• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bekerja bukan hanya kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi dalam arti yang lebih dalam lagi bekerja merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menunjukan eksistensi manusia. Kegiatan bekerja saat ini mempengaruhi harga diri seseorang karena dengan bekerjalah potensi atau kemampuan manusia tersebut dinilai.

Namun sayangnya lingkungan sosial telah membebankan wanita dengan stigma. Wanita yang bekerja dianggap gagal dalam menjalankan tugas utamanya, yaitu berumah tangga. Terdapat dua hal utama yang membebani seorang wanita dalam bekerja yaitu, pandangan publik yang menganggap wanita karier adalah wanita yang ambisius dan akibatnya memunculkan rasa ketidakyakinan wanita terhadap kemampuan dirinya untuk mencapai puncak karier. Pandangan yang menyesatkan itu melekat sedemikian rupa dalam sisi psikologis wanita hingga berubah menjadi sebuah sistem sosial yang mengekang ambisi wanita dalam bekerja. Istilah emansipasi kemudian muncul sebagai bentuk tindak lanjut dari gagasan kesetaraan

gender.

Sejarah awal munculnya istilah emansipasi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1028M. Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 1028M merupakan seorang wanita yang sangat dihormati karena pengabdiannya untuk menyebarkan agama islam lewat jalur perkawinan di Jawa (Masruroh, 2019). Sedangkan pada tahun 1400M wanita bernama Kusuma Wardhani yang merupakan putri mahkota dari Hayam Wuruk, diangkat menjadi seorang raja menggantikan Sri Wikramawardhana memimpin kerajaan Majapahit (Hardiyani, 2019).

Namun saat ini masyarakat lebih mengenal tokoh R.A. Kartini sebagai pelopor emansipasi karena usahanya yang pertama kali membangun sebuah tempat belajar bagi para gadis di masanya. Tidak hanya memberikan pendidikan membaca, menulis dan berhitung tetapi juga beberapa keterampilan lainnya seperti memasak, menjahit dan membuat kerajinan tangan. Wanita yang telah dicerdaskan oleh pendidikan mempunyai pemikiran yang lebih luas dan bebas, kesadaran akan potensi dan hak yang mereka miliki membuat wanita bangkit untuk berjuang mematahkan sistem

(2)

2 sosial dan stigma tersebut. Perjuangan itulah yang kemudian disebut sebagai awal emansipasi di Indonesia (Amar, 2017).

Abad 21 telah ditetapkan sebagai masa kejayaan dan kepemimpinan wanita. Tidak diragukan lagi, pencapaian wanita dalam bidang politik, bisnis dan ilmu juga sangat melimpah dalam dua puluh tahun terakhir ini (Lestari, 2018). Namun nyatanya masyarakat masih terbelenggu oleh berbagai macam pandangan konservatif atau kuno terhadap wanita. Reaksi konservatif muncul melalui paham kebudayaan lokal yang justru menyokong dalam pembuatan peraturan daerah yang bersifat diskriminatif. Sejak tahun 2009, Komisi Nasional Anti Kekerasan Perempuan menemukan setidaknya 333 peraturan daerah yang sifatnya diskriminatif terhadap wanita (Arigi, 2018).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan bahwa ketidaksetaraan gender dalam tenaga kerja di Indonesia masih tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita pada tahun 2018 hanya sebesar 55,44% sedangkan pria mencapai angka 83,01% menurut data dari Badan Pusat Statistika (Dania, 2019). Hal serupa juga dapat dilihat dari persentase tenaga kerja formal menurut jenis kelamin pada tahun 2015 sampai tahun 2018, dimana tidak ada peningkatan yang signifikan untuk tenaga kerja wanita (Badan Pusat Statistik, 2018).

TABEL 1.1

PERSENTASE TENAGA KERJA FORMAL MENURUT JENIS KELAMIN

Jenis Kelamin Tahun 2015 2016 2017 2018 Pria 44.89 45.05 45.66 46.29 Wanita 37.78 38.16 38.63 38.20

(3)

3 Hal ini sangat disayangkan mengingat ketidaksetaraan tersebut memiliki dampak negatif dalam berbagai aspek pembangunan suatu negara, salah satunya dalam aspek ekonomi. Menurut United Nations Global Compact dan UN Woman dari data yang dikutip oleh medcom.id dengan meningkatkan kesetaraan gender di Indonesia dapat menambah Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 135 miliar di tahun 2025 (Anggita, 2019). Seperti yang telah diungkapkan oleh Retna Pratiwi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Kesetaraan Syarat Kerja bahwa pemerintah membutuhkan dukungan dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, serikat pekerja, serikat buruh dan organisasi pengusaha dalam mencegah tindakan diskriminasi gender di tempat kerja (Gewati, 2019).

Wanita saat ini semakin berani untuk mematahkan stigma konservatif dan sistem sosial yang pada awalnya mengunci potensi diri dan nilai yang mereka miliki. Nilai dan potensi yang telah mereka buktikan akhirnya membuka kesempatan wanita untuk berprofesi di ranah pekerjaan pria meskipun jumlah dan tugasnya masih sangat terbatas. Ada banyak profesi yang dinilai lebih banyak dilakukan oleh pria, saat ini juga dilakukan oleh wanita. Salah satu contoh dari profesi tersebut adalah polisi.

Sebagai seorang wanita, berprofesi menjadi seorang polisi bukanlah perkara yang mudah. Berbagai macam tantangan dan tentangan masyarakat akan stigma konservatif, kebudayaan, agama dan sistem sosial yang telah terbentuk sedemikian rupa membuat cap bahwa bekerja sebagai seorang polisi bukanlah ranah yang baik bagi seorang wanita. Tantangan terberat polwan adalah ketika mereka mendapat hal yang sama dengan polisi pria tetapi masih mempunyai beban sosial dan budaya sebagai perempuan. Saat bekerja polwan diwajibkan siap dalam mengemban tugas menghadapi kekerasan yang bermakna maskulin, namun disisi lain juga diharapkan memiliki sisi feminim dalam bertindak dan mengayomi masyarakat. Selain itu sebagai seorang wanita, mereka memiliki beban tugas domestik dalam keluarga, yaitu menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu bagi anak-anaknya (Edi, 2020).

Sejarah polwan di Indonesia sendiri memiliki pengaruh yang cukup besar, tidak hanya karena memiliki prestasi sebagai seorang penegak hukum dalam menjalankan tugasnya tetapi juga menjadi sebuah titik balik karakter kepolisian Indonesia. Citra polwan yang ramah dan humanis menjadi penetralisir pandangan masyarakat akan sikap keras polisi pria dalam bekerja (Hodawya, 2019). Menurut Jendral Polisi Tito Kamavian, polwan memiliki lebih banyak kelebihan dibanding

(4)

4 polisi pria dalam beberapa bidang, yaitu dinilai dalam praktik korupsi, polwan cenderung lebih resisten, polwan bisa bersikap lembut dan sensitif terhadap masalah perempuan dan anak, serta dalam penanganan kasus terorisme, beliau menilai banyak tersangka pelaku terorisme yang bisa lebih terbuka ketika didekati polwan (Esnir, 2016).

Pada tahun 2019, Jenderal Polisi Tito Kamavian, menyebutkan bahwa jumlah polwan saat ini masih minim, yaitu sebanyak 8,3% dari jumlah keseluruhan Polri atau setara dengan 36.595 orang (Makkl, 2018). Walaupun jumlahnya yang masih minim, polwan harus bisa menghadapi beban tersebut berawal dari dirinya sendiri. Mereka diharuskan memiliki pendirian berupa konsep diri yang kuat agar tidak terpengaruh dengan pandangan-pandangan yang tidak membangun.

Konsep diri tidak hanya sebuah persepsi yang meliputi psikologi, sosial dan fisis tentang pandangan dan perasaan diri kita sendiri, tetapi juga meliputi penilaian kita tentang diri sendiri. Setiap orang akan bertingkah laku sependapat mungkin dengan konsep dirinya sendiri. Komunikasi merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Salah satu bentuk komunikasi yang dianggap paling efektif dalam mempengaruhi seseorang adalah komunikasi interpersonal. Bagaimana seseorang memandang dirinya melalui interaksinya dan hubungannya dengan orang lain merupakan

Walaupun konsep diri merupakan kajian yang sangat umum digunakan dalam sebuah penelitian, namun subjek yang diteliti kali ini merupakan subjek yang tidak umum ditemukan dalam kajian tersebut. Hal ini dibuktikan setelah penulis melakukan survei menyeluruh pada hari Jumat, 8 Oktober 2020 melalui website Open Library Universitas Telkom, dengan keyword “Konsep Diri” dari tahun 2020 hingga 2015. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa bahwa penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan terdapat pembaharuan penelitian yaitu subjek penelitian yang digunakan penulis, yaitu Polisi Wanita belum pernah digunakan sebelumnya. Berikut ini merupakan diagram gambar dari hasil survei yang penulis dapatkan, yaitu:

(5)

5 Gambar 1.1 Survei Open Library Universitas Telkom

Sumber: Olahan Peneliti (2020)

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan penulis menemukan 27 penelitian yang membahas tentang konsep diri dengan berbagai subjek yang berbeda. Jika dilihat melalui diagram hasil survei tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian konsep diri paling banyak fokus subjek membahas tentang komunitas yaitu berjumlah 10 penelitian atau 37% dari total keseluruhan. Sebanyak empat penelitian atau 15% dari total keseluruhan penelitian membahas tentang wanita bukan profesi, yaitu penelitian seputar body shaming, mahasiswi dan komunitas wanita. Konsep diri pada penyandang disabilitas juga terdapat sebanyak 4 penelitian atau 15% dari total keseluruhan penelitian. Hanya terdapat satu penelitian, yaitu 4% dari total keseluruhan penelitian yang membahas tentang profesi, yaitu konsep diri atas profesionalisme anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Berkaitan dengan kajian konsep diri dan fenomena yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti konsep diri Polisi Wanita yang bertugas di Polres Metro Bekasi. Polres ini tepatnya berlokasi di Karangasih, Jl. Ki Hajar Dewantara No.1, Simpangan, Kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (ITWASDA Polda Metro Jaya, 2020). Polres Metro Bekasi merupakan kantor Kepolisian Nasional Indonesia yang memiliki tanggung jawab langsung dibawah Presiden Republik Indonesia. Polres Metro Bekasi memiliki personil sebanyak 1.621 personil dengan rincian polisi pria sebanyak 1.524 orang, polisi wanita sebanyak 66 orang dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 31 orang. Berdasarkan surat keputusan Kapolri No.Pol: Skep 1103/X/2004 tanggal 24 Oktober 2004 Polres Metro Bekasi dibentuk dan sempat mengalami perubahan nama pada

37% 15% 15% 4% 7% 7% 15% Komunitas

Wanita Bukan Profesi Disabilitas

Profesi Keluarga Mahasiswa dan lain -lain

(6)

6 tahun 2016 yang awalnya bernama Polresta Bekasi menjadi Polres Metro Bekasi. Perubahan nama tersebut menjadi sebuah indikasi bahwa kantor kepolisian tersebut mengalami kenaikan tingkat dan perubahan status sehingga saat ini telah sejajar dengan Polres-Polres di daerah DKI Jakarta.

Polres Metro Bekasi dipilih penulis sebagai lokasi kantor bertugasnya polisi wanita yang akan dijadikan subjek penelitian karena lokasinya yang strategis, penghargaan dan dampak positif yang diberikan oleh Polres Metro Bekasi khususnya polisi wanita kepada masyarakat sekitar. Polres Metro Bekasi berada di kawasan Jababeka yang terdiri atas dua kawasan yaitu kawasan industri dan perumahan. Kawasan industri Jababeka sendiri merupakan merupakan pengembang kawasan industri pertama yang terdaftar di Indonesia, terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada tahun 1994. Terdapat lebih dari 1.650 perusahaan multinasional dari 30 negara yang terdaftar di kawasan industri Jababeka, dengan total area industri sebesar 2.590ha. Polres Metro Bekasi memiliki peran yang sangat penting dalam membina keamanan dan ketertiban kawasan.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh pernyataan dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan di acara peresmian Polres Metro Bekasi, yaitu peningkatan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kabupaten Bekasi perlu di tingkatkan mengingat Kabupaten Bekasi merupakan wilayah industri terbesar se-asia, kota mitra ibu kota yang tidak hanya strategis tetapi juga sangat heterogen. Keputusan untuk menaikan tipe dari Polresta Bekasi menjadi Polres Metro Bekasi merupakan keputusan yang tepat, yang tentunya sudah melalui serangkaian proses administrasi serta kajian anggaran, personil, geografis dan lainnya (Gazarin & Niman, 2016).

Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan AKP Wuryanti S.H sebagai Kepala Urusan 1 Sub Bagian Personil Bagian Sumber Daya Polres Metro Bekasi pada hari Kamis, 12 Maret 2020 di Polres Metro Bekasi, beberapa tahun sebelum peresmian kenaikan tipe Polres Metro Bekasi tersebut, yaitu sekitar tahun 2012-2015 terdapat gerakan yang dilakukan oleh kepolisian Polres Metro Bekasi khususnya polisi wanita. Pada tahun tersebut merupakan tahun dimana sering terjadi demo buruh, dampak kerusakan yang dihasilkan dari demo tersebut cukup besar mengingat kota Jababeka Cikarang merupakan daerah industri yang terdapat ribuan pabrik dan buruh di dalamnya. Polisi wanita Polres Metro Bekasi (sebelumnya Polresta Bekasi) ditugaskan untuk turun langsung ke lingkungan tempat tinggal buruh untuk

(7)

7 melakukan pendekatan sekaligus sosialisasi tentang dampak negatif dari demo massal yang dilakukan serta memberikan edukasi dan pelatihan kepada istri-istri buruh untuk bekerja (berjualan dan membuat kerajinan tangan yang bisa dijual) agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan di tengah-tengah kondisi perekonomian yang saat itu tidak menentu, karena pihak industri sering melakukan PHK massal. Tujuan utamanya adalah agar para istri dan wanita yang mendapatkan pelatihan bisa tercerdaskan dan mandiri, tidak terus bergantung pada pendapatan suami yang bekerja sebagai buruh. Kegiatan tersebut berusaha untuk mengedukasi wanita (istri buruh) bahwa seorang ibu rumah tangga juga bisa mandiri, menghasilkan uang untuk turut serta menunjang perekonomian rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan oleh Polisi Wanita Polres Metro Bekasi ini nyatanya mendapatkan apresiasi dari masyarakat dan perubahan signifikan positif dalam kehidupan ekonomi buruh atau mantan buruh di Cikarang.

Adapun beberapa penghargaan yang diterima oleh Polres Metro Bekasi, yaitu pada tahun 2009 berhasil mendapatkan penghargaan berupa Juara 1 Unit Identifikasi tingkat nasional. Unit Identifikasi merupakan unit yang bertugas dalam menyelenggarakan fungsi identifikasi yang meliputi sidik jari, fotografi kepolisian, sketsa raut wajah dan metode lainnya yang digunakan dalam mengungkapkan sebuah kasus yang berkaitan dengan tindak pidana. Pada tahun yang sama AKP Wuryanti S.H, salah satu polwan yang bertugas saat itu berhasil mengungkapkan kasus yang cukup besar, yaitu mengungkap kasus pembunuhan berencana terhadap anak usia 13 tahun bersama Unit Identifikasi yang diungkap melalui sidik jari. Pada tahun 2013 beliau juga berhasil mengungkapkan kasus kasus pemerkosaan dan pembunuhan oleh ayah kandung di Kabupaten Bekasi.

Pada tahun 2016, Polisi Wanita Polres Metro Bekasi mendapatkan penghargaan dari Bupati Bekasi sebagai penggerak bank sampah yang membawa dampak positif pada lingkungan di Kabupaten Bekasi, sehingga pada tahun 2017 Kabupaten Bekasi berhasil menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupa Sertifikat Adipura untuk kategori Peningkatan Penataan Lingkungan (Best Effort) untuk yang kedua kalinya. Adapun beberapa penghargaan lain yang diterima oleh polisi wanita di Polres Metro Bekasi, yaitu pada tahun 2018 Briptu Awalia mendapatkan penghargaan di tingkat nasional berupa Juara 1 Karate dalam Kapolri Cup dan pada tahun 2017, Polres Metro Bekasi

(8)

8 mendapatkan penghargaan berupa Juara 3 Beregu Menembak Polwan Cup tingkat Nasional.

Pada tahun 2019 Polres Metro Bekasi berhasil mendapatkan penghargaan konsep kemasyarakatan, yaitu Juara 1 Pengembangan Perpolisian Masyarakat tingkat Polda Metro Jaya. Pengembangan Perpolisian Masyarakat adalah suatu konsep yang digunakan dalam mendorong masyarakat untuk sadar akan keselamatan dan sadar akan hukum. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat tidak menjadi pelaku maupun menjadi korban dari suatu kasus hukum.

Selain letak geografis dari Polres Metro Bekasi yang strategis, berbagai macam penghargaan yang mereka terima juga merupakan salah satu bukti dan bentuk apresiasi bahwa mereka telah berhasil memberikan perubahan yang positif bagi masyarakat sekitar. Maka berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian konsep diri polisi wanita di Polres Metro Bekasi, dengan judul penelitian “Konsep Diri Polisi Wanita dalam Konteks Komunikasi Interpersonal di Polres Metro Bekasi”.

1.2 Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah konsep diri polisi wanita di Polres Metro Bekasi dan konsep diri polisi wanita dalam konteks komunikasi interpersonal di Polres Metro Bekasi. Hal tersebut dilandasi pada permasalahan yang ditemui peneliti pada latar belakang penelitian.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan pemahaman terkait dengan massalah yang diteliti oleh penulis, yaitu konsep diri polisi wanita dalam konteks komunikasi interpersonal di Polres Metro Bekasi.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan baik secara teoritis maupun praktis, maka peneliti memaparkan kegunaan penelitian ini sebagai berikut:

(9)

9 a. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam bidang akademis dan perkembangan ilmu pengetahuan mengenai perkembangan ilmu psikologi komunikasi tentang konsep diri polisi wanita dalam konteks komunikasi interpersonal pada umumnya.

b. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan secara praktis sebagai referensi bagi seluruh lapisan masyarakat dan instansi yang terlibat tentang gambaran pentingnya membentuk konsep diri polisi wanita dalam konteks komunikasi

interpersonal.

1.5 Lokasi Penelitian dan Periode Penelitian 1.5.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor Polres Metro Bekasi yang berlokasi di Kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Tepatnya berada di Karangasih, Jl. Ki Hajar Dewantara No.1, Simpangan, Kec. Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat 17550.

1.5.2 Periode Penelitian

Periode penelitian di lapangan dilakukan mulai bulan Februari 2020 – Juni 2021. Rincian periode penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

(10)

10 TABEL 1.2 PERIODE PENELITIAN No Tahapan Penelitian Tahun 2020 Tahun 2021

Feb Mar Apr - Jul Agu Sep - Des Jan Feb - Mei Jun

1. Surat dan perizinan penelitian skripsi 2. Mencari Informasi awal (pra-penelitian) 3. Penyusunan proposal skripsi 4. Desk Evaluation 5. Pengumpulan data 6. Analisis dan penyusunan skripsi 7. Sidang skripsi

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Kesimpulan yang diperoleh dari teori perkembangan remaja di atas adalah untuk merencanakan dan membangun suatu bangunan yang diperuntukan bagi para remaja kita harus terlebih

Komposisi tari yang demikian biasanya apabila garapan cengkok kendangnya lemah, maka terinya dirasakan sangat lemah, (coba menarilah gambyong atau ngremo tanpa kendang

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk