• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DESKRIPSI UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III DESKRIPSI UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

31 BAB III

DESKRIPSI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Letak Geografis Kabupaten Lamongan

Luas wilayah Kabupaten Lamongan sebesar 1.812,80 km2 yang terdiri dari 27 kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 462 desa dan kelurahan sejumlah 12 kelurahan. Wilayah kabupaten Lamongan merupakan dataran rendah dan bonorowo yang memiliki tingkat ketinggian 0-25 meter dengan luas 50,17%, sedangkan untuk ketinggian 25-100 meter seluas 45,68%, selebihnya 4,15%

berketinggian di atas 100 meter di atas permukaan air laut, 6º 51’ 54’’ sampai dengan 7º23’6’’ lintang selatan dan antara 112º 4’41’’ sampai dengan 112º 33’12’’ bujur timur. Kabupaten Lamongan memiliki luas wilayah kurang lebih 1.812,8 km2 atau +3.78% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur. Dengan panjang garis pantai sepanjang 47 km, maka wilayah perairan laut Kabupaten Lamongan adalah seluas 902,4 km2, apabila dihitung 12 mil dari permukaan laut. Kabupaten Lamongan terdiri atas 27 kecamatan yang terbagi menjadi 3 karakteristik daratan berdasarkan aliran sungai bengawan solo. Untuk bagian tengah selatan merupakan daratan rendah dengan ciri tanah relatif agak subur yang membentang cukup luas dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung, Sugio, Maduran, Sarirejo,dan Kembangbahu. Sedangkan untuk bagian utara dan selatan merupakan rentetan pegunungan kapur berbatu-batu dengan tingkat kesuburan sedang meliputi wilayah Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokuro serta bagian tengah utara yang merupakan daratan dengan daerah rawan banjir di setiap tahunnya meliputi Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi,

(2)

32 Karangbinangun, dan Glagah. Data Dinas PU Pengairan mencatat rata-rata curah hujan Tahun 2016 di Kabupaten Lamongan adalah sebesar 4.432 mm per tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 224 hari, dengan rata-rata curah hujan selama sepuluh tahun terakhir sebesar 1.670 mm per tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Lamongan hingga tahun 2015 yaitu 1.179.059 jiwa dimana wilayah dengan jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Paciran sebesar 90.700 jiwa sedangkan wilayah dengan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Sukorame sebesar 20.126 jiwa.

Tabel 3.1 Luas wilayah per Kecamatan di Kabupaten Lamongan

No Kecamatan Luas Kecamatan (Km2)

1 Kec. Lamongan 37, 59

2 Kec. Deket 41, 66

3 Kec.Turi 48, 62

4 Kec. Tikung 98, 82

5 Kec. Kembangbahu 64, 74

6 Kec. Sukodadi 87, 55

7 Kec. Sekaran 80, 75

8 Kec. Karanggeneng 37, 24

9 Kec. Babat 56, 64

10 Kec. Kedungpring 53, 46

11 Kec. Sugio 91, 29

12 Kec. Modo 76, 14

13 Kec. Ngimbang 88, 40

14 Kec. Bluluk 93, 54

15 Kec. Sambeng 145, 43

16 Kec. Mantup 100, 15

17 Kec. Paciran 143, 43

18 Kec. Brondong 68, 60

19 Kec. Laren 82, 33

20 Kec. Karangbinangun 41, 27

21 Kec. Glagah 54, 20

22 Kec. Kalitengah 36. 00

Jumlah 1. 628.04

Sumber Data: Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan

(3)

33 3.2 Sejarah Kabupaten Lamongan

Kabupaten Lamongan adalah sebuah kabupaten kecil yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Batas wilayah kabupaten Lamongan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Gresik di sebelah timur, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Mojokerto di sebelah selatan, serta Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro di sebelah barat. Pembagian wilayah administrasi Kabupaten Lamongan terbagi atas 27 kecamatan yang terdiri dari sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan terletak di jantung kota lamongan yaitu di Kecamatan Lamongan. Asal mula sejarah nama “Lamongan” berasal dari nama seorang tokoh pada masa silam. Pada zaman dulu, terdapat seorang pemuda yang bernama Tumenggung Surajaya atau Rangga Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia disebut Rangga Hadi. Nama Rangga Hadi kemudian berubah menjadi Mbah Lamong. Nama tersebut diberikan oleh rakyat setempat pada masa itu dikarenakan Rangga Hadi dianggap pandai Ngemong Rakyat. Selain itu, Rangga Hadi juga pandai dalam mengatur dan membina pemerintahan daerah serta mahir menyebarkan ajaran agama Islam sehingga dicintai oleh seluruh rakyatnya. Dari asal kata Mbah Lamong inilah kawasan ini kemudian disebut dengan Lamongan. Penobatan Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik. Hari pasamuan tersebut dihadiri oleh para pemuka agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

(4)

34 Berbeda dengan sejarah awal mula berdirinya daerah-daerah Kabupaten lain khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari sesuatu prasasti atau peninggalan sejarah yang lain, hari lahir kabupaten Lamongan mengambil sumber dari buku wasiat. Buku wasiat berisi tentang Silsilah Kanjeng Sunan Giri yang ditulis tangan dengan huruf Jawa Kuno/Lama yang disimpan oleh Juru Kunci Makam Giri di Gresik. Buku wasiat tersebut menjelaskan bahwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang bernama Rangga Hadi / Mbah Lamong dilakukan dalam pasamuan agung pada Tahun 976 H. Namun yang tertulis dalam buku wasiat tersebut hanya tahunnya saja, sedangkan untuk hari, tanggal dan bulannya tidak ada. Dari hal tersebut, Panitia Khusus Penggali Hari Jadi Lamongan mencari sumber bukti-bukti yang lebih banyak lagi sebagai dasar yang kuat untuk mencari dan menetapkan tanggal, hari dan bulannya. Setelah proses pencarian dan penelusuran berbagai buku sejarah yang bersangkutan dengan Kasunanan Giri maupun Sejarah para wali dan adat istiadat pada waktu itu, akhirnya Panitia khusus menemukan bukti. Dari temuan bukti menjelaskan bahwa adat atau tradisi kuno yang berlaku di zaman Kasunanan Giri dan Kerajaan Islam di Jawa waktu itu selalu melaksanakan pasamuan agung.

Yang diutamakan dalam pesamuan yaitu memanggil menghadap para Adipati, Tumenggung serta para tokoh pembesar lainnya yang sudah memeluk agama Islam. Pasamuan Agung dilaksanakan bersamaan dengan hari besar Islam Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah atau biasanya yang disebut Grebeg Besar.

Berdasarkan adat istiadat yang berlaku pada waktu itu, maka Panitia menetapkan wisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama dilaksanakan dalam pasamuan agung Garebeg Besar yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah. Selain itu untuk mengetahui hari, tanggal dan

(5)

35 bulan yang relevan, panitia juga menelusuri jalannya tarikh hijriyah yang dipadukan dengan jalannya tarikh masehi dengan berpedoman tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriyah jatuh pada tanggal 16 Juni 622 Masehi. Dari patokan tersebut, panitia dapat menarik kesimpulan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah 976 H itu jatuh pada Hari Kamis Pahing tanggal 26 Mei 1569 M. Dengan demikian jelas bahwa sejarah perkembangan daerah Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan berlangsung pada zaman keislaman dengan Kesultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Namun pada zaman itu yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang, melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal tersebut terjadi disebabkan Kanjeng Sunan Giri merasa prihatin terhadap kepemimpinan Kesultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang mantap serta khawatir terhadap adanya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin mengambil alih wilayah Nusantara khususnya Pulau Jawa. Tumenggung Surajaya atau Mbah Lamong adalah Rangga Hadi yang berasal dari Dusun Cancing yang sekarang adalah wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Rangga Hadi sudah nyuwito atau mengabdi di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri. Kesukaannya terhadap Rangga Hadi karena memiliki ia pemuda yang baik, terampil, cakap dan cepat menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan. Karena pertimbangan itulah akhirnya Kanjeng Sunan Giri menunjuk Rangga Hadi untuk menjalankan perintah menyebarkan Agama Islam dan mengatur pemerintahan serta kehidupan rakyat di kawasan Kenduruan yang terletak di sebelah barat

(6)

36 Kasunanan Giri . Dari hasil kerja kerasnya dalam melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberikan pangkat Rangga kepada Hadi. Ringkas cerita, Rangga Hadi dengan segenap pengikutnya naik perahu melalui Kali Lamong yang akhirnya menemukan tempat yang bernama Kenduruan tersebut. Kawasan yang disebut Kenduruan tersebut masih ada sampai saat ini dan tetap bernama Kenduruan yang berstatus Kampung di Kelurahan Sidokumpul Kecamatan Lamongan. Di daerah baru tersebut semua usaha dan rencana yang dibuat oleh Rangga Hadi berjalan dengan mudah dan lancar, terutama dalam usaha menyebarkan agama Islam, kehidupan bermasyarakat dan mengatur pemerintahan. Adapun pesantren untuk menyebar Agama Islam peninggalan Rangga Hadi sampai sekarang masih ada.

3.3 Sosial Budaya Kabupaten Lamongan

Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lamongan adalah penduduk pedesaan. Sektor pertanian dan perikanan masih menjadi sumber mata pencaharian utama dan sekaligus menjadi salah satu komoditas penyumbang pendapatan daerah. Hasil alam berupa padi, palawija dan ikan tawar maupun laut masih menjadi urutan teratas dalam daftar hasil alam terbesar. Selain profesi di bidang pertanian, dengan berdirinya perusahaan-perusahaan di wilayah Lamongan masyarakat baik dari desa maupun kota mulai beralih profesi menjadi buruh pabrik dengan upah yang menjanjikan.

Kondisi sosial budaya masyarakat di Kabupaten Lamongan masih kental dengan tradisi adat istiadat yang berlaku di daerah masing-masing. Dalam aktivitas sehari-hari, mayoritas masyarakat masih berpegang teguh dalam tradisi budaya Jawa dan keagamaan. Budaya dan tradisi yang terdapat di Kabupaten

(7)

37 Lamongan beragam di masing-masing daerah. Sebagai salah satu contoh implementasi aspek sosial budaya yang masih berlaku di masyarakat hingga kini di Kabupaten Lamongan khususnya Lamongan wilayah tengah (Sukodadi, Kalitengah, Karanggeneng) yaitu tradisi Megengan. Megengan adalah berbagi nasi berkatan dengan lingkungan sekitar (biasanya di daerah pedesaan) ketika puasa Ramadhan berakhir. Biasanya warga satu RT secara bergiliran menyediakan berkatan berisi nasi dan lauk dibungkus plastik untuk dibagi sesama warga. Kadang dilakukan serentak, namun seringkali digelar dalam beberapa hari agar tidak kesulitan membawa berkatan terlalu banyak.

Selain budaya diatas, dapat dilihat di sebuah acara khitanan masih banyak masyarakat yang mengundang pertunjukan Wayang dan Jidor dengan tujuan memberikan hiburan dan tidak melupakan tradisi terdahulu. Selanjutnya hampir sebagian besar pemuda di Kabupaten Lamongan masih menyukai budaya musik dangdut (orkes) atau grup musik qasidah yang diundang di acara Peringatan Hari Kemerdekaan maupun pernikahan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan westernisasi, tradisi budaya tersebut mulai bergeser ke arah modern. Grup musik band dengan genre pop dan sejenisnya bermunculan di acara-acara resepsi pernikahan. Kalangan anak muda yang sebelumnya menyukai genre musik dangdut (orkes) sedikit demi sedikit beralih ke musik keras seperti metal, hardcore, grindcore dan sebagian beralih ke musik indie populer. Event-event musik tersebut juga sering diadakan di berbagai tempat di Lamongan khususnya Kota Lamongan. Dengan adanya perkembangan dan edukasi mengenai wawasan berbagai genre musik, kini musik-musik tersebut sudah tidak asing terdengar di banyak tempat baik di coffee shop, supermarket dan tempat-tempat hiburan lainnya.

(8)

38 3.4 Perkembangan Musik di Lamongan

Musik di Lamongan cukup ramai diminati oleh semua kalangan baik dari yang muda hingga yang tua. Keberagaman musik yang terjadi di lamongan memunculkan berbagai macam kalangan mulai dari qasidah, gending jawa, dangdut, reggae, pop, rock, dan underground. Para penikmat musik dangdut di lamongan identik dengan tawuran antar penonton sehingga memang seringkali polisi banyak yang berjaga di konser-konser musik dangdut. Peminat pada musik dangdut ini juga sangatlah banyak dan biasanya berbasis di daerah pinggiran kota hingga ke desa. Musik dangdut menjadi favorit untuk anak muda di desa dan juga tidak dipungkiri oleh sebagian besar masyarakat di Lamongan.

Banyak dari sekolah-sekolah di lamongan yang mengadakan ekstrakurikuler band dan mengikuti festival band atau perlombaan band antar sekolah. Budaya musik mulai dikenalkan kepada siswa-siswi di sekolahan untuk dikompetisikan, hal itu cukup populer ketika peneliti masih berada di bangku sekolah menengah.

Satu sekolah bisa membuat 1-3 grup band untuk mengikuti kompetisi band.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, musik mengalami pendewasaan yang akhirnya membentuk komunitas-komunitas musik yang menekuni genre musik tertentu. Beberapa komunitas ada yang tetap eksis namun juga banyak yang telah bubar. Komunitas musik ini dulunya adalah wadah bagi pemuda yang sedang kebingungan menyalurkan minatnya. Para pemuda biasanya mengikuti gathering di Alun-alun Lamongan yang saat itu sangat ramai karena menjadi pusat kota.

Karena muda-mudi sering membawa motor maka saat itu sangat ramai dari mulai klub motor sampai dengan komunitas musik yang memarkirkan motornya sambil memasang spanduk komunitasnya.

(9)

39 Konser musik di lamongan didominasi oleh festival band dan juga konser dangdut. Festival band biasanya dihadiri oleh para anak sekolahan yang temannya sedang tampil. Sedangkan konser dangdut biasanya diadakan di desa-desa ketika sedang ada hajatan besar. Di dalam dunia musik Lamongan memanglah sempit namun di dalamnya ada berbagai macam fenomena. Saat konser dangdut maka akan selalu ada panggung besar dan juga personel kepolisian yang ramai untuk berjaga. Musik dangdut di lamongan menjadi musik semua kalangan dari mulai yang muda hingga yang tua. Jika anda singgah ke warung kopi di Lamongan maka anda akan disuguhi dengan musik-musik dangdut seperti Pallapa, Sera, Monata, dan lain-lain.

Dika sebagai warga lamongan yang cukup jauh dari Pusat kota mengaku sering melihat konser orkesan yang tawuran. Menurut dika yang merupakan warga Kecamatan Kalitengah:

“Sing tak eruh intine ono loro, siji seng njoget podo mendem, kesenggol gak trimo, akhire tawuran, keloro ncen niat nggelek ricuh, goro-goro geng-gengan utowo masalah perguruan”

(“Yang saya tahu intinya ada dua, yang satu joget dalam keadaan mabuk, gak terima kalau kesenggol akhirnya tawuran, yang kedua memang niat mencari masalah gara-gara geng-gengan atau masalah perguruan.”)

Kecamatannya yang terbilang sering mengadakan acara orkesan, tawuran biasa terjadi karena saling senggol karena sedang dalam kondisi mabuk atau memang sengaja dibuat karena masalah perguruan silat dan kelompok geng yang ada disana. Dalam masa itu memang sangat banyak pemuda yang ikut ke dalam perguruan pencak silat dan juga anggota geng dan sering menghadiri acara musik orkesan. Musik dan juga tawuran memang menjadi hobi para pemuda desa di Kabupaten Lamongan. Para pemuda desa saat itu digeneralisir ke arah perguruan dan geng dan juga dominan di musik dangdut.

(10)

40 Seiring perkembangan waktu, musik mengalami difusi kebudayaan melalui media-media elektronik yang saat itu berbasis internet. Keberagaman musik yang ada di internet juga sampai kepada pemuda pemudi di Lamongan yang memanglah saat itu sedang gencar-gencarnya menggunakan media sosial Facebook. Dengan citra buruk dari dangdut yang lebih sering dikenal dengan tawuran, para muda-mudi di Kabupaten Lamongan mulai mencari sebuah bentuk musik baru yang saat itu menghasilkan berbagai komunitas musik salah satunya adalah LCHC. Adapun beberapa komunitas musik selain Hardcore adalah Metal, Screamo, dan Punk. Melalui bentuk-bentuk musik yang baru tersebut, perkembangan musik di Lamongan mengalami perubahan yang cukup besar. Saat itu banyak yang menggelar konser yang bertemakan satu genre tertentu dan yang paling sering adalah dari Komunitas Musik Metal. Acara-acara metal cukup sering diselenggarakan di Lamongan dengan Guest Star dari berbagai kota di luar Kabupaten Lamongan. Musik metal memegang kendali pada acara-acara di Kabupaten Lamongan cukup lama yang akhirnya para pelaku di dalamnya mulai mencari lagi bentuk baru di dalam musik yang bernuansa Underground sehingga muncul Hardcore, Screamo, dan Punk yang juga mengikuti para pendahulunya untuk ikut serta dalam mengadakan konser mereka sendiri.

Komunitas musik indie hardcore ini merupakan sebuah wajah baru yang muncul di dalam masyarakat yang tergeneralisir ke dalam musik dangdut yang menjadi identitas utama pemuda di Kabupaten Lamongan. Seiring berkembangnya kemajuan di Lamongan, muncul musik-musik underground yang mulai ramai menggaet anak muda di Lamongan. Dalam musik underground atau indie para pemuda mendapatkan sebuah pengetahuan baru dalam bermusik. Para pemuda mulai memahami bentuk musik yang belum pernah mereka lihat dan

(11)

41 menjalani nilai-nilai dalam bermusik yang sesungguhnya. Bentuk musik yang cukup berbeda merupakan sebuah penanding terhadap kancah musik lain di Kabupaten Lamongan. Jika kita berkaca kepada masyarakat Lamongan yang sejatinya adalah masyarakat Kabupaten yang berasal dari desa maka musik ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang elegan bagi mereka.

3.5 Komunitas Musik Hardcore Lamongan 3.5.1 Sejarah Komunitas Musik Hardcore

Kemunculan scene hardcore/punk di kota lamongan sudah ada sejak era tahun 2000an namun baru terasa perkembanganya secara pesat pada tahun 2010-2011. Dimulai dari era barox (Hate of Pain) dan Firman (Blockade) pada tahun 2000an yang mungkin saat itu sangat minim peminatnya dan saya sendiri pun masih akan masuk taman kanak-kanak.

Namun, pada saat itu scene underground di lamongan sudah ada dan didominasi oleh musik metal. Barulah pada tahun 2009 hardcore/punk mulai berkembang di lamongan melalui gigs-gigs yang saat itu dibuat oleh anak-anak metal seperti Lamongan Youth Crew. Perkembangan ini juga tidak lepas dari pengaruh Ijon (Exterminalos) yang membawa dan mendoktrin untuk membuat Lamongan City Hardcore atau LCHC.

Terbentuknya LCHC juga dipengaruhi Lamongan Youth Crew yang saat itu terpecah karena ada konflik internal dan berganti nama menjadi Lamongan Metal Madness. Sufa (Instinct), Bendol (Gendercide, Instinct), Botak (Battalion Hammer) dan teman-teman LCHC lainya yang mulai mempelopori semangat awal membuat gigs-gigs. Teman-teman LCHC mulai membuat gigs-gigs awal hardcore/punk pada tahun 2012 seperti Brotherhood 2, Warpath For Unity dan dari gigs tersebut muncul band-

(12)

42 band hardcore baru seperti Battalion Hammer, Total Boring, Instinct.

Seiring berkembangnya hardcore/punk dan seiring juga dengan mulai ramainya gigs-gigs yang dibuat juga semakin banyak yang datang ke gigs.

Perjuangan membuat gigs tidaklah mudah kala itu, budget yang dikeluarkan tidak seimbang dengan income dari orang-orang yang datang ke acara sehingga ketika itu yah banyak ruginya ketika membuat gigs namun keinginan untuk membuat gigs tak bisa dipungkiri sudah menjadi candu. Kendala lain seperti gedung yang dirasa cocok untuk acara hardore/punk masih sangat minim kala itu karena jika bertempat di GOR Lamongan maka harus menyediakan panggung “rijing” dan tidak mungkin tidak menggunakan sound out yang besar pula dan ini berpengaruh pada budget tadi. Dana yang digunakan untuk membuat gigs berasal dari penjualan kaos LCHC dan dana itu pun ludes setelah membuat gigs. Barulah tahun 2012 mulai membuat manuver setelah hunting gedung dan mendapat informasi gedung-gedung yang dapat digunakan pada waktu itu anak-anak muda membuat gigs “Anthem Of Gladiator” di gedung serbaguna sukodadi yang lumayan jauh dari pusat kota tapi juga sedikit murah sehingga tak perlu dana banyak-banyak dan tiket hanya sepuluh ribu rupiah saja. Dari acara tersebut kami juga mengundang teman-teman luar kota seperti Knockdown (Yogyakarta), Ultraman Sexy (Bojonegoro), Bangkit Melawan (Malang), Crush System (Tuban). Pada saat itu sempat terjadi sedikit chaos dengan pemuda setempat yang memaksa masuk acara tanpa membeli tiket tapi masalah itu selesai saat acara buyar. Semenjak saat itu sering sekali kita bertukar gigs dan sharing pengalaman dengan teman-teman luar kota. Dalam perkembangan gigs-

(13)

43 gigs yang teman-teman LCHC buat dan usaha untuk menyuarakan scene hardcore/punk di lamongan hingga saat ini juga mempunyai kendala lain

yaitu saat JF Studio yang ditutup karena tidak mampu lagi menanggung kerusakan alat yang sudah cukup tua dan kesalahan manajemen. Menurut pendapat Imam tentang Studio JF adalah sebagai berikut:

“Jf musik studio sendiri merupakan tempat yang sangat berpengaruh dalam perkembangan band-band yang ada di Lamongan karena merupakan tempat yang paling sering dikunjungi oleh pelaku band di Lamongan setiap harinya, bahkan ada banyak band yang awal mulanya terbentuk karena mereka bertemu atau nongkrong di jf musik studio itu sendiri.”

Dulu Studio JF merupakan pusat anak hardcore atau bisa dibilang basecamp. JF Studio adalah basis dari scene underground di lamongan

kota dan semenjak ditutup teman-teman mulai kekurangan studio untuk latihan karena rata-rata studio di Kabupaten Lamongan saat itu tidak memperbolehkan untuk bermain musik keras atau underground. Sempat teman-teman mengadakan benefit gigs di halaman studio JF sebelum akhirnya ditutup yaitu “For The Kids”. For The Kids adalah acara gratis dan bertujuan untuk kemanusiaan, menyadarkan kita untuk berbagi kepada sesama manusia melalui materi maupun non materi. Setelah JF tutup teman-teman berpindah ke oldcity wearhouse yang kemudian menjadi tempat teman-teman LCHC untuk saling bertukar pikiran dan juga memulai pergerakan-pergerakan. Berkat dukungan dari teman-teman akhirnya LCHC mampu mendatangkan band asal inggris “Pay No Respect” yang menjadi band hardcore inggris pertama yang datang ke lamongan dan disusul band-band bule yang lainya seperti Custodia

(14)

44 (Ecuador), Keep Talking (Switzerland), dll. Hal itu sudah menjadi bukti keberadaan scene hardcore/punk di lamongan.

Gambar 3.1 Konser Musik Hardcore di Aula Kodim Lamongan

Hardcore tidak melulu tentang moshing atau violence dance tapi tentang bagaimana kita mengerti dan memahami tentang apa yang dihadirkan musik tersebut.

3.5.2 Gerakan Komunitas Musik Hardcore

Subjek dalam penelitian kali ini telah melakukan proses berkomunitas selama bertahun-tahun dan Lamongan menjadi salah satu kancah yang cukup berpengaruh di Jawa Timur. Salah satu kegiatan musik yang cukup terkenal adalah LCHC Fest yang menampilkan band dari berbagai kota di Jawa Timur bahkan dari luar negeri. Acara musik diorganisir secara mandiri oleh komunitas dengan memanfaatkan merchandise sebagai modal untuk membuat acara musik secara berkelanjutan. Dalam

(15)

45 kegiatanya, komunitas tidak semata-mata membuat acara untuk menunjukkan eksistensinya saja namun menyuarakan tentang banyak hal yang mereka yakin bahwa itu benar. Hardcore di lamongan hadir sebagai bentuk respon terhadap masyarakat yang mainstream, pengaruhnya bahkan merambah sampai pada muda-mudi di sekolah.

Dari awal proses yang dilakukan komunitas LCHC ini telah menghasilkan beberapa Band dan juga rilisan-rilisannya. Band di dalam komunitas ini cukup penting keberadaannya karena dengan adanya band maka suatu musik itu dianggap ada dan hidup. Ada dan hidup lebih mengarah pada eksistensi komunitas. Setiap tahun akan ada karya baru dan juga bermunculan band baru dari kancah musik hardcore dan komunitas ini juga turut berkontribusi di dalamnya. Mulai dari yang terlama Battalion Hammer sampai dengan yang terbaru Brainoise merupakan sebuah produk dari gerakan Komunitas ini. dibanding dengan hanya menggunakan nama hardcore sebagai simbol, para subjek di dalam Komunitas Musik Indie Hardcore ini lebih mengedepankan bukti dengan karya-karyanya. Menurut pendapat Imam tentang band hardcore adalah sebagai berikut:

“Band-band iku kudu onok pembuktiane ora mung sekedar ngeband”

(“Band itu harus punya pembuktian, tidak hanya sekedar main band.”)

Dalam pernyataannya tersebut Imam lebih menjelaskan bahwa ketika kita berada di dalam suatu band maka harus ada produk yang dihasilkan sehingga memperkuat eksistensi dari band tersebut. Dalam kurun waktu 10 tahun, komunitas ini telah mengeluarkan produk-produk yang

(16)

46 diproduksi sebagai hasil dari proses kreatif dari para subjek di dalam komunitas ini. Band Battalion Hammer telah memproduksi Album pertamanya yang berjudul “Dark Side” di tahun 2015 dan di tahun 2021 juga masih aktif dengan mengeluarkan single terbarunya “Konstitusi Membungkam”. Fullstrike juga telah melakukan pembuktian berupa EP Album yang berjudul “Where Does The Wind Come From”. Matan ruak dengan Demonya yang berisikan 3 lagu yaitu “Suara Bara”, “Disgrace”, dan “Authority”. Instinct juga telah mempunyai 3 lagu sendiri yang direkam yaitu “Never Ending Struggle”, “I Got No Impact”, dan “This Is Us”. Beberapa dari band tersebut bahkan sampai diulas di media dari luar

negeri seperti Fullstrike yang dimuat di website dari Belgia yaitu Out of Step.

Para subjek di dalam komunitas LCHC juga sering mengadakan laga tandang ke gigs atau konser di luar kota dan saling berbagi koneksi antar komunitas, band, dan lain-lain. Jejaring pertemanan yang dibentuk oleh Komunitas Musik Indie Hardcore LCHC ini telah sampai ke beberapa kota yang ada di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Tuban, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Pandaan, Malang, Banyuwangi, Batu, Blitar.

Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan Ngawi.

Gambar

Tabel 3.1 Luas wilayah per Kecamatan di Kabupaten Lamongan
Gambar 3.1 Konser Musik Hardcore di Aula Kodim Lamongan

Referensi

Dokumen terkait

Bank pengkriditan rakyat syari’ah PNM BINAMA didirikan atas prakarsa para tokoh masyarakat dan pengusaha muslim disekitar semarang.Gagasan tersebut tumbuh karena

Pada penelitian ini akan dilakukan pengujian aktivitas antimalaria ekstrak etanol dan senyawa andrografolida dari herba sambiloto secara in vitro terhadap tahapan perkembangan

Dalam kajian Erina et.al (2014) yang bertajuk Persepsi Majikan Terhadap Graduan Politeknik Kementerian Pendidikan Malaysia mencatatkan bahawa kepuasan bagi majikan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat CMV-2 yaitu isolat virus mosaik ketimun yang diperoleh dari Sub-Balai Penelitian Tanaman Hortikultura Segunung,

Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam cerita Ratnakara yaitu : 1) nilai pendidikan etika, yakni ketika Ratnakara tidak mempunyai rasa welas asih terhadap

Berdasarkan hasil pengujian beton dan analisis regresi, didapatkan bahwa serbuk kayu ulin dan alcas;t yang digunakan sebagai bahan tambah dalam campuran beton

ii Kami harapkan dengan adanya Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) pengelolaan perpustakaan dapat mewujudkan pandangan yang sama dalam pengembangan

a. Kreativitas bukan hanya menciptakan sesuatu yang baru, melainkan juga harus memiliki nilai kemanfaatan. Guru yang kreatif harus mampu memberikan pendidikan yang