• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FINANSIAL PEMANFAATAN DAUN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp)dalam PEMBUATAN MINYAK ATSIRI DI HUTAN TANAMAN PT. TOBA PULP LESTARITbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS FINANSIAL PEMANFAATAN DAUN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp)dalam PEMBUATAN MINYAK ATSIRI DI HUTAN TANAMAN PT. TOBA PULP LESTARITbk"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FINANSIAL PEMANFAATAN DAUN EUKALIPTUS

(Eucalyptus sp)DALAM PEMBUATAN MINYAK ATSIRI DI

HUTAN TANAMAN PT. TOBA PULP LESTARITbk

SKRIPSI

Oleh:

WINDY BRILLIAN NEWTON ELHABIB TAUFIK 121201087

Manajemen Hutan

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017

(2)

ANALISIS FINANSIAL PEMANFAATAN DAUN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) DALAM PEMBUATAN MINYAK ATSIRI DI

HUTAN TANAMAN PT. TOBA PULP LESTARI Tbk

SKRIPSI

Oleh:

WINDY BRILLIAN NEWTON ELHABIB TAUFIK 121201087

Manajemen Hutan

SkripsiSebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjanadi Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian :Analisis Finansial Pemanfaatan Daun Eukaliptus (Eucalyptus sp) Dalam Pembuatan Minyak Atsiri di Hutan Tanaman PT. Toba Pulp Lestari Tbk

Nama : Windy Brillian Newton Elhabib Taufik

NIM : 121201087

Minat : Manajemen Hutan

Program studi : Kehutanan

Disetujui oleh:

Komisi pembimbing

Ketua Anggota

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si Irawati Azhar, S.Hut., M.Si NIP 197408012000031001 NIP 197307282003122002

Mengetahui

Dekan Fakultas Kehutanan

NIP 197104162001122001

Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D

ABSTRACT

(4)

WINDY BRILLIAN NEWTON ELHABIB TAUFIK. Financial Analysis of Utilization Eucalyptus leaves (Eucalyptus sp.) for Production of Essential Oil in Industrial Plantation Forest PT. Toba Pulp Lestari Tbk. Under supervision:

AGUS PURWOKO and IRAWATI AZHAR.

Eucalyptus is a commodity from forestry sector that has a high economic value. This is because almost all parts of eucalyptus can be used. Eucalyptus wood (main stem) can be used as raw material for pulp and leaves along the branches that has a cineol content can be used as raw materials for essential oil.This research aimed to analyze the feasibility of utilization eucalyptus leaves from financial aspect for production of essential oil in industrial plantation forest area PT. Toba Pulp Lestari Tbk. The analytical method used is descriptive analysis, financial analysis with two selling price scenario, the scenario I and scenario II with criteria Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) and Internal Rate of Return (IRR).

The result showed that utilization eucalyptus leaves as raw material for essential oil in industrial plantation forest PT. Toba Pulp Lestari Tbk. is financially feasible. With details of the scenario I NPV value of Rp. 134 903 510 450, - and the value of IRR is 33,01% and the value of BCR is 3,76 and details of scenario II NPV value ofRp. 84,029,947,498, - and the value of IRR is 21,90%

and the value of BCR is 2,72 with bank interest rate of 10.5%.

Keywords: Eucalyptus, essential oil, financial analysis

ABSTRAK

i

(5)

WINDY BRILLIAN NEWTON ELHABIB TAUFIK. Analisis Finansial Pemnafaatan Daun Eukaliptus (Eucalyptus sp) Dalam Pembuatan Minyak Atsiri Di Hutan Tanaman PT. Toba Pulp Lestari Tbk. Dibawah bimbingan Agus Purwoko dan Irawati Azhar.

Tanaman eukaliptus merupakan komoditas dari sektor kehutanan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dari jenis Eucalyptus sp. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh bagian dari eukaliptus dapat dimanfaatkan. Baik dari segi kayu (batang utama) dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp dan daun berserta rantingnya yang memiliki kadar cineol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pemanfaatan daun eukaliptus dari aspek finansial dalam pembuatan minyak atsiri pada kawasan hutan tanaman industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis finansial dengan dua skenario harga jual, skenario I dan skenario II dengan kriteria Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return (IRR).

Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan daun eukaliptus sebagai bahan bahan baku minyak atsiri di hutan tanaman PT. Toba Pulp Lestari Tbk layak secara finansial. Dengan rincian skenario I nilai NPV sebesar Rp.

134.903.510.450,- dan nilai IRR sebesar 33,01 persen serta nilai BCR sebesar 3,76 dan rincian skenario II nilai NPV sebesar Rp. 84.029.947.498,- dan nilai IRR sebesar 21,90 persen serta nilai BCR sebesar 2,72 dengan tingkat suku bunga bank 10,5 persen.

Kata kunci : Minyak atsiri, analisis finansial, eukaliptus

RIWAYAT HIDUP

ii

(6)

Penulis dilahirkan di Takengon pada 25 Desember 1994 dari ayah Taufik Mahmud, S.E., M.B.A. dan ibu Sanidah, S.Pd., M.Pd. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Penulis menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Kutacane dan lulus pada tahun 2006. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta Al-Azhar Medan dan lulus pada tahun 2009. Pada Tahun 2012 penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Medan, dan pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, melalu jalur ujian tertulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Selama mengikuti perkuliahan penulis juga menjadi anggota aktif Himpunan Mahasiswa Sylva (HIMAS) USU dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT) Regional Medan.

Penulis telah melaksanakan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Desa Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara dari tanggal 22 sampai 31 Agustus 2014. Penulis juga telah melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. ITCI Hutani Manunggal, Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur dari tanggal 1 Februari sampai 4 Maret 2016.

KATA PENGANTAR

iii

(7)

Puji dan syukur kepadaAllah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsiyang berjudul “Analisis Finansial Pemanfaatan Daun Eukaliptus (Eucalyptus sp) dalam pembuatan Minyak Atsiri Hutan Tanaman PT. Toba Pulp Lestari Tbk.”

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Taufik Mahmud, S.E., M.B.A. dan Sanidah, S.Pd., M.Pd. yang telah mendidik, membesarkan dan mendoakan penulis.

2.Saudara penulis, Willy Brillian Einstein Elhabib Taufik, Giovanny Fabiola Brillian Elhabib Taufik, Anastasya Salsabila Brillian Elhabib Taufik dan Yazid Ozil Brillian Elhabib Taufik, Semoga kelak kita sukses dan dapat membanggakan kedua orang tua kita.

3. Kedua dosen pembimbing penulis,Dr. Agus Purwoko, S,Hut., M.Si.danIrawati Azhar, S.Hut., M.Si. yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan kepada penulis dari awal hingga akhir penelitian dan penyusunan skripsi.

4. Seluruh staf pengajar serta pegawai di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak membantu kegiatan akademik penulis muli dari awal hingga akhir.

5. PT. Toba Pulp Lestari yang telah memberi izin kepada penulis dan rekan-rekan untuk melakukan penelitian.

6. Pembimbing lapangan selama penelitian, Hotlan Sitorus, Liston Samosir, Adventris Hutagaol, S.P serta Triskin Simanungkalit, S.Hut yang telah banyak membantu penulis dan rekan-rekan peneliti dalam penelitian ini.

iv

(8)

7. Rekan Tim Peneliti sekaligus sahabat penulis, Haganta Sembiring, Yulianti Sianturi, Alva Roby, Perdana Mora, Riza Fabelan,Reza Azroi, Ananda Ichlasul, San’ul Ikhsan,Amaliyah Putri, Asela Asteria,Marnida Uli, Desya Alvionita, Mentari Adelina, Sri Widya dan semua rekan rekan di Fakultas Kehutanan USU.

8. Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan pendidikan di masa yang akan datang. Akhir kata, Semoga skripsi dapat bermanfaat.

Medan, Februari2017

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

TujuanPenelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Eukaliptus Deskripsi ... 4

Penyebaran ... 5

Tempat tumbuh ... 6

Minyak Atsiri ... 6

Minyak Eukaliptus ... 7

Analisis Finansial ... 8

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 11

Alat dan Bahan ... 11

Teknik Pengumpulan Data ... 11

Pengolahan Data ... 12

HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Bahan Baku Daun Eukaliptus ... 15

Rendemen Minyak Eukaliptus ... 16

Rincian Biaya Penyulingan Minyak Eukaliptus ... 17

Asumsi Harga Penjualan Minyak Eukaliptus ... 19

Analisis Kelayakan Finansial Penyulingan Minyak Eukaliptus ... 20

(10)

Analisis finansial skenario I (dengan potongan harga 10 persen dari

Harga jual distributor) ... 20

Analisis finansial skenario II (dengan potongan harga 15 persen dari Harga jual distributor) ... 22

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 24

Saran ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 26

LAMPIRAN ... 28

(11)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Potensi Bahan Baku Daun Eukaliptus ... 16

2. Rendemen Minyak Eukaliptus ... 17

3. Biaya Investasi ... 18

4. Biaya Tetap Per Tahun ... 18

5. Biaya Variabel Rata-rata Per Tahun ... 19

6. Harga Jual Minyak Eukaliptus Ditingkat Distributor ... 19

7. Harga Jual Minyak Eukaliptus Ditingkat Produsen ... 19

8. Hasil Analisis Finansial Skenario I ... 21

9. Hasil Analisis Finansial Skenario II ... 22

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Asumsi Dasar ... 28

2. Analisa Fisik ... 30

3. Analisa Biaya ... 31

4. Depresiasi ... 32

5. Tabel Pinjaman ... 34

6. Modal ... 35

7. Proyeksi Biaya Skenario I ... 37

8. Proyeksi Produksi Skenario I ... 39

9. Proyeksi Laba Rugi Skenario I ... 40

10. Perhitungan NPV Skenario I ... 41

11. Perhitungan IRR dan BCR Skenario I ... 42

12. Proyeksi Biaya Skenario II... 43

13. Proyeksi Produksi Skenario II ... 44

14. Proyeksi Laba Rugi Skenario II ... 45

15. Perhitungan NPV Skenario II ... 47

16. Perhitungan IRR dan BCR Skenario II ... 49

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam rangka rehabilitasi hutan, perbaikan lingkungan, dan peningkatan produksi kayu, Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dan mendorong pembangunan hutan tanaman. Pembangunan hutan tanaman penting untuk dilaksanakandengan pertimbanganhutan tanaman dapat diharapkan peningkatan produktivitas lahan,masih luasnya tanah-tanah kosong, belukar, padang alang- alang yang terlantar tidak produktif dan tidak cocok untuk pertanian tetapi cocok untuk tanaman kehutanan, Jenis pohon tertentu dapat ditanam dengan teknik tertentu dan dapat menghasilkan produksi dan manfaat yang lebih tinggi bagi masyarakat dan negara (Samsudi, 1990).

Hutan memiliki manfaat langsung dan tidak langsung. Salah satu manfaat langsung dari hutan adalah sebagai sumber bahan baku industri melalui pengembangan hutan tanaman industri (HTI).Secara konseptual, HTI adalah sektor kehutanan yang dikembangkan agar meningkatkan potensi dan kualitas produksi hutan, dengan implementasi intensif silvikultur untuk menyediakan kayu industri sebagai bahan mentah. Dengan demikian, HTI adalah produksi hutan dengan kakteristiknya, mengizinkan penerapan silvikultur yang intensif, menghasilkan bahan mentah untuk kayu, industri pulp, kertas dan keperluan lainnya (Hidayat, 2008).

Hasil hutan terbagi menjadi dua, yaitu hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Hasil hutan bukan kayu adalah produk biologi asli selain kayu yang diambil dari hutan, lahan perkayuan dan pohon-pohon Menurut Baharuddin dan Taskirawati(2009). Penelitian ini akan membahas pemanfaatan

(14)

ekonomi sumber daya hutan yang lebih berpusat pada hasil hutan bukan kayu (HHBK) dimana daun eukaliptus yang akan menjadi sampel penelitian.

Tanaman eukaliptus merupakan salah satu tanaman yang dikembangkan dalam penanaman hutan tanaman industri. Banyak manfaat yang dapat diambil dari kayu ekaliptus antara lain untuk bahan bangunan seperti kusen pintu, jendela, kayu lapis, pulp dan kertas. Sedangkan daun dan cabang eukaliptus. dapat menghasilkan minyak atsiri yang digunakan untuk kepentingan farmasi, misalnya untuk obat gosok, obat batuk, parfum, dan disinfektan. ekaliptus banyak dijumpai di kawasan-kawasan hutan tanaman industri misalnya di kawasan hutan tanaman industri PT. Toba Pulp LestariTbk di Sumatera Utara (Irvan et. al., 2015).

PT. Toba Pulp Lestari Tbk adalah perubahan nama dari PT. Inti Indorayon Utama surat dari Departemen Kehakiman Nomor C-06519HT.01.04.TH.2001 tanggal 23 Agustus 2001. Perubahan nama ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan berdasarkan Surat Keputusan Nomor SK.351/Menhut-II/2004 tanggal 24 September 2004. Semula PT. Inti Indorayon Utama Tbk memproduksi pulp dan rayon. Setelah terjadi perubahan nama, hanya memproduksi pulp.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 493/Kpts-II/1992 tanggal 1 juni 1992. Keputusan Menteri Nomor SK.58/Menhut-II/2011 tanggal 28 Februari 2011 kepada PT. Toba Pulp Lestari Tbk telah diberi izin usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) atas areal hutan produksi seluas 190.188 hektar sesuai dengan hasil penetepan batas areal kerja berdasarkan SK.Menhut-II/VII/KP/2004 tanggal 19 April 2004 dan Nomor SK.704/Menhut-II/2013 Oktober 2013.

(15)

Jenis tanaman yang dikembangkan dalam pembangunan Hutan Tanaman PT. Toba Pulp Lestari Tbk adalah Eucalyptus sp. Jenis ini dipilih karena dapat tumbuh pada lahan yang ada dan mempunyai produktivitas per satuan luas yang tinggi. serta mempunyai daur yang pendek.

Selama ini PT. Toba Pulp Lestari Tbk, masih mengutamakan hasil hutan kayu yaitu berupa serat sebagai bahan baku pulp. Padahal potensi dari komoditi yang dikembangkan yaitu eukaliptus tidak hanya kayunya, melainkan daunnya yang mengandung minyak atsiri dan dapat bernilai ekonomi tentunya, karena melalui potensi bahan baku dan rendemen minyak atsiri yang terdapat pada ekaliptus dapat diketahui tingkat kelayakan usaha bagi perusahaan untuk mengembangkan minyak atsiri yang terdapat pada ekaliptus.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari Penelitian ini adalah menganalisis kelayakan usaha pemanfaatan daun eukaliptus dari aspek finansial dalam pembuatan minyak atsiri pada kawasan hutan tanaman industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi perusahaan, sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan usaha pengolahan daun ekaliptus dalam pembuatan minyak atsiri dan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan PT. Toba Pulp Lestari Tbk.

2. Bagi masyarakat, sebagai sumber referensi dalam mengembangkan industri sejenis.

3. Bagi akademisi, sebagai sumber referensi untuk penelitian selanjutnya.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Eukaliptus Deskripsi

Tanaman eukaliptus sudah dikenal sejak abad 18 dan perkembangan pembangunan tanaman ini maju pesat pada tahun 1980 setelah kongres kehutanan Sedunia ke VIII di Jakarta tahun 1878. Eukaliptus yang tumbuh cepat akan mengkonsumsi air dari dalam tanah cukup banyak, berpengaruh buruk terhadap kesuburan tanah, tajuk yang ringan/tipis tidak dapat melindungi permukaan tanah dari tetesan air hujan yang dapat menimbulkan erosi, tidak menyediakan habitat yang baik dan tidak cukup makanan bagi kehidupan liar (Pudjiharta,2001).

Tanaman eukaliptus pada umumnya berupa pohon kecil hingga besar, tingginya 60-87 m. Batang utamanya berbentuk lurus, dengan diameter hingga 200 cm. Permukaan papan licin, berserat berbentuk papan catur. Daun muda dan daun dewasa sifatnya berbeda, daun dewasa umumnya berseling kadang-kadang berhadapan, tunggal, tulang tengah jelas, Pertulangan skunder menyirip atau sejajar, berbau harum bila diremas. Perbungaan berbentuk payung yang rapat kadang-kadang berupa malai rata di ujung ranting. Buah berbentuk kapsul, kering dan berdinding tipis. Biji berwarna coklat atau hitam. Marga eukaliptus termasuk kelompok yang berbuah kapsul dalam suku Myrtaceae dan dibagi menjadi 7-10 anak marga, setiap anak dibagi lagi menjadi beberapa seri (Sutisna et. al., 1998).

Tanaman eukaliptus termasuk famili Myrtaceae, genus eukaliptus dengan spesies Eucalyptus sp. Spesies-spesies yang sudah dikenal umum antara lain, Eucalyptus alba, Eucalyptus deglupta, Eucalyptus grandis, Eucalyptus

(17)

plathyphylla, Eucalyptus saligna, Eucalyptus umbellate, Eucalyptus camadulensis, Eucalyptus pellita, Eucalyptus tereticornis(Khaeruddin, 1999).

Adapun taksonomi tanaman eukaliptus adalah sebagai berikut : Kingdom :Plantae

Divisi : Spermatophyta Class : Myrtales Famili : Mrytaceae Genus : Eucalyptus Spesies :Eucalyptus sp (Departemen Kehutanan, 1994).

Penyebaran

Daerah penyebaran alaminya berada di sebelah Timur garis Wallace, mulai dari 7°’ LU sampai 43°39’ LS meliputi Australia, New Britania, Papua dan Tazmania. Beberapa spesies juga ditemukan di Kepulauan Indonesia yaitu Irian Jaya, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Timor- Timur. Genus eukaliptus terdiri atas 500 spesies yang kebanyakan endemik Australia. Hanya ada dua spesies yang tersebar di wilayah Malesia (Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Fillipina) yaitu Eucalyptus urrophylla dan Eucalyptus deglupta. Beberapa spesies menyebar di Australia bagian Utara menuju bagian Timur. Spesies ini banyak tersebar di daerah-daerah pantai New South Wales dan Australia bagian Barat Daya. Pada saat ini beberapa spesies ditanam di luar daerah penyebaran alami, misalnya di benua Asia, Afrika bagian Tropika dan Subtropika, Eropa bagian Selatan dan Amerika Tengah (Latifah, 2004).Namun karena tanaman eukaliptus memiliki nilai komersil yang lebih dibandingkan dengan tanaman lainnya,

(18)

eukaliptus mulai dikembangkan pada hutan tanaman industri (HTI) termasuk di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, Sumatera utara.

Tempat tumbuh

Jenis-jenis eukaliptus banyak terdapat pada kondisi iklim bermusim (daerah arid) dan daerah yang beriklimbasah dari tipe hujantropis. Jenis eukaliptus tidak menuntut persyaratan yang tinggi terhadap tempat tumbuhnya. Tanaman eukaliptus dapat tumbuh pada tanah yang dangkal, berbatu-batu, lembab, berawa- rawa, secara periodik digenangi air, dengan variasi kesuburan tanah mulai dari tanah-tanah kering gersang sampai pada tanah yang baik dan subuh (Departemen Kehutanan, 1994).

Minyak Atsiri

Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial yang dapat menjadi andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa.

Data statistik ekspor-impor dunia menunjukkan bahwa konsumsi minyak atsiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkembangan kebutuhan untuk industry food flavouring, industri kosmetik dan wewangian (Widiastuti, 2012).

Minyak atsiri merupakan salah satu jenis minyak nabati yang multimanfaat. Karakteristik fisiknya berupa cairan kental yang dapat disimpan pada suhu ruang. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, kulit biji, batang, akar atau rimpang. Salah satu ciri utama minyak atsiri yaitu mudah menguap dan beraroma khas. Karena itu, minyak ini banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan wewangian (Rusli, 2010).

(19)

Proses produksi minyak atsiri dapat ditempuh melalui 3 cara, yaitu : (1) pengempaan (pressing), (2) ekstraksi menggunakan pelarut (solvent extraction), dan (3) penyulingan (distillation). Penyulingan merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri. Penyulingan dilakukan dengan mendidihkan bahan baku di dalam ketel suling sehingga terdapat uap yang diperlukan untuk memisahkan minyak atsiri dengan cara mengalirkan uap jenuh dari ketel pendidih air (boiler) kedalam ketel penyulingan (Widiastuti, 2012).

Minyak atsiri dengan mudah dapat dipisahkan menjadi komponen- komponen atau disimpan pada suhu penyusun murninya. Komponen-komponen ini dapat menjadi bahan dasar untuk diproses menjadi produk-produk lain.

Contohnya antara lain: minyak sereh, minyak daun cengkeh, minyak permen, dan minyak terpentin. Biasanya komponen utama yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut dipisahkan atau diisolasi dengan penyulingan bertingkat selalu dilakukan dalam keadaan vakum. Hal ini dikerjakan untuk menghindari terjadinya isomerisasi, polimerasi atau perurairan (Sastrohamidjojo, 2004).

Minyak Eukaliptus

Minyak eukaliptus (eucalypt oil) atau lebih dikenal dengan minyak kayu putih merupakan salah satu jenis dari minyak atsiri yang mudah menguap dan dihasilkan dari tanaman melalui penyulingan daun. Minyak ini digunakan sejak jaman dulu sebagai antiseptik, obat sakit perut, obat flu atau digunakan untuk pijatan (urut) ringan dan sebagainya (Widiastuti, 2012).

Tanaman penghasil minyak kayu putih yaitu Eucalyptus spp berasal dari hutan alam maupun hutan buatan. Hutan alam kayu putih terdapat di daerah Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Bali, NTT, dan Papua. Sedangkan

(20)

hutan buatan dapat ditemukan di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Utara (Widiasuti, 2012).

Dahulu Indonesia telah mengekspor minyak kayu putih. Minyak kayu putih yang berasal dari Pulau Buru di Sulawesi termasuk mutu terbaik. Namun kebutuhan domestik jauh lebih besar dari produksinya, kira-kira sebesar 1.500 ton/tahun sehingga pada saat ini kebutuhan mnyak kayu putih dalam negeri diimpor dari China dan Vietnam. Total nilai impor minyak kayu putih dari luar negeri bias mencapai enam juta US Dollar atau setara dengan hamper Rp 60 milyar setiap tahun (Widiastuti, 2012).

Analisis Finansial

Analisis finansial merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu bisnis akan menguntungkan selama umur bisnis. Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui perkiraan dalam hal pendanaan dan aliran kas, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya bisnis yang dijalankan. Dalam rangka mencari ukuran menyeluruh tentang baik atau tidaknya suatu proyek, telah dikembangkan berbagai macam indeks, disebut dengan investmentcriteria.. Berikut ini adalah investment criteria yang dipakai dalam penelitian analisis kelayakan usaha, antara lain Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) danBenefit Cost Ratio (BCR) (Ibrahim, 1998).

Hasil dari analisis finanasial merupakan indikator dari modal yang diinvestasikan, yaitu perbandingan antara total benefit yang diterima dengan total biaya yang dikeluarkan dalam bentuk present value selama umur ekonomis proyek.

(21)

Analisis kelayakan usaha pada PT. Toba Pulp Lestari Tbk dilakukan dengan cara membandingkan antara manfaat dengan biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan perusahaan. Sebagai kriteria kelayakan investasi digunakan beberapa indikator kelayakan investasi diantaranya:

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah kriteria investasi yang banyak digunakan dalam mengukur apakah suatu proyek feasilbleatau tidak. Perhitungan Net present value merupakan net benefit yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital (SOCC) sebagai diskon faktor. Untuk menghitung NPV di dalam sebuah gagasan usaha (proyek), diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan serta perkiraan benefit dari proyek yang direncanakan (Ibrahim, 1998).

Pengertian NPV atau nilai sekarang bersih adalah analisis keuangan yang digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu usaha dilaksanakan dilihat dari nilai sekarang arus kas bersih yang akan diterima dibandingkan dengan nilai sekarang dari jumlah investasi yang dikeluarkan. Dengan kata lain NPV dihitung dari aliran kas bersih dikurangi dengan biaya investasi (Sunyonto, 2014).

b. Internal Rate of Return(IRR)

Ukuran kedua dari perhitungan kriteria investasi adalah IRR. IRR adalah suatu tingkat discount rate yang menghasilkan net present value sama dengan 0 (nol). Dengan demikian apabila hasil perhitungan IRR lebih besar dari Social Opportunity Cost of Capital (SOCC) dikatakan proyek/usaha tersebut feasible, bila sama dengan SOCC berarti pulang pokok dan di bawah SOCC proyek tersebut tidak feasible (Ibrahim, 1998).

(22)

Pengertian IRR adalah besarnya tingkat pengembalian modal sendiri yang dipergunakan menjalankan usaha. Jadi IRR mengukur kemanfaatan modal sendiri untuk menghasilkan laba (Sunyonto, 2014).

Untuk menentukan besarnya nilai IRR harus dihitung nilai NPV1 dan nilai NPV2 dengan cara coba-coba. Apabila nilai NPV1 telah menunjukkan angka positif maka discount factor yang kedua harus lebih besar dari SOCC dan sebaliknya apabila NPV1 menunjukkan angka negatif maka discount factor yang kedua berada di bawah SOCC atau discount factor (Ibrahim, 1998).

c. Benefit Cost Ratio (BCR)

Benefit Cost Ratio (BCR) merupakan perbandingan antara net benefit yang telah didiskon positif (+) dengan net benefit yang telah didiskon negatif (-).Jika nilai BCR lebih besar dari 1 (satu) berarti gagasan usaha/proyek tersebut layak untuk dikerjakan dan jika lebih kecil dari 1 (satu) berarti tidak layak untuk dikerjakan. Untuk Net BCR sama dengan 1 (satu) berarti cash in flows sama dengan cash out flows, dalam present value disebut dengan Break Even Point (BEP), yaitu total cost sama dengan total revenue (Ibrahim, 1998).

Metode BCR ini digunakan untuk memvalidasi hasil evauasi yang telah dilakukan dengan metode sebelumnya, yaitu metode NPV, dan juga sebagai analisis tambahan untuk lebih menguatkan pendapat pertama. Metode ini sangat baik dilakukan untuk mengevaluasi proyek-proyek pemerintah yang memiliki dampak langsung pada masyarakat banyak, baik dampak yang bersifat positif maupun negatif. Melalui perhitungan BCR akan terlihat perbandingan antara manfaat (benefit) yang akan diperoleh, dengan aspek biaya (cost) yang ditanggung dengan adanya investasi tersebut (Sulistiyono, 2011).

(23)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakanpada tanggal 22 September hingga 12 Oktober 2016. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, sektor Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pengolahan data dilakukan pada Laboratorium Manajemen Hutan Terpadu, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera digital untuk dokumentasi objek penelitian, alat tulis untuk mencatat informasi dilapangan dan perangkat komputer untuk mengolah data. Bahan yang digunakan adalah datapotensi bahan baku, data rendemen minyak, data rencana pemanenan, data seluruh biaya atas input produksi dan studi literatur sebelumnya.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dilapangan adalah sebagai berikut: perhitungan potensi bahan baku, perhitungan rendemen minyak, wawancara dan penelusuran referensi skunder.

a. Wawancara dan penelusuran referensi skunder

Wawancara dan penelusuran referensi skunder dilakukan untuk mengetahui kerangka usaha pemanfaaatan minyak atsiri yang sudah ada sebagai acuan dalam menyusun usaha pemanfaatan daun ekaliptus dalam pembuatan minyak atsiri di PT. Toba Pulp Lestari Tbk.

b. Perhitungan potensi bahan baku

(24)

Perhitungan potensi bahan baku dilakukan untuk mengetahui ketersediaan bahan baku yang dapat diproduksi.

b. Perhitungan potensi rendemen minyak

Perhitungan potensi rendemen minyak dilakukan untuk mengetahui rendemen minyak yang dihasilkan atas bahan baku yang tersedia

Pengolahan Data

Penelitian ini menggunakan analisis diskriptif dan analisis finansial.

a. Analisis Diskriptif

Analisis diskriptif digunakan untuk mengetahui dan menganalisis data yang terkumpul dari hasil wawancara dan hasil penelusuran referensi skunder yang dinyatakan dalam bentuk tabel (tabulasi) yang terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional.

b. Analisis Finansial

Analisis finansial pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, kapan pengembalian investasi terjadi, berupa keuntungannya dan pada tingkat suku bunga berapa investasi itu memberi manfaat.

Perkiraan benefit (cash in flows) dan perkiraan cost (cash out flows) yang menggambarkan tentang posisi keuangan dimasa yang akan datang dapat digunakan sebagai alat control dalam pengendalian biaya untuk memudahkan dalam mencapai tujuan usaha/proyek. Dipihak lain, dengan adanya hasil perhitungan kriteria investasi, penanam modal dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, apakah modal yang ditanam lebih baik pada proyek atau lembaga keuangan sperti bank dan lain sebagainya.

(25)

Kemudian dianalisis kelayakan finansialnya dengan menghitung besarnya nilai Net Present Value(NPV), Internal Rate Of Return(IRR) danBenefit Cost Ratio(BCR)dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Gray et.al., 1999)

a. Net Present Value (NPV)

Analisis yang digunakan untuk mengukur profitabilitas suatu investasijangka panjang dalam kegiatan pertanian adalah NPV, yaitu selisih antara nilai manfaat dan nilai biaya selama kurun waktu tertentu pada tingkat bunga yang ditentukan.

NPV = �

𝑡𝑡=𝑛𝑛 𝑡𝑡=𝑜𝑜

Bt − Ct (1 + 𝑖𝑖)𝑡𝑡

Keterangan :

NPV = Nilai bersih sekarang

Bt = Benefit (aliran kas masuk pada periode-t) Ct = Cost/ Biaya total

i = Interest (tingkat suku bunga bank yang berlaku) t = Periode waktu

Jika : NPV =Positif, maka usaha pemanfaatan minyak ekaliptus dilanjutkan NPV = Negatif,maka usaha pemanfaatan minyak ekaliptus tidak dilanjutkan NPV = 0, makausaha pemanfaatan minyak ekaliptus tidak untung dan tidak

rugi (BEP)

b. Internal Rate of Retrurn(IRR)

IRR merupakan parameter yang menunjukkan sejauh mana satu investasi mampu memeberikan keuntungan besar dari tingkat bunga umum memberikan petunjuk bahwa investasi tersebut cukup menguntungkan.

(26)

Keterangan :

IRR = Suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh suatu proyek.

NPV1 = Nilai NPV yang positif pada tingkat suku bunga tertentu.

NPV2 = Nilai NPV yang negatif pada tingkat suku bunga tertentu.

I1 = Discount factor (tingkat bunga) pertama dimana diperoleh NPV positif.

I2 = Discount factor (tingkat bunga) kedua dimana diperoleh NPV negatif.

c. Benefit Cost Ratio (BCR)

Benefit Cost ratio (BCR) merupakan perbandingan antara nilai manfaat dan nilai biaya dari satu investasi pada tingkat suku bunga yang telah ditentukan.

Keterangan :

BCR = Perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran Bt = Benefit (aliran kas masuk periode-t)

Ct = Cost/ Biaya total

i = Interest (tingkat suku bunga bank yang berlaku) t = Periode waktu

dengan kriteria BCR > 1 dinyatakan usaha tersebut layak diusahakan dan sebaliknya jika BCR < 1 berarti usaha tersebut tidak layak diusahakan.

Apabila hasil perhitungan telah menunjukkan feasible (layak), pelaksanaanya akan jarang mengalami kegagalan. Kegagalan hanya terjadi karena faktor-faktor uncontrolable seperti perubahan peraturan pemerintah.

(27)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam merencanakan sebuah proyek diperlukan beberapa asumsi dalam membuat perhitungan biaya. Dalam merencanakan usaha penyulingan minyak eukaliptus di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, beberapa asumsi yang digunakan antara lain : asumsi dasar, analisa fisik, analisa biaya, depresiasi (penyusutan), proyeksi produksi, proyeksi biaya dan proyeksi laba rugi. Beberapa asumsi tersebut digunakan agar lebih memudahkan dalam menghitung kelayakan finansial yang digunakan, antara lain : Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Benefit Cost Ratio (BCR).

Potensi Bahan Baku Daun Eukaliptus

Menurut Sugiarti (2006) bahan baku adalah bahan atau unsur-unsur yang belum diolah dan akan dijadikan suatu produk dan akan digunakan dalam proses pabrikasi untuk di proses menjadi barang jadi. Dalam penelitian yang dimaksudkan dengan bahan baku adalah daun eukaliptus. Potensi bahan baku daun eukaliptus pada areal konsesi PT. Toba Pulp Lestari Tbk, cukup potensial jika dimanfaatkan dalam pembuatan minyak atsiri mengingat areal konsesi perusahaan yang cukup luas yaitu 188.564 Ha (2016, PT. Toba Pulp Lestari).

Berdasarkan hasil observasi Sembiring (2017) di lapangan diperoleh data rata-rata berat daun 7,14 kg/btg. Data potensi bahan baku yang dapat diolah menjadi minyak eukaliptus mengacu pada data rencana pemanenan berdasarkan RRKUPHHK-HTI PT. Toba Pulp Lestari Tbk, untuk jangka waktu sepuluh tahun dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

(28)

Tabel 1. Potensi Bahan Baku Daun Eukaliptus PT. Toba Pulp Lestari Tbk

Tahun Luas Lahan

(Ha)

Volume Bahan Baku

Pohon (Btg) Daun (Kg)

2010 8.492 14.156.164 101.075.010 2011 10.525 17.545.175 125.272.549 2012 9.527 15.881.509 113.393.974 2013 24.081 40.143.027 286.621.212 2014 16.190 26.988.730 192.699.532 2015 16.219 27.037.073 193.044.701 2016 10.994 18.326.998 130.854.765 2017 17.814 29.695.938 212.028.997 2018 11.998 20.000.666 142.804.755 2019 15.043 25.076.681 179.047.502

Jumlah 140.883 234.851.961 1.676.843.002

Berdasarkan Tabel 1 diatas dapat dilihat data potensi bahan baku selama 10 tahun di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, dimana potensi bahan baku tertinggi diperoleh pada tahun 2013 yaitu sebesar 286.621.213 kilogram, hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut luas lahan yang dipanen mencapai 24.081 hektar.

Sedangkan untuk potensi bahan baku terendah terdapat pada tahun 2010 yaitu sebesar 101.075.011 kilogram, hal ini juga disebabkan karena pada tahun tersebut luas lahan yang dipanen hanya mencapai 8.492 hektar.

Rendemen Minyak Eukaliptus

Rendemen minyak eukaliptus yang didapat dari hasil penelitian ini ditentukan dari nilai perbandingan antara antara berat minyak yang didapat dari hasil penyulingan dengan berat sampel yang disuling. Berdasarkan hasil penyulingan Sianturi (2017) pada berbagai macam varietas/klon eukaliptus yang berasal dari PT. Toba Pulp Lestari Tbk diperoleh rata-rata rendemen sebesar 0,16 persen dengan berat jenis minyak 0,98035, hal ini sesuai dengan pernyataan Damanik (2006) yang menyatakan rendemen pada daunEucalyptus sp bernilai

(29)

0,16 %.Data rendemen minyak eukaliptus yang dapat diproduksi oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rendemen Minyak Eukaliptus PT. Toba Pulp Lestari Tbk Tahun Bahan Baku

Daun (Kg)

Potensi Produksi Minyak

(Kilogram) (Liter)

2010 101.075.010 161.720 164.961

2011 125.272.549 200.436 204.453

2012 113.393.974 181.430 185.066

2013 286.621.212 458.594 467.785

2014 192.699.532 308.319 314.499

2015 193.044.701 308.872 315.062

2016 154.659.525 209.368 213.564

2017 212.028.997 339.246 346.046

2018 142.804.755 228.488 233.067

2019 179.047502 286.476 292.218

Jumlah 1.676.843.002 2.682.949 2.736.725 Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa potensi rendemen minyak eukaliptus tertinggi diperoleh pada tahun 2013 yaitu sebesar 458.594 kilogram atau 501.196 liter, hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut potensi bahan baku yang diolah mencapai 286.621.213 kilogram. Sedangkan potensi rendemen minyak eukaliptus terendah terdapat pada tahun 2010 yaitu sebesar 161.720 kilogram atau 176.743 liter, hal ini juga disebabkan karena pada tahun tersebut potensi bahan baku yang diolah hanya mencapai 101.075.011 kilogram.

Rincian Biaya Pengolahan Minyak Eukaliptus

Rincian biaya yang harus dikeluarkan jika PT. Toba Pulp Lestari Tbk, memanfaatkan daun eukaliptus menjadi minyak atsiri, secara garis besar dibedakan atas biaya investasi dan biaya operasional.

a. Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan pada awal proyek. Atau biaya dasar yang digunakan dalam memulai usaha yang dikeluarkan pada awal

(30)

investasi dan hanya dikeluarkan satu kali dalam sebuah proyek.Adapun rincian biaya investasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Biaya Investasi

No. Uraian Satuan Jlh Harga Satuan (Rp)

Nilai(Rp) Umur Ekonomis

(Tahun)

1 Tanah Ha 2 250.000.000 500.000.000 -

2 Pabrik Unit 1 5.100.0000.000 5.100.000.000 20

3 Gudang Unit 1 1.020.000.000 1.020.000.000 20

4 Kantor Unit 1 500.000.000 500.000.000 20

5 Peralatan Destilasi Kap 1 Ton/Proses

Unit 320 129.000.000 41.280.000.000 15

6 Peralatan Pengemasan

Unit 5 25.000.000 125.000.000 10

7 Timbangan Unit 4 2.500.000 10.000.000 5

8 Perlengkapan Kantor

Paket 1 150.000.000 150.000.000 5

9 Aktiva Tetap Lainnya

Paket 1 75.000.000 75.000.000 5

Jumlah 48.760.000.000

Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan agar proses produksi penyulingan minyak ekaliptus tetap berlangsung. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Adapun biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabeldapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5 berikut.

Tabel 4. Biaya Tetap Per Tahun

No Uraian Nilai (Rp)

1 Gaji Karyawan Tetap 2.639.712.000

2 Perlengkapan Administrasi Kantor 120.000.000

3 Biaya Listrik, Telepon dan Internet 180.000.000

4 Biaya Transportasi 412.500.000

5 Perawatan Mesin dan Bangunan 300.000.000

6 Depresiasi 3.142.500.000

7 Promosi 1.800.000.000

8 Kehumasan 600.000.000

Jumlah 9.194.712.000

Biaya tetap pada usaha penyulingan ini adalah biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh volume produksi minyak ekaliptus dan dalam analisis ini

(31)

diasumsikan tetap setiap tahunnya. Artinya volume bahan baku yang akan diproduksi tidak akan mempengaruhi besarnya nilai dari biaya tetap.Sedangkan uraian dari biaya variabel dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Biaya Variabel Rata-rata Per Tahun

No Uraian Nilai (Rp)

1 Bahan Baku 110.783.427.800

2 Upah Operator Penyulingan 731.528.400

3 Bahan Bakar 20.414.744.000

4 Air 191.388.300

5 Pengemasan 890.995.400

Jumlah 266.024.167.800

biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh perubahan volume produksi minyak eukaliptus. Artinya semakin banyak volume bahan baku yang akan diproduksi akan semakin besar pula biaya yang akan dikeluarkan, dan sebaliknya semakin sedikit volume bahan bahan baku yang akan diproduksi akan semakin kecil pula biaya yang akan dikeluarkan

Asumsi Harga Penjualan Minyak Eukaliptus

Minyak eukaliptus merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang masih berkembang di Indonesia, tidak seperti minyak nilam, minyak kayu putih, minyak gaharu dan sebagainya yang sudah memiliki industri yang cukup maju di Indonesia. Berdasarkan penelurusuran referensi skunder yang dilakukan diperoleh data harga jual dari minyak eukaliptus sebagai berikut

Tabel 6. Harga Jual Minyak Eukaliptus Ditingkat Distributor (Lansida,2016)

No Satuan (Liter) Harga (Rupiah)

1 0,025 50.000

2 0,1 180.000

3 1 750.000

Harga diatas merupakan harga penjualan dari tingkat distributor terhadap konsumen. Dalam penelitian ini digunakan dua skenario harga yaitu skenario I (potongan harga 10 persen dari harga awal distributor) dan skenario II (potongan

(32)

harga 15 persen dari harga awal distributor). Berdasarkan pemotongan harga yang dilakukan diperoleh data harga jual minyak eukaliptus sebagai berikut.

Tabel 7. Harga Jual Minyak Eukaliptus Ditingkat Produsen No Satuan (Liter) Harga Awal

Distributor (Rupiah)

Harga Setelah Dipotong 10%

(Rupiah)

Harga Setelah Dipotong 15%

(Rupiah)

1 0,025 50.000 45.000 42.500

2 0,1 180.000 162.000 153.500

3 1 750.000 675.000 637.500

Harga diatas merupakan harga penjualan langsung ditingkat produsen yang dianggap lebih terjangkau untuk dipasarkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hermann, et. al.(2007) yang menyatakan keterjangkauan harga adalah harga sesungguhnya dari suatu produk yang dibayarkan oleh pelanggan.

Maksudnya adalah pelanggan cenderung melihat harga akhir dan memutuskan apakah akan menerima nilai yang baik seperti yang diharapkan.

Analisis Kelayakan Finansial Penyulingan Minyak Eukaliptus

Suatu usaha yang dilaksanakan untuk memperoleh keuntungan (benefit) yang maksimal. Besar kecilnya nilai keuntungan dari hasil produksi. Maka dalam suatu perencanaan untuk melakukan usaha harus memperhitungkan apakah usaha tersebut dapat mendatangkan keuntungan atau tidak.

Selain itu, setiap usaha yang dilakukan oleh setiap orang perlu diketahui seberapa besar manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, jumlah keuntungan dan jangka waktu berapa lama investasi dapat kembali. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu usaha memiliki kelayakan sebagaisuatu usaha yang bermanfaat. Untuk mengetahui itu maka perlu dilakukan analisis finansial.

Analisis finansial skenario I (dengan potongan harga 10 persen dariharga jual distributor)

(33)

Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, IRR dan BCR.

Berdasarkan hasil perhitungan dari ketiga kriteria tersebut dengan potongan harga 10 persen diperoleh hasil analisis finansial sebagai berikut.

Tabel 8. Hasil Analisis FinansialSkenario I

Kriteria Hasil

Net Present Value (Rp) 134.903.510.450,-

Internal Rate of Return (%) 33,01%

Benefit Cost Ratio 3,76

Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa jika usaha penyulingan minyakeukaliptus diusahakan oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk, ini memperoleh Net Present Value (NPV>0) yaitu sebesar Rp. 134.903.510.450,- Hal ini menunjukkan bahwa manfaat bersih yang diterima dari usaha penyulingan minyak eukaliptus oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk, selama umur proyek (10 tahun) terhadap tingkat diskon (discount rate) yang berlaku yaitu 10,5 persen adalah sebesar Rp. 134.903.510.450,- dan berarti bahwa usaha penyulingan minyak eukaliptus ini layak untuk diusahakan.

Kriteria lain yang dianalisis adalah Internal Rate of return. IRR yang diperoleh dari analisis yang dilakukan adalah 33,01persen dimana IRR tersebut lebih besar dari diskon (discount rate) yang berlaku yaitu 10,5 persen.

Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 33,01persen dank karena IRR>33,01persen maka usaha ini layak dan menguntungkan. Selain NPV dan IRR kriteria lain yang dianalisis adalah Benefit Cost Ratio. Nilai BCR yang diperoleh lebih besar dari 1 (BCR>1) yaitu sebesar 3,76yang menyatakan bahwa usaha penyulingan minyak eukaliptus di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, ini layak di usahakan. Nilai BCR sama dengan 3,76artinya

(34)

setiap Rp 1,- yang dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan Rp. 3,76,- satuan manfaat bersih.

Analisis finansial skenario II (dengan potongan harga 15 persen dariharga jual distributor)

Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, IRR dan BCR.

Berdasarkan hasil perhitungan dari ketiga kriteria tersebut dengan potongan harga 15 persen diperoleh hasil analisis finansial sebagai berikut.

Tabel 8. Hasil Analisis Finansial Skenario II

Kriteria Hasil

Net Present Value (Rp) 84.029.947.498,-

Internal Rate of Return (%) 21,90 %

Benefit Cost Ratio 2,72

Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa jika usaha penyulingan minyakeukaliptus diusahakan oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk, ini memperoleh Net Present Value (NPV>0) yaitu sebesar Rp. 84.029.947.498,- Hal ini menunjukkan bahwa manfaat bersih yang diterima dari usaha penyulingan minyak eukaliptus oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk, selama umur proyek (10 tahun) terhadap tingkat diskon (discount rate) yang berlaku yaitu 10,5 persen adalah sebesar Rp. 84.029.947.498,- dan berarti bahwa usaha penyulingan minyak eukaliptus ini layak untuk diusahakan.

Kriteria lain yang dianalisis adalah Internal Rate of return. IRR yang diperoleh dari analisis yang dilakukan adalah 21,90 persen dimana IRR tersebut lebih besar dari diskon (discount rate) yang berlaku yaitu 10,5 persen. Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 21,90 persen dank karena IRR>21,90 persen maka usaha ini layak dan menguntungkan. Selain NPV dan IRR kriteria lain yang dianalisis adalah Benefit Cost Ratio. Nilai BCR

(35)

yang diperoleh lebih besar dari 1 (BCR>1) yaitu sebesar 2,72 yang menyatakan bahwa usaha penyulingan minyak eukaliptus di PT. Toba Pulp Lestari Tbk, ini layak di usahakan. Nilai BCR sama dengan 2,72 artinya setiap Rp 1,- yang dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan Rp. 2,72,- satuan manfaat bersih.

(36)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari ketiga analisis finansial dengan menggunakan kriteria NPV, IRR dan BCR serta menggunakan dua skenario harga jual yaitu skenario I (potongan harga 10 persen) dan skenario II (potongan harga 15 pesen) maka usaha penyulingan minyak eukaliptus pada PT. Toba Pulp Lestari Tbk memenuhi kriteria dan layak untuk diusahakan dengan rincian skenario I, diperolehnilai Net Present Value (NPV) adalah sebesar Rp. 134.903.510.450,- nilai Internal Rate of Return (IRR) adalah 33,01persen, nilai Benefit Cost Ratio (BCR) adalah 3,76 sedangkan pada skenario II, diperoleh nilai Net Present Value (NPV) adalah sebesar Rp. 84.029.947.498,- nilai Internal Rate of Return (IRR) adalah 21,90 persen, nilai Benefit Cost Ratio (BCR) adalah 2,72.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas dan melihat layaknya perkiraan usaha penyulingan minyak eukaliptus dari aspek finansial, maka diharapkan PT. Toba Pulp Lestari Tbk, untuk :

1. Menjalankan dan mengembangkan usaha penyulingan minyak ekaliptus sebagai sebuah industri.

2. Melakukan analisis kelayakan dari aspek non finansial yaitu analisis aspek pasar, teknis, hukum, manajemen, sosial ekonomi dan lingkungan agar lebih memperkuat asumsi bahwa usaha penyulingan minyak eukaliptus layak untuk diusahakan.

(37)

3. Melakukan penelitian lanjutan dengan skala yang lebih besar agar bisa menjadi landasan operasional.

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin dan I. Taskirawati. 2009. Buku Ajar Hasil Hutan Bukan Kayu.

Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Damanik, M. 2009. Kajian Minyak Atsiri Pada Ekaliptus (Eucalyptus Urophylla) Umur 4 Tahun Di PT Toba Pulp Lestari, Tbk. [skripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan

Departemen Kehutanan. 1994. Eucalyptus. Pedoman Teknis Penanaman Jenisjenis Kayu Komersial. Badan Litbang Departemen Kehutanan.

http://www.indonesiaforest.com/tanaman_andalan/eucalyptus.PDF [22 Juni 2016]

Gray, C., Kadariah dan L.Karlina. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia. Jakarta.

Farsa, G. A. Analisis Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Kayu Putih Yakabasa Di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan [skirpsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Herman, et. al. 2007. The Social Influence of Brand Community: Evidence From European Car Clubs, Journal of Marketing 10(3):1149-1159.

Hidayat, H. 2008. Politik Lingkungan Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Ibrahim, Y. 1998. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka Cipta. Jakarta.

Irvan, P.B. Manday dan J. Sasmitra. 2015. Ekstraksi 1,8-Cineole Dari Minyak Daun Eucalyptus urophylla dengan Metode Soxhletasi.Jurnal Teknik Kimia USU4(3): 52-56.

Khaeruddin. 1999. Pembibitan Tanaman HTI. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lansida. 2016. Harga Jual Minyak Eukaliptus (Eucalyptus Globulus).http://www.lansida.com. [11 November 2016]

Latifah, S. 2004. Pertanaman dan Hasil Tegakan Eucalyptus grandis di Hutan Tanaman Industri. http://www.libraryusu.ac.id. [22 Juli 2016]

Nasution, N.A.F. 2013. Analisis Kelayakan Finansial dan Prospek Pemasaran Budidaya Gaharu [skripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Poerwowidodo. 1991. Gatra Tanah dalam Pembangunan Hutan Tanaman di Indonesia. Penerbit Rajawali. Jakarta.

(39)

PT. Toba Pulp Lestari Tbk. 2016. Rencana Kerja Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (RKTUPHHK-HTI) Tahun 2016. Sumatra Utara.

_______________________. 2013. Revisi Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (RKUPHHK-HTI) Untuk Jangka Waktu 10 (Sepuluh) Tahun Periode 2010-2019. Sumatera Utara.

Pudjiharta, A.G. Pengaruh Hutan Tanaman Industri Eucalyptus Terhadap Tata Air di Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan No. 628/2001. Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan.

Rusli. M. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. Agromedia Pustaka. Jakarta Samsudi. 1990. Mengharap peningkatan produksi kayu dari hutan alam. Majalah

Silvika No.15/III/1990. Pusat Diklat Pegawai Kehutanan Departemen Kehutanan. Bogor.

Sastrohomidjojo. H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Sembiring, H. 2017. Potensi Daun Eukaliptus Sebagai Bahan Baku Minyak Atsiri Di Kawasan PT. Toba Pulp Lestari Tbk [skripsi]. Fakultas Kehutanan.

Universitas Sumatera Utara. Medan.

Sianturi, Y.R.U. 2017. Analisis Rendemen Minyak Eukaliptus Di PT. Toba Pulp Lestari Tbk [skripsi]. Fakultas Kehutanan. Universitas Sumatera Utara.

Medan.

Sugiarti. 2006. Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Baku Pada CV. Aneka Ilmu Semarang. UNS Press. Semarang.

Sulistiyono. 2011. Analisa Kelayakan Penambahan Sumur Produksi Minyak dan Gas Bumi. Jurnah Ilmiah MTG 4(1): 10-11.

Sunyonto, D. 2014. Studi Kelayakan Bisnis. Center of Acedemic Publishing Service. Yogyakarta.

Sutisna, U., T. Kalima dan Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia. Disunting oleh Soetjipto, N.W dan Soekotjo. Yayasan PROSEA Bogor dan Pusat diklat Pegawai & SDM Kehutanan. Bogor.

Widiastuti, I. 2012. Sukses Agribisnis Minyak Atsiri. Pustaka Baru Press.

Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecemasan pada ibu hamil risiko tinggi baik pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum

Analisis univariat ini menjelaskan hasil penelitian yang merupakan distribusi frekuensi dari hubungan peran keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan perawatan diri

SKRIPSI PENERAPAN TERAPI PERILAKU PADA ANAK..... ADLN Perpustakaan

 Hasil penelitian dari Wibowo dan Yuwono menunjukkan bahwa faktor-faktor pendukung yang juga bersifat menguatkan dan faktor-faktor penghambat yang juga

Skripsi saya berjudul “pelaksanaa pembagian harta bersama akibat perceraian” (studi pada masyarakat kecamatan panyabungan kota, kabupaten mandailing natal)” disusun sebagai salah

[r]

Fitur XML Linking Language (XLink) yang telah dikembangkan oleh W3C sejak tahun 1999 memungkinkan elemen untuk dimasukkan ke dalam dokumen XML untuk membuat dan

Untuk itu dibangunlah sebuah sistem pendukung keputusan untuk menentukan mata pelajaran lintas minat kurikulum 2013 menggunakan algoritma weighted product dan