• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA TANAH SUPRESIF TERHADAP Ganoderma boninense PADA KELAPA SAWIT SKRIPSI. Oleh:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA TANAH SUPRESIF TERHADAP Ganoderma boninense PADA KELAPA SAWIT SKRIPSI. Oleh:"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA TANAH SUPRESIF TERHADAP Ganoderma boninense PADA KELAPA SAWIT. SKRIPSI. Oleh: MELITA ADRIANY PURBA/120301215 AGROTEKNOLOGI/ HAMA PENYAKIT TUMBUHAN. PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018. Universitas Sumatera Utara.

(2) KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA TANAH SUPRESIF TERHADAP Ganoderma boninense PADA KELAPA SAWIT. SKRIPSI. Oleh: MELITA ADRIANY PURBA/120301215 AGROTEKNOLOGI/ HAMA PENYAKIT TUMBUHAN. Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018. Universitas Sumatera Utara.

(3) Judul Usulan Penelitian : Keanekaragaman Bakteri Pada TanahSupresif TerhadapGanoderma boninensis Pada Kelapa Sawit Nama : Melita Adriany Purba NIM :120301215 Program Studi : Agroekoteknologi Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan. Disetujui Oleh Komisi Pembimbing. Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr Ketua. Dr. Ir. Hasanuddin, MS. Anggota. Mengetahui,. Dr. Ir. Sarifuddin MP. Ketua Program Studi Agroteknologi. Universitas Sumatera Utara.

(4) ABSTRACT Melita Adriany Purba. 2018.“The diversity of bacteria in soil suppressive and their effect on G. Boninense in palm oil”. Under direction ofMukhtar Iskandar Pinem and Hasanuddin. Palm oil is one of the commodity crop that has an important role in the economy in Indonesia. The main problems encountered are low productivity and the quality of oil palm caused by G. boninense. This study aimed to determine the diversity of bacteria in soil suppressive and their effect on G. boninense causes stem rot in oil palm plants.This research was conducted by taking samples of soil infested with G. boninense and suppressive soil around the plant oil palm to analyze diversity and abundance of bacteria. Analyses were performed using dilution method at a rate of 10-2 to 10-4 on TSA. The results showed that the suppressive soil containing bacteria are not capable of inhibiting the growth of soil-borne pathogens. Diversity and abundance of bacteria in soil suppressive higher than the diversity and abundance of bacteria in soil infested G. boninense. Overall isolates obtained from soil suppressive by eight isolates and overall isolates obtained from soil infested by four isolates. Keywords: Ganodermaboninense, palm oil, suppressive soil. Universitas Sumatera Utara.

(5) ABSTRAK Melita Adriany Purba. 2018. ”Keanekaragaman Bakteri Pada Tanah Supresif Terhadap Ganoderma boninense Pada Kelapa Sawit”. Dibimbing oleh Mukhtar Iskandar Pinem dan Hasanuddin. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya produktivitas dan kualitas kelapa sawit yang disebabkan oleh G. boninense. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman bakteri yang terdapat pada tanah supresif terhadap G. boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel tanah terinfestasi G. boninense dan tanah supresif disekitar tanaman kelapa sawit untuk dianalisis keanekaragaman dan kelimpahan bakteri. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran pada tingkat pengenceran 10-2 hingga 10-4 pada media TSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah supresif mengandung bakteri yang tidak berpengaruh nyata menghambat pertumbuhan patogen tular tanah. Keanekaragaman dan kelimpahan bakteri pada tanah supresif lebih tinggi daripada keanekaragaman dan kelimpahan bakteri pada tanah terinfestasi G. boninense. Total isolat yang diperoleh dari tanah supresif sebanyak 8 isolat dan total isolat yang diperoleh dari tanah terinfestasi sebanyak 4 isolat. Kata Kunci: G. boninense, kelapa sawit, tanah supresif. Universitas Sumatera Utara.

(6) RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Medan Sumatera Utara pada tanggal 30 November 1994. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari ayah Manimpan Purba dan ibunda Risma br. Simbolon. Adapun riwayat pendidikan penulis adalah sebagai berikut: Tahun 2006 penulis lulus dari SD RK Budi Luhur Medan Tahun 2009 penulis lulus dari SMP Tri Sakti 1 Medan Tahun 2012 penulis lulus dari SMA Budi Murni 1 Medan Tahun 2012 penulis terdaftar sebagai mahasiswa program studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama Reguler (UMB Reguler). Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan diantaranya: Anggota Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (2012-2017) Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Mahasiswa Kristen Fakultas Pertanian (2013-2015) Selain itu penulis juga pernah menjadi asisten di beberapa laboratorium Fakultas Pertanian diantaranya sebagai berikut: Asisten Dasar Perlindungan Hutan Sub-Hama (2014/2015) Asisten Laboratorium Pestisida dan Teknik Aplikasi Sub-Hama (2015/20162016/2017) Asisten Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Sub-Hama (2016-2017) Asisten Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (2016/2017). Universitas Sumatera Utara.

(7) Pada tahun 2015 penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di PT. Saudara Sejati Luhur Asian Agri Group. Pada tahun 2017 penulis melaksanakan penelitian di Laboratorium Proteksi Tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat Pematang Siantar.. Universitas Sumatera Utara.

(8) KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Keanekaragaman Bakteri Pada Tanah Supresif Terhadap Ganoderma boninensePada Kelapa Sawit” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat membuat skripsi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr. sebagai Ketua dan Dr. Ir. Hasanuddin, MS. sebagai Anggota, yang telah membimbing penulis dalam mempersiapkan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.. Medan, Maret 2018. Penulis. Universitas Sumatera Utara.

(9) DAFTAR ISI ABSTRACT ........................................................................................................ i ABSTRAK ........................................................................................................ ii RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... iii KATA PENGANTAR ...................................................................................... v DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ ix DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... x PENDAHULUAN Latar Belakang ................................................................................................... 1 Tujuan Penelitian ............................................................................................... 3 Hipotesis Penelitian............................................................................................. 3 Kegunaan Penelitian ........................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA Penyakit BPB Pada Kelapa Sawit ...................................................................... 4 Biologi Penyebab Penyakit ................................................................................. 4 Siklus Penyakit .................................................................................................... 5 Gejala Serangan .................................................................................................. 6 Faktor Yang Mempengaruhi ............................................................................... 7 Pengendalian ...................................................................................................... 8 Tanah Supresif ................................................................................................... 10 BAHAN DAN METODE TempatdanWaktuPenelitian ................................................................................ 12 BahandanAlat Penelitian ..................................................................................... 12 Metode Penelitian................................................................................................ 12 Pelaksanaan Penelitian ........................................................................................ 13 Pengambilan Sampel Tanah ............................................................................... 13 Isolasi Bakteri...................................................................................................... 13 Uji Antagonisme in vitro..................................................................................... 14 Morfologi Koloni ................................................................................................ 15 Uji Gram ....................................................................................................... 15 Peubah Amatan .................................................................................................. 16 Perhitungan Jumlah Koloni .......................................................... 16 Uji Antagonisme in vitro ............................................................... 17 Karakterisasi Morfologi Koloni Bakteri ....................................... 17 Uji Gram ........................................................................................ 17. Universitas Sumatera Utara.

(10) HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman dan Perhitungan Jumlah Koloni ............................................. 18 Uji antagonisme bakteri tanah terhadap Ganoderma sp. secara in vitro............. 22 Identifikasi Bakteri .............................................................................................. 23 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan .................................................................................... 26 Saran .............................................................................................. 26 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara.

(11) DAFTAR TABEL No.. Judul. Halaman. Keanekaragaman bakteri pada setiap sampel tanah ………………………... 20. Kelimpahan bakteri pada setiap sampel tanah ...................................................... 21 Persentase daya hambat terhadap Ganoderma boninense .................................... 22 Identifikasi morfologi koloni bakteri .................................................................... 24 Identifikasi uji pewarnaan gram bakteri dan bentuk sel ....................................... 24. Universitas Sumatera Utara.

(12) DAFTAR GAMBAR No.. Judul. Halaman. Gejala serangan Ganoderma boninense. ............................................................... 7 Simple Random Sampling ..................................................................................... 13 Tata letak cendwan patogen dan bakteri dalam pengujian penghambatan melalui mekanisme antagonis ............................................................................................ 14 Ukuran, bentuk, dan elevasi koloni bakteri ........................................................... 15 Isolat bakteri pada setiap sampel tanah; (a) BS1,(b) BS2, (c) BS3, (d) BS4, (e) BS5, (f) BS6,(g) BS7, (h) BS8, (i) BG1, (j) BG2, (k) BG3, (l) BG4 .................... 19 (a) Ganoderma boninense sp.dan (b) Aktivitas daerah hambatan isolat BS3 terhadap pertumbuhan miselium jamur Ganoderma pada media PDA padapengamatan 5hsi ............................................................................................ 23. Universitas Sumatera Utara.

(13) DAFTAR LAMPIRAN No.. Judul. Halaman. Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-2 .................. 30 Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-3 .................. 31 Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-4 .................. 32 Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-5 .................. 33 Identifikasi morfologi koloni bakteri ................................................................... 34 Identifikasi uji pewarnaan gram bakteri dan bentuk sel ....................................... 34 Gambar Uji Antagonisme secara in vitro .............................................................. 35 Gambar Uji pewarnaan gram bakteri dan bentuk sel ........................................... 36 Peta lahan lokasi pengambilan sampel ................................................................. 37 Peta lahan lokasi pengambilan sampel .................................................................. 38 Lokasi Pengambilan sampel dan sampel tanah yang telah di ambil ..................... 39. Universitas Sumatera Utara.

(14) PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya, komoditas ini menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa non - migas terbesar setelah karet dan kopi. Tanaman kelapa sawit ( Elaeis guineensisJacq.) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Tanaman ini merupakan tanaman perkebunan yang dominan di masyarakat Indonesia. Kelapa sawit juga merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati (Hartono et al., 2013). Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah rendahnya produktivitas serta kualitas kelapa sawit di Indonesia. Menurut data Direktorat Jendral Perkebunan tahun 2014, produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai rata-rata 2,3 ton per Ha, perkebunan kelapa sawit besar negara mencapai rata-rata 2,8 ton per Ha, sedangkan perkebunan kelapa sawit besar swasta mencapai 2,9 ton per Ha (Direktorat Jendral Perkebunan, 2014). Salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman adalah adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti serangan beberapa jenis hama, penyakit dan gulma. Jenis-jenis hama dan penyakit pada tanaman kelapa sawit yang harus mendapat perhatian lebih selama perkembangan kelapa sawit, mengingat potensinya yang besar dalam menimbulkan kerusakan maupun kerugian adalah Apogonia sp. dan kumbang Adoretus sp, Setothosea asigna V. Eecke,. Setora nitens Walker, Oryctes rhinoceros L, Tiratabaha sp dan. Universitas Sumatera Utara.

(15) Mahasena corbetti. Tams sedangkan jenis-jenis penyakit Ganoderma. Botryodiploidia palmarum, Glomerella cingulata,. sp.. Melanconium elaeidis dan. Culvularia eragrostidis (Allorerung et al., 2010). Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma sp., bukanlah penyakit baru pada tanaman kelapa sawit dan palem-paleman lainnya. Sejak tahun 1915, penyakit ini sudah dilaporkan menyerang kelapa sawit di Republik Kongo, Afrika Barat. Lima belas tahun kemudian dilaporkan menyerang kelapa sawit yang berumur 25 tahunan di Malaysia. Dengan semakin berkembangnya perkebunan kelapa sawit pada tahun 1960-an, serangan BPB semakin meningkat dengan menyerang kelapa sawit yang berumur lebih muda (10-15 tahun). Penyakit BPB dapat menyebabkan kehilangan hasil secara langsung terhadap minyak sawit dan penurunan bobot tandan buah segar (fresh bunch fruit) (Susanto et al., 2005). Pengendalian patogen tanaman secara biologi termasuk BPB pada kelapa sawit menjadi sangat penting, apalagi perkebunan kelapa sawit dituntut melakukan perlindungan kualitas lingkungan. Penggunaan pestisida untuk patogen tanah, selain sangat berbahaya bagi manusia dan tanah, juga sasarannya tidak tercapai karena sebelum pestisida sampai ke target sudah terdegradasi. Pestisida dilaporkan dapat menurunkan keseimbangan ekosistem tanah, sehingga mengakibatkan penurunan produksi tanaman (Julyanda 2011). Beberapa jenis tanah yang bersifat merugikan terhadap petogen tanaman dengan menekan kelangsungan hidup dan pertumbuhan patogen tersebut. Keragaman mikroba yang terdapat pada habitat tanaman kelapa sawit memiliki peranan penting dalam upaya pengendalian penyakit busuk pangkal batang. Maka. Universitas Sumatera Utara.

(16) dari itu, perlu dilakukan penelitian mengenai analisis keanekaragaman bakteri yang terdapat pada tanah supresif terhadapGanoderma boninense sebagai upaya pengendalian penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit. Tujuan Penelitian Untuk. mengetahui. keanekaragaman. bakteri. pada. tanah. supresif. terhadapGanoderma boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit. Hipotesis Penelitian Tanah. supresif. mengandung. bakteri. yangmampu. menghambat. pertumbuhan Ganoderma boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit. Kegunaan Penelitian Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.. Universitas Sumatera Utara.

(17) TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) Biologi Jamur Busuk Pangkal Batang (G. boninensePat.) Menurut Agrios (1996) taksonomi penyakit busuk pangkal batang (G. boninense ) adalah sebagai berikut: Kingdom. : Fungi. Phylum. : Basidiomycota. Class. : Basidiomycetes. Subclass. : Agaricomycetidae. Order. : Polyporales. Family. : Ganodermataceae. Genus. : Ganoderma. Species. : G. boninense. G. boninense yang menyerang tanaman kelapa sawit berdasarkan ciri-ciri fenotipik (morfologi) mempunyai morfologi basidiokarp yang beragam.Umumnya basidiokarp yang banyak ditemukan adalah sessile, yaitu basidiokarp tidak bertangkai, tubuh buah langsung menyatu dengan pangkal batang kelapa sawit. Ganoderma juga memiliki tepi tubuh buah (basidiokarp) yang beragam, yaitu halus, bergelombang, dan kasar. Umumnya Ganoderma yang ditemukan memiliki tepi tubuh buah (basidiokarp) yaitu tepi tubuh buah halus, tidak bergelombang Permukaan bawah basidiokarpa berwarna putih gelap (Wicaksono et al., 2011). Basidiospora Ganoderma adalah uniselular, haploid, berbentuk ellipsoid, bujur atau truncate. Pencirian Ganoderma yang menyerang pohon kelapa sawit yaitu massa spora yang dikutip kelihatan kekuningan. Panjang basidiospora adalah 7.1-. Universitas Sumatera Utara.

(18) 13.8 μm dan lebar 4.8 – 8.3 μm. Basidiospora yang haploid dihasilkan oleh basidium. Basidiospora bercambah menjadi miselium manokarion (Jing, 2007). Kejadian penyakit BPB lebih tinggi pada pertanaman kelapa sawit yang telah mengalami peremajaan. Akibatnya, selain menurunkan produktifitas pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM), usia produktif tanaman kelapa sawit juga menjadi berkurang, dan replanting (penanaman kembali) kelapa sawit menjadi lebih cepat. Laju infeksi G. boninense akan semakin cepat ketika populasi sumber penyakit (inokulum) G. boninense sudah semakin banyak. Kondisi ini akan mengancam kelangsungan hidup tanaman kelapa sawit muda yang baru saja ditanam untuk menggantikan tanaman yang telah mati (Nildayanti, 2011). Siklus Penyakit Di Indonesia tingkat kejadian penyakit BPB awalnya rendah pada tanaman kelapa sawit muda hingga berusia 12 tahun, semakin tua kejadian penyakit dapat meningkat sebesar 40% (Ariffin et al., 2000). Pada lahan dengan peremajaan keempat, penyebab BPB bisa menyerang tanaman kelapa sawit berumur 1 hingga 2 tahun (Sinaga et al., 2003). Penyebaran penyakit yang paling utama adalah dengan kontak antara akar tanaman sehat dan sakit. Penyebaran yang kedua melalui basidiospora langsung ke tanaman kelapa sawit, serta yang ketiga melalui inokulum sekunder yaitu basidiospora tumbuh pada tunggul tanaman dan selanjutnya terjadi kontak akar antara tanaman sehat dan sumber inokulum tersebut. Pada saat ini banyak dilaporkan bahwa pada tanah yang relatif miskin unsur hara cenderung mempunyai kejadian penyakit yang lebih besar (Susanto, 2011).. Universitas Sumatera Utara.

(19) Penyakit BPB dapat menyebabkan kehilangan hasil secara langsung terhadap minyak sawit dan penurunan bobot tandan buah segar (TBS), sedangkan kerugian tidak langsung berupa penurunan bobot batang terhadap tandan kelapa sawit (Susanto et al., 2005). Di beberapa perkebunan di Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai lebih dari 80% dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produk kelapa sawit per unit area (Susanto, 2002). Gejala Serangan Penyakit BPB dapat menyerang tanaman mulai dari bibit hingga tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di kebun. Gejala serangan pada tanaman belum menghasilkan terlihat daun menguning dan mongering serta nekrosis dari pelepah bawah terus ke pelepah atas, terjadi pembusukan pada pangkal batang, tanaman mengering dan mati sedangkan gejala pada tanaman menghasilkan adalah daun menguning pucat diikuti dengan akumulasi daun tombak. Pelepah daun bagian bawah menggantung dan bagian tengah tanaman kelapa sawit membusuk (Allorerung et al., 2010). Secara mikroskopik, gejala internaldari akar yang terserang Ganoderma samadengan batang yang terinfeksi. Jaringankorteks dari akar yang terinfeksi berubahmenjadi berwarna coklat sampai putih. Padaserangan lanjut, jaringan korteksmenjadi rapuh dan mudah hancur. Jaringanstele pada akar yang terinfeksi menjadi berwarna hitam padaserangan berat. Hifa padaumumnya berada pada jaringan korteks,endodermis, perisel, xilem dan floem.Tanda lain dari penyakit ialah munculnyatubuh buah atau basidiokarp pada pangkal batang kelapa sawit (Susanto, 2011).. Universitas Sumatera Utara.

(20) a. b. Gambar 1. (a) Badan buah Ganoderma sp. (b) Gejala serangan Ganoderma sp. (Susanto, 2011). Faktor yang Mempengaruhi Jamur G. boninense dapat tumbuh secara teratur pada suhu tanah 40oC tetapi pertumbuhan jamur G. boninense terganggu pada suhu di atas 35oC (pertumbuhan optimum pada suhu 28oC) dan dalam waktu dua hari ke depan suhu tanah dapat mencapai 45oC (suhu maksimal). Kerugian dalam penanaman di awal biasanya masih rendah. Gejala serangan G. boninense biasanya terlihat setelah 1012 tahun kemudian (Coopper et al., 2011). G.boninense merupakan cendawan patogen yang menyerang tanaman kelapa sawit dan bersifat tular tanah (soil borne disease). Keberadaan G.boninense disekitar areal pertanaman kelapa sawit, dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal tanaman. Faktor internal tanaman meliputi kesehatan tanaman dan daya tahan terhadap infeksi patogen. Sedangkan untuk factor eksternal yaitu lingkungan sekitar wilayah tumbuh terutama kondisi tanah, dalam hal ini yang berkaitan dengan status hara tanah. Umumnya cendawan G.boninense lebih mudah menyerang tanaman yang tumbuh dan berkembang diatas tanah yang miskin unsur hara (Puspika, 2017). Tanaman sakit biasanya dikelilingi oleh tanaman sakit dengan gejala lebih ringan. Banyak sekali kelapa sawit yang mati akibat busuk pangkal batang ketika sistem under planting digunakan. Karena metode ini mennggunakan sistem penanaman tanaman muda di bawah tanaman tua. Di sisi lain, basidiospora juga. Universitas Sumatera Utara.

(21) telah dinyatakan memainkan peranan penting dalam menyebarkan penyakit. Basidiospora tidak selalu membentuk miselium sekunder dan tubuh buah karena memerlukan tipe perkawinan yang sama. Basidiospora dibebaskan dan menyebar secara besar-besaran pada pukul 22.00-06.00, dan lebih sedikit pada pukul 12.0016.00. Pemencaran ini juga dibantu oleh kumbang Oryctes rhinoceros yang larvanya. umum. ditemukan. pada. batang. kelapa. sawit. yang. busuk. (Susanto et al., 2007). Pengendalian Berbagai usaha telah dilakukan untuk pengendalian penyakit BPB, namun hingga saat ini belum dapat dikatakan berhasil. G. boninense bersifat soil borne dan kemampuan bertahan dalam kondisi kurang optimal yang tinggi merupakan salah satu faktor yang mempersulit usaha pengendalian baik secara kultur teknis, mekanis, maupun kimiawi. Pengendalian menggunakan fungisida baik dengan metode absorpsi akar maupun penyiraman fungisida ke dalam tanah kurang efektif, karena pengaruh sifat fisik dan kimia tanah atau terdegradasi oleh mikroflora di dalam tanah sebelum mencapai sasaran. Selain itu efek samping yang ditimbulkan dapat membahayakan lingkungan. Keragaman mikroorganisme yang berpotensi sebagai angens biokontrol dapat berkurang karena penggunaan fungisida secara terus menerus (Sinaga et al., 2003; Susanto, 2002). Beberapa pendekatan pengendalian mulai dikembangkan diantaranya pengendalian hayati dan penggunaan tanaman tahan. Menurut Agrios (2005) penggunaan tanaman tahan adalah cara yang paling mudah, murah, dan aman sepanjang varietas dari tanaman tahan yang dimaksud tersedia. Namun diperlukan. Universitas Sumatera Utara.

(22) waktu yang cukup lama untuk dapat menghasilkan suatu varietas tanaman tahan merupakan kendala tersendiri. Penggunaan varietas tahan yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi varietas mudah patah dan dapat menimbulkan masalah yang lebih berat, terlebih jika penggunaannnya bersamaan dengan aplikasi pestisida secara berlebihan seperti yang biasa dilakukan di perkebunan (Sinaga et al., 2003). Strategi pengendalian yang harus dikembangkan berdasarkan bioekologi G. boninense ialah pengendalian yang mampu menekan jumlah inokulum awal patogen sampai taraf yang tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi, pendekatan terhadap ekosistem alami, dan berkelanjutan. Pengendalian yang bersifat ramah lingkungan dan mampu menekan inokulum patogen, ialah pengendalian hayati. Salah satu teknik pengendalian hayati dapat dilakukan melalui introduksi agens antagonis ke dalam agroekosistem. Teknik ini berpotensi mengendalikan patogen-patogen yang bersifat tular tanah termasuk G. boninense (Cook & Baker 1996; Sinaga et al., 2003). Pengembangan usaha pengendalian dengan memanfaatkan dukungan alami lingkungan kemudian banyak diusahakan. Salah satunya yaitu dengan menggunakan tanah supresif. Tanah supresif didefinisikan sebagai tanah dengan insidensi penyakit tular tanah yang tetap rendah meskipun terdapat inokulum patogen dan kondisi lingkungan sesuai bagi ekspresi penyakit di tanaman inang (Alabouvetteet al., 2001). Mekanisme penekanan penyakit di tanah supresif masih memerlukan pengkajian lebih dalam karena keberadaan tanah ini masih sedikit yang diketahui. Untuk itu diperlukan eksplorasi keberadaan tanah supresif dan. Universitas Sumatera Utara.

(23) pengkajiannya dalam penekanan penyakit, terutama penyakit layu busuk pangkal batang. Tanah Supresif Pentingnya tanah bagi pertanian selain sebagai pendukung akar juga berfungsi sebagai penyedia hara bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu kualitas. tanah. sangat. berpengaruh. terhadap. kesehatan. tanaman. (Janvier et al., 2007). Kualitas tanah yang baik yaitu tanah yang sehat sehingga mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. Tanah sehat tergantung pada proses-proses fisik, kimia dan biologis yang berlangsung di dalam ekosistem. Dalam kaitannya dengan penyakit tanaman, proses fisik, kimia dan biologi tertentu dapat membentuk karakter tanah supresif (Cepeda, 2006). Menurut Janvier et al.,(2007), tanah supresif yaitu tanah dengan insidensi penyakit yang tetap rendah meskipun populasi patogen, tanaman inang dan kondisi lingkungan sesuai untuk perkembangan penyakit. Hal-hal yang dapat mendorong supresifitas tanah, yaitu (1) patogen tidak terus menerus berada di tanah, (2) patogen dijumpai terus menerus namun hanya mengakibatkan sedikit kerusakan atau bahkan tidak menyebabkan kerusakan sama sekali atau (3) patogen berada di tanah secara terus menerus dan mengakibatkan penyakit selama beberapa saat namun selang beberapa waktu patogen tersebut menjadi kurang penting meskipun tetap berada di tanah. Berdasarkan definisi di atas, maka tanah supresif dapat dikenali melalui insidensi penyakit yang tetap rendah meskipun tanaman inang merupakan tanaman rentan dan keadaan lingkungan mendukung berkembangnya penyakit. Tanah supresif terhadap penyakit dibedakan dengan tanah supresif terhadap. Universitas Sumatera Utara.

(24) patogen karena inokulum tetap dijumpai pada tanah supresif terhadap penyakit namun tidak mampu menginduksi terjadinya penyakit. Sementara itu pada tanah supresif terhadap patogen, inokulum patogen tidak ditemukan, karena rusak atau tidak mampu bertahan di tanah (Alabouvette, 1999). Baker and Cook (1993) menyatakan bahwa pengendalian hayati yang berhasil, terjadi pada tanah–tanah pertanian yang supresif terhadap patogen (agriculture soils suppressive to pathogen). Terjadinya tanah-tanah yang supresif tersebut disebabkan karena kelimpahan mikroorganisme saprofit di sekitar perakarannya. Kesupresifan tanah umumnya terkait dengan kehadiran atau peningkatan populasi mikroba tertentu. Beberapa kelompok mikroba yang sering dihubungkan dengan penekan penyakit yaitu jumlah kultur bakteri, Pseudomonas atau Pseudomonas fluorescent, Trichoderma spp. dan bakteri pembentuk endospora (Bonilla et al., 2012).. Universitas Sumatera Utara.

(25) BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Pematang Siantar yang berada pada ketinggian tempat ± 400 m dpl dimulai pada bulan Maret 2017 sampai dengan November 2017. Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah yang diambil dari tanaman kelapa sawit yang sehat dan yang terinfestasiG. boninense berasal dari kebun Bahjambi PTPN IV, isolat G. boninense, media TSA, media PDA, aquades,alkohol, label,cling wrap, alumunium foil,plastic, karet gelang, tissue, spiritus, kertas stensil dan kapas. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop, petridish, erlenmeyer, beaker glass, bunsen, tabung reaksi, vortex, mikropipet, coke borer, bor tanah,timbangan analitik, hot plate, kaca preparat, objek glass, kamera, jarum ose, inkubator, oven, handsprayer, gunting dan laminar air flow. Metode Penelitian Rancangan Percobaan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial. Bakteri yang digunakan adalah bakteri yang di peroleh dari hasil isolasi bakteri dari masing masing tanah sebanyak 12 isolat berdasarkan ciri ciri morfologi koloni yang berbeda, lalu di uji antagonis dengan jamur G, boninense.Maka akan di dapatkan perlakuan, yaitu: BS1 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 1 BS2 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 2. Universitas Sumatera Utara.

(26) BS3 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 3 BS4 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 4 BS5 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 5 BS6 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 6 BS7 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 7 BS8 = Isolat Bakteri asal tanah supresif 8 BG1 = Isolat Bakteri asal tanah terinfestasi G. boninense 1 BG2 = Isolat Bakteri asal tanah terinfestasi G. boninense 2 BG3 = Isolat Bakteri asal tanah terinfestasi G. boninense 3 BG4 = Isolat Bakteri asal tanah terinfestasi G. boninense 4 Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan, jadi jumlah cawan petri seluruhnya sebanyak 36. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Office Excel dan analisis sidik ragam menggunakan program SPSS 2.1. Untuk perlakuan yang berpengaruh nyata diuji lanjut dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Pelaksanaan Penelitian Pengambilan Sampel Tanah Sampel tanah diambil dari tanah supresif dan tanah yang terinfestasi Ganoderma sp. disekitar tanaman kelapa sawit. Sampel tanah supresif dan tanah terinfestasi diambil pada kedalaman 25 cm dengan menggunakan bor tanah pada 5 titik di sekitar tanaman kelapa sawit yang sehat dan di sekitar tanaman kelapa sawit yang terserang Ganoderma sp. Setiap titik pengambilan sampel tanah dilakukan secara acak menggunakan metode acak sederhana / Simple Random. Universitas Sumatera Utara.

(27) Sampling (SRS)(Mukhlis, 2014). Sampel tanah yang diambil kemudian di homogenkan dan diambil 1 g untuk dianalisis keragaman dan kelimpahan cendawan.. Gambar 2. Simple Random Sampling (SRS) Isolasi Bakteri Tanah di sekitar akar tanaman yang sudah dikeringanginkan, diambil sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam 9 ml aquades steril, kemudian dicampur hingga homogen. Sebanyak. 1. ml dari ekstrak tersebut dimasukkan. dalamtabung reaksi berisi 9 ml aquades. ke. steril, kemudian dikocok hingga. homogen dan 1 ml dipindahkan ke tabung berikutnya, demikian seterusnya hingga terjadi seripengenceran10-1-10-4. Sebanyak 0,1 ml ekstrak dari seri pengenceran 10-2dan 10-4dimasukkan kedalam petridish steril yang telah diisi media TSAdan kemudian disebar merata dalam petridish(Munif dan Hipi, 2011). Suspensi yang telah disebardalam petridish, diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 370C didalam inkubator, kemudian dihitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Uji Antagonisme in vitro Uji antagonisme dilakukan untuk mengetahui potensi isolat bakteri yang didapatkan. Uji antagonisme dilakukan terhadap cendawan patogen G. boninense yang. diperoleh. dari. koleksi. Laboratorium. di. Perkebunan. Marihat.. Ujipenghambatan dilakukan dengan cara menumbuhkanpatogen dan kandidat. Universitas Sumatera Utara.

(28) agen biokontrol dalam satu cawan petri berisi media PDA dengan mengikuti metode Nawangsih et al. (2014)potongan agar berdiameter0,5 cm yang sudah ditumbuhi miselia cendawandiletakkan pada permukaan media PDA dalam cawan petri berdiameter 9 cm dengan jarak ± 3 cm dari tepicawan. Selanjutnya satu loop bakteri rizosfer atauakuades steril (sebagai kontrol) digoreskanberseberangan dengan cendawan dengan jarak ± 3 cm(Gambar 3).. Aquades steril. G. boninense. 3cm. R1. 3cm. Bakteri. G. boninense. 3cm. R2. 3cm. Gambar 3. Tata letak cendawan patogen dan bakteri dalam pengujian penghambatan melalui mekanisme antagonis. Morfologi Koloni Isolat bakteri uji ditumbuhkan pada media TSA selama 48 jam dan diamati karakter morfologi masing-masing isolat yang meliputi warna, bentuk koloni, dan tepi koloni (Gambar 4) . Uji Gram Biakan bakteri yang berumur 24 jam dioleskan pada preparat steril. Olesan tersebut difiksasi dengan lampu bunsen agar merekat pada preparat. Diteteskan Crystal Violet secara merata pada olesan tunggu 2-3 menit. Kemudian dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan secara perlahan. Diteteskan Iodin, kemudian didiamkan selama 1 menit, dibilas kembali dan dikeringkan. Acid Alkohol ditetesi selama 2-4 detik kemudian bilas dan keringkan kembali. Teteskan Safranin. Universitas Sumatera Utara.

(29) tunggu selama 1 menit , kemudian dibilas dan dikeringkan kembali. Ditetesi dengan minyak emulsi, lalu diamati dibawah mikrosop compound dengan perbesaran 10 x100 kali (Shila et al., 2013).. Gambar 4. Ukuran, bentuk, dan elevasi koloni bakteri Sumber: Cappuccino & Sherman (1998). Peubah Amatan Perhitungan Keanekaragaman dan Jumlah Koloni Keanekaragaman bakteri ditentukan dengan mengelompokkan koloni berdasarkan perbedaan bentuk koloni, warna permukaan atas dan bawah, serta tepiannya.Metode yang digunakan untuk menghitung jumlah koloni adalah metode cawan hitung. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah cawan petri yang mengandung koloni antara 30-300. Jika tidak ada, maka dipilih yang mendekati 300. Prinsip dari metode ini adalah jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan dalam media, maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan. Universitas Sumatera Utara.

(30) membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop. Rumus menghitung jumlah koloni adalah sebagai berikut (Omar et al., 1996) : Jumlah koloni/ml = volume. 1. sampel x faktor pengenceran. Uji Antagonisme in vitro Persentase. penghambatan. dihitung. 𝑥𝑥 jumlah koloni dalam cawan. denganrumus. yang. dilaporkan. olehGanesan et al. (2007)dengan modifikasi: IH =. R1 − R2 × 100% R1. R1 = lebar miselia G. boninense arah goresan aquadessteril (kontrol) R2 = lebar miselia G. boninense arah bakteri rizosfer Karakterisasi Morfologi Koloni Pengamatan makroskopis bertujuan untuk mengamati karakterisasi morfologi koloni yang tumbuh pada media TSA yaitu meliputi pengamatan bentuk koloni, tepi koloni, dan warna koloni. Uji Gram Pengamatan mikroskopis bertujuan untuk mengamati pewarnaan Gram dan bentuk sel bakteri. Sehingga dapat diketahui jenis gram bakteri dan bentuk selnya.. Universitas Sumatera Utara.

(31) HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman dan Perhitungan Jumlah Koloni Keanekaragaman ditentukan dengan mengelompokkan koloni bakteri berdasarkan bentuk koloni, tepi koloni, permukaan koloni, dan warna koloni. Dari sampel tanah yang diisolasi pada media TSA dengan metode pengenceran menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Keanekaragaman bakteriyang diperoleh dari sampel tanah supresif yaitu 8 bakterisedangkan keanekaragaman bakteriyang diperoleh dari sampel tanah terinfestasi G. boninense yaitu 4 bakteri. Sehingga total bakteriyang diperoleh dari sampel tanah yang diamati sebanyak 12 isolat bakteri(Gambar 5). Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman bakteripada tanah supresif lebih tinggi dibandingkan dengan tanah terinfestasi G. boninense yang memungkinkan pertumbuhan patogen G. boninense menjadi tertekan. Hadiwiyono (2008) menyatakan bahwa tanah supresif merupakan tanah dengan patogen virulen dan inang yang rentan tetapi populasi dan penyakit yang ditimbulkan tertekan oleh faktor hayati (mikroba antagonis) yang didukung oleh lingkungan yang spesifik.. (a). (b). (c). Universitas Sumatera Utara.

(32) 19. (d). (g). (e). (f). (h). (i). (j) (k) (l) Gambar 5. Isolat bakteri pada setiap sampel tanah; (a) BS1,(b) BS2, (c) BS3, (d) BS4, (e) BS5, (f) BS6,(g) BS7, (h) BS8, (i) BG1, (j) BG2, (k) BG3, (l) BG4 .. Universitas Sumatera Utara.

(33) 20. Tabel 1. Keanekaragaman bakteri pada setiap sampel tanah Sampel Tanah Keanekaragaman Bakteri Keterangan Tanah Supresif. 8. 10-2. 6. 10-3. 6. 10-4. 4. TanahGanoderma sp.. 4. 10-2. 2. 10-3. 4. 10-4. 2. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Tabel 1 menjelaskan bahwa keanekaragaman bakteri pada tanah supresif lebih tinggi dari pada keanekaragaman bakteri pada tanah terinfestasi G. boninense Rendahnya keanekaragaman bakteri pada tanah terinfestasi G. boninense memungkinkan patogen untuk tumbuh dan menginfeksi akar tanaman kelapa sawit dikarenakan tidak adanya pesaing. Keanekaragaman bakteri dari sampel tanah yang diamati tergolong rendah. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kebun Bah Jambi Afd. IX PTPN IV, sampel tanah yang diamati berasal dari tanah kelapa sawit umur tanaman ±24 tahun (tahun tanam 1992) dan merupakan tanaman generasi kedua. Sehingga dapat dikatakan bahwa rendahnya keanekaragaman bakteri dipengaruhi oleh umur. Universitas Sumatera Utara.

(34) 21. tanaman. Menurut hasil penelitian Julyanda (2011) menyatakan bahwa sampel tanah yang berasal dari tanah tanaman kelapa sawit peremajaan ke-3 memiliki indeks keragaman lebih rendah daripada indeks keragaman yang berasal dari sampel tanah tanaman kelapa sawit peremajaan ke-1. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keanekaragaman bakteri adalah kandungan bahan organik yang rendah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri lebih banyak diperoleh dari bahan organik dibandingkan dari rizosfer.. Bergeret (1977) menyatakan bahwa tanah ditanaman tua memiliki. kandungan bahan organik yang rendah. Budidaya monokultur tanpa adanya rotasi tanam dapat menyebabkan hilangnya bahan organik dalam tanah. Tabel 2. Kelimpahan bakteri pada setiap sampel tanah Sampel Tanah Kelimpahan bakteri (cfu/ml) Tanah Supresif 20.6 x 102 10-2 10-3 5.4 x 103 10-4 2.2 x 104 TanahGanoderma sp. 10-2 2.9 x 102 10-3 3.5 x 103 10-4 2.5 x 104. Kelimpahan bakteri ditentukan dengan menghitung koloni bakteri yang tumbuh pada media TSA. Dari sampel tanah yang diisolasi dengan menggunakan metode pengenceran 10-2 hingga 10-4 diperoleh kelimpahan bakteri yang berbedabeda pada setiap faktor pengenceran. Dari hasil isolasi yang dilakukan, diperoleh bahwa kelimpahan bakteri baik pada sampel tanah supresif maupun pada sampel tanah terinfestasi yang tertinggi pada pengenceran 10-4. Hal ini terlihat pada saat melakukan isolasi dengan metode pengenceran dimana bakteri tumbuh pada tingkat pengenceran 10-2 dan10-3lebih sedikit dibandingkan dengan tingkat. Universitas Sumatera Utara.

(35) pengenceran 10-4. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengenceran pada setiap suspensi.. 22. Uji antagonisme bakteri tanah terhadap G. boninensesecara in vitro Hasil penelitian persentase daya hambatbeberapa bakteri yang didapat dari hasil isolasi terhadap pertumbuhan G. boninense secara in vitro pada 5 hsi dapat dilihat pada Tabel 3 dan Lampiran 1-4. Hasil uji statistik analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan menunjukkan persentase daya hambat bakteri yang berasal dari sampel tanah supresif maupun sampel tanah terinfestasi G. boninenseterhadapG. boninense berpengaruh tidak nyata dalam menghambat pertumbuhan G. boninensedari 2 hsi sampai ke 5 hsi. Tabel 3. Persentase daya hambat terhadap G. boninense secara in vitro (%) Hari Pengamatan kePERLAKUAN II III IV V 6.69ab 4.81a 5.79a 6.70ab G vs BS1 G vs BS2 5.08ab 4.44a 4.54a 5.09b G vs BS3 8.40a 7.89a 8.01a 8.40a G vs BS4 5.41ab 4.41a 4.55a 5.41ab G vs BS5 7.83ab 7.07a 6.96a 7.83ab G vs BS6 8.19ab 7.71a 8.10a 8.20ab G vs BS7 6.66ab 5.29a 5.66a 6.66ab G vs BS8 7.31ab 6.15a 6.94a 7.31ab G vs BG1 6.42ab 5.35a 5.53a 6.42ab G vs BG2 6.62ab 5.93a 6.07a 6.62ab G vs BG3 8.19ab 7.17a 7.72a 8.19ab G vs BG4 5.19ab 5.40a 5.38a 5.19ab Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Pengamatan 5 hsi menunjukkan persentase daya hambat tertinggi terdapat pada perlakuan BS3 (8,40%). Sedangkan hasil terendah ditunjukkan oleh. Universitas Sumatera Utara.

(36) 23. perlakuan BS2 (5,09%). Hal ini menunjukan bahwa kemampuan isolate BS3 dalam menghambat pertumbuhan Ganodermasp. menunjukkan adanya aktivitas antagonisme dimana isolat bakteri yang didapat bersaing dalam mendapat nutrisi dan mengeluarkan antibiosis yang dapat menekan pertumbuhan G. boninense menurut Hadiwiyono (2008)Mikroba antagonis dapat berfungsi sebagai agens pengendali patogen melalui mekanisme kompetisi, antibiosis, parasitisme atau ketahanan terinduksi.. (b) Gambar 6. (a) Ganoderma boninense sp.dan (b) Aktivitas daerah hambatan isolat BS3 terhadap pertumbuhan miselium jamur G. boninense pada media PDA padapengamatan 5hsi.. Karakterisasi Morfologi Koloni Bakteri Tabel 4 menunjukan hasil identifikasi morfologi koloni bakteri yang di dapat dari sampel tanah supresif dan sampel tanah terinfestasi Ganoderma boninense. Morfologi koloni bakteri (Tabel 4) yang di dapat dari sampel tanah supresif dan sampel tanah terinfestasi Ganoderma sp. umumnya berbentuk bulat, memiliki tepian yang utuh tetapi pada isolate bakteri BS 2 dan BS7 memiliki tepian yang berombak.. Universitas Sumatera Utara.

(37) Warna koloni (Tabel 4) yang di dapat dari isolat bakteri yaitu putih keruh pada isolat BS1, BS2, BG1, BG2 dan BG3, kekuningan pada isolat BS3, putih pada isolat BS4, BS5,BS6, BS7, BG3, BG4, dan merah pada isolat BS8. 24. Tabel 4.Identifikasi Morfologi Koloni Bakteri. Asal Tanah. Tanah Supresif. Tanah Terinfestasi. Isolat Bakteri. Bentuk. Tepi. Warna. BS1 BS2 BS3 BS4 BS5 BS6 BS7 BS8 BG1 BG2 BG3 BG4. bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat. Utuh berombak Utuh Utuh Utuh Utuh berombak Utuh Utuh Utuh Utuh Utuh. putih keruh putih keruh Kekuningan putih putih putih putih merah putih keruh putih keruh putih putih. Uji Gram Tabel 5 menunjukan hasil identifikasi uji pewarnaan gram dan bentuk sel bakteri yang di dapat dari sampel tanah supresif dan sampel tanah terinfestasi Ganoderma sp. dimana hampir seluruh isolat merupakan jenis bakteri gram positif dan jenis bakteri gram negatif hanya pada isolat BS8. Pada bentuk sel yang di dapat dari sampel tanah yaitu kokus pada isolat BS1, BS8 dan BG1, streptobasil pada isolat BS2 dan BG2, dan basil pada isolat BS3, BS4, BS5, BS6, BS7, BG3, dan BG4 Tabel 5. Identifikasi Uji Pewarnaan Gram Bakteri dan Bentuk Sel Asal Tanah. Isolat Bakteri. Gram. Bentuk Sel. Tanah Supresif. BS1 BS2 BS3 BS4. positif positif positif positif. Kokus Streptobasil Basil Basil. Universitas Sumatera Utara.

(38) BS5 positif Basil BS6 positif Basil BS7 positif Basil BS8 negatif kokus BG1 positif kokus BG2 positif streptobasil25 Tanah Terinfestasi BG3 positif basil BG4 positif basil Isolat yang diperoleh dari sampel tanah supresif yaitu BS1 merupakan jenis bakteri gram positif yang memiliki bentuk kokus, BS2 termasuk jenis bakteri gram positif yang berbentuk sterptobasil, BS3,BS4,BS5,BS6,BS7 termasuk jenis bakteri gram positif yang berbentuk basil, sedangkan BS8 merupakan jenis bakteri gram negatif dengan bentuk kokus. Tabel 5 menunjukkan bahwa isolat dari sampel tanah terinfestasi yaitu BG1 merupakan jenis bakteri gram positif yang memiliki bentuk kokus, BG2 termasuk jenis bakteri gram positif yang berbentuk sterptobasil, sedangkan BG3 dan BG4 termasuk jenis bakteri gram positif yang berbentuk basil.. Universitas Sumatera Utara.

(39) KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Keanekaragaman dan kelimpahan bakteri pada tanah supresif lebih tinggi daripada keanekaragaman dan kelimpahan bakteri pada tanah terinfestasi Ganoderma sp. 2. Total isolat bakteri yang diperoleh dari hasil identifikasi sebanyak 12 isolat yang terdiri dari BS1, BS2, BS3, BS4, BS5, BS6, BS7, BS8, BG1, BG2, BG3, dan BG4. 3. Uji in vitro menunjukkan bahwa perlakuan BS3 memiliki kemampuan terbaik dalam menghambat pertumbuhan Ganoderma sp. 4. Tanah. supresif. mengandung. bakteri. yang. mampu. menghambat. pertumbuhan patogen tular tanah. Saran Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai identifikasi lanjut isolat bakteri yang di dapat sampai tingkat spesies.. Universitas Sumatera Utara.

(40) DAFTAR PUSTAKA Ariffin D., Idris AS. & Singh G. 2000. Status of Ganoderma in Oil Palm. Di dalam: Flood J, Bridge PD, Holderners M. (Editor), Ganoderma Disease of Perenial Crops. UK: CABI Publishing 49-68. Agrios GN. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Edisi Ketiga. Penerjemah M Busnia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 467-468p. Agrios GN. 2005. Plant Pathology. 5th ed. London: Elsevier Academic Press. Alabouvette, C. 1999. Fusarium Wilt Suppressive Soils: an Example of Diseassuppressive Soils. Australasian Plant Pathology 28: 57-64. Alabouvette, C., C. Olivain, C. Cordier, P. Lemanceau dan S. Gianinazzi. 2001. Enhancing Biological Control by Combining Microorganisms. Dalam M. Vurro et. al. (Ed.), Enhancing Biocontrol Agents and Handling Risks (pp: 64-76). Amsterdam : IOS Press. Allorerung DM, Syakir Z, Poeloengan, Syafaruddin &Rumini W. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media, Bogor. Baker KF & R Cook RJ. 1993. Biological Control of Plant Pathogen. Freeman & Co, San Francisco. Bergeret A. 1977. Ecologycal Ecodevelopment.. Viable. Systems. of. Production.. Paris:. Bonilla N, Jose AG, Antonio de Vicente & Francisco MC. 2012. Enhancing Soil Quality and Plant Health Through Suppressive Organic Amendments. Diversity 4:475-491. Cappuccino, J. G. & N. Sherman. 1998. Micobiology: a Laboratory Manual. Benjamin/Cummings Science Publishing, California. Cepeda MC. 2006. Assessing Soil Microbial Populations and Activity Following The Use of Microbial Inoculationts: Efffects on Disease Suppressiveness and Soil Health. Alabama: Auburn University.. Universitas Sumatera Utara.

(41) Cook RJ, Baker KF. 1996. The Nature and Practice of Biological Control of Plant Pathogens. Minnesota: APS Pr. Cooper RM, J Floodb dan RW Rees. 2011. Ganoderma boninense in Oil Palm Plantations Current Thinking on Epidemiology, Resistance and Pathology. The Planter, Kuala Lumpur, 87: 515-526. 28 Direktorat Jendral Perkebunan. 2014. Statistik Perkebunan Indonesia 2013 – 2015. Jakarta. Ganesan S, Kuppusamy RG, & Sekar R. 2007.Integrated management of stem rot disease (Sclerotium rolfsii) of groundnut (Arachis hypogaeaL.) using rhizobium and Trichoderma harzianum(ITCC-4572). Turk. J. Agric. For. 31(2): 103–108. Hadiwiyono. 2008. Tanah Supresif: Terminologi, Sejarah, Karakteristik, dan Mekanisme. J. Perlin Tan Indo. 14(2): 47-54. Hartono, B, Adiwirman, dan GME, Manurung. 2013. Teknik Budidaya Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Belum Menghasilkan Di Lahan Pasang Surut Yang Dilakukan Petani Di Kecamatan Bangko Pusako Kabupaten Rokan Hilir. Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau. Janvier. C., F. Villeneuve, C. Alabouvette, V. Edel-Hermann, T. Mateille dan C. Steinberg. 2007. Soil Health Through Soil Disease Suppression: Which Strategy From Descriptors to Indicators. Soil Biology & Biochemistry 39(1): 1-23. Jing CJ. 2007. Kepatogenan Ganoderma boninense Pada Kelapa Sawit dan Hubungan Biologinya dengan Ganoderma spp. dari pada Perumah Palma lain. Pusat Pengajian Sains Patologi Tumbuhan, Malaysia. 13-40p. Julyanda M. 2011. Keragaman dan kelimpahan cendawan pada rizosfer kelapa sawit sehat dan terserang Ganoderma boninense[skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Lizarmi E. 2011. Ancaman Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada Tanaman Kelapa Sawit. Komisi Perlindungan Tanaman Bahas Strategi Pengendalian OPT Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. Mukhlis. 2014. Analisis Tanah Tanaman. Edisi Kedua. USU Press, Medan. Munif, A. dan A. Hipi. 2011. Potensi Bakteri Endofit Dan Rhizosfer Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Jagung. Institut Pertanian Bogor. Seminar Nasional Serealia. Universitas Sumatera Utara.

(42) Nawangsih AA, Titi W & Yaya A. 2014. Kelimpahan Bakteri Rizosfer Pada Sistem PHT-Biointensif Serta Kemampuan Antagonismenya Terhadap Sclerotium rolfsiiPada Kedelai. J. HPT Tropika. 14(2):110-120. Nildayanti. 2011. Peran Bakteri Kitinolitik dan Fungi Mikoriza Arbuskular Dalam 29 Pengendalian Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Omar, I. C.,I. Ibrahim, dan B. Salleh. 1996. Mikrobiologi Makanan. Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur. 310 hal. Shila, S.J., M.R.Islam, N.N.Ahmed, K.M.G.Dastogeer, & M.B.Meah. 2013. Detection of Pseudomonas Syringae pv. Lachrymans Associated with the Seeds of Cucurbits. Universal J. of Agr. Research. 1(1) : 1-8. Sinaga MS, Bonny PWS, Susanto A. 2003. Keragaman Mikroorganisme Rhizosfer Kelapa Sawit dan Patogenesitas Ganoderma boninense Pat. Sebagai Dasar Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang.Laporan Akhir Hibah Bersaing IX. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Shobah, K. 2015. Keanekaragaman Cendawan Pada Rizosfer Kelapa Sawit dan Palem Liar. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Susanto, A. 2002. Kajian Pengendalian Hayati Ganoderma boninense Pat. Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit (disertasi). Institut Pertanian Bogor, Bogor. . 2011. Informasi Organisme Pengganggu Tanaman (Penyakit Busuk Pangkal Batang Ganoderma boninense). Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Susanto A, Sudharto PS, Purba RY. 2005. Enhancing Biological Control of Basal Stem Root Disease (Ganoderma boninense) in Oil Palm Plantations. Mycopathologia 159(1): 153-157. Susanto, A., Rolletha Y.P., Agus E.P., Ahmad P.D., & Azhar F.L. 2007. Hasil Penelitian Proteksi Tanaman Tahun 2007. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. 1-2p. Wicaksono WA, RF Buana dan EC Situmorang. 2011. Analisis Keragaman Genetik Ganoderma Boninense Dari Beberapa Perkebunan Berdasarkan Marka Random Amplified Polymorfic DNA (RAPD). BioTeknoSawitJatropha, 1(1), 25 – 31.. Universitas Sumatera Utara.

(43) LAMPIRAN Lampiran 1. Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-2 2HSI PERLAKUAN TOTAL RATAAN I II III G vs BS1 6,58 7,59 3,84 18,02 6,01 G vs BS2 3,84 7,59 3,84 15,28 5,09 G vs BS3 8,48 3,84 7,59 19,92 6,64 G vs BS4 3,84 6,58 3,84 14,27 4,76 G vs BS5 6,58 3,84 6,58 17,01 5,67 G vs BS6 3,84 6,58 8,48 18,91 6,30 G vs BS7 3,84 3,84 3,84 11,53 3,84 G vs BS8 3,84 3,84 6,58 14,27 4,76 G vs BG1 3,84 3,84 3,84 11,53 3,84 G vs BG2 7,59 5,39 6,58 19,57 6,52 G vs BG3 5,39 5,39 6,58 17,37 5,79 G vs BG4 3,84 5,39 7,59 16,83 5,61 61,54 63,75 69,22 194,52 64,84 TOTAL 5,13 5,31 5,77 16,21 5,40 RATAAN. SK Perlakua n Galat Total Perlakuan. DB. JK. KT. 11 24 35. 30,02 14,78 95,36. 2,73 2,72. N. F Hitung. F 5%. F 1%. Ket. 1,00. 2,22. 3,09. tn. Subset b. A. BS2. 3. 5,0869. BG4. 3. 5,1979. 5,1979. BS4. 3. 5,4181. 5,4181. BG1. 3. 6,4225. 6,4225. BG2. 3. 6,6219. 6,6219. Universitas Sumatera Utara.

(44) BS7. 3. 6,6691. 6,6691. BS1. 3. 6,6998. 6,6998. BS8. 3. 7,3155. 7,3155. BS5. 3. 7,8336. 7,8336. BG3. 3. 8,1919. 8,1919. BS6. 3. 8,1952. 8,1952. BS3. 3. 8,4095. Sig.. ,062. ,055. Lampiran 2. Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-3 ulangan perlakuan total rataan I II III G vs BS1 41,17 29,41 5,88 76,46 25,49 G vs BS2 11,76 52,94 5,88 70,58 23,53 G vs BS3 82,35 47,05 58,82 188,22 62,74 G vs BS4 17,64 29,41 11,76 58,81 19,60 G vs BS5 70,58 52,94 29,41 152,93 50,98 G vs BS6 35,29 64,70 82,35 182,34 60,78 G vs BS7 5,88 41,17 47,05 94,1 31,37 G vs BS8 11,76 47,05 64,70 123,51 41,17 G vs BG1 47,05 17,64 23,52 88,21 29,40 G vs BG2 64,70 17,64 29,41 111,75 37,25 G vs BG3 52,94 47,05 52,94 152,93 50,98 G vs BG4 5,88 58,82 35,29 99,99 33,33 total 447 505,82 447,01 1399,83 466,61 RATAAN 37,25 42,15 37,25 116,65 38,88. SK Perlakuan Galat Total Perlakuan. DB 11 24 35. JK 6939,68 10311,01 17250,69. N. KT 630,88 429,63. F Hitung 1,47. F 5% 2,22. F 1% 3,09. ket tn. Subset A. BS4. 3. 4,4098. BS2. 3. 4,4459. BS1. 3. 4,8167. BS7. 3. 5,2922. BG1. 3. 5,3519. BG4. 3. 5,4034. BG2. 3. 5,9327. Universitas Sumatera Utara.

(45) BS8. 3. 6,1557. BS5. 3. 7,0701. BG3. 3. 7,1721. BS6. 3. 7,7182. BS3. 3. 7,8999. Sig.. ,062. Lampiran 3. Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-4 ulangan perlakuan total rataan I II III G vs BS1 33,33 25,92 40,74 99,99 33,33 G vs BS2 18,51 51,85 3,70 74,06 24,69 G vs BS3 77,78 51,85 62,96 192,59 64,20 G vs BS4 29,62 22,22 11,11 62,95 20,98 G vs BS5 81,48 55,56 18,51 155,55 51,85 G vs BS6 40,70 74,07 85,18 199,95 66,65 G vs BS7 3,70 48,14 62,96 114,8 38,27 G vs BS8 44,44 29,62 74,07 148,13 49,38 G vs BG1 44,44 25,92 22,22 92,58 30,86 G vs BG2 66,67 14,81 37,03 118,51 39,50 G vs BG3 62,96 51,85 62,96 177,77 59,26 G vs BG4 11,11 62,96 22,22 96,29 32,10 total 514,74 514,77 503,66 1533,17 511,06 rataan 42,90 42,90 41,97 127,76 42,59 SK Perlakuan Galat Total. Perlakuan. DB 11 24 35. JK 7813,09 11050,16 18863,25. N. KT 710,28 460,42. F Hitung 1,54. F 5% 2,22. F 1% 3,09. ket tn. Subset A. BS2. 3. 4,5485. BS4. 3. 4,5540. BG4. 3. 5,3800. BG1. 3. 5,5368. BS7. 3. 5,6635. BS1. 3. 5,7927. BG2. 3. 6,0782. Universitas Sumatera Utara.

(46) BS8. 3. 6,9424. BS5. 3. 6,9672. BG3. 3. 7,7226. BS3. 3. 8,0164. BS6. 3. 8,1039. Sig.. ,055. Lampiran 4. Data daya hambat terhadap Ganoderma sp. secara in vitroHari ke-5 ulangan perlakuan total rataan I II III G vs BS1 47,61 40,47 45,23 133,31 44,44 G vs BS2 33,33 59,52 2,38 95,23 31,74 G vs BS3 83,33 57,14 71,42 211,89 70,63 G vs BS4 35,71 33,33 19,04 88,08 29,36 G vs BS5 88,09 71,42 30,95 190,46 63,49 G vs BS6 47,61 76,19 78,57 202,37 67,46 G vs BS7 16,67 50 76,19 142,86 47,62 G vs BS8 57,14 45,23 57,14 159,51 53,17 G vs BG1 54,76 35,71 33,33 123,8 41,27 G vs BG2 69,04 19,04 50 138,08 46,03 G vs BG3 66,66 61,90 71,42 199,98 66,66 G vs BG4 7,14 61,90 23,8 92,84 30,95 total 607,09 611,85 559,47 1778,41 592,80 RATAAN 50,59 50,99 46,62 148,20 49,40 SK Perlakuan Galat Total. Perlakuan. DB 11 24 35. JK 7339,59 9535,00 16874,58. N. KT 667,24 397,29. F Hitung 1,68. F 5% 2,22. F 1% 3,09. ket tn. Subset b. A. BS2. 3. 5,0869. BG4. 3. 5,1979. 5,1979. BS4. 3. 5,4181. 5,4181. BG1. 3. 6,4225. 6,4225. BG2. 3. 6,6219. 6,6219. BS7. 3. 6,6691. 6,6691. BS1. 3. 6,6998. 6,6998. Universitas Sumatera Utara.

(47) BS8. 3. 7,3155. 7,3155. BS5. 3. 7,8336. 7,8336. BG3. 3. 8,1919. 8,1919. BS6. 3. 8,1952. 8,1952. BS3. 3. Sig.. 8,4095 ,062. ,055. Lampiran 5.Identifikasi Morfologi Koloni Bakteri Asal Tanah. Tanah Supresif. Tanah Terinfestasi. Isolat Bakteri. Bentuk. Tepi. Warna. BS1 BS2 BS3 BS4 BS5 BS6 BS7 BS8 BG1 BG2 BG3 BG4. bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat bulat. Utuh berombak Utuh Utuh Utuh Utuh berombak Utuh Utuh Utuh Utuh Utuh. putih keruh putih keruh Kekuningan putih putih putih putih merah putih keruh putih keruh putih putih. Lampiran 7. Identifikasi Uji Pewarnaan Gram Bakteri dan Bentuk Sel Asal Tanah. Tanah Supresif. Tanah Terinfestasi. Isolat Bakteri. Gram. Bentuk Sel. BS1 BS2 BS3 BS4 BS5 BS6 BS7 BS8 BG1 BG2 BG3 BG4. positif positif positif positif positif positif positif negatif positif positif positif positif. Kokus Streptobasil Basil Basil Basil Basil Basil kokus kokus streptobasil basil basil. Universitas Sumatera Utara.

(48) Lampiran 7. Gambar Uji Antagonisme secara in vitro. Universitas Sumatera Utara.

(49) Lampiran 8. Gambar Uji Pewarnaan Gram dan Bentuk Sel. Universitas Sumatera Utara.

(50) 37. Lampiran 9. Peta lahan lokasi pengambilan sampel. l. Lokasi pengambilan sampe. Universitas Sumatera Utara.

(51) Lampiran 10. Peta lahan lokasi pengambilan sampel tanah. Universitas Sumatera Utara.

(52) keterangan:. titik pengambilan sampel tanah supresif titik pengambilan sampel tanah terinfestasi. 39. Lampiran 11. Lokasi Pengambilan sampel dan sampel tanah yang telah di ambil. Universitas Sumatera Utara.

(53) Lokasi pengambilan Sampel. Sampel Tanah Supresif. Sampel Tanah Terinfestasi. Universitas Sumatera Utara.

(54)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan Software Adobe Flash Professional CS6 sebagai bahasa program, media pembelajaran yang berjudul Membangun Multimedia Pembelajaran Interaktif Sistem Tata

mahasiswi Program Peningkatan Kualifikasi Guru SD/MI Melalui Dual Mode Sistem (DMS), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, setelah dengan

Peningkatan produksi ikan dari kegiatan penangkapan dalam jangka panjang dapat terjadi apabila ada keputusan yang kuat (hard decisions) yang meliputi mengurangi

Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan uji kredibilitas ( credibility ). Dalam hal ini peneliti akan memberikan data yang telah ditranskripkan untuk

Morfologi bentuk kota bandar mengalami penyurutan akibat proses geomorfologi alam pantai dan secara drastis terjadi perubahan orientasi dan aksesibilitas 41. Hal ini

Penelitian ini dilaksanakan di lahan masyarakat Kelurahan Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntungan, Sumatera Utara yang berada pada ketinggian + 25 meter diatas permukaan

Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa rataan tinggi tanaman jagung manis umur 6 MST pada perlakuan pola tanam monokultur jagung manis (P2) yang tidak