M. anisopliae dan C. militaris terhadap larva O. rhinoceros di laboratorium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) nonfaktorial dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan yaitu A0 (kontrol), A1, A2, A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada masing – masing 10, 15, dan 20 gr media jagung), A4, A5, A6 (diaplikasikan jamur C. militaris pada masing – masing 10, 15, dan 20 gr media jagung). Hasil penelitian menunjukkan persentase mortalitas larva tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 100,00% dan terendah pada perlakuan A4 (diapliakasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 70,00%. Persentase waktu munculnya koloni jamur uji pada larva yang terinfeksi tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 100,00% dan terendah pada perlakuan A4 (diaplikasi jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 55,00%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jamur entomopatogen M. anisopliae lebih efektif digunakan dalam mengendalikan larva O. rhinoceros dibandingkan dengan jamur C. militaris, tetapi keduanya dapat digunakan untuk mengendalikan larva O. rhinoceros yang ramah lingkungan.

(2)

Pendahuluan

Bagi Indonesia, tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Kelapa sawit adalah tanaman perkebuan yang sangat penting karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak

sawit (CPO) dunia selain Malaysia dan Nigeria (Fauzi dkk, 2002).

Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit yaitu dengan menggerek pucuk dan sangat merugikan khususnya di areal peremajaan yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia (Tim Penulis PS, 1997).

Sesuai dengan konsep PHT penggunaan bahan kimia berangsur-angsur akan dikurangi, karena telah menimbulkan masalah yang cukup serius bagi lingkungan. Penggunaan pestisida yang tidak benar mengakibatkan munculnya hama yang resisten terhadap bahan kimia tersebut. Untuk mengurangi digunakannya bahan kimia telah banyak diupayakan penggunaan musuh alami hama, baik berupa predator, parasitoid maupun patogen (Untung, 1993).

Cordyceps militaris merupakan salah satu agens pengendali hayati yang berpotensi untuk mengendalikan populasi hama. Semua jenis Cordyceps adalah endoparasitoid, terutama pada serangga dan arthropoda lainnya sehingga disebut sebagai jamur entomopatogen (Prawirosukarto dkk, 1996).

Jamur M. anisopliae telah dikenal sebagai patogen pada berbagai jenis serangga hama dan dapat diproduksi secara komersial sebagai bioinsektisida. Walaupun jamur ini dapat menginfeksi begitu banyak serangga, ternyata intensitas serangan terbesar dan inang yang terbaik untuk berkembang biak adalah larva O. rhinoceros. Semua stadia O. rhinoceros kecuali telur dapat diinfeksi oleh jamur ini. Sifat jamur ini yang dapat

menginfeksi hampir semua stadia O. rhinoceros itulah yang menjadi dasar untuk memanfaatkan jamur ini sebagai agens hayati hama tersebut (Sambiran dan Hosang, 2007).

Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Keberadaan hama O. rhinocerossering kali menjadi kendala bagi perkembangan perkebunan kelapa sawit. Sehubungan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengendalian hama O. rhinoceros yang ramah lingkungan dengan menggunakan jamur entomopatogen.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji patogenitas dari jamur entomopatogen M. anisopliae dan C. militaris terhadap larva O. rhinoceros di laboratorium.

Bahan dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Laboratorium Penyakit Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober sampai dengan Januari. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jamur entomopatogen M. anisopliae dan C. militaris, tandan kosong kelapa sawit, larva O. rhinoceros instar ke 3, PDA, alkohol, aquadest, jagung halus, larutan Bouin, xilol, paraffin, Eosin, balsam kanada, stoples plastik, dan kain kasa, haemocytometer.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial, dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari A₀(Kontrol)A₁, A2, A3 (diaplikasikan jamur M. Anisopliae pada masing – masing 10, 15 dan 20 gr media jagung), A₄, A₅, A₆ (diaplikasikan jamur C.militaris pada masing – masing 10, 15 dan 20 gr media jagung).

(3)

Persiapan Penelitian

a. Pembuatan Media Potato Dextrose Agar (PDA)

Media PDA digunakan untuk mengembangbiakkan jamur entomopatogen.

b. Pembuatan Media Jagung

Media jagung digunakan untuk perbanyakan jamur entomopatogen setelah terlebih dahulu dibiakkan pada media PDA. Media jagung digunakan untuk mempermudah aplikasi jamur entomopatogen (yaitu dengan menaburkan media jagung yang telah ditumbuhi jamur entomopatogen, dimana dosis media jagung yang digunakan sesuai dengan perlakuan masing-masing).

c. Penyediaan Jamur Entomopatogen

Jamur yang digunakan dalam penelitian ini adalah M. anisopliae yang diisolasi dari larva O. rhinoceros yang terserang M. anisopliae. M. anisopliae terlebih dahulu dibiakkan dalam media PDA sebagai biakan murni. Sebelum aplikasi terlebih dahulu dihitung kerapatan konidia per gram media jagung dengan menggunakan alat haemocytometer. Konsentrasi konidia dalam biakan M. anisopliae yang baik adalah mengandung 500 juta ( 5 x 108) konidia atau lebih dalam setiap gram jagung (Mahmud, 1989).

Sedangkan jamur C.militaris yang digunakan diperoleh dari Bahlias Reseach Station, Lonsum. Jamur tersebut telah tersedia dalam bentuk biakan murni, yang kemudian akan dibiakkan lagi guna perbanyakan. Setelah itu diperlakukan sama dengan jamur M.anisopliae, seperti dibiakkan lagi pada media jagung dan dihitung kerapatan konidianya sebelum aplikasi.

d. Persiapan Media Perlakuan

Berupa stoples, tinggi stoples tersebut adalah 12.5 cm, diameter 13.5 cm dan volume stoples 1788.32 cm3 (π r 2x t).

Stoples diisi dengan makanan larva O. rhinoceros berupa tandan kosong kelapa sawit yang diambil dari lapangan (yang telah disterilkan sebelumnya), dengan tinggi media makanan dalam stoples adalah 5 cm dan volumenya adalah 715.33 cm3 (π r 2 x t). Media tersebut disediakan sebanyak 28 stoples.

e. Penyediaan Larva Serangga Uji

Larva O. rhinoceros diambil dari lapangan sebanyak 140 larva instar ke-3 yang sehat. Kemudian larva dimasukkan ke dalam stoples masing – masing 5 larva. Sebagai makanannya dimasukkan juga tandan kosong kelapa sawit yang telah disterilkan sebelumnya, dimasukkan ke stoples 1 hari sebelum larva dimasukkan ke dalam stoples. Setelah itu stoples ditutup dengan kain kasa. Pengaplikasian

Aplikasi jamur M. anisopliae dan C.militaris dilakukan dengan cara menaburkan jamur yang telah tumbuh pada media jagung kemudian dicampurkan dengan media makan larva O.rhinoceros, dimana dosis yang digunakan sesuai dengan perlakuan masing-masing. Aplikasi jamur entomopatogen ini dilakukan hanya satu kali saja pada media makan larva O. rhinoceros yaitu satu hari sebelum larva dimasukkan ke dalam media yang telah disediakan (Priyanti, 2009).

Peubah amatan

a. Persentase mortalitas larva

Persentase mortalitas larva dilakukan dengan cara menghitung jumlah larva yang telah mati, dengan menggunakan rumus: P = x100% b a a  Keterangan:

P = Persentase mortalitas larva a = Jumlah larva yang mati

(4)

b. Persentase waktu munculnya koloni jamur uji pada larva

O. rhinoceros

yang terinfeksi

Pengamatan tersebut dilakukan dengan cara melihat dan menghitung larva yang disekitar tubuhnya ditumbuhi oleh koloni jamur entomopatogen, dengan menggunakan rumus: P =

x

100

%

d

c

c

Keterangan:

P = Persentase larva yang telah ditumbuhi koloni jamur entomopatogen

c = Jumlah larva yang telah ditumbuhi koloni jamur entomopatogen

d = Jumlah larva yang tidak ditumbuhi koloni jamur entomopatogen

c. Gejala serangan larva

O. rhinoceros

yang terinfeksi jamur entomopatogen

Diamati gejala yang timbul pada larva yang terinfeksi oleh jamur entomopatogen. Larva yang terinfeksi akan mengalami mumifikasi dan akan muncul koloni jamur disekitar tubuhnya, dimana warna koloni jamur sesuai dengan warna koloni jamur yang menginfeksinya.

d. Foto mikrograf jaringan larva

O.

rhinoceros

yang terinfeksi jamur entomopatogen

Foto mikrograf jaringan larva yang terinfeksi jamur entomopatogen dapat dilakukan pada larva yang telah mati dan telah menunjukkan gejala dari serangan

jamur. Sebelumnya dibuat preparat dari larva yang telah mati tersebut.

Hasil dan Pembahasan

Persentase Mortalitas Larva

O. rhinoceros

Perlakuan aplikasi jamur pada pengamatan 10 – 21 hari setelah aplikasi berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva O. rhinoceros(Tabel 1).

Pada pengamatan 21 hari setelah aplikasi, mortalitas larva O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 100.00 % dan terendah pada perlakuan A4 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 70.00 %. Hal ini menunjukkan bahwa jamur M. anisopliae lebih efektif mengendalikan larva O. rhinoceros dari pada jamur C. militaris. Biasanya jamur entomopatogen bersifat spesifik inang, maksudnya jamur tersebut akan lebih efektif dalam mematikan hama jika hama itu adalah inang sasarannya. Diketahui bahwa jamur M. anisopliae spesifik inang terhadap hama dari ordo Coleoptera terutama O. rhinoceros sedangkan C. militaris spesifik inang terhadap hama ulat api. Hal ini sesuai dengan literatur Prayogo (2006) yang menyatakan bahwa jenis hama yang menyerang tanaman akan menentukan keefektifan cendawan entomopatogen karena setiap jenis cendawan entomopatogen mempunyai inang yang spesifik, walaupun ada pula yang mempunyai

kisaran inang cukup luas.

Tabel 1. Beda uji rataan pengaruh aplikasi jamur terhadap mortalitas larva O. rhinoceros (%) pada pengamatan 10 - 21 hsa.

Perlakuan Mortalitas Larva (%)

10 hsa 11 hsa 12 hsa 13 has 14 hsa 15 hsa 17 has 18 hsa 19 hsa 20 hsa 21 hsa A0 0.00c 0.00f 0.00e 0.00e 0.00d 0.00d 0.00d 0.00d 0.00d 0.00c 0.00c A1 15.00b 35.00d 45.00c 50.00cd 50.00bc 50.00c 60.00bc 65.00bc 65.00bc 70.00b 80.00ab A2 35.00a 60.00ab 80.00ab 80.00ab 80.00a 80.00a 90.00a 90.00a 95.00a 95.00a 95.00a A3 40.00a 70.00a 90.00a 90.00a 90.00a 90.00a 95.00a 95.00a 95.00a 95.00a 100.00a A4 10.00b 20.00e 35.00d 35.00d 40.00c 50.00c 50.00c 55.00c 55.00c 70.00b 70.00b A5 15.00b 30.00b 40.00cd 45.00d 50.00bc 60.00bc 65.00b 65.00bc 70.00b 75.00ab 80.00ab A6 25.00ab 50.00bc 55.00c 65.00bc 65.00ab 75.00ab 80.00ab 85.00ab 85.00ab 85.00a 85.00a

(5)

Tabel 2. Beda uji rataan pengaruh aplikasi jamur terhadap waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O. rhinoceros yang terinfeksi (%) pada pengamatan 12 - 21 hsa.

Perlakuan Waktu Munculnya Koloni Jamur Uji (%)

12 hsa 13 hsa 14 hsa 15 hsa 17 has 18 has 19 hsa 20 has 21 hsa

A0 0.00d 0.00d 0.00c 0.00d 0.00e 0.00e 0.00d 0.00d 0.00d

A1 5.00c 15.00c 20.00bc 35.00c 35.00cd 55.00c 60.00b 65.00bc 70.00bc A2 20.00b 30.00b 40.00ab 65.00ab 75.00ab 90.00ab 95.00a 95.00a 95.00a A3 30.00a 45.00a 60.00a 85.00a 90.00a 95.00a 95.00a 95.00a 100.00a

A4 0.00d 0.00d 0.00c 5.00d 10.00e 10.00e 30.00cd 40.00d 55.00c

A5 10.00c 10,00c 20.00bc 20.00cd 35.00cd 40.00cd 50.00bc 70.00b 80.00ab A6 5.00c 5.00c 20.00b 25.00c 50.00c 60.00c 70.00b 80.00ab 85.00a Persentase Waktu Munculnya Koloni

Jamur Uji Pada Larva

O. rhinoceros

Yang Terinfeksi

Perlakuan aplikasi jamur pada pengamatan 12 – 21 hari setelah aplikasi berpengaruh nyata terhadap waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O. rhinocerosyang terinfeksi (Tabel 2).

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mortalitas larva lebih cepat dari pada munculnya koloni jamur pada larva. Mortalitas telah terjadi 10 hari setelah aplikasi sedangkan munculnya koloni pada larva terjadi dua hari lebih lama, yaitu terjadi pada 12 hari setelah aplikasi. Hal ini diakibatkan karena jamur memerlukan waktu yang lebih lama untuk memunculkan hifanya disekitar tubuh inangnya karena harus melalui beberapa tahapan infeksi. Sesuai dengan literatur Freimoser dkk (2003) yang menyatakan bahwa mekanisme infeksi M. anisopliae dapat digolongkan menjadi empat tahapan etiologi penyakit serangga yang disebabkan oleh jamur. Tahap pertama adalah inokulasi, yaitu kontak antara propagul jamur dengan tubuh serangga. Tahap kedua adalah proses penempelan dan perkecambahan propagul jamur pada integumen serangga. Tahap ketiga yaitu penetrasi dan invasi, yaitu menembus integumen dapat membentuk tabung kecambah (appresorium). Tahap keempat yaitu destruksi pada titik penetrasi dan

terbentuknya blastospora yang kemudian beredar ke dalam hemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang jaringan lainnya. Setelah serangga mati, jamur akan terus malanjutkan siklus dalam fase saprofitik, yaitu jamur akan membentuk koloni di sekitar tubuh inang. Setelah tubuh serangga inang dipenuhi oleh koloni jamur, maka spora infektif akan diproduksi.

Pada pengamatan 12 hari setelah aplikasi, waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O. rhinoceros yang terinfeksi tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) yaitu sebesar 30.00 % dan terendah pada perlakuan A4 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 0.00%. Pada pengamatan 21 hsa waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O. rhinoceros yang terinfeksi, tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 100.00 % dan terendah pada perlakuan A4(diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 55.00 %. Pernyataan diatas menyatakan bahwa koloni dari jamur M. anisopliae lebih cepat muncul, dengan kata lain lebih banyak larva yang ditumbuhi jamur M. anisopliae dari pada ditumbuhi jamur C. militaris. Hal ini dikarenakan larva O. rhinoceros merupakan habitat yang cocok untuk jamur M.

(6)

anisopliae, sehingga jamur ini dengan cepat memproduksi miseliunya disekitar tubuh inangnya. Sesuai dengan pernyataan Hosang (1990), yang menyatakan bahwa semua patogen serangga mempunyai spesifik sebaran inang yang mana mereka bisa survive dan berproduksi.

Gejala Serangan Larva

O. rhinoceros

Yang Terinfeksi Jamur Entomopatogen

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, jamur M. anisopliae menyebabkan larva O. rhinoceros mati dan terinfeksi. Larva yang mati akibat aplikasi jamur entomopatogen ini akan mengeras (mumifikasi). Setelah 12 hsa larva yang terinfeksi akan berubah warna menjadi hijautua akibat koloni dari jamur telah tumbuh dan menyebar diseluruh tubuh larva yang telah mengeras. Hal ini sesuai dengan literatur Ferron (1985) yang menyatakan bahwa pada umumnya semua jaringan dan cairan tubuh seranggga habis digunakan oleh cendawan, sehingga serangga mati dengan tubuh yang mengeras seperti mumi.

Larva instar akhir yang terinfeksi juga akan mengalami mumifikasi dan setelah beberapa hari akan tumbuh koloni jamur bewarna putih disekitar tubuh larva tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Purba dkk (1986) yang menyatakan bahwa C. militaris dapat menyerang larva instar akhir maupun pupa yang ditandai dengan munculnya miselium berwarna putih dan mengalami mumifikasi.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terlihat bawha larva O. rhinoceros yang mati akibat jamur entomopatogen ini akan berada pada bagian atas media makan larva. Hal ini termasuk salah satu ciri larva yang mati akibat pengaplikasian jamur entomopatogen. Sesuai dengan literatur yang dinyatakan oleh Priyanti (2009) yang menyatakan bahwa ada ciri prilaku yang terjadi dikenal sebagai summit disisase, dimana serangga yang mati karena jamur

entomopatogen menunjukkan prilaku akan naik ke permukaan atas tanaman dan melekatkan diri disana. Fenomena ini oleh beberapa pakar dikatakan sebagai usaha untuk menyelamatkan populasi lain yang sehat dari infeksi jamur entomopatogen.

Gambar1 : Larva O. rhinoceros yang terinfeksi jamur M. anisopliae sebelah kiri dan larva yang terinfeksi jamur C. militarissebelah kanan

Foto Mikrograf Jaringan Larva

O.rhinoceros

Yang Terinfeksi Jamur Entomopatogen

Adapun perbandingan histologi larva O. rhinoceros yang terinfeksi jamur entomopatogen pada perlakuan 21 hsa yang dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 40 mewakili semua perlakuan, dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 : Foto mikrograf jaringan larva pada perlakuan kontrol (A0)

a

b

a kutikula larva b jaringan epidermis

(7)

Pada gambar 2 di atas, dapat dilihat bahwa pada perlakuan A0(kontrol) keadaan histologi dari larva O. rhinoceros masih dalam keadaan sehat dan masih utuh. Tampak pada gambar kutikula dari larva, jaringan epidermis hingga ke haemolimfa larva masih dalam keadaan sehat dan bagus. Hal ini dikarenakan pada perlakuan kontrol larva O. rhinoceros tidak diaplikasikan jamur entomopatogen, sehingga larva tetap dalam keadaan sehat sampai diakhir penelitian.

Gambar 3 : Foto mikrograf jaringan larva pada perlakuan A1

Pada perlakuan A1 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 10 gr media jagung), keadaan histologi larva O. rhinoceros sudah terinfeksi oleh jamur M. anisopliae. Tampak pada histologi larva O. rhinoceros adanya miselium yang telah menyebar dan telah tumbuh konidia dari jamur entomopatogen. Telah terbentuknya konidia dari jamur ini menyatakan bahwa satu siklus hidup dari jamur entomopatogen ini telah terjadi.

Pada perlakuan A2 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 15 gr media jagung), keadaan larva O. rhinoceros sudah terinfeksi oleh jamur M. anisopliae. Tampak pada perlakuan A2 keadaan kutikula hingga ke haemolimfa larva O. rhinoceros sudah terinfeksi dan dalam keadaan rusak, dikarenakan miselium jamur memproduksi enzim yang mampu menghancurkan kutikula serangga. Sedangkan pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung), keadaan larva O. rhinoceros juga terinfeksi, bahkan dalam keadaan lebih parah, karena miselium dari jamur entomopatogen lebih menyebar ke seluruh jaringan larva, dikarenakan konsentrasi

jamur yang diamplikasikan lebih banyak dari pada perlakuan A5.Pada kedua gambar diatas tampak bahwa jamur telah membentuk konidia dan bahkan konidia telah terlepas dan menyebar. Hal ini menyatakan bahwa jamur entomopatogen telah menyelesaikan satu siklus hidupnya dan akan bereproduksi lagi membentuk propagul baru dan propagul ini nantinya akan mencari inang lain, dengan kata lain propagul ini akan kontak dengan inang baru dan akan menginfeksi inang yang baru. Sesuai dengan literatur yang dinyatakan oleh Priyanti (2009), yang menyatakan bahwa untuk menyelesaikan secara lengkap siklus hidupnya, maka kebanyakan pathogen harus kontak dengan iangnya, kemudian masuk ke dalam tubuh inang, bereproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang dan menghasilkan propagul untuk kontak dan menginfeksi inang baru.

Gambar 4 : Foto mikrograf jaringan larva pada perlakuan A2 disebelah kiri dan perlakuan A3disebelah kanan

Pada perlakuan A4 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung). Keadaan histologi larva O. rhinoceros pada perlakuan ini telah terinfeksi oleh jamur C. militaris. Tampak pada gambar bahwa akonidia b miselium c kutikula d epidermis ehaemolimfa a konidia b miselium c kutikula d epidermis e haemolimfa a konidia b miselium c kutikula d epidermis

(8)

terdapat miselium pada kutikula dan epidermis larva, sedangkan jaringan yang lebih dalam hingga ke haemolimfa masih terlihat bagus. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5 : Foto mikrograf jaringan larva pada perlakuan A4

Pada perlakuan A5 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 15 gr media jagung dapat dilihat bahwa miselium jamur entomopatogen telah menyebar pada bagian kutikula, epidermis hingga haemolimfa. Sedangkan pada perlakuan A6(diaplikasikan jamur C. militaris pada 20 gr media jagung), tampak jelas bahwa miselium dari jamur lebih banyak menyebar keseluruh jaringan larva O. rhinoceros, mulai dari kutikula hingga ke jaringan yang paling dalam. Pada kedua perlakuan ini juga tampak bahwa jamur telah membentuk konidia yang berarti bahwa jamur telah menyelesaikan satu siklus hidupnya dan telah bereproduksi membentuk propagul baru yang telah siap untuk menginfeksi inang yang baru. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6 : Foto mikrograh jaringan larva pada perlakuan A5 disebelah kiri(a: konidia, b: miselium, c: kutikula, d: epidermis) dan pada perlakuan A6 disebelah kanan (a: konidia, b: miselium, c: kutikula, d: epidermis)

Kesimpulan

1. Persentase mortalitas larva tertinggi akibat aplikasi jamur entomopatogen pada pengamatan 21 hsa adalah pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 100.00 % dan terendah pada perlakuan A4 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 70.00 %.

2. Persentase tertinggi waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O. rhinoceros yang terinfeksi pada pengamatan 12 hsa adalah pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur M. anisopliae pada 20 gr media jagung) sebesar 30.00 % dan terendah pada perlakuan A4 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 10 gr media jagung) sebesar 0.00 %.

3. Gejala serangan larva O. rhinoceros yang terinfeksi jamur M. anisopliae yaitu larva mengeras dan akan muncul koloni jamur bewarna hijau tua di sekitar tubuh larva. Sedangkan larva yang terinfeksi jamur C. militaris di sekitar tubuhnya akan muncul koloni jamur bewarna putih.

4. Pada foto mikrograf jaringan larva yang terinfeksi jamur entomopatogen dapat terlihat bahwa miselium jamur telahmenyebar di jaringan epidermis larva hingga ke jaringan yang lebih dalam.

5. Jamur entomopatogen M. anisopliae dan C. militaris dapat digunakan untuk mengendalikan larva O.rhinoceros secara hayati, dimana M. anisopliae lebih cepat mematikan larva O. rhinoceros dari pada jamur C. militaris.

Daftar Pustaka

Fauzi, Yan. Widyastuti, Y.E. Imam Satyawibawa dan Rudi Hartono., 2002. Kelapa Sawit. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

a. miselium b. kutikula c. epidermis d. haemolimfa a b c d

(9)

Ferron, P. 1985. Fungal Control. Comprehensive Insect Phisiology. Biochem Pharmacol. (12) : 313 – 346.

Diunduh dari:

http://pangerancakeb.wordpress.com

/artikel/metharhizium/ (Diakses

tanggal 30 Juni 2010).

Freimoser, F.M., S. Screen, S. Bagga, G. Hu, and R.J. St. Leger. 2003. Expressed Sequence Tag (EST) Analysis of Two Subspecies of Metarhizium anisopliae Reveals a Plethora of Secreted Proteins with Potential Activity in Insect Hosts.

Diunduh dari:

http://mic.sgmjournals.org/cgi/onten t/abstract/149/1/239.htm. (Diakses tanggal 30 Juni 2010).

Hosang, M. L., 1990. Pengendalian Hayati O. rhinoceros dengan M.anisopliae dalam Prossiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor 14 Oktober 1990 Hal. 375

Mahmud Z, 1989. Pengendalian Kumbang kelapa secara terpadu, Balai Penelitian Kelapa, Menado. 29 hal.

Prawirosukarto, S, Aini, Ginting dan Papierok. 1996. Pengembangan Cordyceps militarisUntuk Pengendalian UPDKS. Jurnal Penelitian Kelapa sawit Indonesia. Medan.

Prayogo, Y., 2006. Upaya Mempertahankan

Keefektifan Cendawan

Entonopatogen Untuk

Mengandalikan Hama Tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. 25(2):47-54. Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian, Malang. Priyanti, Sri. 2009. Kajian Patogenitas Cendawan Metarhizium anisopliae Pada Media Koalin Untuk Pengendalian Hama Oryctes rhinoceros dalam Prosiding Simposium I. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian, Bogor 20 Januari 2009. Hal. 150

Purba, S., A. Sipayung dan R. Desmier de Chenon, 1989. Kemungkinan Pengendalian Serangga Hama Pada Tanaman Kelapa Sawit Secara hayati. Biological Control Posibilities Of Insect Pest Of Oil Palm. Prosiding Temu Ilmu Ilmiah Entomologi Perkebunan Indonesia Cabang Sumatera Utara-Aceh. Pusat Penelitian Marihat, Pematang Siantar 02 Agustus 1989. Hal. 211

Sambiran, W.J dan Hosang, M.L.A., 2007. Patogenisitas Metarhizium anisopliae dari Beberapa Media Air Kelapa Terhadap Oryctes rhinoceros L. Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain. Dalam Buletin Palma No. 32.

Tim Penulis PS., 1997. Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press.

(10)

Gambar

Foto mikrograf jaringan larva yang terinfeksi jamur entomopatogen dapat dilakukan pada larva yang telah mati dan telah menunjukkan gejala dari serangan
Tabel 2. Beda uji rataan pengaruh aplikasi jamur terhadap waktu munculnya koloni jamur uji pada larva O
Foto Mikrograf Jaringan Larva O.rhinoceros Yang Terinfeksi Jamur Entomopatogen
Gambar 4 : Foto mikrograf jaringan larva pada perlakuan A 2 disebelah kiri dan perlakuan A 3 disebelah kanan

Referensi

Dokumen terkait

Disisi lain dilakukan penelitian dengan intervensi yang sama rendam kaki dengan jahe tetapi dibandingkan dengan terapi rendam kaki air hangat dan pada hasilnya tidak

Program ini akan memakai unit Layar, yang dibuat sebelumnya untuk menginformasikan jika penginputan data salah atau tidak sesuai dengan tipe yang diinginkan, karena itu

Jika order berasal dari luar negeri atau luar kota, maka pemeriksaan dilakukan oleh agen Qbonk.Com setempat.. Kemudian, jika masih berupa hard- copy, order akan dijadikan

Hal ini dikarenakan tingkat inflasi yang terjadi di Kabupaten Jember memang mengalami fluktuatif atau perubahan dalam setiap tahunnya, peningkatan atau penurunan yang ada

Ground Fault Detector (GFD) 3G berfungsi untuk mendeteksi adanya arus lebih atau gangguan hubung singkat antara fasa ke tanah pada saluran kabel tegangan.. menengah atau SKTM

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah hanya dilakukan di Yang Ming Marine Transport Corp Surabaya dengan variabel bebas yang digunakan adalah Kepemimpinan (K),

Fattah (2013: 154-156) mengatakan bahwa komite sekolah selaras dengan wewenangnya mempunyai tugas pokok sebagai berikut: (1) menyelenggarakan rapat-rapat komite