JURNAL ILMIAH KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN MAJAPAHIT
HOSPITAL
MAJAPAHIT
VOL 3
NO. 1
1 - 103
Hlm.
Februari 2011
Mojokerto
2085 - 0204
ISSN
DIAN IRAWATI
Faktor Karakteristik Ibu Yang Berhubungan Dengan Ketepatan Imunisasi DPT
Combo Dan Campak Di Pasuruan
SULISDIANA
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Tentang
Regurgitasi Pada Bayi Usia 0-6 Bulan Di BPS Muji Winarnik Mojokerto
ELYANA MAFTICHA
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Konsumsi Tablet Kalsium Pada
Wanita Premenopouse Di Desa Tanjek Wagir Kecamatan Krembung
Kabupaten Sidoarjo
FARIDA YULIANI
Perilaku Pantang Makan Pada Ibu Nifas Di BPS “A” Balongtani
Jabon Sidoarjo
DYAH SIWI HETY
Hubungan Usia Dan Paritas Dengan Kejadian Ca Cervix Di RSUD Sidoarjo
Tahun 2009
SARMINI MOEDJIARTO
Karakteristik Ibu Yang Berhubungan Dengan Perdarahan Post Partum
Di RB Medika Utama Wonokupang Balongbendo Sidoarjo
Vol. 3. No. 1, Februari 2011
ISSN : 2085 - 0204
Pengantar Redaksi,
Jurnal Hospital Majapahit Vol. 3 No 1 Tahun 2011 banyak didominasi oleh publikasi dosen
kebidanan tentang pengembangan penelitian di bidang kesehatan ibu dan anak. Hasil
penelitian ini selain menunjang perbaikan materi pengajaran ke mahasiswa juga diharapkan
membawa manfaat pada peningkatan status derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Artikel yang pertama ditulis oleh Dian Irawati yang membahas tentang faktor karakteristik ibu yang berhubungan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan campak di Pasuruan. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak. Pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT Combo dan Campak mempengaruhi ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak pada bayi yang disebabkan beberapa faktor antara lain pengetahuan ibu, sumber informasi yang didapat,pendidikan ibu. Semakin kurang pengetahuan ibu semakin tidak tepat pula dalam mengimunisasikan bayinya. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan dan kader harus lebih di tingkatkan untuk memberikan informasi melalui penyuluhan dengan menyebarkan leaflet tentang jadwal pemberian Imunisasi secara tepat dan pentingnya imunisasi pada bayi.
Artikel yang kedua ditulis oleh Sulisdiana yaitu tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Muji Winarnik Mojokerto. Hasil penelitian ini membahas bahwa sebagian besar ibu sebenarnya telah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang regurgitasi. Pengetahuan ini muncul karena responden telah memperoleh informasi yang cukup baik dari pengalaman sendiri atau lingkungan serta dapat pula dari tenaga kesehatan. Pengetahuan responden terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, pendidikan, dan pekerjaan.
Artikel yang ketiga ditulis oleh Ellyana Mafticha dengan tema Faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi tablet kalsium pada wanita pre menopouse di desa Tanjek Wagir Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo. Artikel ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan pengetahuan tentang osteoporosis dengan konsumsi tablet kalsium pada wanita premenopouse di Desa Tanjek Wagir Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo.Tingkat keeratan hubungan dalam penelitian ini adalah sangat kuat. Sebagian besar responden berpengetahuan cukup tentang osteoporosis akan tatapi mereka tidak mengkonsumsi tablet kalsium dengan teratur di karenakan masalah biaya dan malas minum tablet kalsium setiap hari. Konsumsi tablet kalsium ini bermanfaat untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan, kerapuhan tulang, dan kejang otot.
Artikel yang keempat ditulis oleh Farida Yuliani yang membahas tentang Perilaku Pantang Makan Pada Ibu Nifas di BPS A Balongtani Jabon Sidoarjo. Artikel ini menjelaskan bahwa pantang makan pada ibu nifas dapat mempengaruh kelancaran produksi ASI. Sehingga perlunya peningkatan informasi tentang pantang makan pada ibu nifas, supaya ibu nifas mengetahui pentingnya makanan bergizi untuk kesehatan ibu dan bayi.
Artikel yang kelima ditulis oleh Dyah Siwi Hety tentang hasil penelitiannya yang dipublikasikan pada tahun 2010 yakni tentang Hubungan Usia dan Paritas Dengan Kejadian Ca Cervix di RSUD Sidoarjo Tahun 2009. Hasil penelitian ini membahas tentang hubungan antara paritas dengan kejadian Ca Cerviks. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Ca Cerviks : Human Papilloma Virus, merokok, hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini, berganti-ganti pasangan seksual, gangguan system kekebalan tubuh, pemakaian pil KB, infeksi herpes genetalis atau infeksi klamidia menahun, lanjut usia, kegemukan, menstruasi pertama di usia dini, menopause yang terlambat dan belum pernah hamil. Simpulan penelitian ini adalah pasien rawat inap dengan paritas tinggi cenderung terkena kanker serviks lebih besar dibandingkan pasien dengan paritas rendah. Penyakit kanker serviks adalah jenis penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Salah satu upaya mencegah kanker serviks adalah dengan membatasi jumlah anak dan melakukan pemeriksaan pap smear sebagai upaya pencegahan kanker serviks.
Artikel yang keenam ditulis oleh Sarmini Moedjiarto yang membahas tentang karakteristik ibu yang berhubungan dengan perdarahan post partum di RB Medika Utama Wonokupang Balongbendo Sidoarjo tahun 2009. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel independen (jarak persalinan) dan variabel dependen ( perdarahan post partum ). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa jarak persalinan merupakan salah satu penyebab predisposisi terjadinya perdarahan post partum. Perlu adanya penanganan obstetrik yang efisian dalam pemantauan kehamilan agar komplikasi persalinan terhadap perdarahan post partum bisa di cegah.
Vol. 3. No. 1, Februari 2011
ISSN : 2085 - 0204
Kebijakan Editorial dan Pedoman Penulisan Artikel
Kebijakan EditorialJurnal Hospital Majapahit diterbitkan oleh Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto secara berkala (setiap 6 bulan) dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi hasil penelitian, artikel ilmiah kepada akademisi, mahasiswa, praktisi dan lainnya yang menaruh perhatian terhadap penelitian-penelitian dalam bidang kesehatan. Lingkup hasil penelitian-penelitian dan artikel yang dimuat di Jurnal Hospital Majapahit ini berkaitan dengan pendidikan yang dilakukan oleh Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto.
Jurnal Hospital Majapahit menerima kiriman artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Penentuan artikel yang dimuat dalam Jurnal Hospital Majapahit dilakukan melalui proses blind review oleh editor Hospital Majapahit. Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penentuan pemuat artikel, antara lain : terpenuhinya syarat penulisan dalam jurnal ilmiah, metode penelitian yang digunakan, kontribusi hasil penelitian dan artikel terhadap perkembangan pendidikan kesehatan. Penulis harus menyatakan bahwa artikel yang dikirim ke Hospital Majapahit, tidak dikirim atau dipublikasikan dalam majalah atau jurnal ilmiah lainnya.
Editor bertanggung jawab untuk memberikan telaah konstruktif terhadap artikel yang akan dimuat, dan apabila dipandang perlu editor menyampaikan hasil evaluasi artikel kepada penulis. Artikel yang diusulkan untuk dimuat dalam jurnal Hospital Majapahit hendaknya mengikuti pedoman penulisan artikel yang dibuat oleh editor. Artikel dapat dikirim ke editor Jurnal Hospital Majapahit dengan alamat :
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363
Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736,
Email : [email protected]
Vol. 3. No. 1, Februari 2011
ISSN : 2085 - 0204
Pedoman Penulisan Artikel.
Penulisan artikel dalam jurnal kesehatan hospital majapahit yang diharapkan menjadi pertimbangan penulis.
Format.
1. Artikel diketik dengan spasi ganda pada kertas A4 (210 x 297 mm).
2. Panjang artikel maksimum 7.000 kata dengan Courier atau Times New Roman font 11 – 12 atau sebanyak 15 sampai dengan 20 halaman.
3. Margin atas, bawah, samping kanan dan samping kiri sekurang kurangnya 1 inchi. 4. Semua halaman sebaiknya diberi nomor urut.
5. Setiap table dan gambar diberi nomor urut, judul yang sesuai dengan isi tabel atau gambar serta sumber kutipan.
6. Kutipan dalam teks menyebutkan nama belakang (akhir) penulis, tahun, dan nomor halaman jika dipandang perlu. Contoh :
a. Satu sumber kutipan dengan satu penulis (Rahman, 2003), jika disertai dengan halaman (Rahman, 2003:36).
b. Satu sumber kutipan dengan dua penulis (David dan Anderson, 1989). c. Satu sumber kutipan dengan lebih dari satu penulis (David dkk, 1989).
d. Dua sumber kutipan dengan penulis yang sama (David, 1989, 1992), jika tahun publikasi sama (David, 1989a, 1989b).
e. Sumber kutipan dari satu institusi sebaiknya menyebutkan singkatan atau akronim yang bersangkutan (BPS, 2007: DIKNAS, 2006).
Isi Tulisan.
Tulisan yang berupa hasil penelitian disusun sebagai berikut :
Abstrak, bagian ini memuat ringkasan artikel atau ringkasan penelitian yang meliputi masalah penelitian, tujuan, metode, hasil, dan kontribusi hasil penelitian. Abstrak disajikan diawal teks dan terdiri antara 200 sampai dengan 400 kata (sebaiknya disajikan dalam bahasa inggris). Abstrak diberi kata kunci (key word) untuk memudahkan penyusunan indeks artikel.
Pendahuluan, menguraikan kerangka teoritis berdasarkan telaah literatur yang menjadi landasan untuk menjadi hipotesis dan model penelitian.
Kerangka Teoritis, memaparkan kerangka teoritis berdasarkan telaah literatur yang menjadi landasan untuk mengembangkan hipotesis dan model penelitian.
Metode Penelitian, memuat pendekatan yang digunakan, pengumpulan data, definisi Dan pengukuran variable serta metode dan teknik analisis data yang digunakan.
Hasil Penelitian, berisi pemaparan data hasil tentang hasil akhir dari proses kerja teknik analisis data, bentuk akhir bagian ini adalah berupa angka, gambar dan tabel.
Pembahasan, memuat abstraksi peneliti setelah mengkaji hasil penelitian serta teori – teori yang sudah ada dan dijadikan dasar penelitian.
Daftar Pustaka, memuat sumber-sumber yang dikutip dalam artikel, hanya sumber yang diacu saja yang perlu dicantumkan dalam daftar pustaka.
Jurnal :
Berry, L. 1995. “Ralationship Marketing of Service Growing Interest, Emerging Perspective”. Journal of the Academy Marketing Science. 23. (4) : 236 – 245.
Buku :
Asnawi SK dan Wijaya C. 2006. Metodologi Penelitian Keuangan, Prosedur, Ide dan Kontrol. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Artikel dari Publikasi Elekronik :
Orr. 2002. “Leader Should do more than reduce turnover”. Canadian HR Reporter. 15, 18, ABI/INFORM Research. 6 & 14 http://www.proquest.com/pqdauto[06/01/04].
Majalah :
Widiana ME, 2004. “Dampak Faktor-Faktor Pemasaran Relasional dalam Membentuk Loyalitas Nasabah pada Bisnis Asuransi”. Majalah Ekonomi. Tahun XIV. (3) : 193-209.
Pedoman :
Joreskog and Sorbom. 1996. Prelis 2 : User’s Reference Guide, Chicago, SSI International.
Simposium :
Pandey. LM. 2002. Capital Structur and Market Power Interaction : evidence from Malaysia, in Zamri Ahmad, Ruhani Ali, Subramaniam Pillay. 2002. Procedings for the fourt annual Malaysian Finance Assiciation Symposium. 31 May-1. Penang. Malaysia.
Paper :
Martinez and De Chernatony L. 2002. “The Effect of Brand Extension Strategies Upon Brand Image”. Working Paper. UK : The University of Birmingham.
Undang-Undang & Peraturan Pemerintah :
Widiana ME, 2004. “Dampak Faktor-Faktor Pemasaran Relasional dalam Membentuk Loyalitas Nasabah pada Bisnis Asuransi”. Majalah Ekonomi. Tahun XIV. (3) : 193-209.
Skripsi, Thesis, Disertasi :
Christianto I. 2008. Penentuan Strategi PT Hero Supermarket Tbk, Khususnya pada Kategori Supermarket di Kotamadya Jakarta Barat berdasarkan Pendekatan Analisis Konsep Three Stage Fred R. David (Skripsi). Jakarta : Program Studi Manajemen, Institut Bisnis dan Informatika Indonesia.
Surat Kabar :
Gito. 26 Mei 2006. Penderes. Perajin Nira Sebagian Kurang Profesional. Kompas: 36 (Kolom 4-5).
Penyerahan Artikel :
Artikel diserahkan dalam bentuk compact disk (CD) dan dua eksemplar cetakan kepada :
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363
Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736,
Email : [email protected]
Vol. 3. No. 1, Februari 2011
ISSN : 2085 - 0204
DAFTAR ISI
FAKTOR KARAKTERISTIK IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETEPATAN
IMUNISASI DPT COMBO DAN CAMPAK DI PASURUAN ...
1
Dian Irawati
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN IBU
TENTANG REGURGITASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS MUJI
WINARNIK MOJOKERTO ...
15
Sulisdiana
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI TABLET
KALSIUM PADA WANITA PREMENOPOUSE DI DESA TANJEK WAGIR
KECAMATAN KREMBUNG KABUPATEN SIDOARJO
...
34
Elyana Mafticha.
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
PERILAKU PANTANG MAKAN PADA IBU NIFAS DI BPS “A” BALONGTANI
JABON SIDOARJO ...
54
Farida Yuliani
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN CA CERVIX DI RSUD
SIDOARJO TAHUN 2009
...74
Dyah Siwi Hety
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
KARAKTERISTIK IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERDARAHAN POST
PARTUM DI RB MEDIKA UTAMA WONOKUPANG BALONGBENDO SIDOARJO
TAHUN 2009 ...
87
Sarmini Moedjiarto
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
Jl. Jabon – Gayaman KM. 2 Mojokerto 61363
Telepon (0321) 329915 Fax (0321) 331736,
Email : [email protected]
1
FAKTOR KARAKTERISTIK IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KETEPATAN IMUNISASI DPT COMBO DAN CAMPAK
DI PASURUAN
Dian Irawati
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
ABSTRAK
Setiap tahun ada 10% bayi sekitar (450.000 bayi) yang belum mendapat imunisasi sehingga dalam 5 tahun menjadi 2 juta anak yang belum mendapat imunisasi yang lengkap. Angka cakupan DPT Combo dan Campak sangat rendah dan setiap tahun selalu terjadi penurunan angka cakupan. Banyak faktor yang menyebabkan belum optimalnya pemberian imunisasi DPT Combo dan Campak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor karakteristik ibu yang berhubungan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak di Pasuruan.
Desain yang digunakan adalah analitik jenis ―Cross Sectional‖, dengan jumlah populasi dan sampel 48 ibu yang memiliki bayi usia 12 bulan. Sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Variabel independen adalah umur, pendidikan, pekerjaan dan pengetahuan sedangkan variabel dependen adalah ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data yang didapat kemudian dimasukkan dalam tabulasi silang dihitung dengan uji Mann Whitney. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 17-19 juni 2010 di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan paling banyak responden berpengetahuan kurang 22 responden (45,83%) dan lebih dari 50% responden tidak mengimunisasikan bayinya dengan tepat sebanyak 30 responden (62,5%). Analisis data ini menggunakan uji Mann Whitney dengan = 0,05 dan hasil perhitungan 0,008 < 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yaitu ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak.
Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT Combo dan Campak mempengaruhi ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak pada bayi yang disebabkan beberapa faktor antara lain pengetahuan ibu, sumber informasi yang didapat,pendidikan ibu.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin kurang pengetahuan ibu semakin tidak tepat pula dalam mengimunisasikan bayinya. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan dan kader harus lebih di tingkatkan untuk memberikan informasi melalui penyuluhan dengan menyebarkan leaflet tentang jadwal pemberian Imunisasi secara tepat dan pentingnya imunisasi pada bayi.
Kata kunci : Pengetahuan, Imunisasi DPT Combo dan Campak, Ketepatan
A. PENDAHULUAN
Cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia sejak penetapan Expanded Program On Immunisation (EPI) oleh WHO. Bayi-bayi di Indonesia yang diimunisasi setiap tahun sekitar 90% dari sekitar 4,5 juta bayi yang lahir artinya setiap tahun ada 10% bayi (sekitar 450.000 bayi) yang belum mendapat imunisasi sehingga dalam 5 tahun menjadi 2 juta anak yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap (Aprianti, 2008). Hal itu karena masih ada hambatan geografis, jarak, jangkauan layanan, transportasi, ekonomi dan lain-lain (Depkes, 2003). Walaupun pemerintah telah menargetkan imunisasi seperti yang telah disebutkan di atas, namun pada kenyataannya kegiatan imunisasi sendiri masih kurang mendapat perhatian dari masyarakat yang memiliki bayi. Tidak sedikit ibu-ibu yang tidak bersedia untuk mengimunisasikan anaknya dengan alasan takut akan efek samping imunisasi yang di sertai pengetahuan masyarakat yang rendah tentang imunisasi (Muhamad, 2005).
DPT (Diphteri, Pertusis dan Tetanus) Combo adalah gabungan imunisasi DPT dengan Hepatitis B, di berikan kepada balita secara bertahap dalam 3 kali. Imunisasi DPT untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus. Imunisasi ini di berikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Efek
2
sampingnya merah, dan bengkak pada tempat injeksi dan panas badan. Imunisasi Campak gunanya untuk mencegah penyakit campak, diberikan pada usia 9 bulan,di injeksikan di paha/lengan atas. Efek sampingnya panas, merah-merah di kulit. Imunusasi Polio diberikan pada bayi usia 2, 3, 4, 9 bulan.
Pemberian imunisasi akan dilaksanakan apabila ada peran serta dan kesadaran dari masyarakat khususnya ibu, perilaku ibu dalam ketepatan pemberian imunisasi masih banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor, diantaranya faktor presdiposisi yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi, dan kepercayaan.
Pengetahuan pada masyarakat sangat penting, perubahan sikap yang di dasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak di dasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2000). Banyak faktor yang menyebabkan belum optimalnya pemberian imunisasi DPT Combo dan Campak yaitu tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah terhadap imunisasi. Oleh karena itu pengetahuan masyarakat perlu di tingkatkan sehingga mengerti betapa besarnya pemberian imunisasi pada balita. Dalam masalah ini seharusnya petugas kesehatan dan kader mendatangi rumah ibu yang mempunyai balita dan memberikan sedikit informasi tentang imunisasi.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam imunisasi adalah ketepatan jadwal imunisasi. Apabila ibu tidak tepat dalam mengimunisasikan bayinya akan berpengaruh terhadap kekebalan dan kerentanan bayi terhadap suatu penyakit. Sehingga bayi harus mendapatkan imunisasi tepat waktu agar terlindung dari berbagai penyakit berbahaya. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketepatan jadwal imunisasi adalah tingkat pengetahuan ibu.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan pada tanggal 22-29 April 2010 di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan dengan melihat buku KMS, dari 10 ibu yang mempunyai balita, 3 orang (30%) sudah mengimunisasikan balitanya sesuai jadwal. Sedangkan 7 orang (70%) belum mengimunisasikan bayinya dengan tepat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Tabel 1. Hasil Cakupan Pencapaian Imunisasi DPT Combo di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan Tahun 2008-2009
No. Jenis Imunisasi 2008 2009
Target Pencapaian Target Pencapaian
1. DPT Combo I 100 57(57%) 100 53(53%)
2. DPT Combo II 95 46(52%) 90 49(54%)
3. DPT Combo III 90 42(47%) 90 48(53%)
Sumber : Laporan Imunisasi Polindes Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
Berdasarkan tabel di atas, khususnya imunisasi DPT Combo dan Campak, angka cakupan imunisasi DPT Combo dan Campak Tahun 2008-2009 lebih rendah dari target yang telah di tetapkan. Dari fenomena diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang faktor karakteristik ibu yang berhubungan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan.
B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Dasar Imunisasi
a. Pengertian Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata Imun, kebal, resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2003).
3
Bayi yang lahir mempunyai kekebalan alami yang diterima dari ibunya saat masih dalam kandungan. Kekebalan ini didapat melalui placenta dan akan habis kira-kira setelah bayi berusia 6 bulan. Pada usia ini seorang anak menjadi sasaran yang mudah dijangkiti penyakit. Untuk mencegahnya, suntikan imunisasi harus diberikan sedini mungkin.
Pada dasarnya imunisasi ada 2 jenis : 1) Imunisasi Pasif (Passive Immunization)
Imunisasi adalah kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapatkan dari luar. Imunisasi pasif dibagi menjadi 2 :
a) Imunisasi pasif alamiah
Adalah antibodi yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
b) Imunisasi pasif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang diperoleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit tertentu.
2) Imunisasi Aktif (Passive Immunization)
Imunisasi aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibodi.
a) Imunisasi aktif alamiah
Adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu penyakit.
b) Imunisasi aktif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit.
Imunisasi Aktif (Active Immunization) Imunisasi yang diberikan pada anak adalah : a) BCG, untuk mencegah penyakit TBC.
b) DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit difteri, pertusis dan tetanus. c) Polio, untuk mencegah penyakit poliomyelitis.
d) Campak untuk mencegah penyakit campak (measles) (Notoatmodjo, 2003). b. Tujuan Program Imunisasi
Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut adalah disentri, tetanus, pertusis, campak, polio dan tuberculose (Notoatmodjo, 2003).
Pemberian imunisasi bertujuan untuk mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/anak-anak pra sekolah (Depkes RI, 2001).
c. DPT Combo
1) Pengertian DPT Combo
Vaksin mengandung DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang in aktivasi serta vaksin hepatiis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg.
2) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit Difetri, Tetanus, Pertusis dan Hepatitis B.
3) Efek Samping DPT a) Panas
b) Rasa sakit di daerah suntikan c) Peradangan
d) Kejang-kejang 4) Kemasan
4
5) Cara pemberian dan dosis
a) Pemberian dengan cara Intra Muskular, 0,5 ml sebanyak 3 dosis.
b) Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan).
c) Di unit pelayanan, Vaksin DPT combo yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:
(1) Vaksin belum kadaluwarsa
(2) Vaksin disimpan dalam suhu +2°C- +8°C. (3) Tidak pernah terendam air
(4) Sterilitasnya terjaga (Depkes RI, 2005) d. Vaksin Campak
1) Definisi Vaksin Campak
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. 2) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak. 3) Kontraindikasi
Individu yang mengidap penyakit immunodeficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respons imun Karen aleukimia, lymphoma.
4) Efek samping
Hingga 15% pasien dapat megalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.
5) Cara pemberian dan dosis
a) Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut.
b) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9 bulan (Depkes RI, 2005).
Tabel 2. Jadwal Imunisasi
No. Umur Jenis Imunisasi 1. 0-7 Hari HB Uniject
2. 1 Bulan BCG
3. 2 Bulan DPT Combo 1 dan Polio 1 4. 3 Bulan DPT Combo 2 dan Polio 2 5. 4 Bulan DPT Combo 3 dan Polio 3 6. 9 Bulan Campak dan Polio 4
2. Konsep Dasar Pengetahuan a. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu, pengindraan terjadi melalui indra manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya (Budi, 2005).
Pengetahuan adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran.
5
b. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Pengetahuan memiliki enam tingkat yang bergerak berurutan dari tingkatan rendah atau sederhana sampai ketingkat yang paling kompleks yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan, mengetahui dan sebagainya.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang apa yang di ketahui dan dapat mengintreprestasikan materi tersebut dengan benar. Orang yang telah faham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya), Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi itu dan masih ada kaitanya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau obyek penelitian itu berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
c. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1) Pendidikan
Pendidikan adalah bimbingan yang telah di berikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang pendidikannya, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai yang baru diperkenalkan.
2) Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3) Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologi (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan pertama, perubahan ukuran, kedua perubahan proporsi, ketiga hilangnya ciri- cirri lama, ke empat timbulnya ciri-ciri baru. Ini akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologi atau mental taraf berfikir seseorang makin matang.
6
a) Minat
Sebagai suatu kecenderungan atau keinginannya tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang menjadi mendalam.
b) Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman seseorang kurang baik akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka secara psikologi akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi jiwanya, dan akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupannya.
c) Kebudayaan lingkungan sekitarnya
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
d) Informasi
Kemudahan memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Notoatmodjo, 2003). e) Cara Mengukur Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan seperti :
(1) Pengetahuan baik jika skor >75% (2) Pengetahuan cukup jika skor 60% - 75%
(3) Pengetahuan kurang jika < 60% (Arikunto, 2006).
C. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah observasi analitik dengan desain penelitian Cross Sectional, karena antara variabel independen (pengetahuan) dan variabel dependen (ketepatan) diukur pada saat yang sama (Notoatmodjo, 2005).
2. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu pemilihan (Notoatmodjo, 2005). Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha : Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan
Campak.
3. Variabel Dan Definisi Operasional
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2005).
Variabel bebas (independen) penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT Combo dan Campak. Variabel (dependen) tergantung pada penelitian ini adalah ketepatan pemberian imunisasi DPT Combo dan Campak.
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2008).
7
Tabel 3. Definisi Operasional Faktor Karakteristik Ibu Yang Berhubungan Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak Di Pasuruan
Variabel Definisi Operasional Kriteria Skala Independen :
Pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak
Kemampuan ibu untuk menyebutkan jawaban yang benar pada pertanyaan tentang imunisasi DPT Combo dan Campak yang meliputi: - Pengertian imunisasi DPT
Combo dan Campak
- Efek samping imunisasi DPT Combo dan Campak
- Jadwal pemberian imunisasi Combo dan Campak
Tingkat pengetahuan : -Kurang : < 60% -Cukup : 60 – 75% -Baik : > 75 % Jawaban : -Benar :1 -Salah : 0 (Arikunto, 2006) Ordinal Dependen : Ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak Kegiatan imunisasi DPT Combo dan Campak yang dilaksanakan sesuai dengan jadwal pemberian
-Tepat (DPT Combo dan Campak) diberikan kode 1 -Tidak tepat (DPT
Combo dan Campak) diberikan kode 2
Nominal
4. Populasi, Sampel Dan Instrumen Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 12
bulan
sebanyak 48 orang yang ada di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruanpada tanggal 17-19 Juni 2010
. Penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan teknik pengambilan sampel jenuh (total sampling) yaitu cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi untuk menjadi sampel. Cara ini dilakukan bila populasinya kecil, maka anggota populasi tersebut diambil seluruhnya untuk dijadikan sampel penelitian (Hidayat, 2008).Instrumen yang digunakan adalah buku KMS dan
kuesioner. Kuesioner berisi 13 pernyataan tentang pengetahuan yang disusun disusun
sendiri oleh peneliti.
5. Teknik Analisis Data
a.
UnivariatUntuk kode subvariabel tingkat pengetahuan sebagai berikut: Pemyataan : Salah : 0
Benar : 1
Kemudian jawaban tersebut diubah menjadi persentase dengan rumus:
Keterangan:
P : Prosentase
f : Jumlah jawaban yang benar
N : Jumlah skor maksimal jika semua pertanyaan dijawab dengan benar
Kemudian hasil prosentase diinterpretasikan menjadi: Pengetahuan baik : > 75 %
Pengetahuan cukup : 60 % - 75 %
8
b.
BivariatAnalisa bivariat dilakukan terhadap 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Dalam analisis ini dapat dilakukan uji Mann Whitney, dengan menggunakan teknik komputerisasi SPSS 12, dengan kemaknaan = 0,05. Jika nilai probabilitas hasil perhitungan < 0.05, maka Ha diterima.
Ha : Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan
Campak.
H0 : Tidak Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT
Combo dan Campak.
D. HASIL PENELITIAN 1. Data Umum
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4. Karakteristik Usia Responden di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Karakteristik Usia Frekuensi (f) Prosentase (%)
1. < 20 tahun 10 20,8
2. 20-30 tahun 35 72,9
3. >30 tahun 3 6,3
Total 48 100
Dari tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar responden berusia 20-30 tahun sedangkan responden yang berusia > 30 tahun mempunyai proporsi yang paling kecil. b. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 5. Karakteristik Pendidikan Responden di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Karakteristik Pendidikan Frekuensi (f) Prosentase (%)
1. SD 20 41,6
2. SMP 14 29,2
3. SMA 14 29,2
4. Perguruan Tinggi 0 0
Total 48 100
Dari tabel 5 diketahui bahwa paling banyak responden berpendidikan SD dan tidak ada responden yang lulusan Perguruan Tinggi.
c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 6. Karakteristik Pekerjaan Responden di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Karakteristik Pekerjaan Frekuensi (f) Prosentase (%)
1. Bekerja 7 14,6
2. Tidak bekerja 41 85,4
Total 48 100
Dari tabel 6 diketahui bahwa sebagian responden tidak bekerja sedangkan sisanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan swasta.
9
d. Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi DPT Combo dan Campak
Tabel 7. Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Pengetahuan Frekuensi (f) Prosentase (%)
1. Baik 6 12,5
2. Cukup 20 41,7
3. Kurang 22 45,8
Total 48 100
Dari tabel 7 menunjukkan hampir setengahnya responden mempunyai pengetahuan yang kurang tentang imunisasi DPT Combo dan Campak, sedangkan yang mempunyai pengetahuan pada tingkat baik mempunyai proporsi yang paling kecil.
e. Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak
Tabel 8. Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Ketepatan Frekuensi (f) Prosentase (%)
1. Tepat 18 37,5
2. Tidak Tepat 30 62,5
Total 48 100
Dari tabel 8 menunjukkan bahwa lebih dari 50% responden tidak tepat dalam melakukan imunisasi DPT Combo dan Campak sedangkan sisanya sudah tepat dalam melakukan imunisasi DPT Combo dan Campak.
2. Data Khusus
Pada data ini akan disajikan tabulasi silang antara usia, pendidikan, pekerjaan dan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak .
a. Analisis Hubungan Usia Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak
Tabel 9. Tabulasi Silang Antara Usia Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Usia
Ketepatan
Total Tepat Tidak Tepat
f (%) f (%) f (%)
1. < 20 tahun 0 0 10 20,8 10 20,8
2. 20-30 tahun 16 33,3 19 39,6 35 72,9
3. >30 tahun 2 4,2 1 2,1 3 6,3
Jumlah 18 37,5 30 62,5 48 100 Berdasarkan hasil tabulasi silang diatas dapat diketahui bahwa semua responden yang berusia < 20 tahun tidak tepat dalam menjalankan imunisasi DPT Combo dan Campak sedangkan responden yang berusia > 30 tahun lebih dari 50% tepat dalam menjalankan imunisasi DPT Combo dan Campak.
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 8,097(a) 2 ,017
Likelihood Ratio 11,428 2 ,003
Linear-by-Linear Association 7,460 1 ,006
N of Valid Cases 48
a 3 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,13.
10
Hasil uji statistic menggunakan uji Chi Square menunjukkan bahwa nilai p value sama dengan 0,017. Nilai ini lebih kecil dari 0,05 jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara usia ibu dengan ketepatan dalam melaksanakan imunisasi DPT Combo dan Campak. b. Analisis Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak
Tabel 10. Tabulasi Silang Antara Pendidikan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Pendidikan
Ketepatan Total Tepat Tidak Tepat
f (%) f (%) f (%)
1. SD 2 4,2 18 37,4 20 41,6
2. SMP 5 10,4 9 18,8 14 29,2
3. SMA 11 22,9 3 6,3 14 29,2
Jumlah 18 37,5 30 62,5 48 100 Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berpendidikan SD tidak tepat dalam menjalankan imunisasi DPT Combo dan Campak, sedangkan responden yang berpendidikan SMA sebagian besar tepat dalam menjalankan imunisasi DPT Combo dan Campak.
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 16,549(a) 2 ,000
Likelihood Ratio 17,709 2 ,000
Linear-by-Linear Association 15,902 1 ,000
N of Valid Cases 48
a 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,25.
Hasil analisis data menggunakan uji chi square tersebut diatas dapat diketahui bahwa nilai chi square hitung sama dengan 16,549 dengan nilai tabel pada df sama dengan 2 adalah sebesar 5,991. karena nilai hitung > nilai tabel maka Ho ditolak jadi ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak pada tingkat signifikansi 5%.
c. Analisis Hubungan Pekerjaan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak Tabel 11. Tabulasi Silang Antara Pekerjaan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT
Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Pekerjaan
Ketepatan
Total Tepat Tidak Tepat
f (%) f (%) f (%)
1. Tidak Bekerja 13 27,1 28 58,2 41 85,4
2. Bekerja 5 10,4 2 4,2 7 14,6
Jumlah 18 37,5 30 62,5 48 100 Dari hasil tabulasi silang dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak bekerja tidak tepat dalam melaksanakan imunisasi DPT Combo dan Campak. Sedangkan responden yang bekerja justru paling banyak tepat dalam menjalankan imunisasi DPT Combo dan Campak.
11
d. Analisis Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo dan Campak Tabel 12. Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi
DPT Combo dan Campak di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan
No. Pengetahuan
Ketepatan
Total Tepat Tidak Tepat
f (%) f (%) f (%)
1 Baik 5 10,4 1 2,1 6 12,5
2 Cukup 13 27,1 7 14,6 20 41,7
3 Kurang 0 0 22 45,8 22 45,8
Jumlah 18 37,5 30 62,5 48 100 Berdasarkan tabel 12 menunjukkan sebagian besar berpengetahuan kurang dan tidak tepat mengimunisasikan bayinya sesuai jadwal 22 responden (45,8%).
Data yang diperoleh dari hasil observasi oleh peneliti kemudian dilakukan analisa dengan menggunakan uji mann whitney untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pengetahuan ibu tentang ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak antara responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik, cukup, kurang di Desa Balung Anyar Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan pada bulan17-19 juni 2010. Dari hasil uji mann whitney dengan = 0,05 dan hasil perhitungan 0,008 < 0,05 yang artinya Ha diterima yaitu ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak.
E. PEMBAHASAN
1. Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi DPT Combo Dan Campak
Berdasarkan tabel 7 menunjukkan paling banyak responden mempunyai pengetahuan baik 6 responden (12,5%), cukup 20 responden (41,66%), kurang tentang imunisasi DPT Combo dan Campak 22 responden (45,83%). Dari hasil data banyak ibu yang memiliki pengetahuan kurang tentang imunisasi DPT Combo dan campak yang meliputi pengertian, manfaat, jadwal imunisasi. Karena kurangnya ibu yang memiliki pengetahuan tentang imunisasi DPT Combo dan Campak maka banyak balita yang tidak diberi imunisasi sesuai jadwal. Semakin tinggi pengetahuan seseorang maka mereka akan membentuk perilaku yang baik. Sebaliknya semakin rendah pengetahuan seseorang maka mereka tidak bisa memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sehingga akan terbentuk perilaku yang tidak baik.
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya pendidikan, lingkungan pekerjaan, umur, kebudayaan lingkungan, informasi. Dengan bertambahnya usia maka pengetahuan seseorang akan bertambah baik (Mubarak, 2007).
Disamping usia ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu pengalaman dan sumber informasi. Pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu. Sumber informasi dapat diperoleh dirumah, sekolah, media cetak,dan tempat pelayanan keehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan informasi sekaligus menghasilkan informasi (Arikunto, 2006).
Ditinjau dari segi usia maka tabulasi silang yang terdapat pada lampiran 8 menunjukkan bahwa hampir setengahnya responden berusia 20-30 tahun 13 responden (27,08%). Disini bisa kita lihat bahwa pada usia 20-30 tahun, maka ibu sudah berada pada tahap perkembangan yang dewasa. Pada fase dewasa tugas perkembangannya adalah untuk saling ketergantungan dan tanggung jawab terhadap orang lain serta menjadi pribadi yang lebih matang. Namun hal tersebut bertentangan dengan kenyataan yang ada. Bahwa seharusnya seseorang yang sudah memasuki fase dewasa memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini mungkin disebabkan karena seseorang itu baru belajar untuk mulai saling ketergantungan sehingga kematangan dalam berfikir belum bisa maksimal.
12
Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologi (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan pertama, perubahan ukuran, kedua perubahan proporsi, ketiga hilangnya ciri ciri lama, ke empat timbulnya ciri ciri baru. Ini akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologi atau mental taraf berfikir seseorang makin matang (Notoatmodjo, 2003).
Dilihat dari segi pendidikan maka tabulasi silang yang terdapat pada lampiran 8 menunjukkan bahwa hampir setengahnya responden berpendidikan SD 14 responden (29,16%). Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa masih banyak ibu yang memiliki pendidikan SD yang berpengetahuan kurang, sehingga diperlukan informasi dan penyuluhan dari tenaga kesehatan secara bertahap untuk dapat meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi DPT Combo dan Campak. Pendidikan memegang peranan penting dalam mengukur tingkat pengetahuan seseorang, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin kurang pengetahuan yang di milikinya.
Pendidikan adalah bimbingan yang di berikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikanya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai nilai yang baru diperkenalkan (Mubarak, 2007).
Dilihat dari segi pekerjaan maka tabulasi silang yang terdapat pada lampiran 8 menunjukkan bahwa hampir setengahnya responden tidak bekerja 22 responden (45,83%). Dari hasil penelitian ini banyak ibu yang tidak bekerja, ini sangat menghambat ibu untuk memperoleh informasi. Oleh karena itu pekerjaan sangat mendukung karena ibu yang bekerja mempunyai pendapatan dan mudah mendapatkan informasi dalam pemberian imunisasi. Seseorang yang tidak bekerja lebih banyak memiliki waktu untuk saling bertukar pendapat dan berinteraksi dengan orang lain.
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan untuk menunjang kehidupan keluarga, bekerja pada umumnya menyita waktu, bekerja akan mempengaruhi kehidupan keluarga (Ari, 2005). Menurut penelitian Ali, Muhammad (2008) didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang imunisasi DPT Combo dan Campak antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja, dimana tingkat pengetahuan tentang imunisasi DPT Combo dan Campak ini masih kurang. Begitupun, walaupun tanpa dasar pengetahuan yang memadai ternyata di kalangan ibu tidak bekerja sikap dan perilaku mereka tentang imunisasi lebih baik dibanding ibu yang bekerja.
2. Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak
Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak tepat mengimunisasikan bayinya 30 responden (62,5%). Imunisasi yang teratur sesuai dengan waktu dan jadwal yang telah ditetapkan sangat penting karena efek dan dosis imunisasi sudah di atur sedemikian rupa sehingga bisa optimal. Faktor yang mempengaruhi terhadap kejadian tidak tepatnya imunisasi adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi, faktor keterlibatan kader dalam memotivasi ibu dan jarak rumah ketempat pelayanan imunisasi.
Menurut Mubarak (2007) Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil panca inderanya. Pendapat lain menyatakan pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, sebab perilaku perilaku ini terjadi akibat adanya paksaan atau aturan yang mengharuskan untuk berbuat.
3. Hubungan Antara Usia Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak Dari hasil analisa data menunjukkan bahwa usia ibu berhubungan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak. Semakin dewasa usia seseorang maka semakin baik pula seseorang tersebut dalam bersikap dan menyikapi sesuatu. Dan sebaliknya semakin muda usia seseorang maka akan semakin kurang seseorang bersikap dan menyikapi sesuatu. Usia dapat mempengaruhi atau meningkatkan pengalaman seseorang. Tetapi pada kenyataannya ibu yang
13
berumur 20-30 tahun belum bisa berfikir yang lebih matang dan positif dalam mengambil keputusan untuk mengimunisasikan bayinya dengan tepat. Menurut(Noor,N.N, 2008), usia merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama. Pebedaan pengalaan terhadap masalah kesehatan atau penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh usia individu tersebut.
4. Hubungan Antara Pendidikan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak
Berdasarkan hasil analisa data antara pendidikan dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan campak yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak. Menurut hasil penelitian banyak ibu yang berpendidikan SD, disini bisa kita lihat karena rendahnya tingkat pendidikan ibu tidak memiliki kesadaran yang tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang mungkin terjadi nanti. Semakin rendah tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin tidak memperdulikan pusat-pusat pelayanan kesehatan khususnya dalam mengimunisasikan bayinya dengan tepat.
Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku, semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan. Suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berperilaku baik, sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat. Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (Ali, Muhammad, 2008).
5. Hubungan Antara Pekerjaan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak Berdasarkan hasil analisa data dapat diketahui bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak. Seseorang yang tidak bekerja akan mempunyai waktu yang lebih banyak untuk saling bertukar fikiran mengenai pengalaman yang diperoleh. Ibu yang tidak bekerja tidak banyak yang mempunyai pengetahuan yang baik mungkin disebabkan kurangnya informasi yang yang diterima ibu rumah tangga. Penelitian Ali, Muhammad (2008) bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan imunisasi antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja. Dimana dalam penelitian ini tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT Combo dan Campak masih kurang.
6. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Ketepatan Imunisasi DPT Combo Dan Campak Berdasarkan tabel 12 menunjukkan paling banyak responden berpengetahuan kurang dan mengimunisasikan bayinya tidak tepat sesuai jadwal 22 responden (45,8%). Perhitungan hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak dilakukan uji Mann whitney. Hasil uji Mann Whitney dengan = 0,05 dan hasil perhitungan 0,008 < 0,05 yang artinya Ha diterima yaitu ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan imunisasi DPT Combo dan Campak.
Pengetahuan yang baik akan mempengaruhi seseorang dalam menyikapi sesuatu. Jika seseorang menyadari pentingnya imunisasi maka orang tersebut akan berusaha untuk mendapatkan pelayanan imunisasi yang terartur dan optimal. Semakin rendah pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin kurang membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan. Dengan pendidikan yang rendah, maka seseorang kurang mempunyai wawasan dan pengetahuan dan belum menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga belum termotivasi untuk melakukan imunisasi.
Pandangan adat daerah setempat yaitu kekhawatiran bayinya akan meninggal karena mungkin saja imunisasi yang diberikan tidak cocok untuk si bayi. Disamping itu ada kekhawatiran keluarga tentang reaksi imunisasi yaitu badan bayi jadi panas.
Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua
14
dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan kesehatan yang memadai telah diberikan. Peran seorang ibu program imunisasi sangatlah penting, karenanya suatu pemahaman tentang program imunisasi dasar amat diperlukan untuk kalangan tersebut (Ali, Muhammad, 2008).
F. PENUTUP
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan usia ibu dengan ketepatan pelaksanaan imunisasi DPT Combo dan Campak, ada hubungan pendidikan ibu dengan ketepatan pelaksanaan imunisasi DPT Combo dan Campak, ada hubungan pekerjaan ibu dengan ketepatan pelaksanaan imunisasi DPT Combo dan Campak dan ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan pelaksanaan imunisasi DPT Combo dan Campak di
Desa Balung Anyar
Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan.
Peneliti selanjutnya hendaknya lebih memprioritaskan pada motivasi ibu dalam
melaksanakan imunisasi DPT Combo dan Campak sekaligus membandingkannya
dengan program imunisasi regular. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memotivasi para
ibu untuk meningkatkan pengetahuannya tentang pentingnya imunisasi DPT Combo
dan Campak, sehingga bayi mendapat imunisasi DPT Combo dan Campak.
DAFTAR PUSTAKA
Adi. (2008). Pengertian Imunisasi. (http://cresuft file wordpress.com, diakses 1 Juni 2010).
Alimul, Aziz. (2009). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Madika.
Anonim. Arti Definisi Pengertian Imunisasi. (http://www. Organisasi. Org/arti-definisi-pengertian-imunisasi, diakses 12 Mei 2010).
Anonim. Cara Pemberian Dan Dosis Imunisasi. (http://www. Geolitis.com. Cara Pemberian dan Dosis Imunisasi, diakses 12 Mei 2010).
Anonim. Imunisasi. (http://www. Medicastore.com. Imunisasi, diakses 1 Juni 2010).
Arikunto, Suharsini. (2006). Proseder Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Dahlan, Sopiyudin. (2008). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. Departemen Kesehatan RI, (2005). Pedoman Teknis Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta: Widya. Julia, Madarina, dr. (2007). Sistem Imu, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta: Widya Medika. Mubarak, Iqbal dkk. (2007). Promosi Kesehatan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu. Naja, Dr. (2003). Hand Out dan Bahan Kuliah Imunisasi. Jakarta: UI Press.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodeliogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Sugiyono. (2007). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Sugiono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Alfabeta.
Tawi, Mirzal. (2008). Imunisasi dan Faktor yang Mempengaruhi. (http://syehaceh.wordpress.com, diakses 13 Mei 2010).
15
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN IBU
TENTANG REGURGITASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN
DI BPS MUJI WINARNIK MOJOKERTO
Sulisdiana
Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto
ABSTRAK
Regurgitasi merupakan keadaan normal yang sering terjadi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Seiring bertambahnya usia yaitu sampai diatas 6 bulan maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak. Namun hanya 25% orang tua bayi yang peduli dan menganggap gumoh sebagai sebuah masalah, hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman mereka tentang gumoh. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Muji Winarnik Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto.
Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan metode survey. Adapun variabel penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan. Sampelnya adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan diambil menggunakan teknik non probabilty sampling jenis concecutive Sampling dari populasi di BPS Muji Winarnik Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto tahun 2010 yang berjumlah 41 ibu. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 14 –19 Juni. Analisa data pada penelitian ini menggunakan teknik tabulasi kemudian diolah menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil penelitian ini adalah sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengertian regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan yaitu 19 responden (46,3%), sedangkan pengetahuan yang kurang sebanyak 8 responden (19,5%), pengetahuan yang baik sebanyak 10 responden (24,4%). Pengetahuan ini muncul karena responden telah memperoleh informasi yang cukup baik dari pengalaman sendiri atau lingkungan serta dapat pula dari tenaga kesehatan. Pengetahuan responden terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, pendidikan, dan pekerjaan.
Penelitian ini diidentifikasikan bahwa pengetahuan yang dimiliki ibu di BPS Muji Winarnik Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto adalah cukup. Tenaga kesehatan harus selalu memberikan pendidikan dan pengarahan tentang cara menyusui yang baik dan benar, terutama pada ibu menyusui agar menimbulkan kesadaran ibu akan pengaruh posisi menyusui terhadap kejadian regurgitasi pada bayi.
Kata kunci : Pengetahuan, Regurgitasi
A.
PENDAHULUANRegurgitasi (gumoh) adalah keluarnya kembali sebagian susu yang ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan beberapa saat setelah minum susu. Regurgitasi merupakan keadaan normal yang sering terjadi pada bayi usia dibawah 6 bulan. Seiring bertambahnya usia yaitu sampai diatas 6 bulan maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak (Nursalam, 2005). Ada beberapa penyebab terjadinya regurgitasi yaitu pertama karena belum sempurnanya katup antara lambung dan kerongkongan, sehingga susu yang diminum mudah keluar kembali. Kedua, terlalu banyak minum susu padahal kapasitas lambung masih sedikit sehingga tidak mampu menampung susu yang masuk. Ketiga, aktivitas yang berlebihan, menangis atau menggeliat pada saat disusui sehingga susu keluar kembali (Anang, 2010).
Sebagai orang tua, seharusnya dapat memahami perbedaan antara bayi muntah dan gumoh. Keduanya serupa, namun sebenarnya tidak sama. Bayi yang kenyang sering mengeluarkan ASI yang sudah ditelannya. Jika sedikit, maka disebut bayi gumoh. Volumenya kurang dari 10 cc. Berupa ASI yang sudah ditelan si kecil. Namun, jika volumenya banyak maka disebut bayi muntah. Volumenya diatas 10 cc (Choirunnisa, 2009). Namun hanya 25% orang tua bayi yang peduli dan menganggap gumoh sebagai sebuah masalah, hal ini terjadi
16
karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman mereka tentang gumoh (Ariq,2009). Dewasa ini masih terdapat ibu yang belum mengerti tentang gumoh dan menganggap gumoh atau regurgitasi sama dengan muntah.
Regurgitasi merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada bayi yang mengalami refluks gastroesofagus (RGE). Refluks gastroesofagus didefinisikan sebagai kembalinya isi lambung ke dalam esofagus secara involunter tanpa adanya usaha dari bayi, sedangkan istilah regurgitasi digunakan apabila isi lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut (Rocky, 2009). Pengetahuan ibu yang kurang tentang posisi menyusui merupakan salah satu penyebab terjadinya regurgitasi (Nursalam, 2005). Kurangnya pengetahuan ibu ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalama, kebudayaan dan sumber informasi yang diterima (Mubarak, 2007). Jika pengetahun ibu tentang regurgitasi masih belum dapat ditingkatkan maka dapat menyebabkan asupan nutrisi pada bayi berkurang atau juga terjadi gangguan pencernaan (Yunina, 2009).
Menurut Dr. Badriul Hegar Sp. A data di luar negeri melaporkan 40-60% bayi sehat berumur 4 bulan mengalami regurgitasi sedikitnya satu kali setiap hari dengan volume regurgitasi lebih 5 ml. Sedangkan di Indonesia kurang lebih 70% bayi berumur kurang dari empat bulan dipastikan mengalami gumoh minimal sekali sehari (Ariq, 2009).
Hasil penelitian di daerah Jawa Timur saat ini menunjukkan bahwa pemberian ASI sampai umur enam bulan pada tahun 2009 mencapai 43%. Dari 43% ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan mereka menyatakan bahwa setiap hari anaknya mengalami gumoh minimal satu kali (Gandhi, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan di BPS Muji Winarnik Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto diperoleh data terdapat 47 ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan pada bulan April 2010. Dari hasil wawancara dengan 12 orang ibu diperoleh data 8 Ibu menyatakan masih belum mengerti tentang cara mencegah terjadinya gumoh, dan apa yang menyebabkannya, sedangkan 4 yang lainnya mengatakan sudah biasa menghadapi bayi yang sedang gumoh, bisa dikatakan juga ibu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang terjadinya gumoh.
Upaya untuk menghindari regurgitasi pada bayi setelah minum usahakan menyusui dengan cara yang benar, sendawakan bayi setelah menyusu, dan hindari posisi telentang setelah bayi disusui (Rizal, 2009). Selain itu diharapkan ibu mengikuti penyuluhan kesehatan tentang gumoh oleh tenaga kesehatan dan juga dukungan serta perhatian dari keluarga sangat diperlukan sehingga dapat menumbuhkan semangat ibu untuk lebih meningkatkan wawasannya dalam merawat bayi terutama tentang gumoh.
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan menuliskannya dalam sebuah karya tulis ilmiah dengan judul ‖pengetahuan ibu tentang regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Muji Winarnik Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto‖
B.
TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Dasar Pengetahuana. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya (Keraf, 2001).
Pengetahuan (Knowledge) adalah merupakan hasil ―tahu‖ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan atau Kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Apabila suatu pembuatan yang didasari
17
oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan apabila manusia mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut :
1) Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tertentu disini sikap subjek sudah mulai timbul.
3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4) Trial dimana subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5) Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarak (2007), Faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah: 1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
2) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3) Umur
Bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan pertama, perubahan ukuran, kedua, perubahan proporsi, ketiga, hilangnya ciri-ciri lama, keempat, timbulnya ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.
4) Minat
Suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.
5) Pengalaman
Suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiawaannya, dan pada akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya.
6) Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang.
7) Informasi
Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.