• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risalah Kebijakan. Internalisasi Kesadaran Sejarah Jalur Rempah untuk Peserta Didik SMA/SMK/MA. Ringkasan Temuan. Nomor 21, September 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Risalah Kebijakan. Internalisasi Kesadaran Sejarah Jalur Rempah untuk Peserta Didik SMA/SMK/MA. Ringkasan Temuan. Nomor 21, September 2021"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Internalisasi Kesadaran Sejarah Jalur Rempah untuk Peserta Didik SMA/SMK/MA

Internalisasi kesadaran sejarah Jalur Rempah perlu dilakukan kepada peserta didik, khususnya di jenjang SMA untuk mem- bentuk pemahaman bahwa Jalur Rempah memiliki nilai-nilai universal yang luar biasa (outstanding universal values).

Materi mengenai sejarah Jalur Rempah tidak disebutkan secara eksplisit dalam KD pelajaran Sejarah Indonesia di jenjang SMA, tetapi dapat diintegrasikan pada KD yang rele- van. Internalisasi kesadaran sejarah Jalur Rempah juga dapat diperkaya melalui materi Sejarah Lokal, seperti kerajaan dan pelabuhan lokal di daerah yang kontekstual dengan Jalur Rempah.

Penguatan kesadaran sejarah Jalur Rempah kepada peserta didik perlu didukung dengan memperkaya materi sejarah Jalur Rempah dengan konteks lokal, memberikan pelatihan kepada para guru sejarah, serta peningkatan kerja sama anta- rinstansi.

Ringkasan Temuan

Nomor 21, September 2021

Risalah Kebijakan

(2)

Konteks

Wilayah Nusantara pada masa lampau telah dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah.

Hal ini menyebabkan banyak pedagang dari mancanegara, seperti China, India, dan Timur Tengah, bahkan Eropa datang ke berbagai wilayah di Nusantara untuk membeli rempah-rempah. Dengan demikian, wilayah Nusantara memiliki posisi strategis sebagai poros dagang yang menghubungkan negeri-negeri lain dan menjadi kawasan penting dalam perdagangan dunia (Razif dan Fauzi, 2017).

Dari segi politik, perdagangan rempah menjadi bagian dari pertumbuhan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Sriwijaya, Mataram Kuno, Melayu, Majapahit, Gowa, Buton, Ternate, dan Tidore. Dari sisi ekonomi, perdagangan rempah-rempah menyebabkan tumbuhnya kota-kota pelabuhan kuno dan menjadikannya sebagai jalur maritim yang sibuk. Dari sisi sosial budaya, terjadi interaksi antarpulau dan antarbenua, pertukaran budaya, masuknya agama-agama besar, dan pengetahuan serta teknologi baru. Kejayaan jalur rempah mencapai puncaknya sekitar abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17, saat perlombaan untuk menemukan sumber rempah-rempah turut memicu sejarah panjang kolonialisme (International Forum on Spice Route, 2019).

Arti penting Jalur Rempah bagi sejarah dunia maupun sebagai warisan sejarah dan budaya Indonesia mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan mengajukan Jalur Rempah sebagai nominasi Warisan Budaya Dunia UNESCO, sesuai dengan World Heritage Convention (Konvensi Warisan Dunia) tahun 1972 tentang Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Direktorat Pelindungan Kebudayaan, 2020; UNESCO, 1972). Pengajuan Jalur Rempah saat ini ditargetkan masuk dalam World Heritage Tentative List dan pada 2024 sudah masuk nominasi Warisan Dunia (Kompas.com, 21 Juli 2020). Agar dapat diakui sebagai warisan dunia, khususnya dalam kategori Heritage Routes, maka Jalur Rempah perlu digali kekayaan nilai sejarah dan budayanya yang dapat dilihat dari bukti nyata interaksi, pertukaran, pergerakan, dan dialog lintas wilayah dan budaya di sepanjang rute tersebut (UNESCO, 2019).

Salah satu syarat dalam pengajuan Jalur Rempah sebagai nominasi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO yaitu memiliki nilai universal yang luar biasa (outstanding universal value). Dalam hal ini, Jalur Rempah merupakan jaringan ekonomi, politik, dan budaya yang memberi pengaruh terhadap perkembangan peradaban di Nusantara dan sekitarnya, termasuk sejarah dan peradaban di dunia. Pemahaman tentang sejarah Jalur Rempah ini harus hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu membangun narasi yang kuat mengenai sejarah rempah-rempah, distribusi dan perdagangannya, pertukaran budaya yang terjadi antarbangsa, serta dampaknya terhadap perkembangan sejarah di Nusantara dan dunia. Narasi ini juga perlu diinternalisasikan ke dalam pemahaman generasi muda melalui pembelajaran sejarah. Oleh sebab itu, kurikulum pembelajaran sejarah, khususnya untuk peserta didik di bangku SMA/SMK/MA perlu mengakomodasi muatan tentang Jalur Rempah tersebut (Medcom.id, 28 April 2020).

Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) melakukan penelitian terkait internalisasi Jalur Rempah dalam pembelajaran sejarah sebagai upaya membangun kesadaran sejarah pada generasi muda.

Penelitian ini menggunakan metode desk research dengan mengumpulkan data dan informasi melalui pemeriksaan maupun analisis data sekunder, baik berupa dokumen peraturan perundang-undangan, kajian yang relevan, serta sumber lainnya yang menunjang.

(3)

Materi sejarah Jalur Rempah tidak disebutkan secara eksplisit dalam KD pelajaran Sejarah Indonesia, tetapi dapat diintegrasikan pada KD yang relevan.

Materi Jalur Rempah disampaikan melalui mata pelajaran Sejarah Indonesia dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran dari total 42 jam pelajaran per minggu (untuk kelas 10) dan 44 jam pelajaran per minggu (untuk kelas 11 dan 12) (Kemendikbud, 2018). Berdasarkan Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Permendikbud 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Kurikulum 2013 diketahui bahwa materi sejarah Jalur Rempah tidak secara eksplisit disebutkan dalam KD yang tersedia. Hal ini dikarenakan rentang waktu sejarah Jalur Rempah yang sangat panjang, dimulai dari empat ribu tahun yang lalu, ketika bangsa Austronesia datang ke Nusantara, hingga kedatangan dan penguasaan ekonomi dan politik oleh bangsa-bangsa Eropa. Oleh karena itu, muatan pembelajaran sejarah Jalur Rempah sebaiknya diintegrasikan ke dalam KD yang relevan, yakni:

KD 3.4 s.d. 3.8 (pada kelas 10) dan KD 3.1 s.d. 3.3 (pada kelas 11). Diawali dari KD yang membahas tentang Masyarakat Pra-Aksara dan diakhiri dengan KD yang membahas tentang Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa Eropa.

Tabel 1 KD yang Relevan untuk Muatan Pembelajaran Sejarah Jalur Rempah di Kelas 10

Periode abad ke-13 s.d. 17 Masuknya agama Islam

Munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam secara merata di seluruh Nusantara (Samudera Pasai, Aceh, Banten, Mataram Islam, Gowa Tallo, Ternate, Tidore, Buton, dan lain-lain)

Di kawasan barat Indonesia, kerajaan-kerajaan Islam muncul sebagai kerajaan baru, menggantikan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang telah runtuh. Misal:

Kerajaan Sriwijaya runtuh dan muncul Kesultanan Palembang, Kerajaan Majapahit runtuh dan muncul Kesultanan Demak.

Di kawasan timur Indonesia, kerajaan-kerajaan Islam merupakan kelanjutan dari kerajaan Pra-Islam. Ditandai dengan raja memeluk Islam, kemudian mengganti gelar dari sebelumnya (kolano, daeng, dan lain-lain) menjadi sultan.

- - -

-

- Kode

KD Kelas 10

3.4.

Masyarakat Pra-Aksara Periode sebelum abad ke-4

Tidak banyak bukti arkeologis yang menunjukkan adanya

perdagangan/pertukaran barang rempah-rempah. Data tersebut hanya diketahui dari berita dari China tentang pedagang dari Nusantara dan berita dari Mesir tentang penggunaan rempah-rempah dari Nusantara.

- -

Periode abad ke-4 s.d. 15

Masuknya agama-agama dari India (Siwa, Waisnawa, dan Buddha)

Munculnya kerajaan-kerajaan besar: Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Mataram Kuno, Singosari-Majapahit, Melayu Kuno.

Secara geografis, tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar hanya di kawasan barat Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan).

Kawasan Timur Indonesia (Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara) baru mulai tumbuh kerajaan-kerajaan pada sekitar abad-13.

- - -

-

-

Uraian Aspek Kesejarahan Jalur Rempah

3.5. Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu

dan Buddha ke Indonesia

3.6. Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu

dan Buddha ke Indonesia

3.7. Masuknya Agama dan Kebudayaan Islam

3.8. Kerajaan Islam di Nusantara

(4)

Tabel 2 KD yang Relevan untuk Muatan Pembelajaran Sejarah Jalur Rempah di Kelas 11

Kode KD

3.2. Perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa

Periode abad ke-16 s.d. 17

Masuknya agama Kristen tidak memunculkan kerajaan-kerajaan bercorak Kristen (kecuali di kawasan Nusa Tenggara Timur).

Data pendukung sejarah Jalur Rempah sangat berlimpah.

Banyak bangunan cagar budaya yang terkait dengan aktivitas perdagangan rempah-rempah.

Wilayah Nusantara dikolonisasi penguasa asing (Hindia Belanda).

Periode ini juga menandai kejatuhan masa kejayaan rempah-rempah karena ditemukannya teknologi pengawetan makanan, penghangat badan, batubara, mesin uap, dan lain-lain.

Kejatuhan rempah-rempah mengakibatkan sumber perekonomian pemerintah Hindia Belanda beralih ke perkebunan (teh, kopi, tebu, dan lain-lain).

Melihat kelemahan bangsa-bangsa Nusantara untuk pembelajaran bagi generasi muda.

- -

- -

- -

-

-

Uraian Aspek Kesejarahan Jalur Rempah

3.3. Dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, politik masa

penjajahan bangsa Eropa.

Sumber: Diolah dari Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK (Lampiran Permendikbud 37/2018)

Internalisasi kesadaran sejarah Jalur Rempah dapat diperkaya melalui materi sejarah lokal.

Selain mengintegrasikan materi sejarah jalur rempah melalui KD yang ada, internalisasi sejarah Jalur Rempah juga dapat diperkaya melalui materi sejarah lokal, misalnya materi mengenai kerajaan-kerajaan dan pelabuhan-pelabuhan lokal di daerah yang kontekstual dengan Jalur Rempah.

Namun, internalisasi narasi sejarah Jalur Rempah melalui potensi sejarah lokal yang akan diangkat tersebut perlu mempertimbangkan kriteria-kriteria yang bisa membangkitkan kebanggaan akan jati diri dan rasa nasionalisme peserta didik. Pertama, secara politik pemerintahan, kerajaan-kerajaan lokal tersebut mempunyai pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan lainnya. Kedua, secara ekonomi mempunyai pelabuhan sebagai jaringan lalu lintas perdagangan rempah-rempah dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara maupun dengan bangsa-bangsa lain, seperti India, China, Timur Tengah, dan Eropa. Ketiga, secara sosial budaya ada rekam jejak sejarah mengenai kehidupan masyarakatnya, misalnya kehidupan keagamaan, mata pencaharian utama, sistem kekerabatan, pengembangan teknologi, dan lain-lain. Keempat, secara arkeologis mempunyai situs dan bangunan cagar budaya yang menjadi saksi masa kejayaan kerajaan-kerajaan tersebut, seperti istana, benteng, kanal-kanal dan struktur kota, bangunan peribadatan, dan lain-lain.

Pembelajaran sejarah Jalur Rempah dalam lingkup lokal ini diperlukan untuk memperkaya pemahaman mengenai Jalur Rempah secara nasional. Hasil pembelajaran sejarah Jalur Rempah secara lokal tersebut kemudian bisa diangkat dan dikaitkan ke dalam lingkup nasional.

(5)

Gambar 1 Internalisasi Kesadaran Sejarah Jalur Rempah untuk Mendukung Pengajuannya sebagai Warisan Dunia UNESCO

Berkaitan dengan upaya internalisasi kesadaran sejarah Jalur Rempah tersebut, maka dapat dilakukan penyiapan bahan ajar yang sesuai dengan sejarah lokal dengan kerja sama antara sejarawan dan guru sejarah yang ada di daerah. Selanjutnya, pembelajaran Jalur Rempah dapat lebih menarik apabila dilakukan dengan berkunjung ke tempat bersejarah di daerah masing-masing.

Materi Pengajaran Sejarah Jalur Rempah Nasional masih belum tertata dengan baik

Internalisasi Kesadaran Sejarah Jalur Rempah melalui pembelajaran sejarah lokal.

Pengumpulan data dan Penyusunan Materi Sejarah Jalur Rempah Nasional oleh Sejarawan, AGSI, dan pemangku kepentingan lainnya

Peserta didik menjadi garda terdepan dalam memahami sejarah Jalur Rempah sebagai outstanding universal value (nilai-nilai universal yang luar biasa)

Menjadi faktor pendukung Pengajuan Sejarah Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia ke UNESCO pada tahun 2024

Penyusunan materi sejarah Jalur Rempah dengan konteks lokal.

Perlu disusun materi pembelajaran sejarah Jalur Rempah dengan konteks lokal untuk membangun dan memperkuat pemahaman Jalur Rempah secara nasional.

Pelatihan terhadap guru Sejarah.

Perlu dilakukan pelatihan mengenai materi pembelajaran sejarah Jalur Rempah kepada para guru mata pelajaran Sejarah, sehingga mempunyai pemahaman yang sama mengenai pentingnya pemahaman Jalur Rempah untuk menumbuhkan kebanggaan dan rasa nasionalisme peserta didik.

Kerja sama antarinstansi untuk memperkuat pembelajaran Jalur Rempah.

Direktorat Pelindungan Kebudayaan dan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan perlu bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMA dan Direktorat Pembinaan SMK, serta Direktorat Pendidikan Madrasah (di Kementerian Agama) untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran sejarah Jalur Rempah, sehingga target pemahaman Jalur Rempah sebagai Outstanding Universal Values dapat tercapai. Dengan demikian, target tersebut dapat memperkuat dan mendukung upaya Direktorat Jenderal Kebudayaan 1.

2.

3.

Rekomendasi

Berdasarkan temuan di atas, terdapat beberapa rekomendasi yang diperlukan dalam upaya menginternalisasikan kesadaran sejarah Jalur Rempah untuk peserta didik khususnya di jenjang SMA/SMK/MA.

(6)

Risalah Kebijakan ini merupakan hasil dari penelitian/kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Pusat Penelitian Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kompleks Kemdikbud, Gedung E, Lantai 19 Jl. Jenderal Sudirman-Senayan, Jakarta 10270 Telp. 021-5736365, 5713827

Tim Penyusun Budiana Setiawan

Mikka Wildha Nurochsyam Irawan Santoso Suryo Basuki Sugih Biantoro

Daftar Pustaka

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. (2020). Rencana Penominasian Jalur Rempah Menjadi Warisan Dunia. Jakarta, 31 Agustus 2020.

Dirjen Kebudayaan Targetkan Tahun 2024 “Jalur Rempah” Diakui Warisan Dunia. Kompas.com, 21 Juli 2020. https://edukasi.kompas.com/read/ 2020/07/21/142346771/dirjen-kebudayaan-target- kan-tahun-2024-jalur-rempah-diakui-warisan-dunia?page=all, diunduh 12 Agustus 2020.

International Forum on Spice Route.

https://www.museumnasional.or.id/international-forum-on-spice-route-2036, diunduh 18 Mei 2019.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah.

Indonesia Siap Daftarkan Jalur Rempah ke UNESCO. Medcom.id, 28 April 2020.

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/gNQG81nk-indonesia-siap-daftarkan-jal ur-rempah-ke-unesco, diunduh 15 Agustus 2020.

UNESCO, 1972. Convention concerning the Protection of the Wolrd Cultural and Natural Heritage

UNESCO, 2019. Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention.

Razif dan M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakatnya Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi, dan Pantai Utara Jawa. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gambar

Tabel 1 KD yang Relevan untuk Muatan Pembelajaran Sejarah Jalur  Rempah di Kelas 10
Tabel 2 KD yang Relevan untuk Muatan Pembelajaran Sejarah  Jalur Rempah di Kelas 11
Gambar 1 Internalisasi Kesadaran  Sejarah Jalur Rempah untuk  Mendukung Pengajuannya  sebagai Warisan Dunia UNESCO

Referensi

Dokumen terkait

Minat siswa terhadap pelajaran Sejarah dapat didorong dengan mempelajari sejarah lokal melalui kurikulum muatan lokal maupun mengintegrasikannya ke dalam pelajaran Sejarah

Untuk dapat mewujudkan visi ini, BPS Provinsi Banten telah merumuskan 3 pernyataan misi, yakni: (1) menyediakan data statistik berkualitas melalui kegiatan statistik yang

Sehubungan dengan laporan hasil evaluasi kemajuan pekerjaan pada Paket ___________, telah terjadi kegagalan Uji Coba Tingkat III (Ketiga), dan Pihak Penyedia Jasa

Hal ini menjelaskan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman sebagai informasi yang diperoleh dari waktu ke waktu, tetapi juga melibatkan respon emosi dan perasaan

Pemasok mampu melakukan integrasi ke depan dan mengolah produk yang dihasilkan menjadi produk yang sama dengan yang dihasilkan perusahaan.. PEST digunakan untuk menilai

PASTI AKTUAL merupakan singkatan dari Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif (PASTI), serta Aktif, Kreatif, Terpercaya, Unggul, Amanah dan Logis

Selain itu, pembelaan bisa dilakukan dengan cara menumbuhkan keaktifan dalam berperan aktif untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara (LAN RI, 2014). Wawasan kebangsaan

a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. b) Guru mengatur tempat duduk siswa. d) Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi