Analisis Prioritas Ancaman Di Laut Natuna Dengan Menggunakan Analytic Network Process (ANP)
Avif Hidayaturohman
1, Ganif Deswantoro
2, Sulton M. Firdaus
31 2 3 Politeknik Angkatan Laut Program Magister Terapan Prodi Strategi Operasi Laut, Jakarta Indonesia e-mail: [email protected]
Received: 30-07-2020, Accepted: 18-11-2020
Abstrak
Operasi pengamanan di laut Natuna perlu menentukan alternatif kemungkinan ancaman terlebih dahulu dalam menentukan suatu strategi melalui penentuan kriteria-kriteria yang menjadi parameter sebuah ancaman di Laut. Analisis dilaksanakan terhadap kemungkinan ancaman yang mungkin datang dalam rangka menyiapkan langkah-langkah strategi yang tepat dalam menghadapi ancaman. Berdasarkan hal tersebut maka penulis menentukan kriteria-kriteria yang menjadi penentu untuk dilakukan langkah penentuan prioritas ancaman menggunakan Analityc Network Process (ANP). Kriteria yang dapat menentukan prioritas ancaman yang mungkin datang adalah faktor kemampuan (Capability), Niat atau Intention, Circumtance (Kondisi) dan Peluang (Opportunity). Pada penelitian ini akan ditentukan tiga alternatif ancaman apa yang akan mungkin datang yaitu ancaman militer, ancaman non militer dan ancaman hibrida. Analisis harus dilaksanakan dengan tepat pada penentuan prioritas karena dapat mengakibatkan tingkat resiko yang fatal.
Kata Kunci: Ancaman, Prioritas, ANP.
Abstract
Security operations in the Natuna Sea need to determine possible alternative threats in advance to determining a strategy through determining criteria that are parameters of a threat at sea. Analysis is carried out on possible threats that may come in order to prepare appropriate strategic steps in dealing with threats. Based on this, the authors determine the criteria that become determinants to take steps to determine priority threats using the Analityc Network Process (ANP). The criteria that can determine the priority of possible threats are the factors of Capability, Intention, Circumtance and Opportunity. In this study, three alternative threats will be determined, namely military threats, non-military threats and hybrid threats. The analysis must be carried out properly in determining priorities because it can result in a level of fatal risk.
Keywords: Threats, Priorities, ANP.
Pendahuluan.
Laut Natuna sebagai kelanjutan Laut Cina Selatan memiliki potensi ancaman potensial maupun faktual karena klaim sepihak berdasarkan historis Cina terhadap Laut Cina Selatan berdasarkan bukti adanya Nine Dash Line dari Kerajaan Cina terdahulu serta klaim adanya Traditional Fishing Ground. Ada
sepuluh negara yang mempunyai
kepentingan di Laut Cina Selatan antara lain
Cina, Taiwan, Vietnam, Kamboja, Thailand,
Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei
Darussalam dan Filipina.
39Nine dash line
yang di klaim oleh Cina ternyata
bersinggungan dengan Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia dan Landas Kontinen di Utara Pulau Natuna.
Jika ada ketegangan di Laut Natuna dan terus meningkat tentu saja akan mengakibatkan eskalasi ancaman yang juga meningkat sehingga tentu saja penggunaan militer negara lain akan mungkin terjadi. Hal ini tentu memerlukan suatu strategi untuk menghadapi segala ancaman tersebut.
Ancaman–ancaman yang mungkin terjadi karena berbagai kepentingan tentu saja perlu adanya analisis mendalam berdasarkan lingkungan strategis. Oleh sebab itu ketegangan di Laut Cina Selatan tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor karena adanya keinginan penguasaan atas sumberdaya alam. Berbagai negara akan berusaha untuk mengamankan kepentingan Negara nya. Segala upaya dari negara lain yang dapat menyinggung kepentingan di Laut Cina Selatan tentunya menjadi ancaman bagi Negara Indonesia.
Oleh karena itu Peneliti menganalisa alternatif ancaman potensial yang menjadi prioritas ancaman di Laut Natuna guna menjadi masukan dalam menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi alternatif ancaman yang mungkin timbul dengan pendekatan teori, yaitu itu teori ancaman untuk menentukan kriteria ancaman berupa kemampuan (capability), niat (intention), kondisi (circumtances) dan Opportunity.
Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis prioritas ancaman yang akan
timbul di Laut Natuna dengan menggunakan metode Analityc Network Process. Proses Analisis ini untuk mempermudah menganalisis kemungkinan ancaman secara tepat dari kriteria kriteria yang ada.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, masalah yang dapat diidentifikasi adalah berbagai ancaman akan timbul dalam konflik di Laut Natuna yang akan menggangu keamanan dan kedaulatan Indonesia.
Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana prioritas kemungkinan ancaman yang timbul di Laut Natuna.
Ancaman
Barry Buzan mengatakan bahwa ancaman terhadap keamanan negara dapat berbentuk:
1 Ancaman militer, yang berpotensi merusak berbagai komponen negara bahkan negara itu sendiri secara total.
2 Ancaman terhadap ideologi, yang termasuk dalam kategori ancaman berdimensi politik.
3 Ancaman di bidang ekonomi, seperti embargo, pembatasan ekspor dan impor barang, pencurian sumber daya alam, penghentian pasokan bahan–bahan penting.
4 Ancaman di bidang lingkungan atau ekologi, seperti bencana alam, polusi, dan lain–lain.
Menurut Singer persepsi ancaman (Threat
Perception) pada dasarnya adalah totalitas
perkiraan kemampuan (Estimate Capability), perkiraan niat (Estimate Intention) dan unsur kondisi (Circumtance) negara lain relatif terhadap negara sendiri. Nilai ancaman berdasarkan faktor–faktor penilaian tanpa kecenderungan, dirumuskan sebagai berikut:
Ancaman = Niat x Kemampuan x Kondisi.
Menurut Richard Pill bahwa Threats = Capability x Intention x Opportunity.
Menurut Henry Bartlett, Paul Holman, dan Timothy Somes dari Naval War College Tugas penting bagi ahli strategi dan perencanaan pasukan adalah menilai lingkungan keamanan dalam hal threats, challenges, vulnerabilities, and opportunities.
Tugas yang paling penting adalah dengan mengevaluasi sepenuhnya sifat konflik tersebut, kemungkinan terjadinya, dan konsekuensinya untuk kepentingan nasional.
Analityc Network Process
Analytic Network Process atau ANP merupakan metode pengambilan keputusan pada permasalahan yang bersifat teknis- sosial (socio-technical) berdasarkan sejumlah kriteria (multi-criteria). ANP merupakan pendekatan baru metode kualitatif, yang oleh kreatornya Profesor Thomas Saaty pakar riset dari Pittsburgh University, dimaksudkan untuk menggantikan metode Analytic Hierarchy Process (AHP).
Kelebihan ANP dari metodologi yang lain adalah kemampuannya untuk membantu kita dalam melakukan pengukuran dan sintesis
sejumlah faktor-faktor dalam hierarki atau jaringan. Tidak ada metodologi lain yang mempunyai fasilitas sintesis seperti metodologi ANP. Sementara itu, kesederhanaan metodologinya membuat ANP menjadi metodologi yang lebih umum dan lebih mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif yang beragam, seperti pengambilan keputusan, forecasting, evaluasi, mapping, strategizing, alokasi sumber daya, dan lain sebagainya. Hal penting dalam membangun model ANP adalah adanya alternatif pilihan dan kriteria pemilihan. Dengan memasukkan penilaian Pakar, melalui pembandingan berpasangan dalam skala tingkat kepentingan 1–9, ke dalam model tersebut, maka akan diperoleh hasil berupa prioritas pilihan (Saaty, 2005).
Kluster 1
Kluster 5
Kluster 2
Alternatif
Kluster 4
Kluster 3
Gambar 1 Model Network
Dalam pembuatan network pada ANP ada beberapa jenis feedback yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, tiap-tiap network memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Beberapa jenis network tersebut dapat dilihat pada gambar 1.
ANP sendiri ditujukan untuk menentukan
tingkat kepentingan relatif dari suatu set
aktifitas dalam MCDM dengan menggunakan Pairwise Comparison. Secara umum ANP diterapkan pada dominasi pengaruh diantara stake holder atau alternatif dalam hubungannya dengan atribut atau kriteria.
Adapun skala perbandingan berpasangan yang digunakan dalam ANP seperti pada table 1
Tabel 1 Skala Perbandingan Berpasangan
TingkatKepentingan Definisi
1 Kedua elemen sama penting.
3
Satu elemen sedikit lebih penting daripada elemen yang lain.
5
Satu elemen sesungguhnya lebih penting dari elemen yang lain.
7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lain.
9 Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen lain.
2, 4, 6, 8 Nilai tengah di antara 2
penilaian yang berdampingan.
Sumber : Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Saaty
Langkah–langkah yang umumnya dilakukan pada ANP ini adalah:
1. Mendifinisikan masalah.
2. Mendifinisikan kriteria evaluasi.
3. Mendifinisikan bobot kepentingan, dimana skala penilaian tingkat kepentingannya, seperti pada table 1
4. Mendifinisikan bobot ketergantungan.
5. Mendifinisikan bobot prioritas, dengan cara mengalikan bobot kepentingan dan bobot ketergantungan.
Prinsip dasar ANP adalah berpikir secara analitis, pengambilan keputusan dalam
metodologi ANP berdasarkan pada prinsip- prinsip sebagai berikut:
1. Penyusunan Struktur Jaringan
Penyusunan jaringan adalah langkah untuk mendefinisikan permasalahan yang kompleks kedalam kluster dan elemennya, serta identifikasi hubungan interaksi ketergantungan yang ada didalamnya.
Struktur ini disusun berdasarkan pandangan dari pihak-pihak yang memiliki keahlian (Expert) dan pengetahuan di bidang yang bersangkutan.
2. Penentuan Prioritas
Penentuan prioritas terdiri dari elemen- elemen kriteria yang dapat dipandang sebagai bobot atau kontribusi elemen tersebut terhadap tujuan pengambilan keputusan. ANP melakukan analisis prioritas elemen dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan antar dua elemen. Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keputusan tersebut, baik secara langsung (wawancara) maupun tidak langsung (kuesioner).
3. Konsistensi Logis
Konsistensi jawaban para responden
dalam menentukan prioritas elemen
merupakan prinsip pokok yang akan
menentukan validitas data dan hasil
pengambilan keputusan. Secara umum,
responden harus memiliki konsistensi dalam
perbandingan elemen.
Metode Penelitian
Gambar 2 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran ini di mulai dengan Identifikasi Masalah tentang penentuan asesmen ancaman di Laut Natuna Utara.
Kemudian dilaksanakan causal mapping tentang kriteria dan berdasarkan berbagai teori ancaman serta penentuan alternatif ancaman, kemudian dilaksanakan analisis menggunakan Analytic Network Process untuk menentukan prioritas ancaman.
Hasil Dan Pembahasan
Prediksi ancaman ke depan merupakan faktor utama yang menjadi dasar dalam penyusunan desain sistem pertahanan negara, baik yang bersifat aktual maupun potensial.
ancaman saat ini dan masa depan dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu ancaman militer baik bersenjata maupun tidak bersenjata, ancaman nonmiliter, dan ancaman hibrida.
Peneliti membuat panduan wawancara sebagai sarana untuk melaksanakan brainstorming terhadap para Expert untuk menentukan kriteria-kriteria yang tepat dalam menentukan kemungkinan ancaman di laut.
Dari hasil brainstorming maka dibuat Kuisioner ANP terkait pemilihan prioritas ancaman. Pengunaan kuesioner dalam penelitian ini adalah dengan acuan model network yang sudah terbentuk. Kuesioner dibuat berdasarkan hubungan antara elemen kriteria baik innerdependence maupun outerdependence serta hubungan preferensi antara kriteria dengan tujuan, menggunakan cara perbandingan berpasangan antar cluster maupun antara elemen cluster. Kuesioner ini terdiri atas pertanyaan perbandingan berpasangan antara kriteria, antar subkriteria maupun antar pilihan alternatif, baik innerdependence ataupun outerdependence sesuai dengan tujuan yang sebelumnya telah ditentukan yaitu prioritas ancaman yang datang. Dalam kuesioner tersebut, responden memberikan penilaian berdasarkan perbandingan berpasangan sesuai dengan skala pengisian 1 s.d 9 Saaty.
Peneliti dalam melaksanakan penelitian menggunakan sofware Super Decesion dimana dalam pelaksanaan pengolahan data didahului dengan penentuan kriteria melalui branstorming kemudian dilanjutkan pengambilan data kuesioner, pembuatan data notasi, penghitungan geometric mean.
Tabel 2 Kriteria Ancaman
Kemudian setelah mendapatkan kriteria- kriteria maka muncul subkriteria dari kriteria capability yang ada yaitu seperti yang terdapat pada table 3
Tabel 3 Subkriteria Capability
Sedangkan dari kriteria intention yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 4
Tabel 4 Subkriteria Intention
Sedangkan dari kriteria circumtance yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 5
Tabel 5 Subkriteria Circumtance
Sedangkan dari kriteria opportunity yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 6
Tabel 6 Subkriteria Opportunity
Maka selanjutnya dibentuk suatu model network ANP untuk mendapatkan alternatif ancaman yang mungkin terjadi.
Gambar 3 Model Network ANP
Model tersebut diatas selanjutnya dimasukkan ke dalam model di tool super decision untuk dapat dilaksanakan pengolahan data kuisioner
Gambar 4 Model ANP dengan menggunakan Super Decisions
Geomeretric Mean (rata-rata geometrik) merupakan titik tengah antara dua pendapat atau lebih dalam suatu pengambilan keputusan yang berbeda. Didalam penelitian ini sebelum ditetapkan geometric meannya, hasil kuesioner
masing-masing responden yang dalam hal ini adalah para expert harus diuji konsistensinya.
Pengujian ini dilakukan terhadap hasil kuesioner para expert mengenai perbandingan berpasangan antara kriteria dan elemen- elemen yang terkait dengan bantuan Software Super Decisions. Apabila Indek Konsistensi (inconsistensy indeks) menunjukkan angka dibawah 0,1 maka pilihan tersebut sudah konsisten dan layak untuk digabung dengan pendapat para pengambil keputusan lainnya yang telah teruji konsistensinya. Sebelumnya rata-tara geometris yang telah terkumpul tersebut dimasukkan kedalam Software Super Decisions untuk dicari keputusan penggabungannya. Perhitungan rata-rata geometrik dilakukan dengan menggunakan
rumus : Keterangan :
A : Nilai rata-rata geometris
a 1 : Responden ke 1 (pertama) a 2 : Responden ke 2 ( kedua)
a n : Responden ke n (
kesekian/selanjutnya) n : Jumlah responden
Rekapitulasi perhitungan rata-rata
geometrik nilai perbandingan berpasangan dari
hasil kuesioner. Untuk rata-rata geometrik
masing-masing kriteria dari perbandingan
berpasangan salah satu contoh dari rata-rata
geometrik dari subkriteria kecepatan dapat
dilihat pada tabel 7
Tabel 7 Rekapitulasi Rata-Rata Geometrik Nilai Perbandingan Berpasangan
Untuk mengetahui prioritas secara keseluruhan baik prioritas alternatif maupun kriteria, dapat ditampilkan dalam prioritias pada Software Super Decisions sehingga akan ditampilkan nilai bobot keseluruhan baik alternatif atau pun kriteria.
Gambar 6 Hasil Prioritas pada Software Super Decisions
Hasil dari sintesis pada Software Super Decisions maka didapatkan bahwa ancaman militer memiliki nilai tertinggi yaitu 0.392266
sedangkan prioritas kedua adalah ancaman non militer dengan nilai 0.310120. Untuk ancaman hibrida memiliki nilai 0.297614.
Gambar 7 Hasil Synthesized pada Software Super Decisions
Hasil pengolahan data dengan menggunakan ANP untuk mengecek sensitifitasnya selanjutnya dilaksanakan uji sensitivitas. Berikut ini adalah hasil sensitivitas perhitungan data dari ancaman yang mungkin terjadi di Laut Natuna.
Gambar 8 Hasil analisis Sensivitas
Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana suatu ancaman dapat diidentifikasi secara tepat berdasarkan kriteria-kriteria yang dapat menjadi parameter bagaimana suatu ancaman terbentuk walaupun data yang ada menunjukkan bahwa tidak ada kesesuain dengan hasil identifikasi dari metode yang ada karena adanya berbagai keterbatasan dalam
GEOMEAN
KRITERIA /SUB KRITERIA/
ALTERNATIF GEOMEAN KRITERIA /SUB
KRITERIA/ ALTERNATIF
1,0 K Vs I Opportunity
2,2 K Vs C 1,1 A1 vs A2
1,9 K Vs O 1,4 A1 VS A3
1,4 I Vs C 1,1 A2 VS A3
0,8 I Vs O Militer
0,7 C Vs O 1,3 K vs I
1,6 K1 Vs K2 1,5 K vs C
1,9 K1 Vs K3 1,4 K vs O
1,4 K1 Vs K4 1,1 I vs C
0,8 K2 Vs K3 0,9 I vs O
1,8 K2 Vs K4 0,9 C vs O
2,1 K3 vs K4 Non Militer
1,4 I1 vs I2 0,9 K vs I
1,1 I1 vs I3 1,3 K vs C
1,7 I2 vs I3 0,9 K vs O
1,0 C1 vs C2 1,5 I vs C
1,2 O1 vs O2 1,5 I vs O
Capability 1,1
C 1,1 O
0,9 A1 vs KA2 Hibrida
1,0 A1 VS KA3 1,1 K vs I
1,2 A2 VS KA3 1,2 K vs C
Intention 0,8 K vs O
1,6 A1 vs A2 1,0 I vs C
1,8 A1 VS A3 0,7 I vs O
0,9 A2 VS A3 1,1 C vs O
Circumtance
0,9 A1 vs A2
1,6 A1 VS A3
1,0 A2 VS A3