12
BAB II
KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN & ANALISIS
A. Kerangka Teori 1. Pendaftaran Tanah
a. Pengertian Tanah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan pengertian mengenai tanah, yaitu permukaan bumi atau lapisan bumi yang diatas sekali. Pengertian tanah diatur dalam pasal 4
UUPA dinyatakan sebagai berikut.1
Atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam ha katas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama sama dengan orang yang lain serta badan hukum.
Dengan demikian, yang dimaksud istilah tanah dalam pasal diatas ialah permukaan bumi.2
Dalam hukum tanah negara-negara dipergunakan apa yang disebut asas accessie atau asas “pelekatan”. Maka asas pelekatan, yakni bahwa bangunan-bangunan dan benda-benda/tanaman yang
1 Supriadi, Hukum Agraria, Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 3.
2 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang pokok
13
terdapat diatasnya merupakan satu kesatuan dengan tanah, serta
merupakan bagian dari tanah yang bersangkutan.3
b. Pengertian Pendaftaran Tanah
Pendaftaran Tanah di Indonesia adalah pendaftaran tanah hukum (rechtskadaster)4, guna Menjamin kepastian hukum dari hak-hak atas tanah, di satu pihak UUPA mengharuskan pemerintah untuk mengadakan pendafratan tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia, dan di lain pihak UUPA mengharuskan para pemegang hak yang bersangkutan untuk mendaftarkan hak-hak atas
tanahnya.5 Pendaftaran tanah ini diselenggarakan dengan
mengingat kepentingan serta keadaan negara dan masyarakat, keperluan lalu-lintas sosial dan ekonomi dan
kemungkinan-kemungkinannya dalam bidang personil dan peralatannya.6
Secara etimologi atau secara umum, Boedi Harsono menyatakan bahwa Pendaftaran tanah adalah suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan oleh negara/pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di
3 Supriadi, op.cit.
4 A.P. Palindungan, Pedoman Pelaksanaan UUPA dan Tatacara Pejabat Pembuat Akta Tanah,
Bandung: Alumni, 1982, hlm. 18.
5 Hasan Wargakusumah, Hukum agrarian I buku panduan mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, hlm. 80.
14
wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda-buktinya
dan pemeliharaannya.7
c. Asas-Asas Pendaftaran Tanah
Asas merupakan fundamen yang mendasari terjadinya sesuatu dan merupakan dasar dari suatu kegiatan, hal ini berlaku pula pada pendaftaran tanah. Oleh karena itu, dalam pendaftaran tanah ini terdapat asas yang harus menjadi patokan dasar dalam melakukan pendaftaran tanah.8 Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui bahwa pendaftaran tanah didasarkan pada asas-asas:9
a. Asas sederhana
Asas sederhana dalam pendaftaran tanah dimaksudkan agar ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama para pemegang hak atas tanah.
b. Asas aman
7 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang pokok
agrarian, isi dan pelaksanaannya, Jilid 1, Jakarta: Djimbatan, 2008, hlm. 72.
8 Supriadi, Hukum agrarian, Jakarta: Sinar Grafika, 2016, hlm.164. 9 Christina Tri Budhayati, Op.cit.
15
Asas ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam pendaftaran tanah perlu dilaksanakan dengan teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum.
c. Asas terjangkau
Agar pendaftaran tanah dapat terjangkau oleh pihak-pihak yang
memerlukan dengan memperhatikan kebutuhan dan
kemampuan bagi mereka yang termasuk golongan ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjangkau oleh pihak yang memerlukan.
d. Asas mutakhir
Data yang tersedia dalam pendaftaran tanah haruslah menunjukkan keadaan yang mutakhir. Oleh karena itu perlu diikuti kewajiban mendaftar dan mencatat perubahan yang terjadi dikemudian hari. Dengan ini diharapkan bawa informasi yang dicatat dalam pendaftaran tanah adalah informasi yang terakhir baik mengenai subyek maupun obyeknya. Data yang teesimpan di kantor pencatatan diharapkan sesuai dengan data yang ada dilapangan.
16
Bahwa data yang dicatat adalah data yang terakhir yang sesuai dengan kenyataan yang ada dilapangan. Oleh karena itu masyarakat yang setiap saat memerlukan data mengenai sebidang tanah cukup mencari informasi ke kantor pendaftaran. d. Tujuan Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan kepastian hak atas tanah itu bersifat rechtskadaster dan meliputi kegiatan-kegiatan:10
a. Pengukuran, perpetaan (lebih tepat pemetaan), dan pembukuan tanah;
b. Pendaftaran hak-hak tersebut;
c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
Sejalan dengan asas yang terkandung dalam pendaftaran tanah, maka tujuan yang ingin dicapai dari adanya pendaftaran tanah disebut diatur lebih lanjut pada pasal 3 PP Nomor 24 Tahun 1997, dinyatakan pendaftaran tanah bertujuan:11
a. Untuk memberikan kepastian hukum dari perlindungan hukum kepada pemegang ha katas suatu bidang tanah,
10 Hasan Wargakusumah, op.cit. 11 Supriadi, op.cit.
17
satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satua-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;
c. Untuk terselenggaranya administrasi pertanahan. e. Kegiatan Pendaftaran Tanah
Pokok-pokok penyelenggaraan pendaftaran tanah bisa dilihat dalam ketentuan Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 dan Pasal 8 PP No. 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.12
Jika dicermati maka kegiatan atau tugas pendaftaran tanah dilakukan minimal ada 6 (enam) langkah, yaitu sebagai berikut:13
1) Tugas Pengukuran, pemetaan, dan penerbitan surat ukur; 2) Penerbitan sertipikat hak atas tanah yang berasal dari:
o konversi dan penegasan atas tanah bekas hak-hak lama dan milik adat;
12 Samun Ismaya, Hukum Administrasi Pertanahan, Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm. 101. 13 Ibid
18
o surat keputusan pemberian hak atas tanah; o penggantian karena hilang atau rusak.
3) Pendaftaran balik nama karena peralihan hak (jual-beli, hibah, waris, lelang, tukar-menukar, inbreng dan merger) 4) Pendaftaran hak tanggungan (Pembebanan hak)
5) Penerbitan surat keterangan pendaftaran tanah (SKPT) 6) Pemeliharaan data, dokumen/warkah, dan infrastruktur
pendaftaran tanah.
Inti dari kerangka kerja pendaftaran tanah meliputi prinsip-prinsip dasar kerja sebagai berikut:14
1) Pemberian status hukum dari tanah dan hak-hak atas tanah. Dengan dilaksanakannya pemdaftaran tanah maka sudah barang tentu juga diberikan status hak pada tanah tersebut sesuai dengan hak yang dimohon.
2) Perlindungan penggunaan atau pengaturan pemanfaatan tanah (land tenure)15
Yang dimaksud dengan land tenure adalah kegiatan aktivitas fungsi hak tanah bagi pemiliknya, sering disebut pemungsian dari peruntukkan tanah dalam kegiatan sehari-hari dari pemiliknya, dimana fokus
14 Ibid 15 Ibid
19
kegiatan sehari-hari dari pemiliknya, dimana fokus kegiatan bukan pada haknya tetapi pada fungsi haknya.
Jika dilihat dari sudut lamd tenure-nya, maka hak milik lebih sempurna dibanding dengan hak atas tanah lainnya (HGU, HGB, Hak Pakai, Hak Sewa) oleh karena hak milik dapat digunakan untuk segala macam kegiatan asal tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3) Pendaftaran akta dan haknya (deed regisration dan title regisration)
Pendaftaran tanah dalam balik nama (continous recording) merupakan kegiatan dari pendaftaran akta dan pendaftaran haknya. Untuk terjadinya kegiatan ini ada tindakan/perbuatan hukum sebelumnya yang dilakukan. Tindakan seperti ini disebut tindakan privat yang kemudian dilakukan dengan pembuatan akta (deeds) oleh PPAT dan PPAT disini jelas tugasnya sebagai pembantu tugas badan pertanahan.
4) Ajudikasi pendaftaran tanah
Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data
20
fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa objek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya. 5) Pembatasan atas status hak (boundary)
Hak-hak atas tanah yang diberikan terbatas pada hak-hak yang sudah ditentukan dalam peraturan perundangan. Kewenangan atas pemberian hak tertentu tidak dapat melampaui kewenangan yang sudah diberikan oleh undang-undang. Disini terlihat bahwa hak milik merupakan hak yang paling sempurna dibanding dengan
hak-hak lainnya. Pemanfaatan hak milik bisa
dipergunakan untuk apa saja sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan hukum seperti fungsi sosial, rencana tata ruang dan tata guna tanah dimana tanah itu berada.
6) Survey Cadastral
Berdasarkan PMA/KBPN No. 2 Tahun 1998 ditetapkan bahwa suveyor cadastral dapat dilakukan oleh surveyor berlisensi. Surveyor cadastral adalah seorang yang mempunyai keahlian dibidang pengukuran dan pemetaan kadasteral dan mempunyai kemampuan mengorganisasikan pekerjaan pengukuran dan pemetaan kadasteral tertentu dalam rangka pendaftaran tanah, baik sebagai usaha pelayanan
21
masyarakat sendiri maupun sebagai pegawai badan hukum yang berusaha di bidang penukuran dan pemetaan.
7) Penciptaan informasi tanah (land parcel information) Dengan adanya informasi tentang tanah yang sudah terekam dalam buku tanah, sangat bermanfaat baik bagi pemilik, pemerintah maupun bagi stakeholder yang
menginginkan pengembangan tanah itu dimasa
mendatang. Informasi fisik maupun informasi yuridis akan dapat ditingkatkan menjadi informasi geograficical, dan dikembangkan menjadi sistem informasi yang
disebut Geographical information system (GIS),
yang akan memberikan semua informasi mengenai tanah dan rencana pemanfaatannya bila akan dikembangkan oleh negara nantinya.
2. Kesadaran Hukum Masyarakat a. Pengertian Kesadaran Hukum
Kesadaran hukum pada dasarnya merupakan suatu konsepsi
yang abstrak.16 Satjipto Rahardjo memberikan pengertian
kesadaran hukum sebagai kesadaran masyarakat untuk menerima dan menjalankan hukum sesuai dengan rasio pembentukannya.17
16 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, Malang: UMM Press, 2009.
hlm. 34.
22
Mertokusumo memberikan pengertian kesadaran hukum sebagai kesadaran tentang apa yang seyogyanya dilakukan atau perbuat atau seyogyanya tidak dilakukan atau perbuat terutama terhadap orang lain.18 Kedua pengertian itu dirumuskan secara berbeda akan tetapi keduanya melihat pada aspek pelaksanaan atau penggunanya.19
Sosiologi hukum sangat berperan dalam upaya sosialisasi hukum demi untuk meningkatkan kesadaran hukum yang positif, baik dari warga masyarakat secara keseluruhan, maupun dari kalangan penegak hukum. Sebagaimana diketahui bahwa kesadaran hukum
ada dua macam:20
a. Kesadaran hukum positif, identik dengan ‘Ketaatan Hukum’;
b. Kesadaran hukum negatif, identic dengan
‘Ketidaktaatan Hukum’.
Jadi, istilah “Kesadaran Hukum” digunakan oleh para ilmuan sosial untuk mengacu ke cara-cara dimana orang-orang memaknakan hukum dan institusi-institusi hukum, yaitu,
18 Mertokusumo, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangan Di Indonesia Sejak 1942 dan
Apakah Kemanfaatanya bagi Kita Bangsa Indonesia, Yogyakarta: Disertasi, Universitas Gajah
Mada, 1981, hlm. 3.
19 Muslan Abdurrahman, op.cit
20 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Penelitian (Judicial Prudence),
23
pemahaman-pemahaman yang memberikan makna kepada
pengalaman dan tindakan orang-orang.21
Soerjono soekamto mengemukakan empat unsur kesadaran hukum yaitu:22
a. Pengetahuan tentang hukum b. Pengetahuan tentang isi hukum c. Sikap hukum
d. Pola perilaku hukum
Dengan demikian, Kesadaran hukum pada hakikatnya adalah sesuatu hal yang harus dimiliki manusia untuk melindungi dari keharusan hukum positif [garis bawah dari penulis].
b. Kepatuhan Hukum
Kepatuhan seseorang terhadap hukum seringkali dikaitkan dengan persoalan-persoalan diseputar kesadaran hukum seseorang tersebut. Dengan lain perkataan, kesadaran hukum menyangkut masalah apakah ketentuan hukum tertentu benar-benar berfungsi atau tidak dalam masyarakat.23
21 ibid 22 ibid
24
Simposium Nasional dengan tema kesadaran hukum masyarakat dalam masa transisi yang dilaksanakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) di Jakarta pada tahun 1975 dalam kesimpulannya menyatakan bahwa kesadaran hukum itu mencakup tiga hal yaitu:24
1) Pengetahuan terhadap Hukum 2) Penghayatan fungsi hukum, dan 3) Ketaatan terhadap hukum
Berdasarkan simposium di atas, memperlihatkan bahwa salah satu untur dalam proses agar orang sadar hukum adalah adanya pengetahuan terhadap hukum. Kata “sadar” mengandung pengertian “tahu dan memahami”. Dengan demikian mengetahui dan memahami suatu hukum merupakan unsur penting dalam proses pentaatan terhadap hukum tersebut. Kesadaran hukum merupakan hasil dari serangkaian proses hubungan yang saling berkaitan antara ketiga unsur tadi. Orang harus mengetahui hukum, kemudian
memahami hukum, dan akhirnya mentaati hukum tersebut.25
B. Hasil Penelitian
24 ibid 25 ibid
25
1. Gambaran Pihak-Pihak atau Mereka yang Belum Mensertipikatkan Tanah
a. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian di RW 002 Desa Sumberjosari ini dipilih dengan alasan terdapat bidang tanah yang belum disertipikatkan atau tidak sesuai dengan hukum positif terbanyak di desa Sumberjoari.26
Luas wilayah desa sumberjosari mencapai 1,345,000 Ha. Luas tersebut meliputi sawah 97,08 Ha, daratan 606,078 Ha,
perumahan 192,07 Ha dan rawa non irigasi 87,08 Ha.27
b. Jumlah Bidang Tanah
Desa Sumberjosari memiliki 6274 bidang tanah pajak [garis bawah istilah masyarakat] dengan luas tanah 6.803.486 M2, luas
bangunan 858 M2 dan pokok ketetapan sebanyak Rp. 194.737.305,-
. pada obyek tersebut terdapat 3.750 bidang tanah yang sudah bersertipikat, meliputi 1.500 (23,91%) bidang yang sudah disertipikatkan secara mandiri dan pada program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) berhasil menerbitkan 2.250 (35,86%) lembar sertipikat. Sedangkan bidang tanah pajak yang belum
26 Wawancara dengan Bapak Markam selaku KA.UR.TU&UMUM Desa Sumberjosari tanggal 10
mei 2019
27 Wawancara dengan Bapak Markam selaku KA.UR.TU&UMUM Desa Sumberjosari tanggal 10
26
disertipikatkan terdapat 2.524 bidang (40,23%).28 Hal ini dibuktikan pada tabel 1 pada lampiran.
c. Rekapitulasi penduduk Desa/Kelurahan Sumberjosari
Rekapitulasi jumlah penduduk Desa Sumberjosari,
Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah terdapat 11 RW dengan jumlah penduduk 13.875 jiwa yang terdiri dari 6.990 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 6.885 jiwa berjenis kelamin perempuan, hal ini dibuktikan pada tabel 2 pada lampiran.
Berdasarkan jenis kelamin di Desa Sumberjosari ini menunjuk 1 (satu) lokasi yang menjadi fokus penelitian ini. Bapak Markam selaku Ka. UR. TU & UMUM Desa Sumberjosari menyatakan RW 002 di desa Sumberjosari jumlah penduduk terbanyak yang belum memiliki sertipikat, sehingga dapat mewakili Desa Sumberjosari.
d. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini menurut bapak Markam selaku Ka. UR. TU & UMUM desa Sumberjosari menjelaskan bahwa pemilik tanah yang belum bersertipikat di desa Sumberjosari, RW 002 merupakan
28 Wawancara dengan Bapak Markam selaku KA.UR.TU&UMUM Desa Sumberjosari tanggal 10
27
RW paling banyak bidang tanah yang belum bersertipikat,29 RW 002 terdapat 377 bidang tanah yang belum bersertipikat, pengambilan sampel dalam penelitian ini berjumlah 76 responden (20%).
1) Rekapitulasi Jumlah Penuduk RW 002
Rekapitulasi jumlah penduduk RW 002 Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah terdapat 9 RT dengan jumlah penduduk 2.286 jiwa yang terdiri dari 1.146 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 1.140 jiwa berjenis kelamin perempuan, hal ini dibuktikan pada tabel 3 pada lampiran.
2) Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usia
Berdasarkan usia, responden untuk dijadikan penelitian yaitu penduduk RW 002 desa Sumberjosari mayoritas berusia dari 41-50 tahun, yaitu sebanyak 27 jiwa dengan presentase sebesar 35,53%. Responden berusia 20-30 tahun sebanyak 12 jiwa (15,79%), responden berusia 31-40 tahun sebanyak 18 jiwa (23,68%), responden berusia 51-60 tahun sebanyak 13 jiwa (17,11%), dan responden berusia lebih dari 60 tahun
29 Wawancara dengan Bapak Markam selaku KA.UR.TU&UMUM Desa Sumberjosari tanggal 10
28
sebanyak 6 jiwa (7,89%), hal ini dibuktikan pada tabel 4 pada lampiran.
3) Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan Pendidikan, responden untuk dijadikan penelitian yaitu penduduk RW 002 desa Sumberjosari mayoritas memiliki Pendidikan Lulus SMP/Sederajad, yaitu sebanyak 28 jiwa dengan presentase sebesar 36,85%. Responden tidak tamat SD
berjumlah 11 jiwa (14,57%), responden lulus
SD/Sederajad berjumlah 16 jiwa (21,05%), responden lulusan SMA/Sederajad berjumlah 21 jiwa (27,63%), responden lulusan Perguruan Tinggi berjumlah 0 jiwa (0%), hal ini dibuktikan pada tabel 5 pada lampiran.
4) Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Berdasarkan pekerjaan, responden untuk dijadikan penelitian yaitu penduduk RW 002 desa Sumberjosari mayoritas memiliki pekerjaan petani, yaitu sebanyak 31 jiwa dengan pesentase sebesar
40,79%. Responden dengan pekerjaan PNS
29
wiraswasta berjumlah 15 (19,74%), responden pegawai swasta berjumlah 26 jiwa (34,21%) dan responden ibu rumah tangga berjumlah 4 jiwa (5,26%), hal ini dibuktikan pada tabel 6 pada lampiran.
5) Karakteristik Responden Berdasarkan Cara
Mendapatkan Tanah
Berdasarkan cara mendapatkan tanah, responden untuk dijadikan penelitian yaitu penduduk RW 002 desa Sumberjosari mayoritas cara mendapatkan tanah dengan hibah, yaitu sebanyak 36 jiwa dengan presentase sebanyak 47,37%, responden cara mendapatkan tanah dengan jual-beli sebanyak 19 jiwa (25%), dan responden cara mendapatkan tanah dengan warisan sebanyak 21 jiwa (27,63%). Hal ini dibuktikan pada tabel 7 pada lampiran.
6) Karakteristik Responden Terhadap Pengetahuan
Sertipikat Tanah
Berdasarkan Pengetahuan responden untuk dijadikan penelitian yaitu penduduk RW 002 desa Sumberjosari mayoritas tidak mengerti tentang penyuluhan sertipikat,
30
yaitu sebanyak 31 jiwa dengan presentase sebanyak 40,79%, responden yang sangat mengerti tentang penyuluhan sertipikat sebanyak 0 jiwa (0%), responden yang mengerti tentang penyuluhan sertipikat sebanyak 26 jiwa (34,21%), dan responden yang hanya mengerti tentang penyuluhan sertipikat sebanyak 19 jiwa (25%). Hal ini dibuktikan pada tabel 8 pada lampiran.
e. Kesadaran Hukum responden diukur dari 4 indikator yang dikemukakan Soerjono Soekamto
Untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum masyarakat desa Sumberjosari dalam mensertipikatkan tanah, penulis menggunakan indikator kesadaran hukum yang dikemukakan oleh Soerjono Soekamto, Yaitu (1) Pengetahuan Tentang Hukum; (2) Pemahaman Tentang Isi Hukum; (3) Sikap Hukum; dan (4) Pola
Perilaku Hukum30
1) wawancara responden terhadap pengetahuan hukum
Pengetahuan hukum terhadap adanya peraturan hukum yang mengatur tentang pensertipikatan tanah diteliti melalui 7 pertanyaan yang diberikan kepada 76 responden. Terdapat 4
31
pernyataan yaitu sangat mengerti, mengerti, hanya mengerti dan tidak mengerti.
Kesadaran hukum responden terhadap pengetahuan hukum memiliki karakteristik yang lemah. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 10 pada lampiran.
Kesadaran hukum responden terhadap pengetahuan hukum mayoritas menyatakan hanya mengerti yaitu dengan nilai 221 (41,54%), 212 (39,85%) responden menyatakan mengerti, 94 (17,67%) responden menyatakan tidak mengerti dan 5 (0,94%) responden menyatakan sangat mengerti.
2) Wawancara responden terhadap pemahaman hukum
Pemahaman hukum terhadap adanya peraturan hukum yang mengatur tentang pensertipikatan tanah diteliti melalui 7 pertanyaan yang diberikan kepada 76 responden. Terdapat 4 pernyataan yaitu sangat paham, paham, hanya paham dan tidak paham.
Kesadaran hukum responden terhadap pengetahuan hukum memiliki karakteristik yang sangat lemah. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 11 pada lampiran.
Kesadaran hukum responden terhadap pemahaman hukum mayoritas menyatakan tidak paham yaitu dengan nilai 186 (34,96%), 175 (32,89%) responden menyatakan paham, 166
32
(31,21%) responden menyatakan hanya paham dan 5 (0,94%) responden menyatakan sangat paham.
3) Wawancara responden terhadap sikap hukum
Sikap hukum masyarakat terhadap mensertipikatkan tanah diteliti melalui 6 pertanyaan yang diberikan kepada 76 responden. Terdapat 4 pernyataan yaitu sangat mudah, mudah, susah dan bisa diusahakan.
Kesadaran hukum responden terhadap pengetahuan hukum memiliki karakteristik yang lemah. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 12 pada lampiran.
Kesadaran hukum responden terhadap sikap hukum mayoritas menyatakan bisa diusahakan yaitu dengan nilai 248 (54,39%), 110 (24,12%) responden menyatakan susah, 95 (20,83%) responden menyatakan mudah dan 3 (0,66%) responden menyatakan sangat mudah.
4) Wawancara responden terhadap pola perilaku hukum
Pola perilaku hukum masyarakat terhadap mensertipikatkan tanah diteliti melalui 6 pertanyaan yang diberikan kepada 76 responden. Terdapat 4 pernyataan yaitu sangat setuju, setuju, hanya setuju dan tidak setuju.
33
Kesadaran hukum responden terhadap pengetahuan hukum memiliki karakteristik yang kuat. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 13
Kesadaran hukum responden terhadap pola perilaku hukum mayoritas menyatakan setuju yaitu dengan nilai 302 (66,23%), 67 (14,69%) responden menyatakan hanya setuju, 54 (11,84%) responden menyatakan sangat setuju dan 33 (7,24%) responden menyatakan tidak setuju.
2. Gambaran Faktor Yang Menyebabkan Masyarakat Belum Mensertipikatkan Tanah
Kesadaran hukum masyarakat dalam mensertipikatkan tanah di Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah tergolong lemah dikarenakan pengetahuan,
pemahaman dan sikap hukum masyarakat tersebut dalam
mensertipikatkan tanah lemah, hal tersebut merupakan faktor penghambat yang menyebabkan masyarakat tidak mensertipikatkan tanah. Akan tetapi pola perilaku hukum masyarakat terhadap mensertipikatkan tanah kuat, hal tersebut merupkan faktor pendukung masyarakat terhadap mensertipikatkan tanah.
34
Faktor pendukung dari kesadaran hukum masyarakat dalam mensertipikatkan tanahnya adalah tingginya kemauan masyarakat untuk mensertipikatkan tanah miliknya, hal ini dapat dilihat dalam kuisioner terhadap indikator pola perilaku hukum, mayoritas sikap responden setuju dan antusias terhadap program Proses Pendaftaran Tanah Sitemasis Lengkap (PTSL). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 13 pertanyaan ke 5 pada lampiran. Diketahui bahwa 47 responden bersikap setuju, 23 responden bersikap sangat setuju, 5 responden menanggapi hanya setuju dan 1 responden menanggapi tidak setuju. Sebanyak 58 responden menanggapi bahwa program tersebut dalam biaya kepengurusan sertipikat lebih murah, sebanyak 10 responden menanggapi bahwa program tersebut merupakan program dari pemerintah yang mewajibkan pemilik tanah harus memiliki sertipikat, dan sebanyak 8 responden menanggapi bahwa program terebut kurang merata dan tidak menjangkau seluruh masyarakat yang belum memiliki sertipikat.
b. Faktor Penghambat
Faktor penghambat yang terjadi adalah sulitnya masyarakat merealisasikan keinginannya untuk mensertipikatkan tanahnya, hal tersebut dikarenakan tidak ada kantor Notaris PPAT di desa Sumberjosari, serta letak Kantor Pertanahan yang jauh (berjarak kurang lebih 21 KM) yang menjadi faktor penghambat [garis bawah
35
dari penulis]. Masyarakat tidak pahaman peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah merupakan faktor penghambat selanjutnya, responden mayoritas tidak mengerti peraturan dan isi dari peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 10 pertanyaan ke 1 pada lampiran. Selain itu, biaya tergolong mahal juga menjadi faktor penghambat responden, responden mengetahui besar biaya kepengurusan sertipikat tanah melalui masyarakat lain yang telah mensertipikatkan tanahnya (secara mandiri) melalui jasa layanan kepengurusan sertipikat tanah (calo). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 12 pertanyaan ke 4 pada lampiran. Sikap terhadap biaya kepengurusan sertipikat, diketahui bahwa 51 responden bersikap bisa diusahakan, 20 responden bersikap susah, 4 responden menanggapi mudah dan 1 responden menanggapi sangat mudah. Sebanyak 25 responden menanggapi biaya kepengurusan tanah antara 3 dampai 4 juta rupiah, sebanyak 23 responden menanggapi biaya kepengurusan tanah lebih dari 4 juta, sebanyak 18 responden menanggapi biaya kepengurusan tanah antara 2 sampai 3 juta rupiah, dan 10 responden menanggapi biaya kepengurusan tanah melalui program Proses Pendaftaran Tanah Sitemasis Lengkap (PTSL) antara 500 sampai 800 ribu rupiah. Responden terhadap biaya tersebut menyatakan bahwa biaya dalam kepengurusan tanah dikategorikan mahal.
36
Berdasarkan tanggapan responden mengenai biaya
mensertipikatkan tanah, responden mengetahui biaya tersebut dari masyarakat lain yang sudah mempunyai sertipikat. sedangkan, dalam mensertipikakan tanah, besar biaya dapat dilihat dari luas bidang tanah yang akan disertipikatkan. Berikut adalah 3 jenis tarif resmi membuat sertipikat tanah secara mandiri:31
1) Biaya Pengukuran
Rumus menghitung berapa besaran biaya
pengukuran sebagai berikut jika luas Tanah 1 Hektar atau 1.000 M2:
Tarif NP: (Luas x Rp. 160) + Rp. 100.000,- Tarif P : (Luas x Rp. 40) + Rp. 100.000,- 2) Biaya Pemeriksaan Tanah
Rumus menghitung berapa besaran biaya
pemeriksaan sebagai berikut jika luas Tanah 1 Hektar atau 1.000 M2:
Tarif NP: (Luas x Rp. 40) + Rp. 350.000,- Tarif P : (Luas x Rp. 20) + Rp. 350.000,- 3) Pendaftaran Sertipikat
37
Biaya pendaftaran sertipikat tanah sebesar Rp. 50.000,-. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 14 pada lampiran.
Selain 3 jenis tarif membuat sertipikat tanah secara mandiri, terdapat biaya lain-lain yang harus dikeluarkan, seperti mengurus syarat-syarat mensertipikatkan tanah, biaya transportasi, biaya konsumsi dan biaya akomodasi.
3. Gambaran Upaya yang Dilakukan Kantor Pertanahan Nasional atau Pejabat Terkait
Upaya yang dilakukan Kantor Pertanahan dan Pejabat Terkait terhadap meningkatkan kesadaran masyarakat desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, provinsi Jawa Tengah dengan mensosialisasikan program Proses Pendaftaran Tanah Sitemasis Lengkap (PTSL). Pejabat terkait mensosialisasikan program tersebut melalui pidato Kepala Desa di acara hajatan masyarakat, pejabat terkait mensosialisasikan program PTSL agar dimanfaatkan masyarakat sebagai kesadaran hukum dalam mensertipikatkan tanah dikarenakan biaya yang murah dan tata cara yang mudah selain itu pejabat terkait membantu terhadap proses pensertipikatan tanah melalui program PTSL. Program
38
tersebut berhasil meningkatkan presentase bidang tanah
bersertipikat di RW 002 desa Sumberjosari. Melalui program Proses Pendaftaran Tanah Sitemasis Lengkap (PTSL) berhasil menerbitkan sebanyak 2.250 lembar sertipikat di desa Sumberjosari.32 Angka tersebut tidak dapat memenuhi seluruh bidang tanah yang belum bersertipikat di Desa Sumberjosari.
C. Analisis
1. Pihak-Pihak atau Mereka yang Belum Mensertipikatkan Tanah
pihak-pihak atau mereka ini dilihat dari umur, pekerjaan dan pendidikannya dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Petani
Pihak-pihak atau mereka yang bekerja sebagai petani mayoritas berumur antara 51 sampai 60 tahun sebanyak 9 responden dengan Pendidikan tidak tamat Sekolah Dasar sebanyak 4 responden, tamat Sekolah Dasar sebanyak 3 responden dan tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 2 responden.
Pihak-pihak atau mereka yang berumur antara 41 sampai 50 tahun sebanyak 7 responden dengan
39
Pendidikan tidak tamat Sekolah Dasar sebanyak 1 responden, tamat Sekolah Dasar sebanyak 2 responden, tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 3 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 31 sampai 40 tahun sebanyak 6 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Dasar sebanyak 1 responden, tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 4 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 20 sampai 31 tahun sebanyak 5 responden dengan Pendidikan, tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 3 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 2 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur diatas 60 tahun sebanyak 4 responden dengan Pendidikan tidak tamat Sekolah Dasar sebanyak 4 responden. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 9 pada lampiran.
b. Wiraswasta
Pihak-pihak atau mereka yang bekerja sebagai wiraswasta mayoritas berumur antara 31 sampai 40
40
tahun sebanyak 7 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 2 responden dantamas Sekolah Menengah Atas sebanyak 5 responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 41 sampai 50 tahun sebanyak 6 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 2 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 4 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 20 sampai 30 tahun sebanyak 2 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 2 Responden. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 9 pada lampiran.
c. Pegawai Swasta
Pihak-pihak atau mereka yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas berumur antara 41 sampai 50 tahun sebanyak 13 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Dasar sebanyak 8 responden dan tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 5 responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 51 sampai 60 tahun sebanyak 2 responden dengan Pendidikan tidak tamat Sekolah Dasar sebanyak 2 responden.
41
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 31 sampai 40 tahun sebanyak 4 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 3 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 20 sampai 31 tahun sebanyak 4 responden dengan Pendidikan, tamat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 2 responden dan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 2 Responden. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 9 pada lampiran.
d. Ibu Rumah Tangga
Pihak-pihak atau mereka yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga berumur antara 20 sampai 30 tahun sebanyak 1 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas sebanyak 1 responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 31 sampai 40 tahun sebanyak 1 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden.
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 41 sampai 50 tahun sebanyak 1 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden.
42
Pihak-pihak atau mereka berumur antara 51 sampai 60 tahun sebanyak 1 responden dengan Pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas Sebanyak 1 Responden. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 9 pada lampiran.
2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Masyarakat Tidak Mendaftarkan Tanah
Untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum masyarakat, penulis menggunakan indikator kesadaran hukum yang dikemukakan oleh Soerjono Soekamto, Yaitu (1) Pengetahuan Tentang Hukum; (2) Pemahaman Tentang Isi Hukum; (3) Sikap Hukum; dan (4) Pola
Perilaku Hukum33
Berkaitan hal tersebut, apabila teori diatas diaplikasikan ke dalam faktor-faktor tingkat kesadaran hukum masyarakat dapat diukur dengan indikator-indikator yang ditetapkan, antara lain: faktor pengetahuan hukum, faktor pemahaman hukum, faktor sikap hukum, serta faktor pola perilaku hukum.
a. Faktor Pengetahuan Tentang Hukum
Dalam penelitian ini di peroleh data bahwa pengetahuan responden terhadap mensertipikatkan tanah 41,54% menyatakan hanya mengerti, maksud hanya mengerti dalam penelitian ini
43
adalah pengetahuan hukum masyarakat yang tau adanya peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah, akan tetapi tidak mengerti isi peraturan tersebut (contoh: Masyarakat tau adanya peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah, namun tidak bisa menyebutkan peraturan baik nomor sampai tahun). 39,85% responden menyatakan mengerti, maksud mengerti dalam penelitian ini adalah pengetahuan hukum masyarakat yang tau dan mengerti peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah, akan tetapi tidak mengerti isi peraturan tersebut (contoh: masyarakat tau peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah yang diatur dalam UUPA). 17,67% menyatakan tidak mengerti, maksud tidak mengerti dalam penelitian ini adalah pengetahuan hukum masyarakat yang tidak tau baik peraturan dan isi yang mengatur tentang sertipikat tanah (contoh: masyarakat tidak tau adanya peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah). 0,96% responden menyatakan sangat mengerti, maksud sangat mengarti dalam penelitian ini adalah pengetahuan hukum mayarakat yang tau dan mengerti peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah (contoh: masyatakat tau peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah yang diatur dalam UUPA dan PP No. 24 Tahun 1997, masyarakat juga memahami apa yang diatur didalam peraturan tersebut seperti
44
tatacara mensertipikatkan tanah sampai dengan syarat-syarat dalam mensertipikatkan tanah). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 10 pada lampiran. Jadi, jika dilihat dari data kuisioner tersebut, pengetahuan hukum masyarakat Desa Sumberjosari lemah.
Kesadaran hukum masyarakat Desa Sumberjosari terhadap pengetahuan hukum lemah dikarenakan berbagai penyebab, mulai dari kurangnya edukasi terhadap peraturan tentang sertipikat tanah sehingga berdampak pada pengetahuan
terhadap syarat-syarat mensertipikatkan tanah, biaya
mensertipikatkan tanah sampai waktu dan tempat untuk mensertipikatkan tanah.
b. Faktor Pemahaman Hukum
Dalam penelitian ini di peroleh data bahwa pemahaman hukum responden terhadap mensertipikatkan tanah 34,96% menyatakan tidak paham, maksud tidak paham dalam penelitian ini adalah pemahaman hukum masyarakat yang tidak memahami peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah (contoh: Masyarakat tidak tau cara mensertipikatkan tanah). 32,89% responden menyatakan paham, maksud paham dalam penelitian ini adalah pemahaman hukum masyarakat yang memahami peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah dan memahami
45
tata cara mensertipikatkan tanah (contoh: masyarakat memahami tata cara dalam mensertipikatkan tanah). 31,89% menyatakan hanya paham, maksud hanya paham dalam penelitian ini adalah pemahaman hukum masyarakat yang tidak memahami peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanag, akan tetapi memahami tata cara mensertipikatkan tanah (contoh: masyarakat memahami tata cara dalam mensertipikatkan tanah melalui informasi dari masyarakat lain yang bidang tanahnya bersertipikat). 0,94% responden menyatakan sangat paham, maksud sangat paham dalam penelitian ini adalah pemahaman hukum mayarakat yang memahami tata cara mensertipikatkan tanah sesuai dengan peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah (contoh: masyarakat memahami tata cara dalam mensertipikatkan tanah sesuai isi peraturan yang mengatur tentang sertipikat tanah). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 11 pada lampiran. Jadi, jika dilihat dari data kuisioner tersebut, pemahaman hukum masyarakat Desa Sumberjosari sangat lemah.
Kesadaran hukum masyarakat Desa Sumberjosari terhadap pemahaman isi hukum sangat lemah dikarenakan berbagai penyebab, dikarenakan di Desa Sumberjosari belum ada Kantor Notaris/PPAT sehingga tidak mengetahui dalam
46
mensertipikatkan tanah harus melampirkan akta otentik PPAT sehingga berdampak terhadap pemahaman petunjuk mekanisme dalam mensertipikatkan tanah sampai formulir yang tertera dalam mensertipikatkan tanah.
c. Faktor Sikap Hukum
Dalam penelitian ini di peroleh data bahwa sikap hukum responden terhadap mensertipikatkan tanah 54,39% menyatakan bisa diusahakan, maksud bisa diusahakan dalam penelitian ini adalah sikap hukum masyarakat yang masih mengusahakan dalam tata cara mensertipikatkan tanah (contoh: Masyarakat masih mengusahakan terhadap mensertipikatkan tanahnya). 24,12% responden menyatakan susah, maksud susah dalam penelitian ini adalah sikap hukum masyarakat yang kesulitan dalam tata cara mensertipikatkan tanah (contoh: masyarakat masih kesulitan terhadap tata cara mensertipikatkan tanahnya). 20,83% menyatakan mudah, maksud mudah dalam penelitian ini adalah sikap hukum masyarakat mudah terhadap tata cara mensertipikatkan tanah (contoh: masyarakat terhadap tata cara mensertipikatkan tanah mudah). 0,66% responden menyatakan sangat mudah, maksud sangat mudah dalam penelitian ini adalah sikap hukum mayarakat mudah dan bisa melaksanakan terhadap tatacara mensertipikatkan tanah (contoh: masyatakat terhadap
47
tatacara mensertipikatkan tanah mudah dan dapat mengurus sertipikat). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 12 pada lampiran. Jadi, jika dilihat dari data kuisioner tersebut, sikap hukum masyarakat Desa Sumberjosari sangat lemah.
Kesadaran hukum masyarakat Desa Sumberjosari terhadap sikap hukum sangat lemah dikarenakan berbagai penyebab, mulai dari pengetahuan hukum yang lemah, pemahaman isi hukum yang lemah sehingga berdampak terhadap sulitnya mensertipikatkan tanah, sistem administrasi dan pelayanan pejabat terkait dalam mensertipikatkan tanah susah sampai biaya mensertipkatkan tanah tergolong mahal dan jarak kantor pertanahan jauh.
d. Faktor Perilaku Hukum
Dalam penelitian ini di peroleh data bahwa perilaku hukum responden terhadap mensertipikatkan tanah 66,23% menyatakan setuju, maksud setuju dalam penelitian ini adalah perilaku hukum masyarakat sejutu terhadap kewajiban bidang tanah harus bersertipikat (contoh: Masyarakat setuju terhadap kewajiban pemilik bidang tanah harus memiliki sertipikat). 14,69% responden menyatakan hanya setuju, maksud hanya setuju dalam penelitian ini adalah perilaku hukum masyarakat setuju terhadap kewajiban bidang tanah harus bersertipikat, akan
48
tetapi kurang antusias terhadap kewajiban tersebut (contoh: masyarakat setuju terhadap kewajiban pemilik bidang tanah harus memiliki sertipikat, akan tetapi ketika ada program dari pemerintah terhadap sertipikat tanah masyarakat tidak antusias). 11,84% menyatakan sangat setuju, maksud sangat setuju dalam penelitian ini adalah perilaku hukum masyarakat setuju dan antusias terhadap kewajiban bidang tanah harus bersertipikat (contoh: masyarakat setuju terhadap kewajiban pemilik bidang tanah harus memiliki sertipikat, masyarakat juga antusias ketika ada program dari pemerintah terhadap sertipikat tanah). 7,24% responden menyatakan tidak setuju, maksud tidak setuju dalam penelitian ini adalah perilaku hukum mayarakat tidak setuju terhadap kewajiban pemilik bidang tanah harus memiliki sertipikat, masyarakat juga tidak antusias ketika ada program dari pemerintah terhadap sertipikat tanah (contoh: masyarakat tidak setuju terhadap kewajiban pemilik bidang tanah harus memiliki sertipikat, ketika ada program dari pemerintah terhadap sertipikat tanah tidak antusias). Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 13 pada lampiran. Jadi, jika dilihat dari data kuisioner tersebut, perilaku hukum masyarakat Desa Sumberjosari kuat.
49
Kesadaran hukum masyarakat Desa Sumberjosari terhadap pola perilaku hukum kuat dikarenakan berbagai penyebab, keinginan masyarakat Desa Sumberjosari terhadap sertipikat tanah tinggi sehingga masyarakat desa tersebut sangat antusias pada proses Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), keinginan mensertipikatkan tanah juga tinggi apabila ada sosialisasi dari pejabat terkait secara detail.
Meski pola perilaku hukum masyarakat Desa Sumberjosari kuat. Banyak bidang tanah di Desa tersebut belum sertipikat. hal ini dikarenakan pengetahuan hukum lemah, pemahaman dan sikap hukum sangat lemah. Selain itu, kuota pada program Proses Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) terbatas yang menyebabkan tidak dapat memenuhi semua masyarakat Desa Sumberjosari dalam mensertipikatkan tanah.
3. Upaya yang Dilakukan Kantor Pertanahan Nasional atau Pejabat Terkait
Upaya Kantor Pertanahan Nasional atau Pejabat Terkait dalam hal kesadaran masyarakat mensertipikatkan tanah yaitu dengan melaksanakan sosialisasi model layanan sertipikat bagi masyarakat pada setiap hajatan masyarakat, mensosialisasikan program Proses Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap di Desa
50
Sumberjosari. Upaya tersebut dapat meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dalam mensertipikatkan tanah. Dapat dilihat bahwa keseluruhan jawaban terhadap program Proses Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) paling banyak setuju. Hal ini menunjukkan sosialisasi Kantor Pertanahan dan pejabat terkait terhadap program tersebut dapat dikategorikan baik.
Hal tersebut diatas dapat dikatakan upaya kantor pertanahan atau pejabat terkait terhadap kesadaran masyarakat dalam mensertipikatkan tanah dengan mensosialisasikan program Proses Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tergolong berhasil.