Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Desember 2019
Halaman 591 - 595
Kode: PST301
Analisis Kesesuaian antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dengan Pembelajaran yang Diterapkan di Kelas oleh Guru Matematika
di MAN 1 Aceh Tamiang
Taufik Nasution
1, Rizki Amalia
2, 1 Kantor Kementerian Agama Aceh Tamiang, Indonesia 2 Prodi Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Samudra, IndonesiaABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Guru Matematika di MAN 1 Aceh Tamiang; (2) menganalisis hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran; serta (3) menganalisis faktor-faktor kendala dalam membuat RPP dan penerapannya di kelas. Penelitian ini dilaksanakan di MAN 1 Aceh Tamiang. Metode Penelitian menggunakan Mixed Method. Instrumen pengumpulan data adalah lembar observasi, lembar wawancara, dan FGD. Data dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) RPP Matematika 60% masih belum original, RPP hasil download atau mengedit dari punya teman. Namun aspek-aspek kegiatan pendahuluan, inti dan penutup sudah dideskripsikan dengan cukup baik; (2) Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan RPP adalah pada kategori Baik yaitu dengan rata-rata 77,5%; serta (3) kendala yang dihadapi guru dalam penerapan pembelajaran matematika sesuai RPP adalah kurangnya motivasi dalam penyusunan RPP sendiri; kurangnya pemahaman cara membuat RPP sesuai dengan kurikulum 2013 serta Jarangnya pelatihan yang diadakan lembaga atau forum-forum kependidikan.
Kata kunci : RPP, Pembelajaran, Matematika.
ABSTRACT
The objectives of this study are (1) analyzing Mathematics Implementation Plan (Lesson Plan) for Mathematics Teachers at MAN 1 Aceh Tamiang; (2) analyzing the results of observations of the implementation of learning; and (3) analyzing the factors of constraints in making lesson plans and their application in class. This research was conducted at MAN 1 Aceh Tamiang. The research method uses Mixed Method. Data collection instruments were an interview sheet, field notes, and FGD. Data were analyzed with descriptive statistics. The results showed that (1) Mathematics Lesson Plan 60% is still not original, Lesson Plan results downloaded or edited from friends. However aspects of the preliminary, core and closing activities have been described quite well; (2) Based on the results of observations of the implementation of learning in accordance with the Lesson Plan is in the Good category with an average of 77,5%; and (3) the obstacles faced by teachers in applying mathematics learning according to the Lesson Plan are the lack of motivation in the preparation of the Lesson Plan itself; lack of understanding of how to make lesson plans in accordance with the 2013 curriculum and rarely training is held by educational institutions or forums.
1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara efektif kepada peserta didik. Namun seiring pemberlakuan kurikulum 2013, empat Standar Nasional Pendidikan yang terdiri atas Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian mengalami perkembangan (Kemendikbud dalam Nurzain, 2015: 1). Misalnya saja SKL yang memiliki sasaran pembelajaran yang mencakup kompetensi generik (sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan).
Di era digital saat ini sangat mudah mendapatkan contoh administrasi pengajaran tingkat sekolah yang sudah siap pakai di website. Berbagai situs langsung menyediakan administrasi pengajaran tingkat sekolah lengkap, seperti program tahunan (prota), program semester (prosem), silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lainnya. Namun, administrasi pengajaran tersebut selayaknya harus dikembangkan dan disesuaikan dengan karakteristik materi, peserta didik serta sarana dan prasarana di masing-masing sekolah.
Salah satu kendala dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada pembelajaran matematika adalah kurangnya pemahaman guru tentang kurikulum 2013 sehingga mempengaruhi pemahaman dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam setiap kegiatan. Rencana dapat digunakan sebagai pedoman yang berisi ide yang akan dijalankan, tanpa adanya rencana sebuah kegiatan tidak akan berjalan dengan baik. Perencanaan merupakan langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung (Majid, 2009: 22). Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya. Tanpa perencanaan yang matang, kegiatan pembelajaran tidak akan sesuai harapan. Menurut Sanjaya (Setiyasih, 2016: 2), RPP merupakan program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. Sudjana mengatakan bahwa perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang (Setiyasih, 2016: 3). Menurut Permendikbud Nomor 65 tahun 2013, RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).
Setiap guru harus menyusun RPP berbasis kurikulum yang sedang berjalan dan mewujudkannya dalam pembelajaran. Idealnya pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan RPP yang telah disusun, karena dalam RPP tersebut sudah tercantum seluruh rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan pembelajaran yang akan dijalankan. Meski demikian supaya proses pembelajaran dapat lebih kreatif, guru harus melihat situasi dan kondisi di kelas agar pembelajarannya dapat sesuai dan tepat sasaran. Langkah-langkah penyusunan RPP yaitu merumuskan dan menganalisis tujuan, menetapkan dan mengembangkan materi, menetapkan kegiatan pembelajaran, menetapkan/ mengembangkan media dan sumber belajar, dan menyusun alat dan prosedur evaluasi (Suherman, 2001: 125).
Kenyataan di sekolah, banyak guru yang sekedar menjadikan RPP sebagai bahan administrasi yang harus dikumpulkan pada kepala sekolah bukan sebagai bahan belajar untuk proses pembelajaran. Anggapan bahwa mengajar adalah kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari yang membuat para guru merasa tidak memerlukan RPP masih banyak dijumpai di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Guru Matematika di MAN 1 Aceh Tamiang; (2) menganalisis hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran; serta (3) menganalisis faktor-faktor kendala dalam membuat RPP dan penerapannya di kelas.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan menggunakan model penelitian kombinasi (mixed method) concurent embeded (Sugiyono, 2012:538). Subjek dalam penelitian ini yaitu 3 orang guru matematika di MAN 1 Aceh Tamiang.
Instrumen pengumpulan data yaitu: (1) lembar observasi untuk melihat kesesuaian mengajar dengan RPP yang telah dibuat serta kelengkapan RPP sesuai dengan kurikulum 2013; (2) lembar wawancara untuk mengetahui kendala ketika membuat RPP dan menerapkannya di dalam kelas; serta (3) Forum Group Discussion (FGD) dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Tingkat MA di Aceh Tamiang.
Data hasil observasi dianalisis dengan statistik deskriptif. Data ini digunakan sebagai kajian awal dalam menganalisis kegiatan pembelajaran matematika yang telah dilaksanakan serta terkait RPP yang digunakan oleh guru. Sedangkan data hasil wawancara dan FGD dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh faktor-faktor kendala guru dalam penerapan pembelajaran matematika sesuai RPP.
Nasution dan Amalia. Analisis Kesesuaian antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 593
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Observasi
Observasi dalam penelitian ini mencakup pengamatan pada:
1. Kelengkapan RPP yang telah dibuat guru dengan aspek sebagai berikut:
a. Identitas RPP, terdapat: nama satuan pendidikan, kelas/semester, mata pelajaran, materi pokok/tema/KD , alokasi waktu; b. Komponen Utama RPP. Minimal memuat 8
komponen utama dan lampiran pendukung RPP : (a) KI; (b) KD dan IPK; (c) Tujuan Pembelajaran; (d) Materi Pembelajaran; (e) Metode Pembelajaran; (f) Media Pembelajaran dan Sumber Belajar; (g) Langkah-langkah Pembelajaran; (h) Penilaian Hasil Belajar; (i) Lampiran pendukung RPP (materi pembelajaran, instrument penilaian, dan lainnya); serta c. Kelengkapan Komponen RPP mencakup
kesesuaian: Rumusan KI, KD, dan IPK; Rumusan Tujuan Pembelajaran; Materi Pembelajaran; Metode Pembelajaran; Media Pembelajaran dan Sumber Belajar; Langkah kegiatan pembelajaran; Penilaian Hasil Belajar.
2. Kesesuaian pelaksanaan pembelajaran matematika oleh guru dengan RPP yang telah dibuat. Aspek yang diobservasi:
a. Pelaksanaan kegiatan awal; b. Pelaksanaan kegiatan inti; c. Pelaksanaan kegiatan penutup;
d. Interkasi/perilaku siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM); serta
e. Sarana/prasarana dalam KBM.
Berdasarkan hasil analisis lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan RPP adalah pada kategori Baik yaitu dengan rata-rata 77,5%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa RPP mendukung data yang dijaring melalui instrumen kuesioner dengan jumlah skor ideal untuk seluruh butir 1 sampai 10 = 1 x 4 x 10 = 40 (seandainya semua menjawab “Ya”). Sedangkan skor yang diperoleh = 32. Jadi, kesiapan guru matematika di MAN 1 Aceh Tamiang untuk menyusun RPP = (24 : 40) x 100 = 60% dari yang diharapkan (100%), masih belum original.
Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara terhadap 3 orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa umumnya guru belum paham sepenuhnya dalam menyusun RPP secara lengkap. Terkait dengan penyusunan RPP matematika Kurikulum 2013 di MAN 1 Aceh Tamiang, adapun poin yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara, antara lain:
a. Format RPP Kurikulum 2013
Dari keterangan guru matematika, mereka tidak mendapatkan format RPP Kurikulum 2013 yang baku dari sekolah. Sekolah hanya memberikan silabus. Akhirnya, guru tersebut memilih download contoh RPP Kurikulum 2013 dari internet, dan copy paste RPP milik teman. Setelah di cross-check ke pihak di sekolah yang memiliki jabatan atau posisi lebih tinggi, dalam hal ini adalah waka kurikulum, beliau membenarkan bahwa pihak sekolah memang hanya memberi silabus kepada guru. Namun hal itu dilakukan dengan tujuan agar silabus yang diberikan kemudian dikembangkan lagi oleh guru menjadi RPP.
b. Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013
Dari pengakuan para guru matematika di MAN 1 Aceh Tamiang, dua diantaranya sudah pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013. Sedangkan satu diantaranya belum pernah. Setelah di-cross-check ke waka kurikulum, memang benar adanya.
Hasil FGD
Berdasarkan hasil kegiatan FGD (Forum Group Discussion) mengenai Kesesuaian antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Pembelajaran yang Diterapkan di Kelas oleh Guru Matematika, menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas sudah cukup baik. Namun demikian ada kendala yang dihadapi guru dalam penerapan pembelajaran matematika sesuai RPP yaitu kurangnya motivasi dalam penyusunan RPP sendiri; kurangnya pemahaman cara membuat RPP sesuai dengan kurikulum 2013, Jarangnya pelatihan yang diadakan lembaga atau forum-forum kependidikan. Maka FGD ini sangat perlu karena dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Contoh pendapat guru yang sesuai untuk mendukung jawaban dari rumusan masalah yaitu :
“ Untuk kelas yang siswanya banyak yang kemampuannya kurang, saya kehabisan waktu ketika melaksanakan pembelajaran dengan rancangan pembelajaran...” (Guru 2)
“ Untuk mengejar materi agar selesai, saya harus memberikan tugas atau pekerjaan rumah yang cukup banyak...mungkin memberatkan siswa...” (Guru 3) “...pembelajaran dengan 5M memerlukan waktu yang lama, saya kesulitan mengatur waktu pembelajaran karena muatan materi banyak, takut materi tidak selesai...” (Guru 1). “ Silabus dan materi tidak sesuai, karena pihak sekolah tidak memberikan format RPP Kurikulum 2013 yang baku...jadi sulit mengampunya...” (Guru 2). Mata pelajaran matematika dijumpai kendala yang variatif perihal penyusunan RPP Kurikulum 2013. Ada beberapa faktor penyebab dari masalah tersebut salah satunya adalah belum pernah mengikuti pelatihan, dan belum memiliki bekal yang cukup tentang Kurikulum 2013.
Gambar 1. Kesesuaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan RPP dan Kelengkapan RPP yang telah dibuat
Pembahasan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah salah satu administrasi prasyarat yang harus dibuat oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran di kelas. Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar atau tujuan pembelajaran.
Setiap pendidik pada suatu pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara individu maupun berkelompok dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), di bawah koordinasi dan supervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan.
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan FGD diperoleh bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Guru Matematika di MAN 1 Aceh Tamiang masih belum hasil pengembangan sepenuhnya oleh guru-guru tersebut atau hasil diskusi antar guru. Hasil observasi kelengkapan RPP diperoleh bahwa bagian yang dianggap kurang lengkap atau kurang sesuai yaitu:
a. Model pembelajaran yang belum menerapkan pembelajaran aktif yang bermuara pada pengembangan HOTS;
b. Belum memanfaatkan teknologi pembelajaran sesuai dengan konsep dan prinsip tekno-pedagogis/Techno-Pedagogical Content Knowledge (TPACK); serta
c. Pada langkah-langkah pembelajaran bagian kegiatan penutup belum memuat lengkap kesimpulan, refleksi, penilaian dan tindak lanjut penilaian.
Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran diperoleh bahwa bagian yang dianggap kurang lengkap yaitu:
a. Pada kegiatan awal, kurangnya penyampaian tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai peserta didik dan penilaian yang akan dilakukan;
b. Pada kegiatan inti, belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan literasi,
mengembangkan karakter,
mengintegrasikan keterampilan hidup abad 21 atau dikenal dengan 4C (critical thinking, creativity, collaboration, communication) atau berpikir kritis, berkreasi, berkolaborasi/bekerjasama, berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran;
c. Pada bagian kegiatan penutup, belum melaksanakan refleksi atau tindak lanjut penilaian;
d. Belum menggambarkan proses pembelajaran yang menimbulkan interaksi multi-arah, antar peserta didik, interaksi peserta didik dengan guru, dan interaksi dengan bahan/alat/lingkungan belajar; serta e. Media pembelajaran belum variatif atau
kontekstual.
60% 40%
Kelengkapan RPP yang telah dibuat
Lengkap Kurang lengkap
77.50% 22.50%
Kesesuaian Pelaksanaan Pembelajaran
dengan RPP
Sesuai Tidak Sesuai
Nasution dan Amalia. Analisis Kesesuaian antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 595
Faktor-faktor kendala dalam membuat RPP serta menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan RPP di kelas adalah:
a. Kurangnya motivasi dalam penyusunan RPP sendiri. Pada tiap awal tahun ajaran, guru selalu diminta untuk mempersiapkan administrasi pengajaran termasuk program tahunan, program semester, silabus, RPP hingga soal ulangan. Namun, guru sering hanya menggunakan administrasi pengajaran yang telah ada pada tahun-tahun sebelumnya. Beberapa RPP pada pertemuan tertentu akan digubah nantinya jika akan datang pengawas sekolah.
b. Kurangnya pemahaman cara membuat RPP sesuai dengan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 sebagai pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sudah mengalami beberapa kali revisi. Ada beberapa hal mendasar yang harus input pada RPP berbasis kurikulum 2013. Salah satunya adalah penggunaan model pembelajaran yang inovatif dan dapat mengembangkan High Order Thinking Skills (HOTs) siswa. Soal – soal latihan yang akan diberikan bukan lagi sekedar soal-soal rutin, namun lebih kepada soal-soal penalaran dan kemampuan pemecahan masalah.
c. Jarangnya pelatihan yang diadakan lembaga atau forum-forum kependidikan. Pelatihan masih dilaksanakan secara bertahap kepada guru-guru bidang studi pada sekolah-sekolah. Dinas pendidikan tentunya diharapkan akan konsisten dan berkesinambungan memfasilitasi diskusi dalam implementasi pembelajaran.
4. SIMPULAN
RPP Matematika 60% masih belum original, RPP hasil download atau mengedit dari punya teman. Namun aspek-aspek kegiatan pendahuluan, inti dan
penutup sudah dideskripsikan dengan cukup baik. Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan RPP adalah pada kategori Baik yaitu dengan rata-rata 77,5%; serta Kendala yang dihadapi guru dalam membuat RPP dan menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan RPP adalah kurangnya motivasi dalam penyusunan RPP sendiri; kurangnya pemahaman cara membuat RPP sesuai dengan kurikulum 2013, serta jarangnya pelatihan yang diadakan lembaga atau forum-forum kependidikan.
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala sekolah, guru matematika dan siswa-siswa MAN 1 Aceh Tamiang yang telah berpartisipasi, baik secara langsung maupun tidak, pada penelitian ini.
6. DAFTAR PUSTAKA
Majid, Abdul. 2009. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nurzain, Lutfiyah. 2015. “Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rpp) Matematika Kurikulum 2013 Kelas X Semester 1 Tahun Ajaran 2014/2015 Di Man Babakan Tegal”. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses.
Setiyasih. Rezkina Mega. 2016. Kesesuaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Jawa di SMP Se-Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang. Piwulang : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa,
4(1). Retrieved from
https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/piwula ng/article/view/10292
Suherman, Wawan S. 2001. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: FIK UNY.