• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKTAT KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DIKTAT KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

DIKTAT KULIAH

PENDIDIKAN PANCASILA

Di Susun Oleh PONIDI, M.Pd NOCA YOLANDA SARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

(STMIK) PRINGSEWU 2021

(2)

KATA PENGANTAR

Penyusunan diktat kuliah dengan judul “Pendidikan Pancasila”. Diktat ini disusun guna memenuhi kebutuhan buku pegangan dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Pringsewu, sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Diktat kuliah ini disusun sebagai bahan materi kuliah Pendidikan Pancasila di STMIK Pringsewu dan memuat rangkuman atau garis besar tentang Pancasila sebagai Ideologi Negara dan tentang Penegakan Hukum di Negara Indonesia. Selain buku pegangan ini Penulis berharap mahasiswa dapat melengkapinya dengan mempelajari buku-buku yang membahas tentang Pendidikan Pancasila Lainnya.

Penulis berharap semoga buku ini bermanfaat bagi mahasiswa khususnya bagi mahasiswa STMIK Pringsewu. Kami menyadari bahwa diktat ini masih jauh dari sempurna sehingga penulis menerima segala saran dan kritik demi perbaikan buku diktat ini. Akhir kata penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga diktat kuliah ini dapat selesai.

Pringsewu, Februari 2021

Penulis

(3)

HALAMAN JUDUL ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

i ii iii

BAB I PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT DAN IDEOLOGI

NEGARA ... 1

A. Pancasila sebagai sistem suatu filsafat ... 1

B. Pancasila sebagai dasar Negara ... 2

C. Pancasila sebagai Ideologi Negara ... 3

BAB II IDENTITAS NASIONAL ... 5

A. Pengertian identitas nasional ... 5

B. Karakteristik identitas nasional ... 5

C. Faktor pembentuk identitas nasional ... 5

D. Bentuk identitas nasional ... 6

INDONESIA ... A. Nilai-nilai Pancasila pada era kejayaan kerajaan sriwijaya Dan majapahit ... 11 11 B. Era pra kemerdekaan ... 12

C. Periode pengesahan Pancasila ... 16

D. Era kemerdekaan ... 16

E. Era orde lama ... 17

F. Era orde baru ... 17

G. Era reformasi ... 17

H. Pancasila dalam konteks kekinian ... I. Alasan diperlukannya Pancasila dalam kajian sejarah Bangsa Indonesia ... 18 18 BAB IV PANCASILA, NEGARA DAN WARGA NEGARA ... 20

A. Pengertian Pancasila ... B. Makna nilai-nilai Pancasila terdapat dalam setiap sila Pancasila ... 20 21 C. Fungsi dan kedudukan Pancasila ... 22

D. Pengertian negara ... 23

E. Warga negara ... 24 DAFTAR ISI

BAB III PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA

(4)

BAB V PERTUMBUHAN PAHAM KEBANGSAAN INDONESIA ... 28

A. Sejarah nilai-nilai kebangsaan Indonesia ... 28

B. Nusantara pada masa pra-kolonial ... 29

C. Nusantara pada masa colonial ... 32

BAB VI DEMOKRASI PANCASILA DAN CIVIL SOCIETY ... 34

A. Pengertian Demokrasi ... 34

B. Pengertian civil society ... 36

C. Karakteristik civil society ... 39

BAB VII KONSTITUSI DAN SISTEM KETATANEGARAAN RI BERDASARKAN PANASILA DAN UUD 1945 ... 40

A. Pengertian konstitusi ... 40

B. UUD 1945 Sebagai konstitusi negara Indonesia ... 41

C. Sistem ketatanegaraan RI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Indonesia sumber hukum ketatanegaraan RI ... 45

D. Kedudukan Pancasila dalam sistem ketatanegaraan RI ... 46

BAB VIII OTONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN PUBLIK ... 48

A. Otonomi daerah ... 48

B. Asas-asas penyelenggaraan pemrintah ... 49

C. Kebijakan publik ... 51

BAB IX PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA ... 56

A. Hakikat perlindungan dan penegakan hukum ... 56

B. Pentingnya perlindungan dan penegakan hukum ... 57

C. Peran Lembaga penegak hukum dalam menjamin keadilan Dan kedamaian ... 58

D. Dinamika pelanggaran hukum ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(5)

BAB I

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT, DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI

A. Pancasila sebagai suatu sistem Filsafat

Pengertian filsafat secara fonetik filsafat merupakan bidang ilmu yang rumit, kompleks dan sulit. Secara etimologis istilah filsafat berasal dari bahasa yunani “pihilein” yang artinya “cinta”

dan “sophos” yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom”. Jadi, secara harfiah istilah “filsafat”mengandung makna kebijaksanaan (Kaelan, 2002: 21).

Keseluruhan arti filsafat yang meliputi berbagai masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu:

1. Filsafat sebagai produk yang menyakup pengertian:.Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran dari suatu filsus pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan aliran atau sistem filsafat tertentu, misalnya rasionalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain sebagainyaFilsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktifitas berfilsafat.

2. Filsafat Sebagai suatu proses yang dalam hal ini filsafat diartikan dalam sebuah bentuk aktifitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objeknya (Kodhi dan Soejadi, 1994:

34).

Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the faounding father kita, yang dituangkan dalam suatu system. Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila (Notonagoro, 1974: 20).

a. Rumusan Kesatuan Sila-Sila Pancasila sebagai Suatu Sistem

Ciri – Ciri sistem Suatu kesatuan bagian – bagian, Bagian tersebut memiliki fungsi sendiri- sendiri saling berhubungan dan saling ketergantungan Keseluruhan digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks. Pancasila yang terdiri dari bagian bagian yaitu sila-sila pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri. Namun secara kesluruhan memiliki kesatuan yang sistematis.Susunan kesatuan sila-sila pancasila yang bersifat OrganisSusunan Pancasila yang bersifat Hirarki dan berbentuk PiramidalRumusan hubungan kesatuan sila-sila pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi

b. Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat Pancasila yang terdiri dari lima sila setiap sila bukanlah azas yang bersifat berdiri sendiri melainkan memiliki satu kesatuan ontologis.

(6)

• Dasar Epistomologis Sila-Sila Pancasila. Pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup.

• Dasar Aksiologis Sila-Sila Pancasila. Sila sebagai sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar Aksiologis sehingga nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan suatu kesatuan.

c. Nilai – Nilai Pancasila Sebagai Suatu Sistem

Isi arti sila-sila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat pancasila yang umum universal yang merupakan substansi sila-sila pancasila sebagai pedoman pelaksanaan dan penyelenggaraan negara yaitu sebagai dasar negara yang bersifat umum, kolektif serta realisaasi pengamalan pancasila yang bersifat khusus dan kongkret (Suyono, 2002: 15).

B. Pancasila Sebagai Dasar Negara

Dasar Filosofis Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nilai nilai yang bersifat Sistematis, Fundamental dan menyeluruh. Maka pancasila merupakan suatu kesatuan yang hierarkhis, sistematis, bulat dan utuh (Soediman, 1970: 20). Jika suatu negara menggunakan prinsip filososfis bahwa negara berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berkerakyatan dan berkeadilan maka negara tersebut pada hakikatnya menggunakan dasar filsafat dari nilai sila-sila Pancasila.

1. Nilai Pancasila Bersifat Objektif dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rumusan dari Sila-sila menunjukkan sifat-sifat yang universal dan AbstrakInti nilai-nilai Pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa IndonesiaPancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 menurut ilmu hukum memenuhi Syarat sebagai pokok kaidah dan Fundamental negara

2. Nilai-Nilai Subjektif Pancasila

Nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia sehingga Indonesia sebagai Kausa Materealis. Nilai-nilai Pancasila sebagai filsafat bangsa sehingga merupakan jati diri bangsa Mengandung 7 nilai kerohanian, kebenaran, keadilan, kebaikan, kebijakan etis, estetis, dan nilai religius.

3. Nilai Pancasila Sebagai Fundamental Negara

Pokok Pikiran pertama, menyatakan bahwa indonesia adalah negara persatuan yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah IndonesiaPokok Pikiran kedua menyatakan bahwa negara hendak mewujudkan suatu keadilan bagi seluruh rakyat IndonesiaPokok pikiran ketiga menyatakan bahwa negara berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permuyawaratan/perwakilan.Pokok pikiran keempat yakni negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keempat pokok pikiran tersebut tidak lain adalah perwujudan dari sila-sila Pancasila. Pokok pikiran ini sebagai dasar

(7)

fundamental dalam pendirian negara yang realisasi berikutnya perlu diwujudkan dan dijelmakan lebih lanjut dalam pasal-pasal UUD 1945 (Saleh. 1978: 50-53).

C. Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Ideologi berasal dari kata “idea” yang berarti gagasan, Konsep, Pengertian dasar, Cita-cita, dan “logos” yang berarti ilmu. Kata “idea” berasal dari yunani “edios” yang berarti bentuk, disamping itu ada kata “edein” yang artinya melihat makna secara harfiah Ideologi berati ilmu pengetahuan pengetahuan dasar dalam pengertian sehari-hari “idea” disamakan artinya dengan cita-cita. Pengertian Ideologi secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan, ide-ide, keyakinan yang menyeluruh dan sistematis yang menyangkut:Bidang Politik (termasuk didalamnya bidang pertahanan dan kemanan) Bidang Sosial Bidang Keagamaan (Notonagoro. 1975: 25).

Ideologi sebagai suatu sistem pemikiran (system of tought) sehingga ideologi dibedakan menjadi dua hal, yait ideologi terbuka itu merupakan suatu sistem pemikiran terbuka.

Sedangkan ideologi tertutup itu merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ciri-ciri suatu sistem ideologi tertutup yaitu cita-cita suatu program untuk mengubah dan memperbaharui masyarakat, berisi tunutan-tuntutan kongkrit dan operasional yang keras. Ciri ideologi tertutup yaitu cita-cita dan nilai-nilai tidak dapat dipaksakan dari luar, dibutuhkan dalam semua sistem politik yang tidak logis (Saleh. 1978: 40).

Hubungan antara Filsafat dan Ideologi, dimana Filsafat pada hakikatnya merupakan nilai yang kebenarannya telah diyakini sehingga dijadikan dasar atau pedoman bagi manusia dalam memandang realitas alam, manusia, masyarakat, dan negara tentang makna hidup. Tiap Ideologi sebagai suatu rangkai kesatuan cita-cita yang mendasar dan menyeluruh yang jalin- menjalin menjadi satu sistem pemikiran yang logis adalah sumber filsafat.

Makna Ideologi bagi bangsa dan Negara dijelaskan bahwa Manusia dalam mewujudkan tujuannya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya dalam kenyataannya senantiasa membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, manusia membutuhkan suatu lembaga bersama untuk melindungi dirinya dan dalam pengertian inilah manusia membentuk suatu negara.

Negara sebagai lembaga kemasyarakatan sebagai organisasi hidup manusia senantiasa memiliki cita-cita, harapan, ide-ide serta pemikiran-pemikiran secara bersama merupakan suatu organisasi yang bersifat dasariah bagi semua tindakan dalam kehidupan kenegaraan (Notonagoro. 1975: 15).

Pengertian asal mula pancasila sebelum pancasila disyahkan menjadi dasar Filsafat negara, Indonesia sendiri telah memiliki nilai-nilai yang berupa nilai adat istiadat, kebudayaan dan religius. Kemudian para pendiri bangsa merumuskan nilai-nilai tersebut antara lain dalam sidang BPUPKI pertama, sidang panitia sembilan, Sidang BPUPKI kedua, dan kemudian

(8)

dilanjutkan pada sidang PPKI dan diresmikan pada tanggal 18 Agustus 1945Agar memiliki pengetahuan yang luas dan lengkap tentang proses terjadinya Pancasila, maka secara ilmiah harus ditinjau berdasarkan proses Kausalitas. (Notonagoro. 1975: 35) Maka secara Kasualitas asala mula pancasila Dibedakan menjadi :

1. Asal mula langsung

adapun asal mula langsung Pancasila menurut Notonegoro adalah: Asal Mula Bahan (Kausa Materialis) Asal Mula Bentuk (Kausa Formalis) Asal Mula Karya (Kausa Effisien) Asal Mula Tujuan (Kausa Finalis)

2. Asal Mula Yang Tidak Langsung

Unsur–unsur Pancasila sebelum dirumuskan menjadi dasar filsafat negara. Nilai-nilainya yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan nilai keadilan telah tercermin. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara. Dapat disimpulkan asal mula tidak langsung hakikatnya bangsa Indonesia sendiri, sebagai kausa Materialis.

(9)

BAB II IDENTITAS NASIONAL

A. Pengertian Identitas Nasional

Identitas nasional merupakan suatu penanda atau jati diri suatu bangsa yang dapat membedakan ciri khasnya dengan bangsa lain, karena ciri khas suatu bangsa terletak pada konsep bangsa itu sendiri. Secara etimologis, istilah identitas nasional berasal dari kata

“identitas” dan “nasional”. Identitas bersal dari kata identity yang artinya memiliki tanda, ciri atau jati diri yang melekat pada suatu individu, kelompok atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Sedangkan nasional berasal dari ka nation yang artinya bangsa (Winarno, 2013: 10). Pengertian bangsa menurut sosiologis antropologis yaitu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dan merasa kesatuan agama, bahasa, ras dan adat istiadat. sedangkan bangsa dalam pengertian politik ialah masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah dan tunduk terhadap kedaulatan negaranya. Dengan demikian nasional merujuk pada sifat khas kelompok yang memiliki ciri-ciri kesamaan, fisik, citacita dan tujuan (Winarno, 2013: 15).

Maka dapat disimpulkan bahwa, identitas nasional adalah suatu kelompok masyarakat yang memiliki ciri dan melahirkan tindakan secara kolektif yang diberi sebutan nasional.

Berdasarkan pengertian tersebut setiap bangsa di dunia pasti memiliki identitas tersendiri yang sesuai dengan karakter, ciri khas dari bangsa tersebut.

B. Karakteristik Identitas Nasional

Identitas setiap manusia ditentukan oleh ruang hidupnya, secara alami akan berakulturasi dan membentuk ciri khas dalam norma kehidupan. Dalam antropologi identitas merupakan suatu sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri, golongan, komunitas dan negara sendiri. Identitas meliputi nilai, norma dan simbol ekspresi sebagai ikatan sosial untuk membangun solidaritas dan kohesivitas sosial untuk menghadapi kekuatan luar yang menjadi simbol ekspresi tindakan pada masa lalu, sekarang dan mendatang. Nasional berasal dari bangsa sendiri atau meliputi diri bangsa, maka identitas nasional Indonesia ialah jati diri yang membentuk bangsa, yaitu berbagai suku bangsa, agama, bahasa Indonesia, budaya nasional, wilayah nusantara dan ideologi pancasila. Jati diri bangsa merupakan totalitas penampilan bangsa yang utuh dengan muatan dari masyarakat sehingga dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Mengukuhkan jati diri bangsa merupakan usaha yang sangat dibutuhkan karena sebagai akar dalam keutuhan hidup berbangsa dan bernegara (Minto: 2007: 56).

C. Faktor Pembentuk Identitas Nasional

Lahirnya suatu identitas nasional bangsa pasti memiliki ciri khas, sifat, serta keunikan tersendiri yang yang sangat didukung oleh faktorfaktor pembetuk identitas nasional. Faktor- faktor yang diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa meliputi: Primordial, sakral,

(10)

tokoh, bhineka tunggal ika, sejarah, perkembangan ekonomi dan kelembagaan (Rahayu, 2015: 50).

1. Primordial Faktor-faktor

primordial ini meliputi: ikatan kekerabatan (darah) dan keluarga, kesamaan suku bangsa, daerah asal, bahasa, dan adat istiadat.

2. Sakral

Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau ideologi doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan.

3. Tokoh

Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakat dapat pula menjadi faktor yang menyatukan bangsa negara. Pemimpin dibeberapa negara dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat dan simbol persatuan bangsa yang bersangkutan.

4. Bhineka Tunggal Ika

Prinsip Bhineka Tunggal Ika pada dasarnya adalah kesediaan warga bangsa untuk bersatu dalam perbedaan. Yang disebut bersatu dalam perbedaan adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut negara dan pemerintahnya, tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa, adat, ras dan agamanya.

5. Sejarah

Persepsi yang sama di antara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat menyatukan diri ke dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu, seperti samasama menderita karena penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas, tetapi juga melahirkan tekad dan tujuan yang sama antar anggota masyarakat itu.

6. Perkembangan Ekonomi

Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat.

7. Kelembagaan

Faktor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa adalah lembaga-lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan bersenjata, pengadulan dan partai politik.

D. Bentuk Identitas Nasional

Indonesia Berikut adalah penjelasan mengenai bentuk identitas nasional Indonesia yang meliputi, bendera, bahasa, lambang negara, dan lagu kebangsaan Indonesia.

1. Bendera Negara, yaitu Sang Merah Putih

Warna merah berarti berani, warna putih berarti suci, merah berarti berani yang melambangkan tubuh manusia, putih berarti suci yang melambangkan jiwa manusia, keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan Indonesia. Lambang merah putih sudah dikenal pada masa kerajaan di Indonesia. Bendera sang Merah Putih dikibarkan ketika Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan

(11)

Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Bendera Merah Putih dijahit oleh ibu Fatmawati yang merupakan istri presiden Soekarno (Winarno, 2013: 13).

Berikut adalah gambar bendera Indonesia.

(Sumber:international.kompas.com) 2. Bahasa Negara Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang bersal dari rumpun Melayu yang tumbuh dan berkembang, sejak zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan.

Bahasa tersebut telah dipergunakan hampir di seluruh Asia Tenggara. Perkembangan bahasa Melayu mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan persaudaraan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan Bahasa Melayu. Sehingga secara sadar para pemuda yang bergabung dakam perkumpulan itu mengangkat bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia. Bahasa Indonesia diangkat dan diikrarkan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Kemudian bangsa Indonesia sepakat bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan.

Ketentuan bahasa Indonesia telah diatur dalam UU No.24 Tahun 2009 mulai pasal 25 sampai pasal (lubis, 2018: 33).

3. Lambang Negara Garuda Pancasila dan Simbol-Simbol Pancasila a. Lambang Negara Garuda Pancasila

Sumber : Perpustakan.id

Pada tanggal 13 juli 1945, dalam rapat Panitia Perancangan Undang-Undang Dasar 1945. Salah seorang anggota Panitiabernama Prada Harahap mengusulkan tentang lambang negara. Tanggal 16 November 1945 baru dibentuk Panitia Indonesia Raya.

(12)

Panitia ini bertugas untuk menyelidiki arti lambang-lambang dalam peradaban bangsa Indonesia sebagai langkah awal untuk mempersiapkan bahan kajian tentang lambang negara. Panitia Indonesia Raya diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dengan sekretaris umum Muhammad Yamin (lubis, 2018: 34).

Berikut adalah ciri-ciri dari lambang negara Garuda Pancasila:

b. Arti dan Makna Lambang Negara Menurut Kansil dan Chistine dalam Maulana Arafat Lubis, menyatakan bahwa arti dan makna simbolik dari lambang negara ialah Garuda yang merupakan burung yang dinamakan juga “Sang Raja Wali”, seperti yang disebutkan dalam cerita Ramayana dan Bharatayuda.

1) Burung tersebut merupakan lambang kekuasaan dan kekuatan.

2) Sayap yang masing-masing terdiri dari 17 helai, berarti tanggal 17. Ekor burung yang terdiri dari 8 helai, berarti bulan ke-8 atau bulan Agustus.

3) Jumlah bulu kecil di bawah perisai sebanyak 19 helai dan jumlah bulu kecil di bawah leher sebanyak 45 helai, berarti tahun 1945.

c. Simbol-simbol Pancasila Dalam Pasal 36A Undang-Undang Dasar Tahun 1945 setelah diamandemenkan empat kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002, dicantumkan kalimat, “Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika”. Berikut adalalah sila-sila pancasila dan simbol-simbolnya:

1) Ketuhanan Yang Maha Esa

2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

(13)

3) Persatuan Indonesia

4) Kerakyatan yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

4. Lagu Kebangsaan, yaitu Indonesia Raya

Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman . Pada tanggal 28 Oktober 1928 lagu Indonesia Raya dinyanyikan untuk pertama kali sebagai lagu kebangsaan negara (Winarno, 2013: 20). Lagu Indonesia Raya yang memiliki ejaan lama sebagai berikut.

Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe Di sanalah Akoe Berdiri Djadi Pandoe Iboekoe Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe

Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe

Bangsakoe Ra'jatkoe Sem'wanja Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja

Oentoek Indonesia Raja (Reff Diulang 2 kali, red) Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta

Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

(14)

5. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disyahkan oleh PPKI padang tanggal 18 Agustus 1945 sebagai hukum dasar negara RI dan identitas nasional.

6. Kebudayaan Daerah

Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa yang berjumlah 1340 suku bangsa, jumlah bahasa yang ada di Indonesia berjumlah 724 bahasa, jumlah budaya yang ada di Indonesia berjumlah 7241 karya budaya dan jumlah ras di Indonesia ada 4 yaitu Papua Melanozoid, Negroid, weddoid, dan Melayu Mongoloid. Masyarakat Indonesia mendiami pulau-pulau serta berbicara dalam ragam bahasa, mempunyai budaya daerah. Kemudian budaya daerah ini ditetapkan sebagai budaya nasional dan identitas nasional (Josef, 2015:

29).

(15)

BAB III

PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA INDONESIA

Pancasila memiliki landasan historis yang dimaknai bahwa adanya perjuangan bangsa dalam membebakan diri dari segenap penderitaan penjajahan sejak runtuhnya kerajaan Majapahit.

Dengan berjalannya waktu, para pejuang bersama rakyat berusaha bangkitdari cengkeraman penjajah.Istilah Pancasila muncul pertama kali diusulkan oleh Soekarno pada siding BPUPKI hari terakhir tanggal 1 Juni 1945 (Setidjo, 2010:18).

A. Nilai-Nilai Pancasila Pada Era Kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit 1. Masa Kerajaan Sriwijaya

Unsur-unsur yang terdapat di dalam pancasila, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, tata pemerintahan atas dasar musyawarah dan keadilan sosial telah terdapat sebagai asas- asas yang menjiwai bangsa Indonesia, yang dihayati serta dilaksanakan pada masa kerajaan Sriwijaya, hanya saja belum dirumuskan secara konkret. Dokumen tertulis yang membuktikan terdapatnya unsur-unsur tersebut ialah prasasti-prasasti di Talaga batu, Kedukan Bukit, Karang Brahi, Talang Tuo, dan Kota Kapur. Pada hakikatnya nilai-nilai budaya bangsa semasa kejayaan Sriwijaya telah menunjukkan nilai-nilai Pancasila, yaitu sebagai berikut.

1. Nilai sila pertama, terwujud dengan adanya umat agama Budha dan Hindu hidup berdampingan secara damai. Pada kerajaan Sriwijaya terdapat pusat kegiatan pembinaan dan pengembangan agama Budha.

2. Nilai sila kedua, terjalinnya hubungan antara Sriwijaya dengan India (Dinasti Harsha). Pengiriman para pemuda untuk belajar di India. Telah tumbuh nilai-nilai politik luar negeri yang bebas dan aktif.

3. Nilai sila ketiga, sebagai negara maritim, Sriwijaya telah menerapkan konsep negara kepulauan sesuai dengan konsepsi wawasan nusantara.

4. Nilai sila keempat, Sriwijaya telah memiliki kedaulatan yang sangat luas, meliputi (Indonesia sekarang) Siam, dan Semenanjung Melayu.

5. Nilai sila kelima, Sriwijaya menjadi pusat pelayanan dan perdagangan, sehingga kehidupan rakyatnya sangat makmur.

(Natanagoro, 1994: 27).

2. Masa kerajaan Majapahit

Zaman keemasan Majapahit terjadi pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.Wilayah kekuasaan Majapahit semasa jayanya membentang dari Semenanjung Melayu sampai ke Irian Jaya.

Pengalaman sila Ketuhanan Yang Maha Esa telah terbukti pada waktu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan secara damai.Empu Prapanca menulis Negarakertagama (1365) yang di dalamnya telah terdapat istilah Pancasila. Empu Tantular mengarang buku

(16)

Sutasoma di mana dalam buku itu terdapat seloka persatuan nasional yang berbunyi

“Bhinneka Tunggal Ika Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda-beda, namun satu jua dan tidak ada agama yang memiliki tujuan yang berbeda.

Sila kemanusiaan telah terwujud, yaitu hubungan Raja Hayam Wuruk dengan baik dengan kerajaan Tiongkok, Ayoda, Champa, dan Kamboja.Di samping itu, juga mengadakan persahabatan dengan negara-negara tetangga atas dasar Mitreka Satata.

Perwujudan nilai-nilai sila persatuan Indonesia telah terwujud dengan keutuhan kerajaan, khususnya sumpah palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada yang diucapkannya pada sidang Ratu dan menteri-menteri pada tahun 1331 yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya yang berbunyi: “saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jika seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan negara, jika gurun, seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik telah dikalahkan.”.

Sila kerakyatan (keempat) sebagai nilai-nilai musyawarah dan mufakat juga telah dilakukan oleh sistem pemerintahan kerajaan Majapahit. Menurut prasasti Brumbung (1329), dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasihat kerajaan, seperti Rakryan I Hino, I Sirikan, dan I Halu yang berarti memberikan nasihat kepada raja. Kerukunan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat telah menumbuhkan adat bermusyawarah untuk mufakat dalam memutuskan masalah Bersama, Sedangkan perwujudan sila keadilan sosial adalah sebagai wujud dari berdirinya kerajaan beberapa abad yang tentunya ditopang dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.(Muh Yamin, 1960: 60).

B. Era Pra Kemerdekaan 1. Zaman Penjajahan

Zaman penjajahan dimulai bangsa Eropa yang membutuhkan rempah-rempah itu mulai memasuki Indonesia, yaitu Portugis, spanyol, Inggris dan belanda.Masuknya bangsa Eropa seiring dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit sebagai akibat dari perselisihan dan perang soudara, yang berarti nilai-nilai nasionalisme sudah di tinggalkan.Pada zaman ini tidak ada rasa persatuan dan kesatuan sehingga perjuangan melawan penjajah secara fisik dilakukan secara sendiri-sendiri disetiap daerah. Rakyat mudah diadu domba sehingga mudah dipecah belah, hal ini juga yang menimbulkan rakyat Indonesia semakin miskin dan bodoh akibat penjajahan tersebut Oleh karena itu untuk semboyan yang berbunyi "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" merupakan semangat agar rakyat Indonesia bisa menciptakan persatuan dan kesatuan karena tanpa persatuan kita tidak akan bisa mengusir penjajah (federick, 2005: 10).

2. Kebangkitan Nasional

Pada abad ke-XX Indonesia mengubah cara-caranya dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Kegagalan perlawanan secara fisik yang tidak adanya

(17)

koordinasi pada masa lalu mendorong pemimpin-pemimpin Indonesia abad ke-XX untuk mengubah bentuk perlawanan yang lain dengan cara membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya bernegara.Usaha-usaha yang dilakukan dengan cara mendirikan berbagai organisasi politik disamping organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Dimulai dengan didirikannya suatu organisasi yang bernama Budi Utomo (20 Mei 1908) dengan tokoh yang terkenal adalah Dr. Wahidin Sudirohusodo.Organisasi ini merupakan organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia. Kemudian barulah bermunculan organisasi pergerakan lain yaitu Serikat Dagang Islam (1909) yang kemudia berubah menjadi pergerakan politik dengan nama Serikat Islam (1911) di bawah pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Pada masa ini juga adanya Perjuangan PNI (1927) yang menitikberatkan pada kesatuan nasional yang dipelopori oleh Soekarno dan Kawan-kawan (federick, 2005: 10). .

3. Periode Pengusulan Pancasila

Menurut catatan sejarah, diketahui bahwa sidang BPUPKI menampilkan beberapa pembicara, yaitu Mr. Muh Yamin, Ir. Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Soepomo.

Keempat tokoh tersebut menyampaikan usulan tentang dasar negara menurut pandangannya masing-masing.Meskipun demikian perbedaan pendapat di antara mereka tidak mengurangi semangat persatuan dan kesatuan demi mewujudkan Indonesia merdeka. Sikap toleransi yang berkembang di kalanganpara pendiri negara seperti inilah yang seharusnya perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya (federick, 2005: 12). .

4. Periode Perumusan Pancasila

Dalam rangka janji kemerdekaan oleh pihak Jepang, maka kemudian memberikan kesempatan pada pemimpin-pemimpin pergerakan Nasional Indonesia untuk melakukan persiapan-persiapan dalam rangka kemerdekaan.Pihak Jepang kemudian meresmikan Dokuritsu Jumbi Cosakai atau sering disebut sebagai Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan pada Mei 1945. BPUPKI ini diketuai oleh dr KRT Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua yakni RP Soeroso dan seorang Jepang bernama Itjibangase dan anggota sebanyak 60 orang didalamnya termasuk Ir Soekarno dan Mr Muh Yamin. Pada rapat pertama BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, Muh Yamin berpidato dengan mengemukakan pendapatnya bahwa harapan masyarakat dengan memiliki 5 asas atau dasar yakni:

1. Peri kebangsaan

Salat satu alasan kemerdekaan Indonesia adalah bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan selama beratus-ratus tahun silam dengan adanya nasionalisme atau paham hendak mempersatukan rakyat dalam ikatan sejarah sejak masa kerajaan Syailendra-Sriwijaya sampai terbentuknya kerajaan Majapahit (Yamin, 1971:92).

2. Peri Kemanusiaan

Dengan adanya kemerdekaan maka ada kedaulatan rakyat Indonesia dengan berdasarkan pada peri kemanusiaan yang universal berisi tentang humanisme dan

(18)

internasionalisme bagi segala bangsa.Karena dasar perikemanusiaan merupakan pondasi universlisme dalam hukum internasinal dan peraturan kesusilaan segala bangsa dan Negara yang merdeka (Yamin, 1971:94).

3. Peri Ketuhanan

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berperadaban luhur dengan mendasarkan diri pada keyakinan akan adanya Tuhan. Oleh karena itu maka dengan sendirinya Negara kesejahteraan Indonesia yang merdeka berdasarkan akan berketuhanan. Diyakini Tuhan akan melindungi Negara Indonesia yang merdeka (Yamin, 1971:94).

4. Peri Kerakyatan

Dalam pembentukan dan pemeliharaan Negara diperlukan permusyawaratan dengan mufakat.Mengingat bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kumpulan bangsa sehingga diperlukan sifat perwakilan.Dalam sifat perwakilan inilah terpilih orang yang memegang amanat.Menurut peradaban Indonesia, maka permusyawaratan dan perwakilan itu adalah dibawah pimpinan hikmah kebijaksanaan yang bermusawarah atau berkumpul dalam persidangan.

5. Kesejahteraan Rakyat

Pada hari keempat yakni tanggal 1 Juni 1945, Ir Soekarno dalam pidato BPUPKI mengenai dasar Indonesia Merdeka menyatakan ada 5 prinsip dasar Negara yang akan dibentuk yakni:

a. Kebangsaan Indonesia

b. Internasionalisme atau peri kemanusiaan c. Mufakat atau demokrasi

d. Kesejahteraan Sosial

e. Prinsip Ketuhanan (Yamin, 1971:77).

Dalam pidatonya, Ir Soekarno juga secara eksplisit menyebutkan 5 prinsip-prinsip tersebut dengan penyebutan Pancasila bukan panca dharma.Sila dimaknai sebagai asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah bangsa Indonesia berdiri yang kekal dan abadi (Yamin, 1971:78). Oleh karena pidato itulah kemudian Soekarno dianggap sebagai penggali istilah Pancasila.

Sidang-sidang pertama Dokuritsu Jumbi Cosakai tersebut tidak menghasilkan sesuatu kesimpulan atau perumusan.Yang dilakukan adalah mendengarkan pemandangan umum dari anggota-anggota yang ingin mengajukan gagasannya.Panitia kemudian mengadakan semacam “reses” selama satu bulan lebih hingga tanggal 10 Juli 1945. Setelah diajukannya rumusan Pancasila oleh Muh Yamin dan rumusan Pancasia oleh Soekarno, maka dihasilkan pula rumusan ke-3 dari panitia yang disusun oleh Panitia Sembilan terdiri dari Ir Soekarno, Dr Moh Hatta, Mr AA Maramis, bikusno, Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, Haji Agus Salim, Mr Ahmad Subardjo, Wachid Hasjim, dan Muh Yamin. Panitia itu dibentuk dari anggota Dokuritsu Jumbi Cosakai dan ditugaskan di luar sidang resmi untuk merumuskan rancangan pembukaan hukum dasar. Hasil karya dari panitia itu diselesaikan pada tanggal

(19)

22 Juni 1945 yang kemudian oleh Muh Yamin disebut Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.

Di dalam dokumen itu termaktub rumusan ke 3 dari Pancasila yang jika diuraikan akan berbunyi :

1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(Sastrapratedja, 1983:20-22).

Mulai tanggal 10 juli hingga tanggal 16 Juli 1945 Dokuriitsu Jumbi Cosakai mengadakan sidang yang terakhir untuk menyiapkan rancangan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Merdeka.Hal terpenting yang mengemuka dalam sidang BPUPKI kedua pada 10-16 Juli 1945 adalah disetujuinya naskah awal Pembukaan Hukum Dasar yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Piagam Jakarta itu merupakan naskah awal pernyataan kemerdekaan Indonesia. Pada alinea keempat Piagam Jakarta itulah terdapat rumusan Pancasila sebagai berikut:

1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Yamin, 1971:79).

Naskah awal Pembukaan Hukum Dasar yang dijuluki “Piagam Jakarta” ini di kemudian hari dijadikan Pembukaan UUD 1945, dengan beberapa perubahan di beberapa kalimat dan paragrap. Ketika para pemimpin Indonesia sedang sibuk mempersiapkan kemerdekaan menurut skenario Jepang, secara tiba-tiba terjadi perubahan peta politik dunia. Salah satu penyebab terjadinya perubahan peta politik dunia itu ialah takluknya Jepang terhadap Sekutu.

Peristiwa itu ditandai dengan jatuhnya bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Sehari setelah peristiwa itu, 7 agustus 1945, pemerintah pendudukan jepang di Jakarta mengeluarkan maklumat yang berisis:

1. pertengahan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia (PPKI),

2. panitia itu rencananya akan dilantik 18 Agustus 1945 dan mulai bersidang 19 Agustus 1945, dan

3. direncanakan 24 Agustus 1945 Indonesia dimerdekakan.

Pada paginya, 8 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, dan Rajiman dipanggil Jenderal Terauchi (Penguasa Militer Jepang di Kawasan Asia Tenggara) yang berkedudukan di Saigon, Vietnam

(20)

(sekarang kota itu bernama Ho Chi Minh). Ketiga tokoh tersebut diberi kewenangan oleh Terauchi untuk segera membentuk suatu Panitia Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia sesuai dengan maklumat Pemerintah Jepang 7 Agustus 1945 tadi. Sepulang dari Saigon, ketiga tokoh tadi membentuk PPKI dengan total anggota 21 orang, yaitu: Soekarno, Moh. Hatta, Radjiman, Ki Bagus Hadikusumo, Otto Iskandar Dinata, Purboyo, Suryohamijoyo, Sutarjo, Supomo, Abdul Kadir, Yap Cwan Bing, Muh. Amir, Abdul Abbas, Ratulangi, Andi Pangerang, Latuharhary, I Gde Puja, Hamidan, Panji Suroso, Wahid Hasyim, T. Moh. Hasan (Kartodirdjo, dkk., 1975: 16-17).

C. Periode Pengesahan Pancasila

Peristiwa penting lainnya terjadi pada 12 Agustus 1945, ketika itu Soekarno, Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat dipanggil oleh penguasa militer Jepang di Asia Selatan ke Saigon untuk membahas tentang hari kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang pernah dijanjikan.

Namun, di luar dugaan ternyata pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu tanpa syarat. Pada 15 Agustus 1945 Soekarno, Hatta, dan Rajiman kembali ke Indonesia.

Kedatangan mereka disambut oleh para pemuda yang mendesak agar kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan secepatnya karena mereka tanggap terhadap perubahan situasi politik dunia pada masa itu. Para pemuda sudah mengetahui bahwa Jepang menyerah kepada sekutu sehingga Jepang tidak memiliki kekuasaan secara politis di wilayah pendudukan, termasuk Indonesia. Perubahan situasi yang cepat itu menimbulkan kesalahpahaman antara kelompok pemuda dengan Soekarno dan kawan-kawan sehingga terjadilah penculikan atas diri Soekarno dan M. Hatta ke Rengas Dengklok (dalam istilah pemuda pada waktu itu mengamankan), tindakan pemuda itu berdasarkan keputusan rapat yang diadakan pada pukul 24.00 WIB menjelang 16 Agustus 1945 di Cikini no. 71 Jakarta. (Kartodirdjo, dkk., 1975:26).

D. Era Kemerdekaan

Melalui jalan berliku, akhirnya dicetuskanlah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Teks kemerdekaan itu didiktekan oleh Moh. Hatta dan ditulis oleh Soekarno pada dini hari. Dengan demikian, naskah bersejarah teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini digagas dan ditulis oleh dua tokoh proklamator tersebut sehingga wajar jika mereka dinamakan Dwitunggal Selanjutnya, naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik. Rancangan pernyataan kemerdekaan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI yang diberi nama Piagam Jakarta, akhirnya tidak dibacakan pada 17 Agustus 1945 karena situasi politik yang berubah (Frederick dan Soeroto, 2002: 308-311).

isi proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sesuai dengan semangat yang tertuang dalam Piagam Jakarta tanggal 22 juni 1945. Piagam ini berisi garis-garis pemberontakan melawan imperalisme-kapitalisme dan fasisme serta memuat dasar pembentukan Negara Republik Indonesia. Piagam Jakarta yang lebih tua dari piagam perjanjian SaN Frasisco (26

(21)

juni 1945) dan Kapitulasi Tokyo ( 15 Agusrus 1945) itu ialah sumber berdaulat yang memancarkan Proklamasi Kemerdekan Republik Indonesia (Yamin, 1971: 16)

E. Era Orde Lama

Terdapat dua pandangan besar terhadap Dasar Negara yang berpengaruh terhadap munculnya Dekrit Presiden. Pandangan tersebut yaitu mereka yang memenuhi anjuran Presiden/ Pemerintah untuk kembali ke Undang- Undang Dasar 1945 dengan Pancasila sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Jakarta sebagai Dasar Negara. Sedangkan pihak lainnya menyetujui kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, tanpa cadangan Presiden Soekarno turun tangan dengan sebuah Dekrit Presiden yang disetujui oleh kabinet tanggal 3 Juli 1959, yang kemudian dirumuskan di Istana Bogor pada tanggal 4 Juli 1959 dan diumumkan secara resmi oleh presiden pada tanggal 5 Juli 1959 pukul 17.00 di depan Istana Merdeka (Anshari, 1981: 99-100). Dekrit Presiden tersebut berisi: 1. Pembubaran konstituante; 2. Undang-Undang Dasar 1945 kembali berlaku; dan 3. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (Frederick dan Soeroto, 2002: 214).

Ir. Soekarno menghendaki persatuan di antara beragam golongan dan ideologi termasuk komunis, di bawah satu payung besar, bernama Pancasila (doktrin Manipol/USDEK), sementara golongan antikomunis mengkonsolidasi diri sebagai kekuatan berpaham Pancasila yang lebih murni dengan menyingkirkan paham komunisme yang tidak ber-tuhan (ateisme) (Frederick dan Soeroto, 2002: 100).

F. Era Orde Baru

Setelah lengsernya Ir. Soekarno sebagai presiden, selanjutnya Jenderal Soeharto yang memegang kendali terhadap negeri ini Pada peringatan hari lahir Pancasila, 1 Juni 1967 Presiden Soeharto mengatakan, Pancasila makin banyak mengalami ujian zaman dan makin bulat tekad kita mempertahankan Pancasila. Pada tahun 1968 Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 1968 yang menjadi panduan dalam mengucapkan Pancasila sebagai dasar negara, yaitu: Satu : Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa Dua : Kemanusiaan yang adil dan beradab Tiga : Persatuan Indonesia Empat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan Lima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Instruksi Presiden tersebut mulai berlaku pada tanggal 13 April 1968 Pada tanggal 22 Maret 1978 ditetapkan ketetapan (disingkat TAP) MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) (Frederick dan Soeroto, 2002: 201)

G. Era Reformasi

Pancasila yang seharusnya sebagai nilai, dasar moral etik bagi negara dan aparat pelaksana Negara, dalam kenyataannya digunakan sebagai alat legitimasi politik Saat Orde Baru tumbang, muncul fobia terhadap Pancasila. Dasar Negara itu untuk sementara waktu seolah

(22)

dilupakan karena hampir selalu identik dengan rezim Orde Baru Dengan seolah-olah dikesampingkannya Pancasila pada Era Reformasi ini, pada awalnya memang tidak nampak suatu dampak negatif yang berarti, namun semakin hari dampaknya makin terasa dan berdampak sangat fatal terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

H. Pancasila dalam konteks kekinian

Pancasila dalam konteks kekinian hendaknya dimaknai bahwa Pancasila dijadikan sebagai paradigma.Sebagai paradigma, Pancasila merupakan model atau pola berfikir yang memberikan penjjelasan atas kompleksitas realitas sebagai manusia dan komunal dalam bentuk bangsa.Sila-sila dalam Pancasila inilah yang dijadikan sebagai paradigma. Karena ditempatkan sebagai paradigma maka pancasila menjadi pokok pembangunan nasional meliputi segenap bidang kehidupan baik dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, serta hukum dan hak asasi manusia (Setijo, 2013: 104)

I. Alasan Diperlukannya Pancasila dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia.

a. Pancasila sebagai Identitas Bangsa Indonesia

Sebagaimana diketahui bahwa setiap bangsa mana pun di dunia ini pasti memiliki identitas yang sesuai dengan latar belakang budaya masing-masing. Budaya merupakan proses cipta, rasa, dan karsa yang perlu dikelola dan dikembangkan secara terus-menerus.

Budaya dapat membentuk identitas suatu bangsa melalui proses inkulturasi dan akulturasi.

Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia merupakan konsekuensi dari proses inkulturasi dan akulturasi tersebut. Kebudayaan itu sendiri mengandung banyak pengertian dan definisi.Salah satu defisini kebudayaan adalah sebagai berikut.”suatu desain untuk hidup yang merupakan suatu perencanaan dan sesuai dengan perencanaan itu masyarakat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan fisik, sosial, dan gagasan”

(Sastrapratedja, 1991: 144).

b. Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia

Pancasila disebut juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia, artinya nilainilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan. Sikap mental, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia mempunyai ciri khas, artinya dapat dibedakan dengan bangsa lain. Kepribadian itu mengacu pada sesuatu yang unik dan khas karena tidak ada pribadi yang benar-benar sama. Setiap pribadi mencerminkan keadaan atau halnya sendiri, demikian pula halnya dengan ideologi bangsa (Sastrapratedja, 1991: 145).

c. Pancasila sebagai Pandangan Hidup bangsa Indonesia

Pancasila dikatakan sebagai pandangan hidup bangsa, artinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diyakini kebenarannya, kebaikannya, keindahanny,a dan kegunaannya oleh bangsa Indonesia yang dijadikan sebagai pedoman

(23)

kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan menimbulkan tekad yang kuat untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

d. Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa

Sebagaimana dikatakan von Savigny bahwa setiap bangsa mempunyai jiwanya masing- masing, yang dinamakan volkgeist (jiwa rakyat atau jiwa bangsa).Pancasila sebagai jiwa bangsa lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa Indonesia. Pancasila telah ada sejak dahulu kala bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia.

e. Pancasila sebagai Perjanjian Luhur

Ini diartikan bahwa nilai-nilai Pancasila sebagai jiwa bangsa dan kepribadian bangsa disepakati oleh para pendiri negara (political consensus) sebagai dasar negara Indonesia (Bakry, 1984: 161).

(24)

BAB IV

PANCASILA, NEGARA DAN WARGA NEGARA

A. Pengertian pancasila

1. Pengertian Pancasila secara Etimologis

Bila dilihat secara harfiah (Etimologis) “Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana), yang dapat dijabarkan dalam dua kata, yaitu Panca yang berarti lima, dan Sila yang berarti dasar. Sehingga Pancasila berarti lima dasar, yaitu lima Dasar Negara Republik Indonesia. Istilah “sila” juga bisa berarti sebagai aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun); akhlak dan moral (Alwi, 2015: 8).

2. Pengertian Pancasila secara Historis

Secara historis proses perumusan pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama, Dr. Radjiman Wedyodiningrat mengajukan suatu masalah pembahasan tentang rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Sidang tersebut dihadiri oleh tiga orang pembicara, yaitu Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai gagasan calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian didalm pidatonya itu, diusulkan istilah dasar negara oleh Soekarno dengan nama “Pancasila”, yang artinya lima dasar. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesi memproklamasikan kemerdekaanny. Kemudian keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkan Undang – Undang Dasar 1945 termasuk pembukaan UUD 1945 yang didalamnya memuat isi rumusan lima prinsip sebagai satu dasar negara (Asep, 2015:

14). Rumusan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia yang sah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea ke IV yang memuat sebagai berikut:

“...maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang- undang Dasar Negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kalimat tersebut menjadi dasar negara Republik Indonesia, dan kalimat inilah yang kita kenal sebagai Pancasila.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Sulaiman, 2016: 3).

(25)

B. Makna Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Setiap Sila Pancasila

Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia merupakan satu kesatuan nilai yang tidak terpisahkan antara satu dengan sila-sila lainnya. Semua nilai tersebut terdapat dalam kehidupan bangsa Indonesia. Untuk mendalami makna nilai apa saja yang terdapat dalam setiap sila-sila Pancasila (Sulaiman, 2016: 10)., berikut penulis mengutip dari penjelasan:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan berasal dari kata Tuhan pencipta seluruh alam.

Yang Maha Esa, berarti Yang Maha Tunggal, tiada sekutu di dalam zat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatanNya. Zat Tuhan tidak terdiri atas zat-zat yang banyak lalu menjadi satu.

Sifat-Nya adalah sempurna dan perbuatan-Nya tiada dapat disamai oleh siapa pun/apa pun. tiada yang menyamai Tuhan, Dia Esa. Jadi, Ketuhanan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta. Atas keyakinan yang demikianlah, maka negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan negara memberi jaminan sesuai dengan keyakinannya dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, adalah kesadaran sikap dan perbuatan yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kesusilaan umumnya, baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, maupun terhadap alam dan hewan. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan dan susila nilai. Potensi kemanusiaan tersebut dimiliki oleh semua manusia tanpa terkecuali. Mereka harus diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sesuai dengan fitrahnya, sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. untuk Perguruan Tinggi

3. Persatuan Indonesia, adalah perwujudan dari paham kebangsaan Indonesia yang dijiwai oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, serta kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena itu paham kebangsaan Indonesia tidak sempit, tetapi menghargai bangsa lain. Nasionalisme Indonesia mengatasi paham golongan, suku bangsa, serta keturunan.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, berarti kekuasaan yang tertinggi berada di tangan rakyat.

Kerakyatan disebut pula kedaulatan rakyat. Hikmat kebijaksanaan berari penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab serta didorong dengan itikad baik sesuai dengan hati nurani. Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian bangsa Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu hal berdasarkan kehendak rakyat, hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara melalui lembaga perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, memiliki makna bahwa keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan, baik materiil maupun spiritual.

Bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti untuk setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang berdiam dalam negeri mau pun warga negara Indonesia yang berada di luar

(26)

negeri, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti, bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sesuai dengan UUD 1945, maka keadilan sosial itu mencakup pula pengertian adil dan makmur

Makna nilai yang terdapat pada setiap sila Pancasila memberikan gambaran tentang kehidupan bangsa Indonesia dan mengandung harapan yang harus diwujudkan, berupa berkeyakinan berdasarkan kepercayaan, menjunjung tinggi akan harkat dan martabat, persatuan, pengakuan akan kedaulatan rakyat, dan keadilan.

C. Fungsi dan Kedudukan Pancasila a. Pancasila sebagai Dasar Negara

Dasar negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah negara. Negara Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila. Pancasila, dalam fungsinya sebagai dasar negara merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur negara Republik Indonesia, termasuk didalamnya seluruh unsur – unsurnya yakni pemerintahan, wilayah dan rakyat. Pancasila sebagai dasar negara mempunyai arti menjadikan Pancasila sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Konsekuensinya adalah Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Hal ini menempatkan Pancasila sebagai dasar negara yang berarti melaksanakan nilai – nilai Pancasila dalam semua peraturan perundang – undangan yang berlaku. Oleh karena itu, sudah seharusnya semua peraturan perundang – undangan di Negara Republik Indonesia bersumber pada Pancasila.

b. Pancasila sebagai Pandangan Hidup

Setiap manusia di dunia pasti mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup adalah suatu wawasan menyeluruh terhadap kehidupan yang terdiri dari kesatuan ragkaian nilai – nilai luhur. Pandanga hidup berfungsi sebagai pedoman untuk mengatur hubungan manusia dengan sesame, lingkungan dan mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya.

Setiap bangsa di manapun pasti selalu mempunyai pedoman sikap hidup yang dijadikan acuan di dalam hidup bermasyarakat. Demikian juga bangsa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, sikap hidup yang diyakini kebenarannya tersebut bernama Pancasila. Nilai – nilai yang terkandung di dalam sila – sila Pancasila tersebut berasal dari budaya masyarakat bangsa Indonesia sendiri. Oleh karena itu, Pancasila dapat disebut sebagai cita – cita moral bangsa Indonesia. Pancasila di samping merupakan cita- cita moral bagi bangsa Indonesia, juga sebagai perjanjian luhurr bangsa Indonesia. Pancasila sebagaimana termuat dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945 adalah hasil kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang pada waktu itu diwakili oleh PPKI. Oleh karena Pancasila merupakan kesepakatan bersama seluruh masyarakat Indonesia maka Pancasila sudah seharusnya dihormati dan dijunjung tinggi. (Imron dan Srikanto, 2013:

14).

(27)

D. Pengertian Negara

Negara berasal dari kata: staat, state, yang diambil dari bahasa latin status atau statum, yang berarti keadaan yang tetap dan tegak atau sesuatu yang memiliki sifat tetap dan tegak.

Secara termonologi, Negara dapat diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara suatu kelompok masyarakat yang mempunyai cita – cita untuk bersatu, hidup didalam daerah tertentu dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat (Imron dan Srikanto, 2013: 25).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Atau kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.

1. Unsur – unsur Negara

Secara teoritis, unsur Negara dapat dibedakan menjadi unsur konsitutif dan unsur deklaratif. Unsur konsitutif adalah unsur pembentuk yang harus dipenuhi agar terbentuk Negara. Unsur ini terdiri dari:

a. Wilayah, yaitu daerah yang menjadi kekuasaan Negara serta menjadi tempat tinggal bagi rakyat Negara. Wilayah juga menjadi sumber kehidupan rakyat Negara. Wilayah Negara mencakup darat, laut, dan udara.

b. Rakyat, yaitu orang – orang yang bertempat tinggal di wilayah itu, tunduk pada kekuasaan negara dan mendukung negara yang bersangkutan.

c. Pemerintahan yang berdaulat, yaitu adanya penyelenggara Negara yang memiliki kekuasaan menyelenggarakan pemerintah di Negara tersebut. Pemerintah tersebut memiliki kedaulatan baik ke dalam mau pun keluar. Kedaulatan ke dalam berarti Negara memiliki kekuasaan untuk ditaati oleh rakyatnya. Sedangkan kedaulatan keluar berarti Negara mampu mempertahankan diri dari serangan Negara lain.

Unsur deklaratif adalah unsur yang sifatnya menyatakan, bukan mutlak harus dipenuhi.

Unsur ini terdiri dari:

a. Tujuan Negara

b. Undang – undang dasar

c. Pengakuan dari Negara lain, baik secara “de jure” maupun “de facto”. Dan masuknya Negara ke dalam PBB (Imron dan Srikanto, 2013: 25-26).

2. Fungsi dan Tujuan Negara

Negara sebagai organisasi kekuasaan dibentuk untuk menjalankan tugas – tugas tertentu.

Montesquieu mengemukakan tiga fungsi negara yang popular dengan nama Trias Politica, yaitu: fungsi legislative (membuat undang – undang), fungsi eksekutif (melaksanakan undang – undang), dan fungsi yudikatif (untuk mengawasi agar semua peraturan ditaati dan fungsi mengadili) (Imron dan Srikanto, 2013: 27).

Referensi

Dokumen terkait

Para pejabat negara yang seharusnya lebih memberikan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila, sekarang ini justru terjadi sebaliknya. Pelanggaran nilai-nilai

Pkl.01.00 WIB terjadi peristiwa pertikaian antar etnis diawali dengan terjadinya perkelahian antara Suku Madura dengan kelompok Suku Dayak di Jalan Padat Karya,

Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia sebelum disahkan pada tanggal 18 agustus 1945 oleh PPKI nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sejak

Deskripsi : Pendidikan Pancasila memberi pemahaman pada mahasiswa sebagai generasi penerus untuk menerapkan nilai-nilai fundamental bangsa dan negara Indonesia dalam upaya

Fase ini ditandai dengan peristiwa bergesernya dominasi modal dari belahan dunia Eropa ke negara adi daya baru Amerika Serikat yang dilatarbelakangi

Gerakan pemisahan diri (Separatisme) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah Aceh ,papua dan maluku merupakan masalah bersama bangsa indonesia yang sampai

Di samping kedudukan warga negara juga mempunyai peran dalam negara dimana dalam konteks kedudukan sesuai dengan paparan diatas warga negara di jamin dalam undang-undang agar mempunyai

C.PERIODE PENGESAHAN PANCASILA Sejarah perumusan dan pengesahan Pancasila Dasar Negara dan Pembukaan UUD 1945 secara kronologis • Tanggal 15 Agustus 1945 Terjadi peristiwa penculikan