• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN HASIL BELAJAR DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE ST (SNOWBALL THROWING) DAN TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION) PADA BAHASAN KUBUS DAN BALOK DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM T.A 2014/2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN HASIL BELAJAR DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE ST (SNOWBALL THROWING) DAN TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION) PADA BAHASAN KUBUS DAN BALOK DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM T.A 2014/2015."

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Perbedaan Hasil Belajar Dengan Model Kooperatif Tipe ST (Snowball Throwing) Dan Tipe STAD (Student Teams Achievments Divisions)

Pada Bahasan Kubus Dan Balok Di Kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A 2014/2015

Oleh :

Marta Marsaulina Napitupulu NIM4113111049

Program studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

ii

RIWAYAT HIDUP

Martha M.Napitupulu dilahirkan di Medan, pada tanggal 26 Maret 1993. Ayah bernama S.M.Napitupulu dan Ibu bernama S.M.Tampubolon merupakan anak ke lima dari tujuh bersaudara. Pada tahun 2000 penulis masuk ke sekolah SDN 064972 Medan dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun 2005, penulis melanjutkan sekolah di SLTP Swasta Trijaya Medan dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun 2008, penulis melanjutkan sekolah di SMA Negeri 14 Medan dan lulus pada tahun 2011.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan limpahan kasih karunia yang diberiakan kepada penulis sehingga penyusunan skripsi ini berjalan dengan lancar dan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Skripsi ini berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Dengan Model Kooperatif Tipe ST (Snowball Throwing) Dan Tipe STAD (Student Teams Achievments Divisions) Pada Bahasan Kubus Dan Balok Di Kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A 2014/2015” disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Asrin Lubis, M.Pd, sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal penulisan skripsi ini sampai dengan selesainya penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, Bapak Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd, dan Ibu Dra. Nerli Khairani, M.Si, yang telah memberikan masukan dan saran-saran mulai dari rencana penelitian sampai selesai penyusunan skripsi ini. Tak lupa juga ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. M.Panjaitan, M.Pd, selaku dosen pembimbing akademik dan kepada seluruh Bapak dan Ibu dosen beserta staf pegawai jurusan matematika FMIPA UNIMED yang sudah membantu penulis. Penghargaan juga disampaikan kepada Bapak kepala sekolah (Bapak Animan, S.Pd, M.Si) dan guru matematika (Ibu Etik Kusumawati, S.Pd dan Ibu Lurita Winarmawati, S.pd) di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam yang telah banyak membantu selama penelitian ini.

Ucapan terima kasih juga kepada Bapak Rektor Unimed Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd beserta seluruh Pembantu Rektor sebagai pimpinan UNIMED. Bapak Prof. Drs. Motlan, M.Sc, Ph.D selaku Dekan FMIPA UNIMED beserta Pembantu Dekan I, II, dan III di lingkungan UNIMED, Bapak Dr. Edy Surya, M.Si selaku Ketua Jurusan Matematika, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si selaku ketua Program Studi Jurusan Matematika dan Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Matematika yang telah membantu penulis selama perkuliahan.

(5)

v

dan kakak Nani Purba, Kakak Lisbet Pintauli Napitupulu, dan abang Bona Sianturi, Kakak Sondang Lastiur Napitupulu dan Abang Alm. A.Silalahi, Abang Feriyandi Napitupulu, adikku Kamsia Delimasari Napitupulu dan adikku Sevena Restu Octavia Napitupulu, serta keponakanku tersayang Christian Silalahi, Mutiara Silalahi dan Abbygael Silalahi. Penulis juga mengucapkan terimakasih untuk teman-teman seperjuangan yang telah banyak membantu Silva, Dina, Rani. Tidak lupa kepada teman-teman regular C yang sangat aku banggakan yaitu Putri, Lenra, Nonce, Mery, Jesicca, Stepany, Risda, Chrisna dan semua teman-teman lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang selalu mendukung penulis dalam perkuliahan dan telah banyak memberi kasih sayang, semangat, nasehat, dan doa sehingga perkuliahan dan penyusunan skripsi ini dapat terlaksana dengan baik.

Tak lupa juga terimakasih penulis ucapkan kepada teman-teman NHKBP Agave Amplas yaitu kak Palen, kak Agnes, kak Angel, kak Melita, bang Candra, bang Sabam, dan teman-teman lainnya. Serta buat teman SMA Agustina, Ulinta, Osin, teman-teman PPLT 2014 SMA Negeri 1 Dolok Masihul yaitu Roma, Mastora, Jojor, dan lainnya yang selalu memberikan support kepada penulis.

Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyusunan skripsi ini, namun penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun tata bahasa. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca dalam usaha peningkatan pendidikan di masa yang akan datang.

Medan, Juni 2015 Penulis

(6)

iii

PERBEDAAN HASIL BELAJAR DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE ST (SNOWBALL THROWING) DAN TIPE STAD (STUDENT TEAMS

ACHIEVMENTS DIVISIONS) PADA BAHASAN KUBUS DAN BALOK DI KELAS VIII SMP NEGERI 1

LUBUK PAKAM T.A 2014/2015

MARTA MARSAULINA NAPITUPULU (NIM. 4113111049)

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dan dilakukan di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe ST dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi kubus dan balok di kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A. 2014 / 2015.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A. 2014 / 2015 yang terdiri dari 8 kelas. Sedangkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini ada dua kelas, yaitu kelas VIII-F sebanyak 35 orang yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe ST dan kelas VIII-G sebanyak 35 orang yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, penentuan sampel dilakukan secara acak (cluster sampling). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan berganda sebanyak 15 soal yang telah dinyatakan valid.

Hasil penelitian dan pengujian hipotesis disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang signifikan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe ST dan model pembelajaran koperatif tipe STAD pada kubus dan balok di kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A. 2014 / 2015, dengan thitung= 5,067 dan ttabel = 1,9973 diperoleh thitung tidak berada diantara interval -1,9973 < t < 1,9973 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.

(7)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan i

Daftar Isi ii

Daftar Tabel v

Daftar Gambar vi

Daftar Lampiran vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah 1

1.2.Identifikasi Masalah 10

1.3.Batasan Masalah 10

1.4.Rumusan Masalah 10

1.5.Tujuan Penelitian 10

1.6.Manfaat Penelitian 11

1.7.Defenisi Operasional 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. KerangkaTeoritis 13

2.1.1. Hasil Belajar 13

2.1.2. Pembelajaran Matematika 14

2.1.3. Model Pembelajaran 15

2.1.4. Model Pembelajaran Kooperatif 16 2.1.4.1. Pengertian Pembelajaran 16 2.1.4.2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif 17 2.1.4.3. Sintaks Pembelajaran Kooperatif 18 2.1.5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing (ST) 18

2.1.5.1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball

Throwing (ST) 18

2.1.5.2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Tipe

(8)

vii

2.1.5.3. Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Tipe

Snowball Throwing (ST) 20

2.1.6. Pembelajaran Kooperatif STAD 20

2.1.6.1 Pengertian STAD 20

2.1.6.2 Langkah-langkah Model STAD 21 2.1.6.3 Kelebihan dan Kekurangan Model STAD 22 2.1.7. Materi Kubus dan Balok 23 2.1.7.1 Unsur-unsur Kubus dan Balok 23 2.1.7.2 Luas Permukaan dan Volume Kubus dan Balok 27 2.1.8. Pembelajaran Kubus dan Balok dengan Kooperatif

Tiap Snowball Throwing (ST) 29

2.1.9. Pembelajaran Kubus dan Balok dengan Kooperatif

Tipe STAD 34

2.2 Penelitian Yang Relevan 37

2.3 Kerangka Konseptual 38

2.4 Hipotesis Penelitian 40

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 41 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian 41 3.2.1. Populasi Penelitian 41 3.2.2. Sampel Penelitian 41

3.3 Variabel Penelitian 42

3.4 Jenis dan Desain Penelitian 43

3.5 Prosedur Penelitian 44

3.6 Instrumen Penelitian 46

3.6.1. Tes Hasil Belajar Matematika 46 3.6.1.1 Perhitungan Validitas Test 47

3.6.1.2 Reabilitas Test 48

3.6.1.3 Daya Pembeda Soal 50

(9)

viii

3.7 Teknik Analisis Data 54

3.7.1. Menghitung Rata-rata Skor 54

3.7.2. Menghitung Standard Deviasi 54

3.7.3. Uji Normalitas 55

3.7.4. Uji Homogenitas 56

3.7.5. Uji Hipotesis 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data 60

4.2 Analisis Data 62

4.2.1. Uji Hipotesis 62

4.2 Pembahasan 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 67

5.2 Saran 67

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1. Sintaks Pembelajaran Kooperatif 18

Tabel 2.2 Predikat Tim 35

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian 43

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kubus 23

Gambar 2.2 Jaring-jaring Kubus 25

Gambar 2.3 Balok 25

Gambar 2.4 Jaring-jaring Balok 27

Gambar 2.5 Kubus 28

Gambar 2.6 Balok 28

Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian 45

Gambar 4.1 Histogram Data Postes Siswa Kelas Eksperimen A dan Kelas

(12)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I Kelas Eksperimen A 66 Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II Kelas Eksperimen A 75 Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III Kelas Eksperimen A 80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I Kelas Eksperimen B 85 Lampiran 5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II Kelas Eksperimen B 89 Lampiran 6 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III Kelas Eksperimen B 93

Lampiran 7 Lembar Aktivitas Siswa (LAS) I 97

Lampiran 8 Lembar Aktivitas Siswa (LAS) II 100 Lampiran 9 Lembar Aktivitas Siswa (LAS) III 106 Lampiran 10 Alternatif Penyelesaian LAS I 113 Lampiran 11 Alternatif Penyelesaian LAS II 111 Lampiran 12 Alternatif Penyelesaian LAS III 116

Lampiran 13 Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar 127

Lampiran 14 Tes Hasil Belajar 128

Lampiran 15 Alternatif Jawaban Tes Hasil Belajar 132 Lampiran 16 Tabel Perhitungan Tes Hasil Belajar 133 Lampiran 17 Perhitungan Validitas Tes Hasil Belajar 134 Lampiran 18 Perhitungan Reabilitas Tes Hasil Belajar 136 Lampiran 19 Tabulasi Data Perhitungan Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar 137 Lampiran 20 Perhitungan Indeks Kesukaran Tes Hasil Belajar 139 Lampiran 21 Perhitungan Daya Beda Tes Hasil Belajar 141

Lampiran 22 Perhitungan Normalitas Data 143

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan sumber daya insani yang sepatutnya mendapat perhatian terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia. Seperti halnya yang dikatakan Trianto

(2009 : 1) bahwa : “Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa

mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya”.

Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun suatu bangsa. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 (Trianto, 2009:1) tentang sistem pendidikan nasional, disebutkan bahwa pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Sebagai alat yang dapat merubah karakter, kemampuan, pola pikir dan moral seseorang, pendidikan harus selalu bergerak dan berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Dilihat dari sudut proses John Dewey (dalam Purba, 2013:59) menyatakan

bahwa “Pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang

fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada

sesamanya”. Purba (2013:59) juga menyatakan bahwa:

Pendidikan sebagai pemberdayaan merupakan proses kegiatan membebaskan seseorang dari kekakuan untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab terhadap gagasan-gagasan, keputusan dan tindakan. Melalui proses pemberdayaan, seseorang dibina dan dikembangkan menjadi manusia yang memiliki visi, sadar akan realita, adanya orang lain, dan memiliki keberanian dalam hidup serta menjalani kehidupan.

(14)

2

http://www.edukasi.kompasiana.com , diakses pada 17 januari 2015) pada tahun 2012 melaporkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara berdasarkan penilaian Education Development Index (EDI) atau Indeks Pembangunan Pendidikan. Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender, angka bertahan siswa hingga kelas V Sekolah Dasar. (UNESCO : 2012). Sementara itu The United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2012 juga telah melaporkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 108 pada 2011 menjadi peringkat 124 pada tahun 2012 dari 180 negara. Dan pada 14 Maret 2013 dilaporkan naik tiga peringkat menjadi urutan ke-121 dari 185 negara.Data ini meliputi aspek tenaga kerja, kesehatan, dan pendidikan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan, setiap lapisan dari dunia pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting, misalnya dalam mencapai hasil belajar. Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2009: 22) mengungkapkan bahwa keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan serta sikap bercita-cita merupakan tiga macam hasil belajar yang mendasar.

Di dunia pendidikan hasil belajar merupakan tolak ukur yang paling mendasar yaitu semakin baiknya hasil belajar yang dicapai dalam dunia pendidikan maka semakin besar kemungkinan tercapainya tujuan pendidikan, misalnya saja dalam pembelajaran matematika.Pendidikan yang diberikan di sekolah dasar, sekolah lanjutan maupun di sekolah menengah meliputi beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah mata pelajaran matematika. Abdurrahman

(2012 : 204) mengatakan bahwa : “Matematika merupakan bidang studi yang

dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga di perguruan

tinggi”.

(15)

3

yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir.

Sejalan dengan hal tersebut di atas Cornelius (dalam Abdurrahman, 2012:204) mengemukakan bahwa :

Lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Matematika disadari sangat penting peranannya. Seperti yang dikatakan

Pakling (dalam Abdurrahman, 2012: 203) bahwa : “Matematika adalah suatu cara untuk menemukan suatu jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia “.

Namun tingginya tuntutan untuk menguasai matematika tidak berbanding lurus dengan hasil belajar matematika siswa. Telah banyak diperbincangkan bahwa nilai rata-rata matematika siswa disekolah masih rendah dibanding mata pelajaran lainnya, selain itu nilai UN Matematika siswa juga cenderung lebih rendah dibandingkan bidang studi lain. Dalam Ujian Nasional (UN), Nuh (dalam http://www.edukasi.kompas.com, diakses 17 januari 2015) mengatakan bahwa :

“Siswa yang mengikuti ujian nasional tahun 2012 tingkat SMP dan sederajat yang

tidak lulus terbanyak dalam mata pelajaran Matematika, kemudian diikuti Bahasa

Inggris, IPA dan Bahasa Indonesia”.

Selain itu mengenai peringkat matematika di Indonesia berdasarkan data

UNESCO yaitu : “Peringkat matematika Indonesia berasa di urutan 34 dari 38

negara”. Ini menunjukkan bahwa mutu pendidikan Indonesia, terutama dalam

pembelajaran matematika masih rendah. Sejauh ini Indonesia belum mampu lepas dari urutan penghuni bawah. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan matematika di Indonesia masih membutuhkan penanganan.

(16)

4

Makagiansar (dalam Trianto, 2009 : 4-5) bahwa : “ Unsur ketiga dari tujuh unsur paradigma proses pembelajaran yaitu hubungan guru dan siswa senantiasa konfrontatif bersifat kemitraan artinya guru masih mendominasi siswa dalam

proses pembelajaran sehingga pembelajaran konvensional”.

Padahal dengan metode tersebut menyebabkan siswa hanya terpaku dengan apa yang guru sampaikan tanpa mengeksplorasi hal lain dari materi tersebut. Jadi akan tertanam dalam benak siswa bahwa matematika adalah pelajaran menghafal, bagi mereka yang kurang paham dengan konsep. Sehingga hasil belajar yang diperoleh oleh siswa kurang memenuhi standar kelulusan mata pelajaran matematika.Seperti yang dikemukakan oleh Abdurrahman (2012:202)

bahwa: “Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika

merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar, dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar”. Hal ini dikarenakan matematika disajikan dalam bentuk yang terkesan sulit untuk dipelajari, hanya merupakan konsep-konsep, teori lalu contoh soal dan tidak ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, akibatnya siswa sering merasa bosan, dan kurang berminat belajar matematika sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar matematika.

Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit, baik tingkat pendidikan sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya prestasi belajar matematika yang dicapai siswa.Menurut Abdurrahman (2012 : 205) menyatakan bahwa:

”Pembelajaran mata pelajaran matematika di Indonesia masih lemah, pengajaran

terfokus pada aspek penemuan dan eksplorasi lalu mengabaikan aspek psikologi

pelajar”.

(17)

5

pemahaman siswa. Hingga kini pembelajaran matematika khususnya pada pengajaran geometri tidak berhasil. Hal ini dinyatakan Soedjadi (dalam http://www.jurnal.untad.ac.id , diakses 25 januari 2015).

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam pada tanggal 14 Maret 2015 dengan narasumber Ibu Etik Kusumawati

selaku guru matematika, dari hasil wawancara Beliau mengatakan bahwa: “

Pelajaran matematika dianggap sulit oleh siswa karena materi-materinya yang mereka anggap abstrak sehingga sulit dimengerti, khususnya pelajaran mengenai

bangun ruang”.

Seperti dikatakan Edy (dalam http://jurnal.upi.edu/file/Edi_S.pdf) bahwa:

Pembelajaran matematika khususnya geometri dapat dihubungkan denganlingkungan sekitar siswa sehingga berhubungan dengan keadaan sehari-hari dan pembelajaran matematika dilakukan dengan situasi yang menyenangkan sehingga ide/kreativitas, percaya diri, kejujuran, saling menghargai teman dan tolong menolong dari karakter siswa yang diharapkan akan muncul.

Oleh karena itu guru harus mencari cara agar siswa tertarik dalam mempelajari matematika sedangkan faktor lain yang mempunyai andil yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar matematika adalah pemilihan model pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan mengatasi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran matematika. Seperti yang dikatakan oleh Trianto (2009 : 12) bahwa :

Model-model pembelajaran inovatif-progesif merupakan konsep belajar yang melatih guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

(18)

6

Selain itu Ibu Etik juga mengatakan dalam wawancara tersebut bahwa: Banyak siswa yang minat belajarnya dalam matematika masih kurang terlihat dari hasil nilai ulangan harian pertama dan kedua, sekitar lima puluh persen siswa yang tidak tuntas jika dilihat dari KKM (Kriteri Ketuntasan Minimal). Hal ini terjadi karena beberapa faktor seperti media pembelajaran yang kurang memadai, pembelajaran yang terkadang masih konvensional sehingga masih monoton, serta motivasi dari dalam diri siswa untuk belajar matematika yang masih kurang.

Salah satu contoh untuk nilai ulangan harian pertama, dari kelas VIII-F yang terdiri dari 36 orang terdapat sebanyak 18 orang yang mendapat nilai ulangan harian diatas standart kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai rata-rata kelas sebesar 71 yang berada dibawah KKM 75.

Selanjutnya peneliti juga menanyakan kepada Ibu Etikmengenai model pembelajaran kooperatif yang digunakan di dalam kelas, beliau mengatakan bahwa:

Model pembelajaran yang digunakan tergantung materi pelajaran, pernah menerapkan kooperatif tipe Group Investigation di dalam kelas, namun kurang efektif dalam meningkatkan hasil belajar karena siswa masih ingin bermain-main ketika diskusi sedangkan model GI menuntut siswa untuk memahami materi untuk kemudian memerlukan keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik. Sehingga model pembelajaran kembali ke pembelajaran langsung berupa menyampaikan materi lewat ceramah, latihan dan memberikan tugas-tugas.

Hal ini menunjukkan bahwa guru masih kurang tepat dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang mengakibatkan siswa menjadi lebih jenuh karena kurang bervariasinya model pembelajaran yang diterapkan.

Dari pengalaman saat melakukan mini riset juga terlihat bahwa guru masih cenderung menggunakan model pembelajaran yang monoton dan satu arah serta berpusat pada guru. Banyak siswa mengeluhkan hal seperti ini selain karena sulit untuk dipahami, juga menimbulkan kebosanan. Model pembelajaran yang digunakan masih berpusat pada guru sementara siswa duduk secara pasif menerima informasi pengetahuan dan keterampilan sehingga menjadi kurang terlibat dalam proses pembelajaran.

(19)

7

problem yet seldom teach then about problem solving.” yang berarti, dalam mengajar guru selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah.

Selanjutnya menurut Adedeji (dalam

http://www.ejmste.org/v3n2/EJMSTE_v3n2_Tella .pdf ) bahwa :

Various factors have been adduced for poor performance of students in mathematics. The interest of students in mathematics have been related to the volume of work completed, students task orientation and skill acquisition, students personality and self-concept , feeling of inadequacy,

motivation and self- confidence,anxiety, shortage of qualified

mathematics teachers, poor facilities, equipment and instructional materials for effective teaching.

Yang artinya adalah berbagai faktor telah dikemukakan untuk kinerja yang buruk dari siswa dalam matematika. Minat siswa dalam matematika berhubungan dengan tugas yang telah diselesaikan, orientasi tugas siswa dan keterampilan akuisisi, kepribadian dan konsep diri siswa, perasaan tidak mampu, motivasi dan kepercayaan diri, kecemasan, kekurangan guru matematika yang berkualitas, minimnya fasilitas , peralatan dan bahan pembelajaran untuk pengajaran yang efektif.

Agar pembelajaran berpusat pada siswa, guru perlu memilih suatu model pembelajaran yang memerlukan keterlibatan siswa secara aktif dan juga dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya, selama proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Senada dengan pernyataan Joyce (dalam Trianto, 2009 : 22) bahwa : “Model pembelajaran mengarahkan kedalam mendesain pembelajaran untuk membantu sehingga tercapai tujuan

pembelajaran”.

Untuk itu peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran cooperative learning tipe Snowball throwing dan tipe STAD (Student Team Achievement

Division). Model pembelajaran ini dianggap dapat membangkitkan ketertarikan

(20)

8

memanfaatkan teman sebaya yang lebih pandai dalam pembelajaran. Jhonson (dalam Trianto, 2009:57) menyatakan bahwa: “Tujuan pokok pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok”.

Model pembelajaran Snowball throwing sudah pernah diterapkan oleh Melisa, mahasiswa jurusan pendidikan matematika FKIP UMSB di kelas VIII pada materi kubus dan balok (dalam http://www.jurnal.umsb.ac.id , diakses 22 januari 2015) dengan kesimpulan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing lebih baik dari pada hasil belajar matematika tanpa penerapan model tersebut.

Pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwingadalah salah satu model pembelajaran aktif yang digunakan guru untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar serta melatih kesiapan siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan. Model pembelajaran ini menggunakan permainan yaitu dengan cara membuat bola pertanyaan yang ditulis oleh siswa dan dilempar seperti bola salju, kemudian masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang di dapat (Istarani, 2011 : 92). Pada hakikatnya model ini menggali dan mengembangkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan pemahaman materi melalui kerjasama kelompok dan ini sangat baik untuk diterapkan pada mata pelajaran yang dirasakan guru sangat sulit dipahami siswa dan salah satunya adalah mata pelajaran matematika.

Model Snowball throwing memiliki keunggulan yaitu dalam meningkatkan jiwa kepemimpinan siswa, melatih untuk belajar mandiri, serta menumbuhkan kreativitas belajar siswa (Istarani, 2011 : 93).

Selain tipe Snowball throwing, pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa adalah STAD (Student Team Achievement Division). Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan tipe

(21)

9

menyenangkan karena kelompok yang heterogen, pembelajaran lebih terarah karena guru terlebih dahulu menyajikan materi sebelum tugas kelompok dimulai (Istarani, 2011 : 20).

Model kooperatif ini juga sudah pernah diterapkan oleh Sri, mahasiswa pendidikan matematika Unimed dengan judul “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkanhasil belajar siswa kelas VIII SMP

PAB 2 Helvetia pokok bahasan Kubus dan Balok “. Dan mendapatkan kesimpulan

bahwa terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa pada materi kubus dan balok setelah diterapkan model kooperatif tipe STAD.

Secara umum kedua tipe pembelajaran tersebut sama yaitu memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok serta meningkatkan solidaritas dikalangan siswa. Akan tetapi dari segi pelaksanaan, keduanya adalah berbeda.

Karena kedua model tersebut sudah pernah diterapkan dalam penelitian jenis tindakan kelas, dan keduanya sama-sama meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas VIII dengan materi kubus dan balok, serta dari hasil wawancara guru mata pelajaran yang menyatakan bahwa model snowball throwing dan belum pernah diterapkan di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam dan siswa masih kebingungan pada materi yang sifatnya abstrak seperti pokok bahasan bangun ruang sehingga penulis tertarik untuk meneliti kedua model pembelajaran tersebut dengan materi kubus dan balok di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Perbedaan Hasil Belajar Dengan Model Kooperatif Tipe ST (Snowball throwing) dan Tipe STAD (Student Teams Achievments Divisions) Pada Bahasan Kubus Dan Balok Di Kelas VIII SMP

(22)

10

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah antara lain sebagai berikut :

1. Pendidikan di Indonesia masih dalam kategori rendah.

2. Matematika merupakan pelajaran yang membosankan dan dianggap sulit bagi siswa.

3. Guru jarang menggunakan model pembelajaran kooperatif.

4. Siswa cenderung pasif dan kurang terampil dalam proses belajar mengajar, 5. Rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam

terlihat dari hasil ulangan harian.

1.3 Batasan Masalah

Karena luasnya ruang lingkup permasalahan dan agar penelitian lebih efektif, jelas dan terarah, untuk itu penelitian ini dibatasi pada hasil belajar siswa yang diajar dengan model kooperatif tipe Snowball throwing (ST) dan tipe Student teams achievement division (STAD) pada pokok bahasan kubus dan balok

di kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A 2014/2015.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diteliti maka yang menjadi

masalah dalam penelitian ini adalah: ”Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing (ST) dan dengan menggunakan model kooperatif tipe Student

teams achievement division (STAD) pada pokok bahasan kubus dan balok di kelas

VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A 2014/2015”.

1.5 Tujuan Penelitian

(23)

11

kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) pada pokok bahasan kubus dan balok di kelas VIII SMP Negeri 1 Lubuk Pakam T.A 2014/2015.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi siswa, sebagai pengalaman belajar dan memberikan variasi metode pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam memahami dan menguasai konsep demi mencapai prestasi yang lebih baik. 2. Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran

yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

3. Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan untuk melengkapi sarana dan prasarana belajar dalam peningkatan mutu proses pembelajaran matematika. 4. Bagi peneliti, sebagai bahan masukan untuk dapat menerapkan model

pembelajaran yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah di masa yang akan datang.

5. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis.

1.7 Definisi Operasional

Adapun yang menjadi defenisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hasil belajar matematika adalah nilai matematika yang diperoleh siswa melalui tes evaluasi setelah proses belajar mengajar selesai dilaksanakan. 2. Model pembelajaran kooperatif tipe ST (Snowball throwing) adalah salah

(24)

12

(25)

65 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis data diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu:

Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe ST (Snowball Throwing )dan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division ) pada pokok bahasan Kubus dan Balok di kelas VIII SMPN 1

Lubuk Pakam T.A. 2014/2015. Hal ini sesuai dengan hasil pengujian pada taraf signifikansi  0,05 dan dk = n1 + n2 – 2 = 68 dengan thitung = 5,067

dan ttabel = 1,9973 sehingga diperoleh 1,9933thitung1,9933 adalah

merupakan harga t lain dari kriteria pengujian    

   1 12

2 1

1 t t

t .

1.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, ada beberapa saran yang perlu disampaikan antara lain:

1. Kepada guru matematika dapat menerapkan pembelajaran tipe ST dan STAD sebagai salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Kepada guru matematika yang ingin menerapkan model pembelajaran tipe ST dan STAD agar dapat memaksimalkan waktu sebaik mungkin dan persiapan yang matang.

(26)

66

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M.,(2012), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.

Arikunto, S., (2009), Manajemen Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.

_________., (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, RinekaCipta, Jakarta.

Budiningsih, A., (2012), Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.

Harmoko, (2013), http://eprints.uny.ac.id/9960/1/JURNAL%20ILMIAH.pdf, (Diakses 25 Januari 2015)

Isjoni, (2009), Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Istarani, (2011), 58 Model Pembelajaran Inovatif, Penerbit Media Persada, Medan.

Kompas, (2012), Peringkat Pendidikan Indonesia dari Data UNESCO, http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/03/kualitas-pendidikan-indonesia-refleksi-2-mei-552591.html (Diakses 17 januari 2015).

Melisa, (2014),http://jurnal.umsb.ac.id/wp-content/uploads/2014/10/JURNAL-MELISA-101000284202029.pdf (Diakses 22 januari 2015).

Nasution, L., (2013), Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) dan Tipe ST (Snowball Throwing) pada Materi PLSV di kelas VII SMP Negeri 1 Kisaran. Medan : Skripsi FMIPA Unimed.

Nuh, (2012), http: //edukasi.kompas.com /read/2012/06 /02/10035432/ Banyak.Siswa.Tak.Lulus.Ujian.Matematika (Diakses 17 januari 2015).

Nuharini, D., Wahyuni, T., (2008), MATEMATIKA Konsep dan Aplikasinya, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Ngalimun, (2011), Strategi dan Model Pembelajaran, Aswaja Pressindo, Yogyakarta.

Purba, E., (2013), Filsafat Pendidikan, FMIPA UNIMED, Medan.

(27)

67

Slavin, R., (2005), Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik, Nusa Media , Bandung.

Soedjadi, (2001), http: //j urnal .untad.ac.id/jurnal /index.php /JKTO/ article/ viewFile/2980/2055 (Diakses 25 januari 2015)

Sri, (2011), Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP PAB 2 Helvetia Pokok Bahasan Kubus dan Balok. Medan : Skripsi FMIPA Unimed.

Sudjana, (2008), Metoda Statistika, Tarsito, Bandung.

Sudjana, N., (2009), Penilaian Hasil Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sugiyono, (2011), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.

Suprijono, A., (2009), Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Surya, E., (2010),http://jurnal.upi.edu/file/Edi_S.pdf (Diakses 17 Maret 2015)

Tella, A., (2007) http://www.ejmste.org/v3n2/EJMSTE_v3n2_Tella.pdf (Diakses 17 Maret 2015)

Trianto, (2009), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progesif : Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP),Prenada Media Group, Jakarta.

Gambar

Tabel 2.1. Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Gambar 2.1 Kubus

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan penguasaan konsep Biologi oleh siswa kelas

Berdasarkan uraian di atas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) manakah yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik, pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri dengan

Penelitian yang relevan dengan penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian Winae, guru SMPN- 1 Kuala Kurun dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar

dengan setting pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap prestasi dan motivasi belajar matematika siswa pada materi pokok kubus dan balok kelas VIII MTsN Karangrejo

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap motivasi dan prestasi pokok bahasan kubus dan balok siswa kelas VIII SMP 01 Tarbiyatus

Tabel 4.2 Pretest dan Posttest Tes Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VIII E dengan Model Kooperatif Tipe STAD..

Berdasarkan hasil tes yang sudah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada hasil post test pada kelas kontrol dan kedua kelas