• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Prioritas Ancaman Di Laut Natuna Dengan Menggunakan Analytic Network Process (ANP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Prioritas Ancaman Di Laut Natuna Dengan Menggunakan Analytic Network Process (ANP)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Prioritas Ancaman Di Laut Natuna Dengan Menggunakan Analytic Network Process (ANP)

Avif Hidayaturohman

1

, Ganif Deswantoro

2

, Sulton M. Firdaus

3

1 2 3 Politeknik Angkatan Laut Program Magister Terapan Prodi Strategi Operasi Laut, Jakarta Indonesia e-mail: [email protected]

Received: 30-07-2020, Accepted: 18-11-2020

Abstrak

Operasi pengamanan di laut Natuna perlu menentukan alternatif kemungkinan ancaman terlebih dahulu dalam menentukan suatu strategi melalui penentuan kriteria-kriteria yang menjadi parameter sebuah ancaman di Laut. Analisis dilaksanakan terhadap kemungkinan ancaman yang mungkin datang dalam rangka menyiapkan langkah-langkah strategi yang tepat dalam menghadapi ancaman. Berdasarkan hal tersebut maka penulis menentukan kriteria-kriteria yang menjadi penentu untuk dilakukan langkah penentuan prioritas ancaman menggunakan Analityc Network Process (ANP). Kriteria yang dapat menentukan prioritas ancaman yang mungkin datang adalah faktor kemampuan (Capability), Niat atau Intention, Circumtance (Kondisi) dan Peluang (Opportunity). Pada penelitian ini akan ditentukan tiga alternatif ancaman apa yang akan mungkin datang yaitu ancaman militer, ancaman non militer dan ancaman hibrida. Analisis harus dilaksanakan dengan tepat pada penentuan prioritas karena dapat mengakibatkan tingkat resiko yang fatal.

Kata Kunci: Ancaman, Prioritas, ANP.

Abstract

Security operations in the Natuna Sea need to determine possible alternative threats in advance to determining a strategy through determining criteria that are parameters of a threat at sea. Analysis is carried out on possible threats that may come in order to prepare appropriate strategic steps in dealing with threats. Based on this, the authors determine the criteria that become determinants to take steps to determine priority threats using the Analityc Network Process (ANP). The criteria that can determine the priority of possible threats are the factors of Capability, Intention, Circumtance and Opportunity. In this study, three alternative threats will be determined, namely military threats, non-military threats and hybrid threats. The analysis must be carried out properly in determining priorities because it can result in a level of fatal risk.

Keywords: Threats, Priorities, ANP.

Pendahuluan.

Laut Natuna sebagai kelanjutan Laut Cina Selatan memiliki potensi ancaman potensial maupun faktual karena klaim sepihak berdasarkan historis Cina terhadap Laut Cina Selatan berdasarkan bukti adanya Nine Dash Line dari Kerajaan Cina terdahulu serta klaim adanya Traditional Fishing Ground. Ada

sepuluh negara yang mempunyai

kepentingan di Laut Cina Selatan antara lain

Cina, Taiwan, Vietnam, Kamboja, Thailand,

Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei

Darussalam dan Filipina.

39

Nine dash line

yang di klaim oleh Cina ternyata

bersinggungan dengan Zona Ekonomi

(2)

Eksklusif Indonesia dan Landas Kontinen di Utara Pulau Natuna.

Jika ada ketegangan di Laut Natuna dan terus meningkat tentu saja akan mengakibatkan eskalasi ancaman yang juga meningkat sehingga tentu saja penggunaan militer negara lain akan mungkin terjadi. Hal ini tentu memerlukan suatu strategi untuk menghadapi segala ancaman tersebut.

Ancaman–ancaman yang mungkin terjadi karena berbagai kepentingan tentu saja perlu adanya analisis mendalam berdasarkan lingkungan strategis. Oleh sebab itu ketegangan di Laut Cina Selatan tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor karena adanya keinginan penguasaan atas sumberdaya alam. Berbagai negara akan berusaha untuk mengamankan kepentingan Negara nya. Segala upaya dari negara lain yang dapat menyinggung kepentingan di Laut Cina Selatan tentunya menjadi ancaman bagi Negara Indonesia.

Oleh karena itu Peneliti menganalisa alternatif ancaman potensial yang menjadi prioritas ancaman di Laut Natuna guna menjadi masukan dalam menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi alternatif ancaman yang mungkin timbul dengan pendekatan teori, yaitu itu teori ancaman untuk menentukan kriteria ancaman berupa kemampuan (capability), niat (intention), kondisi (circumtances) dan Opportunity.

Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis prioritas ancaman yang akan

timbul di Laut Natuna dengan menggunakan metode Analityc Network Process. Proses Analisis ini untuk mempermudah menganalisis kemungkinan ancaman secara tepat dari kriteria kriteria yang ada.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, masalah yang dapat diidentifikasi adalah berbagai ancaman akan timbul dalam konflik di Laut Natuna yang akan menggangu keamanan dan kedaulatan Indonesia.

Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana prioritas kemungkinan ancaman yang timbul di Laut Natuna.

Ancaman

Barry Buzan mengatakan bahwa ancaman terhadap keamanan negara dapat berbentuk:

1 Ancaman militer, yang berpotensi merusak berbagai komponen negara bahkan negara itu sendiri secara total.

2 Ancaman terhadap ideologi, yang termasuk dalam kategori ancaman berdimensi politik.

3 Ancaman di bidang ekonomi, seperti embargo, pembatasan ekspor dan impor barang, pencurian sumber daya alam, penghentian pasokan bahan–bahan penting.

4 Ancaman di bidang lingkungan atau ekologi, seperti bencana alam, polusi, dan lain–lain.

Menurut Singer persepsi ancaman (Threat

Perception) pada dasarnya adalah totalitas

(3)

perkiraan kemampuan (Estimate Capability), perkiraan niat (Estimate Intention) dan unsur kondisi (Circumtance) negara lain relatif terhadap negara sendiri. Nilai ancaman berdasarkan faktor–faktor penilaian tanpa kecenderungan, dirumuskan sebagai berikut:

Ancaman = Niat x Kemampuan x Kondisi.

Menurut Richard Pill bahwa Threats = Capability x Intention x Opportunity.

Menurut Henry Bartlett, Paul Holman, dan Timothy Somes dari Naval War College Tugas penting bagi ahli strategi dan perencanaan pasukan adalah menilai lingkungan keamanan dalam hal threats, challenges, vulnerabilities, and opportunities.

Tugas yang paling penting adalah dengan mengevaluasi sepenuhnya sifat konflik tersebut, kemungkinan terjadinya, dan konsekuensinya untuk kepentingan nasional.

Analityc Network Process

Analytic Network Process atau ANP merupakan metode pengambilan keputusan pada permasalahan yang bersifat teknis- sosial (socio-technical) berdasarkan sejumlah kriteria (multi-criteria). ANP merupakan pendekatan baru metode kualitatif, yang oleh kreatornya Profesor Thomas Saaty pakar riset dari Pittsburgh University, dimaksudkan untuk menggantikan metode Analytic Hierarchy Process (AHP).

Kelebihan ANP dari metodologi yang lain adalah kemampuannya untuk membantu kita dalam melakukan pengukuran dan sintesis

sejumlah faktor-faktor dalam hierarki atau jaringan. Tidak ada metodologi lain yang mempunyai fasilitas sintesis seperti metodologi ANP. Sementara itu, kesederhanaan metodologinya membuat ANP menjadi metodologi yang lebih umum dan lebih mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif yang beragam, seperti pengambilan keputusan, forecasting, evaluasi, mapping, strategizing, alokasi sumber daya, dan lain sebagainya. Hal penting dalam membangun model ANP adalah adanya alternatif pilihan dan kriteria pemilihan. Dengan memasukkan penilaian Pakar, melalui pembandingan berpasangan dalam skala tingkat kepentingan 1–9, ke dalam model tersebut, maka akan diperoleh hasil berupa prioritas pilihan (Saaty, 2005).

Kluster 1

Kluster 5

Kluster 2

Alternatif

Kluster 4

Kluster 3

Gambar 1 Model Network

Dalam pembuatan network pada ANP ada beberapa jenis feedback yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, tiap-tiap network memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Beberapa jenis network tersebut dapat dilihat pada gambar 1.

ANP sendiri ditujukan untuk menentukan

tingkat kepentingan relatif dari suatu set

(4)

aktifitas dalam MCDM dengan menggunakan Pairwise Comparison. Secara umum ANP diterapkan pada dominasi pengaruh diantara stake holder atau alternatif dalam hubungannya dengan atribut atau kriteria.

Adapun skala perbandingan berpasangan yang digunakan dalam ANP seperti pada table 1

Tabel 1 Skala Perbandingan Berpasangan

Tingkat

Kepentingan Definisi

1 Kedua elemen sama penting.

3

Satu elemen sedikit lebih penting daripada elemen yang lain.

5

Satu elemen sesungguhnya lebih penting dari elemen yang lain.

7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lain.

9 Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen lain.

2, 4, 6, 8 Nilai tengah di antara 2

penilaian yang berdampingan.

Sumber : Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Saaty

Langkah–langkah yang umumnya dilakukan pada ANP ini adalah:

1. Mendifinisikan masalah.

2. Mendifinisikan kriteria evaluasi.

3. Mendifinisikan bobot kepentingan, dimana skala penilaian tingkat kepentingannya, seperti pada table 1

4. Mendifinisikan bobot ketergantungan.

5. Mendifinisikan bobot prioritas, dengan cara mengalikan bobot kepentingan dan bobot ketergantungan.

Prinsip dasar ANP adalah berpikir secara analitis, pengambilan keputusan dalam

metodologi ANP berdasarkan pada prinsip- prinsip sebagai berikut:

1. Penyusunan Struktur Jaringan

Penyusunan jaringan adalah langkah untuk mendefinisikan permasalahan yang kompleks kedalam kluster dan elemennya, serta identifikasi hubungan interaksi ketergantungan yang ada didalamnya.

Struktur ini disusun berdasarkan pandangan dari pihak-pihak yang memiliki keahlian (Expert) dan pengetahuan di bidang yang bersangkutan.

2. Penentuan Prioritas

Penentuan prioritas terdiri dari elemen- elemen kriteria yang dapat dipandang sebagai bobot atau kontribusi elemen tersebut terhadap tujuan pengambilan keputusan. ANP melakukan analisis prioritas elemen dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan antar dua elemen. Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keputusan tersebut, baik secara langsung (wawancara) maupun tidak langsung (kuesioner).

3. Konsistensi Logis

Konsistensi jawaban para responden

dalam menentukan prioritas elemen

merupakan prinsip pokok yang akan

menentukan validitas data dan hasil

pengambilan keputusan. Secara umum,

responden harus memiliki konsistensi dalam

perbandingan elemen.

(5)

Metode Penelitian

Gambar 2 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran ini di mulai dengan Identifikasi Masalah tentang penentuan asesmen ancaman di Laut Natuna Utara.

Kemudian dilaksanakan causal mapping tentang kriteria dan berdasarkan berbagai teori ancaman serta penentuan alternatif ancaman, kemudian dilaksanakan analisis menggunakan Analytic Network Process untuk menentukan prioritas ancaman.

Hasil Dan Pembahasan

Prediksi ancaman ke depan merupakan faktor utama yang menjadi dasar dalam penyusunan desain sistem pertahanan negara, baik yang bersifat aktual maupun potensial.

ancaman saat ini dan masa depan dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu ancaman militer baik bersenjata maupun tidak bersenjata, ancaman nonmiliter, dan ancaman hibrida.

Peneliti membuat panduan wawancara sebagai sarana untuk melaksanakan brainstorming terhadap para Expert untuk menentukan kriteria-kriteria yang tepat dalam menentukan kemungkinan ancaman di laut.

Dari hasil brainstorming maka dibuat Kuisioner ANP terkait pemilihan prioritas ancaman. Pengunaan kuesioner dalam penelitian ini adalah dengan acuan model network yang sudah terbentuk. Kuesioner dibuat berdasarkan hubungan antara elemen kriteria baik innerdependence maupun outerdependence serta hubungan preferensi antara kriteria dengan tujuan, menggunakan cara perbandingan berpasangan antar cluster maupun antara elemen cluster. Kuesioner ini terdiri atas pertanyaan perbandingan berpasangan antara kriteria, antar subkriteria maupun antar pilihan alternatif, baik innerdependence ataupun outerdependence sesuai dengan tujuan yang sebelumnya telah ditentukan yaitu prioritas ancaman yang datang. Dalam kuesioner tersebut, responden memberikan penilaian berdasarkan perbandingan berpasangan sesuai dengan skala pengisian 1 s.d 9 Saaty.

Peneliti dalam melaksanakan penelitian menggunakan sofware Super Decesion dimana dalam pelaksanaan pengolahan data didahului dengan penentuan kriteria melalui branstorming kemudian dilanjutkan pengambilan data kuesioner, pembuatan data notasi, penghitungan geometric mean.

Tabel 2 Kriteria Ancaman

(6)

Kemudian setelah mendapatkan kriteria- kriteria maka muncul subkriteria dari kriteria capability yang ada yaitu seperti yang terdapat pada table 3

Tabel 3 Subkriteria Capability

Sedangkan dari kriteria intention yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 4

Tabel 4 Subkriteria Intention

Sedangkan dari kriteria circumtance yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 5

Tabel 5 Subkriteria Circumtance

Sedangkan dari kriteria opportunity yang ada muncul juga subkriteria yaitu seperti yang terdapat pada table 6

Tabel 6 Subkriteria Opportunity

(7)

Maka selanjutnya dibentuk suatu model network ANP untuk mendapatkan alternatif ancaman yang mungkin terjadi.

Gambar 3 Model Network ANP

Model tersebut diatas selanjutnya dimasukkan ke dalam model di tool super decision untuk dapat dilaksanakan pengolahan data kuisioner

Gambar 4 Model ANP dengan menggunakan Super Decisions

Geomeretric Mean (rata-rata geometrik) merupakan titik tengah antara dua pendapat atau lebih dalam suatu pengambilan keputusan yang berbeda. Didalam penelitian ini sebelum ditetapkan geometric meannya, hasil kuesioner

masing-masing responden yang dalam hal ini adalah para expert harus diuji konsistensinya.

Pengujian ini dilakukan terhadap hasil kuesioner para expert mengenai perbandingan berpasangan antara kriteria dan elemen- elemen yang terkait dengan bantuan Software Super Decisions. Apabila Indek Konsistensi (inconsistensy indeks) menunjukkan angka dibawah 0,1 maka pilihan tersebut sudah konsisten dan layak untuk digabung dengan pendapat para pengambil keputusan lainnya yang telah teruji konsistensinya. Sebelumnya rata-tara geometris yang telah terkumpul tersebut dimasukkan kedalam Software Super Decisions untuk dicari keputusan penggabungannya. Perhitungan rata-rata geometrik dilakukan dengan menggunakan

rumus : Keterangan :

A : Nilai rata-rata geometris

a 1 : Responden ke 1 (pertama) a 2 : Responden ke 2 ( kedua)

a n : Responden ke n (

kesekian/selanjutnya) n : Jumlah responden

Rekapitulasi perhitungan rata-rata

geometrik nilai perbandingan berpasangan dari

hasil kuesioner. Untuk rata-rata geometrik

masing-masing kriteria dari perbandingan

berpasangan salah satu contoh dari rata-rata

geometrik dari subkriteria kecepatan dapat

dilihat pada tabel 7

(8)

Tabel 7 Rekapitulasi Rata-Rata Geometrik Nilai Perbandingan Berpasangan

Untuk mengetahui prioritas secara keseluruhan baik prioritas alternatif maupun kriteria, dapat ditampilkan dalam prioritias pada Software Super Decisions sehingga akan ditampilkan nilai bobot keseluruhan baik alternatif atau pun kriteria.

Gambar 6 Hasil Prioritas pada Software Super Decisions

Hasil dari sintesis pada Software Super Decisions maka didapatkan bahwa ancaman militer memiliki nilai tertinggi yaitu 0.392266

sedangkan prioritas kedua adalah ancaman non militer dengan nilai 0.310120. Untuk ancaman hibrida memiliki nilai 0.297614.

Gambar 7 Hasil Synthesized pada Software Super Decisions

Hasil pengolahan data dengan menggunakan ANP untuk mengecek sensitifitasnya selanjutnya dilaksanakan uji sensitivitas. Berikut ini adalah hasil sensitivitas perhitungan data dari ancaman yang mungkin terjadi di Laut Natuna.

Gambar 8 Hasil analisis Sensivitas

Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana suatu ancaman dapat diidentifikasi secara tepat berdasarkan kriteria-kriteria yang dapat menjadi parameter bagaimana suatu ancaman terbentuk walaupun data yang ada menunjukkan bahwa tidak ada kesesuain dengan hasil identifikasi dari metode yang ada karena adanya berbagai keterbatasan dalam

GEOMEAN

KRITERIA /SUB KRITERIA/

ALTERNATIF GEOMEAN KRITERIA /SUB

KRITERIA/ ALTERNATIF

1,0 K Vs I Opportunity

2,2 K Vs C 1,1 A1 vs A2

1,9 K Vs O 1,4 A1 VS A3

1,4 I Vs C 1,1 A2 VS A3

0,8 I Vs O Militer

0,7 C Vs O 1,3 K vs I

1,6 K1 Vs K2 1,5 K vs C

1,9 K1 Vs K3 1,4 K vs O

1,4 K1 Vs K4 1,1 I vs C

0,8 K2 Vs K3 0,9 I vs O

1,8 K2 Vs K4 0,9 C vs O

2,1 K3 vs K4 Non Militer

1,4 I1 vs I2 0,9 K vs I

1,1 I1 vs I3 1,3 K vs C

1,7 I2 vs I3 0,9 K vs O

1,0 C1 vs C2 1,5 I vs C

1,2 O1 vs O2 1,5 I vs O

Capability 1,1

C 1,1 O

0,9 A1 vs KA2 Hibrida

1,0 A1 VS KA3 1,1 K vs I

1,2 A2 VS KA3 1,2 K vs C

Intention 0,8 K vs O

1,6 A1 vs A2 1,0 I vs C

1,8 A1 VS A3 0,7 I vs O

0,9 A2 VS A3 1,1 C vs O

Circumtance

0,9 A1 vs A2

1,6 A1 VS A3

1,0 A2 VS A3

(9)

pendeteksian. Dalam hal ini peneliti menggunakan teori bagaimana kriteria-kriteria suatu ancaman dapat muncul dengan pendekatan pemilihan alternatif hubungan antar kriteria menggunakan Analytic Network Process sehingga mendapatkan assesment yang tepat terkait suatu ancaman. Pada teori ancaman bahwa Threats muncul karena adanya perkalian antara capability dan intention serta circumtances dan karena adanya opportunity sehingga ketika semua kriteria tersebut sudah terpenuhi maka dapat menjadi parameter bagaimana ancaman akan datang dan perlu menjadi prioritas dalam menghadapi dan menanggulanginya. Data suatu pelanggaran atau tindak pidana dilaut belum menentukan bagaimana sebenarnya prioritas suatu ancaman yang dapat mengganggu keamanan maupun kedaulatan suatu negara jika kriteria- kriteria suatu ancaman belum semuanya terpenuhi. Identifikasi suatu ancaman perumpamaannya seperti hal nya sebuah gunung es yaitu terlihat kecil di permukaan namun sangat besar didalam dan tentunya sangat sulit untuk mengetahui secara jelas bagaimana besar dan bentuk gunung es yang didalam air jika tidak dengan menganalisis bagaimana kriteria-kriteria yang menjadi parameter terbentuknya gunung es tersebut.

Berdasarkan hasil analisa yang dilaksanakan dengan menggunakan Tool Super Decision maka hasilnya sebagai berikut.

a. Bahwa alternatif ancaman yang perlu mendapat prioritas adalah ancaman militer

yang memiliki nilai 0.4022 dan kriteria yang paling dominan yang mempengaruhi ancaman di Laut Natuna adalah kriteria capability sehingga hal ini sangat menentukan strategi yang tepat dalam operasi yang dilaksanakan. Hasil yang didapat mengarah ke ancaman militer karena kriteria hubungan antar kriteria yang dipilih oleh reponden memiliki keterkaitan untuk mendukung bahwa ancaman militer yang paling memungkinkan menjadi ancaman yang paling prioritas di Laut Natuna hal ini didukung oleh bagaimana kriteria capability sebagai pembentuk ancaman memiliki nilai paling tinggi dari kriteria yang lain. Dimana subkriteria yang paling mempengaruhi dalam cluster Capability adalah tinggi kemampuan dari sumberdaya yang memiliki nilai 0.5142.

Sumberdaya dalam hal ini bagaimana kemampuan sumberdaya untuk menyiapkan kekuatan dengat sangat besar dan cepat merupakan parameter dari prioritas kemungkinan ancaman.

b. Dari subktriteria-subkriteria yang ada

tersebut yang memiliki nilai paling tinggi dari

subkriteria itu adalah accesibility dengan nilai

0.6464 sehingga ancaman laut yang perlu

mendapat perhatian adalah kemampuan

pihak lain yaitu peluang untuk melaksanakan

lalu lintas atau memasuki perairan Laut

Natuna dengan mudah yang kemungkinan

akan memberikan suatu ancaman. Hal ini

dipengaruhi oleh bagaimana luas wilayah

laut di Laut Natuna yang tentunya dalam

(10)

pengawasan dan pengendalian nya perlunya adanya banyak autsista dan pelaksanaannya secara terus menerus.

Menurut Henry Bartlett, Paul Holman, dan Timothy Somes dari Naval War College menyatakan bahwa tugas yang paling penting untuk mengevaluasi sepenuhnya sifat-sifat ancaman adalah kemungkinan terjadinya, dan konsekuensinya terhadap kepentingan nasional. Sehingga Penilaian ancaman tradisional atau militer terus memiliki peran penting, meskipun dimodifikasi, dalam strategi dan proses perencanaan kekuatan.

Pertimbangan yang spesifik tentang kemampuan, niat, dan keadaan negara, serta kerentanan adalah penting. Niat dan rencana musuh yang potensial biasanya lebih kabur dan tidak pasti dibandingkan pengetahuan tentang kemampuan kekuatannya. Namun secara spesifik dapat mengubah kemampuan dan niat suatu negara dengan cara yang tidak terduga, dan ini juga diidentifikasi dari kerentanan serta kriteria peluang untuk mengancam bangsa.

Kesimpulan

Setelah dilaksanakan analisis terhadap prioritas ancaman di Laut Natuna dengan menggunakan ANP maka didapatkan bahwa

a. Prioritas ancaman di laut Natuna kedapan adalah ancaman militer dilihat dari kriteria

capability ancaman sehingga hal ini sangat menentukan strategi yang tepat dalam operasi yang dilaksanakan.

b. Subkriteria yang berpengaruh terhadap kemungkinan ancaman adalah accesibility Sehingga ancaman laut yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan pihak lain yang sangat mudah untuk melaksanakan lalu lintas di perairan Laut Natuna yang kemungkinan akan memberikan suatu ancaman.

Referensi

Buzan, Barry. People, States, and Fear: The National Security Problem in

International Relations, Sussex.

Wheatsheaf Books. 1983

Saaty, Thomas L. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Jakarta. Pustaka Binaman Presindo. 1993.

Saaty, T. Fundamentals of The ANP.

Pittsburgh: RWS. 1999.

Saaty, T. Decision Making With Dependence and Feedback : The Analytic Network Process. Pittsburgh. RWS Publications.

2001.

Till, Geoffrey. Sea Power A Guide for Twenty-First Century. London: Frank Cass Publisher. 2004

Vego, Milan N. Naval Strategy and

Operations in Narrow seas. London:

Frank Cass Publisher. 2005.

Vandeveer, Charles. Intelligence analysis,

intention, Capability and challenge of

NonState Actors. University of

Anderlaide. 2011

Referensi

Dokumen terkait

17. Memonitor seluruh kegiatan kemitraan yang dilakukan para pihak melalui tim teknisnya sebagai masukan dan bahan evaluasi. Keanggotaan Tim Teknis berasal dari lembaga

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah terdapat pengaruh penerapan sistem administrasi perpajakan modern yang meliputi modernisasi struktur organisasi,

Demikian proposal penawaran dari kami, kami akan sangat senang bila bapak / ibu dapat mempertimbangkan dan memberi kepercayaan kepada kami untuk memberikan

Ketika menghadiri upacara perkawinan orang Mandailing, tidak ditemukan kesenian tradisional orang Mandailing berupa tarian Tor- tor dan Gordang sembilan. Tarian Tor-tor

Buku teks pelajaran dan buku keterampilan pendidikan khusus disusun dengan mempertimbangkan kondisi yang dimiliki peserta didik, sehingga aktivitas pembelajaran

PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang kuartal pertama 2015 Rp290,22 miliar, memburuk bila dibanding

Dalam proses pengurutan warna berdasarkan algoritma Welch-Powell, daerah yang bertetangga diberi warna yang berbeda, dalam hal ini penting untuk menunjukkan daerah

Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi internasional pemerintahan Joko Widodo di Laut Cina Selatan dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor domestik yang difokuskan