• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PELAYANAN IZIN PENANAMAN MODAL SECARA ONLINE SINGLE SUBMISSION BERDASARKAN PP NO. 24 TAHUN 2018 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PELAYANAN IZIN PENANAMAN MODAL SECARA ONLINE SINGLE SUBMISSION BERDASARKAN PP NO. 24 TAHUN 2018 SKRIPSI"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh:

IRWIN DJONO NIM : 150200403

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

Jurusan Hukum Ekonomi

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Medan

2019

(2)
(3)

i

Pelayanan Izin Penanaman Modal Secara Online Single Submission Berdasarkan PP No. 24 Tahun 2018”. Skripsi ini ditulis dalam rangka melengkapi tugas akhir dan bertujuan untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Selama penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan, motivasi, semangat, arahan, bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, membimbing, dan memberikan motivasi. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Dosen Pembimbing I yang banyak membantu penulis dalam memberikan masukan, arahan-arahan serta bimbingan di dalam pelaksanaan penulisan skripsi ini;

3. Bapak Prof. Dr. O.K Saidin, S.H., M.Hum., Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas

Universitas Sumatera Utara Hukum Universitas Sumatera Utara;

(4)

ii

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., MH., selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Ibu Tri Murti Lubis, S.H., M.H., selaku Sekretaris Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

8. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang banyak membantu penulis dalam memberikan masukan, arahan- arahan serta bimbingan di dalam pelaksanaan penulisan skripsi ini;

9. Bapak Sunarto Ady Wibowo, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberi arahan, bimbingan, dan motivasi selama perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

10. Ibu Sinta Uli, S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberi arahan, bimbingan, dan motivasi selama perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

11. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seluruhnya yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

12. Kedua orang tua penulis, ayahanda Ali Djono dan ibunda Sumery

Sidjurmin, abang-abang penulis yaitu Anthony Djono, S.H., M.H. dan Larry

Djono, S.T. dan adik kembar penulis yaitu Jocelyn Djono serta keluarga

besar yang senantiasa memberi doa, dukungan dan motivasi sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

(5)

iii

selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian perkuliahan dan skripsi ini;

14. Teman-teman terdekat penulis selama perkuliahan grup “Wa KK” yaitu Lydia Almira Wirawan, Cynthia Leonardy, Ellen Wijaya, Stefanie, Grifin Laurent, Hawdy Laifa, Felix Kusuma, Kelvin, Willy Levon, Wendy dan Stefan yang selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian perkuliahan dan skripsi ini;

15. Teman-teman terdekat penulis selama perkuliahan grup “ParPar” yaitu Fathurwansyah, Noval Pra Ashari, Sion Hasibuan, Achmad Monang Lubis, Sutan Farhan Pratasa, Raden Dinan Raya, AlRasyid, Bayu Yuliamsyah dan lain-lain yang tidak dapat disebut satu per satu yang selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian perkuliahan dan skripsi ini;

16. Teman-teman seperjuangan klinis perdata, ptun dan pidana yaitu Rimma Hutauruk, Indira, Rindam Sipayung, Ellen Wijaya, Grifin Laurent, Biva Maria, Maya, Bayu Yuliamsyah, Noval Pra Ashari dan Raden Dinan Rayan yang selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian perkuliahan dan skripsi ini;

17. Orang yang selalu memberikan semangat, dukungan dan motivasi yaitu

Wike, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan skripsi ini;

(6)

iv

18. Sahabat-sahabat penulis dalam Badan Pengurus Harian IMAHMI 2015 yaitu Fadli, Nasfi, Ola, Dinda dan Putri Zhafira serta keluarga besar IMAHMI yang selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian perkuliahan dan skripsi ini;

19. Seluruh Mahasiswa/i stambuk 2015 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

20. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat digunakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang akan datang.

Medan, Maret 2019 Penulis

Irwin Djono

(7)

v

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vii

ABSTRAK ... viii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 8

D. Keaslian Penulisan ... 9

E. Tinjauan Kepustakaan ... 10

F. Metode Penelitian ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 20

BAB II: KEGIATAN PENANAMAN MODAL SECARA LANGSUNG (DIRECT INVESTMENT) DALAM HUKUM DI INDONESIA ... 22

A. Sumber Hukum Penanaman Modal Secara Langsung (Direct Investment) di Indonesia ... 22

B. Kebijakan Dasar Penanaman Modal ... 27

C. Pokok-Pokok Pengaturan Penanaman Modal dalam UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal ... 30

1. Bidang Usaha Penanaman Modal ... 30

(8)

vi

2. Perizinan Penanaman Modal ... 39

3. Hak dan Kewajiban Penanaman Modal ... 42

4. Fasilitas Penanaman Modal ... 45

5. Nasionalisasi ... 48

6. Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal ... 50

D. Pengendalian dan Pengawasan Kegiatan Penanaman Modal ... 52

BAB III: PELAYANAN PERIZINAN DAN NON-PERIZINAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL ... 60

A. Pelayanan Perizinan Penanaman Modal ... 60

1. Jenis Perizinan Penanaman Modal ... 60

2. Kewenangan Mengeluarkan Izin Penanaman Modal ... 61

B. Pelayanan Non-Perizinan di Bidang Penanaman Modal ... 64

1. Jenis-Jenis Layanan Non-Perizinan ... 64

2. Kewenangan Memberikan Layanan Non-Perizinan ... 65

C. Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) ... 67

1. Pengertian dan Dasar Hukum Pelayanan Terpadu Satu Pintu ... 67

2. Tujuan Pelanyanan Terpadu Satu Pintu ... 69

3. Wewenang Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ... 69

4. Sistem Pelayanan Pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu ... 70

BAB IV: PELAYANAN IZIN PENANAMAN MODAL SECARA ONLINE SINGLE SUBMISSION ... 74

A. Latar Belakang Lahirnya Online Single Submission ... 74

B. Pelaksanaan Perizinan ... 77

(9)

vii

Single Submission ... 97

F. Penyelesaian Permasalahan dan Hambatan ... 99

BAB V: PENUTUP ... 102

A. Kesimpulan ... 102

B. Saran ... 104

DAFTAR PUSTAKA ... 105

(10)

viii

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PELAYANAN IZIN PENANAMAN MODAL SECARA ONLINE SINGLE SUBMISSION

BERDASARKAN PP NO. 24 TAHUN 2018

ABSTRAK Irwin Djono

1*

Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum.

2**

Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum.

3***

Pelayanan izin merupakan salah satu faktor yang diperhatikan oleh penanam modal dalam rangka menanamkan modalnya. Dalam rangka menarik perhatian penanam modal, pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai jenis pelayanan izin. Namun dalam prakteknya, sering menimbulkan biaya tinggi serta praktek- praktek kotor. Dalam upaya pembenahan pelayanan izin, pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 yang menyediakan pelayanan izin secara Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi secara elektronik.

Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian hukum normatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa bahan primer, sekunder dan tersier. Teknik pengambilan data dilakukan dengan studi kepustakaan (library research). Data sekunder yang telah disusun secara sistematis, dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif.

Pelayanan izin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 dilakukan secara online atau daring atau dikenal dengan Online Single Submission (OSS) dalam arti penanam modal tidak perlu hadir secara fisik untuk mendapatkan pelayananan. Dalam peraturan pemerintah tersebut, perizinan telah banyak disederhanakan serta dapat diterbitkan berdasarkan komitmen bahkan waktu yang dibutuhkan dalam penerbitan perizinan juga telah ditentukan namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelumnya.

Kata Kunci: Pelayanan izin, Penanaman Modal, Online Single Submission (OSS)

* Mahasiswa

** Dosen Pembimbing I

*** Dosen Pembimbing II

(11)

1 A. Latar Belakang

Sejak Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, segala sisi kehidupan bangsa Indonesia khususnya sisi hukum Indonesia telah terbebas dari jeratan hukum Kolonial Belanda. Bersama dengan itu, lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkembang, terbebas dari penjajahan dan yang bebas untuk menentukan nasib-nya sendiri. Demikian pula dengan peraturan hukumnya yang dilandasi oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Salah satu perkembangan yang nyata dan signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini dan yang masih akan berkembang di masa yang akan datang adalah semakin meluasnya arus globalisasi di segala bidang, baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum maupun bidang-bidang kehidupan lainnya.

Perkembangan teknologi informasi telah menjadikan kegiatan di sektor perekonomian terutama sektor penanaman modal meningkat secara pesat dan bahkan telah menempatkan dunia sebagai pasar tunggal bersama.

Keberadaan penanaman modal di suatu negara berkaitan erat dengan adanya tuntutan untuk menyelenggarakan pembangunan nasional di negara tersebut.

Umumnya kesulitan yang dihadapi dalam menyelenggarakan pembangunan

nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi meliputi kekurangan

modal, kemampuan dalam hal teknologi, ilmu pengetahuan, pengalaman dan

keterampilan. Hambatan tersebut umumnya dialami oleh negara berkembang,

sebab setiap pembangunan nasional senantiasa bersifat multidimensional yang

(12)

2

memerlukan sumber pembiayaan dan sumber daya yang cukup besar, baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar negeri

4

.

Mencermati peran penanam modal cukup signifikan dalam membangun perekonomian, tidaklah mengherankan jika di berbagai negara dalam dekade terakhir ini, baik negara maju maupun negara-negara berkembang berusaha secara optimal agar negaranya dapat menjadi tujuan investasi asing. Di lain pihak, dari sudut pandang investor adanya keterbukaan pasar di era globalisasi membuka peluang untuk berinvestasi di berbagai negara. Tujuannya sudah jelas yakni bagaimana mencari untung, sedangkan negara penerima modal berharap ada partisipasi penanam modal atau investor dalam pembangunan nasionalnya.

Mengingat ada perbedaan sudut pandang antara investor dengan penerima modal, dirasakan perlu untuk mengakomodasikan kedua kepentingan tersebut dalam suatu norma yang jelas

5

.

Untuk menyatukan antara kepentingan investor dengan negara penerima- penerima modal harus disadari tidak mudah. Artinya, apabila negara penerima modal terlalu ketat dalam menentukan syarat penanaman modal investor, mungkin saja para investor tidak akan datang lagi bahkan bagi investor yang sudah ada pun bisa jadi akan merelokasi perusahaannya. Disebut demikian, karena di era globalisasi ini, para pemlik modal sangat leluasa dalam menentukan tempat berinvestasi yang tidak terlalu dibatasi ruang geraknya. Untuk itu dalam menyikapi arus globalisasi yang terus merambah ke berbagai bidang tersebut, peraturan

4 Rosyidah Rakhmawati, Hukum Penanaman Modal di Indonesia dalam Menghadapi Era Global, Cet.Kedua (Malang: Bayumedia Publishing, 2004), hal 8.

5 Hendrik Budi Untung, Hukum Investasi, Cet. Pertama (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hal. 4.

(13)

perundang-undangan investasi asing (FDI) di berbagai negara pun terus diperbarui sesuai dengan perkembangan dunia bisnis yang semakin mengglobal

6

.

Perkembangan penanaman modal asing di Indonesia dimulai sejak tahun 1952, dimulai dari Kabinet Ali Sastroamdjojo pertama (1952-1953) dengan mempersiapkan peraturan untuk menarik penanaman modal asing di Indonesia, namun peraturan ini belum sempat diajukan ke parlemen oleh karena jatuhnya kabinet ini. Pada Kabinet Ali Sastroamdjojo kedua, tahun 1953 mengajukan Rencana Undang-undang Penanaman Modal Asing, yang mengandung syarat- syarat sedemikian rupa, agar jangan sampai penanaman modal asing menghambat pembangunan masyarakat Indonesia. Rencana Undang-undang Penanaman Modal Asing ini juga tidak memperoleh persetujuan parlemen. Setelah Rencana Undang- undang Penanaman Modal Asing yang diajukan oleh Kabinet Ali Sastroamdjojo kedua diterima, pada tahun 1958 diterbitkan Undang-Undang Nomor 78 Tahun 1958 tentang Penanaman Modal Asing. Setelah Rencana Undang-undang Penanaman Modal Asing yang diajukan oleh Kabinet Ali Sastroamdjojo kedua diterima, pada tahun 1958 diterbitkan Undang-Undang Nomor 78 Tahun 1958 tentang Penanaman Modal Asing yang kemudian dicabut dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 16 Tahun 1965 tentang Pencabutan Undang-Undang No.

78 Tahun 1958 Tentang Penanaman Modal Asing, yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 15 Prp Tahun 1960.

7

6 Ibid, hal 5.

7 Batara Mulia Hasibuan, ‘Investasi dan Sejarah Pekembangan Investasi Asing di Indonesia”, diakses dari http://business-law.binus.ac.id/2017/02/19/investasi-dan-sejarah- perkembangan-investasi-asing-di-indonesia/#_edn6, pada tanggal 20 Oktober 2018 pukul 21.00

(14)

4

Hingga tahun 1967 Indonesia mengalami kekosongan hukum dalam bidang penanaman modal asing dan pada akhirnya dengan diterbitkan Undang-Undang No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan ditandai dengan pengajuan Aplikasi Freeport Sulphur di Irian Jaya (Jaya Pura)

8

. Dalam rangka memacu kehadiran investor asing, dirasakan perlu merevisi Undang-Undang Penanaman Modal Asing Tahun 1967. Untuk itu, pada tahun 1970, UUPMA diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970.

9

Salah satu usaha untuk meningkatkan penanaman modal asing, pemerintah telah memperpendek jalur birokrasi dengan menjadikan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) sebagai satu-satunya instansi yang mengurus penanaman modal di Indonesia

10

. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses pengurusan permohonan penanaman modal asing dan pemberian segala izin yang diperlukan.

Lalu pada tahun 1994, tampaknya pemerinah menyadari bahwa, perkembangan dunia bisnis khususnya dalam menarik investasi semakin kompetitif. Untuk itu pemerintah pun kembali menyesuaikan ketentuan penanaman modal asing yakni dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing (untuk selanjutnya disebut PP 20/1994).

11

Dalam pertimbangan dikeluarkannya PP 20/1994, disebutkan bahwa dalam rangka

8 Rosyidah Rakhmawati, Op. Cit, hal 6.

9 Sentosa Sembiring, Hukum Investasi, Cet. Ketiga (Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2018), hal. 106

10 Keputusan Presiden RI Nomor 53 Tahun 1977 tentang BPKM

11 Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal. 110.

(15)

mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, diperlukan langkah-langkah untuk lebih mengembangkan iklim usaha yang semakin mantap dan lebih menjamin kelangsungan penanaman modal asing.

12

Sebagai upaya memperpendek rantai birokrasi pengelolaan investasi, maka pada tahun 1999, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan landasan hukum yang lebih kuat kepada Pemerintah Daerah dalam pengelolaan investasi. Disini, tampak berdasarkan UU tersebut kewenangan pengelolaan penanaman modal titik berat ada di Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten, kecuali untuk bidang-bidang yang strategis masalah perizinannya masih dipegang oleh pemerintah pusat. Hal ini dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2001 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 maupun Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2001 terjadinya benturan kewenangan pengelolaan penanaman modal sulit untuk dihindari. Di satu sisi, ketentuan penanaman modal masih tunduk kepada UUPMA Tahun 1967 dan UUPMDN Tahun 1968. Konsekuensinya adalah kewenangan mengatur masalah investasi ada di pemerintah pusat. Disisi lain, kehadiran UU Pemda belum diikuti dengan perangkat aturan yang memadai, sehingga Pemda pun dengan dalih menjalankan perintah undang-undang merasa berhak mengatur masalah investasi. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan ketentuan

12 PP Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing

(16)

6

undang-undang tersebut dapat menimbulkan berbagai interpretasi, apalagi kehadiran UU Pemda disikapi dengan semangat kedaerahan yang berlebihan.

13

Dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2004, maka kewenangan Pemda untuk memberi persetujuan dalam rangka penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri telah dicabut. Untuk selanjutnya, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal dalam Rangka Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Melalui Pelayanan Satu Atap.

Seiring dengan perubahan perekonomian global dan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional perlu diciptakan iklim penanaman modal yang kondusif, promotif, memberikan kepastian hukum, keadilan, dan efisien dengan tetap memperhatikan kepentingan ekonomi nasional, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri telah diganti karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan percepatan perkembangan perekonomian dan pembangunan hukum nasional, khususnya di bidang penanaman modal. Sesuai dengan pertimbangan di atas, Pemerintah Indonesia membentuk aturan penanaman modal yang tidak memisahkan antara penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri, yaitu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

14

Pada saat yang bersamaan dengan berlakunya Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, BPKM menjadi sebuah

13 Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal. 123

14 Batara Mulia Hasibuan, loc. cit.

(17)

lembaga pemerintahan yang menjadi koordinator kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi pemerintah, pemerintah dengan Bank Indonesia, serta pemerintah dengan pemerintah daerah maupun pemerintah daerah dengan pemerintah daerah. Lalu pada tahun 2014, pemerintah mengeluarkan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan daerah provinsi serta daerah kabupaten/kota dalam bidang penanaman modal secara jelas dan rinci.

Beberapa tahun belakangan, arus globalisasi dunia menjadi semakin deras dan tidak mungkin dielakkan dan kita akan kehilangan momentum sejarah apabila mengisolasi diri. Oleh karena itu, Pemerintah telah mempersiapkan beberapa strategi untuk bersaing dalam dunia penanaman modal. Beberapa strategi yang telah diambil pemerintah adalah dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan yang terbaru adalah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Izin Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik.

Namun dari peraturan lama ke peraturan baru, menurut David Kairupan, masalah pembenahan perizinan penanaman modal di Indonesia merupakan pekerjaan rumah (homework) yang tampaknya tidak pernah selesai dikerjakan dengan baik. Birokrasi perizinan usaha sering kali bahkan menimbulkan biaya tinggi dalam dunia usaha, karena adanya biaya-biaya tidak resmi dalam pengurusan perizinan usaha tersebut. Hal ini tentu sangat memengaruhi iklim investasi di Indonesia.

15

Oleh karena itu, penulis tertarik dalam membahas pelayanan izin

15 Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal. 83.

(18)

8

dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Izin Berusaha Terintegrasi Secara Elektroknik.

B. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah merupakan sesuatu yang penting untuk dibahas dalam penulisan sebuah skripsi. Adapun beberapa permasalahan yang akan penulis kemukakan dalam penulisan skripsi ini, yaitu:

1. Bagaimana pengaturan kegiatan penanaman modal secara langsung (direct investment) di Indonesia?

2. Bagaimana pelayanan perizinan dan non-perizinan di bidang penanaman modal?

3. Bagaimana pelayanan izin penanaman modal secara online single submission berdasarkan PP No. 24 Tahun 2018?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan penulisan sebuah skripsi merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan karena didalamnya terkandung pembahasan atas pokok-pokok permasalahan yang ada. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaturan kegiatan penanaman modal secara langsung (direct investment) di Indonesia

2. Untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan perizinan dan non-perizinan di bidang penanaman modal

3. Untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan izin penanaman modal secara online

single submission berdasarkan PP No. 24 Tahun 2018

(19)

Manfaat penulisan sebuah skripsi adalah untuk mengetahui harapan penulis dalam menyusun skripsi ini. Adapun manfaat penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoritis, skripsi ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan hukum bagi penulis, khususnya mengenai masalah pelayanan izin penanaman modal secara Online Single Submission sehingga dapat menjadi masukkan bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.

2. Secara Praktis, skripsi ini diharapkan dapat membantu mahasiswa khususnya yang sedang mendalami ilmu pengetahuan hukum penanaman modal dan masyarakat pada umumnya baik secara teori maupun secara praktek, serta dapat membantu penulis dalam menghadapai masalah-masalah yang berkaitan dengan penanaman modal apabila suatu saat nanti terjun kedalam dunia praktek.

D. Keaslian Penulisan

Skripsi dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelayanan Izin Penanaman Modal Secara Online Single Submission Berdasarkan PP No. 24 Tahun 2018” telah melalui proses pemeriksaan oleh Perpusatakaan Universitas Cabang Fakultas Hukum USU/ Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Fakultas Hukum USU pada tanggal 06 Agustus 2018 serta telah melalui proses pengecekan di internet.

Dari Pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa skripsi dengan judul ini belum

pernah dibuat dan dibahas sebelumnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara. Skripsi ini ditulis dengan referensi buku-buku, media cetak dan elektronik

dan bantuan dari berbagai pihak lainnya.

(20)

10

Adapun beberapa penelitian yang berhubungan dengan judul skripsi penulis yaitu tentang pelayanan izin penanaman modal adalah:

1. Skripi Pelayanan Publik Dalam Proses Pengurusan Perizinan di Kabupaten Cilacap oleh Wardhani Hanif Dewi (Universitas Negeri Yogyakarta, 2012) 2. Skripsi Implementasi Kebijakan Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan di Kota

Blitar (Studi pada Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja dan Pelayanan Terpadu) oleh Kurniawan Saputro (Universitas Muhammadiyah Malang, 2017)

3. Skrispi Efektivitas Pelayanan Satu Pintu (One Stop Service) Dalam Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makassar (Universitas Negeri Makassar, 2018)

Adapun perbedaan penelitian penulis dengan penelitian-penelitian diatas adalah penulis akan membahas pelayanan izin penanaman modal secara online single submission, dimana peraturan pengaturan tentang pelayanan izin penanaman modal tersebut merupakan peraturan terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia sedangkan penelitian-penelitian diatas merupakan penelitian berdasarkan peraturan pelayanan izin terlebih dahulu.

E. Tinjauan Kepustakaan

Berdasarkan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelayanan Izin Penanaman Modal Secara Online Single Submission Berdasarkan PP No. 24 Tahun 2018”, dapat ditemukan beberapa istilah, diantaranya adalah:

1. Penanaman Modal

(21)

Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.

16

Penanaman modal tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing. Penanaman modal dalam negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.

17


 Sedangkan Penanaman modal asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.

18

Pada umumnya, dikenal 2 (dua) istilah kegiatan penanaman modal, yaitu:

penanaman modal secara langsung (direct investment) dan penanaman modal secara tidak langsung (indirect investment). Penanaman modal langsung ini dilakukan baik berupa mendirikan perusahaan patungan (joint venture company) dengan mitra lokal, dengan melakukan kerja sama operasi (joint operation scheme) tanpa membentuk perusahaan baru, dengan mengkonversikan pinjaman menjadi penyertaan mayoritas dalam perusahaan lokal, dengan memberikan bantuan teknis dan manajerial (technical and management assistance), dengan memberikan

16 Pasal 1 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

17 Pasal 1 angka 2 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

18 Pasal 1 angka 3 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

(22)

12

lisensi, dan lain-lain.

19

Penanaman Modal tidak langsung ini mencakup kegiatan transaksi di pasar modal dan di pasar uang.

20

2. Pelayanan Penanaman Modal

Pelayanan menurut Kotler adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.

21

Sedangkan Penanaman Modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.

22

Apabila kedua pengertian diatas digabungkan, maka pengertian Pelayanan Penanaman Modal adalah setiap bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota kepada penanam modal atau calon penanam modal meliputi pelayanan dibindang perizinan maupun bukan perizinan.

19 Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman, Hukum Investasi dan Pasar Modal, Cet. Ketiga (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), hal. 5

20 Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman, Loc.cit.

21 Lolyta Afriantie, “Pelaksanaan Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan Penanaman Modal Pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Barito Kuala”, Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintah Lokal, Volume II Edisi 1, Januari-Juni 2013, hal. 2

22 Pasal 1 angka 1 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

(23)

Dalam pelayanan penanaman modal, dikenal 2 (dua) jenis pelayanan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, yaitu:

a. Pelayanan Perizinan

Pelayanan Perizinan adalah segala bentuk persetujuan untuk melakukan penanaman modal yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

23

b. Pelayanan Non Perizinan

Pelayanan non perizinan bidang penanaman modal berupa segala bentuk kemudahan pelayanan berupa fasilitas fiskal dan non fiskal, dan informasi mengenai penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

24

3. Online Single Submission

Online Single Submission atau Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik adalah perizinan berusaha yang diterbitkan oleh lembaga OSS untuk dan atas nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota kepada pelaku usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi.

25

Dalam menyelenggarakan OSS ini, pemerintah menggunakan beberapa prinsip-prinsip dasar:

26

a. Prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem;

23 Lolyta Afriantie, Loc. Cit.

24 Ibid, hal. 2

25 Pasal 1 angka 5 PP No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

26 Pasal 1 angka 2 PP No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

(24)

14

b. Prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

Adapun ruang lingkup pengaturan OSS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik adalah:

27

a. Jenis, pemohon, dan penerbit Perizinan Berusaha;

b. Pelaksanaan perizinan berusaha;

c. Reformasi perizinan berusaha sektor;

d. Sistem OSS;

e. Lembaga OSS;

f. Pendanaan OSS;

g. Insentif atau disinsentif pelaksanaan Perizinan Berusaha melalui OSS;

h. Penyelesaian permasalahan dan hambatan Perizinan Berusaha melalui OSS;

dan i. Sanksi.

F. Metode Penelitian

Agar dapat mempertanggungjawabkan data dari suatu penelitian secara ilmiah, perlu adanya ketepatan dalam memilih metode penelitian supaya sesuai dengan masalah yang menjadi objek penelitian. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

27 Pasal 4 PP No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

(25)

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang skripsi ini adalah penelitian hukum normatif karena tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian terhadap peraturan perundang- undangan yang berhubungan dengan pelayanan izin secara OSS. Penelitian hukum normatif adalah pendekatan masalah dengan melihat, menelaah, dan menginterprestasikan hal-hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas-asas hukum yang berupa konsepsi, peraturan perundang-undangan, pandangan, doktrin hukum, dan sistem hukum yang berkaitan.

28

Penelitian yuridis normatif (penelitian hukum normatif) menurut Ronald Dworkin disebut juga dengan penelitian doktrinal (doctrinal research), yaitu suatu

“penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku (law as it written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law as it is decided by the judge trough judicial process)”.

29

Sifat-sifat penelitian terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

30

a. Penelitian Eksploratori

Penelitian jenis ini dilakukan apabila pengetahuan tentang suatu gejala yang akan diteliti masih sangat kurang bahkan mungkin tidak ada, sehingga diperlukan penjelajahan lebih jauh. Penelitian jenis ini lebih ditujukan untuk

28 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 163

29 Ronald Dworkin, sebagaimana dikutip oleh Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, Makalah disampaikan pada Dialog Interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Hukum pada Majalah Akreditasi, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 18 Februari 2003, hal. 1.

30 Mahmul Siregar dan Edy Ikhsan, “Penelitian Ilmiah”, Bahan Kuliah, hal. 14

(26)

16

mengumpulkan data atau informasi sebanyak-banyak tentang suatu gejala sehingga memungkinkan untuk merumuskan permasalahan secara tepat atau hipotesis secara tepat dalam penelitian lebih lanjut.

b. Penelitian Deskriptif

Jenis penelitian ini dilakukan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang suatu gejala atau fenomena. Penelitian deskriptif sangat berguna untuk mempertegas sebuah hipotesa, agar dapat membantu dalam memperkuat teori- teori yang sudah ada, atau mencoba merumuskan teori baru.

c. Penelitian Eksplanatoris

Jenis penelitian ini ditujukan untuk menguji hipotesis-hipotesis tertentu.

Penelitian eksplanatoris sering disebut dengan istilah penelitian uji, karena ditujukan untuk menguji hipotesis atau hubungan antar variable penelitian.

Sifat penelitian skripsi ini adalah penelitian deskriptif karena penelitian ini bertujuan melakukan kajian terhadap pelayanan izin terutama yang berhubungan dengan OSS.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum normatif adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach) dan pendekatan konseptual (conseptual approach).

31

31 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum: Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana, 2011), hal.

93-95

(27)

Pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan perundang- undangan (statute approach). Pendekatan perundang-undangan (statute approach) merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.

32

Skripsi ini berisi penelaahan terhadap semua peraturan perundang-undangan dan regulasi yang berkaitan dengan penanaman modal terutama tentang pelayanan izin.

3. Data Penelitian

Pada dasarnya di dalam penelitian, terdapat sumber data yang menjadi bahan hukum darimana data itu diperoleh. Yang pertama disebut data primer atau data dasar (primary data atau basic data), dan data yang kedua dinamakan data sekunder (secondary data).

33

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya baik melalui wawancara, observasi maupun laporan dalam bentuk dokumen tidak resmi yang kemudian diolah oleh peneliti, sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian dan peraturan perundang-undangan.

34

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoratif dan mengikat yang terdiri dari peraturan perundang-undangan, catatan resmi yang terdapat dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim. Adapun bahan sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen resmi dan sifatnya tidak mengikat yang dapat berupa buku teks, jurnal hukum, dan

32 Ibid, hal. 93

33 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hal. 12

34 Zainuddin Ali, Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal 106

(28)

18

komentar-komentar atas putusan pengadilan

35

. Bahan hukum tertier merupakan bahan yang member petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, misalnya kamus-kamus hukum, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya.

36

Dalam penelitian ini, maka sumber data yang digunakan adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.

a. Bahan hukum primer yang digunakan dalam skripsi ini yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik serta peraturan-peraturan lain yang berhubungan.

b. Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam skripsi ini yaitu berupa buku- buku, hasil-hasil penelitian yang berupa laporan, dan lainnya.

c. Bahan hukum tertier yang digunakan dalam skripsi ini yaitu kamus yang berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta ensiklopedia dan lainnya yang berkitan dengan hukum.

4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah tahap yang penting dalam melakukan penelitian.

Alat pengumpul data (instrumen) menentukan kualitas data dan kualitas data menentukan kualitas penelitian, karena itu alat pengumpul data harus mendapat penggarapan yang cermat. Agar data penelitian mempunyai kualitas yang cukup

35 Peter Mahmud Marzuki, Op. Cit, hal 181

36 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hal. 117

(29)

tinggi, alat pengumpul datanya harus dapat mengukur yang hendak diukur, dan harus dapat memberikan kesesuaian hasil pada pengulangan pengukuran.

37

Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum dapat berupa studi lapangan (field research) dan studi kepustakaan (library research).

38

Studi lapangan ( field research) merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data primer yang diperoleh langsung dari lapangan yang dapat berupa wawancara atau pengamatan(observasi) terhadap perilaku. Sedangkan studi kepustakaan (library research) merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data sekunder.

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk penulisan skripsi ini adalah Studi Kepustakaan (Library Research), serta pustaka yang menjadi acuan, antara lain mencakup buku-buku, berita, internet, kamus-kamus hukum, dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan dan penulisan skripsi ini.

5. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

39

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu suatu tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis, yakni apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan, dan juga perilakunya yang

37 Amiruddin, Op. Cit, Hal 82

38 Zainuddin Ali, Op. Cit, hal 107

39 Snelbecker dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2002), hal 101

(30)

20

nyata, yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.

40

Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan serta memaparkan kesimpulan dan saran, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif, yakni kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan

41

.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus diuraikan secara sitematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per bab yang saling berangkaian satu sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah:

Bab I merupakan bab yang berisikan pendahuluan yang merupakan penghantar yang didalamnya terurai mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika penulisan.

Bab II merupakan bab yang membahas tentang kegiatan penanaman modal secara langsung (direct investment) dalam hukum di Indonesia yang terdiri dari pembahasan mengenai sumber hukum penanaman modal secara langsung (direct investment), kebijakan dasar penanaman modal, pokok-pokok pengaturan penanaman modal dalam UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Pengendalian dan Pengawasan Kegiatan Penanaman Modal

40 Soerjono Soekanto, Op.cit., Hal 250

41 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), hal. 25

(31)

Bab III merupakan bab yang membahas tentang pelayanan perizinan dan non- perizinan di bidang penanaman modal yang terdiri dari pembahasan mengenai pelayanan perizinan penanaman modal, pelayanan non-perizinan di bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).

Bab IV merupakan bab yang membahas tentang pelayanan izin penanaman modal secara online single submission yang terdiri dari pembahasan mengenai latar belakang lahirnya online single submission, pelaksanaan perizinan, komitmen perizinan, sistem online single submission, insentif atau disinsentif pelaksanaan perizinan berusaha melaui online single submission dan penyelesaian permasalahan dan hambatan.

Bab V merupakan bab yang berisikan kesimpulan penulis terhadap isi skripsi

dan saran-saran penulis mengenai pokok permasalahan yang dibahas dalam skripsi

ini.

(32)

22 BAB II

KEGIATAN PENANAMAN MODAL SECARA LANGSUNG (DIRECT INVESTMENT) DALAM HUKUM DI INDONESIA

A. Sumber Hukum Penanaman Modal Secara Langsung (Direct Investment) di Indonesia

Bagi investor asing, hukum dan UU menjadi salah satu tolok ukur untuk menentukan kondusif tidaknya iklim investasi di suatu negara. Dalam tiga dekade belakangan ini, pelaku usaha yang menanamkan modalnya di negara berkembang sangat mempertimbangkan kondisi hukum di negara tersebut. lnfrastruktur hukum bagi investor menjadi instrumen penting dalam menjamin investasi mereka. Hukum bagi mereka memberikan keamanan, certainty dan predictability atas investasi mereka. Semakin baik kondisi hukum dan UU yang melindungi investasi mereka semakin dianggap kondusif iklim investasi dari negara tersebut.

42

Dalam ketentuan penanaman modal sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan penanaman modal, khususnya yang terdapat dalam ketentuan undang- undang tentang penanaman modal ditetapkan kebijakan penanaman modal Indonesia sebagai dasar atau landasan bagi pemerintah untuk mengatur dan mengarahkan, serta mengembangkan penanaman modal di Indonesia.

43

42 Hikmahanto Juwana, Arah Kebijakan Pembangunan Hukum di Bidang

Perekonomian dan Investasi, Makalah, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional, 2006), hal.

9.

43 Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, Cet. Keempat (Jakarta:

Kencana, 2010), hal. 59.

(33)

Adapun beberapa produk hukum yang dijadikan sebagai dasar hukum penanaman modal secara langsung (direct investment) di Indonesia adalah sebagai berikut:

(1) Undang-undang tentang Penanaman Modal dan peraturan pelaksanaannya Undang-undang yang mengatur tentang penanaman modal di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan, yaitu:

a. Undang-undang penanaman modal yang lama

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri merupakan undang-undang pertama yang mengatur tentang penanaman modal secara langsung (direct investment) yang dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri setelah merdeka dari pemerintahan Hindia Belanda. Setelah Undang-undang ini dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan pada saat itu dibentuklah Undang- undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri untuk mengimbangi perkembangan zaman pada saat itu.

b. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

merupakan Undang-undang terbaru hingga saat ini, yang mengatur tentang

penanaman modal. Undang-undang ini dibentuk untuk mengimbangi

keadaan dan kebutuhan di era globalisasi ini. Sesuai dengan asa peraturan

perundang-undangan lex posterior derogate legi priori (peraturan yang baru

(34)

24

mengenyampingkan peraturan yang lama), maka Undang-undang tentang penanaman modal yang telah disahkan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007.

c. Peraturan-peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Peraturan-peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 terbagai menjadi 4 (empat), yaitu:

44

i. Peraturan-perundang-undangan berkenaan dengan bidang usaha penanaman modal, yaitu:

1. Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal;

2. Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Daftar Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

ii. Peraturan perundang-undangan berkenaan dengan perizinan penanaman modal, yaitu:

1. Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu;

2. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia No. 13 Tahun 2017 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Fasilitas Penanaman Modal;

44 Budiman Ginting, dkk, Hukum Penanaman Modal di Kawasan Ekonomi Khusus, (Medan: USU Press, 2018), hal. 8

(35)

3. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 17 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal;

4. Peraturan-peraturan daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terkait dengan pengaturan perizinan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

iii. Peraturan perundang-undangan berkenaan dengan insentif yang diberikan kepada kegiatan penanaman modal, yaitu:

1. Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanamn Modal di Daerah;

2. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2015 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau Daerah-Daerah Tertentu;

3. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2015 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau Daerah-Daerah Tertentu;

4. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 13 Tahun 2017 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Fasilitas Penanaman Modal;

5. Peraturan-peraturan Menteri Keuangan berkenaan dengan fasilitas

fiskal yang diberikan kepada penanaman modal;

(36)

26

6. Peraturan-peraturan daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terkait dengan pengaturan insentif penanaman modal yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

iv. Peraturan perundang-undangan berkenaan dengan pengunaan tenaga kerja asing, yaitu:

1. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

2. Keputusan Presiden No. 75 Tahun 1995 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang;

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 16 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

(2) Peraturan perundang-undangan sektoral

Peraturan perundang-undangan sektoral yang berhubungan dengan sektor usaha yang dilakukan dalam kegiatan penanaman modal.

45

Adapun contoh- contoh peraturan perundang-undangan sektoral adalah:

a. Undang- Undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan peraturan-peraturan pelaksananya;

b. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Kehutanan dan peraturan- peraturan pelaksananya;

c. Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;

d. dan undang-undang lainya.

45 Ibid, hal. 10

(37)

(3) Hukum Otonom (Perjanjian para pihak)

Berdasarkan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Perdata yang mengandung asas kebebasan berkontrak dimana menyebutkan bahwa “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

46

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita ketahui bahwa perjanjian yang dibuat antar pihak berlaku sebagai hukum yang otonom bagi antar pihak.

B. Kebijakan Dasar Penanaman Modal

Dengan ditetapkannya ketentuan penanaman modal melalui UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebagai pengganti UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan UU Nomor 6 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri telah mengakhiri dualism pengaturan tentang penanaman modal apakah itu penanaman modal asing, maupun modal dalam negeri. Selain itu, kehadiran undang-undang yang baru ini sekaligus mempertegas dan memperjelas kebijakan pengaturan penanaman modal di Indonesia.

47

Adapun kebijakan dasar penanaman modal terlihat jelas dalam Bab 3 Pasal 4 UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, yaitu:

a. Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk:

i. Mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional;

dan

46 Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

47 Ibid, hal. 61.

(38)

28

ii. Mempercepat peningkatan penanaman modal.

b. Dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah:

i. Memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional;

Perlakuan yang sama bagi penanam modal ini sendiri diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang pada intinya menyatakan bahwa baik penanamn modal asing maupun dalam negeri mendapatkan perlakuan sama sesuai dengan peraturan perundang-undangan kecuali terhadap negara yang memperoleh hak istimewa berdasarkan perjanjian dengan Indonesia.

Dalam perlakuan yang sama terhadap penanam modal dikenal 2 (dua) prinsip, yaitu:

48

a. Most Favored Nation Principle

Most Favored Nation Principle adalah perlakuan sama yang diberikan kepada semua penanam modal tanpa memperhatikan negara asal (home country), kecuali adanya perjanjian bagi negara-negara yang mempunyai hak-hak istimewa berdasarkan perjanjial internasional seperti perjanjian bilateral, regional dan multilateral

b. National Treatment Principle

48 Mahmul Siregar (Selanjutnya disebut Mahmul Siregar 1), “Bahan Kuliah Hukum Investasi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal”, Bahan Kuliah, hal.

14

(39)

National Treatment Principle adalah perlakuan sama bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri yang diberlakukan pada fase post-establishmen stage atau setelah diperolehnya izin penanaman modal dari otoritas (pemerintah).

ii. Menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

iii. Membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi. 


c. Kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diwujudkan dalam bentuk Rencana Umum Penanaman Modal.

49

49 Pasal 4 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

(40)

30

C. Pokok-Pokok Pengaturan Penanaman Modal dalam UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

1. Bidang Usaha Penanaman Modal

Kegiatan penanaman modal secara langsung (direct investment) berkaitan erat dengan bidang usaha yang akan ditanami modal. Pada prinsipnya, tidak semua bidang usaha dapat ditanami modal, baik modal dalam negeri maupun modal asing.

Dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal menyatakan bahwa tidak semua bidang usaha terbuka untuk bagi kegiatan penanaman modal bahkan ada yang terbuka dengan persyaratan dan kriteria-kriteria tersebut diatur dalam Peraturan Presiden.

Dalam menetapkan bidang usaha, terdapat 2 (dua) pendekatan, yaitu:

50

1. Negative list approach

Negative list approach atau pendekatan daftar negatif investasi adalah pendekatan dengan mencamtumkan bidang usaha-bidang usaha yang tertutup dan terbuka bersyarat bagi kegiatan penanaman modal.

2. Positive list approach

Positive list approach atau pendekatan daftar positif investasi adalah pendekatan dengan mencantumkan bidang usaha yang terbuka bagi kegiatan penanaman modal dan diluar daftar tersebut adalah tertutup bagi kegiatan penanaman modal.

Di Indonesia sendiri, pemerintah menerapkan pendekatan daftar negatif investasi (negative list approach) dimana dapat dilihat pada Peraturan Presiden

50 Mahmul Siregar 1, Op. Cit., hal. 22

(41)

Nomor 44 Nomor 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Hal ini, menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia membuka seluas-luasnya bidang usaha bagi kegiatan penanaman modal. Kebijaksanaan ini bertujuan memberikan kemudahan bagi kegiatan penanaman modal di Indonesia.

51

Pada dasarnya semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan.

52

Bidang usaha dalam kegiatan Penanaman Modal terdiri atas:

53

a. Bidang Usaha yang Terbuka

Bidang Usaha yang Terbuka adalah Bidang Usaha yang dilakukan tanpa persyaratan dalam rangka Penanaman Modal.

54

Bidang Usaha yang tidak tercantum dalam Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan merupakan Bidang Usaha yang Terbuka.

55

b. Bidang Usaha yang Tertutup

Bidang Usaha Yang Tertutup adalah Bidang Usaha tertentu yang dilarang diusahakan sebagai kegiatan Penanaman Modal.

56

51 Ermanto Fahamsyah, Hukum Penanaman Modal, Cet. Pertama (Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2015), hal. 49

52 Pasal 12 ayat (1) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

53 Pasal 2 ayat (1) Perpres No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

54 Pasal 1 angka 2 Perpres No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

55 Pasal 3 Perpres No, 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

56 Pasal 1 angka 3 Perpres No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

(42)

32

Bidang Usaha yang tertutup bagi penanam modal asing adalah:

57

a. Produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan 
 b. Bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan

undang-undang.

Pemerintah berdasarkan Perpres 44/2016 menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan ,dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.

58

Dalam lampiran I Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, tercamtum bidang usaha yang tertutup, yaitu:

59

a. Budidaya Ganja;

b. Penangkapan Spesies Ikan yang Tercantum dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES);

c. Pengangkatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam;

d. Pemanfaatan (Pengambilan) Koral/Karang dari Alam untuk: Bahan Bangunan/Kapur/Kalsium, Akuarium, dan dan Souvenir/Perhiasaran, serta Koral Hidup atau Koral Mati (recent death coral) dari Alam;

57 Pasal 12 ayat (2) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

58 Pasal 12 ayat (3) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

59 Lampiran I Perpres No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

(43)

e. Industri Pembuat Chlor Alkali dengan Proses Merkuri;

f. Industri Bahan Aktif Pestisida: Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT), Aldrin, Endrin, Dieldrin, Chlordane, Heptachlor Mirex, dan Toxaphene

g. Industri Bahan Kimia Industri dan Industri Bahan Perusak Lapisan Ozone (BPO): Polychlorinated Biphenyl (PCB), Hexachlorobenzene; dan Carbon Tetrachloride (CTC), Methyl Chloroform, Methyl Bromide, Trichloro Fluoro Methane (CFC-11), Dichloro Trijluoro Ethane (CFC- 12), Trichloro Trifluoro Ethane (CFC-113), Dichloro TetraFluoroEthane (CFC-114}, Chloro Pentajluoro Ethane (CFC-115), Chloro Trijluoro Methane (CFC-13}, Tetrachloro Dijluoro Ethane (CFC-112), Pentachloro Fluoro Ethane (CFC-111), Chloro Heptajluoro Propane (OFC-217), Dichloro Hexafluoro Propane (CFC-216), Trichloro Propane (CFC-213), Hexachloro Dijluoro Propane (CFC-211), Bromo Chloro Dijluoro Methane (Halon-1211), Bromo Trijluoro Methane (Halon-1301), Dibromo Tetrajluoro Ethane (Halon-2402), R-500, R502;

h. Industri Bahan Kirnia Daftar-1 Konvensi Senjata Kimia Sebagaimana Tertuang Dalam Lampiran I Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Penggunaan Bahan Kimia sebagai Senjata Kimia;

i. Industri Minuman Keras Mengandung Alkohol;

j. lndustri Minuman Mengandung Alkohol: Anggur;

k. Industri Minuman Mengandung Malt;

(44)

34

l. Penyelenggaraan dan Pengoperasian Terminal Penumpang Angkutan Darat;

m. Penyelenggaraan dan Pengoperasian Penimbangan Kendaraan Bermotor;

n. Telekomunikasi/Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dan Vessel Traffic Information System (VTIS);

o. Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan;

p. Penyelenggaraan Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor;

q. Manajemen dan Penyelenggaraan Stasiun Monitoring Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit;

r. Museum Pemerintah;

s. Peninggalan Sejarah dan Purbakala (candi, keraton, prasasti, petilasan, bangunan kuno, dsb);

t. Perjudian/ Kasino.

c. Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan

Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan adalah Bidang Usaha tertentu yang dapat diusahakan untuk kegiatan Penanaman Modal dengan persyaratan, yaitu dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi, Kemitraan, kepemilikan modal, lokasi tertentu, perizinan khusus, dan penanarn modal dari negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

60

60 Pasal 1 angka 3 Perpres No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

(45)

Bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:

61

a. Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan: yang dicadangkan atau kemitraan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi (tercamtum di dalam lampiran II Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal); dan

b. Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan tertentu (tercamtum dalam lampiran III Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal), yaitu:

i. batasan kepemilikan modal asing;

ii. lokasi tertentu;

iii. perizinan khusus;

iv. modal dalam negeri 100% (seratus persen); dan/atau

v. batasan kepemilikan modal dalam kerangka kerjasama Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

Namun belakangan, pada akhir tahun 2018, pemerintah melakukan revisi terhadap daftar negatif investasi. Pemerintah mendalihkan bahwa perubahan tersebut dilakukan untuk meninjau sektor usaha yang selama ini kurang diminati oleh investor baik dalam negeri maupun luar negeri.

62

Menurut peneliti dari

61 Pasal 2 ayat (2) Perpres 44/2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

62 Anggun P. Situmorang, “Alasan Pemerintah Revisi Daftar Negatif Investasi”, (Liputan6.com, 19 November, 2018), diakses dari

(46)

36

Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menyebut keributan ini (relaksasi DNI) dipicu karena perencanaan pemerintah dalam perumusan aturan DNI kurang matang serta tidak didasarkan dengan kajian yang jelas. Selain itu, komunikasi antara pemerintah dengan pengusaha juga minim seperti tidak dilibatkannya Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dalam pembahasan sejumlah bidang usaha yang direlaksasi.

63

Adapun hasil relaksasi DNI melalui Paket Kebijakan Ekonomi XVI yang memperbolehkan kepemilikan modal asingnya menjadi 100 persen selain mengeluarkan UMKM dalam DNI 2018 adalah sebagai berikut:

64

1. Pengusahaan pariwisata alam berupa pengusahaan sarana, kegiatan, dan jasa ekowisata di dalam kawasan hutan;

2. Jasa konstruksi migas;

3. Jasa survei panas bumi;

4. Jasa pemboran migas di laut;

5. Jasa pemboran panas bumi;

6. Jasa pengoperasian dan pemeliharaan panas bumi;

7. Pembangkit listrik lebih dari 10 megawatt;

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3695923/alasan-pemerintah-revisi-daftar-negatif-investasi pada tanggal 28 Februari 2019 pukul 14.40

63 Hendra Friana, “Pemerintah Dianggap Main-Main Soal Aturan DNI”, (Tirto.id, 30 November, 2018), diakses dari https://tirto.id/pemerintah-dianggap-main-main-soal-aturan-dni- daDF pada tanggal 28 Februari 2019 pukul 14.50

64 “Revisi DNI, Ini 25 Bidang Usaha yang Boleh 100% Dimiliki Asing”, (Ipotnews, 19 November, 2018) diakses dari

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Revisi_DNI__Ini_25_Bidang_Usaha _Yang_Boleh_100%_Dimiliki_Asing&news_id=98230&group_news=IPOTNEWS&news_date=

&taging_subtype=ECONOMICS&name=&search=y_general&q=daftar%20negatif%20investasi&

halaman=1 pada tanggal 28 Februari 2019 pukul 15.00

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, pola asuh dan pengetahuan ibu tentang pola asuh dengan tingkat kemandirian pada anak usia prasekolah di Taman

Trigliserida kemudian masuk ke dalam plasma dalam 2 bentuk yaitu sebagai kilomikron yang berasal dari penyerapan usus setelah asupan lemak, dan sebagai VLDL yang dibentuk

Sedangkan Izin untuk badan usaha maupun perorangan diterbitkan oleh lembaga Online Single Submission (OSS) atau Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik untuk

bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik, dan untuk

Kelainan trombosit herediter bisa berupa kelainan fungsi dan kekurangan jumlah. Gejala utama yang muncul pada setiap individu adalah perdarahan

bahwa dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik, perlu melakukan penyesuaian

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik. Peraturan Bupati Kudus Nomor 38

bahwa dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik, guna optimalisasi pelayanan