• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDAGANG MINUMAN KELILING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEDAGANG MINUMAN KELILING"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PEDAGANG MINUMAN KELILING

( Studi Antropologi Tentang Sistem Patron Klien Pedagang Es Dawet Ayu Banjarnegara

di Kota Medan )

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Bidang Antropologi

OLEH:

RIKA DEWI SARI SAGALA 040 905 017

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Rika Dewi Sari Sagala

Nim : 040905017

Departemen : Antropologi

Judul : Pedagang Minuman Keliling

(Studi Antropologi Tentang Sistem Patron Klien

Pedagang Es Dawet Ayu Banjarnegara di Kota Medan).

Pembimbing Skripsi Ketua Departemen

(Dra. Rytha Tambunan, M.Si) (Drs. Zulkifli Lubis, M.A)

Nip. 131 882 277 Nip. 131 882 278

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(Prof.Dr. M. Arif Nasution, M.A) Nip. 131 757 010

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah dapat menyelesaikan skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah Pedagang Minuman Keliling.

Proses penulisan skripsi ini ternyata telah melibatkan berbagai pihak, sehingga tanpa bantuan dan dukungan yang ada mungkin tulisan ini tidak akan selesai. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, M.A selaku ketua Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Sri Emiyanti, M.Si selaku dosen penasehat akademik yang telah banyak memberi masukan dan nasehat kepada penulis.

4. Ibu Dra. Rytha Tambunan, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak meluangkan waktu serta memberikan banyak pengetahuan baru yang sangat berguna bagi penulis.

5. Bapak Drs. Irfan Simatupang, M.Si selaku dosen ketua penguji penulis yang telah banyak memberi masukan guna penyempurnaan skripsi ini.

6. Bapak Drs. Zulkifli, M.A selaku dosen penguji yang juga telah memberi banyak masukan dan saran kepada penulis guna penyempurnaan skripsi ini.

7. Kepada seluruh dosen Antropologi dan dosen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi.

8. Kepada seluruh pegawai Antropologi dan pegawai yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis

(4)

dalam menyelesaikan urusan administrasi selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi.

9. Ucapan terima kasih yang tulus kepada orangtua tercinta Ayahanda H.B.Sagala dan Ibunda Hj. N. Ritonga yang telah mengasuh, mendidik, membesarkan, dan mendoa’kan ananda dengan penuh kasih sayang. Inilah persembahan yang dapat ananda berikan semoga ayah dan ibu selalu memperoleh ketentraman dalam hidup dan diberikan keberkahan umur oleh Allah SWT.

10. Kakanda dan adinda semua yang telah memberi semangat dan dukungan kepada saya.

11. Keluarga besar ayah dan ibu, terima kasih atas dukungan dan do’anya.

12. Sahabat-sahabat yang penulis sayangi, Mimien, Rumaini, Icha, Pipiet, Prilmon, Abadi, Edi Iwan, Gita sarah, Lelyta, Farida, dan Zulfikar S. Puan. Terima kasih atas kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini.

13. Terima kasih kepada seluruh sahabat-sahabat penulis di Antropologi khususnya stambuk 2004.

14. Terima kasih kepada seluruh para informan yang telah memberikan informasi kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Medan, April 2009

Rika Dewi Sari Sagala

(5)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

ABSTRAKSI ... vi

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 6

1.3. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ... 7

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian ... 8

1.4.2. Manfaat Penelitian ... 8

1.5. Tinjauan Pustaka 1.5.1. Kerangka Teori ... 8

1.5.2. Kerangka Konsep ... 15

1.6. Metode Penelitian ... 17

1.7. Teknis Analisis Data ... 22

BAB II :GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Deskripsi Kotamadya Medan ... 23

2.1.1. Deskripsi Lokasi RumahPedagang Es Dawet di Kota Medan ... 24

2.1.2. Letak Lokasi dan Keadaan Alam ... 29

2.1.3. Sejarah Perkembangan dan Penyebaran Penduduk Kotamadya Medan ... 32

2.2. Sejarah Perkembangan Es Dawet Ayu Banjarnegara ... 36

(6)

BAB III: PROFIL PEDAGANG MINUMAN ES DAWET AYU BANJARNEGARA DI KOTA MEDAN

3.1. Awal Mula Munculnya Es Dawet Ayu Banjarnegara di Kota Medan ... 38

3.2 Alasan Bekerja Sebagai Pedagang Es Dawet ... 40

3.3.Identifikasi Pedagang Minuman Keliling Es Dawet Ayu Banjarnegara ... 43

3.4. Kegiatan Produksi ... 48

3.5. Penghasilan dan Pola Konsumsi Pedagang Es Dawet ... 49

3.6. Sistem Pemasaran Es Dawet ... 52

BAB IV: HUBUNGAN SISTEM PATRON KLIEN PEDAGANG ES DAWET AYU BANJARNEGARA 4.1. Faktor Pendukung Timbulnya Hubungan Patron Klien ... 55

4.2. Hubungan Ekonomi Antara Toke dengan Pedagang Minuman Es Dawet………...58

4.3. Hubungan Sosial Antara Toke dengan Pedagang Minuman Es Dawet…...67

4.4. Sistem Kontrak dan Sanksi-sanksi Antara Toke dengan Pedagang Es Dawet ... 71

4.5. Konflik Antara Sesama Pedagang Es Dawet ... 73

4.6. Keuntungan Yang Diperoleh Toke atau Patron ... 74

BAB V : PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 79

5.2. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(7)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

I TABEL JUMLAH, LAJU PERTUMBUHAN DAN KEPADATAN

PENDUDUK DI KOTAMADYA MEDAN TAHUN 2001-2007 ... 34

II TABEL DAERAH ASAL INFORMAN ... 44

III TABEL TINGKAT USIA INFORMAN ... 45

IV TABEL TINGKAT PENDIDIKAN ... 46

V TABEL STATUS PERKAWANINAN INFORMAN ... 47

VI TABEL MODAL AWAL ... 62

VII TABEL BIAYA PEMBUATAN ES DAWET UNTUK SATU SET PER HARI ... 64

VIII TABEL BIAYA PENGELUARAN DAN PEMBUATAN ES DAWET DALAM 2 SET UNTUK 32 GEROBAK (ORANG) PER HARI ... 65

IX TABEL BIAYA-BIAYA PENGELUARAN PER BULAN UNTUK EMPAT RUMAH ... 66

X TABEL BIAYA PENGELUARAN-PENGELUARAN ... 76

XI TABEL BIAYA PEMASUKAN ... 77

XII TABEL KEUNTUNGAN YANG DIPEROLEH TOKE ... 77

(8)

ABSTRAK

Rika Dewi Sari Sagala 2009, judul : PEDAGANG MINUMAN KELILING. Studi Antropologi Tentang Sistem Patron Klien Pedagang Es Dawet Ayu Banjarnegara di Kota Medan. Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 82 halaman+daftar pustaka+lampiran.

Penelitian ini mengkaji tentang :”Pedagang Minuman Keliling. Studi Antropologi Tentang Sistem Patron Klien Pedagang Es Dawet Ayu Banjarnegara di Kota Medan”. Penelitian ini dilaksanakan di kota Medan yaitu Denai, Pancing, Simpang limun, dan Pasar II Timur Marelan, provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini membahas permasalahan tentang bagaimana terciptanya hubungan patron klien antara toke dengan pedagang es dawet, bagaimana sistem kontrak kerjanya, bagaimana sistem permodalan, dan bagaimana sistem upah yang telah disepakati.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan studi kepustakaan, observasi, dan wawancara mendalam.

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola hubungan patron klien antara toke dengan pedagang es dawet, untuk mendeskripsikan sistem kontrak kerja, menjelaskan sistem permodalan, dan menjelaskan sistem upah dalam usaha tersebut.

Hasil wawancara dengan para informan baik itu toke maupun para pedagang minuman es dawet keliling diketahui adanya pola hubungan patron klien antara toke dengan pedagang minuman es dawet. Hubungan patron klien antara toke dengan pedagang minuman es dawet ini adalah hubungan yang tumpang tindih. Hubungan yang bermotif ekonomi, dan hubungan sosial seperti; kekerabatan, dan hubungan satu kampung. Tujuan menjalin kerja sama ini yaitu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masing-masing pihak. Hubungan yang terjadi adalah hubungan antara pelindung dan yang dilindungi, toke menjadi pelindung sedangkan pedagang es dawet sebagai yang dilindungi. Jika dilihat dari segi ekonomi, hubungan ini memang saling menguntungkan.

Namun, kenyataannya pihak yang paling diuntungkan adalah toke (patron) dan bukan si pedagang minuman es dawet keliling (klien). Dalam menjalankan hubungan ini ada kesepakatan-kesepakatan antara kedua belah pihak, kesepakatan yang dibuat sifatnya tidak tertulis, prinsip rasa saling percaya menjadi pegangan utama bagi kedua belah pihak. Adapun bentuk balas jasa yang diberikan oleh pedagang kepada toke adalah menjadi anggota toke untuk menjajakan es dawet (sebagai penjual es dawet). Anggota hanya sebagai penjual es dawet tersebut, namun untuk semua permodalan ditanggung sepenuhnya oleh toke. Gaji anggota nantinya akan diserahkan ketika mereka telah sampai di kampung halaman. Ketergantungan pedagang dengan toke terlihat semakin kuat karena pedagang tetap menjadi klien toke, dan tidak dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan sanksi yang harus diterima oleh pedagang jika melanggar kesepakatan adalah , pedagang (anggota) harus mengganti rugi biaya pesawat yang telah dikeluarkan oleh toke ketika keberangkatan ke Medan, dan biaya pesawat pulangnya harus mereka tanggung sendiri.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dua ciri yang membedakan antara urbanisasi1 di Indonesia dan negara lain adalah, bahwa urbanisasi di Indonesia terjadi bukan karena tarikan sektor industri-kota tetapi akibat kemandegan kegiatan sektor pertanian-desa. Urbanisasi tersebut berlangsung dalam kondisi tenaga kerja tersebut sangat miskin keterampilan. Kedua keadaan ini yaitu;

antara kemandegan sektor pertanian dan keterampilan yang minim, sehingga membuat akumulasi persoalan ekonomi maupun sosial yang begitu serius di wilayah perkotaan.

Untuk kembali ke desa mereka tidak sanggup lagi karena tekanan hidup yang tidak bisa dipenuhi dengan mereka bekerja di sektor pertanian, sementara jika tetap bertahan di kota tingkat keterampilan dan peluang kerja yang tersedia tidak memungkinkan mereka bisa masuk ke sektor formal (industri). Akhirnya tidak banyak alternatif yang dapat mereka pilih kecuali membuka kegiatan ekonomi di sektor jasa perdagangan dalam bentuk sektor informal di sela-sela keseragaman kegiatan ekonomi kota yang serba modern dan canggih (Yustika, 2000:174).

Hal ini juga dialami oleh mereka yang melakukan urbanisasi ke Kota Medan, khususnya yang bekerja sebagai pedagang es dawet. Ketika desa sudah tidak mampu lagi untuk menampung tenaga kerja yang disebabkan oleh lahan yang sudah semakin sempit, maka kota dapat dijadikan suatu alternatif yang dapat menjanjikan. Alasannya adalah karena di kota-kota besar banyak terdapat industri-industri, kesempatan kerja yang

(10)

banyak dan peluang untuk mengembangkan diri sangat terbuka lebar. Untuk dapat bekerja di industri harus memiliki pendidikan yang tinggi, sedangkan mereka yang berasal dari kampung tingkat pendidikanya sangat rendah. Jika ingin membuka suatu usaha memerlukan modal yang banyak, sedangkan mereka tidak memiliki modal.

Akhirnya tidak banyak alternatif yang dapat mereka pilih kecuali membuka kegiatan ekonomi disektor jasa perdagangan dalam bentuk sektor informal.

Sektor informal merupakan salah satu potensi yang menonjol dalam struktur perekonomian Indonesia sebagai lapangan kerja bagi kelebihan tenaga kerja. Umumnya faktor yang melatarbelakangi mereka terlibat pada sektor informal yaitu; faktor ekonomi.

Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap pesat tetapi tidak mampu untuk menyerap tenaga kerja yang sangat besar, karena keterbatasan tanah, tingkat pendidikan rendah, tidak terampil, dan terbatasnya kesempatan kerja (Wirosardjono dalam Prisma No 3. 1985).

Menurut Hans Dieter- Evers yang dikutip oleh Rachbini (1994:3) bahwa sektor informal ini sebagai sebuah bentuk ekonomi bayangan dengan Negara. Ekonomi bayangan yang merupakan berbagai kegiatan ekonomi yang tidak mengikuti aturan- aturan yang dikeluarkan pemerintah, bentuk kegiatannya bergerak dalam unit-unit kecil sehingga bisa dipandang efisien dalam memberikan pelayanan. Dilihat dari sisi sifat produksinya, kegiatan ini bersifat subsisten2 yang bernilai ekonomis dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, khususnya bagi masyarakat yang ada di lingkungan sektor

2 Scott (1996) dalam M.Rawa El Amdy (http://smile-rawa-blogspot.com/2007/10/pemikiran-ekonomi- agraris-suatu-studi.html) mendefinisikan subsistensi adalah sebagai usaha maksimal rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan minimal rumah tangga. Ekonomi subsisten dalam definisi ini dijumpai di pedesaan Sumatera, khususnya Riau, Sumsel, dan Sumut bahkan di Jawa secara merata, yang memegang prinsip keseimbangan produksi. Jumlah produksi ini bukan hanya menentukan konsumsi tetapi juga menentukan jam kerja. Jika kerja dalam 60 jam cukup untuk konsumsi sebulan, maka dalam sebulan mereka hanya

(11)

informal. Widarti yang dikutip oleh Aris Ananta dalam Prisma No.3 (1985:21) mengungkapkan bahwa dari seluruh pekerja sektor informal sebagian besar berada di sektor perdagangan, keuangan, dan jasa-jasa. Usaha sektor informal ini sangat beraneka ragam seperti pedagang kaki lima, pedagang keliling, tukang warung, sebagian tukang cukur, tukang beca, serta usaha-usaha rumah tangga seperti pembuat tempe, pembuat es mambo, tukang tenun dan lain-lain.

Sektor informal memiliki peran sabagai penyangga atau penopang ekonomi keluarga, karena merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian. Hal ini menunjukkan pula bahwa struktur gaji di sektor formal ikut pula menjadi penyebab lahirnya usaha sektor informal. Oleh karena itu, dengan adanya ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran maka banyak orang yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari rezeki di sektor informal, baik itu di daerah sendiri maupun keluar daerah bahkan tidak jarang yang pergi ke luar negeri.

Usaha sektor informal dalam penelitian ini adalah pedagang keliling, yaitu pedagang minuman es dawet ayu Banjarnegara. Mereka ini berasal dari Pulau Jawa yang datang ke Medan mencari rezeki guna untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sedangkan bagi masyarakat miskin yang tinggal di pedesaan biaya-biaya untuk kebutuhan mereka berada jauh di atas kemampuannya. Mereka mempunyai kebutuhan dasar (primary needs), seperti makanan bergizi, perumahan, obat-obatan, serta kebutuhan tambahan (secondary needs), seperti pendidikan, rekreasi (Soemardjan 1984:8). Agar kebutuhan itu dapat dipenuhi maka mereka harus bekerja keras.

Kegiatan sektor informal ini bersifat subsisten yang bernilai ekonomis dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pada sektor informal hubungan patron klien dikenal

(12)

sebagai hubungan antara toke dengan anggotanya sering terjadi atau muncul, hal ini terkait dengan pemerolehan modal. Studi patron klien3 ini semakin penting artinya bagi disiplin ilmu Sosiologi, Antropologi, dan Politik dengan semakin meluasnya hubungan manusia satu dengan lainnya. Hubungan dimaksud dapat bermotif ekonomi, dan hubungan sosial seperti kekerabatan, dan hubungan satu kampung. Hubungan patron klien penting untuk menganalisa kondisi sosial, ekonomi dan politik suatu masyarakat untuk melihat prospek dan implikasinya bagi masyarakat tersebut (Putra,1988:5).

Pola hubungan patron klien ini masing-masing pelakunya memiliki peran dan kewajiban sesuai dengan status yang dimiliki, apakah ia sebagai patron atau sebagai klien. Berdan dalam Sairin (2002:76) melihat peranan patron (para penguasa) menyatakan diri sebagai pelindung petani dari serangan musuh dan kelaparan. Selat (1982:2-3) melihat peranan patron sebagai peranan ganda, yaitu peranan sebagai pelindung dan peranan sebagai broker (perantara). Selain itu patron juga memberikan bantuan ekonomi pada saat ekonomi krisis, menolong saat sakit dan memberikan pinjaman-pinjaman. Selanjutnya Syafi’i dalam Kusnadi (2002:104) melihat peranan patron seperti di Puger, pengamba’ sebagai penyedia modal informal bagi usaha nelayan, dan memberikan keringanan menanggung utang atau kemudahan memperoleh pinjaman jika dibandingkan dengan sumber-sumber keuangan yang lain.

Gejala patronase ini tidak hanya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang atau masyarakat tradisional, di negara-negara demokrasi yang telah mapan dan ekonominya yang telah maju kecenderungan gejala patronase masih tetap bertahan,

3 Bagi Weingrod kajian patron klien adalah suatu analisa bagaimana seseorang yang berbeda kedudukan tapi dihubungkan melalui ikatan kepentingan dan persahabatan dengan tujuan tertentu (dalam Sibagariang,

(13)

walaupun hubungan patron klien itu muncul dalam bentuk yang lain dengan berbagai variasinya (Zulkifli dalam Tjiptoherijanto, 1992:64). Lebih lanjut Zulkifli menggambarkan hubungan patron klien antara pemborong dan nelayan di Desa Bagan Deli, yang mana mereka menjalin kerja sama dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masing-masing pihak. Pemborong, pada musim paceklik, pada saat nelayan tidak melakukan pekerjaannya, ataupun pada saat nelayan mendapat kesulitan, pemborong memberi bantuan keuangan, nasihat kepada nelayan. Nelayan sebagai penerima bantuan membalas kebaikan pemborong dengan menjual ikan atau membawa peralatan penangkapan ikan milik pemborong secara tetap, dan merelakan tenaga-nya untuk membantu pemborong pada saat dibutuhkan.

Begitu juga pada pedagang minuman es dawet keliling ini. Pada saat pedagang es dawet (klien) sakit, ataupun pada saat mendapat kesulitan mengenai biaya untuk dikirim ke kampung, maka toke (patron) akan memberikan bantuan keuangan kepada para pedagang minuman es dawet keliling (klien) nya. Pedagang minuman es dawet keliling sebagai penerima bantuan, membalas kebaikan toke dengan memberikan tenaganya untuk menjajakan dagangan es dawet atau sebagai pedagang minuman es dawet keliling.

Pada pola hubungan patron klien, terdapat dua unsur utama sebagai pelaku hubungan tersebut yaitu patron dan klien. Dalam peran sebagai broker, Boissevain seperti yang dikutip oleh Selat (1982:17) menegaskan bahwa perantara sosial antara seseorang dengan individu yang lain secara langsung atau tidak langsung bermaksud untuk mendapatkan keuntungan. Ia juga berperan merapatkan jurang komunikasi antara orang perorangan, kelompok, struktur sosial maupun budaya. Pada gilirannya klien akan memberikan imbalan-imbalan terhadap patronnya dalam bentuk barang atau jasa serta

(14)

pengabdiannya. Pertukaran yang dilakukan terhadap patron tidak sama, tetapi memiliki nilai yang lebih atau nilai yang sama bagi yang terlibat di dalamnya (asimetris).

Untuk memahami siapa yang dimaksud patron klien itu, para ahli ilmu sosial yang telah pernah menulis pola hubungan patron klien tersebut mengemukakan definisi masing-masing. Diantaranya seperti Silverman dan Weingrod dalam Sibagariang (1993:2-3)

Bagi Silverman (1965) hubungan patron klien didefinisikan sebagai suatu hubungan persetujuan secara informal diantara individu-individu yang tidak setara dari segi status dan kekuasaan, kemudian adanya kewajiban timbal balik yang berbeda bentuknya. Salah satu pihak memberikan memberikan perlindungan dan bantuan dan pihak yang memberikan kesetiaan (penghormatan).

Weingrod (1968) dalam mendefinisikan patron menekan soal hubungan perseorangan yang didasarkan pada kekuasaan yang berbeda. Bagi ia kajian patron klien adalah suatu analisa bagaimana seseorang yang berbeda kedudukan tetapi dihubungkan melalui ikatan kepentingan dan persahabatan dengan tujuan tertentu.

Seperti apa yang telah dijelaskan di atas, pada penelitian ini hubungan patron klien juga muncul, dimana yang menjadi Patron adalah toke yang memiliki atau menyediakan segala modal pada usaha es dawet. Sedangkan yang menjadi klien adalah para pedagang atau anggota yang berprofesi sebagai pedagang es dawet. Berdasarkan pengertian serta unsur-unsur hubungan patron klien yang diuraikan di atas, maka penelitian ini juga ingin menggambarkan proses hubungan patron klien yang diciptakan oleh pedagang es dawet dengan toke di kotamadya Medan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan dari keadaan yang telah dijelaskan pada latar belakang di atas, ternyata pemilik usaha es dawet tersebut bukanlah pedagang yang bersangkutan tetapi

(15)

ada atau memiliki seorang toke. Maka masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pola hubungan patron klien antara toke dengan pedagang es dawet di Kotamadya Medan.

Oleh karena itu, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana terciptanya hubungan patron klien antara toke dengan pedagang minuman es dawet keliling. Untuk dapat menjelaskan hubungan patron klien ini, maka ada beberapa pertanyaan yang akan mendukung perumusan masalah tersebut seperti; bagaimana sistem kontrak kerja yang telah disepakati bersama, bagaimana sistem permodalan dalam usaha tersebut, dan bagaimana sistem upah yang telah mereka sepakati.

1.3. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data yang sahih dan dapat diyakini untuk kepentingan penelitian ini, peneliti memilih lokasi di Kotamadya Medan. Peneliti memilih beberapa lokasi yang ada di Kotamadya Medan sebagai tempat tinggal para pedagang minuman es dawet keliling ini yaitu; di jalan Denai dekat pasar Sukaramai, jalan Meteorologi (pancing), jalan Sisingamangaraja (simpang limun), dan pasar 2 timur Marelan. Adapun pertimbangan-pertimbangan peneliti dalam menentukan lokasi ini adalah karena mereka yang bekerja dalam aktivitas demikian dalam proses produksinya tidak dibatasi ruang atau wilayah. Sehingga tempat tinggal pedagang es dawet juga berpencar-pencar.

(16)

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian

Selain bertujuan untuk menggambarkan pola hubungan patron klien antara toke dengan pedagang es dawet di Kotamadya Medan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana terciptanya atau munculnya hubungan patron klien antara mereka. Penelitian ini akan menjelaskan hubungan patron klien yaitu; hubungan yang bermotif ekonomi, hubungan sosial seperti hubungan kekerabatan, dan hubungan satu kampung.

1.4.2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah bahan literatur mengenai hubungan patron klien khususnya ditinjau berdasarkan bidang Antropologi Ekonomi, dan diharapkan dapat memberi masukan bagi yang berkepentingan dalam penelitian lanjutan yang mengulas mengenai hubungan patron klien di sektor informal.

1.5. Tinjauan Pustaka 1.5.1. Kerangka Teori

Pertumbuhan ekonomi dan investasi tidak sanggup menanggapi kelebihan tenaga kerja yang muncul sejak awal pertumbuhan ekonomi. Pergeseran tenaga kerja ke sektor non pertanian yang tidak didasari dengan ketentuan ekonomi modern yang memadai, serta ketiadaan kompensasi bagi para pengangguran telah memaksa golongan usia kerja untuk bekerja seadanya. Dalam hal ini, sektor informal lebih berperan serta sifatnya lebih efisien dan menguntungkan, selain dapat menyalurkan tenaga kerja juga dapat menopang kehidupan masyarakat yang memiliki tingkat konsumsi rendah (Nasution, 1988:8). Laju

(17)

pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan kawasan pedesaan tidak mungkin lagi menampung tenaga kerja yang besar. Intensitas dari kegiatan ekonomi yang tinggi di perkotaan, menggiring mereka yang terpuruk di desa untuk datang mengadu nasib di kota-kota besar seperti Jakarta, dan Medan.

Sama halnya dengan para pedagang es dawet yang ada di Kota Medan, mereka rela meninggalkan kampung halamannya dan keluarganya dalam beberapa waktu tertentu demi kelangsungan hidup keluarganya. Widarti yang dikutip oleh Ananta dalam Prisma (1985:20-21) menggunakan status pekerja untuk pengelompokan sektor formal dan sektor informal. Mereka yang bekerja dengan status bekerja sendiri (tanpa bantuan orang lain), bekerja dengan bantuan buruh tidak tetap, bekerja dengan bantuan pekerja keluarga,dan mereka yang bekerja sebagai pekerja keluarga dimasukkan ke dalam sektor informal.

Untuk sektor formal, yaitu mereka yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tetap.

Soerjipto Wirosardjono dalam Prisma No.3 (1985:5) sektor informal adalah sektor kegiatan ekonomi marginal (kecil-kecilan) yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, permodalan, maupun penerimaaanya.

2. Tidak tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

3. Modal, peralatan dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan atas dasar hitungan harian.

4. Umumnya tidak mempunyai tempat usaha yang permanen dan terpisah dari tempat tinggalnya.

5. Tidak mempunyai keterikatan (linkages) dengan usaha lain yang besar.

6. Umumnya dilakukan oleh dan melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.

7. Tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, sehingga secara luwes dapat menyerap bermacam-macam tingkat pendidikan tenaga kerja.

8. Umumnya tiap-tiap satuan usaha mempekerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan keluarga, kenalan atau berasal dari daerah yang sama.

9. Tidak mengenal sistem perbankan, pembukuan, perkreditan dan lain sebagainya.

(18)

Ciri-ciri tersebut mengandung dimensi-dimensi ekonomi, perencanaan tata ruang dan sosial. Dimensi ekonomi yang hampir mengabaikan faktor modal, keterampilan dan sebagainya. Dimensi tata ruang yang sifat kerjanya ini selalu bercirikan melanggar norma. Depriving public space (menduduki ruang yang diperuntukkannya buat orang banyak atau berfungsi publik) seperti trotoir, taman, bahkan jalan umum, halte bis dan lain sebagainya. Dimensi sosial yang jam kerjanya tidak menentu, asal kedaerahan, mengandalkan pekerja keluarga, suasana patron klien dan lain sebagainya. Pada sektor informal ini, hubungan patron klien sering terjadi atau muncul.

Pengkajian masalah hubungan patron klien ini mencakup berbagai macam masyarakat yang terdapat berbagai tempat di dunia, bahkan di Indonesia gejala tersebut malah sering kita saksikan, terutama di daerah-daerah pedesaan. Girsang dalam Sinaga (2005:7) mengatakan bahwa pada umumnya kajian mengenai patron klien ini cenderung ditulis oleh para ahli ilmu sosial dalam komunitas petani dan nelayan di pedesaan. Hal ini terllihat dari berbagai tulisan, dan hasil-hasil penelitian yang mereka lakukan. Misalnya Huub de Jonge (1989:314) meneliti mengenai hubungan ketergantungan dalam perikanan di Madura. Ikatan yang ada antara orang-orang yang terlibat sangat mencerminkan hubungan ekonomi di pulau Madura. Kekurangan modal yang kronis telah menyebabkan, terutama bila hal itu berkaitan dengan produksi dan distribusi barang untuk pasar yang jauh, munculnya dan tumbuhnya semacam koalisi-koalisi ekonomi, yang terdiri baik dari pedagang-pedagang besar, pedagang-pedagang kecil, perantara maupun produsen. Kalau seseorang sudah pernah sekali mempunyai kewajiban-kewajiban kepada orang lain, sukar baginya untuk melepaskan dari kerjasama yang telah direncanakan ini. Dengan terus- menerus memberi hutang dan uang muka, hutang-piutang, semua pihak berusaha untuk

(19)

melestarikan koalisi. Kadang-kadang mereka juga berusaha untuk mengadakan dan memperkuat hubungan-hubungan yang bersifat pribadi dan kemudian berkembang menjadi hubungan patron klien.

Ulem dalam Kusnadi (2002:83-85) menulis tentang masyarakat nelayan di Tuban yang terikat kepada tengkulak. Kehadiran tengkulak berperan cukup signifikan bagi pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi nelayan, terutama dimasa-masa kritis. Bagi masyarakat nelayan, terngkulak merupakan tumpuan dan tempat mengadu hidup dalam situasi apapun. Tengkulak akan berupaya keras bisa membantu nelayan, karena seorang tidak akan mampu bertahan usahanya tanpa bermitra kerja dengan nelayan. Faktor saling membutuhkan (simbiosis) inilah yang paling mendasari kreativitas tengkulak untuk mencari terobosan pasar agar dalam kondisi yang paling rawan sekalipun para nelayan dapat memperoleh pendapatan meskipun hanya berupa rajungan. Peranan tengkulak ini bisa menjaga kelangsungan kegiatan ekonomi perikanan diwilayahnya.

Cohen dalam Heddy Shri Ahimsa Putra (1988:31) mengulas gejala patronase di Bornu, Afrika. Dalam hal ini ia menggunakan istilah hubungan feodal, yaitu hubungan yang melibatkan dua orang, yang satu lebih tinggi (superior) daripada yang lain, dimana pihak yang lebih tinggi memberikan perlindungan, keamanan ekonomi dan kedudukan dalam masyarakat sebagai ganti atas kesetiaan, kepatuhan serta jasa yang telah diberikan oleh pihak yang lebih rendah (subordinate). Hal ini juga terdapat pada pola hubungan patron klien antara pedagang es dawet dengan toke yang mana hubungan ini menempatkan pedagang es dawet pada kedudukan yang lebih rendah (inferior) sedangkan toke berada pada kedudukan yang lebih tinggi (superior).

(20)

Pada masyarakat Makassar para karaeng atau anakaraeng (patron), dan ana’- ana’ atau taunna (orang-orangnya), yang dengan sukarela menjadi pengikut atau mereka

ini merupakan keturunan-keturunan dari para pengikut sebelumnya. Orang Sulawesi selatan sendiri menyebut hubungan antara karaeng dengan taunna sebagai minawang (mengikuti), yang maksudnya ikatan antara mereka sukarela sifatnya dan dapat diputuskan setiap saat. Seorang karaeng dapat setiap saat memecat pengikutnya yang bertindak jahat atau dalam pandangannya tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang pengikut. Sebaliknya seorang pengikut juga bisa berpindah pada karaeng yang lain bilamana dia merasa dia tidak memperoleh perlindungan yang memadai atau terlalu banyak diberi tugas atau karena karaengnya bersikap kurang adil terhadap para pengikutnya (Kooreman dalam Putra 1988:12-14). Begitu juga halnya dengan hubungan antara pedagang es dawet dengan toke, ikatan yang mereka ciptakan yaitu bersifat sukarela tanpa ada paksaan dan dapat diputuskan setiap saat apabila salah satu pihak merasa tidak puas. Namun, umumnya mereka tidak melakukannya secara mendadak.

Campbell (1964) seperti yang dikutip oleh Putra (1988:23-25) melihat patronase sebagai salah satu cara penggembala-penggembala Sarakatsan di Yunani untuk bisa tetap hidup. Bagi mereka daerah penggembalaan sangat penting artinya bagi kelangsungan mata-pencaharian dan kehidupan. Disini tampak jelas betapa penting dan kuat kedudukan kepala desa, agar bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan dan keluwesan dalam berbagai urusan. Masyarakat Sarakatsan mencoba menarik kepala desa ke dalam hubungan yang bersifat pribadi yaitu melalui kekerabatan spiritual (spiritual kinship), persahabatan atau dengan memberikan hadiah. Jaringan persahabatan kepala desa dengan penduduk dan para gembala inilah yang membentuk suatu sistem patronase, dalam relasi

(21)

ini kepala desa akan banyak membantu urusan orang-orangnya jika mereka menghadapi berbagai masalah dan para penggembala atau klien-kliennya akan memberikan dukugan suara jika ada pemilihan jabatan kepala desa. Para penggembala menganggap bahwa hubungan ini sangat menguntungkan, sebab dengan menerima mereka sebagai klien berarti si patron harus melindungi bukan memeras, dan ini berarti juga semacam pembatasan atas kebebasannya menggunakan kekuasaan sehingga dengan kata lain mereka terhindar dari usaha pemerasan oleh orang-orang yang lebih kuat kedudukannya daripada mereka.

Selly dalam Safaria (2003:185) melihat proses produksi di perikanan bagan menggunakan peralatan-peralatan produksi yang relatif sederhana dan tradisional, dengan modal yang tidak terlalu besar. Para buruh direkrut melalui mekanisme-mekanisme sosial, memanfaatkan hubungan-hubungan sosial yang telah ada dalam komuniti nelayan di Kamal Muara, seperti hubungan kekerabatan, pertemanan, dan patron klien. Hal ini dilandasi oleh tuntutan adanya saling percaya (trust) di antara majikan dan buruh, yang akan mempermudah kerja sama mereka dalam sistem produksi yang sangat tergantung kepada keadaan alam tersebut.

Seperti analisa yang dilakukan oleh Huub de Jonge tentang hubungan pelindung dan yang dilindungi (patron klien) antara juragan dan bandol, ahli-ahli sosial lainnya yang pernah menulis tentang hubungan patron klien ini pun, sependapat bahwa karakteristik utama pada hubungan patron klien adalah bahwa mereka melakukan hubungan timbal balik yang bersifat asimetris yaitu : satu pihak memberi perlindungan ekonomi atau non ekonomi kepada pihak lain (Oom dalam Sinaga 2005:12).

(22)

Scott dalam Putra 1988:3-4) mengemukakan bahwa hubungan patronase ini mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan hubungan sosial lain, yaitu:

1. Terdapatnya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran. Disini terdapat ketidakseimbangan dalam pertukaran antara dua pasangan, yang mencerminkan perbedaan dalam kekayaan, kekuasaan dan kedudukan. Dalam pengertian ini seorang klien adalah seorang yang masuk dalam hubungan pertukaran yang tidak seimbang (unequal), dimana dia tidak mampu membalas sepenuhnya suatu hutang kewajiban membuatnya tetap terikat pada patron.

2. Adanya sifat tatap muka (face to face character). Hubungan timbal balik yang berjalan terus dengan lancar akan menimbulkan rasa simpati (affection) antar kedua belah pihak, yang selanjutnya membangkitkan rasa saling percaya dan saling dekat sehingga seorang klien dapat mengaharapkan bahwa si patron akan membantunya jika dia mengalami kesulitan, jika dia memerlukan modal dan sebaginya.

3. Adanya sifat yang luwes dan meluas (diffuse flexibility). Seorang patron tidak saja dikaitkan oleh hubungan sewa-menyewa tanah dengan kliennya tetapi juga karena hubungan sesama tetangga, atau mungkin teman sekolah, atau orangtua-orangtua mereka saling bersahabat dan sebagainya.

Kesimpulan bahwa hubungan patron klien memiliki unsur-unsur, antara lain adanya pertukaran barang atau jasa, pemilikan sumber daya yang tidak seimbang, pertukaran yang terjadi dalam hubungan patron klien adalah pertukaran yang saling

(23)

menguntungkan, hubungan itu sendiri bersifat pribadi (zulkifli dalam Tjiptoherijanto 1992:66).

Sejalan dengan pertukaran ini Gouldner dalam Sinaga (2005:16) dalam bukunya4 membahas mengenai norma timbal balik (norms of resiprocity), yang disebutnya equivalen. Equivalen dapat berarti bahwa apa yang dipertukarkan sangat berlainan wujudnya namun sama nilainya menurut pandangan para pelakunya. Besar kecilnya nilai sesuatu yang dipertukarkan ini ditentukan oleh berbagai macam faktor, seperti misalnya kebutuhan si penerima pada saat pemberian dilakukan.

1.5.2. Kerangka Konsep

Defenisi hubungan patron klien menurut Scott (1972) dalam Putra (1988:2) adalah :

’’… a special case of dyadic (two person) ties, involving a largely instrumental friendship in which an individual of higher socio economic status (patron) uses his own influence and resources to provide protection or benefitsor both, for a person of lower status (client) who for his part reciprocates by offering general support and assistance, including personal services, to the patron” (1972:92) (…suatu kasus khusus hubungan antar dua orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, di mana seseorang yang lebih tinggi kedudukan sosial ekonominya (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya yang dimiliknya untuk memberikan perlindungan atau keuntungan atau kedua-duanya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (klien), yang pada gilirannya membalas pemberian tersebut dengan memberikan dukungan yang umum dan bantuan, termasuk jasa-jasa pribadi, kepada patron.).

Mengacu kepada definisi-definisi patron klien yang diajukan oleh para ahli ilmu sosial yang telah meneliti dan menulis tentang kajian patron klien, maka dalam penelitian ini yang dimaksud dengan “patron klien” adalah hubungan antara pelindung dengan yang

(24)

dilindungi, atasan dengan anak buah. Keduanya menjalin hubungan secara sosial, psikologi, serta hubungan ekonomi yang saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Hubungan ini juga dikuatkan dan dikekalkan oleh adanya ikatan emosional seperti hubungan kekerabatan, hubungan darah, hubungan persahabatan atau pun hubungan ketetanggaan.

Pola hubungan patron klien dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai pola hubungan antara pedagang es dawet dengan toke yang merupakan aliansi dari dua kelompok atau individu yang tidak sederajat baik dari segi status, kekuasaan maupun ekonomi atau penghasilan. Hubungan ini menempatkan pedagang es dawet pada kedudukan yang lebih rendah (inferior) dan toke pada kedudukan yang lebih tinggi (superior).

Scott dalam Sinaga (2005:14), mengatakan bahwa hubungan patron klien ini mempunyai dua bentuk yaitu, patron klien klauster dan patron klien pyramid. Hubungan patron klauster adalah bentuk hubungan patron klien yang selapis, melibatkan dua pihak.

Dalam hubungan ini patron mempunyai klien yang terikat secara tetap dengannya.

Sedangkan hubungan patron klien yang pyramid adalah hubungan yang melibatkan hubungan yang berlapis, yaitu terbuka kemungkinan untuk mencari patron lain. Pada pola hubungan patron klien antara pedagang es dawet da toke di kotamadya Medan peneliti melihat suatu bentuk pola hubungan patron klien klauster sebagaimana yang dinyatakan oleh Scott.

Yang dimaksudkan dengan “pola” menurut Suyono (1985:327) dalam kamus Antropologi, sebagai suatu rangkaian unsur-unsur yang sudah menetap mengenai suatu gejala dan dapat dipakai sebagai contoh dalam hal menggambarkan atau mendeskripsikan

(25)

gejala itu sendiri. Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan “pola” sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Suyono tersebut.

Pedagang minuman es dawet keliling adalah orang yang bermata pencaharian hidup dengan menjajakan dagangannya yaitu es dawet. Pedagang dawet adalah gelar atau sebutan yang diberikan oleh masyarakat kepada orang yang bermata pencaharian berdagang es dawet. Dikatakan dawet ayu karena, dawet itu sendiri artinya dodol wedang sedangkan ayu itu adalah cah ayu. Dawet ayu adalah minuman ciri khas orang Jawa.

Orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa yang sebenarnya. Jadi orang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa yang berbahasa Jawa.

Toke adalah orang yang memiliki modal dan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan oleh pekerja seperti peralatan-peralatan yang digunakan untuk menjual es dawet seperti gerobak, serta modal usaha. Toke adalah gelar atau sebutan yang diberikan oleh masyarakat kepada orang yang memiliki modal dan sumber daya-sumber daya serta kekuasaan dan pengaruh dalam masyarakat.

1.6. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang tepat terhadap suatu gejala dalam masyarakat yaitu bagaimana terciptanya pola hubungan patron klien antara pedagang es dawet dengan toke. Data lain yang juga menjadi sasaran adalah bagaimana munculnya hubungan pedagang dengan toke, bagaimana sistem kontrak kerja mereka, sistem permodalan,sistem upah. Penelitian deskriptif di maksudkan untuk

(26)

pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu, peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa (Masri Singarimbun,1995:4 )

Teknik pengumpulan data yang dilakukan di lapangan adalah sebagai berikut:

a. Teknik Pengamatan (observation )

Dalam penelitian ini salah satu pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan (observasi), hal ini dimaksudkan untuk megamati kegiatan-kegiatan, perilaku dan hubungan sosial sesama pedagang es dawet, dan juga antara pedagang es dawet dengan toke. Metode penelitian dilakukan dengan melihat, mendengar dan mencatat keterangan serta mengabadikan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dengan menggunakan kamera photo.

Melalui observasi ini peneliti mengharapkan memperoleh data mengenai masalah yang dikaji dalam penelitian ini. Disamping itu, hasil photo yang di dapat dijadikan sebagai penegasan data yang diperoleh di lapangan.

b. Teknik Wawancara Mendalam (indepth interview)

Dalam penelitian ini wawancara mendalam merupakan sebagai salah satu teknik pengumpulan data yang lebih cenderung dilakukan, karena hanya melalui wawancara peneliti memperoleh informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan.

Penggunaan metode wawancara ini diharapkan dapat mengetahui hal-hal yang menyebabkan mereka menjalin hubungan patron klien. Wawancara dilakukan dengan berkomunikasi langsung (face to face) secara mendalam dengan informan.

(27)

1. Pemilihan Informan

Pemilihan informan dilakukan dengan cara menanyakan kepada si informan yang di wawancarai, siapa informan berikutnya yang layak di wawancarai (snowboll).

Besarnya jumlah informan yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan data sampai pertanyaan dalam penelitian terjawab. Informan yang akan diwawancarai dalam penelitian ini yaitu toke atau pemilik modal yang memberikan bantuan kepada para pedagang es dawet, mempunyai sumber daya-sumber daya dan kekuasaan serta mempunyai beberapa klien yang disebut dengan patron. Informan selanjutnya adalah pekerja yang bermata pencaharian sebagai pedagang es dawet yang terlibat langsung dengan pola hubungan patron klien yang disebut dengan klien.

Toni (29 tahun), sebagai toke (patron). Data yang hendak diperoleh melalui toke adalah mengenai bagaimana cara toke dalam perekrutan anggota, bagaimana pengolahan modal produksi, dan mengenai pembagian hasil. Tikun (34 tahun), Andre (24 tahun), Suroso (37 tahun), sebagai pedagang es dawet yang berjualan di rumah. Data yang hendak diperoleh melalui pedagang es dawet tersebut adalah bagaimana hubungan antara pedagang es dawet dengan toke, bagaimana sistem kontrak kerja mereka, bagaimana sistem upah, dan berapa banyak bahan-bahan dalam pembuatan es dawet. Romo (34 tahun), Ahmad (22 tahun), Darsono (30 tahun), bejo (24 tahun), sebagai pemegang uang.

Data yang diperoleh adalah berapa biaya-biaya pengeluaran per hari seprti; uang makan, biaya bahan-bahan dalam pembuatan es dawet. Pengeluaran per bulan seperti; uang listrik, air, peralatan mandi, keamanan, kebersihan, dan lain sebagainya. Wati (20 tahun), Sri (33 tahun), Marliah (19 tahun), dan Yani (25 tahun), sebagai tukang masaak. Data

(28)

yang diperoleh adalah berapa kali mereka makan dalam sehari, berapa kali mereka memasak dalam sehari, dan apa-apa saja menu yang disajikan setiap harinya.

2. Rangkaian Pengalaman Pada Saat Pengumpulan Data di Lapangan

Setelah mendapatkan surat rekomendasi izin penelitian dari fakultas, peneliti kemudian mengurus surat izin penelitian ke Badan Penelitian dan Pengembangan. Namun tidak cukup hanya sampai disitu saja, peneliti juga harus mengurus surat izin penelitian ke Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, kemudian mengurus lagi ke kantor Walikota Medan. Setelah semua surat selesai barulah peneliti ke lapangan unuk mengadakan penelitian atau mencari data mengenai masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini.

Tempat yang pertama sekali dituju oleh peneliti yaitu di tempat kediaman atau rumah para pedagang es dawet tinggal, yaitu yang berada di jalan Denai Sukaramai.

Awalnya peneliti membeli es dawet tersebut kemudian duduk, setelah itu peneliti mengajak atau mengadakan wawancara dengan salah satu anggota atau pedagang es dawet tersebut. Peneliti tidak menyangka ternyata informan yang diwawancarai sangat ramah, dan dapat menerima kedatangan peneliti dengan baik. Informan juga sangat terbuka untuk menjawab terhadap apa-apa saja yang peneliti tanyakan kepada informan.

Setelah peneliti mendapatkan data atau informasi di jalan Denai, kemudian peneliti melanjutkan ke tempat tinggal para pedagang es dawet lain yang berada di jalan Sisingamangaraja/ simpang limun. Peneliti juga mendapatkan perlakuan yang sangat baik pada saat wawancara dengan beberapa informan yang ada di simpang limun tersebut.

Para pedagang ini juga sangat terbuka dan tidak enggan untuk memberi informasi yang peneliti tanyakan.

(29)

Oleh karena peneliti mendapatkan informasi dari informan bahwa adik dari toke itu berada atau tinggal di jalan Pancing, maka peneliti juga datang ke rumah yang ada di Pancing. Namun, apa yang telah peneliti rencanakan tidaklah dapat berjalan dengan mulus dan diluar dugaan peneliti. Adik toke tersebut tidak mau atau tidak bersedia untuk diwawancarai, adik toke berusaha mengelak dari peneliti. Peneliti sudah menjelaskan apa maksud dan tujuan datang kepada adik toke, tetapi sepertinya adik toke kurang percaya dan merasa takut ditiru. Lama- kelamaan setelah peneliti berusaha meyakinkan adik toke, akhirnya adik toke tersebut mengajak peneliti ke dapur tempat pembuatan bahan-bahan es dawet. Pada saat peneliti berada di dapur pembuatan bahan-bahan es dawet, peneliti menyempatkan mengambil beberapa gambar dan sambil mengadakan wawancara dengan para pedagang atau pekerja yang ada di dapur tersebut.

Kemudian peneliti pergi ke tempat pedagang es dawet lain yaitu yang ada di pasar II Timur Marelan. Peneliti awalnya ragu-ragu untuk melakukan wawancara dengan para informan, tetapi kebetulan pada saat peneliti datang ke rumah para pedagang es dawet tersebut tidak berjualan dikarenakan hari hujan, sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan. Para informan juga pada awalnya bingung mengapa peneliti datang ke tempat mereka. Kemudian peneliti menjelaskan kepada informan apa maksud dan tujuan peneliti datang, para informan barulah mau memberikan penjelasan terhadap peneliti. Informan yang ada di Marelan ini juga sangat ramah-ramah, ketika peneliti mengadakan wawancara dengan beberapa informan dan ada informan yang menawarkan dan menyugukan segelas es dawet kepada peneliti. Akhirnya informan yang lainnya juga ikut gabung bersama dan menyumbangkan cerita-cerita yang mereka ketahui mengenai es dawet.

(30)

Ketika peneliti hendak membayar es dawet yang disugukan, salah seorang dari mereka mengatakan jangan dibayar karena mereka menganggap peneliti adalah tamu.

Lain hal jika peneliti datangnya ke tempat dimana mereka berjualan baru bayar, karena kalau di tempat jualan sudah ada targetnya. Ternyata informan yang berada di Marelan ini lebih terbuka untuk menerima peneliti, sehingga peneliti merasa sangat terbantu dalam pengumpulan data di lapangan.

Untuk melengkapi data primer yang diperoleh dari lapangan dan untuk memperdalam pengertian terhadap masalah yang dimaksud dalam penelitian ini, maka peneliti juga menggunakan data sekunder. Data sekunder yaitu dengan mengumpulkan data melalui kepustakaan yang berupa buku-buku, majalah, dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini.

1.7. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh atau diproses tersebut akan di analisis secara kualitatif.

Proses analisis data penelitian dimulai dengan menelaah keseluruhan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan di lapangan. Kemudian data dikategorikan menurut kategori tertentu yang terkait di interpretasikan sesuai dengan data dan kemampuan peneliti. Analisa data dilakukan mulai saat meneliti atau selama proses pengumpulan data berlangsung hingga penulisan laporan penelitian selesai.

(31)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1. Deskripsi Kotamadya Medan

Kota-kota besar seperti Kota Medan, merupakan tempat yang menjadi sasaran untuk mencari pekerjaan. Hal ini disebabkan karena kurangnya lahan atau semakin sempitnya lahan yang ada di desa, tidak adanya keahlian, dan pendidikan rendah, sehingga menarik mereka untuk pergi ke kota. Sistem mata pencaharian di kota-kota besar seperti Medan sangat beragam. Selain tempat bekerja dibidang sektor formal, juga merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan usaha yang bergerak dibidang sektor informal. Banyak usaha-usaha dibidang sektor informal ini yang tersebar di Kota Medan yaitu seperti tukang beca, pedagang asongan, pedagang keliling, tukang warung, pedagang kaki lima, tukang tenun dan lain sebagainya.

Kota Medan dikenal dengan kota yang suhu udaranya sangat panas. Maka dengan suhu udara yang panas ini sangat cocok dan sangat mendukung untuk membuka usaha dagang, seperti pedagang keliling yaitu usaha minuman es dawet ayu Banjarnegara.

Usaha minuman es dawet ini sangat digemari dan diminati oleh masyarakat. Selain rasanya yang enak, bahan-bahannya juga sangat alami dan tidak memakai bahan pengawet, harga es dawet juga relatif murah sehingga, dapat dijangkau oleh semua kalangan. Pemasaran es dawet ini menyebar dimana-mana, ada yang di pasar-pasar tradisional dan tidak jarang pula mereka berada dan mangkal di tepi-tepi jalan.

(32)

Usaha es dawet ayu Banjarnegara telah menyebar di beberapa daerah yang ada di Kota Medan. Adapun lokasi-lokasi rumah pedagang es dawet yaitu jalan Denai, jalan Pancing, Simpang limun, dan Marelan.

2.1.1. Deskripsi Lokasi Rumah Pedagang Es Dawet di Kota Medan

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil empat lokasi yaitu ; yang berada di Jalan Denai, Jalan Meteorologi, Jalan Sisingamangaraja Simpang Limun, dan di Jalan Marelan.

Untuk lokasi yang berada di Jalan Denai berada tidak jauh dari pasar Sukaramai, letak rumah ini juga berada di pinggir jalan besar. Rumah ini dihuni sebanyak tiga belas (13) orang pekerja, dua belas (12) orang laki-laki dan satu (1) orang perempuan, dan mempunyai tiga (3) ruang ruang kamar tidur, dan satu (1) kamar mandi.

Oleh karena jumlahnya yang banyak, sementara kamar tidurnya hanya ada tiga (3) kamar maka mereka harus rela untuk bersempit-sempitan dalam satu kamar. Adapun pembagian kamarnya yaitu ; kamar yang satu untuk perempuan, sedangkan untuk kamar yang dua lagi masing-masing ada enam orang dalam satu kamar. Rumah tersebut merupakan tanggung jawab mereka bersama. Lihat gambar berikut :

(33)

Gambar 1. Rumah Pedagang Es Dawet di Denai.

Lokasi yang berada di jalan Meteorologi Raya. Letak rumah ini juga berada di pinggir jalan, jumlah orang yang tinggal di rumah ini sebanyak tiga belas orang ( lima orang perempuan dan delapan orang laki-laki), dan mempunyai tiga ruang kamar tidur, serta satu kamar mandi. Oleh karena jumlah perempuan banyak, maka para laki-laki tersebut harus rela untuk tidur di luar kamar ( ruang tengah) dengan merapatkan beberapa buah meja, kemudian mereka tidur di atas meja-meja tersebut. Sedangkan untuk wanitanya tidur di kamar-kamar tersebut. Pembangian kamarnya yaitu ; untuk dua kamar tersebut masing-masing di huni oleh dua orang dan untuk kamar yang satunya lagi hanya satu orang, yang merupakan adik kandung toke. Lihat gambar berikut :

(34)

Gambar 2. Rumah Pedagang Es Dawet di Meteorologi Raya (Pancing).

Untuk lokasi yang di jalan Sisingamangaraja Simpang Limun, gang. Aman.

Rumah ini tidak berada di pinggir jalan tetapi masuk ke dalam gang, rumah ini dihuni oleh lebih sedikit dari yang ada di jalan Denai dan Pancing yaitu berjumlah tujuh orang diantaranya ; satu orang perempuan dan enam orang laki-laki. Akan tetapi perempuan tersebut merupakan isteri dari salah satu pedagang es dawet tersebut. Jumlah kamar yang terdapat di rumah ini ada tiga ruang kamar tidur, dan satu kamar mandi. Untuk kamar yang satu ditempati oleh suami isteri tadi, sedangkan untuk kamar yang dua lagi ditampati oleh ada yang tiga dalam satu kamar dan ada yang dua dalam satu kamar. Lihat gambar berikut :

(35)

Gambar 3. Rumah Pedagang Es Dawet di Simpang Limun.

Sedangkan untuk lokasi yang berada di Marelan, berada di Pasar II Timur gang.

Keluarga Marelan. Rumah ini juga dihuni oleh tujuh orang, satu orang perempuan dan enam orang laki-laki. Rumah ini memiliki tiga ruang kamar tidur dan satu kamar mandi.

Untuk kamar yang satu dihuni oleh satu orang ( perempuan tersebut), sedangkan untuk kamar yang dua lagi masing-masing ada tiga orang (laki-laki). Lihat gambar berikut :

(36)

Gambar 4. Rumah Pedagang Es Dawet di Marelan.

Marelan ini juga merupakan daerah rumah sang toke, tetapi rumah toke terpisah dan agak jauh dari rumah anggotanya ( pedagang es dawet) karena toke sudah menikah.

Toke sebelum menikah sudah lama berstatus sebagai penduduk Kota Medan atau sudah memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) Medan, dengan kata lain toke telah terdaftar sebagai penduduk Kota Medan. Sedangkan para anggotanya (pedagang es dawet) belum memiliki KTP Medan, yang mereka miliki hanya KTP Banjarnegara. Lihat gambar berikut :

(37)

Gambar 5. Rumah Toke Pedagang Es Dawet

2.1.2.Letak Lokasi dan Keadaan Alam

Ibukota Propinsi Sumatera Utara adalah Medan. Kotamadya Medan merupakan daerah tingkat II di Propinsi Sumatera Utara. Jika dilihat secara letak Astronomi maka Kotamadya Medan terletak pada garis koordinat diantara 2o, 29o, 30o – 2o, 47o, 30o Lintang Utara dan 98o, 35o, 30o – 98o, 44o, 30o Bujur Timur : berada pada pantai Timur Pulau Sumatera dengan ketinggian di daerah bagian Utara 2,5 meter dan di sebelah bagian Selatan lebih kurang 37,5 meter di atas permukaan laut, dengan topografi datar (rata). Suhu udara pertahun berkisar antara 27o – 29o C.

Sesuai dengan dinamika pembangunan kota, luas wilayah administrasi Kota Medan telah melalui beberapa kali perkembangan. Pada tahun 1951, walikota Medan mengeluarkan Maklumat Nomor 21 tanggal 29 september yang menetapkan luas Kota

(38)

Medan menjadi 5.130 Ha. Maklumat Walikota Medan dikeluarkan menyusul keluarnya Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU tanggal 21 september 1951, agar daerah Kota Medan diperluas menjadi tiga kali lipat. Melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1973 Kota Medan kemudian mengalami pemekaran wilayah menjadi 26.510 Ha.

Wilayah administratif Kota Medan terbagi atas 21 Kecamatan yang mencakup 151 Kelurahan. Dilihat secara geografis, Kota Medan berada pada batas-batas sebagai berikut:

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Percut Sei Tuan dan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.

- Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumatera.

Sebagai daerah yang pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, maka Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun ke luar negeri (ekspor-impor). Di sebelah Utara terdapat sebuah pelabuhan laut yang terkenal yaitu Belawan, yang berfungsi sebagai pelabuhan internasional untuk menuju ke berbagai negara-negara lain.

Di sebelah Selatan terdapat sebuah pelabuhan udara yang dikenal dengan nama Polonia.

Pelabuhan Polonia ini berfungsi untuk melayani penumpang menuju propinsi lain di kawasan Nusantara dan juga untuk penerbangan internasional seperti Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain.

(39)

Jalur transportasi darat juga memegang peranan penting untuk daerah sekitarnya, sebab Kota Medan merupakan inti kota yang dapat menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya melalui sarana angkutan darat. Ada empat jalur penting untuk menuju daerah lain dari inti Kota Medan, yaitu :

1. Wilayah sebelah Utara terdapat sebuah jalan propinsi yaitu jalan Kolonel Yos Sudarso menuju Kota Pelabuhan Belawan, yang kemudian melalui angkutan laut

dapat dilanjutkan ke Pulau Jawa atau daerah-daerah lain yang dapat ditempuh melalui lautan.

2. Di wilayah sebelah Selatan terdapat jalan propinsi yaitu jalan Letnan Jenderal Jamin Ginting. Melalui jalur ini kita juga dapat menuju Derah Istimewa Aceh yaitu Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan dan Aceh Barat setelah terlebih dahulu melalui Kabupaten Karo di Propinsi Sumatera Utara.

3. Di wliayah sebelah Barat terdapat jalan propinsi yaitu jalan Jenderal Gatot Subroto.

Melalui jalur ini dapat menuju Daerah Istimewa Aceh dengan melalui Langkat.

4. Di wilayah sebelah Timur terdapat jalan propinsi yaitu jalan Sisingamangaraja.

Melalui jalur jalan ini maka dapat dituju daerah Propinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Palembang melalui Kabupaten Tapanuli Selatan di Propinsi Sumatera Utara.

Secara umum Kota Medan merupakan daerah strategis untuk jalur transportasi, dengan sendirinya Kota Medan telah menjadi daerah perkotaan yang berkembang pesat.

Hal ini disebabkan karena :

a. Peranan Kota Medan sebagai Pusat Administrasi sekaligus juga sebagai Ibukota Propinsi Sumatera Utara.

(40)

b. Peranan Kota Medan sebagai pintu gerbang keluar masuk baik itu melalui daratan, lautan bahkan udara menuju daerah lain.

c. Peranan Kota Medan sebagai tempat kedudukan kantor-kantor pemerintahan maupun kantor-kantor swasta.

d. Peranan Kota Medan sebagai pusat kegiatan perniagaan yang memiliki jaringan hubungan dengan daerah perindustrian dan daerah pertanian di luar kota maupun di pusat kota.

e. Paranan Kota Medan sebagai pusat pendidikan mulai dari tingkat Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) sampai tingkat Perguruan Tinggi baik itu Perguruan Tinggi negeri maupun swasta.

f. Peranan Kota Medan juga sebagai pusat hiburan bagi kota-kota lain di Sumatera Utara maupun di daerah sekitarnya.

2.1.3. Sejarah Perkembangan dan Penyebaran Penduduk Kotamadya Medan Sejak beberapa tahun Indonesia merdeka, pertumbuhan jumlah penduduk tersebut terutama disebabkan oleh migrasi yang terus menerus dibanding dengan pertumbuhan secara alamiah yaitu kelahiran. Asal para migran tidak hanya dari desa maupun dari kota- kota propinsi lain di Indonesia bahkan dari luar negeri dengan latar belakang rasial yang sangat berbeda. Kenyataan yang demikian menyebabkan Kota Medan menjadi daerah perkotaan yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya yang berbeda pula (heterogen). Masing-masing suku bangsa (etnik) hidup dengan cara sendiri- sendiri. Tempat tinggal mereka cenderung mengelompok di sekitar tempat pekerjaan (okupasi) yang juga ada kecenderungan didominasi oleh etnik-etnik tertentu.

(41)

Di Kota Medan kelompok etnik Cina banyak bermukim di pusat-pusat kota seperti Kampung Sei Rengas dan Pandahulu. Hal ini erat kaitannya dengan sistem perekonomian mereka yang umumnya terpusat pada aktivitas perdagangan kelas menengah ke atas. Demikian etnik Minangkabau banyak bermukim di pusat-pusat pasar, seperti kampung Kota Matsum dan Kampung Mesjid, karena okupasi mereka kebanyakan bergerak dibidang perdagangan kelas menengah ke bawah serta bidang profesional lainnya. Berbeda dengan etnik Batak, maka kebanyakan dari mereka bermukim di sekitar pusat perkantoran seperti Kecamatan Medan Baru,dan di sekitar daerah tanah pertanian di pinggiran kota seperti Sei Putih Barat, Teladan. Hal ini dapat dimengerti karena okupasi yang mereka tekuni cenderung pada bidang perkantoran (birokrasi pemerintahan) disamping bidang-bidang pertanian. Sedangkan etnik Jawa dan Melayu banyak bermukim di daerah pinggiran Kota Medan seperti Suka Ramai, Siti Rejo, Sei Agul dan Helvetia. Okupasi mereka kebanyakan sebagai buruh di pusat-pusat kota ataupun buruh di bidang industri disamping pertanian ( Usman Pelly, 1984:14)

Keanekaragaman suku bangsa di Kota Medan, dapat juga dilihat dari kelompok keagamaan Voluntary Association yaitu organisasi keagamaan yang mengelola kehidupan sosial dan agama. Sebahagian besar etnik Minangkabau banyak berkelompok dan berorganisasi ke dalam kelompok Muhammadiyah. Etnik Mandailing banyak berkelompok ke dalam organisasi Alwasyliyah. Etnik Toba banyak berkelompok ke dalam persekutuan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) atau GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia). Etnik Karo banyak berkelompok dengan GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Disamping itu terdapat suatu organisasi kelompok yang dibentuk berdasarkan marga (clan), misalnya Parsadaan Sinaga Dohot Boruna, Siregar Dohot Boruna, dan lain

(42)

sebagainya (Usman Pelly,1983:4-7).Lembaga-lembaga keagamaan atau kelompok clan tersebut dapat berperan untuk mempererat hubungan sosial diantara mereka di dalam kelompok bersangkutan. Kenyataan ini disebabkan oleh tiap individu di dalam satu kelompok terjalin suatu komunikasi di antara mereka akan timbul.

Kota Medan yang kini sedang giat-giatnya membangun ternyata banyak menghadapi kendala dan tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Salah satu kendala atau tantangan yang tampak jelas dan dirasakan seperti di kota-kota lain di Indonesia adalah masalah tingginya pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk tersebut dapat kita lihat pada tabel 1.

Tabel 1

Jumlah, Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Kota Medan Tahun 2001-2007

Tahun Jumlah Penduduk

Laju Pertumbuhan

Penduduk

Luas Wilayah (KM2)

Kepadatan Penduduk (Jiwa/KM2)

[1] [2] [3] [4] [5]

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007*

1.926.052 1.963.086 1.993.060 2.006.014 2.036.018 2.067.288 2.083.156

1,17 1,94 1,51 0,63 1,50 1,53 0,77

265,10 265,10 265,10 265,10 265,10 265,10 265,10

7.267 7.408 7.520 7.567 7.681 7.798 7.858 Sumber : BPS Kota Medan dalam Angka Tahun 2008

(43)

Dari data di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan penduduk pada tahun 2001 sampai tahun 2002 berjumlah 37.034 orang. Sedangkan pada tahun 2003 sampai tahun 2004 pertumbuhan penduduk menurun menjadi 12.954 orang. Pada tahun 2005 sampai tahun 2006 pertumbuhan penduduk meningkat kembali menjadi 31.270 orang.

Peningkatan laju pertumbuhan penduduk adalah akibat meningkatnya arus urbanisasi dan commuters serta kaum pencari kerja ke Kota Medan.

Perluasan Kotamadya Medan selain dimaksudkan sebagai peremajaan dan pemekaran kota juga tidak terlepas dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi.

Seauai dengan dinamika pembangunan kota, luas administrasi Kota Medan telah melalui beberapa kali perkembangan. Pada tahun 1951, Walikota Medan mengeluarkan maklumat Nomor 21 tanggal 29 September 1951, yang menetapkan luas Kota Medan menjadi 5.130 Ha, meliputi 4 Kecamatan dengan 59 Kelurahan. Melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1973 luas Kota Medan menjadi 26.510 Ha yang terdiri dari 11 Kecamatan dengan 116 Kelurahan. Berdasarkan luas administrasi yang sama maka melalui Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri Nomor 140/2271/PUOD, tanggal 5 Mei 1986, Kota Medan melakukan pemekaran Kelurahan menjadi 144 Kelurahan. Perkembangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara Nomor 140.22/2772.K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang pendefitipan 7 Kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 tahun 1992 tentang Pembentukan Beberapa Kecamatan di Kotamadya Medan dimekarkan kembali, dibagi atas 21 Kecamatan yang mencakup 151 Kelurahan. Pada tahun 2007 penduduk Kotamadya

(44)

Medan berjumlah 2.083.156 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 7.858.0 jiwa/km2.

2.2. Sejarah Perkembangan Es Dawet Ayu Banjarnegara

Sekitar tahun 50 Kota Banjarnegara terkenal dengan sebutan kota Buntil5 dan Dawet6 ayu, terlebih-lebih dengan kedatangan almarhum Bung Karno ke Kota Banjarnegara ini. Pada waktu itu Buntil dan dawet ayu merupakan suguhan yang paling utama dari Desa Rejasa. Makanan khas yang dua tadi (Buntil dan dawet ayu) sangat terkenal. Bukan hanya makanan yang dua tadi saja yang khas, tetapi masih ada lagi yang terkenal yaitu Jarak7 dan kerajinan keramik dari Kecamatan Kelampok.

Katanya cerita nama dari dawet ayu itu tadi berasal dari lagu pop Jawa (gendhing Jawa atau lagu Jawa) yang diciptakan oleh Adhimas S.Bono. Katanya Adhimas menciptakan lagu ini diilhami dari penjual dawet ayu yang memiliki wajah atau rupa yang ayu-ayu.

Dawet ayu ini sudah ada dari jaman tahun 50-an yang lalu, selain itu, dahulu dawet ayu belum diberi es batu, dan rasanya benar-benar khas. Disamping bakulnya atau gerobaknya harus ada wayang punawakan yaitu wayang Semar dan Gareng yang merupakan ciri khas Orang Jawa. Gambar Gareng dan Semar ini melambangkan rakyat biasa atau masyarakat awam. Maksudnya ya air dawet itu jajanan yang murah meriah.

Alasan penjual dawet memasang dua tokoh wayang tersebut adalah kata orang tua karena

5 Buntil adalah sejenis makanan, yang terbuat dari daun keladi muda dicampur dengan kelapa parut yang sudah diberi bumbu. Rasanya manis,asin dan pedas.

Referensi

Dokumen terkait

Ombudsman perwakilan Maluku Utara tentunya banyak memiliki kelemahan ataupun kekurangan dalam melakukan fungsi pengawasannya, melihat kondisi birokrasi Maluku Utara

cadangan Wakil Rektor III. Dana rakor tidak ikut dipertimbangkan dalam hal ini karena keputusan rakor mutlak saat rapat rakor selesai, tidak dapat diubah- ubah lagi. Permintaan

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik (Anak) dalam Program Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi Kesehatan.. Anak-Spesialis pada Fakultas Kedokteran Universitas

Gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut, 110 dan guru yang baik harus mengetahui gaya belajar siswanya dan tau cara yang

Saran- saran itu ditujukan kepada (1) sekolah hendaknya menyediakan kurikulum bagi kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik yang menekankan pada peningkatan kemamapuan menulis

Dalam kerangka aplikasi radiasi pada pengembangan bahan polimer yang berasal dari tumbuhan laut, telah dievaluasi karakter fisiko-kimia agar-agar dalam bentuk

Berdasarkan Amiruldin (2007) yang melakukan penelitian pada asam amino gelatin tulang ikan tuna bahwa titik gel dipengaruhi oleh jumlah asam amino hidroksiprolin, titik

2) Ekonomi Islam Tentang Promosi Penjualan.. Prinsip ekonomi Islam yang dipakai dalam promosi penjualan yaitu kepercayaan dan suka sama suka. Pengelola pantai batu