Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 1
MUJAYANAH, S.Ag.,M.Pd.I
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
Untuk Siswa Kelas VIII MTs.
KLS VIII
KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN TEGAL
2 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
Untuk Siswa Kelas VIII MTs.
Penulis : MUJAYANAH, S.Ag., M.Pd.I Editor : Drs. A Sholahuddin, M.M Perancang Kulit : Sustanto, M.Pd.
Ilustrasi, Tata Letak : Islamudin Akbar, S.Kom Ukuran Buku : 21,59 x 29,74 cm
Diterbitkan Oleh: FGP Press Tahun 2017
MJY, Mujayanah, S.Ag., M.Pd.I
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM, Untuk siswa kelas VIII MTs./
Mujayanah, Editor: A. Sholahuddin, M.M.
Tegal. 2017
ISBN-13: 978-2138457420 ISBN-10: 2138457420
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 3 Puji syukur dihaturkan ke Hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan segala rahmat, taufik, hidayah-Nya kepada kita sekalian, sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini. Buku ini disusun untuk membantu siswa Kelas VIII MTs dalam proses pembelajaran Sajarah Kebudayaan Islam (SKI).
Buku pelajaran Sajarah Kebudayaan Islam (SKI) ini disusun berdasarkan KI/KD Kurikulum 2013 yang telah direvisi tahun 2016. Buku ini dilengkapi soal- soal latihan yang digunakan sebagai ajang latihan menghadapi penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester. Semoga buku ini dapat dijadikan referensi mata kuliah tertentu. Tentu kekurangsempurnaan pada penulisan bisa ditemukan, sehingga saran-kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga buku penunjang kegiatan pembelajaran ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Amin.
Slawi 31, Agustus 2017
Penulis
PENGANTAR PENULIS
4 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB 1 SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH A. Runtuhnya Dinasti Umayah ... 8
B. Proses Berdirinya Dinasti Abbasiyah ... 9
C. Silsilah Khalifah Dinasti Abbasiyah ... 13
D. Khalifah-khalifah yang Berprestasi ... 17
Uji Kompetensi ... 24
BAB 2 CEMERLANGNYA ILMUWAN MUSLIM DINASTI ABBASIYAH A. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Beserta Tokoh-tokohnya ... 29
Uji Kompetensi ... 40
B. Perkembangan Ilmu Agama Beserta Tokoh dan Karyanya ... 43
Penlaian Tengah Semeter Gasal ... 53
BAB 3 PERADABAN EMAS DINASTI ABBASIYAH A. Kemajuan Administrasi Pemerintahan, Militer Dan Kebijakan Politik ... 57
B. Kemajuan Bidang Sosial, Ekonomi Dan Budaya ... 58
C. Kemajuan Dibidang Ilmu Pengetahuan ... 60
D. Perkembangan Sastra ... 62
E. Perkembangan Seni Musik ... 65
F. Perkembangan Seni Bangunan Dan Arsitektur... 65
G Kemajuan Bidang Pendidikan Dan Perpustakaan ... 67
Uji Kompetensi ... 69
Penilaian Akhir Semester Gasal ... 71
BAB 4 SEJARAH BERDIRINYA DAULAH AL AYYUBIYAH A. Latar Belakang Berdirinya Dinasti Ayyubiyah ... 78
B. Masa Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah ... 78
Tugas 1 ... 79
Tugas 2 ... 86
C. Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah ... 88
Uji Kompetensi ... 88
Penilaian Tengah Semester Genap ... 91
BAB 5 PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA DINASTI AYYUBIYAH A. Kemajuan Di Pelbagai Bidang Pada Masa Dinasti Ayyubiyah ... 95
B. Al Azhar : Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dan Ilmu-Ilmu Ke-Islaman ... 96
C. Ulama Termasyhur Pada Masa Dinasti Al Ayyubiyah Dan Hasil Karyanya ... 100
Uji Kompetensi ... 101
Penilaian Akhir Semester Genap ... 103
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR ISI
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 5 KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR (KD)
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) KELAS VIII SEMESTER GASAL
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1. Menghayatiibrah atau nilai-nilai dari proses berdirinya dinasti bani
Abbasiyah.
2.1. Menunjukkan sikap bijaksana sebagai implementasi dari pemahamanmengenai sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah 3.1 Memahamisejarah berdirinya dinasti
Abbasiyah
4.1. Menceritakan silsilah kekhalifahan dinasti bani Abbasiyah
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
1.2. Menghayati nilai-nilai positif dari para khalifah pilihan dari dinasti Abbasiyah.
2.2. Meneladani perilaku istikamah seperti yang dicontohkan oleh para khalifah dari dinasti Abbasiyah
3.2 Memahami perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam pada masa dinasti Abbasiyah
4.2. Menceritakan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah
3 Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
1.3. Menghayati nilai semangat menuntut ilmu yang dicontohkan oleh ilmuwan muslim dalam bidang ilmu pengetahuan umum pada masa dinasti Abbasiyah.
2.3. Menunjukkan perilaku semangat belajar sebagai implementasi dari pemahaman mengenai tokoh ilmuwan muslim di bidang ilmu pengetahuan pada masa dinasti Abbasiyah
3.3 Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim Ali bin Rabban at-Tabari, Ibnu Sina, ar- Razi (ahli kedokteran), Al-Kindi, Al- Gazali, Ibnu Maskawaih (ahli filsafat), Jabir bin Hayyan ahli kimia),
Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (ahli astronomi) dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/ peradaban Islam 4.3. Menceritakan biografi dan karya para
ilmuwan muslim pada masa Dinasti Abbasiyah
6 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
4. Mengolah, menyaji, dan menalar
dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang semua dalam sudut pandang/teori.
1.4 Menghayati nilai-nilai positif yang ditunjukkan oleh ilmuwan muslim dalam bidang agama pada masa dinasti
Abbasiyah
2.4 Menunjukkan perilaku sungguh- sungguh dalam menuntut ilmu seperti yang dicontohkan oleh ilmuwan muslim di bidang ilmu-ilmu agama pada masa dinasti Abbasiyah
3.4 Mengidentifikasi para ulama’ penyusun kutubussittah (ahli hadis), empat imam mazhab (ahli fikih), Imam At-Tabari, Ibnu Katsir (ahli tafsir) dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa dinasti Abbasiyah.
4.4 Memaparkan peran ilmuwan muslim dalam bidang agama dalam memajukan kebudayaan / peradaban pada masa dinasti bani Abbasiyah
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 7 1. Menghayati perjuangan Shalahuddin Al Ayubi untuk menegakkan agama Allah Swt 2. Berkomitmen untuk berjuang dalam mensyiarkan kebenaran sesuai dengan kondisi
sekarang yang lebih menitikberatkan aspek humanis (kemanusiaan) 3. Menjelaskan sejarah berdirinya Dinasti Al Ayyubiyah
4. Mengidentifikasi para pendiri Dinasti Al Ayyubiyah 5. Mengidentifikasi penguasa Dinasti Al Ayyubiyah 6. Menceritakan terjadinya peristiwa perang salib
7. Menceritakan kegigihan Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi dalam merebut kembali Masjidil Aqsha
SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH
RUNTUHNYA DINASTI UMAYYAH
PROSES TERBENTUKNYA
DINASTI ABBASIYAH
SILSILAH DINASTI ABBASIYAH
KHALIFAH- KHALIFAH BESAR
DINASTI ABBASIYAH
ABU JA''FAR AL- MANSUR (754-775M)
HARUN AL-RASYID (786-809M)
ABDULLAH AL- MA'MUN (809-833M)
Sejarah Berdirinya
Dinasti Abbasiyah
8 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
Dinasti Umayyah yang dirintis oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 41H/661 M dan dilanjutkan oleh generasi keturunannya mengalami pasang surut, Pada awal didirikannya, selama masa pemerintahan Mu`awiyah sebagai khalifah pertama, banyak mencapai keberhasilan, terutama penguatan administrasi pemerintahan dan perluasan wilayah. Selanjutnya pada masa pemerintahan, Abdul Malik,al Walid I,Umar II dan Hisyam, mengalami masa-masa kejayaan dan kebesaran, baik di bidang politik, militer, ekonomi, budaya, sastra dan ilmu pengetahuan. Namun dalam perkembangannya kemudian, berbagai kesuksesan dan kebesaran yang telah diraih oleh Bani Umayyah mengalami kemunduran bahkan memasuki masa kehancuran, akibat kelemahan- kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari fihak luar. Untuk mengetahui bagaimana proses tersebut terjadi, berikut uraiannya.
A. RUNTUHNYA DINASTI UMAYAH
Dinasti Umayyah berkuasa kurang lebih 90 tahun, namun pada akhirnya mengalami masa-masa kemunduran, ditandai dengan melemahnya sistem politik dan pemerintahan, di samping munculnya berbagai tekanan dari luar, berupa pemberontakan-pemberontakan.
Setelah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, para Khalifah Bani Umayyah sangat lemah dan tidak bisa mengendalikan pemerintahan dan keamanan. Di kalangan keluarga internal Khalifah, sering terjadi pertikaian disebabkan perebutan kekuasaan mengenai siapa yang akan menduduki kekhalifahan sesudahnya.
Selama masa Khalifah Marwan, beliau disibukkan mengatasi berbagai pemberontakan, sampai akhirnya meninggal di medan perang.
Diantara beberapa peristiwa yang menjadi faktor kemunduran Bani Umayyah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Figur Khalifah yang lemah. Sepeninggal Khalifah Hisyam, tidak ada khalifah yang kuat yang mampu mengkonsolidasikan pemerintahan, menjaga keutuhan dan kewibawaan negara.
2. Tidak adanya ketentuan mekanisme pengangkatan khalifah, menimbulkan terjadinya perebutan kekuasaan di kalangan anggota keluarga Bani Umayyah.
3. Pemindahan ibu kota dari Madinah ke Damaskus yang merupakan bekas ibu kota Kerajaan Bizantium, mengakibatkan gaya hidup mewah bangsawan Bizantium mulai mempengaruhi dan ditiru keluarga Dinasti Umayah.
4. Para ulama merasa kecewa terhadap para penguasa yang tidak memiliki integritas keagamaan dan politik yang sesuai dengan nilai-nilai syari’at Islam.
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 9 5. Pertentangan keras yang sudah sejak lama terjadi antara suku Arab Utara (disebut
Arab Quraisy atau Mudariyah) yang menempati Irak dengan Arab Selatan (disebut Yamani atau Himyariyah) yang berdiam di wilayah Suriah mencapai puncaknya, karena para khalifah berpihak kepada suku Arab Yamani.
6. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab, yakni pendatang baru dari bangsa-bangsa yang dikalahkan yang disebut “Mawali”. Mereka bersama-sama bangsa Arab mengalami beratnya peperangan, tetapi diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua. Golongan non Arab, terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali menggambarkan inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
7. Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin yang terakhir, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sisa-sisa kaum Syi`ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi. Penumpasan terhadap gerakan- gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
8. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al- Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim. golongan Syi`ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah
Keruntuhan Dinasti Umayyah benar-benar terjadi dengan kemenangan pasukan Abu Abbas yang didukung oleh pasukan Abu Muslim Al-Khurasani dalam pertempuran Zab Hulu melawan pasukan Khalifah Marwan pada tahun 748 M.
Kekalahan ini menjadi akhir dari kekuasaan Dinasti Umayyah dan menjadi awal berdirinya Dinasti Abbasiyah mulai tahun 750 M -1258 M.
B. PROSES BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH
Dinasti Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muthalib (566-652 M), oleh karena itu mereka juga termasuk keturunan Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 132H/750M dan memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Baghdad.
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Persia pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa
10 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750 M, Abu al-Abbas as-Saffah berhasil meruntuhkan Dinasti Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.
Dinasti Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 M kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan.
Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909M, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171M. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929M, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1013M.
1. Asal-usul Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan Dinasti Umayyah yang telah runtuh di Damaskus. Dinamakan kekhalifahan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya diambil dari keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW yaitu Abbas bin Abdul Mutholib. Adapun penggagas pertama berdirinya Dinasti Abbasiyah adalah Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutholib bin Abdi Manaf bin Hasyim. Walaupun Ali bin Abdullah tidak sempat mewujudkan berdirinya Daulah Abbasiyah namun anak cucunya berhasil mewujudkan cita-cita Ali bin Abdullah tersebut setelah melalui proses yang sangat panjang. Dengan demikian para pendiri Dinasti Abbasiyah masih keturunan Bani Hasyim. Pada saat Rasullulah SAW menyebarkan Islam di Mekkah, antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah sering terjadi pertentangan dan persaingan. Selain karena Bani Umayyah berasal dari golongan hartawan, mereka pun menjadi penentang kuat dakwah Rasulullah SAW.
Sedangkan Bani Hasyim merupakan pendukung utama Rasulullah dalam menjalankan dakwahnya.
Setelah pemerintahan Islam berada dibawah kekuasaan Bani Umayyah, keluarga Bani Hasyim adalah adalah pihak yang paling banyak dirugikan. Bani
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 11 Umayyah mengubah sistem pengalihan kekuasaan Islam yang demokratis menjadi dinasti turun temurun, terlebih lagi perlakuan para penguasa Bani Umayyah terhadap Ali bin Abi Tholib dan keturunannya yang sangat diskriminatif. Oleh karena itu maka beberapa tokoh dari keturunan Abbas sangat berambisi untuk merebut kekuasaan dari Bani Umayyah
2. Perintis dan pendiri Dinasti Abbasiyyah (Daulah Abbasiyyah)
Dinasti Abbasiyah berdiri 132 H/750 M melalui perjuangan dan proses yang sangat panjang dan berliku. Ada enam tokoh perintis dan pendiri Dinasti Abbasiyah yaitu :
a. Ali bin Abdullah b. Muhammad bin Ali c. Ibrahim bin Muhammad d. Abu Abbas As Safah e. Abu Ja,far Al Manshur f. Abu Muslim Al Khurasani
Sebelum Dinasti Umayyah runtuh, Bani Abbasiyyah telah memposisikan diri sebagai oposisi yang menyebarkan propaganda anti pemerintahan Dinasti Umayyah.
Gerakan ini tidak hanya datang dari Bani Abbas tetapi juga dari Kaum Syi’ah yang ingin menuntut balas atas terbunuhnya Imam Husain bin Ali di Karbala secara keji, dan kaum Mawalli yang menuntut hak, persamaan dan keadilan dari pemerintahan Dinasti Umayyah.
Pemimpin gerakan dakwah ini adalah Ali bin Abdullah bin Abbas, ia sangat berambisi merebut kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Untuk mewujudkan keinginannya ia melakukan taktik dan strategi yang lama namun pasti. Ia berpendapat bahwa pemindahan kekuasaan dari satu kelompok ke kelompok yang lain harus mendapat dukungan dari seluruh rakyat. Ali bin Abdullah bin Abbas melakukan propaganda ini kepada masyarakat luas. Untuk mendapatkan simpati masyarakat maka Ali bin Abdullah meminta pendukungnya untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat agar membantu keluarga Rasulullah SAW yang telah diperlakukan tidak adil selama pemerintahan Bani Umayyah. Namun sayang, sebelum mewujudkan cita-citanya beliau wafat pada tahun 124H/ 742M.
Setelah Ali bin Abdullah wafat kemudian diganti oleh anaknya yaitu Muhammad bin Ali. Namun sayang, sebelum Dinasti Abbasiyah terbentuk Muhammad bin Ali telah meninggal pada tahun 127H/ 745M . Ia melakukan usaha propaganda anti pemerintahan Dinasti Umayyah sebagaimana yang telah dilakukan ayahnya.
Muhammad bin Ali memperluas gerakan Dinasti Abbasiyah dan menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan. Ketiga kota itu adalah al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kuffah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan
12 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
praktis. Kuffah dan Khurasan dianggap sebagai tempat yang strategis, karena banyak dihuni oleh masyarakat muslim non-Arab yang merasa tidak puas dengan pemerintahan DinastiUmayyah yang memperlakukan mereka secara tidak adil. Usahanyabenar-benar mendapat dukungan kuat dari masyarakat muslim non-Arab.
Sepeninggal Muhammad bin Ali kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Ibrahim aI-Imam. Ia juga melakukan propaganda anti DinastiUmayyah. Ia menunjuk seorang khurasan sebagai panglima perangnya, yaitu Abu Muslim al-Khurasani. Abu Muslim al-Khurasani adalah seorang pemuda yang menampilkan bakat kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa. Padahal, waktu ia dijemput sebagai panglima perang oleh Ibrahim Al-Imam ia baru berusia 19 tahun. Ia mencapai sukses besar di Khurasan, ia berhasil menarik simpati sebagian besar penduduk. Banyak tuan tanah di persia yang mengikutinya, ia berkampanye untuk memunculkan rasa kebersamaan diantara golongan Alawiyyin (keturunan Ali), golongan syi’ah dan orang-orang Persia untuk menentang Dinasti Umayyah yang telah menindas mereka. Abu Muslim al-Khurasani mengajak mereka bekerja sama dengan gerakan Abbasiyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada golongan Bani Hasyim, baik dari keturunan Abbas bin Abdul Mutholib maupun dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
Sebelum Abu Muslim Al-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah dilakukan secara diam-diam. Para da’i dikirim keberbagai penjuru wilayah Islam dengan menyamar sebagai pedagang atau jama’ah haji. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Setelah Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima, Ibrahim Al-Imam mendorong Abu Muslim untuk merebut khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah. Rencana ini diketahui oleh penguasa Dinasti Umayyah. Melihat kondisi tersebut khalifah Marwan II, khalifah terakhir Dinasti Umayyah menganggapnya sebagai ancaman. Ia mengirim pasukan untuk menangkap Ibrahim Al- Imam lalu diasingkan dan dibunuh tahun 128H/ 746M.
Penangkapan terhadap Ibrahim Al-Iman telah membangkitkan kemarahan saudaranya yaitu Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja’far al-Mansur. Pada tahun 129H/
747M. Mereka dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani melakukan pemberontakan dan penyerangan dikota-kota penting DinastiUmayyah. Abu Muslim al-Khurasani segera memulai gerakannya. Dengan pandai ia memanfaatkan pertentangan antara suku Arab Qaisy dan suku Arab Yaman yang sudah berlangsung lama. Pada masa itu orang-orang Yaman mendapat kedudukan yang baik dari Khurasan. Hal itu disebabkan Gubernur Khurasan saat itu berasal dari suku arab Yamani yaitu As’ad bin Abdullah al-Qasri.
Pada waktu Abu Muslim al-Khurasani memulai gerakannya, gubernur Khurasan di jabat oleh Nasr bin Sayyar berasal dari suku Arab Qaisy. Abu Muslim al-Khurasani mendekati al-Kirmani, pemimpin suku Arab Yamani di Khurasan. Dengan siasat adu domba gubernur Nasr bin Sayyar berhasil dikalahkan.
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 13 Sementara itu Kahtaba danAbu Muslim al-Khurasani maju ke sebelah barat, ia didampingi oleh Khalid bin Barmak. Mereka menyeberangi sungai eufrat dan sampai ke medan karbala. Pertempuran dahsyat pun berkobar. Gubernur Dinasti Umayyah yang bernama Yazid berhasil dikalahkan. Namun Kahtaba gugur dalam pertempuran itu. Dibagian timur, tentara Dinasti Abbasiyah terus bergerak maju. Putra khalifah Marwan dikalahkan Abu Ayun, Seorang panglima Dinasti Abbasiyah. Khalifah Marwan II akhirnya memimpin langsung usaha terakhir untuk mempertahankan Dinastinya. Ia menggerakkan 120.000 tentara menyeberangi sungai tigris serta maju menuju Zab Hulu atau Zab Besar.
Akhirnya khalifah Marwan II terkepung dikota Damaskus, namun ia berhasil melarikan diri ke Yordania lalu ke Palestina, pemberontak terus mengikutinya dan menaklukkan setiap kota kedalam kekuasaan Bani Abbasiyah. Tidak ada lagi tempat baginya untuk melarikan diri selain Mesir, yang kebanyakan penduduknya tidak menyukai DinastiUmayyah akibat kekejaman dan ketidakadilan yang mereka terima.
Akibatnya, Khalifah Marwan II dihadang oleh pasukan Abbasiyah yang dikirim oleh Abu Abbas as-Saffah. Pada tahun 132H/ 750M, Khalifah Marwan II ditangkap dikota kecil yaitu al-Askar sebelah timur kota Fustath ibu kota Mesir saat itu. Kepalanya dipenggal lalu dikirim kepada Abu Abbas sebagai bukti kekalahan musuhnya.
Dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus dan berdirilah Daulah Abbasiyah dengan khalifah pertama Abu Abbas as- Saffah yang memerintah tahun 132-136H/ 750-754M. Abu Abbas as-Saffah di baiat sebagai khalifah di masjid Kuffah.
C. SILSILAH KHALIFAH DINASTI ABBASIYAH
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Dinasti Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Dinasti Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang lebih kurang lima setengah abad, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M).
Perkembangan Kebudayaan /Peradaban Islam masa dinasti Abbasiyah dapatdilihat pada masa periodesasi dari pertama s/d kelima. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyyah menjadi lima periode:
1. Periode pertama
Khalifah dinasti Abbasiyah pada periode pertama adalah sebagai berikut.
a. Khalifah Abu Abbas As Safah (750 - 754 M) b. Khalifah Abu Ja’far Al Manshur (754 - 775 M) c. Khalifah Al Mahdi (775 - 785 M)
14 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
d. Khalifah Al Hadi (785 - 786 M)
e. Khalifah Harun Al Rasyid (786 - 809 M) f. Khalifah Al Amin (809 - 813 M)
g. Khalifah Al Makmun (813 - 833 M) h. Khalifah Al Muktasim (833 - 842 M) i. Khalifah Al Wasiq (842 - 847 M)
Periode pertama disebut periode pengaruh Persia pertama. Karena terdapat sebuah keluarga bangsawan Persia yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah yakni Keluarga Barmak.
Yang pertama adalah Khalid bin Barmak diangkat sebagai gubernur di Mesopotamia karena berjasa membantu menumpas pemberontakan di wilayah tersebut.
Kemudian Khalid bin Barmak diangkat menjadi wazir sehingga membuat mereka menjadi keluarga kaya dan sangat terkenal. Fazal bin Rabi dari bangsawan Arab melaporkan keluarga Barmak bahwa mereka mengadakan gerakan rahasia untuk menghancurkan Bani Abbasiyah. Maka Harun Al Rasyid menghukum mereka sesuai dengan kesalahannya dan menyita hartanya untuk negara.
Di awal pemerintahannya, Abu Abbas menghancurkan sisa-sisa kekuatan Dinasti Umayyah. Abu Ja’far Al Mansur adalah khalifah Dinasti Abbasiyah yang berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh, dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan DinastiAbbasiyah dan tidak segan- segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu dan membahayakan kelangsungan pemerintahannya, diantara sikap tegasnya adalah sebagai berikut.
a. Membunuh Abdullah bin Ali
b. Membunuh Abu Muslim Al Khurasani c. Menumpas pemberontakan Rawandiyah
d. Menumpas pemberontakan kaum Khajar dan Kurdi di Mesopotamia e. Menumpas pemberontakan kaum Khawarij di Afrika Utara.
Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al Mansur, yaitu sebagai berikut.
a. Memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad
b. Mengadakan perbaikan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik.
c. Pengawasan terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat
d. Petugas pos-pos komunikasi dan surat menyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan
Patung Abu Jafar Al Mansur
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 15 e. Melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan, antara lain ke wilayah Armenia,
Mesisah, Andalusia, dan Afrika.
Pemberontakan demi pemberontakan yang ada dapat ditumpas dengan kekuatan militer Dinasti Abbasiyah. Masa khalifah Al Mahdi, beliu menghadapi lawan politiknya secara lembut, ia membebaskan orang-orang yang dipenjara ayahnya (Abu Ja’far Al Mansur) seperti Hasan bin Ibrahim, ia juga mengembalikan hak-hak istimewa kota suci yang dicabut ayahnya, harta keturunan nabi dan Ali bin Abi Thalib yang dirampas juga dikembalikan. Pada masa Khalifah Al Mahdi muncul seorang yang mengaku sebagai “Nabi Berkerudung” yang bernama Hisyam bin Hakim, seorang laki- laki bertubuh kecil dan yang berwajah jelek. Setelah itu muncul Ibnu Abdul Qudus yang mendakwahkan ajaran-ajaran yang merupakan Zoroasterianisme yang terselubung, pengikutnya disebut kaum Zindik.
Masa khalifah Harun Al Rasyid merupakan masa kejayaan DinastiAbbasiyah, secara militer ia dapat menumpas pemberontak-pemberontak, menjadikan wilayah Islam sangat luas dan disegani oleh musuh. Nama besar Harun Al Rasyid hanya dapat disejajarkan dengan Karel Agung seorang Kaisar Romawi. Secara politis Harun Al Rasyid menjalin hubungan dengan bangsa Romawi melalui perjanjian damai sehingga mereka tidak menyerang Islam dan bersedia membayar upeti kepada Dinasti Abbasiyah. Harun Al Rasyid juga menjalin hubungan baik dengan raja-raja Cina.
Selain berbagai pemberontakan, ada juga konflik internal Dinasti Abbasiyah, yaitu antara khalifah Al Amin dengan Al Makmun (pada saat itu sebagai penguasa wilayah Khurasan), Akhirnya khalifah Al Amin meninggal dibunuh oleh orang-orang Persia pendukung Al Makmun. Selanjutnya Al Makmun menjadi khalifah DinastiAbbasiyah.
Paham yang dianut Dinasti Abbasiyah adalah Sunni tetapi khalifah Al Makmun ketika belajar di Merv terkena pengaruh Syi’ah sehingga kebijakan-kebijakannya lebih cenderung ke Syi’ah bahkan ia ingin mewariskan kekhalifahan kepadaorang Syi’ah yaitu Imam Ali Reza. Hal ini mengakibatkan munculnya pemberontakan.
Khalifah Al Mu’tasim mulai merekrut tentara dari orang-orang Turki, selanjutnya diangkat pula seorang perwira Turki sebagai wakil khalifah dan akhirnya tentara Turki memanfaatkan posisi mereka untuk menguasai Dinasti Abbasiyah.
2. Periode kedua
Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode kedua adalah sebagai berikut.
a. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) b. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) c. Khalifah Al-Musta'in (862-866 M) d. Khalifah Al-Mu'tazz (866-869 M) e. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) f. Khalifah Al-Mu'tamid (870-892 M)
16 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
g. Khalifah Al-Mu'tadid (892-902 M) h. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) i. Khalifah Al-Muqtadir (908-932 M) j. Khalifah Al-Qahir (932-934 M) k. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) l. Khalifah Al-Muttaqi (940-944 M)
Periode kedua adalah periode pengaruh Turki pertama,karena pemerintahan Dinasti Abbasiyah banyak dipengaruhi orang-orang Turki. Pada masa ini pengaruh salaf sangat kuat, sementara aliran Mu’tazilah mengalami kemunduran seiring dengan mulai ditinggalkannya kebebasan berfikir.
Mereka berbuat sekehendaknya. Memilih khalifah sesuai dengan keinginan mereka dan menghentikannya jika sudah tidak menginginkannya. Khalifah tidak memiliki kewenangan tetapi hanya sebagai simbol kepemimpinan saja. Rakyat tidak puas dengan kondisi politik pemerintahan sehingga muncul banyak pemberontakan. Di samping itu pasukan Byzantium juga mulai menyerang beberapa wilayah Islam.
3. Periode ketiga
Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode ketiga adalah sebagai berikut.
a. Khalifah Al-Mustakfi (944-946 M) b. Khalifah Al-Muti (946-974 M) c. Khalifah At-Ta'i (974-991 M) d. Khalifah Al-Qadir (991-1031 M)
Periode ketiga disebut juga periode pengaruh Persia kedua, Hal ini disebabkan karena pemerintahan Dinasti Abbasiyah sangat dipengaruhi oleh bangsa Persia yaitu keluarga Buwaihi. Pada masa ini keluarga Bani Buwaihi menjadi orang kepercayaan khalifah. Mereka bahkan memiliki kekuasaan sebagaimana khalifah. Khalifah Al Mustakfi mengundang dinasti Buwaihi dari daerah Dailami untuk mengalahkan tentara Turki. Pasukan yang dipimpin oleh Ahmad bin Buwaihi masuk kota Baghdad dan dapat mengusir tentara Turki dari Baghdad. Ahmad bin Buwaihi dijadikan amirul umaro sebagai pelaksana pemerintahan. Mulai saat itu Dinasti Abbasiyah berada di bawah kekuasaan dinasti Buwaihi yang berpaham Syi’ah.
Khalifah Dinasti Abbasiyah tidak memiliki kewenangan apapun bahkan dalam urusan agama. Khalifah tidak boleh khotbah jum’at tapi diserahkan kepada orang- orang Bani Buwaihi.Pada periode inikondisi politik sangat tidak stabil.
4. Periode keempat
Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode keempat adalah sebagai berikut.
a. Khalifah Al-Qa'im (1031-1075 M) b. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1094 M) c. Khalifah Al-Mustazhir (1094-1118 M)
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 17 d. Khalifah Al-Mustarsyid (1118-1135 M)
e. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) f. Khalifah Al-Muqtafi (1136-1160 M) g. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) h. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M)
Periode keempat disebut juga periode pengaruh Turki kedua, karena dinasti Seljuk yang merupakan bangsa Turki berperan penting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
Kondisi politik Dinasti Abbasiyah tidak stabil, terjadi perebutan jabatan amirul umaro di lingkungan Bani Buwaihi yaitu antara panglima tentara dengan perdana menteri sehingga khalifah Al Qa’im meminta bantuan Bani Seljuk. Tugrul Bek dari Bani Seljuk masuk ke Baghdad dan mengalahkan Bani Buwaihi, Maka periode ini Dinasti Abbasiyah dikuasai oleh Bani Seljuk, jabatan amirul umaro diberikan kepada Tugrul Bek, Bani Seljuk berpaham Sunni. Pada periode ini kedudukan khalifah mulai membaik terutama dalam bidang agama karena kedua kekuasaan ini sama-sama berpaham Sunni. Kondisi politik tidak stabil karena khalifah sering berganti-ganti.
Khalifah An Nasir berhasil membentuk tentara yang kuat, bersamaan dengan itu Bani Seljuk dihancurkan oleh Khawarizm Syah, maka akhirnya Dinasti Abbasiyah tidak dikuasai oleh kekuatan apapun.
5. Periode kelima
Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode keempat adalah sebagai berikut.
a. Khalifah An-Nasir (1180-1225 M) b. Khalifah Az-Zahir (1225-1226 M) c. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) d. Khalifah Al-Musta'sim (1242-1258 M)
Pada periode kelima, Dinasti Abbasiyah tidak dipengaruhi oleh pihak manapun, akan tetapi kekuatan politik dan militer Dinasti Abbasiyah sudah lemah,sehingga kekuasaan mereka tinggal meliputi Irak dan sekitarnya saja. Khalifah Al Mu’tasim merupakan khalifah yang lemah, tidak banyak memperhatikan pemerintahnya sehingga menjadi kacau. Pada saat ini pasukan Mongol dipimpin Hulagu Khan masuk kota Baghdad, menghancurkan kota dan berbagai peninggalan sejarah. Khalifah Al Mu’tasim dan keluarganya dibunuh, orang-orang Islam juga banyak yang dibunuh.
Dengan ini berakhirlah kekuatan politik dan militer DinastiAbbasiyah yaitu tahun 1258 M.
D. KHALIFAH-KHALIFAH YANG BERPRESTASI
Masa kekuasaan DinastiAbbasiyah berjalan Kurang lebih lima setengah abad dari 37 khalifah Dinasti Abbasiyah, terdapat 3 orang khalifah berprestasi :
18 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
1. Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (136-158 H/754-775 M) a. Biografi Singkat Al-Mansur.
Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al-Mansur adalahKhalifah kedua Dinasti Abbasiyah, putera Muhammad bin Ali bin Abdullah ibn Abbas bin Abdul Muthalib, dilahirkan di Hamimah pada tahun 101 H. Ibunya bernama Salamah al-Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar. Al-Mansur adalah saudara Ibrahim Al-Imam dan Abul Abbas As-Saffah. Al-Mansur memiliki kepribadian kuat, tegas, berani, cerdas, dan otak cemerlang. Ia dinobatkan sebagai putera mahkota oleh kakaknya, Abul Abbas As- Saffah. Selanjutnya, ketika As-Saffah meninggal, Al-Mansur dilantik menjadi khalifah, saat itu usianya 36 tahun.
Al-Mansur seorang khalifah yang tegas, bijaksana, alim, berpikiran maju, baik budi, dan pemberani. Ia tampil dengan gagah berani dan cerdik menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah melanda pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Al-Mansur juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan menjadi pilar bagi pengembangan peradaban Islam di masanya.
Setelah menjalankan pemerintahan selama 22 tahun lebih, pada tanggal 7 Zulhijjah tahun 158 H/775 M, al-Mansur wafat dalam perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, di suatu tempat bernama “Bikru Maunah” dalam usia 57 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Makkah.
b. Kebijakan Khalifah Al-Manshur dalam Pemerintahan
Setelah dilantik menjadi khalifah pada 136 H/754 M, Al-Manshur membenahi administrasi pemerintahan dan kebijakan politik. Dia menjadikan Wazir sebagai koordinator departemen. Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balk, Persia. Al-Mansur juga membentuk lembaga protokoler negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata.
Dia menunjuk Muhammad ibn Abd Al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya untuk menghimpun seluruh informasi dari daerah-daerah, sehingga administrasi kenegaraan berjalan dengan lancar sekaligus menjadi pusat informasi khalifah untuk mengontrol para gubernurnya
Untuk memperluas jaringan politik, Al-Mansur menaklukkan kembali daerah- daerah yang melepaskan diri, dan menertibkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Cappadocia, dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus.
Selain itu, Al-Mansur membangun hubungan diplomatik dengan wilayah-wilayah di luar jazirah Arabia. Dia membuat perjanjian damai dengan kaisar Constantine V dan mengadakan genjatan senjata antara tahun 758-765 M. Khalifah Al-Manshur juga mengadakan penyebaran dakwah Islam ke Byzantium dan berhasil menjadikan
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 19 kerajaan Bizantium membayar upeti tahunan kepada Dinasti Abbasiyah. Juga mengadakan kerjasama dengan Raja Pepin dari Prancis. Saat itu, kekuasaan Bani Umayyah II di Andalusia dipimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil. Al-Mansur juga berhasil menaklukan daerah Afrika Utara itu pada tahun 144 H, meski kadang kota Kairawan silih berganti bertukar wali. Kadang di kuasai oleh bangsa Arab, di lain waktu jatuh ke tangan Barbar lagi. Baru pada tahun 155 H barulah kota itu dikuasai penuh oleh Daulat Abbasiyah.
c. Mendirikan Kota Baghdad
Pada masa awal pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah, yakni di masa Abu Abbas As-Saffah, pusat pemerintahan Dinasti bani Abbasiyah di kota Anbar, sebuah kota kuno di Persia sebelah Timur Sungai Eufrat. Istananya diberi nama Hasyimiyah, dinisbahkan kepada sang kakek, Hasyim bin Abdi Manaf.
Pada masa Al-Mansur, pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke Kufah, dan mendirikan istana baru dengan nama Hasyimiyah II. Selanjutnya, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara Al-Mansur mencari daerah strategis untuk menjadi ibu kota negara. Pilihan jatuh pada daerah yang sekarang dinamakan Baghdad, terletak di tepian sungai Tigris dan Eufrat. Sejak zaman Persia Kuno, kota ini sudah menjadi pusat perdagangan yang dikunjungi para saudagar dari berbagai penjuru dunia, termasuk para pedagang dari Cina dan India. Ada juga cerita rakyat bahwa daerah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyirwan, Raja Persia yang termasyhur. Baghdad berarti “taman keadilan”. Taman itu lenyap bersama hancurnya kerajaan Persia dari namanya tetap menjadi kenangan rakyat.
Dalam membangun kota ini, khalifah mempekerjakan ahli bangunan yang terdiri dari arsitektur-arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat, dan lain-lain yang didatangkan dari Syria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Kota ini berbentuk bundar. Di sekelilingnya dibangun dinding tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar dinding tembok, digali parit besar yang berfungsi sebagai saluran air sekaligus benteng.
Ada empat buah pintu gerbang di seputar kota ini, disediakan untuk setiap orang yang ingin memasuki kota. Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al-Kufah, terletak di sebelah Barat Daya, Bab al -Syam, terletak di Barat Laut, Bab al-Bashrah, di Tenggara, dan Bab al-Khurasan, di Timur Laut. Diantara masing-masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai tempat pengawal negara bertugas mengawasi keadaan di luar. Di atas setiap pintu gerbang dibangun tempat peristirahatan yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang indah dan menyenangkan. Di tengah-tengah kota terletak istana khalifah dengan seni arsitektur Persia. Istana ini dikenal dengan Al-Qashr al -Zahabi, berarti ‘istana emas’. Istana ini dilengkapi dengan bangunan masjid, tempat pengawal istana, polisi, dan tempat tinggal putra-putri dan keluarga khalifah.
20 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
Di sekitar istana dibangun pasar tempat perbelanjaan. Jalan raya menghubungkan empat pintu gerbang. Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya, Philip K. Hitti, seorang peneliti Sejarah Arab, menyebut Baghdad sebagai kota intelektual.
Menurutnya, di antara kota-kota di dunia, Baghdad merupakan profesor masyarakat Islam. Bahkan dalan cerita 1001 malam, Baghdad menjadi kota impian.
Al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke kota Baghdad, tahun 762 M.
Selanjutnya Baghdad bukan hanya menjadi pusat pemerintahan yang strategis, tapi sekaligus menjadi pusat kebudayaan dan peradaban.
d. Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Al-Mansur menunjukkan minat dan perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Penyalinan literatur Iran dan Irak, Grik serta Siryani dilakukan secara besar-besaran. Dia mendorong usaha-usaha menterjemahkan buku- buku pengetahuan dari kebudayaan asing ke bahasa Arab, agar dikaji orang-orang Islam.
Perguruan tinggi ketabiban di Jundishapur yang dibangun oleh Khosru Anushirwan (351-579 M, Kaisar Persia) dihidupkan kembali dengan tenaga-tenaga pengajar dari tabib-tabib Grik dan Roma yang menjadi tawanan perang.Al-Mansur juga mendirikan sebuah perguruan tinggi sebagai gudang pengetahuan diberi nama “Baitul Hikmah”. Usahanya itu telah menjadikan kota Baghdad sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ia mengajak banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Baghdad. Ia mendorong pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, Hadits dan ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sastra.
Pada masanya lahir juga para pujangga, pengarang dan penterjemah yang hebat, termasuk Ibnu Muqaffak yang menterjemahkan buku Khalilah wa Dimnah dari bahasa Parsi.
Baitul Hikmah, Lembaga Riset Pertama
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 21 2. Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809M)
Khalifah Harun Ar-Rasyid (145-193 H/763-809 M) dilahirkan di Ray pada bulan Pebruari 763 M/145 H.
Ayahnya bernama Al-Mahdi dan ibunya bernama Khaizurran. Ia dibesarkan di lingkungan istana mendapat bimbingan ilmu-ilmu agama dan ilmu pemerintahan di bawah bimbingan seorang guru yang terkenal, Yahya bin Khalid Al-Barmaki, seorang ulama besar di zamannya, dan ketika Ar-Rasyid menjadi khalifah, menjadi Perdana menterinya, sehingga banyak nasihat dan anjuran kebaikan mengalir dari Yahya.
Tanggung jawab yang berat sudah dipikul Harun Ar-Rasyid sejak sang Ayah, Khalifah Al-Mahdi melantiknya sebagai gubernur di Saifah pada tahun 163 H.
Kemudian pada tahun 164 H diberikan wewenang untuk mengurusi seluruh wilayah Anbar dan negeri-negeri di wilayah Afrika Utara.
Harun Ar-Rasyid menunjukkan kecakapannya dalam memimpin, sehingga pada tahun 165 H, Al-Mahdi melantiknya kembali menjadi gubernur untuk kedua kalinya di Saifah. Harun Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada September 786 M, pada usianya yang sangat muda, yakni 23 tahun. Jabatan khalifah itu dipegangnya setelah saudaranya yang menjabat khalifah, Musa Al-Hadi wafat.
Kepribadian Harun Ar-Rasyid sangat mulia. Sikapnya tegas, mampu mengendalikan diri, tidak emosional, sangat peka perasaannya dan toleran. Akhlak mulianya dikemukakan oleh Abul 'Athahiyah, seorang penyair kenamaan saat itu. Selain itu, Harun Ar-Rasyid juga dikenal sebagai seorang khalifah yang suka humor. Dia juga terkenal pemimpin yang pemurah dan dermawan. Banyak sejarawan menyamakannya dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Dinasti Bani Umayyah. Tak jarang ia juga turun ke jalan-jalan di kota Baghdad pada malam hari melihat kehidupan sosial yang sebenarnya pada masyarakatnya, sehingga tak seorang pun yang kelaparan dan teraniaya tanpa diketahui oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Khalifah Harun Ar-Rasyid mempunyai perhatian dan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Para ilmuwan dan budayawan dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan.Khalifah juga melakukan penterjemahan besar-besaran berbagai buku-buku ilmu pengetahuan berbahasa asing ke dalam bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan bahkan menjadi alat komunikasi umum. Karena itu, dianggap tepat bila semua pengetahuan yang termuat dalam bahasa asing itu segera diterjemahkan ke dalam
Khalifah Harun Ar-Rasyid (145-193 H/763-809 M)
22 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
bahasa Arab, sehingga bisa dikaji dan difahami masyarakat luas.Dewan penerjemah dibentuk diketuai oleh seorang pakar bernama Yuhana bin Musawih.
Kota Baghdad menjadi mercusuar kota impian 1001 malam yang tidak ada tandingannya di dunia pada abad pertengahan. Selain itu, pada masa kekhalifahannya wilayah kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah membentang dari Afrika Utara sampai ke Hindukush, India. Kekuatan militer yang dimilikinya juga sangat luar biasa.
Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, hidup seorang cerdik pandai yang sering memberikan nasihat-nasihat kebaikan kepada Khalifah, yaitu Abu Nawas. Nasihat- nasihat kebaikan dari Abu Nawas disertai dengan gayanya yang lucu, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Kebijakan dan kecakapannya dalam memimpin, membawa negara dalam situasi aman, damai dan tenteram, sehingga tingkat kejahatan sangat minim dan sangat sulit mencari orang yang akan diberikan zakat, infak dan sedekah, karena tingkat kemakmuran penduduknya merata. Pada masa pemerintahannya Dinasti Bani Abbasiyah mengalami masa kejayaan dan keemasan sekaligus menjadi salah satu pusat peradaban dunia.
Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia di Khurasan pada 4 Jumadil Tsani 193 H/809 M setelah menjadi khalifah selama lebih kurang 23 tahun 6 bulan. Saat meninggal yang menjadi imam shalat jenazahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Shalih.
3. Khalifah Abdullah Al-Makmun (786-833M)
Abdullah ibnu Harun Ar-Rasyid, lebih dikenal dengan panggilan Al-Ma’mun, dilahirkan pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 170 H / 786 M, bertepatan dengan wafat kakeknya Musa Al-Hadi dan pengangkatan ayahnya, Harun Ar-Rasyid. Ibunya, bekas seorang budak yang dinikahi ayahnya bernama Marajil dan meninggal setelah melahirkannya. Al-Makmun anak yang jenius. Sebelum usia 5 tahun dididik agama dan membaca Al-Qur’an oleh dua orang ahli yang terkenal bernama Kasai Nahvi dan Yazidi.
Untuk mendalami Hadits, Al-Makmun dan Al-Amin dikirim ayahnya, Harun Ar- Rasyid kepada Imam Malik di Madinah. Al-Makmun dan saudaranya belajar kitab Al- Muwattha karangan Imam Malik. Dalam waktu yang sangat singkat, Al-Makmun telah menguasai Ilmu-ilmu kesastraan, tata Negara, hukum, hadits, falsafah, astronomi, dan berbagai ilmu pengetahuaan lainnya. Ia juga hafal Al-Qur’an dan ahli juga menafsirkannya.
Setelah ayah mereka, khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal, jabatan kekhalifahan sebagaimana wasiat dari Harun Ar-Rasyid diserahkan kepada saudaranya dan Al- Makmun mendapatkan jabatan sebagai gubernur di daerah Khurasan. Setelah Al-Amin meninggal, Al-Makmun menggantikannya menjadi Khalifah.
Sebagaimana ayahnya, Khalifah Harun Ar-Rasyid, Al-Makmun adalah Khalifah Dinasti Bani Abbasiyyah yang besar dan menonjol. Ia memiliki sifat-sifat yang agung, diantaranya, tekadnya kuat, penuh kesabaran, menguasai berbagai keilmuan, penuh ide,
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 23 cerdik, berwibawa, berani dan toleran. Pada masa kekhalifahannya, Dinasti Bani Abbasiyah mengalami masa kegemilangan. Beberapa pencapaian kejayaan dan gemilangan peradaban Islam daantaranya:
a. Bidang pertanian dan Perdagangan
Dengan keamanan terjamin, kegiatan pertanian berkembang dengan pesat.
Pertanian dikembangkan dengan luas. Buah-buahan dan bunga-bungaan dari Parsia makin meningkat dan terjamin mutunya. Anggur dari Shiraz, Yed dan Isfahan telah menjadi komoditi penting dalam perdagangan diseluruh Asia. Tempat-tempat pemberhentian kafilah dagang menjadi ramai dengan kafilah-kafilah yang datang dan memencar ke berbagai penjuru. Lalu lintas dagang dengan Tiongkok melalui dataran tinggi Pamir atau yang disebut dengan Jalan Sutera (Silk Road), dan Jalur Laut (Sea Routes) dari teluk Persia menuju bandar-bandar lainya sangat ramai.
b. Bidang Pendidikan
Perhatian besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sebagaimana yang dimulai oleh Khalifah Al-Mansur, dilanjutkan Khalifah Harun Ar-Rasyid, semakin mendapat puncaknya oleh Al-Makmun. Ia mendorong dan menyediakan dana besar untuk melakukan gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika, filsafat, dan lain-lain. Para penerjemah yang termasyhur adalah Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Tsabit bin Qura dan Hunain bin Ishaq yang digelari Abu Zaid Al-Ibadi. Selain itu, Hunain bin Ishak, ilmuwan Nasrani menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles atas permintaan Al-Makmun. Al-Makmun juga mengirim utusan kepada Raja Roma, Leo Armenia, untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani Kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Al-Makmun mengembangkan perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan sang ayah, Khalifah Harun Ar-Rasyid, menjadi pusat ilmu pengetahuan, yang berhasil melahirkan sederet ilmuwan Muslim yang melegenda. Selanjutnya dibangun Majlis Munazharah, sebagai pusat kajian agama. Pada masanya muncul ahli Hadis termasyhur, Imam Bukhori dan sejarawan terkenal, al-Waqidi.
c. Perluasan Daerah Islam dan penertiban Administrasi Negara
Di era kekhalifahan Al-Makmun, Dinasti Abbasiyah menjelma menjadi negara adikuasa yang sangat disegani. Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tembok Besar Cina di Timur. Dalam mengembangkan wilayah kekuasaan di zaman Al-Makmun, ada beberapa peristiwa besar yang dicapai, diantaranya penaklukan Pulau Kreta (208 H/ 823 M), dan juga penaklukan Pulau Sicilya (212 H/ 827 M).
24 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
Kemudian pada tahun 829 M, wilayah Islam mendapat serangan dari Imperium Bizantium (Romawi). Di penghujung tahun 214 H/ 829 M, dengan pasukan yang besar menyerang kekuasaan imperium Bizantium , pada tahun 832 M berhasil menduduki wilayah Kilikia dan Lidia. Tetapi belum seluruhnya menaklukkan Bizantium Al-Makmun meninggal pada tahun 218 H/ 833 M dan perjuangan selanjutnya dilanjutkan oleh saudaranya, Al-Mu’tashim.
Lakukanlah hal berikut bersama kelompokmu!
1. Bacalah kembali proses terbentuknya sejarah Dinasti Abbasiyah
2. Rangkumlah hasil pekerjaan kelompokmu dalam sebuah laporan. Kumpulkan dan mintalah nilai kepada guru mata pelajaran
I. Silanglah (x) huruf a, b,c atau d di depan jawaban yang paling benar!
1. Politik yang diterapkan oleh keturunan Abbas untuk menegakkan Daulah Bani Abbasiyah adalah ....
a. gerakan bawah tanah c. monarki
b. demokrasi Islam d. devide etimpera
2. Propaganda yang disebarkan untuk mendukung keturunan Abbas di pelopori oleh ....
a. Hasan bin Ali bin AbiThalib c. Ali bin Abi Thalib b. Abu Muslim Al Khurasany d. Muhammad AI Mahdi 3. Politik gerakan Bani Abbas di Khurasan dipimpin oleh ....
a. Abdullah bin Abbas c. Abdullah bin Muhammad b. Abu Muslim AI Khurasany d. Muhammad AI Mahdi 4 Politik bersahabat oleh keturunan Abbas maksudnyaadalah ....
a. mengajak Bani Umayah untuk bersama-sama membangun negara b. keturunan Abbas mengajak semua bangsa membangun Islam
c. tidak mengadakan permusuhan dengan Bani Umayah secara terbuka d. memberi kebebasan semua bangsa bekerja sama dengan Islam
5. Puncak keberhasilan perjuangan Bani Abbas untuk mendirikan Daulah Bani Abbasiyah adalah ....
a. terjadinya pertempuran antara Syi’ah dan Bani Umayah b. meninggalnya Mu’awiyah
c. terbunuhnya Ali bin Abi Thalib
d. banyaknya pemberontakan dalam wilayah daulah Bani Umayah 6. Bagi Daulah Abbasiyah kota Hirah berfungsi sebagai....
a. ibu kota yang aman dan nyaman
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 25 b. kota transit setelah berpindah dari Kuffah
c. pusat pendidikan dan latihan ketentaraan d. pusat pengembangan ilmu pengetahuan 7. Bangunan kota Baghdad berbentuk....
a. segiempat c. memanjang b. bundar d. melingkari bukit
8. Khalifah terakhir Bani Umayah yang dikalahkan oleh kelompok Abbas adalah ....
a. Marwan bin Muhammad
b. Abdul Malik bin Marwan c. Mu’awiyah bin Abi Sufyan
d. Umar bin Abdul Azis
9. Di bawah ini merupakan kelompok yang tidak senang dengan pemerintahan Bani Umayah, kecuali ....
a. kelompok Mawali c. kelompok muslim Arab b. kaum Khawarij d. keluarga Utsman bin Affan
10. Yang bukan sebagai kota gerakan Bani Abbasiyah adalah ....
a. Kuffah c. Madinah
b. Khurasan d. Al Humaymah
11. Yang menjadi pelopor berdirinya Bani Abbasiyah adalah ....
a. Abdullah Ali
b. Muhammad bin Ali c. Abdullah bin Abbas d. Marwan bin Muhammad
12. Orang-orang muslim shaleh dan tokoh agama ikut mendukung Bani Abbas karena ...
a. mereka tidak senang terhadap pemerintahan Bani Umayah b. akan diberi kebebasan untuk mengembangkan agama c. orang-orang shaleh dan tokoh agama menjadi panutan umat d. Bani Abbas merupakan keturunan orang-orang shaleh 13. Kelompok Mawali adalah ....
a. kelompok muslim non-Arab
b. kelompok non muslim Arab c. kelompok non muslim dari luar Arab d. kelompok bangsawan
14. Gerakan Bani Abbas dalam mencari pendukung mengatas namakan ....
a. Nabi Muhammad c.Bani Abbas b. Bani Hasyim d. Ali bin AbiThalib 15. Daulah Bani Abbasiyah berdiri tahun ....
a. 700 M c. 750 M
b. 725 M d. 775 M.
16. Khalifah pertama Bani Abbasiyah adalah ...
a. Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.Abu Abbas Ash Shaffah b. Umar bin Abdul Azis d. Abu Ja’far AI Manshur
17. Kota yang digunakan sebagai pusat pemerintahan Bani Abbasiyahadalah ....
a. Khurasan c. Basrah
b. Mesir d. Baghdad
26 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
18. Kaum Syi’ah tidak senang bahkan selalu memusuhi pemerintahan Bani Umayah karena ....
a. Bani Umayah merebut kekhalifahan dari Alibin Abi Thalib b. Bani Umayah merebut wilayah kekuasaan kaum Syi’ah c. kaum Syi’ah diberi kebebasan menjadi pejabat
d. Bani Umayah bekerja sama dengan noh muslim dalam memerangi kaum Syi’ah 19. Kota Baghdad dibangun oleh ....
a. Abu Abbas Ash Shaffah c. Abu Muslim al Khurasani b. Abu Ja’far AI Mansur d. HarunAI Rasyid
20. Kejayaan Bani Abbasiyah terjadi pada masa kepemimpinan ....
a. Abu Abbas Ash Shaffah c. Al Muktasim
b. Harun AI Rasyid d. Abu Abbas Ash Shaffah
21. Awal gerakan Bani Abbas untuk mendirikan Bani Abbasiyah adalah dengan cara ....
a. perjanjian damai c. perang b. adu domba d. dakwah
22. Pemerintahan Bani Abbasiyah diproklamasikan berdirinya di kota ....
a. Khurasan c. Damaskus
b. Kuffah d. Mesir
23. Keturunan Ali bin Abi Thalib (kaum Alawiyin) mendukung Bani Abbas karena ....
a. ingin membantu keturunan Nabi memperoleh jabatan khalifah b. merasa masih satu keturunan dari nasab Bani Hasyim
c. ingin memperoleh jabatan dalam pemerintahan d. Bani Abbas memberi kesejahteraan bagi rakyat
24. Ibrahim Al Imam dihukum mati oleh penguasa Bani Umayah karena ....
a. membunuh tokoh-tokoh penting pemerintahan Bani Umayah b. ingin merebut Khurasan dari tangan Bani Umayah
c. mengkhianati Bani Umayah
d. menghasut pejabat-pejabat Bani Umayah untuk memberontak 25. Peletakan dasar pendirian kekhalifahan Dinasti Abbasiyah adalah ....
a. Abdullah bin Muhammad b. Ibrahim Ali Iman
c. Abu Muslim Al Khurasany d. Ali bin Abdullah bin Abbas
II. Isilah titik-titik dibawah ini dengan tepat dan benar!
1. Kendali kekuasaan pemerintah Dinasti Abbasiyah periode ke empat dibawah tiga saljuk yaitu ...…
2. Bani Buwaihi memegang peranan penting pada Dinasti Abbasiyah yaitu periode ke...…
3. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah terletak dikota…...
4. Dinasti Abbasiyah runtuh pada masa kholifah……….…
5. Abu Ja’far al Mansur diangkat menjadi kholifah pada tahun…...
6. Apa arti dari The Golden Age of Islam...
7. Mata air Zubaedah dibangun pada masa khalifah...
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 27 8. Orang yang diberi kepercayaan oleh al Ma’mun untuk mengurusi jalannya pemerintahan
adalah...
9. Gelar yang diberikan orang-orang Persia kepada al Ma’mun adalah...
10. Setelah al Ma’mun meninggal, tata kekhalifahan diduduki oleh...
III. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Jelaskan sebab-sebab lemahnya Bani Umayyah!
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
2. Sebutkan golongan-golongan yang tidak senang dengan pemerintahan Bani Umayah!
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
3. Sebutkan beberapa golongan masyarakat yang ada pada Dinasti Abbasiyah!
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
3. Mengapa kota Baghdad dipilih sebagai pusat pemerintahan Bani Abbasiyah?
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
4. Sebutkan langkah-langkah Bani Abbas untuk mendirikan Bani Abbasiyah!
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
5. Mengapa perjuangan Bani Abbas mengatas namakan Bani Hasyim?
Jawab : ____________________________________________________________
____________________________________________________________
28 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
1. Memahamisejarah berdirinya dinasti bani Abbasiyah
2. Memahami perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa dinasti bani Abbasiyah
3. Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim Ali bin Rabban at-Tabari, Ibnu Sina, ar-Razi (ahli kedokteran), Al-Kindi, Al-Gazali, Ibnu Maskawaih (ahli filsafat), Jabir bin Hayyan ahli kimia), Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (ahli astronomi) dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa dinasti bani Abbasiyah
4. Mengidentifikasi para ulama’ penyusun kutubussittah (ahli hadis), empat imam mazhab (ahli fikih), Imam At-Tabari, Ibnu Katsir (ahli tafsir) dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa dinasti bani Abbasiyah.
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
UMUM
1. ILMU KEDOKTERAN
2. ILMU FILSAFAT 3.ILMU ASTRONOMI
4. ILMU KIMIA
AGAMA
1. ILMU HADITS 2. ILMU TAFSIR
3. ILMU FIQIH
4. ILMU TASAWUF Cemerlangnya Ilmuan Muslim
Dinasti Abbasiyah
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 29 Masa kekuasaaan dinasti Abbasiyah merupakan masa keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan umum yang meliputi ilmu filsafat, kedokteran, astronomi dan kimia.
Perkembangan ilmu pengetahuan umum pada masa Dinasti Abbasiyah dimulai dengan diterjemahkannya buku-buku berbahasa Asing ke dalam bahasa Arab, gerakan terjemahan ini berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah Abu Ja’far Al- Mansur hingga Harun Al Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung mulai masa Khalifah Al Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan ke dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas, sehingga bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
A. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN BESERTA TOKOH- TOKOHNYA
Beberapa ilmu pengatahuan umum yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah adalah ilmu filsafat, astronomi dan kedokderan, yaitu:
1. Ilmu kedokteran
Perkembangan ilmu kedokteran dalam Islam dimulai sejak dipraktekkannya kedokteran Yunani dan Persia. Jundisabur merupakan kota tempat diajarkannya ilmu kedokteran India, dan pengaruh langsung terhadap dunia Islam terjadi tahun 865 M, yaitu saat dokter Jirjis Bukhtyishuri berhasil menyembuhkan penyakit khalifah Abu Ja’far Al Mansur (peradangan selaput lendir lambung). Setelah itu khalifah Abu Ja’far Al- Manshur memindahkan pusat kedokteran Jundisabur ke Baghdad.
Pengembangan ilmu kedokteran dilakukan dengan cara penerjemahan buku kedokteran dari bahasa Yunani, India, dan Persia ke dalam bahasa Arab dan ahli kedokteran Islam mendirikan tempat-tempat penelitian dan praktik dengan alat yang didatangkan dari Yunani. Selanjutnya para ilmuwan muslim menulis kitab kedokteran.
Dalam perkembangannya mereka memperoleh temuan-temuan baru di bidang kedokteran, bahkan kitab-kitabnya jauh lebih maju dari kitab-kitab terjemahan.
Kedokteran mata merupakan ilmu orisinil dari lslam. Hal ini disebabkan wilayah Islam yang berpasir dan berangin kencang.
Hunayn ibn lshaq memiliki karya yang berjudul Al ‘Asyr Maqolat fil ‘Ain (Sepuluh Risalah tentang Mata) dan merupakan karya tertua dalam kedokteran mata.
Rumah sakit Islam pertama di Baghdad dibangun pada masa pemerintahan Harun Ar Rasyid pada awal abad ke-9 dengan mengikuti model Persia. Kemudian disusul
30 | Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs.
pembangunan di berbagai wilayah Islam lainnya sehingga terdapat kurang lebih 34 buah rumah sakit.
Dalam hal penggunaan obat-obatan untuk penyembuhan, banyak kemajuan berarti yang dilakukan kaum muslimin. Di antara keberhasilan Bani Abbasiyah dalam bidang ini adalah sebagai berikut.
a. Membangun apotik pertama.
b. Mendirikan sekolah farmasi.
c. Membuat daftar buku obat-obatan.
Bapak kimia umat Islam (Arab) adalah Jabir bin Hayyan. Jabir bin Hayyan hidup pada masa pemerintahan Al- Makmun dan Al- Mu’tashim. Pada periode ini para dokter dan ahli obat-obatan harus menjalani tes (ujian). Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya mal praktik. Para dokter dan ahli obat-obatan yang lulus tes akan memperoleh sertifikat (ijazah). Pada masa itu, terdapat sekitar 860 dokter yang dinyatakan lulus tes di Baghdad. Atas perintah Al Muqtadir, Ali bin Isa Sinan menyusun staf dokter yang akan dikirim ke berbagai tempat dengan dibekali obat- obatan dan memberikan pengobatan kepada orang yang sakit.
Pengarang kedokteran yang pertama Islam adalah Ali bin Rabban Ath- Thabari yang menulis “Firdaus al Hikmah” pada tahun 850 M, setelah Ali bin Rabban Ath Thabari, lahir ratusan dokter dan keilmuan kedokteran Islam seperti Ar Razi, Ali bin Al Abbas, Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, Al Kindi, Al Farabi. Ar Razi adalah tokoh pertama menyusun buku mengenai kedokteran anak. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qanun fi al Tibb (Peraturan-peraturan dalam Kedokteran) yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
Bapak kimia umat Islam (Arab) adalah Jabir bin Hayyan dan Ibnu Sina
Dalam bidang optikal Abu Ali Al Hasan ibn Al Haistami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Di antara para ilmuwan muslim dalam bidang kedokteran adalah:
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII MTs. | 31 a. Ali bin Rabban At Thabari
Abu Al-Hasan Ali bin Sahl Rabban At-Tabari, berasal dari keluarga Syria Yahudi terkenal di Merv dan pindah ke Tabaristan, sehingga dikenal dengan sebutan At- Tabari. Ayahnya Sahal bin Bisyr adalah seorang pejabat negara, yang berpendidikan tinggi dan dihormati masyarakat. Ali bin Sahl At-Tabari masuk Islam pada masa kekhalifahan Al-Mu’tasim. Ia mahir berbahasa Syria dan Yunani, dua bahasa yang menjadi sumber untuk tradisi pengobatan kuno. Selanjutnya, At-Tabari dikenal sebagai seorang dokter. Dia juga menjadi ilmuwan yang menulis ensiklopedia kedokteran, berjudul Fidaus al-Hikmah yang ditulisnya setelah memeluk agama Islam.
Fidaus al-Hikmah ditulis dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan sendiri ke dalam bahasa Syiria. Buku ini dibagi ke dalam tujuh bagian; bagian pertama memuat masalah doktrin ilmu kesehatan kontemporer, berjudul Kulliyatu at-Thibb; bagian kedua berisi uraian bagian-bagian organ tubuh manusia, peraturan menjaga kesehatan dan laporan tentang penyakit-penyakit yang menghinggapi otot; bagian ketiga berisi deskripsi tentang diet; bagian keempat tentang seluruh penyakit yang biasa menimpa badan; bagian kelima berisi deskripsi tentang rasa dan warna; bagian keenam tentang obat-obatan dan racun; dan bagian ketujuh berisi diskusi tentang astronomi, juga ringkasan pengobatan ala India.
Ali Rabbani At-Tabari bukan hanya seorang dokter, ia juga ilmuwan yang menguasai berbagai macam ilmu lain diantaranya ahli dalam ilmu astronomi, filsafat, matematika, dan sastra. Ali merupakan guru dari seorang ahli pengobatan muslim terkenal lainnya, yakni Zakaria Abu Bakar Ar-Razi.
b. AI Razi
Al Razi adalah seorang filsuf teolog yang juga dokter terkenal. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya Al Razi (Rhazes: 865 - 925). Beliau lahir di Teheran, ibu kota Iran. Beliau adalah dokter muslim terbesar dan penulis produktif yang menjabat sebagai kepala dokter di rumah sakit besar di Baghdad. la juga termasuk penemu prinsip “seton” dalam operasi.
Beliau berhasil menemukan beberapa penemuan ilmiah di bidang kedokteran dan kimia, di antaranya : Pembuatan benang operasi dari usus kucing, yang pertama-tama menyembuhkan luka dengan jahit, yang membedakan antara penyakit cacar dengan cacar air, membuat salep dari air raksa, mengobati penyakit TBC dengan susu dicampur gula, yang pertama-tama memisahkan farmasi dari kedokteran, yang pertama kali menjadikan ilmu kimia sebagai pembantu ilmu kedokteran. Beliau juga dikenal sebagai perintis farmasi kimia, hasilnya : yang pertama kali menghasilkan alkohol dari perasan zat-zat yang mengandung gula, yang pertama kali menghasilkan zat asam belerang dengan mengkristalkan belerang besi.