• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan kekayaan dan modal dasar bagi kelangsungan hidup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan kekayaan dan modal dasar bagi kelangsungan hidup"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Tanah merupakan kekayaan dan modal dasar bagi kelangsungan hidup individu, kelompok maupun Negara. Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup dari masing-masing individu maupun kelompok, tanah berfungsi sebagai tempat tinggal dan sebagai tempat untuk mencari penghidupan. Setiap individu memiliki hubungan emosional dan spiritual dengan tanah, tidak hanya semata-mata dipandang sebagai komoditas yang bernilai ekonomis belaka akan tetapi hubungan tanah dengan pemiliknya mengandung nilai-nilai budaya, adat, dan spiritual tertentu. Demikian juga bagi negara, tanah juga merupakan modal dasar dalam pembangunan suatu bangsa dan manfaatnya harus dapat diusahakan dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Bagi orang Bali yang mayoritas memeluk Agama Hindu, tanah merupakan salah satu sarana yang berupa tempat untuk dilaksanakannya upacara keagamaan dan pengikat bagi krama desa untuk tetap melaksanakan kewajibannya terkait dengan keberadaan kahyangan desa atau Kahyangan Tiga.

Di negara yang rakyatnya berhasrat melaksanakan demokrasi yang berkeadilan sosial, pemanfaatan tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat merupakan suatu conditesine qua non.1 Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan peran dari pemerintah yang memiliki kompetensi dalam bidang

(2)

pertanahan, khususnya dalam hal memperolehnya, peralihannya, lenyapnya, pembebanannya dan kewajiban-kewajiban yang mempunyai hak atas tanah.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, di Indonesia masih berlaku 2 (dua) macam hukum yang menjadi dasar bagi hukum pertanahan yaitu hukum adat dan hukum barat.2 Sifat dualisme hukum agraria dipengaruhi dari politik-hukum pemerintah jajahan sehingga berlaku peraturan-peraturan dari hukum adat di samping peraturan-peraturan dari dan yang didasarkan atas hukum barat. Dualisme hukum tersebut mengakibatkan adanya (2) dua macam tanah, yaitu “tanah adat” atau bisa disebut “tanah Indonesia” dan “tanah barat” atau juga disebut “tanah Eropa”.

Tanah adat yaitu tanah-tanah dengan hak-hak Indonesia yang sepenuhnya tunduk pada hukum (agraria) adat, sepanjang tidak diadakan ketentuan khusus untuk hak-hak tertentu, misalnya untuk hak agrarische eigendom berlaku ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam staatblaad 1872 No. 117. Hampir semua tanah-tanah adat tidak terdaftar seperti tanah ulayat, tanah milik, tanah usaha, tanah bengkok, tanah grogol dan lain-lainnya, sedangkan tanah-tanah seperti, tanah grant, agrarische eigendom, tanah-tanah milik di dalam kota Yogyakarta dan Surakarta serta tanah-tanah milik yang di daerah-daerah lainnya di Jawa, Bali, Madura, Lombok, Sulawesi telah terdaftar di kantor Landrente untuk keperluan pajak bumi, jadi pendaftaran ini bersifat “fiscal kadaster”, sedangkan yang dimaksudkan dengan pendaftaran tanah yang diadakan untuk memberikan kepastian hak dan kepastian hukum disebut dengan “rechtskadaster”.

(3)

Di lain pihak tanah-tanah barat atau tanah-tanah Eropa, dapat dikatakan hampir semuanya terdaftar pada Kantor Pendaftaran Tanah menurut “Overschrijvings ordonantie” atau Ordonansi Balik Nama (Stb. 1834 no. 27). Tanah-tanah barat ini tunduk pada ketentuan-ketentuan hukum agraria barat, misalnya mengenai memperolehnya, peralihannya, lenyapnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain dari wewenang-wewenang serta kewajiban-kewajiban yang mempunyai hak itu. Tanah-tanah Eropa ini tidak sebanyak tanah-tanah Indonesia, tanah-tanah-tanah-tanah itu seakan-akan merupakan pulau ditengah-tengah lautan Indonesia.3

Pada hakekatnya, dualisme dalam hukum agraria tersebut justru menghambat tercapainya cita-cita masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, maka diperlukan adanya hukum agraria baru yang sederhana dan yang menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. Atas dasar tersebut, maka Pemerintah Indonesia pada tanggal 24 september 1960 menyatakan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (yang selanjutnya disebut UUPA) bagi seluruh wilayah Indonesia. Pemberlakuan UUPA berdampak terjadinya perubahan yang fundamental pada Hukum Agraria di Indonesia, terutama hukum di bidang pertanahan. Perubahan itu bersifat mendasar atau fundamental, karena baik mengenai struktur perangkat hukumnya, mengenai konsepsi yang mendasarinya, maupun isinya, yang

3Boedi Harsono, (selanjutnya disebut Boedi Harsono I), 1970, Undang-undang Pokok

Agraria: Sejarah Penyusunan Isi dan Pelaksanaanya Hukum Agraria Indonesia, Cet. III, Djambatan, Jakarta, hal. 40

(4)

dinyatakan dalam bagian berpendapat UUPA harus sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia serta memenuhi pula keperluan menurut permintaan zaman.4

Tujuan dengan diberlakukannya UUPA agar sesuai dengan cerminan dalam ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (yang selanjutnya disebut UUD 1945), bahwa “bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Ketentuan tersebut memiliki makna bahwa negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia berkewajiban agar bumi, air dan ruang angkasa dan kekayaan alam diletakkan dalam kekuasaan negara. Kesejahteraan yang dimaksudkan yakni kesejahteraan lahir batin, adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Corak politik hukum yang terkandung dalam UUPA, yakni terdapat penyatuan hukum dalam bidang hukum agraria atau pertanahan di Indonesia, sedangkan disisi lain dalam penyatuan hukum tersebut muncul sifat keunikannya. UUPA dikatakan memiliki sifat unik karena terdapat kemungkinan berlakunya hukum adat. Pengakuan hukum adat dalam UUPA dapat dicermati sejak awal, yaitu melalui Konsiderans/Pertimbangan yang menyatakan “perlu adanya hukum agrarian nasional, yang berdasarkan atas hukum adat tentang tanah”, bahkan dalam ketentuan Pasal 5 UUPA tersirat adanya pernyataan, “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat”. Makna pernyataan istilah berdasarkan atas dan ialah hukum adat tersebut, menunjukkan adanya keterkaitan antara Hukum Adat dan UUPA.

4Boedi Harsono, (selanjutnya disebut Boedi Harsono II), 2008, Hukum Agraria Indonesia:

Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Cet. XII, Djambatan, Jakarta, hal.1

(5)

Keterkaitan antara UUPA dengan hukum adat tampaknya relevan dengan keadaan Negara Indonesia sebagai Negara Kesatuan yang penuh keragaman budaya, agama, bahasa, suku bangsa dan kebiasaan serta relevan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai cerminan kemajemukan bangsa dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jadi warna keragaman hukum tampaknya masih mendapat tempat yakni dengan adanya dua/lebih sistem hukum yang saling berinteraksi. Keterkaitan ini juga merefleksikan adanya tujuan dan cita hukum yang secara formal ditujukan agar tercapainya ketertiban dan keamanan dalam masyarakat serta memiliki cita hukum yang dikembangkan sebagai alat untuk merekayasa kehidupan sosial (social engineering) untuk mewujudkan nilai kepastian hukum. Cita hukum hendaknya dapat ditingkatkan agar dapat memainkan peran sebagai instrumen untuk memelihara dan memperkokoh integrasi bangsa dalam masyarakat yang bercorak multikultural.

Berkaitan dengan eksistensi hak masyarakat adat atas tanah di wilayahnya (hak ulayat), secara tegas telah diatur dalam ketentuan Pasal 3 UUPA, yang menyatakan bahwa pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang lebih tinggi. Terlepas dari itu, diseluruh wilayah Indonesia terdapat adanya hubungan-hubungan antara persekutuan hukum dengan tanah dalam wilayahnya atau dengan kata lain, hak persekutuan hukum masyarakat merupakan hak kolektif dan bukan hak perseorangan ataupun

(6)

keluarga, dimana hak atas tanah tersebut dinamakan beschikkingsrecht.5 Istilah beschikkingsrecht digunakan untuk menggantikan istilah yang sebelumnya dikenal sebagai “hak eigendom” (eigendomsrecht) atau hak yasan komunal (communaal bezitsrecht).6 Berbeda halnya yang terdapat dalam UUPA, hak persekutuan hukum seperti dikatakan di atas menggunakan istilah hak ulayat (wilayah) untuk menunjukkan pada tanah yang merupakan wilayah lingkungan masyarakat hukum yang besangkutan. Dapat dipahami bahwa UUPA mengakui keberadaan masyarakat adat dan hak ulayat. Hak ulayat dalam lingkungan masyarakat hukum adat yang bersangkutan merupakan hak penguasaan atas tanah yang tertinggi, hak-hak perseorangan atas sebagian tanah-tanah tersebut secara langsung ataupun tidak langsung didasarkan atas hak ulayat.7 Hal ini memiliki pengertian bahwa hak ulayat meliputi semua tanah yang ada dalam lingkungan wilayah masyarakat hukum yang bersangkutan, baik yang sudah dihaki oleh individu maupun belum.

UUPA sendiri tidak secara eksplisit mendefinisikan apa yang dimaksud dengan hak ulayat, definisi hak ulayat dapat ditemukan dalam ketentuan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat (Permeneg Agraria No. 5 Tahun 1999), yang menyebutkan bahwa hak ulayat dan yang serupa itu dari masyarakat hukum adat adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu

5Ahmad Fauzie Ridwan, 1982, Hukum Tanah Adat-Multi Disiplin Pembudayaan Pancasila,

Dewaruci Press, Jakarta, hal. 26

6Ter Haar, 2013, Asas-Asas Dan Susunan Hukum Adat,Balai Pustaka, Jakarta, hal. 49 7Siti Zumrokhatun & Darda Syahrizal, 2014, Undang-Undang Agraria & Aplikasinya,

(7)

yang merupakan lingkungan para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun-temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.

Adanya Hukum Pertanahan Nasional diharapkan terciptanya kepastian hukum di Indonesia. Untuk tujuan tersebut oleh pemerintah Indonesia ditindaklanjuti dengan penyediaan perangkat hukum tertulis berupa peraturan-peraturan lain dibidang hukum pertanahan nasional yang mendukung kepastian hukum serta selanjutnya lewat perangkat peraturan yang ada dilaksanakan penegakkan hukum berupa penyelenggaraan konversi tanah yang efektif. Konversi tanah adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka penyesuaian hak-hak atas tanah yang pernah tunduk kepada sistem hukum lama yaitu hak-hak tanah menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Barat dan tanah-tanah yang tunduk kepada Hukum Adat untuk masuk dalam sistem hak-hak tanah menurut ketentuan UUPA.8 Keseluruhan dari hak-hak atas tanah dari produk hukum yang lama tersebut disesuaikan, dialihkan atau dirubah kedalam salah satu hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalamketentuan Pasal 16 ayat 1 UUPA. Hak-hak atas tanah yang dimaksud sesuai ketentuan UUPA tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Hak-hak atas tanah sebagai yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat 1 ialah : a. hak milik,

b. hak guna usaha, c. hak guna bangunan,

(8)

d. hak pakai, e. hak sewa,

f. hak membuka tanah, g. hak memungut-hasil-hutan,

h. hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam Pasal 53.

Adanya hak-hak atas tanah berdasarkan ketentuan UUPA di atas secara nyata merubah hak-hak atas tanah lama menjadi salah satu hak yang baru. Hak milik bukan hak milik adat ataupun eigendom, hak guna usaha bukan hak erfpacht, hak guna bangunan bukan hak opstal, hak pakai bukan hak gebruik dan hak sewa bukan huur.9

Tanah-tanah yang berkaitan dengan masyarakat hukum adat di Bali dikenal dengan istilah tanah adat atau tanah desa atau tanah druwe desa (tanah milik desa). Tanah-tanah druwe desa di Bali ini jika dikaitkan dengan kepustakaan hukum adat inilah yang dapat dipersamakan dengan “hak ulayat”. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 3 UUPA yang telah disebutkan di atas yakni “hak-hak yang serupa dengan itu” dapat dipersamakan dengan tanah druwe desa, sehingga tanah inipun dikenal dengan istilah tanah adat atau tanah desa atau tanah druwe desa (milik desa). Tanah desa ini dapat dibedakan menjadi 4 (empat) bagian yakni Tanah Desa (Tanah Druwe Desa), Tanah Laba Pura, Tanah Pekarangan Desa (PKD) dan Tanah Ayahan Desa (AYDS).

Pengelompokan terhadap tanah-tanah adat di Bali berdasarkan penguasaannya dapat ditelaah sebagai berikut :

1. Tanah adat yang dikuasai oleh Desa Pakraman yaitu : a. Tanah Druwe Desa,

(9)

b. Tanah Laba Pura.

2. Tanah adat yang dikuasai oleh perseorangan (masing-masing Krama Desa Adat) yaitu :

a. Tanah Pekarangan Desa b. Tanah Ayahan Desa.10

Berdasarkan penjelasan di atas maka dalam masyarakat adat bali mengenal 2 (dua) penguasaan atas tanah adat, yaitu tanah adat yang dikuasai oleh desa pakraman dan tanah adat yang dikuasai oleh perseorangan.11 Tanah adat yang dikuasai oleh desa pakraman memiliki fungsi religius atau keagamaan yang diwujudkan dengan berbagai kegiatan agama, sedangkan tanah adat yang dikuasai oleh perseorangan memiliki fungsi untuk menjaga integritas kelompok yaitu desa pakraman itu sendiri, karena pemberian pengelolaan dan pemanfaatan tanah adat kepada perseorangan tersebut sebagai pengikat bagi krama desa untuk tetap ngayahang (melaksanakan kewajiban) ke pura maupun kepada krama desa yang menyelenggarakan kegiatan upacara keagamaan.

Berdasarkan Pasal II ketentuan konversi dari UUPA dengan jelas menyatakan bahwa bagi tanah-tanah adat/tanah druwe desa setelah berlakunya UUPA akan dikonversi menjadi hak milik. Konversi tanah druwe desa menjadi hak milik didasarkan atas dua hal pokok yakni :

10I Made Suasthawa Dharmayuda, (selanjutnya disebut I Made Suasthawa Dharmayuda I),

1994, Status dan Fungsi Tanah Adat Bali Setelah Berlakunya UUPA, CV. Kayumas Agung, Denpasar, hal. 34

11Dalam Peraturan Daerah Tingkat I Bali Nomor 6 Tahun 1986, kesatuan masyarakat

hukum adat di Bali menggunakan istilah desa adat, sedangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 yang kemudian dirubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003, istilah desa adat diganti dengan istilah desa pakraman. Banyak terjadi perbedaan penggunaan istilah antara desa adat dengan desa pakraman di masyarakat ataupun di masing-masing daerah di Bali.Dalam penelitian ini digunakan istilah desa pakraman untuk keseragaman istilah atas dasar pertimbangan yuridis dari penulis.

(10)

1. Status yang empunya

2. Sifat penggunaan tanah (tanah bangunan atau pertanian)

Dapat dijelaskan bahwa sifat penggunaan tanah baru diperhitungkan setelah status yang menguasai diketahui dengan pasti.12 Penguasaan tanah-tanah adat di Bali dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) seperti yang telah dijelaskan di atas yakni tanah adat yang dikuasai oleh desa pakraman dan tanah desa yang dikuasai oleh perseorangan (masing-masing krama desa). Tanah druwe desa yang dikuasai oleh desa pakraman dengan jelas tidak dapat dikonversi menjadi hak milik, karena desa pakraman tidak merupakan sebagai subyek hak atas tanah yang dapat mempunyai hak milik atas tanah, hal ini didasarkan atas ketentuan Pasal 1 dari Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1963 tentang penunjukan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik atas tanah (yang selanjutnya disingkat dengan PP No. 38 tahun 1963). Berbeda halnya dengan permohonan konversi tanah druwe desa yang dikuasai oleh krama desa dimungkinkan untuk dijadikan hak milik oleh krama desa meskipun pada dasarnya tanah druwe desa adalah kepunyaan desa pakraman itu sendiri akan tetapi dikuasai (dalam arti dikelola) oleh krama desa.

Tanah adat dalam pengertian sebagai tanda “milik” masyarakat hukum adat, mempunyai peranan dan fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat hukum adat di Bali.13 Hal ini dikarenakan tanah adat merupakan tempat warga masyarakat hukum adat bertempat tinggal dan juga memberikan penghidupan bagi

12I Made Suasthawa Dharmayuda I, op.cit., hal. 42

13Wayan P. Windia dan I Ketut Sudantra, 2006, Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga

(11)

masyarakat hukum adat tersebut. Tanah-tanah adat Bali mempunyai 3 (tiga) fungsi yaitu :

1. Fungsi ekonomis, yakni bahwa tanah adat diperuntukkan dalam rangka menunjang kehidupan ekonomis atau ke rumah tanggaan dari warga masyarakat adat,

2. Fungsi sosial, yakni sama dengan fungsi sosial sebagaimana dimaksudkan oleh pasal 6 UUPA, walaupun eksistensi fungsi sosial dari tanah adat telah ada jauh sebelum keluarnya UUPA,

3. Fungsi keagamaan, yakni berupa ayahan yang melekat pada tanah adat itu.14

Ke tiga fungsi tanah tersebut akan terjamin diwujudkan apabila tanah adat dikuasai oleh persekutuan/desa pakraman, sedangkan tanah-tanah adat yang dikuasai oleh perseorangan dengan merubah statusnya menjadi hak milik melalui konversi cenderung akan melemahkan fungsi dari tanah adat tersebut dan berimplikasi terjadinya peralihan hak milik dari warga masyarakat yang satu kepada warga masyarakat yang lainnya. Dilihat dari sifatnya, tanah ulayat/tanah desa tidak dapat dilepaskan, dipindahtangankan serta diasingkan untuk selamanya baik yang dikuasai oleh persekutuan masyarakat adat maupun perseorangan. Adapun hasilnya dituangkan dalam bentuk tesis dengan judul “KONVERSI TANAH AYAHAN DESA MENJADI TANAH HAK MILIK SETELAH BERLAKUNYA UUPA (STUDI KASUS DI DESA ADAT KEKERAN KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG)”. Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan, terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan konversi hak atas tanah adat ataupun yang berkaitan dengan tanah adat di Bali, yaitu :

(12)

a. Disertasi dari Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, NIM 1290971011, alumni Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Tahun 2015 dengan judul disertasi “Implikasi Politik Hukum Pertanahan Nasional Terhadap Kedudukan Desa Pakraman Sebagai Subyek Hukum Hak Atas Tanah”. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam disertasi tersebut yakni :

1. Bagaimana implikasi politik hukum pertanahan nasional terhadap desa pakraman sebagai subyek hukum hak atas tanah?

2. Mengapa hanya tanah laba pura sebagai salah satu jenis tanah adat di Bali yang diakui dan dapat didaftarkan sebagai hak milik atas tanah? 3. Bagaimana regulasi politik hukum pertanahan ke depan perspektif desa

pakraman dalam kedudukannya sebagai subjek hukum hak atas tanah? Adapun yang dapat disimpulkan dari disertasi ini yaitu implikasi politik hukum pertanahan nasional terhadap kesatuan masyarakat hukum adat (desa pakraman) dalam kedudukannya sebagai subjek hukum hak atas tanah, bahwa politik hukum pertanahan nasional mengakui keberadaan masyarakat hukum adat (desa pakraman) baik pada tataran politik hukum yang bersifat makro maupun mikro. Terhadap tanah laba pura berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor SK.556/DJA/1986, dapat diakui dan didaftarkan sebagai hak milik karena pura sebagai badan hukum keagamaan yang dapat mempunyai hak milik atas tanah. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 huruf c jo. Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963.

b. Tesis dari Dewa Ayu Oka Aspriani, NIM 0920102058, alumni Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Brawijaya Fakultas Hukum, Malang, Tahun

(13)

2013 dengan judul tesis “Peralihan Hak Atas Tanah PKD (Pekarangan Desa) Sebagai Objek Hak Atas Tanah Individual”. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian tesis tersebut yakni:

1. Bagaimanakah status kepemilikan tanah PKD (Pekarangan Desa)? 2. Bagaimana proses peralihan tanah PKD (Pekarangan Desa) sebagai

tanah druwe desa menjadi tanah milik individual?

Adapun yang dapat disimpulkan dari tesis ini yaitu status kepemilikan PKD (Pekarangan Desa) baik menurut hukum adat di Bali maupun menurut hukum pertanahan nasional adalah milik desa pakraman (desa adat) karena tanah PKD (Pekarangan Desa) berkait dengan kewajiban-kewajiban warga desa (krama desa) dimana warga desa (krama desa) hanya berstatus sebagai pemakai atau hanya mempunyai hak pakai terhadap tanah PKD (Pekarangan Desa). Proses peralihan tanah PKD (Pekarangan Desa) sebagai tanah druwe desa menjadi tanah individu dapat dilakukan dengan cara mendaftarkan kepada kantorpertanahan kabupaten/kota melalui sistem pendaftaran sporadik secara konversi berdasarkan bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan jika tidak ada yang keberatan.

c. Tesis dari Agung Raharjo, NIM B4B 008 008, alumni Program Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, Tahun 2010 dengan judul tesis “Pendaftaran Konversi Tanah Hak Milik Adat Oleh Ahli Waris (Studi Di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten)”. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian tesis tersebut yakni:

(14)

1. Bagaimana kekuatan hukum bukti pemilikan tanah hak milik adat yang berupa petuk pajak atau letter c ?

2. Bagaimana pelaksanaan pendaftaran Konversi tanah hak milik adat oleh ahli waris ?

3. Bagaimana perlindunganan hukum apabila salah satu ahli waris tidak tercatat dalam sertipikat ?

Adapun yang dapat disimpulkan dari tesis ini yaitu Kegiatan pendaftaran terhadap objek tanah yang belum terdaftar berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 jo.Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Kepemilikan hak yang teradministrasi di desa seperti Letter C yang merupakan alat bukti tertulis sebelum diberlakukannya Peraturan Pemerintah nomor 10 Tahun 1961, dapat segera dilakukan pendaftarannya untuk pertama kali ke kantor Pertanahan terkait, agar segera memperoleh Sertipikat Bukti Kepemilikan Hak Atas Tanah. Tidak dapat dilupakan pula bahwa buku Letter C juga merupakan syarat yang harus ada untuk pengkonversian tanah.Pelaksanaan pendaftaran tanah Konversi tanah hak milik adat meliputi kegiatan Pendaftaran Untuk Pertama Kali-nya, kemudian dikuti pemeliharaan data pendaftaran tanah. Perlindungan hukum terhadap ahli waris apabila mendapatkan hak baru karena hukum pada saat pemegang hak (pewaris) meninggal dunia untuk itu harus dilakukan pendaftaran haknya di Kantor Pertanahan.

Berdasarkan penelusuran dari tesis dengan judul dan pokok permasalahan seperti dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa penelitian dengan judul Konversi

(15)

Tanah Ayahan Desa Menjadi Tanah Hak Milik Setelah Berlakunya UUPA (Studi Kasus di Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung) belum ada yang membahasnya, sehingga tesis ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah orisinalitas atau keasliannya.

1.2 Rumusan Masalah.

Sebagaimana telah diungkapkan dalam latar belakang masalah di atas, maka dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah tanah ayahan desa dapat dikonversi menjadi tanah hak milik perorangan?

2. Bagaimanakah proses konversi tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik perorangan setelah berlakunya UUPA?

3. Bagaimanakah konsekwensi konversi tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik perorangan terhadap keluarga dan masyarakat?

1.3 Tujuan Penelitian

Dalam setiap penelitian ilmiah, tentunya ada tujuan yang ingin dicapai peneliti/penulis sehingga upaya untuk memberikan informasi publik itu tercapai secara baik. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah antara lain dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

1.3.1. Tujuan Umum.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam rangka perkembangan hukum agraria di Indonesia, dalam hal ini

(16)

yang menjadi obyek adalah pengalihan status tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik perorangan.

1.3.2. Tujuan Khusus.

Dalam penelitian ini, selain untuk mencapai tujuan umum seperti yang telah disebutkan di atas juga terdapat tujuan khusus. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yakni:

1. Untuk mengkaji dan menganalisis peranan prajuru desa pakraman dalam menjaga keutuhan nilai-nilai yang terkandung terhadap tanah adat yang ada di wilayahnya mengenai perubahan status tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik di Desa Adat Kekeran.

2. Untuk mengetahui dan memahami proses konversi tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik.

3. Untuk mengkaji dan menganalisis konsekwensi yang ditimbulkan terhadap tanah ayahan desa yang dikonversi menjadi tanah hak milik yang berada dalam wilayah Desa Adat Kekeran.

1.4 Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya serta memiliki kegunaan praktis pada khususnya sehingga penelitian ini bermanfaat secara teoritis dan praktis. 1.4.1. Manfaat Teoritis.

(17)

Secara teoritis, hasil penelitian dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum dalam kaitannya dengan tanah yang berfungsi sosial religius.

1.4.2. Manfaat Praktis.

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran yang berarti bagi ilmu hukum khususnya hukum pertanahan serta masyarakat umumnya dalam rangka menjaga eksistensi desa pakraman tetap utuh dan lestari khususnya dalam bidang pertanahan serta dapat menjadi masukan pada pemerintah dalam mengambil kebijakan hukum di bidang pertanahan selanjutnya.

1.5 Landasan Teoritis dan Konsep

Landasan teoritis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori-teori serta konsep-konsep yang terkait dengan permasalahan. Adapun teori-teori dan konsep-konsep yang digunakan yakni:

1.5.1. Landasan Teoritis

Dalam penulisan ini diperlukan landasan teori yang mendukung arah pemikiran menuju jawaban atas permasalahan yang timbul. Adapun teori yang mendukung rumusan masalah dalam penulisan ini adalah teori :

1.5.1.1. Teori Hak Milik

Kata “hak” merupakan terjemahan dari bahasa Latin yakni digunakan istilah “ius”, dalam bahasa Inggris disebut “right”, dalam bahasa Perancis istilah hak merupakan sama dengan “droit” sedangkan dalam bahasa Belanda, istilah

(18)

hak sama dengan istilah hukum yaitu “recht”, yang kesemuanya menurut C.S.T Kansil yaitu apa yang dimiliki atau melekat pada diri seseorang.15

Menurut Carl Wellman, fungsi suatu hak hukum adalah untuk mengatasi konflik dengan memberikan prioritas hukum bagi keinginan dan keputusan suatu pihak di atas keinginan dan keputusan pihak lain. Hak hukum adalah alokasi suatu ruang kebebasan dan control kepada pemilik hak agar ia leluasa menentukan keputusan-keputusan yang efektif di dalam wilayah yang ditetapkan tersebut.16

John Locke mengatakan bahwa “Kerja” tubuhnya dan “Karya“ tangannya, dapat kita katakan, adalah sesuatu yang khas miliknya.17 Dengan bekerja dan berkarya seseorang dapat memperoleh hak milik pribadi yang sifatnya tidak bisa diganggu oleh orang lain dan hak seseorang adalah sama besarnya sedangkan untuk besar kecilnya milik yang ingin dicapai tergantung pada usaha setiap orang.

Menurut Hugo Grotius, semua benda pada mulanya adalah res nullius (benda-benda yang tidak ada pemiliknya) tetapi masyarakat membagi-bagi semua benda dengan dasar persetujuan. Benda-benda yang tidak dibagi secara demikian, selanjutnya ditemukan oleh perorangan dan dijadikan kepunyaan masing-masing. Benda yang tidak dibagi tersebut tunduk kepada penguasaan individual. Satu kekuasaan penuh untuk menentukan penggunaan benda (power of disposition) adalah dideduksikan dari penguasaan individual itu, sebagai sesuatu yang terkandung didalamnya menurut logika dan kekuasaan bersama ini menjadi dasar

15C.S.T Kansil, 1986, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka,

Jakarta, hal.120

16 Aslan Noor, 2006, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau Dari

Ajaran Hak Asasi Manusia, Mandar Maju, Bandung, hal. 44

17John Locke, 1960, Two Treatiese of Civil Government, J.M. Dent & Sons Ltd, London,

(19)

untuk memperolehnya dari orang lain.18 Selanjutnya Hugo Grotius menyatakan bahwa kehendak manusia (mensen will) merupakan dasar adanya hak milik perseorangan, pada mulanya tanah dipergunakan brsama-sama oleh masyarakat, namun karena kehendak manusia, secara tegas maupun secara diam-diam terjadi perubahan yakni pemilikan secara perorangan.19

Suatu masyarakat hukum baik berdasarkan adat atau kesepakatan hukum, membuat suatu pembedaan antara hak milik dan sekedar mempunyai harta benda, dengan sendirinya masyarakat itu merumuskan milik sebagai sesuatu hak. Ini berlaku baik bagi tanah, kawanan ternak atau hasil buruan yang dimiliki bersama dan berlaku pula untuk harta benda perorangan yang ada. Kedua hal tersebut, memiliki suatu pemilikan adalah memiliki hak, artinya merupakan suatu klaim yang bersifat memaksa terhadap suatu kegunaan atau manfaat sesuatu, baik itu hak untuk ikut menikmati sumber umum maupun suatu hak perorangan atas harta benda tertentu.20 Hak milik sangat penting bagi manusia untuk dapat

melaksanakan hidupnya didunia. Semakin tinggi nilai hak milik atas suatu benda, semakin tinggi pula penghargaan yang diberikan terhadap benda tersebut.

Teori tentang hak milik yang dipaparkan di atas berkaitan dengan pokok permasalahan yang pertama karena pada dasarnya desa pakraman tidak sebagai subyek hak kepemilikan atas tanah berbeda halnya dengan krama desa yang dapat dijadikan subyek hak atas tanah, meskipun hak milik yang didapatkan oleh krama desa tersebut harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah tentang tanah yang berlaku dalam desa pakraman, karena pada dasarnya tanah ayahan desa tersebut

18Aslan Noor, op.cit., hal. 48 19 Aslan Noor, op.cit., hal. 120 20Aslan Noor, op.cit., hal. 40

(20)

merupakan kepunyaan desa pakraman yang penguasaannya diserahkan kepada krama desa.

1.5.1.2 Teori Balon (Ballen Theory)

Teori Balon (Ballen Theory) dikemukakan oleh Ter Haar, yang mengatakan bahwa semakin kuat hak ulayat, maka semakin lemah hak perseorangan dan demikian sebaliknya.21 Hubungan hak ulayat dengan hak perorangan terdapat hubungan saling pengaruh mempengaruhi. Pada kaitan ini bersifat mengembang dan mengempis, artinya semakin kuat hak perorangan akan semakin lemah hak ulayatnya sebaliknya jika semakin kuat hak ulayat maka akan semakin lemah hak perorangannya.

Hal senada dikemukakan oleh Iman Sudiyat, yang memberikan pengertian hak ulayat dengan mempergunakan istilah hak purba ialah hak yang dipunyai oleh suatu suku (clan/gens/stam), sebuah serikat desa-desa (dorpenbond) atau biasanya oleh sebuah desa saja untuk menguasai seluruh tanah seisinya dalam lingkungan wilayahnya.22 Bagaimana hubungan hak purba ini dengan hak milik perorangan, Iman Sudiyat mengemukakan bahwa jika hak purba itu sudah melemah sama sekali, maka dengan sendirinya hak perorangan (hak milik bumi putera) akan berkembang dengan pesatnya. Hak purba dengan hak perorangan itu tersangkut paut, dalam hubungan mengembangan dan mengempis, desak mendesak, batas membatasi, mulur-mungkret tiada hentinya.23

21I Made Suasthawa Dharmayuda, (selanjutnya disebut I Made Suasthawa

Dharmayuda II), 2003, Memberdayakan Desa Pakraman Dipandang dari Sudut Filsafat dan Agama dalam: Eksistensi Desa Pakraman di Bali, Yayasan Tri Hita Karana Bali hal.118.

22Iman Sudiyat, 1981, Asas-Asas Hukum Adat Bekal Pengantar, Cet. II, Liberty,

Yogyakarta, hal. 2

(21)

Teori ini berkaitan dengan pokok permasalahan yang pertama yakni terhadap tanah hak ulayat atau tanah ayahan desa di Bali, apabila dirubah statusnya menjadi hak milik perorangan akan berimplikasi terhadap hak komunal dari masyarakat hukum adat dalam hal ini desa pakraman semakin melemah dan demikian sebaliknya.

1.5.1.3. Teori Kepastian Hukum

Menurut Radbruch, hukum dapat dibedakan dalam tiga aspek yang ketiga-tiganya diperlukan untuk sampai pada pengertian hukum yang memadai. Aspek yang pertama ialah keadilan dalam arti sempit. Keadilan ini berarti kesamaan hak untuk semua orang didepan peradilan. Aspek kedua adalah tujuan keadilan atau finalitas. Aspek ini menentukan isi hukum, sebab isi hukum memang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Aspek yang ketiga ialah kepastian hukum atau legalitas. Aspek itu menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan.24

Tugas hukum adalah untuk mencapai kepastian hukum (demi adanya ketertiban) dan keadilan di dalam masyarakat. Kepastian hukum mengharuskan diciptakannya peraturan-peraturan umum atau kaedah-kaedah yang berlaku umum, supaya terciptanya suasana yang aman dan tenteram di dalam masyarakat.25

Kepastian hukum dalam masyarakat dibutuhkan demi tegaknya ketertiban dan keadilan. Ketidakpastian hukum akan menimbulkan kekacauan dalam

24Theo Huijbers, 1982, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Kanisius, Yogyakarta, hal.

163

25Soerjono Soekanto, 1999, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam rangka Pembangunan

(22)

kehidupan masyarakat, dan setiap anggota masyarakat akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak tanpa ada batasan tanpa keteraturan. Keteraturan masyarakat berkaitan erat dengan kepastian dalam hukum, karena keteraturan merupakan inti dari kepastian itu sendiri. Keteraturan menyebabkan orang dapat hidup secara berkepastian, sehingga dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Teori ini berkaitan dengan pokok permasalahan yang kedua yakni proses pengalihan tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik. Proses pengalihan yang terjadi hendaknya memiliki bukti yang otentik yang disahkan melalui pejabat berwenang yang ditunjuk oleh Undang-Undang. Hal ini untuk memperoleh kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait karena semua hak atas tanah harus didaftarkan untuk memperoleh kepastian hukum dan untuk mengantisipasi jika ada permasalahan di kemudian hari.

1.5.1.4 Teori Utilitarianisme

Teori Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremi Bentham, Utilitiarisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah dan bermanfaat, sebaliknya yang jahat atau yang buruk adalah yang tidak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan, karena itu baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dasar yang paling objektif dalam menilai baik buruknya kebijakan itu berlaku adalah dengan melihat apakah

(23)

suatu tindakan tertentu membawa manfaat atau hasil yang berguna atau sebaliknya kerugian bagi orang-orang terkait.26

Menurut Satjipto Raharjo, teori kemanfaatan (kegunaan hukum) bisa dilihat sebagai perengkapan masyarakat untuk menciptakan ketertiban dan keteraturan. Oleh karena itu ia bekerja untuk memberikan petunjuk tentang tingkah laku berupa norma (aturan-aturan hukum).27 Pada dasarnya peraturan hukum yang mendatangkan kemanfaatan dan kegunaan hukum ialah untuk terciptanya ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat karena adanya tertib hukum. Semua opini akan berubah saat ketika manfaatnya bisa dirasakan, semakin hukum itu berjalan dengan prinsip manfaat maka semakin nyata kemungkinan bahwa hukum itu bermanfaat.

Kemanfaatan hukum dirasakan perlu dalam kehidupan bermasyarakat karena berlakunya hukum dalam mengatur suatu masyarakat harus memberikan manfaat kepada masyarakat itu sendiri. Hukum ditegakkan tidak hanya untuk keadilan semata namun juga harus memperhatikan keadilan bagi masyarakat yang tunduk pada aturan hukum tersebut. Kemanfaatan hukum dalam kajian ini dikaitkan dengan dirubahnya status tanah ayahan desa menjadi tanah hak milik apakah memberikan manfaat kepada masyarakat desa pakraman maupun desa pakraman tersebut.

26Sonny Keraf, 1998, Etika Bisnis Tuntunan dan Relevansinya, Kanisius, Yogyakarta, hal.

93-94

(24)

1.5.2. Konsep. 1.5.2.1 Konversi

Menurut A. P. Parlindungan (1998-1) menyatakan bahwa konversi hak atas tanah adalah bagaimana pengaturan dari hak-hak tanah yang ada sebelum berlakunya UUPA (dalam hal ini, hak eigendom) untuk masuk dalam sistem UUPA, yakni kegiatan menyesuaikan hak-hak atas tanah lama menjadi hak-hak atas tanah baru yang dikenal dalam UUPA.

Effendi Parangin menjelaskan konversi hak–hak atas tanah adalah perubahan hak atas tanah sehubungan dengan diberlakukannya UUPA. Hak-hak atas tanah yang ada sebelum berlakunya UUPA diubah menjadi hak-hak atas tanah yang ditetapkan oleh UUPA.28

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa konversi hak-hak atas tanah adalah penggantian/perubahan hak-hak atas tanah dari status lama, yaitu sebelum berlakunya UUPA menjadi status baru, sebagaimana diatur menurut UUPA itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan hak-hak atas tanah sebelum berlakunya UUPA adalah hak-hak atas tanah yang diatur dan tunduk pada hukum adat dan hukum Barat (BW).

1.5.2.2 Tanah Ayahan Desa

Dalam peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003, termuat pengertian tanah ayahan desa, yakni Tanah ayahan desa pakraman adalah tanah milik desa pakraman yang berada di dalam maupun di luar desa pakraman.

(25)

Tanah ayahan desa (AyDs) yaitu tanah-tanah pertanian milik desa yang diserahkan kepada krama desa dengan hak untuk menikmati hasilnya, yang melekat pula dengan kewajiban (ayahan) kepada desa.29

Menurut I Made Suasthawa Dharmayuda, Tanah Ayahan Desa (AyDS), adalah merupakan tanah-tanah yang dikuasai oleh desa yang penggarapannya diserahkan kepada masing-masing krama desa dengan hak untuk dinikmati dengan kewajiban untuk memberikan “ayahan” berupa tenaga maupun materi kepada desa adat. Tanah-tanah Ayahan Desa ini mirip dengan tanah gogolan tetap di Jawa.30

Berdasarkan pengertian di atas, tanah ayahan desa (AyDs) adalah tanah-tanah kepunyaan desa pakraman yang pengelolaan dan pemanfaatannya diserahkan ke masing-masing krama desa dengan kewajiban untuk melaksanakan “ayahan” berupa tenaga maupun materi kepada desa pakraman.

1.5.2.3 Desa Adat

Desa pakraman yang pada jaman Bali kuna disebut banwa atau banua, merupakan organisasi masyarakat Hindu Bali yang berdasarkan satu kesatuan wilayah tempat tinggal bersama dan spiritual keagamaan yang paling mendasar bagi pola hubungan dan pola interaksi sosial masyarakat Bali. Setelah berlakunya Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman yang kemudian dirubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 tentang Desa Pakraman, istilah desa adat diganti dengan istilah desa pakraman. Disebutkan pengertian desa pakraman sebagai berikut :

29Wayan P. Windia dan I Ketut Sudantra, 2006, op.cit., hal. 126 30I Made Suasthawa Dharmayuda I, op.cit, hal. 34

(26)

Desa pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Menurut Wayan P. Windia, sebuah desa pakraman, terdiri dari tiga unsur, yaitu : (1) Unsur Parhyangan (berupa pura atau tempat suci umat Hindu dan aktivitas yang berkaitan dengan kelangsungan tempat suci tersebut). (2) Unsur Pawongan (kehidupan warga desa yang beragama Hindu). (3) Unsur palemahan (wilayah desa yang berupa karang ayahan desa dan karang gunakaya yang ditata dan dipertahankan sesuai dengan ajaran Agama Hindu).31 Disisi lain, Istilah desa pakraman sendiri diperkirakan berasal dari kata karaman yang ditemukan dalam Prasasti nomor 303 Bwahan (916 Saka) yang dikeluarkan Raja Udayana dan Ratu Gunapriyadharmapatni, karaman I wingkang ranu Bwahan (artinya masyarakat di bintang danu yaitu Bwahan).32

Menurut Goris dan Soekarto, karaman diartikan menjadi desa sebagai suatu kesatuan hukum atau suatu wilayah tertentu yang diperintah oleh sejumlah rama. Rama sendiri berasal dari kata ama yang berarti ayah yang kemudian mendapat awalan ra. Dari penguraian kata pakraman ini kemudian lahir pengertian tempat berkumpulnya para tetua yang merupakan tokoh adat atau tokoh agama.

Menurut I Wayan Surpha mengenai pengertian desa pakraman sebagai lembaga masyarakat yaitu desa pakraman merupakan wadah tempat hidup suburnya pengamalan ajaran-ajaran agama Hindu yang umumnya diwujudkan

31Wayan P. Windia, 2010, Dari Bali Mawacara Menuju Bali Santi, Udayana University

Press, Denpasar, hal. 7

(27)

dalam pelaksanaan adat (adat kebiasaan) khususnya dalam bentuk-bentuk upacara keagamaan Hindu dengan variasinya berwujud unsur-unsur budaya dan seni.33

Berdasarkan pengertian di atas maka desa pakraman adalah wilayah/tempat bagi masyarakat hukum adat dalam melaksanakan kegiatan yang erat kaitannya dengan pelaksanaan ajaran agama Hindu yang diimplementasikan dalam pergaulan hidup masyarakat tersebut.

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Jenis Penelitian

Berdasarkan pada masalah yang diajukan, maka dalam penelitian hukum ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris karena adanya kesenjangan antara das sollen dengan das sein yakni adanya kesenjangan antara pemberlakuan peraturan-peraturan mengenai konversi tanah dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat hukum adat.

1.6.2 Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yakni merupakan metode pengumpulan fakta melalui interprestasi yang tepat dengan tujuan untuk memberikan gambaran terhadap permasalahan yang timbul dalam masyarakat dalam situasi tertentu, termasuk didalamnya hubungan masyarakat, kegiatan, sikap, opini, serta proses yang tengah berlangsung dan pengaruhnya terhadap fenomena tertentu dalam masyarakat.

33I Wayan Surpha, (selanjutnya disebut I Wayan Surpha I), 1993, Eksistensi Desa Adat di

(28)

1.6.3 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian dalam penyusunan penelitian ini dilakukan di Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Penentuan lokasi penelitian didasarkan bahwa adanya tanah druwe desa yang berupa tanah ayahan desa dikonversi menjadi tanah hak milik oleh warga desa/krama desa yang mengelola dan memanfaatkan obyek tanah tersebut, karena pada saat ini tanah di Desa Adat Kekeran memiliki daya jual yang sangat tinggi dalam bidang properti dan kenaikan harga tanahnya pun sangat drastis, hal tersebut merupakan dampak dari pembangunan Terminal Angkutan Umum Kelas A di Kecamatan Mengwi. Uniknya Desa Adat Kekeran tetap mengikat tanah ayahan desa yang telah menjadi hak milik dengan aturan-aturan/awig-awig berupa pelaksanaan kewajiban berupa ayah-ayahan desa meskipun pada dasarnya hak milik atas tanah terdapat sifat terkuat dan terpenuh. Kasus ini menarik di samping karena hak milik atas tanah memiliki sifat terkuat dan terpenuh juga karena penerapan awig-awig tentang tanahnya berbeda dengan desa pakraman yang ada di Bali pada umumnya.

1.6.4 Jenis Data dan Sumber data

Jenis data yang diteliti dalam penelitian hukum empiris ada 2 (dua) jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang bersumber dari penelitian lapangan yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama di lapangan yaitu baik dari responden maupun informan, sedangkan data sekunder adalah suatu data yang bersumber dari penelitian kepustakaan yaitu data yang

(29)

diperoleh tidak secara langsung dari sumber pertamanya, melainkan data-data yang sudah terdokumenkan dalam bentuk-bentuk bahan hukum.

1.6.4.1 Jenis Data

a. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung dari penelitian di lapangan, yakni melalui wawancara dengan Bendesa Adat, Klian Banjar Adat Delod Sema dan Pegawai Badan Pertanahan Kabupaten Badung dalam kaitannya dengan pengkonversian tanah ayahan desa dan pemberlakuan awig-awig di Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung tentang ayah-ayahan desa adat serta mengamati langsung lokasi penelitian.

b. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan dengan cara studi dokumen terhadap bahan-bahan hukum yang terdiri dari :

1. Bahan hukum primer terdiri dari asas dan kaidah hukum, perwujudan asas dan kaidah hukum ini dapat berupa peraturan dasar maupun peraturan perundang-undangan. Adapun bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

(30)

e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

f. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

g. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat

h. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 6 Tahun 1986 tentang Kedudukan, Fungsi dan Peranan Desa Adat sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Provinsi Daerah Tingkat I Bali

i. Peraturan Daerah Provinsi Bali No.3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman yang di kemudian dirubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali No.3 Tahun 2003 tentang Desa Pakraman.

2. Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku yang terkait dengan hukum pertanahan, metode penelitian hukum, makalah, hasil penelitian, artikel dan karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.34

3. Bahan-bahan hukum tertier yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dari Departemen Pendidikan Nasional

34Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, hal.

(31)

Edisi Keempat Tahun 2008 penerbit Gramedia Pustaka Utama dan Kamus Hukum penyusun Yan Pramadya Puspa Tahun 2008 penerbit Aneka Ilmu. 1.6.4.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Awig-awig Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung dan hasil wawancara dengan pihak terkait yakni dengan Bendesa Adat, Klian Banjar Adat Delod Sema, Pegawai Badan Pertanahan Kabupaten Badung dan krama desa di Desa Adat Kekeran yang mengetahui tentang adanya tanah ayahan desa yang dikonversi menjadi hak milik dilingkungannya serta mengamati langsung lokasi yang menjadi obyek penelitian. Menurut Stephen Elias, primary sources adalah : ‘the law found in primary sources can take many different forms. They include cases, statutes, administrative regulations, local ordinances, state and federal constitutions, and more’.35 (hukum yang ditemukan dalam sumber-sumber primer dapat bermacam-macam bentuk. Termasuk didalamnya kasus, undang-undang, peraturan administrasi, adat istiadat, konstitusi negara, dan lain-lain).

2. Sumber data sekunder yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berasal dari kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

35Stephen elias, 2009, Legal Research How to Find & Understand The Law, Free Legal

(32)

1.6.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik observasi dan teknik wawancara (interview) sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan teknik studi dokumen.

1.6.5.1 Teknik Observasi

Metode observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Suharsimi Arikunto mendiskripsikan “observasi adalah pengamatan yang melalui kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan indra penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan perangsang”.36

Teknik obsrvasi ini digunakan untuk menggali data-data yang terkait dengan fokus penelitian dan hasil-hasilnya, jadi tujuan pengguanaan teknik observasi ini adalah untuk mengamati secara langsung keadaan atau situasi yang ada dalam daerah yang akan diteliti.

Berdasarkan definisi di atas maka yang dimaksud metode observasi adalah suatu cara pengumpulan data melalui pengamatan panca indra yang kemudian diadakan pencatatan-pencatatan. Penulis menggunakan metode ini untuk mengamati secara langsung di lapangan, terutama mengenai wilayah ataupun lokasi tanah ayahan desa yang dikonversi menjadi hak milik di Desa Adat Kekeran.

36Suharsimi Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta,

(33)

1.6.5.2 Teknik Wawancara

Teknik wawancara sangat efektif dipergunakan dalam penelitian ini karena hampir seluruh data dan informasi dalam penelitian ini dapat terpenuhi karena wawancara bersifat fleksibel dengan tujuan untuk mengetahui tentang hal-hal yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain.37 Teknik wawancara yang dipergunakan adalah teknik wawancara berstruktur dengan menggunakan alat berupa pedoman wawancara atau interview guide terhadap para informan atau responden. Melalui wawancara diharapkan memperoleh suatu gambaran umum dan memperoleh data yang sulit didapatkan yang berkaitan dengan penelitian. 1.6.5.3 Teknik Studi Dokumen

Teknik studi dokumen dilakukan melalui penelitian kepustakaan atas bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan yang diteliti, data kepustakaan sebagai data sekunder diperoleh melalui pengkajian serta penguraian bahan hukum primer yang terdiri dari buku-buku, literatur, makalah, hasil penelitian, artikel, karya ilmiah dan awig-awig yang berhubungan dengan penelitian ini.

1.6.6 Pengolahan dan Analisis Data

Menganalisis data dan informasi dalam penelitian ini digunakan analisis kualitatif, yakni data yang dikumpulkan adalah data naturalistik yang terdiri dari kata-kata dan bersifat monogamis atau berwujud kasus-kasus. Penelitian ini disebut juga dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, yakni data yang telah dikumpulkan baik dari penelitian lapangan maupun data kepustakaan dianalisis

(34)

dengan pendekatan kualitatif dan disajikan secara diskriptif sesuai dengan hasil penelitian perpustakaan dan analisis lapangan untuk memperoleh kesimpulan yang tepat dan logis sesuai dengan permasalahan yang dikaji.38 Data-data yang telah dikumpulkan baik melalui observasi lapangan, wawancara dengan Bendesa Adat, Pegawai Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Badung, dan Krama desa beserta dokumen-dokumen yang didapatkan digabungkan dengan hasil penelitian kepustakaan kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dikaji.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendapatan dengan perubahan tingkat pengetahuan, maka tidak memberikan perbedaan perubahan tingkat pengetahuan antara pengunjung

Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa factor: a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retro -

Mitra PkM yang ditunjuk dalam kegiatan PkM di tahun 2020 adalah masyarakat Kelurahan Manggar yang bermata pengcaharian sebagai nelayan dan

Teknik Pengambilan Gambar Teknik pengambilan gambar dalam film fiksi ini menggunakan multiple camera, yaitu pengambilan gambar menggunakan lebih dari satu kamera, dengan

Pergeseran manajemen dari sistem Jakarta Bus Rapid Transit (BRT), yang dikenal sebagai busway, ke perusahaan baru Transportasi Jakarta (Transjakarta) pada 2015 menghasilkan

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat (usulan) konsep desain interior yang sesuai untuk ruang tetapi autis berdasarkan metode dan literatur yang dijadikan

Penyuluhan kesehatan masyarakat adalah upaya memberikan pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan# kelompok dan masyarakat dalam berbagai tatanan

Dalam keadaan tertentu direktur dapat menerbitkan surat penugasan klinis sementara (Temporary Clinical appointment) misalnya untuk konsultan tamu