• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan beragam suku, adat istiadat, kebudayaan maupun bahasa yang dapat mempersatukan bangsa dengan Pancasila sebagai dasar persatuan bangsa. Setelah bangsa Indonesia merdeka sampai saat ini keragaman tersebut terus ada dan terjaga dari generasi ke generasi penerusnya.

Bangsa Indonesia juga tidak melupakan akarnya bahwa dari berbagai suku tersebut tercipta juga berbagai bahasa dan Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang dapat diaplikasikan kedalam berbagai kehidupan bermasyarakat, seperti menyapa, berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya, menanyakan dan menanggapi dengan bahasa yang sama, yaitu Bahasa Indonesia.

Bahasa pada dasarnya adalah suatu simbol yang dapat digunakan antara satu dengan lainnya sebagai bentuk komunikasi maupun interaksi (Chaer 1994:33).

Manusia adalah makhluk sosial, yang dimaksud adalah manusia membutuhkan manusia lainnya dalam berinteraksi untuk mencapai tujuannya masing masing.

Manusia dapat juga membentuk suatu kelompok yang memiliki tujuan yang sama dan saling berkomunikasi dengan kelompok lainnya sehingga terciptanya interaksi yang secara terstruktur.

Kesantunan dalam berbahasa penting karena bahasa yang ada dalam kehidupan sehari-hari dapat terus berkembang mulai dari lahir sampai akhir hayat.

Saat individu lahir sampai dewasa, orang tua lah yang mengajarkan berbahasa yang baik dan benar kepada sang anak dengan disertai dengan kesantunan dalam berbahasa tersebut sehingga sang anak dapat berkomunikasi dengan yang lainnya dengan memperhatikan kesantunan yang telah diajarkan orang tuanya.

Pada sisi lainnya, bahasa dapat disalahgunakan oleh sebagian orang sebagai alibi atau suatu bantahan atas apa yang pernah diucapkan oleh orang tersebut meskipun apa yang diutarakannya salah atau menyebabkan orang lain tersinggung atau sakit hati karena memang ada anggapan bahwa lidah lebih tajam dari pisau.

Bahasa yang negatif tersebut bisa jadi menyebabkan suatu ketidakharmonisan

dalam berkomunikasi bahasa di dalam masyarakat yang secara turun temurun

(2)

menjaga dan melestarikan bahasa tersebut secara baik dan benar sesuai dengan kesantunan berbahasa di masyarakat.

Komunikasi bisa dalam bentuk tulisan maupun lisan. Markhamah (2009:7) mengatakan bahwa kalimat harus diperhatikan oleh seseorang ketika melakukan komunikasi. Artinya, penutur harus memperhatikan kalimat yang diucapkannya secara baik dan benar serta terstruktur sesuai dengan pedoman berbahasa sehingga petutur tidak menangkap salah tafsir dan penutur dapat menyampaikan apa yang dimaksudkannya dengan jelas. Dengan demikian, penggunaan bahasa untuk komunikasi dan penyampaian suatu informasi di dalam kehidupan masyarakat baik secara tulisan maupun lisan. Dalam berkomunikasi yang diajarkan bukanlah bentuk-bentuk bahasanya, tetapi penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang digunakan. Bahasa yang dapat digunakan dengan baik berupa informasi yang dapat dipahami dan bertujuan jelas yang diutarakan penutur kepada petutur.

Tindakan penuturan adalah salah satu dari perwujudan bahasa, yaitu suatu langkah yang dilakukan seseorang yang biasanya ditampilkan dalam bentuk pengucapan atau perkataan (Yule 1996:82). Perkataan dan pengucapan tersebut diaplikasikan dalam bentuk tulisan maupun percakapan yang dilakukan antar manusia. Manusia dapat menggunakan media massa sebagai alat komunikasi dalam menyalurkan tuturan lisan maupun tulisan. Media massa dapat mempengaruhi seseorang apakah dalam penerapannya dapat berkelakuan baik atau buruk dengan melihat perkataan atau percakapan yang dilakukannya.

Wujud aktualisasi diri dari seseorang dalam berbahasa dan kesantunan berbahasa merupakan suatu kebutuhan dalam diri seseorang, bukan berupa kewajiban (Pranowo 2009:15). Dalam berbahasa, kesantunan berbahasa penting sekali untuk dilakukan di dalam suatu aktivitas komunikasi antar manusia dengan melihat apakah aktivitas tersebut berjalan sesuai dengan norma yang berlaku dan menjaga hubungan yang saling menguntungkan.

Dalam berbahasa yang dilakukan seseorang dikatakan santun apabila

komunikasi tersebut tidak terdapat kata atau kalimat yang tidak menyinggung

lawannya. Bahasa santun digunakan dalam situasi saat seseorang berpidato ataupun

saat bercanda dengan sesama (Pranowo 2009:25). Bahasa yang santun dilakukan

(3)

untuk menjaga komunikasi yang baik antar manusia dengan memperhatikan struktur kalimat yang baik dan benar. Kesantunan berbahasa yang baik di dalam suatu percakapan dapat berupa kata yang diutarakan apakah bagus atau buruk, penyampaian bahasa terstruktur atau secara acak-acakan, serta apa yang diutarakan dapat dimengerti petutur sehingga apa yang diutarakan petutur agar tidak ada kesalah pahaman sehingga menyebabkan tersinggungnya perasaan antara petutur dan lawannya.

Bahasa yang santun dapat dilihat dari adanya berbagai kebenaran santun yang ada dalam penuturan. Prinsip kesantunan dapat didasarkan pada kaidahkaidah, yaitu suatu kajian yang berisi makna yang harus dipatuhi agar tuturan penutur memenuhi prinsip kesantunan (Leech dalam Rustono 1993:65). Kajian kesantunan ada enam, yakni kajian kebijaksanaan, kajian kedermawanan, kajian kerendahan hati, kajian pujian, kajian kesepakatan, dan kajian kesimpatian. Tuturan dapat dikatakan semakin santun diutarakan dapat dilihat dari banyaknya kepatuhan dari kajian-kajian yang ada dalam prinsip kesantunan.

Komunikasi bahasa menghasilkan produk kata, lambang, maupun kalimat yang berupa tindak tutur (Searle dalam Nurhayati, 2010). Tindak tutur adalah hasil dari komunikasi bahasa. Lebih lengkapnya, tindak tutur adalah hasil dari suatu kalimat yang diutarakan seseorang yang berasal dari komunikasi bahasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada suatu percapakan penutur yang mengutarakan tuturan yang dapat diterima oleh petutur adalah langkah tuturan.

Bahasa yang diterapkan di masyarakat banyak ditemukan pada media

massa, baik secara fisik maupun virtual. Media komunikasi yang beredar banyak di

masyarakat terdapat kesantunan berbahasa yang berasal dari berbagai percakapan

atau dialog antar tokoh. Dialog tersebut dapat ditampilkan di media komuniasi

sehingga masyarakat dapat mengetahui adanya terjadi percakapan yang secara

langsung maupun tidak langsung serta terdapat masukan atau sanggahan yang

mewarnai percakapan tersebut. Mata Najwa adalah salah satu contoh adanya

percakapan antar tokoh yang berisi pendapat, sanggahan, maupun solusi yang

membangun bagi semua unsur di dalam masyarakat berdasarkan topik yang

diangkat sebagai tema dalam acara tersebut.

(4)

Peneliti mengambil acara talkshow Mata Najwa sebagai objek dikarenakan pada dewasa ini audience dengan segala umur, baik muda maupun tua, pria maupun wanita di seluruh penjuru tanah air sangat menyukai acara tersebut. Karena mengangkat tema dan fokus pembicaraan yang sesuai dengan topik yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Keunggulan lainnya adalah pembawa acaranya sendiri yaitu Najwa Shihab, dengan tatapan matanya yang tajam dan mimik muka yang serius sampai-sampai Najwa bisa mengetahui apa isi lubuk hati narasumbernya.

Bahkan, Najwa pun tidak segan untuk mencecar narasumbernya jika Najwa mengetahui bahwa narasumberr tersebut tidak menguasai di bidangnya. Program Mata Najwa bahkan sering sekali trending di Twitter karena dalam tuturannya entah itu dalam bentuk pendapat maupun sanggahan sering sekali viral. Selain itu, Najwa Shihab selaku moderator dapat mengendalikan pembicaraan pro dan kontra tersebut dengan penyampaian bahasa yang lugas dan tegas. Sehingga tuturan-tuturan yang dilontarkan dapat masuk ke dalam kesantunan berbahasa serta konklusi atau kesimpulan yang dapat diterima oleh semua pihak. Hal ini membuktikan bahwa program Mata Najwa selalu mendapatkan kesan yang mendalam bagi audience yang mendengarnya.

Penelitian terdahulu yang sejenis dengan penelitian ini yaitu milik Widya

Gusvita dari Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul “Realisasi Kesantunan

pada Acara Talk Show Mata Najwa” yang diteliti pada tahun 2016 bahwa pada acara

Talk Show yang dibintangi oleh Najwa Shihab dengan mengundang bintang tamu

Pak Habibie terdapat penerapan prinsip kesantunan, baik dalam menaati maupun

melanggarkan prinsip kesantunan, yaitu dari 54 data prinsip kesantunan yang diteliti

oleh peneliti, terdapat 38 data pelaksanaan prinsip kesantunan, terdiri dari 4 kaidah

bijaksana, 2 kaidah dermawan, 7 kaidah penghargaan, 2 kaidah sederhana, 20

kaidah kesepakatan, dan 3 kaidah simpati. Sedangkan pada 16 data pelanggaran

prinsip kesantunan terdiri dari 3 kaidah bijaksana, 2 kaidah dermawan, 3 kaidah

penghargaan, 1 kaidah sederhana, dan 7 kaidah kesepakatan. Contoh pelaksanaan

prinsip kesantunan yaitu sebagai berikut: yaitu pada maksim kebijaksanaan terdapat

dialog dari Najwa Shihab pebagai penutur kepada Pak Habibie sebagai petutur yang

berisi: “Sepasang bola mata, lagunya kita putar khusus Presiden Ketiga Baharudin

(5)

Jusuf Habibie. Apa kabar Bapak?” menandakan bahwa penutur segan kepada petutur dan ingin menghargai petutur dengan cara memutar lagu Sepasang bola mata sebagai awal percakapan. Dengan demikian Najwa Shihab sebagai penutur dinilai bijak karena memaksimalkan keuntungan Bapak Habibie sebagai petutur.

Pada jurnal penelitian lainnya, milik Risti Reno Sumekar, Supriyadi dan Sri Indrawati dari Universitas Sriwijaya dengan judul “Kesantunan Berbahasa pada Acara Talk Show Mata Najwa di Metro TV” yang diteliti pada tahun 2018 bahwa peneliti meneliti dari sumber acara Talk Show Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV pada bulan Januari sampai dengan Februari 2017. Pada penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan tujuan dan penerapan prinsip kesantunan berbahasa yang disampaikan oleh Najwa Shihab sebagai penutur terhadap para narasumber yang diundang sebagai petutur. Penelitian tersebut menghasilkan 541 buah tuturan yang menggunakan prinsip kesantunan pada 8 episode acara yang telah dianalisis tersebut. Pada tiap episode Najwa Shihab sebagai penutur menggunakan cara tuturan berbahasa secara terus terang, tanpa basa-basi yang kemudian diselipkan oleh percakapan gurauan kepada para narasumber yang tentunya berbahasa positif yang membangun serta kesimpulan yang disampaikan oleh penutur yang memberikan solusi dengan menjaga kesantunan berbahasa yang baik.

Contohnya pada episode ke-7 dimana Najwa Shihab mengundang Titi Anggraini sebagai narasumber, Najwa Shihab mempersilahkan narasumber untuk menanggapi pendapat dari penutur terlebih dahulu dengan tuturan sebagai berikut:

“Mbak Titi dulu, silahkan.” Hal ini menandakan bahwa penutur berusaha untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian narasumber atau petutur untuk menyampaikan pendapatnya terlebih dahulu dengan adanya kata ”silahkan”

sebagai kata perintah sehingga petutur mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.

Kemudian pada jurnal penelitian Silvia Wina Putri, Erizal Gani, dan Syahrul

dari Universitas Negeri Padang dengan judul “Penggunaan Prinsip Kesantunan

Berbahasa dalam Talk Show Mata Najwa Edisi “100 Hari Anies-Sandi Memerintah

jakarta”” yang dilakukan pada tahun 2018. Penelitian tersebut bertujuan untuk

menggambarkan penerapan kaidah kesantunan berbahasa yang diucapkan oleh

(6)

Najwa Shihab terhadap Anies Baswedan-Sandiaga Uno selaku Gubernur-Wakil Gubernur Daerak Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dengan mengulas tentang 100 hari kinerja Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta. Penelitian tersebut menggunakan teknik menyimak dengan diikuti teknik catat sehingga menghasilkan beberapa data, baik penggunaan prinsip kesantunan maupun pelanggaran prinsip kesantunan.

Dari ketiga penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya tentu memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan saat ini, terutama periode pengambilan data yang diteliti dan kemudian masalah yang dikaji. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang kesantunan berbahasa dengan objek Mata Najwa itu sendiri. Untuk memudahkan pembahasan masalah, serta untuk menghindari punguraian yang terlalu luas, perlu adanya pembatasan masalah.

Dengan adanya pembatasan masalah diharapkan pembahasan lebih mudah dipahami. Tiga masalah yang akan di bahas pada penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, makna, dan konteks kesantunan berbahasa. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka peneliti mengangkat judul penelitian berupa

“Kesantunan Berbahasa dalam Dialog Interaktif Mata Najwa di Trans 7”.

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana bentuk kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa di Trans 7?

b. Bagaimana makna kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa di Trans 7?

c. Bagaimana konteks kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa di Trans 7?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa.

b. Mendeskripsikan makna kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa.

c. Mendeskripsikan konteks kesantunan berbahasa dalam dialog interaktif Mata Najwa.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Secara Teoritis

(7)

- Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran dan menambah wawasan ilmu pengetahuan, terutama untuk perkembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang ditinjau dari sudut pandang kajian pragmatik.

b. Secara Praktis

- Agar dijadikan referensi tentang kajian pragmatik khususnya tentang kesantunan berbahasa. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk kajian penelitian sejenis dan selanjutnya.

1.5 Penegasan Istilah

Dalam upaya menyamakan persepsi terhadap konsep penting dalam penelitian ini maka perlu diberikan definisi operasional yang meliputi konsepkonsep berikut ini:

a. Kesantunan berbahasa merupakan perilaku yang bertujuan untuk mendekatkan jarak sosial antara penutur dengan petutur, baik dalam berbahasa seperti perkataan yang dipilih, nada penyampaian, intonasi, dan struktur kalimat maupun tingkah laku yang ditunjukkan penutur kepada petutur seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, tindakan serta sikap dengan bermaksud sebagai bentuk penghormatan penutur kepada petutur sesuai dengan norma dan adat istiadat di khalayak umum.

b. Bentuk kesantunan berbahasa adalah satuan tuturan yang menunjukkan adanya kesantunan berbahasa yang diterapkan dalam aspek maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, maksim pujian, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian yang dinyatakan dalam kata, frasa, ataupun kalimat.

c. Makna tuturan adalah satuan tuturan yang mempunyai citra diri atau pengertian di balik pertuturan yang disampaikan. Makna kesantunan berbahasa yang disampaikan penutur dalam penelitian ini adalah makna memberikan perhatian, makna memberikan apresiasi, makna memberikan dorongan, dan makna dalam pemilihan bahasa.

d. Konteks tuturan adalah peritiwa tutur saat berlangsungnya bahasan atau

maksud yang bisa berkaitan dengan latar belakang yang dapat dipahami

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah harus melakukan evaluasi secara berkala dengan menggunakan suatu instrumen khusus yang dapat menilai tingkat kerentanan dan kapasitas murid sekolah untuk

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang berasal dari fosil yaitu minyak bumi dan batubara. Jawaban

Dari area bisnis yang ada, ditemukan beberapa hal menyangkut permasalahan yang ada, yaitu: (1) Pihak manajemen dalam melakukan perencanaan penjualan dan produksi memperoleh data dari

Hasil uji reliabilitas instrumen variabel motivasi belajar (Y) akan diukur tingkat reliabilitasnya berdasarkan interpretasi reliabilitas yang telah ditentukan pada

Zat pengawet organik lebih banyak digunakan daripada anorganik karena bahan ini lebih mudah dibuat, baik dalam bentuk asam maupun garamnya Jenis bahan pengawet antara lain