• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur PLTSa RAWA KUCING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur PLTSa RAWA KUCING"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Penjajakan Minat Pasar (Market Sounding)

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur

PLTSa R AWA K U C IN G

24 Januari 2017

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(2)

Daftar Isi

1. Latar Belakang Penjajakan Minat Pasar 2. Tahap Pelaksanaan KPBU

3. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terkait Pembangunan PLTSa 4. Dasar Hukum Pelaksanaan KPBU PLTSa

5. Dasar Pertimbangan PJPK 6. Dasar Pertimbangan KPBU

7. Kondisi Eksisting TPA Rawa Kucing 8. Layout dan Lokasi TPA Rawa Kucing 9. Tantangan Yang Dihadapi

10. Rencana Pengembangan PLTSa Rawa Kucing 11. Lingkup Kegiatan KPBU PLTSa

12. Bentuk dan Masa Kerjasama 13. Aspek Keuangan

14. Persyaratan Badan Usaha Pelaksana 15. Standar Kinerja

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(3)

Penjajakan Minat Pasar (Market Sounding)

(Perpres 38 Tahun 2015 dan Permen PPN 4 Tahun 2015)

PJPK dapat melakukan Penjajakan Minat Pasar (Market Sounding) antara lain melalui kegiatan pertemuan dua pihak (one-on-one meeting) dan promosi KPBU dengan calon investor, lembaga keuangan nasional dan internasional, serta pihak lain yang memiliki ketertarikan terhadap pelaksanaan KPBU

Tujuan kegiatan adalah memperoleh masukan dan tanggapan terhadap KPBU dari pemangku kepentingan yang berasal dari Badan Usaha / Lembaga / Institusi / Organisasi Nasional atau Internasionalz

Penjajakan Minat Pasar ini merupakan bagian dari penyusunan studi Kajian Awal Prastudi Kelayakan

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(4)

Tahapan Pelaksanaan KPBU

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(5)

Kerangka Peraturan Perundang-undangan Terkait Pembangunan PLTSa

Kerangka Peraturan Perundang-undangan :

1. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;

2. Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi;

3. Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan;

4. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta perubahannya;

5. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik;

6. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;

7. Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur;

8. Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional;

9. Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan;

10. Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional No. 4 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur; dan

11. Peraturan perundang-undangan terkait lainnya

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(6)

Dasar Hukum Pembangunan PLTSa

Pasal 27 UU 18/2008

Pemerintah daerah kabupaten/kota secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat bermitra dengan badan usaha pengelolaan sampah dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah

Pasal 5 UU 18/2008

Pemerintah dan Pemerintah daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam UU 18/2008

Pasal 6 UU 18/2008

Tugas Pemerintah dan pemerintahan daerah dalam penyelenggaaraan pengelolaan sampah sebagaimana diatur dalam UU 18/2008 antara lain:

a. Memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah;

b. Melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah; dan

c. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengelolaan sampah.

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(7)

Kewenangan Pemerintah Kabupaten / Kota Dalam Pengelolaan Sampah

Pasal 9 ayat 1 UU 18/2008

“Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/kota mempunyai kewenangan:

a. Menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi;

b. Menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah;

c. Melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain;

d. Menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat pengelolaan sampah terpadu, dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah;

e. Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; dan

f. Menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya”

Dasar Pertimbangan Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK)

Aset Yang Digunakan

Aset yang digunakan merupakan Milik Pemerintah Kota Tangerang dalam wilayah Kota Tangerang.

Penggunaan aset milik Pemerintah Kota Tangerang dilakukan berdasarkan PP 27/2014 serta peraturan pelaksananya.

Perizinan Dalam Pengelolaan Sampah

Pasal 17 ayat 1 UU 18/2008

“Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah wajib memiliki izin dari kepala daerah sesuai dengan kewenangannya”

W A L I K O T A T A N G E R A N G

Pasal 6 Perpres 38/2015

(1) Dalam pelaksanaan KPBU, Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah bertindak selaku PJPK (2) Penentuan Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah sebagai PJPK dilakukan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang sektor

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(8)

Dasar Pertimbangan KPBU

Kuantitas sampah Kota Tangerang semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dengan segala kegiatannya

Pemrosesan akhir dengan sistem Sanitary Landfill membutuhkan lahan yang sangat besar

Keterbatasan lahan untuk pemrosesan sampah dengan sistem Sanitary Landfill

Diperlukan sistem dan teknologi pengolahan sampah yang dapat mereduksi sampah dan ramah lingkungan

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(9)

1.137,5 tpd

1.420,0 tpd

2.775,7 tpd

910,6 tpd

1.223,1 tpd

2.637,6 tpd

0,0 tpd 500,0 tpd 1.000,0 tpd 1.500,0 tpd 2.000,0 tpd 2.500,0 tpd 3.000,0 tpd

0 jiwa 500.000 jiwa 1.000.000 jiwa 1.500.000 jiwa 2.000.000 jiwa 2.500.000 jiwa 3.000.000 jiwa 3.500.000 jiwa 4.000.000 jiwa 4.500.000 jiwa

Jumlah Penduduk Timbulan Tiba di TPA Linear (Jumlah Penduduk)

Proyeksi Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(10)

Kondisi Eksisting TPA Rawa Kucing Kota Tangerang

Lokasi pengolahaan sampah perlu dijaga supaya tidak memerlukan perluasan lahan

Lokasi TPA Rawa Kucing sudah sesuai dengan peruntukannya

(sesuai dengan RTRW Kota Tangerang sebagaimana diatur dalam Perda Tangerang 6 Tahun 2012)

Lokasi TPA terletak disekitar Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara yang membatasi ketinggian bangunan, batasan jarak pandang, dan potensi gangguan radar

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(11)

Layout TPA Rawa Kucing

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(12)

Lokasi TPA Rawa Kucing

Lokasi pekerjaan berada di wilayah administrasi Kota Tangerang, terletak di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Rawa Kucing yang merupakan aset Pemerintah Kota Tangerang

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(13)

Posisi TPA terhadap Bandara Soekarno-Hatta

Kawasan horizontal dalam bandara:

adalah bidang datar di atas dan di sekitar bandar udara yang dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan pesawat udara melakukan terbang rendah pada waktu akan mendarat atau setelah lepas landas.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan KM 14 Tahun 2010, kawasan ini ditentukan oleh lingkaran dengan radius 4.000 m dari ujung permukaan utama

Saat in TPA Rawa Kucing berada pada titik 2,900m dari ujung taxiway, dan berdasarkan bangunan tertinggi yang

diperbolehkan adalah 46m

Apabila ujung taxi-way diperpanjang untuk pesawat besar (A380), maka radius semakin kecil,

dan ketinggian bangunan yang diperbolehkan semakin pendek.

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(14)

Lokasi PLTSa

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(15)

Tantangan Yang Dihadapi

Lokasi TPA Rawa Kucing

1

Lokasi TPA Rawa Kucing berada pada Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandar Udara Soekarno Hatta

 Resiko pembatasan ketinggian bangunan Dasar Pertimbangan

 Relative proximity terhadap run-way Soekarno-Hatta (± 3 km)

 Berada dalam kawasan horizontal dengan Batas ketinggian +46 meter dihitung dari elevasi runway

 Resiko emisi stack-gas waste to energy mengganggu jarak pandang lepas landas pesawat (dapat dimitigasi oleh penggunaan teknologi yang tepat) & operasi radar.

Perencanaan PLTSa perlu diintegrasikan dengan Rencana Operasi TPA

2

 Mengingat jumlah sampah yang terus meningkat, maka penentuan kapasitas PLTSa mempertimbangkan daya tampung TPA.

 Setelah tahun 2020, PLTSa 1,000 tpd tidak lagi mampu menampung 100% beban sampah yang masuk TPA, sehingga sebagian akan diproses di Sanitary Landfill

 Perlu dipertimbangkan peningkatan kapasitas PLTSa lebih dari 1000 ton/hari untuk mengantisipasi peningkatan jumlah sampah tersebut

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(16)

RENCANA PENGEMBANGAN PLTSa RAWA KUCING

Pembangunan Sistem/Fasilitas Pengolahan Sampah dengan teknologi Thermal Process dan Teknologi Lainnya

 Kapasitas pengolahan sampah minimum 1000 ton/hari

 Luas lahan yang tersedia 5 Ha

 Tingkat reduksi minimum 90%

 Kelebihan

 Pembangunan dan pelaksanaan incinerator di kota Tangerang akan lebih cepat, tanpa pembebasan lahan baru & penetapan tata ruang (RUTR/RDTR)

 Dapat diintegrasikan dengan kondisi existing TPA Rawa Kucing

 Kelemahan

 Memiliki resiko penutupan incinerator apabila terjadi perpanjangan runway Bandara Soeta

 Nilai investasi yang cukup tinggi karena penyesuaian teknologi untuk memenuhi syarat minimum KKOP

 Pemerintah wajib menjamin investor & perbankan bahwa Pemerintah Tangerang akan memberikan kompensasi yang layak apabila terjadi perluasan bandara yang berdampak pada proyek.

 Perlu pengelolaan TPA dengan standar tinggi sehingga dapat menghindari resiko kebakaran &

pencemaran lingkungan lainnya, yang dapat mengakibatkan penutupan fasilitas secara keseluruhan

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(17)

L i n g k u p K e g i a t a n K P B U P LT S a

R u a n g L i n g k u p K e g i a t a n B a d a n U s a h a P e l a k s a n a , t e r d i r i d a r i :

 Merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara PLTSa dengan seluruh sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan, dengan teknologi Thermal Procces dan teknologi lainnya yang ramah lingkungan dan telah terbukti (Proven) dalam

pengolahan sampah dengan kapasitas pengolahan minimum 1000 Ton/hari

 Menyusun Feasibility Study, AMDAL, Detailed Engineering Design (DED) untuk seluruh Prasarana dan Sarana yang akan dibangun dengan mengikuti Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria yang berlaku baik secara nasional maupun internasional

 Mengurus dan mendapatkan seluruh perizinan yang diperlukan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku

 Menyiapkan pembiayaan (Equity dan Loan) yang diperlukan dalam melaksanakan proyek ini untuk mencapai sasaran dan standar kinerja yang telah ditetapkan

 Menyiapkan sumber daya manusia yang berpengalaman, terlatih dan terampil untuk melaksanakan proyek ini

 Memberdayakan tenaga kerja lokal termasuk pemulung

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(18)

Bentuk dan Masa Kerjasama

Bentuk Kerjasama

Build, Operate, Transfer (BOT)

Masa Kerjasama 23 Tahun

(3 Tahun Pembangunan + 20 Tahun Operasional)

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(19)

No Asumsi Satuan Nilai

1 Nilai Investasi (CAPEX) USD 94,2 juta

2 Biaya Operasi (OPEX) USD 5,97 juta/tahun

3 Power Export MW 12

4 Total Residue Persentase 10%

5 Total Reduksi Sampah Persentase 90%

6 IRR Persentase 14%

7 Equity : Loan Persentase 30 % : 70 %

Aspek Keuangan Berdasarkan Asumsi

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(20)

Persyaratan Badan Usaha Pelaksana

Aspek administrasi :

 Akte perusahaan

 Ijin-ijin perusahaan

 Perusahaan yang berbadan hukum berupa Badan Usaha Dalam dan Luar negeri serta Badan Usaha Milik Negara/Daerah Aspek Keuangan:

 Memiliki kemampuan/kapasitas keuangan untuk membiayai proyek

 Memiliki kekayaan total minimum 3 kali biaya investasi (CAPEX)

 Memiliki kekayaan bersih minimum 3 kali Ekuitas Aspek Teknis/Teknologi :

 Memiliki teknologi pengolahan sampah (Thermal Process) dan teknologi lainnya yang ramah lingkungan dan telah terbukti (Proven)

 Memiliki pengalaman EPC teknologi Thermal Process dan teknlogi lainnya minimal 3 proyek dalam 10 tahun terakhir dengan kapasitas pengolahan minimal 500 Ton/hari dan telah beroperasi minimal 5 tahun secara terus-menerus

 Memiliki pengalaman pengoperasian dan pemeliharaan teknologi Thermal Procces dan teknologi lainnya minimal 3 proyek dalam 10 tahun terakhir dengan kapasitas minimal 500 ton/hari dan telah beroperasi minimal 5 tahun secara terus-menerus

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(21)

Standar Kinerja

 Memenuhi Standar Kinerja yang berlaku baik secara nasional maupun internasional meliputi Arsitektur, Sipil, Mekanikal, Elektrikal dan Tata Lingkungan

 Memenuhi Standar Kualitas/Baku Mutu Lingkungan sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku baik secara Nasional maupun Internasional meliputi Air ,Tanah, Udara, Kebisingan dan Kesehatan Masyarakat/Lingkungan

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(22)

BADAN USAHA PELAKSA

NA

LENDER a) Lembaga Perbankan b) Lembaga Non-

Perbankan (PT. SMI, IIF, dll)

PJPK PENJELASAN

1. Pemerintah Kota Tangerang melakukan kontrak kerjasama dengan BUP untuk merencanakan, membangun,

mengoperasikan, dan memelihara PLTSa (“Proyek”);

2. BUP melakukan kontrak kerjasama dengan perbankan/ lembaga keuangan untuk membiayai Proyek;

3. BUP melakukan kontrak kerjasama dengan PT PII (IIGF) untuk penjaminan Proyek (apabila diperlukan);

4. BUP menyelesaikan seluruh kegiatan Proyek;

5. BUP mendapatkan tipping fee dari PJPK atas pengelolaan sampah;

6. PLN melakukan pembelian tenaga listrik dari BUP atas pengoperasian PLTSa;

7. Tanggung Jawab dan Risiko dalam pelaksanaan Proyek berada pada BUP, selama masa perjanjian kerjasama;

8. Apabila terjadi risiko dalam penjaminan, maka PT PII (IIGF) akan membayar klaim kepada BUP; selanjutnya

9. Pemerintah Kota Tangerang akan membayar kepada PT PII (IIGF) berdasarkan Regres

1

2 3 dan 8 9

PLTSa

4

5

Tata Kelola Keuangan : Struktur Aliran Uang Masuk dan Keluar KPBU PLTSa

7

6

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

(23)

TERIMA KASIH

Penjajakan Minat Pasar (Market Sounding)

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur PLTSa RAWA KUCING

24 Januari 2017

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

http://www.tangerangkota.go.id

Referensi

Dokumen terkait

PERMENDAGRI NOMOR 96 TAHUN 2016 TENTANG PEMBAYARAN KETERSEDIAAN LAYANAN DALAM RANGKA KERJASAMA PEMERINTAH DAERAH DENGAN BADAN USAHA UNTUK PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

Didalam penelitian ini, faktor-faktor tersebut akan diolah menurut preferensi pemerintah dan badan usaha yang terlibat dalam pelayanan angkutan lyn di Kota, sehingga

Berdasarkan data kuesioner, risiko informasi yang diberikan pemerintah sebagai data awal dalam rangka perhitungan nilai investasi tidak akurat disetujui responden

Sedangkan Grimsey and Lewis (2004) mengidentifikasi enam risiko yang berhubungan dengan proyek KPBU, yaitu risiko umum (yang berhubungan dengan tanggung jawab pemerintah yang

Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha atau disingkat KPBU diatur dalam Pasal 1 ayat 6 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah Dengan

Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional tentang pelaksanaan kerja sama pemerintah dan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur di