• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM MATA PELAJARAN SKI KELAS VIII SEMESTER SATU DI

MTs YASIN WATES KEDUNGJATI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011.

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam

dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Oleh:

SAMULI NIM: 073 111 168

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2011

(2)

ii

Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Mata Pelajaran SKI Kelas VIII Semester Satu Di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi, Program starata 1 jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo Semarang, 2011.

Permasahan yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?. 2) Bagaimana Kemampuan berpikir kreatif siswa sebelum dan sesudah penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?. 3) Sejauh mana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?.

Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan melalui prosedur pengkajian berdaur yang terdiri atas 4 (empat) tahap yaitu: Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dilaksanakan selama 2 (dua) siklus pada siswa kelas VIII MTs YASIN Wates pada mata pelajaran SKI tahun pelajaran 2010/2011. Dengan teknik pengumpulan data tes dan pengamatan/observasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Penggunaan instrumen evaluasi dengan lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom pada mata pelajaran SKI di kelas VIII di MTs YASIN Wates tahun pelajaran 2010/2011 yaitu meliputi; membandingkan, hubungan sebab akibat, memberi alasan, menyimpulkan, mengelompokkan, menerapkan, menganalisis, sisntesis dan evaluasi. Kedua, Kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dari semula pada tingkatan C1 hafalan dan C2 Pemahaman meningkat pada C3 aplikasi dan C4 analisis dengan menggunakan instrumen evaluasi lembar kerja kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom pada mata pelajaran SKI di kelas VIII di MTs YASIN Wates tahun pelajaran 2010/2011. Ketiga, Penggunaan Instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas VIII Semester satu di MTs YASIN Wates tahun pelajran 2010/2011. Bahwa pada siklus 1 siswa yang memperoleh nilai dibawah 70 sebanyak 17 anak (43%) sedangkan siswa yang sudah mencapai tingkat ketuntasan sebanyak 23 anak (57%) dan secara klasikal masih kurang 42%.

Sedangkan pada siklus 2 siswa yang belum mencapai ketuntasan masih 3 anak (8%) dan sebanyak 37 anak (92%) telah mencapai tingkat ketuntasan, hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan jika sudah mencaai 85% siswa mencapai ketuntasan maka dapat dikatakan berhasil.

(3)

iii Bloom.

(4)

iv Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu alaikum wr. Wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : PENGGUNAAN INSTRUMEN EVALUASI DENGAN KALIMAT TANYA TINGKAT TINGGI TAKSONOMI BLOOM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM MATA PELAJARAN SKI KELAS VIII SEMESTER SATU DI MTs YASIN WATES KEDUNGJATI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011.

Nama : SAMULI NIM : 073 111 168

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diujikan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqasyah.

Wassalamu alaikum wr. Wb

Pembimbing,

DR. H. Raharjo, M.Ed.St

(5)
(6)

vi

Dengan penuh kejujuran dan tanggungawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan.

Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Semarang, 11 Maret 2011 Deklarator,

Samuli

NIM: 073 111 168

(7)

vii

§NèO

’Í?ä.

`ÏB Èe@ä.

ÏNºt•yJ¨W9$#

’Å5è=ó™$$sù Ÿ@ç7ß™

Å7În/u‘

Wxä9èŒ

4

ßlã•øƒs†

.`ÏB

$ygÏRqäÜç/

Ò>#uŽŸ°

ì#Î=tFøƒ’C

¼çmçRºuqø9r&

ÏmŠÏù

Öä!$xÿÏ©

Ĩ$¨Z=Ïj9

3

¨bÎ)

’Îû y7Ï9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbrã•©3xÿtGtƒ ÇÏÒÈ

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Qs. An-Nahl 16: 69)1

1 Departemen Agama RI, AL-Qur an dan Terjemahnya, (Semarang, AL-Wa’ah, 1999), hlm. 412

(8)

viii 1. Ayah Nurulloh dan Ibu Sukirah

2. Bapak Mertua Tamhid dan Ibu mertua Imronah

3. Istri As’adatul Muntadliroh dan anak-anakku tercinta:

a. Lilik Chayyatin Nafi’ah b. Jauhar Fahmi Aqwa.

(9)

ix

Alhamdulillah segala puji bagi Allah swt. yang telah memberikan rahmat, dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Shalawat serta salam penulis haturkan pada baginda nabi agung Muhammad saw. Beserta keluarga, sahabat dan umatnya.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis memilih judul: ”Penggunaan Instrumen Evaluasi Dengan Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Mata Pelajaran SKI Kelas VIII Semester Satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan Tahun Pelajaran 2010/2011”. Dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh, peneliti sampaikan bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. DR. H. Abdul Djamil, M.A., selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.

2. DR. Suja’i, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

3. Ahmad Muthohar, M.Ag., selaku ketua Program peningkatan kualifikasi guru S-1 bagi guru Madrasah dan RA Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

4. DR.H. Raharjo, M.Ed.St., selaku pembimbing skripsi.

5. Segenap Bapak/Ibu dosen dan karyawan pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

6. Abdul Harish, S.Pd.I Kepala MTs YASIN Wates Kec. Kedungjati yang telah memberikan ijin penelitian ini.

7. Keluarga besar MTs/MA YASIN Wates Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan.

8. Semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan bantuan, dorongan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(10)

x

kritik dan saran dari semua pihak, sangat penulis harapkan. Semoga Allah swt.

memberi manfaat bagi kita semua. Amin.

Semarang, Maret 2011 Penulis

Samuli

NIM: 073 111 168

(11)

xi

HALAMAN JUDUL……….…i

ABSTRAK………...………ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………...…iv

HALAMAN PENGESAHAN……….v

HALAMAN DEKLARASI ………vi

HALAMAN MOTTO ……….. .... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN……...………viii

KATA PENGANTAR……… ix

DAFTAR ISI………. ... xi

DAFTAR TABEL.... ………... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Identifikasi Masalah……… .. 3

C. Pembatasan Masalah……… . 4

D. Perumusan Masalah ………..……… 5

E. Manfaat Penelitian ……… 6

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Deskripsi Teori……… 7

1. Evaluasi ……… 7

a. Pengertian Evaluasi……… 7

b. Instrumen evaluasi dengan lembar kerja……… …… 9

c. Tujuan Penggunaan pertanyaan tingkat tinggi… ………….. 10

2. Tujuan Evaluasi……… ………10

3. Fungsi Evaluasi…. ... 11

4. Macam-Macam Bentuk Tes evaluasi……… 12

5. Alat-Alat Evaluasi ………. 14

6. Ketrampilan Berpikir ……….. 15

(12)

xii

c. Indikator Berpikir Kreatif ……….. 16

d. Tipe-Tipe Hasil Belajr Kognisi Taksonomi Bloom………… 16

e. Indikator Kalimat tanya tingkat tinggi ………. 21

7. Pembelajaran SKI ……… 21

a. Pengertian Pembelajaran SKI ……… 21

b. Fungsi Pembelajaran SKI ……….. 24

c. Tujuan Pembelajran SKI ………. 25

d. Ruang Lingkup Pembelajaran SKI ……….. 27

e. Pendekata dan Metode Pembelajaran SKI ……….. 29

f. Media Pembelajran SKI ……….. 31

g. Evaluasi Mata Pelajaran SKI ……….. 31

B. Kajian Penelitian yang relevan……… 33

C. Rumusan Hipotesis Tindakan……… 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ………35

1. Subyek Penelitian ………. 35

2. Waktu dan Tempat Penelitian ……… 35

3. Desain Penelitian PTK ………. 36

B. Prosedur Penelitian PTK ………. 37

C. Teknik Pengumpulan Data ……… 38

D. Teknik Analisis Data ………39

E. Indikator Keberhasilan ……... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Setting Penelitian ……… 44

B. Proses Analisa Data ……… 49

1. Hasil Penelitian Siklus 1 ……… 51

2. Hasil Penelitian Siklus 2 ……….. 56

C. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan……… 62

(13)

xiii

B. Saran – saran ……… .. 67 C. Penutup ………68

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR LAMPIRAN – LAMPIRAN

(14)

xiv

Tabel 4.1 Keadaan Siswa Madrasah Tsanawiyah YASIN ... 46

Tabel 4.2 Data guru MTs YASIN ... 47

Tabel 4.3 hasil tes pada siklus 1 ... 52

Tabel 4.4 Penilaian keaktifan dan Sikap Siswa pada siklus 1 ... 54

Tabel 4.5 Hasil tes pada siklus 2 ... 58

Tabel 4.6 Penilaian keaktifan dan Sikap Siswa pada siklus 2 ... 59

Tabel 4.7 Penyebaran distribus frekuensi hasil tes ... 63

Tabel 4.8 perbandingan hasil pngamatan siklus 1 dan siklus 2 ... 64

(15)

xv Lampiran:

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus 1 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus 2

3. Format Pengamatan tentang Penilaian Keaktifan dan Sikap Siswa Dalam Proses Pembelajaran di Kelas (Siklus 1)

4. Format Pengamatan tentang Penilaian Keaktifan dan Sikap Siswa Dalam Proses Pembelajaran di Kelas (Siklus 2)

5. Format Tentang Pengamatan Kolaborator

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan manusia, karena pendidikan merupakan usaha melestarikan dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.1

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan pengendalian dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2

Dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa: “Tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.3

Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yakni: bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotor (kemampuan/ketrampilan bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan.4

1Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, ( Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003), hlm. 5.

2Undang-undang RI, Nomor 20 tahun 2003, Tentang Sisdiknas, (Jakarta: CV. Mini Yogya Abadi, 2003 ), Cet.1, hlm. 5.

3Ibid, hlm. 9.

4 Nana Sudjana, Dasar–dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2008 ), Cet: 9 hlm 49.

1

(17)

Kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif meliputi beberapa tingkat atau jenjang. Banyak klasifikasi dibuat para ahli psikologi dan pendidikan, namun klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah yang dibuat oleh Benjamin S Bloom. Bloom membagi dan menyusun secara hirarkhis tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi.

Makin tinggi tingkat maka makin kompleks penguasaan suatu tingkat mempersyaratkan penguasaan tingkat sebelumnya.5

Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang bersifat umum (general ability) untuk membuat atau mengadakan analisa, memecahkan masalah, menyesuaikan diri, dan menarik generalisasi, serta merupakan kesanggupan berpikir seseorang. Orang yang berintelegensi tinggi akan cepat dan tepat dalam mengadakan analisa, memecahkan masalah, dan dapat menarik suatu generalisasi dari suatu masalah dengan tepat, serta cepat dalam melakukan sesuatu, dan memberikan reaksi terhadap suatu stimulus6.

Intelegensi dapat diukur dengan alat–alat tes intelegensi. Dalam melakukan tes ini seseorang disuruh melakukan suatu perbuatan (performance test) atau menjawab sejumlah pertanyaan (verbal tes).

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan–pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis–jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.

5 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), cet. 10. Hlm. 50

6 Ngalim purwanto, Psikologi pendidikan, (Bandung;Remaja rosdakarya, 2007), hlm. 52

(18)

Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan ketrampilan berpikir siswa.

Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif7.

Di MTs YASIN Wates masih banyak dijumpai guru dalam membuat pertanyaan, cenderung tidak menggali potensi siswa dalam menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan yang dibuat hanya mengacu pada menghafal, mengingat, mendefinisikan saja. Hal ini dapat dilihat pada instrumen tes yang digunakan oleh guru pada waktu ulangan harian dan mid semester. Sehingga instrumen tes yang dibuat oleh guru akan berdampak pada kemampuan berpikir siswa yang hanya berfokus pada hafalan tentang pengertian saja dan lebih cenderung sesuai dengan apa yang ada dibuku, tidak mengembangkan kemampuan kognisi siswa sampai pada tingkat berpikir analisis.

Kondisi di atas menarik perhatian penulis untuk melakukan tindakan penelitian kelas (classroom action research) dengan judul “Penggunaan Instrumen Evaluasi Dengan Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berpikir Kreatif Siswa Dalam Mata Pelajaran SKI Kelas VIII Semester Satu Di Mts Yasin Wates Kedungjati Grobogan Tahun Pelajaran 2010/2011”

B. Identifikasi Masalah

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas pada kelas VIII MTs YASIN Wates Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan tahun pelajaran 2009/2010 tentang Penggunaan Instrumen Evaluasi dengan Lembar Kerja Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir krewatif Siswa . Adapun identifikasi masalah adalah :

7 Handout, Desentralized Basic Education(DBE),

(19)

1. Instrumen Evaluasi dengan Lembar Kerja Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Pada Siswa Kelas VIII MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tidak menggunakan kalimat tanya tingkat tinggi .

2. Kemampuan Berfikir Kreatif siswa kelas VIII MTs MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan masih sederhana.

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari kemungkinan kesalahan penafsiran dengan maksud utama penulis, maka perlu dijelaskan beberapa batasan yang dianggap penting, antara lain:

1. Instrumen Evaluasi:

Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengerjgakan sesuatu; sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan sebagainya) untuk memperoleh data sebagai bahan pengolahan.8sedangkan Evaluasi adalah penilaian9. Jadi, yang dimaksud dengan instrument evaluasi disini adalah alat yang dipakai untuk melakukan penilaian yang berupa seperangkat tes. Dalam hal ini yang dimaksud dengan instrument evaluasi adalah Lembar Kerja (LK) yang disusun oleh guru di MTs YASIN Wates kelas VIII tahun pelajaran 2009/2010.

2. Kalimat tanya tingkat tinggi: pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif yang dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif. Kalimat Tanya tersebut dituangkan dalam bentuk Lembar Kerja (LK)10.

3. Taksonomi Bloom:

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian-kejadian sampai pada kemampuan berpikir

8 Trisno Yuwono-Pius Abdullah, Kamus Lengkap bahasa Indonesia Praktis, (Surabaya:

Arkola,2004) hlm. 195

9 Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), cet. 7, hlm.6

10 Handout, Desentralized Basic Education(DBE)

(20)

dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi11. Taksonomi Bloom yang dimaksud oleh penulis disini adalah yang berkaitan dengan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir yang dipakai oleh guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa yang meliputi; mengkreasi, mengevaluasi, menganalisis, menerapkan, memahami, dan mengingat.

4. Ketrampilan berpikir kreatif: ketrampilan untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk menciptakan hal-hal baru (gagasan/ide, informasi, produk, cara pandang) dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya12. Dalam hal ini adalah ketrampilan berfikir kreatif siswa di MTs YASIN Wates.

D. Perumusan Masalah

1. Bagaimana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?.

2. Bagaimana kemampuan berpikir kreatif siswa sebelum dan sesudah penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?.

3. Sejauh mana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011?.

11 Wikipedia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_Taxonomy).

12 Handout, Desentralized Basic Education(DBE)

(21)

E. Manfaat Penelitian

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini, yaitu diharapkan hasil penelitian ini memberikan manfaat yang positif, antara lain : 1. Manfaat Teoritis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan

tambahan pengembangan pendidikan utamanya dalam penyusunan dan pembuatan instrumen evaluasi dengan kalimat tanya tingkat tinggi dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

2. Manfaat Praktis, yaitu diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan manfaat yang positif, baik bagi guru maupun kepala madrasah, dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

a. Bagi Siswa, yaitu diharapkan hasil penelitian ini menjadi bahan bacaan yang berguna bagi siswa, khususnya dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir/kognisinya melalui instrumen eavaluasi.

b. Bagi Peneliti, yaitu hasil penelitian ini diharapkan lebih memotivasi peneliti sendiri untuk lebih giat dan terus mengembangkan kemampuan diri dalam melakukan penelitian tentang penggunaan instrumen evaluasi dengan kalimat tanya tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom pada mata pelajaran SKI di kelas VIII.

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. LANDASAN TEORI

1. Evaluasi

a. Pengertian Evaluasi

Menurut Purwanto evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria.1 Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, pengertian evaluasi diartikan sebagai berikut, suatu kegiatan yang dilakukan melalui kegiatan mengukur dan menilai. Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Jadi, Evaluasi adalah suatu kegiatan menilai yang dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu.2 Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai.

Dari pengertian tersebut evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan utuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.

Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E.

Grounlound sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto pengertian evaluasi sebagai berikut: ”Evaluation...a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achived by pupil”. (Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat

1 Purwanto, Op.cit., hlm. 1

2 Suharsimi arikunto, Dasar – dasar evaluasi pendidikan, (Jakarta;Bumi aksara, 2001) hlm.3

7

(23)

keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa)3.

Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pegertian yang hampir sama, Wrightstone dan kawan-kawan mengemukakan rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut: ”Educational evaluation is the estimation of the growth and progress of pupils to ward objectives or values in the curriculum”.(Evaluasi pendidikan ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.)

Dari rumusan-rumusan tersebut di atas sedikitnya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran, yaitu:4

1) Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi (dalam pengajaran) merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung, dan pada akhir program setelah program itu dianggap selesai. Yang dimaksud program disini adalah program satuan pelajaran yang akan dilaksanakan dalam satu pertemuan atau lebih, program catur wulan ataupun program semester.

2) Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang dievaluasi. Dalam kegiatan pengajaran, data yang dimaksud berupa perilaku atau penampilan siswa selama mengikuti pelajaran, hasil ulangan atau tugas-tugas pekerjaan rumah, nilai ujian akhir semester dan sebagainya. Berdasarkan data

3 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja Rosda karya,2000),cet. 10. hlm. 3

4ibid

(24)

itulah selanjutnya diambil suatu keputusan sesuai dengan maksud dan tujuan evaluasi yang sedang dilaksanakan. Perlu dikemukakan di sini bahwa ketepatan keputusan hasil evaluasi sangat bergantung kepada kesahihan dan obyektivitas data yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

3) Setiap kegiatan evaluasi-khususnya evaluasi pengajaran-tidak dapat dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Tanpa menentukan atau merumuskan tujuan-tujuan terlebih dulu, tidak mungkin menilai sejauh mana pencapaian hasil belajar siswa. Hal ini adalah karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian objek yang dinilai. Adapun tujuan pengajaran merupakan kriteria pokok dalam penilaian.5

b. Instrumen evaluasi dengan lembar kerja

Pada penggunaan lembar kerja (LK) perlu memperhatikan ciri dan komponen–komponen yang terdapat pada LK tersebut :

1) Dalam soal ada Informasi atau permasalahan yang menginspirasi siswa untuk berpikir. Perlu diperhatikan ketika di dalam LK tersebut informasinya terlalu sedikit maka akan membuat siswa tidak berdaya, sebaliknya jika informasinya terlalu banyak maka akan membatasi kreatifitas siswa.

2) Di dalam LK tersebut memunculkan pertanyaan atau perintah yang; 1) menyelidiki, 2) menemukan, 3) memecahkan masalah dan 4) mengkreasi.

5Ibid, hlm. 4

(25)

c. Tujuan penggunan pertanyaan tingkat tinggi :

1) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menciptakan hal–hal baru (gagasan/ide, produk, cara pandang) dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya.

2) Mengembangkan kemampuan siswa untuk membuat keputusan berdasarkan refleksi/perenungan, kritik, dan penilaian yang sungguh-sungguh dari siswa sendiri.6

2. Tujuan Evaluasi

Tujuan evaluasi pendidikan ialah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu, juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai dimana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan7.

3. Fungsi Evaluasi

Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran menurut Ngalim Purwanto dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yatu8: a. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta kberhasilan siswa

setelah megalami atau melakukan kegiatan beljar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi raport atau Surat tanda tamat belajar, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus atau tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).

b. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan sau

6 Handout DBE

7 Daryanto, Op.Cit.,hlm. 6

8 Ngalim Purwanto, Op.cit., hlm. 5

(26)

sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan, materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta evaluasi.

c. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya seperti antara lain:

1) Untuk membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kekuatan atau kemampuan siswa.

2) Untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau sekelompok siswa memerlukan pelayanan remedial.

3) Sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu di antara siswa.

4) Sebagai acuan dalam melayani kebuthan-kebutuhan siswa dalam rangka bimbingan karier.

d. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang besangkutan. Sedangkan dengan bahasa yang lebih ringkas, Suharsimi Arikunto menjelaskan fungsi evaluasi/penilaian, sebagai berikut:9

1) Penilaian berfungsi selektif

Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.

2) Penilaian berfungsi diagnostik

Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.

9 Suharsimi Arikunto, Op.cit, hlm 10

(27)

3) Penilaian berfungsi sebagai penempatan

Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran kan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian.

4) Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan

Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Maka ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem administrasi.

4. Macam-macam bentuk tes

Yang dmaksud dengan tes hasil belajar atau achievement test ialah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu.

Di dalam pendidikan terdapat bermacam-macam alat penilaian yang dapat dipergunakan untuk menilai proses dan hasil pendidikan yang telah dilakukan terhadap anak didik.

Seperti dikemukakan oleh Ngalim Purwanto dalam bukunya, Evaluation in Modern Education, Wrightstone menggolongkan macam-macam alat evaluasi itu menjadi sembilan pokok, yaitu10:

a. Short answer test

b. Essay and oral Examinations

10 Ngalim Purwanto, Op.Cit, hlm. 65

(28)

c. Observation and Anecdotal Records d. Questionaries, Inventories and Interviews.

e. Checklist and Rating Scales

f. Personal Report and Projective Techniques g. Sociometric Methods

h. Case Studies i. Cumulative Record

Untuk melaksanakan evaluasi hasil mengajar dan belajar itu, seorang guru dapat menggunakan dua macam tes, yakni tes yang telah distandarkan (standarized test) dan tes buatan guru sendiri (teacher-made test).

Yang dimaksud dengan standarized test ialah tes yang telah mengalami proses standarisasi, yakni proses validasi dan keandalan (reliability) sehingga tes tersebut benar-benar valid dan andal untuk suatu tujuan dan bagi suatu kelompok tertentu.

Suatu tes disebut andal (dapat dipercaya) jika tes tersebut menunjukkan ketelitian dalam pengukuran. Ketelitian itu berlaku untuk setiap orang yang diukur dengan tes yang sama. Dengan kata lain, keadaan suatu tes dapat ditentukan dengan menggunakan tes yang sama pada kelompok murid yang sama dalam kondisi yang sama. Jika tes itu andal, maka skor hasil tes yang dibuat murid itu tetap sama.

Adapun perbedaan tes standar dengan tes buatan guru adalah sebagai berikut:

a. Standarized achievement test

1) Didasarkan atas isi dan tujuan-tujuan umum bagi sekolah-sekolah (yang sejenis) di seluruh negara atau daerah.

2) Berhubungan dengan bagian-bagian yang luas dari pengetahuan, kecakapan, atau ketramplan, biasanya dengan hanya sejumlah item yang diperlukan untuk mengukur suatu skill atau topik tertentu.

(29)

3) Dikembangkan dengan bantuan penulis-penukis profesional, para ahli mereview, dan editor-editor soal tes.

4) Menggunakan item-item yang telah di-try out-kan, dianalisis, dan direvisi sebelum menjadi bagian dari tes itu.

5) Memiliki keadaan yang tinggi.

6) Memiliki ukuran-ukuran (norms) untuk bermacam-macam kelompok yang secara luas mewakili performance seluruh negara atau daerah.

b. Teacher–made test

1) Berdasarkan isi dan tujuan-tujuan khusus untuk kelas atau sekolah di tempat guru itu mengajar.

2) Dapat menyangkut topik, kecakapan, atau ketrampilan khusus dan tertentu, tetapi dapat juga menyangkut bagian-bagian yang lebih luas dari pengetahuan dan ketrampilan.

3) Biasanya dikembangkan oleh seorang guru dengan sedikit atau tanpa bantuan dari luar.

4) Menggunakan item-item yang jarang atau tidak pernah di-try out-kan, dianalisis, atau direvisi sebelum menjadi bagian dari tes tersebut.

5) Memiliki keandalan yang rendah atau sedang saja.

6) Biasanya terbatas pada suatu kelas atau sekolah sebagai kelompok pemakainya.

5. Alat – alat evaluasi :

a. Teknik non tes, yang meliputi:

1) Skala bertingkat (rating scale) 2) Kuesioner( questionair) 3) Daftar cocok (check list) 4) Wawancara ( interview) 5) Pengamatan (observation) 6) Riwayat hidup.

(30)

b. Teknik Tes, yang meliputi:

1) Tes diagnostik 2) Tes formatif 3) Tes sumatif 6. Ketrampilan Berpikir

a. Pengertian Berpikir

Berpikir adalah satu keaktipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada satu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman/pengertian yang kita kehendaki.11

Orang berpikir menggunakan pikirannya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan intelegensiya. Intelegensi dapat diilustrasikan dengan kemampuan memahami sesuatu, makin tinggi intelegensi seseorang, maka makin cepat ia memahami sesuatu yang dihadapi, problem dirinya sendiri, dan problem lingkungannya.12 b. Berbagai macam cara berpikir

1) Berpikir induktif

Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri–ciri atau sifat–sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan–

kesimpulan bahwa ciri–ciri/sifat–sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tersebut.

2) Berpikir Deduktif

Berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip atau kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum.

11 Edmund Bachman, Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2005), hlm 82

12 Mustaqim, Psikologi pedidikan, Fak. Tarbiyah Semarang, T.t, T.p

(31)

Kemudian, ia menerapkannya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.

3) Berpikir Analogis

Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena–fenomena yang biasa/pernah dialami. Di dalam cara berpikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena–fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.

c. Indikator Berpikir Kreatif

Indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk, alat untuk mendeteksi (memberikan keterangan).13 Dalam penelitian ini penulis menentukan indikator berpikir kreatif sebagaimana yang diungkapkan oleh Munandar dan dikutip oleh eko13.wordpress.com adalah sebagai berikut: 1) Dorongan ingin tahu besar, 2) Sering mengajukan pertanyaan yang baik, 3) Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah, 4) Bebas dalam menyatakan pendapat 5) Mempunyai rasa keindahan. 6) Menonjol dalam salah satu bidang seni. 7) Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. 8) Daya imajinasi kuat. 9) Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain) 10). Dapat bekerja sendiri. 11) Senang mencoba hal-hal baru. 12) Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)

d. Tipe-tipe Hasil Belajar Kognisi taksonomi Bloom

Dalam menyusun tes perlu diperhatikan tipe hasil belajar atau tingkat kemampuan berpikir mana saja yang akan diukur atau dinilai. Untuk menentukan tipe hasil belajar atau tingkat kemampuan berpikir mana saja

13 Novianto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Solo: Bringin 55, 2000), hlm. 230

(32)

yang akan dinilai, penyusunan tes dapat berpedoman kepada tujuan atau kompetensi dasar dan standar kompetensi yang akan dinilai atau kepada tujuan evaluasi itu sendiri.

Bloom membagi tingkat kemamuan atau tipe hasil belajar yang termasuk aspek kognitif menjadi enam, yaitu pegetahuan hafalan, pemahaman atau komprehensi, penerapan aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.14

1) Yang dimaksud dengan pegetahuan hafalan atau yang dikatakan Bloom dengan istilah knowledge ialah tingkat kemampuan yang hanya meminta responden atau testee untuk mengenal atau mengetahui adanya konsep, fakta, atau istilah-istilah tanpa harus mengerti, atau dapat menilai, atau dapat menggunakannya. Dalam hal ini testee biasanya hanya dituntut untuk menyebutkan kembali (recall) atau menghafal saja. Perlu kiranya dikemukakan di sini bahwa, dilihat dari segi bentuknya, tipe tes yang paling anyak dipakai untuk mengungkap pengetahuan hafalan adalah tipe melengkapi (completetion type), tipe isian (fill-in), dan tipe dua pilihan (true-false).

2) Yang dimaksud dengan pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapka testee mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini testee tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan.pengetahuan komprehensi dapat dibedakan dalam tiga tingkatan, yaitu:

a) Pengetahuan komprehensi terjemahan seperti dapat mejelaskan arti Bhinneka tunggal ika dan dapat menjelaskan fungsi hijau daun bagi suatu tanaman.

14http://educate.intel.com/id/ProjectDesign/ThinkingSkills/ThinkingFrameworks/Bloom_Taxonomy.ht m

(33)

b) Pengetahuan komprehensi penafsiran seperti dapat menghubungka bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya.

c) Pengetahuan komprehensi ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi seseorang diharapkan mampu melihat di balik yang tertulis, atau dapat membuat ramalan tentang konsekuensi sesuatu, atau dapat memperluas persepsinya dalam arti waktu, dimensi, kasus, atau masalahnya.

Kata kerja operasional yag biasa dipakai, diantaranya: membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, megatur, menginerpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, mengambil kesimpulan.

3) Kemampuan berpikir yang ketiga adalah aplikasi atau penerapan. Dalam tingat aplikasi, testee atau responden dituntut kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang telah diketahuinya dalam situasi yang baru baginya. Dengan kata lain, aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut dapat berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Kata kerja operasional penguasaan aplikasi antara lain: menggunakan, menerapkan, menggeneralisasikan, menghubungkan, memilih, mngembangkan, mengorganisasi, menyususn, mengklarifikasikan, mengubah struktur.

4) Tingkat kemampuan analisis, yaitu tingkat kemampuan testee untuk menganalisis atau menguraikan suatu integritas atau suatu situasi tertentu ke dalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tingkat analisis testee diharapkan dapat memahami dan sekaligus dapat memilah-milahnya menjadi bagian-bagian. Hal ini dapat berupa kemampuan untuk memahami dan menguraikan bagaimana proses terjadinya sesuatu, cara bekerjanya sesuatu, atau mungkin juga sistematikanya. Kata kerja operasional jenjang analisis, antara lain:

membedakan, menemukan, mengklasifikasikan, mengategorikan, menganalisis, membandingkan, mengadakan pemisahan.

(34)

5) Tipe hasil belajar yang kelima adala tingkat kemampuan sintesis. Yang dimaksud dengan sintesis ialah penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam suatu bentuk yang menyeluruh. Dengan kemampuan sintesis seseorang dituntut untuk dapat menemukan hubungan kausal atau urutan tertentu, atau menemukan asbstraksinya yang berupa integritas. Tanpa kemampuan sintesis yang tinggi, seseorang akan hanya melihat unit-unit atau bagian-bagian secara terpisah tanpa arti. Berpikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Dan berpikir kreatif ini merupakan salah satu hasil yang dicapai dalam pendidikan. Kata kerja operasional yang digunakan antara lain; menghubungkan, menghasilkan, mengkhususkan, mengembangkan, menggabungkan, mengorganisasi, mensintesis, mengklasifikasikan, menyimpulkan.

6) Tipe hasil belajar kognitif yang terakhir adalah evaluasi. Dengan kemampuan evaluasi, testee diminta untuk memuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan, konsep, situasi, dsb. Berdasarkan suatu kriteria tertentu.

Kegiatan penilaian dapat dilihat dari segi tujuannya, gagasannya, cara bekerjanya, cara pemecahannya, metodenya, materinya, atau lainnya.

Bentuk evaluasi berdasarkan kriteria internal dapat berua mengukur probabilitas suatu kejadian; menerapkan kriteria tertentu pada hasil suatu karya; mengenal ketepatan, kesempurnaan dan relevansi data; membedakan valid tidaknya generalisasi, argumentasi, dan semacamnya; mengetahui adanya pengulangan yang tidak perlu. Kata kerja operasional yang digunakan diantaranya; Menafsirkan, menilai, menentukan, mempetimbangkan, membandingkan, melakukan, memutuskan, mengargumentasikan, menaksir.

Secara lebih ringkas tingkatan berpikir taksonomi Bloom tersebut yang dapat dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom:

(35)

1) Mengkreasi: menghasilkan ide–ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.

kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.

2) Mengevaluasi; menilai suatu keputusan atau tindakan, kemampuan kognitif yang berhubungan dengan kemampuan dalam menilai dan membuat keputusan terhadap situasi yang di hadapi.15

Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.

3) Menganalisis; memecah sebuah entitas ke dalam elemen–elemen konstituennya16. Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan, atau kemampuan menguraikan sebuah konsep dan menjelaskan saling keterkaitan komponen–komponen yang terdapat di dalamnya.

Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.

4) Menerapkan/aplikasi; menggunakan informasi dalam situasi lain yang terkait dengan kemampuan dalam menerapkan prinsip dan aturan yang telah di pelajari sebelumnya.

Kegiatan : menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan.

5) Memahami; merupakan kemampuan dalam menjelaskan dan mengartikan suatu konsep.

Kegiatan: menginterpretasi, menerangkan, mengelompokkan, menerangkan.

6) Mengingat; kemampuan dalam mengidentifikasi dan menyebutkan informasi dan data faktual.

Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan.

15 Beny Pribadi, Model desain sistem pembeajaran, (Jakarta: Dian rakyat, 2009) hlm. 16

16 John Adari, Berpikir kreatif, berpikir sukses, (Yogyakarta : Rumpun, 2009) hlm. 72

(36)

e. Indikator Kalimat Tanya tingkat tinggi

Untuk mempermudah dalam memahami tentang penggunaan kalimat tanya tingkat tinggi, maka dalam penelitian ini ditentukan indikator kalimat tanya tingkat tinggi, yaitu: 1) Kalimat tanya yang mengukur tentang kemampuan analisis (C4), dengan kata kerja operasional yang dipakai adalah; membedakan, menemukan, mengklasifikasikan, mengategorikan, menganalisis, membandingkan, dan mengadakan pemisahan. 2) kalimat tanya yang mengukur tingkat kemampuan sintesis (C5), dengan kata kerja operasional yang digunakan meliputi; menghubungkan, menghasilkan, mengkhususkan, mengembangkan, menggabungkan, mengorganisasi, mensintesis, mengklasifikasi dan menyimpulkan.

7. Pembelajaran SKI

a. Pengertian Pembelajaran SKI

Pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya

“pengajaran” adalah upaya untuk membelajarkan siswa.17Oemar Hamalik menuturkan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.18 Pembelajaran yang efektif menurut M. Sobry Sutikno adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan.19Pembelajaran menurut Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid dalam kitabnya “At-Tarbiyah wa al-Turuku al-Tadris” adalah :

17 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 183.

18 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 57

19 M. Sobry Sutikno, Pembelajaran Efektif: Apa dan bagaimana mengupayakannya?, (Mataram: NTP Press, 2005), hlm. 37

(37)

,

.

Ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai berikut; Adapun pembelajaran itu terbatas pada pengetahuan dari seorang guru kepada murid.

Pengetahuan itu yang tidak hanya terfokus pada pengetahuan normatif saja namun pengetahuan yang memberi dampak pada sikap dan dapat membekali kehidupan dan akhlaknya.

Dalam buku Educational Psychology dinyatakan bahwa learning is an active process that needs to be stimulated and guided toward desirable outcomes.21 (Pembelajaran adalah proses aktif yang membutuhkan rangsangan dan tuntunan untuk menghasilkan hasil yang diharapkan). Dan pada dasarnya pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan peserta didik, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Proses pembelajaran harus diupayakan dan selalu terikat dengan tujuan (goal based). Oleh karenanya, segala interaksi, metode dan kondisi pembelajaran harus direncanakan dan mengacu pada tujuan pembelajaran yang dikehendaki.

Menurut E. Mulyasa bahwa proses pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses interaksi para peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku yang baik. Dalam interaksi tersebut banyak diketahui oleh faktor internal yang dipengaruhi oleh diri sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari lingkungan pembelajaran, tugas

20 Sholih Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Turuku At-Tadris, (Mesir: Darul Ma’arif, 1968), Juz I, hlm. 61.

21 Lester D. Crow and Alice Crow, Educational Psychology, (New York: American Book Company, 1958), hlm. 225.

(38)

seorang guru yang utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang perubahan perilaku peserta didik.22

Sebagai salah satu mata pelajaran yang mengandung muatan ajaran Islam dan tatanan nilai kehidupan Islami, pembelajaran SKI perlu diupayakan melalui perencanaan yang baik agar dapat mempengaruhi pilihan, putusan dan pengembangan kehidupan peserta didik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran SKI yaitu :23

1) Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.

2) Peserta didik disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam arti dibimbing, diajari atau dilatih dalam meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.

3) Pendidik melakukan kegiatan bimbingan dan latihan secara sadar terhadap peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.

4) Kegiatan pembelajaran PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam peserta didik.

Pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan siswa atau bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan dorongan oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu pembelajaran berupaya menjabarkan nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum dengan menganalisa tujuan pembelajaran dan karakteristik isi bidang studi pendidikan agama yang terkandung dalam kurikulum. Selanjutnya dilakukan kegiatan untuk memilih, menetapkan dan mengembangkan cara-cara (strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang

22 E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 100.

23 Muhaimin, et. al. Op. Cit., hlm. 76.

(39)

ditetapkan sesuai dengan kondisi yang ada agar kurikulum dapat diaktualisasikan dalam proses pembelajaran sehingga belajar terwujud dalam peserta didik.24

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pengertian pembelajaran agama Islam adalah proses pendidikan yang memfokuskan untuk mempelajari agama Islam sehingga siswa menguasai tiga aspek (afektif, kognitif dan psikomotorik) yang berkaitan dengan masalah Islam, karena pembelajaran agama Islam suatu upaya untuk membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan.25

b. Fungsi Pembelajaran SKI

Kurikulum pendidikan agama Islam mata pelajaran SKI untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut:26

1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah Swt yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

2) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

24 Muhaimin, et.al, Op. Cit., hlm. 145

25Muhaimin, Op.Cit., hlm. 183.

26Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), cet. II, hlm. 134-135.

(40)

3) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

4) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

5) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

6) Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nya), sistem dan fungsi nasionalnya.

7) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.

c. Tujuan Pembelajaran SKI

Tujuan pendidikan merupakan akhir dari pelaksanaan proses pendidikan di sekolah, karena sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki landasan dan pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan pendidikan agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.27

Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus

27 Chabib Thoha dan Abdul Mu’thi, PBM-PAI di Sekolah, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 1989), hlm. 181-182.

(41)

berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa, dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Kurikulum PAI: 2002).

Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam pendidikan.

Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak.

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:

1) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah saw dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

2) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yan merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.

3) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

4) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.

5) Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik,

(42)

ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain utuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.28

d. Ruang Lingkup Pembelajaran SKI

Kegiatan pendidikan agama Islam adalah pengajaran agama Islam.

Islam adalah ajaran yang berisi tentang cara hidup yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, ajaran itu berwujud prinsip atau pokok-pokok yang disesuaikan dengan kebutuhan umat manusia menurut keadaan dan kebutuhan, bahkan disesuaikan dengan kebutuhan manusia secara keseluruhan, yang dapat berlaku dalam segala masa dan tempat.

Ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup usaha mewujudkan keserasian, keselarasan, keseimbangan hubungan antara manusia dengan Allah SWT, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia terhadap makhluk lain dan lingkungannya.

Hal ini dimaksudkan agar segala hubungan dan aktivitas manusia sesuai dengan syariat Islam.

Ruang lingkup Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah meliputi:

1) Pengertian dan tujuan mempelajari sejarah kebudayaan Islam 2) Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Makkah 3) Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Madinah 4) Memahami peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin

5) Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasi Bani Umaiyah 6) Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasi Bani Abbasiyah 7) Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasi Bani Al Ayyubiyah 8) Memahami perkembangan Isam di Indonesia.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

28 Peraturan Menteri Agama RI nomor 2 tahun 2008 tentang iStanar kompetensi lulusan dan standar isi PAI dan Bahasa Arab di Madrasah.

(43)

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran SKI kelas VIII adalah sebagai berikut:

Kelas VIII, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR 1. Memahami perkembangan

Islam pada masa Bani Abbasiyah

1.1 Menceritakan sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah

1.2 Mendeskripsikan perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah

1.3 Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah 1.4 Mengambil ibrah dari

perkembangan

kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah untuk masa kini dan yang akan datang

1.5 Meneladani ketekunan dan kegigihan Bani Abbasiyah

Kelas VIII, Semester 2

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR 2. Memahami perkembangan

Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah

2.1 Menceritakan sejarah berdirinya Dinasti al-Ayyubiyah

2.2 Mendeskripsikan perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti al-Ayyubiyah 2.3 Mengidentifikasi tokoh ilmuwan

muslim dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah

2.4 Mengambil ibrah dari perkembangan

kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti al-Ayyubiyah untuk masa kini dan yang akan datang 2.5 Meneladani sikap keperwiraan

Shalahuddin al-Ayyubi

(44)

e. Pendekatan dan Metode Pembelajaran SKI

Pendekatan diartikan sebagai orientasi atas cara memandang terhadap sesuatu. Pendekatan yang berbeda tentu akan berdampak pada pengambilan langkah-langkah yang berbeda pula. Mulyasa menawarkan tujuh pendekatan dalam pembelajaran SKI yang berbeda dengan pendekatan di atas.

Pendekatan-pendekatan tersebut meliputi:

1) Pendekatan Keimanan, yaitu mendorong peserta didik untuk mengembangkan pemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah Swt sebagai sumber kehidupan makhluk sejagad ini.

2) Pendekatan Pengalaman, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

3) Pendekatan Pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan untuk membiasakan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan.

4) Pendekatan Rasional, yaitu usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dan standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dan buruk dalam kehidupan.

5) Pendekatan Emosional, yaitu upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam dan budaya bangsa.

6) Pendekatan Fungsional, yaitu menyajikan bentuk standar materi (Al- Qur’an, Keimanan, Akhlak, Fiqh, Ibadah dan Tarikh) yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

(45)

7) Pendekatan Keteladanan, yaitu pembelajaran yang menempatkan figure guru agama dan non agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik, sebagai cerminan m.anusia berkepribadian agama.29

Selain pendekatan dalam pembelajaran hal lain yang sangat penting adalah metodologi yang digunakan dalam pembelajaran tersebut. Banyak metode pembelajaran yang ditawarkan oleh para akademisi dan pakar pendidikan, di antara metode-metode pembelajaran tersebut, seperti yang diungkap oleh Mulyasa adalah30:

1) Metode Demonstrasi, dengan metode ini guru memperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara kerja alat kepada siswa.

2) Metode Penemuan, Penemuan merupakan metode yang menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil.

3) Metode eksperimen, Merupakan metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan dan peralatan laboratorium, baik secara kelompok ataupun individual.

4) Metode Karyawisata, Metode karyawisata merupakan perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, Terutama pengalaman secara langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah.

5) Metode Ceramah, dengan metode ini guru menyajikan bahan melalui penuturan atau penjelasan secara langsung.

6) Metode Problem Solving, metode pemecahan masalah merupakan suatu metode pengajaran yang mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan persoalan-persoalan.

29 Abdul Majid, Op. cit. hlm 28

30 Mulyasa, op. cit., hlm. 107-116

(46)

Metode-metode lain yang dapat digunakan dalam proses belajar agama diantaranya metode analisis, metode problem solving, ceramah, tanya jawab, pemberian tugas, analogi, sinektik dan sebagainya.31

f. Media Pembelajaran SKI

Dengan media pengajaran diharapkan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.

Jadi, media adalah sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Media merupakan sesuatu yang bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.32

g. Evaluasi Mata Pelajaran SKI

Evaluasi pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan dibidang pendidikan agama Islam.33 Dengan kata lain evaluasi adalah alat untuk mengukur sampai dimana kemampuan penguasaan siswa terhadap pelajaran yang telah diberikan.

Sesuai dengan fungsi dan tujuannya evaluasi terhadap siswa di sekolah, digolongkan atas 4 macam, yaitu:34

1). Evaluasi formatif

Yaitu evaluasi hasil belajar pada akhir setiap satuan pelajaran.

Evaluasi ini untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan remedial program siswa.

2). Evaluasi sumatif

31 Abdul Majid, op. cit., hlm. 100

32 Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipa, 2007), cet.4. hlm. 12

33 Zuhairini, et.al., Op. Cit., hlm. 87

34Ibid

(47)

Adalah evaluasi hasil belajar jangka panjang, yaitu evaluasi hasil belajar pada akhir catur wulan akhir tahun ajaran dari keseluruhan program.

Evaluasi ini untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar lebih lanjut untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan sebagai laporan kepada orang tua.

3). Evaluasi placement (penempatan)

Yaitu evaluasi untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat atau program pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.

4). Evaluasi diagnostik

Untuk mengenal latar belakang siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan belajar yang dialami.

Sesuai dengan jenisnya, evaluasi SKI dapat dibagi menjadi 3 macam:

a) Evaluasi harian, yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan sehari-hari baik diberitahukan lebih dahulu atau tidak.

b) Ulangan umum, yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan pada akhir catur wulan atau semester

c) Evaluasi pada akhir tahun ajaran terhadap murid tingkat akhir.

Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan agama ada dua macam cara yang dapat ditempuh:

(1) Kuantitif : yaitu hasil evaluasi yang diberikan dalam bentuk angka, misalnya: 6, 7, 65, 70, 75 dan seterusnya.

(2) Kualitatif: yaitu hasil evaluasi yang diberikan dalam bentuk pernyataan verbal, misalnya baik, cukup, kurang dan sebagainya.35

35Ibid., hlm. 155-158.

(48)

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

Telaah pustaka dalam penelitian ilmiah dijadikan sebagai bahan rujukan untuk memperkuat kajian teoritis dan memperoleh informasi yang berkaitan dengan topik pembahasan.

Dalam penulisan skripsi ini, selain peneliti menggali informasi dari buku- buku yang ada kaitannya tentang penggunaan instrument evaluasi dengan kalimat Tanya tingkat tinggi untuk meningkatkan ketrampilan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran SKI, peneliti juga menggali informasi dari skripsi terdahulu sebagai bahan pertimbangan. Yaitu;

Implementasi Evaluasi Afektif bidang studi Akidah Akhlak di MAN 1 Semarang (2007) oleh: Dliyaurrohman (03102269). Hasil penelitian menunjukkan bahwa imlementasi valuasi afektif bidang study Akidah Akhak yang diterapkan oleh guru Akidah Akhlak di MAN Semarang I adalah lebih dominan memakai teknik studi kasus, dimana dalam menilai (afektif) siswa guru lebih menekankan perhatiannya kepada siswa siswi yang mengalami kasus tertentu seperti dalam hal pelanggaran kedisiplinan dan tata tertib sekolah, atau bagi siswa yang mempunyai permasalahan pribadi yang bisa mengganggu konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran akidah akhlak. Adapun cara guru untuk mendapatkan data/informasi tentang bagaimana dan kenapa siswa mengalami masalah, guru memakai teknik observasi tak terstruktur dan wawancara bebas. Dalam hal ini kerjasama dengan berbagai pihak seperti guru BK, wali kelas, guru lain serta pihak sekolah menjadi suatu keniscayaan.

Pelaksanaan evaluasi Pendidikan Agama Islam Program Akselarasi di SMPN 2 Semarang tahun pelajaran 2006/2007. Oleh Agus Soleh Badrudin:

3102319.bHasil penelitian dapat diungkapkan bahwa pada dasarnya pelaksanaan evaluasi PAI program akselarasi di SMPN 2Semarang pada umumnya sama/tidak jauh berbeda dengan program reguler, hanya saja ada beberapa perbedaannya, antara lain: dari segi soal yang lebih berbobot/tingkat kesukarannya lebih tinggi, dan dari segi alokasi waktu yang lebih singkat dibanding kelas reguler. Hal ini

(49)

dilakukan karena pada kelas akselarasi merupaka kelas unggulan bagi mereka- mereka yang mempunyai kecerdasan diatas kelas reguler. Sehingga sangat wajar apabila dibedakan dalam hal tingkat kesukaran soal dan alokasi waktu dalam mengerjakan tes, oleh karena itu, peserta didik dari program kelas akselarasi dituntut untuk bisa melaksanakannya secara cepat.

Dari kedua penelitia yang terdahulu terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian penulis lakukan. Persamaan penelitiannya adalah pada bidang kajian yang diteliti yaitu tentang evaluasi, sedangkan perbedaannya adalah;

perbedaan pertama, Saudara Dliyaurrohman lebih berkonsentrasi pada evaluasi domain efektif, dan Saudara Dliyaurrohman meneliti evaluasi pada program akselarasi, sedangkan peneliti pada instrumen evaluasi dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom. Perbedaan yang kedua, Pada mata pelajaran, Saudara Agus Soleh Badrudin pada mata pelajaran Akidah Akhlak dan Saudara Dliyaurrohman pada mata pelajaran PAI, sedangkan peneliti pada mata pelajaran SKI. 3. Bidang kajian yang diteliti, peneliti mengkaji penggunaan instrumen evaluasi, sedangkan yang terdahulu tidak menuliskan secara spesifik evaluasi yang diteliti.

C. Rumusan Hipotesis Tindakan

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut: Penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas VIII semester satu di MTs YASIN Wates Kedungjati Grobogan tahun pelajaran 2010/2011.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa pengertian mengenai komunikasi yang dipaparkan diatas penulis memahami bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran pesan atau informasi antara dua orang

Penelitian ini mengukur jumlah gas rumah kaca dari perkebunan kakao dan menguraikan stok (cadangan) karbon dari perkebunan, yaitu jumlah karbon yang tersimpan dalam tanah,

• Hal inilah yang menyebabkan kebutuhan arus proteksi ICCP spesimen dengan kondisi cacat coating yang sama pada penelitian meningkat seiring dengan naiknya temperatur

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.06/2005 tanggal 9 November 2005 dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Efisiensi yang diterapkan pada perancangan ini adalah penataan ruang dalam kawasan pusat kota dengan ruang terbuka yang dapat difungsikan sebagai tempat parkir (parkir

Variabel keberadaan TPI dibagi lagi menjadi 9 variabel yaitu : Keberadaan fasilittas TPI, fungsi fasilitas TPI, standar pelayanan yang diberikan petugas TPI dalam menjaga

Untuk mendapatkan rendemen arang dan cuka kayu yang tinggi maka sebaiknya menggunakan bahan baku dengan ukuran 5 cm dan lama pembakaran kurang dari 10 jam, untuk penghematan

1) Air Bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus sesuai dengan persyaratan dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990