KEPUTUSAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN NOMOR : 105/2/Tahun 2021
TENTANG
EVALUASI RANCANGAN PERATURAN DAERAH
KOTA PAREPARE TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA PAREPARE TAHUN 2020-2040
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI SELATAN,
Menimbang : a. bahwa Rancangan Peraturan Daerah Kota Parepare tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare perlu dievaluasi agar tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dan peraturan daerah lainnya;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan tentang Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Kota Parepare tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 47 Prp Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2102) Juncto Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan mengubah Undang-Undang Nomor 47 Prp Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2687);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 183, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6398);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833) sebagaimana telah diubah dengan Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6042);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 116 Tahun 2017 tentang Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
13. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN Nomor: 16 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 120 Tahun 120 Tahun 218 tentang Perubahan Atas Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 Tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 157);
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2016 tentang Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 464);
16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 - 2029 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 249);
17.
Peraturan Daerah Kota Parepare Nomor 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Parepare Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kota Parepare Tahun 2011 Nomor 14);Memperhatikan : Surat Menteri Dalam Negeri Nomor : 188.34/406/Bangda perihal Hasil Konsultasi dalam rangka Evaluasi Ranperda tentang RTRW Kota Parepare Tahun 2020 - 2040
MEMUTUSKAN : Menetapkan :
KESATU : Hasil Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Kota Parepare tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare Tahun 2020-2040 sebagaimana tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini.
KEDUA : Walikota Parepare bersama DPRD Kota Parepare agar segera melakukan penyempurnaan dan penyesuaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kota Parepare tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare Tahun 2020-2040 berdasarkan hasil evaluasi yang sebagaimana terlampir pada Lampiran Keputusan ini, paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya Keputusan ini;
KETIGA : Dalam hal Walikota Parepare dan DPRD Kota Parepare tidak menindaklanjuti hasil evaluasi dan tetap menetapkan Raperda Kota Parepare tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare, akan dilakukan pembatalan oleh Gubernur Sulawesi Selatan;
KEEMPAT : Peraturan Daerah yang telah ditetapkan tersebut disampaikan masing-masing kepada Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Cq. Biro Hukum dan HAM Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan disertai dengan Arsip Data Komputer (ADK) dalam bentuk softcopy;
KELIMA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Makassar
pada tanggal 9 Februari 2021
GUBERNUR SULAWESI SELATAN,
Prof.Dr.Ir.H.M.NURDIN ABDULLAH, M.Agr
Tembusan :
1. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia di Jakarta;
2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI di Jakarta;
3. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta;
4. Menteri Agraria dan Tata Ruang RI/Kepala Badan Pertanahan Nasional di Jakarta;
5. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar;
6. Walikota Parepare di Parepare;
7. Ketua DPRD Kota Parepare di Parepare
LAMPIRAN
KEPUTUSAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN
NOMOR 105/2/Tahun 2021 TENTANG
HASIL EVALUASI RANCANGAN PERATURAN DAERAH (RANPERDA) KOTA PAREPARE TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA PAREPARE TAHUN 2020 - 2040
2007
HASIL EVALUASI
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA PAREPARE
TAHUN 2020-2040 I. UMUM
1. Perlu adanya konsistensi muatan pengaturan yang tertuang dalam Rancangan Peraturan Daerah harus sama dan tertuang dalam Materi Teknis (dokumen rencana) dan Peta, sebagai contoh:
Luasan kawasan hutan lindung dalam batang tubuh Pasal 25 adalah kurang lebih 2.414 Ha, sedangkan dalam lampiran matriks indikasi program disebutkan kawasan hutan lindung seluas 2.339 Ha;
Luasan kawasan resapan air dalam batang tubuh Pasal 25 adalah kurang lebih 1.481 Ha, sedangkan dalam lampiran matriks indikasi program disebutkan kawasan resapan air seluas 1.706 Ha;
Luasan KP2B dalam batang tubuh pasal 31 dalam Raperda adalah 306 Ha sedangkan dalam lampiran matriks indikasi program disebutkan luasan LP2B adalah 303 Ha, sehingga terdapat perbedaan penyebutan nomenklatur KP2B dan LP2B serta perbedaan luasan kurang lebih 3 Ha;
2. Penyusunan album peta sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare perlu disesuaikan dengan kaidah-kaidah perpetaan sebagaimana termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang.
3. Legal Drafting Raperda perlu disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
4. Berdasarkan asas non retroaktif bahwa Perda tidak dapat berlaku surut, maka apabila ditetapkan pada tahun 2021 perlu dilakukan penyesuaian dimensi waktu perencanaan RTRW Kota Parepare yang semula Tahun 2020-2040 menjadi Tahun 2021-2041 baik muatan perda maupun materi teknis, album peta, dan indikasi program utama dimulai dari tahun penetapan.
5. Sesuai dengan Pasal 251 Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Pasal 176 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, bahwa peraturan daerah dilarang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, asas pembentukan peraturan perundang-undangan
yang baik, asas materi muatan peraturan perundang-undangan, dan putusan pengadilan. Berkenaan hal tersebut, pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menyusun Raperda tentang RTRW kabupaten/kota agar melibatkan ahli dan/atau instansi vertikal di daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan.
II. KHUSUS
1. Penyempurnaan Judul Ranperda menjadi : “Raperda RTRW Kota Parepare Tahun 2021-2041”, sebagaimana amanat dari Pasal 281 Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 dan pasal 1 ayat (1) KUHP.
2. Beberapa peraturan yang berkaitan langsung dengan substansi yang perlu disesuaikan dan ditambahkan sesuai dengan amanat Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007, bahwa penataan ruang bersifat hirarkis komplementaris, yaitu:
a. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
b. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
b. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN Tahun 2020-2024;
c. Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
3. Pada BAB III, Rencana Struktur Ruang Pasal 10 perlu dipastikan dasar kebijakan penetapan terminal penumpang Tipe B di Kelurahan Bukit Harapan;
4. Pada BAB III, Rencana Struktur Ruang Pasal 13 perlu mengakomodir letak depo bahan bakar minyak/gas bumi di Kota Parepare; perlu mengakomodir pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang terletak di Kota Parepare dalam Raperda RTRW Kota Parepare Tahun 2020-2040, sebagaimana amanat Pasal 30 Perda Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2029;
5. Pada BAB IV, Rencana Pola Ruang Wilayah Kota
a. Pasal 29, Perlu mengakomodir penyesuaian luas kawasan hutan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.362/MENLHK/SETJEN/PLA0/5/2019 Tentanq Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas ± 91.337 Ha (sembilan puluh satu ribu tiga ratus tiga puluh tujuh Hektare), Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Seluas ± 84.032 Ha (delapan puluh empat ribu tiga puluh dua Hektare) dan Penunjukan Bukan Kawasan Hutan menjai Kawasan Hutan Seluas ± 1838 Ha (seribu delapan ratus tiga puluh delapan Hektare) di Provinsi Sulawesi Selatan;
b. Pasal 31, Perlu mengakomodir lokasi dan luasan kawasan tanaman jarak yang terdapat dalam Raperda RTRW Kota Parepare Tahun 2020- 2040. Sebagaimana amanat Lampiran 111.17 Perda Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2029.
c. Pasal 31, Perlu mengakomodir lokasi dan luasan kawasan tanaman kakao, sawit, robusta, mete dan jarak yang terdapat dalam Raperda RTRW Kota Parepare Tahun 2020-2040. Sebagaimana amanat Lampiran 111.18 Perda Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2029.
d. Pasal 31, Perlu mengakomodir lokasi dan luasan kawasan peternakan sapi yang terdapat dalam Raperda RTRW Kota Parepare Tahun 2020 - 2040. Sebagaimana amanat Lampiran 111.20 Perda Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2029.
6. Pada BAB VII, Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Pasal 45 ayat (2) huruf 6, Pasal 74 ayat (1), Perlu dilakukan penyesuaian terkait Ketentuan Perizinan untuk diubah menjadi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
7. Pada BAB XIII, Ketentuan Pidana, Pasal 97 perlu penyempurnaan: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ...
(sebutkan pasal yang dirujuk), diancam pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang. (Ketentuan Pidana dapat dilihat pada Pasal 69-75 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam Pasal 17 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja);
8. Pada BAB Tambahan, Bagian Ketentuan Penyidikan, perlu disempurnakan menjadi:
(1) Selain pejabat penyidik kepolisian negara Republik Indonesia, pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang penataan ruang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk membantu pejabat penyidik kepolisian negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan dengan peristiwa tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
d. melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti dan dokumen lain serta melakukan penyitaan dan penyegelan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang penataan ruang; dan
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dalam bidang penataan ruang.
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan kepada Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(4) Apabila pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memerlukan tindakan penangkapan dan penahanan, Penyidik pegawai negeri sipil melakukan koordinasi dengan Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(6) Pengangkatan pejabat penyidik pegawai negeri sipil dan tata cara serta proses penyidikan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sesuai dengan Ketentuan Penyidikan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
9. Pada bagian Lampiran, Indikasi Program, agar memperhatikan:
(1) Perlu ada prioritasi kegiatan dalam Matriks lndikasi Program Utama untuk pencapaian tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang.
(2) Instansi pelaksana program/kegiatan dan sumber anggaran/
pendanaan pada matriks indikasi utama agar disesuaikan dengan kewenangan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai berikut.
a. Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Terminal Tipe A dalam matriks program, utama dianggarkan melalui APBN dan APBD Provinsi dengan instansi pelaksana Dinas PU dan Dinas Perhubungan namun sesuai dengan UU No 23 Tahun 2014 (lampiran urusan pemerintahan bidang perhubungan) pengelolaan terminal penumpang tipe A merupakan kewenangan pemerintah pusat;
b. Pembangunan dan peningkatan kualiatas Terminal Tipe C dalam matriks program, utama dianggarkan melalui APBD Provinsi dan APBD Kota dengan instansi pelaksana Dinas PU dan Dinas Perhubungan namun sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 (lampiran urusan pemerintahan bidang perhubungan) pengelolaan terminal penumpang tipe C merupakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota;
GUBERNUR SULAWESI SELATAN,
Prof.Dr.Ir.H.M.NURDIN ABDULLAH, M.Agr