BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Kelapa Sawit
Kelapa sawit adalah tanaman hutan yang dibudidayakan sehingga tanaman ini memiliki daya adaptasi dan respon yang baik sekali terhadap kondisi lingkungan hidup, kultur teknis ataupun perlakuan yang diberikan. Seperti tanaman budidaya lainnya maka kelapa sawit membutuhkan kondisi tumbuh yang baik agar potensi produksinya dapat dikeluarkan secara maksimal.(Lubis, 2008)
Pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dalam tanaman kelapa sawit itu sendiri, antara lain jenis atau varietas tanaman. Sedangkan faktor luar adalah faktor lingkungan, antara lain iklim dan tanah, dan teknik budidaya yang dipakai (Mangoensoekarjo, S. 2008) .
2.1.1. Jenis atau Varietas Kelapa Sawit.
Varietas kelapa sawit cukup banyak dan diklasifikasikan dalam berbagai hal seperti : a) Dibedakan atas tipe buah.
b) Bentuk luar.
c) Tebal cangkang (tempurung), d) Warna buah.
Berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozigote tunggal yaitu dura yang bercangkang tebal jika dikawinkan dengan pesifera yang bercangkang tipis jika keduanya dikawinkan agar menghasilkan varietas baru yaitu tenera yang memiliki ketebalan cangkang diantara keduanya.
Tabel. 1. Perbedaan Tebal Cangkang Beberapa Varietas . Cangkang
(mm)
Pericarp (mm)
Varietas Cangkang (% / buah)
Mesoscarp (%/ buah)
Inti (%/
buah
2 – 5 2 – 6 Dura 25 – 30 20 – 65 4 – 20 1 – 2 3 – 10 Tenera 3 – 20 60 – 90 3 – 15
- 5 – 10 Pesipera - 92 – 97 3 – 8
(Sumber : lubis, 2008)
2.1.2. Syarat Tumbuh Kelapa Sawit.
Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah antara 12⁰ Lintang Utara 12⁰ Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2000-2500 milimeter pertahun dengan pembagian yang merata sepanjang tahun.
Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5-7 jam perhari, dan suhu optimum berkisar 24⁰-38⁰ C. Ketinggian diatas permukaan laut yang optimal berkisar 0-500 meter diatas permukaan laut.
Jumlah curah hujan setahun dapat berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit.
Kemarau panjang bisa menyebabkan gagalnya pembentukan bakal bunga pada 21 bulan berikutnya (abortus bunga) dan kekurangan buah pada 5-6 bulan berikutnya. Keadaan iklim juga besar pengaruhnya terhadap kelancaran panen dan banyaknya produksi yang diperoleh.
Tabel. 2. Pengaruh Curah Hujan Terhadap Persentase Potensi Produksi.
Curah Hujan Setahun (mm) Potensi Produksi (100%)
2.500 mm atau lebih 100
2.000-2.500 mm 80
1.500 mm atau kurang 60-70
( Sumber : Sunarko, 2008).
2.1.3. Potensi Produksi.
Pada tanaman muda, bunga betina lebih banyak sehingga tanaman dapat berbuah lebih
banyak. Namun, buahnya masih kecil dan beratnya masih kurang dari 10-15 kg. Keadaan
seperti ini menyebabkan produktivitas tanaman rendah. Tanaman tua memiliki tandan
lebih berat dibandingkan dengan tanaman muda. Berikut ini perbandingan antara umur tanaman dan berat tandan rata–rata.
Tabel. 3. Pengaruh Umur Tanaman Terhadap Berat Rata-Rata.
Umur Tanaman ( Tahun ) Berat Tandan Rata-Rata (Kg)
1 4
2 6
3 8
4 10
5 12
6 14
7 18
8-10 22
11-12 26
13-15 30
16-18 35
18-20 40
>20 >40
(Memet. Hakim. 2007).
2.1.4. Jenis Tanah atau Kesesuaian Lahan.
Sifat fisik dan sifat kimia setiap jenis tanah memang berbeda – beda. Oleh karena itu tingkat produksi setiap jenis tanah juga berbeda. Bagi tanaman kelapa sawit sifat fisik tanah lebih penting dari pada sifat kesuburan kimiawinya, karena kekurangan suatu unsur hara dapat diatasi dengan pemupukan (Risca Suyanto, 1994).
Tabel. 4. Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan S1, S2, S3, S4.
Klasifikasi lahan dan produksi
Umur
S1 S2 S3 S4
(thn)
T RBT TBS T RBT TBS T RBT TBS T RBT TBS
3 21 3 9 16 3 7 14 3 6 14 2 5
4 20 6 17 20 5 15 20 5 13 19 4 10
5 18 8 21 18 7 19 18 6 16 17 6 14
6 17 10 25 17 9 22 17 8 19 16 7 16
7 16 12 28 16 11 25 16 10 23 15 9 19
8 15 14 30 15 13 27 15 12 25 14 11 22
9 13 16 30 13 15 27 13 13 25 12 13 22
10 12 18 30 11 17 27 11 16 25 10 15 22
11 10 20 30 10 19 27 10 17 25 9 17 22
12 10 20 30 10 19 27 10 17 25 9 17 22
13 10 20 30 10 19 27 10 17 25 9 17 22
14 8 23 23 8 22 25 8 20 23 8 18 21
15 8 23 23 8 22 25 8 20 23 8 18 21
16 7 26 25 7 24 24 7 22 22 7 20 20
17 7 26 25 7 24 24 7 22 22 7 20 20
18 6 28 24 6 26 22 6 23 20 6 22 19
19 6 28 24 6 26 22 6 23 20 6 22 19
20 5 30 22 5 29 21 5 27 19 5 25 18
21 5 30 22 5 29 21 5 27 19 5 25 18
22 5 31 20 5 27 19 5 24 17 5 22 16
23 5 31 20 5 27 19 5 24 17 5 22 16
24 4 35 18 4 30 17 4 28 16 4 26 15
25 4 35 18 4 30 17 4 28 16 4 26 15
_
X 9 20 24 9 18 22 9 16 20 9 15 18
(Sumber: Lubis , 2008)
Keterangan :
T = Jumlah tandan/pohon/tahun BRT = rata-rata berta tandan (kg) TBS = ton tbs/ha/tahun
2.2. Panen Kelapa Sawit
Panen dan produksi merupakan hasil dari pemeliharaan tanaman. Baik buruknya
pemeliharaan tanaman selama ini akan berdampak terhadap pencapaian produksi dan
produktivitas. Pekerjaan panen adalah kegiatan memotong tandan matang, mengumpulkan
dan mengangkutnya ke pabrik untuk seterusnya diolah mendapatkan rendemen minyak yang
tinggi, asam lemak bebas yang rendah. Karyawan panen harus karyawan khusus dan sedapat
mungkin diusahakan agar kerjanya hanya memanen. Hal demikian akan mempermudah penilaian kerja baik kwantitas maupun kwalitasnya. Jika memungkinkan pembagian ancak tetap akan baik sekali. (Lubis, 2008).
2.2.1. Kriteria Matang Panen.
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanenan agar memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen ditentukan pada saat kandungan minyak maksimal dan kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal.
Pada saat ini, kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah berondolan, yaitu tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun. Jumlah berondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih dari 10 tahun. Jumlah berondolan sekitar 15-20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum, yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat dua berondolan. (Adi, Putranto, 2012).
Buah yang “tepat matang” diartikan sebagai buah yang kondisinya memberikan kuantitas dan kualitas minyak yang maksimal. Hal itu memberikan gambaran bahwa kondisi “buah matang” bersifat kritis karena menyangkut jangka waktu yang sangat pendek. Sifat kritis tersebut menjadi lebih nyata lagi karena setelah buah melewati titik tepat matang kualitas minyak sawit mulai menurun, artinya dalam waktu singkat buah akan menjadi “lewat matang”, dan panen lewat matang juga akan merugikan, antara lain menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas (ALB). (Mangoensoekarjo .S, 2008).
Tabel 5. Fraksi Kematangan Buah dan hubungannya dengan Rendemen dan Mutu Minyak.
Fraksi Berondolan lepas dari
buah(%) Kematangan Rendemen minyak(%)
Kadar asam lemak bebas
(%)
00 Belum ada Sangatmentah 16,0 1,6
0 < 12,5brondolan/kg tbs Mentah 16,0 1,6
1 12,5-25,5 % buah luar Kurang matang 21,4 1,7
2 25-50 % buah luar Matang 1 22,1 1,8
3 50-75 % buah luar Matang 2 22,2 2,1
4 75-100 % buah luar Lewat matang 1 22,2 2,6 5 Buah dalam
memberondol Lewat matang 2 22,9 3,8
( Bambang S, 2008)
Pada hari–hari terakhir menjelang pematangannya pembentukan minyak berlangsung dengan cepat sehingga mencapai maksimumnya, yaitu sekitar 50 % berat terhadap daging buah segar pada minggu ke-20 setelah penyerbukan. Proses ini dalam buah terjadi sejak mulai berlangsungnya proses “kematian”, yaitu pada saat buah memberondol atau pada saat tandan dipotong dan terlepas hubungannya dengan pohon.
Kandungan asam lemak bebas (ALB) buah kelapa sawit yang baru dipanen biasanya <
0,3 %. ALB minyak yang diperoleh dari buah yang tetap berada pada janjang sebelum diolah (dan tidak mengalami memar) tidak dilewati 1,2%. Sedangkan, ALB brondolan biasanya sekitar 5,0%. Dilain pihak sangat jarang diperoleh ALB dibawah 2% pada crude palm oil (CPO) hasil produksi PKS, biasanya sekitar 3%. (Mangoensoekarjo, S. 2008 ).
2.2.2. Rotasi Panen.
Menurut Bambang S 2008, rotasi panen adalah selang waktu (interval) antara satu perlakuan panen dengan perlakuan panen berikutnya yang dinyatakan dalam hari. Rotasi panen berkaitan dengan penyebaran kematangan buah, dimana variasi penyebaran kematangan dari bulan ke bulan berbeda akibat faktor iklim, umur tanaman, topografi, pemupukan dan lain-lain.
Di Sumatera Utara panen puncak jatuh pada bulan Juli/Agustus sampai Oktober/November. Dengan demikian sistem panen 5/7 dapat dirubah dan disesuaikan dengan keadaan produksi. Rotasi panen dapat dirubah menjadi 9–12 hari pada panen rendah dan pada panen puncak 5–7 hari. (Lubis. A. U. 2008).
Dengan rotasi panen, dimaksudkan agar mutu TBS yang dipanen akan relatif sama,
dimana pada musim panen rendah rotasi panen diperpanjang sehingga kerapatan buah
matang lebih banyak dan pada musim produksi tinggi panen diperpendek sehingga kemungkinan buah tinggal/buah busuk dapat dihindari. (Tambunan W. A. 2011).
2.2.3. Sistem Ancak Panen.
Menurut Fadli M. L. dkk. (2006). Ancak panen adalah areal dengan luasan tertentu yang harus selesai dipanen pada hari itu. Luas ancak panen disesuaikan dengan jam kerja, senin s/d kamis = 21%, jumat = 16 % per hari. Dua sistem ancak panen yang umum diterapkan diperkebunan adalah:
a. Ancak Tetap.
Ancak tetap ialah sistem ancak dengan ancak panen dan pemanen yang tetap.
Keuntungan dari sistem ancak tetap ialah areal mudah dikontrol, dan lebih bersih (standar panen lebih terjamin), dan kerugiannya ialah tandan lambat sampai di TPH yang dikarenakan dengan luas ancak yang lebih luas dari ancak giring pemanen cenderung menuntaskan ancaknya terlebih dahulu lalu kemudian mengumpulkan hasil ke TPH.
b. Ancak Giring.
Ancak giring ialah sistem ancak dengan ancak panen dan pemanen tidak tetap (berpindah). Keuntungan dari ancak giring adalah tandan cepat sampai di TPH karena luasannya yang lebih kecil dibandingkan dengan ancak tetap, dan kerugiannya ialah, sulit dikontrol dan kemungkinan tandan/berondolan tertinggal dan pelepah tidak dirumpuk (standar panen tidak tuntas).
2.2.4. Kerapatan Panen.
Kerapatan panen atau biasa disebut angka kerapatan panen (AKP) adalah jumlah pohon yang tandannya dapat dipanen/jumlah populasi pohon dari luasan tertentu. Angka kerapatan panen 1 : 5 artinya dari 5 pohon terdapat 1 tandan yang dapat dipanen. Angka kerapatan panen bermanfaat untuk peramalan produksi esok hari, jumlah pemanen, alat angkut dan rencana pengolahan TBS. (Fadli M. L. 2006).
Perhitungan ramalan produksi :
P = AKP x RBT x JP Keterangan :
P = produksi.
JP = jumlah pohon.
AKP = jumlah kerapatan tandan/pohon.
RBT = rata –rata berat tandan.
Untuk menghitung kerapatan panen dalam satu areal, dapat mengambil beberapa pohon yang digunakan sebagai contoh secara sistematis, misalnya di dalam satu blok atau grup diambil sebanyak 10 barisan tanaman sebagai barisan pohon contoh, kemudian diambil setap barisan tersebut ditentukan pula sebanyak 10 pohon untuk contoh perhitungan.
Dengan demikian, didalam satu blok atau grup akan digunakan sebanyak 100 pohon contoh. Selanjutnya, pada setiap pohon tersebut dilakukan perhitungan dan pencatatan jumlah tandan yang matang panen.
Jika ternyata dalam satu blok/group tersebut ditemukan 25 matang tandan yang matang panen maka kerapatan panennya adalah 100 : 25 = 4 atau 1 : 4. Hal ini berarti setiap 4 pohon akan dapat dijumpai 1 tandan yang matang panen. Dengan demikian kerapatan tersebut dapat dikatakan mewakili seluruh areal yang akan dipanen. Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan langsung oleh mandor panen sehingga hasilnya lebih akurat.
2.2.5. Penyediaan Tenaga Panen.
Menurut mangoensoekarjo. (2008), kapasitas pemanen setiap harinya tergantung dari : a. Produksi per ha yang dikaitkan dengan umur tanaman.
b. Topografi areal.
c. Populasi pokok/Ha.
d. Masa panen puncak atau panen rendah.
Persiapan tenaga panen meliputi jumlah tenaga kerja dan pengetahuan/keterampilannya.
Persiapan tenaga panen perlu dilakukan dengan baik dan tepat waktu agar pada saat
panen dimulai, produksi dapat dikumpulkan, sehingga kegiatan panen dapat dilakukan
sebaik mungkin. Kelebihan pemanen pada bulan panen rendah digunakan untuk kegiatan penunasan. (Fadli M. L.. 2006).
Tenaga panen yang harus disediakan berdasarkan panen puncak yang telah tersedia pada awal tahun yang dihitung dengan rumus :
Produksi bulan panen puncak
X 110%
Hari panen x prestasi panen 2.2.6. Penentuan Basis Borong.
Penentuan basis borong didasarkan pada umur tanaman dan produksi maka diberikan standar kapasitas pemanen atau basis borong dimana kelebihan kapasitasnya akan dibayar berdasarkan insentif atau rangsangan atau premi yang diatur oleh masing–masing perusahaan.
Tabel. 6. Standart Kapasitas Produksi.
Produksi/ha/tahun(ton TBS)
Kapasitas/hari (Kg/hk)
Basis borong (kg)
2,5 400 -
<6 500 250
6 – 12 600 300
12 – 18 700 350
18 – 22 800 400
22 – 25 900 400
>25 900 450
(Sumber : Lubis, 2008)
Seperti diterangkan di atas maka basis borong dan kapasitas ini sangat ditentukan oleh kondisi setempat. Kapasitas perhari ini sering disebut sebagai basis tugas yaitu jumlah kg tandan yang harus diselesaikan dalam 1 hari kerja dinas (7 jam). Basis borong atau disebut juga basis premi adalah batasan jumlah tandan yang dipanen dalam basis tugas yang tidak mendapat premi. Besarnya basis premi adalah 0,6 x basis tugas.( Lubis, 1986 ).
2.2.7. Pemeriksaan Ancak Panen dan Hasil Panen.
Pemeriksaan dilakukan oleh mandor panen dan petugas pemeriksa buah sebagai ujung
tombak. Pemeriksaan dilakukan diancak, TPH dan loading ramp.
a. Pemeriksaan dilapangan (blok dan ancak panen).
Pengawasan ancak panen dilakukan oleh mandor panen sebagai petugas yang bertanggung jawab langsung terhadap kualitas panen didalam blok. Mandor panen mencatat setiap kesalahan yang dijumpai. Pencatatan meliputi jenis kesalahan, nomor blok, dan nomor pemanen.
b. Pemeriksaan di TPH.
Pengawasan yang dilaksanakan di TPH dilakukan oleh P2B (Petugas Penerima Buah).
Pemeriksaan meliputi berondolan yang tertinggal di TPH, tangkai panjang dan buah F00/F0 diberi tanda silang di tangkainya. Buah yang F00/F0 yang telah disilang tetap dikirim kepabrik. Seluruh kesalahan dicatat oleh petugas P2B meliputi nomor TPH, nomor Blok, nomor pemanen dan jumlah kesalahannya. Hasil pemeriksaan P2B dilaporkan kepada kerani produksi pada sore harinya untuk dihitung dendanya.
c. Pemeriksaan di Loading Ramp.
Pemeriksaan di loading ramp dilakukan secara sampling dan hanya sebagai “cross chek” untuk melihat kebenaran pelaksanaan sortasi di afdeling berjalan atau tidak.
2.3. Penetapan Premi
Premi panen adalah imbalan yang dibayar diluar upah tetap berupa insentif kepada tenaga panen dari adanya kelebihan basis borong.
Pemberian sangsi bagi pekerjaan yang tidak memenuhi standar. Hal ini dimaksudkan untuk
memotivasi pemanen untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas panen. Besarnya
pemberian premi tergantung pada kreteria kelas panen, maka premi panen yang diperoleh
akan semakin besar jika kelas pemanennya baik. (Fadli M. L. 2006).
Tabel. 7. Persentase Basis Borong Menurut Tofografi.
No
Produktivitas (Ton TBS/Ha/Thn)
Standar (BB) Basis Borong (Kg/TBS/Hk)
% Basis borong (kg TBS/HK) menurut topografi
Datar Bergelombang berbukit Curam
1 <8 250 - - - -
2 08-12 400 100% 90% 80% 70%
3 12-18 550 X X X X
4 123 700 BB BB BB BB
5 23-25 750 standar Standar standar Standar
6 >25 800
- - - -
(Sumber : Fadli M.L 2006)
Premi panen dalam bentuk “sistem” harus dapat :
a. Meningkatkan pendapatan pemanen yang wajar dengan kebutuhannya.
b. Mendorong pemanen untuk meningkatkan mutu hasil pemanenan.
c. Mendorong motivasi dan disiplin kerja pemanen.
d. Mendorong peningkatan produktivitas kerja.
Premi terdiri dari TBS yang dipanen dan premi berondolan, yang diberikan terpisah dengan nilai premi per kg yang berbeda.
2.3.1. Premi Panen.
Premi TBS diberikan secara perorangan dan ditentukan berdasarkan BRT, tahun tanam, dan topografi. Semakin berbukit/curam topografinya semakin mahal premi panennya dan basis borong semakin rendah. (Fadli M. L. 2006).
Rumus premi panen TBS :
P : premi (Rp)
K : kapasitas panen (Kg) BB : basis borong (Kg)
NP : nilai premi (Rp/Kg TBS) D : Denda
P = { ( K – BB ) NP } - D
Basis borong adalah batas minimum produksi yang harus dicapai oleh pemanen pada setiap hari tanpa diberi premi.
2.3.2. Premi Berondolan.
Premi berondolan diberikan premi tersendiri dengan tarif ± 2,5 kali lipat premi TBS sesuai dengan berat berondolan yang dikumpulkan oleh masing–masing pemanen.(Fadli M. L. 2006).
Rumus premi berondolan :
Pb : Premi berondolan (Rp).
Kb : Kapasitas (jumlah berondolan yang dikumpulkan dalam Kg).
NPb : Nilai premi berondolan (Rp/Kg berondolan).
2.4. Sistem Pengawasan dan Denda
Pengawasan dan denda diberlakukan adalah untuk menjaga konsistensi pelaksanaan sistem panen agar menghasilkan mutu buah yang sesuai dengan kreteria matang panen.
Pengawasan mutu panen dilakukan berlapis mulai dari Mandor panen, Mandor I, Asisten Afdeling dan Kepala Dinas Tanaman (KDT).
KONTROL ANCAK PANEN
AFD / BLOK :________________
Pb = Kb X NPb
Nama Verifikator :________________
Nama Pemanen :________________ No Potong :______
Ketentuan ancak panen Ketentuan angkutan TBS
Pk.sample TP BT BB Br.T BM TPJ PS No.TPH Br.T BT
1 1
Dst Dst
Total Total
% %
Sat/pk Sat/pk
Keterangan :
TP : tapak panen BT : buah tinggal BrT : brond. tinggal TPJ : tangkai panjang BB : buah busuk BM : buah mentah PS : pelepah sengkleh
Kontrol ancak panen dilaksanakan oleh : 1. Mandor panen = 3 ancak pemanen/hari 2. Mandor I = 2 ancak pemanen/hari 3. Asisten Afdeling = 2 ancak pemanen/hari