KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah menolong dan memberkati kami menyelesaikan refarat ini. Tanpa pertolongan Dia mungkin menolong dan memberkati kami menyelesaikan refarat ini. Tanpa pertolongan Dia mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
kami tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik di RSUS Semarang. Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik di RSUS Semarang. Selain itu, penyusunan referat ini juga bertujuan agar penyusun lebih memahami mengenai Selain itu, penyusunan referat ini juga bertujuan agar penyusun lebih memahami mengenai Karsinoma Nasofaring.
Karsinoma Nasofaring.
Dalam penyusunan referat ini, Kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Dalam penyusunan referat ini, Kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
Oleh karena itu, pada kesempatkesempatan ini an ini kami menyamkami menyampaikan rasa terima paikan rasa terima kasih kepada dr. Djokokasih kepada dr. Djoko Pr
Praseasetytyo o AdAdi i N, N, SpSp. . THTHT T seselaklaku u pepembmbimimbibing ng kamkami, i, atatas as araarahahan n dadan n bibimbmbiningagan n dadalamlam penyu
penyusunan sunan referat ini.referat ini. Akhir kata, penyusu
Akhir kata, penyusun menyadari bahwa referat ini n menyadari bahwa referat ini masih jauh dari masih jauh dari sempursempurna, baik darina, baik dari pemikr
pemikran, an, pengepengetahuan, penyusunan bahasa, tahuan, penyusunan bahasa, maupumaupun n sistematiksistematika. a. Oleh Oleh karena karena itu, itu, kritik kritik dandan saran yang bersifat
saran yang bersifat membamembangun dari semua pihak ngun dari semua pihak yang membacyang membaca a referat ini referat ini sangat diharapkasangat diharapkann guna menjadi pelajaran bagi penyususn dalam menyusun referat di waktu yang akan datang. guna menjadi pelajaran bagi penyususn dalam menyusun referat di waktu yang akan datang. Dan semoga referat ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.
Dan semoga referat ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.
Semarang,
Semarang, Juni Juni 20122012
Penyusun Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Kar
Karsinosinoma ma NasoNasofarinfaring g disdisebaebabkabkan n oleoleh h mulmultifaktifaktortor. . SamSampai pai seksekaranarang g penpenyebyebabab pastinya belum jelas.
pastinya belum jelas. FaktoFaktor r yang berperan untuk terjadinya Karsinoma Nasofaring ini adalahyang berperan untuk terjadinya Karsinoma Nasofaring ini adalah fakt
faktor or makmakanaanan n sepeseperti rti menmengkogkonsunsumsi msi ikan asin, ikan asin, sedsedikit ikit memmemakaakan n saysayur ur dan dan buabuah h segasegar.r. Faktor lain adalah non-makanan, seperti debu, asap rokok, uap zat kimia, asap kayu bakar, dan Faktor lain adalah non-makanan, seperti debu, asap rokok, uap zat kimia, asap kayu bakar, dan asap
asap dupdupa a (ke(kemenmenyanyan). ). FakFaktor tor gengenetik etik jugjuga a dapdapat at memmempenpengargaruhi uhi terjterjadinadinya ya KarsKarsinoinomama Nasofarin
Nasofaring. Selain g. Selain itu terbukti itu terbukti juga infeksi juga infeksi virus Ebstein-Bavirus Ebstein-Barr rr dapat menyebadapat menyebabkan Karsinomabkan Karsinoma Nasofarin
Nasofaring. Hal g. Hal ini ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadkeberadaan aan protei-prprotei-protein latenotein laten pada
pada penderpenderita ita karsinomkarsinoma a nasofarinnasofaring. g. Pada Pada pendependerita rita ini, ini, sel sel yang yang terinfekterinfeksi si oleh oleh EBV EBV akanakan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan kel
kelangangsunsungan gan virvirus us diddidalam alam sel sel hosphospes. es. ProProtein tein latelaten n ini ini dapdapat at dipadipakai kai sebsebagaagai i petpetandandaa (marker) dalam mendiagnosa Karsinoma Nasofaring, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP-2A, dan (marker) dalam mendiagnosa Karsinoma Nasofaring, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP-2A, dan LM
LMP-2BP-2B. . Hal Hal ini ini dibdibuktuktikan ikan dendengan gan ditditemuemukankannya nya padpada a 5050% % seruserum m penpenderderita ita nasonasofarinfaringg LMP-1 sedangkan EBNA-1 dijumpai di dalam serum semua pasien Karsinoma Nasofaring. LMP-1 sedangkan EBNA-1 dijumpai di dalam serum semua pasien Karsinoma Nasofaring. Selain itu dibuktikan oleh hasil penelitian Khrisna dkk (2004) terhadap suku Indian asli bahwa Selain itu dibuktikan oleh hasil penelitian Khrisna dkk (2004) terhadap suku Indian asli bahwa EBV DNA didalam serum penderita Karsinoma Nasofaring dapat dipakai sebagai bio-marker EBV DNA didalam serum penderita Karsinoma Nasofaring dapat dipakai sebagai bio-marker pada ka
pada karsinoma rsinoma nasofarinasofaring primng primer.er.
Hubungan antara Karsinoma Nasofaring dan infeksi virus Ebstein-barr juga dinyatakan Hubungan antara Karsinoma Nasofaring dan infeksi virus Ebstein-barr juga dinyatakan ole
oleh h berberbagbagai ai penpeneliteliti i dari berbagdari berbagai ai bagbagian ian yang berbeyang berbeda da di di dundunia ia ini. Pada ini. Pada pasipasien en yanyangg Karsinoma Nasofaring dijumpai peninggian titer antibodi Anti-EBV (EBNA-1) di dalam serum Karsinoma Nasofaring dijumpai peninggian titer antibodi Anti-EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. EBNA-1 adalah
plasma. EBNA-1 adalah protein nuklear protein nuklear yang berperan yang berperan dalam mempertahankdalam mempertahankan an genom virus.genom virus. Huang dalam penelitiannya mengemukakan keberadaan 3EBV-DNA dan EBNA di dalam sel Huang dalam penelitiannya mengemukakan keberadaan 3EBV-DNA dan EBNA di dalam sel pende
penderita rita KarsinoKarsinoma ma NasofaringNasofaring. . Jadi Jadi oleh oleh karena karena didugdiduga a eratnya eratnya hubuhubungan ngan antara antara antiboantibodidi Anti-EBV dan faktor geetik dengan terjadinya Karsinoma Nasofaring, maka pada penelitian ini Anti-EBV dan faktor geetik dengan terjadinya Karsinoma Nasofaring, maka pada penelitian ini juga
juga melakumelakukan kan pemerikpemeriksaan saan serologserologi i yaitu yaitu antiboantibodi di anti-EBanti-EBV V (EBNA(EBNA-1) -1) pada pada pasien-ppasien-pasienasien yang telah di diagnosa menderita Karsinoma Nasofaring melalui pemeriksaan histopatologi yang telah di diagnosa menderita Karsinoma Nasofaring melalui pemeriksaan histopatologi sebelumnya dan pasien yang di periksa ini adalah pasien dengan etnis batak dengan tujuan sebelumnya dan pasien yang di periksa ini adalah pasien dengan etnis batak dengan tujuan untuk mengetahui apakah Karsinoma Nasofaring pada etnis batak juga disebabkan oleh infeksi untuk mengetahui apakah Karsinoma Nasofaring pada etnis batak juga disebabkan oleh infeksi EBV
EBV. . KarsKarsinoinoma ma NasNasofarofaring ing sangsangat at sulisulit t diddidiagniagnosa, osa, hal hal ini ini munmungkigkin n disedisebabbabkan kan karekarenana letaknya sangat tersembunyi, dan juga pada keadaan dini pasien tidak datang utnuk berobat. letaknya sangat tersembunyi, dan juga pada keadaan dini pasien tidak datang utnuk berobat. Biasanya pasien baru datang berobat bila gejala sudah mengganggu dan tumor tersebut telah Biasanya pasien baru datang berobat bila gejala sudah mengganggu dan tumor tersebut telah men
mengadgadakaakan n infiinfiltraltrasi si sertserta a metmetastaastase se padpada a pempembubuluh luh limlimfe fe servservicalical. . Hal Hal ini ini mermerupaupakankan keadaan lanjut dan biasanya prognosis yang jelek.
keadaan lanjut dan biasanya prognosis yang jelek.
Pemeriksaan terhadap Karsinoma Nasofaring ilakukan dengan cara anamnesa penderita Pemeriksaan terhadap Karsinoma Nasofaring ilakukan dengan cara anamnesa penderita dan disertai dengan pemeriksaan nasofaringoscopy, radiologi, histopatologi, imunohistokimia, dan disertai dengan pemeriksaan nasofaringoscopy, radiologi, histopatologi, imunohistokimia, Assay atau disingakat dengan ELISA. Oleh karena beberapa penelitian telah membuktikan Assay atau disingakat dengan ELISA. Oleh karena beberapa penelitian telah membuktikan bahwa
bahwa didalam didalam serum serum pendependerita rita KarsinoKarsinoma ma NasofariNasofaring ng dijumdijumpai pai EBNAEBNA-1, -1, maka maka sebaiksebaiknyanya pasien
pasien yang yang mempumempunyai nyai gejala gejala yang yang mengamengarah rah ke ke KarsinoKarsinoma ma NasofariNasofaring ng dianjurdianjurkan kan untuk untuk melakukan pemeriksaan serologi yaitu antibodi anti-EBV (EBNA-1).
Pende
Penderita rita KarsinoKarsinoma ma NasofarNasofaring tersebar ing tersebar diseludiseluruh dunia ruh dunia dan terdapat dan terdapat daerah endemik daerah endemik di China selatan. Jenis Karsinoma ini merupakan bentuk keganasan ketiga yang dijumpai pada di China selatan. Jenis Karsinoma ini merupakan bentuk keganasan ketiga yang dijumpai pada pria
pria dengan dengan insideninsidensi si di di China China Selatan Selatan berkisar berkisar antara antara 15-5015-50% % pertahupertahun. n. Di Di IndoneIndonesiasia Karsinoma Nasofaring paling banyak dijumpai diantara tumor ganas dibidang THT. Dan usia Karsinoma Nasofaring paling banyak dijumpai diantara tumor ganas dibidang THT. Dan usia terbanyak yang menderita adalah usia 40 tahun keatas. Prevalensi Karsinoma Nasofaring di terbanyak yang menderita adalah usia 40 tahun keatas. Prevalensi Karsinoma Nasofaring di indonesia sebesar 4,7/100.000 per-penduduk per-tahun. Dibagian THT RSUD Dr. Soetomo indonesia sebesar 4,7/100.000 per-penduduk per-tahun. Dibagian THT RSUD Dr. Soetomo (se
(selalama ma tatahuhun n 20200000-20-200101) ) popolikliklinlinik ik ononkokolologi gi memelaplapororkakan n pependndererita ita babaru ru KaKarsirsinonomama Nasofarin
Nasofaring berjumlg berjumlah 623 orangah 623 orang, laki-laki dua kali leb, laki-laki dua kali lebih banyak dih banyak dibandingibandingakan pereakan perempuan. Dmpuan. Dii bagian THT
bagian THT RSUP H. RSUP H. Adam Malik, Adam Malik, selama 1991-199selama 1991-1996 6 mendamendapat pat kasus 160 kasus 160 tumor ganas, tumor ganas, 9494 kasus (58,81%) merupakan Karsinoma Nasofaring.
kasus (58,81%) merupakan Karsinoma Nasofaring.
BAB II
BAB II
ANATOMI FARING
ANATOMI FARING
Sebelum membahas struktur anatomi dari nasofaring, terlebih dahulu kita membahas Sebelum membahas struktur anatomi dari nasofaring, terlebih dahulu kita membahas mengenai faring. Faring adalah tenggorokan, ruang muskulo-membranosa di belakang rongga mengenai faring. Faring adalah tenggorokan, ruang muskulo-membranosa di belakang rongga hidung
hidung, , mulut, dan mulut, dan laring, berhubularing, berhubungan dengan ngan dengan ronggrongga-rongga-rongga a tersebutersebut t dan dengan dan dengan esofaguesofagus.s. Atau secara lebih jelas, faring merupakan bangunan tabung fibromuskuler yang berbentuk Atau secara lebih jelas, faring merupakan bangunan tabung fibromuskuler yang berbentuk corong ( membesar di bagian atas dan mengecil dibagian bawah ) yang ke arah inferior akan corong ( membesar di bagian atas dan mengecil dibagian bawah ) yang ke arah inferior akan berlanju
berlanjut t menjadmenjadi i esofaguesofagus. s. BangBangunan unan ini ini terbentterbentang ang mulai mulai dari dari basis basis kranii kranii hingghinggaa menyambung ke esofagus setinggi vertebra servical VI, dengan panjang kurang lebih 5 inci (13 menyambung ke esofagus setinggi vertebra servical VI, dengan panjang kurang lebih 5 inci (13 cm).
cm).
Secara anatomis, faring dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : Secara anatomis, faring dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1
1.. NNaassooffaarriinngg 2
2.. OOrrooffaarriinngg 3.
3. LarLaringoingofarinfaring, yang, yang jugg juga sering da sering disebisebut hipout hipofarfaringing Nasofarin
Nasofaring merupakan suatu ronggg merupakan suatu rongga a dengadengan dinding kaku diatas n dinding kaku diatas , belakang dan lateral, belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring.
yang secara anatomi termasuk bagian faring.
-- Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakangKe anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang
septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul. septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul.
-- Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke superior-anterior dan terletak Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke superior-anterior dan terletak
diba
dibawah wah os os sfensfenoidoid, , sedasedangkngkan an bagbagian ian belabelakang kang nasnasofarofaring ing berberbatbatasan asan dendengangan ruang retrofaring, fasia pre-vertebralis dan otot-otot dinding faring.
ruang retrofaring, fasia pre-vertebralis dan otot-otot dinding faring.
-- Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustachius dimana orifisiumPada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustachius dimana orifisium
ini dibatasi superior dan posterior torus tubarius, sehingga penyebaran tumor ke ini dibatasi superior dan posterior torus tubarius, sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustachis dan akan mengganggu lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustachis dan akan mengganggu penden
pendengaran.garan.
-- Ke Ke arah arah posposterotero-sup-superioerior r dardari i torutorus s tubtubariuarius s terterdapadapat t fossfossa a RosRosenmenmulleuller r yangyang
merupakan lokasi tersering Karsinoma Nasofaring. merupakan lokasi tersering Karsinoma Nasofaring.
Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub muko
lunak sub mukosa, dimana pada usia muda dinding postsa, dimana pada usia muda dinding postero-supeero-superior rior nasofarinasofaring umumnng umumnyaya tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere).
(kelenjar Rouviere). Nasofarin
Nasofaring g juga juga berhubberhubungan ungan erat erat dengadengan n beberapbeberapa a struktustruktur r pentingpenting, , seperti: seperti: n.n. Glossopharingeus, n. Vagus dan n. Asesorius saraf spinal cranial dan vena jugularis interna. Glossopharingeus, n. Vagus dan n. Asesorius saraf spinal cranial dan vena jugularis interna. Far
Faring ing menmendapadapat t daradarah h dari dari berberbagbagai ai sumsumber ber dan dan kadkadangang-kad-kadang ang tidatidak k berberatuaturan. ran. YanYangg terutama berasal dari cabang a. Karotis eksterna, serta dari cabang a. Maksilaris interna, yakni terutama berasal dari cabang a. Karotis eksterna, serta dari cabang a. Maksilaris interna, yakni cabang palatine superior.
BAB III
BAB III
KARSINOMA NASOFARING
KARSINOMA NASOFARING
1
1.. EEPPIIDDEEMMIIOOLLOOGGII Mes
Meskipkipun un banbanyak yak diteditemukmukan an di di negnegara ara dendengan gan penpendudduduk uk nonnon-mo-mongongoloidloid, , namnamunun demikian daerah China bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi, yaitu dengan 2500 demikian daerah China bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi, yaitu dengan 2500 kasus baru pertahun untuk propinsi guang-dong (Kwantung) atau prevalensi 39,84/100.000 kasus baru pertahun untuk propinsi guang-dong (Kwantung) atau prevalensi 39,84/100.000 pendu
penduduk.duk. Ra
Ras s MoMongngololoid oid memeruprupakakan an fakfaktotor r dodominminan an timtimbubulnlnya ya KaKarsirsinonoma ma NaNasosofarfaringing,, sehi
sehinggnggga ga kekkekeraperapannannya ya cukcukup up tingtinggi gi padpada a penpendudduduk uk ChiChina na bagbagian ian SelSelatanatan, , HoHongkngkongong,, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Ditemukan pula cukup banyak kasus di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair Ditemukan pula cukup banyak kasus di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair dan Tunisia, pada orang Eskimo di Alasaka dan Tanah Hijau yang di duga penyebabnya adalah dan Tunisia, pada orang Eskimo di Alasaka dan Tanah Hijau yang di duga penyebabnya adalah karena mereka memakan makanan yang di awetkan dalam musim dingin dengan menggunakan karena mereka memakan makanan yang di awetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan
bahan pengawpengawet Nitrosaet Nitrosamin.min.
Di Indonesia frekuensi pasien ini hampir merata di setiap daerah. Di RSUDPN Dr. Di Indonesia frekuensi pasien ini hampir merata di setiap daerah. Di RSUDPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Hasan Sadikin Cipto Mangunkusumo Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang 25 kasus, palembang 25 kasus, 15 kasus setahun di Bandung rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang 25 kasus, palembang 25 kasus, 15 kasus setahun di Denpasar, dan 11 kasus di Padang dan Bukit tinggi. Demikian pula angka-angka yang di Denpasar, dan 11 kasus di Padang dan Bukit tinggi. Demikian pula angka-angka yang di dapatkan di Medan, Semarang, Surabaya dan lain-lain menunjukkan bahwa tumor ganas ini dapatkan di Medan, Semarang, Surabaya dan lain-lain menunjukkan bahwa tumor ganas ini terd
terdapat apat mermerata ata di di IndIndoneonesia. sia. DalDalam am penpengamgamatan atan dardari i penpengungunjunjung g polpolokloklinik inik tumtumor or THTHTT RSCM, pasien Karsinoma Nasofaring dari ras China relatif sedikit lebih banyak dari suku RSCM, pasien Karsinoma Nasofaring dari ras China relatif sedikit lebih banyak dari suku bangsa
bangsa lainnyalainnya..
2
2.. EETTIIOOLLOOGGI DI DAAN FN FAAKKTTOOR RR REESSIKIKOO Mesk
Meskipuipun n penpenyelyelidikidikan an untuntuk uk menmengetgetahui ahui penpenyebyebab ab penpenyakyakit it ini ini telatelah h diladilakukkukan an didi berbag
berbagai ai negara dan negara dan telah telah memakmemakan an biaya yang biaya yang tidak sedikit, tidak sedikit, namun sampai namun sampai sekarang belumsekarang belum berhasil.
berhasil. DikataDikatakan kan bahwa bahwa beberabeberapa pa faktor faktor saling saling berkaitberkaitan an sehingsehingga ga akhirnyakhirnya a disimpdisimpulkanulkan bahwa
bahwa penyepenyebab bab penyakpenyakit it ini ini adalah adalah multifakmultifaktor. tor. Kaitan Kaitan antara antara suatu suatu kumakuman n yang yang di di sebutsebut se
sebagbagai ai virvirus us EpEpstestein-in-BaBarr rr dadan n kokonsnsumumsi si ikikan an asiasin n didikakataktakan an sesebagbagai ai pepenynyebebab ab ututamamaa timbulnya penyakit ini. Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana timbulnya penyakit ini. Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.
tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.
Untuk mengaktifkan virus ini di butuhkan suatu mediator. Sebagai contoh, kebiasaan untuk Untuk mengaktifkan virus ini di butuhkan suatu mediator. Sebagai contoh, kebiasaan untuk men
mengkogkomsumsumsi msi ikan ikan asin asin secasecara ra teruterus-mes-menernerus us mumulai lai dari dari masa masa kankanak-kak-kanakanak, , mermerupaupakankan me
mediadiatotor r ututama ama yanyang g dadapat pat memengngakaktiftifkakan n vivirurus s inini i sehsehingingga ga memenimnimbubulklkan an kakarsirsinonomama nasofaring.
nasofaring.
Mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma nasofaring ialah : Mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma nasofaring ialah :
1.
1. ZaZat Nt Nititrorosasamimin. n. DiDidadalalam im ikakan an asisin tn tererdadapapat nt nititrorosasamimin yn yanang tg terernynyatata ma mererupupakakanan mediator penting. Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan / makanan yang diawetkan di mediator penting. Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan / makanan yang diawetkan di Greenland . Juga pada ” Quadid ” yaitu daging kambing yang dikeringkan di tunisia, dan Greenland . Juga pada ” Quadid ” yaitu daging kambing yang dikeringkan di tunisia, dan sayuran yang difermentasi ( asinan ) serta taoco di Cina.
2
2.. KKeeaaddaaaan n ssoossiiaal l eekkoonnoommi i yyaanng g rreennddaahh. . LLiinnggkkuunnggaan n ddaan n kkeebbiiaassaaaan n hhiidduupp.. Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di
di CiCinana, , InIndodonenesia sia dadan n KeKenyanya, , memeninningkgkatnatnya ya jujumlmlah ah kakasus sus KNKNF. F. Di Di HoHongngkokongng,, pembak
pembakaran duaran dupa rumpa rumah-rumah-rumah jugah juga diangga dianggap berpeap berperan dalam ran dalam menimmenimbulkan bulkan KNF.KNF. 3.
3. SeSeriring ng kokontntak ak dedengngan an zazat yt yanang dg diaiangngggap ap bebersrsifaifat Kt Kararsisinonogegen. n. YaYaititu yu yanang dg dapapatat menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene ( sejenis Hidrokarbon menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene ( sejenis Hidrokarbon dala
dalam m aranarang g batbatubaubara ra ), ), gas kimia, asap gas kimia, asap induindustri, asap stri, asap kaykayu u dan beberdan beberapa Ekstraapa Ekstrak k tumbuhan- tumbuhan.
tumbuhan- tumbuhan. 4
4.. RRaas s ddaan n kkeettuurruunnaann. . RRaas s kkuulliit t ppuuttiih h jjaarraanng g tteerrkkeenna a ppeennyyaakkiit t iinnii. . DDi i AAssiiaa terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun yang perantauan. Ras terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun yang perantauan. Ras me
melalayu yu yayaitu itu MaMalaylaysia sia dadan n IndIndononesesia ia tertermamasusuk k yayang ng babanynyak ak teterkerkena na kakarsirsinonomama nasofaring.
nasofaring. 5
5.. RRaaddaang krng kroonniis s ddi i ddaeaerarah h nanasosofafarriningg. . DDiaiannggggaap p ddeennggaan n aaddaannyya a peperaraddaangngaan,n, mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadapa karsinogen lingkungan.
mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadapa karsinogen lingkungan.
3
3.. MMAANNIIFFEESSTTAASSI I KKLLIINNIIK K
Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan yang Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan yang sedini mungkin memegang peranan penting untuk mengetahui gejala dini KNF dimana tumor sedini mungkin memegang peranan penting untuk mengetahui gejala dini KNF dimana tumor masih terbatas di rongga nasofaring.
masih terbatas di rongga nasofaring. A.
A. GGejejalala Da Dinini :i : Gejala telinga : Gejala telinga :
1.
1. KaKatatararalilis/s/susumbmbatatan an tutuba eba eututacachihiusus
Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini. dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini. 2.
2. RadRadang ang telitelinga tnga tengengah saah sampampai peci pecahnahnya gya gendendang ang telitelinganga..
Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba, dimana rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi tuba, dimana rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi mak
makin in lama lama makmakin in banbanyakyak, , sehisehinggngga a akhakhirnyirnya a terjterjadi adi kebkebocoocoran ran gengendandangg telinga dengan akibat gangguan pendengaran.
telinga dengan akibat gangguan pendengaran.
Ga
Gambambar r 3. 3. TumTumor or nanasofsofariaring ng yanyang g memenutnutupi upi tubtuba a EuEusthsthacachiushius,ya,yangng bertanda panah adalah tumor
Gejala Hidung : Gejala Hidung :
1
1.. MMiimmiissaann
Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini biasanya terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulan
ulang, g, jumjumlahlahnya nya sedisedikit kit dan dan seriseringkngkali ali berbercamcampur pur dendengan gan ingingus, us, sehisehinggnggaa berwarn
berwarna a merah merah jambu. jambu. EpistakEpistaksis sis ini ini juga juga dapat dapat disebabdisebabkan kan oleh oleh penjalarapenjalarann tumor ke selaput lendir hidung yang dapat mencederai dinding pembuluh darah tumor ke selaput lendir hidung yang dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini.
daerah ini. 2.
2. SSumumbbatatan han hididuungng
Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental.
kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental.
Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, kare
karena na jugjuga a dijudijumpampai i padpada a infeinfeksi ksi biasbiasa, a, misamisalnylnya a pilepilek k krokronis, nis, sinusinusitis dan sitis dan lain lain--lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang.
lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang. B.
B. Gejala Gejala Lanjut Lanjut :: 1.
1. PePembmbesesaraaran ken kelenlenjar lijar limfe lmfe leheher er
Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika timbulnya Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika timbulnya di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum sel tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan sebelum sel tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien.
nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien.
Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan me
mengngenenai ai ototot ot di di babawawahnyhnya. a. KeKelelenjanjarnyrnya a memenjanjadi di lelekat kat papada da otootot t dadan n sulsulitit dig
digerakerakkankan. . KeaKeadaadaan n ini ini mermerupaupakan kan gejagejala la yanyang g leblebih ih lanjlanjut ut laglagi. i. PemPembesabesaranran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke do
doktkter. er. KaKadadang ng pepembmbesaesaran ran kekelenlenjar jar di di leleheher r inini i salsalah ah didididiagagnonosis sis sesebagbagaiai tuberkulosis kelenjar.
tuberkulosis kelenjar. 2.
2. GejGejala akala akibat peibat perlurluasan tuasan tumor kmor ke jarine jaringan segan sekitakitar.r. Tu
Tumor dapat mor dapat melmeluas ke uas ke jarijaringangan n sekisekitar. Perlutar. Perluasan ke asan ke atas ke atas ke arah rongarah ronggaga tengkorak dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan tengkorak dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan gejala akibat kelumpuhan syaraf otak. Penjalaran melalui foramen menyebabkan gejala akibat kelumpuhan syaraf otak. Penjalaran melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI, dan dapat pula ke V, sehingga laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI, dan dapat pula ke V, sehingga yang sering ditemukan ialah penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan yang sering ditemukan ialah penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tam
tampak pak bobola la matmata a julijuling. ng. NeuNeuralgralgia ia trigtrigemineminal al mermerupaupakan kan gejgejala ala yanyang g seriseringng ditemukan oleh ahli saraf jika belum terdapat keluhan lain yang berarti.
ditemukan oleh ahli saraf jika belum terdapat keluhan lain yang berarti.
Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI, dan XII Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI, dan XII jika penjalaran melalu
jika penjalaran melalui foramane jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh i foramane jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh daridari nasofaring. Hal ini akan menimbulkan rasa baal (mati rasa) didaerah wajah sampai nasofaring. Hal ini akan menimbulkan rasa baal (mati rasa) didaerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah, bahu, leher dan gangguan pendengaran serta akhirnya timbul kelumpuhan lidah, bahu, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman.
Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak, rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang selaput otak, rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor.
terkena tumor.
Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh.
tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh. 3.
3. GeGejaljala aa akikibabat mt metetastastasiasiss
Sel-sel kanker dapat ikur mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai Sel-sel kanker dapat ikur mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis jauh. organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk.
stadium dengan prognosis sangat buruk.
4
4.. PPAATTOOFFIISSIIOOLLOOGGII
Virus Epstein Barr (EBV) merupakan virus DNA yang memiliki kapsid icosahedral dan Virus Epstein Barr (EBV) merupakan virus DNA yang memiliki kapsid icosahedral dan termasuk dalam famili Herpesviridae. Infeksi EBV dapat berasosiasi dengan beberapa penyakit termasuk dalam famili Herpesviridae. Infeksi EBV dapat berasosiasi dengan beberapa penyakit seperti limfoma Burkitt, limfoma sel T, mononukleosis dan karsinoma nasofaring (KNF). KNF seperti limfoma Burkitt, limfoma sel T, mononukleosis dan karsinoma nasofaring (KNF). KNF merupakan tumor ganas yang terjadi pada sel epitel di daerah nasofaring yaitu pada daerah merupakan tumor ganas yang terjadi pada sel epitel di daerah nasofaring yaitu pada daerah cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuara saluran eustachii. Banyak faktor yang diduga cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuara saluran eustachii. Banyak faktor yang diduga berhub
berhubungan ungan dengan dengan KNF, yKNF, yaitu:aitu: 1.
1. adadananya ya ininfefeksksi Ei EBVBV,, 2.
2. FaFaktktor or lilingngkukungnganan 3
3.. GGeenneettiik k
1)
Virus Epstein-Barr bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit B. Virus Epstein-Barr bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit B. Infeksi virus epstein-barr terjadi pada dua tempat utama yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel Infeksi virus epstein-barr terjadi pada dua tempat utama yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel limfosit. EBV memulai infeksi pada limfosit B dengan cara berikatan dengan reseptor virus, limfosit. EBV memulai infeksi pada limfosit B dengan cara berikatan dengan reseptor virus, yaitu komponen komplemen C3d (CD21 atau CR2). Glikoprotein (gp350/220) pada kapsul yaitu komponen komplemen C3d (CD21 atau CR2). Glikoprotein (gp350/220) pada kapsul EBV
EBV berberikatikatan an dendengan gan proprotein tein CDCD21 21 dipdipermermukaukaan an limflimfosit osit B3. B3. AktAktivitivitas as ini ini mermerupakupakanan rangkaian yang berantai dimulai dari masuknya EBV ke dalam DNA limfosit B dan selanjutnya rangkaian yang berantai dimulai dari masuknya EBV ke dalam DNA limfosit B dan selanjutnya me
menynyebebababkan kan limlimfosfosit it B B memenjnjadi adi imimmomortartal. l. SeSemementantara ra ituitu, , samsampapai i saasaat t ini ini memekakaninismesme masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring belum dapat dijelaskan dengan pasti. Namun masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring belum dapat dijelaskan dengan pasti. Namun demikian, ada dua reseptor yang diduga berperan dalam masuknya EBV ke dalam sel epitel demikian, ada dua reseptor yang diduga berperan dalam masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring yaitu CR2 dan PIGR ( Polimeric Immunogloblin Receptor ). Sel yang terinfeksi nasofaring yaitu CR2 dan PIGR ( Polimeric Immunogloblin Receptor ). Sel yang terinfeksi oleh virus epstein-barr dapat menimbulkan beberapa kemungkinan yaitu : sel menjadi mati bila oleh virus epstein-barr dapat menimbulkan beberapa kemungkinan yaitu : sel menjadi mati bila terinfeksi dengan virus epstein-barr dan virus mengadakan replikasi, atau virus epstein- barr terinfeksi dengan virus epstein-barr dan virus mengadakan replikasi, atau virus epstein- barr yang meninfeksi sel dapat mengakibatkan kematian virus sehingga sel kembali menjadi normal yang meninfeksi sel dapat mengakibatkan kematian virus sehingga sel kembali menjadi normal atau dapat terjadi transformasi sel yaitu interaksi antara sel dan virus sehingga mengakibatkan atau dapat terjadi transformasi sel yaitu interaksi antara sel dan virus sehingga mengakibatkan terj
terjadinadinya ya peruperubahbahan sifat sel an sifat sel sehisehinggngga a terjterjadi transfoadi transformsrmsi i sel menjasel menjadi ganas sehingdi ganas sehinggaga terbentuk sel kanker.
terbentuk sel kanker.
Gen EBV yang diekspresikan pada penderita KNF adalah gen laten, yaitu EBERs EBNA1, Gen EBV yang diekspresikan pada penderita KNF adalah gen laten, yaitu EBERs EBNA1, LMP1, LMP2A dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan dalam mempertahankan virus pada LMP1, LMP2A dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan dalam mempertahankan virus pada infeksi laten. Protein transmembran LMP2A dan LMP2B menghambat sinyal tyrosine kinase infeksi laten. Protein transmembran LMP2A dan LMP2B menghambat sinyal tyrosine kinase yang dipercaya dapat menghambat siklus litik virus. Diantara gen-gen tersebut, gen yang paling yang dipercaya dapat menghambat siklus litik virus. Diantara gen-gen tersebut, gen yang paling berpera
berperan n dalam dalam transfortransformasi masi sel sel adalah adalah gen gen LMPLMP1. 1. StruktStruktur ur protein protein LMPLMP1 1 terdiri terdiri atas atas 368368 as
asam am amaminino o yayang ng teterbrbagagi i memenjnjadadi i 20 20 asasam am amaminino o papada da ujujunung g N, N, 6 6 sesegmgmen en prprototeieinn tran
transmesmembrmbran an (16(166 6 asam amino) asam amino) dan dan 20200 0 asam amino asam amino padpada a ujuujung ng karkarbokboksi si (C). Prote(C). Proteinin tra
transmnsmemembrbran an LMLMP1 P1 memenjanjadi di peperanrantartara a ununtutuk k sinsinyayal l TNTNF F (tu(tumomor r nenecrocrosis sis facfactotor r ) ) dadann meningkatkan regulasi sitokin IL-10 yang memproliferasi sel B dan menghambat respon imun meningkatkan regulasi sitokin IL-10 yang memproliferasi sel B dan menghambat respon imun lokal.
lokal. 2)
2) GeGenenetitik k
Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetic, tetapi kerentana terhadap Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetic, tetapi kerentana terhadap kars
karsinoinoma ma nasonasofarifaring ng padpada a kelkelompompok ok masmasyarayarakat kat terttertentu entu relrelative ative menmenonjoonjol l dan dan memmemilikilikii agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen pengo
pengode de enzim enzim sitokrositokrom m p450 p450 2E1 2E1 (CYP(CYP2E1) 2E1) kemukemungkinangkinan n adalah adalah gen gen kerentankerentanan an terhadapterhadap karsinoma nasofaring. Sitokrom p450 2E1 bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang karsinoma nasofaring. Sitokrom p450 2E1 bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang terkait nitrosamine dan karsinogen
terkait nitrosamine dan karsinogen 3)
3) FakFaktor ltor lingingkunkungangan
Sejumlah besar studi kasus yang dilakukan pada populasi yang berada di berbagai daerah di Sejumlah besar studi kasus yang dilakukan pada populasi yang berada di berbagai daerah di asia dan america utara, telah dikonfirmasikan bahwa ikan asin dan makanan lain yang awetkan asia dan america utara, telah dikonfirmasikan bahwa ikan asin dan makanan lain yang awetkan mengandung sejumlah besar nitrosodimethyamine (NDMA), N-nitrospurrolidene (NPYR) dan mengandung sejumlah besar nitrosodimethyamine (NDMA), N-nitrospurrolidene (NPYR) dan nitrospip
nitrospiperidine (NPIP eridine (NPIP ) ) yang mungkin merupakan faktor yang mungkin merupakan faktor karsinogkarsinogenik karsinoma enik karsinoma nasofarinnasofaring.g. Sel
formaldehide dan yang tepapar debu kayu diakui faktor risiko karsinoma nasofaring dengan formaldehide dan yang tepapar debu kayu diakui faktor risiko karsinoma nasofaring dengan cara mengaktifkan kembali infeksi dari EBV.
cara mengaktifkan kembali infeksi dari EBV.
5
5.. HHIISSTTOOPPAATTOOLLOOGGII Per
Permukmukaan aan nasnasofarofaring ing berberbenjbenjol-bol-benjoenjol, l, karekarena na dibdibawaawah h epitepitel el terdterdapat apat banbanyak yak jarinjaringangan limfosit, sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel dengan jaringan limfosit, sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel dengan jaringan limf
limfosit osit ini ini sangsangat at eraerat, t, sehisehinggngga a serisering ng disedisebut but “Lim“Limfoepfoepitelitel”. ”. BloBloom om dan dan FawFawcett cett (19(1965)65) membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel :
membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel : 1.
1. Epitel Epitel selapis selapis thorax thorax bersilia bersilia “Simple “Simple ColumColumnar Cnar Cilated Eilated Epitheliupithelium”m” 2.
2. EpiEpitel thortel thorax berlaax berlapis “Strapis “Stratifietified Columd Columnar Epitnar Epithelihelium”um” 3.
3. Epitel Epitel thorax thorax berlapis berlapis bersilia bersilia “Stratified “Stratified ColumColumnar Cnar Ciliated iliated EpitheEpithelium”lium” 4.
4. Epitel tEpitel thorax bhorax berlapis seerlapis semu bemu bersilia “Pseudrsilia “Pseudo-Strato-Stratified Coluified Columnar Cmnar Ciliated Epiliated Epitheliumithelium”” 60% dari
60% dari mukmukosa osa nasnasofarofaring ing diladilapisi pisi oleoleh h epitepitel el berberlapilapis s gepgepengeng, , dan dan 80% dari 80% dari dinddindinging posterio
posterior r nasofaring dilapisi oleh epitel nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan pada dinding lateral ini, sedangkan pada dinding lateral dan depan dilapisidan depan dilapisi oleh epitel transisional, yang merupakan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng dan oleh epitel transisional, yang merupakan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng dan thorax bersilia. Epitel berlapis gepeng ini umumya dilapisi keratin, kecuali pada kripta yang thorax bersilia. Epitel berlapis gepeng ini umumya dilapisi keratin, kecuali pada kripta yang dalam. Dipandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan 2 macam epitel dalam. Dipandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan 2 macam epitel adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu karsinoma.
adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu karsinoma. Klasifikas
Klasifikasi i gambagambaran ran histopathistopatologi yang ologi yang direkodirekomendasikmendasikan an oleh Organisasi oleh Organisasi KesehatKesehatanan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
1.
1. KaKarsrsininomoma a sesel l skskuauamomosa sa beberkrkereratatininisisasasi i (( Keratin Keratinizing izing SquamSquamous ous Cell Cell
Carcinoma
Carcinoma). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk.). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk.
2.
2. KarKarsinosinoma ma nonnon-ke-keratinratinisasi isasi (( Non-ker Non-keratinizinatinizing g CarcinoCarcinomama)). . PPaadda a ttiippe e iinnii
dijump
dijumpai adanya diferensiasi, tetapi ai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel tidak ada diferensiasi sel skuamoskuamosa tanpa sa tanpa jembatajembatann intersel. Pada umumnya batas sel cukup jelas.
intersel. Pada umumnya batas sel cukup jelas.
3.
3. KarsinoKarsinoma tidak ma tidak berdifereberdiferensiasi nsiasi ((Undifferentiated CarcinomaUndifferentiated Carcinoma). Pada tipe ini sel). Pada tipe ini sel
tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau bulat tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengan jelas.
dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengan jelas.(7)(7)
Tip
Tipe e tantanpa pa difediferensrensiasi iasi dan dan tantanpa pa kerkeratiniatinisasi sasi memmempunpunyai yai sifat sifat yanyang g samsama, a, yaityaitu u berbersifatsifat radiosensitif dan mempinyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr. Sedangkan jenis dengan radiosensitif dan mempinyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr. Sedangkan jenis dengan keratinisa
keratinisasi si tidak begitu tidak begitu radioseradiosensitif nsitif dan tidak dan tidak menunmenunjukkajukkan n hubuhubungan dengan virus ngan dengan virus Epstein Epstein--Barr.
Barr.
6
6.. SSTTAADDIIUUM M KKAANNKKEER R
Stadium ini berdasarkan kriteria dari American Joint Committee On Cancer (AJCC 2002) Stadium ini berdasarkan kriteria dari American Joint Committee On Cancer (AJCC 2002)
T = Tumor primer T = Tumor primer
T0 - Tidak tampak tumor. T0 - Tidak tampak tumor.
Tis – Karsinoma insitu, dimana tumor hanya terdapat pada 1 lapisan jaringan. Tis – Karsinoma insitu, dimana tumor hanya terdapat pada 1 lapisan jaringan. T1 -
T1 - Tumor teTumor terbatas pada satu rbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperlokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan ior/atap dan lain- lain).lain- lain). T2 -
T2 - Tumor yang sudah Tumor yang sudah meluas kedalam jaringan lunak dari rongga tenggmeluas kedalam jaringan lunak dari rongga tenggorokan.orokan. T3 -
T3 - Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke ronggTumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring dsb).a hidung atau orofaring dsb). T4 -
T4 - Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau mengenaitulang tengkorak atau mengenai saraf-saraf otak.
saraf-saraf otak.
TX - Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap. TX - Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap. N = Nodule
N = Nodule N - Pe
N - Pembesaran mbesaran kelenjar gkelenjar getah beetah bening rening regional .gional . NX - P
NX - Pembesarembesaran kelean kelenjar reginonjar reginol tidak dl tidak dapat dinapat dinilaiilai N0 -
N0 - Tidak Tidak ada pemada pembesaran.besaran. N1 -
N1 - TerdapaTerdapat penbesaran tetapi homolaterat penbesaran tetapi homolateral l dan tumor dalam kelenjar limfe berukuran 6dan tumor dalam kelenjar limfe berukuran 6 cm atau lebih kecil.
cm atau lebih kecil. N2
N2 - - TerdapaTerdapat t pembepembesaran saran kontrakontralateral/bilatelateral/bilateral ral dengadengan n ukuraukuran n tumor tumor 6 6 cm cm atau atau lebihlebih kecil.
kecil. N3
N3 - - TumoTumor r terdapat terdapat di di kelenjar kelenjar limfe limfe dengadengan n ukuran lebih ukuran lebih dari dari 6 6 cm cm atau atau tumor tumor telahtelah ditemukan didalam kelenjar limfe pada regio “segitiga leher”
ditemukan didalam kelenjar limfe pada regio “segitiga leher” N3A –
N3A – TumoTumor dalam r dalam kelenjar kelenjar limfe delimfe dengan ungan ukuran kuran lebih dalebih dari 6 cm.ri 6 cm. N3B –
N3B – TumoTumor ditemur ditemukan dilkan diluar “segitiguar “segitiga leher”a leher” M = Metastasis
M = Metastasis M = Metastesis jauh M = Metastesis jauh
M0 - Tidak ada metastesis jauh. M0 - Tidak ada metastesis jauh. M1 – Terdapat Metastesis jauh . M1 – Terdapat Metastesis jauh .
-- SStatadidiuum I m I : T: T1 d1 dan an NN0 d0 dan an MM00
-- SStatadidiuum Im IIA IA : T: T2 d2 dan an NN0 d0 dan an MM00
-- StaStadiudium III : m III : T1T1/T2 d/T2 dan Nan N1/N1/N2 dan 2 dan M0 aM0 atau Ttau T3 da3 dan N0n N0/N1/N1/N2 d/N2 dan Man M00
-- StStadiadium Ium IVB VB : T1: T1/T/T2/T2/T3/3/T4 dT4 dan Nan N3A3A/N3/N3B daB dan Mn M00
-- StaStadiudium IVm IVC : C : T1T1/T2//T2/T3T3/T4 /T4 dan dan N0/N0/N1N1/N2/N2/N3 /N3 dan dan M1M1..
7.
7. PePenenegagakakan dn diaiagngnososis is kakarsrsininomoma na nasasofofarariningg Jika
Jika ditditemuemukan kan adaadanya nya keckecurigurigaan aan yanyang g memengangarah rah padpada a suatsuatu u karkarsinosinoma ma nasonasofarinfaring,g, protok
protokol dibawol dibawah ini dah ini dapat meapat membantmbantu untuu untuk menk menegakkegakkan diagan diagnosis pastnosis pasti serta stadi serta stadium tuium tumor:mor: I.
I. AAnnaammnneesisis s / / ppeemmeeririkksasaaan n ffisisik ik
Anamnesis berdasarkan keluhan yang dirasakn pasien (tanda dan gejala KNF) Anamnesis berdasarkan keluhan yang dirasakn pasien (tanda dan gejala KNF)
IIII.. PPeemmeerriikkssaaaan n nnaassooffaarriinngg
Dengan menggunakan kaca nasofaring atau dengan nashopharyngoskop Dengan menggunakan kaca nasofaring atau dengan nashopharyngoskop
IIIIII.. BBiiooppssi ni naassooffaarriinngg Dia
Diagnognosis sis pastpasti i dardari i KNF KNF diteditentuntukan kan dendengan gan diadiagnognosis sis kliklinik nik ditditunjunjang ang dendengangan diagno
diagnosis sis histolohistologik atau gik atau sitologsitologik. ik. DiagnoDiagnosis sis histologhistologik ik atau sitologik atau sitologik dapat ditegakandapat ditegakan bila dikirim suatu material hasil biopsy cucian, hisapan (aspirasi), atau sikatan (brush), bila dikirim suatu material hasil biopsy cucian, hisapan (aspirasi), atau sikatan (brush), biopsy dapat dilaku
biopsy dapat dilakukan dengan 2 cara, kan dengan 2 cara, yaitu dari hidung atau dari yaitu dari hidung atau dari mulutmulut. Biopsi tumor . Biopsi tumor nasofaring umunya dilakukan dengan anestesi topical dengan xylocain 10%.
nasofaring umunya dilakukan dengan anestesi topical dengan xylocain 10%.
•
• Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy).Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy).
Cunam biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke Cunam biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy.
nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy.
•
• Biopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukanBiopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukan
melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama-sama ujung kateter yang dihdung. Demikian juga kateter yang diklem bersama-sama ujung kateter yang dihdung. Demikian juga kateter yang dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian dengan kacalaring dilihat daerah nasofaring. biopsy dilakukan dengan melihat dengan kacalaring dilihat daerah nasofaring. biopsy dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukan tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukan melalui mulut, masaa tumor akan terlihat lebih jelas. Bila dengan cara ini masih melalui mulut, masaa tumor akan terlihat lebih jelas. Bila dengan cara ini masih belum
belum didapadidapatkan tkan hasil hasil yang yang memuamemuaskan skan mala mala dilakudilakukan kan pengepengerokan rokan dengadengann kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis.
kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis.
IV
IV.. PPememererikiksasaan an PPatatolologogi Ai Ananatotommii Kl
Klasiasifikfikasi asi gagambmbaraaran n hishistotopatpatolologogi i yayang ng didirerekokomemendndasiasikakan n ololeh eh OrOrgaganisnisasiasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
•
• KaKarsirsinonoma ma sel sel skskuauamomosa sa beberkerkeratratiniinisassasi i (K(Keraeratintiniziizing ng SqSquauamomous us CeCellll
Carcinoma ). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan Carcinoma ). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk
buruk..
•
• KarKarsinosinoma ma nonnon-ke-keratiratinisasnisasi i ( ( NonNon-ke-keratinratinizing izing CarcCarcinoinoma ma ). ). PadPada a tipe tipe iniini
dijumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa dijumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa jembata
jembatan interseln intersel. Pada u. Pada umumnmumnya batya batas sel cukuas sel cukup jelas.p jelas.
•
• KarsinoKarsinoma tidak ma tidak berdifeberdiferensiasi (Undifferentrensiasi (Undifferentiated Carcinoma). Pada tipe iated Carcinoma). Pada tipe ini selini sel
tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau bulat deng
bulat dengan nukleolan nukleoli yang jelas. Pada umumnyi yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengana batas sel tidak terlihat dengan jelas.
jelas.
Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang sama, yaitu Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang sama, yaitu bersifat
Klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan oleh WHO pada Klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan oleh WHO pada tahun 1991, hanya dibagi atas 2 tipe, yaitu :
tahun 1991, hanya dibagi atas 2 tipe, yaitu :
•
• KaKarsrsinoinoma ma sel sel skuskuamamososa a beberkerkeratratiniinisassasi i ( ( KeKeratratiniinizinzing g SqSquauamomous us CeCellll
Carcinoma). Carcinoma).
•
• KarKarsinosinoma ma nonnon-ke-keratinratinisasi isasi ( ( NoNon-ken-keratiratinizinizing ng CarCarcinocinoma). ma). TipTipe e ini ini dapdapatat
dibagi lagi menjadi berdiferensiasi dan tak berdiferensiasi. dibagi lagi menjadi berdiferensiasi dan tak berdiferensiasi.
V
V.. PPeemmeerriikkssaaaan ran raddiioollooggii
Pemeriksaan radiologi pada kecurigaan KNF merupakan pemeriksaan penunjang Pemeriksaan radiologi pada kecurigaan KNF merupakan pemeriksaan penunjang diagnostic yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologic tersebut adalah:
diagnostic yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologic tersebut adalah:
•
• Memberikan diagnosis yang lebih pasti pada kecurigaan adanya tumor padaMemberikan diagnosis yang lebih pasti pada kecurigaan adanya tumor pada •
• daerah nasofaringdaerah nasofaring •
• Menentukan lokasi yang lebih tepat dari tumor tersebutMenentukan lokasi yang lebih tepat dari tumor tersebut •
• Mencari dan menetukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan sekitarnya.Mencari dan menetukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan sekitarnya.
aa)) FFootto o ppoollooss Ad
Ada a bebebeberarapa pa poposisisi si dedengngan an fofoto to popololos s yayang ng peperlrlu u didibubuat at dadalalam m memencncararii kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:
kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:
•
• Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak ( soft tissue technique)Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak ( soft tissue technique) •
• Posisi Basis Kranii atau SubmentoverteksPosisi Basis Kranii atau Submentoverteks •
• Tomogram Lateral daerha nasofaringTomogram Lateral daerha nasofaring •
• Tomogranm Antero-posterior daerah nasofaringTomogranm Antero-posterior daerah nasofaring
b)C.T b)C.T.Scan.Scan
Pada umunya KNF yang dapat dideteksi secara jelas dengan radiografi polos adalah Pada umunya KNF yang dapat dideteksi secara jelas dengan radiografi polos adalah jika tumo
jika tumor tersebut cur tersebut cukup bekup besar dan eksar dan eksofitik, sedsofitik, sedangkaangkan bula ken bula kecil mungcil mungkin tidak kin tidak akanakan terdeteksi. Terlebih-lebih jika perluasan tumor adalah submukosa, maka hal ini akan terdeteksi. Terlebih-lebih jika perluasan tumor adalah submukosa, maka hal ini akan sukar dilihat dengan pemeriksaan radiografi polos. Demikian pula jika penyebaran ke sukar dilihat dengan pemeriksaan radiografi polos. Demikian pula jika penyebaran ke jaringan
mendeteksi hal tersebut. Keunggulan C.T. Scan dibandingkan dengan foto polos ialah mendeteksi hal tersebut. Keunggulan C.T. Scan dibandingkan dengan foto polos ialah kemampuanya untuk membedakan bermacam-macam densitas pada daerah nasofaring, kemampuanya untuk membedakan bermacam-macam densitas pada daerah nasofaring, baik itu pada jaringan lun
baik itu pada jaringan lunak maupun peak maupun perubahanrubahan-perub-perubahan pada tulangahan pada tulang, gengan criteria, gengan criteria tertentu dapat dinilai suatu tumor nasofaring yang masih kecil. Selain itu dengan lebih tertentu dapat dinilai suatu tumor nasofaring yang masih kecil. Selain itu dengan lebih akurat dapatdinilai pakah sudah ada perluasan tumor ke jaringna sekitarnya, menilai ada akurat dapatdinilai pakah sudah ada perluasan tumor ke jaringna sekitarnya, menilai ada tidaknya destruksi tulang serta ada tidaknya penyebaran intracranial.
tidaknya destruksi tulang serta ada tidaknya penyebaran intracranial. Ad
Ada a bebebeberarapa pa poposisisi si dedengngan an fofoto to popololos s yayang ng peperlrlu u didibubuat at dadalalam m memencncararii kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:
kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:
•
• Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak ( soft tissue technique)Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak ( soft tissue technique) •
• Posisi Basis Kranii atau SubmentoverteksPosisi Basis Kranii atau Submentoverteks •
• Tomogram Lateral daerha nasofaringTomogram Lateral daerha nasofaring •
• Tomogranm Antero-posterior daerah nasofaringTomogranm Antero-posterior daerah nasofaring
V
VI.I. PPememererikiksasaan nean neuuroro-o-oftftalalmomolologgii Ka
Karerena na nanasosofarfaring ing beberhurhububungngan an dedekakat t dedengngan an rorongngga ga tetengngkokorak rak memelalaluluii bebera
beberapa lobangpa lobang, maka gang, maka gangguan bebguan beberapa saraf otak daperapa saraf otak dapat terjadi sebagaat terjadi sebagai gejala lanjuti gejala lanjut KNF ini.
KNF ini.
V
VIII.I. PPeemmeeririkksasaaan n seserroollooggi.i.
Pemeriksaan serologi IgA anti EA (early antigen) dan igA anti VCA (capsid Pemeriksaan serologi IgA anti EA (early antigen) dan igA anti VCA (capsid anti
antigengen) ) untuntuk uk infeinfeksi ksi viruvirus s E-B E-B telatelah h menmenunjuunjukan kan kemkemajuaajuan n daldalam am menmendetedeteksiksi karsinoma nasofaring. Tjokro Setiyo dari FK UI Jakarta mendapatkan dari 41 pasien karsinoma nasofaring. Tjokro Setiyo dari FK UI Jakarta mendapatkan dari 41 pasien karsinoma nasofaring stadium lanjut (stadium III dan IV) senstivitas IgA VCA adalah karsinoma nasofaring stadium lanjut (stadium III dan IV) senstivitas IgA VCA adalah 97,
97,5% 5% dan spesifitdan spesifitas as 91,91,8% 8% dendengan titer gan titer berberkisakisar r antaantara ra 10 10 samsampai pai 1281280 0 dendengangan terbanyak titer 160. IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi spesifitasnya hanya 30,0%, terbanyak titer 160. IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi spesifitasnya hanya 30,0%, sehingg
sehingga a pemerikpemeriksaan ini hanya digunakan untusaan ini hanya digunakan untuk menetukak menetukan prognosis pengon prognosis pengobatan,batan, titer yang didapat berkisar antara 80 sampai 1280 dan terbanyak 160.
titer yang didapat berkisar antara 80 sampai 1280 dan terbanyak 160.
8
8.. PPeennaattaallaakkssaannaaaann 1. Radioterapi 1. Radioterapi(8)(8)
S
Samampapai i sasaat at inini i raraddioioteterarapi pi mmasasih ih mememmegeganang g peperarananan n pepentntining g dadalalamm penatal
penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaan aan pertama untuk karsinomapertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.
nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.
•
Ter
Terapi api radiradiasi asi adaadalah lah teraterapi pi sinasinar r menmenggggunakunakan an eneenergi rgi tingtinggi gi yanyang g dapdapatat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
•
• PersyarataPersyaratan Terapi n Terapi RadiasiRadiasi
Pen
Penyemyembuhbuhan an totatotal l terhterhadaadap p karkarsinosinoma ma nasnasofarofaring ing apaapabila bila hanyhanyaa menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : -- BBelelum um ddididapapatatkakannnnyya sa seel tl tumumor or ddi li luauar ar arerea ra radadiaiasisi
-- TTiippe e ttuummoor r yyaanng g rraaddiioosseennssiittiif f
-- BeBesasar tr tumumor or yayang ng kikirara-k-kirira a raradidiasasi mi mamampu pu memengngatatasasininyaya -- DDoossiis s yyaanng g ooppttiimmaall..
-- JJaannggkka a wwaakkttu u rraaddiiaassi i tteeppaatt
-- SeSebibisasa-b-bisisananya mya menenyeyelalamamatktkan san sel del dan jan jarariningagan yan yang nng norormamal dal dari eri efefek k samping radiasi.
samping radiasi. Dosis
Dosis radiasi pada limfonodi radiasi pada limfonodi leher tergantung pada leher tergantung pada ukurannya sebelumukurannya sebelum kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tak teraba diberikan radiasi sebesar kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, < 2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan 5000 cGy, < 2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila
bila lebih lebih dari dari 4 4 cm cm diberikdiberikan an dosis dosis 7380 7380 cGy, cGy, diberikdiberikan an dalam dalam 41 41 fraksifraksi se
selalama ma 5,5,5 5 mmininggggu. u. AlAlat at yayang ng bibiasasananya ya didipapakakai i iaialalah h “c“cobobalalt t 6060”,”, “megavoltage”orthovoltage”.
“megavoltage”orthovoltage”.
•
• Sifat Terapi RadiasiSifat Terapi Radiasi
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah : Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :
-- MMererupupakakaan tn tererapapi yi yanang sg sififatatnynya la lookakal dl dan an rereggioionanall
-- MMeemmaattiikkaan n sseel l ddeennggaan n ccaarra a mmeerruussaak k DDNNA A yyaanng g aakkiibbaattnnyya a bbiissaa mendestrukasi sel tumor
mendestrukasi sel tumor
-- MMeemmililikiki i kkeemmaammpupuaan n uunnttuuk k mmeemmpepercrceepapat t pprrooseses s apapooptptoosisis s ddaarri i sesell tumor.
tumor.
-- IoIoninisasasi ysi yanang dg dititimimbubulklkan oan oleleh rah radidiasasi dai dapapat met memamatitikakan sen sel tul tumomor.r.
-- MMeemmililikiki i kkeemmaammppuuan an mmeengnguurraannggi i rrasasa a sasakkit it ddeennggaan n mmeennggececililkkanan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
-- BBerergguuna sena sebabaggai teai terarapi papi paliliatatif unif untutuk pask pasieien n dedengngan pean perdrdararahahan daan dariri tumornya.
tumornya.
-- WWalalauaupupun pemn pembeberirian raan radidiasasi i bebersrsififat loat lokakal l ddan rean reggioionanal l nanammuun dapn dapatat mengakibatkan defek imun secara general.
mengakibatkan defek imun secara general.
•
• Jenis Pemberian Terapi RadiasiJenis Pemberian Terapi Radiasi
Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa diberikan sebagai : Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa diberikan sebagai :
1.
2.
2. Radiasi interna ( brachytherapyRadiasi interna ( brachytherapy ) yang bisa berupa permanen) yang bisa berupa permanen
implan atau intracavitary barchytherapy. implan atau intracavitary barchytherapy.
1.
1. Radiasi eksterna Radiasi eksterna dapat digudapat digunakan sebagai nakan sebagai ::
-- pepengngobobataatan n efeefektiktif f papada da tutumomor r prprimimer er tatanpa pemnpa pembebesarsaran an kekelelenjanjar r gegetahtah bening
bening
-- pembepembesaran saran tumor tumor primer primer dengdengan pean pembesaran mbesaran kelenjar kelenjar getah getah beningbening -- TerTerapi api yanyang dg dikomikombinbinasi asi dendengan gan kemkemoteroterapiapi
-- Terapi adjuvan diberikan pre operatif atau post operatif padaTerapi adjuvan diberikan pre operatif atau post operatif pada neck dissectionneck dissection
3.
3. Radiasi Interna/Radiasi Interna/ brachyterapibrachyterapi bisa digunakan untuk :bisa digunakan untuk :
-- MeMenanambmbah ah kekekukurarangngan an dodosis pada tumosis pada tumor r priprimemer r dadan n ununtutuk k memengnghinhindadariri terlalu banyak jaringan sehat yang terkena radiasi.
terlalu banyak jaringan sehat yang terkena radiasi.
-- SebagaiSebagai booster booster bila masih ditemukan residu tumor bila masih ditemukan residu tumor -- PePengngobobatatan kan kasasus kaus kambmbuhuh..
2. Kemoterapi 2. Kemoterapi
Kem
Kemoteoterapi rapi sebsebagaagai i teraterapi pi tamtambahbahan an padpada a karkarsinosinoma ma nasnasofarofaring ing terternyatnyata a dapdapatat men
meningingkatkkatkan an hasihasil l teraterapi. pi. TerTerutamutama a dibdiberikerikan an padpada a stadstadium ium lanlanjut jut atau atau padpadaa keadaan kambuh.
keadaan kambuh.
•
• Definisi KemoterapiDefinisi Kemoterapi
Kem
Kemoteroterapi api adaadalah lah segsegolonolongan gan obaobat-obt-obatan atan yang yang dapdapat at menmenghaghambambatt pertumb
pertumbuhan uhan kanker kanker atau baatau bahkan mehkan membunmbunuh sel kuh sel kanker.anker.
Obat-obat anti kaker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal (
Obat-obat anti kaker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal ( activeactive single
single agentsagents), ), tettetapi api kekebabanynyakakan an beberurupa pa kokombmbinainasi si kakarenrena a dadapapat t lelebihbih men
meningingkatkatkan kan potpotensi ensi sitositotoktoksik sik terhterhadaadap p sel sel kankankerker. . SelSelain ain itu itu sel-ssel-sel el yanyangg resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun.
obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun.
•
• ObaObat-Ot-Obabat t SitSitostostatiatika ka yanyang g dirdirekoekomenmendasdasi i FDA FDA untuntuk uk KanKankerker
Kepala Leher Kepala Leher
Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) unt
untuk uk digdigunaunakan kan sebsebagaagai i teraterapi pi kegkeganasanasan an diddidaeraaerah h kepkepala ala dan dan leheleher r yaityaituu Cisplatin, Carboplatin,
Cisplatin, Carboplatin, MethotMethotrexate, rexate, 5-fluoro5-fluorouracil, uracil, BleomBleomycin, ycin, HydroHydroxyureaxyurea,, Doxo
Doxorubicin, rubicin, CycloCyclophosphphosphamide, amide, DoxetaDoxetaxel, xel, MitomyMitomycin-C, cin-C, VincristiVincristine ne dandan Pa
Pacliclitataxexel. l. AkAkhirhir-ak-akhir hir ini ini didilalaporporkakan n pepengnggugunaanaan n GeGemcmcitaitabibine ne ununtutuk k keganasan didaerah kepala dan leher.
keganasan didaerah kepala dan leher.
•
• Sensitivitas Kemoterapi terhadap Karsinoma Sensitivitas Kemoterapi terhadap Karsinoma NasofaringNasofaring
Kemoterapi memang lebih sensitif untuk karsinoma nasofaring WHO I Kemoterapi memang lebih sensitif untuk karsinoma nasofaring WHO I dan
naso
nasofarinfaring g WHWHO-3 O-3 memmemilikiliki i proprognognosis sis palipaling ng baik baik sebsebalikaliknya nya karkarsinosinomama nasofaring WHO-1 yang memiliki prognosis paling buruk.
nasofaring WHO-1 yang memiliki prognosis paling buruk. Adany
Adanya a perbedperbedaan aan kecepatkecepatan an pertumpertumbuhan (buhan ( growth growth) dan pembelahan) dan pembelahan ((divisiondivision) antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel () antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel (cell cyclecell cycle)) mer
merupakupakan an titik tolak titik tolak dari dari cara cara kerkerja ja sitositostatstatika. ika. HamHampir pir semsemua ua sitositostatstatikaika mempengaruhi proses yang berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan mempengaruhi proses yang berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam keadaan membelah pada umumnya lebih duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam keadaan membelah pada umumnya lebih sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat.
sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat.
Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus ( Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus ( Cell Cell Cycle non Spesific
Cycle non Spesific ) artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel) artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel bahkan dalam
bahkan dalam keadaakeadaan n istirahat. Ada istirahat. Ada juga kemoterapi yang juga kemoterapi yang hanya bisa hanya bisa bekerjabekerja pada sik
pada siklus pertulus pertumbuhmbuhan tertean tertentu (ntu ( Cell Cycle phase spesificCell Cycle phase spesific ).).
Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus sel
sel disdisebebutut celcell l cyccycle le spspeciecificfic. . SeSedandangkgkan an obobat at yayang ng dadapapat t memengnghamhambatbat pembel
pembelahan ahan sel sel pada pada semua semua fase fase termasutermasuk k fase fase G0 G0 disebudisebutt celcell l cyccyclele nonspecific
nonspecific. Obat-obat yang tergolong. Obat-obat yang tergolong cell cycle specificcell cycle specific antara lain Metotrexateantara lain Metotrexate dan 5-FU, obat-obat ini merupakan anti metabolit yang bekerja dengan cara dan 5-FU, obat-obat ini merupakan anti metabolit yang bekerja dengan cara menghambat sintesa DNA pada fase S. Obat antikanker yang tergolong menghambat sintesa DNA pada fase S. Obat antikanker yang tergolong cell cell cycle nonspecific
cycle nonspecific antaantara ra lain lain CisCisplatplatin in (ob(obat at ini ini memmemilikiliki i mekmekanisanisme me croscross- s-linking terhadap DNA sehingga mencegah replikasi, bekerja pada fase G1 dan linking terhadap DNA sehingga mencegah replikasi, bekerja pada fase G1 dan G2), Doxorubicin (fase S1, G2, M), Bleomycin (fase G2, M), Vincristine (fase G2), Doxorubicin (fase S1, G2, M), Bleomycin (fase G2, M), Vincristine (fase S, M).
S, M). Da
Dapat pat didimemengngerterti i babahwhwa a zat zat dedengngan an akaksi si mumultltipeipel l bibisa sa memencencegagahh timbulnya klonus tumor yang resisten, karena obat-obat ini cara kerjanya tidak timbulnya klonus tumor yang resisten, karena obat-obat ini cara kerjanya tidak sama. Apab
sama. Apabila ila resiten terhadresiten terhadap agen terteap agen tertentu kemunntu kemungkinagkinan sensitif terhan sensitif terhadapdap agen lain yang diberikan, dikarenakan sasaran kerja pada siklus sel berbeda. agen lain yang diberikan, dikarenakan sasaran kerja pada siklus sel berbeda.
•
• Mekanisme Cara Kerja KemoterapiMekanisme Cara Kerja Kemoterapi
Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja
bekerja dengan dengan mengmenghambat hambat sintesis sintesis enzim enzim maupumaupun n bahan bahan esensial esensial untuk untuk sintesis dan atau
sintesis dan atau fungsi asam nukleat. Berdasarkfungsi asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara an mekanisme cara kerja obat ,kerja obat , zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut :
zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut : 1. Antimet
1. Antimetabolit, abolit, Obat ini menghObat ini menghambat biosintambat biosintesis purin atau pirimidesis purin atau pirimidin. Sebagain. Sebagaii contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk sintesis timidin.
sintesis timidin.
2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti 2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin