PERAN KELUARGA DALAM PERAWATAN LANSIA
DAN KEPUASAN LANSIA PADA KELUARGA
DI KELURAHAN PADANG MATINGGI
RANTAUPRAPAT
SKRIPSI
Oleh
KHAIRANI RAMBE 111121070
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
Judul : Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada
Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat Nama : Khairani Rambe
Nim : 111121070
Jurusan : Sarjana Keperawatan ( S.Kep ) Tahun : 2013
ABSTRAK
Lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat proses penuaan yang dialaminya karena keluarga merupakan support system utama bagi lansia.lansia akan merasa puas dalam hidupnya apabila ia dapat menerima diri dan lingkungannya secara positif. Keluarga perlu meningkatkan kepeduliannya dan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia yang meliputi perawatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga lansia dapat merasa puas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidupnya serta dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik random sampling yaitu terhadap keluarga dan lansia, dengan jumlah 74 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan statistik deskriptif, kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peran keluarga yang buruk, sedangkan peran keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 55 responden (74,3%), dan responden dengan perawatan cukup baik sebanyak 19 responden (25,7%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar lansia merasa puas pada keluarga yaitu 58 responden (78,4%), dan lansia yang merasa cukup puas sebanyak 16 responden (21,6%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak, khususnya keluarga agar dapat meningkatakan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia sehingga lansia dapat merasa puas terhadap perawatan yang diberikan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup lansia.
PRAKATA
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
yang berjudul “Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia
Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat”.
Teristimewa penulis ucapkan terima kasih kepada Ayahanda (Syaiful Alam) dan Ibunda (Anita Zulpiani) tercinta yang telah mendidik, membesarkan serta memberikan doa, kasih sayang, motivasi dan semangat yang luar biasa, dan terima kasih juga kepada kakak (Khairina Rambe) dan adik (Mifta Hulhusna Rambe) tersayang yang telah memberikan dukungan dan semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Siti Zahara Nasution S.Kp, MNS. selaku dosen
pembimbing skripsi yang telah menyediakan waktu, masukan, arahan dan
motivasi yang berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
informasi yang dibutuhkan selama penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabatku (Maya,Tia, Tika, Nazly, Vera, Miskah, Imel, Widia, Endang dan Boreg) serta semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, sehingga skripsi ini menjadi lebih baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan Keperawatan. Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya. Dengan kerendahan hati penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat memberikan informasi demi kemajuan pengetahuan, khususnya dalam dunia Keperawatan.
Medan, Februari 2013
DAFTAR ISI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peran………..9
2.1.1 Pengertian Peran……… 9
2.1.2 Peran Formal……….. 9
2.1.3 Peran Informal………... 10
2.2 Keluarga……….11
2.2.1 Pengertian Keluarga………..11
2.2.2 Ciri – ciri keluarga………...11
2.2.3 Fungsi keluarga……….12
2.2.4 Tugas perkembangan keluarga berkaitan lansia………15
2.3Lansia………..15
2.3.1 Pengertian Lansia………...15
2.3.2 Batasan Umur Lansia……….15
2.3.4 Tipe lansia………..17
2.3.5 Teori – teori penuaan……….18
2.3.6 Perubahan yang terjadi pada lansia………....23
2.3.7 Tugas perkembangan lansia………...28
2.4 Peran Keluarga dalam Merawat Lansia………..29
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN
3.1 Kerangka konseptual………...33
3.2 Defenisi konseptual……….34
3.3 Defenisi operasional………34
BAB 4 METODELOGI PENELITIAN 4.1 Desain penelitian……….37
4.2 Populasi, sampel dan sampling………...37
4.3 Tempat dan waktu penelitian………..38
4.4 Pertimbangan etik………39
4.5 Instrumen penelitian………...…40
4.6 Uji validitas dan reliabilitas………...41
4.7 Pengumpulan data………..42
4.8 Analisa data………...42
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1Hasil penelitian………...44
5.2Pembahasan………48
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan………54
6.2 Rekomendasi………..54
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik
responden keluarga……….………... 45
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik
responden lansia………... 46
Tabel 5.3 Kategori peran keluarga dalam perawatan lansia ………... 47
DAFTAR SKEMA
Skema Halaman
1. Kerangka konsep peran keluarga dalam perawatan
Judul : Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada
Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat Nama : Khairani Rambe
Nim : 111121070
Jurusan : Sarjana Keperawatan ( S.Kep ) Tahun : 2013
ABSTRAK
Lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat proses penuaan yang dialaminya karena keluarga merupakan support system utama bagi lansia.lansia akan merasa puas dalam hidupnya apabila ia dapat menerima diri dan lingkungannya secara positif. Keluarga perlu meningkatkan kepeduliannya dan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia yang meliputi perawatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga lansia dapat merasa puas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidupnya serta dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik random sampling yaitu terhadap keluarga dan lansia, dengan jumlah 74 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan statistik deskriptif, kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peran keluarga yang buruk, sedangkan peran keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 55 responden (74,3%), dan responden dengan perawatan cukup baik sebanyak 19 responden (25,7%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar lansia merasa puas pada keluarga yaitu 58 responden (78,4%), dan lansia yang merasa cukup puas sebanyak 16 responden (21,6%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak, khususnya keluarga agar dapat meningkatakan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia sehingga lansia dapat merasa puas terhadap perawatan yang diberikan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup lansia.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung. Keluarga mempunyai peran
yang penting dalam keperawatan karena keluarga menyediakan sumber – sumber
yang penting untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi dirinya dan orang lain
dalam keluarga. Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cedera,
perpisahan) akan mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga dalam hal
tertentu (Ali, 2010).
World Health Organization (WHO) menetapkan 60 tahun keatas sebagai
usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan
seseorang telah disebut lanjut usia. Proses menua merupakan proses yang terus –
menerus secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup.
Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan
jaringan lain, hingga tubuh “mati” sedikit demi sedikit (Nugroho, 2008). Jadi,
proses menua adalah suatu keadaan yang normal terjadi pada setiap manusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak
positif terhadap kesejahteraan yang terlihat dari angka harapan hidup (AHH). Hal
ini sejalan dengan keberadaan usia lanjut yang ditandai dengan umur harapan
upaya serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat,
bahagia, berdaya guna dan produktif sesuai dengan pasal 19 UU No. 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan (Maryam dkk, 2008).
Indonesia termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur
lanjut usia (aging stuctured population) karena mempunyai jumlah penduduk
dengan usia 60 tahun keatas sekitar 7,18 %. Pulau yang mempunyai jumlah
penduduk lansia terbanyak (7%) adalah pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah
penduduk lanjut usia ini antara lain disebabkan karena tingkat sosial ekonomi
masyarakat yang meningkat, kemajuan di bidang pelayanan kesehatan dan tingkat
pengetahuan masyarakat yang meningkat (Effendi, 2009). Hasil Sensus Penduduk
tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia Indonesia adalah 18,57
juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yaitu sebanyak 14,44 juta
jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah
sekitar 450.000 jiwa per tahun. Dengan demikian, pada tahun 2025 jumlah
penduduk lansia di Indonesia akan berjumlah sekitar 34,22 juta jiwa (BPS, 2010).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara,
jumlah penduduk lanjut usia yakni yang berusia 60 tahun keatas pada tahun 2010
sebanyak 765.750 jiwa dan jumlah penduduk keseluruhan di Provinsi Sumatera
Utara sebanyak 12.982.204 jiwa. Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat,
kebanyakan lansia tinggal dengan keluarganya dan berdasarkan data dari
Kelurahan Padang Matinggi Rantau Prapat, diperoleh jumlah lansia sebanyak 284
Masalah kesehatan lanjut usia tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui
proses kemunduran yang panjang. Ketika kemunduran fisik dan mental terjadi
secara perlahan dan bertahap dan pada waktu kompensasi terhadap penurunan ini
dapat dilakukan, dikenal sebagai “senescence”, yaitu masa proses menjadi tua.
Seseorang akan menjadi semakin tua pada awal atau akhir usia enam puluhan,
tergantung pada laju kemunduran fisik dan mentalnya, dan juga tergantung pada
masing-masing individu yang bersangkutan. Penyebab fisik dari kemunduran ini
merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus,
tetapi karena proses menua. Akibatnya terjadi penurunan pada peranan-peranan
sosial dan timbulnya gangguan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga
dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.
Kemunduran juga bisa terjadi oleh karena faktor psikologis. Sikap tidak senang
terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan dan kehidupan pada umumnya dapat
menuju ke keadaan seseorang yang menjadi eksentrik, kurang perhatian dan
terasing secara sosial sehingga penyesuaian dirinya menjadi buruk, akibatnya
orang menurun secara fisik dan mental sehingga mengalami penurunan dalam
melakukan aktivitasnya. Seseorang yang mengalami ketegangan dan stres hidup
akan mempengaruhi laju kemunduran tersebut. Demikian juga, bahwa motivasi
memainkan peranan penting dalam kemunduran. Dengan adanya gangguan
tersebut, menyebabkan lanjut usia menjadi tidak mandiri dan membutuhkan orang
lain untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Hurlock, 2000).
Hal ini akan dapat mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan
manusia berharap dapat menjalani masa tuanya dengan bahagia namun
kenyataannya masih ada sebagian lansia yang menjalani masa tuanya dengan rasa
ketidakbahagiaan. Ketidakbahagiaan tersebut bisa disebabkan karena kondisi
lingkungan, kurangnya perawatan, perhatian maupun kepedulian dari orang –
orang di sekitar lansia, terutama keluarga. Padahal usia lanjut juga dikatakan usia
emas, karena tidak semua orang dapat mencapai usia tersebut, maka orang yang
berusia lanjut memerlukan perawatan agar ia dapat menikmati masa usia emas
serta menjadi usia lanjut yang berguna dan bahagia (Maryam dkk, 2008).
Kebahagiaan seorang lansia juga tergantung pada terpenuhinya “tiga A”
yaitu acceptance (penerimaan), affection (pengasihan) dan achievement
(pencapaian). Apabila seseorang tidak dapat memenuhi kriteria tersebut, maka
lansia kemungkinan sulit untuk mendapat kebahagiaan (Hurlock,2000). Lanjut
usia juga mengalami ketakutan, terutama pada ketergantungan fisik dan ekonomi,
sakit yang kronis. Kesepian dan kebosanan yang disebabkan oleh asa tidak
diperlukan (Nugroho, 2008).
Usia lanjut juga ditandai oleh adanya integritas ego atau kepuasan. Jika
prestasi seseorang yang berusia lanjut telah ditetapkan sendiri sewaktu muda,
sehingga jarak antara keadaan yang sebenarnya (real selves) dan keadaan pribadi
yang ideal (ideal selves) kecil, maka mereka akan mengalami integritas ego dan
kebahagiaan serta merasa puas terhadap diri sendiri (Hurlock, 2000). Oleh karena
itu dalam mengahadapi semua perubahan dan kemunduran yang dialaminnya,
lansia memerlukan bantuan untuk mencapai rasa tentram, nyaman dan perlakuan
Adapun kewajiban keluarga pada lansia yakni memberikan perhatian pada
lanjut usia dan mengupayakan lansia agar tidak terlalu tergantung pada orang lain
dan mampu membantu diri sendiri. Hal ini sejalan dengan kedudukan dan peranan
lansia dalam keluarga yang dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan
dihargai apalagi dianggap memiliki prestise yang tinggi dalam masyarakat.
Perasaan diterima oleh orang lain terutama keluarga akan mempengaruhi
tanggapan lansia dalam memasuki hari tua dan berpengaruh pula pada derajat
kesehatan lansia. Budaya masyarakat Indonesia terkait lansia masih kental, yaitu
penghargaan kepada orang tua dalam segala bentuknya merupakan nilai yang
tinggi dan sebagai kewajiban kelompok generasi yang lebih muda sehingga
sebagian masyarakat Indonesia memilih untuk merawat lansia di keluarga sendiri
tanpa harus berada di lembaga panti. Keluarga berperan penting dalm kehidupan
lansia, 80% keluarga akan mendukung lansia dan biasanya anak sudah dewasa
yang menjadi sumber support lansia. Sebanyak 75% lansia diatas 65 tahun
dirawat oleh anggota keluarganya sendiri, dimana seperempatnya adalah pasangan
hidup dan lebih dari sepertiga dirawat pasangan dan anak dewasa (Fatimah,
2010).
Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam
mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara
lain perawatn fisik, perawatan psikologis, perawatan sosial dan perawatan
spiritual (Nugroho, 2008). Perawatan lanjut usia di rumah bertujuan memberikan
lanjut usia. Kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari harus diupayakan,
walaupun dalam beberapa aktivitas tentu perlu dibantu (Nugroho, 2008).
Perawatan yang dilakukan anak sendiri diduga memberikan rasa aman dan
nyaman karena mereka lebih toleran terhadap lansia dibandingkan kerabat atau
orang lain, sehingga kebutuhan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan spiritual lansia
bisa terpenuhi dengan baik. Pada saat merawat lansia, akan sering timbul konflik
pada keluarga yang tinggal bersama atau dekat, sedangkan keluarga yang jauh
dirindukan tetapi tidak bisa sering berkunjung (Fatimah, 2010). Menurut
penelitian Efiani (2009) bahwa Perawatan Keluarga terhadap Lansia di Kelurahan
Sukajadi Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat, perawatan keluarga terhadap lansia adalah suatu pelayanan yang berupa pelayanan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perawatan keluarga yang buruk, sedangkan perawatan keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 28 responden (66,0%), dan responden dengan perawatan sangat baik sebanyak 8 responden (18,7%).
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat,
didapatkan bahwa sebagian besar lansia tinggal dengan keluarganya namun ada
juga yang tinggal sendiri di rumahnya. Masalah kesehatan yang dialami lansia
pada umumnya adalah hipertensi dan rhematik. Kegiatan posyandu lansia pada
saat ini juga tidak berjalan aktif. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan
salah satu lansia di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat, lansia mengatakan
ia merasa senang tinggal dengan keluarganya yakni anak dan cucunya karena
kesepian. Lansia juga mengatakan ia sangat senang merawat cucunya dan ia juga
terkadang membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak,
membersihkan rumah dan sebagainya. Lansia juga mengatakan ia menderita
penyakit rhematik dan ia mengatakan hanya beberapa kali saja mengikuti
posyandu lansia, Lansia merasa bahagia karena keluarganya memperhatikannya
dengan baik seperti memenuhi kebutuhannya, memberinya uang setiap bulannya
dan merawatnya ketika ia sedang sakit.
Dari data yang diperoleh, tidak semua kemunduran yang dialami lansia
sama, tetapi tergantung dari cara perawatan keluarga terhadap lansia itu sendiri.
Seorang lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk dapat
beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat prosess
penuaan. Uraian di atas yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana
gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada
keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan
lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.
1.3Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarganya di
1.4Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Praktek Keperawatan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan
perawat dalam praktik keperawatan yang berhubungan dengan keluarga dan
lansia.
1.4.2 Bagi Penelitian Keperawatan
Sebagai informasi dan data tambahan bagi penelitian keperawatan
selanjutnya yang ingin melakukan penelitian keperawatan yang terkait
dengan peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada
keluarga.
1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi informasi yang berguna
untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama pada bagian keperawatan
gerontik dan keperawatan keluarga yang berkaitan dengan peran keluarga
dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga.
1.4.4 Bagi keluarga
Diharapkan penelitian ini dapat menambah informasi kepada keluarga
tentang gambaran kepuasan lansia pada peran keluarga dalam merawat lansia
sehingga keluarga dapat memberikan pelayanan yang lebih berkualitas
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Konsep peran
2.1.1 Pengertian Peran
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran merujuk
kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogeny. Peran
didasarkan pada preskripsi dan harapan peran yang menerangkan apa yang
individu – individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat
memenuhi harapan mereka sendiri atau harapan orang lain Peran dipengaruhi
oleh keadaan sosial, baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.
Dengan demikian peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari
seseorang pada situasi sosial tertentu (Mubarak dkk, 2009). Peran keluarga
adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks
keluarga. Jadi, peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi
dan situasi tertentu (Setiadi,2008).
Menurut Mubarak, dkk (2009) terdapat dua peran yang mempengaruhi
keluarga yaitu peran formal dan peran informal.
Peran formal keluarga adalah peran-peran keluarga terkait sejumlah
perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran
secara merata kepada para anggotanya seperti cara masyarakat membagi
peran-perannya menurut pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya
suatu sistem. Peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah
dan istri-ibu antara lain sebagai provider atau penyedia, pengatur rumah
tangga perawat anak baik sehat maupun sakit, sosialisasi anak, rekreasi,
memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal, peran terpeutik
(memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan), dan peran sosial.
Menurut Setiadi (2008) setiap anggota keluarga mempunyai peran
masing-masing. Peran ayah yang sebagai pemimpin keluarga yang
mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung atau
pengayom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai
anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Peran ibu sebagai pengurus
rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan
juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Sedangkan peran
anak sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental,
sosial dan spiritual.
2.1.2 Peran Informal keluarga
Peran-peran informal bersifat implisit, biasanya tidak tampak, hanya
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu atau untuk
menjaga keseimbangan dalam keluarga. Peran adaptif antara lain pendorong
menerima kontribusi dari orang lain. Sehingga ia dapat merangkul orang lain
dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai
untuk di dengarkan, pengharmonisan yaitu berperan menengahi perbedaan
yang terdapat diantara para anggota, penghibur, dan menyatukan kembali
perbedaan pendapat, inisiator-kontributor yang mengemukakan dan
mengajukan ide-ide baru atau cara-cara mengingat masalah-masalah atau
tujuan-tujuan kelompok, pendamai berarti jika terjadi konflik dalam keluarga
maka konflik dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah atau damai,
pencari nafkah yaitu peran yang dijalankan oleh orang tua dalam memenuhi
kebutuhan, baik material maupun non material anggota keluarganya.
2.2Keluarga
2.2.1 Pengertian
Menurut Friedman (1998), keluarga merupakan kesatuan dari orang –
orang yang terikat dalam perkawinan, ada hubungan darah, atau adopsi dan
tinggal dalam satu rumah.
2.2.2 Ciri – Ciri keluarga
Ciri – ciri keluarga menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton yaitu
Keluarga merupakan hubungan perkawinan yang berbentuk suatu
kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja
dibentuk atau dipelihara dan mempunyai suatu sistem tata nama (Nomen
Clatur) termasuk perhitungan garis keturunan serta mempunyai fungsi
kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak, keluarga
juga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.
Sedangakan ciri keluarga Indonesia menurut Setiadi (2008) yaitu,
keluarga Indonesia mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi
semangat gotong royong, dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran dan
umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara
musyawarah.
2.2.3 Fungsi Keluarga
Lima fungsi keluarga menurut Marilyn M. Friedman 1998 adalah :
1. Fungsi afektif (The Affective Function)
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan
basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososisal. Keberhasilan fungsi ini tampak melalui
keluarga yang gembira dan bahagia. Komponen yang perlu dipenuhi
keluarga untuk fungsi afektif antara lain:
a. Memelihara saling asuh (mutual nurturance)
Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan
saling mendukung antar anggota keluarga
Adanya sikap saling menghargai dengan mempertahankan iklim
yang positif dimana tiap anggota diakui serta dihargai keberadaan
dan haknya sebagai orang tua maupun anak, sehingga fungsi afektif
akan tercapai. Keseimbangan saling menghormati dapat dicapai
apabila setiap anggota keluarga menghormati hak, kebutuhan, dan
tanggung jawab anggota keluarga lain.
c. Pertalian dan identifikasi
Kekuatan yang besar dibalik persepsi dan kepuasan dari
kebutuhan – kebutuhan individu dalam keluarga adalah pertalian
(bonding) atau kasih sayang (attachment) digunakan secara
bergantian. Proses identifikasi perlu diciptakan,dimana anak meniru
perilaku orang tua melalui hubungan interaksi mereka.
d. Keterpisahan dan kepaduan
Anggota keluarga berpadu dan berpisah satu sama lain. Setiap
keluarga menghadapi isu – isu keterpisahan dan keterpaduan dengan
cara yang unik, beberapa keluarga lebih memberikan penekanan
pada satu sisi daripada sisi lain. Hal ini dirasakan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan psikologis keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi(The Socialization Function)
Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.
interaksi atau hubungan yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota
keluarga belajar tentang disiplin, norma – norma, budaya, dan perilaku
melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga, sehingga individu
mampu berperan di masyarakat.
3. Fungsi reproduksi (The Reproductive Function)
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan dan menambah
sumber daya manusia. Dengan adanya progaram keluarga berencana
maka fungsi ini sedikit terkontrol. Disisi lain, banyak kelahiran yang
tidak diharapkan atau diluar ikatan perkawinan sehingga lahirlah
keluarga baru dengan satu orang tua.
4. Fungsi ekonomi (The Economic Function)
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat
mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan
penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga seperti makan, pakaian,
dan rumah. Fungsi ini sukar dipenuhi oleh keluarga dibawah garis
kemiskinan.
5. Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan (The health care function)
Fungsi ini untuk mempertahankan keadaan kesehatan keluarga agar
tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Kemampuan keluarga dalam
keluarga. Untuk menempatkannya dalam perspektif, fungsi ini
merupakan salah satu fungsi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan –
kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan perawatan
kesehatan.
2.2.4 Tugas perkembangan keluarga berkaitan dengan lansia
Adapun tugas perkembangan keluarga dengan lansia yaitu keluarga
harus dapat mengenal masalah kesehatan lansia dan mampu mengambil
keputusan yang tepat untuk mengatasi kesehatan lansia. Selanjutnya keluarga
juga harus merawat anggota keluarga lansia dan memodifikasi lingkungan
fisik dan psikologis sehingga lansia dapat beradaptasi terhadap proses
penuaan. Keluarga juga harus mampu menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan dan sosial dengan tepat sesuai dengan kebutuhan lansia (Mubarak
dkk, 2009).
2.3 Lansia
2.3.1 Pengertian
Menurut Undang-Undang No. 13/ tahun 1998 tentang kesejahteraan
lanjut usia menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah
mencapai usia 60 tahun ke atas. Sementara itu WHO menyatakan bahwa
lanjut usia meliputi usia pertengahan yaitu kelompok usia 45-59 tahun.
Menua (manjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2008).
2.3.2 Batasan Umur Lanjut Usia
1. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), ada empat tahap :
a. Usia pertengahan (middle age) : 45 – 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) : 60 – 74 tahun
c. Lanjut usia (tua (old) : 75 – 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
2. Menurut Prof DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad (Alm), Guru
Besar Universitas Gajah Mada Fakultas kedokteran, periodesasi
biologis perkembangan manusia dibagi sebagai berikut :
a. Usia 0 – 1 tahun (masa bayi)
b. Usia 1-6 tahun (masa prasekolah)
c. Usia 6 – 10 tahun (masa sekolah)
d. Usia 10 – 20 tahun (masa pubertas)
e. Usia 40 – 65 tahun (masa setengah umur, prasenium)
3. Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (psikolog dari Universitas Indonesia),
lanjut usia merupakan kelanjutan usia dewasa. Kedewasaan dapat
dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a. Fase iuventus, antara usia 25 – 40 tahun
b. Fase verillitas, antara usia 40 – 50 tahun
c. Fase prasenium, antara usia 55 – 65 tahun
d. Fase senium, antara usia 65 tahun hingga tutup usia
4. Menurut Prof. DR. Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, lanjut usia
dikelompokkan sebagai berikut :
a. Usia dewasa muda (elderly adulthood) : usia 18/20 – 25 tahun
b. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas : usia 25 –
60/65 tahun
c. Lanjut usia (geriatric age) : usia lebih dari 65/70 tahun. Terbagi
menjadi :
- Usia 70 – 75 tahun (young old)
- Usia 75 – 80 tahun (old)
- Usia lebih dari 80 tahun (very old)
2.3.3 Tipe lansia
Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho, 2008).
Adapun tipe lansia yaitu :
1. Tipe arif bijaksana
Lansia yang kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri
dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,
rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi
panutan.
2. Tipe mandiri
Lansia mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif
dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan memenuhi
undangan.
3. Tipe tidak puas
Terjadi konflik lahir batin pada lansia yakni menentang proses
penuaan sehingga lansia akan menjadi pemarah, tidak sabar, mudah
tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
4. Tipe pasarah
Lansia akan menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan
5. Tipe bingung
Lansia yang mudah kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan
diri, minder, menyesal, pasif, dan bersikap acuh tak acuh.
2.3.4 Teori – Teori Penuaan
Teori – teori yang mendukung terjadinya proses penuaan, antara lain:
1. Teori Biologis
a. Teori Genetik Lock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari
perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul. Molekul DNA
dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi, sebagai contoh
yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan
kemampuan fungsi sel) (Maryam dkk, 2008).
b. Immunology Slow Theory
Menurut teori ini, sistem imun menjadi efektif dengan
bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh yang dapat
menyebabkan kerusakan organ tubuh (Maryam dkk, 2008).
c. Teori Stress
Teori stress mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel –
mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha,
dan stress yang menyebabkan sel – sel tubuh lelah terpakai (Maryam
dkk, 2008).
d. Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya
radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen
bahan – bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini
menyebabkan sel – sel tidak dapat melakukan regenerasi (Maryam
dkk, 2008).
e. Teori Rantai Silang
Pada teori ini, diungkapkan bahwa reaksi kimia sel – sel yang tua
atau usang menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan
kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan
dan hilangnya fungsi sel (Maryam dkk, 2008).
2. Teori Psikologi
Pada usia lanjut, proses penuaan terjadi secara alamiah seiring
dengan pertambahan usia. Perubahan psikologis yang terjadi dapat
dihubungkan pula dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional
yang efektif. Adanya penurunan dari intelektualitas yang meliputi
persepsi, kemampuan kognitif, memori dan belajar pada usia lanjut
penurunan tersebut dikaitakn dengan penurunan fisiologis dan
fungsional organ otak (Maryam dkk, 2008).
3. Teori Sosial
a. Teori Interaksi Sosial (Social Excahnge Theory)
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada
suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal – hal yang dihargai
masyarakat. Pada lansia, kekuasaan dan prestisenya berkurang,
sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang
tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan mereka untuk mengikuti
perintah. Pokok – pokok teori interaksi sosial ini adalah masyarakat
terdiri atas aktor – aktor sosial yang berupaya mencapai tujuannnya
masing – masing. Dalam upaya tersebut terjadi interaksi sosial yang
memerlukan biaya dan waktu. Untuk mencapai tujuan yang hendak
dicapai, seorang aktor harus mengeluarkan biaya dan senantiasa
berusaha mencari keuntungan dan mencegah terjadinya kerugian.
Hanya interaksi yang ekonomis saja ynag dipertahankan olehnya
(Maryam dkk, 2008).
b. Teori Penarikan Diri
Menurut teori ini seorang lansia dinyatakan mengalami proses
penuaan yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu
dan dapat memusatkan diri pada persoalan pribadi serta
terjadi kehilangan ganda (triple loss) yaitu kehilangan peran (loss of
roles), hambatan kontak sosial (restriction of contacts and
relationship) dan berkurangnya komitmen (reduced commitment to
social moralres and values).
c. Teori Aktivitas
Teori ini menyatakn bahwa penuaan yang sukses bergantung dari
bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalm melakukan
aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting
dibandingkan kuantitas dari aktivitas yang dilakukan. Dari pihak
lansia sendiri terdapat anggapan bahwa proses penuaan merupakan
suatu perjuangan untuk tetap muda dan berusaha untuk
mempertahankan perilaku mereka semasa mudanya. Pokok – pokok
teori aktivitas ini adalah moral dan kepuasan berkaitan dengan
interaksi sosial dan keterlibatan sepenuhnya dari lansia di
masyarakat serta kehilangan peran akan menghilangkan kepuasan
seorang lansia (Maryam dkk, 2008).
d. Teori Kesinambungan
Teori ini dianut oleh banyak pakar sosial. Teori ini
mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan
manusia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu saat merupakan
menerapkan teori ini adalah sulit untuk memperoleh gambaran
umum tentang seseorang, karena kasus tiap orang berbeda – beda.
e. Teori Perkembangan
Teori ini menekankan pentingnya mempelajari apa yang telah
dialami oleh lansia pada saat muda hingga dewasa. Teori ini
menjelaskan bagaimana proses menjadi tua merupakan suatu
tantangan dan bagimana jawaban lansia terhadap tantangan tersebut
yang dapat bernilai positif dan negatif. Masa tua merupakan saat
lansia merumuskan seluruh masa kehidupannya dan merupakan
masa penyesuaian diri terhadap kenyataan sosial yang baru yaitu
pensiun atau menjanda dan menduda. Lansia juga harus
menyesuaikan diri sebagai akibat dari perannya yang berakhir dalam
keluarga, kehilangan identitas dan hubungan sosialnya srta ditinggal
mati oleh pasangan hidup dan teman – temannya.
f. Teori Stratifikasi Sosial
Dua elemen penring dari model stratifikasi usia tersebut adalah
yang pertama struktur yang mencakup bagaimana penilaian strata,
dan bagaimana terjadinya penyebaran peran dan kekuasaan yang tak
merata pada masing – masing strata, yang didasarkan pada
pengalaman dan kebijakan lansia. Kedua, proses yang mencakup
ada serta bagaimana cara mengatur transisi peran secara berurutan
dan terus – menerus.
4. Teori Spiritual
Teori ini tentang hubungan individu dengan alam semesta dan
persepsi individu tentang arti kehidupan. Menurut Fowler, kepercayaan
adalah suatu fenomena timbal balik, yaitu suatu hubungan aktif antara
seseorang dengan orang lain dalam menanamkan suatu keyakinan,
cinta kasih, dan harapan. Fowler juga meyakini bahwa perkembangan
kepercayaan antara orang dan lingkungan terjadi karena adanya
kombinasi antara nilai – nilai dan pengetahuan. Perkembangan spiritual
pada lansia berada pada tahap penjelmaan dari prinsip cinta dan
keadilan (Maryam dkk, 2008).
2.3.5 Perubahan – Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Nugroho (2008) menyatakan terdapat banyak perubahan yang terjadi
pada lanjut usia mencakup perubahan-perubahan fisik, mental, psikososial,
dan perkembangan spiritual.
1. Perubahan Fisik
a. Sel
Sel menjadi lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukurannya,
berkurangnya jumlah cairan cairan tubuh dan berkurangnya cairan
dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme
perbaikan sel, serta otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
(Nugroho, 2008).
b. Sistem Persarafan
Terjadi penurunan berat otak sebesar 10-20%, cepatnya menurun
hubungan persarafan, lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi
khususnya stress, mengecilnya saraf panca indra, serta kurang
sensitif terhadap sentuhan. Pada sistem pendengaran terjadi
presbiakusis (gangguan dalam pendengaran) hilangnya kemampuan
pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau
nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti
kata-kata, otosklerosis akibat atrofi membran timpani, dan terjadinya
pengumpulan serumen yang dapat mengeras karena meningkatnya
keratin, serta biasanya pendengaran bertambah menurun pada lanjut
usia yang mengalami ketegangan jiwa/stress (Nugroho, 2008).
c. Sistem Penglihatan
Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar, kornea
lebih berbentuk sferis (bola), kekeruhan pada lensa menyebabkan
katarak, meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi
terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya
serta menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau
(Nugroho, 2008).
d. Sistem Kardiovaskuler
Terjadi penurunan elastisitas aorta, katup jantung menebal dan
menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun,
kurangnya elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur
ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan
darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak, serta
meningginya tekanan darah akibat meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer (Nugroho, 2008).
e. Sistem Pengaturan
Temperatur tubuh terjadi hipotermia secara fisiologis akibat
metabolisme yang menurun, keterbatasan refleks menggigil dan
tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun
(Nugroho, 2008).
f.Sistem Respirasi
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktivitas dari silia, paru-paru kehilangan elastisitas,
menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun,
dan jumlahnya berkurang, kemampuan untuk batuk berkurang, serta
kemampuan kekuatan otot pernafasan menurun (Nugroho, 2008).
g. Sistem Gastrointestinal
Terjadi kehilangan gigi akibat periodontal disease, kesehatan gigi
yang buruk dan gizi yang buruk, indra pengecap menurun, hilangnya
sensitivitas saraf pengecap di lidah terhadap rasa manis, asin, asam,
atau pahit, esofagus melebar, rasa lapar menurun, asam lambung
menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi, serta
melemahnya daya absorbsi (Nugroho, 2008).
h. Sistem Reproduksi
Terjadi penciutan ovari dan uterus, penurunan lendir vagina, serta
atrofi payudara, sedangkan pada laki-laki, testis masih dapat
memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara
berangsur-angsur, kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa
lanjut usia asal kondisi kesehatan baik (Nugroho, 2008).
i.Sistem Perkemihan
Terjadi atrofi nefron dan aliran darah ke ginjal menurun sampai
50%, otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air
kecil meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria
j.Sistem Endokrin
Terjadi penurunan semua produksi hormon, mencakup penurunan
aktivitas tiroid, BMR, daya pertukaran zat, produksi aldosteron,
progesterone, estrogen, dan testosteron (Nugroho, 2008).
k. Sistem Integumen
Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak,
permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses
keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel
epidermis, rambut menipis berwarna kelabu, rambut dalam hidung
dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat menurunnya
cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari
menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya, serta kelenjar
keringat yang berkurang jumlah dan fungsinya (Nugroho, 2008).
l.Sistem Muskuloskeletal
Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh, kifosis,
pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas, persendian
membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan mengalami
sclerosis, serta atrofi serabut otot (Nugroho, 2008).
2. Perubahan Mental
Perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah
perubahan mental juga terjadi perubahan pada kenangan yang biasa
dikenal dengan demensia dan perubahan pada IQ dapat terjadi pada
daya membayangkan karena faktor waktu. Penampilan, persepsi dan
keterampilan psikomotor juga akan berkurang (Nugroho, 2008).
3. Perubahan Psikososial
Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan
identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Pada lansia
yang mengalami masa pensiunan akan mengalami kehilangan finansial,
status, teman atau relasi, dan kehilangan pekerjaan atau kegiatan
(Nugroho, 2008).
4. Perkembangan Spiritual
Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun yaitu berfikir dan
bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan keadilan.
Lanjut usia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya karena
agama semakin terintegrasi dalam kehidupan(Nugroho, 2008).
2.3.6 Tugas Perkembangan Lansia
Menurut Erikson dalam Maryam dkk (2008), kesiapan lansia untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut
dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Adapun
tugas perkembangan lansia antara lain; lansia harus mempersiapkan diri untuk
hubungan baik dengan orang seusianya dan melakukan adaptasi terhadap
kehidupan sosial / masyarakat secara santai. Selain itu lansia juga harus
mempersiapkan kehidupan barunya sebagai lansia dan mempersiapkan diri
untuk kematiannya dan kematian pasangan (Maryam dkk, 2008).
2.4 Peran Keluarga Dalam Merawat Lansia
Dengan meningkatnya usia, terjadi pula penurunan kemampuan dalam
melakukan aktivitas sehari – hari. Pada umumnya usia lanjut memerlukan bantuan
keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjalani hari tua yang
menyenangkan (Nugroho, 2008).
2.4.1 Perawatan fisik
Menurut Nugroho (2008), perawatan dengan pendekatan fisik untuk
lansia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan
mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku,
kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan,cara memakan
obat dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Adapun
komponen perawatan dengan pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah
memperhatikan dan membantu para lansia untuk bernafasdengan lancar,
makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum, melakukan
eleminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi
tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian,
2.4.2 Perawatan psikologis
Pada dasarnya lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari
lingkungannya. Untuk itu keluarga harus menciptakan suasana yang aman,
tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas
kemampuan dan hobi yang dimilikinya. Keluarga harus dapat membangun
semangat dan kreasi lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus
asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan
fisik dan kelainan yang di deritanya. Hal ini perlu dilakukan karena
perubahan psikologi terjadi bersama semakin lanjutnya usia. Perubahan –
perubahan ini meliputi gejala – gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk
peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan,
peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan
untuk tiduran di waktu siang dan pergeseran libido. Keluarga harus sabar
mendengarkan cerita – cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan
menertawakan atau memarahi lansia bila lupa atau melakukan kesalahan.
2.4.3 Perawatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar fikiran dan bercerita merupakan salah satu
upaya keluarga dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk
berkumpul bersama dengan sesama lansia berarti menciptakan sosialisasi
mereka. Keluarga memberikan kesempatan yang seluas – luasnya kepada
para lansia untuk mengadakan komunikasi dan melkukan rekreasi, misalnya
dirangsang untuk mengetahui dunia luar, seperti menonton televisi,
mendengarkan radio atau membaca surat kabar dan majalah.
2.4.4 Perawatan spiritual
Keluarga harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungan lansia dengantuhan atau agama yang dianutnya. Keluarga bisa
memberikan kesempatan pada lansia untuk melaksanakan ibadahnya atu
secara langsung memberikan bimbingan rohani dengan menganjurkan
melaksanakan ibadahnya seperti membaca kitab atau membantu lansia dalam
menunaikan kewajiban terhadap agama yang dianutnya.
2.5 Kepuasan
2.5.1 Pengertian
Menurut Nursalam (2011), kepuasan adalah perasaan senang seseorang
yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap aktivitas dan
suatu produk dengan harapannya. Sedangkan menurut Kotler (2009)
Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul karena
membandingkan kinerja yang dipersepsikan terhadap hasil suatu produk dan
harapan – harapannya. Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang
untuk menikmati pengalaman - pengalaman yang disertai dengan tingkat
kegembiraan. Kepuasan hidup timbul dari pemenuhan kebutuhan atau
harapan dan merupakan penyebab atau sarana untuk menikmati. Seorang
puas dengan hidupnya (Hurlock, 2000). Menurut Nursalam (2011) kepuasan
seseorang berhubungan dengan mutu pelayanan yang diberikan.
2.5.2 Karakteristik kepuasan
Menurut Nursalam (2011) ada beberapa karakteristik yang penting
dalam mengevaluasi kepuasan yaitu :
1. Kenyataan (Tangible)
Yaitu berupa penampilan fisik keluarga, fasilitas yang memadai yang
diberikan keluarga serta keluarga memahami kebutuhan lansia.
2. Empati (Empathy)
Yaitu kesediaan keluarga untuk memberikan perhatian dan dukungan
dalam setiap hal yang di hadapi lansia.
3. Cepat tanggap (Responsiveness)
Yaitu kemauan dari keluarga untuk membantu lansia dan
memberikan jasa/bantuan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi
keluhan dari lansia.
4. Keandalan (Reliability)
Yaitu kemampuan untuk memberikan jasa/bantuan sesuai dengan
5. Jaminan (Assurance)
Yaitu berupa kemampuan keluarga untuk menimbulkan keyakinan
dan kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan kepada lansia
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1Kerangka Konseptual
Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran
keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga yang tinggal
di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.
Skema 1.Kerangka konseptual penelitian Peran Keluarga dalam perawatan
lansia dan Kepuasan Lansia pada Keluarga
Keluarga
dengan Lansia
Peran Keluarga dalam merawat Lansia
• Perawatan Fisik
• Perawatan Psikologis
• Perawatan Sosial
Keterangan:
: variabel yang diteliti
: berhubungan
3.2Defenisi Konseptual
Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang
dalam konteks keluarga. adapun peran keluarga dalam merawat lansia yaitu dalam
perawatan fisik, perawatan psikologis, perawatan sosial dan perawatan spiritual.
Kepuasan lansia merupakan perasaan senang yang berasal dari perbandingan
antara pelayanan atau dukungan yang diterima lansia dengan apa yang
diharapkan. Karakteristik yang penting dalam mengevaluasi kepuasan yaitu
Kenyataan (Tangible), Empati (Empathy), Cepat tanggap (Responsiveness),
Keandalan (Reliability) dan Jaminan (Assurance).
3.3Defenisi Operasional
Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lanjut usia di
rumah agar dapat meningkatkan kualitas hidup lanjut usia dan agar lanjut usia
dapat menjalani hari tua yang menyenangkan. Adapun peran keluarga dalam
perawatan lansia yaitu peran keluarga dalam perawatan fisik, psikologis, sosial,
dan spiritual.
Peran keluarga dalam perawatan fisik yang meliputi pemenuhan kebutuhan
fisik lanjut usia, seperti makan, minum, mandi, berjalan, eliminasi, duduk,
keluarga dalam perawatan psikologis meliputi dalam hal pemenuhan kebutuhan
psikis lanjut usia, seperti terhindar dari stres serta didengarkan nasehat dan
keluhannya. Peran keluarga dalam perawatan sosial meliputi pemenuhan
kebutuhan sosial lanjut usia, seperti berkelompok dengan teman sebaya,
berkumpul dengan keluarga atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Peran
keluarga dalam perawatan spiritual yang meliputi kebutuhan spiritual lanjut usia,
seperti kelengkapan fasilitas dan kenyamanan ibadah lanjut usia.
Kepuasan lansia tergantung dari pelayanan yang diterima lansia dari
lingkungannya yaitu keluarga sebagai orang yang terdekat karena lansia juga
ditandai oleh adanya integritas ego atau kepuasan. Kepuasan dapat dievaluasi
melalui karakteristik kepuasan yaitu Kenyataan (Tangible), Empati (Empathy),
Cepat tanggap (Responsiveness), Keandalan (Reliability) dan Jaminan
(Assurance)
Kenyataan (Tangible) yaitu berupa penampilan fisik keluarga, fasilitas yang
memadai yang diberikan keluarga serta keluarga memahami kebutuhan lansia.
Empati (Empathy) yaitu kesediaan keluarga untuk memberikan perhatian dan
dukungan dalam setiap hal yang di hadapi lansia. Cepat tanggap (Responsiveness)
yaitu kemauan dari keluarga untuk membantu lansia dan memberikan
jasa/bantuan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan dari lansia.
Keandalan (Reliability) yaitu kemampuan untuk memberikan jasa/bantuan sesuai
dengan yang dijanjikan, terpercaya, akurat dan konsisten. Jaminan (Assurance)
kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan kepada lansia dengan
BAB 4
METODELOGI PENELITIAN
4.1Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan merupakan penelitian Deskriptif yaitu suatu
metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama mengetahui gambaran
tentang suatu keadaan secara objektif, dalam hal ini adalah untuk mengetahui
gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada
keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.
4.2 Populasi, Sampel, dan Sampling
4.2.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah para lansia dan keluarganya yang
tinggal di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Populasi lansia
sebanyak 284 jiwa.
4.2.2 Sampel
Menurut Setiadi (2007), sampel adalah elemen – elemen populasi yang
dipilih berdasarkan kemampuan mewakilinya.
n =
=
=
Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar sampel
=
= 73,95 = 74
Jumlah sampel yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 74
orang lansia dan keluarganya. Adapun kriteria inklusi pada sampel dalam
penelitian ini yaitu bersedia menjadi responden, keluarga yang merawat
lansia dan usia lansia 60 tahun keatas, lansia tidak mengalami gangguan
kognitif, seperti pikun serta lansia juga dapat mendengar dengan baik.
4.2.3 Tehnik Pengambilan Sampel
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat
mewakili populasi (Nursalam, 2010). Pada penelitian ini tehnik sampling
yang digunakan adalah Simple random sampling yaitu dengan melakukan
proses pengundian dan data responden yang telah diundi kemudian menjadi
responden penelitian.
4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Adapun
alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi ini karena Kelurahan Padang
Matinggi Rantauprapat merupakan Kelurahan yang jarang dilakukan penelitian
ilmiah terutama terkait dengan lansia dan keluarganya. Di Kelurahan Padang
Matinggi Rantauprapat sebagian besar lansia tinggal dengan keluarganya sehingga
kriteria sampel penelitian. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-
Oktober 2012.
4.4 Pertimbangan Etik
Sebelum mengambil data, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
serta mempertimbangkan etik dalam penelitian dengan menjamin hak – hak
responden. Adapun etika dalam penelitian ini meliputi :
Inform Consent
Inform consent merupakan persetujuan antara peneliti dengan calon
responden yang dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan. Peneliti
menjelaskan tujuan penelitian kepada calon responden. Jika calon responden
bersedia menjadi calon responden maka responden dipersilahkan
menandatangani lembar persetujuan, tetapi bila calon responden tidak
bersedia maka tidak ada paksaan untuk menjadi responden. Dalam penelitian
ini, persetujuan dilakukan antara peneliti dengan calon responden.
Anonimity
Anonimity merupakan etika penelitian dimana peneliti tidak
mecantumkan nama responden pada lembar alat ukur, tetapi hanya
menuliskan kode nomor responden pada lembar pengumpulan data. Kode
yang digunakan berupa nomor responden berupa angka (misal : 1,2,3 dan
Confidentiality
Saat pelaksanaan di lapangan peneliti tidak hanya terlibat dalam proses
pengambilan data penelitian tetapi kadang responden berbagi cerita sekitar
kehidupan pribadinya sehingga peneliti harus menjamin kerahasiaan hasil
penelitian baik informasi maupun masalah lain yang menyangkut privasi
responden dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil
penelitian.
4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk
kuesioner dengan berpedoman kepada tinjauan pustaka dan kerangka konsep.
Instrumen penelitian terdiri dari empat kuesioner. Kuesioner pertama berisi data
demografi keluarga yang meliputi usia, jenis kelamin, agama, suku, pekerjaan,
penghasilan perbulan, pendidikan dan hubungan keluarga dengan lansia.
Kuesioner kedua berisi peran keluarga dalam perawatan lansia yang
menggunakan skala likert terdiri dari 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban :
Tidak pernah (TP) bernilai 1, Kadang-kadang (KD) bernilai 2, sering (SR)
bernilai 3 dan selalu (SL) bernilai 4. Peran keluarga dikatakan baik apabila
responden keluarga memiliki skor 61-80, dikatakan cukup apabila memiliki skor
41-60 dan dikatakan kurang baik apabila memiliki skor 20-40.
Kuesioner ketiga berisi tentang data demografi lansia yang meliputi ; usia,
jenis kelamin, agama, suku, dan pendidikan terakhir. Kuesioner keempat berisi
pertanyaan dengan pilihan jawaban : Tidak pernah (TP) bernilai 1,
Kadang-kadang (KD) bernilai 2, sering (SR) bernilai 3 dan selalu (SL) bernilai 4. Lansia
dikatakan puas apabila responden memiliki skor 31-40, dikatakan cukup puas
apabila memiliki skor 21-30 dan dikatakan kurang puas apabila memiliki skor
10-20.
Semakin tinggi jumlah skor yang didapat, maka menunjukkan semakin baik
perawatan keluarga terhadap lansia. Perawatan keluarga terhadap lansia dibagi
dalam empat kategori, yaitu perawatan yang sangat baik, baik, sedang dan buruk.
Rentang Berdasarkan rumus statistik P =
Banyak kelas
4.6 Uji Validitasdan Reabilitas
Validitas adalah suatu pengukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen dalam mengumpulkan data (Nursalam,
2010). Uji validitas instrumen dilakukan oleh dosen ahli Keperawatan Keluarga
Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas di Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara. Reabilitas adalah adanya suatu kesamaan hasil
apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang yang berbeda ataupun waktu yang
berbeda. Uji reliabilitas dilakukan kepada 10 subjek yang sesuai dengan kriteria
yang telah ditentukan (Nursalam, 2010). Menurut Polit & Hungler (1997) suatu
instrument dikatakan reliabel jika nilai reliabilitasnya sama dengan 0,70 atau
lebih. Uji reliabilitas untuk kuesioner peran keluarga dalam perawatan lansia dan
kepuasan lansia pada keluarga menggunakan formula Cronbach Alpha yang telah
dengan kriteria sampel penelitian di Kelurahan Pulo Padang Rantauprapat dan
diperolah hasil r = 0,801 untuk peran keluarga serta r = 0,797 untuk kepuasan
lansia, dengan demikian kuesioner ini dianggap reliabel.
4.7 Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menyebarkan
kuesioner. Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin
pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara dan Kepala Kelurahan Padang Matinggi
Rantauprapat. Peneliti langsung mendatangi Kelurahan Padang Matinggi
Rantauprapat dan menjelaskan kepada calon responden tentang tujuan, manfaat,
prosedur penelitian, dan cara pengisian kuisioner penelitian. Peneliti meminta
kesediaan responden untuk mengikuti penelitian. Bagi calon responden yang
bersedia menjadi responden diminta untuk menandatangani informed consent dan
dipersilahkan mengisi kuesioner yang dibagikan peneliti. Responden diminta
menjawab pertanyaan dengan mengisi kuesioner yang diberikan dan pengumpulan
data dimulai. Peneliti melakukan wawancara dengan responden lansia yaitu
dengan membacakan pertanyaan yang ada di kuesioner kemudian mendampingi
lansia dalam mengisi jawaban dan selanjutnya data yang terkumpul dianalisa.
4.8 Analisa Data
Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisa data melalui beberapa
responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk,
koding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk
mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisa. Data yang telah
terkumpul diolah dengan menggunakan statistik deskriptif dengan program
komputer, selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diperoleh melalui pengumpulan data terhadap 74
responden yaitu keluarga dengan lansia di Kelurahan Padang Matinggi
Rantauprapat dari tanggal 15 Agustus sampai dengan 26 oktober 2012.
Penyajian data meliputi karakteristik responden dan kuesioner peran keluarga
dalam perawatan lansia serta kuesioner kepuasan lansia di Kelurahan Padang
Matinggi Rantauprapat.
Karakteristik Responden
Hasil penelitian tentang karekteristik responden keluarga diperoleh
sebagian besar berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 28 orang (37,8%),
sedangkan jenis kelamin keluarga sebagian besar adalah wanita yaitu 60 orang
(81,1%), sebagian besar keluarga beragama Islam yaitu 55 orang (74,3%), dan
sebagian besar keluarga juga bersuku Batak yaitu 36 orang (48,7%).
Pendidikan keluarga sebagian besar adalah Perguruan tinggi yaitu 30 orang
(40,5%). Pekerjaan keluarga sebagian besar adalah sebagai
wiraswasta/karyawan swasta yaitu dengan jumlah 30 orang (40,5%), dan
sebagian besar penghasilan keluarga berkisar diatas Rp 1.000.000 yaitu
sebanyak 43 orang (58,1%). Hubungan keluarga dengan lansia sebagian besar
adalah sebagai anak yaitu sebanyak 39 orang (52,7%). Hasil ini dapat dilihat
Pada karakteristik responden lansia diperoleh hasil sebagai berikut
sebagian besar lansia berusia 60-70 tahun yaitu sebanyak 30 orang (40,5%),
sedangkan sebagian besar jenis kelamin lansia adalah wanita yaitu 49 orang
(66,2%), kemudian sebagian besar lansia beragama Islam yaitu 55 orang
(74,3%), dan sebagian besar lansia juga bersuku Batak yaitu 35 orang (47,3%)
dan pendidikan lansia sebagian besar adalah tidak sekolah yaitu 22 orang
(29,7%). Hal ini dapat dilihat pada table 5.2.
Hasil penelitian tentang peran keluarga dalam perawatan lansia yang
diperoleh dari 74 responden yaitu sebagian besar masuk ke dalam kategori
peran keluarga baik dalam perawatan lansia yaitu sebanyak 55 keluarga
(74,3%), dan dalam kategori peran keluarga cukup baik dalam perawatan
lansia sebanyak 19 keluarga (25,7%). Hal ini dapat dilihat pada table 5.3.
Tabel 5.3 Kategori peran keluarga dalam perawatan lansia
No. Kategori (n) (%)
1. Baik 55 74,3
2. Cukup baik 19 25,7
3. Kurang baik 0 0
Hasil penelitian tentang kepuasan lansia pada keluarga dari 74
responden diperoleh bahwa sebagian besar lansia termasuk ke dalam kategori
puas pada keluarga sebanyak 58 lansia (78,4%), dan dalam kategori lansia
cukup puas pada keluarga sebanyak 16 keluarga (21,6%). Hal ini sesuai
dengan table 5.4.
Tabel 5.4 Kategori kepuasan lansia pada keluarga
No. Kategori (n) (%)
1. Puas 58 78,4
2. Cukup puas 16 21,6
5.2 Pembahasan
5.2.1 Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran keluarga
dalam perawatan lansia sebagian besar termasuk ke dalam kategori baik yaitu
sebanyak 55 keluarga (74,3%) dan kepuasan lansia pada keluarga sebagian
besar termasuk ke dalam kategori puas yaitu sebanyak 58 lansia (78,4%). Hal
ini menunjukkan bahwa peran keluarga dalam perawatan lansia di Kelurahan
Padang Matinggi Rantauprapat sudah baik dan lansia juga sudah merasa puas
pada keluarganya. Peneliti berasumsi bahwa peran keluarga dalam perawatan
lansia baik dapat dipengaruhi oleh hubungan responden keluarga dengan
lansia dan jenis kelamin keluarga yang merawat lansia, karena dari data yang
diperoleh sebagian besar keluarga berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 60
orang (81,1%), dan sebagian besar keluarga yang mempunyai hubungan
dengan lansia adalah sebagai anak yaitu sebanyak 39 orang (52,7%). Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Efiani (2010) tentang
perawatan keluarga terhadap lansia di Desa Sukajadi Kecamatan Hinai
Kabupaten Langkat yang menyatakan bahwa perawatan keluarga dapat
dipengaruhi oleh jenis kelamin dan hubungan responden dengan lansia (lansia
tinggal bersama anak perempuannya). Hal ini juga sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Fatimah (2010), yang mengemukakan bahwa keluarga
merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan
kesehatannya, 80% keluarga akan mendukung lansia dan biasanya anak sudah