DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR GRAFIK KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF LEMBAR PENGESAHAN
Teks penuh
(2) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR GRAFIK KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF LEMBAR PENGESAHAN BAB I A. B. C. D. BAB II. i ii iii vi vii viii x xiv. PENDAHULUAN Umum Visi dan Misi Budaya BLU Susunan Pejabat Pengelola BLU dan Dewan Pengawas. 1 6 12 12. KINERJA BLU TAHUN 2018 DAN RBA TAHUN 2019. A. Gambaran Kondisi Satker BLU 1. Kondisi Internal 2. Kondisi Eksternal 3. Asumsi Makro dan Mikro B. Proses Penilaian Kinerja BLU 1. Capaian Kinerja BLU 2. Capaian Kinerja Pelayanan 3. Capaian Kinerja Keuangan C. Pencapaian Kinerja dan Target Kinerja BLU 1. Capaian Kinerja dan Target Kinerja BLU 2. Target Kinerja Pelayanan Tahun 2019 3. Proyeksi Keuangan Tahun 2019 4. Ikhtisar Target Pendapatan dan Belanja BLU 5. Ikhtisar RBA Tahun 2019 D. Informasi Lainnya E. Ambang Batas Belanja BLU F. Prakiraan Maju Pendapatan dan Prakiraan Maju Belanja. 17 20 26 29 48 55 59 67 82 86 134 135 135 137. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian Pemilik C. Hal-hal yang Perlu Rapat Pembahasan Bersama. 139 141 141. ii.
(3) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Sumber Daya Manusia BBKPM Bandung Tahun 2018. 19. Tabel 2.2. Asumsi Makro Tahun 2018. 26. Tabel 2.3. Asumsi Mikro Tahun 2018. 27. Tabel 2.4. Asumsi Makro Tahun 2019. 28. Tabel 2.5. Asumsi Mikro Tahun 2019. 28. Tabel 2.6. Capaian Kinerja BLU Tahun 2018. 31. Tabel 2.7. Pertumbuhan rata-rata kunjungan BBKPM Tahun 2018. 35. Tabel 2.8. Pertumbuhan Pemeriksaan Rehab Medik. 37. Tabel 2.9. Capaian Kinerja berdasarkan RSB. 42. Tabel 2.10. Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Umum. 48. Tabel 2.11. Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Jalan. 52. Tabel 2.12. Capaian Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Inap. 53. Tabel 2.13. Capaian Kinerja Promosi Kesehatan. 54. Tabel 2.14. Capaian Kinerja Pengembangan Sumber Daya. 55. Tabel 2.15. Rincian Pendapatan Tahun 2018. 55. Tabel 2.16. Rincian Belanja Tahun 2018. 56. Tabel 2.17. Proyeksi Indikator Kinerja BLU Tahun 2019. 59. Tabel 2.18. Proyeksi Indikator RSB Tahun 2019. 63. Tabel 2.19. Target Kinerja Pelayanan Pasien Umum. 69. Tabel 2.20. Target Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Jalan. 73. Tabel 2.21. Target Kinerja Pelayanan Pasien Jaminan Rawat Inap. 74. Tabel 2.22. Target Promosi Kesehatan. 77. iii.
(4) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Tabel 2.23. Target Pengembangan Sumber Daya. 77. Tabel 2.24. Sasaran, Strategi, Kebijakan dan Program Kerja. 78. Tabel 2.25. Proyeksi Neraca Tahun 2019. 82. Tabel 2.26. Laporan Operasional Tahun 2019. 83. Tabel 2.27. Laporan Perubahan Ekuitas Tahun 2019. 84. Tabel 2.28. Proyeksi Arus Kas Tahun 2019. 85. Tabel 2.29. Ikhtisar Target Pendapatan menurut Program dan Kegiatan Tahun Anggaran 2018. 86. Tabel 2.30. Rincian Pendapatan Instalasi Rawat Jalan Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 86. Tabel 2.31. Rincian Pendapatan Instalasi Rawat Inap Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 87. Tabel 2.32. Rincian Pendapatan Instalasi Gawat Darurat Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 88. Tabel 2.33. Rincian Pendapatan Instalasi Laboratorium Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 88. Tabel 2.34. Rincian Pendapatan Instalasi Radiologi Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 89. Tabel 2.35. Rincian Pendapatan Instalasi Farmasi Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 89. Tabel 2.36. Rincian Pendapatan Instalasi Rehabilitasi Medik Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 90. Tabel 2.37. Rincian Pendapatan Instalasi Penyuluhan dan Konseling Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 90. Tabel 2.38. Rincian Belanja Tahun 2019. 91. Tabel 2.39. Rincian Belanja Instalasi Rawat Jalan Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 95. Tabel 2.40. Rincian Belanja Instalasi Rawat Inap Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 99. Tabel 2.41. Rincian Belanja Instalasi Gawat Darurat Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 103. iv.
(5) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Tabel 2.42. Rincian Belanja Instalasi Laboratorium Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 107. Tabel 2.43. Rincian Belanja Instalasi Radiologi Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 111. Tabel 2.44. Rincian Belanja Instalasi Farmasi Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 115. Tabel 2.45. Rincian Belanja Instalasi Rehabilitasi Medik Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 119. Tabel 2.46. Rincian Belanja Instalasi Penyuluhan dan Konseling & PSD Tahun 2018 dan Proyeksi Tahun 2019. 123. Tabel 2.47. Rekapitulasi Pagu Belanja berdasarkan Sumber Dana Tahun 2019. 127. Tabel 2.48. Pendapatan dan Belanja Agregat Tahun 2019. 127. Tabel 2.49. Biaya Layanan Per Unit Kerja Tahun 2019. 129. Tabel 2.50. Master Budget Tahun 2019. 134. Tabel 2.51. Ikhtisar RBA Tahun 2019. 134. Tabel 2.52. Perhitungan Ambang Batas Belanja BLU. 136. Tabel 2.53. Prakiraan Maju Pendapatan BLU. 137. Tabel 2.54. Prakiraan Maju Belanja BLU. 138. Tabel 2.55. Prakiraan Maju Belanja dan Pendapatan BLU. 138. v.
(6) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. DAFTAR BAGAN. Halaman Bagan 2.1. Struktur Organisasi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung. 18. Bagan 2.2. Matrix Grand Strategi. 25. vi.
(7) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. DAFTAR GRAFIK. Halaman Grafik 2.1. Kunjungan Pasien BBKPM Bandung tahun 2016-2018. 36. Grafik 2.2. Jumlah Kunjungan Klinik Asma-PPOK Tahun 2016-2018. 37. vii.
(8) 2019. RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. KATA PENGANTAR. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan Hidayah Nya, maka dokumen Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung Tahun 2019 dapat diselesaikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU), maka salah satu kewajiban BBKPM Bandung sebagai satker PK-BLU adalah menyusun Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) tahunan dengan mengacu pada dokumen Rencana Strategi Bisnis BBKPM Bandung Tahun 2014-2019. Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung Tahun 2019 mencakup seluruh pendapatan dan belanja, proyeksi arus kas, serta jumlah dan kualitas jasa dan atau barang yang akan dihasilkan oleh BBKPM Bandung. Sejalan dengan tuntutan kinerja instansi PK-BLU, maka Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung disusun berdasarkan basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanan, kebutuhan dan kemampuan pendapatan yang diperkirakan akan diterima dalam tahun 2019 serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun 2019, dengan menganut pola fleksibilitas. Kami berharap Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung Tahun 2019 ini dapat digunakan sebagai acuan BBKPM Bandung dalam menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan. Layanan. Umum. dan kami. viii.
(9) RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. mengucapkan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian dokumen Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran BBKPM Bandung Tahun 2019 ini.. Bandung,. September 2019. Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung Kepala,. drg. Maya Marinda Montain, M.Kes NIP. 196908041994032009. ix.
(10) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. RINGKASAN EKSEKUTIF. Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung telah ditetapkan sebagai satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 58/MK.05/2011 tanggal 28 Februari 2011. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan target kinerja yang dilandasi pergeseran paradigma yaitu dengan lebih memperhatikan nilai-nilai kebutuhan dan kepuasan pelanggan sesuai dengan visi, misi dan motto BBKPM Bandung sebagai berikut: Visi : “Menjadi Pusat Unggulan Kesehatan Paru Masyarakat di tingkat Nasional Tahun 2019” Misi : 1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paru masyarakat yang bermutu, terjangkau, merata dan setara. 2. Meningkatkan kesehatan paru masyarakat. melalui pemberdayaan. masyarakat. 3. Melaksanakan dan mendukung kegiatan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan paru. Motto : Melayani dengan “Kualitas dan Empati” Tata Nilai : RAPI: “Responsif, Amanah, Profesional, Inovatif”. x.
(11) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Pendapatan BBKPM Bandung diperoleh dari penyelenggaraan rawat jalan, rawat darurat, rawat inap, tindakan medis intervensi paru, medical check up, pemeriksaan laboratorium, radiologi, pelayanan rehabilitasi medik, pelayanan konseling kesehatan paru, konseling gizi, klinik berhenti merokok dan klinik VCT, penyelenggaraan diklat dan penelitian serta pelayanan ambulance. Volume kegiatan pelayanan BBKPM Bandung cukup besar dan diharapkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya walaupun secara prognosa belum mencapai target yang telah ditetapkan. Diharapkan jumlah pendapatan yang dihasilkan lebih besar dari pada tahun lalu dan dapat menanggulangi kebutuhan dana yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pelayanan. Mengacu pada realisasi kinerja sampai bulan Juni 2019, maka disusunlah Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Tahun 2019 dengan gambaran sebagai berikut: 1. Berdasarkan analisa SWOT posisi organisasi berada pada kuadran 2 (Turn Around Strategy/stabilisasi). 2. Asumsi Makro yang digunakan antara lain; Tingkat Inflasi 2,5% - 4,5%, Tingkat Pertumbuhan Ekonomi 5,2% - 5,6%, Nilai tukar rupiah / kurs 1 $ Rp. 13.700,- s.d Rp. 14.000,-/per dollar AS, Tingkat Bunga SPN 3 bulan 4,6%5,2%. Asumsi Mikro antara lain; Pelayanan kesehatan paru masyarakat yang diselenggarakan BBKPM Bandung semakin dipercaya masyarakat, pola jejaring dan kemitraan dengan berbagai lembaga dan institusi semakin berkembang, peningkatan mutu pelayanan berdampak pada peningkatan kunjungan, pengembangan layanan unggulan, peningkatan jenis dan kualitas. xi.
(12) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. SDM melalui pendidikan berkelanjutan dan pelatihan, pengembangan jenis layanan, serta pengembangan sarana dan prasarana. 3. Kinerja kegiatan BBKPM Bandung pada Semester 1 Tahun 2019 ini jika dibanding dengan tahun 2018 mengalami peningkatan, yang berimbas pada jumlah pemeriksaan penunjang dan pelayanan farmasi, sehingga berdampak pada capaian kinerja pendapatan. 4. Realisasi Pendapatan Operasional diluar Pendapatan APBN berdasarkan Laporan Operasional (SAIBA) untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2019 adalah sebesar Rp. 7.494.153.028,- (49,56%) dari target sebesar Rp.15.120.000.000,-. Adapun pendapatan tersebut terdiri atas Pendapatan Jasa Layanan dari Masyarakat sebesar Rp. 6.343.487.736,- dan Pendapatan BLU. Lainnya. Rp.. 181.260.418,-. serta. pendapatan. Hibah. sebesar. Rp.969.404.874,- Namun jika berdasarkan Laporan Realisasi Pendapatan Negara. Bukan. Pajak. (PNBP). cash. basic. capaiannya. sebesar. Rp.7.292.007.824,- (48,23%). 5. Capaian Indikator Kinerja Badan Layanan Umum (BLU) BBKPM Bandung Semester 1 Tahun 2019 adalah 81,85 atau berada pada level AA, dengan rincian: aspek keuangan jumlah skor 19,50; aspek layanan jumlah skor 31,50 dan aspek mutu dan manfaat kepada masyarakat jumlah skor 30,85. 6. Proyeksi nilai kinerja tahun 2019 sebesar 87,86 pada level AA, berdasarkan hasil perhitungan indikator kinerja keuangan sebesar 23,00 hasil perhitungan indikator kinerja layanan sebesar 32,75 indikator mutu dan manfaat kepada masyarakat sebesar 32,11.. xii.
(13) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Berdasarkan. pada. Surat. Direktur. Jenderal. Pelayanan. 2019. Kesehatan. Nomor:PR.04.02/I/3953/2019 tanggal 4 September 2019 Hal Revisi Usulan Realokasi Anggaran Ditjen Pelayanan Kesehatan TA 2019 menetapkan bahwa BBKPM Bandung mendapatkan penambahan anggaran yang berasal dari realokasi antar program sebesar Rp.4.023.470.000,-. Penambahan anggaran tersebut digunakan untuk pelayanan pengadaan obat-obatan dan bahan medis habis pakai Tahun Anggaran 2019 dan untuk mencukupkan bufferstock pada Tahun Anggaran 2020. Sehingga pagu belanja obat-obatan dan bahan medis habis semula Rp. 3.243.908.000,- menjadi Rp.7.267.378.000,-. Disamping itu BBKPM Bandung juga mendapatkan penambahan anggaran belanja gaji pegawai dari BA-BUN sebesar Rp.1.813.447.000,- untuk memenuhi kebutuhan belanja pegawai sampai dengan akhir Tahun 2019. Sehingga total penambahan pagu anggaran pada DIPA BBKPM Bandung TA 2019 adalah Rp.5.836.917.000,-, dari total pagu semula Rp.36.121.246.000,- menjadi Rp.41.958.163.000,-.. xiii.
(14) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. LEMBAR PENGESAHAN. BADAN LAYANAN UMUM BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT BANDUNG. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN (RBA) TAHUN 2019 Disahkan di. : Bandung. Pada Tanggal :. September 2019. Mengesahkan, Kepala. drg. Maya Marinda Montain, M.Kes NIP. 196908041994032009. xiv.
(15) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. LEMBAR PENGESAHAN. BADAN LAYANAN UMUM BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT BANDUNG. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN (RBA) TAHUN 2019 Disahkan di. : Bandung. Pada Tanggal :. September 2019. Mengesahkan, Ketua Satuan Pemeriksa Internal. Tri Nurhayati Asih, S.KM., M.KM NIP. 197704182006042001. xv.
(16) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. xvi.
(17) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. BAB I PENDAHULUAN. A. Umum 1. Landasan Hukum dan Sejarah Perkembangan BLU BBKPM Bandung didirikan pada Bulan November Tahun 1952, dengan nama BP5 (Balai Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit ParuParu) dengan tujuan sebagai pusat pemberantasan penyakit tuberculosis (TB). BP5 Bandung menempati gedung di Jl. Ir. H. Juanda 45 kemudian pindah ke Jl. Pasir Kaliki 121. Gedung BBKPM yang saat ini menjadi lokasi BBKPM Bandung mulai ditempati pada bulan Juli tahun 1955. Pada tahun 1974, BP5 berubah menjadi BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru) dan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI No.144/Menkes/SK/IV/1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru yang di dalamnya mengatur tugas, fungsi, klasifikasi dan Susunan Organisasi BP4, maka tugas pokok dan fungsi BP4 tidak hanya mengobati tuberkulosis tetapi juga penyakit paru lainnya. BP4 kemudian berubah menjadi BKPM (Balai Kesehatan Paru Masyarakat) dengan merujuk pada Keputusan Menteri PAN Nomor: 62/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI. 1.
(18) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Nomor: 1352/MENKES/PER/IX/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Kesehatan Paru Masyarakat,. yang. menetapkan BP4 Bandung sebagai Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) eselon 3b. Pada tahun 2007 Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 532/MENKES/PER/IV/2007 BKPM Bandung ditetapkan menjadi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) dengan Tugas Pokok dan Fungsi melaksanakan pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik. dan. atau. subspesialistik. yang. berorientasi. kesehatan. masyarakat; pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru; kemitraan dan pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat; pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru; serta penelitian dan pengembangan kesehatan paru. Di dalam surat keputusan tersebut juga dinyatakan bahwa wilayah kerja BBKPM Bandung meliputi 13 Provinsi yaitu seluruh Provinsi di Pulau Sumatera, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta. Lokasi BBKPM Bandung di Jalan Cibadak No 214 Bandung menempati bangunan seluas 6.687 m2 yang berdiri di atas tanah seluas 3.330 m2. Lokasi ini sangat strategis karena sangat mudah diakses oleh masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya. Sebagai sarana pelayanan rujukan strata II, BBKPM Bandung menerima rujukan dari Puskesmas dan Dokter Umum serta Balai Pengobatan dan Klinik Swasta, utamanya dalam penegakan diagnostik Tuberkulosis, Asma dan PPOK.. 2.
(19) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. BBKPM Bandung resmi menjadi Instansi Pemerintah pada Kementerian Kesehatan RI yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum melalui surat Kementerian Keuangan Nomor 58/MK.05/2011 tanggal 28 Februari 2011. Karena. adanya. perubahan. struktur. organisasi. di. tingkat. Kementerian Kesehatan maka pada tanggal 22 November 2011 terjadi pengalihan dari UPT di bawah Direktorat Binkesmas menjadi di bawah Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2354/Menkes/Per/XI/2011 tentang Perubahan. Atas. Peraturan. Menteri. Kesehatan. Nomor. 532/Menkes/Per/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat.. 2. Karakteristik Bisnis BLU Dalam menjalankan tugas pokok BBKPM Bandung memiliki karakteristik berbeda dari Rumah Sakit maupun layanan kesehatan lain, selain merupakan layanan rujukan spesialistik paru BBKPM juga memiliki program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang antara lain terdiri dari promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, pelatihan dan penelitian. Mengingat adanya kecenderungan penurunan kunjungan untuk pasien umum rawat jalan maka perlu dibuat program pengembangan pelayanan untuk tahun 2019 dengan membuka layanan-layanan baru.. 3.
(20) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Pengembangan tersebut berupa pengembangan layanan unggulan Pusat Asma-PPOK dan Program Paru Komunitas. Pusat Asma-PPOK adalah layanan penanganan pasien penderita Asma dan PPOK yang dilaksanakan secara terpadu mulai dari pemeriksaan oleh dokter yang memiliki kompetensi khusus dan pemeriksaan penunjang menggunakan alat dengan teknologi terkini, seperti Spirometer yang memiliki parameter pemeriksaan yang lengkap serta didukung oleh layanan pengobatan akut dan kronik menggunakan obat-obatan generasi terbaru dan layanan Rehabilitasi Fisik yang dilaksanakan oleh Dokter ahli kedokteran fisik dan rehabilitasi dengan program rehabilitasi yang disusun berdasarkan kebutuhan setiap pasien antara lain Treadmill Exercise. Seluruh layanan tersebut dilaksanakan dalam satu lingkungan serta dijalankan dengan alur yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, terutama pasien lanjut usia dalam menjalani pengobatan. Pusat Asma-PPOK ini adalah merupakan layanan unggulan dalam fungsi Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). Program Paru Komunitas merupakan program unggulan dalam fungsi. Upaya. Kesehatan. Masyarakat. (UKM),. yaitu. program. pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan penyakit paru agar penanggulangan penyakit tidak hanya pada penderita tetapi juga bagi keluarga penderita serta masyarakat disekitarnya. Pemberdayaan ini berupa pemberian dukungan pada penderita dan keluarga serta. 4.
(21) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. peningkatan pastisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyakit paru di komunitasnya sesuai kemampuan komunitas tersebut. Disamping pengembangan program unggulan juga dikembangkan program layanan kesehatan lainnya seperti layanan Intervensi Paru yaitu tindakan paru yang dilakukan baik yang bersifat diagnostik maupun terapeutik. Pengembangan. pada. pelayanan. penunjang. kesehatan. di. laboratorium dengan adanya alat TCM dan di pelayanan radiologi dengan alat Digital Radiografy. Pengembangan pelayanan rehabilitasi medik di tahun 2017-2018 bertambah dengan adanya alat-alat kesehatan baru seperti: Alat Latih En Tree Pulley MDD plus En Tree Bencht, Alat Latih En Dinamic Set, Ergocycle, Tread Mill Treatment, Micro Wave Diathermy. Pengembangan layanan lainnya adalah dengan dibukanya Klinik MDR-TB bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat dan Global Fund sebagai subrujukan pasien TB-MDR. Layanan Medical Check Up (MCU) untuk pemeriksaan kesehatan perusahaan maupun instansi dan lembaga swasta. Pemeriksaan kesehatan untuk Jemaah Haji juga diharapkan meningkatkan pendapatan, hal ini dilakukan dengan kerjasama yang baik dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota dan Propinsi. Penguatan program promosi perlu dilakukan dimana hal ini tidak terlepas dari fungsi promotif dan preventif dan dapat diintegrasikan dengan kegiatan promosi kesehatan dan kegiatan peningkatan SDM kesehatan yang. 5.
(22) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. dilakukan melalui program sosialisasi, advokasi, penyuluhan, talkshow, audiensi, bimbingan teknis, diseminasi, workshop dan seminar.. B. Visi dan Misi BLU 1. Visi “Menjadi Pusat Unggulan Kesehatan Paru Masyarakat di Tingkat Nasional Tahun 2019”.. 2. Misi a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paru masyarakat yang bermutu, terjangkau, merata dan setara; b. Meningkatkan kesehatan paru masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat; c. Melaksanakan dan mendukung kegiatan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan paru.. 3. Maksud dan Tujuan BLU Tujuan BBKPM menjadi BLU adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan paru yang berkualitas, melalui. upaya kesehatan. perorangan dan upaya kesehatan paru masyarakat yang meliputi upaya pemberdayaan baik tenaga kesehatan maupun masyarakat, dengan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan kesehatan paru, kemitraan dengan berbagai pihak, sehingga penyakit paru tidak lagi menjadi masalah utama, khususnya di wilayah kerja BBKPM Bandung.. 6.
(23) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Untuk dapat melaksanakan upaya-upaya tersebut maka tujuan umum dijabarkan dalam tujuan khusus sehingga memudahkan dalam penyusunan strategi maupun perencanaan program dan kegiatan serta dalam melakukan pengukuran indikator pencapaian kinerja. Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah: a. Peningkatan mutu institusi dalam bidang kesehatan paru masyarakat. b. Pengembangan program penanggulangan kesehatan paru masyarakat berdasarkan peta masalah yang akan dibuat. c. Pemberdayaan masyarakat yang mandiri dalam meningkatkan derajat kesehatan paru. d. Pengembangan jenis pelayanan dan penunjang kesehatan paru. e. Pembentukan. kemitraan. dalam. mempercepat. penanggulangan. masalah kesehatan paru masyarakat. f. Peningkatan kuantitas dan kualitas Penelitian di BBKPM Bandung. Tujuan di atas akan tercapai melalui pengembangan dan pelaksanaan program yang tepat dan spesifik, yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dengan mengembangkan koordinasi dan kemitraan yang efektif dan efisien dengan pengelola kesehatan paru di wilayah kerja. Selain itu, dukungan sistem penunjang yaitu administrasi kesehatan, baik administrasi umum maupun administrasi keuangan yang baik akan sangat mendukung tercapainya tujuan dengan memegang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.. 7.
(24) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Prinsip. pengelolaan. keuangan. yang. baik. pada. dasarnya. mengandung nilai akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kemandirian dan responsibilitas, yang bila diterapkan dengan baik dapat menjadi tolok ukur atau indikator pelaksanaan program dan kegiatan. Prinsip-prinsip ini dapat dikembangkan. dan. dipraktekkan. dalam. rangka. mencapai. tujuan. pengelolaan Balai Kesehatan Masyarakat yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU) agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan efektif dan efisien.. 4. Kegiatan BLU a. Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. pelayanan. kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan, dan kemitraan serta pengembanagan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat b. Fungsi : 1) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat 2) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru 3) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat 4) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru. 8.
(25) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. 5) Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru 6) Pelaksanaan urusan tata usaha. Dalam mendukung tugas pokok dan fungsinya, maka BBKPM Bandung mempunyai kegiatan sebagai berikut: 1) Kegiatan Pelayanan dan Penunjang Kesehatan a) Pelayanan Kesehatan Instalasi Rawat Jalan : - Klinik Spesialis Paru - Klinik DOTS - Klinik Umum - Klinik Anak - Klinik Non TB - Klinik Asma-PPOK - Klinik MDR-TB - Klinik PDP Instalasi Gawat Darurat Instalasi Intervensi Bedah Paru Instalasi Rawat Inap b) Penunjang Kesehatan Instalasi Laboratorium Instalasi Radiologi Instalasi Rehabilitasi Medik 9.
(26) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Instalasi Farmasi Instalasi Rekam Medik Instalasi Gizi. 2) Kegiatan Promosi dan Pengembangan Sumber Daya a) Kegiatan Promosi Kesehatan Kegiatan Promosi Kesehatan Masyarakat - Promosi Kesehatan paru - Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kesehatan paru - Pemberdayaan penderita dan keluarga penderita penyakit paru - Pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan paru - Advokasi kesehatan paru - Kemitraan dalam jejaring pelayanan kesehatan paru - Surveilans perilaku - Screening kesehatan paru Pelayanan Konseling : - Konseling Gizi - Konseling Berhenti Merokok - Konseling dan Testing HIV (KT-HIV) b) Kegiatan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan. dan. pelatihan. kesehatan. paru. terutama. dalam. penanggulangan masalah TB, Asma, PPOK dan PAL serta kesehatan masyarakat secara umumnya. Penelitian dan pengembangan kesehatan paru. 10.
(27) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. c) Kegiatan Kemitraan Kemitraan dalam pelayanan/rujukan kesehatan paru Rumah Sakit Paru, Rumah Sakit Umum/Swasta, Puskesmas, Balai Laboratorium Kesehatan, Dokter praktek swasta, Lembaga Asuransi Kesehatan, PPTI, Organisasi Profesi, dan lain – lain. Kemitraan dalam program kesehatan paru Program penanggulangan TB (DOTS): Dinas Kesehatan Propinsi/ Kabupaten/ Kota, Rumah Sakit, BKPM, Puskesmas, Swasta. Kemitraan dalam upaya promosi kesehatan paru Pusat Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi/ Kabupaten/ Kota, Dinas Pendidikan, Organisasi profesi, Organisasi masyarakat, LSM, Yayasan Asma Indonesia, Media massa, dan lain-lain. Kemitraan dan kerjasama dalam Diklat dan penelitian kesehatan paru: Institusi Pendidikan, Badan Diklat dan Badan Litbangkes, dan lain – lain. 3) Ketatausahaan a) Umum Urusan Umum dan Kerumahtanggaan Urusan Kepegawaian Urusan Perencanaan, Pencatatan dan Laporan Urusan Perlengkapan (Logistik dan Barang Milik Negara) Urusan Kehumasan Urusan Kearsipan. 11.
(28) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. b) Keuangan Perbendaharaan; Bendahara Penerimaan, Bendahara Pengeluaran, Pejabat Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai (PPABP) Verifikasi dan Akuntansi c) Instalasi Pemeliharaan Sarana Prasarana dan Kesehatan Lingkungan Pemeliharaan Sarana Gedung dan Halaman Kantor Pemeliharaan Peralatan dan Mesin Kesehatan Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja d) Unit Layanan Pengadaan. C. Budaya BLU 1. TATA NILAI : RAPI : Responsif, Amanah, Profesional, Inovatif.. 2. MOTTO Melayani dengan Kualitas dan Empati.. D. Susunan Pejabat Pengelola dan Dewan Pengawas BLU 1. Susunan Pejabat Pengelola BLU dan Dewan Pengawas a. Susunan Pejabat Pengelola BLU . Kepala. : drg. Maya Marinda Montain, M.Kes. . Kepala Bagian Tata Usaha. : Endang Sri Mursinah, SKM, M.Kes.. . Kepala Subbagian Umum. : Rita Sri Rahayu, S.Si, M.KM 12.
(29) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. . Kepala Subbagian Keuangan : Sudaryanto, SE. . Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan. : dr. Dahlia Qadarsih. . Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan. : dr. Ijan Aprijana, Sp. KO.. . Kepala Seksi Penunjang Kesehatan. : Heni Handayani, S.Si, M.Kes.. . Kepala Bidang Promosi dan : Cecep Slamet Budiono, SKM, M.Sc.PH Pengembangan Sumber Daya. . Kepala Seksi Promosi Kesehatan. . Kepala Seksi Pengembangan : Rian Surahman, SKM., M.KM Sumber Daya. : dr. Djiwa Margono. b. Pejabat Pengawas Pejabat Pengawas: Dr. dr. Agus Hadian Rahim, Sp. OT(K) M.Epid. M.H.Kes.. 2. Uraian Tugas Pejabat Pengelola BLU a. Kepala Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan, dan kemitraan serta pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat. Uraian Tugas : . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat;. 13.
(30) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru masyarakat;. . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan. sumber. daya. di. bidang. kesehatan. paru. masyarakat; . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru masyarakat;. . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru masyarakat;. . Menyusun pelaksanaan urusan tata usaha.. b. Kepala Bagian Tata Usaha Tugas Pokok : Melaksanakan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian,. kerumahtanggaan,. perlengkapan. dan. hubungan. masyarakat. Uraian Tugas : . Menyusun rencana program dan anggaran, penyajian informasi, evaluasi dan laporan;. . Melaksanakan urusan kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga serta hubungan masyarakat;. . Melaksanakan urusan keuangan.. 14.
(31) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. c. Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang pemeriksaan, pengobatan, dan pelayanan rehabilitasi kesehatan paru spesialistik dan subspesialistik yang berorientasi masyarakat serta rujukan dengan sarana pelayanan kesehatan. Uraian Tugas : . Menyusun perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat;. . Menyusun perencanaan dan evaluasi pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat;. . Menyusun perencanaan dan evaluasi pelayanan rujukan;. . Menyusun. perencanaan. dan. evaluasi. kegiatan. penunjang. kesehatan; . Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan.. d. Kepala Bidang Promosi dan Pengembangan Sumber Daya Tugas Pokok : Melaksanakan perencanaan dan evaluasi penyuluhan kesehatan dan konseling, pemberdayaan masyarakat, kerjasama, serta pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat. Uraian Tugas : . Menyusun. perencanaan. dan. evaluasi. kegiatan. penyuluhan. kesehatan dan konseling;. 15.
(32) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. . 2019. Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat;. . Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan kerjasama;. . Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan sumber daya.. 16.
(33) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. BAB II KINERJA BLU TAHUN 2018 DAN RENCANA BISNIS ANGGARAN TAHUN 2019. A. Gambaran Kondisi BLU 1.. Faktor Internal a. Pelayanan BBKPM telah memiliki Izin Operasional serta tersedianya clinical pathway dan Standar Prosedur Operasional (SPO) dalam upaya memberikan pelayanan prima. Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan oleh BBKPM Bandung dalam meningkatkan kinerja dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki adalah dengan mengembangkan jenis pelayanan dengan membuat layanan baru sesuai dengan kebutuhan pelanggan/masyarakat serta meningkatkan layanan yang sudah ada, salah satunya adalah layanan TB-MDR sebagai sub rujukan. Layanan ini sudah berjalan tiga tahun dan cukup berhasil dengan jumlah kunjungan pasien yang ditatalaksana rata-rata 329 pasien setiap bulan dan masih dapat ditingkatkan lagi. Selain itu layanan IGD 24 jam juga telah berjalan baik serta rawat inap dengan kapasitas 12 tempat tidur. Akses pelayanan ke BBKPM Bandung mudah terjangkau dengan lokasi yang sangat strategis di tengah kota Bandung yang dilalui oleh angkutan umum dan tarif yang cukup murah dibandingkan fasilitas kesehatan lain di sekitarnya.. 17.
(34) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. b. Keuangan BBKPM Bandung telah menjadi Badan Layanan Umum serta telah melaksanakan pengelolaan keuangan dengan baik sesuai peraturan yang berlaku sehingga pendapatan meningkat setiap tahunnya, Standar Operasional dan Prosedur keuangan sudah tersusun, dan telah memiliki sistem informasi akuntansi yang mampu mendukung pelaporan keuangan sehingga laporan keuangan yang dihasilkan lebih akurat dan tepat waktu. Namun demikian penyerapan anggaran dirasakan belum optimal, alokasi belanja modal untuk memenuhi alat kesehatan belum mencukupi, serta perlu adanya revisi tarif baik itu untuk perubahan tarif yang sudah ada maupun tarif utnuk layanan baru. c. Organisasi dan Sumber Daya Manusia Struktur organisasi BBKPM Bandung telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 532/Menkes/Per/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat, sebagai berikut:. Kepala Bagian Tata Usaha. Bagan 2.1 : Struktur Organisasi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung 18.
(35) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 180 orang, terdiri dari 130 orang PNS, 48 orang Non PNS, dan 2 orang dengan perjanjian kerjasama, rincian berdasarkan kelompok ketenagaan sebagai berikut : Tabel 2.1 : Sumber Daya Manusia BBKPM Bandung Tahun 2018 Non PNS Jenis Ketenagaan PNS Jumlah BLU Honorer MoU Apoteker 2 2 4 Asisten Apoteker 3 2 5 Auditor 1 1 Dokter Spesialis 5 1 2 8 Dokter Umum 16 3 19 Fisikawan Medis 1 1 Fisioterapis 2 2 Kesehatan Masyarakat 2 2 Nutrisionis 4 4 Pengadministrasi 10 1 3 14 Umum Pengemudi 5 5 Perawat 33 5 38 Perekam Medis 4 1 1 6 Pramu Bakti 9 9 Pranata Laboratorium 12 1 13 Radiografer 5 5 Sanitarian 2 2 Satpam 3 11 14 Struktural 10 10 Tata Usaha 14 2 16 Teknik Elektro Medis 1 1 Teknisi 1 1 Grand Total 130 3 45 2 180 d. Sarana dan Prasarana Tersedianya peralatan medik dan non medik yang memadai serta adanya program pemeliharaan alat dan kalibrasi untuk mendukung optimalisasi penggunaan sarpras yang handal. Penambahan gedung. 19.
(36) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. pelayanan dan rawat inap yang telah selesai pada akhir tahun 2016, sehingga kondisi per tahun 2018 ini total luas bangunan 6.687 m2 yang berdiri di atas tanah seluas 3.330 m2, sedangkan sarana BBKPM Bandung di Garut memiliki bangunan seluas 246 m2 yang berdiri diatas tanah seluas 1.704 m2, dan di Cianjur memiliki bangunan seluas 662 m2 yang berdiri diatas tanah seluas 2.450 m2. Sementara pengembangan sarana medik lainnya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masih terus dikembangkan. Sistem Manajemen informasi berbasis teknologi, baru terintegrasi sebagian sehingga penerapan sistem informasi pelayanan kesehatan masih belum optimal.. 2.. Faktor Eksternal a.. Pelayanan Berkembangnya industri disertai dengan kepadatan penduduk yang. semakin tinggi beresiko terhadap meningkatnya penyakit paru. Begitupun gaya hidup masyarakat dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di sektor industri, konstruksi dan perdagangan yang berpotensi menimbulkan penyakit paru terutama yang diakibatkan oleh rokok. Yang menjadi tantangan lainnya adalah berkembangnya persaingan dalam penyediaan layanan sejenis dari lembaga lain baik pemerintah maupun swasta. Ditambah pula adanya AFTA 2015 bidang kesehatan menuntut pelayanan prima. Pelayanan kesehatan sangat terbantu dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang semakin dikenal masyarakat,. 20.
(37) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. diikuti dengan meningkatnya jumlah peserta BPJS. Hal ini memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan optimal. b. Keuangan Meskipun saat ini situasi ekonomi semakin baik, demikian pula dengan daya beli masyarakat, namun kadang-kadang masyarakat masih kurang memberikan prioritas pada pembiayaan kesehatan melainkan kepada hal hal lain yang bersifat konsumtif sehingga sering mengalami kesulitan manakala jatuh sakit. Namun demikian pemerintah terus berusaha membuat kebijakan ekonomi yang diharapkan penataan ekonomi di semester 2 dan tahun yang akan datang semakin membaik. Salah satunya adalah adanya kebijakan pemerintah tentang program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dimana seluruh masyarakat diwajibkan mengikuti asuransi JKN dengan premi yang terjangkau, namun juga perlu diatur mekanismenya sehingga prinsip gotong royong dapat terwujudkan. Kebijakan program JKN seyogyanya apabila dikelola dengan baik akan dapat memberi keuntungan terhadap institusi pemberi pelayanan kesehatan terutama bagi institusi yang telah melaksanakan pengelolaan keuangan BLU dengan adanya fleksibilitas pengelolaan keuangan dan kebijakan pembayaran klaim sebelum tanggal 15 pada setiap bulannya. c.. Organisasi dan Sumber Daya Manusia Kebutuhan organisasi telah didukung oleh adanya Undang-Undang. Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kriteria dan Ukuran Keberhasilan. 21.
(38) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Reformasi Birokrasi, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN dan Permenkes Nomor 20 Tahun 2014 tentang Pegawai Non PNS pada satker BLU Kementerian Kesehatan. Beragamnya ancaman tuntutan hukum atas pelayanan kesehatan, meningkatnya kompleksitas. regulasi. kesehatan, birokrasi. pemberi. pelayanan kesehatan lain yang lebih fleksibel memberikan tantangan untuk bekerja lebih bermutu, transparan, dan akuntabel. d. Sarana dan Prasarana Transportasi yang semakin mudah dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat memberikan peluang pemanfaatan institusi pemberi pelayanan kesehatan oleh masyarakat. Namun hal tersebut perlu didukung oleh ketersediaan alat kesehatan kedokteran dan bangunan fisik yang memadai. Dengan berlandaskan pada aspirasi stakeholder, tantangan strategis, benchmarking, dan dengan mempertimbangkan hasil analisa kinerja baik dalam lingkungan eksternal maupun internal, maka dilaksanakan analisa atas kekuatan (strength), kelemahan/kekurangan (weaknes), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berikut rangkuman hasil identifikasi faktor SWOT yang diperkirakan akan dihadapi dalam kurun waktu RSB, serta dilanjutkan dengan analisanya. Kekuatan 1) Dukungan dan Komitmen Pimpinan dan jajaran manajerial BBKPM ke arah upaya kesehatan paru masyarakat. 22.
(39) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. 2) Adanya motivasi yang kuat dari SDM yang ada untuk mengembangkan diri 3) Terdapat 3 tempat pelayanan BBKPM yaitu di Bandung, Garut dan Cianjur 4) Menangani Pelayanan Spesialistik Paru dan merupakan salah satu fasyankes yang melayani TB MDR di Jawa Barat 5) BBKPM telah tersertifikasi ISO 9001 (2008) dan ISO 9001:2015 6) Akses pelayanan kesehatan paru masyarakat terjangkau (lokasi yang strategis, Tarif pelayanan murah) 7) Pengelolaan keuangan sudah berbentuk Badan Layanan Umum Kelemahan 1) Belum terpenuhinya SDM dari segi kuantitas maupun kualitas 2) Masih terbatasnya sarana dan prasarana UPF Garut dan Cianjur 3) Belum adanya legal aspek terhadap satelit BBKPM Bandung di Garut dan Cianjur 4) Kurangnya promosi tentang keberadaan dan pelayanan BBKPM 5) Belum maksimalnya penerapan insentif berbasis kinerja 6) Belum optimalnya penerapan sistem informasi di lingkungan BBKPM 7) Kurangnya minat penelitian paru bagi tenaga kesehatan Peluang 1) Berkembangnya kasus penyakit paru di masyarakat 2) Kerjasama lintas Program dan lintas sektor dalam bidang kesehatan paru masyarakat. 23.
(40) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. 3) Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan paru 4) Penanggulangan penyakit menular (TBC) termasuk dalam sasaran program nasional 5) Berkembangnya ilmu pegetahuan dan teknologi penyakit paru 6) Kurangnya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kesehatan paru 7) Luasnya wilayah kerja yang harus dibina Ancaman 1) Belum optimalnya dukungan dari Pusat pada BBKPM tentang pengembangan UKP dan UKM 2) Belum terstandarisasinya Balai dan belum adanya ijin operasional pelayanan UPF Garut dan Cianjur 3) Belum jelasnya strata Balai Besar dalam program JKN 4) Berkembangnya persaingan dalam penyediaan layanan sejenis oleh lembaga lain 5) Tidak jelasnya pembagian kewenangan penanganan program kesehatan paru masyarakat oleh Pusat di wilayah kerja 6) Belum ada kejelasan mengenai kegiatan dengan wilayah kerja sampai dengan 13 Provinsi 7) Belum tersertifikasinya BBKPM sebagai lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan Berdasarkan Matrix Grand Strategi di bawah ini terlihat keunggulan bersaing BBKPM Bandung belum signifikan dibandingkan peluang bisnis yang. 24.
(41) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. tersedia, sehingga perbaikan mutu internal kelembagaan masih dibutuhkan. Selain itu karena berada pada kuadran II, BBKPM Bandung dalam pemenuhan kebutuhan operasional masih memerlukan dukungan dari unit utama yaitu Ditjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.. PENGEMBANGAN STRATEGI TERPILIH OPPORTUNITY 5,0. Turn Around Strategy. Aggressive Strategy - Backward, Forward, Horizontal Integration - Market Penetration - Market Development - Product Development - Diversification (related or unrelated). 4,0. - Market Penetration - Market Development - Product Development - Related Diversification. 3,0. 2,0. SS E N 5,0 K A E W. (-0,11 : 0,70) (-0,11 : 0,36) 4,0. 3,0. 2,0. 1,0. 1,0. ⁰. 1,0. 2,0. 3,0. 4,0. 5,0. ST R EN G TH. 1,0. - Divestiture - Liquidation. 2,0. 3,0. - Backward, Forward, Horizntal Integration - Market Penetration - Market Development - Product Development. 4,0. Defensive Strategy 5,0. Diversivication Strategy. THREAT. Bagan 2.2 : Matrix Grand Strategi. 25.
(42) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 3.. 2019. Asumsi Makro dan Mikro a. Asumsi Makro 2018 Tabel 2.2 : Asumsi Makro Tahun 2018 No.. Parameter. Asumsi 2018. Realisasi 2018. 1. Tingkat Inflasi. 3,5%. 3,18%. 2. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi. 5,4%. 5,17%. 3. Nilai tukar rupiah / kurs 1 $. Rp. 13.500,/per dollar AS. Rp. 13.400,/per dollar AS. 4. Tingkat Bunga SPN 3 bulan. 5,3%. 5,2%. Sumber : Salinan Pidato Presiden RI pada Penyampaian RUU APBN 2019 beserta Nota Keuangan. Dalam perkembangan global saat ini dengan laju pertumbuhan ekonomi yang rendah, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mengalami penguatan diperkirakan akan berdampak terhadap kunjungan pasien ke BBKPM. Asumsi Makro jelas akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi global baik langsung maupun tak langsung yaitu : Berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, semakin rendah PDB, daya beli masyarakat menurun sehingga kemampuan untuk memeriksakan kesehatannya/berobat semakin rendah. Pertumbuhan Ekonomi : semakin rendah pertumbuhan ekonomi tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin susah dan berkurang. Hal ini berpengaruh negatif pada pemanfaatan BBKPM sebagai sarana pelayanan kesehatan paru. Tingkat Inflasi: semakin rendah inflasi berpengaruh langsung pada belanja modal/investasi, harga obat, alat dan bahan habis pakai lainnya, sehingga. 26.
(43) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. pemenuhan kebutuhan investasi, obat, alat dan bahan habis pakai lainnya relatif mudah. b. Asumsi Mikro 2018 Tabel 2.3 : Asumsi Mikro Tahun 2018 No.. Parameter. 1. Anggaran Gaji PNS. 2. Anggaran Biaya operasional. 3. Anggaran Biaya Investasi. 4. Tarip pelayanan Kebutuhan Pengembangan SDM Alat medik. 5 6. Asumsi 2018 sebesar 23,34 % dari total anggaran sebesar 69,68% dari total anggaran sebesar 6,98% dari total anggaran berdasarkan Unit Cost100%. Realisasi 2018 36,27% 57,54% 6,19% 100%. terpenuhi 75%. 65,31%. berfungsi sebesar 100%. 90,37%. Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Realisasi Anggaran Gaji PNS sampai dengan semester 1 tahun 2018 sebesar 36,27% dari total realisasi anggaran, sementara asumsi awal hanya 23,34%. Untuk memenuhi kebutuhan anggaran gaji PNS sampai dengan tahun 2018 masih kurang, sehingga perlu dilakukan revisi tambahan anggaran gaji PNS. Realisasi Anggaran Biaya Operasional sebesar 57,54% dari total realisai anggaran, sementara asumsi tahun 2018 sebesar 69,68%. berarti biaya. operasional pelayanan tetap berjalan maksimal. Realisasi Anggaran Biaya Investasi sebesar 6,19% dari total realisasi anggaran, asumsi awal tahun 2018 sebesar 6,98%.. Digunakan secara. optimal untuk alat pengolah data, peralatan fasilitas perkantoran alat medik dan non medik untuk menunjang peningkatan pendapatan.. 27.
(44) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Tarip pelayanan Rumah Sakit berdasarkan Unit Cost 100%, sehingga mampu meningkatkan pendapatan sesuai cost atau biaya yang dikeluarkan rumah sakit. Pemenuhan kebutuhan pengembangan SDM 75% (persentase utilisasi sumber daya manusia) diharapkan dapat mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi. Alat medik berfungsi sebesar 90,37% (persentase utilisasi peralatan layanan kesehatan paru) hal ini dikarenakan masih terdapat alat kesehatan yang kurang optimal pemanfaatannya, yaitu bronchoscopy, dikarenakan kendala SDM Medis spesialis anestesi yang belum tersedia di BBKPM. c. Asumsi Makro 2019 Tabel 2.4 : Asumsi Makro Tahun 2019 No.. Parameter. Asumsi 2019. 1. Tingkat Inflasi. 3,5%. 2. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi. 5,3%. 3. Nilai tukar rupiah / kurs 1 $. Rp. 14.400,/per dollar AS. 4. Tingkat Bunga SPN 3 bulan. 5,3%. d. Asumsi Mikro 2019 Tabel 2.5 : Asumsi Mikro Tahun 2019 No.. Parameter. Asumsi 2019. 1. Anggaran Gaji PNS. sebesar 21,07 % dari total anggaran. 2. Anggaran Biaya operasional. sebesar 49,27% dari total anggaran. 3. Anggaran Biaya Investasi. sebesar 8,03,% dari total anggaran. 4. Tarip pelayanan. berdasarkan Unit Cost 100%. 5. Kebutuhan Pengembangan SDM. terpenuhi 80%. 6. Alat medik. berfungsi sebesar 100%. 28.
(45) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Anggaran Gaji PNS sebesar 21,07% dari total anggaran, tidak sesuai dengan kebutuhan yang diusulkan dalam e-Planning sebesar 24,46%.. Anggaran Biaya Operasional sebesar 49,27% dari total anggaran untuk menutup biaya operasional agar pelayanan berjalan maksimal sesuai dengan pengembangan layanan.. Anggaran Biaya Investasi sebesar 8,03% dari total anggaran belanja untuk menunjang ketersediaan alat medik dan non medik sesuai pengembangan layanan sehingga diharapkan akan meningkatkan pendapatan.. Tarif pelayanan berdasarkan Unit Cost 100%, sehingga mampu meningkatkan pendapatan sesuai biaya yang dikeluarkan.. Pemenuhan kebutuhan SDM 80% diharapkan dapat mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi.. Alat medik berfungsi sebesar 100% sehingga bisa mendukung pelayanan dan pelaksanaan program pengembangan dan optimalisasi pelayanan kesehatan paru.. B. Proses Penilaian Kinerja BLU 1. Capaian Kinerja BLU Perhitungan kinerja Indikator BLU dilakukan dengan menjumlahkan hasil penilaian pada tiap indikator yang telah ditetapkankan sebagai alat ukur penilaian. Adapun penilaian terhadap indikator tersebut dikelompokkan dalam 2 (dua) aspek, yaitu aspek keuangan, aspek pelayanan yang terdiri dari: sub aspek 29.
(46) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. layanan, dan sub aspek mutu dan manfaat bagi masyarakat. Adapun hasil penilaian kinerja dikelompokkan dalam kategori berikut:. TINGGI. : AAA apabila total skor (TS) >95 AA apabila 80< TS ≤ 95 A apabila 65 < TS ≤ 80. SEDANG. : BBB BB B. apabila 50 < TS ≤ 65 apabila 40 < TS ≤ 50 apabila 30 < TS ≤ 40. RENDAH. : CC C. apabila 15 < TS ≤ 35 apabila TS pada hasil penilaian aspek keuangan yang dicapai oleh BLU kurang dari 50% (lima puluh persen). Penilaian Kinerja Indikator BLU terdiri dari indikator kinerja keuangan (30%), indikator kinerja aspek layanan (35%) dan indikator kinerja aspek mutu dan manfaat bagi masyarakat (35%). Tingkat kinerja/kesehatan BBKPM Bandung pada semester 1 Tahun 2018 adalah 83,35 % atau berada pada level AA. Hal tersebut berdasarkan hasil perhitungan indikator kinerja keuangan sebesar 20,25% hasil perhitungan indikator kinerja layanan sebesar 29,50% dan hasil perhitungan indikator kinerja mutu dan manfaat kepada masyarakat sebesar 33,60%. Berikut capaian kinerja BLU Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-36/PB/2016 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Badan Layanan Umum Bidang Layanan Kesehatan.. 30.
(47) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Tabel 2.6 : Capaian Kinerja BLU Tahun 2018 (PER-36/PB/2016) Skor Standar. Capaian Smt 1-2018. Prognosa Capaian 2018 168% 3418%. Skor Smt 12018 9,25 1,5 2,5. Prognosa Skor 2018 10,50 1,0 3,0. Rasio Keuangan a. Rasio Kas (Cash Ratio) b. Rasio Lancar (Current Ratio). 19 2 3. 322% 542%. c.. 2. e.. Periode Panagihan Piutang (Collection Period) Perputaran Aset Tetap (Fixed Asset Turnover) Imbalan atas Aktiva Tetap (Return on Asset). 16,45 hari. 49,09 hari. 2,0. 1,0. 2. 1,70%. 7,62%. 0,25. 0,5. 2. -1,45%. -2,00%. 0,0. 0,0. f.. Imbalan Ekuitas (Return on Equity). 2. -1,59%. -1,79%. 0,0. 0,0. g.. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover). 2. 109,33 hari. 45,57 hari. 0,0. 1,0. h.. Rasio Pendapatan PNBP Terhadap Biaya Operasional. 4. 20,99%. 38,81%. 3,0. 4,0. 11. 11. No 1.. Sub Aspek / Indikator. d.. 2.. Kepatuhan Pengelolaan Keuangan BLU a.. Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Definitif a.1 Jadwal Penyusunan. 11 2. 2. 2. 0,4. 0,4. Y. Sebelum 31 Desember tahun sebelumn ya Y. 1,6. 1,6. - Ditandatangani oleh pimpinan satker. Y. Y. 0,4. 0,4. - Diketahui oleh Dewas atau pejabat yang ditunjuk oleh menteri - Disetujui dan ditandatangani oleh menteri/pimpinan lembaga - Kesesuaian Format dengan PMK No. 44/PMK.05/2009 Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) - Laporan Keuangan Triwulan I. Y. Y. 0,4. 0,4. Y. Y. 0,4. 0,4. Y. Y. 0,4. 0,4. 2. 2. 0,2. 0,2. 0,2. 0,2. 0,2. 0,2. 0,20. 0,20. 0,2. 0,2. 1. 1. Sebelum 31 Desember tahun sebelumnya. a.2 Kelengkapan. b.. - Laporan Keuangan Semester I. - Laporan Keuangan Triwulan III. - Laporan Keuangan Tahunan. - Audit Laporan Keuangan Tahunan. - Skor Hasil Audit Laporan Keuangan. 2 Sampai dengan tanggal 15 Sampai dengan tanggal 10 Sampai dengan tanggal 15 Sampai dengan tgl 20 Diaudit oleh auditor eksternal s.d tgl 31 Mei TA berikutnya WTP. Sampai dengan tanggal 15 Sampai dengan tanggal 10 Sampai dengan tanggal 15 Sampai dengan tgl 20 Diaudit oleh auditor eksternal s.d tgl 31 Mei TA berikutnya WTP. 31.
(48) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. No. Sub Aspek / Indikator c.. Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja BLU (SP3B BLU) - SP3B BLU Triwulan I. Skor Standar. Prognosa Capaian 2018. 2 Disampaikan s.d Akhir Triwulan I; Saldo Kas telah sesuai. - SP3B BLU Triwulan II. Disampaikan s.d Akhir Triwulan II; Saldo Kas telah sesuai. - SP3B BLU Triwulan III. Disampaikan s.d Akhir Triwulan III; Saldo Kas telah sesuai. - SP3B BLU Triwulan IV. Disampaikan s.d Akhir Triwulan IV; Saldo Kas telah sesuai. d.. Tarif Layanan. 1. e.. Sistem Akuntansi. 1. f.. Capaian Smt 1-2018. Apabila Tarif telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Disampai kan s.d Akhir Triwulan I; Saldo Kas telah sesuai Disampai kan s.d Akhir Triwulan II; Saldo Kas telah sesuai Disampai kan s.d Akhir Triwulan III; Saldo Kas telah sesuai Disampai kan s.d Akhir Triwulan IV; Saldo Kas telah sesuai Apabila Tarif telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Skor Smt 12018. Prognosa Skor 2018. 2. 2. 0,4. 0,4. 0,4. 0,4. 0,4. 0,4. 0,8. 0,8. 1. 1. 1. 1. - Sistem Akuntansi Keuangan. Y. Y. 0,6. 0,6. - Sistem Akuntansi Biaya. Y. Y. 0,2. 0,2. - Sistem Akuntansi Aset Tetap. Y. Y. 0,2. 0,2. 0,5. 0,5. Persetujuan Rekening. 0,5. - Rekening Pengelolaan Kas. Y. Y. 0,1. 0,1. - Rekening Operasional. Y. Y. 0,3. 0,3. Y. Y. 0,1. 0,1. 0,5. Y. Y. 0,5. 0,5. h.. - Rekening Dana Kelolaan Standard Operating Procedure (SOP) Pengelolaan Kas SOP Pengelolaan Piutang. 0,5. Y. Y. 0,5. 0,5. i.. SOP Pengelolaan Utang. 0,5. Y. Y. 0,5. 0,5. j.. SOP Pengadaan Barang dan Jasa. 0,5. Y. Y. 0,5. 0,5. k.. SOP Pengelolaan Barang Inventaris. 0,5. Y. Y. 0,5. 0,5. 20,25. 21,50. g.. TOTAL ASPEK KEUANGAN (1+2). 30. 32.
(49) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. No 1.. Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator. Skor Standar. Capaian Smt 1-2018. Prognosa Capaian 2018. Skor Smt 12018. Prognosa Skor 2018. 12,0. 14,5. Layanan a.. Pertumbuhan Produktivitas. 16 2. 0,93. 1,06. 1,50. 1,5. 2. 1,04. 1,24. 1,50. 2,0. 2. 0,62. 1,00. 0,50. 1,5. 4. Pertumbuhan Pemeriksaan Radiologi. 2. 1,15. 1,32. 2,00. 2,0. 5. Pertumbuhan Pemeriksaan Laboratorium. 2. 0,94. 1,08. 1,50. 1,5. 6. Pertumbuhan Rehab Medik. 2. 0,98. 1,12. 1,50. 2,0. 7. Pertumbuhan Tindakan Spesialistik. 2. 1,11. 1,89. 2,00. 2,0. 8. Pertumbuhan Jumlah Penyuluhan. 2. 0,96. 1,10. 1,50. 2,0. b.. 14. 13,00. 12,50. 1. Rasio Pasien Rawat Jalan dengan Dokter. 1. 12,35. 14,14. 0,75. 0,75. 2. Rasio Pasien Rawat Jalan dengan Perawat. 1. 8,55. 9,79. 1,00. 1,0. 3. Rasio Jumlah Pemeriksaaan Laboratorium. 1. 20,04. 22,94. 0,25. 0,25. 1. 11,76. 13,47. 1,00. 1,0. 2. 0,78%. 0,81%. 2,00. 2,0. 6. Persentase Nilai Obat Kadaluarsa. 2. 0,93%. 0,93%. 2,00. 2,0. 7. Angka Pengulangan Pemeriksaan. 2. 0,00%. 0%. 2,00. 2,0. Laboratorium 8. Pengembalian Rekam Medik. 2. 98,83%. 100%. 2,00. 2,0. 9. Rasio Penyuluhan dan Petugas Penyuluhan. 2. 5,68. 6,50. 2,00. 1,5. c.. 5. 4,5. 4,5. Ada program dilaksanaka n Ada program penelitian semua dilaksanaka n Ada program sebagian dilaksanaka n. Ada program dilaksanak an Ada program penelitian semua dilaksanak an Ada program sebagian dilaksanak an. 2. 2. 1. 1. 1,5. 1,5. 29,50. 31,50. 1. Perumbuhan Rata-rata Kunjungan Rawat Jalan 2. Pertumbuhan Rata-rata Kunjungan Rawat Darurat 3. Pertumbuhan Kunjungan One Day Care. Efisiensi Pelayanan. dengan Analis Laboratorium 4. Rasio Jumlah Pemeriksaaan Radiologi dengan Petugas Radiographer 5. Angka Kegagalan Hasil Radiologi. Perspektif Pertumbuhan Pembelajaran. 1. Program Pendidikan dan Pelatihan. 2. 2. Penelitian. 1. 3. Program Reward dan Punihisment. 2. TOTAL Sub Aspek Layanan. 35. 33.
(50) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. No. Sub Aspek / Kelompok Indikator / Indikator / Sub Indikator. 1.. Mutu dan Manfaat kepada Masyarakat a.. Mutu Pelayanan. Skor Standar. Capaian Smt 1-2018. Prognosa Capaian 2018. 12,5. Skor Smt 1-2018. Prognosa Skor 2018. 12,50. 12,5 2,0. 2. 2,76. 3,31. 2,00. 2. 17,30. 18,17. 2,00. 2,0. 3. Kecepatan Pelayanan Resep Obat Jadi. 1,5. 18,27. 21,95. 1,50. 1,5. 4. Waktu Tunggu Hasil Laboratorium. 1,5. 0,76. 0,91. 1,50. 1,5. 1,5. 0,24. 0,29. 1,50. 1,5. 2. 0,79. 0,95. 2,00. 2.0. 2. 35,83. 43,00. 2,00. 2,0. 1. Emergency Response Time 2. Waktu Tunggu Rawat Jalan. 5. Waktu Tunggu Hasil Radiologi 6. Waktu Tunggu Sebelum Tindakan 7. Waktu Tunggu Penyuluhan/Konseling b.. 10,00. 10,00. 1. Angka Kematian di Gawat Darurat. Mutu Klinik. 2. 0. 0,00. 2,00. 2,0. 2. Angka Kesalahan Laboratorium. 2. 2,0. 2. 1. Tidak ada kesalahan pembacaan (betul) 14,35%. 2,00. 3. Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara. 1. Tidak ada kesalahan pembacaan (betul) 14,12%. 2,00. 2,0. Suspect 4. Angka Kesembuhan Pasien. 2. 89,60%. 90,60. 2,00. 2,0. 5. Kesalahan Pelayanan Obat. 2. 0,00%. 0,00%. 2,00. 2,0. 6,75. 6,75. 2,0. 2,0. 2,0. 2,0. 0,75. 0,75. 2,0. 2,0. c.. Kepedulian Kepada Masyarakat. 1.. Pembinaan kepada Puskesmas dan Sarana Kesehatan Lain. 10. 8 2. 2. Penyuluhan Kesehatan. 2. 3. Pelayanan Pasien Tidak Mampu. 2. 4. Pemberdayaan Masyarakat. 2. d.. Ada program dilaksanaka n Ada program dilaksanaka n 13,4%. Ada program dilaksanaka n. Ada program dilaksanaka n. 1.. Penanganan Pengaduan. 2 1. 100. 100. 1,85 1,0. 1,86 1,0. 2.. Kepuasan Pelanggan. 1. 0,85. 0,86. 0,85. 0,86. 2,5. 2,5. Ada program dilaksanaka n Ada program dilaksanaka n. Ada program dilaksanaka n Ada program dilaksanaka n. 1,5. 1,5. 1,0. 1,0. 33,60. 33,11. e.. Kepuasan Pelanggan. Ada program dilaksanaka n Ada program dilaksanaka n 14,67%. Kepedulian Terhadap Lingkungan. 2,5. 1.. Program Balai Besar Berseri. 1,5. 2.. Proper Lingkungan (KLH). 1. TOTAL Sub Aspek Mutu Dan Manfaat bagi Masyarakat. 35. 34.
(51) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. Aspek Indikator. Skor Standar. Smt 1-2018. Prognosa Skor 2018. Keuangan Layanan Mutu dan Manfaat kepada Masyarakat TOTAL KATEGORI. 30 35 35 100. 20,25 29,50 33,60 83,35 AA. 21,50 31,50 33,11 86,11 AA. Pada aspek keuangan BLU BBKPM Bandung indikator rasio keuangan dari total skor 19, capaian pada semester 1 tahun 2018 tercapai 9,25 dengan prognosa pada akhir tahun 2018 tercapai 10,50. Pada indikator rasio keungan ini masih terdapat indikator yang memiliki skor rendah antara lain imbalan aset tetap dan imbalan ekuitas yang masih harus ditingkatkan. Namun pada indikator kepatuhan pengelolaan keuangan BLU, BBKPM Bandung sudah dapat mencapai skor maksimal (tingkat kepatuhannya tinggi). Tabel 2.7 : Pertumbuhan rata-rata kunjungan BBKPM Tahun 2018 2017. Instalasi. Kunjungan SMT-1 2018 Per Jml Hari 25.346 222. Prognosa 2018 Per Jml Hari 60.830 255. Pertumbuhan Prog Smt-1 nosa 2018 2018 0,93 1,06. 57.163. Per Hari 239. Rawat Darurat. 969. 2,65. 499. 2,76. 1.198. 3,28. 1,04. 1,24. Rawat Inap/One Day Care. 310. 0,85. 95. 0,52. 310. 0,85. 0,62. 1,00. Radiologi. 12.237. 51,20. 6.706. 58,82. 16.094. 67,34. 1,15. 1,32. Laboratorium. 66.114. 277. 29.693. 260. 71.263. 298. 0,94. 1,08. Rehab Medik. 2.877. 12,04. 1.344. 11,79. 3.226. 13,50. 0,98. 1,12. Tindakan Spesialistik. 821. 3,44. 647. 5,68. 1.553. 6,50. 1,65. 1,89. Penyuluhan/Konseling. 1.411. 5,90. 647. 5,68. 1.553. 6,50. 0,96. 1,10. Jml Rawat Jalan. Dari aspek pelayanan indikator pertumbuhan produktivitas, pada capaian semester 1 tahun 2018 ini dari 8 unit/instalasi hanya instalasi rasiologi dan tindakan spesialistik saja yang mengalami pertumbuhan, untuk instalasi lainnya menurun dibanding dengan capaian tahun lalu. Seiring dengan program pemerintah Universal Health Coverage yang ditargetkan sudah tercapai di tahun 2019 maka trend kunjungan pasien BPJS semakin 35.
(52) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. meningkat sementara kunjungan pasien umum menurun, saat ini lebih dari 90 % masyarakat Kota Bandung sudah terdaftar sebagai peserta BPJS. Hal ini terlihat dari grafik berikut: Grafik 2.1 : Kunjungan Pasien BBKPM Bandung Tahun 2016-2018. Seiring dengan pertumbuhan/peningkatan pasien BPJS ini, peraturan mengenai BPJS pun berkembang dan berubah, salah satunya dengan adanya peraturan BPJS tentang Sistem rujukan berjenjang berbasis kompetensi yang membatasi beberapa pelayanan di BBKPM sebagai Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (Klinik Utama) seperti : 1. Pasien Asma-PPOK yang biasa berobat berkala 1-2 minggu sekali dibatasi hanya 1 bulan sekali. 2. Apabila terdapat penyakit penyerta dari penyakit utamanya, pasien harus berobat ke dokter spesialis sesuai kompetensinya 3. Pasien dengan keluhan yang dapat ditangani oleh Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di BBKPM harus membawa rujukan dari Dokter Spesialis terkait, sehingga bila ditangani juga oleh petugas Rehabilitasi Medik, maka biaya yang diajukan tidak dapat diklaim ke BPJS. 36.
(53) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 4. Adanya pembatasan jaminan pelayanan rehabilitasi medik paling banyak 2 kali per peserta per minggu Sehingga berdampak pada jumlah kunjungan pasien, terutama pasien BPJS. Grafik : 2.2 : Jumlah Kunjungan Kinik Asma-PPOK Tahun 2016-2018. Rehabilitasi medik, walaupun jumlah kunjunganya menurun namun jumlah jenis pemeriksaan mengalami peningkatan dengan pertumbuhan 1,18. Tabel 2.8 : Pertumbuhan Pemeriksaan Rehab Medik NO. JENIS PEMERIKSAAN. 2017. SMT 1-2018. 1. MICROWAVE DIATHERMI (MWD). 1.137. 389. 2. ULTRASOUND DIATHERMI (USD). 37. 24. 3. POSTURAL DRAINAGE. 55. 22. 4. NEBULIZER. 1.430. 753. 5. LATIHAN PERNAFASAN. 549. 183. 6. MUSKULOSKELETAL EXCERCISE. 411. 264. 7. EKG. 176. 101. 8. EXCERCISE TEST ( TREADMILL). 9. -. 9. STATIC BICYCLE. 219. 126. 10. TENS. 129. 148. 11. PEAK FLOW METER. 31. 42. 12. SPIROMETRI. 234. 258. 13. INFRA RED. 47. 86. 14. 6 MINUTE WALK TEST. 5. 3. 15. BRONKODILATOR TEST. 203. 234. 16. ELECTICAL STIMULATION (ES). -. 34. 17. ENDYNAMIC EXERCISE. -. -. 18. TREADMILL EXERCISE. 186. 76. Jumlah Pemeriksaan. 4.858. 2.743. Rata-rata Per Hari. 20,3. 24,1. 37.
(54) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Dalam hal efisiensi pelayanan indikator rasio pasien rawat jalan dengan dokter pada semester 1 tahun 2018 ini adalah 12,35 artinya dengan rata-rata kunjungan rawat jalan per hari sebanyak 222 pasien yang ditangani oleh 18 orang dokter fungsional hanya 12,35 pasien per dokter, adapun prognosa akhir tahun dengan rata-rata kunjungan rawat jalan per hari sebanyak 255 pasien ditangani oleh 18 orang dokter fungsinal maka rasionya 14,14 pasien per dokter, hal ini masuk dalam kategori cukup baik (>10 pasien) dan masih tertangani. Begitupun dengan indikator rasio rawat jalan dengan perawat sebesar 8,6 dimana dengan rata-rata jumlah kunjungan rawat jalan 222 pasien per hari ditangani oleh 26 orang perawat masih dalam kategori baik (>8 pasien). Rasio jumlah pemeriksaan laboratorium dengan jumlah analis laboratorium pada semester 1 tahun 2018 ini adalah 20,04 dimana dari ratarata pemeriksaan per hari sebanyak 260,5 pemeriksaan yang dilakukan oleh 13 orang analis kesehatan. Hal ini masuk dalam kategori cukup karena idealnya adalah 10-15 pemeriksaan per analis kesehatan, dengan kata lain kekurangan tenaga analis laboratorium. Rata-rata jumlah pemeriksaan radiologi per hari sebanyak 58,82 pemeriksaan yang dilakukan oleh 5 orang radiographer sehingga rasio jumlah pemeriksaan radiologi dengan petugas radiographernya adalah 11,76 pemeriksaan per hari. Berdasarkan pedoman penilaiannya masih masuk kategori baik (10-15 pemeriksaan).. 38.
(55) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Angka kegagalan hasil radiologi sebesar 0,78% didapat dari 6.706 pemeriksaan radiologi selama semester 1 tahun 2018 terdapat kegagalan pemeriksaan sebanyak 52 pemeriksaan atau rata-rata 0,46 kegagalan per hari dari rata-rata 58,82 pemeriksaan per hari. Persentase nilai obat kadaluarsa pada semester 1 tahun 2018 adalah 0,93% artinya dari 250 jenis obat yang tersedia, selama 6 bulan hanya 14 jenis atau rata-rata2,33 jenis obat saja yang kadaluarsa. Hal ini tentunya sangat baik karena masih <1% yang merupakan skor tertinggi. Angka Pengulangan pemeriksaan Laboratorium semester 1 tahun 2018 sebesar 0% atau dengan kata lain tidak terdapat pemeriksaan laboratorium yang diulang. Dari rata-rata jumlah berkas rekam medik per hari pada rentang semester 1 tahun 2018 ini yaitu sebanyak 219 berkas per hari dikembalikan pada rekam medic dalam waktu 24 jam sebanyak 219 sehingga rasio pengembaliannya adalah 100% yang masih masuk pada kategori baik (>80%). Dalam aspek mutu dan manfaat kepada masyarakat kelompok indikator mutu pelayanan antara lain : Emergency response time rate, WTRJ, WPROJ, WTHL, WTHR, WTST dan WTPK, BBKPM Bandung memiliki skor maksimal dimana waktu/kecepatan pelayanannya sangat baik. Begitupun dengan Indikator Mutu Klinik seperti angka kematian. Angka kematian di Gawat Darurat dihitung secara persentase berdasarkan perbandingan antara jumlah kematian pasien yang telah dilayani di IGD BBKPM Bandung. Dari totalpasien sebanyak 449 pasien kategori gawat. 39.
(56) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. darurat pada IGD BBKPM Bandung, selama semester 1 tahun 2018 tidak ada yang meninggal sehingga nilainya adalah nol. Kesalahan pemeriksaan laboratorium adalah kesalahan pembacaan mikroskopis BTA pada uji silang metoda LQAS (Lot Quality Assurance System) yang dilakukan oleh analis laboratorium kesehatan BBKPM. Angka kesalahan laboratorium merupakan rata-rata dalam satu tahun berjalan. Adapun nilai untuk perhitungan tiap pembacaan mikroskopis BTA yang dilakukan uji silang di BBKPM Bandung selama semester 1 ini tidak ada kesalahan pembacaan (betul). Proporsi pasien TB BTA positif diantara suspek adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Dari 2.202 pasien suspek TB yang diperiksa selama semester 1 tahun 2018 hanya 311 pasien yang ditemukan atau hanya 14,1%. Angka kesembuhan pasien adalah angka yang menunjukan presentase pasien TB paru BTA positif yang sembuh setelah selasai masa pengobatan diantara pasien TB paru BTA positif yang tercatat/diobati. Dari 115 pasien TB paru BTA positif yang tercatat/diobati hanya 103 pasien yang sembuh atau hanya 89,6%. Kesalahan pelayanan obat adalah kesalahan petugas bagian farmasi dalam memberikan obat kepada pasien. Dari 20.039 lembar resep obat jadi maupun obat racik selama semester 1 tahun 2018 tidak ada kesalahan, sehingga nilainya nol (0%).. 40.
(57) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Untuk perspektif kepedulian kepada masyarakat dalam hal ini program pembinaan kepada pusat kesehatan masyarakat dan saranakesehatan lain, pada BBKPM Bandung program tersebut berupa bina wilayah di 13 provinsi, untuk tahun ini ditargetkan 4 provinsi dimana sudah dilaksanakan semuanya. Pelayanan Pasien Tidak Mampu, dari 25.441 pasien IRJ dan IRNAP selama semester 1 BBKPM Bandung telah melayani pasien tidak mampu yang menggunakan BPJS PBI sebanyak 3.731 pasien atau hanya 14,67%. Program pemberdayaan masyarakat di BBKPM Bandung berupa pembentukan komunitas paru sehat dikalangan masyarakat, dimana pada semester ini yang telah terbentuk dan terdeklarasi komunitas TB dan Asma. Dalam perspektif kepuasan pelanggan, survey yang dilakukan terhadap kepuasan pelanggan semester 1 tahun 2018 adalah 85,04%. Sementara penanganan terhadap pengaduan/komplen 100% ditanggapi. Dalam rangka penilaian perpektif kepedulian terhadap lingkungan, BBKPM Bandung melaksanakan Program BBKPM Berseri antara lain: Pengelolaan Kebersihan Area Gedung dan Halaman; Penataan Taman; Pengelolaan limbah cair; Pengelolaan limbah padat medis; Pest rodent control; PPI; Pengelolaan APAR. Penilaian proper lingkungan berdasarkan penilaian KLH (UU No. 32 Tahun 2009), untuk semester 1 tahun 2018 ini BBKPM Bandung sedang melakukan penataan terhadap penilaian proper ini. Dan jika berdasarkan Self Assessment yang telah dilakukan saat ini berada pada peringkat merah.. 41.
(58) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Tabel 2.9 : Capaian Kinerja berdasarkan RSB NO. SASARAN PROGRAM/ KEGIATAN. I. Financial Perspective A. II. Terwujudnya optimalisasi pendapatan dari Pelayanan Kesehatan Paru. INDIKATOR KINERJA. TARGET. REALI SASI SEMES TER I2018. PROG NOSA 2018. 12,6M. 4,7M. 11,3M. 1. Jumlah pendapatan (Rp). 2. % kepuasan pasien pelayanan kesehatan paru. 85%. 85,04%. 86%. 3 4. % kepuasan lembaga/institusi % kepuasan peserta peneliti dan diklat. 85% 85%. 90,69% 88,94%. 90% 88%. 5. % kepuasan pegawai BBKPM Bandung. 83%. 61,11%. 83%. Terwujudnya kualitas dan kuantitas penelitian dan diklat kesehatan paru. 6. % Penelitian kesehatan paru terimplementasi. 85%. 50,00%. 85%. 7. % Terlaksananya Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Paru. 85%. 55,20%. 85%. Terwujudnya Pelayanan Prima Kesehatan Paru Masyarakat dengan Unggulan Asma-PPOK. 8. Akreditasi Kelembagaan BBKPM. 100%. 50,00%. 90%. 9. % Tindak lanjut hasil temuan Audit Sistem Manajemen. 100%. 56,25%. 100%. 10. % Tindak lanjut hasil temuan Audit Keuangan. 100%. 50,00%. 100%. 11. % Layanan pasien Asma dan PPOK. 99%. 100,00 %. 100%. 12. % tersusun dan terimplementasinya program pembinaan wilayah kerja BBKPM Bandung di 13 provinsi. 4 Propinsi. 5 Propinsi. 7. 13. MOU/kejasama terimplementasi. 25. 14. 25. 14. % Waktu layanan. 70%. 66,50%. 76,17%. 15. % Utilisasi sumber daya manusia % Utilisasi peralatan layanan kesehatan paru. 75%. 65,31%. 74,78%. 70%. 90,37%. 84,61%. Stakeholder. A. III. A. B. C. D. IV. A. Terwujudnya Kepuasan Stakeholder. Internal Bussines Process. Terwujudnya kerjasama lintas sektor dan lintas program dibidang kesehatan paru masyarakat Terwujudnya Efisiensi Pelayanan Kesehatan Paru BBKPM Bandung. 16. Learn & Growth Perspective Terpenuhinya sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan baik kualitas maupun kuantitas dalam pelayanan kesehatan paru masyarakat. 17. % pengembangan sarana gedung Layanan kesehatan paru. 100%. 100%. 100%. 18. % peralatan utama dan penunjang kesehatan paru sesuai best practice. 100%. 100%. 100%. 19. % kelengkapan peralatan & sarana kesehatan paru untuk aktivitas di luar gedung. 100%. 100%. 100%. 42.
(59) 2019. REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. NO. SASARAN PROGRAM/ KEGIATAN. B. Terwujudnya manajemen SDM excellent. C. Terwujudnya sistem informasi Kesehatan yang terpadu dan berdaya guna di BBKPM Bandung. D. Terwujudnya Budaya Berkinerja. INDIKATOR KINERJA. 20 21. % Penilaian Kinerja dan Insentif Pegawai % SDM sesuai dengan kebutuhan. TARGET. REALI SASI SEMES TER I2018. PROG NOSA 2018. 90%. 95,19%. 96%. 80%. 70,08%. 80%. 22. % Tersusunnya dan terimplementasinya roadmap pengembangan Sistem Informasi BBKPM terintegrasi. 92%. 85%. 92%. 23. % Terkoneksinya Sistem Informasi BBKPM dengan sistem rujukan antar rumah sakit se Bandung Raya (SPGDT). 80%. 80%. 80%. 24. %Personil yang kompeten. 96%. 97,70%. 96,92%. Realisasi Pendapatan Usaha dari Jasa Layanan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2018 secara Akrual adalah sebesar Rp.3.014.984.697,(23,93%) dari target sebesar Rp. 12.600.000.000,-. Adapun pendapatan tersebut terdiri atas Pendapatan Jasa Layanan dari Masyarakat sebesar Rp. 2.902.285.572,- dan Pendapatan BLU Lainnya (Pendapatan Jasa Giro dan Deposito). Rp. 112.699.125,. Namun jika dihitung berdasarkan Cash. capaiannya adalah sebesar Rp. 4.727.797.000,- (37,50%). Indeks kepuasan pasien pelayanan kesehatan paru dari hasil survey periode semester 1 tahun 2018 tercapai 85,04% dari target yang ditetapkan sebesar 85%. Hal ini menandakan bahwa pelayanan kesehatan paru BBKPM semakin baik dan meningkat. Kenaikan capaian indeks ini berkat kerja keras seluruh pihak yang terlibat di BBKPM Bandung pada komitmen memberikan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen dengan Budaya Pelayanan 3 (tiga) S nya yaitu: Senyum, Salam, Sapa. Serta komitmen terhadap nilai-nilai RAPI BBKPM Bandung (Responsif, Amanah, Profesional dan Inovatif).. 43.
(60) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. Peningkatan kualitas pelayanan dan sarana prasarana serta komitmen budaya kerja, juga berdampak pada Indeks kepuasan lembaga/institusi tercapai 90,63% dari target yang direncanakan sebesar 85%. Sedangkan indeks kepuasan peserta peneliti dan diklat pada semester 1 tahun 2018 berada diangka 88,11%. Dalam rangka mewujudnya kualitas dan kuantitas penelitian dan diklat kesehatan paru di BBKPM Bandung, dilihat dari indikator pelaksanaan penelitian dan pendidikan kesehatan paru. Untuk pelaksanaan penelitian di tahun 2018 ini hanya ada 1 penelitian dengan judul “Faktor Yang Mempengaruhi Angka Kesembuhan TBC di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung” dimana proses penelitian ini sedang dilaksanakan. Adapun tim penelitinya sesuai dengan Surat Keputusan Kepala BBKPM Bandung Nomor. HK.02.03/XLV.I/1301/2018 yang ditetapkan di Bandung tanggal 21 Maret 2018. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Paru di BBKPM Bandung terdiri dari kegiatan: Program Paru Komunitas, Sosialisasi Advokasi Kesehatan Paru, Simposium Forum Ilmiah Respirasi, Bimbingan Teknis Tenaga Kesehatan, Workshop/Seminar Ilmiah Kesehatan Paru, On The Job Training Kesehatan Paru, Penyuluhan Luar Gedung, Peningkatan Kapasitas SDM dan Transformasi Budaya Kerja. Akreditasi kelembagaan BBKPM Bandung, sebagaimana tercantum pada indikator kinerja sebelumnya mengacu pada Akreditasi KARS, namun dikarenakan kendala status Balai yang tidak ada akreditasi, maka untuk. 44.
(61) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. indicator akreditasi kelembagaan ini mengacu pada sertifikasi manajemen mutu ISO 9001:2015. Dimana proses audit sertifikasi manajemen telah selesai dilakukan namun masih menunggu hasil auditnya serta sertifikatnya. Persentase tindak lanjut hasil temuan Audit Sistem Manajemen tercapai 56,25% sedangkan persentase Temuan Audit Keuangan tercapai sesuai target 50,00%. Persentase layanan pasien Asma-PPOK yang merupakan layanan unggulan BBKPM Bandung tercapai 100%. Dalam rangka mewujudkan sasaran startegis terwujudnya kerjasama lintas sektor dan lintas program dibidang kesehatan paru masyarakat, BBKPM Bandung melakukan program pembinaan wilayah (binwil) di 13 provinsi. Kegiatan bina wilayah dan bimbingan teknis secara tidak langsung dapat dimanfaatkan sebagai promosi ke wilayah kerja tentang pelayanan yang tersedia di BBKPM Bandung sebagai fasilitas kesesehatan (Faskes) rujukan paru strata 2, BBKPM Bandung juga memiliki tenaga-tenaga yang kompeten dibidangnya yang dapat menjadi narasumber untuk diseminasi informasi masalah kesehatan paru di wilayah kerja. Bimbingan teknis (Bimtek) merupakan program unggulan seksi Pengembangan Sumber Daya. Bimtek merupakan tupoksi utama BBKPM yang menangani kesehatan paru masyarakat dan dengan kegiatan bimtek ini, sumber daya manusia di puskesmas semakin ditingkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya sehingga pelayanan kesehatan paru di puskesmas akan meningkat yang berdampak kepada pencegahan/preventif terjadinya kasus penyakit paru di masyarakat. Adapun realisasi capaian pembinaan wilayah. 45.
(62) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. BBKPM Bandung semester 1 tahun 2018 sebanyak 5 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Bengkulu dan Riau. Disamping melaksanakan program bina wilayah, dalam rangka mewujudkan. sasaran. tersebut,. BBKPM. Bandung. melaksanakan. MoU/kerjasama. Adapun jumlah MoU/kerjasama terimplementasi sampai semester 1 tahun 2018 sebanyak 14 Instansi. Persentase waktu layanan BBKPM Bandung pada semester 1 tahun 2018 ini tercapai hanya 66,5% dari target sebesar 70%, adapun perhitungan waktu layanan untuk saat ini baru sebatas waktu layanan dokter dan perawat saja. Dimana waktu layanan efektif pada rawat jalan untuk 1 orang dokter per hari hanya 185 menit dan seorang perawat 214 menit dari standar waktu layanan 300 menit per hari. Begitupun dengan persentase utilisasi sumber daya manusia tercapai 65,31% dari target 75%. Dimana rasio pasien-dokter 12,35 dari rasio ideal 20 serta rasio pasien-perawat 8,55 dari rasio ideal 12 paisen. Sedangkan untuk indikator persentase utilisasi peralatan layanan kesehatan paru tercapai 90,40%. Diharapkan dengan pencapaian indikator ini dapat mewujudkan sasaran strategis terwujudnya efisiensi pelayanan kesehatan paru BBKPM Bandung. Indikator Pengembangan sarana dan prasarana gedung layanan kesehatan paru sampai pada semester 1 tahun 2018 ini sudah tercapai 100%. Capaian pengembangan sarana prasarana gedung ini dilihat dari telah terselesaikannya rencana pembangunan gedung BBKPM Bandung mulai dari. 46.
(63) REVISI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN. 2019. gedung A pada Tahun 2013 dan Gedung B tahap I Tahun 2015, tahap II Tahun Anggaran 2016 serta penyelesaian ruang genset dan power house dilakukan pada Tahun 2017. Persentase kelengkapan peralatan utama dan penunjang kesehatan paru sesuai best practice tercapai 100%. Saat ini Pelayanan Kesehatan BBKPM Bandung berada pada Strata II, berstatus sebagai Klinik Utama dimana kelengkapan peralatan mengacu kepada RS Paru Kelas B. Dalam mewujudkan manajemen SDM excellent, BBKPM Bandung melakukan Penilaian Kinerja dan Insentif Pegawai, adapun capaian persentase penilaian kinerja dan insentif pegawai pada semester 1 tahun 2018 tercapai 95,19%, penilaian kinerja dan insentif pegawai ini hanya untuk pegawai yang berstatus PNS dan aktif, penilaian dilakukan setiap bulan sebagai dasar perhitungan remunerasi dengan mengacu pada pedoman penilaian kinerja yang telah disusun. Sedangkan dalam hal kesesuain SDM dengan kebutuhan, hasil yang dicapai pada semester 1 tahun 2018 ini adalah 70,08%. Dalam mencapai sasaran terwujudnya system informasi Kesehatan yang terpadu dan berdaya guna di BBKPM Bandung, BBKPM Bandung telah menyusun roadmap pengembangan Sistem Informasi, adapun capaian implementasi roadmap Sistem Informasi BBKPM terintegrasi baru tercapai 85% dari target 92% dimana saat ini infrastruktur dan platform sistem informasi sudah bisa mendukung module data anamnesa by sytem informasi.. 47.
Dokumen terkait
,. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan. )entukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.. -erikan informasi
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL j HALAMAN PENGESAHAN , jj HALAMAN PERSEMBAHAN in KATA PENGANTAR jv DAFTAR ISI vi DAFTAR GAMBAR x. DAFTAR
[r]
4. Menentukan prosedur pengolahan data-data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisa. Untuk pemetaan bangunan bersejarah akan.. menetapkan posisi
Penerapan sistem blok pada produksi kapal memungkinkan pembuatan bagian-bagian konstruksi kapal dapat dilakukan secara bersamaan tanpa harus menunggu pekerjaan lainnya dan
kompetensi dasar konsep pemasaran online disajikan sebagai berikut: Dalam proses pengembangan media, diawali dengan tahap pendefinisian Di tahap pendefinisian peneliti
Apa yang ditunjukkan pada desain anoda dengan rongga anoda lurus (Gambar 3a dan Gambar 3b) menunjukkan bahwa anoda dengan ruang ionisasi yang lebih besar ternyata menghasilkan
11.1 Dalam keadaan di mana UiTM memperoleh hasil daripada pengkomersilan sesuatu Harta Intelek, Hasil Pengkomersilan tersebut akan diagihkan di antara UiTM dengan Staf,