JURNAL ILMIAH KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN MAJAPAHIT
HOSPITAL
MAJAPAHIT VOL 4 NO. 1 Hlm.
1 - 82
Mojokerto Pebruari 2012
ISSN 2085 - 0204 ANJAR ISTIANTO
EKA DIAH KARTININGRUM, SKM
Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia Di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto
BADRIYAH
SARMINI MOEDJIARTO, M.MPd
Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Kehadiran Balita Di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember
EKA KUSFARINI NURSAIDAH, M.Kes
Pendampingan Suami Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Saat Menghadapi Proses Persalinan Di BPS Ny. Hj. Amalia Amd.Keb Simogirang Prambon
Sidoarjo EKA NONITASARI IKA KHUSNIA, S.Kep.Ns
Perbandingan Gejala PMS Antara Siswi Yang Aktif Dan Tidak Aktif Olahraga Lari Pada Siswi Di Smp Penanggungan Ngoro-Trawas Mojokerto
LATIFATUL ISHAQ FARIDA YULIANI, S.SiT, SKM
Ukuran Lingkar Lengan Atas Dengan Berat Badan Bayi Lahir Di BPS Ana Susanti Balongbendo 2010
RISFAN BATUATAS TRIPENI, S.ST. M.Kes
Pengaruh Peran Ibu Dengan Keberhasilan Toilet Training Pada Anak Usia Toddler Di Play Group Tarbiyatush Shibiyan Mojoanyar Mojokerto
NURUL AINI
Faktor- Faktor Yang Melatarbelakangi Perilaku Merokok Pada Remaja Di SMK “Raden Patah” Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto
HOSPITAL MAJAPAHIT
Media ini terbit dua kali setahun yaitu pada bulan Pebruari dan Bulan Nopember diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Kesehatan Majapahit, berisi artikel hasil penelitian tentang kesehatan
yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris Pembina
Ketua Yayasan Politeknik Kesehatan Majapahit Nurwidji
Pelindung
Direktur Politeknik Kesehatan Majapahit dr. Rahmi, S.A.
Ketua Penyunting
Eka Diah Kartiningrum, SKM.
Wakil Ketua Penyunting Nurul Hidayah, S.Kep., Ners.
Penyunting Pelaksana Dwi Helynarti, S.Si.
Anwar Holil, M.Pd.
Penyunting Ahli Prof. Dr. Moedjiarto, M.Sc.
Sarmini Moedjiarto, S.Pd., MM.Pd.
Nursaidah, M.Kes
Rifa’atul Laila Mahmudah, M.Farm.Klin
Distribusi
Indriyanti. T.W, Amd.Akt Yudha Lagha HK, S.Psi
Alamat Redaksi :
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363 Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736
Email : [email protected] BIAYA BERLANGGANAN
Rp. 20.000,-/Eks + Biaya Kirim
Pengantar Redaksi,
Tema hari kesehatan sedunia tahun 2012 yakni ”Ageing and Health” atau Penuaan dan Kesehatan menginspirasi para peneliti Poltekkes Majapahit untuk sedikit mengupas seputar status kesehatan lanjut usia, sedangkan untuk menjelaskan lebih dalam tentang kesehatan yang diurai dalam jurnal Hospital Majapahit Vol 2 no 2 adalah tentang kesehatan balita, ibu dan remaja.
Artikel yang pertama ditulis oleh Anjar Istianto dan Eka Diah Kartiningrum, SKM yang menguraikan tentang Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia Di Desa Kebonagung Puri Mojokerto. Dalam artikel ini dijelaskan peranan penting keluarga dalam mengatur diit lansia serta merencanakan semua bentuk menu makanan yang sangat dibutuhkan pada usia tersebut.
Peranan penting keluarga sangat dibutuhkan mengingat tingginya ketergantungan lansia pada orang sekitar. Peranan keluarga yang negative dapat menyumbangkan munculnya masalah gizi pada lansia yang berarti meningkatkan jumlah kejadian gizi buruk maupun obesitas yang berdampak pada turunnya angka harapan hidup lansia.
Artikel yang kedua ditulis oleh Badriyah dan Sarmini Moedjiarto, M.MPd yang menjelaskan tentang Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Kehadiran Balita Di Posyandu Desa Kamal Arjasa Jember. Kehadiran Balita di Posyandu memegang peranan penting dalam monitoring status gizi balita. Melalui posyandu kejadian gizi buruk balita yang kerap muncul sejak tahun 2007 sebagai penunjuk awal krisis moneter dapat diturunkan. Namun seringkali karena kesibukan orang tua khususnya ibu yang harus bekerja, angka absensi kunjungan posyandu oleh balita semakin rendah. Sehingga upaya pemberian PMT diharapkan bisa menjadi motivasi yang dapat meningkatkan angka kunjungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata pemberian makanan tambahan yang menarik mampu meningkatkan minat berkunjung ke posyandu. Oleh sebab itu penting bagi pengelola program posyandu untuk memperhatikan faktor yang dapat meningkatkan motivasi ibu dan balita untuk berkunjung ke posyandu sebagai upaya mencegah gizi buruk pada kelompok yang rawan yaitu ibu dan bayi/balita.
Artikel yang ketiga mengenai Pendampingan suami dengan tingkat kecemasan ibu saat menghadapi proses persalinan di BPS Ny. Hj. Amalia Amd.Keb Simogirang Prambon Sidoarjo yang ditulis oleh Eka Kusfarini dan Nursaidah, MKes. Proses persalinan selalu menimbulkan kecemasan tersendiri terutama yang dialami oleh pendamping persalinan dalam hal ini biasanya adalah suami. Namun selain suami, ibu bersalin juga mengalami kecemasan yang tak kalah tinggi. Kecemasan ibu bersalin dapat meningkatkan tensi serta berakibat pada terjadinya eklampsia yang terakhir justru berdampak pada kematian ibu bersalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendampingan suami dengan kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan. Ibu yang bersalin dengan didampingi suami merasa sedikit lebih tenang daripada tanpa pendampingan suami. Pendampingan suami memberikan dampak secara psikologis sehingga ibu mampu menjalani persalinan dengan cepat, aman dan lancar sehingga menjamin keselamatan baik pada ibu maupun bayinya.
Artikel yang keempat ditulis oleh Eka Nonitasari dan Ika Khusnia, S.Kep.Ns yakni tentang Perbandingan gejala PMS antara siswi yang aktif dan tidak aktif olahraga lari pada siswi SMP Penanggungan Ngoro Trawas Mojokerto. Gejala PMS merupakan gejala yang mampu menghambat aktivitas setiap remaja. Bahkan dalam kondisi tertentu remaja sama sekali tidak bisa beraktivitas selama mengalami PMS. Namun olahraga ditemukan sebagai salah satu cara
mampu meningkatkan produksi hormon endorfin yang menimbulkan rasa gembira, selain itu dapat menurunkan kadar kortisol dan epinefrin pada urin setelah 24 jam yang berperan menurunkan kadar pada fase luteal dalam siklus haid. Karena pada fase luteal yang menyebabkan wanita merasa kurang happy dan nyeri-nyeri, seperti nyeri haid atau sakit kepala. Karena merasa tidak happy inilah yang menyebabkan si wanita menjadi badmood, sensitif, gampang sedih, discouraged dalam menimbulkan gejala psikologis pada saat mengalami PMS.
Artikel yang kelima mengenai ukuran lingkar lengan atas dengan berat badan bayi lahir di BPS Ana Susanti Balong bendo tahun 2010 yang ditulis oleh Latifatul Ishaq dan Farida Yuliani, S.SiT.,SKM. Ibu hamil dengan status gizi yang buruk dapat melahirkan bayi dengan berat lahir yang rendah bahkan meninggal. Banyak resiko yang membahayakan bagi ibu maupun bayinya pada saat kondisi status gizi sangat buruk. Salah satu cara untuk mengukur status gizi ibu hamil adalah melalui ukuran LILA (Lingkar Lengan Atas). Ibu hamil dengan LILA yang < 23,5 cm mengalami masalah gizi yang sangat kronis sehingga melahirkan bayi dengan berat < 2500 gram. Hal tersebut bisa terjadi akibat intake yang tidak adekuat sebelum dan selama kehamilan. Kekurangan intake yang sehat dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan janin dalam kandungan. Monitoring gizi yang baik selama kehamilan hendaknya diperhatikan untuk menurunkan angka kejadian kematian ibu dan bayi.
Artikel yang terakhir ditulis oleh Risfan Batuatas dan Tripeni, S.ST.MKes yang menjelaskan tentang pengaruh peran ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak usia Toddler di Playgroup Tarbiyatush Shibiyan Mojoanyar Mojokerto. Tingkat keberhasilan toilet training disebabkan karena peranan ibu dalam menstimulus toddler agar terbiasa melakukan toileting setelah buang air. Kesabaran ibu dalam mendidik dan mengajari anak tentang cara penting toilet training mampu menciptakan balita yang mandiri dan tidak tergantung pada orang tua setiap selesai buang air.
Semua artikel diatas merupakan hasil pemikiran dan penelitian civitas akademik Poltekkes Majapahit yang diharapkan mampu memberikan masukan dan rekomendasi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seluruh masyarakat Indonesia.
Redaksi,
Kebijakan Editorial dan Pedoman Penulisan Artikel
Kebijakan Editorial
Jurnal Hospital Majapahit diterbitkan oleh Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto secara berkala (setiap 6 bulan) dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi hasil penelitian, artikel ilmiah kepada akademisi, mahasiswa, praktisi dan lainnya yang menaruh perhatian terhadap penelitian-penelitian dalam bidang kesehatan. Lingkup hasil penelitian dan artikel yang dimuat di Jurnal Hospital Majapahit ini berkaitan dengan pendidikan yang dilakukan oleh Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto.
Jurnal Hospital Majapahit menerima kiriman artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Penentuan artikel yang dimuat dalam Jurnal Hospital Majapahit dilakukan melalui proses blind review oleh editor Hospital Majapahit. Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penentuan pemuat artikel, antara lain : terpenuhinya syarat penulisan dalam jurnal ilmiah, metode penelitian yang digunakan, kontribusi hasil penelitian dan artikel terhadap perkembangan pendidikan kesehatan. Penulis harus menyatakan bahwa artikel yang dikirim ke Hospital Majapahit, tidak dikirim atau dipublikasikan dalam majalah atau jurnal ilmiah lainnya.
Editor bertanggung jawab untuk memberikan telaah konstruktif terhadap artikel yang akan dimuat, dan apabila dipandang perlu editor menyampaikan hasil evaluasi artikel kepada penulis.
Artikel yang diusulkan untuk dimuat dalam jurnal Hospital Majapahit hendaknya mengikuti pedoman penulisan artikel yang dibuat oleh editor. Artikel dapat dikirim ke editor Jurnal Hospital Majapahit dengan alamat :
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363 Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736, Email : [email protected]
Pedoman Penulisan Artikel.
Penulisan artikel dalam jurnal kesehatan hospital majapahit yang diharapkan menjadi pertimbangan penulis.
Format.
1. Artikel diketik dengan spasi ganda pada kertas A4 (210 x 297 mm).
2. Panjang artikel maksimum 7.000 kata dengan Courier atau Times New Roman font 11 – 12 atau sebanyak 15 sampai dengan 20 halaman.
3. Margin atas, bawah, samping kanan dan samping kiri sekurang kurangnya 1 inchi.
4. Semua halaman sebaiknya diberi nomor urut.
5. Setiap table dan gambar diberi nomor urut, judul yang sesuai dengan isi tabel atau gambar serta sumber kutipan.
6. Kutipan dalam teks menyebutkan nama belakang (akhir) penulis, tahun, dan nomor halaman jika dipandang perlu. Contoh :
a. Satu sumber kutipan dengan satu penulis (Rahman, 2003), jika disertai dengan halaman (Rahman, 2003:36).
b. Satu sumber kutipan dengan dua penulis (David dan Anderson, 1989).
c. Satu sumber kutipan dengan lebih dari satu penulis (David dkk, 1989).
d. Dua sumber kutipan dengan penulis yang sama (David, 1989, 1992), jika tahun publikasi sama (David, 1989a, 1989b).
e. Sumber kutipan dari satu institusi sebaiknya menyebutkan singkatan atau akronim yang bersangkutan (BPS, 2007: DIKNAS, 2006).
Isi Tulisan.
Tulisan yang berupa hasil penelitian disusun sebagai berikut :
Abstrak, bagian ini memuat ringkasan artikel atau ringkasan penelitian yang meliputi masalah penelitian, tujuan, metode, hasil, dan kontribusi hasil penelitian. Abstrak disajikan diawal teks dan terdiri antara 200 sampai dengan 400 kata (sebaiknya disajikan dalam bahasa inggris).
Abstrak diberi kata kunci (key word) untuk memudahkan penyusunan indeks artikel.
Pendahuluan, menguraikan kerangka teoritis berdasarkan telaah literatur yang menjadi landasan untuk menjadi hipotesis dan model penelitian.
Kerangka Teoritis, memaparkan kerangka teoritis berdasarkan telaah literatur yang menjadi landasan untuk mengembangkan hipotesis dan model penelitian.
Metode Penelitian, memuat pendekatan yang digunakan, pengumpulan data, definisi Dan pengukuran variable serta metode dan teknik analisis data yang digunakan.
Hasil Penelitian, berisi pemaparan data hasil tentang hasil akhir dari proses kerja teknik analisis data, bentuk akhir bagian ini adalah berupa angka, gambar dan tabel.
Pembahasan, memuat abstraksi peneliti setelah mengkaji hasil penelitian serta teori – teori yang sudah ada dan dijadikan dasar penelitian.
Daftar Pustaka, memuat sumber-sumber yang dikutip dalam artikel, hanya sumber yang diacu saja yang perlu dicantumkan dalam daftar pustaka.
Berry, L. 1995. “Ralationship Marketing of Service Growing Interest, Emerging Perspective”.
Journal of the Academy Marketing Science. 23. (4) : 236 – 245.
Buku :
Asnawi SK dan Wijaya C. 2006. Metodologi Penelitian Keuangan, Prosedur, Ide dan Kontrol.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Artikel dari Publikasi Elekronik :
Orr. 2002. “Leader Should do more than reduce turnover”. Canadian HR Reporter. 15, 18, ABI/INFORM Research. 6 & 14 http://www.proquest.com/pqdauto[06/01/04].
Majalah :
Widiana ME, 2004. “Dampak Faktor-Faktor Pemasaran Relasional dalam Membentuk Loyalitas Nasabah pada Bisnis Asuransi”. Majalah Ekonomi. Tahun XIV. (3) : 193-209.
Pedoman :
Joreskog and Sorbom. 1996. Prelis 2 : User’s Reference Guide, Chicago, SSI International.
Simposium :
Pandey. LM. 2002. Capital Structur and Market Power Interaction : evidence from Malaysia, in Zamri Ahmad, Ruhani Ali, Subramaniam Pillay. 2002. Procedings for the fourt annual Malaysian Finance Assiciation Symposium. 31 May-1. Penang. Malaysia.
Paper :
Martinez and De Chernatony L. 2002. “The Effect of Brand Extension Strategies Upon Brand Image”. Working Paper. UK : The University of Birmingham.
Undang-Undang & Peraturan Pemerintah :
Widiana ME, 2004. “Dampak Faktor-Faktor Pemasaran Relasional dalam Membentuk Loyalitas Nasabah pada Bisnis Asuransi”. Majalah Ekonomi. Tahun XIV. (3) : 193-209.
Skripsi, Thesis, Disertasi :
Christianto I. 2008. Penentuan Strategi PT Hero Supermarket Tbk, Khususnya pada Kategori Supermarket di Kotamadya Jakarta Barat berdasarkan Pendekatan Analisis Konsep Three Stage Fred R. David (Skripsi). Jakarta : Program Studi Manajemen, Institut Bisnis dan Informatika Indonesia.
Surat Kabar :
Gito. 26 Mei 2006. Penderes. Perajin Nira Sebagian Kurang Profesional. Kompas: 36 (Kolom 4-5).
Penyerahan Artikel :
Artikel diserahkan dalam bentuk compact disk (CD) dan dua eksemplar cetakan kepada : Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363 Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736,
Email : [email protected]
DAFTAR ISI
PERAN KELUARGA DALAM ASUPAN NUTRISI LANSIA DI DESA KEBONAGUNG KECAMATAN PURI KABUPATEN MOJOKERTO ... 1 Anjar Istianto
Eka Diah Kartiningrum, SKM
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN TERHADAP KEHADIRAN BALITA DI POSYANDU DESA KAMAL KECAMATAN ARJASA KABUPATEN JEMBER ... 12 Badriyah
Sarmini Moedjiarto, M.MPd
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
PENDAMPINGAN SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU SAAT MENGHADAPI PROSES PERSALINAN DI BPS NY. HJ. AMALIA AMD.KEB SIMOGIRANG PRAMBON SIDOARJO ... 22 Eka Kusfarini
Nursaidah, M.Kes
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
PERBANDINGAN GEJALA PMS ANTARA SISWI YANG AKTIF DAN TIDAK AKTIF OLAHRAGA LARI PADA SISWI DI SMP PENANGGUNGAN NGORO- TRAWAS MOJOKERTO ... 36 Eka Nonitasari
Ika Khusnia, S.Kep.Ns
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR DI BPS ANA SUSANTI BALONGBENDO 2010 ... 50 Latifatul Ishaq
Farida Yuliani, S.SiT, SKM
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
PADA ANAK USIA TODDLER DI PLAY GROUP TARBIYATUSH SHIBIYAN
MOJOANYAR MOJOKERTO... 70 Risfan Batuatas
Tripeni, S.St. M.Kes
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363 Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736,
Email : [email protected]
1
PERAN KELUARGA DALAM ASUPAN NUTRISI LANSIA DI DESA KEBONAGUNG KECAMATAN PURI
KABUPATEN MOJOKERTO
Anjar Istianto1, Eka Diah Kartiningrum, S.KM.2
1 Mahasiswa Politeknik Kesehatan Majapahit
2 Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit
ABSTRACT
Family plays an important role in planning and presenting a balanced diet for the elderly to fulfillment the nutritional. The purpose of this study was to identify family role of nutrition in elderly. This research used household suvey. The family role of nutrition all needs in elderly as variable in this research. Families with elderly amounted to 37 respondents as samples which is selected by consecutive sampling. Collecting data using questionnaires, the data obtained and analyzed using T score. The results showed that most respondents have a positive role to fulfill the nutritional needs of elderly people was about 19 respondents (51.4%). Families indicated a positive role by planning meals and preparing a balanced diet for the elderly in everyday life. Planning involved setting eating meals and beverages, food ingredients and size selection of food consumption, while the preparation of a balanced diet for the elderly include, restriction of certain food ingredients for the health of the elderly, limiting the size of the consumption of carbohydrates, proteins, and other food. The role of the family was very important for the health of the elderly, families that play a positive role in fulfilling the nutritional needs of older adults, the elderly will be spared from a variety of degenerative diseases and less susceptible to infectious diseases. The conclusion of this study was the validity of nutrient intake will influence the nutritional status of elderly which is depends on the role of nutrition to elderly families.
Keyword: Roles, Nutrition, Elderly
A. PENDAHULUAN
Perubahan gizi pada lansia merupakan salah satu masalah yang harus ditangani yang diakibatkan oleh perubahan pola makan, perubahan fisik maupun mental yang diperburuk oleh penyakit degeneratif yang diderita (Roger, 2003). Apabila disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi (Proverawati dan Wati, 2010). Satu lagi masalah gizi salah adalah kelebihan gizi. Lansia cenderung lebih mudah menjadi gemuk di banding kelompok dewasa muda karena untuk berat badan yang sama, lansia mempunyai lemak yang lebih banyak. Obesitas dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi, serta diabetes mellitus tipe II (Wirakusumah, 2000). Kebutuhan gizi lansia perlu dipenuhi secara adekuat untuk kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh, mengatasi proses menua, dan memperlambat terjadinya usia biologis (Nugroho, 2008).
Kondisi kekurangan gizi pada lansia dapat berbentuk KKP (kurang kalori protein) kronik, baik ringan maupun berat. Darmojo,R.B&H. H.Martono dalam Wirakusumah (2000) melaporkan bahwa lansia yang mengalami kekurangan gizi di indonesia sebanyak 3,4%, sedangkan yang mempunyai berat badan kurang sebanyak 28,3%, sedangkan lansia yang mengalami obesitas di Indonesia sebanyak 3,4% dan berat badan lebih sebanyak
2
6,7%. Menurut Riskesdas (2007) prevalensi obesitas sentral pada penduduk Indonesia yang berumur 45-54 (26,1%), umur 55-65 (23,1%), umur 65-74 (18,9%), dan umur 75 keatas (15,8%).
Berbagai faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lanjut usia meliputi faktor dari lanjut usia sendiri, faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor pelayanan, aktivitas fisik, kemunduran biologis, pengobatan, depresi dan kondisi mental dan penyakit. Sehubungan dengan faktor keluarga, hal tersebut menyangkut jumlah generasi, pola tinggal, sikap, tingkat sosial-ekonomi keluarga, dan khususnya pengetahuan dalam perawatan dan pemenuhan gizi pada lanjut usia (Wirakusumah, 2002). Dalam melakukan perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga memiliki peranan yang sangat penting, di antaranya adalah membantu melakukan persiapan makanan bagi lansia, susunan makanan lansia harus mengandung semua unsur gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, air, dan serat dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan serta seimbang dalam komposisinya (Maryam Dkk, 2008). Bagi tenaga kesehatan di tuntut untuk memberikan pendidikan kesehatan, dalam dalam hal pendidikan gizi kepada masyarakat maupun individu, untuk dapat berperan serta dalam mengatasi masalah kesehatan dan gizi serta memperbaiki pola hidup masyarakat (Proverawati Dkk, 2010). Peran sebagai perawat harus selalu memberikan beberapa materi mengenai nutrisi. Di komunitas, perawat jarang berhubungan langsung dengan bidang nutrisi atau perawat wilayah. Namun perawat kunjungan kesehatanlah yang lebih banyak terlibat dalam penyuluhan pada lansia mengenai diet dan nutrisi. Selain itu, mereka dapat membantu individu atau keluarga untuk menguasai teknik sterilisasi yang diperlukan (Roger, 2003). Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Peran
a. Pengertian
Menurut Kozier Barbara dalam Janah (2009) Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu.
b. Peran Keluarga
Peran keluarga adalah seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat Jhonson dan Leny (2010).
c. Peranan Keluarga
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
1) Ayah sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2) Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3
3) Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
d. Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia
Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara lain menjaga atau merawat lansia, mempertahankan dan meningkatkan status mental, mengantisipasi perubahan sosial ekonomi, serta memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga dalam melaksanakan perannya terhadap lansia, yaitu: melakukan pembicaraan terarah, mempertahankan kehangatan keluarga, membantu melakukan persiapan makanan bagi lansia, membantu dalam hal transportasi, membantu memenuhi sumber- sumber keuangan, memberi kasih saying, menghormati dan menghargai, bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku lansia, memberi kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian, jangan menganggapnya sebagai beban, memberi kesempatan untuk tinggal bersama, mintalah nasihatnya dalam peristiwa-peristiwa penting, mengajaknya dalam acara-acara keluarga, membantu mencukupi kebutuhannya, memberi dorongan untuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan di luar rumah termasuk pengembangan hobi, membantu mengatur keuangan, mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi, memeriksakan kesehatan secara teratur, memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat, mencegah terjadinya kecelakaan, baik di dalam maupun di luar rumah, pemeliharaan kesehatan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama, memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak- anak kita kelak akan bersikap yang sama (Maryam Dkk, 2008).
e. Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia
Kecukupan gizi lansia akan terpenuhi apabila memperhatikan pola makan yang beragam dan bergizi seimbang. Pada dasarnya, tidak ada jenis makanan yang spesifik untuk lansia. Namun, untuk menentukan jenis diet lansia harus mempertimbangkan kondisi kesehatan. Penurunan kemampuan mencerna makanan, serta perubahan selera makan. Oleh sebab itu, penyajian makanan untuk lansia selain harus memperhatikan kecukupan gizi juga konsistensi dan tekstur makanan sehingga lansia tidak mengalami kesulitan mencerna dan terhindar dari masalah kekurangan gizi (Wirakusumah, 2000). Peran tersebut adalah menurut (Nugroho, 2008):
1) Merencanakan makan untuk lansia
a) Porsi makan perlu diperhatikan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil,
b) Banyak minum dan kurangi garam. Banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan. Menghindari makanan yang terlalu asin akan mengurangi kerja ginjal dan mencegah kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi,
c) Membatasi penggunaan kalori hingga berat badan dalm batas normal, terutama makanan yang manis atau gula dan makanan yang berlemak.
Kebutuhan usia lanjut di atas 60 tahun adalah 1700 kalori dan di atas 70 tahun adalah 1500 kalori,
d) Bagi lanjut usia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut, hal berikut perlu diperhatikan:
4
(1) Mengonsumsi makanan yang mudah dicerna
(2) Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan gorengan
(3) Bila kesulitan mengunyahkarena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
(4) Makan dalam porsi kecil, tetapi sering
(5) Makanan kudapan, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan e) Batasi minum kopi dan teh. Minuman tersebut boleh diberikan, tetapi hrus
diencerkan karena berguna untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan
2) Menyiapkan Menu Seimbang untuk Lansia
Menu adalah susunan hidangan yang dipersiapkan atau disajikan pada waktu makan. Menu seimbang untuk lanjut usia adalah susunan makanan yang mengandung cukup semua unsur gizi yang dibutuhkan lanjut usia. Menurut (Nugroho, 2008) syarat menu seimbang untuk lanjut usia adalah:
a) Mengandung zat gizi beraneka ragam bahan makabnan yang terdiri atas zat tenaga, zat pembangun, dan zat pangatur
b) Jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi oleh lanjut usia adalah 50% dari hidrat arang yang merupakan hidrat arang komplek (sayuran, kacang- kacangan, dan biji-bijian)
c) Jumlah lemak dalam makanan dibatasi, yaitu 25-30% dari total kalori d) Jumlah protein yang baik dikonsumsi disesuaikan dengan lanjut usia, yaitu
8-10% dari total kalori
e) Dianjurkan mengandung tinggi serat (selulosa) yang bersumber pada buah, sayur, dan macam-macam pati, yang dikonsumsi dalam jumlah secara bertahap
f) Menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium, seperti susu non-flat, yoghurt, dan ikan
g) Makanan mengandung tinggi tinggi zat besi (Fe), seperti kacang-kacangan, hati, daging, bayam, atau sayuran hijau
h) Membatasi penggunaan garam
i) Bahan makanan sebagai sumber zat gizi sebaiknya dari bahan makanan yang segar dan mudah dicerna
j) Hindari bahan makanan yang mengandung tinggi alkohol k) Pilih makanan yang mudaah dikunyah seperti makanan lunak
Tabel 1 Contoh Menu Lansia Dan Jumlah Bahan Pangan Penyusunan Menu (Wirakusumah, 2000) :
Menu Bahan Pangan URT Jumlah (g)
L W L W
Pagi:
Roti Telur
Susu non-fat
Roti Telur Mentega Tomat Selada bokor Tepung susu
4 iris*
1 btr
½ sdm 1 bh 3 lbr 2 sdm
2 iris 1 btr
½ sdm 1 bh 3 lbr 4 sdm
80 60 5 50 25 20
40 60 5 50 25 20 Selingan
pk.10.00 Kolak pisang
Pisang tanduk Santan
Gula merah
1bh*
¼ gls 2 sdm
½ bh
¼ gls 2 sdm
200 50 16
100 50 16
5
Menu Bahan Pangan URT Jumlah (g)
L W L W
Siang Nasi Semur
Pepes tahu Sayur bening Buah
Nasi
Daging cincang Kentang
Minyak Tahu Telur Bayam Pisang
1 ½ gls*
2 sdm 1 bh 1 sdm 1 bh 1 sdm 1 ½ gls 1bh
1 gls 2 sdm 1 bh 1 sdm 1 bh 1 sdm 1 ½ gls 1 bh
150 50 50 10 100 30 150 75
135 50 50 10 100 30 150 75 Selingan pk.
17.00 Papais
Tepung beras Santan Gula pasir
8 sdm
¼ gls 1 sdm
8 sdm
¼ gls 1 sdm
50 50 8
50 50 8 Malam:
Mi baso
Buah
Mi basah Baso Sawi hijau Minyak Pepaya
1 gls 4 bh
½ gls 1 sdm 1 ptg
1 gls 4 bh
½ gls 1 sdm 1 ptg
100 50 50 5 100
100 50 50 5 100 Keterangan :
* : Jumlah porsi yang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan kalori L : Lansia pria dengan angka kecukupan energi 2.200 kkal
W : Lansia wanita dengan angka kecukupan energi 1.850 kkal
Berbagai menu untuk lansia dapat dibuat dengan menggunakan Daftar Bahan Makanan Penukar.
C. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan rancangan survey. Survey adalah suatu rancangan yang digunakan untuk menyediakan informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu populasi (Nursalam, 2008). Penelitian ini menggunakan survey deskriptif, yaitu survey rumah tangga. Survey rumah tangga (household survey) adalah suatu survey deskriptif yang ditujukan kepada rumah tangga (Notoatmodjo, 2010).
6 Kerangka Kerja
Keterangan :
: Diteliti : Tidak diteliti
Gambar 1 Kerangka Konseptual Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia di Desa Kebunagung Kecamatan Puri Kabupaten Jombang.
Sumber : Nugroho (2000), Proverawati (2010), Nugroho (2008).
2. Populasi, Sampel, Variabel dan Instrumen Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki lansia di desa kebunagung kecamatan puri kabupaten mojokerto yang berjumlah 225 orang, sedangkan sampel diseleksi menggunakan consecutive sampling yaitu pengambilan sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu. Nursalam (2008). Sampel yang diambil harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi meliputi:
a) Keluarga yang memiliki lansia baik laki-laki maupun perempuan.
b) Keluarga yang bersedia menjadi responden.
c) Keluarga yang ada di rumah saat peneliti datang.
d) Jika ada 2 lansia dalam satu rumah maka hanya diambil 1.
Sedangkan kriteria eksklusi meliputi:
a) Lansia dalam kondisi sakit.
b) Lansia yang mengalami depresi.
c) Keluarga yang tidak bisa baca tulis (buta huruf).
Variabel pada penelitian ini adalah peran keluarga dalam asupan nutrisi lansia yakni Seperangkat tingkah laku keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi lansia meliputi: merencanakan makan untuk lansia, dan menyiapkan menu seimbang untuk lansia, yang di ukur menggunakan angket.
Lansia:
1. Middle age (45-59) 2. Elderlby (60-74) 3. Old (75-90) 4. Very old (>90)
Nutrisi pada lansia Peran keluarga:
1. Merencanakan makan 2. Menyiapkan menu seimbang
Faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi pada lansia:
1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan 2. Berkurangnya indra pengecapan
3. Esofagus melebar 4. Rasa lapar menurun 5. Peristaltik usus melemah
6. Penyerapan makanan di usus melemah
7 3. Teknik Analisis Data
Setiap jawaban pertanyaan diberi skor dengan pedoman sebagai berikut: 1 untuk jawaban TP (tidak pernah), 2 untuk jawaban KD (kadang-kadang), dan 3 untuk jawaban SR (sering).
T = 50 + 10 Keterangan :
X = Skor responden pada skala sikap yang hendak diubah manjadi skor T = Mean skor kelompok
S = Deviasi standart skor kelompok
Setelah di hitung menggunakan rumus di atas selanjutnya diklasifikasikan menjadi:
a. Perilaku positif : jika Skor T hasil perhitungan > mean T (50) b. Perilaku negatif : Jika skor T hasil penghitungan < mean T (50)
(Azwar, 2007).
Hasil pengolahan data dinterpretasikan dengan menggunakan skala kualitatif yaitu:
100% = seluruhnya responden 76-99% = hampir seluruh responden 51-75% = sebagian besar responden 50% = setengah dari responden
26-49% = hampir setengah dari responden 1-25% = sebagian kecil dari responden
0% = tidak satupun dari responden (Arikunto, 2002).
D. HASIL PENELITIAN 1. Data Umum
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto tanggal 01 s/d 15 juli 2011.
No Pendidikan Frekuensi (f) Persentase (%)
1 SD 11 29,7
2 SMP 10 27,0
3 SMU 11 29,7
4 Perguruan tinggi 5 13,5
Jumlah 37 100
Tabel 2 menjelaskan bahwa hampir setengah dari responden berpendidikan SMA sebanyak 11 responden (29,7%).
b. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
8
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto 01 – 15 juli 2011.
No Pekerjaan Frekuensi (f) Presentase (%)
1 Bekerja 33 89,2
2 Tidak bekerja 4 10,8
Jumlah 37 100
Tabel 3 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki pekerjaan yaitu sebanyak 33 responden (89,2%).
c. Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penghasilan di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto 01 – 15 juli 2011.
No Penghasilan Frekuensi (f) Presentase (%)
1 < 100.000 8 21,6
2 100.000-500.000 16 43,2
3 500.000-1000.000 8 21,6
4 >1.000.000 5 13,5
Jumlah 37 100
Tabel 4 menjelaskan bahwa hampir setengah dari responden memiliki penghasilan 100.000,00-500.000,00 yaitu sebanyak 16 responden (43,2%).
d. Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber informasi
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto 01 – 15 juli 2011.
No Informasi Frekuensi (f) Presentase (%)
1 Tidak 17 45,9
2 Iya 20 54,1
Jumlah 37 100
Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi tentang asupan nutrisi lansia yaitu sebanyak 20 responden (54,1%).
2. Data Khusus Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia di Desa Kebonagung Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto 01 – 15 juli 2011.
No Peran Keluarga Dalam Asupan Nutrisi Lansia
Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Positif 19 51,4
2. Negatif 18 48,6
Jumlah 37 100
Tabel 6 menjelaskan bahwa sebagian besar responden mempunyai peran positif yaitu sebanyak 19 responden (51,4%).
E. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menjelaskan bahwa sebagian besar keluarga lansia berperan positif dalam memenuhi kebutuhan nutrisi lansia yaitu sebanyak 19 responden (51,4%) sedangkan responden yang memiliki peran negatif sebanyak 18 responden (48,6%).
Keluarga berperan positif dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi lansia yaitu sebanyak 19
9
responden (51,4%) ditunjukkan dengan keluarga merencanakan makan untuk lansia dan menyiapkan menu seimbang untuk lansia.
Peran keluarga dalam asupan nutrisi lansia ialah merencanakan makan untuk lansia diantaranya, porsi makan perlu diperhatikan, jangan terlalu kenyang, banyak minum dan kurangi garam, menghindari makanan yang terlalu asin, membatasi penggunaan kalori hingga berat badan dalam batas normal. Bagi lanjut usia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut, hal berikut perlu diperhatikan, (Mengonsumsi makanan yang mudah dicerna, hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan gorengan, bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang, makan dalam porsi kecil tetapi sering, makanan kudapan, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan, batasi minum kopi dan teh). Peran yang kedua adalah menyiapkan menu seimbang untuk lansia. syarat menu seimbang untuk lanjut usia adalah mengandung zat gizi beraneka ragam bahan makanan yang terdiri atas zat tenaga, zat pembangun, dan zat pangatur, jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi oleh lanjut usia adalah 50% dari hidrat arang yang merupakan hidrat arang komplek, jumlah lemak dalam makanan dibatasi, jumlah protein yang baik dikonsumsi disesuaikan dengan lanjut usia, yaitu, menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium, makanan mengandung tinggi tinggi zat besi (Fe), membatasi penggunaan garam, bahan makanan sebagai sumber zat gizi sebaiknya dari bahan makanan yang segar dan mudah dicerna, hindari bahan makanan yang mengandung tinggi alkohol, pilih makanan yang mudah dikunyah seperti makanan lunak (Nugroho, 2008).
Keluarga berperan positif ditunjukkan dengan keluarga merencanakan makan dan menyajikan menu seimbang bagi lansia. Perencanaan makan meliputi keluarga memperhatikan porsi makan untuk lansia, mengatur porsi makan dalam satu hari, mengatur porsi minum yang lebih banyak, dan keluarga memilih makanan yang mudah dikunyah, seperti makanan dimasak agak lembek. Sedangkan dalam penyajian makan untuk lansia meliputi, keluarga menyajikan makanan yang mengandung gizi beraneka ragam, menyajikan makanan dengan jumlah kalori yang baik, menyajikan makanan yang tinggi kalsium (susu, ikan, yaghut), menyajikan makanan yang mengandung serat (sayur- sayuran, buah-buahan), Keluarga juga berperan positif dalam menghindari makanan yang harus dihindari oleh lansia antara lain membatasi penggunaan makanan yang manis (gula), membatasi makanan yang mengandung lemak (margarin, gorengan), membatasi penggunaan garam, dan membatasi lansia untuk minum kopi atau teh. Peran positif keluarga didukung oleh faktor pengatahuan keluarga, hal tersebut ditunjukkan pada tabel 4.4 berdasarkan data umum yang di dapat sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai asupan nutrisi lansia yaitu sebanyak 20 responden (54,1%), dari ini keluarga mengerti pentingnya asupan nutrisi lansia, oleh sebab itu keluarga berperan positif terhadap asupan nutrisi lansia.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa dalam merencanakan makan untuk lansia sebagian besar responden berperan negatif yaitu sebanyak 21 responden (56,8%). Peran keluarga dalam merencanakan makan untuk lansia antara lain ; porsi makan harus diperhatikan , jangan terlalu kenyang, porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil, banyak minum dan kurangi garam, membatasi penggunaan kalori hingga berat badan dalam batas normal, terutama makanan yang manis (gula) dan makanan yang berlemak, bagi lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut konsumsi makanan yang mudah dicerna, seperti makanan yang dimasak agak lunak, berikan makanan kudapan seperti, susu, buah, dan sari roti, batasi minum kopi atau teh (Nugroho, 2008). Dalam merencanakan makan untuk lansia keluarga berperan negatif ditunjukkan dengan keluarga tidak memperhatikan porsi
10
makan untuk lansia, tidak mengatur makan secara merata dalam satu hari sehingga lansia tidak bisa makan dengan porsi kecil dengan frekuensi sering, tidak memberikan makanan yang mudah dicerna seperti nasi dimasak agak lembek, tidak memberikan makanan kudapan seperti susu, buah, dan sari roti, kemudian dalam membatasi penggunaan makanan yang harus dihindari oleh lansia keluarga tidak membatasi penggunaan kalori, tidak membatasi penggunaan garam, tidak membatasi makanan manis (gula), dan keluarga tidak membatasi makanan yang berlemak. Dalam menyiapkan menu seimbang untuk lansia sebagian besar responden berperan positif yaitu sebanyak 20 responden (59,9%). Dalam menyiapkan menu seimbang untuk lansia makanan harus mengandung zat gizi beraneka ragam (zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur), jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi oleh lansia adalah 50% dari hidrat arang yang merupakan hidrat arang komplek (sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian), jumlah lemak dalam makanan dibatasi, jumlah protein yang baik dikonsumsi disesuaikan dengan lanjut usia, yaitu 8-10% dari total kalori, makanan dianjurkan mangandung serat yang bersumber dari buah, sayur, dan macam-macam makanan pati, yang dikonsumsi secara bertahap, makanan tinggi kalsium (susu, yoghut, ikan), makanan mengandung tinggi zat besi (Fe), hindari makanan yang tinggi alkohol, dan pilih makanan yang mudah dikunyah (Nugroho,2008). Dalam menyiapkan menu seimbang untuk lansia keluarga berperan positif ditunjukkan dengan keluarga memberikan makanan yang beraneka ragam yang terdiri atas zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur, keluarga memberikan makanan dengan jumlah kalori yang baik, keluarga memberikan makanan cukup protein, keluarga menyiapkan makanan yang mengandung tinggi serat, keluarga memberi makanan tinggi kalsium, keluarga memberi makanan yang mengandung zat besi (Fe), keluarga menghindari makanan yang tinggi alkohol, dan keluarga memilih makanan yang mudah dikunyah atau makanan lunak.
Keluarga berperan negatif dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi lansia yaitu sebanyak 18 responden (48,6%) ditunjukkan dengan keluarga tidak merencanakan makan untuk lansia dan tidak menyiapkan menu seimbang untuk lansia.
Berbagai faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lanjut usia meliputi faktor dari lanjut usia itu sendiri, faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor pelayanan, aktifitas fisik, kemunduran biologis, pengobatan, depresi, dan kondisi mental dan penyakit (Wirakusumah, 2002). Salah satu masalah gizi pada lansia adalah kelebihan gizi.
Obesitas dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi serta diabetes melitus tipe II (Wirakusumah, 2000). Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan kesehatannya (Nugroho, 2008). Keluarga hendaknya memperhatikan kecukupan gizi lansia akan terpenuhi apabila memperhatikan pola makan yang beragam dan bergizi seimbang (Wirakusumah, 2000).
Peran negatif pada keluarga akan berdampak pada munculnya masalah kesehatan pada lansia seperti obesitas dan berbagai penyakit misal, penyakit infeksi dan penyakit degeneratif. Banyak faktor yang mempengaruhi peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada lansia diantaranya adalah faktor penghasilan, hal tersebut ditunjukkan pada tabel 4.3 disimpulkan bahwa hampir setengah dari responden mepunyai penghasilan 100.000,00 – 500.000,00 yaitu sebanyak 16 responden (43,2%). Dilihat dari penghasilan responden yang minimum, kemungkinan keluarga tidak bisa membeli makanan yang kaya akan zat gizi. Faktor lain yang mendukung peran negatif keluarga adalah faktor pekerjaan, berdasarkan tabel 4.2 disimpulkan bahwa hampir seluruh responden memiliki pekerjaan yaitu sebanyak 33 responden (89,2). Kemungkinan
11
keluarga tidak sempat dalam melakukan perannya dalam asupan nutrisi lansia yaitu merencanakan makan dan menyiapkan menu seimbang bagi lansia.
F. PENUTUP
Sebagian besar keluarga lansia melakukan perannya dalam menyediakan, merencanakan dan menyiapkan menu seimbang bagi lansia, namun masih banyak keluarga yang tidak melaksanakan perannya yang disebabkan karena rendahnya pengetahuan dalam mengatur asupan nutrisi lansia. Oleh sebab itu hendaknya keluarga memperhatikan selalu aktif mencari informasi tentang asupan nutrisi lansia, sedangkan lansia aktif dalam kegiatan- kegiatan masyarakat, serta membentuk paguyuban seperti posyandu lansia untuk memantau status kesehatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dinkes Kabupaten Kebumen. (2007). Laporan Riset Kesehatan. Dasar (http://www.kesehatan kebumenkab.go.id/data/lapriskesdas,pdf). Diakses pada tanggal 28 april 2011.
Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta : Rineka cipta.
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta : Rineka cipta.
Aswar, S. (2007). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta : pustaka pelajar.
Budiarto, E. (2003). Metodologi penelitian kedokteran. Jakarta : EGC.
Hidayat, A.A. (2007). Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah. Jakarta : salemba medika.
Janah, L.F. (2009). Teori peran.(http://bidanlia.blogspot.com). Diakses pada tanggal 3 mei 2011.
Jhonson R. dan Leni R. (2010). keperawatan keluarga. yogyakarta : nuha medika
Maryam, R.S. (2008). Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta : salemba medika.
Milian, A.(2011). Pengetahuaan keluarga tentang pemenuhan kebutuhan gizi pada lansia.
(http://www.armymilian.info). Diakses pada tanggal 28 april 2011.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta. Rineka cipta Nugroho, W. (2000). Keperawatan gerontik. Jakarta. EGC.
Nugroho, W. (2008). Keperawatan gerontik dan geriatrik. Jakarta : EGC.
Nursalam. (2008). Metodologi riset keperawatan. Jakarta : Infomedika.
Proverawati, A. dan Wati, E.K. (2010). Ilmu gizi untuk keperawatan dan kesehatan.
Yogyakarta : Muha Medika.
Supariasa, I.D.N. (2002). Penilaian status giz. Jakarta : EGC.
Watson, R. (2003). Perawatan pada lansia. Jakarta : EGC.
Wirakusumah, E.S. (2000). Tetap bugar di usia lanjut. Jakarta : Trubus Agriwidya.
12
PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN TERHADAP KEHADIRAN BALITA DI POSYANDU DESA KAMAL KECAMATAN ARJASA KABUPATEN JEMBER
Badriyah1 , Sarmini Moedjiarto, M.MPd2
1Mahasiswi Prodi DIII Kebidanan Poltekkes Majapahit
2Dosen Poltekkes Majapahit ABSTRACT
Malnutrition on the Indonesian infant was the main problem to get optimally healthy for infant. There were some programs to infant which made by government to rehabilitate nutrition status of infant. one of them was posyandu (integrated service post). The action of posyandu is done by cadre. The data told about presenting infant in Posyandu haven’t yet fulfilled the best target; they had problem that need the best way to solve it. The aim of this study is to determine effect of additional feeding in presenting infant at Posyandu. This was observational study by analytical method. The writer used secondary data that consist of visiting posyandu and additional feeding infant that observed by checklist. There was 80 respondents. The result showed that there was 6o infants (80%) from 80 infants are given by PMT (additional feeding), and 48 infants (80%) come to posyandu, then 12 infants (12%) didn’t come to posyandu. The result of Chi square is known by chi square count > chi square table (6,77>3,841). The analysis of chi square showed that additional feeding by self- financing could affected presenting infants in posyandu. Additional feeding self-financing is proven to support presenting infant in posyandu. The hoped from communities by awareness self in presenting infant in posyandu is daily activities to need be done therefore without additional feeding, so that Indonesian infant gets the health services optimally.
Keyword: additional, feeding, presenting, Posyandu
A. PENDAHULUAN
Indonesia berada diperingkat 130 dalam kasus balita dengan status gizi kurang berdasarkan data HDI (Human Development Index) (Republika, 2004) Hal ini dibuktikan dengan adanya data yang menunjukan bahwa di tahun 2007, 4 juta balita di Indonesia menderita kurang gizi. 700 ribu diantaranya menderita gizi buruk (Anonim, 2008). Di Jawa Timur melalui program pemantauan status gizi (PSG) dinyatakan bahwa, pada tahun 2005 terdapat 19,3 % balita terdeteksi menderita Kurang Energi Protein (KEP), yang dikategorikan dalam balita dengan status gizi kurang mencapai 16,6 % dan balita dengan status gizi buruk berjumlah 2,7 % (Depkes RI, 2006).
Status gizi pada balita perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan kerusakan yang irreversible (tidak dapat dipulihkan), seperti dijelaskan oleh Proverawati, (2009:135).
Djaiman (2001) berpendapat bahwa, Posyandu (Pos pelayanan terpadu) merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat, mempunyai salah satu kegiatan rutin untuk memantau pertumbuhan balita dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) Melalui kurve KMS dapat diketahui keberadaan balita dengan status gizi kurang (Gsianturi, 2004).
Gsianturi (2004) menjelaskan keberadan Posyandu mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk membantu peningkatan status gizi pada balita. Oleh karena itu, peranan kader Posyandu sebagai pelaksana kegiatan Posyandu diharapkan mampu
13
memantau status gizi balita dengan baik sekaligus mampu meningkatkan status gizi balita tersebut. Kabupaten Jember pada tahun 2009 menyatakan telah memiliki 2.750 Posyandu dengan jumlah balita 152.309 anak. Jumlah kehadiran balita di Posyandu mencapai 71,76
%, sedangkan di kecamatan Arjasa Kabupaten Jember terdiri dari 6 Desa dan 46 Posyandu dengan jumlah balita 3.153 balita. Tingkat kehadiran balita di Posyandu mencapai 70,88 % (2.235 balita). Desa Kamal sebagai salah satu wilayah kerja Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, mempunyai 5 Posyandu dengan 420 balita.
Tingkat kehadiran balita di Posyandu mencapai 73,72 % (305 balita). Melalui studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan September 2010, Posyandu Manggis yang berada di wilayah kerja Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, mempunyai 96 balita dengan tingkat kehadiran hanya mencapai 58,33 % (56 balita) Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kehadiran balita di Posyandu Manggis Desa Kamal kecamatan Arjasa Kabupaten Jember kurang memenuhi target yang ditentukan.
Untuk mengetahui balita dengan satus gizi kurang maka diperlukan pemantauan status gizi balita melalui kurve KMS (Kartu Menuju Sehat) di Posyandu. Jika diketahui kurva KMS berada dalam garis warna hijau dapat dinyatakan bahwa status balita adalah baik, tapi jika kurve KMS berada pada garis bawah merah menunjukan bahwa status gizi balita tersebut adalah buruk (Anonim, 2008). Apabila jumlah kehadiran balita tidak memenuhi target yang diharapkan, maka jumlah balita yang menderita gizi burukpun tidak akan terdeteksi dengan baik. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan status gizi balita tidak akan pernah terlaksana dengan baik. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mendorong kehadiran balita di Posyandu. PMT atau Pemberian Makanan Tambahan, merupakan salah satu program Pemerintah untuk meningkatkan gizi balita (Pro-Health, 2009) Diharapkan melalui PMT atau pemberian makanan tambahan dapat mendorong kehadiran balita di Posyandu. Berdasarkan data diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan terhadap Kehadiran Balita di Posyandu di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dasar Pemberian Makanan Tambahan (PMT) a. Pengertian Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
PMT atau yang disebut juga Pemberian Makanan Tambahan adalah upaya pemberian penambahan makanan tanpa mengurangi jumlah makanan yang dimakan setiap hari di rumah. PMT sebagai sarana pemulihan gizi dalam arti kuratif, rehabilitatif dan sebagai sarana penyuluhan sebagai bentuk kegiatan pemberian gizi berupa makanan dari luar keluarga, dalam rangka UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga), (Pro-Health, 2009).
b. Tujuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Usia balita yang merupakan usia dimana seorang anak akan mengalami tumbuh kembang dan aktivitas yang sangat pesat membutuhkan asupan gizi yang cukup. Pemberian makanan tambahan kapada balita di Posyandu diberikan dengan tujuan sebagai upaya perbaikan gizi balita (Pro-Health, 2009).
c. Sasaran Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Sasaran PMT adalah balita yang dikategorikan dalam golongan rawan gizi atau balita yang menderita kurang gizi. Adapun kriteria balita yang mendapatkan PMT dari Pemerintah adalah balita yang tiga kali berturut-turut tidak naik timbangannya serta balita yang berat badannya pada kurve KMS (Kartu Menuju Sehat) terletak dibawah garis merah (Pro-Health, 2009).
14
d. Komposisi Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Menurut Departemen Kesehatan RI seperti dikutip oleh Judiono (2003) bahwa persyaratan pemberian makanan tambahan pada anak usia pra sekolah atau balita harus memenuhi nilai gizi yang berkisar 200-300 kalori dan 5-8 gram protein. Bahan makanan yang digunakan dalam PMT sebaiknya merupakan bahan makanan bersumber kalori dan protein tanpa mengesampingkan sumber zat gizi lain seperti : padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, ikan, sayuran hijau, kelapa dan hasil olahannya (Pro-Health, 2009).
Berikut adalah contoh menu PMT bagi balita di Posyandu (Ismawati dkk, 2010:32) :
1). Menu PMT bayi usia 6-12 bulan
Dapat berupa : Bubur susu labu kuning, Nasi tim ikan tengiri, Nasi tim ayam campur sayur, Jus alpukat dan lain-lain.
2). Menu PMT anak usia diatas 1 tahun
Misalnya : Sup kacang merah, Mie goreng ayam, Sate bola-bola tahu, Puding buah warna-warni dan lain-lain.
PMT dapat diberikan dalam bentuk makanan selingan atau makanan lengkap dalam porsi kecil. Pengolahan PMT sebaiknya menggunakan bahan makanan setempat yang banyak mengandung protein nabati/hewani, yang diolah dengan mempergunakan resep daerah atau dimodifikasi, dimasak dan dikemas dengan baik, aman serta memenuhi syarat kebersihan serta kesehatan.
Pengadaan PMT disesuikan dengan ketersediaan dana yang berasal dari program pemerintah dan swadana masyarakat (Ismawati dkk, 2010:31).
Berdasarkan hal tersebut, Pemberian PMT di Posyandu sebagai upaya mendorong kehadiran balita ke Posyandu merupakan sosialisasi yang tepat bagi ibu balita untuk memahami tentang makanan sehat dan bergizi seimbang.
2. Konsep Dasar Kehadiran Balita di Posyandu
Kehadiran balita di Posyandu adalah bentuk kedatangan balita secara fisik di Posyandu untuk mengikuti kegiatan Posyandu. Diharapkan dengan kehadiran balita di Posyandu yang mencapai target 100 % kehadiran, dapat mendeteksi balita dengan status gizi kurang dan memberikan upaya perbaikan gizi balita melalui PMT.
Menurut Siswono, (2001) dijelaskan bahwa, untuk menanggulangi masalah kekurangan gizi pada anak balita dibutuhkan pemberdayaan masyarakat melalui 6 tahap, yaitu :
a. Pengorganisasian Masyarakat b. Pelatihan
c. Penimbangan Balita d. Penyuluhan gizi balita
e. Pemberian Makanan Tambahan f. Penggalangan Dana
Program Pemberian Makanan Tambahan yang diberikan oleh Pemerintah hanya diberikan kepada balita dengan status gizi kurang (Pro-Health, 2009), sedangkan keberadaan Posyandu dengan jumlah balita yang hadir tidak memenuhi target, membuat penyelenggara kegiatan Posyandu berupaya untuk mendorong balitanya mengikuti kegitan Posyandu. Hal itu dilakukan dengan melakukan pemberian makanan tambahan (PMT) menggunakan dana swadaya masyarakat (Siswono, 2001).
15 C. METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan rancangan penelitian cross sectional yaitu merupakan rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan atau sekali waktu (Hidayat, 2007 : 56). Variabel yang digunakan adalah variabel Independen dan variabel Dependen. Variabel independen yang digunakan adalah pemberian makanan tambahan sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah kehadiran balita di Posyandu.
Tabel 1 Definisi Operasional Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Kehadiran Balita di Posyandu.
Variabel Definisi Operasional Kriteria Skala Pemberian
Makanan Tambahan
Melalui pemberian makanan tambahan tanpa mengurangi jumlah makanan yang dimakan setiap hari di rumah, diharapkan dapat mendorong kehadiran balita di Posyandu.
Alat pengukuran menggunakan check list pemberian makanan tambahan.
Diberi PMT : 1 Tidak diberi PMT : 0 (Hidayat, 2007)
Nominal
Kehadiran balita di Posyandu
Kedatangan balita secara fisik di Posyandu untuk mengikuti kegiatan Posyandu dapat meningkatkan angka kehadiran balita di Posyandu Alat pengukuran menggunakan buku kunjungan balita ke Posyandu .
Hadir : 1 Tidak Hadir : 0 (Hidayat, 2007)
Nominal
Hipotesis yang diuji antara lain:
H1 : Ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap kehadiran Balita di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
H0 : Tidak ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap kehadiran Balita di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Populasi yang digunakan adalah semua balita di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember pada bulan September 2010 yang berjumlah 420 anak. Sedangkan sampel harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi terdiri dari:
1). Balita yang tinggal di wilayah Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
2). Balita yang berusia 6 bulan – 5 tahun.
3). Balita yang mempunyai KMS (Kartu Menuju Sehat) di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
4). Balita yang hadir di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Kriteria eksklusi antara lain : 1). Balita yang sakit.
2). Balita yang berusia kurang dari 6 bulan 3). Balita yang berusia lebih dari 5 tahun.
4). Balita yang baru pertama kali mengikuti Posyandu di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
16
Untuk menentukan besar sampel dapat dilakukan dengan penghitungan rumus. Menurut Nursalam (2008:91-92), jika besar populasi < 1.000 maka dapat dilakukan penghitungan dengan rumus sebagai berikut:
n =
Keterangan:
n : jumlah sampel N : jumlah populasi
d : tingkat signifikansi (p)
Jadi total sampel berdasarkan rumus adalah sebesar 80 balita. Sampel diseleksi menggunakan teknik Probability Sampling menggunakan metode Cluster Sampling, yaitu pengelompokan sampel berdasarkan wilayah atau populasi lokasi (Nursalam, 2008 : 94). Penghitungan dengan rumus proporsional pada pengambilan sampel tiap Posyandu di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember diperoleh hasil sebagai berikut:
Posyandu Manggis 38 : ni = x 80= 18 balita Posyandu Manggis 39: ni = x 80= 17 balita Posyandu Manggis 40: ni = x 80= 16 balita Posyandu Manggis 41: ni = x 80= 14 balita Posyandu Manggis 42: ni =
420
80 x 80= 15 balita
Data dikumpulkan menggunakan teknik Dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli berupa daftar periksa (Hidayat, 2007 : 100). Dokumen yang dianalisa menggunakan data yang berasal dari buku pemberian PMT dan buku kunjungan balita ke Posyandu di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember pada tahun 2009. Untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap kehadiran balita di Posyandu, peneliti melakukan uji Chi Square. Pemilihan uji Chi Square digunakan untuk membandingkan atau membedakan dua variabel serta untuk menguji generalisasi dari hasil analisis (Hidayat, 2007).
D. HASIL PENELITIAN
1. Frekuensi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
No Usia Balita Frekuensi (f) Prosentase (%)
1.
2.
6 - 12 bulan 1 - 5 tahun
33 47
41 59
Jumlah 80 100
Sumber : Data sekunder tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih dari 50% balita berusia 1 – 5 tahun.
2. Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
No Jenis Kelamin Frekuensi (f) Prosentase (%) 1.
2.
Laki-Laki Perempuan
32 48
40 60
Jumlah 80 100
17
Sumber : Data sekunder Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar balita (60%) berjenis kelamin perempuan.
3. Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian Makanan Tambahan
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian Makanan Tambahan di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
No Pemberian Makanan
Tambahan Frekuensi (f) Prosentase (%) 1.
2.
Diberi PMT Tidak diberi PMT
60 20
75 25
Jumlah 80 100
Sumber : Data sekunder Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar balita (75%) mendapatkan PMT.
4. Frekuensi Responden Berdasarkan Kehadiran Balita di Posyandu
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kehadiran Balita di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
No Kehadiran Balita di
Posyandu Frekuensi (f) Prosentase (%) 1.
2.
Hadir Tidak hadir
58 22
72,5 27,5
Jumlah 80 100
Sumber : Data sekunder Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010.
Tabel 5 menunjukkan bahwa lebih dari 50% balita hadir di Posyandu.
5. Analisa Perhitungan Uji Chi Square
Tabel 6 Tabel Silang Pemberian Makanan Tambahan dengan Kehadiran Balita di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tanggal 25 Oktober – 13 Nopember 2010
Pemberian makanan tambahan
Kehadiran
Total Tidak hadir Hadir
Frek % Frek % Frek %
Tidak diberi PMT 10 50 10 50 20 100
Diberi PMT 12 20 48 80 60 100
Jumlah 22 27,5 58 72,5 80 100
Hasil uji chi square dengan menggunakan SPSS versi 12 for windows diperoleh nilai chi square hitung sebesar 6,771, sedangkan nilai chi square tabel pada df = 1 sebesar 3,841. Dengan demikian nilai chi square hitung > chi square tabel (6,771 > 3,841) atau nilai signifikansi lebih kecil dari = 5% (0,009 < 0,05) yang berarti bahwa H0 ditolak atau H1 diterima artinya ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap kehadiran Balita di Posyandu Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
E. PEMBAHASAN
1. Pemberian Makanan Tambahan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60 balita (75%) balita telah diberi PMT dan 20 (25%) balita tidak diberi PMT di Posyandu. Pemberian makanan tambahan merupakan salah satu kegiatan Posyandu dalam upaya perbaikan status gizi balita.
Usia balita merupakan usia pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan