1
A. Latar Belakang
Perkembangan organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional, tidak terlepas dari munculnya berbagai organisasi internasional pasca Perang Dunia ke II. Terjadinya Perang Dingin dan kegagalan prosedur penegakan hukum oleh United Nations Security Council yang menyebabkan berkembangnya pembentukan aliansi keamanan regional (contohnya NATO dan Pakta Warsawa) merupakan faktor yang penting dalam meningkatnya pembentukan organisasi internasional regional.1 Regionalisme dalam organisasi internasional selain didorong oleh faktor tersebut, juga terbentuk karena adanya kesamaan tujuan dalam meningkatkan sektor ekonomi, politik, dan budaya.
Association of South East Asian Nations (ASEAN) muncul sebagai hasil
dari regionalisme yang terjadi di wilayah Asia Tenggara pada tahun 1967. Keamanan dan perdamaian regional menjadi salah satu tujuan pembentukan ASEAN sebagaimana tercantum di dalam Deklarasi Bangkok 1967. Untuk memenuhi maksud dan tujuan yang direncanakan, ASEAN membentuk berbagai kerjasama di antara negara-negara anggotanya. Khususnya di sektor keamanan
dan perdamaian kawasan Asia Tenggara yang sejak awal merupakan tujuan utama didirikannya ASEAN.2
Kerjasama antar anggota ASEAN di sektor keamanan dan perdamaian kawasan Asia Tenggara, dimulai dengan adanya penandatanganan Deklarasi Zone
of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN) di Kuala Lumpur pada tahun 1971,
lalu Declaration of ASEAN Concord dan Treaty of Amity and Cooperation in
South East Asia (TAC) pada tahun 1976 di Bali, hingga pembentukan ASEAN Community yang di dalamnya terdapat ASEAN Political-Security Community
sebagai salah satu bentuk kerja sama regional agar terciptanya kemanan dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
ASEAN merupakan rules-based organization, artinya ASEAN merupakan organisasi internasional yang didasarkan dengan aturan-aturan yang ada. Hal ini didukung dengan adanya pembentuk ASEAN Charter pada tahun 2007 yang dibentuk sebagai legal framework bagi ASEAN sebagai rules-based organization. Sebagai rules-based organization, ASEAN harus memiliki mekanisme penyelesaian sengketa sebagai salah satu alat dasar untuk memenuhi hak dan kewajiban negara-negara anggotanya. Selain itu, mekanisme penyelesaian sengketa juga dibutuhkan untuk menyelesaikan sengketa antar anggota ASEAN.3
Pembentukan mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN pertama kali disebutkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN I di Bali pada tahun
2 Rodolfo C. Severino, 2008, South East Asia Background Series No.10: ASEAN, ISEAS
Publication, Singapore, hal. 11.
3 Sebagaimana dikutip dalam Jurnal berjudul “For More Effective and Competitive ASEAN Dispute Settlement Mechanism” oleh Joseph Wira Koesnadi, et all, Paper for WTI/SECO Project
1976. Pada saat itu, negara-negara anggota sepakat untuk menandatangani
Declaration of ASEAN Concord dan Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia. Mekanisme penyelesaian sengketa yang terdapat di dalam Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia disebutkan dalam Pasal 14 dan 15
adalah adanya pembentukan High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN.
Pembentukan High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN menunjukkan keseriusan dari ASEAN untuk meningkatkan keamanan, perdamaian, dan stabilitas politik di kawasan Asia Tenggara. Mekanisme High Council dalam menyelesaikan sengketa antar anggota ASEAN melalui proses perundingan dan jasa-jasa baik lainnya, jelas selaras dengan tujuan dari ASEAN untuk menjamin bahwa penyelesaian sengketa antar anggota ASEAN haruslah diselesaikan dengan cara yang damai.4
Prosedur dan pengaturan lebih lanjut mengenai High Council juga sudah disepakati oleh negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2001 di Hanoi, Vietnam dengan adanya pembentukan Rules of Procedure of The High Council of
The Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia.5 Namun sayangnya, meskipun sudah ada instrumen dan dasar hukum yang mengatur, High Council masih belum pernah digunakan oleh anggota-anggota ASEAN sebagai sarana penyelesaian konflik bagi mereka.
4
Rodolfo C. Severino, Op.Cit., hlm. 12.
5 Rules Of Procedure Of The High Council Of The Treaty Of Amity And Cooperation In
Southeast Asia, asean.org, http://asean.org/?static_post=rules-of-procedure-of-the-high-council-of-the-treaty-of-amity-and-cooperation-in-southeast-asia-2 diakses tanggal 21 September 2016.
Masih belum digunakannya High Council sebagai sarana penyelesaian konflik antar anggota ASEAN, bukan berarti konflik antar anggota ASEAN merupakan hal yang tabu untuk diselesaikan dalam mekanisme penyelesaian sengketa di organisasi internasional. Faktanya, sengketa yang pertama kali diselesaikan dengan mekanisme penyelesaian sengketa World Trade Organization (WTO) adalah sengketa antara Malaysia dan Singapura mengenai Prohibition of
Imports of Polyethylene and Polpropylene.6 Bahkan pada tahun 2015, sengketa antara Indonesia dan Vietnam mengenai Safeguard on Certain Iron or Steel
Products juga diajukan untuk diselesaikan melalui mekanisme WTO.7 Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya negara-negara anggota ASEAN tidak tabu dan sungkan untuk menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa yang ditawarkan oleh Organisasi Internasional atau pihak ketiga.
Besarnya potensi kawasan ASEAN, juga menyebabkan potensi timbulnya sengketa diantara negara-negara ASEAN dan luar ASEAN. Selain sengketa politik yang masih sering terjadi di berbagai negara di ASEAN, perebutan sumber daya energi dan pulau juga kerap muncul di antara negara-negara anggota ASEAN. Beberapa sengketa-sengketa yang pernah terjadi di antara negara-negara anggota ASEAN adalah invasi Vietnam ke Kamboja, sengketa Kamboja dan Thailand atas Kuil Preah Vihear, sengketa Perebutan Pulau Sipadan-Ligitan anatara Indonesia dan Malaysia, serta sengketa Reklamasi pantai Singapura dan
6Malaysia-prohibition of imports of polyethylene and polypropylene, wto.org,
https://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/cases_e/ds1_e.htm diakses tanggal 21 September 2016.
7 Chronological List of Dispute Cases, wto.org,
https://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/dispu_status_e.htm diakses pada tanggal 21 September 2016.
Malaysia..8 Namun, tidak ada satupun dari sengketa-sengketa yang ada tersebut diselesaikan menggunakan High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN.
Tidak digunakannya High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antar anggota ASEAN tentunya menimbulkan kekhawatiran akan keefektifan dan diperlukannya High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa di bidang keamanan di ASEAN. Belum lagi dengan adanya kesepakatan antara anggota ASEAN dalam membentuk ASEAN Community yang didukung oleh 3 pilar yaitu ASEAN Political-Security Community (Masyarakat Keamanan dan Politik ASEAN), ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN), ASEAN Sosio-Cultural Community (Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN), menyebabkan kebutuhan akan High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN semakin krusial.9
Selain itu, tidak digunakannya High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa dapat menunjukkan bahwa lembaga kerjasama ASEAN masih belum memiliki peran yang kuat dalam melakukan penyelesaian sengketa di antara para anggotanya, khususnya di bidang keamanan dan politik kawasan ASEAN yang merupakan wewenang dari High Council. Sehingga menyebabkan masih banyaknya sengketa-sengketa antara negara-negara anggota ASEAN
8
Hilton Tarnama Putra dan Eka An Aqimuddin, 2011, Mekanisme Penyelesaian Sengketa di
ASEAN Lembaga dan Proses, Graha Ilmu, Yogyakarta, hlm. 131-147.
9 Sebagaimana dikutip dalam Jurnal berjudul “ASEAN and Conflict Management: The Need for a High Council” oleh Ramses Amer, Institute for Security & Development Policy, hlm. 2.
diselesaikan dalam forum internasional yang lebih besar, bukan di ASEAN yang notabene merupakan Organisasi Internasional bagi kawasan Asia Tenggara.
Oleh karena itu, untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan High Council tidak pernah digunakan sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antar negara-negara anggota ASEAN di bidang keamanan dan politik serta pentingnya peranan High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antara negara-negara anggota ASEAN di bidang keamanan dan politik, maka penulis tertarik untuk menyusun penulisan hukum dengan judul “Keberadaan ASEAN High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana otoritas ASEAN High Council dalam penyelesaian sengketa antar anggota ASEAN?
2. Apa saja faktor penghambat yang menyebabkan ASEAN High Council tidak pernah digunakan sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antar negara anggota ASEAN?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Tujuan Objektif
a. Untuk mempelajari dan mengetahui otoritas ASEAN High Council sebagai salah satu sarana penyelesaian sengketa di ASEAN;
b. Untuk mempelajari dan mengetahui apa saja yang menjadi faktor penghambat yang menyebabkan tidak pernah digunakannya ASEAN High
Council dalam penyelesaian sengketa antar anggota ASEAN.
2. Tujuan Subjektif
Untuk memperoleh data maupun informasi dalam rangka penyusunan penulisan hukum sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
D. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh Penulis di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada maupun Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada, belum ditemukan laporan atau hasil Penelitian mengenai peranan ASEAN High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN. Akan tetapi Penulis menemukan ada beberapa penelitian hukum yang memiliki persamaan unsur mengenai mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN, yaitu:
1. Penelitian Hukum yang ditulis oleh Andry Nugraha dari Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013 dengan judul "Peranan Indonesia sebagai Ketua ASEAN Tahun 2011 dalam
Upaya Penyelesaian Sengketa Perbatasan Antara Thailand-Kamboja Atas Kepemilikan Candi Preah Vihear” dengan rumusan masalah:
a. Bagaimana penyelesaian sengketa antar negara anggota ASEAN dalam kerangka Piagam ASEAN?
b. Bagaimana peran Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun 2011 dalam penyelesaian sengketa perbatasan antara Thailand-Kamboja mengenai status kepemilikan Candi Prah Vihear? 10
Dalam penelitian tersebut, Andry lebih membahas mengenai peranan Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2011 dalam penyelesaian sengketa perbatasan antara Thailand-Kamboja mengenai status kepemilikan Candi Prah Vihear dan kaitannya dengan mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan Piagam ASEAN. Penelitian ini berbeda dengan penelitian penulis yang membahas mengenai otoritas High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN dan faktor yang menghambat tidak pernah digunakannya
High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antar negara anggota
ASEAN.
2. Penelitian Hukum yang ditulis oleh Annisa Lajelsa Mokodompit dari Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 2014 dengan judul "Pengaruh Penerapan ASEAN Community 2015 Terhadap Mekanisme Penyelesaian Sengketa ASEAN" dengan rumusan masalah:
10
Andry Nugraha, 2013, Peranan Indonesia Sebagai Ketua ASEAN Tahun 2011 Dalam Upaya
Penyelesaian Sengketa Perbatasan Antara Thailand-Kamboja Atas Kepemilikan Candi Preah Vihear, Penulisan Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
a. Bagaimana pengaruh penerapan ASEAN Community 2015 terhadap potensi terjadinya sengketa di antara negara anggota ASEAN?
b. Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa di antara negara anggota ASEAN terkait penerapan ASEAN Community 2015?
c. Bagaimana komplementarisme lembaga penyelesaian sengketa oleh Organisasi Internasional dan institusi lain di luar ASEAN dalam menyelesaikan sengketa antara negara anggota ASEAN? 11
Dalam penelitian tersebut, Annisa lebih membahas mengenai pengaruh penerapan ASEAN Community 2015 terhadap mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN serta pengaruh ASEAN Community 2015 terhadap potensi terjadinya sengketa di antara negara anggota ASEAN. Penelitian ini berbeda dengan penelitian Penulis yang khusus membahas mengenai otoritas High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN dan faktor yang menghambat tidak pernah digunakannya High Council sebagai mekanisme penyelesaian sengketa antar negara anggota ASEAN.
Penulisan hukum ini tidak bermaksud untuk melakukan plagiarisme atas penulisan hukum yang telah tercipta sebelum penulisan hukum ini. Penulis berharap dengan adanya penulisan hukum ini justru dapat melengkapi penelitian hukum yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian penulisan dan penelitian hukum ini adalah asli.
11 Annisa Lajelsa Mokodompit, 2014, Pengaruh Penerapan ASEAN Community 2015 Terhadap Mekanisme Penyelesaian Sengketa ASEAN, Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
E. Manfaat Penelitian
Hasil Peneltian ini diharapkan dapat berguna, baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan praktis
1. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat, Penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan informasi mengenai ASEAN High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN;
b. Bagi pemerintah, memberikan kepastian mengenai otoritas dari ASEAN
High Council yang merupakan salah satu mekanisme penyelesaian
sengketa yang diatur di ASEAN; dan
c. Bagi penulis, sebagai bahan penyusunan penulisan hukum dan menambah wawasan mengenai keberadaan ASEAN High Council sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN.
2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang hukum organisasi internasional dan ASEAN.