• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA REDD+ hingga menjadi isu perubahan iklim. Isu perubahan iklim ini semakin hangat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA REDD+ hingga menjadi isu perubahan iklim. Isu perubahan iklim ini semakin hangat"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

30 BAB II

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA REDD+

Pada bab 2 ini penulis menjabarkan latar belakang terbentuknya REDD+

yang diawali dengan timbulnya permasalahan degradasi dan deforestasi hutan hingga menjadi isu perubahan iklim. Isu perubahan iklim ini semakin hangat diperbincangkan sehingga membuat terbentuknya konvensi perubahan iklim yang pertama kali adalah IPCC yang berawal IPCC memberikan dokumentasi hasil penelitiannya yang kemudian dibentuk lagi konvensi yaitu INC/FCC. INC/FCC ini terbentuk dikarenakan majelis umum PBB ingin memiliki wadah negoisasi antar para Menteri. Permasalahan perubahan iklim semakin berkembang tidak lagi menjadi isu melainkan sudah harus dilakukan berupa tindakan yang kemudian disusul dengan terbentuknya UNFCCC yang bekerja menangani permasalahan perubahan iklim. UNFCCC mengadopsi Protokol Kyoto sebagai mekanismenya yang menjalankan pengurangan emisi yang menfokuskan kepada negara industri.

Isi dari substansi Protokol Kyoto diperdebatkan kembali karena dianggap kurang dalam penanganan pengurangan emisi yang kemudian muncullah mekanisme baru yaitu REDD+

2.1 Deforestasi, Degradasi Hutan, dan Isu Perubahan Iklim

Deforestasi dan degradasi hutan adalah kegiatan penggundulan hutan dan pemanfaatan lahan. Kegiatan penggundulan hutan ini dilakukan dengan cara menebang pohon, membakar pohon atau mengubah hutan menjadi padang rumput,

(2)

31

lahan pertanian, hingga memproduksi kayu. Sedangkan kegiatan pemanfaatan lahan dilakukan dengan cara yang hampir sama dengan penggundulan hutan, namun perbedaannya pemanfaatan lahan mempunyai dampak pada pengubahan hutan yaitu menghasilkan gas yang berlebihan pada atmosfer dan memberikan dampak buruk bagi bumi.1

Deforestasi dengan kegiatan penggundulan atau penebangan hutan menjadi cara untuk mencapai tujuan yaitu membangun ekonomi baik pada tahap awal maupun akhir pengembangan ekonomi suatu negara. Hutan ditebang untuk menghasilkan kayu, makanan dan sumber energi lain pada masa awal pengembangan ekonomi negara, kemudian hutan dieksploitasi kembali untuk menghasilkan minyak, bahan bakar hayati, minyak dan gas pada masa akhir pembangunan ekonomi negara.2 Penyebab terjadinya deforestasi dan degradasi dikarenakan beberapa hal, namun berdeda daerah akan berbeda pula alasan peyebabnya. Namun, penyebab utama terkait deforestasi dan degradasi adalah perubahan hutan menjadi padang rumput peternakan, pertanian, industri, serta pembalakan kayu tropis untuk keperluan eksport.3 Selama beberapa tahun terakhir hasil panen untuk bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar dan komoditas lain yang mengancam keberlangsungan hutan mengalami peningkatan jumlah permintaan, sehingga berdampak pada lebih dari 50% deforestasi dan 60%

1 Susan Stone, Mario Chacon & Patricia frederick, 2010, Perubahan Iklim dan Peran Hutan (Manual Komunitas), American: Conservation International, hal. 13-18.

2 Mario Rautner, Matt Leggett & Frances Davis, 2013, Buku Kecil Pendorong BesarDeforestasi:

24 Katalis untuk Mengurangi Deforestasi Hutan Tropis dari Resiko Komoditas Hutan, London:

Oxford, hal. 6.

3 Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi (REDD), Dokumen Diskusi dari Climate Action Network (CAN), November 2007, hal. 2.

(3)

32

degradasi hutan di negara tropis dan negara subtropis.4 Hal ini berdampak pada perubahan iklim, jasa ekosistem (lingkungan) dan keberlanjutan pembangunan ekonomi jangka panjang sebuah negara.

Pohon mengandung emisi karbondioksida, jika pohon dibakar maka emisi karbondioksida akan lepas dan berubah menjadi karbon dengan proses yang sangat cepat. Jika hal ini terus terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka deforestasi hutan tidak dapat dihindari. Sejak tahun 1980 hingga tahun 1990, data peliputan tentang REDD+ menunjukkan angka pada 8 juta hingga 16 juta hektar hutan dunia dirusak setiap tahunnya, dari perusakan ini terjadi pelepasan karbon ke atmosfer sejumlah 0,8 milyar hingga 2,4 milyar ton karbon. Data tahun selanjutnya yaitu tahun 1990 sampai tahun 2005 sekitar 13 juta hektar per tahun lahan hutan berubah menjadi lahan pertanian. Setiap tahun terdapat sekitar 1,7 juta ton karbon terlepas dari pohon akibat dari pemanfaatan lahan terutama di hutan negara tropis. Angka ini mewakili 17% emisi global tahunan, dimana angaka 17% tersebut merupakan angka besar yang melebihi emisi dari sektor transportasi dunia.5

Total wilayah hutan dunia mencapai sekitar 4 milyar hektar area, dimana area hutan ini merupakan 30% dari wilayah daratan bumi, sisanya 70% merupakan tempat pemukiman bagi penduduk bumi. Dari total 4 milyar hektar area hutan, 56%

hutan berlokasi di wilayah tropis dan subtropis, sisanya 44% lokasi hutan menyebar di belahan dunia. Hutan menjadi sumber kehidupan bagi penduduk dunia, sekitar 1,2 milyar penduduk dunia menggantungkan hidup dari hasil hutan, 2 milyar

4 Mario Rautner, Matt Leggett & Frances Davis , Op. Cit., hal.14.

5. Peliputan Tentang REDD+, Climate Change Media Partnership, November 2009.

(4)

33

penduduk dunia menggunakan bahan bakar biomasa terutama kayu bakar untuk keperluan memasak dan menghangatkan rumah. Jumlah ini merupakan sepertiga dari populasi penduduk dunia.6

Deforestasi dapat diketahui dengan cara mengukur menggunakan beberapa intrumen penginderaan jauh (remote sensing) yang digabungkan dengan survei lapangan. Selain itu biomasa hutan juga harus dihitung guna menghitung emisi.

Ukuran deforestasi dan biomasa hutan bergantung pada kemampuan teknologi dan pengawasan hutan, sehingga pada setiap negara tropis akan dihasilkan angka yang berbeda-beda.7 Metodologi pengukuran deforestasi mempunyai banyak cara, namun hingga saat ini yang terus berhasil mengukur deforestasi setiap tahun adalah negara Brazil dan India, cara yang digunakan adalah dengan menggunakan data dari satelit yang beresolusi tinggi. Intergovernmental Panel on climate Change (IPCC) telah menyetujui metode standard untuk mengukur emisi dari deforestasi, yaitu dengan cara semakin tinggi resolusi dari satelit maka semakin mudah untuk mengukur deforestasi. Jika mengukur deforestasi dapat dilakukan melalui data dari satelit, maka untuk mengetahui kadar ukuran degradasi yang terbaik adalah dnegan cara melakukan pengukuran di lapangan secara langsung.8

Isu pembahasan emisi karbondioksida pertama kali dibahas oleh ilmuwan Swedia yaitu Svante Ahrrenius pada tahun 1898. Svante mengatakan bahwa emisi karbondioksida bisa menjadi penyebab utama untuk pemanasan global. Namun seiring kemunculan isu lainnya, isu pemanasan global kembali tenggelam. Pada

6Ibid.

7 Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi (REDD), Op. Cit., hal. 2-3.

8 Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi (REDD), Op. Cit., hal. 3-4.

(5)

34

tahun 1950, sebuah Koran di Amerika yaitu Saturday Evening Post memberitakan isu pemanasan global, namun isu ini kembali dianggap sebagai isu yang tidak terlalu penting. Hingga pada tahun 1960, para peneliti mendebatkan isu ilmiah baru seperti perang nuklir, namun hanya sedikit orang yang mengetahui isu tersebut.

Ketika perdebatan ilmiah semakin berkembang pada tahun 1970 isu terkait pendinginan global banyak diperbincangkan oleh banyak orang. Isu pemanasan global kurang menarik banyak pehatian penduduk dunia, karena belum ada pihak yang bisa membuktikan bahwa pemanasan global dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia.9 Pada akhir tahun 1970 National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengkonfirmasi bahwa kadar karbondioksida terus bertambah di udara, maka hal ini dapat menjadi pemicu utama atas pemanasan global. Uji coba model berbasis komputer kemudian berkembang pesat, model- model yang dapat memberikan informasi dan mengkonfirmasi terkait isu pemanasan global terus berjalan. Hingga, pada akhirnya ditemukan sebuah perubahan di atmosfer secara empirik terkait kebenaran simulasi-simulasi komputer dengan temuan-temuan ilmiah.10

Situasi menjadi serius pada tahun 1985 ketika ditemukan lubang pada lapisan ozon, meskipun masih belum ditemukan perbedaan antara pengurangan ozon dengan perubahan iklim, namun penemuan ini menjadi sebuah tanda bahwa atmosfer bumi telah mengalami kerentanan dengan adanya bukti nyata berdasarkan foto dari satelit. Setelah penemuan tersebut, isu perubahan iklim menjadi isu yang

9 Bernadinus Steni, 2010, Perubahan Iklim REDD dan Perdebatan Hak: Dari Bali sampai Copenhagen, Perkumpulan HuMa, hal. 6.

10 Ibid.

(6)

35

wajib untuk diperdebatkan.11 Menurut beberapa politisi konservatisf terkait isu perubahan iklim tidaklah perlu dibahas menjadi isu yang istimewa, namun disisi lain para politisi tingkat global telah melakukan perundingan tentang isu perubahan iklim. Dalam perundingan tersebut, telah dihasilkan analisa kuat dari negara-negara bagian selatan untuk menekan negara maju agar keadilan global terwujud lewat pembagian sumber daya yang merata. Negara-negara selatan menekankan bahwa isu perubahan iklim merupakan bukti yang sangat kuat atas ketidakadilan pembangunan, karena penyebab utama dari peningkatan emisi global adalah penggunaan sumber daya bumi yang boros oleh negara maju yang mengakibatkan dampak negatif bagi negara berkembang. Oleh karena itu, karena peningkatan penemuan ilmiah mengenai perubahan iklim semakin meningkat juga maka diperlukannya sebuah perundingan melalui konferensi.12

2.2 IPCC dan INC/FCC

Efek penemuan ilmiah atas perubahan iklim yang pada akhirnya membuat negara-negara berkembang dan negara maju sepakat untuk membentuk konferensi antar pemerintah yang fokus pada perubahan iklim. Tahun 1998 konferensi pertama diselenggarakan di Toronto Kanada, konferensi ini membahas kerangka kerja global yang komprehensif untuk melindungi atmosfer. Mengarah pada proposal yang diajukan, Majelis Umum PBB memberikan respon terkait perubahan iklim dengan mengadopsi resolusi 43/53. Resolusi ini berisi tentang dua aspek yaitu pengakuan atas perubahan iklim yang menjadi masalah bersama karena iklim

11 Ibid., hal. 7.

12 Ibid.

(7)

36

merupakan msalah untuk keberlangsungan kehidupan, dan kedua adalah penentuan atas tindakan yang perlu diambil dalam jangka waktu yang tepat untuk diambil dalam kerangka kerja global untuk menghadapi perubahan iklim.13 Setelah mengidentifikasi perubahan iklim sebagai masalah penting pada tahun 1979 disusun sebuah Program Iklim Dunia (World Climate Programme). Para peneliti terus melakukan penelitian ilmiah pada perubahan iklim untuk mendukung pembuatan kebijakan, UNEP dan WMO melanjutkan dengan membentuk IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change).14

Tugas dari IPCC adalah untuk melakukan asesmen terhadap pengetahuan tentang sistem iklim dan perubahan iklim lingkungan, serta dampak sosial dan ekonomi dari perubahan ilklim. Laporan pertama yang dikerjakan oleh IPCC pada tahun 1990, laporan ini berisi tentang persetujuan dari para ilmuwan atas kajian ilmiah dari perubahan iklim. Laporan ini memberikan efek kuat bagi pembuat kebijakan publik dan berpengaruh terhadap negosiasi atas konvensi perubahan iklim.15 Tahun 1990 konferensi kedua IPCC diselenggarakan di Genewa yang dihadiri oleh para menteri-menteri negara, dalam pertemuan konferensi ini dilahirkan Deklarasi Menteri yang berisi upaya nyata termasuk rekomendasi untuk membentuk perjanjian kerangka kerja mengenai perubahan iklim. Isi dari deklarasi tersebut diantaranya yaitu pertama disepakati bahwa tidak ada target spesifik atas pengurangan emisi, kedua dukungan terhadap beberapa prinsip16 dalam

13 Ibid., hal. 8.

14 Ibid., hal. 9.

15 Ibid.

16 Prinsip tersebut yakni perubahan iklim sebagai masalah bersama umat manusia, pentingnya keadilan melalui prinsip tanggung jawab yang sama namun secara khusus dibedakan berdasarkan

(8)

37

pengembangan Konvensi Perubahan Iklim, dan ketiga jika terjadi ancaman serius atau kerugian yang tidak bisa dihindari sehingga kurangnya kepastian ilmiah tidak akan menjadi alasan untuk menunda tindakan efektif untuk mencegah mutu lingkungan.17 Setelah dibentuk IPCC dan memberikan hasil nyata dari penelitian para ilmuwan, masyarakat internasional mulai menunjukkan reaksi positif meskipun tidak secara langsung namun banyak berita tentang pemanasan global yang diberitakan secara terus-menerus. Sehingga, karena pemberitaan yang berkelanjutan Majelis Umum PBB pada tahun 1990 melakukan perundingan untuk membentuk sebuah perjanjian. Hasilnya didapatkan yaitu resolusi 45/21 bahwa Majelis Umum PBB membentuk The Intergovernmental Negotiating Committee for a Framework Convention on climate Change (INC/FCCC).

INC/FCCC merupakan wadah utama dan satu-satunya untuk proses negosiasi antar pemerintah di bawah naungan Majelis Umum PBB. Sejak Februari 1991 hingga Mei 1992 telah dilaksanakan empat kali pertemuan oleh INC/FCCC.

Dalam pertemuan ini disusunlah sebuah kerangka kerja perubahan iklim dengan waktu yang terbatas agar bisa mencapai pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Bumi di Rio de Jeneiro Brazil tahun 1992. Setelah pembentukan INC/FCCC yang hanya 15 bulan, pada bulan Mei 1992 INC akhirnya memberikan draf akhir untuk diajukan ke New York yang diakibatkan karena perdebatan antar negara untuk mencapai kepentingan masing-masing yang membuat pada pertemuan berikutnya membentuk kerangka kerja baru.18

kemampuan dengan menimbang level pembangunan yang berbeda, dan terakhir prinsip pembangunan berkelanjutan dan kehati-hatian dini.

17 Ibid., hal. 10-11.

18 Ibid.

(9)

38 2.3 UNFCCC

Efek yang terjadi pada konvensi INC/FCC membuat masing-masing negara sepakat untuk melakukan perubahan. Perubahan itu terjadi pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi yang diadakan di Brazil tepatnya Rio De Janeiro pada tahun 1992 telah menghasilkan konvensi kerangka kerja Perserikatan Bangsa- Bangsa yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang bergerak dibidang perubahan iklim.19 UNFCCC yang telah dibentuk oleh United Nation Conference on Environment and Development (UNCED) dalam kerangka kerja PBB terus mengadakan pertemuan untuk melakukan negoisasi antar negara hingga pada tahun 1994 dapat berjalan dengan ditandatangani oleh 194 negara.20 Konvensi perubahan iklim ini untuk menjalankan progresnya juga memiliki kekuatan hukum sejak di tahun 1994 yang dimana negara yang meratifikasi di bagi menjadi 2 kelompok yaitu ada Negara Annex I dan Negara Non-Annex I. Negara Annex I merupakan negara sebagai penyumbang emisi GRK sejak pada masa revolusi industri, sedangkan negara Non-Annex I adalah negara yang tidak banyak memberikan kontribusi pada emisi GRK dan juga merupakan negara yang memiliki penghasilan rendah terhadap ekonominya.21

UNFCCC dalam melakukan pertemuan untuk mengumpulkan masing – masing negara memiliki badan tersendiri yang akan menilai setiap progres

19 Dr. Ir. Nur Masripatin, M.For.Sc, 2016, Perubahan Iklim, Perjanjian Paris dan Nationally Determined Contribution, Edisi Pertama, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hal.9.

20 Cynthia Yukiko,Muhammad Iqbal,dkk, 2012, United Nations Framework Convention on Climate Change dan protokol kyoto,Paper Lingkungan Internasional,Depok: Universitas Indonesia, Fakultas Hukum,hal.2.

21 Op. Cit.,

(10)

39

mengenai perubahan iklim dan menyetujui atau tidaknya dalam mengambil suatu tindakan pada kedepannya yaitu badan yang disebut dengan Conferences of the Parties (COP). COP ini merupakan badan tertinggi dari UNFCCC yang terdiri dari menteri lingkungan.22 Selain itu UNFCCC juga memiliki dua badan yang permanen yang memiliki urusan-urusan tertentu yaitu Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Subsidiary Body for Implementation (SBI).

SBSTA adalah badan yang memberikan saran kepada COP mengenai teknologi, metodologi, dan ilmiah. Badan ini memiliki tugas utama yang dilakukan yaitu dengan mempromosikan perkembangan dan tranfer teknologi yang nantinya akan memberikan efek pada ramah lingkungan, ada juga perkejaan teknis yang harus dilakukan, selain itu badan ini harus meningkatkan pedoman dalam menyiapkan komunikasi nasional dan investasi emisi. Pekerjaan yang dilakukan tidak hanya itu badan SBSTA untuk mendapatkan perkembangan mengenai perubahan iklim juga harus bergabung pada organisasi-organisasi internasioal yang terkait agar dapat memberikan pembangunan yang berkelanjutan. Kemudian untuk badan yang kedua SBI memiliki pekerjaan yang hampir sama dengan SBSTA yaitu memberikan saran pada COP tetapi saran dari SBI mengenai mencakup segala hal yang berhubungan dengan penerapan pada konvensi. SBI memiliki juga tugas utama yaitu menguji informasi mengenai inventasi dari komunikasi nasional ataupun inventasi dari

22 Angky Banggaditya,Aliflanya Arisandi M,dkk, 2016, Perubahan Iklim: Aspek-Aspek Penting di UNFCCC, Protokol Kyoto, Paris Agreement, dan Peran Indonesia Terkait Perubahan Iklim,Paper Lingkungan Internasional, Depok: Universitas Indonesia,Fakultas Hukum,hal.12.

(11)

40

masing-masing negara dengan tujuan untuk melihat efektifitas konvensi itu sendiri.23

Terbentuknya UNFCCC ini memiliki tujuan yang sudah tercakup pada pasal 2 UNFCCC yang menyebutkan bahwa :

“ The ultimate objective of this Convention and any related legal instruments that the Conference of the Parties may adopt is to achive, in accordance with the relevant provisions of the Convebtion, stabilization of greenhouse gas concentrations in the atmosphere at a level that would prevent dangerous anthropogenic interference with the climate system. Such a level should be achieved within a time frame sufficient to allow ecosystems to adapt naturally to climate change, to ensure that food production is not threatened and to enable economic development to proceed in a sustainable manner.”24

Pada pasal 2 menyatakan bahwa betapa pentingnya untuk memperhatikan dan mestabilkan gas emisi rumah kaca pada tingkat anthropogenic emission atau emisi yang telah dihasilkan dari kegiatan manusia yang nantinya akan membahayakan pada sistem iklim. Mencapai tingkat itu dibutuhkan kerangka waktu cukup dan diperlukannya komitmen atau dorongan seluruh masyarakat baik dari lokal, regional,atau pun global agar dapat menciptakan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan dan produksi pangan tidak terancam.25

UNFCCC untuk mencapai tujuannya yang diterapkan memiliki prinsip- prinsip dasar yang tertera pada pasal 3 UNFCCC 1992 yaitu :

23 UNFCCC Lembaga Dunia Yang Peduli Climate Change, Harfam,diakses dalam

http://harfam.co.id/UNFCCC-LEMBAGA-DUNIA-YANG-PEDULI-CLIMATE-CHANGE/

(11/7/2017, 17:00 WIB)

24 M. Oppenheimer & A. Petsonk, UNFCCC: Historical Origins, Recent Interpretations, Artikel 2, diakses dalam https://www.princeton.edu/step/people/faculty/michael-oppenheimer/recent-

publications/Article-2-of-the-UN-Framework-Convention-on-Climate-Change.pdf (11/7/2017, 19:51 WIB),hal. 18.

25 Andry Zulman Syofiar, 2015, Peran Masyarakat Adat Dalam Program Reducing Of Emission From Deforestation And Forest Degradation Plus (REDD+) Sebagai Implementasi United Nation Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) 1992 di Indonesia, Skripsi, Bandung:

Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandun, hal. 34.

(12)

41

1. Common but differentiated responsibilities

Pada pasal 3 ayat (1) UNFCCC 1992 menyatakan bahwa:

The Parties should protect the climate system for the benefit of present and future generations of humandkind, on the basis of equity and in accordance with their common but differentiated responbilities and respective capabilities. Accordingly, the developed country Parties should take the lead in combating climate change and the adverse effects thereof.”26

Pasal diatas menyebutkan bahwa setiap pihak memiliki tanggungjawab yang sama tetapi berbeda pada porsi dimana setiap pihak mempunyai kemampuan yang berbeda dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Sesungguhnya prinsip ini jika dilihat dari historis merupakan sebuah prinsip umum dalam lingkup hukum Internasional. Prinsip ini jika diperjelas memiliki maksud yang menyebutkan perbedaan porsi dari negara maju dan negara berkembang yang memiliki perbedaan dalam menjalankan tanggungjawabnya untuk mengatasi masalah lingkungan global pada aspek ekonomi dan teknologi yang mereka gunakan.27

2. The specific needs and special circumstance of developing countries Pada pasal 3 ayat (2) UNFCCC 1992 menyatakan bahwa:

“The specific needs and special circumstances of developing country Parties, especially those that are particularly vulnerable to the adverse effects of climate change, and of those Parties, especially developing country Parties, that would have to bear a disproportionate or abnormal burden under the Convention, should be given full consideration.”28

Prinsip ini memiliki aspek keadilan didalamnya yang menyebutkan dimana dalam mengatasi perubahan iklim tidak boleh memberikan beban kepada negara-

26 Ibid.

27 Ibid.

28 Ibid.,hal. 35.

(13)

42

negara yang mudah terkena dampak dari perubahan iklim seperti halnya negara berkembang yang masih melakukan upaya pada pembangunan pada ekonominya.

Maka dari itu pada prinsip ini negara maju diwajibkan memberikan bantuan kepada negara berkembang, apalagi pada negara yang sangat mudah terkena dari dampak perubahan iklim. Bantuan tersebut dapat melalui pendanaan adaptasi untuk mengatasi dari dampak-dampak yang terjadi.29

3. The Principle of the precautionary measures Pada pasal 3 ayat (3) UNFCCC 1992 menyatakan bahwa:

“The Parties should take precautionary measures to anticipate, prevent or minimize the causes of climate change and mitigate its adverse effects. Where there are threats of serious or irreversible damage, lack of full scientific certainty should not be used as a reason for postponing such measures, taking into account that policies and measures to deal with climate change should be cost-effective so as to ensure global benefits at the lowest possible cost. To achieve this, such policies and measures should take into account different socio-economic contexts, be comprehensive, cover all relevant sources, sinks and reservoirs of greenhouse gases and adaptation, and comprise all economic sectors. Efforts to address climate change may be carried out cooperatively by interested Parties.”30

Pada prinsip of the precautionary measures memiliki makna jika terjadi kelemahan pada pendekatan ilmiah tidak dapat dijadikan sebagai penundaan dalam menjalankan langkah pencegahan perubahan iklim, yang kemudian kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan dapat lebih efisien dan efektif dengan cara melihat dari hasil perbedaan skor pada aspek ekonomi-sosial yang dilanjutkan dengan perumusan secara lengkap.31

29 Ibid.

30 Ibid.

31 Muhamad Derry Alfikry, 2014, Sikap Amerika Serikat di Masa Pemerintahan Obama Dalam Negoisasi United Nations Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) di Copenhagen Tahun 2009, Skripsi, Jakarta: Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,hal. 26.

(14)

43

4. The principle of sustainable development

Pada pasal 3 ayat (4) UNFCCC 1992 menyatakan bahwa:

“ The Parties have a right to, and should, promote sustainable development.

Policies and measures to protect the climate system against human-induced change should be appropriate for the specific conditions of each Party and should be integrated with national development programmes, taking into account that economic development is essential for adopting measures to address climate change.”32

Pada prinsip sustainable development menekankan untuk menfaatkan sumber daya, pengembangan teknologi, dan arah investasi untuk lebih ditekankan pada aspek kebutuhan masa depan dan masa kini. Pada prinsip ini kebijakan atau langkah-langkah yang diambil harus sesuai pada porsinya masing-masing pihak dan mempertimbangkan pada perkembangan ekonomi dalam mengatasi masalah perubahan iklim.33

5. Principle cooperate to promote a supportive and open international economic system

Pada pasal 3 ayat (4) UNFCCC 1992 menyatakan bahwa:

“The Parties should cooperate to promote a supportive and open international economic system that would lead to sustainable economic growth and development in all Parties, particularly developing country Parties, thus enabling them better to address the problems of climate change. Measures taken to combat climate change, including unilateral ones, should not constitute a means of arbitrary or unjustifiable discrimination or a disguised restriction on international trade.”34

Prinsip cooperate to promote a supportive and open international economic system menyatakan bahwa bagi negara berkembang memiliki hak dalam

32 Ibid.,hal. 27.

33 Ibid.

34 Ibid.

(15)

44

pertumbuhan dan perkembangan. Maka dari itu, apapun tindakan yang mengandung sifat unilateral dan diskriminatif ataupun adanya pembatasan yang tidak resmi dan tidak sesuai pada peraturan perdagangan Internasional tidak diperbolehkan untuk di rancang dengan alasan apapun ataupun mengatasnamakan untuk mengatasi perubahan iklim.35

Ruang lingkup yang dikerjakan oleh UNFCCC diantaranya : Pertama, melakukan penelitian secara rutin ataupun observasi mengenai emisi gas rumah kaca dan emisi gas. Kedua, mengadakan kampanye, pelatihan, ataupun pendidikan tentang efek dari rumah kaca dan gas emisi. Ketiga, terus mengembangkan teknologi untuk mengurangi dampak yang diberikan dari efek rumah kaca dan gas emisi. Keempat, memberikan bantuan kepada negara-negara peserta tentang penerapan teknologi untuk pengurangan efek rumah kaca dan gas emisi. Kelima, menyediakan sarana berupa dana sumbangan untuk negara-negara yang membutuhkan bantuan ekonomi dalam mengurangi efek rumah kaca dan gas emisi.

Terakhir, membantu menyelesaikan masalah apabila ada dua negara atau lebih memiliki masalah sengketa dalam kerjasama untuk mengurangi efek rumah kaca dan gas emisi.36

UNFCCC juga memiliki komitmen kepada anggotanya di bawah konvensi yaitu : Pertama, anggota harus menyerahkan investasi nasional emisi dan penyerapan gas rumah kaca. Kedua, melakukan berbagai program nasional dengan tujuan untuk mengurangi efek dari perubahan iklim dan dapat cepat tanggap untuk

35 Ibid.,hal. 28.

36 Cynthia Yukiko, Op. Cit., hal.5

(16)

45

beradaptasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Ketiga, harus ada penguatan pada aspek penelitian ilmiah, teknisi, dan observasi pada sistem iklim dan cuaca, selain itu melakukan kampanye mengenai perkembangan teknologi yang relevan.

Keempat, melakukan kampanye melalui program pendidikan dan menciptakan kesadaran masyarakat mengenai perubahan dan dampak iklim. Terakhir, melakukan aktifitas secara berskala dengan menyampaikan komunikasi nasional yang lengkap dan luas mengenai kegiatan dalam melaksanakan komitmen berdasarkan konvensi. Selain itu untuk mencapai segala komitmen dan tujuan UNFCCC diperlukannya mekanisme pada suatu konvensi.37

2.3.1 Protokol Kyoto

Suatu mekanisme dalam konvensi sangat penting untuk dibentuk untuk menjalankan tujuan dan komitmen agar tercapai seperti halnya mekanisme konvensi perubahan iklim yang mempunyai tujuan untuk dapat menstabilkan GRK yang nantinya agar tidak menganggu sistem iklim, sehingga UNFCCC untuk mengimplementasikan tujuannya tersebut pada saat sidang ketiga atau yang disebut dengan COP-3 yang diadakan di Kyoto, Jepang, pada tahun 1997 akhirnya menghasilkan Protokol Kyoto untuk konvensi kerangka PBB mengenai perubahan iklim.38 UNFCCC melalui konferensi yang dilakukan pada COP-2 di Jenewa sudah melakukan tindakan sebagai titik awal bagi masing-masing negara untuk memutuskan dan mengadopsi suatu Protokol yang akan dijadikan sebagai langkah untuk mengatasi pemanasan global. Hasil dari pertemuan tersebut adalah deklarasi

37 Ibid.,

38 Dr. Ir. Nur Masripatin, M.For.Sc, Op. Cit., hal. 10

(17)

46

Jenewa yang terdiri dari 10 butir yang diantaranya terdapat yang relevan dengan Protokol Kyoto yaitu: Pertama, adanya pengakuan atau penerimaan dari para mentri dan ketua delegasi pada laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) untuk dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan tindakan terutama negara Annex I untuk mengurangi emisi GRK yang ditimbulkan. Kedua, mengajak berbagai pihak agar mau menjadi pendukung dalam pengembangan Protokol yang nantinya akan didasarkan pada temuan ilimiah. Ketiga, melakukan pemberitahuan kepada semua pihak agar mempercepat dalam melakukan negaoisasi mengenai teks Protokol yang secara hukum mengikat, sehingga nantinya dapat terealisasikan pada COP-3. Keempat, memberikan undangan kepada negara berkembang agar dapat mendukung dan juga dapat mengimplementasi konvensi ini.39

Protokol Kyoto merupakan suatu kesepakatan yang akan mengatur dan mengikat negara-negara industri secara hukum dalam upaya penurunan emisi GRK secara bersamaan ataupun individu.40Sejak tercetusnya Protokol Kyoto pada tahun 1997 yang tepatnya pada tanggal 11 Desember Protokol Kyoto belum sepenuhnya mendapat dukungan, kemudian mulai dibuka kembali pada tanggal 16 Maret 1998 untuk pendatanganan negara-negara lain yang ingin mendukung yang bertempatkan di Markas Besar PBB, New York. Apabila ada negara pihak yang tidak ikut mendatangani tetap dapat mengakses Protokol Kyoto ini setiap saat yang sudah tertera pada pasal 25 bahwa protokol ini akan berjalan efektif 90 hari setelah

39 Debora Ra Naiborhu, 2010, Pemanasan Global Di Indonesia Di Tinjau Dari Protokol Kyoto, Skripsi, Medan: Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, hal.37-38

40 Fajar Khaifi Rizky, 2011, Beberapa Prinsip Protokol Kyoto Dalam Hubungannya Dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan pengelolaan lingkungan Hidup, Skripsi, Medan: Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, hal. 18

(18)

47

mendapat ratifikasi sedikitnya 55 negara. Persetujuan ini mulai berlaku semenjak pada tahun 2005 setelah diratifikasi oleh Rusia pada tahun 2004 dan semenjak itu Protokol telah ditandatangani oleh 84 negara.41

Protokol Kyoto memiliki suatu ketentuan didalamnya untuk mengikat negara-negara peratifikasi terutama pada negara maju. Ketentuan tersebut berupa komitmen atau target penurunan emisi untuk negara-negara maju yang telah diatur dalam pasal 3 dan 4. Mencapai komitmen tersebut Protokol Kyoto menyediakan mekanisme yang sudah tercantum pada pasal 6, 12, dan 17. Pada pasal 3 ini mengandung hukum yang mengikat, adanya jatah emisi setiap negara Annex I, dan adanya periode komitmen. Pasal 3 terbagi menjadi beberapa bagian seperti contohnya pasal 3.1 yang mengatur sifat mengikatnya kewajiban atau target penurunan emisi, untuk pasal 3.7 memiliki aturan mengenai besarnya jatah emisi yang boleh dikeluarkan oleh negara untuk mencapai target pengurangan dan target tersebut berbeda dari masing-masing negara diantaranya 8-10%, dan pasal 3.8 yag menjelaskan mengenai aturan perhitungan awal gas yang harus diturunkan.

Ketentuan Protokol ini cenderung negara-negara majulah yang harus mengurangi emisi karena mereka yang terbesar menghasilkan emisi terbesar. Sedangkan untuk negara berkembang tidak diwajibkan untuk mengurangi emisinya dan hanya diminta dalam partisipasinya. Protokol ini memiliki prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan (common but differentiated responsibility) yang memiliki maksud bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab dalam melakukan tindakan

41 Daniel Aga Ardianto, 2009, Peran Protokol Kyoto Dalam Mengurangi Tingkat Emisi Dunia Melalui Clean Development Mechanism, Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Hukum, Universitas Atmajaya Yogyakarta, hal. 14

(19)

48

mengenai perubahan iklim, tetapi dari masing-masing mereka tidak dituntut tanggung jawab yang sama dalam perbaikan untuk mengatasi perubahan iklim.42

Pada pasal 6, 12, dan ,17 merupakan pasal mengenai mekanisme dari protokol ini yang memiliki beberapa mekanisme dengan tujuan mengurangi tingkat emisi yaitu:

a) Joint Implementation

Mekanisme ini diatur pada pasal 6 Protokol Kyoto yang memberikan izin kepada negara untuk berkomitmen dalam mengurangi dan membatasi emisi untuk memperoleh pengurangan emisi (Emission Reduction Unit / ERU) dari negara lain yang telah tergabung dalam negara Annex I. Mekanisme ini menawarkan kepada negara yang berperan sebagai pihak mekanisme yang fleksibel dengan biaya rendah untuk memenuhi target terkait komitmen dalam Protokol Kyoto, dilain pihak negara sebagai penyelenggara mendapat keuntungan terkait adanya investasi dan transfer teknologi. Dalam mekanisme ini terdapat syarat yang harus dipenuhi yaitu proyek Joint Implementation harus memberikan dampak terkait pengurangan emisi meliputi sumber atau perbaikan dalam pembuangan yang melebihi batas minimum.

Persetujuan juga harus didapatkan dari pihak negara penyelenggara dan negara peserta.

b) Emission Trading

Negara yang telah berkomitmen dibawah Protokol Kyoto seperti halnya negara Annex I telah menerima target yang harus dikurangi ataupun dibatasi. Target

42 Ibid.,hal. 20-22.

(20)

49

tersebut dilihat dari jumlah level yang diperbolehkan atau disepakati selama periode 2008-2012. Pada pasal 17 menjelaskan mengenai perdagangan emisi dengan mengizinkan negara yang memiliki jatah emisi dapat disisakan jatahnya, tetapi tidak diperbolehkan menjual sisa emisi tersebut kepada negara lain yang melampaui target emisi. Ada beberapa unit emisi yang dapat dijual sesuai dengan ketentauan perdagangan emisi dalam Protokol Kyoto seperti halnya sama dengan satu ton CO2.

c) Clean Development Mechanism

Mekanisme ini telah diatur pada pasal 12 yang mengizinkan negara-negara yang telah berkomitmen untuk mengurangi emisi dapat mengimplementasikan melalui proyek pengurangan emisi di negara berkembang. Proyek-proyek tersebut dapat menghasilkan CER (Certified Emission Reduction). Hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat dikombinasikan pada pengurangan emisi yang seharusnya ditambah ke jatah emisi para Pihak.43

Protokol Kyoto memiliki ruang lingkup yang harus dicapai setelah menerapkan mekanismenya. Protokol Kyoto memiliki lingkup sebagai perjanjian yang sah menegaskan kepada negara-negara industri agar mengurangi emisi gas rumah kaca secara kolektif sebesar 5,2% dengan tujuan untuk mengurangi rata-rata dari enam emisi yang ditimbulkan seperti karbon dioksida, metan, nitrous oxida, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC dengan cara dihitung sebagai rata-rata selama lima tahun yang diantaranya tahun 2008-2012. Masing- masing negara memiliki target pengurangan nasional contohnya Uni Eropa 6%, AS 7%, Jepang 6%, Rusia 0%, Australia 8%, dan Islandia 10%. Target penurunan emisi dalam Protokol Kyoto

43 Ibid.,hal. 22-24.

(21)

50

disebut dengan quantified emission limitation and reducation commitment (QELROs) yang merupakan sumber permasalahan dalam pengurusan di Protokol Kyoto yang memiliki aspek hukum yang mengikat, adanya periode komitmen, adanya jatah emisi pada setiap pihak Annex I, dan kemudian ditambahkan lagi dengan enam jenis gas rumah kaca seperti CO2, CH4, N2O, HFC, PFC, dan SF6 ( basket of gases). Kerangka implementasi yang diterapkan Protokol Kyoto seperti halnya yang diatas membuat timbulnya perdebatan dan merasa tidak adil bagi negara-neagara maju yang membuat diperlukannya adanya perubahan.44

2.3.2 REDD+

Munculnya REDD atau REDD+ dimulai dari perdebatan mengenai kerangka implementasi dari Protokol Kyoto untuk konvensi perubahan iklim yang mengalami ketidakcocokkan bagi masing-masing negara maju. Selain itu Protokol Kyoto juga mencantumkan dalam aturan pelaksana mengenai pengelolaan hutan secara berkelanjutan yang kemudian aturan tersebut di bahas pada COP 7 di Marrakesh, Maroko tahun 2001 yang disebut dengan Marrakesh Accords.

Marrakesh Accords merupakan pembahasan yang menjelaskan tentang penggunaan lahan, perubahan tata guna lahan dan kehutanan. Perundingan perubahan iklim terus berlanjut yang dimana masalah kehutanan berkembang dalam skema Kyoto yang terus mengalami perubahan secara signifikan. Papua Nugini melihat diperlukannya upaya untuk mengatasi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Papua Nugini mengganggap permasalahan itu penting sebelum COP 11 di Montreal tahun 2005. Pemikiran dari Papua Nugini ini didukung oleh

44 Fajar Khaifi Rizky, Op. Cit., hal.

(22)

51

Kevin Condrad selaku duta besar dan utusan khusus PNG mengenai lingkungan dan perubahan iklim. Condrad menganggap isu perubahan iklim sebagai peluang politik yang nantinya dapat dinegoisasikan mengenai nilai ekonomi hutan dalam permasalahan pasar karbon dan menekan laju deforestasi.45

Condard dalam merealisasikan mendapat dukungan tambahan dari Professor Geoffrey Heal sebagai supervisor proyek penelitian untuk membujuk Perdana Menteri PNG yaitu Michael Somare agar membentuk koalisi kredit karbon hutan dalam perundingan peruabahan iklim. Somare pada tahun 2005 mulai menyerukan pemebentukan koalisi yang disebut dengan Coalition for Rainforest Nations di Universitas Columbia pada saat forum pemimpin dunia. Rekan-rekan dari koalisi tersebut adalah dari negara Peru, Kongo, Kosta Rika, Republik Dominika, Mozambik, Tanzania, dan Zambia. Koalisi ini kemudian berambisi untuk memasukkan offset sertifikat emisi yang berhubungan dengan deforestasi dalam pasar emisi karbon global. Kemudian proposal dari Papua Nugini dan Kosta Rika dibahas di COP Montreal yang menginginkan dua opsi mengenai kerangka hukum ke depannya. Pertama, membuat tambahan protokol yang membahs tentang pengaturan emisi dari deforestasi dan degradasi. Kedua, dapat mengembangkan lebih lanjut lagi dari aturan yang tercantumkan dalam Protokol Kyoto dan Marrakesh Accords dengan di tambahkan subtansi mengenai kredit karbon yang dispecifik kan dalam isu deforestasi dan degradasi.46

45 Mumu Muhajir, 2010, REDD di Indonesia? Ke Mana Akan Melangkah?, Jakarta: HuMA, hal.66-68

46 Ibid.,

(23)

52

Dukungan dari berbagai pihak kepada PNG dan Kosta Rika atas apa yang disampaikan membuat COP membentuk kontak grub atau semacam panitia khusus untuk menangani isu pengurangan emisi dari degradasi dan deforestasi. Selain itu, PNG dan Kosta Rika mendapat dukungan dalam aspek ilmiah dari IPCC yang akan melakukan penelitian di bidang tersebut. Kemudian hasil IPCC pada tahun 2007 memperlihatkan efek deforestasi dan degradasi hutan terhadap emisi dunia mencapai 17,3% dari total emisi yang dilepaskan. Sehingga isu pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi mendapat kerangka hukum dalam COP 13 di Bali atau yang disebut dengan Bali Action Plan pada tahun 2007 yang dimana menghasilkan skema dan project REDD. Sebelum COP 14 di Poznan, nama REDD masih dijadikan perdebatan mengenai cakupan yang dilakukan, sehingga pada COP 14 nama REDD ditetapkan dengan ditambahkan + ( Plus ) menjadi REDD+ yang menjalankan tidak hanya deforestasi dan degaradasi tetap juga mencakup hal lain yaitu konservasi, sustainable forest management, aforestasi dan reforestasi.47

REDD+ ini mendasari tentang pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan yang dimulai melalui negara-negara yang ingin dan mampu untuk mengurangi emisi dengan cara diberikan kompensasi secara finansial untuk melakukan pengurangan emisi tersebut. REDD+ juga memberikan sebuah kerangka kerja untuk negara-negara penebang hutan agar dapat menghentikan kebiasaan yang lama.48 Menjalankan proyek REDD+ mangacu pada konsep yang terdiri dari dua aspek kegiatan berikut yaitu melakukan pengembangan dalam

47 Ibid.,hal. 68-70.

48 Charlie Parker, Andrew Mitchell,dkk, 2009, Buku REDD+ Mini, London:Global Canopy Programme, Oxford, hal.14.

(24)

53

mekanisme dengan tujuan untuk membantu negara berkembang dalam mengurangi emisi, dan membantu persiapan negara-negara atas berpatisipasinya dalam mekanisme REDD+. REDD+ untuk memperlancar proyeknya memiliki cara tersendiri dengan cara memberikan finansial kepada negara yang akan mengurangi emisi dengan sistem pembayaran yang sesuai dengan skema pembayaran REDD+

yaitu : pada tingkat internasional pembeli jasa yang akan membayar kepada penyedia jasa (pemerintah atau badan-badan sub-nasional di negara berkembang) secara sukarela ataupun wajib untuk jasa lingkungan (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) atau digunakan untuk kegaiatan yang dapat memberikan jasa (reformasi tenurial untuk penegak hukum), dan jika untuk di tingkat negara pembeli jasa (pemerintah nasional atau lembaga perantara lain) yang akan membayar ke penyedia jasa (pemerintah sub-nasional atau pemilik lahan) untuk mengurangi emisi ataupun kegiatan lain yang berhubungan dengan pengurangan emisi.49

49 Ade Soekadis, Delon Marthinus, (Ed),2013, Konsep REDD+ dan Implementasinya, Jakarta:

Natural Resources Development Center,hal.14

Referensi

Dokumen terkait

Hutan berperanan penting di planet untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca pada lapisan atmosfir. Menurut Protokol Kyoto, pengurangan emisi karbon terjadi melalui hutan. Dalam

Konservasi energi bukan berarti bekerja tanpa menggunakan energi atau membatasi pemasokan energi, namun merupakan suatu upaya untuk mengurangi atau

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk

Hutan berperanan penting di planet untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca pada lapisan atmosfir. Menurut Protokol Kyoto, pengurangan emisi karbon terjadi melalui hutan. Dalam

Analisis wacana yang digunakan oleh peneliti adalah analisis wacana khususnya analisis wacana kritis Theo Van Leeuwen. Model penelitian digunakan model Theo Van Leeuwen

Sebenarnya PGRS itu adalah tentara Indonesia yang ditugaskan untuk menjaga perbatasan pada masa pemerintahan Sukarno ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia,

Berapa nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit yang berasal dari perubahan kawasan hutan di wilayah penelitian berdasarkan metoda pendekatan harga pasar,

Penelitian ini bermaksud menguji kembali pengaruh Lingkungan Perusahaan, Derajat Kesulitan Keuangan, Kelebihan Aset, Pengurangan Aset dan Pengurangan Beban terhadap