LAPORAN
PENELITIAN DIPA FAKULTAS
KEMAMPUAN TUMBUH, SPORULASI DAN VIABILITAS SPORA SEMBILAN JAMUR ENTOMOPATOGEN
UNTUK MENGENDALIKAN SPODOPTERA FRUGIPERDA
TIM PENGUSUL
KETUA
Dr. Yuyun Fitriana (NIDN: 0015088104; SINTA ID: 257154) ANGGOTA
Prof. Dr. F.X. Susilo, M.Sc. (NIDN: 0008085903; SINTA ID: 5974418) Ir. Agus M. Hariri, M.P . (NIDN: 0018086102; SINTA ID: 6022261) Puji Lestari, S.P., M.Si. (NIDN: 0004078704; SINTA ID: 6651272)
PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN DIPA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Penelitian : Kemampuan Tumbuh, Sporulasi dan Viabilitas Spora Sembilan Jamur Entomopatogen untuk Mengendalikan Spodoptera frugiperda Manfaat sosial ekonomi : ilmu pengetahuan dan teknologi
Jenis penelitian : penelitian dasar penelitian terapan : pengembangan eksperimental
Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Dr. Yuyun Fitriana
b. NIDN : 0015088104
c. SINTA ID : 257154
d. Jabatan Fungsional : Lektor
e. Program Studi : Proteksi Tanaman
f. Nomor HP : 08156891148
g. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap : Prof. Dr. F.X. Susilo
b. NIDN : 0008085903
c. SINTA ID : 5974418
d. Program Studi : Proteksi Tanaman Anggota Peneliti (2)
a. Nama Lengkap : Ir. Agus M. Hariri, M.P.
b. NIDN : 0018086102
c. SINTA ID : 6022261
d. Program Studi : Proteksi Tanaman Anggota Peneliti (3)
e. Nama Lengkap : Puji Lestari, S.P., M.Si.
e. NIDN : 0004078704
f. SINTA ID : 6651272
g. Program Studi : Proteksi Tanaman
Jumlah mahasiswa yang terlibat : satu (1) orang a.n Myranda Naibaho (NPM 16141210138)
Jumlah alumni yang terlibat : tidak ada Jumlah staf yang terlibat : dua (2) orang
Lokasi kegiatan : Laboratorium Bioteknologi Pertanian FP Unila
Lama kegiatan : 6 bulan
Biaya Penelitian : Rp7.500.000,00
Sumber dana : DIPA BLU Unila
V
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian Unila Ketua Peneliti
Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. Dr. Yuyun Fitriana, S.P., M.P.
NIP 196110201986031002 NIP 198108152008122001
Menyetujui
Ketua LPPM Universitas Lampung
Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A NIP. 196505101993032008
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
RINGKASAN ………. viii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Penelitian ... 2
1.3. Urgensi Penelitian ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Distribusi Spodoptera frugiperda ... 4
2.2 Biologi dan Bioekologi ………... 4
2.3. Gejala Serangan Spodoptera frugiperda ………... 6
2.4. Tanaman Inang Spodoptera frugiperda ... 6
2.5. Jamur Entomopatogen... 6
2.6. Road Map Penelitian ... 7
III. METODE PENELITIAN ... 8
3.1. Metode Penelitian ... 8
3.2. Pelaksanaan Penelitian ... 8
3.2.1. Uji Pertumbuhan Koloni Sembilan Isolat Jamur ... 8
3.2.2. Uji Sporulasi Sembilan Isolat Jamur ... 9
3.2.3. Uji Viabilitas Spora ... 10
3.2.4. Analisis Data ... 11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12
4.1. Pertumbuhan Koloni Sembilan Isolat Jamur Entomopatogen pada Media PDA ... 12
4.2. Sporulasi Jamur Entomopatogen ... 15
4.3. Viabilitas Jamur Entomopatogen ... 17
V. SIMPULAN ... 20
REFERENSI ... 21
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kode sembilan isolat jamur entomopatogen ... …. 8 2. Pertumbuhan diameter koloni sembilan isolat jamur entomopatogen 7 hsi 13 3. Sporulasi sembilan isolat jamur entomopatogen 7 hsi ... 15 4. Viabilitas Sembilan isolat jamur entomopatogen ... 17
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Distribusi dan sebaran hama Spodoptera frugiperda ... 4
2. Larva yang menetas dari kelompok telur Spodoptera frugiperda ... 5
3. Ciri S. frugiperda ... 5
4. Imago S. frugiperda ... 5
5. Gejala serangan S. frugiperda ... 6
6. Alur penelitian (road map penelitian) yang telah dilakukan peneliti ... 7
7. Pengukuran diameter koloni jamur entomopatogen ... 9
8. Gambar Hemocytometer (kotak besar, sedang dan kecil) ... 10
9. Titik penetesan suspensi jamur pada media PDA ... 10
10. Pertumbuhan sembilan jamur entomopatogen ……….. 14
11. Sporulasi sembilan jamur entomopatogen ……… 16
12. Viabilitas sembilan jamur entomopatogen ……… 18
RINGKASAN
Salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi jagung adalah Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penurunan hasil signifikan pada hasil panen jagung dilaporkan karena serangan Spodoptera frugiperda. Hama ini baru dilaporkan di Indonesia pada April 2019 dan menyebar secara luas. S. frugiperda ditemukan menyerang tanaman jagung pada fase vegetatif dan juga fase generatif. Tindakan pengendalian yang telah dilakukan petani umumnya menggunakan insektisida kimia. Beberapa alasan penggunaan insektisida kimia sintetis adalah hasil cepat terlihat, lebih praktis dan mudah mendapatkannya. Di lain sisi, penggunaan insektisida sintetik terus menerus dapat menimbulkan masalah tersendiri baik terhadap lingkungan maupun produk panen yang mengandung residu pestisida. Pemanfaatan agensia hayati merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan insektisida. Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung mempunyai 9 isolat jamur entomopatogen. Oleh karena itu, perlu diteliti pertumbuhan, sporulasi dan viabilitas dari jamur entomopatogen koleksi Laboratorium Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan tumbuh, sporulasi dan viabilitas spora Sembilan jamur entomopatogen koleksi Laboratorium Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Metode. Penelitian ini terdiri dari tiga percobaan yaitu uji petumbuhan koloni 9 isolat jamur (Beauveria bassiana, Beaveria sp. Jati sari, Metarizhium flavoviride, Metarizhium flavoviride Trimurjo, Purpureocillium lillacinum, Penicillium sp., Trichoderma asperelum, Aspergillus oryzae, Talaromyces sayulitensis), uji viabilitas dan uji sporulasi yang dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. (1). Uji pertumbuhan koloni dilakukan untuk mengetahui kecepatan tumbuh sembilan isolat jamur yang diuji. Pengamatan pertumbuhan dilakukan selama 7 hari berturut- turut. Diameter koloni dihitung dengan menjumlahkan dua diameter (horizontal dan vertical) kemudian dibagi dua. (2). Uji sporulasi dihitung menggunakan haemocitometer setelah 7 hari pertumbuhan. (3). Uji viabilitas spora dilakukan dengan mengambil masing- masing suspensi Sembilan spora jamur. Suspensi tersebut diteteskan ke media PDA di tiga titik yang berbeda menggunakan mikropipet. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan sembilan jamur entomopatogen memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Pertumbuhan dan sporulasi koloni jamur tertinggi dihasilkan oleh isolat T. asperellum) dan viabilitas tertinggi dihasilkan oleh isolat T. sayulitensis.
Kata Kunci: entomopatogen, Spodoptera frugiperda, jamur
1 BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jagung merupakan komoditas multiguna yang memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan pakan. Penggunaan jagung untuk pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan. Provinsi Lampung masuk dalam jajaran penghasil jagung terbesar setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Berdasarkan data tersebut kecenderungan produksi jagung meningkat dari tahun ke tahun (BPS, 2019).
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir impor jagung di Indonesia mengalami kecenderungan meningkat secara fluktuatif (Revania, 2014).
Produktivitas jagung yang rendah (3,34 ton per ha) walaupun cenderung meningkat 3,34% per tahun menggambarkan bahwa penggunaan benih jagung berkualitas di tingkat petani belum berkembang seperti diharapkan, di samping cara pemeliharaan yang juga belum intensif (Litbang Pertanian, 2004).
Salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi jagung adalah Organismen Pengganggu Tanaman (OPT). Di Indonesia telah diketahui sekitar 50 spesies serangga hama yang menyerang tanaman jagung (Baco dan Tandiabang, 1988). Penurunan hasil signifikan pada hasil panen jagung juga dilaporkan karena serangan Spodoptera frugiperda. Hama ini baru dilaporkan di Indonesia pada April 2019 dan menyebar secara luas. S. frugiperda ditemukan menyerang tanaman jagung pada fase vegetatif dan juga fase generatif.
Tindakan pengendalian yang telah dilakukan petani umumnya menggunakan insektisida kimia. Beberapa alasan penggunaan insektisida kimia sintetis adalah hasil cepat terlihat, lebih praktis dan mudah mendapatkannya. Di lain sisi, penggunaan insektisida sintetik terus menerus dapat menimbulkan masalah tersendiri baik terhadap lingkungan maupun produk panen yang mengandung residu pestisida.
Pemanfaatan agensia hayati merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan insektisida. Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung mempunyai 9 isolat jamur entomopatogen. Oleh karena itu, perlu diteliti pertumbuhan, sporulasi
2 dan viabilitas dari jamur entomopatogen koleksi Laboratorium Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan tumbuh, sporulasi dan viabilitas spora sembilan jamur entomopatogen koleksi Laboratorium Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
1.3 Urgensi Penelitian
IPPC (2018) melaporkan ditemukan spesies ulat grayak baru yaitu S. frugipeda yang menyebar dari Amerika menuju Afika, Eropa dan Asia. Hama ini
menyebar melalui aktivitas perdagangan komoditas hortikultura antar negara.
S. frugiperda dilaporkan mengakibatkan kerusakan pada tanaman jagung di India (Sharanabasappa et al., 2018). Pada bulan Desember 2018, hama ini dilaporkan menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung di Thailand (IPPC, 2018) dan Provinsi Yunnan, China (IPPC, 2019).
Pada bulan April 2019 hama ini telah dilaporkan ditemukan di pertanaman jagung di Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu. Hasil observasi menunjukkan kerusakan yang diakibatkan oleh hama ini mencapai 75% pada tanaman yang berumur 15-30 hari setelah tanam. Di negara asalnya, S. frugiperda tidak menjadi masalah yang penting karena adanya faktor pembatas populasi yaitu iklim dan musuh alami hama tersebut. Status hama ini di Indonesia adalah hama eksotik. Masuknya hama ini ke Indonesia tidak disertai masuknya masuh alami hama, sehingga populasi hama ini meningkat sangat cepat, terlebih iklim di Indonesia disinyalir cocok untuk perkembangan hama ini.
Hingga saat ini pengendalian yang dilakukan oleh petani yaitu dengan menggunakan insektisida yang dianjurkan oleh Kementerian Pertanian. Namun karena hama ini menyerang dan bersembunyi bagian titik tumbuh, hama ini sulit dikendalikan dengan penyemprotan biasa. Petani menyemprot dengan cara mengucurkan ke titik tumbuh, dengan harapan dapat mengenai hama S. frugiperda.
Bahkan petani meningkatkan konsentrasi insektisida dari konsentrasi anjuran.
Kondisi ini jika berlangsung terus-menerus akan berdampak terhadap lingkungan maupun terhadap S. frugiperda itu sendiri, mengingat hama ini sangat mudah
3 berubah biotipe yang dipicu oleh beberapa faktor diantaranya sumber makanan dan juga insektisida (Nagoshi and Meagher, 2004). Oleh karena itu penggunaan agensia hayati merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian S. frugiperda.
4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Spodoptera frugiperda termasuk dalam Kelas Insekta, Ordo Lepidoptera, Famili Noctuidae dan Genus Spodoptera. Hama ini dilaporkan pertama kali pada tahun 2016 di Amerika dan menyebar menuju Afika, Eropa dan Asia (CABI, 2019).
2.1 Distribusi Spodoptera frugiperda
Spodoptera frugiperda berasal dari daerah tropis dan suptropis di Amerika dilaporkan pertama kali di Afrika pada tahun 2016 dan dikonfirmasi sudah tersebar ke-30 negara di Afrika (Insecticide Resistance Action Committee, 2018). Pada tahun 2018, S. frugiperda dilaporkan di Karnataka, India (Sharanabasappa et al., 2018). Pada tahun yang sama S. frugiperda juga dilaporkan menimbulkan kerusakan di Thailand, Srilanka dan Myanmar (IPPC, 2018; 2019). Hingga sekarang hama ini telah menyebar negara Amerika, kawasan Bermuda, Kanada, Cile, Meksiko, Brasil, Argentina, Yaman, India, Myanmar, Thailand, dan hampir
diseluruh negara Afrika (Prasanna et al., 2018). Distribusi dan sebaran hama S. frugiperda dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Distribusi dan sebaran hama Spodoptera frugiperda (Sumber CABI, 2019).
2.2 Biologi dan Bioekologi
S. frugiperda meletakkan telur pada malam haru di permukaan daun (Gambar 2). Telur diletakkan secara berkelompok 100-300 butir telur dan dilindungi selaput tipis. Telur menetes dalam waktu 3 hari pada musim panas (Cruz et al., 1999).
5
Gambar 2. Larva yang menetas dari kelompok telur Spodoptera frugiperda.
(Dokumentasi pribadi, 2020).
Tingkat perkembangan larva melalui enam instar, lama instar bergantung pada makanan dan suhu lingkungan. Larva memiliki karakteristik yang khas yaitu adanya pinacula yang berbentuk persegi pada abdomen ruas ke-8 (Gambar 3A) dan juga garis Y terbalik pada bagian kepala (Gambar 3B) (Nonci dkk., 2019).
Gambar 3. Ciri S. frugiperda; A Pinacula pada abdomen ke-8 berbentuk persegi;
B. Garis Y terbalik pada kepala (Dokumentasi pribadi, 2019).
S. frugiperda berpupa di tanah, dengan masa pupa 9-13 hari. Imago aktif pada malam hari dan mampu terbang sejauh 100 km. Lama hidup imago 12-14 hari.
Ledakan populasi S. frugiperda biasanya terjadi pada musim panas, sehingga menimbulkan kerusakan di akhir musim panas pada wilayah bagian selatan Amerika dan awal musim gugur pada wilayah utara Amerika. Hama ini juga mampu bertahan pada musim dingin. Ngengat berukuran rentang sayap 32-40 mm, dengan sayap depan berwarna coklat kelabu dan sayap belakang berwana putih (Gambar 4). Jantan memiliki lebih banyak corak atau bintik pada sayap depan dibanding dengan betina (Nonci dkk., , 2019).
Gambar 4. Imago S. frugiperda (CABI, 2019).
B A
6 2.3 Gejala Serangan Spodoptera frugiperda
Larva S. frugiperda ini menyukai tanaman muda. Larva muda (instar 1-2) memakan permukaan daun sehingga menimbulkan gejala seperti jendela transparan (Gambar 5A) (Trisyono dkk., 2019). Larva kemudian menyebar ke seluruh bagian tanaman, termasuk titik tumbuh (Gambar 5B). Kerusakan daun akibat aktivitas larva memakan daun dan pada serangan berat hanya akan menyisakan tulang daun.
Keberadaan hama ini ditandai dengan adanya kotoran seperti serbuk gergaji yang lembap berwarna kemerahan. S. frugiperda dapat merusak pada masa pembibitan, larva dapat memakan daun, memotong pangkal tanaman dan juga memakan daun yang masih menggulung (Nonci dkk., 2019).
Gambar 5. Gejala serangan Spodoptera frugiperda A. Jendela transparan pada tanaman jagung usia 15 hari; B. Gejala serangan pada titik tumbuh (Dokumentasi pribadi, 2020).
Di Amerika, kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama S. frugiperda mencapai 34% (Wiseman and Isenhour, 1993 dalam Wiseman et al., 1996) dan 45-65% di Nicaragua (Hruska and Glandstone, 1988).
2.4 Tanaman Inang Spodoptera frugiperda
Hama Spodoptera frugiperda sangat polifag dan dilaporkan memiliki kisaran inang yang cukup luas yaitu memiliki lebih dari 80 tanaman inang. Inang utamanya adalah rerumputan dan tanaman biji-bijian seperti jagung. Selain itu, dapat juga menyerang tanaman lain seperti padi, gandum, sorgum dan sayur-sayuran (Sharanabasappa et al., 2018).
2.5 Jamur Entomopatogen
Entomopatogen merupakan salah satu agen pengendali hayati yang potensial untuk mengendalikan hama tanaman (Sumartini et al., 2001). Kelebihan
A B
7 pemanfaatan jamur entomopatogen dalam pengendalian hama yaitu mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi, siklus hidupnya pendek, dapat membentuk spora yang tahan lama di alam walaupun dalam kondisi yang tidak menguntungkan, relatif aman, selektif, relatif mudah diproduksi, dan sangat kecil kemungkinan menyebabkan resistensi hama (Prayogo et al., 2005).
2.6 Road Map Penelitian
Selama ini peneliti dan anggota peneliti telah melakukan penelitian tentang Spodoptera sp.. Penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Alur penelitian (road map penelitian) yang telah dilakukan peneliti.
Nuryasin, Wibowo, L., Hariri, A.M., dan Lestari, P. 2018. Uji Aplikasi Ekstrak Buah Jarak (Jatropha curcas L.) terhadap Leptocorisa acuta, Spodoptera litura, dan Plutella xylostela L. di Laboratorium.
Lestari, P., Nuryasin, dan Solikhin. 2019. Deteksi Keberadaan Spodoptera frugiperda di Provinsi Lampung sebagai Hama Baru pada Tanaman Jagung di Indonesia.
Fitriana, Y., Solikhin, dan Purnomo. 2018. Pertumbuhan dan Uji Patogenisitas Delapan Jamur Entomopatogen sebagai Agensia Pengendali Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) di Laboratorium.
Lestari P, Fitriana Y, dan Nuryasin. 2019. Analisis keragaman genetik Spodoptera frugiperda pada tanaman jagung di Provinsi Lampung
2021. Kemampuan tumbuh, sporulasi dan viabilitas spora jamur entomopatogen untuk mengendalikan S. frugiperda
Lestari, P. dan Nuryasin 2020. Eksplorasi dan skrining musuh alami Spodoptera frugiperda
sebagai hama baru pada tanaman jagung di Indonesia
8 BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini terdiri dari tiga percobaan yaitu uji petumbuhan koloni 9 isolat jamur (Tabel 1), uji viabilitas dan uji sporulasi yang dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Percobaan dilakukan pada bulan Mei hingga September 2021 di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Tabel 1. Kode sembilan isolat jamur entomopatogen
No Isolat Jamur Agensia Hayati Kode Isolat Jamur
1 Beauveria bassiana BB
2 Beauveria sp. Jati sari BJ
3 Metarhizium flavoviride MF
4 Metarhizium flavoviride Trimurjo MT
5 Purpureocillium lillacinum BOITG
6 Penicillium sp. PFAW
7 Trichoderma asperelum SPV
8 Aspergillus oryzae A1
9 Talaromyces sayulitensis AS8
3.2 Pelaksanaan Penelitian
3.2.1. Uji Pertumbuhan Koloni Sembilan Isolat Jamur
Uji pertumbuhan koloni dilakukan untuk mengetahui kecepatan tumbuh sembilan isolat jamur yang diuji. Sembilan isolat jamur tersebut diremajakan pada media WA dan diinkubasi selama 4 hari setelah inokulasi (HSI). Satu bor gabus (5 mm) biakan murni masing-masing isolat yang sudah diinkubasi selama 4 hari, diletakkan di tengah cawan petri steril yang berisi media PDA. Hasil inokulasi tersebut diinkubasi selama 7 hari setelah inokulasi pada suhu ruang.
9 Pengamatan pertumbuhan dilakukan selama 7 hari berturut-turut. Diameter koloni dihitung dengan menjumlahkan dua diameter (horizontal dan vertical) kemudian dibagi dua.
Gambar 7. Pengukuran diameter koloni jamur entomopatogen
Cara pengukuran diameter koloni jamur pada cawan petri berdasarkan rumus berikut:
D =d1 + d2 2 dengan:
D = Diameter koloni jamur entomopatogen (cm)
d1 = Diameter horizontal koloni jamur entomopatogen (cm) d2 = Diameter vertikal koloni jamur entomopatogen (cm)
3.2.2 Uji Sporulasi Sembilan Isolat Jamur
Sembilan isolat jamur dipanen dengan cara menambahkan masing-masing 10 ml Tween 80 0,1 % ke dalam cawan petri yang berisi koloni setiap jamur yang berumur 7 hari. Spora dipanen dengan mengeruk perlahan bagian permukaan jamur dalam cawan menggunakan kaca preparat kemudian suspensi dimasukkan ke tabung reaksi dan dirotamixer sampai homogen. Suspensi yang sudah homogen.
Diambil sebanyak 25 µl diteteskan pada Hemocytometer dan ditutup dengan kaca objek sampai suspensi mengisi ruang hitung, kemudin jamur diamati menggunakan mikroskop binokuler LEICA dengan perbesaran 400 kali. Perhitungan kerapatan spora dilakukan dengan memilih 5 kotak sedang yang terdapat pada Hemocytometer (Gambar 8).
10 Gambar 8. Gambar Haemocytometer (kotak besar, sedang dan kecil)
Setiap kotak dihitung dan dirata-ratakan. Jumlah spora dihitung dengan menggunakan rumus:
S= R x K x F dengan :
S = Jumlah spora/ml
R= Jumlah rata-rata spora pada 5 kotak sedang haemocytometer K= Konstanta koefisien alat (2,5x10)
F= Faktor Pengenceran yang digunakan
3.2.3 Uji Viabilitas Spora
Uji viabilitas spora dilakukan dengan mengambil masing- masing suspensi Sembilan spora jamur. Suspensi tersebut diteteskan ke media PDA di tiga titik yang berbeda menggunakan mikropipet. Setiap titik ditetesi sebanyak 25 µl (Gambar 9), kemudian suspense jamur diinkubasi selama 8 jam pada suhu ruang. Kemudian spora jamur diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400 kali.
Gambar 9. Titik penetesan suspensi jamur pada media PDA
11 Pengamatan dilakukan terhadap jumlah spora yang berkecambah dan yang tidak berkecambah. Persentase daya kecambah jamur dihitung menggunakan rumus:
𝑉𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠(%) =jumlah spora yang berkecambah
spora seluruhnya x 100 %
3.2.4 Analisis Data
Data diuji menggunakan uji Tukey, apabila hasil uji tersebut memenuhi asumsi, maka data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (ANARA). Kemudian dilakukan pengujian pemisahan nilai tengah dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
12 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pertumbuhan Koloni Sembilan Isolat Jamur Entomopatogen pada Media PDA
Berdasarkan pengamatan pertumbuhan koloni jamur entomopatogen yang telah dilakukan, isolat SPV (Trichoderma asperellum) memiliki pertumbuhan koloni jamur lebih cepat dibanding dengan dengan jamur yang lain. Pertumbuhan isolat A1 lebih cepat daripada isolat AS8, namun petumbuhan isolat AS8 lebih cepat daripada isolat B1. Pertumbuhan isolat B1 lebih cepat dibanding dengan dengan isolat BJ, namun pertumbuhan BJ lebih cepat daripada isolat PFAW dan isolat PFAW memiliki pertumbuhan yang lebih cepat daripada isolat PSP sementara isolat jamur yang menunjukkan pertumbuhan terendah adalah isolat MF (M.
flavoviride) (Tabel 2).
Berdasarkan hasil analisis statistik setiap isolat jamur menunjukkan kemampuan tumbuh yang berbeda-beda. Pada pengamatan 7 hari setelah inokulasi (hsi) isolat jamur SPV memiliki diameter pertumbuhan koloni yang secara nyata lebih tinggi dibanding dengan dengan isolat-isolat yang lain. Jamur AS8 dan A1 pada pengamatan 1, 5, 6 dan 7 hsi menunjukkan bahwa diameter koloni jamur tidak berbeda nyata. Namun pada 2,3, dan 4 hsi jamur AS8 menunjukkan bahwa diameter koloni jamur secara nyata lebih tinggi daripada jamur A1 dan jamur ini secara nyata lebih tinggi dibanding dengan jamur B01TG, B1 dan BJ. Diameter koloni jamur yang ditunjukkan oleh jamur B01TG, B1 dan BJ tidak berbeda nyata satu sama lain, namun terlihat pada 1 dan 3 hsi ketiga jamur ini berbeda nyata dengan jamur PFAW. Pertumbuhan diameter koloni jamur PFAW pada 3, 4 dan 5 hsi berbeda nyata dengan jamur PSP, namun pada 1, 2, 6 dan 7 hsi P tidak berbeda nyata.
Sementara jamur PSP menunjukkan diameter koloni secara nyata lebih tinggi dibandingkan dengan jamur MF pada 1-6 hsi (Tabel 2).
13 Tabel 2. Pertumbuhan diameter koloni sembilan isolat jamur entomopatogen 7 hsi
Jamur Diameter (cm)
1HSI 2 HSI 3 HSI 4 HSI 5 HSI 6 HSI 7 HSI SPV 1,33 a 1,71 a 1,80 a 1,81 a 1,83 a 1,85 a 1,86 a AS8 1,15 b 1,26 c 1,36 c 1,45 c 1,52 b 1,56 b 1,63 b A1 1,20 b 1,38 b 1,49 b 1,52 b 1,56 b 1,59 b 1,60 b B01TG 1,09 c 1,17 d 1,22 e 1,27 ed 1,31 dc 1,35 c 1,39 c B1 1,09 c 1,16 d 1,20 e 1,25 e 1,28 dc 1,33 dc 1,37 dc BJ 1,09 c 1,16 d 1,21 e 1,27 ed 1,29 dc 1,32 dc 1,36 dc PFAW 1,15 b 1,21 dc 1,29 d 1,30 d 1,32 c 1,33 dc 1,34 de PSP 1,16 b 1,18 d 1,22 e 1,25 e 1,27 d 1,30 d 1,32 fe MF 1,09 c 1,09 e 1,14 f 1,18 f 1,21 e 1,25 e 1,28 f F hit 46,13* 204,06* 491,18* 329,77* 430,91* 564,29* 511,52*
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom yang
sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5%; *: berbeda nyata;
SPV: T. asperellum, AS8: T. sayulitensis, B1: B. bassiana, BJ: B. bassiana, A1: A. oryzae, B01TG: P. lillacinum, MF: M. flavoviride, PFAW: P. citrinum dan
PSP: Penicillium sp.
14
Gambar 10. Pertumbuhan sembilan jamur entomopatogen (A) B.bassiana
(B) Beauveria sp., (C) P. lillacinum, (D) Penicillium sp., (E) P. citrinum, (F) T. sayulitensis, (G) A. oryzae, (H) T. asperellum, (I) M. flavoviride.
G H I
D
A B C
E F
15 4.2 Sporulasi Jamur Entomopatogen
Hasil pengamatan terhadap sporulasi sembilan jamur entomopatogen menunjukkan nilai yang berbeda nyata (Tabel 3). Sporulasi isolat SPV (T. asperellum) secara nyata lebih tinggi dibanding dengan dengan isolat lain yaitu 10,10 x 107 spora/mL.
Namun isolat PFAW (P. citrinum), AS8 (T. sayulitensis), B1 (B. bassiana), PSP (Penicillium sp.), MF (M. flavoviride), A1(A. oryzae), B01TG B1 (P. lillacinum) dan BJ (B. bassiana) menunjukkan bahwa sporulasi jamur tidak berbeda nyata antara satu dengan yang lain.
Tabel 3. Sporulasi sembilan isolat jamur entomopatogen pada 7 hsi
Kode isolat Identitas Sporulasi (107 spora/mL)
SPV Trichoderma asperellum 10,10 a
AS8 Talaromyces sayulitensis 5,20 cb
A1 Aspergillus oryzae 3,95 cb
B01TG Penicillium lillacinum 3,50 c
B1 Beauveria bassiana 4,95 cb
BJ Beauveria bassiana 3,40 c
PFAW Penicillium citrinum 6,05 b
PSP Penicillium sp. 4,70 cb
MF Metarhizium flavoviride 4,50 cb
F hitung 14,76*
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan nilai tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5%; *: berbeda nyata.
16
Gambar 11. Sporulasi sembilan jamur entomopatogen (A) B. bassiana, (B) Beauveria sp., (C) P. lillacinum, (D) Penicillium sp., (E) P. citrinum, (F) T. sayulitensis, (G) A. oryzae, (H) T. asperellum,
(I) M. flavoviride.
G H I
A B C
D E F
17 4.3 Viabilitas Jamur Entomopatogen
Viabilitas spora pada masing-masing isolat menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (Tabel 4). Isolat AS8 (T. sayulitensis) memiliki viabilitas spora tertinggi yaitu
74,16 %. Namun tidak berbeda nyata dengan PFAW (P. citrinum), A1 (A. oryza),
B1 (B. bassiana), PSP (Penicillium sp.), B01TG (P. lillacinum), MF (M. flavoviride), dan BJ (B. bassiana). Viabilitas spora menunjukkan bahwa
jamur AS8 berbeda nyata dengan jamur SPV (T. asperelum).
Tabel 4. Viabilitas sembilan isolat jamur entomopatogen
Kode isolat Identitas Viabilitas (%)
SPV Trichoderma asperelum 30,49 d
AS8 Talaromyces sayulitensis 74,16 a
A1 Aspergillus oryzae 64,67 ba
B01TG Penicillium lillacinum 52,83 bc
B1 Beauveria bassiana 62,58 ba
BJ Beauveria bassiana 38,48 dc
PFAW Penicillium citrinum 71,13 ba
PSP Penicillium sp. 58,57 bac
MF Metarizhium flavoviride 39,31 dc
F hitung 13,28*
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5%; *: berbeda nyata.
18
Gambar 12. Viabilitas sembilan jamur entomopatogen (A) B. bassiana, (B) Beauveria sp., (C) P. lillacinum, (D) Penicillium sp., (E) P. citrinum, (F) T. sayulitensis, (G) A. oryzae, (H) T. asperellum,
(I) M. flavoviride.
Pada penelitian ini uji pertumbuhan koloni dan sporulasi jamur dilakukan menggunakan media PSA sebagai media tumbuh jamur. Berdasarkan hasil penelitian pertumbuhan koloni jamur entomopatogen pada 1 sampai 7 hari masa inkubasi berbeda-beda. Isolat yang mampu menghasilkan pertumbuhan koloni dan spora paling tinggi SPV (T. asperellum) sedangkan isolat yang menghasilkan perkecambahan paling tinggi adalah isolat AS8 (T. sayulitensis). Terdapatnya
A B C
D E F
G
H I
19 perbedaan pertumbuhan koloni dari masing-masing jamur disebabkan oleh kebutuhan nutrisi yang tidak sama. Setiap genus ataupun spesies jamur membutuhkan nutrisi, suhu optimal, pH, kandungan air dalam media, cahaya dan periode inkubasi untuk pertumbuhan dan pembentukan konidia (Johnpulle, 1997).
20 BAB V. SIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sembilan jamur
entomopatogen (T. asperellum, T. sayulitensis, B. bassiana, B. bassiana, A. oryzae, P. lillacinum, M. flavoviride, P. citrinum dan PSP: Penicillium sp.)
memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Pertumbuhan dan sporulasi koloni jamur tertinggi dihasilkan oleh isolat T. asperellum) dan viabilitas tertinggi dihasilkan oleh isolat T. sayulitensis.
21 REFERENSI
Baco, D. dan Tandiabang, J. 1988. Hama Utama Jagung dan Pengendaliannya.
Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros.
http://balitsereal.litbang.pertanian.go. id/ swp- content/uploads/2018/08/10hama.pdf.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2019. Produksi Jagung Menurut Provinsi (ton), 1993-
2015. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
https://bps.go.id/linkTableDinamis/view/ id/868.
Cruz, I., Figueiredo, M.L.C., Antonio, C., Oliveira. and Vasconcelos, C.A. 1999.
Damage of Spodoptera frugiperda (Smith) in different maize genotypes cultivated in soil under three levels of aluminium saturation. International Journal of Pest Management. 45(4): 293-296.
Hruska, J.A. and Gladstone, S.M. 1988. Effect of period and level of infestation of the fall armyworm, Spodoptera frugiperda, on irrigated maize yield. Florida Entomologist. 71(3): 249-254.
Insecticide Resistance Action Committee. 2018. Integrated Pest Management (IPM) & Insect Resistance Management (IRM) for Fall Armyworm in South African Maize. IRAC. South Africa. 21 p.
IPPC. 2018. First detection of Fall Armyworm on the border of Thailand. IPPC Official Pest Report, No THA-03/1. FAO: Rome, Italy.http://www/ippc.int/.
IPPC. 2019. First Detection Report of the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda (Lepidoptera: Noctuidae) on Maize in Myanmar. IPPC Official Pest Report, No. MMR-19/2. Rome, Italy.http://www/ippc.int/.
Johnpulle, A.L. 1997. Temperatures Lethal to the green Muscardine Fungus, Metarhizium anisopliae (Metch.) Sorok. Topical Agriculturalist. (1): 29-46.
Litbang Pertanian. 2004. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jagung.
http://www.litbang.pertanian.go.id/special/komoditas/files/0104- JAGUNG.pdf
Nagoshi, R.N. and Meagher, R.L. 2004. Behavior and distribution of the two fall armyworm host strains in Florida. Florida Entomologist 87(4): 440-449.
22 Nonci, N., Kalqutny, S.H., Mirsam, H., Azrai, M., & Aqil, M. 2019. Pengenalan
Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda J. E. Smith) Hama Baru pada Tanaman Jagung di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Serealia. Kementerian Pertanian. 64 p.
Prasanna, B.M., Huesing, J.E., Eddy, R., and Peschke, V.M. 2018. Fall Armyworm in Africa: A guide for integreted pest managemant. First edition. Mexico. pp.
1-9.
Prayogo, Y., Tengkano, W., dan Marwoto. 2005. Prospek cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan ulat grayak Spodoptera litura pada kedelai. Jurnal Litbang Pertanian. 24(1):19-26.
Revania L. 2014. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor jagung di Indonesia Tahun 1982 – 2012. Journal of Economics and Policy. 7(1): 102- 112.
Sharanabasappa, Kalleshwaraswamy, C.M., Asokan, R., Mahadeva Swamy, H.M., Maruthi, M.S., Pavithra, H.B., Hedge, K., Navi, S., Prabhu, S.T., and Goergen, G. 2018. First report of the fall armyworm Spodoptera frugiperda (JE Smith) (Lepidoptera: Noctuidae) an alien invasive pest on mayze in India.
Pest Managemant in Horticultural Ecosystem. 24(1): 23-29.
Sumartini, Prayogo, Y., Indiati, S.W., dan Hardaningsih, S. 2001. Pemanfaatan jamur Metarhizium anisopliae untuk pengendalian pengisap polong (Riptortus linearis) pada kedelai. Hlm. 154−157 dalam Simposium Pengendalian Hayati Serangga (SE Baehaki, E Santosa, Hendarsih, ST Suryana, N Widarta, dan Sukrino, Ed.). Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. 14-15 Maret 2001.
Trisyono, Y.A., Suputa, Aryuwandari, V.E.B., Hartaman, M., and Jumari. 2019.
Occurrence of Heavy Infestation by the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda, a New Alien Invasive Pest, in Corn in Lampung Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 23(1): 156–160.
Wiseman, B.R., Davis, F.M., Williams, W.P., and Widsrtom, N.W. 1996.
Resistance of a maize population, FAWCC(C5), to fall armyworm larvae (Lepidoptera: Noctuidae): Florida Entomologist. 79(3): 329-336.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMPUNG FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN PROTEKSI TANAMAN
Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro No.1, Bandar Lampung 35145, Telp/Fax: 0721-787029
LEMBAR LAPORAN KETERKIBATAN MAHASISWA DALAM PENELITIAN DOSEN
Judul Penelitian : Kemampuan Tumbuh, Sporulasi dan Viabilitas Spora Sembilan Jamur Entomopatogen untuk Mengendalikan Spodoptera frugiperda
Skim Penelitian : DIPA FP
Lokasi Penelitian : Lab. Bioteknologi Pertanian FP Unila dan Lab. Ilmu Hama Tumbuhan
Tanggal Penelitian : April-September 2021
Nama Tim Penelitian : Yuyun Fitriana; F.X. Susilo, Agus Muhammad Hariri, Puji Lestari
Nama Mahasiswa yang Terlibat : Myranda Naibaho (NPM 16141210138)
Ketua Penelitian Mahasiswa
Dr. Yuyun Fitriana, S.P., M.P Myranda Naibaho
NIP 19811081152009122001 NPM 16141210138 Mengetahui,
Ketua Jurusan Proteksi Tanaman
Dr. Yuyun Fitriana, S.P., M.P NIP 19811081152009122001