Tiga Harapan Di Sepertiga Malam
Ditulis oleh Natalie Kurniawan Saat itu masih pukul enam pagi ketika kamu berjalan sendirian dengan perlahan di lorong sekolah menuju kelas. Kamu bergidik ngeri, bahkan cahaya matahari belum sempurna menyelimuti bumi tetapi kamu telah datang ke sekolah. Entah setan apa yang merasukimu sehingga kamu datang sepagi ini. Kamu terdiam, merasakan angin dingin yang menyapa kulitmu pelan. Dari pikiranmu mulai bermunculan berbagai macam cerita menyeramkan yang telah kamu dengar entah itu dari Bu Iyem, penjaga kantin, atau dari teman-teman sekelasmu mengenai kejadian menyeramkan di sekolahmu. Entah itu rumor bahwa sekolahmu bekas kuburan, atau ada sosok wanita berambut panjang yang akan mengganggumu jika kamu duduk sendirian.
Kamu menggelengkan kepalamu kuat, ‘Mana mungkin ada hal seperti itu disini,’
ucapmu dalam hati sambil menurunkan kursimu. “Kenapa geleng-geleng, Nat?” tiba-tiba muncul sebuah suara yang mengagetkan. “Eh copot ayam bebek! ... astaga Rey, kamu mengagetkanku saja,” kamu menghela nafas ketika mendapati sahabatmu, Rey, berdiri disampingmu. Kamu mengelus dadamu perlahan, menenangkan jantungmu yang hampir loncat indah sambil duduk di bangku milikmu. Bibirnya tertarik lebar dari ujung ke ujung menertawakan reaksimu tadi, benar-benar manusia usil. Ia meletakkan tasnya lalu menurunkan bangkunya dan medudukkan dirinya di sebelahmu.
“Lagi? Tumben?” tanyamu kepada sosok yang sedang bertumpu dengan lengannya, merebahkan kepalanya di meja sementara lengan lainnya terjulur. “Malas di rumah. Berisik.
Aku salah terus,” ucapnya menjawab pertanyaanmu sambil menyamankan posisinya. Kamu tersenyum singkat, mengambil jaketmu dan meletakkannya di bahu sahabatmu itu. “Tidurlah, bel masuk masih lama.” Tuturmu kepadanya lalu mengeluarkan ponsel pintarmu. Sambil memperhatikannya, tatapanmu tertuju pada banyak luka sayatan pada pergelangan tangan yang pasi itu. “Rey, itu luka apa?” tanyamu sambil menatapi pergelangan tangannya.
Hening. Rey tidak menjawab pertanyaanmu. Padahal kamu yakin suaramu cukup terdengar untuk Rey. Kedua alis mu mengkerut, tidak biasanya Ia seperti ini. Beberapa hari ini, Ia selalu datang pagi, atau bahkan lebih pagi darimu dan jarang sekali mau pulang ke rumah. Sering kali Ia menginap di rumahmu tanpa alasan dan kamu pernah mendapati banyak
luka lebam di punggung dan lengannya. Kamu bertanya-tanya apa yang terjadi, namun Rey tidak pernah sekalipun memberikan keterangan. “Aku baik-baik saja,” itu adalah jawaban mutlak yang selalu Ia berikan kepadamu. Aneh. Ia tidak seperti Rey yang kamu kenal.
Waktu terus berjalan dan hari pun berlalu dengan cepat, bel sekolah berbunyi menandakan jam pulang sekolah yang sangat ditunggu-tunggu. “Nat, besok libur nih. Aku ke rumahmu ya? Bermalam boleh ya? Makan juga boleh ya?” tanya Rey sambil mengangkat kursi dan memakai tasnya. “Boleh, boleh, boleh.” Kamu menjawab pertanyaan beruntun yang itu sambil melangkah keluar dari kelas diikuti Rey dibelakangmu. Kalian berjalan pulang beriringan dan ketika sampai di teras rumahmu, Ia langsung merebahkan dirinya di lantai seperti orang yang habis lari maraton. Kamu menggeleng melihat kelakuan sahabatmu itu.
“Jangan berlebihan, rumahku hanya jalan kaki 5 menit dari sekolah ini,” ucapmu meraih kerah belakang Rey lalu menariknya masuk ke dalam dan hanya dibalas tawa olehnya.
Setelah kalian berganti pakaian dan makan siang, kalian duduk di balkon rumahmu dan bersantai. Semilir angin sejuk yang membelai muka kalian membuat kalian berdua mengantuk. “Eh, Rey, ayo kerja PR dulu daripada lupa,” ajakmu kepada Rey yang sedang menatap langit. “Nanti, aku lagi malas.” Ucapnya tegas. Kamu terdiam, lagi-lagi bingung.
Sosok Rey yang biasanya sangat rajin, yang biasanya selalu mau belajar, yang biasanya selalu mendapat juara kelas kini menjadi seperti ini. Apa yang terjadi? Kenapa dia seperti ini?
Banyak tanda tanya bermunculan dari pikiranmu. “Nat, aku pengen tidur terus deh? Tidak mau bangun lagi.” Pernyataan yang mengejutkan itu keluar dari mulutnya. Kamu sedikit terkejut lalu menoleh kepadanya, “Maksudnya? ... Kamu jangan bicara yang aneh-aneh.”
Pertanyaanmu hanya dibalas kekehan olehnya. “Ntah, mungkin aku sudah mengantuk.”
Ucapnya lalu membalikkan badan.
Tidak lama setelah itu, kamu bisa mendengar dengkuran dari Rey yang tengah tertidur pulas disampingmu. Kamu masuk dan mengambil selimut untuknya, lalu kembali lagi duduk disampingnya. Ketika kamu membuka ponsel pintarmu, kamu tertarik dengan satu berita yang berjudulkan ‘11 Juta Remaja Indonesia Terkena Depresi, Kenali Cirinya Sebelum Terlambat’ dan kamu membuka artikel tersebut. Pandanganmu terbuka luas, mengenai depresi yang dapat mengenai siapa saja tanpa ada batasan umur atau mengenai tanda-tanda serta dampak yang diberikan. Dari artikel tersebut, kamu teringat beberapa ciri-ciri yaitu
‘Hilangnya minat dalam melakukan aktivitas’, ‘Merasa sedih dan tidak punya harapan hidup’, dan ‘Berpikir untuk bunuh diri’ dan banyak ciri yang terjadi pada Rey. Kamu merasa
kamu perlu membicarakan ini pada orang tua Rey nanti. Semua orang harus tahu bahwa kesehatan mental itu penting terlepas dari berapapun usianya dan kamu harap orang tua Rey juga mengerti akan hal itu.
Selagi Rey tertidur pulas, kamu berencana untuk menemui kedua orangtuanya. Kamu beranjak dari sofa dengan perlahan agar tidak membangunkan Rey, lalu bersiap-siap pergi.
Kakimu melangkah mantap menuju kediaman sahabatmu yang terletak dua kompleks dari rumahmu. Sampai di depan kediamannya, kamu melihat mobil milik keluarga Rey terparkir disana yang berarti kedua orangtua Rey ada di dalam rumah itu. Ragu menghampirimu, rasanya kamu terlalu ikut campur dalam urusan Rey, tetapi untuk kebaikan Rey kamu melawan rasa takut tersebut dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Pintu coklat yang terbuat dari kayu jati itu kamu ketuk, selang detik kemudian, pintu itu terbuka menampilkan sosok Ibu Rey dibaliknya.
“Eh Nak Nata, ada apa datang kemari, Nak? Mencari Rey? Rey nya belum pulang ke rumah,” tutur Ibunya Rey ketika melihatmu di depan pintu. “Oh tidak kok Tante, Rey dirumah saya. Saya mau minta izin Rey menginap di rumah saya ... sekalian ada yang ingin saya bicarakan dengan Om dan Tante.” Jelasmu kepada Ibunya. Ibunya mempersilahkan kamu masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu kedua orangtua Rey duduk bersama di ruang tamu. Kamu sedikit merasa tertekan akan hal ini, tetapi akhirnya kamu memberanikan diri untuk membicarakannya. “Bicara tentang apa, Nak?” tanya Ayahnya Rey kepadamu.
“Jadi gini Om, Tante, saya merasa kalau belakangan ini Rey berubah menjadi lebih pendiam dan juga lebih sering bermalas-malasan. Saya juga menyadari bahwa terdapat beberapa luka di badan Rey. Apakah Om dan Tante tahu apa penyebabnya?” tuturmu kepada orangtua Rey. “Rey pernah beberapa kali berkata bahwa Ia sedang depresi, tetapi tidak terlalu kami gubris karena mungkin dia hanya berkhayal dan itu jadi alasan dia untuk bermalas- malasan,” jelas Ibunya Rey. “Lihat anak nakal itu, benar-benar tidak tahu malu! Sudah jarang pulang ke rumah, bermalas-malasan. Sepertinya memang harus dihajar,” potong Ayah Rey sambil mengeraskan kepalan tangannya. “Maaf sebelumnya saya terkesan ikut campur tapi apakah Om dan Tante melakukan kekerasan pada Rey belakangan ini? dengan membiarkan Rey seperti itu apakah Om dan Tante tidak peduli dengan kesehatan mental Rey?”
Tatapan tajam orang tua Rey seolah menusukmu, netra mereka membesar seolah tidak terima atas perkataanmu. “Memangnya kamu tahu apa tentang anak saya! Anak nakal seperti
dia sudah seharusnya saya pukul,” tegas Ayah Rey dengan nada yang meninggi. “Saya sahabatnya Rey, Om. Meskipun tidak selalu bersama, saya tahu bagaimana sifat Rey selama ini. Ia bahkan telah mengungkapkan tentang apa yang dia rasakan kepada Om dan Tante tetapi kalian tidak mendengarkannya. Masuk akal jika Ia tidak nyaman berada di keluarga ini,” tegasmu kembali kepada orangtua Rey. Muka Ayah Rey memerah, Ia naik pitam.
Sekarang kamu tahu kenapa Rey tidak betah berada di rumah. Ia selalu dituntut untuk belajar dan tidak diperbolehkan untuk mengekspresikan dirinya. Ditambah lagi kedua orangtuanya yang kasar membuat Ia menjadi seperti ini. Kamu kecewa dan tidak terima tentunya. Sahabatmu yang tangguh itu disakiti oleh kedua orangtuanya. “Wajar saja Rey seperti ini, yang merusak Rey juga kalian berdua.” Ucapmu dengan nada datar namun menyiratkan kemarahan di dalamnya. Kamu beranjak dari kursimu lalu menuju pintu keluar sebelum kedua orangtua Rey menghampirimu dengan keadaan marah. “Katakanlah saya tidak sopan, tapi anda berdua harus menyayangi putra anda dengan sungguh sebelum semuanya terlambat.” Setelah berucap seperti itu kamu membalikkan badan lalu pergi dari rumah itu. Ketika berjalan keluar dari pintu, tatapmu bertemu dengan Rey yang sedang berdiri menatap ke arah kalian. Tanpa sepatah kata pun, Rey langsung menarik lenganmu dan lari dari rumah itu tanpa menghiraukan teriakan kedua orangtuanya.
Kalian berdua berlari hingga sampai ke rumahmu dan tergeletak ketika telah mencapai teras depan. “Ma-maaf,” ucapmu sambil mencoba untuk mengatur nafasmu. Ia tidak menjawab tetapi kamu bisa mendengar nafasnya yang menderu. Ia mengacuhkan perkataanmu lalu masuk ke dalam rumah dan mengambil minum. Setelah sedikit tenang, kamu pun juga melakukan hal yang sama. Kamu duduk di sofa ruang tamu begitu juga dengan Rey. “Aku baik baik saja. Mungkin hanya kurang beruntung karena mendapatkan orangtua seperti itu,” ucapnya lalu menegak air dari gelas di genggamannya. Kamu terdiam dan merasa bersalah akan kejadian barusan. “Tidak apa-apa, bukan salahmu juga aku menjadi seperti ini,” lanjutnya kepadamu. “Aku hanya ingin membantumu, sungguh.” Kamu menunduk lalu merasakan ada tangan yang mengacak rambutmu. Ia beranjak dari bangku, meninggalkanmu sendirian, lalu menuju ke lantai atas.
Sang Surya tenggelam dengan cepat hingga malam pun tiba, setelah asik bermain seharian kamu dan Rey pun tidur. Di sepertiga malam kamu terbangun dari tidurmu. Kamu mendapati Rey sedang bersujud berdoa di sampingmu. Kamu memutuskan untuk diam memandangi Rey hingga Ia selesai berdoa. Setelah selesai, Ia tersenyum kepadamu. “Kenapa
bangun? Aku mengganggu ya?” tanyanya kepadamu. Kamu menggeleng lalu tersenyum,
“Entah kenapa aku terbangun di jam segini, biasanya tidak seperti ini,” jawabmu. Rey berdiri lalu menghampiri jendela kamarmu, Ia menarik gorden lalu melihat ke luar. Bak lampu tidur yang sangat indah, Bulan itu memancarkan cahayanya. Seolah berkata, ‘Tidurlah, aku akan selalu menjagamu’ kepada kami. Sedikit kamu sadari bahwa Rey bukan menatap bulan, melainkan atap gedung sekolah yang tampak dari jendelamu. Tetapi kamu tidak terlalu menghiraukan hal tersebut.
Rey menarik bangku lalu duduk di depan jendela tersebut sedangkan kamu duduk di ranjangmu, berencana akan pergi ke toilet dan mengambil minum. “Aku punya tiga harapan untuk kita.” Ucapnya menatapku. Aku menoleh kepadanya, membiarkan Ia melanjutkan perkataannya. “Yang pertama, bahwa kamu selalu berbahagia. Yang kedua, bahwa Tuhan akan memaafkanku,” perkataannya tercekat. Netranya tepat ke menatapku dan melanjutkan.“Dan yang terakhir, bahwa setelah ini, di kehidupan selanjutnya, aku harap aku bisa bertemu lagi denganmu.” Kamu tertegun mendengar hal itu. ‘Setelah ini’, ‘Di kehidupan selanjutnya’, kalimat-kalimat ini membuatmu mengernyitkan dahi, Apa maksudnya? Ia hanya tertawa melihat ekspresi bingung dari wajahmu lalu mengacak rambutmu. “Sudah sana ke toilet, nanti malah buang air di celana.” Perintahnya. Kamu pun beranjak dari kasur lalu pergi ke kamar mandi.
Sedari tadi perasaanmu sudah tidak enak, kalimat-kalimat ambigu yang diucapkan Rey tadi sangat mengganggu pikiranmu. Sepuluh menit kamu lewatkan untuk buang air dan minum, kamu sempat tertidur juga di kamar mandi karena masih sangat mengantuk. Kamu pun kembali ke kamar tetapi tidak mendapati Rey di dalamnya. Kamu bingung, memanggil- manggil nama Rey sambil berkeliling di rumahmu dan tidak mendapat jawaban sama sekali.
Cemas menghantuimu, kamu takut, bukan karena kegelapan atau hantu, tetapi kamu takut akan kemungkinan paling buruk yang akan kamu hadapi. Berbagai macam kemungkinan berkecamuk di otakmu, entah itu Rey diculik atau kejadian yang bahkan tidak sanggup untuk kamu ucapkan dari bibirmu.
Kamu memutuskan untuk keluar rumah dan tidak lupa untuk mengunci rumahmu.
Kamu memanggil-manggil nama Rey tetapi tidak terlalu kencang karena takut mengganggu warga yang sedang tidur. Keringatmu menetes perlahan karena kamu berlari-lari mengelilingi kompleks rumahmu mencari Rey, kamu kebingungan. Kamu menghampiri bapak-bapak yang sedang jaga malam sambil terengah-engah. “Permisi Pak, apa Bapak-Bapak melihat seorang
laki-laki tinggi, berambut coklat dan menggunakan baju kaos hitam?” tanyamu sambil mencoba mengatur nafas. “Tidak, Dek. Memangnya ada apa?” tanya salah satu anggota ronda tersebut. “Saya mencari teman saya, tadi dia masih ada dirumah saya lalu tiba-tiba dia menghilang. Baiklah kalau begitu Pak, terimakasih ya,” tanpa menunggu jawaban Bapak tersebut, kamu berlari melanjutkan pencarian tersebut.
Nafasmu sudah tidak karuan, cemas, takut, lelah bercampur dalam pikiranmu. Kamu kalut, kamu takut. Otakmu berputar mencoba untuk mengingat kejadian-kejadian sebelum Rey menghilang, dari awal ketika kamu melihatnya sedang bersujud atau ketika Ia mengucapkan tiga harapan itu. Kamu mendongak ke Bulan, memejamkan matamu seolah memohon petunjuk kepada Sang Dewi Bulan. Tiba-tiba kamu teringat ketika Rey menatap lama ke atap gedung sekolah. Matamu membesar, kamu segera berlari menuju sekolah secepat yang kamu bisa. Kamu meloncati pagar dan segera masuk ke dalam gedung sekolah yang ternyata tidak terkunci. Kamu menaiki lantai demi lantai, meneriakkan nama Rey.
Persetan dengan hantu atau orang mengira kamu gila, yang paling penting sekarang kamu harus menemukan Rey.
Pada lorong ujung lantai kelima, seberkas cahaya terpancar dari sana, pintu menuju ke lantai atap gedung sekolah terbuka. Kamu segera berlari ke sana lalu menaiki tangga, berharap sosok yang kamu cari ada disana. Benar saja, seorang laki-laki, sahabatmu, Rey, sedang berdiri bermandikan sinar bulan. Ia berdiri di pinggir atap gedung sekolah yang tidak berpengaman. “Rey ... sedang apa di situ, Ayo turun kesini ...” Ucapmu berusaha mendekati Rey yang berjarak tujuh langkah dari hadapanmu. “Diam disana. Bagaimana kamu bisa tahu aku disini?” tanya Rey menatap bulan sambil membelakangimu. “Itu bisa aku jelaskan nanti, sekarang ayo kesini, disana berbahaya.” Bujukmu lagi, maju selangkah lagi.
“Kamu tahu, aku tidak mengerti kenapa hidup harus semenyakitkan ini. Aku tidak tahu kenapa beranjak dewasa harus sekejam ini. Aku tidak tahu jika untuk hidup, harus berjuang mati-matian seperti ini. Dunia terlalu kejam dan aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Aku melakukan yang terbaik, aku berusaha sekuat tenaga. Tapi keluargaku tidak pernah memberikan apresiasi. Ketika aku bercerita tentang masalahku, mereka malah memukulku lalu memakiku. Kalau tahu seperti ini, aku tidak lagi mau berjuang. Mati terlihat menyenangkan.” Ucapnya sambil merentangkan tangannya seolah membentuk sayap. “Tidak Rey, kamu harus tetap hidup, kamu tidak boleh seperti ini.” Jawabmu sambil menatap Rey miris.
“Kenapa? Kenapa aku harus terus hidup? Aku ingin mati. Ketika aku mati nanti, tidak akan ada lagi hal yang melelahkan. Aku tidak lagi perlu berjuang, kamu tahu pasti itu. Aku ...
tidak punya alasan lagi untuk hidup.” Sambil berkata seperti itu, Ia maju selangkah lagi.
Kamu refleks melangkahkan kakimu ke depan, “Aku tahu hidup ini melelahkan, aku paham betapa menyakitkannya untuk hidup, aku paham betul ... tapi Tuhan memberi kita hidup untuk diperjuangkan. Jika kita berjuang, kita pasti bisa mendapat kebahagiaan. Meskipun hidup itu sulit, berjuanglah untuk mendapat kebahagiaan meski dari hal kecil sekalipun.”
Ucapmu tenang dan berhati-hati. “Hal bahagia, huh? Apa?” Ia bertanya kepadamu.
“Jika kamu mati, kamu tidak bisa lagi makan cokelat kesukaanmu, kamu tidak bisa lagi menonton film The Avengers, kamu tidak bisa lagi bermain bola, kamu tidak bisa lagi mendengarkan musik kesukaanmu, dan kamu ... tidak bisa lagi tertawa bersamaku. Meskipun sulit, hiduplah untuk bahagiamu, bukan orang lain.” Jawabmu sambil menatap bahu tegap Rey yang membelakangimu. Pandanganmu kabur, air mata menggenang di pelupuk matamu.
Sangat menyakitkan ketika melihat orang yang kamu sayangi seperti ini. “Lagi pula, apakah kamu siap ...” Tuturmu pelan sambil perlahan melangkah maju mendekatinya. Rey membalikkan badannya menghadapmu, terkekeh lalu tersenyum dan berucap. “Nata ... aku sudah lebih dari siap untuk mati.” Sebelum akhirnya Ia mendorong badannya terjun dari atap gedung sekolah.
Kamu terbelalak, segera berlari menangkap tangannya meskipun kamu tahu dengan begitu kamu juga akan terjatuh. Mukjizat, tanganmu berhasil meraih tangan Rey, badanmu kamu tekan dibalik beton rendah dengan posisi telungkup agar tidak ikut terjatuh. “Untuk apa kamu menangkapku, tidak apa, lepaskan aku.” Ucapnya sambil tersenyum. Kamu menggeleng, air mata jatuh membasahi tangan kalian. Menahan berat Rey dengan satu tangan, tanganmu bergetar hebat, peganganmu mulai melemah. “TIDAK REY! JANGAN LEPASKAN AKU... AKU MOHON. JANGAN BERGERAK ... JANGAN TINGGALKAN AKU.” Tangis dan air matamu jatuh membasahi baju Rey. Ia menunduk, seolah pasrah.
“KAMU PUNYA AKU DISINI! AKAN AKU LAKUKAN APAPUN UNTUK MEMBUATMU BAHAGIA, REY! JIKA MEMANG KAMU MENYERAH, MAKA AKU TURUT BERSAMAMU!” teriakmu sambil menangis.
Kamu menangis kencang, peganganmu perlahan lepas, kamu pasrah. Jika Rey terjatuh, maka kamu pun juga ikut terjatuh. Tiba-tiba kamu mendengar suara ribut dari belakangmu. “Hey, ada apa ini! Ayo bapak-bapak cepat tarik anak itu!” seru salah seorang
bapak dari pos jaga malam tadi. Bapak-bapak tersebut langsung berlari dan ikut memegang tangan Rey dan menariknya ke atas. Kamu melepaskan peganganmu dan dibawa menjauh dari pinggir, salah seorang bapak mengecek keadaanmu dan menenangkanmu. Begitu juga dengan Rey yang telah ditarik dan dijaga oleh bapak-bapak tadi.
“Terimakasih banyak Pak ... Ba-bagaimana bapak bisa tahu kami disini?” tanyamu sambil tersedu kepada salah satu anggota keamanan tersebut. “Tadi kami sedang berkeliling, salah satu bapak mengusulkan untuk melihat ke daerah sekolah ini. Kami juga ingat bahwa kamu tadi mencari temanmu jadi kami pun turut mencari. Lalu kami melihat orang berdiri di pinggir gedung sekolah, maka dari itu kamu segera kesini. Untung belum terlambat,” terang Bapak tersebut kepada kami. Mendengar jawaban Bapak tersebut, kamu menghela nafas lega dan bersyukur kepada Tuhan tentang pertolongan ini.
Rey terduduk lemas setelah kejadian mengejutkan tadi. Kamu segera bangkit menghampiri Rey dan berlutut di hadapannya. Kedua tanganmu kamu tangkup ke wajahnya itu, netranya kamu tatap lekat. “Sekali lagi. Ayo berjuang bersama sekali lagi. Akan aku pastikan kita berdua bahagia, aku akan selalu berada disini.” Tuturmu dengan serius.
Pertahanannya pecah, air mata menggenang dari pelupuk matanya, kamu membawa dia ke dalam dekapanmu. Ia menangis di pundakmu, tanganmu mengelus punggungnya yang bergetar hebat. “Jangan seperti itu lagi, ceritakanlah padaku akan aku dengarkan kamu.”
ucapmu dan Rey mengangguk pelan dalam pelukanmu. Kamu menghapus kedua air matanya, netra berwarna coklat itu kamu tatap lekat lalu berucap. “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Terimakasih. Aku bangga padamu. Ayo kita berjuang sekali lagi.” Sebelum akhirnya membiarkan Ia kembali menangis di pundakmu.
***
“Pada akhirnya dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk hidup dibandingkan untuk bunuh diri.”
̶ Albert Camus, A Happy Death