• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. 1. Gambaran Umum Pegadaian Syariah Kebun Bunga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. 1. Gambaran Umum Pegadaian Syariah Kebun Bunga"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

45

1. Gambaran Umum Pegadaian Syariah Kebun Bunga a. Sejarah Pegadaian

Perkembangan pegadaian dimulai dari Eropa, yaitu negara-negara Italia, Inggris dan Belanda. Pengenalan usaha Pegadaian di Indonesia diawali pada masa awal masuk kolonial Belanda, yaitu sekitar abad ke-19, oleh sebuah bank yang bernama bank van leening, bank tersebut memberikan jasa pinjaman dana dengan syarat penyerahan barang bergerak, sehingga bank ini pada hakikatnya telah memberikan jasa pegadaian. pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda berusaha mengambil alih usaha pegadaian dan memonopolinya dengan cara mengeluarkan staatsblad no. 131 tahun 1901. peraturan tersebut diikuti dengan pendirian rumah gadai resmi milik pemerintah dan statusnya diubah menjadi dinas pegadaian sejak berlakunya staatsblad no. 266 tahun 1960.pada masa selanjutnya, pegadaian milik pemerintah tetap diberikan fasilitas monopoli atas kegiatan pegadaian indonesia. dinas pegadaian mengalami beberapa kali perubahan bentuk badan hukum hingga akhirnya pada tahun 1990 menjadi perusahan umum (perum). pada tahun 1960 dinas pegadaian berubah menjadi perusahaan negara (PN) Pegadaian, pada tahun 1969 perusahaan negara pegadaian diubah menjadi perusahan jawatan (perjan) Pegadaian, dan pada tahun 1990 perusahaan jawatan pegadaian diubah menjadi perusahaan umum (perum) Pegadaian melalui

(2)

peraturan pemerintah No 10 tahun 1990 tanggal 10 april 1990. kantor pusat perum peagadaian berkedudukan diJakarta dan dibantu oleh kantor daerah, kantor perwakilan daerah dan kantor cabang. Saat ini pegadain diubah lagi menjadi badan usaha milik negara (BUMN) pada tahun

Sejarah Pegadaian Syariah di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kemauan masyarakat islam untuk melaksanakan transaksi akad gadai berdasarkan prinsif syariah dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan praktik ekonomi dan lembaga keuangan yang sesuai dengan nilai dan prinsip hukum islam. hal ini dilatar belakangi oleh maraknya aspirasi masyarakat islam di berbagai daerah yang menginginkan pelaksanaan hukum islam dalam berbagai aspek termasuk pegadaian syariah.

b. Visi dan Misi Pegadaian Visi

Sebagai solusi bisnis terpadu terutama berbasis gadai yang selalu menjadi market leader dan mikro berbasis fidusia selalu menjadi yang terbaik untuk masyarakat menengah kebawah.1

Misi

1) Memberikan pembiayaan yang tercepat, termudah, aman dan selalu memberikan pembinaan terhadap usaha golongan menengah kebawah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

(3)

2) Memastikan pemerataan pelayanan dan infrastruktur yang memberikan kemudahan dan kenyamanan di seluruh Pegadaian dalam mempersiapkan diri menjadi pemain regional dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

3) Membantu Pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah dan melaksanakan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya perusahaan.2

c. Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan pegadaian syariah yaitu INTAN yang terdiri dari:3

1) Inovatif: berinisiatif, kreatif, produktif, adaptif dan berorientasi pada solusi bisnis

2) Nilai moral tinggi: taat beribadah, jujur dan berpiir positif. 3) Terampil: kompoten dibidang tugasnya,

4) Adi layanan: peka dan cepat tanggap, empatik, santun dan ramah. 5) Nuansa Citra: bangga sebagai insan pegadaian, bertanggung

jawab atasa asset dan reputasi perusahaan.

2Www.Pegadaian.Co.Id, Di Akses Pada 24 Juni 2018 3Siti Hamidah, Wawancara Pribadi, 7 April 2018

(4)

d. Job Description

1) Tugas pimpinan cabang

a) Memastikan kantor cabang telah memiliki rencana kerja dan anggaran kantor cabang syariah dan upc berdasarkan acuan yang ditetapkan,

b) memastikan target bisnis dapat tercapai dengan baik.

c) Memastikan bahwa lelang telah dilaksanakan sesuai dengan syariah,

d) Menyelesaikan dan memberikan laporan kepada deputi pinwil bidang bisnis tentang status marhun.

e) Merencanakan, mengorganisasikan, menyelengarakan dan mengendalikan kegiatan bisnis.

f) Merencanakan, mengorganisasikan, menyelenggarakan dan mengendalikan operasional dan pengelolaan modal kerja. 2) Tugas penaksir

a) Melaksanakan tugas penaksiran marhun secara cepat, tepat dan akurat dan menentukan harga dasar marhun yang akan dilelang sesuai mutu dan nilai.

3) Merencanakan dan menyiapkan marhun yang akan disimpan agar terjamin keamanannya.

(5)

4) Kasir

a) melaksanakan rincian pelunasan uang pinjaman dari nasabah sesuai dengan ketentuan yang berklaku.

b) menerima uang hasil barang lelang jaminan dari panitia lelag agar nanti kalau ada sisa uangnnya dikembalikan ke nasabah. 5) Pengelola Gudang

a) Secara berkala melakukan pemeriksaan keadaan gudang penyimpanan marhun.

b) Merawat dan menjaga gudang agar marhun dalam keadaan baik. Melakukan pengulumpukan marhun sesuai golongan barang. e. Produk Pegadaian

1) pembiayaan a) Gadai syariah

Gadai syariah merupakan produk gadai yang berprinsip syariah, dimana nasabah hanya akan dibebani biaya administrasi dan biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan.

b) Amanah

Pembiayaan amanah dari pegadaian syariah adalah pembiayaan berprinsip syariah kepada pegawai negeri sipil dan karyawan swasta untuk memiliki motor atau mobil dengan cara angsuran.

(6)

c) Arrum

Arrum merupakan pembiayaan bagi pengusaha mikro kecil dengan prinsip syariah dengan jaminan BPKB mobil maupun motor.

2) Produk Emas a) Mulia

Mulia adalah layanan penjualan emas batangan kepada masyarakat secara tunai atau ansuran dengan proses yang mudah dan waktu yang fleksibel.

b) Tabungan Emas

Tabungan emas adalah layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan dengan harga yang terjangkau.Layanan ini untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berinvestasi emas. 3) Aneka Jasa

a) Multi Pembayaran Online (MPO)

Multi Pembayaran Online (MPO) melayani pembayaran berbagai tagihan seperti listrik, telepon/ pulsa ponsel, air minum, pembelian tiket kereta api, dan lain sebagainya secara online.

b) Sertifikasi Batu Mulia

Layanan pemeriksaan batu mulia meliputi identifikasi spesies atau varitas, treatment, serta inclusion mapping sebagai identitas bagi batu permata agar tidak tertukar dengan batu lain yang sejenis. Pemeriksaan dinyatakan dalam memo dan sertifikat.

(7)

4) Jasa Taksiran

Jasa taksiran merupakan layanan kepada masyarakat yang ingin mengetahui karatase dan kualitas harta perhiasan emas, berlian dan batu permata, baik untuk keperluan investasi ataupun keperluan bisnis. 5) Jasa Titipan

Merupakan layanan kepada masyarakat yang ingin menitipkan barang berharga seperti perhiasan emas, berlian, surat berharga maupun kendaraan bermotor.

2. Hasil Penelitian

a. Gambaran umum Arrum BPKB 1) Pengertian Arrum BPKB

Arrum BPKB ialah produk Arrum BPKB adalah pembiayaan yang berprinsif syariah untuk pengembangan usaha mikro kecil dan menengah dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor.4

2) Syarat-syarat Arrum BPKB

a) Calon Rāhin atau nasabah merupakan pengusaha mikro yang memiliki usaha yang produktif dan mempunyai barang berupa kendaraan bermotor sebagai objek jaminan pinjaman.

(8)

b) Calon rāhin tidak menjadi nasabah kredit Kreasi dicabang pengadian konvensional dan tidak menjadi rāhin Arrum dicabang pegadaian Syariah lainnya.

c) Calon rāhin bukan dari petugas pengelolah Arrum itu sendiri. d) Identitas calon rāhin yang jelas.5

3) Keunggulan Arrum BPKB

a) Proses transaksi berprinsip syariah yang adil dan menentramkan sesuai fatwa DSN-MUI.

b) Proses pembiayaan dilayanani lebih dari 600 cabang Pegadaian Syariah.

c) Pembiayaan berjangka waktu fleksibel mulai dari 12,18 dan 36 bulan.

d) Pegadaian memberikan tarif menarik dan kompetif. e) Prosuder pelayanan sederhana, cepat dan mudah.

f) Pegadaian hanya menyimpan bpkb, kendaraan dapat digunakan nasabah.

4) Jangka waktu dan angsuran perbulan

Jangka waktu pembiayaan yang ditetapkan oleh perusahaan minimal 12 bulan dan maksimal 36 bulan dengan pengembalian pembiayaan dilakukan dengan cara angsuran tiap bulannya.

(9)

5) Akad yang digunakan dalam Arrum BPKB adalah rahn dan ijarah. b. Faktor-faktor penyebab pembiayaan bermasalah

1) faktor-faktor internal (pihak pegadaian) yang bisa menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah antara lain:

a) kurang teliti dalam memberikan pembiayaan, kurang telitinya pihak pegadaian terhadap nasabah yang akan diberikan pembiayaan bisa mengakibatkan terjadinya pembiayaan bermasalah.

b) tidak meneliti berkas secara maksimal, kadang kala pihak pegadaian tidak terlalu teliti tentang berkas yang diajukan nasabah apakah berkas tersebut sesuai dengan fakta dilapangan atau dibuat-buat oleh nasabah agar mendapatkan pembiayaan. c) terlalu mudah memberikan pembiayaan, pada saat akan

memberikan pembiayaan pihak pegadaian telalu mudah memberikan apakah karena faktor nasabah itu sudah kenal atau sudah sering menggadai sehingga mereka beranggapan bahwa nasabah tidak mungkin akan mengalami keterlambatan pembayaran.

d) kurang komunikasi dengan nasabah pihak pegadaian kurang berkomunikasi dengan nasabah sehingga mereka tidak tahu tentang usaha nasabah itu mengalami peningkatan atau malah menurun.

(10)

2) Faktor-faktor eksternal (nasabah) yang bisa menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah antara lain:

a) karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan kegiatannya).

b) kegagalan nasabah, kadang membuka usaha itu tidak selalu sukses bisa saja mengalami kegagalan entah itu karena banyak saingan atau memang nasabah tersebut tidak bisa mengelola usahanya.

c) kemampuan yang nasabah yang kurang memadai sehingga pada saat banyaknya saingan dipasaran mereka tidak sanggup untuk bersaing.

d) tidak mampu menanggulangi masalah/kurang menguasai bisnis kadang dalam membuka usaha seseorang harus bisa bagaimana memanajemenkan risiko yang akan terjadi, kalau tidak mampu memanajmen risiko itu maka usaha tersebut akan sulit untuk bertahan.

e) banyak berhutang ditempat lain, karena banyaknya hutang sehingga sulit untuk mempertahankan usaha itu karena lebih banyak pengeluaran untuk membayar hutang dibandingkan dengan pendapatan.

f) kondisi usaha yang lagi turun, terjadinya penurunan usaha juga merupakan faktor nasabah mengalami keterlambatan

(11)

pembayaran karena sedikit nya pendapatan sehingga pada saat anggsuran mereka tidak memiliki cukup dana untuk membayar c. Strategi penyelesaian pembiayaan bermasalah

1) Upaya remedial

Melalui upaya ini pihak pegadaian akan mendatangi atau menelpon nasabah yang bermasalah secara langsung, menanyakan sebab keterlambatan pembayaran dan memberikan peringatan kepada nasabah yang mengalami keterlambatan (macet). Pihak remedial akan membujuk dan memberikan solusi agar nasabah mau melanjutkan cicilannnya, jika nasabah mau melanjutkan cicilannya maka pihak Pegadaian akan memberikan waktu agar nasabah tersebut bisa membayar angsuran pembiayaannya.

2) Upaya persuasif

Setiap ada pembiayaan bermasalah, maka akan dicari sumber permasalahannya. Apabila telah ditemukan maka pihak pegadaian akan melakukan penyelesaian melalui tawaran konversi ke skim

rahn dengan marhun yang sama dan pembiayaan Arrum dilunasi

dengan mekanisme pelunasan sekaligus. 3) Upaya somasi.

Sebelum dilaksanakannya eksekusi terhadap rāhin yang sudah menunggak angsuran 3 bulan berturut-turut atau menunggak sampai jatuh tempo, maka asisten produk Arrum melalui pemimpin cabang

(12)

harus memberikan surat peringatan terlebih dahulu terhadap rāhin sebanyak 3 kali. Setelah surat peringatan tidak ditanggapi pula dengan baik oleh pegadai atau tidak ada I’tikad baik untung melunasi hutangnya maka selanjutnya, pihak Pegadaian akan menarik marhun (barang jaminan) dari rāhin .

3. Deskriptif Data

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan penulis secara wawancara langsung kepada informan

a. Deskripsi Data I

nama : Siti Hamidah jenis kelamin : perempuan jabatan : pengelola galeri

umur : 22

Menurut hasil wawancara dengan ibu Siti Hamidah ada beberapa faktor penyebab pembiayaan bermasalah:

1. faktor internal (pihak pegadaian)

a) Kurang teliti dalam memberikan pembiayaan b) Tidak meneliti berkas secara maksimal c) Terlalu mudah memberikan pmbiayaan d) Kurang komunikasi dengan nasabah

(13)

b. Deskripsi data II

Nama : Nurul Minawati Jenis kelamin : perempuan Jabatan : pimpinan cabang

1. Pengawasan dan Pengamatan (monitoring)

Pengendalian terhadap kelancaran penyelesaian pembiayaan Arrum BPKB oleh tim mikro, deputy pemimpin wilayah bidang bisnis, dan pimpinan cabang dengan melakukan pemeriksaan berkala meliputi:

a. Pra akad (sebelum akad)

Asisten manajer produk mikro dan deputi calon pemimpin wilayah dibidang bisnis:

1) Melakukan pengechekkan berkas yang diterima (berkas digital atau berkas copy) dengan data pada system aplikasisesuai kewenangan. 2) Melakukang review hasil scoring dengan berkas yang diterima

sesuai kewenangan.

3) Melakukan survei ke perusahaan atau rumah calon rāhin jika terdapat hal yang dianggap perlu untuk mengambil keputusan pinjaman.

b. Proses akad Pemimpin cabang

1) Melakukan versifikasi ulang atas semua kelengkapan berkas pencairan berikut dari pinjaman

(14)

2) Mencocokkan copy berkas yang ada dengan identitas asli rāhin saat penanda tangan akad.

c. Pos akad (setelah akad) Pemimpin cabang

1) melakukan sampling kunjungan ke rāhin pada saat pra akad belum dilakukan survei.

2) melakukan hitungan potongan agunan minimal sekali tiap bulannya. 2. Penagihan (collection)

1. Fase I

Petugas administrasi mikro fase I DPK(1 s/d 30 hari) dari tanggal jatuh tempo angsuran.

s/d 3 hari terhitung DPK, melakukan soft collection (short message 1 service dan telpon). Untuk mengetahui perkembangan kondisi usaha dan pembuatan komitmen pembayaran. Mulai hari ke-7 s/d hari ke 30, melakukan kunjungan ke rāhin untuk melihat kondisi usaha dan penyebab terjadinya keterlambatan pembayaran angsuran.

2. Fase II

a) Hari ke 31 s/d hari ke37, petugas administrasi mikro melakukan soft collection (short message service dan telpon) dan versifikasi terkait rāhin yang perlu mendapatkan perhatian dan pendamping penahan dan analisis pembayaran.

(15)

b) Mulai hari ke 38 s/d ke 60, petugas adinistrasi mikro melakukan penagihan keadaan rāhin yang masih mempunyai iktikad baik dalam melakukan pembayaran angsuran.

c) Mulai hari ke 38 s/d ke 60, petugas administrasi mikro melakukan penagihan kepada rāhin yang dinilai kurang beriktikad baik atau sedang bermasalah dalam usahanya.

3) Fase III

a) Hari ke 61 s/d hari ke 65, petugas administrasi mikro melakukan soft collection (sms dan telpon) dan analisis pembiayaan melakukan versifikasi terhadap sisa rāhin yamg masih dalam kategori menunggak.

b) Hari ke 66 s/d hari k eke 67, analisis pembiayaan memberikan laporan kepada petuga produk mikro terhadap daftar rāhin yang menunggak. Petugas produk mikro memutuskan dan membuat daftar penagihan sesuai tingkat masalah.

c) Mulai hari ke 68 s/d hari ke 90, petugas administrasi mikro bersama petugas produk mikro melakukan kunjungan ke

rāhin .

c. Deskripsi data III

Nama : M. Aidin Rahman Jenis kelamin : laki-laki

(16)

Usia : 26

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak M. Aidin Rahman ada beberapa tahapan peringatan yang dilakukan pegadaian kepada nasabah diantara seperti lewat pesan, telpon dan surat. Ada beberapa upaya strategi penyelesaian Arrum BPKB yang bermasalah:

1. Upaya Remidial

Melalui upaya ini pihak pegadaian akan mendatangi atau menelpon nasabah yang bermasalah secara langsung, menanyakan sebab keterlambatan pembayaran dan memberikan peringatan kepada nasabah yang mengalami keterlambatan (macet). Pihak remedial akan membujuk dan memberikan solusi agar nasabah mau melanjutkan cicilannnya, jika nasabah mau melanjutkan cicilannya maka pihak Pegadaian akan memberikan waktu agar nasabah tersebut bisa membayar angsuran pembiayaannya.

2. Upaya persuasif

Setiap ada pembiayaan bermasalah, maka akan dicari sumber permasalahannya. Apabila telah ditemukan maka pihak pegadaian akan melakukan penyelesaian melalui tawaran konversi ke skim

rahn dengan marhun yang sama dan pembiayaan Arrum dilunasi

(17)

Selama peneliti melakukan penelitian dilapangan, peneliti menemukan kasus pembiayaan bermasalah yang ditangani oleh pihak pegadaian yang dipaparkan dibawah ini:

1. Data I

Nama : Ajizah

Jenis Kelamin : Perempuan Sebagai : Nasabah

Usia : 47

Pekerjaan : pengusaha

Faktor-faktor penyebab pembiayaan bermasalah yang terdapat dari nasabah:

a. Karakter nasabah tidak amanah ( tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan tentang kegiatannya).

b. Kemampuan pengelolan nasabah kurang memadai sehingga kalah dalam persaingan usaha,

c. Kegagalan usaha nasabah,

d. Tidak mampu menanggulang masalah/ kurang menguasai bisnis, e. Banyak berhutang ditempat lain,

(18)

2. Data II

Nama : Gusti Oppie

Jenis Kelamin : Perempuan Sebagai : Nasabah

Usia : 35

Pekerjaan : pengusaha

Berdasarkan kasus keterlambatan pada saat jatuh tempo bisa terjadi karena lupa bahwa saat itu nasabah harus membayar angsuran pembiayaan, bisa juga terjadi karena nasabah tidak punya cukup uang untuk melakukan pembayaran, bisa juga karena faktor kesengajaan dari nasabah.

Hal pertama yang dilakukan remedial adalah mengelola keterlambatan nasabah dalam melakukan pembayaran tersebut dengan cara mendatangi langsung nasabah yang bersangkutan atau lewat telpon dengan menanyakan kabar nasabah apakah baik-baik saja, dan selanjutnya mengingatkan bahwa nasabah sudah waktunya membayar angsuran pembiayaan. Jika nasabah memang lupa biasanya tidak lama nasabah akan datang untuk membayar angsuran pembiayaan tersebut.

Apabila sudah diberitahukan dan nasabah tidak juga melakukan pembayaran maka akan diberikan surat peringatan yakni SP 1, SP 2, dan SP 3 bahwasanya nasabah yang bersangkutan sudah melakukan penunggakan dan mendapatkan denda pada bulan pertama. Selanjutnya sampai jalan tiga bulan nasabah tidak juga melakukan pembayaran dan merasa tidak sanggup untuk

(19)

membayar maka barang jaminan akan ditarik oleh pihak pegadaian dan jika nasabah masih mampu melakukan pembayaran maka pembiayaan masih berlanjut.

3. Data III

Nama : Istianfi Jenis Kelamin : Perempuan Sebagai : Nasabah

Usia : 40

Pekerjaan : pengusaha

Berdasarkan uraian kasus pembiayaan bermasalah yang mengalami keterlambatan yang memasuki 60 hari dikelola oleh bank karena nasabah memang masih komitmen untuk melakukan pembayaran.Hal yang pertama dilakukan oleh pegadaian adalah membujuk nasabah agar kooperatif dengan selalu berhubungan dengan nasabah secara insentif dan berusaha mencari jalan atau solusi buat nasabah agar nasabah bisa melanjutkan cicilan, pihak bank akan berusaha berbicara dengan nasabah dan menanyakan masalah apa yang sedang dialami oleh nasabah agar masalah nasabah bisa terselesaiakan sehingga bisa melanjutkan pembayaran pembiayaannya.

(20)

B. ANALISIS DATA

1. Analisis terhadap faktor-faktor penyebab pembiayaan bermasalah. Faktor internal (pihak pegadaian) yang bisa menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah antara lain:

a. kurang teliti dalam memberikan pembiayaan kurang telitinya pihak pegadaian terhadap nasabah yang akan diberikan pembiayaan bisa mengakibatkan terjadinya pembiayaan bermasalah.

b. Tidak meneliti berkas secara maksimal, kadang kala pihak pegadaian tidak terlalu teliti tentang berkas yang diajukan nasabah apakah berkas tersebut sesuai dengan fakta dilapangan atau dibuat-buat oleh nasabah agar mendapatkan pembiayaan.

c. Terlalu mudah memberikan pembiayaan, pada saat akan memberikan pembiayaan pihak pegadaian telalu mudah memberikan apakah karena faktor nasabah itu sudah kenal atau sudah sering menggadai sehingga mereka beranggapan bahwa nasabah tidak mungkin akan mengalami keterlambatan pembayaran.

d. kurang komunikasi dengan nasabah, pihak pegadaian kurang berkomunikasi dengan nasabah sehingga mereka tidak tahu tentang usaha nasabah itu mengalami peningkatan atau malah menurun.

Faktor eksternal (nasabah) yang bisa menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah antara lain:

(21)

a. karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan kegiatannya). nasabah seperti ini biasanya pada awal saat akan melakukan pembiayaan sudah tidak jujur dengan data yang mereka berikan agar mendapatkan pembiayaan bisa saja mereka memalsukan data tentang usahanya.

b. kegagalan nasabah, kadang membuka usaha itu tidak selalu sukses bisa saja mengalami kegagalan entah itu karena banyak saingan atau memang nasabah tersebut tidak bisa mengelola usahanya.

c. kemampuan yang nasabah yang kurang memadai sehingga pada saat banyaknya saingan dipasaran mereka tidak sanggup untuk bersaing. d. tidak mampu menanggulangi masalah/kurang menguasai bisnis kadang

dalam membuka usaha seseorang harus bisa bagaimana memanajemenkan risiko yang akan terjadi, kalau tidak mampu memanajmen risiko itu maka usaha tersebut akan sulit untuk bertahan. e. banyak berhutang ditempat lain, karena banyaknya hutang sehingga

sulit untuk mempertahankan usaha itu karena lebih banyak pengeluaran untuk membayar hutang dibandingkan dengan pendapatan.

f. kondisi usaha yang lagi turun, terjadinya penurunan usaha juga merupakan faktor nasabah mengalami keterlambatan pembayaran karena sedikit nya pendapatan sehingga pada saat anggsuran mereka tidak memiliki cukup dana untuk membayar.

(22)

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dilapangan menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan nasabah pembiayaan melakukan wanprestasi tidak hanya dilakukan oleh pihak nasabah saja tetapi juga ada dari pihak internal pegadaian itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karena bisa terjadi karena manusia bukanlah makhluk yang selalu benar, pasti ada masa dimana ia melakukan kesalahan. Faktor-faktor tersebut tidak bisa dianggap remeh atau dihilangkan begitu saja. Untuk mengantisipasinya semua pihak harus bekerja sama agar kelalain tersebut tidak terus terulang.

2. Analisis penyelesaian pembiyaan bermasalah produk Arrum BPKB pada Pegadian Syariah Kebun Bunga Banjarmasin

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis dan telah disusun dalam bentuk penyajian data, maka analisis data menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Sesuai apa yang ditemukan peneliti dilapangan, produk pembiayaan Arrum BPKB yang diberikan oleh pegadaian rentan mengalami pembiayaan bermasalah (macet), baik itu masalah yang timbul dari pihak lembaga keuangan tersebut maupun masalah yang disebabkan oleh nasabah.

Sebelum menyalurkan pembiayaan, pihak manajemen pegadaian sangat berhati-hati dalam memilih nasabah untuk menyalurkan dana. Dalam penyaluran pembiayaan langkah yang harus ditempuh oleh manajemen pembiayaan pertama, harus berhati-hati dalam menganalisis karakter nasabah yang akan dibiayai seperti moral dari nasabah tersebut apakah layak menerima pembiayaan. Kedua, yakni mengetahui tingkat kemampuan nasabah dalam berbisnis apakah nasabah tersebut

(23)

benar-benar mampu dalam menjalankan usahanya sehingga nantinya mampu melunasi pembiayaan yang diberikan. Ketiga mengetahui tingkat permodalan nasabah.Keempat, mengetahui kondisi ekonomi yang berpengaruh pada usaha nasabah.Dan kelima, mengetahui nilai jaminan yang diagunkan nasabah.Acara mengenalisis tersebut yakni menggunakan analisis 5C (Character, Capacity,

Capital, Condition, dan Collateral) untuk meminimalisir tingkat terjadinya

pembiayaan bermasalah yang mengakibatkan kerugian bagi pegadaian.

Walaupun demikian, ternyata masih saja ada terjadi pembiayaan bermasalah hal itu terlihat sebanyak 5 orang dari total nasabah 43 orang nasabah Arrum BPKB yang mengalami pembiayaan bermasalah. Penyebab pembiayaan bermasalah tersebut disebab oleh dua faktor yakni faktor internal dari perusahaan sendiri dan faktor eksternal dari nasabah.

Sesuai yang diungkapkan oleh pimpinan pegadaian yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah adalah pertama, keterlambatan nasabah dalam membayar angsuran pembiayaan hal ini tentu merugikan pegadaian.Kedua, usaha nasabah yang dibiayai mengalami kegagalan (bangkrut).Ketiga, bencana alam seperti kebakaran yang menimpa usahanya. Hal-hal yang tidak hanya merugikan nasabah, tetapi juga akan merugikan pegadaian. Pemaparan diatas tidak jauh dengan yang terjadi dilapangan, terlihat ada beberpa faktor yang menyebabkan pembiayaan bermasalah. Langkah yang dapat dilakukan dalam meminimalisir pembiayaan bermasalah pada pegadaian syariah kebun bunga dapat melakukan

(24)

beberapa upaya seperti pengendalian internal, dan jika pembiayaan sudah pada status bermasalah atau macet.

Berikut upaya pengendalian internal serta penyelesaian pembiayaan bermasalah, yaitu:

a. Pengawasan dan Pengamatan (monitoring)

Pengendalian terhadap kelancaran penyelesaian pembiayaan Arrum BPKB oleh tim mikro, deputy pemimpin wilayah bidang bisnis, dan pimpinan cabang dengan melakukan pemeriksaan berkala meliputi:

1) Pra akad (sebelum akad)

Asisten manajer produk mikro dan deputi calon pemimpin wilayah dibidang bisnis akan melakukan pengechekkan berkas yang diterima (berkas digital atau berkas copy) dengan data pada sistem aplikasi sesuai kewenangan, review hasil scoring dengan berkas yang diterima sesuai kewenangan dan melakukan survei ke perusahaan atau rumah calon rāhin jika terdapat hal yang dianggap perlu untuk mengambil keputusan pinjaman. Apabila telah sesuai maka pembiayaan tersebut bisa diproses. Tetapi jika data nasabah tersebut tidak sesuai maka pihak pegadaian berhak untuk menolak pengajuan tersebut.

2) Proses akad

Saat melakukan proses akan maka Pemimpin cabang akan melakukan versifikasi ulang atas semua kelengkapan berkas pencairan berikut dari

(25)

pinjaman dan akan mencocokkan copy berkas yang ada dengan identitas asli rāhin saat penanda tangan akad.

3) Pos akad (setelah akad)

Setelah tercapai pembiayaan tersebut maka Pemimpin cabang pegadaian akana melakukan hitungan potongan berkas dan agunan minimal sekali tiap bulan, melakukan sampling pemeriksaan isi berkas dan agunan minimal 5 berkas tiap bulan dari jumlah yang aktif. Dan tugas Deputi pemimpin wilayah bidang bisnis adalah melakukan hitungan potongan berkas dan agunan minimal sekali dalam dua bulan dan selanjutnya melakukan kunjungan kepada rāhin yang pada saat pra akad belum tersampling.

Ketika pengendalian internal sudah terlaksana tetapi dari rāhin tidak beritikad baik, dalam melunasi kewajiban yang telah disepakati bersama ketika berakad. Maka petugas Arrum melakukan penyelesaian pada pembiayaan arum yang bermasalah.

Data yang dianalisis dalam penelitian ini yakni sebagai berikut: a. Keterlambatan pembayaran pada saat jatuh tempo.

Berdasarkan uraian data 1, penulis mengemukakan bahwa keterlambatan pembayaran pada saat jatuh tempo bisa terjadi karena lupa bahwa saat itu nasabah harus membayar angsuran pembiayaan, bisa juga terjadi karena nasabah tidak memiliki uang yang cukup untuk melakukan pembayaran, bisa juga dikarenakan ada unsur kesengajaan dari pihak nasabah.

(26)

b. Pembiayaan yang keterlambatan pembayarannya 60 hari dan seterusnya. Pembiayaan bermasalah yang mengalami keterlambatan pembayaran dari 60 hari sampai seterusnya. Berdasarkan uraian data II, penulis mengemukakan bahwa Pembiayaan bermasalah yang mengalami keterlambatan pembayaran yang sudah memasuki 60 (enam puluh) hari tidak dilakukan penarikan karena nasabah memang masih komitmen untuk melakukan pembayaran. Hal yang pertama dilakukan oleh pegadaianl adalah membujuk nasabah agar kooperatif dengan selalu berhubungan dengan nasabah secara intensif dan berusaha mencarikan jalan atau solusi buat nasabah agar nasabah bisa terus melanjutkan cicilannya, pihak pegadaian akan berusaha berbicara dengan nasabah dan menayakan masalah apa yang sedang dialami oleh nasabah agar masalah nasabah bisa terselesaikan. Hal ini sangat bagus dilakukan karena remedial terus melakukan pendekatan terhadap pembiayaan bermasalah dan pada prinsipnya pendekatan terhadap pembiayaan bermasalah harus dilakukan untuk menangani pembiayaan bermasalah yang masih memiliki prospek untuk membayar. Permasalah nasabah bermacam-macam, seperti penghasilan atau pendapatan nasabah menurun, keluarga nasabah lagi mengalami musibah seperti anak atau istri nasabah lagi dirawat dirumah sakit sehingga membutuhkan biaya yang banyak, usaha yang dijalankan nasabah tiba-tiba mangalami kebangkrutan, dan lain sebagainya yang membuat nasabah tidak bisa melakukan kewajibanya.

(27)

Penyelamatan pembiayaan yang ditawarkan oleh pegadaian ialah: 1. Upaya Remedial

Hal yang pertama dilakukan remedial adalah dengan menelpon nasabah yang bersangkutan dengan menanyakan kabar nasabah apakah baik-baik saja kabarnya dan selanjutnya mengingatkan nasabah bahwa nasabah sudah waktunya melakukan angsuran pembiayaan. Hal ini dilakukan sebagai upaya remedial melakukan pendekatan pembayaran terhadap nasabahnya, jika nasabah memang lupa biasanya tidak lama nasabah akan datang. Melakukan pembayaran karena sudah diingatkan, hal seperti ini terus dilakukan remedial agar nasabah ingat akan kewajibanya. Jika nasabah tidak memiliki uang yang cukup maka remedial akan membujuk nasabah agar kooperatif dengan selalu berhubungan dengan nasabah secara intensif dan berusaha mencarikan jalan atau solusi buat nasabah agar nasabah bisa terus melanjutkan cicilannya, pihak remedial akan berusaha berbicara dengan nasabah dan menayakan masalah apa yang sedang dialami oleh nasabah agar masalah nasabah bisa terselesaikan. Dalam hal ini kebijakan remedial sudah cukup bagus dalam mengelola nasabahnya, karena remedial dan nasabah mau berinisiatif dan aktif melakukan negosiasi agar permasalahan dapat diselesaikan.

Berikut landasan syariah yang mengandung upaya penyelamatan pembiayaan bermasalah. Dalam al-qur’an surah al- baqarah ayat 280

..

َنوُمَلْعَ ت ْمُتْنُك ْنِإ ْمُكَل ٌرْ يَخ اوُقَّدَصَت ْنَأَو ٍةَرَسْيَم َلَِإ ٌةَرِظَنَ ف ٍةَرْسُع وُذ َناَك ْنِإَو

(

٠٨٢

)

(28)

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.6

2. Upaya Persuasif

Setiap ada pembiayaan bermasalah, maka akan dicari sumber permasalahannya contohnya: usaha nasabah yang sedang menurun pendapatannya, sengaja tidak mau membayar, tidak mampu membayar, rāhin meninggal dunia, barang jaminan hilang atau rusak. Bila terjadi masalah marhun hilang atau rusak tersebut maka rāhin diminta dengan mengganti dengan marhun baru, dan apabila kasusnya si rāhin meninggal dunia maka gugur kewajiban tersebut kepada ahli waris atau keluarga si rāhin. Dalam Upaya persuasif yang dilakukan sebelum melakukan penarikan marhun dari si rāhin adalah sebagai berikut: tawaran konversi ke skim rahn dengan marhun yang sama dan pembiayaan Arrum dilunasi dengan mekanisme pelunasan sekaligus, bila marhun masih dibutuhkan oleh rāhin untuk alat bekerja, rāhin dianjurkan oleh pihak pegadaian dengan marhun lain untuk mengangsur atau melunasi pembiyaan Arrum, apabila persoalan rāhin hanya berifat sementara, maka nilai gadainya hanya sebesara kewajiban rāhin yang menunggak, tetapi jika bersifat permanen, maka nilai gadainya minimal sebesar seluruh kewajiban rāhin dengan perhitungan perlunasan sekaligus, bila dengan konversi ke skim rahn tidak mungkin dan marhun Arrum juga masih dibutuhkan oleh rāhin , maka rāhin diminta menjual assetnya yang lain, dan jika upaya

6 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Tafsirnya Jilid 10 Juz 1-2-3, (Jakarta, Lentera

(29)

konversi ke skim rahn dan penjualan asset lain juga tidak bisa, maka petugas akan menawarkan menjual marhun Arrum bersama-sama.

Dari kasus diatas dapat kita ambil kesinpulan bahwa penyelesaian pembiayaan bermasalah tidak selalu harus dilakukan penarikan barang jaminan tetapi juga bisa diselesaikan dengan cara membujuk nasabah agar mau melunasi angsurannya. Penyelesaiannya pun tidak perlu harus selalu melalui jalur hukum atau pengadilan tetapi juga dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan, dimana biaya jauh lebih murah, dengan cara penyelesaian yang mudah dan relatif cepat.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis yang diajarkan dengan model

Dengan workflow yang fleksibel, tampilan grafis (GUI) di komputer klien yang sangat dinamis dan sistem pelaporan (report) yang terintegrasi dengan Open-Office

Analisis data seismik refleksi menggunakan transformasi Wavelet Morlet dapat dilakukan karena data seismik refleksi tersebut masih dapat dianggap sebagai sinyal yang linier

REALISASI PEMASARAN HASIL HUTAN OLAHAN PRODUKSI INDUSTRI SEKUNDER ATAU INDUSTRI LANUTAN MILIK SENDIRI YANG TERPADU DENGAN IPHHK ..1. KAYU LIMBAH DARI PEMANFAATAN ATAU

ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara; huruf c barang siapa yang menemukan lisensi ini diminta untuk mengembalikannya dengan segera kepada Direktur Keamanan Penerbangan,

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa jawaban responden terhadap variabel loyalitas nasabah ketika menabung di bank syariah karena kemampuan karyawan bank

Pengaruh pemberian ekstrak kulit apel ( Malus sylvestris mill ) terhadap kadar GLUT4 dan gambaran histopatologi ginjal pada tikus putih ( Rattus novergicus ) model Diabetes Mellitus

Secara umum Turban (2012) menjelaskan bahwa transaksi e-commerce sekarang ini yaitu B2B 90% digunakan untuk bisnis yang bergerak dalam organisasi atau perusahaan, B2C digunakan