Rencana aksi nasional
Kementerian Kesehatan ri DireKtorat JenDeral PengenDalian PenyaKit Dan
Penguatan laboRatoRium
Pengendalian tubeRkulosis
Tuberkulosis atau TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Indonesia merupakan negara pertama diantara negara-negara dengan beban TB yang tinggi di wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target Global untuk TB pada tahun 2006, yaitu 70% penemuan kasus baru TB BTA positif dan 85% kesembuhan. Saat ini peringkat Indonesia telah turun dari urutan ketiga menjadi kelima diantara negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Meskipun demikian, berbagai tantangan baru yang perlu menjadi perhatian yaitu TB/HIV, TB-MDR, TB pada anak dan masyarakat rentan lainnya. Hal ini memacu pengendalian TB nasional terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program.
Strategi Nasional Program Pengendalian TB 2011-2014 dengan tema “Terobosan menuju Akses Universal”. Dokumen ini disusun berdasarkan kebijakan pembangunan nasional 2010-2014, rencana strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 dan strategi global dan regional. Penyusunan strategi nasional ini melibatkan partisipasi berbagai pihak pemangku kebijakan, pusat dan daerah, organisasi profesi, Gerdunas, komite ahli TB, lembaga swadaya masyarakat serta mitra internasional.
Strategi Nasional program pengendalian TB dengan visi “Menuju Masyarakat Bebas Masalah TB, Sehat, Mandiri dan Berkeadilan”. Strategi tersebut bertujuan mempertahankan kontinuitas pengendalian TB periode sebelumnya. Untuk mencapai target yang ditetapkan dalam stranas, disusun 8 Rencana Aksi Nasional yaitu : (1)
Public-Private Mix untuk TB ; (2) Programmatic Management of Drug Resistance TB;
(3) Kolaborasi TB-HIV; (4) Penguatan Laboratorium; (5) Pengembangan Sumber Daya Manusia; (6) Penguatan Logistik; (7) Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial; dan (8) Informasi Strategis TB.
Dokumen ini menjabarkan Rencana Aksi Nasional untuk penguatan jejaring, pemantapan mutu dan pengembangan laboratorium TB untuk periode 2011-2014, baik untuk pemeriksaan mikroskopis, biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis serta pengembangan alat diagnosis cepat TB. Untuk pemantapan mutu pemeriksaan Mikroskopis, Program Nasional Penanggulangan TB sudah mulai menerapkan metode LQAS di beberapa provinsi dan secara bertahap akan diimplementasikan
di semua provinsi. Pengembangan laboratorium biakan dan uji kepekaan (DST) M. tuberculosis juga sudah diintensifkan sehingga sampai tahun 2010, 5 laboratorium TB di Indonesia sudah tersertifikasi untuk DST lini pertama dan kedua. Namun demikian jumlah dan sebaran laboratorium biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis masih perlu ditingkatkan untuk mendukung pengembangan PMDT.
Kementerian Kesehatan RI mendorong serta mengupayakan terbentuknya laboratorium rujukan TB untuk memperkuat jejaring laboratorium TB di Indonesia. Dokumen ini diharapkan dapat mendorong implementasi penguatan jejaring, pemantapan mutu dan pengembangan laboratorium TB di Indonesia untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Rencana Aksi Nasional Laboratorium TB.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait yang telah berkontribusi dalam menyelesaikan Rencana Aksi Nasional ini. Segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikannya pada masa mendatang sangat diharapkan. Semoga buku ini bermanfaat dalam pengendalian TB di Indonesia.
Mari kita lakukan terobosan dalam perjuangan melawan TB.
Jakarta, 14 Maret 2011
Direktur Jenderal PP&PL, Kementerian Kesehatan RI
Pengarah Tjandra Yoga Aditama
Yusharmen H.M. Subuh
editor Dyah Erti Mustikawati
Nani Rizkiyati Kontributor Sri Widiastuti Irfan Ediyanto Agus Susanto Sri Sumartini Wiwi Ambarwati Retno Kusuma Dewi
Saumiyati Sri Haryani Tintin Gartinah Endang Woro Roni Chandra Agus Sjahrurachman Lia Gardenia Harini Janiar Ning Rintiswati Ktut Rentyastuti Deni A. Endriana S. Koesprijani Anis Karuniawati Nasrum Massi
Kata Pengantar …... i
Tim Penyusun ... iii
Daftar isi ... . iv
Daftar Tabel ... vi
Daftar Lampiran ... vii
I. PenDaHULUan ... 1
II. anaLISIS SItUaSI PeLaYanan LaBOratOrIUM DI InDOneSIa ... 4
1. Peran Lab dalam penemuan dan pengelolaan kasus TB ... 4
1.1. Sumber Daya Laboratorium ... 5
1.1.1. Sarana Prasarana ... 5
1.1.2. Sumber Daya Manusia ... 6
1.2. Sistem Pengendalian Mutu Laboratorium Jejaring Laboratorium ... 7
1.3. Pengendalian Infeksi Laboratorium Mikroskopis TB ... 9
2. Peran Laboratorium dalam penemuan dan pengelolaan kasus TB MDR ... 10
2.1. Kemampuan laboratorium dalam biakan dan Uji kepekaan ... 10
2.2. Sumber Daya Laboratorium ... 11
2.2.1. Sarana Prasarana ... 11
2.2.2. Sumber Daya Manusia ... 11
2.3. Pemantapan Mutu Laboratorium ... 12
2.4. Pengendalian Infeksi Lab biakan dan Uji kepekaan ... 12
3. DRS (Drugs Resistance Surveillance) ... 12
4. Pengembangan Diagnosis Baru ... 12
5. Pengembangan Pencatatan dan Pelaporan ... 13
III tantangan-tantangan UtaMa DaLaM IMPLeMentaSI LaBOratOrIUM tB DI InDOneSIa ... 14
IV. tUJUan, InDIKatOr Dan target ... 16
1 Tujuan ... 16
1.1. Tujuan Umum ... 16
1.2. Tujuan Khusus ... 16
2. Indikator dan Target ... 16
V. rUMUSan StrategI ... 18
1. Kebijakan ... 18
2. Strategi ... 18
VI.IMPLeMentaSI renCana aKSI naSIOnaL LaBOratOrIUM ... 19
VII. MOnItOrIng Dan eVaLUaSI ran LaBOratOrIUM ... 26
VIII.Penganggaran Dan PeMBIaYaan ... 27
X. PenUtUP ... 28
Tabel 1. Indikator dan target 2014 - strategi memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu dalam
Stranas TB di Indonesia 2010-2014 ... 3 Tabel 2. Jumlah dan proporsi DOTS di Fasyankes ... 5 Tabel 3. Kondisi Fasilitas Laboratorium TB dalam Pemeriksaan
Biakan dan Uji kepekaan. ... 10 Tabel 4. Kebutuhan minimal sumber daya manusia di laboratorium
Lampiran 1. Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan
pemeriksaan biakan M tuberculosis sesuai standar ... 30 Lampiran 2. Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM,
Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan
pemeriksaan biakan & uji kepekaan ... 31 Lampiran 3. Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK,BBKPM,
Lab RS A dan B, Lab Universitas) siap mendukung survei
uji kepekaan di 4 provinsi ... 32 Lampiran 4. Program kerja beserta timeline pelaksanaan kegiatan RAN ... 33
BBLK : Balai Besar Laboratorium Kesehatan BLK : Balai Laboratorium Kesehatan
BPPM & SK : Bina Pelayanan Penunjang Medik & Sarana Kesehatan BSL : Biosafety Level
BTA : Basil Tahan Asam BUK : Bina Upaya Kesehatan
DOTS : Directly Observed Treatment Shortcourse EQAS : External Quality Assessment System Fasyankes : Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Gerdunas-TB : Gerakan Terpadu Nasional – Tuberkulosis ISTC : Internasional Standart Tuberculosis Care LQAS : Lot Quality Assurance Sampling
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millenium Development Goals MDR : Multi Drug Resistant
OAT : Obat Anti Tuberkulosis
P2TB : Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis PME : Pemantapan Mutu Eksternal
Pokja : Kelompok Kerja PPM : Public Privat Mixs QA : Quality Assurance R 5 : Round 5
RUS : Rujukan Uji Silang TB : Tuberkulosis
TB HIV : Tuberculosis - Human Immunodeficiency Virus UPK : Unit Pelayanan Kesehatan
WHO : World Health Organization XDR : Extremely Drug Resistance
Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama, sehingga di tingkat global telah dikembangkan rencana penanggulangan yang terprogram dan berkesinambungan. Rencana strategis dikembangkan untuk mencapai target dalam Millenium Development Goals (MDG’s) yaitu mempertahankan kondisi dimana 70% orang yang terinfeksi TB dapat dideteksi melalui strategi DOTS dan 85 % di antaranya dinyatakan sembuh, bahkan kondisi ini bila mungkin dapat semakin ditingkatkan sampai tahun 2015.
Program penanggulangan penyakit TB di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan strategi DOTS yang mencakup komponen komitmen politis, diagnosis TB dengan pemeriksaan mikroskopis dahak yang terjamin mutunya, pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tata laksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan, jaminan ketersediaan OAT yang bermutu, sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program. Pemeriksaan mikroskopis dahak untuk diagnosis TB merupakan salah satu dari lima komponen kunci. Sedangkan untuk monitoring dan evaluasi pengobatan serta deteksi dini pada kasus TB-MDR, diperlukan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan kuman TB. Dalam upaya mencapai target tersebut diperlukan akselerasi pelaksanaan kegiatan program penanggulangan TB yang mengacu kepada International Standard of TB Care (ISTC).
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, iptek dalam bidang kelaboratoriuman TB juga mengalami perkembangan. Adanya alternatif pemeriksaan laboratorium TB yaitu rapid imuno assay dan biomolekuler masih perlu divalidasi terlebih dahulu oleh ahli laboratorium di Indonesia dan ditetapkan oleh pemerintah sebelum digunakan secara luas.
Tantangan dimasa mendatang terhadap pelayanan laboratorium TB adalah kasus MDR dan XDR, ko-infeksi TB-HIV, serta pelayanan laboratorium TB untuk daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, diperlukan peningkatan jangkauan dan kualitas pemeriksaan laboratorium TB melalui perencanaan nasional yang tersusun baik dengan tahapan prioritas penanganan masalah, dengan indikator kinerja,
pendanaan yang memadai untuk pelaksanaan, monitoring dan evaluasi yang baik, terintegrasi, terkoordinasi dan meningkatkan kemitraan dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antar unit-unit terkait, dalam suatu rencana strategi kegiatan jangka menengah dan jangka pendek.
Strategi nasional Program Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014 mengusung tema “Terobosan menuju Akses Universal”. Dokumen tersebut disusun dengan mengacu pada kebijakan pembangunan nasional 2010-2014, sistem kesehatan nasional 2009, rencana strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014, strategi dan rencana global dan regional, serta evaluasi perkembangan program TB di Indonesia. Dengan visi mencapai “Menuju masyarakat bebas masalah TB, sehat, mandiri dan berkeadilan”, dikembangkan tujuh strategi yang merupakan terobosan menuju akses universal. Tujuh strategi tersebut meliputi empat strategi utama dalam implementasi pengendalian TB dan tiga strategi pendukung lainnya sebagai berikut:
1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu
2. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya
3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, LSM, dan swasta melalui pendekatan Public-Private Mix (PPM) dan menjamin penerapan International
Standards for TB Care
4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB didukung dengan:
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan, termasuk pengembangan SDM dan manajemen program pengendalian TB
6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program pengendalian TB
7. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi stratejik Dalam uraian strategi pertama (memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu), diuraikan bahwa jejaring laboratorium perlu diperkuat khususnya pemantapan mutu eksternal (PME) guna meningkatkan kapasitas diagnostik TB di Indonesia. Implementasi PME masih dinilai lemah karena belum semua laboratorium mengikuti uji silang rutin. Indikator dan target khusus 2014 adalah 90% dari jumlah laboratorium yang ada diharapkan telah mengikuti PME (uji silang dan uji panel)
untuk pemeriksaan mikroskopik TB dan 100% dari jumlah laboratorium tersebut telah lulus PME. Hasil PME yang baik menunjukkan kinerja laboratorium TB yang baik guna mendukung keberhasilan Program Pengendalian TB.
Tabel 1. Indikator dan target 2014 - strategi memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu dalam Stranas TB di Indonesia 2010-2014
INDIkAtor tArgEt 2014
Proporsi laboratorium yang mengikuti PME (uji silang dan tes 90% panel) untuk pemeriksaan mikroskopis
Proporsi laboratorium yang lulus PME (uji silang dan tes panel) 100% untuk pemeriksaan mikroskopis
Rencana Aksi Nasional 2010-2014 ini menjabarkan analisis situasi, tantangan-tantangan utama, perumusan strategi, implementasi, monitoring dan evaluasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan laboratorium TB di Indonesia.
LABorAtorIUM DI INDoNESIA
Pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari program pengendalian TB tentunya harus dapat mendukung program TB melalui peran dan fungsinya dalam pasien TB dan kasus TB-MDR.1. Peran Lab dalam penemuan dan pengelolaan kasus tB
Dalam program penanggulangan TB, pemeriksaan mikroskopis dahak merupakan komponen kunci untuk menegakkan diagnosis serta evaluasi dan tindak lanjut pengobatan Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara biakan atau biakan. Diagnosis TB melalui pemeriksaan biakan dahak merupakan metode baku emas (gold standard) namun memerlukan waktu relatif lama dan mahal. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien, mudah, murah, bersifat spesifik dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium yang kinerjanya harus dipantau melalui sistem pemantapan mutu laboratorium.
kemampuan Pemeriksaan Laboratorium tB
Saat ini fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pemeriksaan TB belum semua menerapkan strategi DOTS. Tabel 2 menunjukkan fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pemeriksaan laboratorium dengan strategi DOTS
Tabel 2. Jumlah dan proporsi DOTS di Fasyankes
Fasyankes Jumlah % DotS
Puskesmas (PRM, PPM, PS) 9127 98% RS • Pemerintah(tmsk TNI/Polri) 1625 33% • Swasta 663 NA RS Khusus 269 NA BBKPM/BKPM 30 100% BBLK/ BLK 26 100% Labkes Kab/Kota 109 NA
Lab/ Klinik Swasta 792 NA
BBTKL/ BTKL NA 10%
Kualitas pemeriksaan sediaan dahak menentukan kualitas program nasional penanggulangan TB. Untuk membuat sediaan dahak yang berkualitas diperlukan spesimen dahak yang berkualitas pula. Tetapi tidak semua spesimen yang diperiksa di laboratorium adalah spesimen yang memenuhi standar, oleh karena itu petugas laboratorium harus dapat memilih spesimen yang bagus yaitu bagian dahak yang kental/ purulen.
Dari hasil supervisi dan monitoring evaluasi diketahui kualitas sediaan dahak di UPK masih di bawah standar ( Laporan kegiatan LQAS, 2009; Rekapitulasi laporan supervisi Pokja Lab TB, 2008/ 2009). Partisipasi laboratorium pemeriksa pertama mikroskopis dalam uji silang masih rendah (52%) dan 71,2% dari laboratorium tersebut memiliki erorr rate <5% (Hasil Analisa TB 12 Nasional, 2009/ 2010). 1.1. Sumber Daya Laboratorium
1.1.1. Sarana Prasarana
Fasilitas Laboratorium
Fasilitas laboratorium terdiri dari ruangan dengan ventilasi yang memadai, instalasi dan daya listrik yang cukup, sumber air bersih yang mengalir langsung ke laboratorium dan fasilitas pengelolaan limbah. Fasilitas laboratorium harus memenuhi kaidah pengendalian infeksi. Pada umumnya laboratorium TB tidak
berdiri sendiri tetapi terintegrasi dalam pelayanan laboratorium pada fasyankes tersebut.
Pada umumnya kondisi ruangan laboratorium di fasyankes masih belum memenuhi standar. Pembangunan dan pengembangan infrastruktur laboratorium milik daerah masih belum optimal karena terkait dengan regulasi otonomi daerah, termasuk pendanaan. Infrastruktur laboratorium di daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan masih kurang memadai serta memerlukan perhatian khusus.
Peralatan Laboratorium
Laboratorium mikroskopis TB harus memiliki mikkroskopis binokuler yang berfungsi dengan baik. Saat ini dari 6.438 mikroskop di fasyankes , 5.427 dalam kondisi baik sedangkan 1.011 dalam kondisi yang kurang baik.Menyikapi kondisi ini ,upaya yang dilakukan oleh fasyankes adalah dengan memanfaatkan mikroskop dari program malaria untuk menguatkan lab TB. Masalah utama dalam peralatan laboratorium adalah pemeliharaan rutin dan penyediaan suku cadang (lampu dan lensa).
Bahan Habis Pakai: alat sekali pakai, sediaan, reagen
Bahan habis pakai yang diperlukan untuk menjamin fungsi mikroskop yaitu kertas lensa, ether alkohol dll harus dipastikan ketersediaannya. Reagen Ziehl-Neelsen sebagai komponen utama yang diperlukan untuk pemeriksaan mikroskopis BTA harus tersedia dengan jumlah dan kualitas standar.
Standarisasi tarif pelayanan saat ini belum ditetapkan. Sentralisasi pengadaan bahan habis pakai
1.1.2. Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia merupakan komponen penting dalam program Nasional pengendalian TB Standar ketenagaan laboratorium fasyankes adalah seorang analis D III yang telah mengikuti pelatihan teknis laboratorium TB. Saat ini belum semua fasyankes telah memenuhi standar tersebut. Sampai dengan tahun 2010, pelatihan mikroskopis TB baru mencakup 25 % dari seluruh petugas lab TB fasyankes. Dari jumlah tersebut tidak semua petugas masih
bertugas di laboratorium TB tanpa ada alih pengetahuan dan keterampilan kepada petugas pengganti.
Kualitas dan kuantitas tenaga laboratorium di UPK, RS serta unit laboratorium lain-nya sangat bervariasi. Jumlah tenaga “supervisor” laboratorium baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota masih sangat kurang. Diperlukan tenaga-tenaga yang kompeten di bidangnya serta pendanaan yang cukup untuk melakukan supervisi dan bimbingan teknis secara berjenjang.
1.2. Sistem Pengendalian Mutu Laboratorium Jejaring Laboratorium
Jejaring laboratorium TB adalah suatu sistem pelayanan laboratorium disusun secara berjenjang dengan mengacu pada fungsi dan kompetensinya dalam program pengendalian TB. Adanya jejaring laboratorium TB akan memastikan bahwa pelayanan laboratoium dilaksanakan sesuai standar serta kualitas baku, mutakhir dan terjangkau. Jejaring laboratorium yang melakukan pemeriksaan TB di Indonesia mencakup seluruh wilayah, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota sampai dengan tingkat nasional. Jejaring dan sistem rujukan laboratorium TB terdiri dari UPK mikroskopis, laboratorium rujukan uji silang, laboratorium rujukan provinsi, laboratorium rujukan regional dan laboratorium rujukan nasional.
Saat ini jejaring pelayanan laboratorium TB telah terbentuk dan berfungsi dalam sistem rujukan. Untuk pelaksanaan pengendalian mutu laboratorium TB masih terbatas pada pemeriksaan mikroskopis dengan jenjang laboratorium rujukan uji silang II (provinsi), laboratorium rujukan uji silang I (kab/ kota) dan laboratorium mikroskopis. BBLK/BLK dalam pelayanan laboratorium TB, sebagian besar masih berfungsi sebagai laboratorium rujukan uji silang I dan pada beberapa provinsi telah memiliki laboratorium uji silang pertama. Laboratorium rujukan nasional yang merupakan jenjang tertinggi telah ditentukan yaitu BBLK Surabaya untuk pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan, BLK Bandung untuk mikroskopis dan Pemantapan mutu mikroskopis, dan Lab Departemen Mikrobiologi FK UI sebagai rujukan riset.
koordinasi dan kerjasama
Koordinasi program dan unit laboratorium dalam bentuk perencanaan bersama kegiatan yang terkait laboratorium TB, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi kegiatan di daerah diperlukan agar pelaksanaan program berjalan sesuai sasaran. Saat ini koordinasi antara program TB di daerah dengan lintas program dan sektor masih belum optimal. Wasor TB memegang peran penting dalam koordinasi antara program dan pengendalian mutu laboratorium TB di daerahnya. Koordinasi sangat diperlukan dalam hal memfasilitasi ketersediaan bahan dan reagen, penyelenggaraan pelatihandan pelaksanaan pengendalian mutu kinerja laboratorium.
Saat ini di sebagian besar provinsi peran wasor dalam hal tersebut di atas masih belum optimal, salah satu penyebabnya adalah mutasi staf yang cepat. Rendahnya komitmen dari pemerintah daerah setempat dalam penyediaan dana menjadi salah satu penyebab belum optimalnya pelaksanaan program penanggulangan TB di Indonesia. Beberapa provinsi atau kabupaten/kota telah memulai mengusulkan pelayanan laboratorium TB melalui dana APBN, APBD dan lain-lain meskipun jumlahnya belum memadai.
Pemantapan Mutu
Pemantapan mutu laboratorium TB dilaksanakan sebagai upaya untuk menjamin kualitas pemeriksaan yang secara langsung dapat berdampak pada pencapaian program nasional pengendalian TB. Tiga komponen utama pemantapan mutu adalah pemantapan mutu internal, pemantapan mutu eksternal dan upaya peningkatan mutu.
Pemantapan mutu eksternal mikroskopis telah dilakukan melalui kegiatan uji silang, supervisi dan panel testing. Saat ini uji silang mikroskopis dilakukan oleh BBLK/BLK dan di beberapa provinsi telah memfungsikan laboratorium Kabupaten/Kota atau setara sebagai laboratorium rujukan uji silang pertama. Dengan mempertimbangkan keadaan geografis Indonesia, laboratorium rujukan uji silang seharusnya berada di setiap kabupaten atau beberapa kabupaten membentuk kluster. Uji silang yang dilaksanakan secara nasional masih menggunakan metoda konvensional yang menguji ulang 10% sediaan negatif dan seluruh sediaan positif. Dengan metode ini tidak memberikan kesempatan kepada seluruh sediaan untuk dipilih. Metode LQAS (Lot Quality Assurance System) merupakan sistem sampling yang direkomendasikan
untuk uji silang. Setelah melalui uji coba LQAS di 4 provinsi, metode ini akan diterapkan secara nasional.
Belum semua BBLK/BLK melaksanakan fungsinya sebagai laboratorium rujukan di tingkat propinsi (cross checker kedua) secara optimal. Adanya hambatan dana bantuan GF-ATM beberapa waktu yang lalu menyebabkan tidak optimalnya kegiatan uji silang, sehingga hasil pemeriksaan mikroskopis dalam periode tertentu kualitasnya perlu dipertanyakan.
Dana untuk uji silang maupun supervisi teknis dalam rangka pemantapan mutu eksternal masih sangat terbatas, sehingga supervisi ke laboratorium tidak dapat dilakukan secara rutin setiap tahun, hal ini juga ditambah dengan terbatasnya tenaga yang akan melaksanakan supervisi tersebut.
Untuk menjamin mutu pemeriksaan biakan dan uji kepekaan, telah dilakukan pemantapan mutu eksternal melalui pengiriman panel testing oleh laboratorium rujukan supranasional. Sesuai prosedur maka unit pemeriksa biakan dan uji kepekaan perlu melakukan rujukan pemantapan mutu ke laboratorium supra nasional, termasuk juga kelanjutan panel testing secara teratur dan berkesinambungan serta proses yang lebih cepat untuk sertifikasi pemeriksa biakan dan Uji kepekaan yang dilakukan sendiri oleh laboratorium di dalam negeri.
1.3. Pengendalian Infeksi Laboratorium Mikroskopis tB
Petugas kesehatan yang menangani pasien TB sehari-hari berhubungan langsung dengan pasien TB merupakan kelompok risiko tinggi untuk terinfeksi TB. Risiko penularan infeksi di dari pasien TB ke petugas kesehatan sudah diketahui sejak lama dan angka kejadiannya terus meningkat. Keadaan ini memerlukan perhatian khusus, karena akan mempengaruhi kinerja dan produktifitas petugas kesehatan. Untuk meminimalkan resiko terjadinya infeksi TB di laboratorium TB, penting dilakukan upaya tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang efektif. WHO merekomendasikan tindakan pencegahan penularan TB dengan 4 pilar, berupa manajemen, pengendalian administratif, lingkungan dan perlindungan diri. Selain itu, pencegahan dan pengendalian infeksi menjadi sesuatu yang penting dari upaya penanggulangan TB nasional, dengan munculnya dampak beban ganda epidemik TB HIV dan kasus MDR TB dan XDR-TB, yang berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian pada pasien HIV (WHO, 2010).
2. Peran Laboratorium dalam penemuan dan pengelolaan kasus tB
MDr.
Untuk diagnosis kasus TB MDR terdapat beberapa syarat untuk laboratorium dapat melakukan biakan dan Uji kepekaan yaitu laboratorium tersebut harus memiliki fasilitas dan menerapkan standar.
2.1. kemampuan laboratorium dalam biakan dan Uji kepekaan
Berdasarkan standar dari WHO, minimal diperlukan 1 laboratorium yang mampu memeriksa biakan TB untuk setiap 5 juta penduduk dan setiap 10 juta penduduk untuk laboratorium pemeriksa biakan dan Uji kepekaan, untuk itu perlu pengembangan. pelayanan biakan untuk provinsi luar Jawa. Dari data supervisi ke 33 provinsi di tahun 2005 diperoleh gambaran sebanyak 44 laboratorium yang mempunyai kemampuan melakukan pemeriksaan biakan tetapi hanya 11 laboratorium yang melaksanakan pemeriksaaan biakan dan Uji kepekaan. Dari 11 laboratorium tersebut hingga saat ini baru 5 laboratorium yaitu Mikrobiologi FKUI, Balai Besar Laboratorium Surabaya, NECHRI Makasar, BLK Bandung, RS Persahabatan yang telah mendapat sertifikasi untuk pemeriksaan Uji kepekaan OAT lini pertama dan kedua dari Laboratorium Supra Nasional IMVS Adelaide. Diperlukan percepatan untuk meningkatkan kemampuan laboratorium dalam melaksanakan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan melalui pemenuhan sarana prasarana, pelatihan, pemantapan mutu eksternal.
Tabel 3 Kondisi Fasilitas Laboratorium TB dalam Pemeriksaan Biakan dan Uji kepekaan.
No. Fasilitas Lab tB kondisi Sekarang target kesenjangan
(2010)
1. Biakan dan identifikasi kuman M. Tb 17 46 29 2. Uji kepekaan OAT lini I (tersertifikasi) 5 17 12 3. Uji kepekaan OAT lini II (tersertifikasi) 5 17 12
2.2. Sumber Daya Laboratorium 2.2.1. Sarana Prasarana
Laboratorium pelaksana pemeriksaan biakan dan uji kepekaan harus memenuhi yaitu laboratorium dengan tingkat keamanan minimal BSL II plus. Selain itu diperlukan instalasi dan daya listrik yang memadai, sumber air bersih yang cukup, fasilitas pengelolaan limbah sesuai standar dan memenuhi kaidah pengendalian infeksi. Saat ini sebagian besar laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan belum memenuhi standar. Pengembangan laboratorium untuk biakan dan uji kepekaan saat ini masih dalam proses fasilitasi ruangan, alat, bahan dan reagen serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
2.2.2. Sumber Daya Manusia
Kebutuhan minimal tenaga laboratorium untuk biakan dan Uji kepekaan M.Tb adalah:
Tabel 4. Kebutuhan minimal sumber daya manusia di laboratorium untuk biakan dan uji kepekaan
UrAIAN tUgAS kUALIFIkASI JUMLAH
Teknisi Penyelia Dokter SpMK, SpPK, Dokter umum dengan 1 orang pengalaman min 3 tahun di lab sejenis
Teknisi Media dan Analis DIII terlatih biakan dan Uji kepekaan 2 orang Reagensia
Teknisi Pelaksana Analis DIII terlatih mikroskopis, biakan, 3 orang Uji kepekaan
Teknisi Pemeliharaan DIII ATEM terlatih 1 orang dan Perbaikan Alat
Pekarya SMP/ setara 1 orang
2.3. Pemantapan Mutu Laboratorium
Pengendalian mutu pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan dilakukan dilakukan dengan pemantapan mutu eksternal melalui panel testing oleh laboratorium rujukan supranasional/ nasional secara berkala dan berkesinambungan dan ditindaklanjuti dengan supervisi. Laboratorium yang telah lulus PME dibuktikan dengan setrifikat dari laboratorium penyelenggara PME. Untuk kesinambungan kegiatan PME diperlukan ketersediaan dana.
2.4. Pengendalian Infeksi Lab biakan dan Uji kepekaan
Laboratorium biakan dan Uji kepekaan harus dilengkapi dengan fasilitas BSL II plus yang terstandar. Pelaksanaan pemeriksaan harus memenuhi standar praktek BSL III.
3. DrS (Drugs Resistance Surveillance)
Pengelolaan pasien TB yang tidak standar menyebabkan risiko TB MDR/ XDR. Untuk mengetahui masalah kekebalan OAT di negara/ wilayah masing-masing harus dilakukan survei kekebalan terhadap OAT . Data MDR secara nasional belum ada karena belum dilakukan surveilans MDR. Saat ini masih terbatas pada survei di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dan akan diikuti dengan survei secara sentinel di daerah sasaran pengembangan PMDT.
4. Pengembangan Diagnosis Baru
Kemajuan teknologi laboratorium menimbulkan produk diagnostik TB dan Uji kepekaan baru dengan berbagai metoda seperti immunoassay, PCR, semi konvensional dan lain-lain. Untuk itu metoda tersebut perlu dilakukan validasi terlebih dahulu dengan menggunakan sampel dari pasien TB Indonesia untuk mengetahui sensitivitas dan spesifitasnya. Kegiatan validasi metoda baru dilakukan melalui pengujian di laboratorium rujukan riset nasional untuk mendapat legalitas bagi penerapan secara nasional.
5. Pengembangan Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan laboratorium TB dilakukan secara terintegrasi dengan kegiatan pencatatan dan pelaporan program nasional TB. Pelaporan kinerja kegiatan laboratorium dengan TB 12 masih belum dilaksanakan secara standar sehingga terjadi kesulitan analisis. Sistem pencatatan dan pelaporan laboratorium TB akan dikembangkan secara elektronik agar terdapat keseragaman dan mempermudah analisis.
DALAM IMPLEMENtASI LABorAtorIUM tB
DI INDoNESIA
Tantangan-tantangan utama dalam kegiatan laboratorium TB di Indonesia didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan pelayanan laboratorium TB yang berkualitas yaitu:1. Pelayanan laboratorium TB untuk daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal dan perbatasan. Pelayanan yang bermutu pada daerah ini perlu mendapat prioritas karena situasi yang berbeda dengan daerah lain, menyangkut infrastruktur dan geografis, sehingga diperlukan strategi khusus untuk pelayanan termasuk laboratorium.
2. Pemantapan mutu laboratorium melalui sistem jejaring laboratorium TB belum berfungsi optimal baik mikroskopis maupun biakan dan Uji kepekaan. Bila jejaring berfungsi dengan baik, maka pelaksanaan kegiatan pemantapan mutu ekternal dapat dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan dengan memfungsikan setiap laboratorium dalam setiap jenjang sehingga mutu pemeriksaan laboratorium TB dapat ditingkatkan.
3. Ketersediaan sumber daya laboratorium yang berkualitas.
Pelatihan teknis laboratorium secara berkesinambungan dengan Training need assessment yang baik agar pelatihan tepat sasaran. Ketersediaan pedoman pemeriksaan dan prosedur tetap yang mutakhir. Koordinasi tingkat pusat dan daerah dalam hal ketenagaan harus memfasilitasi sistem rekruitmen ( pengangkatan dan mutasi), pelatihan, pendanaan. Selain itu pembinaan teknis dan manajemen perlu dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan. 4. Kasus HIV yang meningkat dimana infeksi penyerta yang paling banyak adalah
TB. Pada seseorang yang terinfeksi TB, maka ko-infeksi dengan HIV akan meningkatkan resiko progresivitas menjadi TB aktif. Peningkatan prevalensi HIV di Indonesia menjadi ancaman pula untuk peningkatan kasus TB-HIV.
5. Pelayanan laboratorium TB yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan kasus TB-MDR dan XDR. Diperlukan terobosan untuk percepatan pengembangan. pelayanan biakan dan Uji kepekaan terutama di luar Jawa.
Untuk itu dalam upaya menghadapi tantangan TB di masa mendatang, perlu disusun kebijakan yang diterjemahkan ke dalam kegiatan-kegiatan prioritas yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam waktu 4 tahun, 2011 – 2014.
1 tujuan
1.1. tujuan UmumMeningkatkan kinerja laboratorium TB mikroskopik, biakan, uji kepekaan dan pengembangan pemeriksaan laboratorium TB dengan metode baru untuk menunjang keberhasilan program penanggulangan TB Nasional
1.2. tujuan khusus
1. Penguatan dan pengembangan sistem pemantapan mutu laboratorium TB 2. Menguatkan jejaring laboratorium mikroskopis TB
3. Implementasi sistem jejaring laboratorium untuk biakan dan Uji kepekaan M tb.
4. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium TB yang aman bagi petugas, pasien dan lingkungan.
5. Menjamin mutu dan kinerja laboratorium TB. 6. Melakukan validasi metode diagnostik TB baru
2. Indikator dan target
Indikator dan Target dari RAN Laboratorium Tuberkulosis yang akan dicapai pada 2014 adalah sebagai berikut :
INDIkAtor tArgEt 2014
Proporsi jumlah laboratorium rujukan uji silang 100% mikroskopik provinsi berfungsi sesuai pedoman
Proporsi jumlah laboratorium mikroskopis di sarana 80% kesehatan yang memiliki petugas terlatih
Kualitas kinerja laboratorium mikroskopik TB
a. Tingkat kesalahan Tidak melampaui pedoman
b. Cakupan uji silang 90%
c. Kualitas sediaan untuk uji silang harus baik 90% d. Rutinitas melakukan uji silang sesuai pedoman Per triwulan
INDIkAtor tArgEt 2014
Jumlah Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK, 46 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan M tuberculosis sesuai standar*
Jumlah Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK, 17 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) mampu melakukan pemeriksaan biakan & Uji kepekaan*
Jumlah Laboratorium Rujukan TB Propinsi (BBLK/BLK, 17 BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) siap
mendukung survei Uji kepekaan di 4 provinsi*
Proporsi jumlah Laboratorium biakan dan Uji kepekaan 100% TB telah menjalankan Biosafety sesuai standar
Proporsi BBLK/BLK tersertifikasi untuk pemeriksaan 100% laboratorium mikroskopik TB
Jumlah fasilitas Laboratorium Rujukan Provinsi 8 (BBLK Surabaya, BLK (BBLK/BLK,BBKPM, Lab RS A dan B, Lab Universitas) Bandung, RS Persahabatan, telah tersertifikasi dalam pemeriksaan biakan dan Uji Dept. Mikro FK UI, Lab Nechri kepekaan oleh Laboratorium Rujukan Nasional Unhas, BLK Semarang, BLK
Jayapura, Dept. Mikro FK UGM)
Terbentuknya laboratorium rujukan TB nasional dan 3 lab nasional (BBLK Surabaya,
regional BLK Bandung, Dept Mikro
FK UI) 8 lab regional (Sumut
Adam Malik, BBLK Palembang,
BLK Bandung, BBLK Surabaya,
BLK Semarang, BLK
Banjarmasin, BLK Jayapura,
BLK Manado)
Pencatatan dan pelaporan laboratorium TB secara TB 12 elektronik elektronik terintegrasi dalam program TB
Melakukan validasi metode baru untuk pemeriksaan Rapid culture/DST method,
laboratorium TB Uji molekuler
1. kebijakan
1. Upaya penguatan jejaring laboratorium TB dilaksanakan melalui kerjasama lintas sektor dan program di pusat dan daerah, sesuai tugas pokok dan fungsi institusi dengan melibatkan ahli laboratorium.
2. Upaya peningkatan SDM teknis laboratorium TB di semua fasyankes pemerintah maupun swasta melalui pendidikan dan pelatihan, kalakarya, supervisi dengan melibatkan berbagai institusi di dalam dan luar negeri.
3. Pemantapan mutu laboratorium TB dilaksanakan secara berjenjang dan difasilitasi oleh peran pusat dan daerah serta sektor terkait. Pemantapan mutu eksternal laboratorium mikroskopis dilaksanakan dengan metode LQAS dan pemantapan mutu eksternal laboratorium biakan dan Uji kepekaan dilaksanakan dengan metode panel dari laboratorium rujukan nasional. Laboratorium supranasional berperan dalam supervisi kinerja laboratorium rujukan nasional.
2. Strategi
1. Penjaminan mutu pelayanan laboratorium TB
2. Implementasi sistem jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan M.Tb 3. Penguatan jejaring laboratorium TB
4. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium TB yang aman
5. Validasi dan penapisan metode baru pemeriksaan laboratorium TB dilaksanakan di laboratorium rujukan riset dan hasilnya dilaporkan melalui Pokja lab TB dan Komli sebelum diputuskan sebagai metode yang dapat digunakan di Indonesia
rENCANA AkSI NASIoNAL LABorAtorIUM
Rencana Aksi Nasional Laboratorium TB telah disusun oleh Subdit Mikrobiologi dan Imunologi, Dit BPPM&SK, Ditjen BUK dengan Subdit TB, Dit P2ML, Ditjen PP&PL dalam konsultasi dengan Pokja Laboratorium TB dalam bentuk program kerja pengembangan dan penguatan Pelayanan Laboratorium Tuberkulosis di Indonesia Th 2011 – 2014, dengan uraian sebagai berikut:A. Penjaminan mutu pelayanan laboratorium tB
1. Menerapkan sistem rujukan sesuai standara. Mengumpulkan data kondisi sumber daya laboratorium mikroskopis 1) Inventarisasi dan menyiapkan daftar tilik
2) Distribusi daftar tilik
3) Analisis sumber daya laboratorium b. Peningkatan kemampuan tenaga laboratorium
1) Pelatihan/refreshing
2) Pelatihan teknis untuk lab RUS I 3) Pelatihan teknis untuk lab RUS II
4) Pelatihan manajemen lab TB untuk manajer lab TB untuk provinsi 5) Pelatihan manajemen lab TB untuk manajer lab TB utk kab/kota 2. Memfungsikan laboratorium di 7 provinsi baru
a. Peningkatan kompetensi sebagai laboratorium RUS 1) Pengiriman tes panel (50 sediaan tiap 6 bulan)
2) Pelaksanaan uji silang bertingkat (RUS II prov pembina)
3) Pelaksanaan uji silang bertingkat (RUS I lab rujukan 7 prov baru) b. Pembinaan laboratorium RUS dalam bentuk kalakarya
1) oleh BBLK/BLK Pembina 2) oleh pusat
c. Pemenuhan sumber daya laboratorium
1) Identifikasi kebutuhan sumber daya laboratorium (alat, sarana prasaarana)
2) Fasilitasi sumber daya lab
3. Peningkatan mutu pelayanan laboratorium tB a. Penyediaan NSPK pelayanan laboratorium TB
1) Penyusunan Standar Pelayanan Laboratorium TB 2) Penggandaan Standar Pelayanan Lab TB
3) Sosialisasi Standar Pelayanan Lab TB
4) Penyusunan Pedoman Pemantapan Mutu (EQAS + QC)Lab TB 5) Penggandaan Pedoman Pemantapan Mutu Lab TB
6) Sosialisasi Pedoman Pemantapan Mutu Lab TB
7) Penyusunan Kurukulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis TB 8) Penggandaan Kurikulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis TB 9) Sosialisasi Kurikulum dan bahan ajar Pelatihan Mikroskopis TB8 b. Menyediakan supervisor laboratorium TB
1) Menetapkan kriteria supervisor 2) Seleksi dan penetapan supervisor
3) Penyusunan kurikulum dan bahan ajar pelatihan supervisor 4) Pelatihan supervisor
4. Penerapan pemantapan mutu lab mikr tB sesuai standar a. Meningkatkan pelaksanaan pemantapan mutu
1) Fasilitasi maintenance dan kalibrasi alat
2) Pelatihan pembuatan sediaan kontrol untuk tes panel 3) Pelatihan Pelaksanaan Pemantapan Mutu lab mikr TB
4) Pelatihan Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal lab mikr TB 5) Pelatihan wasor dalam pemantapan mutu eksternal mikroskopis TB b. Pelaksanaan tes panel mikroskopis
1) Fasilitasi pemeliharaan dan kalibrasi alat 2) Pembuatan tes panel
5. Penerapan pemantapan mutu lab biakan dan uji kepekaan a. Pelaksanaan PME biakan dan uji kepekaan
1) Penyelenggaraan PME biakan dan uji kepekaan b. Sertifikasi lab pemeriksaan uji kepekaan M.tb
1) Assesment awal oleh lab penyelenggara 2) Fasilitasi hasil rekomendasi
3) Latihan internal lab untuk mencapai kompetensi 4) Supervisi oleh lab supranasional
5) Pelaksanaan tes panel uji kepekaan 6) Evaluasi tes panel
7) Penetapan lab tersertifkasi sbg lab rujukan pem biakan& Uji kepekaan
6. Penerapan bimbingan dan evaluasi a. Supervisi/bimbingan teknis berjenjang
1) Supervisi/bimtek mikroskopik
2) Supervisi/bimtek biakan dan Uji kepekaan 3) Supervisi/bimtek manajemen lab TB b. Monitoring dan evaluasi
1) Pertemuan monev nasional 2) Pertemuan monev regional 3) Pertemuan monev provinsi 7. Penguatan Pokja Lab tB
a. Penetapan Pokja Lab TB 1) Finalisasi SK Pokja Lab TB 2) Pertemuan Pokja Lab TB 8. Penerapan sertifikasi laboratorium tB
a. Sertifikasi kompetensi teknisi mikroskopis TB 1) Pembentukan tim sertifikasi dan assesor 2) Pelatihan assesor di luar negeri
3) Penyusunan Pedoman Akreditasi Pemeriksaan Mikroskopis TB 4) Pelaksanaan sertifikasii pemeriksaan mikroskopis TB
b. Sertifikasi fasilitas laboratorium TB
1) Pembentukan tim sertifikasi dan assesor 2) Pelatihan assesor di luar negeri
3) Penyusunan Pedoman Sertifikasi ruangan Pemeriksaan Mikroskopis TB
4) Penyusunan Pedoman Sertifikasi alat pemeriksaan mikroskopik TB 5) Pelaksanaan sertifikasii ruangan dan/atau alat pemeriksaan
mikroskopis TB
9. Peningkatan pencatatan dan pelaporan a. Pembuatan TB 12 elektronik
1) Persiapan pembuatan TB12 elektronik 2) Pembuatan TB12 elektronik
3) Workshop I TB12 elektronik
4) Pelatihan software TB 12 elektronik utk pusat dan prov tertentu 5) Uji coba di prov terpilih
6) Workshop II TB12 elektronik 7) Penyempurnaan
8) Penyusunan pedoman penggunaan software TB12 elektronik 9) Sosialisasi pedoman penggunanaan software
10) Pelatihan softwar di 33 prov 11) Pelaksanaan
b. Pembuatan pengolahan data sumber daya lab TB elektronik 1) Persiapan pembuatan data sumber daya lab TB elektronik 2) Pembuatan data sumber daya lab TB elektronik
3) Workshop I data sumber daya lab TB elektronik
4) Pelatihan software data sumber daya lab TB elektronik utk pusat dan provinsi
5) Uji coba di prov terpilih
6) Workshop II data sumber daya lab TB elektronik 7) Penyempurnaan
8) Penyusunan pedoman
9) Sosialisasi pedoman penggunanaan software 10) Pelatihan software di 33 prov
B. Implementasi sistem jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan
Mtb
1. Menerapkan jejaring laboratorium biakan dan Uji kepekaan
a. Pengumpulan data calon laboratorium biakan dan Uji kepekaan
1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya lab untuk biakan dan Uji kepekaan
b. Penetapan laboratorium biakan dan Uji kepekaan 1) Menentukan jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen
3) Analisis hasil assesmen dan rekomendasi 4) Advokasi dan sosialisasi
5) Penetapan sebagai laboratorium biakan 6) Penetapan sebagai laboratorium Uji kepekaan 2. Menguatkan SDM dalam pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan
a. Menyediakan NSPK pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan 1) Menyusun Standar Pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan
2) Menyusun kurikulum pelatihan pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan
3) Penggandaan standar dan bahan ajar
4) Sosialisasi dan distribusi standar dan bahan ajar b. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan petugas lab
1) Pelatihan pembuatan media biakan dan uji kepekaan M Tb 2) Pelatihan biakan dan uji kepekaan
3) Kalakarya/On the Job Training
C. Penguatan jejaring laboratorium tB
1. Pemantapan pengelolaan jejaring rujukana. Penyediaan NSPK Pengelolaan Jejaring Lab TB
1) Penyusunan Pedoman Pengelolaan Jejaring Rujukan 2) Penggandaan Pedoman Pengelolaan Jejaring Rujukan
2. Pembentukan laboratorium rujukan nasional a. Penetapan laboratorium rujukan nasional
1) Penentuan daftar tilik, jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen
3) Analisis hasil assesmen 4) Advokasi dan sosialisasi 5) Penetapan dengan SK
b. Pemenuhan kebutuhan sumber daya laboratorium 1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya laboratorium 2) Fasilitasi sumber daya laboratorium
c. Peningkatan kemampuan SDM
1) Pelatihan tenaga teknis di luar negeri 3. Pembentukan laboratorium rujukan regional
a. Penetapan laboratorium rujukan regional
1) Penentuan daftar tilik, jadwal, sasaran, assesor 2) Melaksanakan assesmen
3) Analisis hasil assesmen 4) Advokasi dan sosialisasi 5) Penetapan dengan SK
b. Pemenuhan kebutuhan sumber daya laboratorium 1) Inventarisasi kebutuhan sumber daya laboratorium 2) Fasilitasi sumber daya laboratorium
c. Peningkatan kemampuan SDM 1) Pelatihan tenaga teknis 2) Kalakarya/On the Job Training
D. Menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium tB yang aman
1. Pelaksanaan biosafety dan biosecurity sesuai standara. Penyediaan Standar Laboratorium TB 1) Penyusunan Standar Laboratorium TB 2) Penggandaan standar
b. Peningkatan kemampuan SDM dan biosecurity dan biosafety lab TB 1) Pelatihan teknisi untuk pemeliharaan alat mikros dan biakan di luar
negeri
c. Sertifikasi alat pemeriksaan lab TB
1) Pelaksanaan Sertifikasi alat pemeriksaan lab TB
d. Melengkapi peralatan biosafety dan biosecurity penanganan kecelakaan dan alat pelindung diri di lab TB
1) Fasilitasi alat penanganan kecelakaan dan alat pelindung diri di lab TB
F. Validasi dan penapisan metode baru
1. Mengikuti perkembangan metode barua. Penapisan teknologi 1) Kajian metode baru
2) Uji Coba/analisis metode baru
Detil kegiatan dari masing-masing program kerja beserta timeline pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada lampiran 4.
LABorAtorIUM
Monitoring dan evaluasi kegiatan Rencana Aksi Nasional dilakukan secara berkala setiap 6 bulan melalui pertemuan monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan provinsi dibawah koordinasi Subdit Mikrobiologi dan Imunologi, Direktorat BPPM dan Sarkes dengan Subdit TB, Direktorat P2ML dan kelompok kerja laboratorium TB.Total pembiayaan yg dibutuhkan untuk mendukung implementasi rencana kerja laboratorium tuberkulosis di Indonesia tahun 2011-2014 adalah sebesar Rp. 103.923.950.500,00
Bagan 1 Pembiayaan Rencana Kerja Laboratorium Tuberkulosis Per Strategi di Indonesia tahun 2011-2014
Bagan 2 Pembiayaan Rencana Kerja Laboratorium Tuberkulosis Per Sumber Dana di Indonesia tahun 2011-2014
Penanggulangan penyakit TB di Indonesia masih harus terus digalakkan karena masih tingginya prevalensi penyakit TB di Indonesia dan ditambah dengan makin tingginya prevalensi HIV yang berakibat makin tingginya prevalensi TB. Pengobatan penderita penyakit TB sangat dipengaruhi oleh hasil diagnose penyakit. Untuk itu pemeriksaan laboratorium merupakan kunci keberhasilan pengobatan bahkan berperan aktif dalam menurunkan angka prevalensi penyakit TB. Untuk itu diperlukan peningkatan jangkauan dan kualitas pemeriksaan laboratorium TB melalui perencanaan dalam jangka menengah dan pendek demgan memperhatikan prioritas penanganan masalah dan didukung dengan indikator kinerja untuk mengetahui pencapaian target yang telah ditentukan.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran pada umumnya dan iptek kelaboratoriuman TB khususnya, maka makin besar pula tantangan yang dihadapi agar Indonesia tidak tertinggal dengan Negara lain dalam menanggulangi penyakit TB ini.
Keberhasilan suatu perencanaan tidak terlepas dari tersedianya dana dan komitmen semua pihak dalam merealisasikan perencanaan yang telah ada. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka diharapkan rencana kerja tahun 2010-2014 ini dapat menjadi gambaran bagi semua pihak yang terkait dalam keikutsertaannya bersama pemerintah untuk menurunkan angka prevalendi penyakit TB di Indonesia.
Depkes, 2010, Rencana Kerja Pengembangan dan Penguatan Pelayanan Laboratorium TB di Indonesia 2010 – 2014 (draft)
Kemenkes, 2010, Standar Pelayanan Laboratorium TB ( draft) Depkes, 2009, Pedoman Pemeriksaan Biakan dan Uji kepekaan
Depkes, 2010, Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Mikroskopis TB (revisi)
WHO, 2009, Policy on TB Infection Control in Health Care Facilities, Congregate Settings and Households
Depkes,2010, Buku Pedoman Nasional Penanggulangan TB Subdit TB, Laporan kegiatan LQAS, 2009
Subdit TB, Rekapitulasi laporan supervisi Pokja Lab TB, 2008/ 2009 Subdit TB, Hasil Analisa TB 12 Nasional, 2009/ 2010
Lampiran 1
Rencana Target Laboratorium yang Mampu Melaksanakan Biakan M. tuberculosis Tahun 2010 - 2014
No rencana tahun 2010 No rencana tahun 2011 No rencana tahun 2012 No rencana tahun 2013 1 BBLK Surabaya 23
RSUP dr. Kariadi - Semarang
29
RSUD Labuang Baji - Makassar
39
BLK Palangkaraya
2
Lab Mikrobiologi FKUI
24
BLK Padang
30
RSUD dr. Soetomo - Surabaya
40
RSUP dr. Hasan Sadikin - Bandung
3
RS Persahabatan
25
BLK Bali
31
RSUD dr. Moewardi - Surakarta
41
RSUP dr. M. Djamil -Padang
4 BLK Prov Jabar 26 BLK Pontianak 32 BLK Pekanbaru 42
RSUP R.D. Kandouw - Manado
5 Lab NEHCRI 27 BPPK Manado 33 BLK Palu 43
RSUD Ulin - Banjarmasin
6
BLK Semarang
28
RS Paru dr. Syaiful Anwar
-Malang 34 BLK Jambi 44 RSUD Samarinda 7 BLK Jayapura 35 BLK Ambon 45 RSUD Pontianak 8
RSUP H. Adam Malik
36
BLK Bengkulu
46
RSUD Tanjung Pinang - Kepri
9 BBLK Palembang 37 BLK Kupang 10 RSUP Sanglah 38 BLK Kendari 11 BLK Banjarmasin 12 BBLK Makassar 13
Lab Mikrobiologi FK UGM
14 BBKPM Surakarta 15 BLK Lampung 16 BLK Samarinda 17 RS Rotinsulu 18 BLK Aceh 19 BLK Medan 20 BBLK DKI Jakarta 21 BLK Yogyakarta 22 BLKM Pulau Lombok
Rencana Target Laboratorium yang Mampu Biakan & uji kepekaan M. tuberculosis Tahun 2010 - 2014
No Nama Laboratorium keterangan
1 BBLK Surabaya 1st dan 2nd line 2 Lab Mikrobiologi FKUI 1st dan 2nd line 3 RS Persahabatan 1st dan 2nd line 4 BLK Prov Jabar 1st dan 2 nd line drug 5 Lab NEHCRI 1st dan 2 nd line drug
6 BLK Semarang rcn 2011
7 BLK Jayapura rcn 2011
8 RSUP H. Adam Malik rcn 2012 9 BBLK Palembang rcn 2012 10 Lab Mikrobiologi FK UGM rcn 2012 11 BLK Banjarmasin rcn 2012 12 RSUP Sanglah rcn 2013 13 BBLK Makassar rcn 2013 14 BBKPM Surakarta rcn 2013 15 BLK Lampung rcn 2014 16 BLK Samarinda rcn 2014 17 RS Rotinsulu rcn 2014 Ket :
Rencana Target Laboratorium yang Siap Mendukung Survei Uji Kepekaan M. tuberculosis Tahun 2010 - 2014
No Nama Laboratorium keterangan
1 BBLK Surabaya 1st dan 2nd line 2 Lab Mikrobiologi FKUI 1st dan 2nd line 3 RS Persahabatan 1st dan 2nd line 4 BLK Prov Jabar 1st dan 2 nd line drug 5 Lab NEHCRI 1st dan 2 nd line drug
6 BLK Semarang rcn 2011
7 BLK Jayapura rcn 2011
8 RSUP H. Adam Malik rcn 2012
9 BBLK Palembang rcn 2012
10 Lab Mikrobiologi FK UGM rcn 2012 11 BLK Banjarmasin rcn 2012 12 RSUP Sanglah rcn 2013 13 BBLK Makassar rcn 2013 14 BBKPM Surakarta rcn 2013 15 BLK Lampung rcn 2014 16 BLK Samarinda rcn 2014 17 RS Rotinsulu rcn 2014 Ket :
Lampiran 4
RENCANA KERJA DAN TIMELINE KEGIATAN LABORATORIUM TB
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 1 Penjaminan Lab Rujukan TB 1. Menerapkan 1. Mengumpulkan -Inventarisasi - Daftar sumber X mutu Kinerja Provinsi, sistem rujukan data kondisi kebutuhan daya dan Lab TB intermediate, PRM, dalam jejaring sumber daya Sumber daya kinerja lab TB PPM , PS (BBLK, lab TB laboratorium lab mikroskopik -Daftar tilik BLK,BBKPM, mikroskopis TB TB assesmen BKPM, RS, BTKL di Indonesia - Menyiapkan lab TB PPM BATAM, LAB daftar tilik UNIVERSITAS) assesmen lab TB 2. Mendistribusi-Persentase X kan format
umpan balik data
sumber daya
sumber daya dan
dan kinerja kinerja lab TB lab TB 3. Melakukan Persentase lab X analisis sumber yang dianalisa 1 daya dan 0 kinerja 0 laboratorium 2. Menetapkan 1. Menentukan Rencana X laboratorium jadwal, sasaran naan assessmen 1 dalam jejaring dan kriteria r berdasarkan assessor e kompetensi n laboratorium & c pertimbangan geografis
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2. Melaksanakan Persentase lab X assesmen yang dilakukan 1 assesmen 0 0 3. Melakukan Rekomendasi X analisis dan stratifikasi lab
rekomendasi hasil assesmen
4. Advokasi, Persentase X sosialisasi pemda yang kepada Pemda diadvokasi pr ov 5. Penetapan lab Stratifikasi X nasional, labkes
regional dg SK Menkes dan rekomendasi calon lab rujukan provinsi kepada gubernur
3. Peningkatan Pelatihan/ Jumlah peserta X X X X X kemampuan refreshing yang dilatih petugas lab pemeriksaan mikroskopis tb 4. Pengembangan 1. Pelatihan Persentase lab X
lab RUS II/
pembuatan
RUS II yang
Provinsi
sediaan kontrol
mengikuti
untuk tes panel
pelatihan 2. Pelatihan Persentase lab X penyelenggara-RSU II yang an tes panel mengikuti pelatihan
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Pelaksanaan Persentase lab X X X X X X X X X
tes panel untuk
RUS I yang lab RUS I (50 mengikuti tes sediaan per panel semester) 4. Pelatihan Persentase lab X manajemen yang mengikuti jejaring lab TB pelatihan 5. pembentukan 1. Penyusunan Pedoman X lab RUS I pedoman Pembentukan Pembentukan Lab RUS I Lab RUS I 2. Sosialisasi
Jumlah prov yang
X pedoman dan mengikuti 2 advokasi sosialisasi 0
pembentukan Lab RUS I
3.
Seleksi calon
Jumlah calon lab
X
lab RUS I oleh
RUS I yang
lab RUS II/prov
diseleksi
4.
Assessment
Jumlah calon lab
X
calon lab RUS I
RUS I yang diassess
5.
Penunjukan
Persentase lab
X
lab RUS I
RUS I yang ditunjuk
6. Peningkatan Pelatihan teknis Persentase lab X kemampuan pelaksanaan uji RSU I yang 1 lab RUS I silang mikroskopis mengikuti 0 TB pelatihan 0
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2. Memfungsikan 1. Peningkatan 1. Pengiriman tes Persentase lab X X X X lab di 7 kompetensi panel 50 RUS di 7 1 1 1 1 provinsi baru melalui tes sediaan per provinsi yang 0 0 0 0 sebagai rujukan panel dan semester mengikuti panel 0 0 0 0 uji silang diklat test mikroskopik 2. Pendidikan dan Jumlah controller X pelatihan yang dilatih 2 controller 0 mikroskopis TB 3. Pendidikan dan Jumlah tenaga X pelatihan yang mengikuti 3 manajemen pelatihan 0
jejaring lab mikroskopis TB
4. Penetapan lab Jumlah lab di 7 X RUS di 7 prov yang 7 provinsi ditetapkan sbg RU S 2. Pembinaan lab Pertemuan Nota X X RUS di 7 Koordinasi Lab kesepakatan, provinsi baru rujukan TB 7 laporan pertang-oleh BLK/ Provinsi, Lab gungjawaban BBLK pembina Pembina, Pusat (BPPM, NTP) 3. Fasilitasi 1. Identifikasi Daftar kebutuhan X sumber daya kebutuhan sumber daya lab TB 7 prov sumber daya lab TB lab TB 2. Fasilitasi
Jumlah lab RUS
X
X
sumber daya
di 7 prov baru
lab
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Pelaksanaan
Jumlah lab RUS
X X X X X X X X X X X X X X X X X X cross check di 7 provinsi yg bertingkat
tidak ada NPT dan PPT (?)
4. Supervisi/OJT Jumlah tenaga X X yang mengikuti @ @ OJT 3 3 or or 3. Penerapan PMI 1. Meningkatkan 1. Distribusi Persentase lab X sesuai standar pelaksanaan pedoman yg mendapatkan PMI pedoman PMI 2. Sosialiasi Jumlah provinsi X pedoman yang dilakukan 3 sosialisasi 3 3. Fasilitasi Jumlah alat X maintenance maintenance dan dan kalibrasi kalibrasi al at 4. Penetapan Kriteria X kriteria supervisor supervisor 5. pelatihan Jumlah X supervisor supervisor yang 3 dilatih 3 4. Penerapan 1. Meningkatkan 1. Penyusunan SOP LQAS X PME sesuai pelaksanaan SOP LQAS standar
PME dengan metode LQAS
2. Sosialisasi SOP Jumlah provinsi X LQAS yang dilakukan 3 sosialisasi 3 3. Pelatihan Jumlah tenaga X pembuatan yang dilatih 6 tes panel 6
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 4. W orkshop Jumlah BBLK/ X controller bagi BLK yang 2 petugas BBLK/ mengikuti 6 BLK workshop 5. Pelatihan LQAS Jumlah wasor X X X X X
bagi wasor prov
prov &kab/kota 1 1 1 1 1 dan kab/kota yang mengikuti 0 0 0 0 0 pelatihan 0 0 0 0 0 2. Pelaksanaan 1. Pembuatan tes
Jumlah tes panel
X X X X X X X X tes panel panel yang dibuat 1 1 1 1 2 2 3 3 0 0 5 5 5 5 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.
Jumlah prov yang
X X X X X X X X an : melaksanakan 1 1 1 1 2 2 3 3 - distribusi LQAS sesuai 0 0 5 5 5 5 3 3 - umpan balik pedoman 3. Supervisi 1. penetapan daftar kriteria X kriteria supervisor 2. pelatihan Jumlah tenaga X supervisor yang mengikuti 3 pelatihan 3 3. Supervisi pusat Persentase prov X X X X ke provinsi yg melaksanakan 6 7 9 1 LQAS sesuai 0 5 0 0 pe do m an 0 4. Monev 1. Monev Nasional Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti 7 7 7 7 7 pertemuan 0 0 0 0 0
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2. Monev Regional Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti 1 1 1 1 1 pertemuan 0 0 0 0 0 p p p p p r r r r r o o o o o v v v v v @ @ @ @ @ 2 2 2 2 2 0 0 0 0 0 or or or or or 3. Monev Provinsi Jumlah peserta X X X X X yang mengikuti 3 3 3 3 3 pertemuan 3 3 3 3 3 p p p p p r r r r r o o o o o v v v v v @ @ @ @ @ 2 2 2 2 2 0 0 0 0 0 or or or or or 5. Penerapan 1. Akreditasi 1. Pembentukan
Tim dan asessor
X
akreditasi
mikroskopis TB
tim dan asessor
akreditasi pemeriksaan akreditasi mikroskopis lab TB mikros TB 2. Pelatihan Jumlah asessor X X X X assessor di yang dilatih 4 4 4 4 luar negeri 3. Penyusunan Jumlah pedoman X pedoman yang dihasilkan 1 akreditasi mikroskopis TB
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 4. Sosialisasi
Jumlah prov yang
X akreditasi disosialisasi 3 mikroskopis TB 3 5. Pelaksanaan Jumlah sarkes X X X X X X X X X X X X akreditasi yang diakreditasi 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 mikroskopis TB 2. Akreditasi 1. Pembentukan
Tim dan asessor
X
kultur & uji
tim dan asessor
akreditasi kultur
resistensi
akreditasi pem kultur & uji resist TB
2. Pelatihan Jumlah asessor X assessor di luar yang dilatih 4 negeri 3. Penyusunan Jumlah pedoman X pedoman yang dihasilkan
akreditasi pem kultur & uji resist TB
4. Sosialisasi Jumlah prov yg X akreditasi pem disosialisasi 1
kultur & uji
5 resist TB 5. Pelaksanaan Jumlah sarkes X X X akreditasi pem yang diakreditasi 2 2 2
kultur & uji resist TB
6. Peningkatan 1. Pembuatan 1. Persiapan X pencatatan dan TB12 pelaporan elektronik 2. Pembuatan TB X X 12 elektronik
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. W orkshop I Persentase X
peserta yang mengikuti workshop
4. W orkshop II Persentase X (penyempurna-peserta yang an draft) mengikuti workshop 5. Uji coba di
Jumlah lab yang
X X prov terpilih dipilih sbg uji co ba 6. Penyempurnaan Soft vopy TB12 X elektronik 7. Sosialisasi dan Persentase prov X pelatihan di yang mengikuti 33 prov advokasi 8. Pelaksanaan Persentase lab X X
yang memakai TB12 elektronik
2. Implementasi Lab Provinsi, 1. Menerapkan 1. Penetapan Lab 1. Inventarisasi Inventaris X sistem jejaring Regional, Nasional, Jejaring lab
kultur dan Uji
kebutuhan
kebutuhan
laboratorium
Universitas
kultur dan uji
Kepekaan
sumber daya
sumber daya lab
biakan dan Uji
kepekaan MTb
lab (SDM,
kultur dan uji
kepekaan M.Tb
fasilitas lab,
kepekaan
alat, bahan habis pakai)
2.
Menentukan
Daftar tilik
X
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 3. Menentukan Rencana X X Jadwal, pelaksanaan sasaran, assessmen penentuan assesor 4. Melaksanakan
Jumlah lab yang
X X assesmen diassess 1 1 0 0 5. analisis Persentase lab X X assesmen dan yang dianalisa 1 1 rekomendasi 0 0
lab kultur dan
0 0 uji kepekaan 6. advokasi/ Persentase X X sosialisasi ke dinkes prov yg 1 1 dinkes prov diadvokasi 0 0 0 0 7. Penetapan sbg Persentase SK X X lab kultur dgn sbg lab kultur 1 1 SK 0 0 0 0 2. Menguatkan 1. Menyediakan 1. Pembuatan
SOP kultur dan
X
SDM dalam
pedoman
SOP kultur dan
uji kepekaan
pemeriksaan
pelaksanaan
uji kepekaan
MTb
kultur dan uji
pemeriksaan
MTb
kepekaan
kultur dan uji kepekaan
2. Pembuatan Modul pelatihan X modul pelatihan 3. penggandaan
Jumlah SOP dan
X modul pelatihan 5 yang dicetak 0 0
kE gIA tAN SUB kE gIA tAN INDI kA tor tA rg Et N o Str At Eg I SASA rAN SUB S tr At Eg I oPE rASI oNAL oPE rASI oNAL oU tPU t 2010 2011 2012 2013 2014 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 4. Distribusi dan
Jumlah prov yang
X sosialisasi disosialisasi 1 panduan SOP 0
kultur dan uji Kepekaan
5. Penyusunan Jumlah pedoman X Pedoman yang dibuat 1
Pencatatan dan Pelaporan untuk kultur dan uji kepekaan M.Tb
2. Peningkatan 1. Pelatihan Jumlah tenaga X kemampuan
biakan dan uji
yang dilatih 2 dan ketram-kepekaan 0 pilan petugas petugas lab TB
lab prov dalam
Tingkat provinsi
pemeriksaan
(pembuatan
kultur dan uji
media, biakan
kepekaan
dan uji kepekaan, Biosafety lab Tb)
2. Evaluasi Pasca Persentase X pelatihan kultur sarkes yang 1 dan uji melakukan kultur 0 kepekaan MTb
dan uji kepekaan
0 Mtb sesuai standar 3. Penguatan Lab TB provinsi 1. Pembentukan 1. Penetapan lab 1. Penyusunan daftar tilik X jejaring lab rujukan TB regional daftar tilik laboratorium regional TB 2. Menentukan Jadwal kegiatan X
jadwal, sasaran dan kriteria assessor