Aku dan Lembaran Masa Depan
(Karya: Maryam Kaaria Wafa 7E)“Tunggu aku! Astaga, aku akan terlambat lagi hari ini kalau seperti ini, apa supir busnya
membenciku? Arghh... sudah jam berapa ini?...” Xavera terus berlari mengejar bus yang terlambat ia naiki, sialnya ia sudah tertinggal jauh. Parahnya lagi, ia sudah terlambat lima menit untuk memasuki sekolah sebagai ‘siswa disiplin’ idaman guru-guru, bukan siswa langganan incaran guru killer di sekolahnya. Menyebalkan.Mau tak mau Xavera harus berjalan-ah, tidak-berlari agar cepat menuju sekolahnya.
“Selamat pagi Ibu, maaf saya terlambat.” Ujarnya begitu sampai di kelas. Seperti dugaannya, pelajaran sudah sejak tadi dimulai. Guru dan teman sekelasnya melihat Xavera yang kelelahan di ujung pintu kelas. Berlari dari halte menuju sekolah memakan waktu lama, sudah pasti dia kelelahan.
“Oke, Xavera, sayangnya kamu sudah terlambat lebih dari lima belas menit sejak jam belajar dimulai. Silakan berdiri di luar. Setelah pelajaran selesai, kamu boleh masuk kelas,” perintah guru mapel Matematikanya, Bu Hera. Ayolah... apa dia tidak kasihan dengan murid malangnya yang satu ini? Tidak. Xavera tidak ingin membantah gurunya yang terkenal galak itu. Dengan terpaksa, ia meninggalkan kelasnya. Bukan untuk berdiri di luar kelas, tapi ke kantin. Xavera belum sempat sarapan ketika harus mengejar bus tadi.
***
“Kamu terlambat lagi, Xavera?” Seorang murid laki-laki menghampiri lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya. “Diam, jangan merusak mood pagiku, Adnan!” Xavera hafal dengan suara itu, tetapi ia memilih fokus untuk menghabiskan roti yang baru saja dibelinya. “Sudah kubilang jangan sering tidur tengah malam,” timpalnya tanpa mengacuhkan sikap menyebalkan sahabatnya pagi ini. “Bagaimana denganmu? Kamu membolos lagi? Cih, aku lebih memilih terlambat dan dihukum daripada membolos sepertimu,” Xavera memperhatikan sahabatnya yang kembali sibuk membaca novel di tangannya.
“Duh, aku tak habis pikir bagaimana bisa ada kutu buku yang rajin membolos tiap paginya? Kamu aneh Adnan!” Xavera menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabat kecilnya yang selalu berbeda.
“Diam, jangan merusak mood pagiku, Xavera...” Balas Adnan mengikuti gaya bicara Xavera kepadanya tadi sembari menahan tawanya. “Kau menyebalkan. Dasar kutu buku aneh!” “Apa yang tadi kamu bilang? Kemari kamu, Xavera!” Mengetahui buku yang Adnan bawa akan mendarat di kepalanya, Xavera menghindar. Buku itu mendarat dengan selamat dan sempurna di kepala Ibu kantin yang hendak menagih uang roti Xavera.
“...”
“KAMU ADNAN, KEMARI!”
Kini Xavera dan Adnan berada di lobi sekolah. "Bi Narni lebih menyeramkan dari singa lapar!" ujar Xavera mengutarakan kesan pertama mereka melihat ibu kantin sekolah mengamuk dan dibalas anggukan takut Adnan.
“Apa pelajaran sudah selesai?” Xavera menghabiskan susu kotaknya dan melihat murid-murid berkumpul melihat papan pengumuman di depannya. Adnan mengangkat bahu dan mengisyaratkan Xavera untuk melihat apa yang ada di papan pengumuman.
“Permisi, boleh geser sedikit?” ucap Adnan pada kumpulan adik kelas yang mengalangi jalannya bersama Xavera.
LOMBA FESTIVAL SEKOLAH TAHUN KE-54
Tertera poster undangan untuk festival sekolahnya lusa besok. Xavera malas melanjutkan bacaannya, ia tidak tertarik. Di bawahnya terdapat daftar lomba yang akan diadakan. Murid-murid sangat antusias untuk mengikuti lomba setiap tahunnya, tetapi tidak untuk Xavera. Alasannya karena ia tidak menemukan bakat yang sebenarnya ia punya. Berbeda dengan remaja pada umumnya, Xavera bahkan belum menentukan cita-citanya. Lalu bagaimana dengan masa depannya?
Murid-murid mulai meninggalkan papan pengumuman, hanya tersisa Xavera dan Adnan di sana.
“Ver,” “Ya?”
“Besok keluargaku dan aku pergi keluar kota, ada acara kantor ayahku di sana.” “Lalu?”
“Bisa menggantikanku mengikuti lomba menulis cerita?” pinta Adnan, penglihatannya fokus pada poster undangan yang berada di depan matanya. Adnan melirik ke arah Xavera yang sedang mengernyitkan dahi karena bingung.
“Aku?” Xavera tertawa mengejek, menunjuk dirinya sendiri. “Siapa lagi?”
“Aku tidak mempunyai bakat Adnan. Kalau aku menggantikanmu nanti reputasimu rusak.” Xavera menatap Adnan kesal. Lelaki tersebut terbahak dan membuat Xavera mendaratkan pukulan pelan ke tangannya. Ia khawatir ada yang mendengar.
“Aku tidak memintamu membuat ceritanya atas namaku Ver, woah, apa kamu sedang mengkhawatirkanku?” Adnan terkekeh melihat wajah kesal Xavera yang gemas ingin mencubitnya.
“Hahaha... kamu bukan tipeku, Adnan! Aneh jika aku mengkhawatirkanmu. Dan aku tidak mungkin mengikuti lombanya, aku saja tidak berbakat dalam hal apapun.”
“Kamu harus memikirkannya, ini peluang besar. Kamu tidak tertarik? Ayolah Xaveraaaa..., ya?” Adnan terus memohon agar sahabatnya tersebut menuruti keinginannya.
“Ffffth, iya aku akan memikirkannya. Sebagai hadiahnya, jangan lupa membawa oleh-oleh untukku saat kau pulang nanti, oke?”
***
Xavera berjalan lemas sepulangnya dari sekolah. Sejak jam pelajaran kedua, pikirannya dipenuhi oleh permintaan Adnan tadi. Badannya tidak berenergi, bahkan guru sempat menyuruhnya untuk pergi ke UKS.
“Xavera!” Adnan berlari menghampiri Xavera yang berada di gerbang sekolah. “Jadi bagaimana? Kamu sudah memikirkannya?” tanya Adnan membuka pembicaraan dengan antusias.
Xavera menghela napas, “Adnaaan, bagaimana jika aku tidak bisa mengikutinya? Aku bahkan tidak tahu harus menulis apa..” ujarnya ragu. Rasa khawatir terpaut di wajahnya. “Ayolah, temanya bebas. Kamu bisa menuliskan tentang dirimu sendiri di tubuh orang lain, banyak ide yang bisa kamu pakai Xavera. Kamu pasti bisa!” Adnan berusaha meyakinkan sahabatnya agar mengikuti lomba tersebut.
“Aku akan memikirkannya lagi...” Senyum pahit tersimpul di wajah Xavera. Ia akan merasa tak enak hati jika tidak memenangkannya. Bagaimana dengan Adnan? Bukankah itu permintaan Adnan?
Adnan menepuk punggung Xavera, “Kamu bisa Xavera, aku yakin!” Adnan tersenyum menyemangati Xavera.
“Semangat!”
***
Hari Festival Sekolah Xavera tiba. Tahun ini akhirnya ia coba mengikuti lombanya tanpa Adnan yang sedang berada di luar kota.
Ah, benar. Tulisan Xavera yang dilombakan sudah ia kirim ke surel sekolahnya tadi malam. Hari ini hanya pengumuman pemenangnya saja, tetapi beberapa lomba lainnya diselenggarakan langsung hari ini.
Xavera berkeliling melihat stand karya dan makanan yang disiapkan setiap kelas. Sesekali ia mencicipi makanan di beberapa stand. Xavera juga menonton pertunjukan adik kelas serta lomba lainnya seperti tarik tambang dan lomba balap karung.
Saking asyiknya menikmati festival, ia sampai lupa bahwa sebentar lagi saatnya pengumuman dan pembagian hadiah kepada pemenang lomba-lomba yang diadakan. Xavera gelisah, khawatir tidak memenangkan lombanya. Jika seperti itu apakah sahabatnya akan kecewa pada Xavera?
Berbagai pengumuman pemenang telah dibacakan, tersisa pemenang lomba menulis cerita. Nama finalis diumumkan dari juara ketiga hingga pertama, Xavera terus berdoa agar namanya muncul.
“Juara ketiga ditempati oleh ananda Isabella Nufaira kelas IX-A dengan judul Kisah di
Negeri Sakura”, tepuk tangan menggelegar di aula sekolah. Gadis bernama Bella tersebut
menaiki panggung dan menerima penghargaannya.
“Juara kedua ditempati oleh ananda Arkanza Dewana Maheswara kelas VII-C dengan judul
Sang Prajurit Tak Berkuda”.
Oh tidak, namanya sama sekali belum dipanggil sang pewara. Xavera pasrah menunggu siapa yang akan menempati posisi juara pertama tahun ini.
“Dan juara pertama, selamat untuk ananda Xavera Sasikirana Antara kelas IX-B dengan judul
Aku dan Lembaran Masa Depan!” Xavera kaget ketika orang-orang bertepuk tangan dan
memperhatikannya. Xavera tidak percaya bahwa ia menempati juara pertama. Xavera tidak bisa berkata-kata ketika pewara memanggil namanya dan menyuruhnya untuk menaiki panggung untuk menerima hadiahnya.
Xavera kemudian mengambil foto bersama MC dan para panitia lomba. Senyum tulusnya menunjukkan kepuasan atas kerja kerasnya. Lebih hebatnya lagi, sekarang ia menemukan bakat dan impiannya untuk masa depan.
Xavera berterima kasih kepada Tuhan serta sahabat setianya Adnan yang telah membukakan gambaran masa depannya.
Adnan, I did it! terimakasih sudah meyakinkanku untuk mengikuti lomba ini. I win!
Xavera memutuskan impiannya untuk menjadi penulis terkenal sejak itu. Seperti namanya, Xavera Sasikirana Antara: akan bersinar layaknya bulan purnama di antara kilauan bintang.
Catatan Perbaikan:
1. Perhatikan penggunaan ejaan khususnya dalam penggunaan tanda baca pada kalimat langsung. (Cek di PUEBI)
2. Hindari penggunaan repetisi/pengulangan kata dalam beberapa kalimat berdampingan. 3. Perbanyak penguasaan kosakata/diksi agar bahasa yang dikemas lebih variatif. (Akses www.sinonimkata.com untuk pencarian tesaurus/persamaan kata)
4. Hati-hati dengan penggunaan konjungsi intrakalimat yang tidak boleh digunakan di awal kalimat; dan, tetapi, dst.
5. Coba berlatih membuat adegan ending/akhir cerita lebih logis dan tetap 'wah' dibanding konflik utama. Misal: karena tokoh Xavera baru pertama kali mencoba ikut lomba baiknya tidak langsung dibuat juara 1 agar ada perjuangan lebih dari tokoh yg diceritakan.