• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Kinerja Teknologi Streaming HTTP Pseudostreaming dan DASH pada Jaringan Area Kampus Gedung D dan E FILKOM UB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perbandingan Kinerja Teknologi Streaming HTTP Pseudostreaming dan DASH pada Jaringan Area Kampus Gedung D dan E FILKOM UB"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Brawijaya

10130

Perbandingan Kinerja Teknologi Streaming HTTP Pseudostreaming dan

DASH pada Jaringan Area Kampus Gedung D dan E FILKOM UB

Sarah Fitriannisa Ruzis

Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected]

Abstrak

Perkembangan video streaming awalnya disampaikan kepada pengguna tanpa dapat ditonton secara bersamaan dengan proses unduh. Yang selanjutnya berkembang sehingga pengguna dapat menonton video yang diminta secara bersamaan dengan proses pengunduhan metode ini dinamakan progressive

download namun belum mendukung kemampuan playback. Selanjutnya terdapat packet loss yang

menutupi kekurangan metode progressive download tersebut. Yang ketiga terdapat adaptive

streaming, yang mampu menyesuaikan kualitas pemutaran video sesuai dengan kondisi jaringan

pengguna.

Pada penelitian ini dilakukan implementasi metode streaming packet loss dan DASH, diawali dengan cara melakukan enkode terhadap berkas video sumber kedalam berbagai macam kualitas dan bitrate. Untuk DASH (Dynamic Adaptive Streaming over HTTP) perlu dilakukan segmentasi dan pembangkitan berkas manifest. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kinerja dari kedua streaming packet loss dan adaptive streaming yang dilakukan dengan melakukan pengamatan parameter QoS (Quality of Service) di sisi jaringan dan penilaian subjektif yang selanjutnya dilakukan analisis dengan metode paired sample t-test.

Kata kunci: Pseudostreaming, MPEG-DASH, Video Streaming, Quality of Service Abstract

In its development, video streaming originally delivered videos to users without them being able to watch the videos while they were being downloaded. In a further development, users can watch a video they request while the video is in the progress of being downloaded, this method is called progressive download which does not support playback capabilities. To make up for this shortfall, the next streaming technology was developed, called packet loss, which enables seeking in the video timeline. The third streaming method that followed is called adaptive streaming, wherein this method is able to adjust the quality of video playback according to the network conditions of the user.

In this research, we were implementing packet loss and DASH as streaming methods began by the encoding of a source video file with various levels of quality and bitrates. For DASH (Dynamic Adaptive Streaming over HTTP), segmentation and manifest file setup needed to be performed. The aim of this research is to compare the performance of two streaming methods, packet loss and adaptive streaming, which is conducted by observing the parameter of QoS (Quality of Service) on the network side and subjective assessment, which is then analyzed using the method of paired sample t-test.

Keywords: Pseudostreaming, MPEG-DASH, Video Streaming, Quality of Service

1. PENDAHULUAN

Streaming adalah salah satu cara menyampaikan konten multimedia berupa video/audio (Zenhadi, 2013). Pertumbuhan dan permintaan terhadap video streaming

meningkat untuk beragam kebutuhan. Peningkatan permintaan video streaming itu

didukung dengan banyaknya ketersediaan konten video dan perangkat yang mampu menampilkan video dengan kualitas baik. Dalam beberapa tahun kedepan, 90% dari konten yang dikirim melalui internet adalah berupa video dan akan ditonton lebih dari 1 milyar orang. Kepopuleran video streaming juga ditunjukkan bahwa Youtube, salah satu

(2)

penyedia layanan video streaming terbesar, memilik jumlah user sebanyak 1.8 milyar yang setiap bulannya log in pada layanan ini (Gilbert, 2018).

Teknologi penyampaian data video ke klien atau video streaming awal mulanya menggunakan protokol RTSP (Real-time

Transport Protocol) yang memiliki

karakteristik transmisi real-time sehingga tidak ada proses transmisi ulang jika terdapat paket yang hilang, oleh karena itu proses streaming dapat terhambat.

Untuk menanggulangi kekurangan tersebut maka diciptakan streaming dengan menggunakan HTTP sebagai protokol komunikasi data video. Yang pertama adalah

progressive download dimana kualitas dan

ukuran bitrate video ditetapkan saat klien meminta berkas pertama kali dan klien tidak perlu menunggu berkas diunduh secara keseluruhan untuk dapat menikmati video tersebut (Summers, 2012). Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan progressive

download dibandingkan dengan layanan

streaming berbasis RTSP (Pereira, 2014).

Teknologi streaming yang kedua adalah

packet loss. Pseudostreaming memiliki kemampuan untuk mencari pada timeline ke posisi yang belum diunduh oleh player (Roman10, 2011). Fitur ini diperlukan bagi sebagian besar pengguna video karena umumnya pengguna hanya ingin melihat sekilas video tersebut atau pengguna sudah pernah melihat beberapa menit sebelumnya, sehingga pengguna dapat langsung melihat ke menit setelahnya. Teknologi streaming yang ketiga adalah, Dynamic Adaptive Streaming over

HTTP, atau DASH. DASH mengirimkan berkas

video menuju klien dengan cara mendeteksi dan mengadaptasi kapasistas jaringan yang dimiliki oleh klien (Michalos, 2012). DASH berbeda dengan packet loss. Selain karena mampu menyesuaikan dengan kapasitas jaringan, DASH juga mengirimkan video yang diminta klien dalam bentuk chunk dimana setiap chunk yang dikirimkan memiliki kualitas yang berbeda sesuai kapasitas jaringan yang dimiliki klien (Stockhammer, 2012).

Dilihat dari karakteristik yang dimiliki oleh ketiga teknologi streaming, DASH diprediksi akan lebih unggul jika diterapkan di area kampus FILKOM UB, dimana memiliki kondisi bandwidth yang fluktuatif yang dapat digambarkan melalui banyaknya pengguna yang bertambah atau berkurang seiring

berjalannya waktu seperti yang dapat dilihat di Gambar.1

Gambar 1. Trafik pengguna jaringan Wifi FILKOM UB

Gambar di atas menggambarkan tingkat kepadatan pengguna jaringan wifi di area kampus FILKOM UB jelang waktu 2 minggu. Dapat dilihat bahwa terjadi penurunan dan peningkatan diwaktu-waktu tertentu. Ini juga menunjukkan bahwa pengguna jaringan FILKOM akan mendapatkan alokasi bandwidth yang fluktuatif pula.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu, peneliti ingin melakukan analisis kinerja dari teknologi streaming packet loss dan DASH. Karena packet loss dan DASH merupakan teknologi streaming paling terkini yang masih banyak digunakan dan dinikmati pengguna saat ini. Penggunaan packet loss terlihat ketika pengguna lebih memilih kualitas tertentu saat itu saja, tanpa peduli dengan kondisi fluktuatif jaringan saat itu. Bisa saja pengguna lebih memilih kualitas paling rendah atau paling tinggi disesuaikan dengan tujuan dari streaming tersebut. Selain itu, penelitian dan pengembangan layanan packet loss dan DASH pernah dilaksanakan didalam lingkup kampus oleh masing-masing peneliti tanpa dilaksanakan penelitian komparatif dikarenakan keterbatasan resource pada waktu itu.

Rumusan masalah yang dapat ditarik dari pendahuluan di atas adalah bagaimana mengimplementasikan packet loss dan DASH sebagai layanan packet loss dan bagaimanakah perbandingan kinerja keduanya pada jaringan area kampus gedung D dan E FILKOM UB. 2. LANDASAN KEPUSTAKAAN

Penelitian yang pertama adalah penelitian yang ditulis oleh R. Pereira dan E.G. Pereira berjudul Dynamic Adaptive Streaming over

HTTP and Progressive Download :

Comparative Considerations. Simulasi dilakukan menggunakan 3 berkas video dengan durasi yang berbeda-beda.

Peneliti

menganalisis pengiriman video dengan

(3)

kerugian dari progressive download karena

proses pengiriman akan berjalan lama,

karena ukuran dan kualitas video ditentukan

saat

klien

mengirim

HTTP

GET

pertamakali

. Sedangkan DASH akan selalu beradaptasi dan memberikan video dengan

bitrate dan kualitas yang sesuai. Pereira juga

menemukan bahwa video dengan durasi yang lebih singkat akan lebih menguntungkan jika menggunakan progressive dowload. Progressive Download dan DASH bisa

sama-sama menguntungkan jika preferensi pengguna terhadap layanan video streaming bisa diketahui dan mekanisme adaptasi DASH bisa dikembangkan lebih lagi.

Penelitian yang kedua berjudul “Dynamic

Adaptive Streaming over HTTP Dataset” yang

ditulis oleh Lederer (2012). Penelitian ini menjelaskan dataset yang digunakan untuk simulasi layanan media streaming berbasis DASH. Karena penilit-peneliti sebelumnya menggunakan dataset yang dibuat sendiri. Dan jika ada peneliti yang ingin mengembangkan akan susah mendapatkan dataset yang sesuai. Paper ini juga menjelaskan mengenai evaluasi dari perbedaan panjang segmen, pengaruh pengaturan server HTTP, dan keuntungan dari ukuran segmen yang lebih pendek.

Penelitian yang ketiga ditulis oleh Bazly (2015) dengan judul Evaluasi Dynamic Adaptive Streaming Over HTTP (DASH) Untuk

Layanan Mulimedia Video Streaming Pada Kondisi Bandwidth yang Beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mengimplementasikan layanan video streaming berbasis dash dan bagaimanakah kinerjanya didua lingkungan yakni pada lingkungan jaringan existing dan pada jaringan test-bed. Parameter kinerja yang diuji terdapat 2 yakni dari sisi QoS jaringan dan Qos pengguna. Pada sisi jaringan peneliti menggunakan parameter throughput dan round trip-time. Sedangkan pada sisi pengguna peneliti menghitung kualitas tampilan video yakni PSNR (Peak

Signal-to-noise Ratio) dan MOS (Mean Opinion Score).

Pada perhitungan QoS jaringan nilai throughput menunjukkan bahwa dash mampu mengatasi dan beradaptasi pada jaringan yang fluktuatif. Peniliti juga menyimpulkan bahwa semakin kecil nilai segmentasi pada dash makan akan semakin besar nilai QoS yang didapat.

2.1. Protokol HTTP

HTTP adalah protokol yang mampu berperan sebagai media penjembatan agar data yang terdapat pada server dapat dikirimkan melalui World Wide Web (WWW) menuju klien yang ada diseluruh dunia. HTTP terdiri dari 2 pesan, yaitu Response dan Request. HTTP GET adalah metode yang paling banyak digunakan dalam Request HTTP, GET bertugas untuk mendapatkan alamat (URL) dari sebuah berkas dalam suatu server. Setelah pesan tersebut diterima maka server akan membalasnya dengan mengirimkan pesan response.

2.2. Pseudostreaming

HTTP packet loss, sesuai namanya, bukanlah streaming yang sebenarnya, tetapi berbentuk progressive download yang memungkinkan pengguna untuk mencari bagian pada video yang belum diunduh. Protokol yang digunakan adalah HTTP, yang dikombinasikan dengan sebuah mekanisme pada player

sehingga pengguna dapat melakukan pemilihan acak pada setiap bagian timeline setiap saat (Rambla,2011).

Dalam menyediakan layanan video

streaming berbasis packet loss menggunakan

HTML5 berkas video diletakkan dalam tag <video> dikarenakan video sudah menjadi tag yang sering digunakan seperti tag lainnya <p> atau <div>. Seperti tag lainnya tag video juga sepenuhnya mampu menggunakan CSS sehingga tampilan layanan pemutar video

streaming dapat disesuaikan style dan ukurannya.

Pada gambar 2 dibawah dijelaskan contoh komunikasi antara klien dan server dalam skenario playback dalam pemutaran video berbasis packet loss. Diawali dari klien yang memasukkan alamat URL packet loss melalui HTTP Request yang selanjutnya akan direspon oleh web server dengan HTTP Response dan mengirimkan sejumlah data termasuk halaman awal web berupa berkas html. Lalu klien memulai pemutaran video dengan menekan tombol play atau melakukan klik pada container yang berisi video pada halaman awal. Selanjutnya server mengirimkan sejumlah besaran data video yang pada sisi klien terjadi pemutaran, proses tersebut terjadi berulang-ulang sampai proses pemutaran berakhir (end) atau terjadi interfensi dari klien bisa berupa melakukan jeda, mencari pada timeline, dan pemutaran. Ketika klien mencari satu titik

(4)

didalam timeline pemutaran video, maka pemutar video akan melakukan timeupdate lalu menjalankan berkas video diawali dari waktu yang dikirimkan klien tadi. Timeupdate juga dijalankan setiap ketika proses pemutaran selesai, dilakukan jeda, atau saat terjadi

buffering.

Gambar 2. Contoh Komunikasi Klien-Server pada

Pseudostreaming

2.3. DASH

DASH termasuk skema hybrid, yaitu gabungan dari mekanisme tradisional streaming

dan progressive download. DASH

menggunakan protokol transport, tetapi tidak melakukan unduh berkas secara utuh. Ketika klien meminta berkas, secara bertahap range

byte diunduh dan dibagi menjadi chunk berkas

video. Klien membuat request melalui protokol HTTP dengan method GET. Method GET inilah yang menspesifikasikan kualitas dan waktu mulai fragment video yang direquest (Pereira, 2014).

Dalam DASH, video dikompresi ke dalam beberapa versi, dengan masing-masing versinya mempunyai bitrate dan level kualitas video

yang berbeda (Kurose, 2012 ).

Berikut akan dijelaskan singkat mengenai ruang lingkup dari dash.js, seperti yang terlihat pada gambar 3, konten akan ditangkap dan disimpan ke dalam sebuah web server dengan menggunakan protokol HTTP lalu dikirimkan menuju klien. Setelah klien menerima berkas MPD, akan dilakukan pembacaan berkas tersebut oleh DASH adapter untuk mengetahui informasi tentang berbagai macam representasi video, durasi video, durasi setiap segmennya, ukuran bitrate, dan detail streaming yang disediakan server.

Gambar 3. Ruang lingkup dash.js

Selanjutnya ditangani oleh schedule controller, untuk memulai proses unduh

segmen video, schedulecontroller meminta

ABRcontroller. Di dalam ABRcontroller sudah

disimpan berbagai macam aturan adaptasi

bitrate berdasarkan kondisi jaringan klien.

Setelah menjalankan salah satu aturan dan mendapatkan bitrate mana yang harus diminta ke server lalu menginstruksikan fragmentloader untuk mengunduh segmen yang sesuai dengan

bitrate tersebut. Segmen lalu dikirimkan dan

diterima oleh buffercontroller dan meneruskannya ke buffer MSE. Setelah buffer

MSE diperbarui, schedule controller akan

mengulangi proses perhitungan bitrate untuk segmen selanjutnya.

Berikut akan dijelaskan secara singkat aturan-aturan yang tersimpan dalam

ABRController tersebut diantaranya terdapat ThroughputRule, aturan ini melihat dan

menghitung nilai throughput yang sebelumnya untuk melakukan prediksi. Ketika klien memilih bitrate yang lebih baik dan level buffer naik maka klien tidak akan memilih bitrate yang lebih rendah sampai nilai buffer tersebut turun.

Yang kedua, menggunakan BolaRule, aturan ini menggunakan level buffer sebagai

(5)

acuan untuk menentukan bitrate yang sesuai. Ketika buffer berada dilevel rendah maka klien akan meminta segmen video dengan bitrate yang rendah dan ketika level buffer tinggi maka klien akan meminta segmen video dengan

bitrate yang tinggi pula.

Faktor-faktor lain diantaranya ketika terjadi rebuffering di sisi klien maka dilakukan InsufficientBufferRule, dimana aturan ini akan mengirimkan bitrate paling rendah untuk segmen selanjutnya. Yang kedua terdapat aturan ketika klien dalam kondisi jaringan yang sangat buruk dan sering terjadi peningkatan dan penurunan bandwidth, maka diputuskan untuk mencegah server mengirim bitrate yang lebih tinggi selama 8 segmen. Yang ketiga terdapat aturan yang juga mencegah server untuk mengirimkan bitrate yang tingi dikarenakan keterbatasan klien seperti media tidak dapat di-render dengan baik.

2.4. Metadata

Metadata adalah informasi terstruktur yang menggambarkan, menjelaskan, melokasikan suatu data sehingga memudahkan pencarian, penggunaan, dan pengaturan sumber informasi. Metadata sering disebut data tentang data atau informasi tentang informasi. Contohnya, berkas gambar memiliki metadata yang berisikan informasi mengenai ukuran berkas, kedalaman warna, resolusi, kapan dan dimana dibuat, dan lain-lain. Metadata direkam komputer secara otomatis saat sebuah berkas dibuat, sehingga bisa diketahui kapan berkas dibuat, oleh siapa, ukuran dan ekstensinya. Metadata dapat disusun secara manual (Niso, 2011).

3. METODOLOGI PENELITIAN

Tahapan analisis kebutuhan ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan apa saja dari segi perangkat keras maupun lunak agar dapat membuat layanan video streaming

menggunakan mekanisme packet loss dan DASH yang dilanjutkan pada tahap pengujian yang akan dilaksanakan di area kampus FILKOM UB yang selanjutnya dapat menghasilkan analisis kinerja dari kedua metode tersebut.

Yang pertama adalah dataset, yaitu sekumpulan data yang disiapkan dan diletakkan kedalam server packet loss maupun DASH. Untuk server packet loss disiapkan sejumlah 5 video berkas dengan bermacam bitrate dan resolusi. Dalam server DASH disediakan 5

berkas video, 1 berkas audio, dan 1 berkas MPD.

Berkas-berkas yang telah disebutkan di atas didapatkan dari satu sumber video, yakni video yang berjudul Cosmos Laundromat yang didapatkan secara gratis dan dapat diunduh di web resmi blender.org. Cosmos Laundromat adalah salah satu project terbuka dari perusahaan blender yang dapat diakses oleh siapa saja.

Agar sistem dapat menyediakan layanan video streaming berbasis packet loss dan DASH maka satu berkas video tadi dilakukan enkode terlebih dahulu. Proses enkoding terdiri dari penggandaan berkas video agar memiliki berbagai macam resolusi dan bitrate, proses tersebut menggunakan bantuan aplikasi ffmpeg. Selanjutnya dilakukan pembangkitan berkas DASH yang menggunakan bantuan aplikasi

MP4Box dan x264. Proses tersebut akan

menghasilkan berkas video dan audio berbentuk

chunk atau segmen dan satu berkas mpd.

Selanjutnya berkas-berkas yang telah digandakan dan memiliki resolusi yang bervariasi serta berkas video berbentuk chunk dan satu berkas mpd tadi diletakkan di folder server packet loss dan DASH.

Selain dataset, hal lain yang dibutuhkan adalah jaringan. Agar penelitian berjalan dengan baik dan sesuai rencana, maka dibutuhkan jaringan yang memadai agar klien dapat menerima berkas video dengan lancar. Jaringan juga dibutuhkan saat peniliti melaksanakan pengujian dan pengamatan terhadap layanan video streaming berbasis

packet loss dan DASH.

Jaringan yang digunakan untuk melaksanakan pengujian merupakan jaringan

existing yang berada di area kampus FILKOM

UB

Web server berguna untuk menyimpan dataset yang telah disiapkan. Dataset tersebut berupa berkas-berkas video/audio serta berkas MPD. Web server yang digunakan adalah Apache Web Server.

Jika di sisi server membutuhkan sebuah web server, maka klien membutuhkan masing-masing sebuah player untuk setiap mekanisme video streaming yang diteliti agar video yang diterima dapat diputar dengan baik. Pemutar video yang digunakan bernama plyr.

Langkah selanjutnya dilaksanakan pengujian. Layanan video streaming packet loss dan DASH akan diuji dengan menggunakan

(6)

FILKOM UB. Dalam pengujian ini didapatkan kinerja packet loss dan DASH di dua kondisi yaitu kondisi saat kampus dalam keadaan sepi dimana bandwidth yang didapat akan lebih stabil, dan dikondisi kedua saat kampus dalam keadaan ramai dimana bandwidth yang didapat fluktuatif.

Gambar 4. Topologi jaringan yang digunakan untuk pengujian

Gambar 4 di atas menjelaskan skenario pengujian layanan streaming packet loss dan DASH, pengujian dilakukan dengan menggunakan jaringan yang tersedia di area kampus FILKOM UB. Pengujian akan dilaksanakan 2 kali masing-masing di Gedung D, dan E dalam kondisi lingkungan yang ramai dan sepi dan dilakukan selama 2 minggu. Terlihat pada gambar 4 bahwa perangkat yang digunakan sebagai server memiliki alamat IP 10.34.18.160. Dari perangkat tersebut video akan dikirimkan secara simultan ke 4 perangkat klien yang terletak masing-masing pada gedung D dan gedung E.

Bersamaan dengan pelaksanaan pemutaran video streaming, dilakukan pula penangkapan paket jaringan menggunakan aplikasi wireshark, dan juga akan dilaksanakan pemberian nilai berdasarkan pengamatan subjektif disetiap akhir pemutaran video pada masing-masing kondisi. Metode yang digunakan untuk pengambilan nilai subjektif adalah Simultaneous Double Stimulus for

Continous Evaluation.

Setelah pengujian, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil pengujian tersebut. Analisis dilakukan dengan mengukur kinerja layanan video

streaming menggunakan aplikasi Wireshark

dengan parameter yang dievaluasi adalah

packet loss RTT dan packet loss.

Dalam penelitian ini digunakan analisis

paired sample t test adalah uji beda

dua sampel berpasangan. Dalam penelitian ini peneliti akan menguji perbandingan kinerja

packet loss dan dash pada jaringan area kampus

gedung D dan gedung E FILKOM UB dengan

menggunakan program SPSS versi 23. 4. HASIL DAN ANALISIS

Pada bab hasil dan analisis ini akan dijabarkan mengenai hasil yang didapatkan dari implementasi sistem video streaming dengan teknologi packet loss dan DASH serta pengujian yang telah dilaksanakan sesuai skenario. Setelah dilakukan pengumpulan data dan pengamatan, maka dilakukan analisis untuk mengetahui kinerja layanan streaming terhadap nilai packet loss, dan packet loss.

4.1. Uji Coba Layanan Streaming di Area Gedung D

Packet loss merupakan banyaknya paket yang hilang selama terjadi proses transmisi data dari pengirim menuju penerima. Hilangnya paket tersebut dapat disebabkan karena

collision, penurunan sinyal dalam media

jaringan, serta kesalahan hardware pada jaringan. Terjadinya penurunan sebuah paket data akan berpengaruh terhadap semua aplikasi karena retransmisi akan mengurangi efisiensi jaringan kesuluruhan. Nilai satuan yang digunakan untuk mengukur banyaknya packet yang hilang adalah satuan persen (%). Semakin kecil persentase paket yang hilang dalam sebuah jaringan semakin baik pula kualitas layanan. Berikut adalah nilai Packet Loss pada saat sepi dan ramai di bulan Mei 2019:

Tabel 1. Nilai Rata-rata Packet Loss selama 2 Minggu Pengujian pada Gedung D

Packet loss (%) Pseudostreaming DASH

Sepi Ramai Sepi Ramai

0.046 0,6958 0,0921 0,5771 Berdasarkan tabel di atas diketahui nilai

packet loss teknologi streaming packet loss dan

DASH pada area kampus D FILKOM UB dapat dinyatakan sangat baik karena berada pada kategori kurang dari 1%.

Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel di atas perbandingan nilai packet loss

packet loss dan DASH saat sepi menunjukan

bahwa ada perbedaan nilai Packet loss yang tidak signifikan. Sedangkan perbandingan

Pseudostreaming nilai packet loss pada waktu

ramai dan DASH nilai packet loss pada waktu ramai menunjukan bahwa ada perbedaan nilai

packet loss yang tidak signifikan. Hal ini

(7)

dengan pengamatan nilai parameter packet loss dinilai tidak signifikan.

Parameter yang dihitung selanjutnya adalah

packet loss. Delay adalah lamanya waktu yang

dibutuhkan oleh sebuah paket sampai ke tujuan. Sama seperti packet loss, packet loss juga mempengaruhi kualitas layanan video

streaming. Berikut adalah Nilai RTT Delay

pada saat sepi dan ramai di bulan Mei 2019: Tabel 2. Nilai Rata-rata RTT Delay selama 2

minggu pengujian pada Gedung D RTT(ms)

Pseudostreaming Dash

sepi ramai sepi Ramai

0,299 4,976 33,377 67,742 Nilai RTT Delay teknologi streaming packet

loss dan DASH pada Area kampus D FILKOM

UB kategori sangat Bagus karena berada pada kategori sebesar 0 sampai dengan 150 ms dapat dinilai memiliki kualitas yang baik. Nilai RTT Delay teknologi streaming packet loss lebih baik dari pada DASH karena Nilai RTT Delay lebih kecil.

Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukan bahwa ada perbedaan nilai RTT

packet loss yang signifikan. perbandingan

kinerja dengan pengamatan nilai parameter

packet loss dinilai signifikan atau dengan kata

lain parameter packet loss bisa dijadikan acuan ketika membandingkan kinerja layanan vdeo

streaming disisi jaringan.

Dan berikut hasil hitung rata-rata nilai numerik yang diberikan oleh pengamat terhadap proses pemutaran video dengan metode packet loss dan DASH pada kondisi sepi dan ramai di Gedung D

Tabel 3. Nilai dari pengamatan Subjektif di Gedung D Nilai Rata-Rata Nilai Rata-Rata Pseudo streaming DASH Sepi 4,75 4,375 Ramai 2,875 3,625

Tabel di atas menjabarkan nilai yang dihasilkan melalui perhitungan rata-rata dari pengamatan subjektif disetiap pemutaran video

packet loss dan DASH. Pada kondisi sepi

pengamat memberikan penilaian yang lebih baik untuk pemutaran video packet loss daripada DASH ditunjukkan dengan angka 4,75 untuk packet loss dan 4,375 untuk DASH.

Kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa video yang diputar dengan packet loss dan dash memiliki kualitas video yang baik, pemutaran video bagus terdapat jeda tetapi masih sangat dapat diterima dengan baik dan dapat digolongkan kedalam kateori puas untuk pengalaman menonton. Sedangkan dalam kondisi ramai pengamat memberikan nilai yang lebih baik untuk pemutaran video DASH dengan nilai 3,625 dan 2,875 untuk packet loss. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penyesuaian kualitas video terhadap kondisi

bandwidth yang dimiliki oleh DASH dinilai

lebih unggul dan menguntungkan bagi pengamat dalam menonton. Angka 3,625 termasuk kedalam ketegori tingkat kepuasan menonton cukup puas dengan kualitas video cukup, terjadi jeda cukup sering dan mempengaruhi kelancaran. Sedangkan nilai 2,875 termasuk kedalam video buruk, pemutaran video tidak bagus dan banyak terjadi jeda dan sangat mengganggu kelancaran serta tingkat kepuasan menonton digolongan kedalam tidak puas.

Berdasarkan hasil pengolahan diketahui bahwa perbandingan nilai pada waktu sepi didapatkan nilai signifikansi 0,545 > 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan nilai dari pengamatan subjektif terhadap pemutaran video dengan metode

packet loss dan DASH pada kondisi sepi.

Sementara saat kondisi ramai nilai signifikansi 0,347 > 005, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil pengamatan pemutaran video streaming dengan

packet loss dan DASH pada kondisi ramai

4.2. Uji Coba Layanan Streaming di Area Gedung E

Tabel 4. Nilai Rata-rata Packet Loss selama 2 Minggu Pengujian pada Gedung D

Packet loss (%) Pseudostreaming Dash

Sepi Ramai Sepi Ramai

0,0248 0,1005 0,0075 0,0202 Nilai packet loss teknologi streaming packet

loss dan DASH pada Area kampus E FILKOM

UB kategori sangat Bagus karena berada pada kurang dari 1% layanan tersebut dapat dinilai baik dan memenuhi standar. Nilai packet loss teknologi streaming DASH lebih baik dari pada packet loss karena Nilai packet loss lebih

(8)

kecil.

Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukan bahwa perbandingan kinerja dengan pengamatan nilai parameter packet loss dinilai tidak signifikan atau dengan kata lain parameter packet loss tidak bisa dijadikan acuan ketika membandingkan kinerja layanan vdeo

streaming disisi jaringan (QoS jaringan).

Selanjutnya perhitungan parameter RTT Delay pada pengujian di Gedung E.

Tabel 5. Nilai RTT Delay selama 2 minggu pengujian pada Gedung E

RTT (ms)

Pseudostreaming Dash

Sepi Ramai Sepi Ramai

0,435 1,322 36,048 69,048 Nilai RTT Delay teknologi streaming packet

loss dan DASH pada Area kampus E FILKOM

UB kategori sangat baik karena berada pada kategori sebesar 0 sampai dengan 150 ms dapat dinilai memiliki kualitas yang baik. Nilai RTT Delay teknologi streaming packet loss lebih baik dari pada DASH karena Nilai RTT Delay lebih kecil.

Perbandingan kinerja (nilai RTT Delay)

Pseudostreaming dan DASH pada area

jaringan gedung E FILKOM UB menunjukan bahwa ada perbedaan nilai RTT Delay yang signifikan. perbandingan kinerja dengan pengamatan nilai parameter packet loss dinilai signifikan atau dengan kata lain parameter

packet loss bisa dijadikan acuan ketika

membandingkan kinerja layanan vdeo

streaming disisi jaringan (QoS jaringan).

Dan berikut hasil hitung rata-rata nilai numerik yang diberikan oleh pengamat terhadap proses pemutaran video dengan metode packet loss dan DASH pada kondisi sepi dan ramai di Gedung E.

Tabel 6. Nilai dari pengamatan subjektif pada Gedung E Nilai Rata-Rata Metode Pseudostreaming DASH Sepi 4 5 Ramai 4 4,3

Tabel di atas menjabarkan nilai yang dihasilkan melalui perhitungan rata-rata dari pengamatan subjektif disetiap pemutaran video

packet loss dan DASH. Pada kondisi sepi

pengamat memberikan penilaian yang lebih baik untuk pemutaran video DASH daripada

packet loss ditunjukkan dengan angka 4 untuk packet loss dan 5 untuk DASH. Nilai 4 untuk packet loss pada kondisi sepi tersebut

menunjukkan bahwa video yang diputar memiliki kualitas video yang baik, pemutaran video bagus terdapat jeda tetapi masih sangat dapat diterima dengan baik dan dapat digolongkan kedalam kateori puas untuk pengalaman menonton. Dan nilai 5 untuk DASH pada kondisi sepi berarti kualitas video sangat baik, pemutaran video sangat lancar dan tidak ada jeda.

Dan pada kondisi ramai pengamat memberikan nilai yang lebih baik untuk pemutaran video DASH dengan nilai 4,3 dan 4 untuk packet loss. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penyesuaian kualitas video terhadap kondisi bandwidth yang dimiliki oleh DASH dinilai lebih unggul dan menguntungkan bagi pengamat dalam menonton. Angka 4 termasuk kedalam ketegori tingkat kepuasan menonton puas, dengan kualitas video baik, pemutaran video bagus terdapat jeda tetapi masih dapat diterima dengan baik.

Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa perbandingan nilai subjektif pada waktu sepi didapatkan nilai signifikansi 0,034 < 0,05, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai pengamatan secara subjektif yang signifikan. Sementara pada kondisi ramai, didapatkan didapatkan nilai signifikansi 0,571 > 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilai yang signifikan dari hasil pengamatan secara subjektif pemutaran video dengan metode packet loss dan DASH pada kondisi ramai.

5. KESIMPULAN

Dari hasil implementasi dan pengujian serta analisis kinerja layanan video streaming berbasis packet loss dan dash pada jaringan area kampus gedung D dan E maka dapat disimpulkan bahwa

1. Kedua implementasi layanan video

streaming memerlukan suatu webserver

yang berguna untuk menyimpan berkas-berkas video dan audio. Kedua teknologi

streaming membutuhkan tahap enkoding

video guna memperoleh berkas video dengan berbagai macam resolusi dan

bitrate. Untuk DASH perlu dilakukan

segmentasi dan pembangkitan berkas manifest.

(9)

2. Kinerja dari kedua layanan streaming dari hasil pengujian yang dilaksanakan menggunakan jaringan area kampus gedung D dan E berdasarkan nilai packet

loss layanan pemutaran video berbasis packet loss dapat dinyatakan sangat baik

karena memiliki nilai sebesar kurang dari 1% disetiap kondisi sepi maupun ramai. 3. Kinerja dari kedua layanan streaming dari

hasil pengujian yang dilaksanakan menggunakan jaringan area kampus gedung D dan E berdasarkan nilai RTT

packet loss layanan pemutaran video

berbasis packet loss dapat dinyatakan sangat baik karena memiliki nilai sebesar kurang dari 150ms disetiap kondisi sepi maupun ramai.

4. Perbandingan kinerja layanan pemutaran video packet loss dan dash dengan menggunakan metode paired sample t-test menunjukkan bahwa kinerja packet loss lebih unggul daripada dash, dikarenakan nilai RTT packet loss yang lebih kecil dan didapatkan nilai signifikansi kurang dari 0.05 yang berarti parameter packet loss RTT dapat dijadikan acuan perbandingan kinerja QoS jaringan pada penelitian ini. 6. SUMBER PUSTAKA

Bazly, M. A., 2015. Evaluasi Dynamic Adaptive streaming Over HTTP (DASH) untuk layanan Multimedia Video Streaming pada Kondisi Bandwidth yang Beragam. S1. Jurusan Teknik Elektro. Universitas Udayana. Gilbert, Ben. 2018. YouTube now has over 1.8

billion users every month, within spittling distance of Facebook’s 2 billion. [online] Tersedia di : <https://www.businessinsider.in/YouTu be-now-has-over-1-8-billion-users- every-month-within-spitting-distance-of-Facebooks-2 billion/articleshow/64032773.cms> [Diakses 12 Juli 2018]

Gupita, P. N., 2013. Desain dan Implementasi Sistem Video On Demand (VOD) Berbasis Web Menggunakan HTTP

Pseudostreaming. S1. Program Studi

Teknik Informatika. Universitas Brawijaya.

Kurose, J. F., et al. 2012. Computer Networking : A Top-Dwons Approach Featuring the Internet, Sixth Edition.

Lederer, S., et al 2012. Dynamic Adaptive

streaming over HTTP Dataset.

Proceedings of the 3rd Multimedia

System Conference. ACM.

Michalos, M., et al. 2012. Dynamic Adaptive Streaming over HTTP. Journal of

Engineering Science and Technology Review

NISO Press. 2001. Understanding Metadata.

Bethesda: Niso Press

Pereira, R, et al. 2014 Dynamic Adaptive Streaming over HTTP and Progressive

download : Comparative

Considerations. International

Conference on Advanced Information

Networking and Applications

Workshops

Rambla. 2011. “State of Play : An Overview of

Streaming Protocols”. (online).

(http://www.rambla.be/state-play-overview-streaming-protocols, diakses tanggal 10 Mei 2016).

Roman10. 2011. “Video Delivery in HTTP”. (online).

(http://www.roman10.net/video-delivery-in-http/, diakses tanggal 9 Februari 2016)

Stockhammer, T., 2011. Dynamic Adaptive Streaming over HTTP: Standard and Designs Principles. Proceedings of the

second annual ACM confeerence on Multimedia systems. ACM.

Summers, J, et al. 2012. “To Chunk or not to

Chunk: Implications for HTTP Streaming

Video Server Performance”, Proceedings of NOSSDAV’12

Zenhadi. 2013. Video Streaming dengan HTML5 [online] Tersedia di:

<http://lecturer.eepis-its.edu/~zenhadi/kuliah/NGN/revisi201 3/Prakt1%20Video%20Streaming%20 %28HTML5%29.pdf> [Diakses 25 Juli 2019]

Gambar

Gambar 1. Trafik pengguna jaringan Wifi FILKOM  UB
Gambar 2. Contoh Komunikasi Klien-Server pada  Pseudostreaming
Gambar 4. Topologi jaringan yang digunakan untuk  pengujian

Referensi

Dokumen terkait

Essence Indonesia (minyak pala yang digunakan pada industri flavor) dan sisa penguapan yang lebih tinggi diduga disebabkan karena komposisi dan kandungan komponen

Hal ini menunjukkan bahwa semakin sesuai harga yang ditawarkan laptop merek Acer maka akan semakin tinggi juga keputusan pembelian dari konsumen untuk membeli laptop merek

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27/M-IND/ PER/7/2017 tentang Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kecil dan Industri Menengah melalui Program Restrukturisasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan tentang adanya kelainan foto rontgen dada pada pasien Tuberkulosis paru yang disertai Diabetes

Aktivitas yang diusulkan pada pendataan potensi dan peluang investasi di Kota Bandung memiliki 3 pengguna yang aktivitasnya diawali dengan Dinas Penanaman Modal

Dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana disebutkan bahwa ada dua pejabat yang berkedudukan sebagai

Artinya dengan kesabaran seseorang akan tetap menahan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji saat mendapatkan masalah, orang yang sabar dapat memahami bahwa

Menurut Middlebrook (dalam Badingah, 1993), hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah