PROPOSAL
PENELITIAN SKEMA LABORATORIUM DANA LOKAL ITS TAHUN 2020
BENARKAH VENTILASI JUSTRU MEMPERBURUK KUALITAS UDARA DALAM RUANG?
Tim pengusul:
Dr. Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM (Teknik Lingkungan) Dr. Abdu Fadli Assomadi, SSi, MT. (Teknik Lingkungan)
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2020
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL PROGRAM PENELITIAN SKEMA LABORATORIUM DANA LOKAL ITS 2020
1. Judul Penelitian : Apakah Ventilasi Justru Memperburuk Kualitas Udara Dalam Ruang?
2. Ketua Tim :
a. Nama Lengkap : Dr. Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM
b. NIP : 19820119200501 1 001
c. Pangkat/Golongan : Penata IIIC d. Jabatan Fungsional : Lektor
e. Jurusan : Teknik Lingkungan
f. Fakultas : Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian (FTSLK) g. Laboratorium : Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim h. Alamat Kantor : Gedung TL Lantai 3, Jurusan Teknik Lingkungan ITS,
Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya i. Telp/Hp/Fax : 031-5948886 / 031-5928387 3. Jumlah Anggota : 1 orang
4. Jumlah mahasiswa terlibat : 1 orang 5. Sumber dan jumlah dana
yang diusulkan
a. Dana LOKAL ITS 2020 : Rp 49.300.000 b. Sumber lain : -
Jumlah : Rp 49.300.000
Surabaya, 3 Maret 2020 Mengetahui,
Ketua Tim Peneliti
Dr. Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM NIP. 198201192005011001
RINGKASAN
Polusi udara dalam ruangan adalah suatu hal yang harus menjadi perhatian karena kita hampir setiap saat ada di dalam ruang, terlebih lagi ketika di dalamnya ada aktivitas penyebab polutan. Efek pencemarannya bisa dirasakan secara langsung seperti iritasi pada mata, hidung hingga tenggorokan, bahkan alam jangka waktu lama dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, penyakit jantung dan kanker.
Selama ini polusi udara dalam ruangan seperti PM2.5 dan PM1 umum disebabkan oleh aktivitas penghuni seperti memasak, membersihkan kamar dan aktivitas merokok oleh penghuni. Banyak diuraikan oleh literatur bahwa ventilasi membantu mengurangi polutan.
Menariknya, ada literatur yang justru menjelaskan sebaliknya bahwa ventilasi justru memperburuk kualitas udara, dan penelitian pendahuluan kami di beberapa apartemen memperkuat asumsi itu. Hal ini tentu mengejutkan dan memerlukan penelitian lebih lanjut, faktor apakah yang menyebabkan fakta tersebut.
Untuk itulah kami mengumpulkan data polutan di beberapa apartemen, mengukur secara kontinu 24 jam, mencatat waktu ventilasi (buka jendela) serta aktivitas penghuni dan konfigurasi interior. Data diperoleh dengan pengukuran dan wawancara. Adapun polutan yang diukur adalah PM1 dan PM2.5 (partikulat berukurang kurang dari 1 dan 2,5 µm). Model yang digunakan adalah pendekatan multilevel atau mixed random effect regression.
Temuan ini dapat menunjukkan juga pentingnya menyesuaikan waktu buka tutup jendela dan kapan waktu yang tepat untuk memasak untuk menghindari akumulasi partikel halus di dalam ruangan. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui konsentrasi di luar ruang secara kontinyu di dekat apartemen untuk memperkuat hasil dari studi ini.
Hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah rekomendasi pola aktivitas dalam ruangan yang informatif dan edukatif bagi penghuni, informasi kualitas udara dalam ruangan serta kelayakan fasilitas serta perabotan dalam ruangan dimana harapan kami adalah dapat menjadi referensi desain apartemen (jangka pendek) maupun rumah (dalam penelitian lanjutan, jangka panjang) yang baik demi terjaganya kesehatan dan kenyamanan penghuni.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Polusi udara dalam ruangan dapat disebabkan karena polusi di luar ruangan seperti debu dari kendaraan atau industri yang memasuki rumah melalui ventilasi. Polutan udara dalam ruangan juga dapat disebabkan oleh pembakaran kayu, tembakau atau lilin, kegiatan yang dilakukan di rumah seperti merokok, dari furnitur, pemanasan, pendingin udara, atau produk pembersih rumah tangga. Kualitas udara dalam ruangan dapat dipengaruhi oleh beberapa bahan kimia termasuk gas, VOC, partikulat (PM), kontaminan organik dan anorganik serta partikel biologis seperti jamur dan bakteri. Saat ini ada 90% orang yang menghabiskan waktu di lingkungan indoor seperti rumah, sekolah atau kantor. Karena itu kualitas udara dalam ruangan saat ini penting karena dapat mempengaruhi kondisi kesehatan manusia. Kondisi kualitas udara dalam ruangan yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan anak-anak, remaja, orang tua dan mereka yang memiliki penyakit pernapasan akut (Cincinelli dan Martellini, 2017). Hal lain yang dapat memengaruhi penyakit pernapasan adalah kelembaban. Penyakit yang disebabkan oleh kondisi lembab di ruangan dapat menjadi lebih parah ketika tidak ada ventilasi yang cukup di kediaman, ditambah dengan kegiatan memasak yang masih menggunakan biomassa seperti kayu atau daun dan tidak adanya jalan keluar untuk merokok dapat menyebabkan penyakit pernapasan untuk mendapatkan lebih buruk (Upadhyay, et al, 2015). Kondisi ini sering terjadi pada rumah tangga dengan pendapatan rendah (Rahman, 2004). Menurut beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa konsentrasi massa partikel di dalam ruangan dapat dipengaruhi oleh outdoor. Partikel-partikel ini dapat menembus ke dalam ruangan karena konsentrasi massa partikel di luar ruangan lebih berat. Faktor utama yang memengaruhi ini adalah perbedaan panas atau dingin (Wu et al., 2017).
Menurut WHO, polusi udara dalam ruangan menyebabkan 1,6 juta kematian akibat pneumonia, penyakit pernapasan kronis, dan kanker paru-paru. Selain itu, penyebab kematian di negara berkembang adalah karena merokok di dalam ruangan. Di dalam ruangan merokok dapat meningkatkan risiko kematian sebesar 3,7%. Di Kenya, masih banyak rumah yang menggunakan biomassa sebagai bahan bakar. Kondisi ini menyebabkan polusi di rumah yang bisa dikaitkan dengan penyakit. Penggunaan biomassa adalah karena tidak tersedianya atau kenaikan harga energi ramah lingkungan seperti listrik, minyak tanah atau gas cair. Polusi yang dihasilkan dari pembakaran biomassa dapat diatasi dengan membuat perapian mengalir keluar dan jendela dapat dibuat lebih besar sehingga pertukaran udara terjadi (Moturi, 2010).
Beberapa literatur sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas udara di dalam ruangan banyak dipengaruhi oleh aktivitas penghuni seperti aktivitas memasak dan ventilasi merupakan satu cara untuk mengurangi polutan dalam ruang. Namun demikian, dari penelitian kami sebelumnya dan sedikit literatur lain, terungkap bahwa ventilasi juga menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas udara dalam ruangan. Sebagaimana kita ketahui, ventilasi adalah proses pengenceran dan / atau menghilangkan polutan di dalam ruangan di mana udara luar yang bersih memasuki ruangan dan udara basi dipindahkan. Mekanismenya adalah udara campuran atau perpindahan di dalam ruangan (Chang et al., 2007). Namun demikian, kami mendapati ada beberapa kasus di mana celah dinding (Lai et al., 2012) dan ventilasi (Zhang et al., 2018) membawa polusi dalam ruangan yang lebih buruk. Temuan seperti itu jarang dibahas.
Kondisi ini diderita oleh pemilik rumah dan apartemen di mana mereka tinggal di daerah perkotaan dengan konsentrasi polutan yang tinggi karena emisi industri dan / atau transportasi.
Dai et al., (2018) juga melaporkan kemungkinan Indoor / Outdoor PM2.5 yang lebih tinggi yang disebabkan oleh perpindahan partikel di luar ruangan karena tingkat ventilasi yang lebih tinggi ketika konsentrasi di luar ruangan tinggi di musim dingin. Hasil ini bersifat musiman dan kami berusaha untuk menyelidiki efek sesi waktu puncak pada bagaimana ini mempengaruhi konsentrasi dalam ruangan. Challoner & Gill (2014) melaporkan bahwa ventilasi tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk mengurangi polusi dalam ruangan, bahkan untuk gas NO2 konsentrasi dalam ruangan yang lebih tinggi disebabkan oleh konsentrasi permukaan jalan. Pernyataan yang lebih jelas untuk kinerja ventilasi diberikan oleh Martins & Carrilho, (2017) di mana polutan luar yang buruk berkontribusi pada konsentrasi dalam ruangan yang lebih tinggi hingga 500% pada bangunan non domestik berventilasi alami di Califormia. Jika buruknya konsentrasi udara luar menjadi alasan lebih buruknya kualitas udara dalam ruang, maka hal ini tentu akan menjadi masalah pada jam-jam puncak ketika konsentrasi udara ambien juga mencapai puncaknya. Di Surabaya, konsentrasi terburuk adalah ketika puncak lalu lintas yang padat, mengingat kontribusi polutan adalah dari kendaraan bermotor.
Atas dasar itulah, kami menelaah lebih lanjut dan mengkonfirmasi benarkah jam-jam puncak akan menjadi faktor penentu buruknya kualitas udara dalam ruang, jika ventilasi dalam tempat tinggal diaktifkan, sebagai contoh ketika jendela dibuka. Penelitian ini akan menjadi temuan baru yang dapat menjadi dasar kebijakan jam-jam yang perlu diperhatikan ketika penghuni membuka jendela dan aktivitas-aktivitas apa saja yang menjadi kontributor utama polutan di dalam ruang.
1.1 Perumusan Masalah dan Pembatasan Masalah
Secara umum kami menentukan karakteristik konsentrasi udara dalam ruang pada unit apartemen di Surabaya, dan secara khusus dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh bukaan jendela sebagai ventilasi ruangan terhadap kualitas udara dalam ruangan (PM1 dan PM2.5).
2. Bagaimana pengaruh kegiatan memasak terhadap kualitas udara dalam ruangan (PM1
dan PM2.5).
3. Bagaimana rekomendasi pola aktivitas penghuni pada variabel lain dalam mempengaruhi konsentrasi polutan di dalam ruangan.
Sedangkan batasan masalah pada penelitian ini, adalah:
1. Pada tahap penelitian ini, survei dilakukan untuk penghuni apartemen di Surabaya . 2. Parameter polutan yang menjadi fokus adalah parameter indikatif yaitu Particulate
Matter (PM1 dan PM2.5).
3. Variabel utama yang dikaji adalah bukaan jendela sebagai ventilasi dan kegiatan memasak oleh penghuni, serta variabel lain yaitu waktu puncak aktivitas penghuni, kelembaban, temperatur, karakteristik furnitur seperti jumlah dan penggunaan pendingin ruang (Air Conditioner) dan kipas.
1.2 Tujuan
Secara umum tujuan kami adalah menentukan gambaran pengaruh kondisi dan aktivitas penghuni terhadap kualitas udara dalam ruangan di Surabaya, secara khusus ruangan apartemen. Tujuan penelitian lebih detail dijabarkan sebagai berikut:
1. Menentukan pengaruh bukaan jendela sebagai ventilasi ruangan terhadap konsentrasi polutan di dalam ruangan.
2. Menentukan pengaruh kegiatan memasak oleh penghuni terhadap konsentrasi polutan di dalam ruangan.
3. Menentukan rekomendasi pola aktivitas penghuni pada variabel lain dalam mempengaruhi konsentrasi polutan di dalam ruangan.
1.3 Relevansi
Usulan penelitian ini sangat sejalan dengan renstra penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), utamanya di bidang lingkungan dan pemukiman dengan subtopik
“peningkatan kualitas lingkungan dan pengendalian pencemaran di perkotaan, pesisir dan kepulauan”. Usulan ini juga sejalan dengan “peta jalan” penelitian Laboratorium Pengendalian
Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim dengan subtopik terkait kualitas udara ambien terutama terkait masalah infrastruktu dan pemukiman. Usulan penelitian ini juga sangat sejalan dengan renstra penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), utamanya pada Pusat Studi Infrastuktur dan Lingkungan Berkelanjutan (PILB) dengan isu strategis Pengendalian Pencemaran dan Topik Risetnya adalah Built Environment.
Tidak hanya itu, produk penelitian akan menjadi langkah pertama dalam pembentukan referensi desain unit rumah maupun apartemen. Nantinya, diharapkan desain tempat tinggal akan memperhatikan tidak hanya aktivitas penghuni namun juga karakteristik dan jumlah perabotan serta ventilasi yang layak di dalam ruang. Hal ini bermanfaat bagi konsultan atau arsitek, serta ilmuwan yang memiliki minat penelitian terkait arsitektur.
1.4 Target Luaran
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini:
1. Adanya informasi mengenai kualitas udara di dalam ruangan khususnya apartemen di Surabaya.
2. Adanya informasi yang bersifat edukatif mengenai pentingnya pengaruh pola aktivitas penghuni terhadap kesehatan serta kualitas udara di dalam ruangan khususnya apartemen di Surabaya.
3. Publikasi ilmiah pada jurnal internasional terindeks bereputasi.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Penunjang
2.1.1 Kualitas Udara Indoor
Penelitian mengenai kualitas udara indoor (di dalam ruangan) yang memiliki kaitan dengan kesehatan manusia telah menjadi salah satu subyek penelitian yang menarik banyak perhatian publik. Hubungan antara kesehatan dan polusi yang terbentuk pada kegiatan rumah tangga telah terbentuk pada anak-anak maupun orang dewasa (Sood, 2012; Gordon et al., 2014;
Fullerton et al., 2008; Burnettet et al., 2014). Akibatnya, polusi udara dari kegiatan rumah tangga menjadi penyumbang terbesar ketiga terhadap adanya penyakit global (Lim et al., 2012).
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas udara di dalam ruangan adalah adanya polusi udara. Polusi tersebut berasal dari pembakaran bahan bakar biomassa (kayu, arang, sisa tanaman, kotoran hewan dan sebagainya) di tungku masak tradisional yang melepaskan sejumlah polutan ke udara dalam ruangan termasuk karbon monoksida (Bhattacharya et al., 2002; Taylor & Nakai, 2012). Studi yang berfokus pada kualitas udara dalam ruangan akibat pembakaran bahan bakar biomassa di negara-negara berkembang, telah menujukkan tingginya polusi udara dalam ruangan yang seringkali melebihi baku mutu/pedoman kualitas udara (Dasgupta et al., 2006; Fullerton et al., 2009; Taylor dan Nakai, 2012).
2.1.2 Baku Mutu Kualitas Indoor di Dalam dan Luar Negeri
Pencemaran udara di dalam ruangan (indoor air pollution) terutama di dalam rumah/apartemen sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada umumnya, orang lebih banyak melakukan dan menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan di dalam rumah.
Sehingga perlu dilakukan pula pengukuran untuk mengetahui kualitas udara di dalam ruangan.
Di Indonesia, terdapat peraturan yang mengatur mengenai baku mutu kualitas di dalam ruangan.
Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah, persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah meliputi kualitas fisik, kimia, dan biologi. Jenis parameter pada persyaratan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1 Hingga 2.3
Tabel 2. 1 Persyaratan Fisik
No Jenis Parameter Satuan Kadar yang
dipersyaratkan
1 Suhu °C 18-30
2 Pencahayaan Lux Minimal 60
3 Kelembapan %Rh 40-60
4 Laju Ventilasi m/dtk 0,15-0,25
5 PM2,5 µg/m3 35 dalam 24 jam
6 PM10 µg/m3 ≤ 70 dalam 24 jam
Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah
Tabel 2. 2 Persyaratan Kimia
No Jenis Parameter Satuan Kadar yang dipersyaratkan
maksimal Keterangan
1 Sulfur dioksida (SO2) ppm 0,1 24 jam
2 Nitrogen dioksida
(NO2) ppm 0,04 24 jam
3 Carbonmonoksida
(CO) ppm 9,00 8 jam
4 Carbondioksida
(CO2) ppm 1000 8 jam
5 Timbal (Pb) µg/m3 1,5 15 menit
6 Asbes Serat/mL 5 Panjang serat
5µ
7 Formaldehid (HCHO) ppm 0,1 30 menit
8 Volatile Organic
Compound (VOC) ppm 3 8 jam
9 Environmental
Tobaco Smoke (ETS) µg/m3 35 24 jam
Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah
Tabel 2. 3 Persyaratan Biologi
No Jenis Parameter Satuan Kadar yang dipersyaratkan maksimal
1 Jamur CFU/m3 0
2 Bakteri Patogen CFU/m3 0
3 Angka Kuman CFU/m3 < 700
Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah
Sedangkan peraturan yang berlaku di luar negeri diantaranya dapat dilihat melalui penyajian Tabel 2.4 Berikut ini.
Tabel 2. 4 Peraturan Luar Negeri
No Parameter Kadar Maksimal Referensi
1 Suhu/Temperatur Musim panas 23-28 C
Musim dingin 20-25,5
ASHRAE Standard 55- 2010
ISO 7730
2 Kelembapan Relatif 30 – 60% ASHRAE Standard 55-
2010 ISO 7730
3 Kecepatan Angin 0,25 m/s WHO
ISO 7730 4 Partikel yang berukuran < 1,0
mikron
- -
5 CO 9 ppm/8 h.r total
weight average
35 ppm/1 hr. total weight average
EPA
2.1.3 Pencemaran Udara dalam Ruang
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077 Tahun 2011 yaitu pencemaran udara dalam ruangan (Indoor Air Pollution) adalah keadaan adanya satu atau lebih polutan dalam ruangan rumah yang karena konsentrasinya dapat berisiko menimbulkan gangguan kesehatan penghuni rumah. Sedangkan polutan merupakan senyawa atau unsur yang bisa mengakibatkan polusi.
Udara dapat dikelompokkan menjadi udara luar ruangan dan udara dalam ruangan.
Kualitas udara dalam ruangan sangat mempengaruhi manusia, karena hampir 90% hidup
manusia berada dalam ruangan. Sebanyak 400 sampai 500 juta orang khususnya di negara yang sedang berkembang sedang berhadapan dengan masalah polusi udara dalam ruangan. Di Amerika, isu polusi udara dalam ruang ini mencuat ketika EPA pada tahun 1989 mengumumkan studi polusi udara dalam ruangan lebih berat daripada di luar ruangan. Polusi jenis ini bahkan bisa menurunkan produktivitas kerja hingga senilai US $10 milyar.
2.1.3.1 Dampak Pencemaran Udara Ruangan
Dampak dari adanya pencemar udara dalam ruang rumah terhadap kesehatan dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan kesehatan secara langsung dapat terjadi setelah terpajan, antara lain yaitu iritasi mata, iritasi hidung dan tenggorokan, serta sakit kepala, mual dan nyeri otot, termasuk asma, hipersensvitas pneumonia, flu dan penyakit- penyakit virus lainnya. Sedangkan gangguan kesehatan secara tidak langsung dampaknya dapat terjadi beberapa tahun kemudian setelah terpajan, antara lain penyakit paru, jantung dan kanker, yang sulit diobati dan berakibat fatal (USEPA, 2007).
2.1.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Udara di Dalam Ruang
Menurut Laila (2008), Kualitas udara di dalam ruang rumah dipengaruhi oleh sumber- sumber luar ruangan, situasi ruangan dapat menjadi tercemar berat oleh unsur biologi. Ruangan yang dibangun dengan adanya bioaerasi dapat mengakibatkan 2 proses utama, yaitu:
1. Material akan mengalir dan menumpuk di dalam ruangan.
2. Pertumbuhan nyata pada substrat interior.
Material yang megalir dan menumpuk di dalam ruangan termasuk partikulat seperti skin scales binatang dan manusia, bakteri dan dermatophyte teralirkan dari permukaan yang subur, serangga dan arachnid fragments. Jamur mycotoxin dapat bertambah banyak di dalam ruangan dari pertumbuhan mikroorganisme di permukaan interior. Faktor yang pasti dari semua jenis pencemaran ruangan adalah kelembaban. Pada kasus yang sama, kelembaban relatif tinggi antara 25%-75% langsung mempengaruhi tingkat spora jamur, dan terjadi pula kemungkinan peningkatan pertumbuhan pada permukaan penyerapan air. Skin Scaler (seperti fabrice, leathers, dan wood materials) menyerap air dari udara untuk membentuk pertumbuhan jamur.
Terjadinya kebocoran di suatu atap atau pipa air meskipun kecil dapat membantu pertumbuhan jamur yang berlebihan, disamping itu keberadaan tandon air, bak air di kamar mandi dapat menjadi sumber kelembaban.
Menurut Corie (2005) berbagai faktor mempengaruhi udara ruang antara lain, bahan bangunan (misal; asbes), struktur bangunan (misal; ventilasi), bahan pelapis untuk furniture
serta interior (pada pelarut organiknya), kepadatan hunian, kualitas udara luar, radiasi dari radon, formaldehid, debu, dan juga kelembaban yang berlebihan. Selain itu, kualitas udara juga dipengaruhi oleh kegiatan dalam rumah seperti dalam hal penggunaaan energi tidak ramah lingkungan, penggunaan sumber energi yang relatif murah seperti batubara dan biomassa (kayu, kotoran kering dari hewan ternak, residu pertanian), perilaku merokok dalam rumah, penggunaan kosmetika berlebih. Bahan-bahan kimia tersebut dapat mengeluarkan polutan yang dapat bertahan dalam rumah untuk jangka waktu yang cukup lama.
2.1.4 Sumber Pencemar Parameter Penelitian
Partikulat terdapat di udara ambien baik indoor maupun outdoor. Konsentrasi partikulat indoor berasal dari sumber di outdoor dan emisi langsung ke udara atau sebagai konversi dari gas precursor (seperti sulfur dioksida, oksida nitrogen, ammonia, dan non-methane volatile organic compounds) yang dilepaskan dari sumber alami dan antropogenik Sumber antropogenik yang dimaksud termasuk proses pengecatan (Lazaridis et al., 2015).
PM adalah Partikel debu dalam emisi gas buang dari bermacam-macam komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemcehan unsur hidrokarbon dan proses oksidasi setelahnya. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida.
Particulate Matter merupakan suatu campuran kompleks dari partikel padat dan cair sangat kecil yang ditemukan di udara. Partikel merupakan salah satu pencemar yang sering dijadikan sebagai salah satu indikator pencemaran udara untuk menujukkan tingkat bahaya dalam lingkungan di dalam ruang (indoor) maupu di luar ruang (outdoor) terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (Putri, 2012).
Partikel memiliki beberapa variasi ukuran dan tersusun dari banyak material serta unsur kimia. Salah satu partikel yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan adalah PM2.5. Berdasarkan ukurannya partikel dibedakan menjadi dua kategori, yaitu partikel dibedakan menjadi dua kategori, yaitu partikulat kurang dari sama dengan 10 mikron dan partikel kurang dari sama dengan 2.5 mikron (EPA, 2014).
Partikulat dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin seperti proses vulkanis yang berasal dari letusan gunung berapi. Partikulat juga dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon murni atau bercampur dengan gas-gas organik, seperti halnya penggunaan mesin diesel yang tidak terpelihara dengan baik dan pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butiran-butiran tar. Jika dibandingkan dengan pembakaraan batu bara,
pembakaran minyak dan gas pada umumnya menghasilkan partikulat dalam jumlah yang lebih sedikit. Kegiatan-kegitan seperti konstruksi, penghancuran bangunan, dan jalan yang belum diaspal, akan membentuk partikulat.
2.1.5 Pengaruh Parameter Penelitian Terhadap Kesehatan
Keluhan tentang kualitas didalam ruang merupakan faktor utama yang mendorong kepedulian pada kualitas udara di dalam ruang. Berbagai gejala atau keluhan mengenai kesehatan muncul seperti mengeluarkan air hidung bila berada dalam ruangan, pusing-pusing atau mual, dan sebagainya.
Penemuan sejumlah zat pencemar dalam ruang yang diketahui dan diperkirakan (pada batas yang cukup) daoat meningkatkan ketidaknyaman, ketidakberfungsian, timbulnya penyakit bahkan kematian. Bukti yang nyata pada kesehatan menujukkan terjadinya penyakit pernafasan, alergi, iritasi membran mukus, kanker paru, dapat disebabkan oleh pencemar di dalam ruang. (Samet dan Spengler,2013).
Salah satu jenis pencemar udara yang memberikan dampak yang besar terhadap kesehatan manusia adalah PM karena bersifat respirable yang memicu terjadinya gangguan pernapasan yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu ada beberapa efek kesehatan yang disebabkan oleh PM meliputi:
1. Efek toksik oleh penyerapan bahan beracun ke dalam darah (misalnya timah, kadmium, seng);
2. Efek alergi atau hipersensitivitas (misalnya beberapa hutan, biji-bijian tepung, bahan kimia);
3. Infeksi bakteri dan jamur (dari organisme hidup);
4. Fibrosis (misalnya asbes, kuarsa);
5. Kanker (misalnya asbes, kromat);
6. Iritasi selaput lendir (misalnya asam dan basa); dan
7. Peningkatan gejala pernapasan, kejengkelan asma dan kematian dini. Risiko tertinggi untuk kelompok sensitif seperti orang tua dan anak-anak
2.1.6 Studi Hasil Penelitian Sebelumnya
2.1.6.1 Distribusi Pola Konsentrasi Polutan dalam Ruang
Studi yang dilakukan oleh Siddiqui, dkk (2009) membahas mengenai polusi dari kegiatan dalam ruangan. Mereka menyatakan bahwa tingkat PM2.5 dipengaruhi oleh lamanya waktu untuk membakar bahan bakar memasak. Memasak menggunakan kayu berpengaruh
signifikan terhadap konsentrasi PM2.5. Sedangkan memasak menggunakan gas alam (NG) juga memberikan efek yang sama walaupun tidak signifikan. Selain itu studi yang dilakukan oleh Ezzati et al dan Dasgupta et al yang dinytaakan dalam Siddiqui, et al (2009) juga membbuktikan bahwa kebiasaan dan metode memasak dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan dapat dengan mudah menyebar ke seluruh ruangan.
Kemudian Goyal dan Khare (2011) dalam studinya menyatakan bahwa ada korelasi positif antara PM2.5 dan PM1 dengan konsentrasi yang diamati selama kegiatan sekolah (hari kerja). Hal tersebut menunjukkan bahwa memang ada hubungan antara aktivitas penghuni dengan konsentrasi PM2.5 dan PM1.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Frey et al. (2014) dinyatakan bahwa konsentrasi PM2.5 dalam ruangan yang tinggi dapat dipengaruhi oleh kebiasaan penghuni seperti merokok.
Dalam hasil studinya, unit apartemen yang penghuninya merokok memiliki konsentrasi PM2.5
yang lebih tinggi dibandingkan dengan unit apartemen yang penghuninya tidak merokok.
Sementara unit apartemen yang penghuninya tidak merokok, konsentrasi PM2.5 dalam ruangan yang tinggi dapat disebabkan oleh penggunaan lilin, penyegar udara serta kehadiran hewan peliharaan.
2.1.6.2 Kegiatan Memasak dan Perilaku Membuka Jendela
Wang et al (2017) mengungkapkan bahwa konsentrasi indoor PM2.5 dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Hasil tersebut juga konsisten dengan yang dilaporkan oleh Chithra dan Nagendra (2014) yang menunjukkan bahwa penggunaan dehumidifier dapat bekerja dengan baik untuk meningkatkan partikulat halus dalam ruangan.
Chang et al. (2007) dalam studinya melaporkan mekanisme pelepasan PM10, PM2.5 dan PM1 oleh beberapa jenis ventilasi. Penelitiannya mengungkapkan bahwa ventilasi menghilangkan partikel-partikel ini dengan catatan bahwa PM1 menjadi yang paling sulit untuk dihilangkan. Sebaliknya, He et al., (2004) melakukan penelitian pada 14 rumah di pinggiran kota dengan kesimpulan bahwa ventilasi tidak mempengaruhi kondisi partikulat dalam ruangan.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Dai et al., (2018) dilaporkan bahwa PM2,5 I / O lebih tinggi pada rumah-rumah di Cina karena transfer partikel dari luar melalui ventilasi ketika konsentrasi polutan di luar lebih tinggi pada musim dingin. Selain itu, Zhang et al. (2018) dalam studinya menyatakan bahwa ventilasi alami juga dapat menyebabkan polusi dalam ruangan yang lebih buruk jika udara luar tercemar.
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian 3.1.1 Bagan Alir
Metode pelaksanaan dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian
3.1.2 Tahap pra-pelaksanaan kegiatan a. Identifikasi dan perumusan masalah
Tahapan ini difokuskan pada studi literatur mengenai permasalahan kualitas udara yang ada pada ruangan. Permasalahan dikaji secara umum dan dipilih pada kurangnya pengawasan serta kebijakan mengenai kualitas udara dalam ruangan. Selain itu juga meninjau dari segi kesehatan dan kenyamanan yang dirasakan oleh penghuni dalam suatu ruangan terhadap kualitas udara di sekitar mereka. Faktor yang menentukan kondisi polutan di dalam ruang akan dilihat dari pengaruh aktivitas penghuni. Analisis ini digunakan untuk menyediakan informasi mengenai konsentrasi polutan dalam
Perumusan Masalah dan Studi Literatur
Pengumpulan Data
Pengukuran PM dengan alat Aerocet
531S
Wawancara dengan Penghuni
Data Pengukuran dan Data Wawancara
Analisa Data
Pembuatan Laporan
ruangan serta menentukan rekomendasi pola aktivitas memasak dan membuka jendela dalam menjaga kualitas udara di dalam ruang penghuni.
b. Studi literatur
Studi literatur difokuskan pada studi kualitas udara dalam ruang serta dampak-dampak yang mungkin timbul dari kualitas udara tersebut.
3.1.3 Tahap pelaksanaan kegiatan
3.1.3.1 Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui pengukuran dan wawancara. Pengukuran terdiri dari konsentrasi PM1 dan PM2.5. Konsentrasi polutan dikumpulkan setiap 10 menit, konsentrasi partikulat diukur melalui Metone Aerocet S531 yang dikalibrasi pabrik karena dalam penelitian ini tidak dilakukan kalibrasi dengan metode referensi seperti High Volume Sampler, fokus pada makalah ini yaitu pola konsentrasi dan sudut pandang statistik. Pengukuran dilakukan di 15 unit apartemen di Surabaya, dan diambil antara April hingga Juni 2020. Perangkat diletakkan di dalam setiap ruang tamu utama, tetapi setiap lokasi konfigurasi disesuaikan sehingga tidak akan mengganggu aktivitas penghuni dan akan tetap aman. Perangkat dihangatkan 3-5 menit pada setiap pengukutan untuk memungkinkan perangkat menyesuaikan dengan kondisi dalam ruangan. Perangkat ditempatkan pada dasar akrilik pada tripod pada ketinggian ± 1,5 meter dari lantai untuk mewakili inhalasi polutan pada manusia.
Perangkat diatur selama 24 jam untuk mengumpulkan data pada interval 10 menit.
Beberapa variabel diperiksa selama wawancara satu persatu untuk menentukan bagaimana variabel-variabel ini mempengaruhi konsentrasi polutan. Variabel terdiri dari kondisi dalam ruangan dan aktivitas penghuni seperti dijelaskan dalam Tabel 2.5, deskripsi statistik untuk setiap variabel dijelaskan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.5 Variabel yang Mempengaruhi Konsentrasi Polutan
Variabel Keterangan
Kelembaban (%) Kelembaban mempengaruhi reaksi polutan di dalam ruangan dan aktivitas juga mempengaruhi kelembaban. Kami ingin menentukan hubungan antara kelembaban dan konsentrasi polutan.
Temperatur (°C) Suhu di dalam ruangan dapat memengaruhi perilaku polutan. Data-data ini dikumpulkan dari alat pengukuran.
Bukaan jendela (1 = ketika jendela terbuka; 0 = jendela tertutup)
Diharapkan bahwa ketika jendela terbuka akan memungkinkan transfer polutan ke lingkungan luar. Responden menyatakan dalam kuesioner pada saat dia membuka jendela setiap hari. Kami tidak mengukur jumlah jendela dan jendela mana yang dibuka Air Conditioner (AC)
waktu nyala (1=ketika AC nyala; 0=ketika AC mati)
Pendingin udara memungkinkan aliran udara bersih di dalam dan memungkinkan pengenceran polutan lebih lanjut.
Jumlah perabotan Lebih banyak furnitur (sofa, kursi, meja) dikhawatirkan meningkatkan konsentrasi polutan, khususnya polutan partikulat.
Jumlah AC Sejumlah AC dapat mengurangi polutan di ruangan lebih dari satu AC.
Variabel Keterangan Waktu memasak
(1=memasak; 0= tidak memasak)
Memasak dapat meningkatkan konsentrasi NO2 dan juga partikulat di dalam ruangan.
Responden menyatakan dalam kuesioner waktu di mana dia memasak setiap hari. Semua kegiatan memasak diasumsikan dilakukan di dapur dan jarak dari perangkat dibuat hampir sama
Jumlah kipas angin Kipas angin diharapkan dapat mengurangi konsentrasi NO2 dan partikulat selama kegiatan seperti memasak.
Jumlah kipas Jumlah kipas diharapkan sebanding dengan konsentrasi partikulat dalam ruangan.
Penggunaan kipas (1=menggunakan kipas;
0=tidak menggunakan kipas)
Menggunakan kipas angin dapat meningkatkan aliran udara dalam ruangan dan mengurangi konsentrasi partikulat di dalam ruangan.
Jumlah kamar Semakin banyak kamar tidur diasumsikan berhubungan dengan konsentrasi partikulat dan TSP yang lebih tinggi di dalam ruangan.
3.1.3.2 Analisis Data
Konsentrasi partikulat dalam ruangan dalam konteks ini tidak hanya berbeda di antara sesi waktu tetapi juga bervariasi dalam ventilasi (ketika jendela terbuka dan tidak). Multilevel mampu menangani data yang memiliki struktur hierarkis, artinya data diklasifikasikan ke dalam kelompok.
Ini juga memungkinkan koefisien bervariasi untuk setiap kelompok (Gelman dan Hill, 2007). Untuk sepenuhnya mengeksplorasi efek sesi puncak, ventilasi dan kegiatan memasak dalam kaitannya dengan konsentrasi indoor PM1 dan PM2.5, kami menjalankan tiga model dengan spesifikasi sebagai berikut. Semua konsentrasi partikulat diubah log sebelum dijalankan.
Model : Model asli menggunakan semua variabel dengan beragam model koefisien intersepsi Model 2 : Model lengkap menggunakan semua variabel yang memungkinkan koefisien
aktivitas memasak berubah-ubah berdasarkan kondisi jendela (terbuka atau tidak).
Model 3 : Model yang menggunakan semua variabel dengan syarat bahwa hanya ketika jendela terbuka digunakan sebagai data. Model ini menggunakan beragam intersep untuk sesi puncak yang berbeda (pagi, malam dan non-puncak)
Persamaan 1 berikut menggambarkan estimasi partikulat halus dengan beragam intersep (Model 1 dan 3) dan Persamaan 2 menjelaskan model di mana intersep dan kemiringan bervariasi berdasarkan kelompok (koefisien kegiatan memasak bervariasi berdasarkan status jendela (terbuka atau tidak) seperti yang digambarkan oleh Model 2.
𝑦𝑖 = 𝛼𝑗[𝑖]+ 𝛽𝑥𝑖 + 𝜖𝑖 Persamaan 1 𝛼𝑗 = 𝑎 + 𝑏𝑢𝑗+ 𝜂𝑗
𝑦𝑖 = 𝛼𝑗[𝑖]+ 𝛽𝑗[𝑖]𝑥𝑖+ 𝜖𝑖 Persamaan 2 𝛼𝑗 = 𝑎0+ 𝑏0𝑢𝑗 + 𝜂𝑗1
𝛽𝑗 = 𝑎1 + 𝑏1𝑢𝑗+ 𝜂𝑗2
yi = partikulat halus (PM1 dan PM2.5 konsentrasi polutan indoor dalam µg/m3 dalam i variabel pengukuran
𝛼𝑗[𝑖], 𝛽, 𝛽𝑗[𝑖]𝑥𝑖 = parameter yang tidak diketahui
xi = variabel lain yang terdapat pada Tabel 1 I = nilai konsentrasi berdasarkan data observasi
j[i] = Persamaan 1 mengacu pada memungkinkan intersepsi yang bervariasi menurut sesi puncak (pagi, malam, dan sesi non-puncak), sedangkan Persamaan 2 mencerminkan intercept dan slope pada kegiatan memasak yang bervariasi berdasarkan sesi puncak.
dengan komponen acak terdistribusi secara normal dan varian dalam komponen acak yang dianggap tidak berkorelasi.
3.2 Pembuatan Laporan
Pembutan laporan dilaksanakan setelah semua langkah-langkah dapat diselesaikan dengan baik sehingga hasil yang diperoleh dari pengukuran lapangan serta pengisian kuisioner oleh penghuni dapat dijelaskan secara rinci.
3.3 Tempat dan Waktu
Pengukuran kualitas udara dan pengisian kuisioner oleh penghuni dilaksanakan di apartemen- apartemen di Surabaya. Apartemen tersebut meliputi beberapa apartemen yang ada di Surabaya Timur. Penelitian ini dimulai bulan Maret hingga Agustus 2020.
BAB 4 ORGANISASI TIM, JADWAL, DAN ANGGARAN BIAYA
4.1 Organisasi Tim Peneliti
No Nama / NIDN Instansi Asal Bidang Ilmu Alokasi Waktu (jam/minggu)
Uraian Tugas
1. Dr. Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM / 0019018201
Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Dispersi Kualitas Udara
6 x 1 jam – Mengkoordinasi proses pengambilan data,
pengumpulan data, analisis data, penyusunan
interpretasi data, dan penyusunan laporan penelitian
– Mengkoordinasi persiapan instrument penelitian (survei), perlengkapan penelitian, dan instrument penunjang.
– Mengkoordinasi penyusunan laporan akhir penelitian, publikasi hasil penelitian dalam seminar internasional/ prosiding.
– Bertanggung jawab terhadap hasil pelaporan penelitian mulai dari laporan harian, laporan kemajuan, laporan akhir dan penggunaan
anggaran penelitian 2. Dr. Abdu Fadli
Assomadi SSi, MT.
Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Inventarisasi emisi gas rumah kaca
4 x 1 jam – Membantu ketua dalam proses pengambilan data, pengumpulan data, analisis data, penyusunan
interpretasi data, dan penyusunan laporan penelitian.
– Membantu ketua dalam persiapan instrument penelitian, perlengkapan penelitian, dan instrument penunjang.
– Membantu ketua dalam penyusunan laporan akhir penelitian, publikasi hasil penelitian dalam seminar nasional/ prosiding.
– Turut bertanggung jawab terhadap hasil pelaporan penelitian mulai dari laporan harian, laporan kemajuan, laporan akhir dan penggunaan
anggaran penelitian
4.2 Jadwal Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, yaitu bulan April 2020 hingga Juni 2020. Jadwal pelaksanaan penelitian disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Rancangan Jadwal Penelitian No Rincian Kegiatan
Maret April Mei Juni Juli Agustus September 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 A PROPOSAL PENELITIAN
1 Kajian Pustaka 2 Penetapan lokasi penelitian 3 Pertemuan awal anggota
penelitian
4 Penentuan jadwal penelitian 5 Penetapan bentuk rancangan
penelitian
6 Persiapan penyusunan instrumen
penelitian
B PERSIAPAN PENELITIAN 1 Perizinan dengan pihak terkait 2 Pra-survei lokasi dan responden 3 Pembuatan dan penggandaan
kuesioner
C PENGAMBILAN DATA
LAPANGAN
1 Pertemuan anggota penelitian 2 Persiapan pertanyaan dan
penggandaan kuesioner
3 Survei lapangan 4 Penyusunan data hasil survei E ANALISIS DATA
1 Pertemuan anggota untuk analisis data
2 Input data (persiapan bahan data)
3 Pengolahan data 4 Penyusunan hasil pengolahan
data
F Laporan kemajuan 1 Penyusunan laporan kemajuan 2 Penggandaan dan pengiriman
laporan
G Laporan akhir 1 Analisis hasil pengolahan data 2 Penyusunan kesimpulan dan
rekomendasi
3 Penulisan laporan akhir 4 Penggandaan dan pengiriman H PUBLIKASI
1 Penyusunan naskah artikel ilmiah
2
Pengiriman naskah pada seminar internasional atau jurnal
internasional
4.1 Rancangan Anggaran Biaya Penelitian
Perencanaan biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian ini disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Ringkasan Anggaran Biaya
No Jenis Pengeluaran Biaya Diusulkan (Rp)
1 Gaji dan upah (Maks. 30%) 13.500.000
2 Bahan habis pakai dan peralatan 18.000.000 3 Belanja barang non-operasional 9.600.000
4 Belanja perjalanan 8.200.000
Jumlah 49.300.000
Detail rencana pengeluaran diberikan sebagai berikut.
1. Honor
No Posisi Volume Satuan Honor/Jam (Rp) Total (Rp) 1 Pengolah data I 1 Penelitian 1,500,000.00 1,500,000.00
2 Pembantu lapangan I 120 OH 50,000.00 6,000,000.00
3 Pembantu lapangan II 120 OH 50,000.00 6,000,000.00
Jumlah 13,500,000.00
2. Belanja habis pakai dan peralatan
No Material Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Kertas A4 20 Rim 50,000.00 1,000,000.00
2 Tinta printer 10 Unit 120,000.00 1,200,000.00
3 Penjilidan 20 Unit 40,000.00 800,000.00
4 Fotokopi 1 Ls 5,000,000.00 5,000,000.00
5 Konsumsi selama survei 1 Ls 10,000,000.00 10,000,000.00
Jumlah 18,000,000.00
3. Belanja barang non-operasional lainnya
No Material Volume Satuan Harga Satuan
(Rp) Total (Rp) 1 Sewa alat lab untuk pengukuran 120 Hari 80,000.00 9,600,000.00
Jumlah 9,600,000.00
4. Belanja perjalanan
No Material Volume Satuan Harga Satuan
(Rp) Biaya (Rp) 1 Pengujian untuk kalibrasi 3 Hari 600,000.00 1,800,000.00 2 publikasi internasional (jurnal) 1 Ls 4,000,000.00 4,000,000.00 3 Transportasi untuk Survei lapangan 120 Hari 20,000.00 2,400,000.00
Jumlah 8,200,000.00
DAFTAR PUSTAKA
Abdullahi, K. L., Delgado-Saborit, J. M., & Harrison, R. M. (2013). Emissions and indoor concentrations of particulate matter and its specific chemical components from cooking: A review. Atmospheric Environment, 71, 260–
294. https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2013.01.061
Almeida, S. M., Canha, N., Silva, A., Do Carmo Freitas, M., Pegas, P., Alves, C., … Pio, C. A. (2011). Children exposure to atmospheric particles in indoor of Lisbon primary schools. Atmospheric Environment, 45(40), 7594–7599.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2010.11.052
Challoner, A., & Gill, L. (2014). Indoor / outdoor air pollution relationships in ten commercial buildings : PM 2 . 5 and NO 2. Building and Environment, 80, 159–173. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2014.05.032
Chang, T. J., Kao, H. M., & Hsieh, Y. F. (2007). Numerical study of the effect of ventilation pattern on coarse, fine, and very fine particulate matter removal in partitioned indoor environment. Journal of the Air and Waste Management
Association, 57 (2), 179–189.
https://doi.org/10.1080/10473289.2007.10465311
Chen, A., Gall, E. T., & Chang, V. W. C. (2016). Indoor and outdoor particulate matter in primary school classrooms with fan-assisted natural ventilation in Singapore. Environmental Science and Pollution Research, 23(17), 17613–
17624. https://doi.org/10.1007/s11356-016-6826-7
Chithra, V.S., Nagendra, S.M.S., (2014a). Seasonal trends of indoor particulate matter concentrations in a naturally ventilated school building. Presented at the AIR POLLUTION 2014, Opatija, Croatia, pp. 341–351.
https://doi.org/10.2495/AIR140281
Chithra, V. S., & Nagendra, S. M. S. (2014b). Urban Climate Impact of outdoor meteorology on indoor PM10, PM2. 5 and PM1 concentrations in a naturally ventilated classroom. Urban Climate, 10, 77–91.
https://doi.org/10.1016/j.uclim.2014.10.001
Cincinelli A., Martellini T. 2017. Indoor air quality and health. Int. J. Environ. Res.
Public Health, 14
Dai, X., Liu, J., Li, X., & Zhao, L. (2018). Long-term monitoring of indoor CO2and PM2.5 in Chinese homes: Concentrations and their relationships with outdoor environments. Building and Environment, 144(August), 238–247.
https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2018.08.019
Elbayoumi, M., Azam, N., Faizah, N., Yusof, F., Shukri, A., Yahaya, B., … Zia, A.
(2014). Multivariate methods for indoor PM 10 and PM 2 . 5 modelling in naturally ventilated schools buildings. 94, 11–21.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2014.05.007
Frey, S. E., Destaillats, H., Cohn, S., Ahrentzen, S., & Fraser, M. P. (2014).
Characterization of indoor air quality and resident health in an Arizona senior
housing apartment building. Journal of the Air and Waste Management
Association, 64(11), 1251–1259.
https://doi.org/10.1080/10962247.2014.937513
Gao, J., Woodward, A., Vardoulakis, S., Kovats, S., Wilkinson, P., Li, L., … Liu, Q.
(2017). Haze, public health and mitigation measures in China: A review of the current evidence for further policy response. Science of the Total
Environment, 578(155), 148–157.
https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2016.10.231
Gelman A., and Hill J. (2007). Data Analysis Using Regression and Multilevel/Hierarchical Models. Cambridge University Press, New York, America
Goyal, R., & Khare, M. (2011). Indoor air quality modeling for PM10, PM2.5, and PM1.0in naturally ventilated classrooms of an urban Indian school building.
Environmental Monitoring and Assessment, 176(1–4), 501–516.
https://doi.org/10.1007/s10661-010-1600-7
Guo, H., Morawska, L., He, C., & Gilbert, D. (2008). Impact of ventilation scenario on air exchange rates and on indoor particle number concentrations in an air- conditioned classroom. Atmospheric Environment, 42(4), 757–768.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2007.09.070
Hassanvand, M. S., Naddafi, K., Faridi, S., Arhami, M., Nabizadeh, R., Sowlat, M. H.,
… Yunesian, M. (2014). Indoor/outdoor relationships of PM10, PM2.5, and PM1 mass concentrations and their water-soluble ions in a retirement home and a school dormitory. Atmospheric Environment, 82, 375–382.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2013.10.048
He, C., Morawska, L., Hitchins, J., & Gilbert, D. (2004). Atmospheric Envrionment, 38(21), 3405–3415. Retrieved from http://eprints.qut.edu.au/
Huboyo, H.S., Tohno, S., Cao, R., 2011. Indoor PM2.5 Characteristics and CO Concentration Related to Water-Based and Oil-Based Cooking Emissions Using a Gas Stove. Aerosol Air Qual. Res. 11, 401–411.
https://doi.org/10.4209/aaqr.2011.02.0016
Johannesson, S., Gustafson, P., Molnár, P., Barregard, L., & Sällsten, G. (2007).
Exposure to fine particles (PM2.5 and PM1) and black smoke in the general population: Personal, indoor, and outdoor levels. Journal of Exposure Science and Environmental Epidemiology, 17(7), 613–624.
https://doi.org/10.1038/sj.jes.7500562
Lai, A. C. K., Mui, K. W., Wong, L. T., & Law, L. Y. (2009). An evaluation model for indoor environmental quality (IEQ) acceptance in residential buildings.
Energy and Buildings, 41(9), 930–936.
https://doi.org/10.1016/j.enbuild.2009.03.016
Lai, A. C. K., Fung, J. L. S., Li, M., & Leung, K. Y. (2012). Penetration of fine particles through rough cracks. Atmospheric Environment, 60, 436–443.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2012.06.053
Lee, S. C., Li, W. M., & Yin Chan, L. (2001). Indoor air quality at restaurants with different styles of cooking in metropolitan Hong Kong. Science of the Total
Environment, 279(1–3), 181–193. https://doi.org/10.1016/S0048- 9697(01)00765-3
Martins, N. R., & Carrilho, G. (2017). Impact of outdoor PM2 . 5 on natural ventilation usability in California ’ s nondomestic buildings. Applied Energy, 189, 711–
724. https://doi.org/10.1016/j.apenergy.2016.12.103
Massey D, Masih J, Kulshrestha A, et al. Indoor/outdoor relationship of fine particles less than 2.5μm (PM2.5) in residential homes locations in central Indian region. Building and Environment. 2009, 44(10): 2037-2045.
Massey D, Kulshrestha A, Masih J, et al. Seasonal trends of PM10, PM5.0, PM2.5 & PM1.0 in indoor and outdoor environments of residential homes located in North-Central India. Building and Environment. 2012, 47: 223- 231.
Monn, C., Fuchs, A., Hogger, D., Junker, M., Kogelschatz, D., Roth, N., & Wanner, H, U. (1997). Particulate matter less than 10 um (PM 10) and fine particles less than 2.5 um (PM2.5) : relationships between indoor , outdoor and personal concentrations. 208, 15–21.
Nw, M., (2010). Risk factors for indoor air pollution in rural households in Mauche division, Molo district, Kenya 10, 5.
Nguyen J.L., Schwartz D.W., and Dockery D.W. (2014). The relationship between indoor and outdoor temperature, apparent temperature, relative humidity, and absolute humidity. Indoor Air, 24 (2014), pp. 103-112
Raaschou-Nielsen, O., Sørensen, M., Hertel, O., Chawes, B.L.K., Vissing, N., Bønnelykke, K., Bisgaard, H., 2011. Predictors of indoor fine particulate matter in infants’ bedrooms in Denmark. Environ. Res. 111, 87–93.
https://doi.org/10.1016/j.envres.2010.10.007
Rahman, A., 2004. Indoor air pollution and its health impact: a case study of Aligarh city, India. Air Pollut. XII 11.
See, S. W., & Balasubramanian, R. (2006). Risk assessment of exposure to indoor aerosols associated with Chinese cooking. Environmental Research, 102(2), 197–204. https://doi.org/10.1016/j.envres.2005.12.013
Sharma, D., Jain, S., 2019. Impact of intervention of biomass cookstove technologies and kitchen characteristics on indoor air quality and human exposure in rural settings of India. Environ. Int. 123, 240–255.
https://doi.org/10.1016/j.envint.2018.11.059
Singer, B. C., Delp, W. W., Black, D. R., & Walker, I. S. (2015). Measurement-based evaluation of ventilation and filtration systems for reducing outdoor PM 2 . 5 in a modern California detached house. Proceedings of Indoor Air 2016,
#1124. Url: https://www.isiaq.org/docs/Papers/Paper1124.pdf. Accessed on:
15th September 2019
Siddiqui, A.R., Lee, K., Bennett, D., Yang, X., Brown, K.H., Bhutta, Z.A., Gold, E.B., 2009. Indoor carbon monoxide and PM 2.5 concentrations by cooking fuels in Pakistan. Indoor Air 19, 75–82. https://doi.org/10.1111/j.1600- 0668.2008.00563.x
Song, P., Wanga, L., Hui, Y., Li, R., 2015. PM2.5 Concentrations Indoors and Outdoors in Heavy Air Pollution Days in Winter. Procedia Eng. 121, 1902–1906.
https://doi.org/10.1016/j.proeng.2015.09.173
Syafei, A.D., Constantya, Q., & Ciptaningayu, T. N. (2018). Study of ambient air quality concentration patterns in Surabaya (Parameter: NO, NO2, O3).
International Journal of Civil Engineering and Technology, 9(8).
Syafei, A.D., Fujiwara, A., & Zhang, J. (2014). Spatial and Temporal Factors of Air Quality in Surabaya City: An Analysis based on a Multilevel Model.
Procedia - Social and Behavioral Sciences, 138(0), 612–622.
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.07.246
Upadhyay, A. K., Singh, A., Kumar, K., & Singh, A. (2015). Impact of indoor air pollution from the use of solid fuels on the incidence of life threatening respiratory illnesses in children in India. BMC Public Health, 15(1), 300.
https://doi.org/10.1186/s12889-015-1631-7
Viana, M., Díez, S., & Reche, C. (2011). Indoor and outdoor sources and infiltration processes of PM1 and black carbon in an urban environment. Atmospheric
Environment, 45(35), 6359–6367.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2011.08.044
Wang, Z., Yu, Z., 2017. PM2.5 and Ventilation in a Passive Residential Building.
Procedia Eng. 205, 3646–3653.
https://doi.org/10.1016/j.proeng.2017.10.226
Wu, Y., Chen, C., Du, Y., Chen, Z., Li, Y., 2017. Investigation of Indoor and Outdoor PM2.5 Pollution Situation in Beijing. Procedia Eng. 205, 1223–1229.
https://doi.org/10.1016/j.proeng.2017.10.358
Yang, Z., Shen, J., Gao, Z., 2018. Ventilation and Air Quality in Student Dormitories in China: A Case Study during Summer in Nanjing. Int. J. Environ. Res.
Public. Health 15, 1328. https://doi.org/10.3390/ijerph15071328
Zhang, T. (Tim), Su, Z., Wang, J., & Wang, S. (2018). Ventilation, indoor particle filtration, and energy consumption of an apartment in northern China.
Building and Environment, 143(June), 280–292.
https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2018.07.020
Zhang, N., Jin, W., He, J., 2016. Experimental Study on the Influence of Ventilated Window on Indoor Air Quality and Energy Consumption. Procedia Eng. 146, 296–302. https://doi.org/10.1016/j.proeng.2016.06.394
LAMPIRAN 1. BIODATA TIM PENELITI
Lampiran 1.1. Biodata Ketua Peneliti.
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Dr. Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM 2 Jenis Kelamin Laki-laki
3 Jabatan fungsional Lektor
4 NIP 19820119 200501 1 001
5 NIDN 0019018201
6 Tempat/tanggal lahir Surabaya, 19 Januari 1982
7 E-mail [email protected]
8 Nomor Telepon/HP 031-8539073 / HP 08113339287
9 Alamat Kantor Gedung TL Lantai 2, Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya, Indonesia, 60111
10 Nomor Telepon/Faks 031-5948886 / 031-5928387 11 Lulusan yang Telah
Dihasilkan
S1 = 20 orang, S2 = 3 orang, S3 = 0 orang 12 Mata Kuliah yg Diampu 1. Pencemaran Udara
2. Pengendalian Emisi dan Udara Ambien 3. Model Dispersi Pencemar Udara
B. Riwayat Pendidikan
S1 S2 S3
Nama Perguruan Tinggi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
National Taiwan University (NTU)
Hiroshima University (HU) Bidang Ilmu Teknik Lingkungan Teknik Lingkungan Pencemaran Udara Tahun Masuk-Lulus 2000-2004 2005-2007 2011-2014
Judul
Skripsi/Tesis/Disertasi
Study of Trans Membrane Pressure and Flow System towards Flux in Ultrafiltration Membrane System
TiO2 coated membrane coupled with UV irradiation for natural organic
removal
Analyzing and
Intepreting Air Quality Monitoring Data in Surabaya
Nama
Pembimbing/Promotor
Dewi Dwirianti, ST., MEng
Lin Cheng Fang, Prof. Fujiwara Akimasa, Prof.
C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp) 1. 2011 Penelitian Guru Besar SPP-SPI ITS
2011 : Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Berbasis
Biodiversitas Tumbuhan Anggota
Dikti -
2. - -
3. - -
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp)
- - -
- - -
E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/
Nomor/Tahun 1. Temporal and spatial analysis of peak-
concentration times for NO and NO2 in morning and evening events: a case study of Surabaya city
Procedia Environmental Sciences
28 (2015) pp.
509–518
2. Applying Exponential State Space Smoothing Model to Short Term Predict NO2
Jurnal Teknologi
75:8, pp 107- 111 (2015)
3. - - -
F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No. Nama Pertemuan Ilmiah /
Seminar
Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat 1 the International Conference
on Advances in Mechanical Engineering 2015 (ICAME 2015)
Applying Exponential State Space Smoothing Model to Short Term Predict NO2
Bali, Indonesia
2 - - -
3 - - -
G. Karya Buku dalam 5 tahun terakhir
No. Judul Buku Tahun Jumlah Halaman Penerbit
1 - - -
2 - - -
H. Perolehan HKI dalam 5-10 tahun terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1 - - -
2 - - -
I. Pengalaman merumuskan kebijakan publik/rekayasa sosial lainnya dalam 5 tahun terakhir
No. Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya yang telah ditetapkan
Tahun Tempat Penerapan
Respon Masyarakat
1 - - -
2 - - -
J. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)
No. Judul Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan
Tahun 1 Research Grant from Global
Environmental Leadership
Graduate School of International Development
2012-2014
(GELs), Graduate School of International Development and Cooperation, Hiroshima University
and Cooperation (IDEC), Hiroshima University
2 Best Paper Award on 4th International Conference on Advances in Mechanical Engineering, 26-27th August 2015, Bali
Universiti Teknologi Mara 2015
3 Best Presentation Award on 4th International Conference on Advances in Mechanical Engineering, 26-27th August 2015, Bali
Universiti Teknologi Mara 2015
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan Penugasan Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi.
Surabaya, 3 Maret 2020 Ketua Pengusul,
Dr.Eng. Arie Dipareza Syafei, ST., MEPM NIDN. 0019018201