• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN KELUARGA DALAM PERAWATAN LANSIA

DAN KEPUASAN LANSIA PADA KELUARGA

DI KELURAHAN PADANG MATINGGI

RANTAUPRAPAT

SKRIPSI

Oleh

KHAIRANI RAMBE 111121070

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)
(3)

Judul : Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada

Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat Nama : Khairani Rambe

Nim : 111121070

Jurusan : Sarjana Keperawatan ( S.Kep ) Tahun : 2013

ABSTRAK

Lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat proses penuaan yang dialaminya karena keluarga merupakan support system utama bagi lansia.lansia akan merasa puas dalam hidupnya apabila ia dapat menerima diri dan lingkungannya secara positif. Keluarga perlu meningkatkan kepeduliannya dan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia yang meliputi perawatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga lansia dapat merasa puas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidupnya serta dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik random sampling yaitu terhadap keluarga dan lansia, dengan jumlah 74 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan statistik deskriptif, kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peran keluarga yang buruk, sedangkan peran keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 55 responden (74,3%), dan responden dengan perawatan cukup baik sebanyak 19 responden (25,7%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar lansia merasa puas pada keluarga yaitu 58 responden (78,4%), dan lansia yang merasa cukup puas sebanyak 16 responden (21,6%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak, khususnya keluarga agar dapat meningkatakan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia sehingga lansia dapat merasa puas terhadap perawatan yang diberikan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup lansia.

(4)

PRAKATA

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas

segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

yang berjudul “Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia

Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat”.

Teristimewa penulis ucapkan terima kasih kepada Ayahanda (Syaiful Alam) dan Ibunda (Anita Zulpiani) tercinta yang telah mendidik, membesarkan serta memberikan doa, kasih sayang, motivasi dan semangat yang luar biasa, dan terima kasih juga kepada kakak (Khairina Rambe) dan adik (Mifta Hulhusna Rambe) tersayang yang telah memberikan dukungan dan semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Siti Zahara Nasution S.Kp, MNS. selaku dosen

pembimbing skripsi yang telah menyediakan waktu, masukan, arahan dan

motivasi yang berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(5)

informasi yang dibutuhkan selama penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabatku (Maya,Tia, Tika, Nazly, Vera, Miskah, Imel, Widia, Endang dan Boreg) serta semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, sehingga skripsi ini menjadi lebih baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan Keperawatan. Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya. Dengan kerendahan hati penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat memberikan informasi demi kemajuan pengetahuan, khususnya dalam dunia Keperawatan.

Medan, Februari 2013

(6)

DAFTAR ISI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peran………..9

2.1.1 Pengertian Peran……… 9

2.1.2 Peran Formal……….. 9

2.1.3 Peran Informal………... 10

2.2 Keluarga……….11

2.2.1 Pengertian Keluarga………..11

2.2.2 Ciri – ciri keluarga………...11

2.2.3 Fungsi keluarga……….12

2.2.4 Tugas perkembangan keluarga berkaitan lansia………15

2.3Lansia………..15

2.3.1 Pengertian Lansia………...15

2.3.2 Batasan Umur Lansia……….15

2.3.4 Tipe lansia………..17

2.3.5 Teori – teori penuaan……….18

2.3.6 Perubahan yang terjadi pada lansia………....23

2.3.7 Tugas perkembangan lansia………...28

2.4 Peran Keluarga dalam Merawat Lansia………..29

(7)

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN

3.1 Kerangka konseptual………...33

3.2 Defenisi konseptual……….34

3.3 Defenisi operasional………34

BAB 4 METODELOGI PENELITIAN 4.1 Desain penelitian……….37

4.2 Populasi, sampel dan sampling………...37

4.3 Tempat dan waktu penelitian………..38

4.4 Pertimbangan etik………39

4.5 Instrumen penelitian………...…40

4.6 Uji validitas dan reliabilitas………...41

4.7 Pengumpulan data………..42

4.8 Analisa data………...42

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1Hasil penelitian………...44

5.2Pembahasan………48

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan………54

6.2 Rekomendasi………..54

(8)

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik

responden keluarga……….………... 45

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik

responden lansia………... 46

Tabel 5.3 Kategori peran keluarga dalam perawatan lansia ………... 47

(9)

DAFTAR SKEMA

Skema Halaman

1. Kerangka konsep peran keluarga dalam perawatan

(10)

Judul : Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada

Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat Nama : Khairani Rambe

Nim : 111121070

Jurusan : Sarjana Keperawatan ( S.Kep ) Tahun : 2013

ABSTRAK

Lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat proses penuaan yang dialaminya karena keluarga merupakan support system utama bagi lansia.lansia akan merasa puas dalam hidupnya apabila ia dapat menerima diri dan lingkungannya secara positif. Keluarga perlu meningkatkan kepeduliannya dan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia yang meliputi perawatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga lansia dapat merasa puas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidupnya serta dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik random sampling yaitu terhadap keluarga dan lansia, dengan jumlah 74 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan statistik deskriptif, kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peran keluarga yang buruk, sedangkan peran keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 55 responden (74,3%), dan responden dengan perawatan cukup baik sebanyak 19 responden (25,7%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar lansia merasa puas pada keluarga yaitu 58 responden (78,4%), dan lansia yang merasa cukup puas sebanyak 16 responden (21,6%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak, khususnya keluarga agar dapat meningkatakan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia sehingga lansia dapat merasa puas terhadap perawatan yang diberikan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup lansia.

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala

keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di

bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung. Keluarga mempunyai peran

yang penting dalam keperawatan karena keluarga menyediakan sumber – sumber

yang penting untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi dirinya dan orang lain

dalam keluarga. Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cedera,

perpisahan) akan mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga dalam hal

tertentu (Ali, 2010).

World Health Organization (WHO) menetapkan 60 tahun keatas sebagai

usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan

seseorang telah disebut lanjut usia. Proses menua merupakan proses yang terus –

menerus secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup.

Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan

jaringan lain, hingga tubuh “mati” sedikit demi sedikit (Nugroho, 2008). Jadi,

proses menua adalah suatu keadaan yang normal terjadi pada setiap manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak

positif terhadap kesejahteraan yang terlihat dari angka harapan hidup (AHH). Hal

ini sejalan dengan keberadaan usia lanjut yang ditandai dengan umur harapan

(12)

upaya serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat,

bahagia, berdaya guna dan produktif sesuai dengan pasal 19 UU No. 23 Tahun

1992 tentang Kesehatan (Maryam dkk, 2008).

Indonesia termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur

lanjut usia (aging stuctured population) karena mempunyai jumlah penduduk

dengan usia 60 tahun keatas sekitar 7,18 %. Pulau yang mempunyai jumlah

penduduk lansia terbanyak (7%) adalah pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah

penduduk lanjut usia ini antara lain disebabkan karena tingkat sosial ekonomi

masyarakat yang meningkat, kemajuan di bidang pelayanan kesehatan dan tingkat

pengetahuan masyarakat yang meningkat (Effendi, 2009). Hasil Sensus Penduduk

tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia Indonesia adalah 18,57

juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yaitu sebanyak 14,44 juta

jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah

sekitar 450.000 jiwa per tahun. Dengan demikian, pada tahun 2025 jumlah

penduduk lansia di Indonesia akan berjumlah sekitar 34,22 juta jiwa (BPS, 2010).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara,

jumlah penduduk lanjut usia yakni yang berusia 60 tahun keatas pada tahun 2010

sebanyak 765.750 jiwa dan jumlah penduduk keseluruhan di Provinsi Sumatera

Utara sebanyak 12.982.204 jiwa. Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat,

kebanyakan lansia tinggal dengan keluarganya dan berdasarkan data dari

Kelurahan Padang Matinggi Rantau Prapat, diperoleh jumlah lansia sebanyak 284

(13)

Masalah kesehatan lanjut usia tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui

proses kemunduran yang panjang. Ketika kemunduran fisik dan mental terjadi

secara perlahan dan bertahap dan pada waktu kompensasi terhadap penurunan ini

dapat dilakukan, dikenal sebagai “senescence”, yaitu masa proses menjadi tua.

Seseorang akan menjadi semakin tua pada awal atau akhir usia enam puluhan,

tergantung pada laju kemunduran fisik dan mentalnya, dan juga tergantung pada

masing-masing individu yang bersangkutan. Penyebab fisik dari kemunduran ini

merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus,

tetapi karena proses menua. Akibatnya terjadi penurunan pada peranan-peranan

sosial dan timbulnya gangguan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga

dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.

Kemunduran juga bisa terjadi oleh karena faktor psikologis. Sikap tidak senang

terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan dan kehidupan pada umumnya dapat

menuju ke keadaan seseorang yang menjadi eksentrik, kurang perhatian dan

terasing secara sosial sehingga penyesuaian dirinya menjadi buruk, akibatnya

orang menurun secara fisik dan mental sehingga mengalami penurunan dalam

melakukan aktivitasnya. Seseorang yang mengalami ketegangan dan stres hidup

akan mempengaruhi laju kemunduran tersebut. Demikian juga, bahwa motivasi

memainkan peranan penting dalam kemunduran. Dengan adanya gangguan

tersebut, menyebabkan lanjut usia menjadi tidak mandiri dan membutuhkan orang

lain untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Hurlock, 2000).

Hal ini akan dapat mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan

(14)

manusia berharap dapat menjalani masa tuanya dengan bahagia namun

kenyataannya masih ada sebagian lansia yang menjalani masa tuanya dengan rasa

ketidakbahagiaan. Ketidakbahagiaan tersebut bisa disebabkan karena kondisi

lingkungan, kurangnya perawatan, perhatian maupun kepedulian dari orang –

orang di sekitar lansia, terutama keluarga. Padahal usia lanjut juga dikatakan usia

emas, karena tidak semua orang dapat mencapai usia tersebut, maka orang yang

berusia lanjut memerlukan perawatan agar ia dapat menikmati masa usia emas

serta menjadi usia lanjut yang berguna dan bahagia (Maryam dkk, 2008).

Kebahagiaan seorang lansia juga tergantung pada terpenuhinya “tiga A”

yaitu acceptance (penerimaan), affection (pengasihan) dan achievement

(pencapaian). Apabila seseorang tidak dapat memenuhi kriteria tersebut, maka

lansia kemungkinan sulit untuk mendapat kebahagiaan (Hurlock,2000). Lanjut

usia juga mengalami ketakutan, terutama pada ketergantungan fisik dan ekonomi,

sakit yang kronis. Kesepian dan kebosanan yang disebabkan oleh asa tidak

diperlukan (Nugroho, 2008).

Usia lanjut juga ditandai oleh adanya integritas ego atau kepuasan. Jika

prestasi seseorang yang berusia lanjut telah ditetapkan sendiri sewaktu muda,

sehingga jarak antara keadaan yang sebenarnya (real selves) dan keadaan pribadi

yang ideal (ideal selves) kecil, maka mereka akan mengalami integritas ego dan

kebahagiaan serta merasa puas terhadap diri sendiri (Hurlock, 2000). Oleh karena

itu dalam mengahadapi semua perubahan dan kemunduran yang dialaminnya,

lansia memerlukan bantuan untuk mencapai rasa tentram, nyaman dan perlakuan

(15)

Adapun kewajiban keluarga pada lansia yakni memberikan perhatian pada

lanjut usia dan mengupayakan lansia agar tidak terlalu tergantung pada orang lain

dan mampu membantu diri sendiri. Hal ini sejalan dengan kedudukan dan peranan

lansia dalam keluarga yang dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan

dihargai apalagi dianggap memiliki prestise yang tinggi dalam masyarakat.

Perasaan diterima oleh orang lain terutama keluarga akan mempengaruhi

tanggapan lansia dalam memasuki hari tua dan berpengaruh pula pada derajat

kesehatan lansia. Budaya masyarakat Indonesia terkait lansia masih kental, yaitu

penghargaan kepada orang tua dalam segala bentuknya merupakan nilai yang

tinggi dan sebagai kewajiban kelompok generasi yang lebih muda sehingga

sebagian masyarakat Indonesia memilih untuk merawat lansia di keluarga sendiri

tanpa harus berada di lembaga panti. Keluarga berperan penting dalm kehidupan

lansia, 80% keluarga akan mendukung lansia dan biasanya anak sudah dewasa

yang menjadi sumber support lansia. Sebanyak 75% lansia diatas 65 tahun

dirawat oleh anggota keluarganya sendiri, dimana seperempatnya adalah pasangan

hidup dan lebih dari sepertiga dirawat pasangan dan anak dewasa (Fatimah,

2010).

Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam

mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara

lain perawatn fisik, perawatan psikologis, perawatan sosial dan perawatan

spiritual (Nugroho, 2008). Perawatan lanjut usia di rumah bertujuan memberikan

(16)

lanjut usia. Kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari harus diupayakan,

walaupun dalam beberapa aktivitas tentu perlu dibantu (Nugroho, 2008).

Perawatan yang dilakukan anak sendiri diduga memberikan rasa aman dan

nyaman karena mereka lebih toleran terhadap lansia dibandingkan kerabat atau

orang lain, sehingga kebutuhan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan spiritual lansia

bisa terpenuhi dengan baik. Pada saat merawat lansia, akan sering timbul konflik

pada keluarga yang tinggal bersama atau dekat, sedangkan keluarga yang jauh

dirindukan tetapi tidak bisa sering berkunjung (Fatimah, 2010). Menurut

penelitian Efiani (2009) bahwa Perawatan Keluarga terhadap Lansia di Kelurahan

Sukajadi Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat, perawatan keluarga terhadap lansia adalah suatu pelayanan yang berupa pelayanan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perawatan keluarga yang buruk, sedangkan perawatan keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 28 responden (66,0%), dan responden dengan perawatan sangat baik sebanyak 8 responden (18,7%).

Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat,

didapatkan bahwa sebagian besar lansia tinggal dengan keluarganya namun ada

juga yang tinggal sendiri di rumahnya. Masalah kesehatan yang dialami lansia

pada umumnya adalah hipertensi dan rhematik. Kegiatan posyandu lansia pada

saat ini juga tidak berjalan aktif. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan

salah satu lansia di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat, lansia mengatakan

ia merasa senang tinggal dengan keluarganya yakni anak dan cucunya karena

(17)

kesepian. Lansia juga mengatakan ia sangat senang merawat cucunya dan ia juga

terkadang membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak,

membersihkan rumah dan sebagainya. Lansia juga mengatakan ia menderita

penyakit rhematik dan ia mengatakan hanya beberapa kali saja mengikuti

posyandu lansia, Lansia merasa bahagia karena keluarganya memperhatikannya

dengan baik seperti memenuhi kebutuhannya, memberinya uang setiap bulannya

dan merawatnya ketika ia sedang sakit.

Dari data yang diperoleh, tidak semua kemunduran yang dialami lansia

sama, tetapi tergantung dari cara perawatan keluarga terhadap lansia itu sendiri.

Seorang lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk dapat

beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat prosess

penuaan. Uraian di atas yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana

gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada

keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah bagaimana gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan

lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.

1.3Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarganya di

(18)

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Praktek Keperawatan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan

perawat dalam praktik keperawatan yang berhubungan dengan keluarga dan

lansia.

1.4.2 Bagi Penelitian Keperawatan

Sebagai informasi dan data tambahan bagi penelitian keperawatan

selanjutnya yang ingin melakukan penelitian keperawatan yang terkait

dengan peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada

keluarga.

1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi informasi yang berguna

untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama pada bagian keperawatan

gerontik dan keperawatan keluarga yang berkaitan dengan peran keluarga

dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga.

1.4.4 Bagi keluarga

Diharapkan penelitian ini dapat menambah informasi kepada keluarga

tentang gambaran kepuasan lansia pada peran keluarga dalam merawat lansia

sehingga keluarga dapat memberikan pelayanan yang lebih berkualitas

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Konsep peran

2.1.1 Pengertian Peran

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain

terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran merujuk

kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogeny. Peran

didasarkan pada preskripsi dan harapan peran yang menerangkan apa yang

individu – individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat

memenuhi harapan mereka sendiri atau harapan orang lain Peran dipengaruhi

oleh keadaan sosial, baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.

Dengan demikian peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari

seseorang pada situasi sosial tertentu (Mubarak dkk, 2009). Peran keluarga

adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks

keluarga. Jadi, peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku

interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi

dan situasi tertentu (Setiadi,2008).

Menurut Mubarak, dkk (2009) terdapat dua peran yang mempengaruhi

keluarga yaitu peran formal dan peran informal.

(20)

Peran formal keluarga adalah peran-peran keluarga terkait sejumlah

perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran

secara merata kepada para anggotanya seperti cara masyarakat membagi

peran-perannya menurut pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya

suatu sistem. Peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah

dan istri-ibu antara lain sebagai provider atau penyedia, pengatur rumah

tangga perawat anak baik sehat maupun sakit, sosialisasi anak, rekreasi,

memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal, peran terpeutik

(memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan), dan peran sosial.

Menurut Setiadi (2008) setiap anggota keluarga mempunyai peran

masing-masing. Peran ayah yang sebagai pemimpin keluarga yang

mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung atau

pengayom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai

anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Peran ibu sebagai pengurus

rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan

juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Sedangkan peran

anak sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental,

sosial dan spiritual.

2.1.2 Peran Informal keluarga

Peran-peran informal bersifat implisit, biasanya tidak tampak, hanya

untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu atau untuk

menjaga keseimbangan dalam keluarga. Peran adaptif antara lain pendorong

(21)

menerima kontribusi dari orang lain. Sehingga ia dapat merangkul orang lain

dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai

untuk di dengarkan, pengharmonisan yaitu berperan menengahi perbedaan

yang terdapat diantara para anggota, penghibur, dan menyatukan kembali

perbedaan pendapat, inisiator-kontributor yang mengemukakan dan

mengajukan ide-ide baru atau cara-cara mengingat masalah-masalah atau

tujuan-tujuan kelompok, pendamai berarti jika terjadi konflik dalam keluarga

maka konflik dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah atau damai,

pencari nafkah yaitu peran yang dijalankan oleh orang tua dalam memenuhi

kebutuhan, baik material maupun non material anggota keluarganya.

2.2Keluarga

2.2.1 Pengertian

Menurut Friedman (1998), keluarga merupakan kesatuan dari orang –

orang yang terikat dalam perkawinan, ada hubungan darah, atau adopsi dan

tinggal dalam satu rumah.

2.2.2 Ciri – Ciri keluarga

Ciri – ciri keluarga menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton yaitu

Keluarga merupakan hubungan perkawinan yang berbentuk suatu

kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja

dibentuk atau dipelihara dan mempunyai suatu sistem tata nama (Nomen

Clatur) termasuk perhitungan garis keturunan serta mempunyai fungsi

(22)

kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak, keluarga

juga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.

Sedangakan ciri keluarga Indonesia menurut Setiadi (2008) yaitu,

keluarga Indonesia mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi

semangat gotong royong, dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran dan

umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara

musyawarah.

2.2.3 Fungsi Keluarga

Lima fungsi keluarga menurut Marilyn M. Friedman 1998 adalah :

1. Fungsi afektif (The Affective Function)

Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan

basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan

kebutuhan psikososisal. Keberhasilan fungsi ini tampak melalui

keluarga yang gembira dan bahagia. Komponen yang perlu dipenuhi

keluarga untuk fungsi afektif antara lain:

a. Memelihara saling asuh (mutual nurturance)

Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan

saling mendukung antar anggota keluarga

(23)

Adanya sikap saling menghargai dengan mempertahankan iklim

yang positif dimana tiap anggota diakui serta dihargai keberadaan

dan haknya sebagai orang tua maupun anak, sehingga fungsi afektif

akan tercapai. Keseimbangan saling menghormati dapat dicapai

apabila setiap anggota keluarga menghormati hak, kebutuhan, dan

tanggung jawab anggota keluarga lain.

c. Pertalian dan identifikasi

Kekuatan yang besar dibalik persepsi dan kepuasan dari

kebutuhan – kebutuhan individu dalam keluarga adalah pertalian

(bonding) atau kasih sayang (attachment) digunakan secara

bergantian. Proses identifikasi perlu diciptakan,dimana anak meniru

perilaku orang tua melalui hubungan interaksi mereka.

d. Keterpisahan dan kepaduan

Anggota keluarga berpadu dan berpisah satu sama lain. Setiap

keluarga menghadapi isu – isu keterpisahan dan keterpaduan dengan

cara yang unik, beberapa keluarga lebih memberikan penekanan

pada satu sisi daripada sisi lain. Hal ini dirasakan keluarga untuk

memenuhi kebutuhan psikologis keluarga.

2. Fungsi Sosialisasi(The Socialization Function)

Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.

(24)

interaksi atau hubungan yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota

keluarga belajar tentang disiplin, norma – norma, budaya, dan perilaku

melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga, sehingga individu

mampu berperan di masyarakat.

3. Fungsi reproduksi (The Reproductive Function)

Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan dan menambah

sumber daya manusia. Dengan adanya progaram keluarga berencana

maka fungsi ini sedikit terkontrol. Disisi lain, banyak kelahiran yang

tidak diharapkan atau diluar ikatan perkawinan sehingga lahirlah

keluarga baru dengan satu orang tua.

4. Fungsi ekonomi (The Economic Function)

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat

mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan

penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga seperti makan, pakaian,

dan rumah. Fungsi ini sukar dipenuhi oleh keluarga dibawah garis

kemiskinan.

5. Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan (The health care function)

Fungsi ini untuk mempertahankan keadaan kesehatan keluarga agar

tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Kemampuan keluarga dalam

(25)

keluarga. Untuk menempatkannya dalam perspektif, fungsi ini

merupakan salah satu fungsi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan –

kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan perawatan

kesehatan.

2.2.4 Tugas perkembangan keluarga berkaitan dengan lansia

Adapun tugas perkembangan keluarga dengan lansia yaitu keluarga

harus dapat mengenal masalah kesehatan lansia dan mampu mengambil

keputusan yang tepat untuk mengatasi kesehatan lansia. Selanjutnya keluarga

juga harus merawat anggota keluarga lansia dan memodifikasi lingkungan

fisik dan psikologis sehingga lansia dapat beradaptasi terhadap proses

penuaan. Keluarga juga harus mampu menggunakan fasilitas pelayanan

kesehatan dan sosial dengan tepat sesuai dengan kebutuhan lansia (Mubarak

dkk, 2009).

2.3 Lansia

2.3.1 Pengertian

Menurut Undang-Undang No. 13/ tahun 1998 tentang kesejahteraan

lanjut usia menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah

mencapai usia 60 tahun ke atas. Sementara itu WHO menyatakan bahwa

lanjut usia meliputi usia pertengahan yaitu kelompok usia 45-59 tahun.

Menua (manjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara

(26)

mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap

infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2008).

2.3.2 Batasan Umur Lanjut Usia

1. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), ada empat tahap :

a. Usia pertengahan (middle age) : 45 – 59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) : 60 – 74 tahun

c. Lanjut usia (tua (old) : 75 – 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun

2. Menurut Prof DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad (Alm), Guru

Besar Universitas Gajah Mada Fakultas kedokteran, periodesasi

biologis perkembangan manusia dibagi sebagai berikut :

a. Usia 0 – 1 tahun (masa bayi)

b. Usia 1-6 tahun (masa prasekolah)

c. Usia 6 – 10 tahun (masa sekolah)

d. Usia 10 – 20 tahun (masa pubertas)

e. Usia 40 – 65 tahun (masa setengah umur, prasenium)

(27)

3. Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (psikolog dari Universitas Indonesia),

lanjut usia merupakan kelanjutan usia dewasa. Kedewasaan dapat

dibagi menjadi empat bagian, yaitu :

a. Fase iuventus, antara usia 25 – 40 tahun

b. Fase verillitas, antara usia 40 – 50 tahun

c. Fase prasenium, antara usia 55 – 65 tahun

d. Fase senium, antara usia 65 tahun hingga tutup usia

4. Menurut Prof. DR. Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, lanjut usia

dikelompokkan sebagai berikut :

a. Usia dewasa muda (elderly adulthood) : usia 18/20 – 25 tahun

b. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas : usia 25 –

60/65 tahun

c. Lanjut usia (geriatric age) : usia lebih dari 65/70 tahun. Terbagi

menjadi :

- Usia 70 – 75 tahun (young old)

- Usia 75 – 80 tahun (old)

- Usia lebih dari 80 tahun (very old)

(28)

2.3.3 Tipe lansia

Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,

lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho, 2008).

Adapun tipe lansia yaitu :

1. Tipe arif bijaksana

Lansia yang kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri

dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,

rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi

panutan.

2. Tipe mandiri

Lansia mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif

dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan memenuhi

undangan.

3. Tipe tidak puas

Terjadi konflik lahir batin pada lansia yakni menentang proses

penuaan sehingga lansia akan menjadi pemarah, tidak sabar, mudah

tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.

4. Tipe pasarah

Lansia akan menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan

(29)

5. Tipe bingung

Lansia yang mudah kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan

diri, minder, menyesal, pasif, dan bersikap acuh tak acuh.

2.3.4 Teori – Teori Penuaan

Teori – teori yang mendukung terjadinya proses penuaan, antara lain:

1. Teori Biologis

a. Teori Genetik Lock

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk

spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari

perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul. Molekul DNA

dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi, sebagai contoh

yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan

kemampuan fungsi sel) (Maryam dkk, 2008).

b. Immunology Slow Theory

Menurut teori ini, sistem imun menjadi efektif dengan

bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh yang dapat

menyebabkan kerusakan organ tubuh (Maryam dkk, 2008).

c. Teori Stress

Teori stress mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel –

(30)

mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha,

dan stress yang menyebabkan sel – sel tubuh lelah terpakai (Maryam

dkk, 2008).

d. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya

radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen

bahan – bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini

menyebabkan sel – sel tidak dapat melakukan regenerasi (Maryam

dkk, 2008).

e. Teori Rantai Silang

Pada teori ini, diungkapkan bahwa reaksi kimia sel – sel yang tua

atau usang menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan

kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan

dan hilangnya fungsi sel (Maryam dkk, 2008).

2. Teori Psikologi

Pada usia lanjut, proses penuaan terjadi secara alamiah seiring

dengan pertambahan usia. Perubahan psikologis yang terjadi dapat

dihubungkan pula dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional

yang efektif. Adanya penurunan dari intelektualitas yang meliputi

persepsi, kemampuan kognitif, memori dan belajar pada usia lanjut

(31)

penurunan tersebut dikaitakn dengan penurunan fisiologis dan

fungsional organ otak (Maryam dkk, 2008).

3. Teori Sosial

a. Teori Interaksi Sosial (Social Excahnge Theory)

Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada

suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal – hal yang dihargai

masyarakat. Pada lansia, kekuasaan dan prestisenya berkurang,

sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang

tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan mereka untuk mengikuti

perintah. Pokok – pokok teori interaksi sosial ini adalah masyarakat

terdiri atas aktor – aktor sosial yang berupaya mencapai tujuannnya

masing – masing. Dalam upaya tersebut terjadi interaksi sosial yang

memerlukan biaya dan waktu. Untuk mencapai tujuan yang hendak

dicapai, seorang aktor harus mengeluarkan biaya dan senantiasa

berusaha mencari keuntungan dan mencegah terjadinya kerugian.

Hanya interaksi yang ekonomis saja ynag dipertahankan olehnya

(Maryam dkk, 2008).

b. Teori Penarikan Diri

Menurut teori ini seorang lansia dinyatakan mengalami proses

penuaan yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu

dan dapat memusatkan diri pada persoalan pribadi serta

(32)

terjadi kehilangan ganda (triple loss) yaitu kehilangan peran (loss of

roles), hambatan kontak sosial (restriction of contacts and

relationship) dan berkurangnya komitmen (reduced commitment to

social moralres and values).

c. Teori Aktivitas

Teori ini menyatakn bahwa penuaan yang sukses bergantung dari

bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalm melakukan

aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting

dibandingkan kuantitas dari aktivitas yang dilakukan. Dari pihak

lansia sendiri terdapat anggapan bahwa proses penuaan merupakan

suatu perjuangan untuk tetap muda dan berusaha untuk

mempertahankan perilaku mereka semasa mudanya. Pokok – pokok

teori aktivitas ini adalah moral dan kepuasan berkaitan dengan

interaksi sosial dan keterlibatan sepenuhnya dari lansia di

masyarakat serta kehilangan peran akan menghilangkan kepuasan

seorang lansia (Maryam dkk, 2008).

d. Teori Kesinambungan

Teori ini dianut oleh banyak pakar sosial. Teori ini

mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan

manusia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu saat merupakan

(33)

menerapkan teori ini adalah sulit untuk memperoleh gambaran

umum tentang seseorang, karena kasus tiap orang berbeda – beda.

e. Teori Perkembangan

Teori ini menekankan pentingnya mempelajari apa yang telah

dialami oleh lansia pada saat muda hingga dewasa. Teori ini

menjelaskan bagaimana proses menjadi tua merupakan suatu

tantangan dan bagimana jawaban lansia terhadap tantangan tersebut

yang dapat bernilai positif dan negatif. Masa tua merupakan saat

lansia merumuskan seluruh masa kehidupannya dan merupakan

masa penyesuaian diri terhadap kenyataan sosial yang baru yaitu

pensiun atau menjanda dan menduda. Lansia juga harus

menyesuaikan diri sebagai akibat dari perannya yang berakhir dalam

keluarga, kehilangan identitas dan hubungan sosialnya srta ditinggal

mati oleh pasangan hidup dan teman – temannya.

f. Teori Stratifikasi Sosial

Dua elemen penring dari model stratifikasi usia tersebut adalah

yang pertama struktur yang mencakup bagaimana penilaian strata,

dan bagaimana terjadinya penyebaran peran dan kekuasaan yang tak

merata pada masing – masing strata, yang didasarkan pada

pengalaman dan kebijakan lansia. Kedua, proses yang mencakup

(34)

ada serta bagaimana cara mengatur transisi peran secara berurutan

dan terus – menerus.

4. Teori Spiritual

Teori ini tentang hubungan individu dengan alam semesta dan

persepsi individu tentang arti kehidupan. Menurut Fowler, kepercayaan

adalah suatu fenomena timbal balik, yaitu suatu hubungan aktif antara

seseorang dengan orang lain dalam menanamkan suatu keyakinan,

cinta kasih, dan harapan. Fowler juga meyakini bahwa perkembangan

kepercayaan antara orang dan lingkungan terjadi karena adanya

kombinasi antara nilai – nilai dan pengetahuan. Perkembangan spiritual

pada lansia berada pada tahap penjelmaan dari prinsip cinta dan

keadilan (Maryam dkk, 2008).

2.3.5 Perubahan – Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

Nugroho (2008) menyatakan terdapat banyak perubahan yang terjadi

pada lanjut usia mencakup perubahan-perubahan fisik, mental, psikososial,

dan perkembangan spiritual.

1. Perubahan Fisik

a. Sel

Sel menjadi lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukurannya,

berkurangnya jumlah cairan cairan tubuh dan berkurangnya cairan

(35)

dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme

perbaikan sel, serta otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%

(Nugroho, 2008).

b. Sistem Persarafan

Terjadi penurunan berat otak sebesar 10-20%, cepatnya menurun

hubungan persarafan, lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi

khususnya stress, mengecilnya saraf panca indra, serta kurang

sensitif terhadap sentuhan. Pada sistem pendengaran terjadi

presbiakusis (gangguan dalam pendengaran) hilangnya kemampuan

pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau

nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti

kata-kata, otosklerosis akibat atrofi membran timpani, dan terjadinya

pengumpulan serumen yang dapat mengeras karena meningkatnya

keratin, serta biasanya pendengaran bertambah menurun pada lanjut

usia yang mengalami ketegangan jiwa/stress (Nugroho, 2008).

c. Sistem Penglihatan

Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar, kornea

lebih berbentuk sferis (bola), kekeruhan pada lensa menyebabkan

katarak, meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi

terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya

(36)

serta menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau

(Nugroho, 2008).

d. Sistem Kardiovaskuler

Terjadi penurunan elastisitas aorta, katup jantung menebal dan

menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun,

kurangnya elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas

pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur

ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan

darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak, serta

meningginya tekanan darah akibat meningkatnya resistensi

pembuluh darah perifer (Nugroho, 2008).

e. Sistem Pengaturan

Temperatur tubuh terjadi hipotermia secara fisiologis akibat

metabolisme yang menurun, keterbatasan refleks menggigil dan

tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun

(Nugroho, 2008).

f.Sistem Respirasi

Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,

menurunnya aktivitas dari silia, paru-paru kehilangan elastisitas,

menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun,

(37)

dan jumlahnya berkurang, kemampuan untuk batuk berkurang, serta

kemampuan kekuatan otot pernafasan menurun (Nugroho, 2008).

g. Sistem Gastrointestinal

Terjadi kehilangan gigi akibat periodontal disease, kesehatan gigi

yang buruk dan gizi yang buruk, indra pengecap menurun, hilangnya

sensitivitas saraf pengecap di lidah terhadap rasa manis, asin, asam,

atau pahit, esofagus melebar, rasa lapar menurun, asam lambung

menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi, serta

melemahnya daya absorbsi (Nugroho, 2008).

h. Sistem Reproduksi

Terjadi penciutan ovari dan uterus, penurunan lendir vagina, serta

atrofi payudara, sedangkan pada laki-laki, testis masih dapat

memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara

berangsur-angsur, kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa

lanjut usia asal kondisi kesehatan baik (Nugroho, 2008).

i.Sistem Perkemihan

Terjadi atrofi nefron dan aliran darah ke ginjal menurun sampai

50%, otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air

kecil meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria

(38)

j.Sistem Endokrin

Terjadi penurunan semua produksi hormon, mencakup penurunan

aktivitas tiroid, BMR, daya pertukaran zat, produksi aldosteron,

progesterone, estrogen, dan testosteron (Nugroho, 2008).

k. Sistem Integumen

Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak,

permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses

keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel

epidermis, rambut menipis berwarna kelabu, rambut dalam hidung

dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat menurunnya

cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari

menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya, serta kelenjar

keringat yang berkurang jumlah dan fungsinya (Nugroho, 2008).

l.Sistem Muskuloskeletal

Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh, kifosis,

pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas, persendian

membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan mengalami

sclerosis, serta atrofi serabut otot (Nugroho, 2008).

2. Perubahan Mental

Perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah

(39)

perubahan mental juga terjadi perubahan pada kenangan yang biasa

dikenal dengan demensia dan perubahan pada IQ dapat terjadi pada

daya membayangkan karena faktor waktu. Penampilan, persepsi dan

keterampilan psikomotor juga akan berkurang (Nugroho, 2008).

3. Perubahan Psikososial

Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan

identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Pada lansia

yang mengalami masa pensiunan akan mengalami kehilangan finansial,

status, teman atau relasi, dan kehilangan pekerjaan atau kegiatan

(Nugroho, 2008).

4. Perkembangan Spiritual

Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun yaitu berfikir dan

bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan keadilan.

Lanjut usia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya karena

agama semakin terintegrasi dalam kehidupan(Nugroho, 2008).

2.3.6 Tugas Perkembangan Lansia

Menurut Erikson dalam Maryam dkk (2008), kesiapan lansia untuk

beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut

dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Adapun

tugas perkembangan lansia antara lain; lansia harus mempersiapkan diri untuk

(40)

hubungan baik dengan orang seusianya dan melakukan adaptasi terhadap

kehidupan sosial / masyarakat secara santai. Selain itu lansia juga harus

mempersiapkan kehidupan barunya sebagai lansia dan mempersiapkan diri

untuk kematiannya dan kematian pasangan (Maryam dkk, 2008).

2.4 Peran Keluarga Dalam Merawat Lansia

Dengan meningkatnya usia, terjadi pula penurunan kemampuan dalam

melakukan aktivitas sehari – hari. Pada umumnya usia lanjut memerlukan bantuan

keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjalani hari tua yang

menyenangkan (Nugroho, 2008).

2.4.1 Perawatan fisik

Menurut Nugroho (2008), perawatan dengan pendekatan fisik untuk

lansia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan

mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku,

kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan,cara memakan

obat dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Adapun

komponen perawatan dengan pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah

memperhatikan dan membantu para lansia untuk bernafasdengan lancar,

makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum, melakukan

eleminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi

tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian,

(41)

2.4.2 Perawatan psikologis

Pada dasarnya lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari

lingkungannya. Untuk itu keluarga harus menciptakan suasana yang aman,

tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas

kemampuan dan hobi yang dimilikinya. Keluarga harus dapat membangun

semangat dan kreasi lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus

asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan

fisik dan kelainan yang di deritanya. Hal ini perlu dilakukan karena

perubahan psikologi terjadi bersama semakin lanjutnya usia. Perubahan –

perubahan ini meliputi gejala – gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk

peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan,

peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan

untuk tiduran di waktu siang dan pergeseran libido. Keluarga harus sabar

mendengarkan cerita – cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan

menertawakan atau memarahi lansia bila lupa atau melakukan kesalahan.

2.4.3 Perawatan sosial

Mengadakan diskusi, tukar fikiran dan bercerita merupakan salah satu

upaya keluarga dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk

berkumpul bersama dengan sesama lansia berarti menciptakan sosialisasi

mereka. Keluarga memberikan kesempatan yang seluas – luasnya kepada

para lansia untuk mengadakan komunikasi dan melkukan rekreasi, misalnya

(42)

dirangsang untuk mengetahui dunia luar, seperti menonton televisi,

mendengarkan radio atau membaca surat kabar dan majalah.

2.4.4 Perawatan spiritual

Keluarga harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam

hubungan lansia dengantuhan atau agama yang dianutnya. Keluarga bisa

memberikan kesempatan pada lansia untuk melaksanakan ibadahnya atu

secara langsung memberikan bimbingan rohani dengan menganjurkan

melaksanakan ibadahnya seperti membaca kitab atau membantu lansia dalam

menunaikan kewajiban terhadap agama yang dianutnya.

2.5 Kepuasan

2.5.1 Pengertian

Menurut Nursalam (2011), kepuasan adalah perasaan senang seseorang

yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap aktivitas dan

suatu produk dengan harapannya. Sedangkan menurut Kotler (2009)

Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul karena

membandingkan kinerja yang dipersepsikan terhadap hasil suatu produk dan

harapan – harapannya. Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang

untuk menikmati pengalaman - pengalaman yang disertai dengan tingkat

kegembiraan. Kepuasan hidup timbul dari pemenuhan kebutuhan atau

harapan dan merupakan penyebab atau sarana untuk menikmati. Seorang

(43)

puas dengan hidupnya (Hurlock, 2000). Menurut Nursalam (2011) kepuasan

seseorang berhubungan dengan mutu pelayanan yang diberikan.

2.5.2 Karakteristik kepuasan

Menurut Nursalam (2011) ada beberapa karakteristik yang penting

dalam mengevaluasi kepuasan yaitu :

1. Kenyataan (Tangible)

Yaitu berupa penampilan fisik keluarga, fasilitas yang memadai yang

diberikan keluarga serta keluarga memahami kebutuhan lansia.

2. Empati (Empathy)

Yaitu kesediaan keluarga untuk memberikan perhatian dan dukungan

dalam setiap hal yang di hadapi lansia.

3. Cepat tanggap (Responsiveness)

Yaitu kemauan dari keluarga untuk membantu lansia dan

memberikan jasa/bantuan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi

keluhan dari lansia.

4. Keandalan (Reliability)

Yaitu kemampuan untuk memberikan jasa/bantuan sesuai dengan

(44)

5. Jaminan (Assurance)

Yaitu berupa kemampuan keluarga untuk menimbulkan keyakinan

dan kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan kepada lansia

(45)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

3.1Kerangka Konseptual

Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran

keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga yang tinggal

di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.

Skema 1.Kerangka konseptual penelitian Peran Keluarga dalam perawatan

lansia dan Kepuasan Lansia pada Keluarga

Keluarga

dengan Lansia

Peran Keluarga dalam merawat Lansia

• Perawatan Fisik

• Perawatan Psikologis

• Perawatan Sosial

(46)

Keterangan:

: variabel yang diteliti

: berhubungan

3.2Defenisi Konseptual

Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang

dalam konteks keluarga. adapun peran keluarga dalam merawat lansia yaitu dalam

perawatan fisik, perawatan psikologis, perawatan sosial dan perawatan spiritual.

Kepuasan lansia merupakan perasaan senang yang berasal dari perbandingan

antara pelayanan atau dukungan yang diterima lansia dengan apa yang

diharapkan. Karakteristik yang penting dalam mengevaluasi kepuasan yaitu

Kenyataan (Tangible), Empati (Empathy), Cepat tanggap (Responsiveness),

Keandalan (Reliability) dan Jaminan (Assurance).

3.3Defenisi Operasional

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lanjut usia di

rumah agar dapat meningkatkan kualitas hidup lanjut usia dan agar lanjut usia

dapat menjalani hari tua yang menyenangkan. Adapun peran keluarga dalam

perawatan lansia yaitu peran keluarga dalam perawatan fisik, psikologis, sosial,

dan spiritual.

Peran keluarga dalam perawatan fisik yang meliputi pemenuhan kebutuhan

fisik lanjut usia, seperti makan, minum, mandi, berjalan, eliminasi, duduk,

(47)

keluarga dalam perawatan psikologis meliputi dalam hal pemenuhan kebutuhan

psikis lanjut usia, seperti terhindar dari stres serta didengarkan nasehat dan

keluhannya. Peran keluarga dalam perawatan sosial meliputi pemenuhan

kebutuhan sosial lanjut usia, seperti berkelompok dengan teman sebaya,

berkumpul dengan keluarga atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Peran

keluarga dalam perawatan spiritual yang meliputi kebutuhan spiritual lanjut usia,

seperti kelengkapan fasilitas dan kenyamanan ibadah lanjut usia.

Kepuasan lansia tergantung dari pelayanan yang diterima lansia dari

lingkungannya yaitu keluarga sebagai orang yang terdekat karena lansia juga

ditandai oleh adanya integritas ego atau kepuasan. Kepuasan dapat dievaluasi

melalui karakteristik kepuasan yaitu Kenyataan (Tangible), Empati (Empathy),

Cepat tanggap (Responsiveness), Keandalan (Reliability) dan Jaminan

(Assurance)

Kenyataan (Tangible) yaitu berupa penampilan fisik keluarga, fasilitas yang

memadai yang diberikan keluarga serta keluarga memahami kebutuhan lansia.

Empati (Empathy) yaitu kesediaan keluarga untuk memberikan perhatian dan

dukungan dalam setiap hal yang di hadapi lansia. Cepat tanggap (Responsiveness)

yaitu kemauan dari keluarga untuk membantu lansia dan memberikan

jasa/bantuan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan dari lansia.

Keandalan (Reliability) yaitu kemampuan untuk memberikan jasa/bantuan sesuai

dengan yang dijanjikan, terpercaya, akurat dan konsisten. Jaminan (Assurance)

(48)

kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan kepada lansia dengan

(49)

BAB 4

METODELOGI PENELITIAN

4.1Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan merupakan penelitian Deskriptif yaitu suatu

metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama mengetahui gambaran

tentang suatu keadaan secara objektif, dalam hal ini adalah untuk mengetahui

gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada

keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat.

4.2 Populasi, Sampel, dan Sampling

4.2.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah para lansia dan keluarganya yang

tinggal di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Populasi lansia

sebanyak 284 jiwa.

4.2.2 Sampel

Menurut Setiadi (2007), sampel adalah elemen – elemen populasi yang

dipilih berdasarkan kemampuan mewakilinya.

n =

=

=

Keterangan :

N = Besar Populasi

n = Besar sampel

(50)

=

= 73,95 = 74

Jumlah sampel yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 74

orang lansia dan keluarganya. Adapun kriteria inklusi pada sampel dalam

penelitian ini yaitu bersedia menjadi responden, keluarga yang merawat

lansia dan usia lansia 60 tahun keatas, lansia tidak mengalami gangguan

kognitif, seperti pikun serta lansia juga dapat mendengar dengan baik.

4.2.3 Tehnik Pengambilan Sampel

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat

mewakili populasi (Nursalam, 2010). Pada penelitian ini tehnik sampling

yang digunakan adalah Simple random sampling yaitu dengan melakukan

proses pengundian dan data responden yang telah diundi kemudian menjadi

responden penelitian.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Adapun

alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi ini karena Kelurahan Padang

Matinggi Rantauprapat merupakan Kelurahan yang jarang dilakukan penelitian

ilmiah terutama terkait dengan lansia dan keluarganya. Di Kelurahan Padang

Matinggi Rantauprapat sebagian besar lansia tinggal dengan keluarganya sehingga

(51)

kriteria sampel penelitian. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-

Oktober 2012.

4.4 Pertimbangan Etik

Sebelum mengambil data, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian

serta mempertimbangkan etik dalam penelitian dengan menjamin hak – hak

responden. Adapun etika dalam penelitian ini meliputi :

Inform Consent

Inform consent merupakan persetujuan antara peneliti dengan calon

responden yang dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan. Peneliti

menjelaskan tujuan penelitian kepada calon responden. Jika calon responden

bersedia menjadi calon responden maka responden dipersilahkan

menandatangani lembar persetujuan, tetapi bila calon responden tidak

bersedia maka tidak ada paksaan untuk menjadi responden. Dalam penelitian

ini, persetujuan dilakukan antara peneliti dengan calon responden.

Anonimity

Anonimity merupakan etika penelitian dimana peneliti tidak

mecantumkan nama responden pada lembar alat ukur, tetapi hanya

menuliskan kode nomor responden pada lembar pengumpulan data. Kode

yang digunakan berupa nomor responden berupa angka (misal : 1,2,3 dan

(52)

Confidentiality

Saat pelaksanaan di lapangan peneliti tidak hanya terlibat dalam proses

pengambilan data penelitian tetapi kadang responden berbagi cerita sekitar

kehidupan pribadinya sehingga peneliti harus menjamin kerahasiaan hasil

penelitian baik informasi maupun masalah lain yang menyangkut privasi

responden dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil

penelitian.

4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk

kuesioner dengan berpedoman kepada tinjauan pustaka dan kerangka konsep.

Instrumen penelitian terdiri dari empat kuesioner. Kuesioner pertama berisi data

demografi keluarga yang meliputi usia, jenis kelamin, agama, suku, pekerjaan,

penghasilan perbulan, pendidikan dan hubungan keluarga dengan lansia.

Kuesioner kedua berisi peran keluarga dalam perawatan lansia yang

menggunakan skala likert terdiri dari 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban :

Tidak pernah (TP) bernilai 1, Kadang-kadang (KD) bernilai 2, sering (SR)

bernilai 3 dan selalu (SL) bernilai 4. Peran keluarga dikatakan baik apabila

responden keluarga memiliki skor 61-80, dikatakan cukup apabila memiliki skor

41-60 dan dikatakan kurang baik apabila memiliki skor 20-40.

Kuesioner ketiga berisi tentang data demografi lansia yang meliputi ; usia,

jenis kelamin, agama, suku, dan pendidikan terakhir. Kuesioner keempat berisi

(53)

pertanyaan dengan pilihan jawaban : Tidak pernah (TP) bernilai 1,

Kadang-kadang (KD) bernilai 2, sering (SR) bernilai 3 dan selalu (SL) bernilai 4. Lansia

dikatakan puas apabila responden memiliki skor 31-40, dikatakan cukup puas

apabila memiliki skor 21-30 dan dikatakan kurang puas apabila memiliki skor

10-20.

Semakin tinggi jumlah skor yang didapat, maka menunjukkan semakin baik

perawatan keluarga terhadap lansia. Perawatan keluarga terhadap lansia dibagi

dalam empat kategori, yaitu perawatan yang sangat baik, baik, sedang dan buruk.

Rentang Berdasarkan rumus statistik P =

Banyak kelas

4.6 Uji Validitasdan Reabilitas

Validitas adalah suatu pengukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu instrumen dalam mengumpulkan data (Nursalam,

2010). Uji validitas instrumen dilakukan oleh dosen ahli Keperawatan Keluarga

Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas di Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara. Reabilitas adalah adanya suatu kesamaan hasil

apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang yang berbeda ataupun waktu yang

berbeda. Uji reliabilitas dilakukan kepada 10 subjek yang sesuai dengan kriteria

yang telah ditentukan (Nursalam, 2010). Menurut Polit & Hungler (1997) suatu

instrument dikatakan reliabel jika nilai reliabilitasnya sama dengan 0,70 atau

lebih. Uji reliabilitas untuk kuesioner peran keluarga dalam perawatan lansia dan

kepuasan lansia pada keluarga menggunakan formula Cronbach Alpha yang telah

(54)

dengan kriteria sampel penelitian di Kelurahan Pulo Padang Rantauprapat dan

diperolah hasil r = 0,801 untuk peran keluarga serta r = 0,797 untuk kepuasan

lansia, dengan demikian kuesioner ini dianggap reliabel.

4.7 Pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menyebarkan

kuesioner. Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin

pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara dan Kepala Kelurahan Padang Matinggi

Rantauprapat. Peneliti langsung mendatangi Kelurahan Padang Matinggi

Rantauprapat dan menjelaskan kepada calon responden tentang tujuan, manfaat,

prosedur penelitian, dan cara pengisian kuisioner penelitian. Peneliti meminta

kesediaan responden untuk mengikuti penelitian. Bagi calon responden yang

bersedia menjadi responden diminta untuk menandatangani informed consent dan

dipersilahkan mengisi kuesioner yang dibagikan peneliti. Responden diminta

menjawab pertanyaan dengan mengisi kuesioner yang diberikan dan pengumpulan

data dimulai. Peneliti melakukan wawancara dengan responden lansia yaitu

dengan membacakan pertanyaan yang ada di kuesioner kemudian mendampingi

lansia dalam mengisi jawaban dan selanjutnya data yang terkumpul dianalisa.

4.8 Analisa Data

Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisa data melalui beberapa

(55)

responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk,

koding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk

mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisa. Data yang telah

terkumpul diolah dengan menggunakan statistik deskriptif dengan program

komputer, selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan

(56)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diperoleh melalui pengumpulan data terhadap 74

responden yaitu keluarga dengan lansia di Kelurahan Padang Matinggi

Rantauprapat dari tanggal 15 Agustus sampai dengan 26 oktober 2012.

Penyajian data meliputi karakteristik responden dan kuesioner peran keluarga

dalam perawatan lansia serta kuesioner kepuasan lansia di Kelurahan Padang

Matinggi Rantauprapat.

Karakteristik Responden

Hasil penelitian tentang karekteristik responden keluarga diperoleh

sebagian besar berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 28 orang (37,8%),

sedangkan jenis kelamin keluarga sebagian besar adalah wanita yaitu 60 orang

(81,1%), sebagian besar keluarga beragama Islam yaitu 55 orang (74,3%), dan

sebagian besar keluarga juga bersuku Batak yaitu 36 orang (48,7%).

Pendidikan keluarga sebagian besar adalah Perguruan tinggi yaitu 30 orang

(40,5%). Pekerjaan keluarga sebagian besar adalah sebagai

wiraswasta/karyawan swasta yaitu dengan jumlah 30 orang (40,5%), dan

sebagian besar penghasilan keluarga berkisar diatas Rp 1.000.000 yaitu

sebanyak 43 orang (58,1%). Hubungan keluarga dengan lansia sebagian besar

adalah sebagai anak yaitu sebanyak 39 orang (52,7%). Hasil ini dapat dilihat

(57)
(58)

Pada karakteristik responden lansia diperoleh hasil sebagai berikut

sebagian besar lansia berusia 60-70 tahun yaitu sebanyak 30 orang (40,5%),

sedangkan sebagian besar jenis kelamin lansia adalah wanita yaitu 49 orang

(66,2%), kemudian sebagian besar lansia beragama Islam yaitu 55 orang

(74,3%), dan sebagian besar lansia juga bersuku Batak yaitu 35 orang (47,3%)

dan pendidikan lansia sebagian besar adalah tidak sekolah yaitu 22 orang

(29,7%). Hal ini dapat dilihat pada table 5.2.

(59)

Hasil penelitian tentang peran keluarga dalam perawatan lansia yang

diperoleh dari 74 responden yaitu sebagian besar masuk ke dalam kategori

peran keluarga baik dalam perawatan lansia yaitu sebanyak 55 keluarga

(74,3%), dan dalam kategori peran keluarga cukup baik dalam perawatan

lansia sebanyak 19 keluarga (25,7%). Hal ini dapat dilihat pada table 5.3.

Tabel 5.3 Kategori peran keluarga dalam perawatan lansia

No. Kategori (n) (%)

1. Baik 55 74,3

2. Cukup baik 19 25,7

3. Kurang baik 0 0

Hasil penelitian tentang kepuasan lansia pada keluarga dari 74

responden diperoleh bahwa sebagian besar lansia termasuk ke dalam kategori

puas pada keluarga sebanyak 58 lansia (78,4%), dan dalam kategori lansia

cukup puas pada keluarga sebanyak 16 keluarga (21,6%). Hal ini sesuai

dengan table 5.4.

Tabel 5.4 Kategori kepuasan lansia pada keluarga

No. Kategori (n) (%)

1. Puas 58 78,4

2. Cukup puas 16 21,6

(60)

5.2 Pembahasan

5.2.1 Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran keluarga

dalam perawatan lansia sebagian besar termasuk ke dalam kategori baik yaitu

sebanyak 55 keluarga (74,3%) dan kepuasan lansia pada keluarga sebagian

besar termasuk ke dalam kategori puas yaitu sebanyak 58 lansia (78,4%). Hal

ini menunjukkan bahwa peran keluarga dalam perawatan lansia di Kelurahan

Padang Matinggi Rantauprapat sudah baik dan lansia juga sudah merasa puas

pada keluarganya. Peneliti berasumsi bahwa peran keluarga dalam perawatan

lansia baik dapat dipengaruhi oleh hubungan responden keluarga dengan

lansia dan jenis kelamin keluarga yang merawat lansia, karena dari data yang

diperoleh sebagian besar keluarga berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 60

orang (81,1%), dan sebagian besar keluarga yang mempunyai hubungan

dengan lansia adalah sebagai anak yaitu sebanyak 39 orang (52,7%). Hasil

penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Efiani (2010) tentang

perawatan keluarga terhadap lansia di Desa Sukajadi Kecamatan Hinai

Kabupaten Langkat yang menyatakan bahwa perawatan keluarga dapat

dipengaruhi oleh jenis kelamin dan hubungan responden dengan lansia (lansia

tinggal bersama anak perempuannya). Hal ini juga sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Fatimah (2010), yang mengemukakan bahwa keluarga

merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan

kesehatannya, 80% keluarga akan mendukung lansia dan biasanya anak sudah

Gambar

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik  responden keluarga
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden lansia (n=74)
Tabel 5.3 Kategori peran keluarga dalam perawatan lansia

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan terhadap 76 orang responden keluarga lansia yang berada dikelurahan Sidorejo kecamatan Medan Tembung yang menggambarkan peran keluarga dalam mengajak

Hasil Ukur Skala Ukur Peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan interaksi sosial Perilaku oleh keluarga yang diharapkan dari seseorang yang menempati posisi sosial yang diberikan

Disarankan kepada lansia untuk mengikuti kegiatan di Posyandu Lansia berupa penyuluhan hipertensi dan senam lansia, keluarga diharapkan dapat meningkatkan

keluarga dalam perawatan lansia pada budaya melayu dan mandailing.. 1.4.2

Peran keluarga dalam perawatan lansia menurut budaya melayu yaitu baik. sebanyak 30 responden (96,8%), selebihnya peran keluarga cukup sebanyak

Disarankan kepada lansia untuk mengikuti kegiatan di Posyandu Lansia berupa penyuluhan hipertensi dan senam lansia, keluarga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang perawatan dan dukungan sosial keluarga pada keluarga dengan lansia, dan untuk mengetahui hubungan antara perawatan dan dukungan

HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Kesehatan Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dengan Gangguan