• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini menggunakan seluruh bank umum syariah di Indonesia. Di Indonesia terdapat 14 bank umum syariah yang terdiri dari 3 bank negeri dan 11 bank swasta antara lain bank BNI syariah, bank BRI syariah, bank Mandiri syariah, bank BCA syariah, bank Jabar Banten syariah, Maybank syariah Indonesia, bank Muamalat Indonesia, bank Panin Dubai syariah, bank syariah Bukopin, bank Mega syariah, bank Victoria syariah, bank Tabungan Pensiun Nasional syariah, bank Aceh syariah, dan bank BPD Nusa Tenggara Barat syariah.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Syariah di Indonesia dengan jumlah bank umum syariah sebanyak 14 unit hingga tahun 2020. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode sensus berdasarkan laporan rasio keuangan yang diolah oleh Bank Indonesia, selanjutnya menentukan unit analasis yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian sehingga didapatkan sampel yang representatif.

C. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan unit analisis laporan kinerja

bank umum syariah di Indonesia, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

dokumentasi. Dokumentasi yang dimaksud adalah data laporan kinerja keuangan yang

telah diolah oleh Bank Indonesia. Data yang dikumpulkan berkaitan dengan rumusan

masalah yang diajukan yaitu mengenai pembiayaan bermasalah, kecukupan modal, dan

efisiensi biaya operasional.

(2)

Pengumpulan data dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan untuk analisis dengan menentukan unit analisisnya yaitu laporan kinerja keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia. Pengambilan data sesuai dengan perkembangan terbaru dan menyesuaikan kebutuhan untuk uji statistik yang bersifat time series.

D. Definisi operasional variabel

Gambaran data dijelaskan secara operasional dengan batasan sebagai berikut:

1. Pembiayaan Bermasalah (X1)

Pembiayaan bermasalah merupakan pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank, dan nasabah tidak dapat melakukan pembayaran atau melakukan angsuran sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani oleh bank dan nasabah.

Adapaun faktor yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah yaitu faktor intern bank dan faktor ekstern bank, faktor intern meliputi analisis yang kurang tepat, adanya kolusi antara pejabat bank yang menangani pembiayaan dan nasabah, keterbatasan pengetahuan pejabat bank terhadap jenis usaha debitur, campur tangan terlalu besar dari pihak terkait, dan kelemahan dalam melakukan pembinaan dan monitoring kredit debitur. Sementara itu, faktor ekstern meliputi unsur kesengajaan dan

ketidaksengajaan dari pihak debitur. Pembiayaan bermasalah pada penelitian ini diukur menggunakan rasio NPF (Non Performing Finance) dimana NPF adalah rasio antara pembiayaan bermasalah (pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan macet) dengan total pembiayaan yang disalurkan. Data yang digunakan diambil dari laporan keuangan bank umum syariah di Indonesia pada periode tahun 2016-2020.

2. Kecukupan Modal (X2)

(3)

Kecukupan modal merupakan kemampuan bank dalam mengubah aset dalam bentuk likuid (kas) dalam waktu yang relatif cepat dengan tujuan untuk menyediakan pembayaran kewajibannya. Bank sentral menetapkan jumlah modal minimum sebesar 8%

dari ATMR (Aset Tertimbang Menurut Risiko).

Menurut edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 rasio CAR dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝐶𝐴𝑅 = 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙

𝐴𝑇𝑀𝑅 𝑥 100%

Kecukupan modal pada suatu bank dapat diuji dengan melihat rasio modal terhadap berbagai aset bank yang bersangkutan. Kecukupan modal pada penelitian ini menggunakan indikator CAR (Capital Adequacy Ratio) yang diambil dari laporan keuangan bank umum syariah di Indonesia pada periode tahun 2016-2020.

3. Efisiensi Biaya Operasional (Y)

Efisiensi biaya operasional merupakan kemampuan mengelola keuangan dengan tujuan mendapatkan laba yang optimal. Penurunan profitabilitas salah satunya disebabkan oleh biaya operasional yang tidak efisien dimana hal tersebut akan mengurangi laba sebelum pajak.

Menurut Taswan (2010) Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

𝐵𝑂𝑃𝑂 = 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙

𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙

(4)

Efisiensi biaya operasional dalam penelitian ini menggunakan indikator BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) yang diambil dari laporan keuangan bank umum syariah di Indonesia pada periode tahun 2016-2020.

E. Teknik Analisis Data

Analisis disini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dari pembiayaan bermasalah dan kecukupan modal terhadap efisiensi biaya operasional pada bank umum syariah di Indonesia. Berikut model persamaan yang dapat dibentuk:

Y = α + β1.X1 + β2.X2 + e

Penjelasan:

Y = Biaya operasional α = Konstanta

β1 = Koefisien regresi X1

β2 = Koefisien regresi X2

X1 = Pembiayaan Bermasalah

X2 = Kecukupan Modal

e = error term

Analisis persamaan tersebut dihitung dengan program SPSS dengan tujuan

memudahkan dan mempercepat analisis data. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal

(5)

sehingga mampu menjelaskan hubungan antar variabel yang digunakan, sehingga dibutuhkan beberapa analisis berikut:

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Liniearitas

Uji liniearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Pengujian dengan menggunakan Test for Linearity pada taraf signifikansi 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai

hubungan yang linear apabila signifikansi lebih dari 0,05.

b. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk memastikan apakah data yang didapatkan memiliki distribusi yang normal ataupun tidak. Selain itu juga dapat digunakan untu mengetahui apakah terdapat perbedaan pada proporsi subjek, peristiwa, objek, dan lainnya atau tidak. Adapun kriteria nilai residual yang memiliki distribusi normal yaitu jika nilai tersebut sesuai dengan standar, atau hampir semuanya mendekati rata- ratanya.

Pengujian dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test pada taraf signifikansi 0,05. Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka data pada penelitian tersebut berdistribusi normal. Sebaliknya jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka data penelitian tersebut tidak berdistribusi normal.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variasi dari nilai residual satu pengamatan ke pengamatan

yang lain bersifat tetap maka disebut homoskedastisitas, namun jika variasi dari nilai

(6)

residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda maka disebut heteroskedastisitas.

Adapun cara untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam model regresi adalah dengan melakukan uji glejser. Dasar pengambilan keputusan dalam uji heteroskedastisitas dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.

Sebaliknya apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.

d. Uji Multikoleniaritas

Uji multikoleniaritas bertujuan untuk mengetahui suatu model regresi terdapat korelasi diantara variabel bebasnya atau tidak. Pada model yang baik seharusnya tidak terdeteksi multikolinearitas yang mampu mempersulit mengetahui pengaruh variabel yang dijelaskan. Adapun kriteria penilaianya yaitu:

1) Jika nilai VIF > 0,10 dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas.

2) Jika nilai VIF < 0,10 dinyatakan terdeteksi multikolinearitas.

e. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk memastikan adanya korelasi dari setiap variabel dengan perkiraan berubahnya waktu. Pengujian ini menggunakan uji Durbin Watson.

Adapun ketentuan atau dasar pengambilan keputusan dalam uji autokorelasi Durbin Watson yaitu:

1) Jika d (durbin watson) lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka

hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.

(7)

2) Jika d (durbin watson) terletak antara dU dan (4-dU) maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak terdapat autokorelasi.

3) Jika d (durbin watson) terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL) maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

2. Uji Hipotesis a. UJi statistik T

Uji statistik T merupakan uji untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas secara individu terhadap variabel terikatnya dengan derajat kesalahan 0,05.

Berikut rumus perhitungannya:

𝑡 = 𝑟√𝑛 − 2

√1 − 𝑟

2

Penjelasan:

r

p

: Korelasi parsial yang dihasilkan;

n : Besarannya sempel;

t : t hitung atau statistik Adapun kriteria penilaiannya yaitu:

a. Jika nilai t hitung > t tabel, maka H1 diterima;

b. Jika nilai t hitung ≤ t tabel, maka H1 ditolak.

Jika besarannya probabilitas < 0,05, dinyatakan signifikan, dan keputusan penelitian ini berdasarkan nilai probabilitas.

b. Uji statistik F

Uji statistik F merupakan uji untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersamaan.

Adapun rumus uji signifikansi dapat dilakukan dengan rumus berikut:

(8)

𝐹 = 𝑅

2

/(𝑘 − 1) (1 − 𝑅

2

)/(𝑛 − 𝑘) Penjelasan:

R

2

: Korelasi ganda yang dihasilkan;

K : Besarannya variabel bebasnya F : F statistik/hitung

Adapun hipotesis yang digunakan:

H0 : Seluruh variabel bebas secara bersamaan tidak mempengaruhi variabel terikatnya;

H1 : Seluruh variabel bebas secara bersamaan berpengaruh terhadap variabel terikatnya.

Adapun kriteria pengujiannya yaitu:

Apabila besarannya f hitung > f tabel, artinya Ho ditolak;

Apabila besarannya f hitung < f tabel, artinya H1 diterima.

Selanjutnya jika nilai probabilitas > 0,05, dapat dinyatakan signifikan, dimana penelitian ini juga menggunakan tingkat signifikansi tersebut.

c. Uji R-Squared

Uji statistik R-Squared merupakan uji untuk mengetahui bagaimana variabel

bebas mempengaruhi variabel terikatnya. Hasil koefisien yang semakin besar

menandakan pengaruh yang semakin besar untuk menjelaskan variabel terikatnya.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kehandalan portsentry sebagai tools IDS dan menguji seberapa besar pengaruh penggunaan portsentry terhadap kecepatan

Pemberontakan Sepoy dianggap sebagai suatu pemberontakan dan kerusuhan terbesar pada masa Victoria bagi orang Inggris, pemberontakan Sepoy meluas dari pemberontakan militer

Fungsi Keanggotan Bin Warna Output Hasil inferensi fuzzy tipe mamdani adalah berupa himpunan fuzzy, dari himpunan fuzzy tersebut dapat dicari nilai crisp-nya menggunakan

Upaya untuk meningkatkan kemampuan parenting orang tua agar memiliki keterampilan tentang parenting yang baik dalam membangun karakter atau akhlak anak, dilakukan

Beban yang terpasang pada jaringan listrik mikro arus searah, memperoleh pasokan daya dari PLTS dan PLTB yang masing-masing pembangkit dilengkapi baterai dengan

Andrea Brischetto dan Graham Voss (1999) A Structural Vector Auto Regression Model of Monetary Policy In Australia Menganalisis efektivitas kebijakan moneter

Jadi berdasarkan hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95% disimpulkan bahwa penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas keuangan

LAMPIRAN III : Lembar Instrumen Validasi Penelitian Tahap I (Ahli Materi) 183 LAMPIRAN IV : Lembar Instrumen Validasi Penelitian Tahap II(Ahli Materi) 182 LAMPIRAN V :