PROPOSAL SKRIPSI
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN CERGAM RAWA (CERITA BERGAMBAR AKSARA JAWA) SEBAGAI
UPAYA PENGENALAN AKSARA JAWA PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Oleh Nuria Imama
201733034
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2021
PROPOSAL SKRIPSI
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN CERGAM RAWA (CERITA BERGAMBAR AKSARA JAWA) SEBAGAI
UPAYA PENGENALAN AKSARA JAWA PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Oleh Nuria Imama
201733034
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2021
v
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL SKRIPSI
Proposal skripsi dengan judul Pengembangan Media Pembelajaran Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) sebagai Upaya Pengenalan Aksara Jawa pada Siswa Sekolah Dasar oleh Nuria Imama NIM 201733034 disetujui untuk diseminarkan.
Kudus, 10 Februari 2021 Pembimbing I
Dr. Drs. Moh. Kanzunnudin, M.Pd.
NIDN. 0607016201
Pembimbing II
Sekar Dwi Ardianti, S.Pd., M.Pd.
NIDN. 0623119001
Mengetahui,
Ka.Prodi PGSD FKIP UMK
Imaniar Purbasari, S.Pd., M.Pd.
NIDN. 0619128801
vi
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Proposal Skripsi oleh Nuria Imama (NIM: 201733034) ini telah diseminarkan di depam Tim Penguji pada tanggal 20 Februari 2021 sebagai syarat untuk melakukan penelitian.
Kudus, 20 Februari 2021 Tim Penguji
Dr. Drs. Moh. Kanzunnudin, M.Pd. (Ketua) NIDN. 0607016201
Sekar Dwi Ardianti, S.Pd., M.Pd. (Anggota) NIDN. 0623119001
Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd. (Anggota) NIDN. 0619097803
Mengetahui,
Ka.Prodi PGSD FKIP UMK
Imaniar Purbasari, S.Pd., M.Pd.
NIDN. 0619128801
vii ABSTRAK
Imama, Nuria. 2021. Pengembangan Media Pembelajaran Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) sebagai Upaya Pengenalan Aksara Jawa pada Siswa Sekolah Dasar. Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus, Dosen Pembimbing (1) Dr. Drs. Moh. Kanzunnudin, M.Pd. (2) Sekar Dwi Ardianti, S.Pd., M.Pd.
Kata Kunci: Media Pembelajaran, Cerita Bergambar, Aksara Jawa
Pembelajaran Aksara Jawa bertujuan untuk melestarikan Aksara Jawa agar tidak mengalami kepunahan walaupun tidak digunakan lagi dalam komunikasi tulis sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Tedunan, Jepara, ditemukan permasalahan, yakni kesulitan siswa dalam membaca Aksara Jawa terletak pada kebingungan terhadap bentuk hurufnya yang menyebabkan minat siswa dalam membaca Aksara Jawa masih rendah. Penelitian ini memiliki rumusan masalah tentang bagaimana desain produk, validitas, serta respon siswa terhadap buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui desain produk, validitas, serta respon siswa terhadap buku Cergam Rawa.
Penelitian ini mencoba mengembangkan sebuah media pembelajaran Bahasa Jawa dengan materi ajar Aksara Jawa dalam bentuk buku cerita bergambar. Pengembangan media pembelajaran adalah suatu proses yang dipakai dalam mengembangkan sebuah produk dengan memberikan stimulus kepada siswa dalam proses pembelajaran. Cergam atau cerita bergambar adalah cerita yang menjadi inti dari ceritanya adalah narasinya, sedangkan gambar hanya sebagai ilustrasi pelengkap. Aksara Jawa merupakan Aksara atau huruf yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Media Cergam Rawa merupakan media pembelajaran yang berbentuk Buku Cerita Bergambar Aksara Jawa. Tujuan media Cergam Rawa yaitu untuk membantu siswa mengenal Aksara Jawa dengan baik dan menyenangkan sehingga dapat dipahami oleh siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development atau sering disebut penelitian pengembangan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tedunan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara pada 10 siswa (5 siswa kelas III dan 5 siswa kelas V) SD N 1 Tedunan yang bertempat tinggal di sekitar rumah peneliti. Model yang akan dikembangkan mengacu pada model pengembangan Research and Development (R&D) Borg and Gall yang telah dimodifikasi Sugiyono. Model pengembangan R&D Borg and Gall yang telah dimodifikasi Sugiyono terdiri dari sepuluh langkah yang kemudian dibatasi langkah-langkah penelitian pengembangan dari sepuluh langkah menjadi tujuh langkah sampai pada revisi produk dikarenakan sesuai dengan kebutuhan pengembangan di masa pandemi covid-19 saat ini yang masih booming. Instrumen yang digunakan adalah wawancara dan angket untuk mendapatkan penilaian dari ahli tentang kelayakan media pembelajaran Cergam Rawa. Kelayakan media pembelajaran ini ditinjau dari beberapa aspek, yaitu aspek kelayakan isi Cergam, aspek kebahasaan, aspek performance, aspek desain grafis, dan aspek kemudahan penggunaan.
viii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
PERSETUJUAN PEMBIMBING v
PENGESAHAN PENGUJI vi
ABSTRAK vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Manfaat Penelitian 4
1.5 Ruang Lingkup Penelitian 4
1.6 Definisi Operasional Variabel 4
BAB II LANDASAN TEORI 6
2.1 Konsep Teoritik 6
2.1.1. Pengembangan Media Pembelajaran 8
2.1.1.1. Fungsi Media Pembelajaran 8
2.1.1.2. Manfaat Media Pembelajaran 9
2.1.1.3. Klasifikasi Media Pembelajaran 10
2.1.1.4. Kriteria dalam Pemilihan Media Pembelajaran 10 2.1.2. Media Buku Cerita Bergambar (Cergam) 11
2.1.3. Aksara Jawa 13
2.1.3.1. Aksara Nglegena 14
2.1.3.2. Aksara Sandhangan 15
2.1.3.2.1 Sandhangan Swara 15
2.1.3.2.2 Sandhangan Panyigeg Wanda 15
2.1.4. Desain Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) 16
ix
2.1.4.1. Konsep Buku Cergam Rawa 16
2.1.4.2. Rancangan Buku Cergam Rawa 16
2.1.4.2.1 Sampul Buku Cergam Rawa 16
2.1.4.2.2 Bentuk Buku Cergam Rawa 16
2.1.4.2.3 Desain Isi Buku Cergam Rawa 17
2.1.4.3. Prototipe Buku Cergam Rawa 17
2.2 Kajian Penelitian Relevan 17
2.3 Kerangka Berpikir 19
2.4 Rancangan Model 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 26
3.1 Tempat & Waktu Penelitian 26
3.2 Karakteristik Model yang Dikembangkan 26
3.3 Desain Penelitian 26
3.3.1. Potensi dan Masalah 28
3.3.2. Pengumpulan Data 28
3.3.3. Desain Produk 28
3.3.4. Validasi Desain 28
3.3.5. Perbaikan Desain 28
3.3.6. Uji Coba Produk 29
3.3.7. Revisi Produk 29
3.4 Populasi dan Sampel 29
3.4.1. Populasi 29
3.4.2. Sampel 29
3.4.2.1. Penentu Ukuran Sampel 29
3.4.2.2. Penentu Penarikan Sampel 30
3.5 Variabel Penelitian 30
3.5.1. Variabel Independen (Bebas) 30
3.5.2. Variabel Dependen (Terikat) 30
3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 30
3.7 Teknik Analisis Data 35
DAFTAR PUSTAKA 37
x
LAMPIRAN 39
PERNYATAAN 54
KETERANGAN SELESAI BIMBINGAN 55
PERMOHONAN SEMINAR PROPOSAL 56
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Kajian Penelitian Relevan 18
2.2 Kerangka Berpikir 21
3.1 Visualisasi Langkah-langkah Desain Penelitian 27
3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian 31
3.3 Pedoman Wawancara dengan Guru 32
3.4 Pedoman Wawancara dengan Siswa 32
3.5 Pedoman Validitas kepada Validasi Ahli 33
3.6 Kisi-kisi Angket Respon Siswa 34
3.7 Aturan Pemberian Skor 35
3.8 Skala Kelayakan Media Pembelajaran 36
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Aksara Nglegena dan Cara Membacanya 15
2.2 Penerapan Sandhangan Swara 15
2.3 Sandhangan Panyigeg Wanda 16
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Pedoman Wawancara kepada Guru 38
Pedoman Wawancara kepada Siswa 41
Angket Uji Validitas Ahli Validasi 44
Angket Respon Siswa 48
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki banyak sekali Bahasa daerah. Bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur terbanyak adalah Bahasa Jawa dengan jumlah penutur sebanyak 75,5 juta, kemudian disusul oleh Bahasa Sunda dengan jumlah penutur sebanyak 27 juta, serta Bahasa Madura dengan jumlah penutur sebanyak 13,69 juta (Utari, 2012:83).
FX. Rahyono (dalam Nugroho, 2015:1) mengungkapkan Bahasa daerah sebagai bahasa pendukung Bahasa Nasional dapat digunakan di Sekolah Dasar (SD) daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pembelajaran, serta sebagai alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah.
Langkah nyata pemerintah dalam melestarikan budaya adalah dengan memasukkan mata pelajaran Bahasa Jawa di SD sebagai kurikulum Muatan Lokal (Mulok) wajib. Salah satu aspek yang diajarkan dalam Mulok Bahasa Jawa adalah Aksara Jawa. Pada jaman sekarang, siswa enggan mempelajari Aksara Jawa. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti yang dipaparkan oleh Utari (2012:84), bahwa berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Tim Jarlit Bapeda DIY mendapatkan temuan bahwa 65% responden dari siswa SD menyatakan bahwa Bahasa Jawa merupakan mata pelajaran yang cukup sulit. Bahkan Bahasa Jawa juga dianggap momok kedua setelah pelajaran Matematika.
Salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya adalah Aksara Jawa. Bentuk Aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang wajib untuk kita lestarikan. Aksara menjadi bukti nyata adanya zaman terdahulu jauh sebelum adanya bangsa Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk melestarikan Aksara Jawa adalah dengan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan sehingga bangsa Indonesia tidak akan kehilangan budayanya (Rahman, 2007:1).
2
Hadiprijono (2013:1) menjelaskan bahwa carakan atau abjad Jawa mempunyai urut-urutan dari Aksara ha sampai dengan Aksara nga yang berjumlah 20 huruf. Aksara Jawa yang berjumlah 20 disebut juga dengan Aksara Legena.atau Aksara yang berdiri sendiri tanpa sandhangan.
Siswa SD/MI hingga SMA/SMK/MA diharapkan memiliki keterampilan membaca dan menulis Aksara Jawa untuk berbagai keperluan. Pembelajaran membaca dan menulis Aksara Jawa bertujuan untuk melestarikan Aksara Jawa agar tidak mengalami kepunahan walaupun tidak digunakan lagi dalam komunikasi tulis sehari-hari. Banyak siswa yang berpendapat bahwa materi ini merupakan materi yang sulit, khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar.
Bagi siswa SD, materi Aksara Jawa ini merupakan materi baru, mengingat untuk anak usia SD baru mengenal huruf abjad saja dan belum mengenal huruf lain seperti huruf Jawa atau Aksara Jawa. Hurufnya yang berbeda dengan huruf abjad yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari semakin menyulitkan siswa untuk membaca Aksara Jawa. Selain itu, Aksara Jawa juga tidak digunakan untuk kegiatan baca-tulis dalam kehidupan sehari- hari, sehingga bisa dikatakan wajar apabila materi ini sulit dipahami oleh siswa. (Yuliana, 2015:1-2).
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran adalah penggunaan media. Salah satu media pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa Jawa adalah buku cerita bergambar. Buku cerita bergambar memuat pesan melalui ilustrasi dan teks tulis. Kedua elemen ini merupakan elemen penting pada cerita. Penulis akan mengembangkan cerita bergambar yang berisi Aksara Jawa dengan konsep semenarik mungkin agar siswa mudah dalam mempelajari dan menghafalkannya (Djamarah, 2010:120).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Tedunan, Jepara, ditemukan permasalahan yakni kesulitan siswa dalam membaca Aksara Jawa yang terletak pada kebingungan terhadap bentuk hurufnya dan menyebabkan minat siswa dalam membaca Aksara Jawa masih rendah. Pada pembelajaran Bahasa Jawa juga media yang lebih sering
3
digunakan adalah buku pendamping, pepak basa jawa, dll. Selain itu, desain dari buku-buku tersebut kurang menarik sebagai media pembelajaran.
Peneliti melihat, perlu dikembangkannya media pembelajaran berupa buku cerita bergambar untuk menjadikan buku sebagai sesuatu yang menarik, sehingga akan menumbuhkan ketertarikan siswa untuk melihat dan membacanya. Pemakaian buku cerita bergambar Aksara Jawa sebagai media pembelajaran diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran karena materi dalam buku cerita bergambar ini disusun menarik dan mudah dipahami siswa agar siswa termotivasi untuk membaca dan mempelajarinya. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan penilitian dengan judul, “Pengembangan Media Pembelajaran Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) sebagai Upaya Pengenalan Aksara Jawa pada Siswa Sekolah Dasar”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Bagaimanakah Desain Produk Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa)?
2) Bagaimanakah Validitas Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa)?
3) Bagaimanakah Respon Siswa terhadap Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa)?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada perumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penelitian mempunyai tujuan sebagai berikut.
1) Mengetahui desain produk media pembelajaran buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa) yang digunakan sebagai upaya pengenalan Aksara Jawa pada siswa sekolah dasar.
2) Mengetahui validitas dari buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa).
4
3) Mengetahui respon siswa terhadap buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa).
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang penulis harapkan dari penelitian ini sebagai berikut.
1) Dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan bahan informasi tambahan bagi peneliti lainnya yang mengambil tema yang sama dengan harapan dapat dilakukan penelitian lanjutan atau pengembangan dari penelitian ini khususnya yang berkaitan dengan Aksara Jawa.
2) Memberikan wawasan tentang bagaimana upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mengembangkan media pembelajaran Bahasa Jawa khususnya pada materi Aksara Jawa.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2017:6). Sedangkan deskriptif kualitatif adalah penelitian dimana peneliti ditempatkan sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara penggabungan, dan analisis data bersifat induktif (Sugiyono, 2017:9).
Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat, serta hubungan antara berbagai fenomena yang diselidiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui desain produk terhadap buku cerita bergambar Aksara Jawa yang digunakan sebagai upaya pengenalan Aksara Jawa, dan bertujuan untuk mengetahui bukti validitas dari buku cerita bergambar Aksara Jawa itu sendiri serta untuk mengetahui respon siswa terhadap buku cergam rawa.
1.6 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel penelitian menurut Sugiyono (2017:38) adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
5
kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini, definisi operasional variabelnya sebagai berikut.
1) Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar sehingga makna pesan yang disampaikan menjadi lebih jelas dan tujuan pendidikan atau pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Media pembelajaran berfungsi sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa untuk memperoleh pesan dan informasi yang berikan oleh guru sehingga materi pembelajaran dapat lebih meningkat dan membentuk pengetahuan bagi siswa (Nurrita, 2018:171).
Secara sederhana, media pembelajaran adalah alat-alat bantu yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar, mulai dari buku sampai penggunaan perangkat elektronik di kelas. Media pembelajaran berfungsi untuk menjelaskan atau memvisualisasikan suatu materi yang sulit dipahami jika hanya menggunakan ucapan verbal.
2) Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa)
Cergam atau cerita bergambar adalah cerita yang menjadi inti dari ceritanya adalah narasinya, sedangkan gambar hanya sebagai ilustrasi pelengkap. Gambar hanya digunakan sebagai ilustrasi dari cerita yang ada, serta hanya menceritakan salah satu adegan dalam sebuah cerita ysng akan disampaikan (Azizah, 2016:16).
Aksara Jawa juga dikenal sebagai Hanacaraka, Carakan, atau Dentawyanjana, adalah salah satu Aksara tradisional Indonesia yang berkembang di pulau Jawa. Aksara Jawa aktif digunakan dalam sastra maupun tulisan sehari-hari masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20 sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini masih diajarkan di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai bagian dari muatan lokal, namun dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari (Adiat, 2008:12).
6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Teoretik
Sukardi (dalam Setiowati, 2013:8) mendefinisikan, penelitian adalah usaha seseorang untuk mencari jawaban terhadap suatu permasalahan yang dilakukan secara sistematis mengikuti aturan-aturan metodologi, misalnya observasi secara sistematis, dikontrol, dan mendasarkan pada teori yang ada dengan diperkuat gejala yang ada. Pada dasarnya, metodologi merupakan metode keilmuan yang terstruktur untuk melakukan langkah-langkah penelitian yang disesuaikan dengan permasalahan. Melalui metodologi penelitian, seorang peneliti dapat menyusun sebuah rancangan penelitian untuk melakukan pengamatan untuk mendapatkan jawaban dari masalah penelitian yang diangkat.
Sujerweni Wiratna (dalam Azizah, 2016:16) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penelitian adalah suatu penyelidikan yang sistematis, terkendali, empiris, dan kritis mengenai fenomena-fenomena alam yang dibimbing oleh teori dan hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga ada diantara fenomena-fenomena tersebut.
Penelitian dapat dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu penelitian dasar, terapan, evaluasi, pengembangan dan mendesak. Pembagian penelitian didasarkan pada fungsi dan penerapannya dalam Pendidikan, serta berapa lama hasilnya dapat digunakan. Salah satu model penelitian yang relevan dan dapat selalu digunakan yaitu penelitian pengembangan (Sugiyono, 2017:296).
Sugiyono dalam bukunya mendefinisikan, penelitian pengembangan adalah penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tertentu. Produk yang dikembangkan oleh peneliti nantinya akan dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Sebelum digunakan tentunya produk yang dikembangkan harus melalui tahap validasi untuk mengetahui layak atau tidaknya produk tersebut untuk dilanjutkan ke tahap penelitian.
7
Maka dapat disimpulkan bahwa penelitian pengembangan merupakan suatu jenis penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk yang baru atau menyempurnakan produk yang telah ada sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yang dilakukan secara sistematis untuk memecahkan suatu masalah.
Dalam penelitian R&D terdapat beberapa model yang dapat digunakan sebagai panduan dalam mengembangkan suatu produk sebagai berikut.
1) Borg and Gall
Borg and Gall mengemukakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan terdiri dari sepuluh langkah penelitian, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk, produksi masal.
2) Thiagarajan
Thiagarajan mengemukakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan terdiri dari define (tahap pendefinisian), design (tahap perencanaan), development (tahap pengembangan), dan dissemination (tahap penyebaran).
3) Robert Maribe Branch
Robert Maribe Branch mengembangkan desain pembelajaran dengan ADDIE yang merupakan kepanjangan dari Analysis, Define, Development, Implementation and Evaluation.
4) Richey and Klein
Richey and Klein mengemukakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan dari mulai planning (perencanaan), selanjutnya production (memproduksi) dan kemudian evaluation (evaluasi).
Penelitian ini mencoba mengembangkan sebuah media pembelajaran Bahasa Jawa dengan materi ajar Aksara Jawa dalam bentuk buku cerita bergambar yang dapat membantu proses pembelajaran siswa sekolah dasar.
Penelitian ini mengembangkan Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa). Cergam Rawa ini berupa media berbentuk buku cerita bergambar. Pada buku Cergam Rawa ini dilengkapi dengan cerita bergambar yang menceritakan sejarah asal mula Aksara Jawa terbentuk dan dikemas dengan perpaduan huruf, warna, dan gambar yang menarik. Siswa dapat menggunakan media Cergam Rawa ini dengan mudah karena media ini layaknya buku yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Media Cergam Rawa digunakan sebagai evaluasi dari mata pelajaran Bahasa Jawa pada materi Aksara Jawa siswa sekolah dasar.
8
2.1.1 Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan merupakan suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk Pendidikan, baik berupa proses, produk, dan rancangan. Sedangkan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Jadi, pengertian pengembangan media pembelajaran adalah suatu proses yang dipakai dalam mengembangkan sebuah produk dengan memberikan stimulus kepada siswa dalam proses pembelajaran (Azizah, 2016:17).
Dalam kegiatan belajar mengajar, dibutuhkan hubungan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa untuk meningkatkan hasil pembelajaran yang optimal dan proses pembelajaran bisa berjalan dengan efektif. Untuk menunjang hasil pembelajaran yang baik, dibutuhkan sebuah media untuk membantu guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan agar dalam proses pembelajaran tidak terkesan membosankan. Akan tetapi, penggunaan media harus sesuai dengan karakteristik siswa dengan menyesuaikan bahan apa yang sekiranya dapat mencuri perhatian siswa.
2.1.1.1 Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran sangat penting dalam proses pembelajaran karena guru dapat menyampaikan materi kepada siswa menjadi lebih bermakna. Guru tidak hanya menyampaikan materi berupa kata-kata dengan ceramah, tetapi dapat membawa siswa untuk memahami secara nyata materi yang di sampaikan tersebut. Menurut Wina Sanjaya (dalam Nurrita, 2018:176), ada beberapa fungsi dari penggunaan media pembelajaran sebagai berikut.
1) Fungsi komunikatif
Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan. Sehingga tidak ada kesulitan dalam menyampaikan bahasa verbal dan salah persepsi dalam menyampaikan pesan.
2) Fungsi motivasi
9
Media pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam belajar.
Dengan pengembangan media pembelajaran tidak hanya mengandung unsur artistic saja akan tetapi memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan gairah siswa untuk belajar.
3) Fungsi kebermaknaan
Penggunaan media pembelajaran dapat lebih bermakna yakni pembelajaran bukan hanya meningkatkan penambahan informasi tetapi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis dan mencipta.
4) Fungsi penyamaan persepsi
Dapat menyamakan persepsi setiap siswa sehingga memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang disampaikan.
5) Fungsi individualitas
Dengan latar belakang siswa yang berbeda, baik itu pengalaman, gaya belajar, kemampuan siswa maka media pembelajaran dapat melayani setiap kebutuhan setiap individu yang memiliki minat dan gaya belajar yang berbeda.
2.1.1.2 Manfaat Media Pembelajaran
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka guru dalam memberikan materi pelajaran harus mengikuti kemajuan tersebut. Guru harus dapat menggunakan media pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa sehingga siswa dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan oleh guru (Anitah, 2008:11). Menurut Nasution (dalam Nurrita, 2018:177- 178), manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, yaitu: (1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, (2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di pahami siswa, serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran dengan baik, (3) Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, siswa tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga, dan (4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.
10 2.1.1.3 Klasifikasi Media Pembelajaran
Ada berbagai jenis media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru harus dapat memilih jenis media pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam mengajar sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Secara umum dapat dikelompokkan media sebagai berikut: (1) Media Auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti tape recorder, (2) Media Audio, yang mengandalkan kemampuan suara seperti radio, kaset dan sebagainya, (3) Media Visual yaitu media yang menampilkan gambar diam seperti foto, lukisan dan sebagainya, dan (4) Media audiovisual, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar seperti film dan video (Nurrita, 2018:179).
2.1.1.4 Kriteria dalam Pemilihan Media Pembelajaran
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran menurut Nurrita (2018:182-183) berikut.
1) Tujuan
Media dipilih dan digunakan oleh guru harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sehingga kegiatan belajar mengajar lebih efektif dan siswa dapat mengerti materi yang disampaikan.
2) Efektifitas
Guru harus memilih media yang paling efektif dari berbagai media yang ada sehingga media yang digunakan dalam meyampaikan materi kepada siswa adalah yang paling tepat dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
3) Kemampuan Guru dan Siswa
Dalam menyampaikan materi kepada siswa, guru harus memilih media pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kemampuan yang ada pada guru dan siswa dengan proses belajar yang menarik perhatian.
4) Fleksibilitas
Dalam memilih media, guru haruslah memilih media yang fleksibilitas sehinga dapat digunakan dalam berbagai situasi, tahan lama, menghemat biaya dan tidak berbahaya sewaktu digunakan dalam proses pembelajaran.
5) Ketersediaan Media
11
Tidak semua sekolah menyediakan berbagai media yang dibutuhkan oleh guru untuk kegiatan belajar mengajar karena sesuai dengan situasi dan kondisi pada masing-masing sekolah.
Guru haruslan kreatif dalam menyediakan media pembelajaran, contohnya dengan membuat sendiri media pembelajaran yang sederhana atau membuat bersama-sama dengan siswa.
6) Manfaat
Dalam memilih media pembelajaran, guru harus dapat mempertimbangkan manfaat yang didapat dari pengadaan media tersebut bagi siswa dalam proses pembelajaran. Guru juga harus mempertimbangkan biaya pembuatan media pembelajaran.
Sehingga dengan biaya yang minimal dapat menghasilkan media pembelajaran yang bagus dan bermanfaat bagi siswa.
7) Kualitas
Dalam pengadaan media, guru harus mempertimbangkan kualitas dari media tersebut. Media pembelajaran harus dibuat dengan mutu dan kualitas yang baik sehingga bisa tahan lama dan tidak mudah rusak dan dapat digunakan lagi oleh guru untuk proses belajar siswa di waktu yang yang lain. Dengan kualitas media pembelajaran yang baik maka dapat memberikan hasil yang baik dalam proses pembelajaran.
2.1.2 Media Buku Cerita Bergambar (Cergam)
Cergam atau cerita bergambar adalah cerita yang menjadi inti dari ceritanya adalah narasinya, sedangkan gambar hanya sebagai ilustrasi pelengkap. Gambar hanya digunakan sebagai ilustrasi dari cerita yang ada, serta hanya menceritakan salah satu adegan dalam sebuah cerita yang akan disampaikan (Azizah, 2016:26).
Menurut Wikipedia, cerita bergambar adalah berupa buku-buku bergambar. Buku-buku ini memiliki kata-kata sederhana yang memainkan peran penting dalam perkembangan Bahasa, daya khayal, keindahan dan kreativitas anak. Cerita bergambar merupakan suatu media informasi yang memiliki peran sangat penting, mudah untuk dijangkau dan memiliki sifat mobilitas tinggi. Cerita bergambar dapat berupa komik, cergam atau kartun, yang merupakan sebuah kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi gambar tersebut.
12
Menurut Sudjana dan Rivai (dalam Setiowati, 2013:11-13), dalam mengenalkan cerita bergambar, hendaknya disesuaikan dengan usia anak untuk membantu proses perkembangannya. Karena pada saat usia dini, perkembangan otak anak berkembang dengan pesat, sehingga harus dimotivasi sebaik-baiknya dengan media pembelajaran berupa cerita bergambar. Media cerita bergambar sangatlah berpengaruh untuk anak-anak yang dapat membuat mereka lebih senang membaca dan mengikuti pembelajaran. Kusumaningtyas (2017:75) mengungkapkan, penggunaan media cerita bergambar dalam pembelajaran bertujuan untuk menyimpulkan isi cerita, selain itu diharapkan dengan media gambar ini, para siswa menjadi lebih bersemangat dalam belajar sehingga proses pembelajaran akan terasa menyenangkan dan prestasi belajar anak dapat dimaksimalkan.
Menurut Arsyad (dalam Setiowati, 2013:14), dalam menyusun pengembangan media gambar, ada hal-hal yang harus dipertimbangkan, yaitu bentuk, garis, tekstur, dan warna.
1) Bentuk
Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa.
2) Garis
Adanya garis yang menghubungkan antara unsure-unsur satu sama lain dapat menuntun perhatian siswa.
3) Tekstur
Tekstur adalah unsure visual yang mampu menimbulkan kesan kasar atau halus.
4) Warna
Warna menciptakan respon emosional tertentu. Oleh karena itu, harus mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih warna yaitu:
(1) memilih warna khusus, (2) nilai warna yang berkaitan dengan ketebalan dan ketipisan warna, dan (3) kekuatan warna untuk menghasilkan dampak tertentu.
Menurut Arsyad (dalam Setiowati, 2013:15-16), dikemukakan beberapa pengaturan pengembangan gambar sebagai berikut.
1) Gambar jadi dan fotografi
Yang dimaksud gambar jadi dan fotografi adalah pemanfaatan media pembelajaran berupa gambar yang diambil dari beberapa sumber yang sudah ada misalnya majalah, booklet, brosur, dan selebaran. Proses pengembangan media gambar ini cukup sederhana
13
yaitu dengan menata gambar yang dipilih di sebuah kertas kemudian difotokopi. Kertas yang dipilaih bisa menggunakan karton atau dibuat kliping.
2) Gambar garis
Yang dimaksud gambar garis adalah sketsa. Gambar garis seperti ini tepat digunakan untuk pembelajaran kosakata. Pengembangan gambar garis ini bisa langsung digambarkan guru di papan tulis apabila guru mahir menggambar. Bisa juga dengan mempersiapkan gambar terlebih dahulu yang kemudian ditempel menggunakan kartu.
Ukuran kartu misalnya sekitar 8 x 12 cm.
3) Gambar berbasis multimedia\
Pengembangan media gambar melalui multimedia ini akan menghasilkan hal yang beraneka ragam. Gambar yang didapatkan dalam bentuk file dapat diolah menggunakan berbagai macam aplikasi sehingga nanti bisa disajikan kembali dalam berbagai macam bentuk misalnya dicetak kembali dalam industri besar buku cetak, dikemas dalam kaset VCD, dan lain-lain. Pengembangan media menggunakan multimedia ini sangat menjanjikan dalam dunia pendidikan walaupun sampai saat ini, pengembangan semacam ini masih dianggap mahal.
Dari berbagai uraian di atas, Setiowati (2013:16) menyimpulkan bahwa dalam melakukan pengembangan buku cerita bergambar dapat dilakukan dengan cara: (1) Mengidentifikasi batasan tema bahasan dalam penjabaran kamus, (2) Mengidentifikasi tujuan pengembangan kamus, (3) Merumuskan tujuan pengembangan kamus, (4) Mengevaluasi karakteristik objek sasaran pengguna kamus, (5) Menyiapkan outline materi pengembangan kamus, (6) Menggunakan media kertas sebagai media pengembangan kamus, (7) Menyiapkan keterangan gambar yang akan dijabarkan dalam kamus, (8) Gambar hendaknya yang sesuai dengan kebutuhan objek sasaran pengguna dari segi bentuk dan warna, dan (9) Mencari ahli dalam bidang desain grafis dan perbukuan untuk membantu pembuatan.
2.1.3 Aksara Jawa
Aksara Jawa merupakan Aksara atau huruf yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Masyarakat harus melestarikan Aksara Jawa karena Aksara Jawa merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Berbeda dengan huruf latin, huruf Jawa atau Aksara Jawa bersifat silabis atau kesukukataan, tiap huruf
14
mewakili satu suku kata (Arismadhani, dkk, 2019:94). Wiratsiwi (2018:1) menjelaskan bahwa carakan atau abjad Jawa mempunyai urut-urutan dari Aksara ha sampai dengan Aksara nga yang berjumlah 20 huruf. Aksara Jawa yang berjumlah 20 disebut juga dengan Aksara legena atau Aksara yang berdiri sendiri tanpa sandhangan.
Aksara Jawa dikenalkan pada siswa kelas III Sekolah Dasar. Siswa kelas III SD sudah bisa membaca dan menulis, sehingga materi Aksara Jawa dianggap dapat dimengerti jika disampaikan pada waktu tersebut. Bentuk dan penulisan Aksara Jawa berbeda dengan penulisan huruf latin yang telah dipelajari siswa sejak Taman Kanak-kanak. Pengenalan Aksara Jawa harus menggunakan strategi yang tepat agar siswa tidak kesulitan belajar. Siswa kelas III mengenal Aksara Jawa dimulai dengan tujuan mempelajari Aksara Jawa itu apa. Setiyani (2017:2) menyebutkan, setelah siswa memahami tujuan mempelajari Aksara Jawa, barulah mulai masuk ke dalam materi seperti yang sudah tertuang dalam Kurikulum 2013, Semester Gasal, KD 3.4 Mengenal Aksara Jawa Legena (10 huruf), KD 4.4 Membaca dan Menulis Aksara Jawa Legena (lengkap 20 huruf), dan Semester Genap, KD 3.4 Memahami Huruf Jawa Legena (lengkap 20 huruf), KD 4.4 Membaca dan Menulis Kalimat Sederhana Berhuruf Jawa Legena (lengkap 20 huruf).
Aksara Jawa diajarkan kepada peserta didik dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga SMA atau sederajat. Pembelajaran Aksara Jawa disesuaikan dengan masing-masing jenjang secara bertahap. Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), materi Aksara Jawa diajarkan melalui Kompetensi Dasar (KD) membaca Aksara Jawa, meliputi Aksara nglegena dan Aksara shandangan. Aksara sandhangan yang diajarkan adalah sandhangan swara dan sandhangan panyigeg wanda (Yuliana, 2015:26-28).
2.1.3.1 Aksara Nglegena
Aksara nglegena merupakan Aksara dasar yang berjumlah 20 huruf.
Aksara nglegena ini merupakan Aksara yang belum mendapat sandhangan ataupun pasangan.
Gambar 2.1 Aksara Nglegena dan Cara Membacanya
15 2.1.3.2 Aksara Sandhangan
Aksara sandhangan merupakan Aksara yang digunakan sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan. Aksara sandhangan dibagi menjadi beberapa bentuk, diantaranya sandhangan swara dan sandhangan panyigeg wanda.
2.1.3.2.1 Sandhangan Swara
Gambar 2.2 Penerapan Sandhangan Swara
2.1.3.2.2 Sandhangan Panyigeg Wanda
Gambar 2.3 Sandhangan Panyigeg Wanda
16
2.1.4 Desain Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) 2.1.4.1 Konsep Buku Cergam Rawa
Konsep merupakan materi yang akan disajikan dalam buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa). Materi ini berkaitan dengan Aksara Jawa yang dibutuhkan siswa Sekolah Dasar.
2.1.4.2 Rancangan Buku Cergam Rawa
Rancangan yang dimaksud adalah berisikan materi yang ada dalam buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) berupa Aksara Jawa yang berisi Aksara Nglegena dan cara membacanya, Aksara Sandhangan yang terdiri dari Sandhangan Swara dan Sandhangan Panyigeg Wanda. Buku Cergam Rawa ini juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang menunjukkan asal usul sejarah dari terbentuknya Aksara Jawa.
Adapun rancangan buku Cergam Rawa ini meliputi: (1) Sampul; (2) Bentuk Buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa); dan (3) Desain Isi.
2.1.4.2.1 Sampul Buku Cergam Rawa
Sampul buku berisi judul buku Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa) dan penulis buku Cergam Rawa.
2.1.4.2.2 Bentuk Buku Cergam Rawa
Ukuran buku Cergam Rawa yang digunakan merupakan ukuran yang nyaman untuk dibawa dan dibaca. Perkiraan besar buku Cergam Rawa adalah ukuran kertas A5 dan tebal buku Cergam Rawa tidak lebih dari 60 halaman.
17 2.1.4.2.3 Desain Isi Buku Cergam Rawa
Garis besar isi yang akan ditampilkan dalam buku cergam rawa anatara lain: (1) Halaman judul, (2) Pengantar, (3) Petunjuk penggunaan buku, (4) Bagian asal usul Aksara Jawa, (5) Bagian Aksara Jawa, dan (6) Daftar pustaka.
2.1.4.3 Prototipe Buku Cergam Rawa
Judul buku Cergam Rawa yang akan digunakan adalah Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa). Materi buku disampaikan dalam bentuk cerita disertai dengan gambar yang menerangkan tentang asal usul Aksara Jawa.
2.2 Kajian Penelitian Relevan
Media Aksara Jawa pernah dikembangkan oleh beberapa peneliti.
Beberapa penelitian yang mendahului pengembangan Cergam Rawa ini antara lain yaitu skripsi Yuliana (2015) yang berjudul “Pengembangan Buku Gladhen Aksara Jawa untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Aksara Jawa Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”, skripsi Setiyani (2017) dengan judul
“Pengembangan Media Pansus Raja (Papan Susun Aksara Jawa) untuk Pembelajaran Aksara Jawa Siswa Kelas III Sekolah Dasar”, skripsi Rahman (2007) yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Aksara Jawa dengan Macromedia Flash MX”.
Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana (2015) menunjukkan hasil penemuan yang sama dengan penelitian ini yaitu buku tentang Aksara Jawa.
Materi penelitian mempunyai kesamaan yaitu Aksara Jawa. Selain itu, jenis penelitian dari penelitian Yuliana juga mempunyai kesamaan dengan penelitian ini, yaitu merupakan penelitian pengembangan. Ada perbedaan antara penelitian Yuliana dengan penelitian ini yaitu pada hasil penelitiannya.
Pada penelitian Yuliana menghasilkan buku berupa gladhen Aksara untuk meningkatkan keterampilan membaca Aksara Jawa, sedangkan pada penelitian ini menghasilkan buku cerita bergambar Aksara Jawa sebagai upaya pengenalan Aksara Jawa. Yuliana mengambil siswa kelas IV sebagai subjek penelitian, sedangkan dalam penelitian ini mengambil 10 siswa sekolah dasar kelas III dan kelas V dengan masing-masing 5 siswa.
18
Setiyani (2017) melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini karena mempunyai kesamaan yakni menggunakan materi Aksara Jawa.
Setiyani menggunakan media pembelajaran berbasis media tradisional berupa papan susun, sedangkan penelitian ini menggunakan media pembelajaran berupa cerita bergambar. Penelitian yang dilakukan Setiyani memiliki subjek yang sama dengan penelitian ini yakni siswa usia sekolah dasar, namun pada penelitian Setiyani mengambil siswa kelas III, sedangkan pada penelitian ini mengambil 10 siswa sekolah dasar kelas III dan kelas V dengan masing- masing 5 siswa dikarenakan adanya pandemi covid-19.
Rahman (2007) melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini karena mempunyai kesamaan yakni menggunakan materi Aksara Jawa. Ada perbedaan dari penelitian Rahman dengan penelitian ini yakni pada hasil penelitian. Hasil dari penelitian Rahman adalah terciptanya program pembelajaran Aksara Jawa berbasis multimedia interaktif yang dikembangkan dengan bantuan program Macromedia Flash MX, sedangkan pada penelitian ini menghasilkan media pembelajaran berupa buku cerita bergambar Aksara Jawa. Penelitian Rahman membuat program pembelajaran yang dapat digunakan berbagai usia siswa sekolah, sedangkan penelitian ini membuat media pembelajaran yang ditujukan pada siswa usia sekolah dasar.
Berdasarkan dari penelitian terdahulu, maka dapat disimpulkan dalam tabel berikut.
Tabel 2.1 Kajian Penelitian Relevan No
. Jenis, Judul,
Nama, Tahun Fokus Metode Perbedaan dan Persamaan 1 R&D,
“Pengembanga n Buku
Gladhen Aksara Jawa untuk
Meningkatkan Keterampilan Membaca Aksara Jawa Siswa Kelas IV
Penggunaan buku
gladhen Aksara Jawa untuk meningkatka n
keterampilan membaca Aksara Jawa siswa kelas
Kualitatif dan Kuantitati f.
a.Perbedaan
1. Hasil penelitian berupa buku gladhen Aksara Jawa.
2. Tujuan penelitian ini untuk
meningkatkan keterampilan membaca Aksara Jawa.
19 Sekolah
Dasar”, Evi Yuliana, 2015.
IV SD. 3. Subjek penelitian
siswa kelas IV SD.
b.Persamaan
1. Hasil sama, yaitu buku tentang Aksara Jawa.
2. Jenis penelitian pengembangan.
3. Materi penelitian Aksara Jawa.
2 R&D,
“Pengembanga n Media Pansus Raja (Papan Susun Aksara Jawa) untuk
Pembelajaran Aksara Jawa Siswa Kelas III Sekolah
Dasar”, Angela Wyda Setiyani, 2017.
Penggunaan media papan susun
Aksara Jawa untuk pembelajara n Aksara Jawa siswa kelas III SD.
Kualitatif dan Kuantitati f.
a. Perbedaan
1. Menggunakan media
pembelajaran berbasis media tradisional berupa papan susun.
2. Subjek siswa kelas III SD.
b. Persamaan 1. Menggunakan
materi Aksara Jawa.
2. Subjek siswa usia SD.
3. Jenis penelitian pengembangan.
3 R&D,
“Pengembanga n Media Pembelajaran Aksara Jawa dengan Macromedia Flash MX”, Abdur
Rahman, 2007.
Penggunaan Macromedia Flash MX untuk pembelajara n Aksara Jawa.
Kualitatif dan Kuantitati f.
a. Perbedaan 1. Menggunakan
Macromedia Flash MX sebagai media.
2. Subjek umum, bukan siswa SD.
b. Persamaan 1. Materi Aksara
Jawa.
2. Jenis penelitian pengembangan.
2.3 Kerangka Berpikir
Aksara adalah salah satu ciri khas dari suatu daerah. Aksara yang terdapat di pulau Jawa yaitu Aksara Jawa. Aksara Jawa telah digunakan sejak empat
20
abad yang lalu, hal ini menandakan bahwa aksara Jawa dapat sejalan dengan perkembangan jaman. Aksara Jawa yang masih ada hingga sekarang tidak lepas dari usaha pelestarian. Usaha pelestarian ini salah satunya dengan terus digunakan dan diajarkan dari generasi ke generasi berikutnya (Arismadhani, dkk, 2013:94-95).
Penggunaan Aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari semakin berkurang.
Penggunaan Aksara Jawa dapat dilihat dari penulisan cagar budaya seperti candi dan keraton. Penulisan nama jalan di beberapa daerah seperti Yogyakarta yang menggunakan Aksara Jawa. Penggunaan Aksara Jawa di masyarakat umum hanya sebatas itu saja. Aksara Jawa perlu diajarkan secara formal agar tidak hilang. Aksara Jawa masuk ke dalam materi muatan lokal Bahasa Jawa yang diajarkan mulai dari Sekolah Dasar.
Wardani (2015:1) mengungkapkan, pembelajaran Aksara Jawa kurang diminati oleh siswa karena Aksara Jawa dianggap sulit. Hal ini disebabkan karena Aksara Jawa tidak digunakan sebagai media baca-tulis dalam kehidupan sekarang ini, sehingga siswa hanya mengenal Aksara Jawa dari sekolah saja. Kurangnya minat siswa dalam mempelajari Aksara Jawa juga disebabkan oleh proses pembelajaran yang monoton. Siswa hanya menghafal bentuk-bentuk Aksara Jawa, sedangkan penerapannya dalam bacaan kurang diperhatikan. Selain itu, fasilitas penunjang pembelajaran Aksara Jawa masih terbatas jumlahnya seperti kurangnya buku Aksara Jawa yang difokuskan untuk menyajikan materi Aksara Jawa secara rinci. Permasalahan tersebut tentunya membutuhkan solusi agar pembelajaran Aksara Jawa diminati dan mudah dipahami oleh siswa.
Media pembelajaran digunakan untuk penyampaian informasi dari guru kepada siswa dan sarana pembantu pembelajaran materi. Media akan mempermudah tugas guru dalam penyampaian materi yang sulit. Siswa akan mudah menerima materi dengan menggunakan media pembelajaran.
Pemilihan media pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi hasil belajar siswa (Nurrita, 2018:171).
21
Media Cergam Rawa merupakan media pembelajaran yang berbentuk Buku Cerita Bergambar Aksara Jawa. Media Cergam Rawa dirancang agar mudah digunakan oleh siswa dan guru. Media Cergam Rawa menggunakan perpaduan gambar dan warna yang menarik. Media Cergam Rawa dilengkapi dengan garis panduan agar siswa tidak bingung dalam merangkai Aksara Jawa. Media Cergam Rawa dapat digunakan sewaktu-waktu dan dimana saja, karena media Cergam Rawa memiliki bentuk yang ringkas dan ringan. Tujuan media Cergam Rawa yaitu untuk membantu siswa mengenal Aksara Jawa dengan baik dan menyenangkan sehingga dapat dipahami oleh siswa. Siswa yang menggunakan media Cergam Rawa diharapkan dapat memahami, membaca, dan menulis Aksara Jawa. Media Cergam Rawa dapat meningkatkan hasil belajar Aksara Jawa siswa.
Tabel 2.2 Kerangka Berpikir Aksara Jawa jarang
digunakan sehari-hari
Media pembelajaran Aksara Jawa terbatas Siswa kurang tertarik
mempelajari Aksara Jawa dan sulit menghafalkan
Diperlukan media pembelajaran Aksara Jawa yang menarik dan meningkatkan daya hafal Aksara Jawa
Membuat media pembelajaran yang menarik dan meningkatkan daya hafal Aksara Jawa
Revisi media pembelajaran yang menarik dan meningkatkan daya hafal Aksara Jawa
Validasi media pembelajaran oleh dosen ahli
Media pembelajaran pengenalan Aksara Jawa Cergam Rawa (Cerita Bergambar Aksara Jawa)
22 2.4 Rancangan Model
Suatu model dalam penelitian pengembangan dihadirkan dalam bagian prosedur pengembangan, yang biasanya mengikuti model pengembangan yang dianut oleh peneliti. Model dapat juga memberikan kerangka kerja untuk pengembangan teori dan penelitian. Dengan mengikuti model tertentu yang dianut oleh peneliti, maka akan diperoleh sejumlah masukan (input) guna dilakukan penyempurnaan produk yang dihasilkan, apakah berupa bahan ajar, media, atau produk-produk lain.
Model Borg and Gall, deskripsi tentang prosedur dan langkah-langkah penelitian pengembangan sudah banyak dikembangkan. Prosedur penelitian pengembangan pada dasarnya terdiri dari dua tujuan utama, yaitu mengembangkan produk dan menguji keefektifan produk dalam mencapai tujuan. Tujuan pertama disebut sebagai fungsi pengembang, sedangkan tujuan kedua disebut sebagai validitas. Dengan demikian, konsep penelitian pengembangan dapat diartikan sebagai upaya pengembanagan yang sekaligus disertai dengan upaya validitasnya (Azizah, 2013:41-44).
Secara konseptual, pendekatan penelitian dan pengembangan mencakup 10 langkah umum, sebagaimana diuraikan Borg & Gall (dalam Setiowati, 2013:28) sebagai berikut.
1)Research and information collecting, 2) Planning, 3) Development of the preminary from of product, 4) Preliminary field testing, 5) Main product revision, 6) Main field testing, 7) Operational product revision, 8) Operational field testing, 9) Final product revision, 10) Dissemination and implementation.
Pengadaptasiannya diwujudkan dalam bentuk perencanaan teknis sasaran dan jenis kegiatan yang akan dilakukan dalam tiap tahapannya. Jika kesepuluh langkah penelitian dan pengembangan diikuti dengan benar, maka akan dapat menghasilkan suatu produk pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Langkah-langkah tersebut bukanlah hal baku yang harus diikuti, langkah yang diambil bisa disesuaikan dengan kebutuhan peneliti.
23
Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan oleh Borg and Gall yang dijabarkan oleh Azizah (2013:41-44) sebagai berikut.
1) Research and Information Collecting
Langkah pertama ini meliputi analisis kebutuhan, studi pustaka, studi literatur, penelitian skala kecil dan standar laporan yang dibutuhkan. Untuk melakukan analisis kebutuhan, ada beberapa kriteria yang terkait dengan urgensi pengembangan produk, juga ketersediaan SDM yang kompeten dan kecukupan waktu untuk mengembangkan. Adapun studi literatur dilakukan untuk pengenalan sementara terhadap produk yang akan dikembangkan, dan ini dilakukan untuk mengumpulkan temuan riset dan informasi lain yang bersangkutan dengan pengembangan produk yang direncanakan.
Sedangkan riset skala kecil perlu dilakukan agar peneliti mengetahui beberapa hal tentang produk yang akan dikembangkan.
2) Planning
Menyusun rencana penelitian, meliputi kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah- langkah penelitian, dan kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas.
3) Development of the Preminary from of Product
Langkah ini meliputi penentuan desain produk yang akan dikembangkan (desain hipotetik), penentuan sarana dan prasarana penelitian yang dibutuhkan selama proses penelitian dan pengembangan, penentuan tahap-tahap pelaksanaan uji desain di lapangan, dan penentuan deskripsi tugas pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian termasuk didalamnya antara lain pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan instrumen evaluasi.
4) Preliminary Field Testing
Langkah ini merupakan uji produk secara terbatas, yaitu melakukan uji lapangan awal terhadap desain produk yang bersifat terbatas, baik substansi desain maupun pihak-pihak yang terlibat. Uji lapangan awal dilakukan secara berulang-ulang sehingga diperoleh desain layak, baik substansi maupun metodologi. Missal uji ini dilakukan di 1 sampai 3 sekolah, menggunakan 6 sampai 12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba diadakan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket. Pengumpulan data dengan kuesioner dan observasi yang selanjutnya dianalisis.
5) Main Product Revision
Langkah ini merupakan perbaikan model atau desain berdasarkan uji lapangan terbatas. Penyempurnaan produk awal akan dilakukan setelah dilakukan uji coba lapangan secara terbatas. Pada tahap penyempurnaan produk awal ini, lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Evaluasi yang dilakukan lebih pada evaluasi
24
terhadap proses, sehingga perbaikan yang dilakukan bersifat perbaikan internal.
6) Main Field Testing
Langkah ini merupakan uji produk secara lebih, meliputi uji efektivitas desain produk, uji efektivitas desain (pada umumnya menggunakan Teknik eksperimen model pengulangan). Hasil dari uji ini adalah diperolehnya desain yang efektif, baik dari sisi substansi maupun metodologi. Contoh uji ini misalnya dilakukan di 5 sampai 15 sekolah dengan 30 sampai 100 subjek. Pengumpulan data tentang dampak sebelum dan sesudah implementasi produk menggunakan kelas khusus, yaitu data kuantitatif penampilan subjek uji coba (guru) sebelum dan sesudah menggunakan model yang dicobakan. Hasil-hasil pengumpulan data dievaluasi, kemudian dibandingkan dengan kelompok pembanding jika memungkinkan.
7) Operational Product Revision
Langkah ini merupakan penyempurnaan produk atas hasil uji lapangan berdasarkan masukan dan hasil uji lapangan utama. Jadi perbaikan ini merupakan perbaikan kedua setelah dilakukan uji lapangan yang lebih luas dari uji lapangan yang pertama.
Penyempurnaan produk dari hasil uji lapangan lebih luas ini akan lebih memantapkan produk yang dikembangkan, karena pada tahap uji coba lapangan sebelumnya dilaksanakan dengan adanya kelompok kontrol.
Desain yang digunakan adalah pretest dan posttest. Selain perbaikan yang bersifat internal, penyempurnaan produk ini didasarkan pada evaluasi hasil sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.
8) Operational Field Testing
Langkah ini sebaiknya dilakukan dengan skala besar, meliputi uji efektivitas dan adaptabilitas desain produk, dan uji efektivitas dan adaptabilitas desain melibatkan para calon pemakai produk. Hasil uji lapangan berupa model desain yang siap diterapkan, baik dari sisi substansi maupun metodologi. Missal uji ini dilakukan di 10 sampai 30 sekolah dengan 40 sampai 200 subjek, pengujian dilakukan melalui angket, wawancara dan observasi lalu hasilnya dianalisis.
9) Final Product Revision
Langkah ini merupakan penyempurnaan produk yang sedang dikembangkan. Penyempurnaan produk akhir dipandang perlu untuk lebih akuratnya produk yang dikembangkan. Pada tahap ini sudah didapatkan suatu produk yang tingkat efektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penyempurnaan produk akhir memiliki nilai “generalisasi” yang dapat diandalkan. Penyempurnaan didasarkan masukan atau hasil uji kelayakan dalam skala luas.
10) Dissemination and Implementation
Desiminasi dan implementasi, yaitu melaporkan produk pada forum-forum profesional didalam jurnal dan implementasi produk pada praktik pendidikan. Penerbitan produk untuk didistribusikan
25
secara komersial maupun free untuk dimanfaatkan oleh publik.
Distribusi produk harus dilakukan setelah melalui quality control.
Disamping harus dilakukan monitoring terhadap pemanfaatan produk oleh publik untuk memperoleh masukan dalam kerangka mengendalikan kualitas produk.
26 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tedunan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara pada 10 siswa (5 siswa kelas III dan 5 siswa kelas V) SD N 1 Tedunan yang bertempat tinggal di sekitar rumah peneliti. Ini dilakukan mengingat kondisi saat ini dimana pembelajaran masih dilakukan secara daring karena pandemi covid-19.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2020 sampai Maret 2021, mulai dari tahap persiapan sampai tahap pelaksanaan.
3.2 Karakteristik Model yang Dikembangkan
Model yang akan dikembangkan mengacu pada model pengembangan Research and Development (R&D) Borg and Gall yang telah dimodifikasi Sugiyono.
Model pengembangan Research and Development (R&D) Borg and Gall yang telah dimodifikasi Sugiyono terdiri dari sepuluh langkah sebagai berikut: 1) potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain, 5) perbaikan desain, 6) uji coba produk, 7) revisi produk, 8) uji coba pemakaian, 9) revisi produk, 10) produksi masal.
Peneliti membatasi langkah-langkah penelitian pengembangan dari sepuluh langkah menjadi tujuh langkah sampai pada revisi produk dikarenakan sesuai dengan kebutuhan pengembangan di masa pandemi covid-19 saat ini yang masih booming.
3.3 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development atau sering disebut penelitian pengembangan. Penelitian ini akan menghasilkan produk baru yang inovatif. Putra (2013:67) mengemukakan, secara sederhana R&D bisa didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistematis, bertujuan
27
atau diarahkan untuk mencari-temukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji kefektifan produk, model, metode/strategi/cara, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna.
Berdasarkan definisi di atas, penelitian ini akan mengembangkan sebuah buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa) untuk siswa Sekolah Dasar (SD).
Model pengembangan Research and Development (R&D) Borg and Gall yang telah dimodifikasi Sugiyono terdiri dari sepuluh langkah sebagai berikut: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) perbaikan desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi masal.
Peneliti membatasi langkah-langkah penelitian pengembangan dari sepuluh langkah menjadi tujuh langkah sampai pada revisi produk dikarenakan menyesuaikan dengan kebutuhan pengembangan peneliti di masa pandemi covid- 19 saat ini yang masih booming.
Tahap-tahap pembuatannya dapat divisualisasikan dalam bagan berikut.
Tabel 3.1 Visualisasi Langkah-langkah Desain Penelitian Potensi dan Masalah
Pengumpulan Data Desain Produk
Validasi Desain
Perbaikan Desain Uji Coba Produk Revisi Produk
28 3.3.1 Potensi dan Masalah
Penelitian ini dilakukan karena adanya suatu potensi dan masalah.
Menurut Sugiyono (2017:298) potensi merupakan segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah, sedangkan masalah adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi.
Potensi dan masalah dalam penelitian ini adalah masih sedikit jumlah variasi bahan ajar/media pembelajaran untuk materi Aksara Jawa.
3.3.2 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui analisis kebutuhan dan data hasil penilaian prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa). Analisis kebutuhan diperoleh melalui wawancara, validasi dan angket.
3.3.3 Desain Produk
Pada tahap ketiga merupakan tahap awal pembuatan prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa). Pembuatan produk diawali dengan melakukan wawancara pada siswa, menyimpulkan data hasil analisis kebutuhan siswa, kemudian membuat materi ajar dan desain buku. Desain yang dihasilkan adalah desain berdasarkan analisis kebutuhan siswa dan data pendukung yang telah didapatkan dilapangan.
3.3.4 Validasi Desain
Validasi desain yaitu proses untuk menilai prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa). Validasi desain dilakukan oleh para ahli, yaitu dosen ahli dan guru untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan prototipe tersebut.
3.3.5 Perbaikan Desain
Perbaikan desain merupakan tahap perbaikan prototipe setelah divalidasi oleh para ahli. Setelah diketahui kekurangan dan kelebihan, buku tersebut diperbaiki kemudian dihasilkan prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa).
29 3.3.6 Uji Coba Produk
Setelah media divalidasi dan diperbaiki oleh ahli materi dan ahli media, maka media akan diujicobakan. Uji coba yang dilakukan adalah uji coba skala terbatas/uji coba kelompok kecil.
3.3.7 Revisi Produk
Setelah diujicobakan pada 9 siswa, maka dapat diketahui berbagai macam respon siswa. Kemudian buku diperbaiki dan dihasilkan prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa) . Prototipe yang sudah direvisi yang kedua kalinya ini merupakan hasil akhir dari pengembangan media pembelajaran dalam penelitian ini.
3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek dan subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh seorang peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah 10 siswa SDN 1 Tedunan yang terdiri dari 5 siswa kelas III dan 5 siswa kelas V.
3.4.2 Sampel
Sampel dapat didefinisikan sebagai anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan acuan tabel yang dikembangkan para ahli. Dengan demikian, sampel dapat dinyatakan tertentu untuk diteliti dan digeneralisasi terhadap populasi.
3.4.2.1 Penentu Ukuran Sampel
Untuk mengetahui besarnya ukuran sampel didalam penelitian ini, penelliti menggunakan rumus slovin sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(ⅇ)2 Keterangan :
n = Ukuran Sampel
30 N = Jumlah Populasi
e = Persentase kesalahan yang ditolerir dalam pengambilan sampel (pada kasus ini menggunakan e = 10 % )
𝑛 = 10
1 + 10(0.1)2 = 10
1 + 10(0,01)= 10
1,1= 9,09 = 9
Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh dari rumus slovin tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis sampelnya adalah 9 siswa.
3.4.2.2 Penentu Penarikan Sampel
Teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Purposive Sampling merupakan teknik penentuan sampel secara sengaja. Maksudnya peneliti menentukan sendiri sampel yang diambil karena ada pertimbangan tertentu, jadi sampel diambil ditentukan sendiri oleh peneliti dalam hal ini sampel penelitian ini yaitu 9 siswa SDN 1 Tedunan yang terdiri dari 5 siswa kelas III dan 4 siswa kelas V dengan purposive sampling agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).
3.5 Variabel Penelitian
3.5.1 Variabel Independen (Bebas)
Menurut Sugiyono, variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahnya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini menggunakan variabel independen pengembangan media pembelajaran cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa)..
3.5.2 Variabel Dependen (Terikat)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah upaya pengenalan Aksara Jawa pada siswa sekolah dasar (SD).
3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan adalah wawancara dan angket untuk mendapatkan penilaian dari ahli tentang kelayakan media pembelajaran Cergam Rawa.
31
Kelayakan media pembelajaran ini ditinjau dari beberapa aspek, yaitu aspek kelayakan isi Cergam, aspek kebahasaan, aspek performance, aspek desain grafis, dan aspek kemudahan penggunaan. Peneliti mengembangkan angket penelitian menggunakan beberapa angket dalam pengumpulan data, yaitu angket validasi oleh dosen ahli materi, angket validasi oleh dosen ahli media, angket validasi oleh guru ahli pembelajaran dan angket respon siswa. Secara rinci, instrumen penelitian ini disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian No. Jenis Data Teknik
Pengumpulan Data
Instrumen Sumber Data
Tahapan
1 Analisis kebutuhan siswa terhadap buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa)
Wawancara Pedoman wawancara
Guru dan Siswa
Pendefinisian
2 Validasi rancangan desain terhadap prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa)
Validasi ahli Angket Dosen Pengembangan
3 Respon siswa terhadap prototipe buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa)
Respon siswa Angket Siswa Pengembangan
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari wawancara, validitas dan angket.
32 1) Wawancara
Wawancara dilakukan oleh pewawancara kepada guru dan siswa sekolah dasar untuk memperoleh informasi dari narasumber. Wawancara digunakan pada tahap studi pendahuluan untuk mendalami atau melengkapi data-data informasi mengenai kebutuhan siswa terhadap buku cergam rawa (cerita bergambar Aksara Jawa).
Tabel 3.3 Pedoman Wawancara dengan Guru
No. Aspek Indikator Jumlah soal
1 Media pembelajaran yang digunakan untuk pembelajaran materi Aksara
Jawa
Media pembelajaran yang digunakan
untuk pembelajaran materi Aksara
Jawa
1
Kebermanfaatan media pembelajaran yang digunakan
1
Kesulitan guru dalam mengajarkan Aksara Jawa
1
2 Buku Aksara Jawa yang
diinginkan oleh guru Buku Aksara Jawa yang diinginkan
1
Ukuran buku 1
Desain buku 1
Jenis huruf Jawa 1 3 Harapan terhadap buku
cergam rawa
Harapan guru terhadap buku
cergam rawa
1
Tabel 3.4 Pedoman Wawancara dengan Siswa
No. Aspek Indikator Jumlah soal
1 Media pembelajaran yang digunakan untuk pembelajaran materi Aksara
Jawa
Media pembelajaran yang digunakan
untuk pembelajaran materi Aksara
1