• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Ruang Lingkup Humas Polda NTT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Ruang Lingkup Humas Polda NTT"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Kepolisian Republik Indonesia atau yang sering disingkat dengan POLRI merupakan sebuah lembaga pemerintahan yang bergerak dalam bidang keamanan sebuah negara. Sebagai lembaga pemerintahan yang menjaga nama baik dalam sebuah lingkup organisasi bahkan negara, kepolisian perlu menjalin hubungan baik dengan masyarakat (Yuliandari, 2019). Polri selaku sebuah institusi perlu terus membangun dan mengembangkan keterbukaan informasi dalam hal ini informasi publik sebenarnya merupakan salah satu pilar penting yang memberikan pencerahan untuk mendorong terciptanya iklim dalam pelaksanaan tata pemerintahan yang baik (Good Governance) (Saputra, 2021). Disamping itu berdasarkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Nomor 14 Tahun 2008 juga memberikan jaminan kepastian hukum terhadap hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan serta untuk ikut berturut serta dalam mengontrol penyelenggaraan Negara atau pemerintahan. Pemerintah sebagai penyelenggara program pembangunan dan pelayanan publik wajib membuka layanan akses informasi bagi masyarakat (Abadi, 2017). Keterbukaan informasi publik memberi peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai kebijakan publik. Dengan adanya keterbukaan informasi publik baik instansi dan masyarakat akan semakin terbuka sehingga memudahkan kedua belah pihak untuk mencapai pemahaman yang baik (Sumandjaya, 2019).

Humas secara umum merupakan bidang spesialis dalam hal komunikasi yang berfungsi untuk menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis antara lembaga dengan publiknya melalui komunikasi, dengan tujuan untuk menciptakan adanya saling pengertian dan dukungan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan (Luqman, 2013).

Humas kepolisian sendiri memiliki pengertian yang tidak jauh berbeda yakni dengan adanya UU Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), serta Surat Edaran Komisi Informasi Nomor 1 tentang Pelayanan Informasi Publik maka Polri merubah struktur organisasi tatakerja Polri yang sebelumnya tidak ada humas (dulu Penmas / Penerangan Masyarakat), maka dibentuk Humas dari tingkat pusat (Mabes Polri sampai dengan tingkat polsek). Yaitu dari Divisi Humas (Mabes), Bidang Humas (Polda), Kasubbag Humas (Polres) sampai Kasie Humas (Polsek) (Sari, 2015). Dimana dalam tugas dan perannya bertanggungjawab untuk melayani masyarakat dengan memberikan informasi mengenai instansi kepolisian. Oleh sebab itu

(2)

dapat disimpulkan bahwa Humas sendiri merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah organisasi baik itu pemerintahan dan instansi, yang memegang kendali terhadap tercapainya proses komunikasi antara perusahaan dan publiknya.

Seperti yang diketahui bersama bahwa menggunakan media digital seperti social media membutuhkan jaringan internet sebagai pendukung untuk menghubungkan kita kepada sebuah informasi yang ingin diakses dalam server internet. Hal ini pada kenyataannya turut mendatangkan perubahan pada pemerintahan, utamanya lini pelayanan publik. Institusi pemerintahan dan unsur-unsur di dalamnya mulai beradaptasi mengikuti arus perkembangan Revolusi Industri 4.0. Dampak dari perkembangan revolusi industri 4.0 dapat dirasakan oleh masyarakat luas melalui gawai. Gawai yang berbasis internet memengaruhi perkembangan pelayanan institusi pemerintah yang ada.

Humas Polda merupakan suatu bidang yang dalam struktur organisasinya berada dibawah naungan Polda (Kepolisian Daerah) yang mana setiap Polda yang ada di wilayah Indonesia memiliki Humas dalam strukturnya. Humas merupakan sebuah bidang yang bertanggungjawab dalam melayani masyarakat dengan memberikan informasi publik sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik, untuk itu setiap Humas memiliki peranan besar dalam instansi kepolisian. Polda NTT merupakan instansi kepolisian yang dalam tugasnya bertanggungjawab dalam menjaga serta mengamankan wilayah Nusa Tenggara Tiimur dibawah pimpinan seorang Kapolda, untuk itu sama seperti Polda wilayah lainnya, Polda NTT juga memiliki bidang Humas.

Dalam menyampaikkan informasi kepada masyarakat, upaya yang dilakukan oleh bidang Humas Polda NTT yakni dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada kegiatan publikasi. Dimana hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang diikuti dengan cara memanfaatkan media. Fokus dari kegiatan publikasi yang dilakukan karena melalui kegiatan publikasi dengan media dapat membantu pihak Humas Polda NTT dalam menyebarluaskan berita secara cepat sehingga memudahkan masyarakat mengetahuinya. Selain itu, dengan memanfaatkan media dan jangkauan nya dapat memudahkan masyarakat untuk memberikan kritikan terhadap pelayanan kepolisian secara cepat tanpa harus mendatangi kantor kepolisian setempat. Dalam kegiatan publikasi yang dilakukan ini berisi informasi mengenai kegiatan dan pelayanan kepolisian kepada masyarakat yang dituangkan dalam sebuah produk konten seperti,

(3)

artikel berita, video, poster, foto, majalah yang disertai dengan pemberian caption pada setiap unggahan yang di publikasikan pada media sosial resmi Humas Polda NTT seperti website Tribrata News, Instagram, facebook, dan Youtube.

Media sosial seharusnya dapat menjadi alternatif dan penyambung instansi dengan publiknya, namun dengan belum terjangkau jaringan internet yang memadai di wilayah tersebut meskipun hanya berjarak 23km dari pusat Kota Kupang serta menjadikan masyarakat di Desa Niukbaun sulit untuk mengetahui mengenai informasi- informasi yang diberikan oleh Humas Polda NTT melalui kegiatan publikasi. Informasi ini didapatkan penulis berdasarkan fakta yang didapatkan penulis yang berasal dari wilayah tersebut ketika melakukan observasi di desa yang dikuatkan juga dengan masyarakat di Desa tersebut yang seringkali mengeluh karena jaringan namun sampai dengan saat ini belum ditindaklanjuti pemerintahan maupun pihak yang terkait. Sebagai bidang yang memliki peranan penting dalam hal pemberi informasi kepada masyarakat, tentunya dalam proses pekerjaannya memiliki hambatan atau tantangan tersendiri yang dialami, untuk itu penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses pemberian informasi yang dilakukan Polda NTT melalui bidang Humas Polda NTT.

Akibat dari permasalahan ini dan dengan seiring berjalannya waktu telah membentuk karakteristik masyarakat yang memiliki opini bahwa sebuah informasi yang diberikan Humas Polda NTT tidak terlalu penting untuk diketahui seperti, pemberitaan tentang kunjungan kerja, kegiatan sosialisasi dan bhakti sosial yang dilakukan, himbauan atau peraturan baru yang diterapkan. Oleh sebab itu jika hal ini dibiarkan maka masyarakat akan dirugikan dengan tidak mendapatkan informasi penting mengenai Polda NTT. Akibatnya, masyarakat tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap instansi kepolisian, sehingga jika masyarakat membutuhkan bantuan intansi kepolisian sewaktu-waktu maka masyarakat tidak akan mengetahui prosedur maupun hukum yang berlaku dikarenakan ketidakpahaman dalam instansi kepolisian tersebut. Contoh lainnya yaitu tentang pengembangan dalam sector kegiatan penilangan yang dialihkan menggunakan program ETLE ( Electronic Traffic Law Enforcement ).

Jika hal ini terus berlanjut maka akan memunculkan suatu permasalahan baik bagi lembaga Humas Polda NTT maupun masyarakatnya, karena kegiatan publikasi yang dilakukan tidak tepat untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah NTT.

Dengan begitu masyarakat tidak akan mendapatkan pemahaman yang baik mengenai

(4)

dinas kepolisian dan juga pihak kepolisian tidak dapat mengetahui mengenai permasalahan dan kebutuhan apa yang dibutuhkan masyarakat dari pihak Kepolisian Polda NTT.

Berdasarkan dari penjelasan dan urgensi yang telah diuraikan maka penulis melakukan penelitian terhadap strategi yang dilakukan Humas Polda NTT dalam memberikan informasi kepada masyarakat yang belum tersedia layanan jaringan yang memadai dengan judul “Strategi Humas Polda NTT Dalam Mempublikasikan Informasi Kepada Masyarakat Melalui Media” dengan tujuan untuk mengetahui faktor hambatan apa saja yang melatarbelakangi ketidaktahuan masyarakat terhadap kegiatan publikasi informasi yang dilakukan Humas Polda NTT. Sehingga dapat menemukan strategi lain yang dapat menjangkau masyarakat dengan persoalan jaringan agar seluruh masyarakat mendapatkan haknya untuk memperoleh informasi terkait dinas kepolisian.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong, metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2001). Subjek dari penelitian ini adalah Humas Instansi Polda NTT dan juga masyarakat Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang.

Sedangkan objek dari penelitian ini adalah hambatan-hambatan yang dialami dan juga strategi baru yang perlu dilakukan sehingga masyarakat dapat mengetahui proses dari kegiatan publikasi informasi yang dilakukan oleh Humas Polda NTT. Peneliti melakukan penelitian di dua tempat yakni di kantor Humas Polda NTT dalam kurun waktu 3 bulan terhitung bulan Mei-Agustus dan di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang. Lokasi penelitian merupakan desa yang dinilai peneliti cocok serta layak untuk diteliti sesuai dengan judul penelitian dan juga merupakan kabupaten yang paling dekat dengan Kota Kupang namun tidak memiliki akses jaringan dan internet yang memadai.

Peneliti berusaha mengambarkan atau mendeskripsikan objek yang diteliti berdasarkan fakta di lapangan, dengan mengunakan informan sebagai sumber data.

Informan sendiri merupakan anggota aktif Humas Polda NTT yaitu Bripda Candra Lake sebagai anggota Subdit Multimedia dan masyarakat sebagai aparat desa dan mahasiswa di Desa Niukbaun yakni Evie Passu, Felpina Kaseh, Natalia Rasi. Data-data yang

(5)

disajikan mengunakan data primer dan data sekunder melalui wawancara mendalam, obsevasi lapangan, referensi yang berkaitan dengan penelitian dan data dari internet.

Kemudian teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kualitatif dengan model interaktif melalui tiga alur dari Metthew B. Miles dan Michael Huberman (usman, 2008) yakni: Reduksi data yaitu proses pemilihan, Penyajian data yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan serta Penarikan kesimpulan dan verivikasi yang merupakan tahapan terakhir penelitian kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ruang Lingkup Humas Polda NTT

Rex Harlow dalam bukunya berjudul: A Model for Public Relations Education for Professional Practices yang diterbitkan oleh International Public Relations Association (IPRA) 1978, menyatakan bahwa Public Relations adalah fungsi managemen khas yang mendukung pembinaan serta pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya. Dimana hal ini berkaitan dengan aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama yang melibatkan manajemen dalam menghadapi sebuah permasalahan menyangkut opini publik.

Humas merupakan suatu bagian penting dalam instansi kepolisian. Dimana dalam hal ini bidang Humas dituntut untuk bisa membangun hubungan baik dengan pihak eksternal maupun internal dalam hal perolehan informasi publik untuk memperoleh sebuah goodwill terhadap instansi kepolisian tersebut. Sedangkan Humas secara umum dalam aplikasi tugasnya membutuhkan strategi yang diharapakan dapat membangun hubungan baik dengan masyarakat sehingga akan berdampak pada citra positif di mata masyarakat pula. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwasannya fungsi dan peranan Humas baik itu, Humas kepolisian dan Humas secara umum memiliki arti yang sama yakni sebagai bidang yang bertanggungjawab untuk mengelola dan menyebarluaskan informasi baik itu bersifat individu, organisasi maupun instansi dan masyarakat sehingga memperoleh sebuah penilaian baik dari masyarakatnya. Humas dalam pekerjaannya juga memiliki peran strategi dimana hal ini disampaikan menurut Jhon A. Bryne yang mendefinisikan strategi adalah sebuah pola dan mendasar dari sasaran yang

(6)

direncanakan untuk penyebaran sumber daya dan interaksi organisasi dengan pasar, pesaing, dan faktor-faktor lingkungan (Hasan, 2010).

Polda atau Kepolisian Daerah merupakan sebuah lembaga Kepolisian Republik Indonesia yang dalam struktur organisasi nya berada dibawah naungan Kapolri. Setiap Polda memiliki tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan tugas-tugas Polri di wilayah pada tingkat daerah tersebut yakni provinsi. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa Polda merupakan sebuah perpanjangan tangan yang langsung dari Mabes Polri. Berdasarkan Undang-Undang Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah, Humas termasuk kedalam struktur organisasi yang berada dibawah Polda NTT. Oleh sebab itu Humas Polda NTT memiliki tanggungjawab dalam hal pemberian layanan informasi publik berdasarkan dengan UU No. 14 Tahun 2008. Sebagai bidang yang memliki peranan penting dalam hal pemberi informasi kepada masyarakat, tentunya dalam proses pekerjaannya memiliki hambatan atau tantangan tersendiri yang dialami, untuk itu penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses pemberian informasi yang dilakukan Polda NTT melalui bidang Humas Polda NTT.

Strategi Humas Polda NTT

Menurut Jhon A. Bryne strategi adalah sebuah pola yang mendasar dari sasaran yang direncanakan sebagai penyebaran sumber daya dan interaksi organisasi dengan pasar, pesaing, dan faktor-faktor lingkungan. Strategi tersebut kemudian dijadikan satu, luas serta berintegrasi untuk menghubungkan keunggulan-keunggulan strategis organisasi dengan tantangan lingkungan, organisasi maupun lembaga. Dalam menyampaikkan informasi kepada masyarakat, upaya yang dilakukan oleh bidang Humas Polda NTT yakni dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada kegiatan publikasi.

“ Humas Polda NTT memiliki beberapa media sosial seperti Instagram, u, Facebook dan Youtube. Selain itu, Humas juga memiliki website resmi baik dari Polri maupun Polda dimana website tersebut digunakan untuk menerbitkan artikel berita

(7)

mengenai instansi kepolisian di tingkat Polri maupun Polda NTT

”.

(Wawancara bersama Kasubdit Penmas Humas Polda NTT, Iptu Victor Nenotek).

Dimana dalam kegiatan publikasi ini berisi informasi mengenai kegiatan dan pelayanan kepolisian kepada masyarakat yang dituangkan dalam sebuah produk konten seperti artikel berita, video, poster, yang disertai dengan pemberian caption pada setiap kiriman yang di publikasikan pada setiap media sosial resmi Humas Polda NTT seperti website, Instagram, facebook, Tribbrata News dan Youtube. Namun dalam proses publikasi yang dilakukan nyatanya masih memiliki hambatan-hambatan. Oleh sebab itu strategi yang dilakukan Humas Polda NTT untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yakni dengan melakukan strategi publikasi berupa kegiatan keluar. Dimana hal ini dilakukan untuk sasaran masyarakat yang tempat tinggalnya belum terjangkau jaringan internet yang memadai. Strategi ini dilakukan dengan mempertimbangkan situasi pandemi covid-19 yang berdampak di wilayah NTT.

Humas Polda NTT memanfaatkan media dan jangkauannya yang dinilai dapat memudahkan masyarakat untuk memberikan kritikan terhadap pelayanan kepolisian secara cepat tanpa harus mendatangi kantor kepolisian setempat, sehingga Humas Polda NTT dalam pekerjaannya melakukan strategi awal dengan melakukan kegiatan publikasi yang berisi informasi mengenai kegiatan dan pelayanan kepolisian kepada masyarakat. Hal itu kemudian dituangkan dalam sebuah produk konten seperti, tulisan artikel berita, video, poster, foto, majalah yang disertai dengan pemberian caption pada setiap unggahan yang di publikasikan pada media sosial resmi Humas Polda NTT seperti website Tribrata News, Instagram, facebook, dan Youtube.

Media merupakan sarana komunikasi bagi masyarakat, yang terletak di antara dua pihak sebagai perantara atau penghubung (Khatima, 2018). Dengan kata lain, hal ini menunjukkan bahwa sejatinya masyarakat dan media saling berkaitan oleh sebab itu media merupakan peranan penting dalam kehidupan makhluk social.

Media massa meliputi media cetak, media elektronik dan media online. Media cetak terbagi menjadi beberapa macam diantaranya koran, majalah, buku, dan sebagainya, begitupula dengan media elektronik terbagi menjadi dua macam, diantaranya radio dan televisi, sedangkan media online meliputi media internet seperti website, dan lainnya (Khatima, 2018).

Menurut (Cangra, 2002) media massa merupakan suatu alat yang digunakan dalam menyampaikan pesan menggunakan alat komunikasi mekanis

(8)

dari sumber pesan ke penerima pesan atau khalayak umum. Alat mekanis komunikasi yang dimaksud oleh Cangara adalah berbagai media massa yang ada di masyarakat seperti surat kabar, televisi, radio, hingga film. Media massa, yang biasa disebut masyarakat dengan media, merupakan istilah yang digunakan sejak tahun 1920-an untuk mengidentifikasi berbagai media atau pers. Dalam mendukung publikasi, Media Massa berfungsi untuk menyebarkan atau menyampaikkan pesan komunikasi pada khalayak, dimana media massa yang dimaksud adalah media elektronik melalui media social seperti Instagram, Website, YouTube, Facebook. Dalam pengaplikasian nya Humas Polda NTT memiliki hubungan erat dengan media pemberitaan di wilayah NTT yakni media cetak seperti Pos Kupang, Tvri, Victory News dan lainnya yang digunakan sebagai jembatan komunikasi untuk menyampaikan pesan maupun informasi kepada khalayak.

Sebagaimana yang ditetapkan dalam UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, bahwasannya setiap orang berhak untuk memperoleh, melihat dan mengetahui informasi publik. Sebagai bentuk implementasi dan pelaksanaan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi Publik, pelayanan informasi berupa kegiatan pelayanan kepada pemohon informasi dalam bentuk penerimaan permohonan, pencatatan dan pemberian informasi kepada masyarakat dimana untuk mendukung system pelayanan informasi tersebut Bidhumas menggunakan jaringan intranet Polri dan website. Dimana dalam kegiatan ini setiap Subbdit dalam bidang Humas memiliki tanggung jawab untuk mencari, mengumpulkan, mengambil, mengolah serta memproses data-data mentah tersebut menjadi sebuah data dalam bentuk tulisan, baik itu berupa narasi, berita maupun poster, majalah, flyer dan video.

Adapun proses memperoleh data dapat dilakukan sebagai berikut yakni dengan melakukan kegiatan cyber public relations dengan memantau beberapa akun media social seperti group komunitas di facebook, maupun website. Tim Subbdit PID memperoleh data dengan melakukan peliputan di lapangan secara langsung.

Mengumpulkan data-data yang diperoleh dari polres- polres jajaran di wilayah NTT.

Mendapatkan informasi dari anggota Bhabinkamtibmas yang ditempatkan di setiap desa di wilayah NTT. Mendapatkan informasi dari laporan masyarakat melalui aplikasi E-Dumas, maupun yang secara langsung melaporkan ke kantor kepolisian.

(9)

“Nah ketong tuh biasa dapat data atau bahan dari tim PID yang ikut liput di lapangan atau kalo sonde nah ketong dapat bahan dari humas-humas polres jajaran yang ada di bawah naungan Polda NTT. Ada juga informasi yang ketong dapat dari mabes, seperti perintah untuk buat informasi serentak yang harus ada di setiap Polda seperti contoh informasi penerimaan anggota polri begitu dong. Jadi kalo su dapat baru ketong bisa kelola jadi sebuah produk konten, setelah itu ketong tim multimedia akan memposting di media sosial kemudian baru tim penmas buat viralisasi. Nah viralisasi tuh yang nanti ketong bagikan ke jurnalis, atau media desk polda NTT’. Humas Polda NTT mendapatkan informasi dengan tiga cara yaitu melakukan peliputan langsung dilapangan, mendapatkan informasi-informasi dari anggota humas yang ada di polres jajaran di wilayah NTT dan berdasarkan dari perintah resmi di Mabes Polri.

(Wawancara dengan anggota Humas Polda NTT Bripda Candra Lake sebagai anggota dari Tim Multimedia).

Setelah data telah didapatkan maka selanjutkan anggota Humas baik tim PID, Multimedia dan Penmas akan melakukan tugas nya sesuai dengan jobdesc. Tim PID mengelolah data menjadi sebuah tulisan berita, Tim Multimedia mengolah data menjadi produk konten video, meme, poster dan Tim Penmas melakukan kegiatan viralisasi. Setelah berhasil mendapatkan dan mengumpulkan data-data yang diperoleh dari lapangan baik secara langsung maupun melalui perantara, maka hal selanjutnya yang dilakukan humas yaitu tahapan dalam memproses data menjadi sebuah produk, yang kemudian dengan memanfaatkan jangkauan teknologi dan internet maka humas akan mempublikasikan nya melaui website, portal berita, media social, dan media cetak.

Tahapan dalam proses mengolah data yaitu sebagai berikut yakni Anggota subbdit PID setelah mendapatkan data maka akan melakukan kegiatan penulisan berita, dimana dalam subbdit PID memiliki anggota sebagai penulis berita Polda NTT yang berpengalaman dan memiliki skill jurnalis yang mumpuni, bertanggung jawab serta professional dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang anggota maupun penulis. Setelah data di olah menjadi produk tulisan dalam bentuk berita, maka selanjutnya berita tersebut kemudian akan di terbitkan di portal berita sebagai situs

(10)

resmi Polda NTT yaitu https://tribratanewsntt.com/ Selain menerbitkan berita, anggota PID juga akan membagikan link berita yang diterbitkan kepada para wartawan, jurnalis rekan media desk Polda NTT sebagai acuan dasar dalam mereka menulis berita. Setelah mengolah data, menerbitkan dan menyebarkan link berita, hal selanjutnya yang dilakukan anggota PID yaitu, memberikan data kepada anggota subbdit Multimedia. Data yang didapatkan subbdit Multimedia dari Subbdit PID kemudian yang nantinya akan di olah sebagai produk konten poster, video, flyer.

Setelah data menjadi sebuah produk konten, maka anggota Subbdit Multimedia bertanggung jawab untuk mempublikasikan konten tersebut ke akun resmi media social Humas Polda NTT seperti YouTube, Facebook, Instagram.

Namun dari hasil penelitian yang dilakukan, penulis menemukan fakta bahwa strategi yang dilakukan Humas Polda NTT nyatanya masih belum bisa membuat masyarakat mengetahui informasi tersebut. Hal itu berangkat dari kesadaran masyarakat akan kurangnya pemahaman yang baik mengenai informasi dari pihak kepolisian dan juga dikarenakan beberapa faktor penghambat yakni meliputi jaringan internet yang buruk, masyarakat yang tidak menggunakan Hp Android, minimnya pengetahuan tentang teknologi dan faktor internal lain yang berasal dari masyarakat Desa Niukbaun.

“Kalo tanya kenapa sonde pake instagram nah dia pung jawaban gampang sa, ketong mo telepon orang dong sa ada susah mah apalagi mau maen instagram. Baru ketong su tua begini nih sonde tau memang maen itu barang jadi percuma ju pake, jaringan sa sonde ada”.

Sudah berumur begini kita tidak tahu lagi menggunakan fitur aplikasi seperti Instagram. Lagian jaringan internet pun tidak bisa diakses.

( Wawancara bersama Evi Passu sebagai tokoh adat di Desa Niukbaun).

“Kalo b sih sonde install instagram karna di rumah ju sonde ada jaringan. Jadi ketong install ju sama sa sonde bisa pake, lagian b rasa ju ke humas pung postigan dong sonde talalu penting jadi b pamalas liat. Kecuali kalo viral mungkin baru b cari tau”.

Tidak memiliki aplikasi instagram dikarenakan jaringan internet yang tidak memadai di rumahnya. Selain itu, dirinya menganggap informasi terkait Polda NTT tidak penting, kecuali yang viral diperbincangkan masyarakat.

( Wawancara bersama Natalia Rasi, masyarakat Desa Niukbaun)

(11)

Beberapa faktor itulah yang menjadi penghambat pihak kepolisian yakni Humas Polda NTT untuk menjangkau masyarakat dalam hal pemberian informasi.

Hambatan-Hambatan dalam Publikasi Informasi

Menurut Oemar 1992 (Suyedi, 2019) Hambatan merupakan segala sesuatu yang menghalangi, merintangi atau menghambat yang ditemui manusia atau individu dalam kehidupannya sehari-hari yang datangnya silih berganti. Dimana hal itu menjadikan seseorang, organisasi maupun instansi kesulitan sehingga menimbulkan hambatan bagi individu yang menjalaninya untuk mencapai tujuan. Menurut salah satu anggota Humas Polda NTT yaitu Bripda Candra Lake sebagai anggota Subdit Multimedia setelah diwawancara memberikan sebuah pernyataan bahwa dalam kegiatan publikasi informasi yang dilakukan Humas Polda NTT nyatanya juga masih memiliki beberapa hambatan dalam proses publikasi informasi.

“kalo humas sendiri tuh memang rajin upload postingan dong tentang kepolisian, ma andia itu kadang ketong su buat poster atau video bagus-bagus ma orang dong ju ke malas toe”.

Humas tergolong rajin dan rutin membuat poster dan konten video berupa sebuah pesan informatif namun kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat karena dianggap tidak dibutuhkan informasi tersebut.

Hambatan Humas Polda NTT dalam mempublikasikan informasi kepada masyarakat adalah minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengetahui informasi mengenai instansi kepolisian. Masyarakat seringkali acuh dan menganggap informasi terkait instansi kepolisian tidak terlalu penting untuk diketahui.

Hambatan yang lain tuh biasanya kendala di jaringan. Soalnya di beberapa tempat di kabupaten tuh masih susah akses jaringan internet. Jadi mungkin itu yang buat dong sonde tau informasi.

Ma kan covid juga to jadi untuk sekarang memang masih fokus online semua”.

Jaringan di daerah Kabupaten yang masih minim merupakan salah satu hambatan yang dirasakan Humas Polda NTT. Dikarenakan hal itu membuat masyarakat tidak dapat mengakses internet sehingga menyulitkan Humas memberikan informasi dengan kegiatan publikasi.

Hambatan kedua menurut Kasubbid Penmas Iptu Victor Nenotek yaitu berasal dari jaringan internet, mengingat di wilayah NTT khususnya Kabupaten Kupang masih

(12)

belum mendapatkan akses jaringan dan internet yang memadai sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan mendapatkan informasi mengenai Polda NTT karena tidak bisa mengakses media social yang berbasis online.

Selain keterangan dari pihak Humas Polda NTT, penulis juga melakukan wawancara mendalam kepada masyarakat yakni aparat desa, Evie Passu dan mahasiswa Felpina Kaseh. Dalam keterangan tersebut, disampaikan bahwa memang ditempat tinggal mereka yakni Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang masih minim dalam mengakses jaringan internet. Selain itu dikatakan juga masyarakat lebih percaya dengan komunikasi yang berlatar (Mouth to Mouth) karena tidak harus mengakses internet untuk mendapatkan informasi. Alasan lainnya yakni karena masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan handphone Android.

“Su tau di ketong jaringan parah. Jangankan buka IG ko liat informasi, ketong buka google deng wa sa ada susah mah mo buka ig ko liat postingan Humas le”.

“B biasa dengar orang dong kalo kena tilang ko cerita baru b percaya. Ko abis ketong yang buta deng itu barang dong tuh( hp, instagram) mau tau karmana ko buka”.

Untuk mengakses google saja susah, apalagi untuk mengakses instagram yang membutuhkan jaringan internet yang bagus. Biasanya mengandalkan cerita dari orang lain untuk mendapatkan informasi, seperti informasi adanya operasi penilangan gabungan. Terlepas dari hal itu, masyarakat juga tidak mengetahui cara menggunakan android dan mengakses informasi melalui aplikasi instagram.

Berdasarkan dari pernyataan-pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor yang melatarbelakangi hambatan dari proses publikasi informasi yang dilakukan Humas Polda NTT yaitu, faktor masyarakat yang masih minim akan pentingnya sebuah informasi dari dinas kepolisian, faktor jaringan dan layanan internet yang belum memadai di wilayah Kabupaten Kupang dan faktor pengetahuan masyarakat menggunakan smartphone dan juga mengakses aplikasi berbasis online seperti Instagram, Youtube maupun website.

Dengan kondisi wilayah yang tidak bisa mengakses internet dan mnimnya pemahaman mengenai penggunaan smartphone dan cara pengoperasian aplikasi informatif seperti Instagram, masyarakat dalam kesehariannya tidak bisa mendapatkan

(13)

haknya dalam hal untuk mendapatkan pelayanan mengenai keterbukaan informasi publik.

Strategi Digital Humas Polda NTT

Dengan melakukan kegiatan publikasi melalui media seperti website dan berbasis online maka seharusnya akan lebih memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi kapan pun dan dimanapun. Dengan begitu masyarakat akan mendapatkan haknya untuk mengetahui pelayanan informasi dari kepolisian. Selain itu, masyarakat pun tentunya lebih dimudahkan untuk memberikan masukan demi perbaikan Polri dalam meningkatkan pelayanannya.

Namun dengan melakukan kegiatan publikasi hanya efektif kepada masyarakat di perkotaan, untuk itu Humas Polda NTT dalam terobosan barunya membuat program baru yaitu Turangga Podcast, dimana pembahasan di Turangga Podcast juga berisi informasi-informasi terbaru dinas kepolisian yang dijelaskan secara langsung oleh narasumber-narasumber terpercaya. Selain program Turangga Podcast, Humas Polda NTT juga mempunyai solusi bekerjasama dengan media massa NTT yang mendukung kegiatan publikasi Humas. Media massa dalam penelitian ini yaitu media elektronik melalui televisi TVRI, saluran radio RRI dan media cetak seperti Pos Kupang, Antara News, Victory News, Timex Kupang, Digtara.com, Radar Ntt, Pena Timor, Kata Ntt, Rakyat Ntt dan sebagainya yang digunakan sebagai alat atau jembatan komunikasi untuk menyampaikan informasi yang diberikan Humas Polda NTT kepada masyarakat.

Jika masyarakat di desa Niukbaun keberatan mendapatkan informasi melalui kegiatan publikasi dengan memerlukan jaringan internet, maka masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan mendengarkan saluran radio, menonton televisi, ataupun membaca koran cetak yang telah diterbitkan.

Selain itu, masyarakat dapat melihat informasi dengan membaca poster dan banner yang dibuat Humas Polda NTT dan dipasang di titik-titik pusat keramaian seperti pasar, lampu merah, pinggir jalan dan jika masyarakat ada dalam kondisi bahaya dan mendesak bisa menggunalan layanan darurat 110 untuk meminta bantuan pihak kepolisian. Halhal tersebut dilakukan guna memudahkan masyarakat dapat mengetahui informasi tanpa harus menggunakan internet.

Beberapa hal diatas merupakan solusi sementara dari persoalan masyarakat di desa Niukbaun, untuk solusi permanen nya jika memungkinkan maka hal ini akan disampaikan kepada pihak pemerintahan provinsi NTT agar dapat melakukan

(14)

pembangunan jaringan bersama PT PLN, di desa-desa terpelosok di wilayah NTT agar mendapatkan pelayanan akses jaringan internet yang memadai, sehingga masyarakat perkotaan maupun pedesaan dapat secara menyeluruh mendapatkan jaringan internet yang layak. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa efektifnya suatu proses komunikasi ada jika pesan yang disampaikan dapat menghasilkan sebuah efek yang nyata. Pesan adalah pokok dari suatu proses komunikasi yang berfungsi untuk menciptakan wadah ide yang sama bagi komunikator dan komunikan sehingga tercipta tujuan komunikasi yang di inginkan. Pada umumnya proses komunikasi yang terjadi antara Humas Polda NTT dan masyarakat berjalan secara langsung atau face to face tanpa membutuhkan media atau saluran lainnya sebagai perantara, untuk itu hambatan sebuah informasi dapat dikatakan tidak terlalu besar dan berpotensi mengganggu jika strategi komunikasi yang digunakan telah dirancang dan disusun dengan baik sehingga dapat secara kredibel disampaikan oleh komunikator agar mampu menjawab kebutuhan sang komunikan dalam konteks ini adalah masyarakat.

Menurut Everett M. Roger dan W. Floyd Shoemaker, dalam bukunya berjudul Communication of innovation. New York : Free Press (1971), yaitu : “A common model of communication is that source, message, channel, receiver, and effect” yang dikenal dengan model proses komunikasi dengan formula S-M-C-R-E, seorang sender(source) harus memiliki elemen-elemen untuk mendukung dan merancang suatu komunikasi yakni, ketrampilan komunikasi, sikap, wasawasan atau pengetahuan yang luas dan pemahaman yang baik tentang budaya. Dimana jika komunikator memiliki hal tersebut dan memperhatikan kemampuan berkomunikasi yang didukung dengan sikap, wawasan yang luas serta memahami budaya komunikan nya maka niscaya suatu pesan (Message) akan mampu disampaikan dan diterima dengan lebih baik. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa adanya hambatan yang mempengaruhi saluran (Channel) dikarenakan hal-hal yang mempengaruhi suatu wilayah seperti jaringan dan listrik.

Namun jika dengan tepat memilih saluran/media yang ditargetkan sesuai dengan audiensnya maka individu yang menerima pesan (Receiver) dapat menghasilkan sebuah pemahaman dengan mengirimkan feedback. Dalam penelitian ini feedback yang dimaksud adalah mengenai penerimaan sampai pada tahapan masyarakat mengetahui informasi yang diberikan, minimal dengan menaati peraturan dan himbauan yang diberikan dalam hal berkenderaan dan berlalu lintas. Selain itu, jika masyarakat mengetahui informasi dan memberikan feedback, maka akan semakin memudahkan dan

(15)

membantu dinas kepolisian dalam melayani serta mengayomi masyarakat dalam hal pemberian informasi publik.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan Sebagai bentuk implementasi dan pelaksanaan Undang –Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi Publik dan pemberian informasi kepada masyarakat, dimana untuk mendukung system pelayanan informasi tersebut Bidhumas menggunakan jaringan internet Polri dan website. Layanan Pengelolaan Informasi Publik kepada masyarakat telah di tunjuk pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID) pada setiap satker di Polda NTT dan untuk satwil, melekat pada Kasubaghumas sedangkan di tingkat Polsek pada Kasihumas.

Dalam menyampaikkan informasi kepada masyarakat, upaya yang dilakukan oleh bidang Humas Polda NTT yakni dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada kegiatan publikasi. Dimana dalam kegiatan publikasi ini berisi informasi mengenai kegiatan dan pelayanan kepolisian kepada masyarakat yang dituangkan dalam sebuah produk konten seperti, berita, video, poster, foto, majalah dan meme yang disertai dengan pemberian caption pada setiap kiriman yang di publikasikan pada setiap media sosial resmi Humas Polda NTT seperti website, Instagram, facebook, Tribbrata News dan Youtube.

Humas Polda NTT telah melakukan berbagai strategi kehumasan baik itu secara internal maupun eksternal, strategi lama maupun baru sebagai bentuk pelayanan keterbukaan informasi publik. Strategi lama yang dilakukan yakni melalui kegiatan publikasi informasi melalui sosial media mapun website yang berbasis online.

Sedangkan strategi baru yang dilakukan yaitu dengan bekerja sama dengan pihak media yang ada di wilayah NTT melalui kegiatan keluar dengan menggunakan media publikasi seperti media brosur,banner, televisi nasional, radio, koran. Selain itu kegiatan secara langsung seperti kegiatan penyuluhan, sosialisasi, bhakti sosial, kunjungan Kapolda juga telah dilaksanakan dalam menyampaikan informasi mengenai instansi kepolisian Polda NTT kepada masyarakat. Namun dikarenakan situasi pandemi covid-19 maka diketahui strategi humas polda NTT dalam mempublikasikan informasi terkait dengan keterbukaan informasi publik terhadap masyarakat yang wilayah tempat tinggalnya minim untuk mengakses internet masih belum terlalu cukup efektif untuk dilakukan selama masih adanya pandemi covid-19. Oleh sebab itu strategi ini masih perlu

(16)

ditingkatkan agar dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan sehingga keberlangsungan kegiatan untuk mempublikasikan informasi dapat mencapai tujuan yang diinginkan kedua belah pihak, baik itu Polda NTT maupun masyarakat desa Niukbaun.

Penulis berharap Instansi Polda NTT melalui Humas Polda NTT perlu untuk memperhatikan terkait dengan media-media yang digunakan untuk melakukan kegiatan publikasi informasi, mengevaluasi dan mengoptimalkan anggota kepolisian yang ditugaskan di pelosok-pelosok agar lebih memahami kebutuhan masyarakatnya.

Dikarenakan masih minimnya pemahaman dan kesadaran masyarakat desa Niukbaun dalam hal perkembangan teknologi maka perlu untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait dengan setiap penggunaan media yang dipakai untuk kegiatan publikasi informasi, sehingga masyarakat dapat memiliki pemahaman untuk mengakses media tersebut.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Gede Febriana Wisnu Saputra. (2021). PERAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA DALAM PUBLIKASI Abstrak. Urnal Mahasiswa Hukum Saraswati (Jumaha).

Herika, D., & Ruliana, P. (2018). Public Relations dalam Membina Hubungan dengan Media.

InterKomunika, 3. https://doi.org/10.33376/ik.v3i1.149

Hulasoh, E.-. (2018). Aktivitas Humas Polri Dalam Membina Hubungan Dengan Pers.

JURNAL SeMaRaK, 1. https://doi.org/10.32493/smk.v1i1.1245

Khatimah, H. (2018). POSISI DAN PERAN MEDIA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT. Tasamuh.

Luqman, Y. (2013). Peran dan posisi hubungan masyarakat sebagai fungsi manajemen Perguruan Tinggi Negeri di Semarang. Jurnal Interaksi, Ilmu Komunikasi UNDIP, 2.

Medi Trilaksono Dwi Abadi. (2017). Peran Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Manajemen Komunikasi Publik. CHANNEL, 2.

Meliala, R. M., & Yanah, Y. (2020). Strategi Humas Polresta Depok Dalam Melayani Masyarakat Melalui Aplikasi Halo Polisi Public Relations Strategy of Polresta Depok in Servicing Society through Halo Polisi Application. Jurnal PIKMA: Publikasi Media Dan Cinema, 3.

Mulyasantosa, N. (n.d.). REPRESENTASI PERAN POLRI DALAM PERSEPSI KHALAYAK. Universitas Sahid.

Prabowo, T. L., & Irwansyah, I. (2018). Media Komunikasi Digital PolisiKu: Pelayanan Publik Polri kepada Masyarakat. Jurnal Studi Komunikasi (Indonesian Journal of Communications Studies), 2. https://doi.org/10.25139/jsk.v2i3.1174

Purnamasari, R. I. I. (2017). Peran humas polri dalam meningkatkan citra kepolisian.

Universitas Mercu Buana.

Rahutomo, A. N. (2013). STRATEGI HUMAS DALAM MEMPUBLIKASIKAN INFORMASI PELAYANAN PUBLIK PADA PT PLN (PERSERO) RAYON DI SAMARINDA ILIR (Vol.

1, Issue 2).

Sari, K. (2015). AKTIVITAS MEDIA RELATIONS HUMAS KEPOLISIAN ( STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF PADA BAGIAN HUMAS DI POLRESTA SURAKARTA DALAM MENJALANKAN MEDIA RELATIONS ).

Sumandjaya, A. (2016). Implementasi Kebijakan Keterbukaan Informasi Publik di Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Sulteng. Jurnal Katalogis.

Yuliandari, D. N. (2019). Peran Humas Polri (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Peranan Humas yang di jalankan Polri dalam membangun institutional image Polri Subbag Humas Kepolisiana Resort Kota Surakarta). Universitas Sebelas Maret.

Yuliawati, & Irawan, Pera, E. (2016). Peran Cyber Public Relations Humas Polri Publik Secara

(18)

Online. Jurnal Politikom Indonesia, 1(1), 4.

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun pinjaman kumulatif untuk HIV/AIDS di wilayah ini mencapai lebih dari 100 juta dollar, yang membuat Bank Dunia menjadi donor proyek HIV/AIDS yang penting, struktur

1) Disiapkan alat, bahan, tenaga kerja dan blok yang akan dilakukan panen, agar tidak ada kesalahan dalam bekerja. 2) Pengorganisasian panen terdiri dari 1 orang mandor panen,

Bab ini merupakan pokok dari pembahasan penulisan penelitian yang dilakukan, yakni meliputi analisis terhadap metode penentuan bujur tempat menggunakan tengah gerhana

Prosedur tertulis dalam hal ini adalah seluruh kegiatan atau aktifitas dalam produksi yang disesuaikan dengan proses bisnis perusahaan yang menjamin semua bahan,

PERANCANGAN BASIS DATA EKSPLORASI BERBASIS OBJEK STUDI KASUS KONDUR PETRULIUM SA, bahwa sistem informasi tersebut mampu menghasilkan format laporan, dapat membantu bagian

Salah satu permasalahan dan tantangan pembangunan adalah memacu dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang selalu dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan

17 Pada block diagram ini, high period yang berasal dari block diagram otomatis/manual rudder menjadi parameter high period untuk membangkitkan sinyal PWM yang

Aplikasi pupuk organik yang di- perkaya dengan mikrob aktivator ini juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman cabai terhadap serangan hama dan penyakit.Tanaman yang