• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. A. Kesimpulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. A. Kesimpulan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

216

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Dari berbagai uraian dan hasil analisis serta pembahasan yang terkait dengan imlementasi kebijakan sistem kota-kota dalam pengembangan wilayah di Kabupaten Wonosobo, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Sistem kota-kota yang berupa hirarki dan keterkaitan fungsional kota-kota di Kabupaten Wonosobo walaupun masih bersifat pengenalan (reconnaisance), namun sudah mencerminkan gambaran hirarki kota-kota yang sebenarnya karena menggunakan data-data dengan unit analisis kota/IKK, bukan data kecamatan. Data-data dan variabel yang dipakai disamping variabel kependudukan dan luas wilayah, juga berupa pelayanan yang bersifat policy seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan maupun pelayanan yang bersifat komersial, seperti pasar, toko/kios/warung, show room mobil, KUD, perbankan, industri dan sebagainya.

2. Berdasarkan hasil implementasi kebijakan implementasi sistem kota-kota maka Hirarki kota-kota di Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut:

a. Hirarki I : Kota Wonosobo;

b. Hirarki II : Kota Mojotengah;

c. Hirarki III : Kota Wadaslintang, Kota Sapuran, Kota Selomerto, Kota Kertek dan Kota Garung;

(2)

217 d. Hirarki IV : Kota Kepil, Kota Leksono, Watumalang, Kota Kaliwiro

dan Kota Kejajar;

e. Hirarki V : Kota Kalikajar.

Hirarki kota-kota ini mengalami sedikit pergeseran dibandingkan dengan arahan Pola Dasar Pembangunan Daerah dan RUTRD Kabupaten Wonosobo.

Berdasarkan hasil analisis maka fungsi dan peranan kota-kota di Kabupaten Wonosobo dapat dirumuskan sebagai berikut :

TATA JENJANG, FUNGSI DAN PERANAN KOTA–KOTA DI KABUPATEN WONOSOBO

HIRARKI KOTA

SKALA PELAYANAN

NAMA KOTA

FUNGSI KOTA PERAN KOTA A B C D E A B C D E

I Regional Wonosobo * * * * * * * * * *

II Sub Regional Mojotengah * + * * * + - * * *

III Sub Subregional Wadaslintang Sapuran Selomerto Kertek Garung

*

*

*

*

*

*

* +

* +

+

* +

* +

+ + + +

* - +

* + -

*

*

*

*

* +

* +

* +

+

* -

* +

- - + - +

- - + + -

IV Lokal Kepil

Leksono Watumalang Kaliwiro Kejajar

+

* +

* +

- + +

* +

+ + + +

* + + + + -

* - - + +

+

* +

* +

- + -

* -

+ + + +

* - - - - -

+ - - + +

V Lokal Kalikajar + - * + - + - - - -

Keterangan:

A = Pusat Pelayanan Wilayah Belakang;

B = Pusat Komunikasi dan Transportasi Antar Wilayah;

C = Pusat Kegiatan Industri/perekonomian;

D = Pusat permukiman;

(3)

218 E = Pusat Pelayanan Pendidikan;

* = Peningkatan fungsi yang sudah ada;

+ = Pengembangan fungsi yang baru;

- = Tidak ada fungsi.

3. Fungsi dan peran kota ini juga mengalami pergeseran (terjadi gap) antara arahan kebijakan sistem kota-kota berdasarkan arahan Pola Dasar Pembangunan Daerah dan RUTRD Kabupaten Wonosobo dengan implementasinya, dari tiga belas kota di Kabupaten Wonosobo terdapat dua kota, yaitu Kota Kalikajar dan Watumalang yang hanya berfungsi sebagai pusat administrasi/pemerintahan saja, tidak sekaligus berfungsi sebagai pusat kegiatan wilayah. Karena masih bersifat rural dan secara fisik belum mencerminkan ciri perkotaan. Sebaliknya Sukoharjo sebagai ibukota kecamatan perwakilan Leksono telah menunjukkan fungsi sebagai pusat kegiatan wilayah.

4. Keterkaitan fungsional kota-kota yang ada di Kabupaten Wonosobo dalam suatu sistem kota-kota dijelaskan melalui adanya spesialisasi kegiatan ekonomi dan lokasi fasilitas pelayanan kota sesuai dengan fungsi dan peran yang diemban oleh masing-masing kota serta tingkat kemajuan ekonomi perkotaan. Adanya spesialisasi kegiatan, lokasi dan fungsi dari masing- masing kota dan dukungan jaringan transportasi yang memadai menyebabkan terjadinya interaksi antar kota-kota.

5. Tumbuh dan berkembangnya kota dan wilayah hinterlandnya selain dipengaruhi oleh kondisi internal kota, seperti letak geografis, potensi sosial ekonomi, sarana dan prasarana wilayah, juga dipengaruhi oleh

(4)

219 perkembangan pusat-pusat pertumbuhan/kota-kota di sekitarnya serta keterhubungan dengan wilayah luar yang tidak dibatasi oleh batas administrasi tetapi lebih menunjukkan kesatuan ekonomi.

6. Penjalaran perkembangan wilayah dari kota-kota ke arah hinterlandnya yang pertumbuhannya cepat yaitu di kota-kota yang terletak di jalur utama.

Rendahnya aksesibilitas antar kota-kota tertentu sebagai akibat dari keterbatasan sarana dan prasarana transportasi sehingga mengakibatkan adanya aglomerasi penduduk dan kegiatannya pada lokasi tertentu serta terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan perkotaan dengan wilayah hinterlandnya. hal ini ditandai dengan permasalahan kurang terintegrasinya

Kota Watumalang dengan kota-kota lain yang digambarkan dengan kurangnya keterkaitan fungsional melalui suatu sistem transportasi serta pola pergerakan manusia, barang dan jasa.

7. Dari hasil kajian implementasi kebijakan sistem kota-kota dalam pengembangan wilayah di Kabupaten Wonosobo cukup efektif, ditinjau dari: (1) tingkat pemerataan pelayanan jaringan transportasi dan fasilitas pelayanan sosial dan ekonomi dan (2) tingkat pemerataan perkembangan wilayah ditinjau dari pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, walaupun terdapat sedikit pergeseran antara kondisi empirik dengan arahan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah dan RUTRD Kabupaten Wonosobo.

8. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas sistem kota-kota dalam pengembangan wilayah ada 4 (empat) faktor, yaitu: (1) faktor fisik kota,

(5)

220 meliputi : letak geografis, aksesibilitas dan perkembangan wilayah terbangun; (2) faktor kependudukan, meliputi: aglomerasi penduduk, corak kegiatan ekonomi penduduk; (3) kondisi sarana dan prasarana perkotaan, meliputi ketersediaan fasilitas pelayanan sosial dan ekonomi, ketersedian utilitas kota serta jaringan transportasi; dan (4) faktor interaksi antar pusat dan wilayah pelayanannya ditinjau dari pola pergerakan manusia, barang dan jasa serta interaksi antar kota maupun interaksi kota dengan wilayah belakangnya. Untuk kebijakan pemerintah bisa dimanivestasikan melalui investasi di bidang infrastruktur dan fasilitas pelayanan kota.

9. Konsep integrasi fungsional cukup relevan diterapkan dalam pengembangan wilayah (studi kasus sistem kota-kota di Kabupaten Wonosobo) melalui difusi dari fungsi dan peran kota kecil.

10. Dari berbagai analisis dapat diketahui bahwa sistem kota-kota di Kabupaten Wonosobo cukup efektif dan merupakan informasi yang menggambarkan potensi dan masalah kota-kota, selanjutnya informasi ini dapat digunakan sebagai bahan perumusan alokasi kegiatan pembangunan perkotaan dalam konteks pengembangan wilayah di Kabupaten Wonosobo.

(6)

221

B. Rekomendasi

Dari hasil temuan di atas, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal, yaitu :

1. Dalam pengembangan wilayah akan lebih relevan apabila pertimbangan terhadap kondisi sosial ekonomi yang beragam di suatu wilayah dilakukan pada saat penyusunan rencana pengembangan. Pengembangan wilayah harus mempertimbangkan keterhubungan antar kota atau simpul pertumbuhan yang tidak dibatasi oleh batas administrasi tetapi merupakan satu kesatuan ekonomi.

2. Prioritas dalam penanganan tata ruang dan tata guna tanah, pengembangan fasilitas pelayanan kota dan penyediaan prasaranan perkotaan, pengembangan kegiatan ekonomi kota (industri, perdagangan dan jasa) serta peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang melalui pengembangan jaringan jalan perlu diberikan kepada kota/IKK yang mengindikasikan adanya fungsi yang kompleks, misalnya pusat-pusat komersial serta kota/IKK dengan kepadatan penduduk dan pertumbuhannya yang tinggi, seperti Kota Wonosobo, Kota Sapuran, Kota Kertek dan Kota Mojotengah.

3. Sukoharjo sebagai ibukota kecamatan perwakilan (IKK Leksono II), telah menunjukkan sebagai pusat pelayanan bagi wilayah hinterlandnya, sehingga proses pembentukan Sukoharjo sebagai kecamatan penuh perlu segera direalisasikan dalam rangka peningkatan pemertaan akan akses pelayanan kota.

(7)

222 4. Dari kondisi dan karakteristik kota-kota di wilayah Kabupaten Wonosobo, maka perlu suatu pola pengembangan sistem transportasi yang terpadu dan terintegrasi dengan struktur tata ruang yang bertujuan untuk: (1) pemerataan pembangunan intra wilayah Kabupaten Wonosobo; (2) peningkatan konektivitas antar pusat-pusat permukiman dengan hinterlandnya; (3) membuka isolasi wilayah; (4) memperkuat orientasi geografis distribusi barang dan jasa.

5. Perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk lebih mempertajam inventarisasi potensi dan masalah kota-kota yang sudah dilakukan kali ini, juga perlu dikembangkan satu sistem informasi data yang lengkap, komprehensif dan selalu diperbaharui.

6. Kebijakan Pemerintah Kabupaten terhadap sistem kota-kota tidak bersifat statis, artinya kebijakan tersebut dapat ditinjau ulang setiap lima tahun sehingga kebijakan pemerintah dapat mengantisipasi perkembangan yang terjadi di lapangan. Dalam reorientasi terhadap penetapan pusat-pusat pertumbuhan/kota-kota dilakukan dengan melihat dukungan sektor-sektor unggulan yang potensial yang saling terkait.

(8)

223

C. Pelajaran yang Dapat Dipetik

Sebagaimana dikemukakan oleh Soegijoko (1974) bahwa kota dapat merupakan titik mula perkembangan wilayah. Dan perkembangan ini akan dijalarkan melalui pusat-pusat perkembangan lainnya melalui suatu sistem pusat- pusat perkembangan yang tersusun dalam suatu hirarki. Banyak teknik dan metoda untuk menentukan hirarki kota-kota baik model yang dikembangkan oleh Bourne dan Simmons (1978), maupun Scallogram Guttman dan Sturgess.

Kota hirarki (orde) I melayani seluruh wilayah pengaruhnya melalui kota- kota Hirarki yang lebih rendah yang ada dalam sub ordinasinya. Dalam hubungan keluar, kota hirarki I memiliki fasilitas pelayanan yang terlengkap dan kemampuan pelayanannya yang paling tinggi.

Kota hirarki II berada dalam sub ordinasinya dan melayani wilayah pengaruhnya melalui kota-kota yang berada dalam sub ordinasinya dan memiliki fasilitas pelayanan yang setingkat lebih rendah dari kota hirarki I. Kota hirarki III pada prinsipnya mempunyai ciri-ciri yang sejalan dengan uraian di atas. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa semakin lengkap fasilitas pelayanan yang tersedia di suatu kota berarti semakin luas wilayah pelayanannya. Sejalan dengan pemikiran di atas, Soedjito (1975) menegaskan bahwa tanpa adanya irarki yang jelas, sangat diragukan bekerjanya mekanisme penjalaran perkembangan dari pusat-pusat pengembangan wilayah yang terbentuk, bahkan kemungkinan besar akan mempertajam dikotomi antara daerah perkotaan dan perdesaan. hal ini berarti bahwa mekanisme penjalaran perkembangan berasal dari pusat-pusat yang lebih tinggi ke pusat-pusat yang lebih kecil dan selanjutnya ke wilayah belakang.

(9)

224 Terjadinya penjalaran perkembangan dalam tatanan wilayah sangat ditentukan oleh sistem Hirarki kota yang ada disisi lain Hirarki kota merupakan refleksi dari faktor–faktor perkembangan kota yang dimiliki oleh kota tersebut.

Dalam hubungannya dengan perkembangan kota, teori tempat sentral menyatakan bahwa fungsi-fungsi pokok pusat kota adalah sebagai pusat pelayanan bagi wilayahnya, yaitu mensuplai barang-barang dan jasa-jasa sentral seperti jasa perbankan, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan jasa pemerintahan. Semakin lengkap tersedianya fasilitas-fasiltas di daerah perkotaan berarti semakin kuat daya tariknya mengundang penduduk dan kegiatan-kegiatan produktif untuk datang ke daerah tersebut.

Teori tempat sentral ini menurut Glasson (1974), dimaksudkan untuk menghubungkan pusat pelayanan dengan daerah belakang dan mendefinisikan pusat pelayanan sebagai suatu permukiman yang menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah belakang. Dengan demikian jelaslah bahwa distribusi tata ruang dan besarnya pusat-pusat kota merupakan unsur yang sangat penting dalam struktur wilayah nodal.

Selanjutnya Rondinelli (1983), mengemukakan bahwa sistem kota–kota menengah dan kota-kota kecil serta pusat pusat pasar (market centers) akan membantu mencapai pembangunan yang tersebar luas dan semakin merata serta membantu mengurangi perbedaan wilayah dan perbedaan/kesenjangan antara desa dan kota melalui penyatuan fungsi dari tempat-tempat pusat. Sistem kota–kota yang terkait secara efisien dengan pusat-pusat urban yang lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah dengan dukungan jaringan pelayanan yang

(10)

225 memadai, dapat memberikan kontribusi yang penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang luas dan distribusi pendapatan yang seimbang.

Namun demikian dalam penetapan fungsi dan peranan kota-kota tidak hanya didasarkan pada hasil analisis kelengkapan fasilitas pelayanan serta kecenderungan perkembangan yang terjadi saja, akan tetapi dilihat pula kedudukan kota tersebut dalam tatanan regionalnya yang lebih luas. hal ini sejalan dengan pendapat Branch (1995), bahwa pada umumnya faktor-faktor perkembangan kota dapat dicirikan menjadi dua, yaitu: faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal merupakan suatu kekuatan yang terbentuk akibat kedudukan kota dalam konstelasi regional atau wilayah yang lebih luas, sehingga memiliki kemampuan untuk menarik perkembangan dari daerah sekitarnya yang selanjutnya dikonsentrasi dan diakomodasikan dalam ekonomi kota, sedangkan faktor internal adalah kekuatan suatu kota untuk berkembang yang dipengaruhi oleh geografis, fungsi kota yang ada dan ketersediaan infrastruktur serta fasilitas sosial ekonomi.

Dalam konteks regional Kabupaten Wonosobo yang sebagian besar kota- kotanya memiliki wilayah dengan karakreristik berupa kota kecil dan kota desa besar dengan kondisi topografi yang curam dan keterbatasan infrastruktur yang ada, maka permasalahan pengembangan dan pembangunan regionalnya terletak pada hubungan antara pusat-pusat pertumbuhan/pelayanan dan daerah belakang atau hubungan antara kota-kota dalam tatanan sistem pelayanan jaringan transportasi.

(11)

226 Keterkaitan fungsional antar kota-kota akan terwujud dengan berkembangnya fungsi dan peran kota yang sesuai dengan Hirarki pelayanannya.

Strategi pengembangan struktur tata ruang bukan semata-mata merupakan hubungan antara dua sistem pengembangan (growth pole dan growth center) wilayah, tetapi yang paling mendasar adalah transformasi pengembangan potensi, pergerakan penduduk ke arah pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang memiliki potensi untuk di kembangkan. Sebagaimana dikemukakan oleh Friedmann (1964), bahwa kemampuan suatu pusat pertumbuhan untuk berkembang, sangat dipengaruhi oleh potensi yang dimiliki daerah belakang yang terhubungkan dalam suatu kekuatan interaksi. Meskipun hubungan daerah inti dan daerah pinggiran sebagai kerangka dasar kebijakan dan perencanaan pembangunan regional dianggap sederhana, akan tetapi dapat digunakan untuk menjelaskan keterhubungan dan ketergantungan antara pusat dan hinterlandnya.

Pendekatan perwilayahan dalam penataan ruang seperti ini menunjukkan bahwa dalam ruang wilayah terdapat beberapa tipologi kawasan yang menuntut perlakuan yang berbeda dalam pembangunan. Dalam hal ini Rondinelli (1983), memperkenalkan konsep “sistem kewilayahan berimbang”, yaitu jalinan hubungan titik-titik simpul kegiatan ekonomi yang terkait dalam pusat-pusat yang sifatnya hirarkis.

Sebagai suatu fenomena pembangunan di daerah, maka anutan terhadap pendekatan regional yang terpadu dengan pembangunan sektoral merupakan hal yang mutlak walaupun kondisi sekarang orientasi pembangunan ditekankan lebih bersifat kewilayahan dan lebih terdesentralisasi. Program pembangunan

(12)

227 perkotaan tidak lagi berorientasi secara parsial pada pembangunan prasarana dasar akan tetapi harus sudah dipandang sebagai instrumen penting dalam menciptakan ekonomi kota-desa (Urban Rural Economic Linkages).

Apabila dilihat dilihat dari fungsi kewilayahan yang lebih luas kota-kota di Kabupaten Wonosobo khususnya Kota Wonosobo, Kota Kertek, Kota Sapuran dan Kota Kaliwiro juga merupakan pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan regional serta merupakan pusat komunikasi dalam rangka menjalin keterkaitan ekonomi inter dan antar wilayah. Pengembangan terhadap fungsi kota yang demikian telah menjadikan kota-kota tersebut memainkan peranan penting bagi perkembangan perekonomian di Kabupaten Wonosobo. Oleh karena itu, peningkatan interaksi antara pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah belakangnya mutlak dilakukan, yaitu melalui peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas wilayah.

Pelajaran yang didapat terkait dengan implementasi sistem kota-kota dalam pengembangan wilayah antara lain bahwa kebijakan sistem kota-kota di Kabupaten Wonosobo dalam rangka pengembangan kota kecamatan tidak semuanya efektif karena masih ada kota kecamatan, yaitu Kota Watumalang dan Kota Kalikajar yang hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan (bersifat given) belum mencerminkan sebagai pusat kegiatan kegiatan sosial ekonomi karena masih bersifat rural dan secara fisik juga belum mencerminkan ciri perkotaan dan perlu usaha keras untuk mempromosikan kota tersebut sesuai dengan rencana hirarkinya maupun dalam penentuan fungsi dan peran kotanya.

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang Tata Ruang Wilayah Kota Bogor (Studi Implementasi pengembangan Sistem Jaringan Jalan R3) merupakan kebijakan

Kepada kepala sekolah SDN Puteraco Indah kota Bandung, diharapkan menjadikan hasil penelitian tentang pengembangan strategi internalisasi nilai- niilai kebersamaan

Perbaikan dan pengembangan Sistem Informasi Akademik (SIA) yang ada sebagai bagian dari perangkat Sistem Manajemen Akademik yang diterapkan oleh tiga Perguruan Tinggi

Penyaluran sarana produksi pertanian dan perikanan skala kecil pada masyarakat.. Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Kabupaten Rembang Pembangunan wilayah memiliki fungsi

Selain itu, BBN digunakan untuk menyempurnakan konten kurikulum yang terkait dengan mata kuliah Pengembangan Pribadi Konselor (S1), yakni agar mata kuliah tersebut

• Wilayah Jawa Barat Selatan juga masih memiliki kelemahan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dengan kinerja ekonomi yang relatif buruk/memburuk di Kabupaten Cianjur

Kondisi wilayah perencanaan beserta kebijakan-kebijakan pengembangan wilayah kabupaten

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota memberikan rekomendasi kepada NSM untuk melaksanakan implementasi Kurikulum Merdeka mulai Tahun Pelajaran