SERBA SERBI HUTAN DESA (HD)
Teks penuh
(2) usulan Bupati/Walikota. Dalam hal ini hak yang dapat diberikan adalah hak pemanfaatan Hutan Desa bukan hak milik dengan status tetap di hutan negara.. B. PROSEDUR PERIZINAN DAN PENGELOLAAN HUTAN DESA Pelaksanaan skema Hutan Desa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No.P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa dapat dipilah dalam 3 tingkatan: pertama, penetapan yang dilakukan oleh pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan); kedua, perizinan yang dilakukan oleh pemerintah daerah (Gubernur); ketiga, pengelolaan di lapangan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat pemegang izin pemanfaatan hutan desa. Gambar 1. Proses Penetapan Areal Hutan Desa. Untuk dapat mengelola hutan desa, Kepala Desa membentuk Lembaga Desa yang nantinya bertugas mengelola hutan desa yang secara fungsional berada dalam organisasi desa. Yang perlu dipahami adalah hak pengelolaan hutan desa ini bukan merupakan kepemilikan atas kawasan hutan, karena itu dilarang memindahtangankan atau mengagunkan, serta mengubah status dan fungsi kawasan hutan. Intinya Hak pengelolaan hutan desa dilarang digunakan untuk kepentingan di luar rencana pengelolaan hutan, dan harus dikelola berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan hutan lestari. Lembaga Desa yang akan mengelola hutan desa mengajukan permohonan hak pengelolaan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota. Apabila disetujui, hak pengelolaan hutan desa diberikan untuk jangka waktu paling lama 35 tahun, dan dapat diperpanjang setelah dilakukan evaluasi yang dilakukan paling lama setiap lima tahun sekali. Apabila di areal Hak Pengelolaan Hutan Desa terdapat hutan alam yang berpotensi hasil hutan kayu, maka Lembaga Desa dapat mengajukan permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) Hutan Alam dalam Hutan Desa. Dan apabila di areal Hak Pengelolaan Hutan Desa dapat dikembangkan hutan tanaman, maka Lembaga Desa dapat mengajukan permohonan IUPHHK Hutan Tanaman dalam Hutan Desa. Namun dalam pemanfaatannya mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemanfaatan hasill hutan kayu pada hutan alam 2.
(3) maupun hutan tanaman. Selain itu pemungutannya dibatasi paling banyak 50 m3 tiap lembaga desa per tahun.. Gambar 2. Proses Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) Hutan Desa. Dengan mendapat hak pengelolaan hutan desa, masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan berpotensi sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Hal ini dimungkinkan karena pemegang hak pengelolaan hutan desa berhak memanfaatkan kawasan, jasa lingkungan, pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Namun untuk di hutan lindung tidak diizinkan memanfaatkan dan memungut hasil hutan kayu. Dalam memanfaatkan kawasan hutan desa, baik yang berada di hutan lindung maupun hutan produksi masyarakat dapat melakukan berbagai kegiatan usaha, yaitu budidaya tanaman obat, tanaman hias, jamur, lebah, penangkaran satwa liar, atau budidaya pakan ternak. Sedangkan dalam memanfaatkan jasa lingkungan dapat melalui kegiatan usaha pemanfaatan jasa aliran air, pemanfaatan air, wisata alam, perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan dan perlindungan lingkungan, atau penyerapan dan penyimpanan karbon. Intinya, Hutan Desa adalah salah satu wujud kebijakan untuk pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan serta mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari. Kebijakan ini perlu disosialisasikan pada masyarakat dan institusi terkait agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai. Selain itu, Hutan Desa diharapkan memberikan akses kepada masyarakat setempat melalui lembaga desa, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan.. C. HUTAN DESA: Hak Kelola Rakyat dan Penyelesaian Konflik Pada dasarnya dahulu hutan desa adalah hutan-hutan rakyat yang dbangun dan dikelola oleh rakyat dan kebanyakan berada di atas tanah adat atau tanah milik, meski ada juga yang berada di kawasan hutan milik negara. Namun seiring perkembangan, berkaitan dengan kondisi sosial politiknegara, kawasan hutan yang awalnya secara formal tidak ada pihak yang mendapatkan 3.
(4) hak milik, kemudian ditetapkan menjadi kawasan hutan negara. Sayangnya, pengelolaan hutanhutan ini kemudian lebih tersentralistik dan pada akhirnya menimbulkan banyak masalah serius. Sementara itu, masyarakat yang berada di dalam dan sekitar hutan butuh ruang untuk bisa eksisten secara ekonomi, budaya dan sosial politik. Brown (2004) mencatat bahwa sedikitnya ada 50 juta penduduk miskin Indonesia berada di dalam hutan dan CES UI (Center for Economic and Sosial Studies) (2005), dalam Hidayat (2009) mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di dalam dan sekitar hutan lebih besar dari penduduk miskin di luar kawasan hutan. Untuk turut serta mengurangi persoalan kemiskinan, Kementerian Kehutanan harus memiliki kemauan politik dan melakukan reformasi kebijakan dalam mendistribusikan akses dan ruang kawasan hutan bagi masyarakat. Selain itu, pada umumnya kawasan hutan yang diusulkan bagi Hutan Desa berkonflik dengan kawasan permukiman, pertanian bahkan penguasaan lahan oleh pihak lain. Penunjukan kawasan hutan melalui TGHK yang dibuat secara politik dan administrasi menghasilkan banyak distorsi. Walaupun ada peta paduserasi antara TGHK dan RTWRP, namun hasilnya tidak memperlihatkan kondisi riil di lapangan, disisi lain tidak adanya partisipasi dan kurangnya akurasi dalam skala peta. Hal ini mengakibatkan banyaknya kawasan permukiman dan pertanian masyarakat termasuk dalam kawasan hutan. Karenanya keberadaan Hutan Desa menjadi penting dalam pengelolaan hutan di Indonesia, dan menjadi salah satu solusi yang dapat mengakomodasikan konteks lokal, mengurangi kemiskinan, dan turut dalam mitigasi perubahan iklim. Hutan Desa juga dapat menjamin keberlanjutan dan transformasi ekonomi dan budaya masyarakat. Konteks-konteks tersebut dapat dijawab dengan berbagai skema distribusi dan akses terhadap hutan berdasarkan kebutuhannya, sehingga masyarakat memiliki hutan namun butuh pengakuan dan kejelasan tenurial. Konsep Hutan Desa lebih kepada pemberian akses dan hak kelola hutan kepada lembaga desa yang dianggap sebagai pemerintahan terkecil. Konsep desa yang berasal dari Jawa dapat mengakomodir kepentingan lebih luas dari kelompok atau koperasi dimana masyarakatnya lebih cenderung heterogen. Dari aspek normatif beberapa persamaan yang dapat dilihat bahwa baik itu HKm, HD, dan HTR menganut prinsip pemberdayaan masyarakat dan memberi ruang dan akses kelola masyarakat yang sejalan dengan PP No.6/2007 dan UU Kehutanan No. 41 tahun 1999.. E. TANTANGAN Salah satu tantangan utama penyelenggaraan hutan desa, terkait dengan persoalan tarikmenarik kepentingan antara entitas desa (sebagai representasi pemerintah pusat) dengan entitas adat yang mewakili entitas lokal. Hal semacam ini diperkirakan akan banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun Nusa Tenggara, dimana kehidupan masyarakat adat masih banyak dijumpai, sementara tata ruang maupun pemerintahan desa belum terbentuk secara sempurna. Di lokasi semacam ini, boleh jadi Hutan Desa menjadi kompromi terhadap tuntutan pengakuan hutan adat yang hingga saat ini belum terselesaikan Tantangan lainnya terkait disharmoni kebijakan Hutan Desa dan aturan pelaksanannya, tetapi juga terkait dengan aturan yang lebih tinggi. Misalnya konflik kebijakan antara kehutanan dan UU 4.
(5) KSDAHE, UU Kehutanan dengan UUD 1945, UU Otonomi Daerah/Otonomi khusus, UU Penataan Ruang dan UUPA yang menyangkut tentang hak-hak masyarakat dalam kawasan hutan dengan berbagai skema. Selanjutnya dalam proses pemanenan Hutan Desa yang mendapat izin usaha kayu, pemerintah telah mengeluarkan regulasi P.51/Menhut-II/2006 dan P.55/Menhut/2006 tentang verfifikasi asal usul kayu berdasarkan jenis izin Hutan Desa yang diperoleh. Semangat dari kedua peraturan ini adalah untuk mempermudah dan menyederhanakan persyaratan administrasi dari asal-usul kayu dari hutan-hutan HD, dengan memberikan wewenang kepada kepala desa. Kepala desa berhak untuk mengeluarkan dokumen pengangkutan dari hutan KM dengan nama Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU). Namun sayangnya hanya menyangkut tiga jenis kayu saja yaitu kayu Sengon (Albazia falcataria), karet dan kayu kelapa. Sementara untuk jenis kayu lainnya dalam pengangkutannya tetap menggunakan SKKB (Surat Keterangan Kayu Bulat), disertai dengan cap tambahan dengan kode: KR (Kayu Rakyat). Dokumen SKKB dikeluarkan oleh kabupaten, tetapi hal ini ternyata lebih sulit didapatkan karena ditentukan dengan pembuktian hak kepemilikan lahan. Lalu jenis kayu yang bisa dapat SKAU bertambah menjadi 15 dengan keluarnya P.33/Menhut/2007. Berikutnya, tantangan terkait dengan proses penetapan dan perizinan hutan Desa masih panjang dan rumit berdampak pada biaya tinggi, masih perlu penyederhanaan proses agar terjangkau dan dapat diakses oleh masyarakat. Tantangan lain yang tak kalah penting adalah keadilan distribusi manfaat dari penyelenggaraan hutan desa. Utamanya agar pemanfaatan hutan dapat terdistribusi secara adil hingga ke seluruh level sosial ekonomi masyarakat desa, sehingga Tujuan penyelenggaraan hutan desa yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan dapat tercapai.. 5.
(6) PLAJAN, JAWARA DESA PEDULI KEHUTANAN Oleh : Ir. Bambang Sigit Subiyanto, MM PENDAHULUAN. Desa merupakan bagian dari pemerintahan yang terkecil di Negara kita. Negara bisa dikatakan makmur gemah ripah loh jinawi apabila dimulai dari masyarakat yang ada di desa sejahtera adil dan makmur. Dengan demikian Pembangunan dapat dikatakan berhasil dapat dilihat dari keadaan desa itu, baik secara fisiknya, kinerja dan manajemen pemerintahannya serta administrasi penatausahaannya. Salah satu desa yang berhasil itu adalah Desa Plajan yang dapat dikatakan berhasil dalam pembangunan Kehutanan bidang Penghijauan dan Konservasi Alam, yang sekarang adalah Wanalestari. GAMBARAN UMUM DESA Desa Plajan adalah desa yang berada di lereng Gunung Muria bagian barat di ketinggian + 400 meter diatas permukaan laut masuk dalam Kecamatan Pakis Kaji, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah desa Plajan adalah 1.044,5 ha yang terdiri dari 224,94 ha sawah, 455 ha tegalan, 345 ha pekarangan atau bangunan serta penggunaan lain seluas 19,5 ha ini berpenduduk 7449 jiwa. Dibawah kepemimpinan Kepala Desa/ Petinggi bapak Marwoto yang menjabat dua periode pada periode pertama dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2006 dan periode ke dua tahun 2007 sampai tahun 2013. Terlihat secara nyata pada saat sekarang Desa Plajan tidak saja merupakan desa yang ijo royo royo berhutan lebat dengan pola agroforestry dangan aturanaturannya desa di bidang kehutanan yang ditaati oleh penduduknya. Masyarakatnyapun dapat dikatakan merasa aman dan tentram menjalankan ibadah agama masing-masing karena di desa ini ada 3 agama yaitu Islam, Kristen dan Hindu Bali yang masing-masing umatnya saling rukun dan damai saling berdampingan. Kesejahteraan masyarakatnyapun meningkat dari hasil hutan kayu dan non kayu, pertanian, indutri dan jasa lingkungan. Disamping itu Desa Plajan juga dikenal pada tataran internasional, karena di desa ini dibangun Wisata Alam Situs Bumi dan Monumen Gong Perdamaian Dunia.. Wajar bila Desa Plajan pada bulan Agustus lalu sebagai pemenang lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (PKA) dan menyandang Juara Nasional Penghijauan dan Konservasi Alam tahun 2011. KONDISI AWAL DESA DAN PERMASALAHANNYA Kondisi awal Desa Plajan pada satu dasawarsa yang lalu merupakan desa yang dapat dikatakan gersang bertanah gundul dan kritis. Sulit air di musim kemarau karena mengeringnya sumber mata air, sering terjadi tanah longsor dan banjir dimusim penghujan dan sulitnya masyarakat yang menggantungkan hidupnya untuk mencari kayu bakar dan hijauan untuk makanan ternak. Hal ini dikarenakan masyarakat kurang memperhatikan kaidah konservasi dalam pengelolaan lahan dan hutan. Desa Plajan belum terkelola secara profesional dengan manajemen yang baik dan para perangkat desa yang kompeten. Adapun permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya SDM tentang Kehutanan, Pemilikan lahan petani sempit, Kurangnya modal usaha dan Sulitnya memperoleh air untuk kebutuhan rumah tangga, serta Sistem penebangan hasil hutan tidak beraturan.. Fota kondisi awal lahan desa Plajan (1997). AKTIVITAS DESA DALAM PEMECAHAN MASALAH Dalam menjalankan tugasnya pak Marwoto sebagai Petinggi Desa dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut diatas. Dibantu oleh perangkat desa dan Penyuluh Kehutanan Lapangan, yang selalu mendampinginya. Baik dalam Perencanaan, Pelaksanaan maupun dalam Pengawasannya, fisik di lapangan maupun dalam penyusunan Peraturan Desa di bidang Kehutanan serta keadministrasiannya.. 1.
(7) Diawali dengan mengadakan Rembug Desa yang membahas : Perencanaan Program Pembangunan Kehutanan lewat Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dan Pembuatan Peraturan Desa untuk mendukung Program Kehutanan. Mereka secara terus menerus mensosialisasikan Rencana yang telah disepakati bersama itu pada setiap kesempatan adanya pertemuan-pertemuan baik secara formal maupun informal.. Foto Rembug Desa melalui Musbangdes. Adapun perencanaan program pembangunan desa yang bersangkut paut dengan kehutanan disepakati ada 7 program kerja yaitu : Penghijauan, Peningkatan Ketahanan Pangan, Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Rehabilitasi Lahan dan Konservasi tanah, Pelestarian Lingkungan, Pengembangan Aneka Usaha Kehutanan, Penjaringan Modal dan Kemitraan Usaha. Untuk memperkuat program kerja tersebut agar berjalan lancar dan tidak menyimpang dari tujuannya dibuatlah aturan-aturan desa baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Peraturan – peraturan Desa pendukung kehutanan tertulis ada 10 Perdes yaitu: Peraturan Tebang Satu Pohon Tanam Lima Pohon, Peraturan Nikah dan Tanam Pohon, Perturan Penetapan Tempat Wisata Alam, Peraturan Gerakan Labuh menanam Pohon, Peraturan Penebangan Pohan dan Peredaran Kayu, Peraturan Perlindungan Satwa Langka yang dilindungi, PeraturanPendirian Industri Pengolahan kayu, Peraturan Penanaman Pada Turus Jalan Desa Plajan, Peraturan penanaman pada bibir sungai, Peraturan Penebangan Pohon Langka. Sedangkan aturan /kesepakatan desa pendukung kehutanan tidak tertulis ada 7 yaitu: Larangan penebangan pohon disekitar sumber mata air, Larangan penebangan pohon disekitar punden,. Larangan penebangan pohon disekitar wisata alam, Larangan penebangan pohon disekitar makam, Larangan penebangan pohon di bibir sungai, Larangan penebangan pohon langka. Strategi Petinggi Desa dalam menjalankan tugasnya dalam menangani masalah untuk mendukung pembangunan kehutanan yaitu dengan melakuakan penyuluhan bersama-sama Muspika dan Penyuluh Kehutanan Lapangan mensosialisasikan peraturan – peraturan kehutanan yang telah diimplementasikan menjadi Peraturan Desa baik secara langsung kepada masyarakat juga melalui kelembagaan yang ada didesa. Ada dua jenis kelembagaan yang ada di desa yaitu lembaga formal dan non formal. Lembaga formal yaitu BPD,LKMD, PKK, Karang Taruna, RT, RW dll. Lembaga non formal yaitu Kelompok Tani, Kelompok Pecinta Alam, Wanita Tani, Kelompok Agama Islam Muslimatan, Kelompok Agama Hindu Purnama Tilem dll. Melalui organisasi kelembagaan desa inilah Pak Marwoto sbagai petinggi desa mempunyai metode dan teknik penyuluhan tersendiri selain langsung menjelaskan manfaat dan fungsi hutan,tanah dan air, juga melalui lagu-lagu yang diciptakan sendiri. Isinya mengenai keindahan alam dan ajakan menanam pohon. Lagu-lagu ini dinyanyikan sendiri maupun oleh orang lain diwaktu-waktu ada acara resmi atau hajatan di desa plajan.. Foto Penyuluhan yang dilakukan secara massal di areal wisata Akar Seribu. Adapun pemecahan masalah-masalah tersebut di atas diupayakan melalui 5 upaya yaitu : Upaya Peningkatan SDM melalui Penyuluhan secara periodik dari Penyuluh Kehutanan Lapangan, Pelatihan-pelatihan bidang Kehutanan, dan Karya wisata ke daerah. 2.
(8) yang lebih berhasil. Upaya Peningkatan Modal Usaha melalui Kemitraan dengan pihak-pihak lain diantaranya yaitu Pengolahan Kayu, sarang burung walet, wisata alam dan industry rumah tangga serta Pecinta Alam. Meningkatkan Koperasi Kelompok (kelompok tani, kelompok pengguna air, PKK dan RT). Memanfaatkan hutan wisata alam dari Jasa Lingkungan dan Jasa air. Upaya Peningkatan Hasil dari Lahan Sempit melalui Pembuatan hutan rakyat pola agrofoestry sehingga mendapatkan incaome harian, bulanan dan tahunan. Pengembangan Aneka Usaha Kehutanan yaitu usaha mebel, anyam-anyaman bamboo, pembuatan gula aren, budidaya jamur, pembuatan criping pisang dan usaha ternak kambing dan sapi. Upaya Penyediaaan air bersih Kebutuhan Rumah tangga melalui penyaluran air dari sumber mata air ke pemukiman dengan membangun bak penampungan air, Pembuatan embung. Upaya Pengaturan Penebangan Kayu melalui aturan Perdes Tebang satu tanam lima pohon.. dengan kebijakan perioritas pembangunan kehutanan adalah sebagai berikut: Bidang Pemantapan Kawasan Hutan. Dalam pengimplementasian pembangunan kehutanan bidang pemantapan kawasan hutan telah dibuat ketetapan peraturan desa (Perdes) melalui Pembuatan Hutan Rakyat Swadaya seluas 450 hektar atau 42 % dari luas Desa Plajan dan pembangunan lokasi hutan Wisata alam seluas 25 hektar. Bidang Rehabilitasi hutan dan Peningkatan Daya Dukung DAS. Implementasi dalam pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung DAS yaitu : Membudayakan gerakan masyarakat menanam, Pembuatan Kebun Bibit Swadaya, Penghijauan Turus Jalan sepanjang 14 kilometer, Penanaman pada sepadan sugai atau bibir sungai sepanjang 5 kilo meter. Pembuatan kegiatan sipil teknis seperti embung, sumur resapan dan Dam Penahan. Bidang Pengamanan Hutan dan Pengendalian Kebakaran Hutan. Untuk pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan ini dibentuk Satgas Pengamanan hutan dengan tugas : Pengawasan peredaran kayu diwilayah desa Plajan, Pencegahan kebakaran hutan dan mengawal Peraturan Desa dibidang Kehutanan. Bidang Konservasi Keaneka Ragaman Hayati Dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati , untuk perlindungan satwa, pencegahan penggembalaan liar, perlindungan pohon langka dan mata air.. Foto Tempat Wisata Alam dan Bak Penampungan Air bersih Desa Plajan. AKTIVITAS PROGRAM KERJA BIDANG KEHUTANAN YANG TELAH DICAPAI Implementasi kinerja Desa Palajan dalam mendukung pembangunan kehutanan sesuai. Bidang Revitalisasi Pemanfaatan Hutan dan Industri Kehutanan. Membangun Kemitraan usaha dan kerja sama dengan para pelaku usaha dibindang kehutanan, industri dan pertanian yaitu : Kerjasama dengan PT Parade Bintang Kudus dalam hal Pengelolaan wisata alam akar seribu dan goa sakti, Kerja sama dengan UD Jawul Jepara dalam hal pembelian dan pengolahan kayu hasil hutan rakyat. Kerja sama dengan UD Supar Jepara dalam bidang pembelian dan pengolahan hasil hutan rakyat, Kerja sama dengan PT,Nasima Semarang, dalam bidang pengelolaan sarang burung wallet, Kerja sama dengan PT.Adi Farm dalam bidang pengolahan sarang burung wallet. Kerja sama dengan Zonna. 3.
(9) Komunite Semarang dalam bidang Penghijauan dan lingkungan, Kerja sama dengan Komite Presiden Perdamaian Dunia tentang situs Bumi Dunia dan Gong Perdamaian Dunia. Bidang Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan. Berkemangnya aneka usaha kehutanan yang meliputi : industry Mebel, Pembuatan anyam-anyaman dari bamboo, Industri Pembuatan Gula aren dan pati sagu, Ternak Kambing, Sapi, industry rumahan pembuatan criping pisang dan talas, Pengembangan sarang burung wallet serta Pengembangan Jasa lingkungan.. manajemen yang professional oleh perangkat desanya. Dan pendampingan yang terus menerus oleh Penyuluh Kehutanan Lapangan. Dibawah kepemimpinan Petinggi atau Kepala Desa Marwoto yang terpilih selama dua periode ini barulah tampak hasilnya yang nyata tentang perubahan desa yang dulunya gersang menjadi ijo royo-royo. Ini dikarenakan sang petinggi atau kepala desa konsren terhadap pembangunan kehutanan, pertanian dan industry serta lingkungan. Desa Plajan yang sekarang merupakan desa yang rimbun sejuk dan tertata rapih dengan masyarakatnya yang damai dan dapat dikatakan sejahtera. Dalam hal ini kerukunan beragama juga sangat mendukung dalam pembangunan hutan. DAMPAK KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DESA PAJAN Secara umum Keberhasilan desa plajan dalam pembangunan kehutanan berdampak : Meningkatnya kesejahteraan masyarakat (adanya pendapatan harian, bulanan dan tahunan). Terciptanya lingkungan yang indah, nyaman, sejuk dan asri.. Munculnya Sumber Mata Air baru, Dengan keberhasilan pembangunan hutan rakyat seluas 450 hektar atau 42% dari luas wilayah desa berdampak munculnya 46 titik sumber mata air baru yang digunakan untuk air bersih dan dapat mencukupi kebutuhan 850 KK selain itu juga digunakan untuk pengairan sawah seluas 250 hektar dan untuk kolam ikan.. Foto salah satu contoh hasil pemberdayaan masyarakat. Mengembangkan gerakan cinta pohon dan gemar menanam di setiap RW. Membuat Kebun Bibit Rakyat. Dana yang dikeluarkan dari desa Plajan untuk mendukung pembangunan kehutanan ini mencapai 30 % dari APBDes Desa Plajan. Hal ini tidak begitu saja mudah didapat tetapi melalui perjuangan dan kinerja desa yang benar-bener dikelola dan diurus secara. Menghasilkan Jasa lingkungan yang bermanfaat bidang Ekologi, Ekonomi dan Sosial. Bidang Ekologi muncul sumber mata air, berkembangnya flora dan fauna. Bidang Ekonomi menghasilkan jasa lingkungan dan berkembangnya industry rumah tangga. Bidang Sosial tempat rekreasi wisata alam akar seribu, tempat berkemah pramuka, pelajar dan mahasiswa, tempat penelitian peguruan tinggi (Undip dan Inisnu). Tersedianya Hijauan Makanan Ternak Terbangunnya hutan rakyat dengan pola agroforestry sersedia hijauan makanan ternak. 4.
(10) yang dapat mencukupi ternak kambing sejumlah 2.150 ekor dan 1200 ekor sapi. Tersedianya bahan baku industry mebel. Hutan rakyat desa plajan dengan luasan yang cukup dengan pengelolaan yang baik dan didukung dengan aturan Perdes dalam pengelolaan hasil hutan rakyat sehingga dapat menjamin pasokan bahan baku dan berkembangnya industry mebel dan kerajinan kayu sebanyak 185 pengrajin. Berperan Sebagai Pengendali Laju Erosi dan Tanah Longsor serta banjir di musim hujan dengan sivil teknis kehutanan dalam pengetrapan pengolahan lahan hutan rakyat seperti teras sering, guliplak, cek dam, teras bangku dan saluran air, dapat ber fungsi sebagai pengendali laju erosi. Pendapatan masyarakat yang diperoleh dari Hutan Rakyat dalam waktu 3 tahun. Kayu gelondong sebanyak 14.000 m3 setara dengan empat milyar upiah, Kayu bakar sebanyak 6000 m3 setara dengan tujuh ratus lima puluh juta rupiah. Jasa air sebesar empat puluh delapan juta rupiah, Jasa lingkungan tiga puluh enam juta rupiah. RENCANA KEDEPAN.. KERJA. DESA. PLAJAN. Jangka Pendek : Peningkatan Pembuatan Kebun Bibit Rakyat dan Pemanfaatan lahan dibawah tegakan dengan tanaman obat. Jangka Panjang: Pembuatan Wisata Alam Situs Bumi dan Gong Perdamaian Dunia. Pengembangan sarana dan prasarana wisata alam.. KESIMPULAN Hutan atau Hutan Desa bisa lestari apabila ada: Kebersamaan Lembaga formal dan non formal dalam kepeduliannya terhadap hutan dan lingkungan. Pemberdayaan masyarakat dibidang kehutanan yang memahami manfaat dan fungsi hutan. Peraturan Desa secara tertulis maupun tidak tertulis sebagai aturan di bidang kehutanan menjadi landasan hukum. Kerjasama dengan para pihakyang peduli kehutanan. Pemanfaatan hutan dari jasa lingkungan dan jasa air sehingga hutan tidak ditebang. sehingga hutan tetap lestari. Desa Plajan yang semula tidak mempunyai wilayah hutan namun dapat membangun hutan dan memanfaatkan jasa lingkungannya dapat mensejahterakan masyarakatnya. Tertarik untuk berkunjung kesana . Bila para pembaca akan berkunjung ke desa ini dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum bus jurusan Jepara Pati turun di terminal Bangsri dari Bangsri ke Desa Palajan naik angkudes. Selamat studibanding, berrekreasi di desa wisata Plajan (Hutan Rakyat,Hutan wisata Akar Seribu, Gua Sakti, Pohon-pohon langka dan Situs Bumi serta Gong Perdamaian Dunia). Tuhan Memberkati.. 5.
(11) STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Oleh : Ir. Bambang Sigit Subiyanto, MM.. Masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha lokal-lah yang memiliki pengetahuan, kearifan lokal dan keahlian. Peran Penyuluh Kehutanan sebagai fasilitator adalah untuk mendampingi dan mendengar serta belajar dari masyarakat, bukan mengajari masyarakat tentang problem dan kebutuhan mereka. Tetapi memfasilitasi agar masyarakat mampu menyelesaikan sendiri permasalahannya. PELUANG DAN TANTANGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Desa yang ada di dalam dan di sekitar kawasan hutan adalah identik dengan masyarakat yang berekonomi lemah. Masyarakat sekarang ini cenderung lebih banyak memanfaatkan hutan daripada melestarikannya. Banyak program masuk desa tapi pelaksanaannya berjalan sendirisendiri. Banyak potensi hutan yang belum tergarap dengan maksimal dengan basis pelestarian di dalamnya seperti tumpang sari atau agroforestry atau hutan campuran. Lembaga-lembaga di tingkat bawah belum bersinergi, partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan masih rendah, termasuk kelompok perempuan. Untuk itu peluang dan tantangan ini perlu di analisis guna menemukan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif dan partisipatif.. Desa yang ada di sekitar hutan.. SKEMA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Penyuluh Kehutanan melalui penyuluhannya harus mampu menjelaskan manfaat dan fungsi hutan secara lestari, melalui 3 kelola lestari yaitu kelola kawasan, kelola kelembagaan dan kelola usaha. Melalui pertemuan-pertemuan, musyawarah secara intens dan partisipatif dari masyarakat yang difasilitasi oleh Penyuluh Kehutanan membahas bersama dan di analisis dengan metode pemberdayaan rakyat yang partisipatif. Dari sini muncullah Skema Pemberdayaan Masyarakat yang disepakati bersama sekaligus merupakan strategi yang paling baik menurut mereka. Skema Pemberdayaan Masyarakat itu adalah rangkaian kegiatan yang harus dilalui dan dilaksanakan. Subyeknya adalah Pemberdayaan Masyarakat di sekitar hutan yang kurang mampu atau marjinal dan Pemerintahan setempat yang terkait. LANGKAH-LANGKAH/TAHAPAN YANG DILAKUKAN. 1.SOSIALISASI PROGRAM Mengenalkan tim fasilitator kepada masyarakat, menjelaskan tujuan program yang akan dilaksanakan beserta dengan waktu pelaksanaan dan batas waktunya. Membuka peluang partisipasi dan partisipasi masyarakat beserta pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten..
(12) dasar dalam merumuskan program. Perumusan Program secara partisipatif akan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program. Pengintegrasian hasil kajian dan pengetahuan masyarakat local mempunyai peran penting.. Foto Penyuluhan/ sosialisasi yang dilakukan secara massal di areal terbuka. 2. KAJIAN SECARA PARTISIPATIF Menggunakan metode yang tepat dalam pelaksanaan kajian seperti: pemetakan social, transek, kalender musim, kajian kebijakan, kajian pasar dll. Penekanan penggunaan instrument tersebut berpangku pada upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan kehutanan.. 4. MENJARING ASPIRASI MASYARAKAT. Mengakomodasi aspirasi masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha terhadap program yang di jalankan. Menentukan skala prioritas program sesuai dengan hasil kajian dan tujuan yang ingin dicapai. Prioritas program / kegiatan yang disetujui oleh masyarakat merupakan suatu jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka. Inisiasi program harus sensitive gender. Dukungan dari pemerintah setempat desa / kabupaten di tuangkan dalam Surat Keputusan atau Perdes atau Perda. Pembuatan Perdes diawali dengan mengadakan Rembug Desa yang membahas : Perencanaan Program Pembangunan Kehutanan lewat Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dan Pembuatan Peraturan Desa untuk mendukung Program Kehutanan.. Dialog Para Pihak 3. LOKAKARYA HASIL KAJIAN Dialog dan sharing hasil kajian yang sudah dilakukan secara partisipatif dan yang telah disepakati serta mendapatkan masukan dari masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha dapat dijadikan sebagai. Rembug Desa melalui Musbangdes.
(13) Untuk mengakomodir aspirasi masyarakat tersebut harus taat asas perencanaan dalam jaring aspirasi yaiyu : Asas persamaan Semua orang yang terlibat selama dalam perencanaan mempunyai kedudukan yang sama dan sedrajat, tidak ada perbedaan status. Semua disini berfungsi sebagai team work. Asas peran serta Semua orang harus melibatkan dirinya secara penuh baik fisik maupun pikirannya. Hasil perencanaan ini akan sangat tergantung kepada peran serta, kemampuan, pengalaman, wawasan, kesungguhan partisipan itu sendiri. Asas demokratis Kedudukan semua orang sederajat. Setiap pendapat didasarkan pada argument, terbuka terhadap kritik, jujur dan teliti, sehingga akan terjadi komunikasi dialogis diantara partisipan. Hal ini baik untuk kejelasan gambaran, kejelasan keberadaan dan kejelasan logika (rasionalitas). 5. PERUMUSAN RENSTRA, TIM PELAKSANA DAN BADAN PENGAWAS. Adanya Renstra merupakan jaminan keberlanjutan program pemberdayaan yang akan dilaksanakan oleh masyarakat. Tim pelaksana dibentuk dari unsur masyarakat yang intinya mendorong partisipasi. Badan pengawas bertugas untuk melakukan memonitoring dan evaluasi agar pelaksanaan program dapat trasparan dan akuntable. Pihak pemerintah memberikan dukungannya delam pelaksanaan program. 6. PELAKSANAAN PROGRAM (AKSI) Bila program kerja sudah terumuskan dan kelompok sudah terbentuk, maka rencana aksi komunitas harus sudah bisa dilaksanakan. Mekanisme atau aturanaturan terkait dengan kegiatan yang. dilaksanakan dirumuskan bersama dengan masyarakat. Pengelolaan kegiatan dan keberlanjutan program menjadi tanggung jawab bersama.. Rencana Aksi dengan kelompok. Mediasi konflik penting untuk dipersiapkan sejak dini. Mediasi konflik dalam pemberdayaan masyarakat yang perlu kita perhatikan yaitu : Adanya manajemen untuk menagani konflik. Karena adanya konflik dapat menurunkankan tingkat partisipasi masyarakat bahkan menghambat partisipasi. Hindari bias kepentingan personal dalam perumusan program. Mediasi konflik dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan cultural, personal, hukum dan musyawarah untuk mencapai mufakat. Pendekatan personal juga dapat ditempuh dengan mengedepankan harmoni social. 7. MONITORING DAN EVALUASI. Kegiatan monitoring dan evaluasi kadang masih dipandang sebelah mata, padahal kegiatan ini sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan dan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari program yang sedang dan telah dilaksanakan. Monitoring dapat dilakukan dengan dua cara yakni : monitoring internal dan monitoring ekternal..
(14) Monitoring internal dilakukan dengan melibatkan tim pelaksana beserta mitra. Sedangkan monitoring eksternal dilakukan dengan melibatkan tim dari luar atau tim independen dan tim ahli dalam bidang pemberdayaan yang dilakukan. Hal ini dilakukan bukan untuk mencari kesalahan melainkan untuk pembelajaran program.. Demikian strategi pemberdayaan masyarakat bila minimal Penyuluh Kehutanan dalam kegiatan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, langkahlangkah tersebut dilakukan dengan cermat, teliti, partisipatif dan demokratis akan menghasilkan program-program/ kegiatan pembangunan kehutanan yang dapat dicapai dengan sukses efektif serta effisien. Selamat berkarya dan salam…. luar biasa.. Monitoring 8. LAPORAN DAN PENDOKUMENAN Laporan dibuat berisi seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan dan laporan penggunaan dananya. Dokumen laporan akhir sebaiknya juga didesain untuk dokumen pembelajaran proses pemberdayaan yang sudah dilakukan sehingga dapat dimanfaatkan oleh desa atau organisasi lain yang memerlukan.. Hasil Produksi Empon-Empon.
(15) PENYULUH KEHUTANAN?? MAU BANGEEET.. !!! Endang Dwi Hastuti*. Selama ini profesi penyuluh kehutanan dianggap tidak menarik. Penyuluh kehutanan identik dengan serba kekurangan : kurang “seksi”, kurang besar penghasilannya, kurang berkembang kariernya, dan masih banyak lagi kekurangan-kekurangan yang melekat pada profesi sebagai penyuluh kehutanan sehingga profesi ini tidak diminati . Kalau kita menengok sejarah, sebagian besar penyuluh kehutanan di daerah adalah para Petugas Lapangan Penghijauan (PLP) atau Petugas Lapangan Reboisasi (PLR). dan. Petugas Lapangan Dam Pengendali (PLDP) yang diangkat pada era kegiatan Proyek Inpres Penghijauan dan reboisasi yang digulirkan mulai tahun 1976. Tugas sebagai PLP, PLR dan PLDP lebih mengarah pada bimbingan teknik dalam pelaksanaan kegiatan penghijauan dan reboisasi. Latar belakang pendidikan para penyuluh tersebut umumnya SLTA, sedangkan pelatihan peningkatan kapasitas sangat minim diadakan, sehingga kapasitas, produktivitas dan kapabilitas penyuluh kehutanan dalam melaksanakan penyuluhan masih lemah. Kondisi ini diperparah dengan terbitnya PP Nomor 62/1998 dan PP Nomor 25/2000 yang menyatakan antara lain bahwa penyuluhan kehutanan merupakan salah satu urusan bidang kehutanan yang kewenangannya diserahkan kepada kabupaten/kota. Setelah berlakunya otonomi daerah maka kelembagaan formal yang bertugas menangani penyuluhan kehutanan baik di Dinas Kehutanan Provinsi dan Dinas yang menangani kehutanan di kabupaten/kota menjadi sangat bervariasi. Beberapa daerah provinsi dan kabupaten/kota ada yang memberikan perhatian cukup terhadap penyuluh dan kegiatan penyuluhan kehutanan, sebaliknya beberapa daerah lain perhatian dan dukungannya sangat kurang. Selain itu, penyuluh kehutanan banyak yang dialihtugaskan ke jabatan struktural atau dialihfungsikan pada tugas-tugas lain di luar tupoksinya sebagai tenaga fungsional penyuluh kehutanan. Situasi dan kondisi ini menyebabkan Penyuluh Kehutanan seperti “anak ayam yang kehilangan induk”, yang berdampak pada kesejahteraan dan perkembangan kariernya yang kurang lancar. Di pusat bahkan pernah ada masa dimana banyak orang menganggap penyuluh kehutanan adalah “orang buangan”. Ketika seseorang masuk menjadi penyuluh di Pusat Penyuluhan, orang bertanya-tanya salah apa dia kok jadi penyuluh. Banyak cemoohan yang bikin kita prihatin. Ketika seseorang mau menjadi penyuluh kehutanan biasanya orang berkomentar “Lugu” yang artinya “Lu Guoblok”. Itulah gambaran singkat betapa remehnya penyuluh kehutanan dimata kebanyakan orang. Tapi itu dulu!! Sekarang siapa sih yang tidak.
(16) mau jadi penyuluh? Kita harus berani berkata bahwa masa depan penyuluh kehutanan sekarang lebih cerah, lebih menjanjikan!. Lain Dulu lain Sekarang.. Sekarang menjadi penyuluh kehutanan lebih menarik dibanding jadi pejabat struktural. Lahirnya Undang-Undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistim Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) merupakan titik awal yang cerah dalam penyuluhan kehutanan. Posisi para penyuluh sudah kuat karena hak dan kewajibannya telah diatur dengan jelas dalam UU SP3K tersebut. Demikian pula peraturan-peraturan lainnya yang mengatur tentang penyuluh kehutanan telah terbit, seperti Perpanjangan Batas Usia Pensiun, BOP, Tunjangan Fungsional, Sertifikasi Penyuluh, Angka Kredit, dan lain-lain yang memungkinkan seorang penyuluh mencapai puncak karier dan kesejahteraannya.. Jadi Penyuluh Dulu Baru Diklat Dulu untuk bisa diangkat menjadi penyuluh kehutanan salah satu syaratnya harus lulus diklat pembentukan penyuluh kehutanan, padahal kesempatan untuk mengikuti diklat sangat minim. Salah satu akibatnya banyak calon penyuluh kehutanan yang bertahun-tahun belum diangkat mereka pindah ke jabatan struktural. Sekarang calon penyuluh kehutanan diangkat dulu menjadi penyuluh kehutanan , setelah itu paling lama 2 tahun baru wajib mengikuti dan lulus diklat fungsional dibidang penyuluhan kehutanan.. Naik Pangkat 2 Tahun, Karier Terjamin! Karier penyuluh kehutanan sekarang ini lebih pasti. Segala sesuatu tentang penyuluh kehutanan dan angka kreditnya telah diatur dalam Peraturan PERMENPAN DAN RB NO. 27 TAHUN 2013 (Revisi dari SK MENPAN NO. 130/KEP/M. PAN/12/2002) Melalui mekanisme pengumpulan angka kredit, penyuluh yang ingin naik pangkat dalam 2 tahun sekarang. bukan hal yang sulit. Tugas pokok, kegiatan dan angka kredit seorang. penyuluh , mekanisme pengusulan Daftar Usulan Angka Kredit (DUPAK) serta penilaian dan penetapan angka kredit penyuluh dengan jelas diatur dalam Peraturan PERMENPAN DAN RB NO. 27 TAHUN 2013. Kegiatan-kegiatan penyuluh kehutanan yang dalam peraturan terdahulu belum terakomodir untuk mendapat angka kredit dalam PERMENPAN DAN RB NO. 27 TAHUN.
(17) 2013 sudah diakomodir. Dengan demikian kesempatan penyuluh untuk naik pangkat dan jabatan sekarang jauh lebih mudah. Kepastian karier penyuluh kehutanan tidak diragukan lagi. Jenjang jabatan penyuluh kehutanan sekarang bertambah. Untuk penyuluh kehutanan terampil ada tambahan jenjang Penyuluh Kehutanan Pelaksana Pemula, golongan ruang IIa, dan yang paling seru sekarang ini penyuluh kehutanan bisa sampai jenjang Penyuluh Kehutanan Utama , Golongan ruang IVd-IVe . Pensiun Sampai Usia 60 Tahun Dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010, tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun Bagi Pegawai Negeri Sipil Yang Menduduki Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan, batas usia pensiun penyuluh kehutanan jenjang Madya dan Jenjang Utama dapat diperpanjang sampai dengan 60 tahun. Penyuluh kehutanan jenjang Penyelia dan jenjang Muda pada saat Perpres ini ditetapkan, batas usia pensiunnya dapat diperpanjang sampai dengan 60 tahun. Biaya Operasioanal Penyuluh (BOP) Naik Bantuan Operasional Penyuluh (BOP) adalah dana yang diberikan oleh Kementerian Kehutanan. cq. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan (BP2SDMK) kepada. penyuluh kehutanan untuk lebih memperlancar pelaksanaan tugas sesuai dengan rencana kerja. Semula BOP untuk setiap penyuluh Kehutanan sama besarnya yaitu Rp. 250.000/bulan. Berdasarkan Surat Kementerian Keuangan Nomor : S.593/MK.02/2013 tanggal 27 Agustus 2013, BOP mengalami kenaikan menjadi: No 1. 2. 3.. WILAYAH Rp Wilayah Barat (Sumatera, Jawa) Rp. 320.000/bulan Wilayah Tengah (Bali, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Rp. 400.000/bulan NTB) Wilayah Timur (Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Rp. 480.000/bulan Barat). Tunjangan Jabatan Fungsional Naik Semula Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan diatur dalam Perpres No: 33/2007 yang besarnya sebagaimana dalam tabel dibawah ini. Berdasarkan Perpres Nomor 19 Tahun 2013, Tunjangan Fungsional Penyuluh Kehutanan mengalami kenaikan menjadi :.
(18) Jenjang. Jabatan. Pangkat. Perpres No 33/2007. Pelaksana Pelaksana Lanjutan Penyelia. IIb-IId IIIa-IIIb IIIc-IIId. Rp. 240.000 Rp. 265.000 Rp. 300.000. Rp. 360.000 Rp. 450.000 Rp. 780.000. Pertama Muda Madya. IIIa-IIIb IIIc-IIId IVa-IVc. Rp. 270.000 Rp.400.000 Rp. 550.000. Rp. 540.000 Rp. 960.000 RP. 1.260.000. PK Terampil. Perpres No. 19/2013. PK Ahli. Tunjangan Profesi Pada prinsipnya tunjangan profesi penyuluh kehutanan sudah disetujui Kementerian Keuangan, diharapkan dalam waktu dekat dapat direalisasikan.. Penyuluh Kehutanan Teladan Dapat Angka Kredit Penyuluh kehutanan yang mendapat penghargaan sebagai penyuluh kehutanan teladan dapat diberikan angka kredit dengan ketentuan : Penyuluh kehutanan teladan tingkat nasional diberikan angka kredit 50% angka kredit yang disyaratkan untuk kenaikan jenjang dan atau pangkat setingkat lebih tinggi dengan rincian 80% untuk unsur utama dan 20% untuk unsur penunjang. Penyuluh kehutanan teladan tingkat provinsi dapat diberikan angka kredit 37,5%, dan penyuluh kehutanan teladan tingkat kabupaten 25%.. *PKA pada Pusat Penyuluhan Kehutanan.
(19) Jangan Takut Ikut Sertifikasi Sama dengan Ngumpulin DUPAK Kok Hendro Asmoro, SST., M.Si*). Apa kabar Penyuluh Kehutanan ..... LUAR BIASA, itulah jawaban para Penyuluh Kehutanan yang selalu menggema dan kompak setiap kali disapa pada saat pertemuan. Pertanyaan berikutnya kepada Penyuluh Kehutanan : Siap ikut uji kompetensi ? Jawabannya kurang kompak hingga harus diulang beberapa kali. Kenapa demikian? Mungkin sebagian Penyuluh Kehutanan masih belum begitu jelas tentang uji kompetensi. Pada kesempatan ini, penulis mencoba memberikan gambaran singkat bagaimana proses asesmen kompetensi dan apa saja yang perlu dipersiapkan oleh para Penyuluh Kehutanan dalam mengikuti asesmen kompetensi. Apa yang menjadi dasar pelaksanaan Asesmen Kompetensi Penyuluh Kehutanan ? Dalam pasal 32 ayat (3) Undang-undang 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, dinyatakan bahwa “ Pembiayaan penyuluhan yang berkaitan dengan tunjangan jabatan fungsional dan profesi, biaya operasional penyuluh PNS, serta sarana dan prasarana bersumber dari APBN, sedangkan pembiayaan penyelenggaraan penyuluhan di provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa bersumber dari APBD yang jumlah dan alokasinya disesuaikan dengan programa penyuluhan”. Selanjutnya, Pasal 10 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan dinyatakan bahwa “Setiap penyuluh PNS yang telah mendapat sertifikat profesi sesuai standar kompetensi kerja dan jenjang jabatan profesinya, diberikan tunjangan profesi penyuluh”. Kedua peraturan perundang-undangan inilah yang menjadi dasar utama pelaksanaan uji kompetensi oleh pemerintah dan lembaga sertifikasi profesi. Artinya salah satu tujuan dari penyelenggaraan uji kompetensi adalah mendapat sertifikat profesi sebagai syarat bagi Penyuluh Kehutanan untuk memperoleh tunjangan profesi. Kemudian, pelaksanaan asesmen kompetensi bagi Penyuluh Kehutanan mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep.137/Men/V/2011 tentang Penetapan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Kehutanan Bidang Penyuluhan Kehutanan Menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) menggunakan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 130/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya. Berdasarkan pada lingkup dan cakupan kegiatan penyuluhan kehutanan, dalam SKKNI Bidang Penyuluhan Kehutanan, kompetensi penyuluh kehutanan dipetakan dalam beberapa fungsi seperti disajikan pada Tabel 1 berikut :. 1 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(20) Tabel 1 :Peta Fungsi Bidang Kerja Utama Penyuluh Kehutanan Fungsi Kunci Melakukan Interaksi sosial Menyelenggara kan penyuluhan kehutanan. Fungsi Utama Mengembangkan interaksi sosial. Fungsi Dasar / Unit kompetensi 1. Melakukan Komunikasi Dialogis 2. Membangun Jejaring Kerja 3. Mengorganisasikan Masyarakat. Melakukan persiapan penyuluhan kehutanan. 1. Menyusun Data Potensi Wilayah, Agroforestry Ekosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan 2. Menganalisis Potensi Wilayah, Agroforestry Ekosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan 3. Menyusun Programa Penyuluhan Kehutanan 4. Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluh Kehutanan 1. Menyusun Materi Penyuluhan Kehutanan 2. Menetapkan Metode Penyuluhan Kehutanan 3. Mengembangkan Kemandirian Kelompok Sasaran 1. Melakukan Pemantauan Pelaksanaan Penyuluhan Kehutanan 2. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Kehutanan. Melaksanakan penyuluhan kehutanan. Melakukan pemantauan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penyuluhan kehutanan Melakukan pengembangan penyuluhan kehutanan. Mengembangkan sektor kehutanan. Melakukan pengembangan profesi penyuluhan kehutanan Melaksanakan pengembangan penyuluhan Melakukan pendampingan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan Melakukan pendampingan kegiatan pengelolaan hasil hutan Melakukan pendampingan kegiatan jasa lingkungan dan TSL. 2 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i. 1. Membuat Telaahan Pelaksanaan Strategi dan Kebijakan Penyuluhan Kehutanan 2. Melakukan Pengembangan Pedoman, Juklak, Juknis, dan Prosedur Kerja Penyuluhan Kehutanan 3. Melakukan Pengembangan Aspek Teknik, Metodologi, Materi, Sarana, dan Alat Bantu Penyuluhan Kehutanan Membuat Karya Tulis/Karya Ilmiah di Bidang Pengembangan Profesi Penyuluhan Kehutanan Membuat Media Penyuluhan Dalam Bentuk Model 1. Melakukan Pendampingan Kegiatan Pembibitan 2. Melakukan pendampingan Kegiatan Penanaman 3. Melakukan Pendampingan Kegiatan Sipil Teknis Konservasi Tanah dan Air 1. Melakukan Pendampingan Kegiatan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu 2. Melakukan Pendampingan Kegiatan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu 3. Melakukan Pendampingan Penatausahaan Hasil Hutan Kayu Rakyat 1. Melakukan Pendampingan Pemanfaataan Jasa Lingkungan dan atau wisata alam 2. Melakukan Pendampingan Kegiatan Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
(21) Fungsi Kunci. Fungsi Utama Melakukan pendampingan kegiatan perlindungan hutan Melakukan pendampingan kegiatan di bidang planologi Melakukan pendampingan kemitrausahaan. Fungsi Dasar / Unit kompetensi 1. Melakukan Pendampingan Pengendalian Kebakaran Hutan 2. Melakukan Pendampingan Pengamanan Hutan 1. Melakukan Pendampingan Kegiatan Inventarisasi Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan 2. Melakukan Pendampingan Kegiatan Tata Batas Kawasan Hutan Melakukan Pendampingan Akses Permodalan dan Kemitrausahaan. Sumber : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Kep.137/Men/V/2011. Bagaimana Proses Asesmen Kompetensi Penyuluh Kehutanan? Sebelum masuk pada proses asesmen kompetensi, ada baiknya kita mencoba mengenal beberapa istilah dalam asesmen kompetensi. Asesmen kompetensi mungkin secara sederhana dapat diartikan sebagai uji kompetensi. Namun, dalam tulisan ini uji kompetensi kita pahami sebagai asesmen kompetensi. Beberapa istilah yang perlu diketahui dalam asesmen kompetensi antara lain : 1. Asesmen Kompetensi adalah proses asesmen baik teknis maupun non teknis melalui pengumpulan bukti yang relevan untuk menentukan apakah seseorang kompeten atau belum kompeten pada suatu unit kompetensi atau kualifikasi tertentu. 2. Kompetensi Kerja adalah spesifikasi dari setiap sikap, pengetahuan, keterampilan dan atau keahlian serta penerapannya secara efektif dalam pekerjaan sesuai dengan standar kinerja yang dipersyaratkan. 3. Asesor Kompetensi adalah seseorang yang ditugaskan oleh suatu lembaga sertifikasi profesi untuk melakukan asesmen kompetensi terhadap asesi 4. Asesi Kompetensi adalah Pemohon atau peserta asesmen kompetensi yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk dapat ikut serta dalam proses sertifikasi melalui asesmen kompetensi. 5. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) adalah suatu lembaga sertifikasi profesi yang ditugaskan untuk melakukan proses asesmen. 6. Benchmark/Acuan Pembanding adalah Kriteria yang akan digunakan untuk mengases kemampuan asesi, bisa berupa : standar kompetensi/unit kompetensi; kriteria asesmen dari suatu kurikulum pelatihan; spesifikasi unjuk kerja; spesifikasi produk. Dari pengertian asesmen kompetensi di atas, dapat kita ketahui bahwa hasil akhir dari proses asesmen adalah rekomendasi asesor kepada asesi untuk mendapat pengakuan kompeten atau belum kompeten pada suatu unit kompetensi atau kualifikasi yang diasesmen. Proses asesmen kompetensi secara sederhana dilakukan terhadap bukti-bukti pendukung atas pekerjaan atau unit kompetensi asesi yang akan diasesmen dengan menggunakan acuan pembanding. Acuan pembanding yang digunakan pada proses asesmen kompetensi Penyuluh Kehutanan adalah SKKNI Bidang Penyuluhan Kehutanan. Untuk mendukung 3 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(22) pembuktian terhadap unit kompetensi yang asesmen, asesor dapat menggunakan perangkat asesmen seperti : 1. Daftar cek verifikasi bukti portofolio untuk mengecek bukti-bukti yang disertakan oleh asesi termasuk : valid (sahih), authenticity (asli), currency (terkini), dan sufficiency (cukup). 2. Daftar Pertanyaan Tertulis atau Lisan untuk mengetahui tingkat pengetahuan asesi 3. Lembar instruksi atau tugas praktek/demonstrasi untuk mengetahui tingkat keterampilan asesi DUPAK dan Bukti Pendukung Asesmen Kompetensi Bukti pendukung dalam proses asesmen kompetensi dikelompokkan atas : 1. Bukti langsung yaitu informasi yang diperoleh melalui observasi unjuk kerja secara langsung di lapangan atau di tempat kerja. 2. Bukti tidak langsung yaitu informasi yang diperoleh dari observasi unjuk kerja di tempat yang menyerupai tempat kerja atau ruang simulasi. 3. Bukti tambahan yaitu informasi yang diperoleh dari tempat lain karena kondisi dan situasi tidak memungkinkan untuk melakukan observasi langsung ataupun tidak langsung/simulasi. Dalam pelaksanaan asesmen kompetensi Penyuluh Kehutanan, bukti pendukung yang digunakan adalah bukti fisik dari lampiran Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (DUPAK). Mengapa demikian? Jawabannya adalah Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) menggunakan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 130/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya yang dilengkapi dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 272/KPTS.II/2003 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya. Jika ditinjau dari pengelompokkan bukti pendukung dalam proses asesmen kompetensi, maka bukti fisik yang merupakan lampiran yang tak terpisahkan dari DUPAK dapat dimasukkan dalam kategori bukti tidak langsung. Bukti tidak langsung tersebut harus dipersiapkan oleh Penyuluh Kehutanan sebelum mengikuti asesmen kompetensi. Untuk memudahkan Penyuluh Kehutanan dalam mempersiapkan bukti pendukung pelaksanaan tugas pada saat asesmen kompetensi nanti, penulis mencoba membuat tabel bukti tidak langsung dari masing-masing unit kompetensi yang disesuaikan dengan bukti fisik dari lampiran DUPAK, seperti disajikan pada Tabel 2 berikut :. 4 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(23) Tabel 2 : Bukti Tidak Langsung Untuk Setiap Unit Kompetensi Penyuluh Kehutanan. I. KOMPETENSI UMUM Unit Komptensi KHT.PK01.001.01 Melakukan Komunikasi Dialogis KHT.PK01.002.01 Mengembangkan Kemandirian Kelompok Sasaran KHT.PK01.003.01 Mengorganisasikan Masyarakat II. KOMPETENSI INTI Unit Komptensi KHT.PK02.001.01 Menyusun Data Potensi Wilayah, AgroforestryEkosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan KHT.PK02.002.01 Menganalisis Potensi Wilayah, Agroforestry Ekosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan. KHT.PK02.003.01 Menyusun Programa Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.004.01 Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluh Kehutanan KHT.PK02.005.01 Menyusun Materi Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.006.01 Menetapkan Metode Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.007.01 Mengembangkan Kemandirian Kelompok Sasaran. Bukti Tidak Langsung Surat Keterangan/Laporan Kegiatan melakukan Komunikasi Dialogis Surat Keterangan/Laporan Kegiatan Mengembangkan Kemandirian Kelompok/Surat Kerjasama Kemitraan (MoU) Surat Keterangan /Laporan KegiatanMengorganisasikan Masyarakat/ Kerjasama/Kemitraan/Kesepakatan Bersama (MoU). Bukti Tidak Langsung Surat Keterangan/Laporan Melakukan Kegiatan Menyusun Data Potensi Wilayah, Agroforestry Ekosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan Buku Monografi Wilayah Kerja Penyuluh Kehutanan dan/atau Profil Wilayah Kerja Penyuluh Kehutanan Buku Programa Penyuluhan Kehutanan Buku Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan /Laporan Melakukan KegiatanMenganalisis Potensi Wilayah, Agroforestry Ekosistem, dan Kebutuhan Inovasi/Teknologi Kehutanan Buku Monografi Wilayah Kerja Penyuluh Kehutanan/Profil Wilayah Kerja Penyuluh Kehutanan Buku Programa Penyuluhan Kehutanan Buku Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Kehutanan Buku Programa Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan Melakukan Kegiatan Menyusun Programa Penyuluhan Kehutanan Buku Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Kehutanan Surat KeteranganMelakukan Kegiatan Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan Melakukan Kegiatan Menyusun Materi Penyuluhan Kehutanan Materi Penyuluhan berupa : Media Cetak/Elektronik : Leaflet, Brosur/Booklet, Powerpoint, Poster, Naskah Siaran Radio, Film Buku Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan Melakukan Kegiatan Menetapkan Metode Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan melaksanakan kegiatan Penyuluhan Buku Administrasi Kelompok Tani Binaan : Buku Anggota, AD/ART, Potensi Kelompok, Buku Hasil Pertemuan/kegiatan, Buku Tamu, dll, Buku Rencana Kerja Kelompok Kerjasama/Kemitraan/Kesepakatan Bersama (MoU). 5 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(24) Unit Komptensi KHT.PK02.008.01 Melakukan Pemantauan Pelaksanaan Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.009.01 Melakukan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.010.01 Membuat Telaahan Pelaksanaan Strategi dan Kebijakan Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.011.01 Melakukan Pengembangan Pedoman, Juklak, Juknis, Dan Prosedur Kerja Penyuluhan Kehutanan KHT.PK02.012.01 Melakukan Pengembangan Aspek Teknik, Metodologi, Materi, Sarana, dan Alat Bantu Penyuluhan Kehutanan. KHT.PK02.013.01 Membuat Karya Tulis/Karya Ilmiah di Bidang Pengembangan Profesi Penyuluhan Kehutanan III. KOMPETENSI PILIHAN Unit Komptensi KHT.PK03.001.01 Membuat Media Penyuluhan Dalam Bentuk Model KHT.PK03.002.01 Melakukan Pendampingan Kegiatan Pembibitan KHT.PK03.003.01 Melakukan Pendampingan Kegiatan Penanaman KHT.PK03.004.01 Melakukan Kegiatan Pendampingan Kegiatan Sipil Teknis Konservasi Tanah dan Air. Bukti Tidak Langsung Surat Keterangan dan Laporan melakukan kegiatan pemantauan pelaksanaan penyuluhan kehutanan Surat Keterangan dan LaporanMelakukan kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Kehutanan(Laporan Bulanan/Triwulan/Tahunan Penyuluh Kehutanan) Surat Keterangan/Surat Keputusan Tim dan Laporan Kegiatan Membuat Telaahan Pelaksanaan Strategi dan Kebijakan Penyuluhan Kehutanan Rumusan Hasil Telaahan Pelaksanaan Strategi dan Kebijakan Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan/Surat Keputusan Tim dan Laporan Kegiatan Melakukan Pengembangan Pedoman, Juklak, Juknis, Dan Prosedur Kerja Penyuluhan Kehutanan Rumusan Hasil TelaahanPengembangan Pedoman, Juklak, Juknis, Dan Prosedur Kerja Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan/Surat Keputusan Tim dan Laporan Kegiatan Melakukan Pengembangan Aspek Teknik, Metodologi, Materi, Sarana, dan Alat Bantu Penyuluhan Kehutanan Rumusan Hasil Telaahan Pengembangan Aspek Teknik, Metodologi, Materi, Sarana, dan Alat Bantu Penyuluhan Kehutanan Surat Keterangan dan Hasil Karya Tulis, antara lain : Makalah, artikel, terjemahan/saduran (baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan). Bukti Tidak Langsung Surat Keterangan /Laporan Kegiatan Membuat Media Penyuluhan Dalam Bentuk Model Surat Keterangan /Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pembibitan Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Pendampingan Kegiatan Penanaman Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Pendampingan Kegiatan Sipil Teknis Konservasi Tanah dan Air. 6 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(25) Unit Komptensi KHT.PK03.005.01 Melakukan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu KHT.PK03.006.01 Melakukan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pengelolaan Hasil Hutan Kayu KHT.PK03.007.01 Melakukan Kegiatan Pendampingan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Rakyat KHT.PK03.008.01 Melakukan Pendampingan Kegiatan Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Satwa Liar KHT.PK03.009.01 Melakukan Pendampingan Kegiatan Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar KHT.PK03.010.01 Melakukan Pendampingan Pengendalian Kebakaran Hutan KHT.PK03.011.01 Melakukan Pendampingan Pengamanan Hutan KHT.PK03.011.01 Melakukan Pendampingan Pengamanan Hutan KHT.PK03.012.01 Melakukan Pendampingan Kegiatan Inventarisasi Sosial, Budaya, Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan KHT.PK03.013.01 Melakukan Kegiatan Pendampingan Kegiatan Tata Batas Kawasan Hutan KHT.PK03.014.01 Melakukan Kegiatan Pendampingan Akses Permodalaan dan Kemitrausahaan. Bukti Tidak Langsung Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu. Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pengelolaan Hasil Hutan Kayu. Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Pendampingan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Rakyat Surat Keterangan / Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Satwa Liar Surat Keterangan / Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Kegiatan Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar Surat Keterangan / Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Pengendalian Kebakaran Hutan Surat Keterangan / Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Pengamanan Hutan Surat Keterangan / Laporan Kegiatan Melakukan Pendampingan Pengamanan Hutan Surat Keterangan / Laporan Melakukan KegiatanPendampingan Kegiatan Inventarisasi Sosial, Budaya, Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan. Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Pendampingan Kegiatan Tata Batas Kawasan Hutan Surat Keterangan / Laporan Melakukan Kegiatan Pendampingan Akses Permodalaan dan Kemitrausahaan Surat Keputusan Kerjasama/Kemitraan/Kesepakatan Bersama (MoU). Sumber : Diolah dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Kep.137/Men/V/2011 dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 272/KPTS.II/2003.. 7 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(26) Jika dilihat dari tabel tersebut di atas, maka bukti tidak langsung dari setiap unit kompetensi yang diasesmen merupakan bukti fisik dari pelaksanaan butir-butir kegiatan penyuluhan kehutanan sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 272/KPTS.II/2003. Selain bukti pendukung tersebut, sebaiknya Penyuluh Kehutanan yang akan mengikuti asesmen kompetensi juga menyiapkan berkas administrasi lainnya seperti : 1) STPPL Diklat Pembentukan Penyuluh Kehutanan 2) STPPL Diklat Teknis Kehutanan 3) Sertifikat dan atau Piagam Penghargaan 4) SK Jabatan Fungsional Penyuluh 5) Referensi dari pimpinan/rekan sejawat Penutup Jika saja setiap penyuluh kehutanan melaksanakan tugas pokok dengan baik dan rutin mengusulkan DUPAK yang dilengkapi bukti fisik sesuai petunjuk teknis, maka penyuluh kehutanan Insya Allah akan selalu siap setiap saat untuk mengikuti asesmen kompetensi. Secara sederhana, penulis mencoba mengasumsikan asesmen kompetensi Penyuluh Kehutanan saat ini hampir sama dengan penilaian DUPAK. Perbedaannya adalahpada pelaksanaan penilaian DUPAK, Penyuluh Kehutanan tidak bisa diklarifikasi langsung atas bukti fisik hasil kegiatannya. Sedangkan asesmen kompetensi, Penyuluh Kehutanan sebagai asesi dapat diklarifikasi secara langsung dengan menggunakan metode dan perangkat asesmen yang telah disiapkan oleh lembaga sertifikasi profesi sebagai pelaksana asesmen. Harapannya, jika suatu saat Penyuluh Kehutanan ditanya kembali dengan pertanyaan : Siap ikut uji kompetensi ? akan dijawab dengan yakin dan kompak SIAP !!!. Semoga tulisan ini bermanfaat. (HA). Sumber Bacaan : Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep.137/Men/V/2011 tentang Penetapan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Kehutanan Bidang Penyuluhan Kehutanan Menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 272/KPTS.II/2003 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya. *) Penyuluh Kehutanan Madya-Pusluh. 8 |J a n g a n T a k u t I k u t S e r t i f i k a s i.
(27) SDSN CIBUBUR 11 PAGI Mengajarkan Cinta Menanam di Keriuhan Jakarta. Ryke L.S. Siswari *). Tidak salah bila Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) Cibubur 11 Pagi, Jakarta ditetapkan sebagai terbaik tingkat nasional Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam untuk Kategori Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM) tahun 2013. Sekolah ini telah melaksanakan kegiatan KMDM secara swadaya bahkan saat sosialisasi KMDM belum menjangkaunya. Terletak. di. kelurahan. Cibubur,. Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, sekolah. ini. sungguh. beruntung. memiliki lahan yang luas apalagi untuk ukuran Jakarta. Suasana sejuk dan asri sangat terasa begitu memasuki sekolah. ini. tanaman. karena. dan. banyaknya. pepohohonan. yang. tumbuh di sana. Dengan luas lahan 6.580. m2. dan. bangunan. sekolah. seluas. 975 m2, sekolah ini memang. memiliki potensi yang luar biasa untuk melaksanakan kegiatan penanaman.. Gambar 1. Lingkungan sekolah yang hijau asri Suasana yang sangat berbeda dengan hiruk pikuk kota Jakarta yang sesak oleh hutan beton dan kemacetan. Sekolah ini bahkan telah mengajarkan kepada anak-anak untuk berkebun tanaman hias, buah-buahan. dan sayuran sebelum mengenal program KMDM. Dengan. demikian, saat diperkenalkan program KMDM, sekolah ini tinggal mengembangkan program yang memang sudah dilaksanakan. Setelah mengenal KMDM, SDSN Cibubur 11 Pagi menambahkan kegiatan ini ke dalam kegiatan yang telah dilaksankan dengan penyesuaian-penyesuaian searah program KMDM. Sekolah ini bahkan mengadakan pelatihan KMDM sendiri untuk melatih para guru calon pendamping kegiatan KMDM dengan fasilitator dari Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Timur. Materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi KMDM di sekolah, teknis penanaman dan pemeliharaan pohon, Pengenalan jenis pohon tanaman hutan dan pembangunan persemaian tanaman hutan..
(28) Di sekolah ini, KMDM telah menjadi bagian dari kurikulum sebagai muatan lokal. Mata pelajaran KMDM diajarkan kepada seluruh siswa kelas I hingga kelas VI dengan materi sesuai kelasnya dan mendapat nilai yang dicantumkan di raport. Selain mendapatkan teori tentang cinta lingkungan dan penananam di dalam kelas, siswa sekolah ini juga mendapatkan praktek berkebun dan pembibitan melalui kebun bibit sekolah serta penanaman. Selain oleh masing-masing guru penangajar, Kegiatan KMDM di sekolah ini juga didampingi oleh Pak Urip SP yang merupakan Penyuluh Kecamatan Ciracas dan Pak Sukarto yang merupakan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya didampingi oleh para penyuluh kehutanan, melainkan juga mendapatkan pembinaan dari Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Timur. Dimulai Dari Belajar di Kebun Bibit Kebun Bibit Sekolah sebagai salah satu. sarana. pembelajaran. KMDM. dibangun di atas lahan seluas 250 m2 di lahan milik sekolah. Di sini siswa belajar. membuat. pembibitan.. persemaian. dan. Juga memelihara bibit. bantuan dari suku Dinas Pertanian dan Kehutanan. Jakarta. Timur. dan. Kementerian Kehutanan sebelum siap ditanam. atau. dibagikan. ke. masyarakat dan sekolah lain.. Gambar 2. Merawat tanaman di kebun bibit. Jenis bibit yang dibuat meliputi kayu-kayuan ( jati, mahoni. buah (mangga, klengkeng, jambu dan rambutan) serta. dan gmelina). Sekolah ini telah menghasilkan bibit yang. dibagikan kepada siswa untuk di tananam di rumah, masyarakat di sekitar sekolah serta sekolah-sekolah di sekitarnya. Untuk menggalang dana bagi keberlanjutan kebun bibit dan pembelajaran tanam menanam, bibit yang dihasilkan juga dijual kepada orangtua murid pada acara-acara sekolah dengan harga Rp 10.000 untuk 2 bibit tanaman buah dan atau kayu.. Menanam = Menabung Selain belajar di KBS, siswa juga diajak berkebun sayuran, tanaman hias, tanaman obat serta tanaman jagung. Lahan sekolah yang memang luas dibagi kedalam blok-blok tanaman yaitu blok tanaman pertanian, blok tanaman produktif, blok tanaman obat dan hutan mini yang berisi tanaman kehutanan dn tanaman langka. Selain itu tanaman kehutanan/kayu-.
(29) kayuan juga ditanaman tersebar di seluruh area sekolah. Jenis tanaman yang sudah ada meliputi mahoni, sawo, belimbing, tanjung, pete, mangga, klengkeng, jambu dan tanaman langka. Seluruh pohon yang ada di SDSN Cibubur 11 pagi telah dipetakan dengan menggunakan GPS. Tanaman pertanian yang ditanam meliputi jenis jagung, bayam, kangkung, sawi, cabe dan terong. Seluruh tanaman dirawat oleh para siswa, demikian pula Kebun Bibit Sekolah yang dirawat para siswa sesuai jadwal piket bersama pendampingnya. Pada blok tanaman obat, siswa diajak untuk memberikan label pada setiap jenis tanaman dengan mencantumkan naman dan manfaat tanaman obat tersebut. Seperti halnya bibit tanaman kayu-kayuan, hasil kebun berupa jagung dan sayuran juga dijual kepada orangtua murid. Orangtua murid di undang di saat-saat panen. Selain untuk menggalang dana bagi keberlanjutan kebun sekolah, hal ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kebanggaan pada para murid karena apa yang dilakukan bisa menghasilkan uang. Ini juga merupakan bentuk lain dalam menanamkan keyakinan bagi par murid bahwa saat mereka menanam pohon, pada saatnya nanti mereka akan memanen hasil yang lebih besar. Pohon yang mereka tanam saat ini adalah tabungan bagi mereka di masa yang akan datang. KMDM memang merupakan kegiatan penyuluhan yang dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan minat dan rasa cinta lingkungan dan penanaman pohon kepada. anak. Artinya,. usia. sekolah. kegiatan. dasar.. ini. lebih. mengutamakan proses pembelajaran untuk. mencintai. menanam. pohon. lingkungan daripada. dan. sekedar. pembangunan fisiknya.. Gambar 3. Belajar cara menanam pohon. Untuk Jakarta, hal ini menjadi semakin penting karena kondisi lahan maupun budaya masyarakat kota besar dimana anak lebih akrab dengan kegiatan kunjungan ke mall bermain dengan tablet dan handphone.. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh sekolah ini dalam. pelaksanaan KMDM memang sudah tepat..
(30) “Intinya adalah menanamkan kepada anak-anak bagaimana mengenal,. mencintai dan. menciptakan lingkungan yang lebih baik,” jelas Herwidiastuti, M.Pd., Kepala Sekolah SDSN Cibubur 11 Pagi. Anak-anak telah merasakan dengan banyaknya pohon,. suasana sekolah. menjadi lebih nyaman. Mereka juga merasakan senangnya mendapat uang dari hasil tanaman. Selain itu disampaikan bahwa bila dari tanaman pertanian saja sudah bisa menghasilkan. uang,. tabungan. dari. hasil penanaman pohon pasti akan lebih besar.. Gambar 4. Praktek menanam pohon. Banyak Cara Menuju Cinta Menanam Di sekolah ini kegiatan cinta menanam dan cinta lingkungan tidak hanya diberikan di kelas dalam bentuk teori maupun di kebun dalam bentuk praktek. Kegiatan ini juga dilakukan melalui permainan dan berkesenian dalam kegiatan ekstra kurikuler. Sekolah ini bahkan telah menciptakan lagu KMDM untuk menyemangati anak didiknya melakukan kegiatan tersebut. Di sekolah ini juga dibangun hutan mini yang berisi berbagai tanaman langka. Tanaman yang sudah ada di sini sekitar 81 pohon yang terdiri dari jamblang, bisbul, gowok lobi-lobi, jambu bol, kemiri, sawo juga tanaman seperti kayu putih, salam dan maja. Di sini , murid diajak mengenali berbagai jenis tanaman yang sudah mulai langka dan kegunaaannya. Mereka juga diajak untu menjaga dan memeliharanya. Untk meningkatkan kecintaan akan lingkungan dan kegiatan peaanaman, SDSN Cibubur 11 Pagi juga beberapa kali mengikutsertakan murid-muridnya dalam kegiatan penanaman yang dilakukan oleh berbagai pihak terutama Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Timur serta kementerian Kehutanan. SDSN Cibubur 11 Pagi juga mensosialisasikan para program KMDM ini kepada orangtua murid serta sekolah lain di sekitarnya.. para. Hal ini dilakukan dengan mengundang. orangtua murid dan perwakilan sekolah disekitarnya serta dengan cara pembagian bibit. Dampaknya pun telah terlihat dengan diikutinya program ini oleh sekolah-sekolah lain.
(31) diantaranya SDN Kelapa Dua Wetan 01 Pagi, SDN Kelapa Dua Wetan 06 Pagi, SDN Cibubur 01 Pagi, SDN Cibubur 06 Petang dan SDN Kelapa Dua Wetan 06 Pagi. Sesuai dengan tujuannya untuk menumbuhkembangkan minat dan rasa cinta lingkungan serta cinta menanam, apa yang telah dilakukan sekolah ini memberikan contoh nyata tentang keberhasilan KMDM. SDSN Cibubur 11 Pagi telah menanamkan rasa cinta lingkungan dan cinta menanam tidak hanya kepada anak didiknya tetapi juga telah menular kepada masyarakat dan sekolah-sekolah di sekitarnya. Di tengah kepadatan pemukiman dan hiruk pikuk ibukota Jakarta, anak-anak dengan gembira belajar membuat bibit, berkebun dan menanam pohon. Semoga apa yang telah dirintis dan dicapaiSDSN Cibubur 11 Pagi ini dapat terus terlaksana dengan semakin baik, juga terus menginspirasi sekolah lain untuk melakukan hal serupa.. *) Penyuluh Kehutanan pada Pusat Penyuluhan Kehutanan.
(32) YESAYA MAYOR, ‘FROM ZERO TO HERO’ Oleh : Victor Winarto *) Yesaya Mayor (49 tahun) dilahirkan di Kampung Sawinggrai, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan teman-teman sebaya, yaitu dihabiskan untuk membantu orang tua berladang di hutan dan mencari ikan di laut. Dengan kata lain hutan dan laut menjadi bagian hidup yang membentuk karakter Yesaya Mayor hingga beranjak dewasa. Awalnya penebang liar Hutan dan laut di Papua Barat, khususnya di. Distrik. Meos Mansar. menyediakan. segala kebutuhan hidup yang melimpah. Namun karena minimnya infrastruktur dan sarana transportasi, masyarakat di distrik ini hidup miskin. Akibatnya Yesaya Mayor dan teman-temannya gampang tergoda oleh bujukan oknum pengusaha nakal untuk melakukan illegal logging. Sejak lahiriah. menjadi kondisi. penebang. liar,. perekonomian. secara Yesaya. Mayor mulai membaik. Saat itu, yang ada dibenaknya hasil Foto 1. Yesaya Mayor. dari. hanya. keuntungan. berjualan. kayu,. materi tanpa. memperdulikan bahaya yang mengancam akibat banyaknya pohon yang ditebang.. Bencana datang Perlahan tetapi pasti, kejadian yang tidak dibayangkan sebelumnya datang juga. Bukan longsor atau banjir bandang yang di alami, tetapi kelangkaan kayu dan kekeringan melanda Distrik Meos Mansar. Akibat kelangkaan kayu di distrik ini, masyarakat harus membeli dari distrik terdekat apabila membutuhkan kayu untuk membangun rumah, membuat perahu atau keperluan lainnya. Karena minimnya sarana transportasi menyebabkan ongkos angkut lebih mahal dari harga kayunya sendiri, sehingga uang yang dikumpulkan selama menjadi penebang liar tak ada artinya..
(33) Selain itu Distrik Meos Mansar pernah dilanda kekeringan akibat kemarau panjang, sehingga sebagian besar mata air mengering. Masyarakat menderita karena kesulitan mendapatkan air bersih, bahkan burung-burung dan binatang yang ada di kawasan itu banyak yang mati. Berbagai rangkaian peristiwa yang dialami Yesaya Mayor, membuat batinnya terusik dan dihantui rasa bersalah telah merusak hutan beserta isinya. Semua itu memberi pelajaran berharga sehingga jalan hidupnya berbalik 180 derajat dan menyadarkannya untuk menjaga serta melestarikan hutan. Bertaubat Menjadi Pribadi Baru Bermodal filosofi “lebih baik menjual jasa daripada menjual sumberdaya”, membuat sosok Yesaya Mayor menjadi pribadi yang “baru”. Filosofi tersebut diaktualisasikan melalui aktifitas nyata dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dengan mengembangkan tanaman lokal. Bibit-bibit tanaman dibawa masuk ke hutan dan ditanam pada lahan-lahan terbuka akibat penebangan liar yang dilakukan sebelumnya. Dalam perjalanan masuk ke hutan, ia juga membawa cangkang kerang untuk diletakkan di tanah sebagai tempat minum bagi burung/ satwa lain yang hidup di hutan. Yesaya Mayor juga melakukan konservasi anggrek spesies. Anggrek-anggrek yang ditemukan di hutan, ditangkarkan secara sederhana dengan cara memisahkan beberapa tanaman dari rumpun yang ada, dan ditanam atau ditempelkan pada pohon lain disekitarnya. Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup satwa, khususnya burung cenderawasih, dilakukan penyuluhan dengan memasang papan-papan himbauan dan larangan. Masyarakat dihimbau agar tidak menangkap burung dan menjadikan distrik Meos Mansar sebagai salah satu habitat nyaman bagi burung cenderawasih. Untuk menyaksikan keindahan dan atraksi burung cenderawasih, Yesaya Mayor membangun beberapa tempat pengamatan di bawah pohon tempat burung tersebut biasa hinggap. Selain itu ia melarang masyarakat nelayan agar tidak menangkap ikan secara besar-besaran. Mereka dihimbau agar menangkap ikan secukupnya untuk kebutuhan makan sehari-hari, dan tidak untuk dijual. Karena sesuai filosofinya, dengan membiarkan ikan hidup bebas di habitatnya, masyarakat dapat menikmati keindahan dan manfaat lainnya. Untuk mendukung.
(34) semua aktifitasnya, dibentuk Sanggar Pecinta Lingkungan. Sanggar tersebut ditunjuk sebagai Pusat Informasi Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Selat Dampir, Wilayah Waigeo Selatan, Distrik Meos Mansar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat.. Anggrek spesies hasil penangkaran Yesaya Mayor. Papan himbauan Menuai hasil Kini apa yang dilakukan oleh Yesaya Mayor beserta masyarakat yang tergabung dalam Sanggar Pecinta Lingkungan, mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak..
(35) Secara pribadi Yesaya Mayor menjadi relawan LSM Conservation International Indonesia. Pada tahun 2010 yang bersangkutan dinobatkan sebagai Nominator Penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan. Sedang pada tahun 2012 dinobatkan sebagai Juara Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tingkat Provinsi Papua Barat, kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM). Selain mendapat pengakuan atas prestasi yang berhasil diraih, Yesaya Mayor dan masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi atas upayanya menjaga hutan dan flora/fauna yang ada di dalamnya. Dari waktu ke waktu tingkat kesejahteraan masyarakat di Kampung Sawinggrai, Distrik Meos Mansar mulai meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh semakin banyaknya wisatawan domestik dan internasional yang berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat, khususnya ke Distrik Meos Mansar. Semoga aktifitas Yesaya Mayor menginspirasi pihak-pihak lain untuk menjaga dan melestarikan hutan dan kekayaan alam yang ada di dalamnya serta mendorong lahirnya PKSM-PKSM baru. Jayalah penyuluhan kehutanan Indonesia !!! *) Penyuluh Kehutanan pada Pusat Penyuluhan Kehutanan.
Dokumen terkait
Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan pengalaman langsung dari lahan praktek melalui studi kasus, serta membandingkan antara teori dengan praktek berdasarkan
Dalam pembentukan PDRB Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2014, nilai PDRB Kabupaten Gunungkidul masih menempati urutan keempat yaitu sebesar 13,60 persen, sedikit
Direktorat Jenderal P2HP selaku focal point pertanian organik di Kementerian Pertanian dan selaku ketua OKPO (Otoritas Kompeten Pertanian Organik) telah meluncurkan
Korelasi antara suhu udara ambien dan konsentrasi CO2 di Taman Alun – Alun Merdeka pada pukul 13.00 memiliki nilai r sebesar 0.52 (Tabel 6, Gambar 4) yang berarti
Penelitian ini membuktikan dengan diberlakukannya IFRS, terdapat perbedaan tingkat pengungkapan antara perusahaan asing dan domestik.Selain itu, penelitian ini juga membuktikan
(1) Subbidang Tenaga Teknis Kegrafikaan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan program, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi, dan penyusunan laporan
Perbedaan perlakuan pada biochar plus tidak memberikan perbedaan yang besar terhadap N-total tanah yang terlindi pada masing-masing jenis tanah, kecuali pada