6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan nilai jual sebuah perusahaan sebagai salah satu bisnis yang sedang beroperasi. Nilai jual diatas nilai likuidasi adalah nilai dari organisasi manajemen yang menjalankan perusahaan itu (Sartono, 2010). Nilai perusahaan merupakan nilai aktual per lembar saham yang akan diterima apabila aset perusahaan dijual sesuai harga saham (Gitman, 2006).
Nilai perusahaan didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan tersebut meningkat. Berbagai kebijakan yang diambil oleh manajemen dalam upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik dan para pemegang saham tercermin pada harga saham (Houston, 2006).
Nilai perusahaan merupakan suatu kondisi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran atau dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa periode, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini (Noerirawan &
Muid, 2012).
Faktor-faktor nilai perusahaan akan mempengaruhi faktor teknikal dan faktor fundamental. Faktor teknikal merupakan sejenis metode yang memprediksi pergerakan harga saham dengan menganalisis data historisnya dan faktor ini akan mempengaruhi laba, risiko maupun struktur permodalan. Sedangkan faktor
fundamental merupakan analisis yang dibuat berdasarkan penilaian terhadap kondisi mikroekonomi berupa kondisi internal perusahaan perbankan dan industri sektoral. Termasuk juga kondisi makro ekonomi berupa situasi politik, ekonomi, bursa internasional, dan sebagainya.
Nilai perusahaan ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal perusahaan. Faktor eksternal ini akan mempengaruhi lingkungan diluar perusahaan seperti inflasi dan tingkat suku bunga, sedangkan faktor internal berasal dari lingkungan dalam perusahaan seperti pertumbuhan aset, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen.
Nilai perusahaan dapat diukur dengan beberapa cara yang diukur dengan harga saham menggunakan rasio penilaian. Rasio penilaian merupakan suatu rasio yang terkait dengan penilaian kinerja saham perusahaan yang telah diperdagangkan di pasar modal (Sudana, 2011). Pengukuran dapat menggunakan price earning ratio (PER), price to book value (PBV), dan Tobin’s Q. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan price to book value (PBV). Rumus dari PBV yaitu:
𝑃𝐵𝑉 = 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐵𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑥 100%
2.2 Kinerja Keuangan Perbankan
Menurut Fahmi (2011) kinerja keuangan merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui
mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.
Menurut Abdullah (2005) kinerja keuangan bank merupakan bagian dari kinerja bank secara keseluruhan. Kinerja bank disini merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam operasionalnya, baik dari aspek keuangan, pemasaran, penghimpun dan penyaluran dana, teknologi dan sumber daya manusia.
Menurut kinerja keuangan perbankan merupakan bisnis jasa yang bergabung dalam industri mempunyai rasio-rasio keuangan yang khas. Rasio-rasio keuangan tersebut terdiri dari risiko likuiditas, risiko solvabilitas, dan rasio profitabilitas.
Berdasarkan surat edaran peraturan Bank Indonesia Nomor 10 /SEOJK.03/2014 indikator dalam pengukuran kinerja keuangan umum yaitu metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, dan Capital) mencakup:
2.2.1 Profile Risiko (Risk Profile)
Profil risiko merupakan penerapan atas risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank. Indikator untuk penilaian risiko inheren didasarkan pada 8 risiko. Risiko tersebut yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi.
Pengukuran risk profile ini bisa diukur menggunakan non performing loan (NPL), interest rate risk (IRR), dan loan deposit ratio (LDR). Namun penelitian ini pengukuran risk profile menggunakan NPL. Rumus NPL ini yaitu:
𝑁𝑃𝐿 =𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝐵𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑥 100%
Penetapan berdasarkan hasil analisis secara komprehensif dan terstruktur, dengan memperhatikan signifikansi masing-masing risiko terhadap profil risiko secara keseluruhan. Penetapan peringkat faktor profil risiko dilihat dari kualitas penerapan manajemen risiko terdiri dari 5 (lima) peringkat yaitu peringkat 1; sangat memadai, peringkat 2; memadai, peringkat 3; cukup memadai, peringkat 4; kurang memadai, dan peringkat 5; tidak memadai.
2.2.2 Good Corporate Governance (GCG)
Menurut surat edaran OJK Nomor 10/SEOJK.03/2014 penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Prinsip-prinsip GCG meliputi transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, profesional, dan kewajaran. Bank melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas pelaksanaan GCG secara berkala sesuai dengan periode penilaian tingkat kinerja keuangan. Penilaian GCG ini memiliki beberapa faktor untuk bank umum dan syariah, diantaranya:
a. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris b. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab direksi
c. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite
d. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan pengawas syariah
e. Pelaksanaan prinsip Syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa
f. Penanganan benturan kepentingan g. Penerapan fungsi kepatuhan
h. Penerapan fungsi audit intern i. Penerapan fungsi audit ekstern
j. Batas maksimum penyaluran dana (BMPD)
k. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan BUS, laporan pelaksanaan GCG serta pelaporan internal.
Penetapan peringkat faktor GCG dilakukan berdasarkan analisis: (i) pelaksanaan prinsip-prinsip GCG bank sebagaimana dimaksud pada paragraf diatas; (ii) kecukupan tata kelola (governance) atas struktur, proses, dan hasil penerapan GCG pada bank; dan (iii) informasi lain yang terkait dengan GCG bank yang didasarkan pada data informasi yang relevan.
Peringkat faktor GCG dikategorikan dalam 5 (lima) peringkat yang mencerminkan manajemen bank telah melakukan penerapan GCG dengan baik atau tidaknya penerapan tersebut yakni peringkat 1; sangat baik, peringkat 2; baik, peringkat 3; cukup baik, peringkat 4; kurang baik, dan peringkat 5; tidak baik.
2.2.3 Rentabilitas (Earnings)
Menurut surat edaran OJK Nomor 10/SEOJK.03/2014 penilaian faktor- faktor rentabilitas meliputi evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, kesinambungan (sustainability) rentabilitas, dan manajemen rentabilitas. Penilaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat, trend, struktur, stabilitas rentabilitas bank, dan perbandingan kinerja keuangan dengan kinerja peer group, baik dari analisis aspek kuantitatif maupun aspek kualitatif.
Pengukuran rentabilitas sendiri bisa menggunakan return on asset (ROA), net operation margin (NOM), dan net imbalan (NI). Pemilihan menggunakan ROA
dikarenakan ROA untuk mengukur keuntungan bersih yang didapatkan perusahaan.
Apabila hasil rasio dari ROA tinggi maka semakin baik produktivitas asetnya.
Rumus dari ROA:
𝑅𝑂𝐴 =𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑥 100%
Penetapan peringkat dari hasil ROA tersebut diambil dari hasil analisis komprehensif dan terstruktur terhadap indikator yang diambil dengan memperhatikan signifikansi masing-masing indikator dan mempertimbangkan permasalahan yang mempengaruhi rentabilitas tersebut.
Penetapan faktor rentabilitas dikategorikan dalam 5 (lima) peringkat dilihat dari laba perusahaan yang melebihi atau tidak memenuhi target yakni peringkat 1;
sangat memadai, peringkat 2; memadai, peringkat 3; cukup memadai, peringkat 4;
kurang memadai, dan peringkat 5; tidak memadai. Urutan peringkat faktor rentabilitas yang lebih kecil mencerminkan kondisi Rentabilitas Bank yang lebih baik.
2.2.4 Permodalan (Capital)
Menurut surat edaran OJKNomor 10/SEOJK.03/2014penilaian atas faktor- faktor permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan permodalan dan kecukupan pengelolaan. Melakukan perhitungan permodalan, bank wajib mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bagi bank umum. Selain itu, dalam melakukan penilaian kecukupan permodalan, bank juga harus mengaitkan terhadap kecukupan modal dengan profil risiko bank. Apabila semakin tinggi risiko bank, semakin besar modal yang harus disediakan untuk mengantisipasi risiko tersebut dalam bank.
Penilaian permodalan dengan menghitung capital adequacy ratio (CAR) dengan melihat indikator yang ada di dalam laporan keuangan. Rumus CAR, yaitu:
𝐶𝐴𝑅 = 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐵𝑎𝑛𝑘
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑅𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑥 100%
Penilaian bank perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti tingkat, trend, struktur, dan stabilitas permodalan dengan memperhatikan kinerja peer group serta kecukupan manajemen permodalan bank. Penilaian ini dilakukan dengan menggunakan indikator kuantitatif maupun kualitatif.
Penetapan faktor permodalan dikategorikan dalam 5 (lima) dilihat dari kualitas dan kecukupan permodalan bank tersebut yakni peringkat 1; sangat memadai, peringkat 2; memadai, peringkat 3; cukup memadai, peringkat 4; kurang memadai, dan peringkat 5; tidak memadai.
2.3 Kerangka Pikir Penelitian dan Hipotesis
Kinerja keuangan bank akan berpengaruh positif terhadap, nilai perusahaan.
Hal ini berarti kinerja keuangan perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Tingkat kinerja keuangan bank yang tinggi maka perusahaan melakukan operasional dengan baik, perusahaan akan mampu memperoleh laba yang tinggi dan pembayaran dividen pun juga tinggi (Muliani, dkk 2014)
Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek menghimpun dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas. Hal ini akan mempengaruhi nilai perusahaan. Kinerja keuangan bank akan diketahui pada saat akhir tahun perusahaan tutup buku, ini
akan mengetahui nilai perusahaan yang dikaitkan dengan harga saham awal tahun berikutnya.
Penelitian Anggarsini (2018) menunjukkan bahwa good corporate governance, earnings, dan capital berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Sedangkan hasil risiko kredit tidak dapat dibuktikan berpengaruh negatif pada nilai perusahaan tahun 2012-2015.
Penelitian Nurjanah, Rahardian, dkk (2017) menunjukan bahwa hasil risk profile yang dihitung menggunakan NPL, LDR, IRR dan capital yang dihitung dengan CAR tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan Good Corporate Governance dan Earnings yang dihitung menggunakan BOPO memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan tahun 2011-2015.
Penelitian Lestari & Wirakusuma (2018) menunjukkan hasil bahwa risk profile memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, sedangkan good corporate governance, earnings dan capital memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan tahun 2014-2016.
Penelitian Sasongko & Susilawati (2017) menunjukan bahwa bahwa risk profile berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan secara langsung.
Sedangkan good corporate governance mengintervensi pengaruh earnings secara positif signifikan terhadap nilai perusahaan dan hasil pengaruh capital terhadap nilai perusahaan secara langsung positif signifikan tahun 2011-2016.
Penelitian Wardoyo (2015) menunjukkan bahwa risk profile tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. GCG berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Earnings yang diukur dengan ROE
berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan ROA dan BOPO tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil capital yang diukur dengan CAR juga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan tahun 2009-2011.
Berdasarkan penjelasan dan hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disusun kerangka pikir penelitian yang akan menguji pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan periode 2013-2018. Kerangka pikir yang menggambarkan hubungan antara variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.1
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang harus diuji kebenarannya. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dipaparkan di atas dan hasil rumusan masalah maka hipotesis dari penelitian ini yaitu:
H1: kinerja keuangan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
H0: kinerja keuangan berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Profil Risiko / Risk Profile
Good Corporate Governance / GCG
Nilai Perusahaan Rentabilitas /
Earnings
Gambar 2.1 Permodalan /
Capital