• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dengan mempertimbangkan risiko dan return. Setiap investor yang melakukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dengan mempertimbangkan risiko dan return. Setiap investor yang melakukan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

“Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa datang” (Eduardus, 2010:2). Investasi merupakan suatu kegiatan mengorbankan nilai rupiah saat ini untuk mendapatkan nilai rupiah dimasa depan dengan mempertimbangkan risiko dan return. Setiap investor yang melakukan investasi memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan keuntungan dari selisih positif antara harga jual dan harga beli saham (capital gain) dan dividen tunai yang diterima dari emiten karena perusahaan memperoleh keuntungan (Mohamad, 2006:160).

Kegiatan investasi yang dilakukan oleh investor pada dasarnya

mengandung unsur ketidakpastian baik dari segi keuntungan maupun kerugian,

salah satunya adalah investasi saham. Saham adalah sumber keuangan perusahaan

yang berasal dari pemilik perusahaan (stakeholders) dan merupakan bukti

kepemilikan perusahaan oleh pemegang saham tersebut, serta surat berharga yang

dapat diperdagangkan di pasar bursa (Manahan, 2005:138). Salah satu

karakteristik dari saham adalah high risk - high return, artinya investor akan

menghadapi risiko yang tinggi, namun disertai dengan tingkat keuntungan yang

tinggi juga. Walaupun demikian, banyak emiten yang menggunakan saham biasa

(common stock) untuk menarik dana dari masyarakat karena saham tersebut paling

(2)

dikenal oleh masyarakat dan salah satu investasi yang paling diminati para investor. Terdapat beberapa nilai yang berhubungan dengan saham, yaitu nilai buku, nilai pasar, dan nilai intrinsik. Nilai buku merupakan nilai saham berdasarkan pembukuan perusahaan emiten, nilai pasar berdasarkan harga yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar, dan nilai intrinsik berdasarkan nilai yang sebenarnya dari saham yang diperdagangkan (Jogiyanto, 2009:121).

Pergerakan harga saham dalam hitungan detik sangat dinamis dan

berfluktuatif, dimana harga dapat bergerak naik dan turun dalam akibat jual beli

yang dilakukan investor. Dengan adanya fluktuasi tersebut, maka investor dapat

membeli saham pada saat harga rendah dan menjual kembali saat harganya

melambung tinggi sehingga menghasilkan keuntungan yang besar. Namun disisi

lain, ada kalanya investor salah dalam memprediksi harga saham sehingga

mengalami kerugian besar bahkan kebangkrutan akibat capital loss. Faktor yang

menyebabkan adanya fluktuasi harga saham adalah adanya hukum permintaan

dan penawaran, dimana semakin besar permintaan maka akan semakin tinggi pula

harga suatu saham. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah permintaan maka

akan semakin rendah pula harga saham tersebut. Permintaan yang tinggi

disebabkan oleh baiknya kondisi fundamental suatu perusahaan sehingga

mendapatkan laba yang tinggi dan kemungkinan membagikan dividen juga tinggi

yang mengakibatkan banyaknya investor yang memburu saham perusahaan

tersebut.

(3)

Para pelaku pasar seperti investor, broker, manajemen investasi, dan pemain saham lainnya memiliki cara tersendiri dalam menganalisis sebuah saham.

Pertama adalah chartis, dimana pelaku pasar melakukan analisis dengan melihat grafik pergerakan harga saham untuk memproyeksikan pergerakan harga kedepan.

Selanjutnya adalah fundamentalis, dimana pelaku pasar melakukan analisis dengan meramalkan nilai wajar yang kemudian dibandingkan dengan harga pasar saham yang bersangkutan, karena dalam praktiknya nilai yang melekat pada saham tersebut sering kali berbeda dengan harga pasar. Model analisis teknikal sangat cocok digunakan investor dalam keadaan ekonomi yang relatif stabil.

Namun, ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak, analisis teknis rawan melakukan kesalahan dalam mengestimasi harga saham karena pergerakan harga tidak dipengaruhi harga masa lalu, tetapi harga saham dipengaruhi oleh faktor mikro dan makro yang tidak dapat diprediksi (unpredictable).

Naik turunnya harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain

faktor fundamental perusahaan, kondisi ekonomi, politik, kemanan dan sentimen

serta faktor-faktor lainnya. Namun dari sekian faktor tersebut, yang paling harus

diperhatikan oleh para investor adalah faktor fundamental perusahaan, karena jika

fundamental perusahaan baik, maka faktor-faktor lainnya seperti kondisi makro

ekonomi yang tidak stabil, sentimen pasar, dan lain-lain yang menyebabkan harga

saham jatuh hanya bersifat sementara dan dengan berjalannya waktu maka harga-

harga saham akan kembali normal bahkan cenderung naik dari harga sebelum

terjadi kepanikan (Mangasa, 2010:51). Oleh karena itu dibutuhkan analisis

fundamental untuk mengestimasi pergerakan harga saham yang dapat membantu

(4)

walaupun tidak 100 persen tepat (Mohamad, 2006:166). Analisis saham merupakan hal yang mendasar untuk diketahui para investor karena tanpa analisis yang baik dan rasional para pemodal akan mengalami kerugian. Berikut fakta di pasar modal Indonesia yang membuktikan pentingnya analisa fundamental perusahaan untuk meramalkan nilai intrinsik sebuah saham, fakta tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1

Fakta Valuasi Saham di Pasar Modal Indonesia

Tahun Nama Fakta

2005 Lo Kheng Hong Lo dijuluki Warren Buffet Indonesia. Pada tahun 2005, Lo membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) pada harga Rp 250 per saham. Tahun 2011 harga saham tersebut menjadi Rp 31.500. Lo mengakui dirinya seseorang fundamentalis yang fokus pada jangka panjang, karena yang menjadi kriteria saham yang dibeli adalah melihat manajemen, pertumbuhan perusahaan dan fundamental emiten.

2010 Teguh Pada tahun 2010, membeli saham KKGI sebesar Rp 900. Teguh melakukan valuasi saham KKGI dan ternyata nilai intrinsik saham tersebut adalah Rp 1700. Teguh mengungkapkan bahwa nilai tersebut masih terbilang murah. Hingga Februari 2012, harga saham KKGI sebesar Rp 8.000 dan teguh pun exit dari saham KKGI. Namun selanjutnya, harga saham tersebut mengalami penurunan hingga posisi Rp 6.500 dan sekarang berada di Rp 2.700.

2012 Hendrik Chartis yang satu ini mengalami kegagalan dalam saham yang diinvestasikannya karena fokus pada pergerakan harga saham. Hendrik membeli GAMA di harga 270 hingga harga 335, dengan jumlah 325 lot. Setelah itu harga GAMA tiba-tiba turun hingga ke 315 dan dia mengalami kerugian dan langsung exit dari saham GAMA. Hendrik menganut prinsip averaging up, dimana setiap harga naik 10%, maka akan menambah jumlah lot yang dimiliki.

Sumber : Data diolah tahun 2012

(5)

Valuasi saham merupakan sebuah prediksi untuk mengetahui nilai intrinsik yang akan menjadi poin awal dalam pemilihan saham mana yang ingin diinvestasikan dan berguna untuk mengetahui sejauh mana nilai intrinsik saham telah tercermin pada harga pasar saham. Pasar dapat dikatakan efisien jika harga- harga sekuritas tidak menyimpang dari nilai intrinsiknya (Beaver, 1989). Nilai intrinsik memberikan ukuran mengenai nilai dasar dari suatu saham dan merupakan standar untuk mempertimbangkan apakah saham tersebut dinilai terlalu rendah (undervalued), wajar (fairly priced) atau dinilai terlalu tinggi (overvalued) (Brigham dan Houston, 2006:360). Nilai intrinsik yang lebih besar dari harga pasarnya menunjukkan bahwa saham tersebut dijual dengan harga yang murah (undervalued), karena investor membeli saham dengan harga lebih kecil dari harga sebenarnya. Jika nilai intrinsik saham sama dengan harga pasarnya maka harga tersebut adalah wajar (fairly priced). Sedangkan jika nilai intrinsik lebih kecil dari harga pasarnya menunjukkan bahwa saham dijual dengan harga yang mahal (overvalued).

Berita buruk tentang suatu saham yang masuk ke pasar membuat para

investor akan cenderung menilai saham tersebut terlalu rendah sehingga saham

menjadi undervalued, disamping itu undervalued dapat juga terjadi karena

perusahaan tersebut tidak terlalu dikenal oleh masyarakat luas sehingga banyak

investor yang kurang tertarik pada saham perusahaan tersebut dan tidak ingin

membeli dengan harga yang mahal. Begitu pula sebaliknya, jika ada berita baik

yang masuk ke pasar, maka investor cenderung menilai lebih atas informasi

tersebut sehingga menyebabkan harga sahamnya overvalued, biasanya saham

(6)

yang mengalami overvalued merupakan saham terkenal yang menjadi buruan para investor sehingga mereka rela membeli saham tersebut dengan harga yang mahal agar dapat turut memiliki perusahaan tersebut, padahal belum tentu fundamental perusahaan baik. Fenomena itulah yang menyebabkan pembentukan dan pergerakan harga saham menjadi abnormal atau mispriced.

Penilaian saham biasa dapat dilakukan dengan metode Dividend Discount Models yang menyatakan bahwa nilai intrinsik suatu saham adalah nilai sekarang dari penjumlahan arus kas yang diharapkan dapat diterima pemegang saham pada masa akan datang, yaitu dividen yang didiskontokan dengan menggunakan tingkat biaya modal (cost of capital) yang mencerminkan adanya tingkat risiko saham yang bersangkutan. Valuasi menggunakan arus kas berupa dividen sangat cocok untuk perusahaan-perusahaan yang telah stabil misalnya indeks saham LQ45, karena saham yang masuk kedalam indeks tersebut merupakan saham-saham yang aktif dan mudah untuk diperjualbelikan sehingga harganya cenderung stabil.

Selain itu jenis saham ini juga memiliki karakteristik searah dengan perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada penelitian ini, penulis fokus pada analisis fundamental dari segi kinerja perusahaan dengan menggunakan dasar dari hasil laporan keuangan perusahaan dan perkembangan harga saham harian di pasar Bursa Efek Indonesia.

Dasar-dasar pertimbangan utama adalah faktor-faktor internal dari perusahaan

seperti laba bersih, total ekuitas, jumlah dividen yang dibayarkan, jumlah saham

beredar, dan potensi pertumbuhan (growth) dimasa mendatang yang menunjukkan

(7)

kinerja perusahaan dan diperkirakan akan mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul pada penelitian ini yaitu “Pengaruh Nilai Intrinsik Hasil Valuasi Saham Terhadap Harga Pasar Saham di Bursa Efek Indonesia (Studi Kasus Pada Saham Indeks Saham LQ45)”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat pengaruh antara nilai intrinsik hasil valuasi saham dengan harga pasar saham berdasarkan metode Dividend Discount Model dengan pendekatan Gordon Growth Model pada indeks saham LQ45?”

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan pokok yang telah dikemukakan, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh antara nilai intrinsik hasil valuasi saham dengan harga pasar saham berdasarkan metode Dividend Discount Model dengan pendekatan Gordon Growth Model pada indeks saham LQ45.

D. Kegunaan Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan

bagi semua pihak yang berkepentingan, yaitu :

(8)

1. Penulis

Penulis dapat menggunakan metode Dividend Discount Model untuk perhitungan nilai intrinsik serta mengetahui pengaruhnya terhadap harga pasar saham di Bursa Efek Indonesia, khususnya pada indeks saham LQ45.

2. Investor

Memberikan bahan pertimbangan bagi investor, dan para analisis pasar modal lainnya yang terkait untuk melakukan valuasi saham berdasarkan metode Dividend Discount Model dengan pendekatan Gordon Growth Model sebelum mengambil keputusan dalam pembelian saham.

3. Peneliti Lain

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan referensi untuk para pembaca

yang sedang melakukan proses penyusunan penelitian atau karya ilmiah yang

sesuai dan relevan dengan judul penelitian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan dapat melakukan penawaran saham lagi kepada pemegang saham lama dengan harga yang umumnya lebih rendah dari pada harga pasar sehingga pemegang saham lama atau investor

Terdapat dua pendekatan atau analisis yang harus dilakukan investor dalam menganalisis suatu harga efek khususnya saham, yaitu: pendekatan fundamental (mendasarkan

Kenaikan dan penurunan harga saham di pasar modal membuat investor cenderung melakukan analisis harga saham untuk memilih saham yang bisa menghasilkan return yang baik, dan

Untuk mengetahui harga saham realisasi dengan harga saham ekspektasi mengalami overvalued, undervalued dan fairness pada seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

1) Salah satu masalah yang sering dihadapi investor atau pelaku pasar dalam berinvestasi di saham adalah bagaimana memilih saham yang bagus dan prospektif. 2) Masalah

Kuesioner yang diajukan berkaitan dengan kompetensi dan kepercayaan diri investor dalam melakukan perdagangan saham di pasar modal serta pengaruh kualitas analisis

Penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi broker dimana investor yang memiliki tingkat kompetensi yang tinggi, interaksi sosial yang dilakukan investor

Oleh karena kinerja saham menjadi salah satu pertimbangan investor dalam melakukan investasi, maka penelitian ini ingin menganalisis kembali temuan penelitian