HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian Pendahuluan Uji Nilai Kisaran
Hasil uji nilai kisaran (Range value test) merkuri pada ikan bandeng menunjukkan bahwa nilai konsentrasi ambang bawah sebesar 0.06 mg Hg/l yang merupakan konsentrasi tertinggi merkuri yang tidak mematikan ikan bandeng dalam waktu pemaparan selama 48 jam. Sedangkan nilai ambang atas sebesar 0.6 mg Hg/l yang merupakan konsentrasi terendah merkuri yang dapat mematikan 100 % ikan bandeng dalam waktu pemaparan selama 24 jam. Berikut tabel data mortalitas ikan bandeng pada uji nilai kisaran (Range value test) (lampiran 8). Tabel 2. Data mortalitas ikan bandeng pada uji nilai kisaran (Range value test)
Konsentrasi (mg Hg/l)
Jumlah ikan (ekor)
Mortalitas pada jam ke- (%) 0 6 12 18 24 36 48 A (0) 30 0 0 0 0 0 0 0 B (0.006) 30 0 0 0 0 0 0 0 C (0.06) 30 0 0 0 0 0 0 0 D (0.6) 30 0 100 100 100 100 100 100 E (6) 30 0 100 100 100 100 100 100
Pada perlakuan kontrol setelah jam ke- 48 tidak ditemukan ikan yang mati, hal ini menunjukkan bahwa kualitas air sebagai media pemeliharaan selama masa pemaparan dalam kondisi baik.
Uji Toksisitas Akut
Uji toksisitas akut yang dilakukan selama 96 jam dibuat dengan konsentrasi yang lebih kecil dibandingkan uji nilai kisaran. Konsentrasi yang digunakan diperoleh dari nilai yang didapatkan dari uji nilai kisaran. Untuk konsentrasi uji toksisitas yaitu perlakuan A (tanpa merkuri), perlakuan B (0,110 mg Hg/l), perlakuan C (0,195 mg Hg/l), perlakuan D (0,346 mg Hg/l) dan perlakuan E (0.618 mg Hg/l).
Pengamatan gejala klinis yang ditimbulkan oleh pemaparan ikan bandeng pada merkuri dan pencatatan kelangsungan hidup ikan dilakukan pada jam ke- 6, 12, 18, 24, 36, 48, 60, 72, 84 dan 96 jam setelah pemberian merkuri. Pada pengamatan jam ke- 6 setelah pemaparan merkuri perlakuan dengan konsentrasi
0.618 mg Hg/l (E) mengalami kematian sampai 100 %. Sedangkan konsentrasi 0,346 mg Hg/l (D) pada pengamatan jam ke- 36 juga mengalami kematian sampai 100 %. Selanjutnya konsentrasi 0,195 mg Hg/l (C) sampai akhir penelitian mengalami kematian sampai 90 %. Untuk perlakuan konsentrasi 0,110 mg Hg/l (B) pada jam ke- 96 kelangsungan hidup ikan bandeng mencapai 90 %. Pada ikan kontrol tidak ditemukan ikan yang mati dan gejala klinis akibat stres sampai waktu pemaparan 96 jam, hal ini menunjukkan bahwa media pemeliharaan dan keadaan ikan selama uji toksisitas akut dalam keadaan baik. Data kelangsungan hidup ikan bandeng pada uji toksisitas akut merkuri dapat dilihat pada lampiran 9.
Data mortalitas ikan bandeng selanjutnya dianalisa dengan menggunakan analisa probit (SPSS 17) untuk menentukan nilai LC50 pada waktu pemaparan
pada jam ke- 24, 48, 72 dan 96 jam (Lampiran 10, 11, 12 dan 13). Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai LC50 pada waktu pemaparan 24, 48, 72 dan 96 jam
berturut-turut adalah 0.3497 mg/l (0.216 mg Hg/l), 0.2758 mg/l (0.171 mg Hg/l), 0.2467 mg/l (0.152 mg Hg/l) dan 0.2371 mg/l (0.147 mg Hg/l). Berikut grafik nilai LC50 pada uji toksisitas akut.
Gambar 2. Nilai LC50 merkuri pada ikan bandeng selama uji toksisitas akut y = -0.0367x + 0.3691 R² = 0.8631 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 24 48 72 96 LC 50
Waktu pemaparan (jam)
Nilai LC50 dari grafik di atas menunjukkan bahwa semakin lama waktu
pemaparan maka nilai LC50 merkuri terhadap ikan bandeng akan semakin rendah.
Dari nilai LC50 96 jam yang diperoleh dapat dikatakan bahwa merkuri bersifat
toksik sangat tinggi terhadap benih ikan bandeng.
Frekuensi buka tutup operculum ikan bandeng selama uji toksisitas akut merkuri meningkat seiring meningkatnya konsentrasi merkuri yang diberikan. Frekuensi rata-rata bukaan operculum ikan bandeng pada perlakuan A (0 ppm) adalah 68.13 kali/menit. Selanjutnya terjadi peningkatan pada setiap perlakuan yaitu perlakuan B (0.110 mg Hg/l) sebanyak 124.93 kali/menit, perlakuan C (0.195 mg Hg/l) sebanyak 130.5 kali/menit, perlakuan D (0.347 mg Hg/l) sebanyak 139.62 kali/menit dan perlakuan E (0.618 mg Hg/l) sebanyak 173.17 kali/menit (Lampiran 14). Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Gambar 3. Rata-rata frekuensi pergerakan operculum ikan bandeng selama uji toksisitas akut
Pemaparan ikan bandeng pada merkuri mengakibatkan rusaknya sistem pernafasan ikan bandeng tersebut, sehingga ikan akan lebih sering membuka mulut dan operculumnya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Hal ini dilakukan sebagai suatu adaptasi fisiologis sehingga ikan dapat bertahan hidup atau memperlambat kematian.
Respon tingkah laku ikan bandeng setelah dipaparkan pada merkuri menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi merkuri yang diberikan, akan mempercepat perubahan tingkah laku ikan bandeng tersebut. Perubahan tingkah
68.13 124.93 130.5 139.62 173.17 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 A (kontrol) B (0.110 mg Hg/l) C (0.195 mg Hg/l) D (0.346 mg Hg/l) E (0.618 mg Hg/l) Ge rak o p e rku lu m (k al i/ m e n it) Perlakuan
laku ikan tersebut antara lain: ikan kehilangan gerak refleks, berenang tidak beraturan dan sering muncul ke permukaan dengan bukaan mulut dan operculum yang lebih lebar dan cepat. Kemudian kembali ke dasar dengan posisi tegak dan sampai ke dasar dengan posisi bagian ventral ke atas. Ikan juga mengalami kejang-kejang sebelum mengalami kematian di dasar akuarium. Pada perlakuan C (0.195 mg Hg/l), ikan mengalami ram-jet ventilation sebelum mengalami kematian. hal ini disebabkan karena ikan terpapar merkuri pada konsentrasi yang tinggi dan jangka waktu yang lama sehingga sistem pernafasannya mengalami kerusakan yang parah.
Penelitian Inti
Pengaruh Merkuri Pada Ikan Bandeng yang Dipelihara di Air Tawar (0 ppt) Gradien Osmotik
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa gradien osmotik ikan bandeng yang terpapar merkuri (perlakuan B) lebih tinggi dibandingkan kontrol (perlakuan A) dimana perlakuan B sebesar 0.303±0.093 Osm/kg dan perlakuan A sebesar 0.284±0.025 Osm/kg (Lampiran 15). Hal ini mengakibatkan energi yang dibutuhkan oleh ikan pada perlakuan B untuk proses osmoregulasi lebih besar dibandingkan ikan kontrol. Berikut grafik gradien osmotik ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar.
Gambar 4. Gradien osmotik ikan bandeng yang terpapar merkuri dan tidak terpapar merkuri di air tawar
0.326 0.326 0.284 0.303 0.260 0.270 0.280 0.290 0.300 0.310 0.320 0.330 A B (0.012 mg Hg/l) Gr ad ie n Osm o tik (Osm /kg) Perlakuan GO awal GO akhir
Tingkat Konsumsi Oksigen
Tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng akan menurun apabila terpapar oleh merkuri. Pada gambar 5 dapat dilihat bahwa ikan bandeng pada perlakuan B (0.012 mg Hg/l) mengalami penurunan tingkat konsumsi oksigen dari 0.941±0.058 mgO2/gr/jam menjadi 0.191±0.014 mgO2/gr/jam pada akhir
penelitian. Sedangkan pada perlakuan A (kontrol) tingkat konsumsi oksigennya tidak jauh berubah dari 0.941±0.058 mgO2/gr/jam menjadi 0.843±0.06
mgO2/gr/jam pada akhir penelitian. Hasil statistik juga menunjukkan bahwa
pemberian merkuri pada media pemeliharaan ikan berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng (P < 0.05) (Lampiran 16). Hal ini dapat terlihat pada gambar berikut:
Gambar 5. Rata-rata tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Kondisi Hematologi
Pemberian merkuri pada ikan bandeng juga mempengaruhi kondisi hematologi dari ikan tersebut. Data hematologi yang meliputi jumlah eritrosit, haemoglobin, hematokrit dan jumlah leukosit.
Dari gambar 6 dapat diketahui bahwa merkuri dapat menurunkan kadar eritrosit dalam darah ikan, hal ini dapat dilihat dari perbandingan jumlah eritrosit
0.941 0.941 0.787 0.592 0.747 0.427 0.843 0.191 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 A B (0.012 mg Hg/l) TK O rata -r ata (m gO2/gr /jam ) Perlakuan 0 10 20 30
ikan kontrol (perlakuan A) dengan jumlah eritrosit ikan perlakuan B. Jumlah eritrosit ikan perlakuan B adalah 3.39±0.62 x 106 sel/mm3 sedangkan jumlah eritrosit ikan kontrol jauh lebih besar yaitu 5.63±0.46 x 106 sel/mm3. Kadar haemoglobin pada perlakuan B juga mengalami penurunan dibandingkan perlakuan kontrol. Kadar haemoglobin ikan perlakuan B adalah 4.47±0.46 % sedangkan perlakuan A sebesar 9.33±0.5 %. Untuk kadar hematokrit perlakuan B juga lebih rendah dibandingkan ikan kontrol yaitu sebesar 10.16±0.32 %. Jumlah leukosit ikan perlakuan B juga lebih rendah dibandingkan ikan kontrol yaitu sebesar 8.37±0.66 x 105 sel/mm3. Hal ini juga didukung dengan uji statistik yang menyatakan bahwa merkuri berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan jumlah eritrosit, haemoglobin, hematokrit dan leukosit pada ikan bandeng yang dipelihara di air tawar (Lampiran 17, 18 19 dan 20). Berikut grafik kondisi hematologi ikan yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar.
Gambar 6. Kondisi hematologi ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Histokimia
Histokimia merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melihat deposit logam berat seperti merkuri dalam jaringan makhluk hidup. Hasil histokimia menunjukkan bahwa ada deposit merkuri dalam jaringan insang dan hati ikan bandeng yang terkontaminasi oleh merkuri di air tawar.
5.63 3.39 9.33 4.47 21.06 10.16 30.59 8.37 0 5 10 15 20 25 30 35 A (kontrol) B (0.012 mg Hg/l) K o n d isi h e m ato lo gi Perlakuan
Gambar 7. Histokimia ikan bandeng pada perlakuan A (kontrol) a. Insang; b. Hati.
Gambar 8. Histokimia ikan bandeng pada perlakuan B (0.012 mg Hg/l) a. Insang; b. Hati
Kadar Glukosa Darah
Kadar glukosa darah merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk bisa mengenali ikan dalam kondisi stres. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa penambahan merkuri pada media air tawar meningkatkan kadar glukosa darah ikan bandeng selama waktu pemaparan. Hal ini mengindikasikan bahwa ikan bandeng mengalami stress akibat pemaparan merkuri pada media pemeliharaan.
Dari gambar 9 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada ikan bandeng perlakuan B dengan konsentrasi merkuri 0.012 mg Hg/l dari 21.72 mmol/L menjadi 22.97 mmol/L pada hari ke 30 waktu pemaparan. Sedangkan pada perlakuan A (kontrol) terjadi penurunan kadar glukosa darah dari
50 µm a 50 µm b
Hg
21.72 mmol/L menjadi 14.54 mmol/L pada hari ke 30 waktu pemaparan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan pada perlakuan B (0.012 mg Hg/l) mengalami stress akibat pemaparan merkuri pada media pemeliharaan. Dari uji statistik juga memperlihatkan adanya pengaruh yang nyata (P < 0.05) (Lampiran 21) pemberian merkuri terhadap peningkatan kadar glukosa darah ikan bandeng.
Gambar 9. Rata-rata kadar glukosa darah ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Jumlah Konsumsi Pakan
Jumlah pakan yang dikonsumsi ikan bandeng mengalami penurunan setelah terpapar merkuri. Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 10. Rata-rata jumlah pakan yang dikonsumsi ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar.
21.72 21.72 13.49 22.37 14.54 22.97 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 A (kontrol) B (0.012 mg Hg/l) K ad ar G lu ko sa d ar ah (m m o l/ L) Perlakuan 0 15 30 72.17 61.81 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 A B (0.012 mg Hg/l) Ju ml ah pa ka n ( gr am) Perlakuan
Ikan yang terpapar merkuri di air tawar mengalami stres sehingga menyebabkan kadar glukosa darah meningkat. Akibatnya nafsu makan ikan menurun sehingga ikan kurang respon terhadap pakan yang diberikan.
Laju pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan suatu proses bertambahnya ukuran volume atau berat suatu organisme, khususnya ikan yang dilihat dari perubahan panjang dan berat dalam suatu waktu (Effendi 1979). Toksisitas merkuri juga berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan laju pertumbuhan ikan bandeng yang dipelihara di air tawar (Lampiran 22). Pada gambar 11 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan ikan pada perlakuan B 0.47±0.02 % lebih rendah dari perlakuan A (kontrol) yang mencapai 0.68±0.03 %. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Gambar 11. Rata-rata laju pertumbuhan ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Efisiensi pakan
Efisiensi pakan ikan pada perlakuan B (12.49±0.70 %) lebih kecil dibandingkan efisiensi pakan pada perlakuan A (kontrol) (24.57±1.32 %). Uji statistik menunjukkan bahwa merkuri berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan efisiensi pakan ikan bandeng yang dipelihara pada air tawar (Lampiran 23). Berikut grafik nilai efisiensi pakan ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar.
0.68 0.47 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 A B (0.012 mg Hg/l) Laj u Pe rtu m b u h an (% ) Perlakuan
Gambar 12. Rata-rata nilai efisiensi pakan ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Kadar Merkuri di Air dan di Daging Ikan Bandeng
Kadar merkuri dalam media pemeliharaan ikan dan daging ikan dihitung pada awal dan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar merkuri di air dan peningkatan kadar merkuri di tubuh ikan setelah terpapar merkuri 0.012 mg Hg/l pada perlakuan B selama 30 hari. Hal ini terjadi karna merkuri dapat diabsorbsi dan terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan bandeng tersebut. Sedangkan pada perlakuan A (kontrol) tidak terjadi perubahan kadar merkuri baik di air maupun di daging ikan bandeng. Berikut grafik kadar merkuri dalam media dan tubuh ikan bandeng pada akhir penelitian.
Gambar 13. Kadar merkuri pada media dan daging ikan bandeng di air tawar pada akhir penelitian. 24.57 12.49 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 A B (0.012 mg Hg/l) Efi si e n si p akan ( % ) Perlakuan 0.0000 0.0005 0.0081 0.2664 0.0000 0.0500 0.1000 0.1500 0.2000 0.2500 0.3000 A B (0.012 mg Hg/l) K ad ar m e rku ri (p p m ) Perlakuan Air Daging
Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng cenderung menurun akibat pengaruh toksisitas merkuri. Dari gambar 14 dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan pada perlakuan B hanya 53.33 % sedangkan pada perlakuan A (kontrol) mencapai 96.67 %. Hal ini sesuai dengan uji statistik yang memperlihatkan bahwa toksisitas merkuri berpengaruh nyata terhadap penurunan kelangsungan hidup ikan bandeng di air tawar (P<0.05) (Lampiran 24). Berikut grafik tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng yang terpapar merkuri.
Gambar 14. Rata-rata tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Pemaparan merkuri sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologis ikan bandeng yang dipelihara pada air tawar. Secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 3 berikut: 100 98.33 100 95.00 96.67 83.33 96.67 53.33 0 20 40 60 80 100 120 A B (0.012 mg Hg/l) Ke lan gsu n gan h id u p ( % ) Perlakuan 0 10 20 30
Tabel 3. Data parameter pengamatan ikan bandeng yang terpapar dan tidak terpapar merkuri di air tawar
Parameter pengamatan Perlakuan
A (kontrol) B (0.012 mg Hg/l) Gradien osmotik (Osm/kg) 0.284±0.025 0.303±0.093 Tingkat konsumsi oksigen (mgO2/g/jam) 0.843±0.06 0.191±0.014 ∑ Eritrosit (106 sel/mm3) 5.63±0.46 3.39±0.62 Kadar Haemoglobin (%) 9.33±0.5 4.47±0.46 Kadar Hematokrit (%) 21.06±0.27 10.16±0.32 ∑ Leukosit (105 sel/mm3) 30.59±1.88 8.37±0.66
Kadar Glukosa darah (mmol/L) 14.54±0.91 22.97±1.33
∑ konsumsi pakan (g) 72.17±1.19 61.81±1.47
Laju Pertumbuhan (GR) (%) 0.68±0.03 0.47±0.02
Efisiensi Pakan (EP) (%) 24.57±1.32 12.49±0.70
Kadar Hg di air (ppm) <0.0002 0.0081
Kadar Hg di daging ikan (ppm) 0.0005 0.2664
Kelangsungan Hidup (SR) (%) 96.67 53.33
Pengaruh Salinitas dan Toksisitas Merkuri Terhadap Ikan Bandeng
Pada perlakuan ini konsentrasi merkuri yang diberikan sama yaitu 0.012 mg Hg/l pada salinitas 0 ppt, 10 ppt dan 20 ppt.
Gradien Osmotik
Selisih antara nilai osmolaritas cairan tubuh dan osmolaritas media pemeliharaan ikan dapat diartikan sebagai nilai gradien osmotik. Toksisitas merkuri pada salinitas yang berbeda sangat mempengaruhi gradien osmotik ikan Bandeng yang dipelihara. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 15. Rata-rata gradien osmotik ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda 0.326 0.052 0.190 0.303 0.237 0.737 0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Gr ad ie n o sm o tik ( Osm /kg) Perlakuan GO awal GO akhir
Dari gambar 15 dapat diketahui gradien osmotik yang terkecil pada perlakuan C (10 ppt) (Lampiran 15). Hal ini menunjukkan energi yang dibutuhkan untuk proses osmoregulasi lebih sedikit pada perlakuan C (10 ppt) dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan perlakuan D (20 ppt) sehingga banyak energi yang tersimpan untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuh.
Tingkat Konsumsi Oksigen
Indikator dari respirasi adalah jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh suatu jenis ikan (Affandi dan Tang 2002). Selanjutnya dikatakan tingkat konsumsi oksigen ini menunjukkan tingkat metabolisme. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa toksisitas merkuri pada salinitas yang berbeda dapat menurunkan tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng. Berdasarkan uji statistik diketahui tingkat konsumsi oksigen perlakuan D (20 ppt) adalah yang terendah dengan nilai 0.154±0.039 mgO2/gr/jam dan berbeda nyata dengan perlakuan C (10 ppt) dengan
nilai 0.257±0.037 mgO2/gr/jam (Lampiran 16). Hal ini menunjukkan bahwa ikan
bandeng pada perlakuan C (10 ppt) mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap pengaruh toksisitas merkuri dibandingkan pelakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt). Berikut grafik rata-rata tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda.
Gambar 16. Rata-rata tingkat konsumsi oksigen ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda.
0.941 0.643 0.968 0.592 0.464 0.413 0.427 0.344 0.361 0.191 0.257 0.154 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) TK O (m gO2/gr tu b u h ikan /jam Perlakuan 0 10 20 30
Kondisi Hematologi
Data hematologi meliputi jumlah eritrost, haemoglobin, hematokrit dan leukosit. Berikut gambar grafik perubahan kondisi hematologi ikan bandeng yang dipelihara pada salinitas berbeda. Dari gambar 17 dapat diketahui bahwa kondisi hematologi terbaik terdapat pada perlakuan C (10 ppt) dengan jumlah eritrosit 3.61±0.39 x 106 sel/mm3, haemoglobin 5.37±0.86 %, hematokrit 19.90±0.41 % dan jumlah leukosit 11.33±0.43 x 105 sel/mm3. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa toksisitas merkuri berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan kadar haemoglobin, hematokrit dan jumlah leukosit pada setiap perlakuan (Lampiran 17, 18 19 dan 20). Grafik kondisi hematologi ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda disajikan pada gambar di bawah ini.
Gambar 17. Rata-rata kondisi hematologi ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
Histokimia
Merkuri merupakan salah satu logam berat yang mudah diabsorbsi dan terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan. Insang dan Hati merupakan jaringan yang rentan terhadap akumulasi merkuri. Akumulasi merkuri tersebut dapat berupa deposit yang dapat mengganggu kerja insang dan hati tersebut.
3.39 3.61 2.78 4.47 5.37 3.67 10.16 19.9 5.7 8.37 11.33 6.05 0 5 10 15 20 25 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) K o n d isi H e m ato lo gi Perlakuan
Gambar 18. Histokimia insang ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda a. perlakuan B (0 ppt), b. perlakuan C (10 ppt) dan c. perlakuan D (20 ppt)
Dari gambar 18 terlihat bahwa deposit merkuri di insang lebih besar terdapat pada perlakuan D (20 ppt). Kemudian diikuti oleh perlakuan B (0 ppt) dan yang paling kecil terdapat pada perlakuan C (10 ppt). Sedangkan Gambar 19 menunjukkan bahwa hati pada perlakuan D (20 ppt) mengakumulasi merkuri lebih banyak dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan C (10 ppt). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hati ikan pada perlakuan D (20 ppt) mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan C (10 ppt).
Hg 50 µm 50 µm 50 µm b c a
Gambar 19. Histokimia hati ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda a. perlakuan B (0 ppt), b. perlakuan C (10 ppt) dan c. perlakuan D (20 ppt).
Kadar Glukosa Darah
Perubahan lingkungan akibat penambahan merkuri dan perubahan salinitas dapat menyebabkan stress pada ikan bandeng. Salah satu pendekatan yang bisa dilihat pada tubuh ikan saat stress adalah perubahan naik turunnya kadar glukosa darah.
Data hasil penelitian memperlihatkan bahwa kadar glukosa darah ikan semakin meningkat sampai akhir penelitian. Kadar glukosa darah tertinggi terdapat pada perlakuan D (20 ppt) yaitu 23.60±0.71 mmol/l. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan B (0 ppt) dengan nilai 22.97±1.33 mmol/l dan yang terendah pada perlakuan C (10 ppt) dengan nilai 11.77±1.30 mmol/l. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C (10 ppt) memiliki tingkat stress yang lebih rendah
50 µm 50 µm 50 µm b a c
dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt). Analisa statistik juga menunjukkan perlakuan C (10 ppt) berbeda nyata dengan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt) (P<0.05) (Lampiran 21). Grafik rata-rata kadar glukosa darah ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda disajikan pada gambar dibawah ini.
Gambar 20. Rata-rata kadar glukosa darah ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
Jumlah Konsumsi Pakan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan C (10 ppt) memiliki respon yang lebih baik terhadap pakan yang diberikan dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan perlakuan D (20 ppt). Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 21. Rata-rata jumlah pakan yang dikonsumsi ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda.
21.72 10.63 17.02 22.37 11.63 18.97 22.97 11.77 23.60 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) K ad ar G lu ko sa d ar ah (m m o l/ L) Perlakuan 0 15 30 61.81 65.03 52.91 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Ju m lah p akan ( gr am ) Perlakuan
Laju Pertumbuhan
Laju pertumbuhan ikan bandeng pada setiap perlakuan juga menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan. Hal ini didukung oleh hasil analisa statistik yang menunjukkan bahwa toksisitas merkuri pada salinitas yang berbeda berpangaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan laju pertumbuhan tiap perlakuan (Lampiran 22).
Perlakuan C (10 ppt) merupakan perlakuan dengan laju pertumbuhan tertinggi dengan nilai 0.55±0.02 % dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt). Hal ini terjadi karena perlakuan C (10 ppt) mempunyai gradien osmotik terendah sehingga energi yang tersimpan untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuh lebih banyak dibandingkan ke dua perlakuan lainnya. Berikut grafik rata-rata laju pertumbuhan ikan Bandeng pada hari ke- 30 waktu pemaparan.
Gambar 22. Rata-rata laju pertumbuhan ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
Efisiensi Pakan
Berdasarkan jumlah konsumsi pakan dan laju pertumbuhan maka diperoleh nilai efisiensi pakan ikan Bandeng. Berikut grafik rata-rata efisiensi pakan ikan Bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda. Dari gambar 23 diketahui bahwa efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan C (10 ppt) dengan nilai 18.63±0.79 %, sedangkan perlakuan B (0 ppt) dan perlakuan D (20 ppt) tidak jauh berbeda yaitu 12.49±0.70 % dan 10.60±1.28 %. Hasil analisa statistik menunjukkan perlakuan C (10 ppt) berbeda nyata (P<0.05)
0.47 0.55 0.35 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Laj u Pe rtu m b u h an (% ) Perlakuan
dengan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt) (Lampiran 23). Berikut grafik Rata-rata efisiensi pakan ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda.
Gambar 23. Rata-rata efisiensi pakan ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
Kadar Merkuri di Air dan di Daging Ikan Bandeng
Dari gambar 24 dapat diketahui bahwa kadar merkuri di air dan di daging ikan Bandeng dipengaruhi oleh salinitas. Kadar merkuri terendah terdapat pada perlakuan C (10 ppt) dengan kadar merkuri sebesar 0.0844 ppm. Kadar merkuri di air dan di daging ikan bandeng setelah pemaparan selama 30 hari dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 24. Rata-rata kadar merkuri di air dan daging ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
12.49 18.63 10.60 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Efi si e n si Pakan (% ) Perlakuan 0.0081 0.0157 0.0034 0.2664 0.0844 0.7939 0.0000 0.1000 0.2000 0.3000 0.4000 0.5000 0.6000 0.7000 0.8000 0.9000 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) K ad ar m e rku ri (p p m ) Perlakuan Air Daging
Tingkat Kelangsungan Hidup
Data kelangsungan hidup ikan bandeng menunjukkan adanya perbedaan pada setiap perlakuan. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa toksisitas merkuri pada salinitas yang berbeda berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng pada tiap perlakuan.
Dari gambar 25 dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan C (10 ppt) dengan nilai 68.33 %. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan B (0 ppt) dengan nilai 53.33 % dan tingkat kelangsungan hidup terendah terdapat pada perlakuan D (20 ppt) dengan nilai 43.33 % (Lampiran 24). Berikut grafik tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng akibat toksisitas merkuri pada salinitas yang berbeda.
Gambar 25. Rata-rata tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas berbeda
Seluruh perubahan kondisi fisiologis ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda dapat dilihat pada tabel berikut ini:
100 100 100 95.00 96.67 88.33 83.33 75.00 56.67 53.33 68.33 43.33 0 20 40 60 80 100 120 B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) K e lan gsu n gan H id u p ( % ) Perlakuan 0 10 20 30
Tabel 4. Data parameter pengamatan ikan bandeng yang terpapar merkuri pada salinitas yang berbeda
Parameter pengamatan Perlakuan
B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Gradien osmotik (Osm/kg) 0.303±0.093a 0.237±0.088a 0.737±0.288b Tingkat konsumsi oksigen (mgO2/gr/jam) 0.191±0.014ab 0.257±0.037b 0.154±0.039a Kadar Haemoglobin (%) 4.47±0.46ab 5.37±0.86b 3.67±0.31a Kadar Hematokrit (%) 10.16±0.32b 19.90±0.41c 5.70±0.68a ∑ Leukosit (105
sel/mm3) 8.37±0.66b 11.33±0.43c 6.05±0.08a Glukosa darah (mmol/L) 22.97±1.33a 11.77±1.30b 23.60±0.71a ∑ konsumsi pakan (g) 61.81±1.47a 65.03±1.85a 52.91±2.43b Laju Pertumbuhan (GR) (%) 0.47±0.02b 0.55±0.02c 0.35±0.03a Efisiensi Pakan (EP) (%) 12.49±0.70a 18.63±0.79b 10.60±1.28a
Kadar Hg di air (ppm) 0.0081 0.0157 0.0034
Kadar Hg di daging ikan (ppm) 0.2664 0.0844 0.7939 Kelangsungan Hidup (SR) (%) 53.33ab 68.33b 43.33a
*) Angka sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0.05)
Fisika Kimia Air
Selama uji toksisitas merkuri (akut dan uji pengaruh) dilakukan pengamatan fisika kimia air media pemeliharaan yang meliputi salinitas, suhu, DO, pH, alkalinitas, kesadahan dan TAN.
Tabel 5. Data pengamatan fisika kimia air selama uji toksisitas akut merkuri terhadap ikan bandeng
Perlakuan
Parameter kualitas air Suhu (⁰C) pH DO (mg/l) alkalinitas (mg CaCO₃/l) Kesadahan (mg CaCO₃/l) TAN (ppm) A 27-28 6.9-7.7 5.4-6.07 140-152 57.65-87.09 0.181-0.257 B 27-28 6.9-7.7 5.45-6.07 148-184 69.19-86.48 0.115-0.233 C 27-28 6.9-7.7 5.35-6.07 132-164 57.66-69.19 0.154-0.211 D 27-28 6.9-7.7 5.6-6.07 112-132 58.83-74.95 0.112-0.181 E 27-28 6.9-7.7 5.24-6.07 84-88 57.65-86.48 0.096-0.135
Dari data pengamatan diketahui bahwa nilai parameter fisika kimia air selama penelitian secara umum masih layak untuk mendukung kelangsungan hidup ikan bandeng. Data fisika kimia air selama penelitian ditampilkan pada tabel berikut.
Tabel 6. Data pengamatan fisika kimia air selama penelitian inti Parameter fisika kimia air Perlakuan A (kontrol) B (0 ppt) C (10 ppt) D (20 ppt) Salinitas (ppt) Suhu (0 C) pH DO (mg/l) Alkalinitas (mg/l) Kesadahan (mg/l) TAN (ppm) 0 28±1 6.9-7.03 4.31-5.09 72-84 68-116 0.011-0.178 0 28±1 6.9-7.02 4.14-5.09 52-84 48-116 0.011-0.131 10 28±1 6.8-7.53 4.88-5.06 88-100 148.5-176.1 0.011-0.032 20 28±1 6.9-7.71 4.64-5.08 68-112 224.2-340.3 0.014-0.015 Pembahasan
Merkuri adalah salah satu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 80 dengan berat atom 200.59 g/mol yang merupakan satu-satunya unsur yang berbentuk cair pada suhu kamar (25 0C) dan sangat mudah menguap (Palar 1994). Merkuri di perairan dapat berada dalam bentuk metal, senyawa organik dan senyawa anorganik. Diantara berbagai macam logam berat, merkuri digolongkan sebagai pencemar paling berbahaya. Sehingga kehadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air baik melalui proses bioakumulasi maupun biomagnifikasi yaitu melalui jaring makanan (Budiono 2003).
Pengaruh langsung polutan termasuk merkuri terhadap ikan biasanya dinyatakan dengan toksisitas akut sebagai akibat yang timbul pada waktu kurang dari 96 jam atau sublethal (kronis) yaitu akibat yang timbul pada waktu lebih dari 96 jam (empat hari). Pada penelitian ini dilakukan uji nilai kisaran selama 48 jam, uji toksisitas akut selama 96 jam dan penelitian inti selama 30 hari untuk melihat pengaruh toksisitas merkuri dan salinitas berbeda terhadap kondisi fisiologis ikan bandeng.
Hasil pengamatan pada uji toksisitas akut 96 jam memperlihatkan bahwa nilai LC50 96 jam merkuri terhadap ikan bandeng yang dipelihara di air tawar
adalah 0.2371 mg/l (0.147 mg Hg/l). Siahaan (2003) mengemukakan bahwa nilai LC50 Pb terhadap ikan bandeng yang dipelihara di air tawar adalah 62.248 mg/l.
Selanjutnya Biuki et al (2010) menyatakan bahwa nilai LC50 Cd terhadap ikan
Bandeng adalah 62.8 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa merkuri merupakan logam berat yang sangat berbahaya dibandingkan logam berat lainnya seperti Pb
dan Cd karena dengan konsentrasi yang jauh lebih kecil telah dapat mematikan 50 % dari ikan bandeng dalam waktu 96 jam. Hal ini sesuai dengan Balazs (1970) yang menyatakan bahwa nilai LC50 < 1 mg/l tergolong pada toksikan yang
memiliki potensi ketoksikan yang sangat tinggi. Selanjutnya Darmono (1995) menyimpulkan bahwa daftar urutan logam dari toksisitas yang paling tinggi ke toksisitas yang paling rendah adalah Hg2+ > Cd2+ > Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ > Cr2+ > Sn2+ > Zn2+.
Gejala klinis yang diperlihatkan pada uji toksisitas akut antara lain adalah ikan kehilangan gerak refleks, berenang tidak beraturan dan sering muncul ke permukaan dengan bukaan mulut dan operculum yang lebih lebar dan frekuensinya lebih cepat. Kemudian kembali ke dasar dengan posisi tegak dan sampai ke dasar dengan posisi bagian ventral ke atas. Ikan juga mengalami kejang-kejang dan ram jet ventilation sebelum mengalami kematian di dasar akuarium. Respon tersebut terjadi karena adanya pengaruh sifat merkuri yang menyerang sistem saraf pusat sebagai jaringan sasaran pada ikan bandeng. Hal ini sesuai dengan pendapat Connel dan Miller (1995) yang menyatakan bahwa organisme pada saat terpapar logam berat akan mengganggu kerja sistem saraf pusat.
Penyerapan merkuri oleh tubuh ikan bandeng tergantung pada gradien osmotik dari ikan tersebut. Semakin tinggi gradien osmotiknya maka merkuri akan semakin mudah masuk ke dalam tubuh ikan. Namun apabila ikan bandeng di pelihara pada kondisi yang isoosmotik atau gradien osmotiknya lebih rendah maka resiko akumulasi merkuri akan dapat dikurangi. Relevan dengan Modassir (2000) yang menyatakan bahwa tingginya pergantian/pengambilan air karena proses osmoregulasi akan menyebabkan akumulasi merkuri lebih cepat sehingga toksisitas dari merkuri menjadi lebih besar.
Pada penelitian ini gradien osmotik perlakuan B (0 ppt) sedikit lebih tinggi dari kontrol, sehingga merkuri akan masuk bersamaan dengan masuknya air ke dalam tubuh ikan bandeng. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kadar merkuri di daging ikan bandeng pada perlakuan B (0 ppt) lebih tinggi dibandingkan kontrol yaitu 0.2664 ppm dan di air mengalami penurunan dari 0.012 ppm menjadi 0.0081 ppm.
Menurut prinsip Asam Basa Kuat dan Lemah (HSAB), Merkuri adalah asam lemah dan dapat bereaksi lebih cepat dengan basa lemah terutama ligan yang mengandung unsur N dan S tetapi jauh lebih kuat bereaksi dengan ligan yang mengandung unsur S dari pada unsur N. Jadi dari mekanisme ini dapat diketahui adalah bahwa Hg cenderung membentuk kompleks yang kuat dengan kelompok sulfhidril (-SH) yang ada dalam protein dibandingkan dengan Cl. Karena ikan mengandung banyak protein maka jumlah kelompok sulfhidril yang terkandung dalam jaringan ikan dapat menentukan jumlah Hg yang dapat terabsorpsi (Thongra-ar et al 2003).
Berbeda dengan ikan air tawar, ikan yang dipelihara di air bersalinitas cenderung hipoosmotik terhadap lingkungannya sehingga air dalam tubuh ikan akan keluar dari tubuh ikan (Affandi dan Tang 2002). Untuk itu ikan akan banyak meminum air agar dapat mengganti air yang keluar dari tubuh ikan. Perlakuan D (20 ppt) memiliki gradien osmotik paling tinggi pada akhir penelitian yaitu 0.737±0.288 Osm/kg sehingga resiko untuk mengakumulasi merkuri lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kadar merkuri yang terdapat di daging ikan bandeng yaitu 0.7939 ppm pada akhir penelitian.
Perlakuan C (10 ppt) merupakan perlakuan yang gradien osmotik awal lebih kecil dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt) yaitu 0.052±0.142 0sm/kg. Hal ini menandakan bahwa salinitas 10 ppt merupakan media yang isoosmotik untuk kehidupan ikan bandeng. Idel dan Wibowo (1996) mengemukakan bahwa salinitas optimal untuk pemeliharaan gelondongan ikan bandeng adalah 10-18 ppt. Setelah panambahan merkuri ke dalam media pemeliharaan tekanan osmotiknya meningkat menjadi 0.237±0.088 Osm/kg. Namun Gradien osmotiknya tetap lebih kecil dibandingkan ke dua pelakuan lainnya. Sehingga kadar merkuri di daging juga lebih kecil yaitu 0.0844 ppm.
Ikan bandeng yang dipelihara pada media yang terkontaminasi oleh merkuri akan mengalami perubahan kondisi fisiologis. Ikan yang terkontaminasi oleh merkuri akan mengalami perubahan secara patologi, terhambatnya proses metabolisme, perubahan kondisi hematologi serta penurunan fertilitas dan kelangsungan hidup (Micryakov dan Lapirova 1977 dalam Kaoud dan Mekawy 2011).
Darmono (2001) menyatakan bahwa logam berat akan masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan yaitu melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan dan melalui penetrasi kulit. Alat pernafasan pada ikan adalah insang yang sekaligus juga merupakan alat osmoregulasi. Irianto (2005) menyatakan letak insang, struktur dan mekanisme kontak dengan lingkungan menjadikan insang sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Wardoyo (1977) menyatakan bahwa salah satu jaringan tubuh organisme yang cepat mengakumulasi logam berat adalah jaringan insang, sehingga dapat menyebabkan terganggunya proses pertukaran ion-ion dan gas-gas melalui insang dan dapat menyebabkan ikan mati lemas. Hal ini relevan dengan hasil histokimia dari insang ikan bandeng dimana pada insang tiap perlakuan terdapat deposit merkuri. Insang pada perlakuan D (20 ppt) mengakumulasi merkuri lebih banyak dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan C (10 ppt). Hal ini menunjukkan bahwa insang pada perlakuan D (20 ppt) mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan C (10 ppt).
Selanjutnya Budiono (2003) mengemukakan enzim yang sangat berperan dalam insang ikan adalah enzim karbonik anhidrase dan Na+/K+/ATPase. Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengandung Zn dan berfungsi dalam menghidrolisis CO2 menjadi asam karbonat. Apabila ikatan Zn digantikan oleh
logam lain seperti merkuri maka fungsi enzim tersebut akan menurun. Apabila insang mengalami kerusakan maka akan menyebabkan tingkat konsumsi oksigen menurun. Pada penelitian ini terjadi penurunan tingkat konsumsi oksigen pada tiap perlakuan. Namun perlakuan C (10 ppt) memiliki tingkat konsumsi oksigen lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan perlakuan D (20 ppt). Hal ini terjadi karena ikan pada perlakuan C (10 ppt) mempunyai gradien osmotik yang paling rendah.
Menurunnya tingkat konsumsi oksigen pada ikan bandeng berkorelasi dengan perubahan kondisi hematologi ikan bandeng pada tiap perlakuan. Shah dan Altindag (2005) menyatakan bahwa parameter hematologi seperti hematokrit, haemoglobin, eritrosit dan sebagainya digunakan untuk menilai kamampuan darah dalam membawa oksigen dan telah digunakan sebagai indikator pencemaran logam di lingkungan perairan. kondisi hematologi ikan dapat digunakan untuk
mengetahui kondisi kesehatan ikan pada saat itu. Pada penelitian ini terjadi penurunan jumlah eritrosit, kadar haemoglobin, kadar hematokrit dan jumlah leukosit. Penurunan kondisi hematologi ini menunjukkan telah terjadinya penyimpangan kondisi fisiologis pada ikan bandeng. Fungsi eritrosit adalah mengangkut oksigen dimana didalamnya terdapat haemoglobin. Molekul haemoglobin merupakan suatu protein dalam eritrosit yang terdiri dari protoporfirin, globin, dan zat besi (Fe2+) (Affandi dan Tang 2002). Apabila jumlah eritrosit dan haemoglobin menurun akan mengakibatkan berkurangnya pengambilan oksigen dari lingkungan sehingga tingkat konsumsi oksigen menurun. Kadar hematokrit merupakan persentase volume eritrosit di dalam darah. Bond (1979) dalam Affandi dan Tang (2002) menyebutkan bahwa nilai hematokrit ikan teleostei normal berkisar antara 20 – 30 %. Relevan dengan hasil penelitian bahwa ikan bandeng pada perlakuan A (kontrol) memiliki nilai hematokrit 21.06±0.27 % pada akhir penelitian. Sedangkan pada perlakuan B (0.012 mg Hg/l) kadar hematokritnya mengalami penurunan sampai 10.16±0.32 %. Jumlah leukosit ikan bandeng menurun adalah respon stress yang merupakan karakteristik semua jenis vertebrata (Heat 1987). Dilihat dari kondisi hematologi, ikan pada perlakuan C (10 ppt) memiliki kondisi hematologi yang lebih baik dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt).
Merkuri yang diabsorbsi oleh darah dan berikatan dengan protein darah akan distribusikan ke seluruh jaringan tubuh ikan. Darmono (2001) menyatakan akumulasi logam tertinggi biasanya dalam detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal). Pada penelitian ini didapatkan deposit merkuri paling banyak ditemukan pada perlakuan D (20 ppt). Hal ini menandakan bahwa hati ikan bandeng pada perlakuan D (20 ppt) lebih rusak dibandingkan perlakuan lainnya sehingga proses detoksikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sedangkan perlakuan C (10 ppt) memiliki deposit yang paling sedikit dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt) sehingga dapat dikatakan bahwa kerusakan hati pada ikan bandeng perlakuan C (10 ppt) tidak separah perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt).
Ikan yang terkontaminasi oleh merkuri baik di parairan tawar maupun perairan bersalinitas akan mengalami stres. Respon stress ini dapat berupa penurunan volume darah, penurunan jumlah leukosit, penurunan glikogen hati dan
peningkatan glukosa darah (Affandi dan Tang 2002). Pada penelitian ini telah terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada ikan bandeng tiap perlakuan. Hal ini menandakan ikan dalam keadaan stress akibat pemaparan merkuri. Mekanisme terjadinya perubahan kadar glukosa darah selama stres dimulai dari diterimanya informasi penyebab faktor stres oleh organ resptor. Selanjutnya informasi tersebut disampaikan ke otak bagian hipotalamus melalui sistem saraf. Hipotalamus memerintahkan sel kromafin yang ada di ginjal untuk mensekresikan hormon katekolamin melalui serabut saraf simpatik. Adanya katekolamin akan menfaktifasi enzim-enzim yang terlibat dalam katabolisme simpanan glikogen, sehingga kadar glukosa darah mengalami peningkatan (Porchas et al 2009). Dari ke tiga perlakuan, perlakuan C (10 ppt) memiliki kadar glukosa darah yang paling rendah dengan nilai 11.77±1.30 mmol/l. Selanjutnya Porchas et al (2009) mengemukakan bahwa naik turunnya kadar glukosa dalam darah ikan mengindikasikan bahwa ikan sedang lapar atau kenyang. Naiknya glukosa darah menandakan bahwa ikan berada dalam keadaan kenyang artinya nafsu makan akan berkurang karena energi yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi. Namun sebaliknya pada saat kadar glukosa darah menurun, maka ikan akan merasa lapar sehingga diperlukan makanan untuk memenuhi kebutuhan energinya. Hal ini relevan dengan hasil penelitian bahwa perlakuan C (10 ppt) menunjukkan respon yang lebih baik terhadap pakan yang diberikan dibandingkan dengan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt). Jumlah pakan rata-rata yang di konsumsi oleh perlakuan C (10 ppt) selama penelitian adalah 65.03±1.85 gram (Lampiran 22).
Turunnya jumlah pakan yang dikonsumsi pada akhirnya akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan bandeng. Hal ini relevan dengan hasil penelitian yang menunjukkan penurunan laju pertumbuhan ikan bandeng pada perlakuan B (0 ppt) setelah pemaparan merkuri selama 30 hari dibandingkan kontrol. Menurunnya laju pertumbuhan ikan bandeng ini terjadi karena merkuri yang terakumulasi pada jaringan tubuh ikan sehingga mengganggu kondisi fisiologis ikan. Thongra-ar et al (2003) mengemukakan bahwa menurunnya jumlah pakan yang dikonsumsi disebabkan karena hilangnya koordinasi dan hilangnya rasa lapar sebagai akibat gangguan saraf akibat merkuri. Merkuri juga dapat menghambat penyerapan nutrisi oleh usus seperti asam amino dan gula
dalam ikan yang pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya pertumbuhan. Namun pada perlakuan C (10 ppt) laju pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (0 ppt) dan D (20 ppt) yaitu 0.55±0.02 %. Hal ini terjadi karena ikan bandeng pada perlakuan C (10 ppt) memiliki gradien osmotik lebih rendah sehingga energi yang tersimpan lebih banyak untuk pertumbuhan dan dapat digunakan untuk mengurangi pengaruh buruk dari merkuri.
Nilai efisiensi pakan adalah perbandingan antara pertambahan bobot ikan dengan jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan. Dari penelitian ini diketahui bahwa nilai efisiensi pakan terendah terdapat pada perlakuan D (20 ppt) yaitu 10.60±1.28. Hal ini menandakan ikan pada perlakuan D (20 ppt) memiliki tingkat stress yang lebih tinggi sehingga nafsu makan menurun. Nafsu makan menurun menyebabkan jumlah pakan yang dikonsumsi juga rendah. Pada akhirnya akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan pada ikan bandeng.
Kelangsungan hidup adalah daya hidup untuk bertahan, tumbuh dan berperan dalam habitatnya (Kadarini 2009). Apabila lingkungan tempat hidup dari suatu organisme akuatik seperti ikan baik maka tingkat kelangsungan hidup ikan tersebut akan tinggi. Namun apabila terdapat polutan atau bahan toksikan di lingkungan perairan tempat ikan hidup maka akan dapat mengganggu kehidupan ikan tersebut. Pada akhirnya ikan tidak dapat mentolerir lagi dan akan menyebabkan kematian. Pada penelitian ini diberikan merkuri sebagai bahan polutan. Merkuri dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup ikan karena sifatnya yang sangat beracun.
Pada penelitian ini tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng yang diperlihara di air tawar yang terkontaminasi merkuri lebih rendah dibandingkan kontrol yaitu 53.33 %. Sedangkan pada ikan kontrol tingkat kelangsungan hidupnya mencapai 96.67 %. Tetapi dengan pemeliharaan ikan bandeng pada perlakuan C (10 ppt), dampak negatif merkuri dapat sedikit ditekan terlihat dengan lebih tingginya tingkat kelangsungan hidup ikan bandeng mencapai 68.33 %.
Selama penelitian (uji toksisitas akut dan uji pengaruh) dilakukan pengamatan fisika kimia air media pemeliharaan yang meliputi salinitas, suhu, DO, pH, alkalinitas, kesadahan dan TAN.
Salinitas selama penelitian cenderung stabil pada tiap perlakuan. Salinitas yang digunakan pada tiap perlakuan yaitu 0 ppt, 10 ppt dan 20 ppt masih dalam kisaran hidup ikan bandeng. Ikan bandeng memiliki sifat eurihalin yang mampu hidup pada rentang salinitas yang jauh berbeda yaitu antara 0 ppt sampai dengan 50 ppt. Bila kenaikan terjadi secara bertahap, ia mampu hidup hingga salinitas 70 ppt. Ikan ini banyak ditemukan di daerah pantai, namun juga mampu hidup mulai dari air tawar sampai air laut (Sihmiati 2009)
Suhu media selama penelitian berkisar antara 27-29 0C. Kisaran suhu ini
masih layak untuk pemeliharaan ikan bandeng karena suhu optimal untuk
pertumbuhan ikan bandeng adalah 28–30 0C (DEPTAN 2000). Sedangkan DO
selama penelitan berkisar antara 4.14-6.07 mg/l. Idel dan Wibowo (1996) mengemukakan bahwa oksigen terlarut untuk pemeliharaan ikan bandeng berkisar antara 3-8 mg/l. Selanjutnya Fathuddin et al (2002) menambahkan ikan bandeng pada kadar oksigen dibawah 3 ppm sudah taraf membahayakan larva ikan bandeng yang dipelihara.
Hasil pengukuran pH selama penelitian berkisar antara 6.9-7.7. Idel dan Wibowo (1996) mengemukakan bahwa pH untuk pemeliharaan ikan bandeng berkisar antara 6.5-8.5. Selanjutnya alkalinitas selama penelitian berkisar antara 52-112 mg/l. Menurut Meade (1989) nilai alkalinitas yang baik berkisar antara 10–400 ppm CaCo3. Berdasarkan hasil pengukuran parameter alkalinitas selama
penelitian maka nilai alkalinitas masih dianggap layak bagi kehidupan ikan uji. Nilai kesadahan selama penelitian pada perlakuan air tawar berkisar antara 48-87.09 mg/l sedangkan pada perlakuan air laut bekisar antara 148.5-340.3 mg/l. Stickney (1979) mengemukakan bahwa kesadahan yang baik untuk menunjang kehidupan organisme perairan berkisar antara 20-150 mg/l CaCo3. Selanjutnya
Effendi (2000) menyatakan parameter kesadahan untuk kegiatan budidaya bisa mencapai 500 mg/l.
Total Amoniak Nitrogen (TAN) terdiri dari amoniak bebas (NH3) dan
amoniak ion (NH4+). Pada konsentrasi tinggi amoniak bebas beracun bagi biota air
sedangkan amoniak ion tidak beracun bagi biota air. Nilai TAN pada uji toksisitas berkisar antara 0.096-0.257 ppm. Hal ini terjadi karena selama masa uji tidak dilakukan pergantian air sehingga kadar amoniak di media pemeliharaan
meningkat. Selanjutnya karena penambahan merkuri ke dalam media menyebabkan ikan stress sehingga ikan mengeluarkan amoniak lebih banyak. Sedangkan pada uji pengaruh nilai TAN nya berkisar antara 0.011-0.178 ppm. Nilai TAN lebih rendah karena dilakukan pergantian air setiap harinya sehingga peningkatan amoniak dalam media dapat dikurangi. Nilai TAN yang aman bagi kehidupan ikan bandeng di bawah 0.1 ppm (Deptan 2000). Namun Chervinsky (1982) menyatakan kandungan amoniak 0.6-2.0 ppm masih baik untuk kehidupan ikan. Berdasarkan kriteria di atas maka hasil pengukuran TAN pada waktu penelitian masih berada dalam batas yang dapat ditoleransi oleh ikan uji.