Laporan Kasus Pediatri
Bronkiolitis
A. Leonard Caesar J.,dr.
018/IDI-NGW/IPRA/1V/2013
RSUD Dr. Soeroto, Ngawi 2013
Identitas penderita
• Anak W • Anak WNama
Nama
• 15 bulan • 15 bulanUmur
Umur
• 5 April 2012 • 5 April 2012Tanggal lahir
Tanggal lahir
• Laki-laki • Laki-lakiJenis kelamin
Jenis kelamin
• Dsn. Karangasem II, RT 001 RW 006Ds. Geneng, Kec. Geneng, Kab. Ngawi
• Dsn. Karangasem II, RT 001 RW 006
Ds. Geneng, Kec. Geneng, Kab. Ngawi
Alamat
Alamat
• Islam • IslamAgama
Agama
Identitas penderita
•
Jawa
•
Jawa
Suku bangsa
Suku bangsa
•
9 kg
•
9 kg
Berat badan
Berat badan
•
72 cm
•
72 cm
Panjang badan
Panjang badan
•
z score 0< BB/PB <+1SD
(gizi baik)
•
z score 0< BB/PB <+1SD
(gizi baik)
Interpretasi gizi
Interpretasi gizi
•
4 Juli 2013
•
4 Juli 2013
Masuk rumah
sakit
Masuk rumah
sakit
•
118503
•
118503
No. Rekam
Medik
No. Rekam
Medik
Keluhan utama
Keluhan utama
•
Sesak nafas
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang
•
Sesak nafas sejak sehari sebelum masuk rumah sakit.
•
Sesak disertai batuk berdahak warna putih kental sejak
sehari sebelum masuk rumah sakit, tidak disertai bercak
darah dan muntah serta tidak disertai pilek.
•
Riwayat tersedak makanan atau minuman tidak
didapatkan.
•
Riwayat habis jatuh atau terjepit terkena bagian dada
tidak didapatkan.
•
Riwayat alergi tidak diketahui.
•
Makan dan minum masih mau menurut ibu pasien.
Heteroanamnesa(Ibu kandung
pasien)
Heteroanamnesa(Ibu kandung
pasien)
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang
•
Sesak didahului dengan demam sejak sehari
sebelum masuk rumah sakit.
•
Demam mendadak tinggi dan diberi obat
penurun panas oleh ibu pasien berupa
Paracetamol dan demam turun.
•
Tidak didapatkan riwayat kejang, keluar darah
dari hidung atau mulut, tidak muntah-muntah,
tidak ada berak cair, tidak terdapat berak
warna hitam seperti petis, dan tidak ada bintik
merah di tubuh.
•
Buang air kecil dan air besar tidak ada
• Selama hamil ibu tidak pernah sakit parah sampai rawat inap, tidak minum
obat-obatan maupun jamu
• Selama hamil ibu tidak pernah sakit parah sampai rawat inap, tidak minum
obat-obatan maupun jamu
Riwayat
prenatal:
Riwayat
prenatal:
• Hamil 9 bulan, lahir spontan di rumah sakit, berat bayi 3000g.
• Hamil 9 bulan, lahir spontan di rumah sakit, berat bayi 3000g.
Riwayat
natal
Riwayat
natal
• Lahir langsung menangis, tidak biru maupun kuning, tidak kejang.
• Lahir langsung menangis, tidak biru maupun kuning, tidak kejang.
Riwayat
antenatal
Riwayat
antenatal
• Pasien pernah mengalami sesak nafas
seperti sekarang dan dirawat inap di rumah sakit dr. Soeroto saat usia 11 bulan. Riwayat kejang saat demam tidak ada
• Pasien pernah mengalami sesak nafas
seperti sekarang dan dirawat inap di rumah sakit dr. Soeroto saat usia 11 bulan. Riwayat kejang saat demam tidak ada
Riwayat
penyakit
lain
Riwayat
penyakit
lain
• Imunisasi pokok lengkap. • Imunisasi pokok lengkap.
Riwayat
imunisasi:
Riwayat
imunisasi:
• Pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak-anak yang berumur sama di lingkungan sekitarnya.
• Pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak-anak yang berumur sama di lingkungan sekitarnya.
Riwayat
tumbuh
kembang dan
gizi:
Riwayat
tumbuh
kembang dan
gizi:
• Nenek pasien batuk berdahak di rumah sejak lama.
• Nenek pasien batuk berdahak di rumah sejak lama.
Riwayat
keluarga:
Riwayat
keluarga:
• Tidak diketahui mengenai ada tidaknya teman maupun orang lain yang menderita penyakit dengan keluhan serupa di daerah dekat rumah pasien.
• Tidak diketahui mengenai ada tidaknya teman maupun orang lain yang menderita penyakit dengan keluhan serupa di daerah dekat rumah pasien.
Riwayat
sosial:
Riwayat
sosial:
Status Generalis
•
Lemah
•
Lemah
Keadaan
umum
Keadaan
umum
•
Cukup
•
Cukup
Keadaan gizi
Keadaan gizi
•
100/70 mmHg
•
100/70 mmHg
Tensi
Tensi
•
120x/menit teratur kuat
angkat
•
120x/menit teratur kuat
angkat
Nadi
Nadi
•
60x/menit
•
60x/menit
RR
RR
•
37.6 C axilla
•
37.6 C axilla
Temperatur
Temperatur
Kepala-Leher
• anemia –
• icterus –
• sianosis –
• dispneu –
• pembesaran KGB –
• faring tidak hiperemi
• gusi berdarah –
• kaku kuduk
• konjungtivitis
-Thoraks
•
simetris, tarikan dada tidak
ada
•
simetris, tarikan dada tidak
ada
Bentuk
Bentuk
•
simetris
•
simetris
Pergerakan
dada
Pergerakan
dada
•
tidak melebar maupun
menyempit
•
tidak melebar maupun
menyempit
ICS
ICS
•
dalam batas normal
•
dalam batas normal
Kulit dada
Kulit dada
•
dalam batas normal
•
dalam batas normal
Kulit
punggung
Kulit
punggung
•
pembesaran KGB
-•
pembesaran KGB
-Axilla
Axilla
•
gibbus
-•
gibbus
-Skeleton
Skeleton
Thoraks (pulmo)
Jenis pemeriksaa
n
Depan Belakang kanan kiri kanan kiri Bentuk Simetris Sde
Pergerakan N N Sde Sde
INSPEKSI
Jenis
pemeriksaan Depan Belakang kanan kiri kanan Kiri Pergerakan N N Sde Sde Fremitus raba Sde Sde Sde Sde Nyeri Sde Sde Sde Sde
Thoraks(pulmo)
Jenis
pemeriksaan kananDepankiri kananBelakangKiri Suara ketok Sonor
Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sde Sde Nyeri ketok Sde Sde Sde Sde Kronig isthmus - - Sde Sde
Jenis
pemeriksaan KananDepan Kiri KananBelakangKiri Suara nafas Vesikuler
Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Sde Sde Suara percakapanSde Sde Sde Sde Ronkhi Basah Kasar Basah Kasar Basah
Kasar Basah Kasar Basah Kasar Basah Kasar Basah
Kasar Basah Kasar - - Sde Sde Wheezing - - Sde Sde - - Sde Sde
PERKUSI
• Iktus : -• Pulsasi jantung : -• Iktus : -• Pulsasi jantung :
-Inspek
si
Inspek
si
• Iktus : teraba di garis ICS V MCL sinistra
• Pulsasi jantung : teraba pada daerah iktus kordis
• Getaran ( thrill) : tidak ada
• Iktus : teraba di garis ICS V MCL sinistra
• Pulsasi jantung : teraba pada daerah iktus kordis
• Getaran ( thrill) : tidak ada
Palpas
i
Palpas
i
Jantung dan kardiovaskuler
•
Batas kanan : parasternal
line dextra ICS 4
•
Batas kiri : ICS V MCL
sinistra
•
Batas kanan : parasternal
line dextra ICS 4
•
Batas kiri : ICS V MCL
sinistra
Perkusi
Perkusi
•
Suara 1, suara2 : tunggal,
normal
•
Suara tambahan: murmur-,
gallop-,ekstrasistole-•
Suara 1, suara2 : tunggal,
normal
•
Suara tambahan: murmur-,
gallop-,ekstrasistole-Auskulta
si
Auskulta
si
Abdomen
•
tak tampak massa, umbilicus
cekung ke dalam
•
tak tampak massa, umbilicus
cekung ke dalam
Inspeksi
Inspeksi
•
bising usus + N, bising aorta -,
bising a. renalis
-•
bising usus + N, bising aorta -,
bising a. renalis
-Auskultasi
Auskultasi
•
Hepar, lien dan ginjal tidak teraba,
defans
-•
Hepar, lien dan ginjal tidak teraba,
defans
-Palpasi
Palpasi
•
timpani pada ke empat kuadran
abdomen
•
timpani pada ke empat kuadran
abdomen
Perkusi
Pelvis dan genitalia
• Tidak ada kelainan
Ekstremitas
• Akral teraba hangat kering merah,
crt<3s, edema extremitas
Darah Lengkap (4 Juli 2013)
• 8,6 g/dl ↓ • 8,6 g/dl ↓Hb
Hb
• 26,5% ↓ • 26,5% ↓Hct
Hct
• 4.36.10e6/ul • 4.36.10e6/ulEri
Eri
• 61 fl ↓ • 61 fl ↓MCV
MCV
• 19,7 pg ↓ • 19,7 pg ↓MCH
MCH
• 12,9 .10e3/ul ↑ • 12,9 .10e3/ul ↑Leu
Leu
• 2,7 .10e3/ul • 2,7 .10e3/ulLy
Ly
• 9,5 .10e3/ul ↑ • 9,5 .10e3/ul ↑Gr
Gr
• 508.10e3/ul ↑ • 508.10e3/ul ↑Plt
Plt
Keluhan utama pada pasien anak berusia 15 bulan
ini adalah sesak nafas sejak sehari sebelum masuk
rumah.
Keluhan utama pada pasien anak berusia 15 bulan
ini adalah sesak nafas sejak sehari sebelum masuk
rumah.
Adapun diagnosis banding sesak nafas untuk anak
usia 2 bulan-5 tahun adalah pneumonia, bronkiolitis,
asma, gagal jantung, penyakit jantung bawaan, efusi
pleura, tuberkulosis paru, pertusis,tersedak benda
asing, dan pneumotoraks.
Adapun diagnosis banding sesak nafas untuk anak
usia 2 bulan-5 tahun adalah pneumonia, bronkiolitis,
asma, gagal jantung, penyakit jantung bawaan, efusi
pleura, tuberkulosis paru, pertusis,tersedak benda
asing, dan pneumotoraks.
Keluhan sesak nafas juga disertai dengan keluhan
demam sehari sebelum masuk rumah sakit. Adapun
diagnosis banding panas kurang dari 7 hari adalah
ISK, infeksi virus(terutama dengue), infeksi saluran
pernapasan, diare, campak dan meningitis.
Keluhan sesak nafas juga disertai dengan keluhan
demam sehari sebelum masuk rumah sakit. Adapun
diagnosis banding panas kurang dari 7 hari adalah
ISK, infeksi virus(terutama dengue), infeksi saluran
pernapasan, diare, campak dan meningitis.
Pada pasien ini tidak didapatkan riwayat biru
maupun dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan
tanda-tanda kelainan jantung sehingga penyakit
jantung dapat disingkirkan.
Pada pasien ini tidak didapatkan riwayat biru
maupun dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan
tanda-tanda kelainan jantung sehingga penyakit
jantung dapat disingkirkan.
Riwayat tersedak dan trauma juga disangkal oleh
ibu pasien.
Riwayat tersedak dan trauma juga disangkal oleh
ibu pasien.
Adanya riwayat batuk dengan lendir putih serta
demam sehari sebelum masuk rumah sakit
menunjukkan adanya tanda infeksi saluran
pernapasan.
Adanya riwayat batuk dengan lendir putih serta
demam sehari sebelum masuk rumah sakit
menunjukkan adanya tanda infeksi saluran
pernapasan.
Untuk keluhan mencret, bintil merah di tubuh ,
muntah-muntah, tidak didapatkan sehingga ISK
dan diare bisa disingkirkan.
Untuk keluhan mencret, bintil merah di tubuh ,
muntah-muntah, tidak didapatkan sehingga ISK
dan diare bisa disingkirkan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pernapasan cepat 60 kali/menit tanpa tarikan otot dada, tanpa pernapasan cuping hidung, tanpa
sianosis, serta didapatkan ronki basah kasar pada kedua lapang paru sehingga diduga infeksi pada saluran pernafasan bawah, yang
mengarah ke arah bronkiolitis dan bronkopnemumonia.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pernapasan cepat 60 kali/menit tanpa tarikan otot dada, tanpa pernapasan cuping hidung, tanpa
sianosis, serta didapatkan ronki basah kasar pada kedua lapang paru sehingga diduga infeksi pada saluran pernafasan bawah, yang
mengarah ke arah bronkiolitis dan bronkopnemumonia.
Untuk memastikannya disarankan untuk foto rontgen thoraks.
Untuk memastikannya disarankan untuk foto rontgen thoraks.
Untuk pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan leukosit yang menandakan infeksi bakterial, dan penurunan Hb, MCV, serta MCH yang menunjukkan tanda anemia hipokromik mikrositik meskipun tidak ada keluhan yang bisa disebabkan defisiensi Fe, penyakit kronis,
thalasemia, dan keracunan timah hitam.
Untuk pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan leukosit yang menandakan infeksi bakterial, dan penurunan Hb, MCV, serta MCH yang menunjukkan tanda anemia hipokromik mikrositik meskipun tidak ada keluhan yang bisa disebabkan defisiensi Fe, penyakit kronis,
thalasemia, dan keracunan timah hitam.
Pada pasien ini lebih mengarah ke anemia defisiensi besi dikarenakan penyakitnya yang akut, tidak ada mual muntah, tidak ada riwayat
kelainan darah maupun pembesaran lien pada pasien sehingga perlu direncanakan pemeriksaan serum besi dan TIBC.
Pada pasien ini lebih mengarah ke anemia defisiensi besi dikarenakan penyakitnya yang akut, tidak ada mual muntah, tidak ada riwayat
kelainan darah maupun pembesaran lien pada pasien sehingga perlu direncanakan pemeriksaan serum besi dan TIBC.
No. Temporary Problem Lists Permanent Problem Lists Assesment 1 usia 15 bulan
infeksi + obstruksi jalan nafas
Bronkiolitis dd. 1.bronkopneumoni a, 2.asma bronkial
2 sesak nafas
3 batuk berdahak putih 4 RR 60x/menit
5 Ronki basah kasar +/+ 6
demam sehari sebelum MRS suhu saat masuk MRS 37.6C
7
riwayat sakit seperti ini
sebelumnya saat usia 11 bulan
8 Leukosit 12.900 ul 9 Hb 8,6 g/dL Anemia Anemia Mikrositik hipokromik ec. Suspek defisiensi besi 10 Hct 26.5% 11 MCV 61 fl 12 MCH 19.7
No Assesment
Planning
Diagnosis Terapi Monitoring
1 Bronkiolitis dd. Pneumonia, asma bronkial rontgen paru O2 nasal 2lpm; infus RL 990ml/hari;
Amoxicillin 50mg/kgBB/hari 3 dd 1 atau
Cotrimoxazole 4mgTMP/kgBB/kali 2 dd 1 selama 3 hari; Paracetamol 10mg/kgBB/kali; Salbutamol 0,1mg/kgBB/kali 4-6x ; VS,observasi tanda obstruksi jalan nafas, keadaan umum, produksi urine 2 Anemia Mikrositik hipokromik ec. Suspek defisiensi besi SI, TIBC
Preparat besi (ferrosulphate) 4-6mg/kgBB/hari 3dd1 selama 2-3 bulan;
asam askorbat 100mg/15mg besi;
diet TKTP dan kadar besi tinggi bersumber hewani (limfa,hati,daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan) Hb tiap 2 minggu, Keluhan pasien, Berat badan/bulan
DASAR TEORI
BRONKIOLITIS
Definisi
Definisi
•
Bronkiolitis adalah penyakit obstruktif
akibat inflamasi akut pada bronkiolus
yang terjadi pada anak usia < 2 tahun
dengan insidens tertinggi pada usia
sekitar 2-6 bulan
•
Penyebab tersering respiratory sincytial
virus (RSV), diikuti dengan parainflueza
dan adenovirus.
•
Penyakit ditandai dengan sindrom klinis
yaitu nafas cepat, retraksi dada, dan
Patofisologi
Patofisologi
Infeksi RSV
Kolonisasi & replikasi di mukosa (terminal bronkiolus : >>)
Nekrosis sel bersilia bronkioli
Proliferasi limfosit, sel plasma & makrofag
Penyempitan lumen bronkioli (total/sebagian)
Respon paru
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding
•
Asma bronkial
•
Aspirasi benda asing
•
Bronkopneumonia
•
Gagal jantung
•
Miokarditis
Perbandingan
Perbandingan
Bronkiolitis dengan bronkopneumonia
Pneumonia Bronkiolitis Umur semua umur < 2 tahun Penyebab bakteri/virus virus Onset lebih lama cepat Pemeriksaan fisik inspiratory effort expiratory effort Foto thoraks + +/-Tes RSV - +
Bronkiolitis dengan
asma
Asma Bronkiolitis Umur > 2 tahun < 2 tahun Demam biasanya - biasanya + ISPA +/- + Atopi Keluarga + +/-Riwayat alergi + +/-respon terhadapDefinisi
Definisi
• kondisi penurunan jumlah sel darah merah (sel
darah merah) atau jumlah hemoglobin yang
kurang dari normal dalam darah.
• Berat ringan nya anemia diklasifikasikan sebagai
berikut:
Grading of anemia Grading of anemia WHO (Hb g/dL) NCI (Hb g/dL) 0 (normal) >= 11 WNL 1 (mild) 9,5 - 10,9 10-WNL 2 (moderate) 8,0 - 9,4 8-10 3 (severe) 6,5 - 7,9 6,5 - 7,9 4 (Life treathening) <6,5 < 6,5WHO: World Health Organization NCI : National Cancer Institute
WNL : Within Normal Limits; Hb= 12-16 (women), Hb=14-18 (men)
Klasifikasi Anemia
Klasifikasi Anemia
Anemia diklasifikasikan berdasarkan patofisiologi
dan morfologi.
Anemia diklasifikasikan berdasarkan patofisiologi
dan morfologi.
Klasifikasi Anemia berdasarkan patofisiologi dibagi
menjadi 3:
Klasifikasi Anemia berdasarkan patofisiologi dibagi
menjadi 3:
• Gangguan produksi sel darah merah
• Gangguan pada ploriferasi dan differensiasi hematopoietic stem cell (Aplastic anemia)
• Gangguan sintesis DNA (Megaloblastic Anemia)
• Gangguan sintesis Hb ( Iron Def. Anemia, Thalasemia)
• Gangguan sintesis erithropoietin (Anemia of chronic renal failure)
• Anemia karena penyakit kronik, sideroblastic anemia • Peningkatan destruksi sel darah merah
Klasifikasi Anemia
Klasifikasi Anemia
Klasifikasi Anemia berdasarkan morfologi
dibagi menjadi 2:
Klasifikasi Anemia berdasarkan morfologi
dibagi menjadi 2:
•
Ukuran
•
Mikrositik
•
Normositik
•
Makrositik
•
Warna
•
Hipokromik
•
Normokromik
•
Hiperkromik
Bagan mengenai penyebab anemia berdasarkan
morfologinya
Bagan mengenai penyebab anemia berdasarkan
morfologinya
Anemia Defisiensi Besi
Definisi
Definisi
•
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan
kekurangan zat besi untuk sintesa hemoglobin.
Epidemiologi
Epidemiologi
•
Diperkirakan 30% penduduk di dunia menderita anemia dan
50% penderita ini adalah anemia defisiensi besi
•
Terutama mengenai bayi, anak sekolah, ibu hamil dan
menyusui.
•
Di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama selain
kekurangan kalori, protein, vitamin a, dan yodium.
•
Penelitian di Indonesia mendapatkan prevalensi anemia
defisiensi besi pada anak balita sekitar 30-40%, pada anak
sekolah 25-35%.
•
Anemia defisiensi besi mempunyai dampak yang merugikan
bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang,
penurunan daya tahan tubuh dan daya konsentrasi serta
kemampuan belajar sehingga menurunkan prestasi belajar
di sekolah.
Etiologi Anemia Defisiensi
Besi
Peningkatan permintaan untuk besi dan / atau hematopoiesis
Peningkatan permintaan untuk besi dan / atau hematopoiesis
•pertumbuhan yang cepat pada masa bayi atau remaja •kehamilan
•terapi erythropoietin
Peningkatan kehilangan zat besi
Peningkatan kehilangan zat besi
•kehilangan darah kronis •haid
•kehilangan darah akut •donor darah
•phlebotomy sebagai pengobatan untuk polisitemia vera
Penurunan asupan zat besi atau penyerapan
Penurunan asupan zat besi atau penyerapan
•diet yang tidak memadai
•malabsorpsi dari penyakit (sariawan, penyakit Crohn) •malabsorpsi dari operasi (paska gastrektomi)
Diagnosis Banding Anemia
Defisiensi Besi
Thalasemia (khususnya thalasemia minor). HbA2 meningkat, feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.
Thalasemia (khususnya thalasemia minor). HbA2 meningkat, feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.
Anemia karena infeksi menahun, biasanya anemia normokromik normositik, kadang-kadang bisa terjadi anemia hipokromik
mikrositik. Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun
Anemia karena infeksi menahun, biasanya anemia normokromik normositik, kadang-kadang bisa terjadi anemia hipokromik
mikrositik. Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun
Keracunan timah hitam (Pb)
Keracunan timah hitam (Pb)
Anemia sideroblastik, terdapat ring sideroblastik pada pemeriksaan sumsum tulang
Anemia sideroblastik, terdapat ring sideroblastik pada pemeriksaan sumsum tulang
Diagnosis Anemia Defisiensi
Besi
Tingkat serum besi/Serum Iron (SI) merupakan jumlah besi terikat transferin yang beredar dalam darah.
Tingkat serum besi/Serum Iron (SI) merupakan jumlah besi terikat transferin yang beredar dalam darah.
TIBC adalah ukuran tidak langsung dari transferin yang beredar dalam darah.
TIBC adalah ukuran tidak langsung dari transferin yang beredar dalam darah.
Kisaran normal untuk besi serum 50-150 g / dL.
Kisaran normal untuk besi serum 50-150 g / dL.
Rentang normal untuk TIBC adalah 300-360 g / dL.
Rentang normal untuk TIBC adalah 300-360 g / dL.
Saturasi tranferin, yang biasanya 25-50%, diperoleh dengan rumus berikut: serum besi x 100 ÷ TIBC. Defisiensi besi dinyatakan dengan saturasi transferin yang nilainya di bawah 18%.
Saturasi tranferin, yang biasanya 25-50%, diperoleh dengan rumus berikut: serum besi x 100 ÷ TIBC. Defisiensi besi dinyatakan dengan saturasi transferin yang nilainya di bawah 18%.