1 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 27 https://pmb.brin.go.id/perempuan-bali-di-kancah-pasar-tradisional/
EDISI APRIL 2022
VOL 25 NO 24, APRIL 2022
VOL 25 NO 25, APRIL 2022
VOL 25 NO 26, APRIL 2022
VOL 25 NO 27, APRIL 2022
VOL 25 NO 28, APRIL 2022
www.pmb.brin.go.id
DAFTAR ISI
Editorial Board ... I Vol 25, No 24, April 2022:
Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren : Powerlessness Santri dan Urgensi Pendidikan Seksual Dalam Kurikulum Pesantren
Nuzul Solekhah ... 1 Vol 25, No 25, April 2022:
Kebijakan dan Minoritasi Bahasa Sunda di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat
Imelda ... 6 Vol 25, No 26 April 2022:
Potensi Terjadinya Kesenjangan Sosial pada Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Perpindahan Ibu Kota Negara (IKN)
Ardy Firman Syah ... 10 Vol 25, No 27, April 2022:
Perempuan Bali di Kancah Pasar Tradisional
Kadek Ayu Ariningsih ... 13 Vol 25, No 28, April 2022 :
Kilas Kartini 2022
Prof. Widjajanti M Santoso & Dr. Ikbal Maulana ... 16 EDISI APRIL 2022
I
EDISI APRIL 2022
EDITORAL BOARD
Penanggung jawab
Lilis Mulyani, SH., M.PL., Ph.D. (Plt. Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya OR IPSH BRIN)
Koordinator : Dicky Rachmawan, S. Sos.
Wakil Koordinator : Al Araf Assadallah Marzuki M.H.
Sekretaris : Budi Lestari
Tim Editor :
o Dicky Rachmawan, S. Sos.
o Al Araf Assadallah Marzuki M.H.
o Rusydan Fathy, S. Sos.
o Jalu Lintang Y.A., S. Ant.
o M. Luthfi Khair A., S.Hum.
Teknis dan Layout :
o Praditya Mer Hananto, M.Krim
o Dimas Sony Dewantara, S.Kom.
Perencana Keuangan : Tedi Setiadi S.E, M.M
Nomor ISSN Online: http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1592897727&1&&2020
www.pmb.brin.go.id
1 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 24 https://pmb.brin.go.id/kekerasan-seksual-di-pondok-pesantren-powerlessness-santri-dan-urgensi-pendidikan-seksu- al-dalam-kurikulum-pesantren/
Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren : Powerlessness Santri dan Urgensi Pendidikan Seksual Dalam Kurikulum Pesantren
Nuzul Solekhah
adalah seorang Peneliti Ahli Pertama di Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat ini Ia sedang tertarik dengan tema permas- alahan kesejahteraan sosial dan keter- kaitannya dengan aspek gender, well being dan permasalahan ruang urban.
Di samping itu, penulis memiliki minat terhadap budaya, te- knologi dan media karena penelitian di era saat ini tidak dapat dilepaskan dari hal tersebut. Email : [email protected]
P
andemi mengakibatkan penggunaan media sosial di Indonesia mengalami peningkatan. Dari sebanyak 274,9 juta jiwa total populasi di Indonesia, 170 juta diantaranya merupakan pengguna aktif media sosial (KOMPAS, 2021). Salah satu berita yang cukup menghebohkan media sosial di tahun 2021 adalah maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren. Menurut data Komnas Perempuan, selama tahun 2015- 2020, kasus kekerasan seksual di Pondok pesantren menempati posisi tertinggi kedua setelah perguruan tinggi. Sejalan dengan peningkatan alokasi penggunaan waktu dalam bermedia sosial, aktivisme tagar menjadi salah satu pendorong bagaimana kasus ini akhirnya terkuak ke publik pada tahun 2021. Viralnya HW (36) dengan kasus pemerkosaan belasan santriwati di sebuah rumah tahfidz di Bandung, Jawa Barat hingga korbannya hamil hanyalah salah satu dari sekian kasus kekerasan seksual yang mengantre untuk direspon dan dikawal.Grafik. 1. Kekerasan Seksual dan Diskriminasi Berdasar- kan Jenjang Pendidikan
Sumber: (Komisi Nasional Perempuan, 2020)
Mengacu pada poin Sustainable Development Goals (SDG’s), terdapat dua poin tujuan yang bersinggungan dengan Pesantren.
Tujuan ke empat yaitu Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua, serta tujuan ke lima yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Seharusnya, pondok pesantren menjadi salah satu institusi sosial yang berkontribusi terhadap pencapaian kedua tujuan SDG’s tersebut. Mengingat pondok pesantren merupakan institusi yang di dalamnya melekat dua mandat penting, yaitu sebagai institusi pendidikan sekaligus juga sebagai institusi agama. Pada aspek sejarah, pesantren merupakan sistem pendidikan tertua khas di Indonesia (Zakiah, 2015), meskipun di negara lain seperti Malaysia, India, Pakistan, dan China juga terdapat praktik pendidikan semacam pesantren dengan sebutan Madrasah (Noor, 2019). Pelajar (dalam hal ini juga termasuk santri) merupakan salah satu komponen indikator pembangunan nasional melalui
2 www.pmb.brin.go.id Vol. 25 No. 24 https://pmb.brin.go.id/kekerasan-seksual-di-pondok-pesantren-powerlessness-santri-dan-urgensi-pendidikan-seksu- al-dalam-kurikulum-pesantren/
_ institusi Pendidikan. Di sisi lain, pesantren merupakan institusi agama yang di dalamnya terdapat praktik transfer pengetahuan yang saat ini konon sudah mengalami modernisasi pengajaran Pendidikan islam. Sehingga jebolan pesantren nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi keilmuan keagamaan yang dapat memperkokoh nuansa pembangunan nasional, khususnya dari aspek agama.
Penyebutan Oknum di tengah Sistem Pesantren yang Eksklusif
Viralnya berbagai kasus kekerasan seksual, ternyata diikuti dengan penyebutan istilah oknum dalam pemberitaan di media.
Istilah tersebut rupanya digunakan untuk merujuk tindakan negatif seseorang yang tidak mewakili institusi atau lembaga yang menaunginya (KOMPASIANA, 2015). Padahal jika kita telusuri dalam KBBI, arti kata oknum merujuk pada : 1) penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; pribadi: kesatuan antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus Sebagai tiga—keesaan Tuhan; 2) orang seorang; perseorangan; 2) orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik). Namun, penggunaan istilah oknum di Indonesia bukan hal baru ketika membahas kasus pelanggaran atau tindakan negatif yang terjadi pada institusi yang menaungi norma hukum, agama, dan pendidikan. Misalnya, penyebutan oknum ketika terdapat polisi, pendidik di institusi Pendidikan maupun kiai atau pengasuh yang melakukan kasus kekerasan seksual. Terlepas dari politik bahasa dalam penggunaan kata oknum untuk pelaku kekerasan seksual, rupanya kasus kekerasan seksual di pesantren menempati posisi teratas kedua dengan jumlah aduan terbanyak setelah universitas. Apakah hal ini suatu kebetulan
semata atau memang ada sistem yang bersifat laten dan berpotensi menjadi celah peristiwa itu bisa terjadi secara berulang di lingkungan pesantren?
Pencarian data kasus pelecehan seksual pada anak sulit dilakukan karena sebagian besar kasus tidak dilaporkan atau tidak dikenal (Wismayanti et al., 2019). Begitu pula dengan konteks kasus pelecehan dan kekerasan seksual di institusi pesantren. Sistem di pesantren rata-rata mengharuskan santrinya untuk membatasi diri dengan dunia luar, salah satunya dengan tidak membawa handphone ketika berada di pesantren agar fokus pada kegiatan pembelajaran di pesantren. Dari hasil pembacaan penulis terhadap beberapa berita kekerasan seksual di pesantren, rata-rata kasus tersebut terjadi pada pesantren dengan sistem eksklusif seperti ini. Ruang gerak mereka hanya dibatasi pada lingkungan pesantren, tidak adanya media untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun teman di luar pesantren membuat mereka tidak memiliki kekuatan dan saluran untuk melapor. Beberapa kasus bisa terkuak ke publik karena korban sempat kabur dari pesantren dan melapor pada orang tua atau keluarga terdekat. Sistem yang seperti ini membuat pelaku berpotensi melakukan perbuatan tersebut selama berkali-kali, karena tidak ada ruang pengawasan yang ketat dari lingkungan eksternal.
Penanaman Sikap Kritis dalam Narasi Mencari Berkah di Lingkungan Pesantren.
Berdasarkan Pangkalan Data Pondok Pesantren Kementerian Agama, pada tahun 2019 terdapat 2.905.316 santri mukim dan sisanya 1.171.091 adalah santri non mukim.
Santri yang mukim sudah tidak asing dengan
3 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 24 https://pmb.brin.go.id/kekerasan-seksual-di-pondok-pesantren-powerlessness-santri-dan-urgensi-pendidikan-seksu- al-dalam-kurikulum-pesantren/
istilah nilah berkah dan relasinya dengan eksistensi kiai, karena kiai memiliki peran penting dalam pesantren. Dalam pesantren, dikenal istilah terminologi talmadzah yang menggambarkan bagaimana sikap pasif santri ke guru terjadi karena pola pendidikan santri sebagai murid, abdi dan kawula yang mana hal ini dijelaskan dalam kitab Ta’lim Muta’allim, suatu referensi kitab kuning yang dipelajari di pesantren (Zakiah, 2015). Selain memiliki gaya kepemimpinan karismatik, posisi kiai sebagai penyambung ilmu di pesantren membuat mereka dihormati karena dianggap menguasai dan mengamalkan ilmu yang diajarkan, sehingga para santri merasa harus patuh apabila ingin mendapat berkah dari mereka. Posisi kiai sebagai patron bagi para santri menjadikan mereka melakukan tindakan sukarela dalam menjalankan perintah kiai.
Lantas apa hubungannya voluntary action yang cenderung dimiliki para santri dengan kasus kekerasan seksual di pesantren?
Sebuah artikel dalam Majalah Tempo mengatakan bahwa dengan alasan ngalap berkah, pemilik pesantren di Pamekasan Madura mencabuli dua santri yang masih di bawah umur, kedua korban memiliki trauma berat, ada korban yang takut kualat melapor polisi (TEMPO, 2022). Alasan semacam ini menunjukkan bahwa narasi mencari berkah yang seharusnya menjadi saluran voluntary action santri kaitannya dengan menyempurnakan ilmu agama yang dipelajari, justru disalahgunakan lagi-lagi oleh “oknum”
untuk menormalisasi kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Tindakan mencari berkah atau dalam Bahasa arab disebut dengan Tabaruk, sudah menjadi tradisi di Indonesia, terutama di Pesantren.
Fenomena semacam ini menunjukkan
perlunya menanamkan sikap kritis pada pembelajaran di pesantren. Penanaman sikap kritis merupakan urgensi yang seharusnya dimasukkan dalam sistem pembelajaran di pesantren saat ini. Sebagai pencari ilmu, selayaknya para santri mendapatkan penguatan sikap kritis dengan pengenalan konsep ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi terkait realitas atau kebenaran yang akan dipelajari, epistemologi terkait hakikat atau susunan berpikir untuk mengetahui kebenaran yang ingin diketahui, sedangkan aksiologi adalah analisis terkait hakikat nilai- nilai kebaikan, kebenaran, keindahan dan religiositas (Rahmadani et al., 2021). Rangkaian pemahaman terhadap filsafat keilmuan ini yang kemudian digunakan sebagai refleksi atas pencarian suatu ilmu agar tetap pada koridor klarifikasi dalam menjembatani tujuan hidup dan pendidikan.
Grafik 2. Perbandingan Santri Mukmin dan Non Mukmin
Sumber: Diolah dari https://ditpdpontren.kemenag.
go.id/pdpp/grafik
Pendidikan Seksual dalam Kurikulum Pondok Pesantren
Sering kita mendengar pengajaran tentang bab pernikahan dan akil balig yang diajarkan dalam pesantren. Hal ini perlu ditindak lanjuti dengan membuat kurikulum tentang pendidikan seksual di lingkungan pendidikan
4 www.pmb.brin.go.id Vol. 25 No. 24 https://pmb.brin.go.id/kekerasan-seksual-di-pondok-pesantren-powerlessness-santri-dan-urgensi-pendidikan-seksu- al-dalam-kurikulum-pesantren/
pesantren. pendidikan seksual yang dimaksud dalam hal ini dalam artian komprehensif, yaitu suatu upaya agar santri dapat melakukan proteksi diri terhadap tindakan eksploitasi seksual, perlindungan baik secara moril, psikologis maupun hukum terhadap korban kekerasan seksual di pesantren. Sikap kritis dan perlindungan atas otoritas tubuh mereka diharapkan dapat menjadi bekal bagi para santri agar tidak berada dalam powerlessness ketika menghadapi situasi kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Sejauh ini, terapat lima unsur pokok dalam pendirian pesantren di Indonesia, yaitu 1)adanya Kyai,tuan/guru/
ustad atau sebutan lain sebagai figur dan/atau sekaligus pengasuh yang dipersyaratkan wajib berpendidikan pondok pesantren, 2)terdapat minimal 15 santri, 3) adanya pondok/asrama, 4) adanya masjid atau mushala, 5) terdapat pengajaran kitab-kitab atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin (KEMENAG RI, 2021). Dengan terungkapnya berbagai kasus kekerasan seksual di pesantren, sudah selayaknya pesantren memasukkan pendidikan seksual dalam kurikulum pondok, serta Syarat Operasional Prosedur (SOP) jika terjadi kasus kekerasan seksual di dalam instansi tersebut.
(Editor: Al Araf A.M)
Referensi:
Ilustrasi: Shutterstock
Komisi Nasional Perempuan. (2020). Kekerasan Seksual Di Lingkungan Pendidikan. Https://
Komnasperempuan.Go.Id/, 1–3. https://
komnasperempuan.go.id/uploadedFiles/
webOld/file/pdf_file/2020/Lembar Fakta KEKERASAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN (27 Oktober 2020).pdf
Noor, F. A. (2019). 7. From Pondok to
Parliament: The Role Played by the Religious Schools of Malaysia in the Development of the Pan-Malaysian Islamic Party (PAS).
The Madrasa in Asia, 191–216. https://doi.
org/10.1515/9789048501380-009
Rahmadani, E., Armanto, D., Syafitri, E., &
Umami, R. (2021). Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Dalam Pendidikan Karakter. Journal of Science and Social Research, 4(3), 307. https://
doi.org/10.54314/jssr.v4i3.680
Wismayanti, Y. F., O’Leary, P., Tilbury, C., & Tjoe, Y. (2019). Child sexual abuse in Indonesia:
A systematic review of literature, law and policy. Child Abuse and Neglect, 95(November 2018), 104034. https://doi.org/10.1016/j.
chiabu.2019.104034
Zakiah, L. (2015). Kepercayaan Santri Pada Kiai. Buletin Psikologi, 12(1), 33–43. https://doi.
org/10.22146/bpsi.7467
KEMENAG RI. (2021, Maret 24). https://ntb.
kemenag.go.id/. Retrieved from kemenag.go.id/:
https://ntb.kemenag.go.id/baca/1616559420/
ingin-mendirikan-pondok-pesantren-ini- syaratnya
KOMPAS. (2021, 10 14). kompas.com.
Retrieved from https://tekno.kompas.
com/read/: https://tekno.kompas.com/
read/2021/02/23/11320087/berapa-lama- orang-indonesia-akses-internet-dan-medsos- setiap-hari?page=all
KOMPASIANA. (2015, 6 24). Kompasiana.
Retrieved from https://www.kompasiana.
com/: https://www.kompasiana.com/
dimasadiputra/552e2e1c6ea83435188b4576/
mari-kita-sebut-mereka-sebagai-oknum
TEMPO. (2022, February 12). Majalah Tempo.
Retrieved from https://majalah.tempo.co/
read/hukum/: https://majalah.tempo.co/
5 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 24 https://pmb.brin.go.id/kekerasan-seksual-di-pondok-pesantren-powerlessness-santri-dan-urgensi-pendidikan-seksu- al-dalam-kurikulum-pesantren/
read/hukum/165286/bagaimana-pelecehan- seksual-di-pondok-pesantren-pamekasan ______________________________________
*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN
_______________________________________
6 www.pmb.go.id Vol. 25. No.25 https://pmb.brin.go.id/kebijakan-dan-minoritasi-bahasa-sunda-di-perbatasan-jawa-tengah-dan-jawa-barat/
Sumber Foto: Koleksi Pribdai Kunta Anjana dari twinbon Paguyuban pasundan (2022)
O
tonomi daerah berdampak terhadap bahasa minoritas di Indonesia, khususnya orang Sunda di provinsi Jawa Tengah. Tulisan ini akan mendiskusikan bagaimana Sunda menjadi bahasa yang terabaikan di Provinsi Jawa Tengah setelah otonomi daerah (otda).Kebijakan Bahasa Daerah dan Pasang Surut Pengajaran Bahasa Sunda di Provinsi Jawa Tengah
Otda berlaku setelah UU 22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU 25/1999
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah ditetapkan. Sejak saat ini, daerah provinsi dan kabupaten/kota membuat berbagai peraturan untuk kebutuhan identitas daerahnya, salah satunya peraturan tentang bahasa daerah. Povinsi Jawa Tengah, contohnya, menetapkan, tiga peraturan daerah tentang bahasa, antara lain: (1) Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa, (2) Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 57 tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 Tentang Bahasa, Sastra, Dan Aksara Jawa, dan (3) Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 55 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. Inti dari kebijakan tersebut ialah untuk
“melindungi, membina dan mengembangkan bahasa, sastra dan aksara Jawa” (Pasal 2, Perda 9/2012) dan dalam konteks pendidikan “[s]
emua satuan pendidikan di Jawa Tengah wajib melaksanakan Pelajaran Bahasa Jawa” (Ayat 1, Pasal 13 Pergub 57/2012)
Orang Sunda di provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu etnis minoritas yang berjumlah 323.207 jiwa atau 1,05 % dari total penduduk provinsi Jawa Tengah, berdasarkan sensus tahun 2010 (Suryadinata, Arifin, dan Ananta (2003:20)). Di provinsi tersebut mereka tersebar di dua kabupaten: Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap. Fakta yang paling menarik ialah bahwa mereka bukanlah migran
Kebijakan dan Minoritasi Bahasa Sunda di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat
Imelda
adalah seorang peneliti bahasa-baha- sa minoritas di Indonesia, khususnya Indonesia Timur (Maluku Utara, Pap- ua Barat, dan Papua). Penulis memi- liki keahlian di bidang sosiolinguistik dan sosiologi bahasa. Penulis dapat dihubungi pada email: imeldamataha- [email protected]
7 www.pmb.go.id Vol. 25. No. 25 https://pmb.brin.go.id/kebijakan-dan-minoritasi-bahasa-sunda-di-perbatasan-jawa-tengah-dan-jawa-barat/
dari Jawa Barat, tetapi penduduk setempat yang telah berada di tempat tersebut sejak zaman kerajaan Sunda karena batas kerajaan tersebut ialah Sungai Cipamali yang ada di Provinsi Jawa Tengah saat ini (Noorduyn, 2019: 8).
Kembali pada kebijakan bahasa, Sejak ditetapkannya kebijakan bahasa daerah Jawa, pengajaran bahasa Sunda mengalami pasang surut. Dalam sebuah artikel berbahasa Sunda, DI (60 th), seorang kepala sekolah dasar di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes menegaskan bahwa pengajaran bahasa Sunda praktis berhenti setelah ada peraturan tersebut di kurikulum 2013. Di pertengahan tahun 2014 tiba-tiba sekolah diharuskan melakukan ujian tengah semester bahasa Jawa, padahal yang diajarkan bahasa Sunda. Kondisi ini menghasilkan rasa kecewa di kalangan guru beretnis Sunda. Berbeda dari Brebes, sekolah dasar di Kabupaten Cilacap telah lebih dahulu merasakan dampaknya. Salah satu kecamatan yang dapat dikatakan 100 persen orang Sunda ialah Kecamatan Dayeuhluhur yang terletak persis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sejak otonomi daerah, wilayah ini wajib mengajarkan bahasa Jawa kepada para pelajar sebagai kebijakan muatan lokal provinsi Jawa Tengah. Namun demikian, di awal kemunculan media sosial Facebook para perantau dan masyarakat/pemuda Dayeuhluhur mendiskusikan isu ini di ruang media sosial dan diwujudkan dalam sebuah surat dari masyarakat bahwa mereka meminta pelajaran bahasa Sunda dikembalikan. Surat tersebut segera direspons oleh pengawas pendidikan setempat karena tekanan dari media massa yang gencar memberitakan hal ini dan tekanan dari pemuda dan masyarakat Dayeuhluhur.
Melalui Rekomendasi Nomor 420/0778/02/14 tentang Bahasa Sunda sebagai Salah Satu
Muatan Lokal dalam kurikulum SD/MI, muatan lokal bahasa Sunda dilaksanakan di tahun ajaran 2012/2013 di SD/MI. Namun demikian, surat tersebut tidak cukup kuat untuk melawan Perda Bahasa karena terbukti bahwa di tahun ajaran 2021/2022 ini bahasa Sunda berhenti diajarkan dengan alasan mengikuti peraturan provinsi Jawa Tengah.
Perda Bahasa dan Minoritasi Bahasa Sunda Telah diuraikan di atas bagaimana pengajaran bahasa Sunda timbul-tenggelam di Provinsi Jawa Tengah. Dalam konteks negara Indonesia yang memiliki 710 bahasa yang masih hidup (Eberhard dkk., 2021) dan masyarakatnya yang mayoritas multilingual karena mampu berbahasa lebih dari satu, perda bahasa merupakan sebuah ancaman memiskinkan bahasa.
Pertama, Perda bahasa telah menciptakan kondisi minoritasi bahasa kelompok minoritas. Melalui kebijakan bahasa, pemerintah daerah memilih sebuah identitas untuk mewakili identitas mayoritas daerahnya, seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah.
Dengan perda bahasa, orang Sunda yang dianggap bukan identitas Jawa mengalami tekanan karena identitasnya tidak diakui dan tidak mewakili Jawa Tengah yang lebih ingin menonjolkan identitas kejawaan. Kondisi ini tentu tidak sehat bagi kelompok minoritas karena mereka terpaksa atau dipaksa untuk mengikuti keinginan politis pemerintah daerah.
Kemudian, perlu ditambahkan pula bahwa dalam konteks perda bahasa Jawa, dialek Jogja/
Solo sebagai ragam yang akan dipertahankan sebagai identitas daerah. Padahal, di provinsi ini juga terdapat ragam dialek Jawa lainnya, seperti Jawa Ngapak di Brebes dan Tegal dan Jawa
8 www.pmb.go.id Vol. 25. No.25 https://pmb.brin.go.id/kebijakan-dan-minoritasi-bahasa-sunda-di-perbatasan-jawa-tengah-dan-jawa-barat/
Perinyongan di Banyumas dan dialek-dialek lain di Kabupaten Cilacap. Dengan demikian, minoritasi terjadi tidak hanya pada kelompok minoritas Sunda tetapi juga pada dialek-dialek bahasa Jawa yang dianggap kurang memadai sebagai identitas provinsi. Dengan demikian, peraturan daerah bahasa Jawa di satu sisi telah menegasi eksistensi etnis minoritas lainnya dan memiskinkan dialek-dialek bahasa Jawa yang ada ditengah masyarakat. Padahal, hadirnya perda tersebut pada awal otda juga didukung dengan itikad baik pemerintah Indonesia untuk melestarikan budaya (baca: bahasa) lokal melalui ratifikasi Konvensi tentang Proteksi dan Promosi Keanekaragaman Ekspresi Budaya dan Konvensi Perlindungan Warisan Budaya tak Benda (Heriyadi, 2015:2).
Menanti Perda Bahasa untuk Kelompok Minoritas
Kembali lagi pada konteks Indonesia yang memiliki ratusan bahasa, kondisi minoritas dari segi jumlah penutur merupakan status yang dimiliki oleh hampir seluruh bahasa daerah di sini. Ethnologue (Eberhard, dkk., 2021) mencatat bahwa sekitar 452 bahasa yang berstatus terancam kepunahan hingga punah.
Dengan demikian lebih dari separuh bahasa di Indonesia tampaknya tergolong minoritas.
Selain itu, terdapat pula kondisi-kondisi yang menyebabkan mereka minoritas, seperti yang terjadi pada penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah. Dengan kondisi yang demikian dan keinginan Indonesia mempertahankan keberagaman bahasa, dibutuhkan kebijakan yang lebih inklusif terhadap minoritas bahasa.
Hal ini penting tentu saja karena bahasa Minoritas merupakan kategori yang menjaga keberagaman bahasa. (Editor: Jalu L.YA.)
Referensi:
Ilustrasi: Shutterstock
Eberhard, D. M., Simons, G. F., & Fennig, C. D.
(Ed.). (2021). Ethnologue: Languages of the World (24th ed.). Dallas, Texas: SIL International. http://
www.ethnologue.com
Heriyadi, W. (2015). Bahasa dan Hukum. Ciamis:
Kentja Press.
Noorduyn, J. (2019). Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno. Jakarta: KITLV-Jakarta.
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa.
Peraturan Gubernur Nomor 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 Tentang Bahasa, Sastra, Dan Aksara Jawa.
Peraturan Gubernur No 55 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa.
Rekomendasi Nomor 420/0778/02/14 tentang Bahasa Sunda sebagai Salah Satu Muatan Lokal dalam kurikulum SD/MI
Suryadinata, L., Arifin, E. N., & Ananta, A. (2003).
Indonesian’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Pasir Panjang, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah
Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
9 www.pmb.go.id Vol. 25. No. 25 https://pmb.brin.go.id/kebijakan-dan-minoritasi-bahasa-sunda-di-perbatasan-jawa-tengah-dan-jawa-barat/
______________________________________
*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN
_______________________________________
10 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 26 https://pmb.brin.go.id/potensi-fenomena-kesenjangan-sosial-serta-kompetensi-sumber-daya-manusia-dalam-perpinda- han-ibu-kota-negara-ikn/
Potensi Terjadinya Kesenjangan Sosial pada Kompetensi Sum- ber Daya Manusia dalam Perpindahan Ibu Kota Negara (IKN)
Ardy Firman Syah
merupakan salah satu ASN dengan jabatan Peneliti Ahli Pertama BRIN.
Penulis tertarik pada bidang manaje- men sumber daya aparatur, kebijakan publik serta ekonomi dan perpajakan.
Penulis dapat dihubungi melalui: ardy- [email protected]
P
enetapan kebijakan dalam pemindahan Ibu Kota Negara baru memberikan beragam dampak terhadap pola sosial, pemerataan ekonomi, dan pemerataan tingkat kompetensi terhadap sumber daya manusia.Kemudian, perkembangan infrastruktur dalam pembangunan ibu kota baru membutuhkan tindakan yang diperlukan selanjutnya dalam mereduksi berbagai kemungkinan yang terjadi pasca perpindahan, baik status sosial, sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana.
Hal tersebut adalah hal yang signifikan sebagai fenomena strategis yang diangkat menjadi isu prioritas bagi para pimpinan dalam melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur dan pengesahan lingkungan ibu kota baru.
Langkah strategis pemerintah dalam menetapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Ibu Kota Negara menjadikan sebagai landasan hukum yang komprehensif dalam membangun tata kelola pemerintahan di kawasan Ibu Kota Negara baru. Penetapan dasar hukum ini diharapkan mampu menjadikan susunan Undang-Undang yang dapat merepresentasikan Ibu Kota bukan hanya sebagai simbol negara, tetapi juga mengembalikan hakikatnya pada pembangunan infrastruktur yang memadai
serta pemerataan ekonomi di Indonesia. Pada prinsipnya, penyusunan Undang-Undang Ibu Kota Negara membahas mengenai perpindahan Instansi Pemerintah baik Lembaga maupun Kementerian, pembangunan fasilitas infrastruktur serta perpindahan sumber daya manusia yang merefleksikan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pemerintahan berbasis digital. Kemudian pada bab ketentuan umum didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Ibu Kota Negara menyatakan bahwa pembangunan dan pengelolaan Ibu Kota Nusantara memiliki visi Ibu Kota Negara sebagai kota dunia untuk semua yang bertujuan utama mewujudkan kota ideal yang dapat menjadi acuan (role model) bagi pembangunan dan pengelolaan kota di Indonesia dan dunia. Visi besar tersebut bertujuan untuk mewujudkan Ibu Kota Nusantara sebagai:
1.kota berkelanjutan di dunia, yang menciptakan kenyamanan, keselarasan dengan alam, ketangguhan melalui efisiensi penggunaan sumber daya dan rendah karbon;
2. penggerak ekonomi Indonesia di masa depan, yang memberi peluang ekonomi untuk semua melalui pengembangan potensi, inovasi, dan teknologi; serta
3. simbol identitas nasional, merepresentasikan keharmonisan dalam keragaman sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika.
Aspek pada simbol identitas nasional merefleksikan bahwasanya membangun dan menata Ibu Kota Negara tentunya memerlukan konsep yang matang dan
11 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 26 https://pmb.brin.go.id/potensi-fenomena-kesenjangan-sosial-serta-kompetensi-sumber-daya-manusia-dalam-perpinda- han-ibu-kota-negara-ikn/
didasari pada visi jangka panjang bangsa Indonesia yang tertuang dalam Visi Indonesia 2045. Pembangunan infrastruktur Ibu Kota Negara memerlukan prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), yakni dibangun dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan warga kota dari aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi tanpa mengancam keberlanjutan sistem lingkungan alam. Namun peluang yang muncul dari transisi perpindahan Ibu Kota Negara dari aspek mutasi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta keluarganya sebagai warga pendatang memiliki sisi lainnya yang perlu diperhatikan. Salah satu sisi tersebut adalah kemungkinan munculnya kesenjangan sosial di lingkungan tersebut.
Kesenjangan Sosial
Berdasarkan hasil seminar nasional yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Pudjiastuti, 2019), menyatakan beberapa poin penting yaitu adanya potensi migrasi sekitar 1,5 juta ASN beserta keluarga pada tahun 2045 mendatang. ASN yang akan pindah mayoritas berpendidikan S1 ke atas, padahal di daerah calon Ibu Kota Negara baru mayoritas masih lulusan SMA. Oleh sebab itu perlu dipikirkan bagaimana strategi adaptasi bagi penduduk lokal untuk mendapat kualitas kehidupan yang sama. Berdasarkan tinjauan teoritis menurut Bruce J. Cohen dalam jurnal Taher (2010), konsep kesenjangan sosial diartikan sebagai kesenjangan yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu di dalam masyarakat.
Kegagalan adaptasi dan kesenjangan sosial yang terjadi berimplikasi pada hubungan
yang tidak harmonis dimana hubungan antar kelompok menjadi tegang dan berpotensi konflik. Hubungan yang tidak harmonis antara penduduk asli dengan penduduk pendatang terjadi karena adanya latar belakang yang berbeda. Perbedaan latar belakang tersebut dapat berpotensi memunculkan perbedaaan sikap dan pandangan yang berujung pada kurangnya menghargai satu sama lain. Bruce J. Cohen sering menyebut bahwa kehidupan sosial menghasilkan konflik yang berstruktur (Taher, 2010). Konflik selalu terjadi dalam suatu struktur atas sistem tertentu yang secara umum dapat dilihat dalam kalangan atas dengan kalangan bawah. Konflik ini terjadi karena kepentingan yang berbeda maka akan mudah dipahami bahwa konflik itu selalu ada di dalam masyarakat antara kalangan atas dan kalangan bawah tersebut (Wirawan, 2012).
Peran Pemerintah Dalam Menyelesaikan Kesenjangan Sosial
Atmosfer yang diciptakan dalam perpindahan Ibu Kota Negara Indonesia akan memperlihatkan potensi terjadinya kesenjangan baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya yang diciptakan dengan munculnya warga pendatang dan kontradiksinya terhadap kehidupan sosial budaya warga setempat.
Aspek sosial dapat berupa guncangan budaya (culture shock)—perubahan paradigma secara cepat dan singkat antara aspek sosial budaya yang biasa diterapkan pada daerah tersebut.
Lokasi inti Ibu Kota Negara direncanakan akan menempati sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar). Saat ini, penduduk di Kabupaten PPU berjumlah 160,9 ribu jiwa, dan di Kabupaten Kukar berjumlah 786,1 ribu
12 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 26 https://pmb.brin.go.id/potensi-fenomena-kesenjangan-sosial-serta-kompetensi-sumber-daya-manusia-dalam-perpinda- han-ibu-kota-negara-ikn/
jiwa. Sedangkan total penduduk Kalimantan Timur saat ini berjumlah 4.448.763 jiwa.
Mayoritas penduduk Kalimantan Timur saat ini didominasi oleh pendatang yang berasal dari Jawa, Bugis, dan Banjar, serta berbagai etnis lainnya dalam jumlah yang relatif lebih kecil.
Berdasarkan data statistik tersebut, menujukan langkah strategis yang diambil dari pemerintah dalam mensinergikan unsur-unsur budaya yang terdapat di daerah Ibu Kota Negara dengan unsur-unsur budaya yang dibawa dari warga pendatang. Langkah ini dapat diimplementasikan dengan adanya program pemerintah yang merangsang keharmonisan interaksi sosial antar masyarakat.
Pemerintah perlu menggalakkan bagi tiap pemimpin daerah untuk melaksanakan kegiatan yang dapat mewujudkan interaksi sosial antar mayarakat agar berimplikasi pada kerukunan antar suku dan adat-istiadat yang melingkupinya serta kehidupan yang memiliki toleransi yang tinggi bagi warga asli maupun warga pendatang. Adanya pembangunan sarana prasarana seperti dalam menunjang aspek pendidikan pun seyogianya tidak bersifat eksklusif bagi kelompok-kelompok tertentu.
Hak dalam menerima pendidikan ini tentunya akan berdampak pula pada kompetensi yang dimiliki dalam mengkaderisasi generasi- generasi penerus di wilayah Ibu Kota Baru tanpa terkecuali.
Mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi pada era society 5.0 melalui digital government, maka secara mandatory tata kelola pemerintahan pun memerlukan spesialisasi khusus bagi sumber daya manusia yang haus akan perkembangan teknologi. Potret kondisi ini tentunya dijadikan fokus perhatian pemerintah dalam memajukan perkembangan sumber daya manusia sehingga tidak
menimbulkan kesenjangan baik hak seperti pada aspek dalam menerima pendidikan, fasilitas sarana prasarana pendidikan maupun kemajuan dalam meningkatkan kompetensi sumber daya aparatur di wilayah Ibu Kota Negara. (Editor: Rusydan Fathy)
Referensi
Pudjiastuti, T. N. (2019). Mengurai Efek Sosial Pemindahan Ibu Kota Negara. Retrieved December 7, 2022, from http://lipi.go.id/berita/
single/Mengurai-Efek-Sosial-Pemindahan-Ibu- Kota-Negara/21874
Taher, H. dan A. (2010). Penyalahgunaan Warnet di Kalangan Remaja (Studi pada SMA Negeri 1 Singkil di Kawasan Pasar Singkil. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, 3(2), 44.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Ibu Kota Negara.
Wirawan. (2012). Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kenana Prenada Media Group.
______________________________________
*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN
_______________________________________
13 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 27 https://pmb.brin.go.id/perempuan-bali-di-kancah-pasar-tradisional/
Perempuan Bali di Kancah Pasar Tradisional
Kadek Ayu Ariningsih
adalah Mahasiswa Doktoral Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pub- likasi ilmiahnya yang pernah dilaku- kannya meliputi topik pendidikan ag- ama Hindu, filsafat dan kearifan lokal.
Sejak 2021 menempuh studi doktoral di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Email: [email protected]
P
asar tradisional adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli.Ketika ditelisik kembali mengenai siapakah yang menjadi subjek dari kata
“penjual” dan “pembeli”, jawabannya adalah perempuan. Meski persentase keterlibatan perempuan tidaklah seratus persen, namun peran laki-laki dalam pergerakan aktifitas pasar tradisional di Indonesia hanya memiliki angka disekitar lima belas persen dari keseluruhan persentase (Fujiati, 2017). Proporsi persentase peran perempuan sebagai subjek dalam pergerakan pasar tradisional menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam suatu kebudayaan.
Perempuan dalam kebudayaan khususnya masyarakat Bali lebih banyak terlibat dalam aktifitas pasar tradisional.
Aspek-aspek sentral produksi-konsumsi dalam pergerakan ekonomi pasar tradisional Bali melibatkan peran perempuan secara aktif (Wahyuni & Marhaeni, 2021). Pemandangan pasar tradisional yang dipenuhi perempuan Bali sebagai pelaku ekonomi adalah lumrah dalam keseharian masyarakat Bali. Mari kita berkeliling di pasar-pasar tradisional yang ada di Bali, maka perempuan Bali tidak hanya tampil sebagai wajah sebagai konsumen, namun juga
terlibat sebagai penjual barang dan jasa, semisal menjadi pedagang hingga profesi tukang suun.
Profesi-profesi yang dijalankan, terlebih pada profesi tukang suun yang merupakan profesi jasa angkut barang, sebuah profesi yang sudah tentu berat karena melibatkan aktifitas fisik yang memerlukan daya otot yang besar. Profesi- profesi yang dijalani perempuan Bali di pasar tradisional ini nampak bertalian jauh dengan aksen feminitas yang melekat pada sosok perempuan. Profesi-profesi yang dijalankan oleh para perempuan Bali menunjukkan peran pentingnya perempuan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Perjalanan historis tentang kematangan perempuan Bali dalam bidang kewirusahaan selalu dikaitkan dengan tokoh Ratu Ayu Mas Melanting. Literatur sejarah menyebutkan bahwa Ratu Ayu Mas Melanting adalah Putri dari Dang Hyang Nirarta. Ratu Ayu Mas Melanting memiliki nama asli Ida Ayu Swabhawa yang memiliki karakter bijaksana, cerdas dan ahli dalam perniagaan. Kecantikan serta karakter Ida Ayu Swabhawa menyebabkan dirinya terkenal sebagai pedagang yang selalu digemari oleh pelanggannya dan menjadi contoh bagi masyarakat tempat tinggalnya yang juga berprofesi sebagai pedagang. Hingga kini penghormatan terhadap Ratu Ayu Mas Melanting masih dilakukan oleh masyarakat Bali. Ratu Ayu Mas Melanting menjadi simbolis intelektual perempuan Bali dalam bidang kewirausahaan. Baru-baru ini bahkan patung dengan mengambil refleksi bentuk Ratu Ayu Mas Melanting dibangun sebagai icon baru Pasar Badung yang dibangun tepat di depan
14 www.pmb.brin.go.id Vol. 22. No. 27 https://pmb.brin.go.id/perempuan-bali-di-kancah-pasar-tradisional/
Pura Melanting Pasar Badung. Keberadaan patung Ratu Ayu Mas Melanting semakin menegaskan kiprah perempuan dalam aktifitas perdagangan telah ada sejak lama.
Kecantikan dan karakter Ratu Ayu Mas Melanting memiliki dimensi filosofis dalam aktifitas perdagangan pada pasar tradisional masyarakat Bali. Kecantikan Ratu Ayu Mas Melanting seolah menjadi simbol bahwa perempuan memiliki daya tarik yang natural dalam aktifitas perniagaan. Kata cantik merepresentasikan bentuk-bentuk yang dianggap ideal berdasarkan budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Pada berbagai kebudayaan dari masa ke masa, konstruksi kecantikan selalu mampu menjadi daya tarik suatu produk (Sari, 2019). Sedangkan karakter dari Ratu Ayu Mas Melanting yang bijaksana dan cerdas menyiratkan aspek- aspek etika dan moral yang hendaknya perlu dipegang oleh setiap insan, tidak hanya oleh para pedagang. Hal ini menyimpulkan bahwa dimensi berdasarkan aspek historis menyampaikan makna bahwa intelektualitas kaum perempuan dalam kewirausahaan mampu mendatangkan nilai (value) apabila disertai kebijaksanaan dalam bentuk etika dan moral yang mendatangkan keuntungan materiil dan moril.
Lebih lanjut, peran perempuan dan religiusitas juga kental dalam aktifitas pasar tradisional yang terlihat melalui keterlibatannya dalam rutinitas pelaksanaan ritual sesajen, baik di Pura Melanting ataupun pada lapak dagangannya. Pura Melanting adalah bangunan suci yang umumnya terdapat dalam satu wilayah pasar tradisional Bali dan merupakan area yang sakral bagi kaum masyarakat pasar. Pura Melanting menjadi media penghubung antara pedagang dengan manifestasi Tuhan dalam
perwujudan Ratu Ayu Mas Melanting. Aspek religius ini tidak hanya dapat dilihat melalui intensitas persembahyangan yang dilakukan oleh masyarakat pasar tradisional. Religiusitas masyarakat pasar tradisional juga dapat dilihat melalui perwujudan harmonisasi atas relasi antara setiap pribadi masyarakat pasar yang memunculkan ketaatan terhadap aturan- aturan yang bahkan tidak memiliki legalitas tertulis, semisal kesepakatan untuk partisipasi aktif menjaga kebersihan pasar tradisional dan menciptakan kondisi lingkungan pasar yang tetap kondusif. Internalisasi nilai-nilai religius telah mendukung aktifitas pasar tradisional secara menyeluruh.
Pada perkembangannya dengan kemajuan pesat era kapitalisme modern saat ini berpengaruh pada dinamika keikutsertaan perempuan dalam aktifitas pasar tradisional yang mulai mengalami pergeseran. Saat ini terlihat mulai sulit menemukan perempuan muda (dibawah 30 tahun) yang menjalani profesi sebagai pelaku pada pasar tradisional. Salah satu faktor penyebabnya adalah perkembangan teknologi digital yang semakin masif saat ini.
Pasar konvensional mulai digantikan oleh toko online yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat melalui berbagai platform belanja online. Para investor dan produsen dunia kini terus berinovasi dalam pengembangan teknologi digital untuk menawarkan berbagai kemudahan dalam persaingan pasar global.
Penggiat teknologi digital terus meningkatkan dan meluaskan sumber daya finansial serta sumber daya manusia untuk mampu menarik dan menjangkau konsumen dari berbagai lapisan dan kalangan masyarakat. Kini pola pikir masyarakat pun mulai berubah ketika kemudahan teknologi ini berdatangan.
Perubahan pola pikir masyarakat di wilayah
15 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 27 https://pmb.brin.go.id/perempuan-bali-di-kancah-pasar-tradisional/
pedesaan tentu tidak secepat di wilayah perkotaan, namun perubahan tersebut ada dan nyata secara perlahan dalam segala aspek kehidupan di masyarakat. Arus global telah menimbulkan pertanyaan mengenai potensi pengembangan pasar tradisional di masa depan. Hal inilah yang menyebabkan banyak perempuan Bali yang kemudian menggunakan pendidikan untuk mencari dan menemukan alternatif pilihan pekerjaan yang lebih beragam.
Pendidikan adalah respon adaptif perempuan Bali dalam menghadapi dinamika kebudayaan pasar tradisional. Kebudayaan pasar tradisional bergerak memasuki fase stagnansi dengan adanya iklim kapitalis berbasis teknologi. Arah perkembangan kebudayaan bukanlah hal yang pasti (Husodo, 2018). Bukan tidak mungkin, pasar tradisional direlokasi ke dunia metaverse dan kebudayaan lokal lainnya hanya akan ada dalam bentuk Augmented Reality (realitas tambahan).
Adaptasi merupakan bentuk kausal dari peluang dan ancaman global. Adaptasi tidak dapat digeneralisasi sebagai suatu kesimpulan bahwa perempuan Bali meninggalkan nilai-nilai budaya lokal atau nilai kearifan dirinya dalam peran sebagai penjaga budaya. Ini adalah hal naluriah atas kepemilikan intelektualitas dari setiap insan guna menjangkau masa depan.
Konteks adaptasi jelas tidak mengacu pada sikap pesimis atau kelonggaran sikap terhadap ancaman keberlangsungan budaya lokal, lebih dari itu, adaptasi pendidikan muncul melengkapi eksistensi perempuan Bali dari sisi lainnya.
Sampai saat ini peran penting perempuan Bali telah dan akan tetap menjadi bagian peradaban pasar tradisional, meskipun sudah mulai terjadi pergeseran. Dimana kehadiran pasar tradisional memberikan ruang
bagi perempuan Bali untuk tetap berdaya di bidang ekonomi. Lebih dalam dari hanya nilai ekonomi semata, perempuan Bali berperan penting dalam kebudayaan pasar tradisional yang mencakup nilai dasar pembangunan karakter manusia yakni nilai religius, etika, dan moralitas. Ketiga nilai tersebut adalah nilai- nilai yang dapat menjadi pilar harmonisasi kehidupan masyarakat dalam kebudayaan itu sendiri. Hal ini menjadi ciri khas yang menguatkan eksistensi dan citra perempuan Bali sebagai perempuan kuat yang cerdas, tangguh dan mandiri. (Editor: Dicky Rachmawan)
Referensi.
Fujiati, D. (2017). Perempuan Pedagang dan Pasar Tradisional. Muwazah (Jurnal Kajian Gender), 9(2), 106–124. Retrieved from http://
e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/
Muwazah/article/view/1123
Husodo, P. (2018). Keruntuhan Peradaban Barat menurut Oswald Spengler. Analisis Sejarah, 6(2), 169–185.
Sari, I. P. (2019). Rekonstruksi dan Manipulasi Simbol Kecantikan. Hawa, 1(1). https://doi.
org/10.29300/hawapsga.v1i1.2221
Wahyuni, P. U. S., & Marhaeni, A. A. I. N. (2021).
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI PEREMPUAN BALI PADA PENDAPATAN RUMAH TANGGA PEDAGANG PASAR TRADISIONAL KETAPIAN DENPASAR TIMUR. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 10(1).
______________________________________
*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN
_______________________________________
16 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 28 https://pmb.brin.go.id/kilas-kartini-2022/
Kilas Kartini 2022
Prof. Widjajanti M Santoso
adalah sosiolog yang tertarik pada isu gender dan media, kajiannya beragam termasuk Syariah Islam yang dengan fesyen dan kelas sosial. Kegiatan lainn- ya adalah sebagai pengajar tidak tetap di Pusat Studi Kajian Gender - SKSG Universitas Indonesia, dan ketua de- wan redaksi Jurnal Masyarakat dan Bu- daya, kontaknya adalah [email protected]
Kilas balik Kartini 2022, adalah upaya menangkap pemahaman publik tentang Kartini yang dibaca dari 10 ribu twit. Data ini ditambang dengan Netlytic (aplikasi berbasis Web) dan diolah dengan TreeCloud (aplikasi berbasis Web) dan ReTD (aplikasi dekstop).
ReTD digunakan untuk membuat wordcloud maupun grafik jejaring influencer. Tujuannya adalah memetakan diskusi dan diskursus yang muncul pada saat itu (Santoso, 2022; Mahy, 2012;
Bijl & Chin, 2020, Smith, 1999). Fenoemena yang diangkat menggunakan Twitter, cuitan yang popular digunakan di Indonesia (Widyawati et al., 2021) dengan memasukkan kata Kartini mendapatkan gambaran seperti berikut, yang dihasilkan dengan memasukkan teks dari seluruh twit sebagai input dari TreeCloud
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Gambar ini menunjukkan tiga isu besar yang muncul di dalam komen atau tulisan singkat yang ada di twitter terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama, sosok Kartini bersangkutan dengan kehidupan baik secara individu yang melihatnya sebagai perempuan yang tangguh, maupun sebagai simbol penting bagi Bangsa Indonesia. Kedua, berkaitan dengan nilai yang dapat dipelajari dari Kartini seperti semangat, walaupun di dalamnya menyangkut juga dengan kondisi seperti pekerjaan dan moda yaitu twitbon yang dipergunakan untuk menyampaikan ucapan menyambut Hari Kartini. Di dalam cuitan ini termasuk berkebaya baik di dalam nostalgia yang pernah dilakukan, ataupun mengomentari fashion yang sering dikaitkan dengan perayaan hari Kartini.
Kemudian, ketiga merupakan kumpulan dari beberapa konteks seperti peran ibu, emansipasi dan mengacu pada judul bukunya, dan tentu Dr. Ikbal Maulana
adalah peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya - LIPI dengan bidang penelitian filasafat teknologi, epistemologi sosial, dan kajian media.
Email [email protected].
17 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 28 https://pmb.brin.go.id/kilas-kartini-2022/
saja ucapan selamat yang menjadi popular terutama dengan bantuan poster dan juga twitbon.
Pada penelaahan influencer dari 10 ribu twit yang dianalisis didapatkan bahwa Historia.
id adalah akun utama yang mempengaruhi akun-akun lainnya dalam mengingat Kembali sosok penting Kartini. Historia .id sebenarnya adalah situs yang serius di dalam acara atau kegiatan yang berkaitan dengan sejarah (Nuryanti & Akob, 2019). Hal yang mungkin juga menarik adalah melihat kaitannya dengan dengan isu yang bergaung melalui media sosial, yang mengacu tulisan dan kegiatan Kartini dengan pemahaman dan kegiatan keagamaan.
Misalnya dalah video yang banyak di forward tentang monolog K.H. Ahmad Chalwani Nawawi, yang menceritakan tentang hubungan Kartini dengan kehidupan keberagamaan.
Diceritakan bahwa Kartini juga mengaji Al-Qur’an sebagai bagian dari karakter keluarganya. Akan tetapi ternyata bukan mengaji yang pasif, karena interaksi antara Kartini dengan gurunya Kyai Soleh Darat menghasilkan tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa, walaupun belum selesai seluruhnya.
Disebutkan bahwa Kyai Soleh Darat terharu atas pertanyaan Kartini tentang pentingnya membuat tafsir tersebut. Di dalam sumber lainnya disebutkan bahwa bahan ini menjadi hadiah perkawinan Kartini yang diterima dengan sangat berbahagia. Sayangnya tafsir tersebut tidak berlanjut karena Kyai Soleh Darat meninggal. Menurut paparan KH Ahmad Chalwani Nawawi, tafsir ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara.
Sumber lain menceritakan pemahaman Kartini tentang agama dan masyarakat yang berhadapan dengan bangsa Barat yang dikaguminya. Pembahasan dan pemahaman
Kartini yang semakin mendalam menghasilkan diskusi bahwa Barat tidak lagi dilihatnya sebagai kelompok yang lebih baik (superior) dan menunjukkan bahwa Islam menghasilkan diskursus yang lebih kuat. Di dalam sumber ini diperlihatkan bahwa judul bukunya diambil dari surat Al-Baqaroh (surat ke-2 di dalam Al-Qur’an), sebagai penegasan tentang pemahaman religiusitas Kartini.
Pembahasan berikutnya lebih ditekankan pada pengkaitan sosok “Kartini”
dengan cuitan-cuitan yang ada di twitter dengan beberapa filter kata yaitu 1) terkait dengan agama dengan menyertakan kata “Kyai Soleh Darat”, 2) terkait hanya dengan islam dan Al-Qur’an, 3) terkait dengan kata perempuan, 4) terkait dengan kata “perempuan”, dan 5) terkait dengan kata wanita. Pengkaitan tersebut digambarkan dengan WordCloud.
Pengkaitan Sosok Kartini dengan Agama, Perempuan, dan Wanita
Penyebutan wanita atau perempuan menjadi salah satu diskusi yang menarik yang berkaitan dengan gender (Yuliawati, 2018). Para aktivis, akademisi yang memiliki latar belakang kajian gender/feminism dan mereka yang berkaitan di dalam kegiatan gender umumnya menggunakan kata perempuan. Kata tersebut merepresentasikan symbol keunggulan perempuan, yaitu sebagai empu. Dibandingkan dengan kata wanita yang sering dianggap netral dan bahkan cenderung tidak berkaitan dengan upaya membela perempuan. Misalnya kata-kata netral lebih sering digunakan di dalam iklan yang cenderung menjual dengan menggunakan perempuan sebagai bagian dari komodifikasi.
Gambar dibawah ini menunjukkan
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Gambar ini menunjukkan tiga isu besar yang muncul di dalam komen atau tulisan singkat yang ada di twitter terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama, sosok Kartini bersangkutan dengan kehidupan baik secara individu yang melihatnya sebagai perempuan yang tangguh, maupun sebagai simbol penting bagi Bangsa Indonesia. Kedua, berkaitan dengan nilai yang dapat dipelajari dari Kartini seperti semangat, walaupun di dalamnya menyangkut juga dengan kondisi seperti pekerjaan dan moda yaitu twitbon yang dipergunakan untuk menyampaikan ucapan menyambut Hari Kartini. Di dalam cuitan ini termasuk berkebaya baik di dalam nostalgia yang pernah dilakukan, ataupun mengomentari fashion yang sering dikaitkan dengan perayaan hari Kartini.
Kemudian, ketiga merupakan kumpulan dari beberapa konteks seperti peran ibu, emansipasi dan mengacu pada judul bukunya, dan tentu
18 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 28 https://pmb.brin.go.id/kilas-kartini-2022/
gambaran yang masih umum termasuk di dalamnya keyword yang menyertakan Kyai Soleh Darat. Gambaran ini sesuai dengan tema yang diidentifikasi di atas, di mana diskursus agama berjajar bersamaan dengan isu-isu perempuan.
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Kemudian, gambar kedua ini diperoleh dengan menghilangkan kata Kyai Soleh Darat yang lebih menunjukkan isu-isu yang berkaitan dengan kata “perempuan”, namun masuk berkelindan dengan isu isu yang lebih umum. Lalu, gambar ketiga menghilangkan kata terkait agama dan mengarah pada dua kata yaitu “perempuan”
dan “wanita” yang menunjukkan isi twit yang lebih menggambarkan ungkapan selamat hari Kartini dengan kata-kata lainnya. Kedua gambar tersebut dapat dilihat pada gambar 2 dan 3 sebagai berikut:
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Sedangkan wordcloud yang menggunakan kata hanya pada satu kata seperti “perempuan”
dan kata “wanita” dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Dari dua gambar (antara gambar 4 dan 5) ini terlihat bahwa di dalam gambar dengan kata perempuan, terlihat lebih fokus walau sederhana dengan katakata seperti kuat dan tangguh. Barangkali yang menarik adalah kata tulis yang mengacu pada karya Kartini dan juga menghimbau untuk mengikuti jejaknya dengan mengungkapkan kenyatan yang berkaitan dengan perempuan. Selain itu adalah tidak ada kata wanita, sehingga menunjukkan adanya pembeda yang jelas di dalamnya. Pada gambar dengan kata wanita, isunya menjadi lebih beragam, menangkap ucapan selamat hari Kartini dengan berbagai macam isunya.
19 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 28 https://pmb.brin.go.id/kilas-kartini-2022/
Termasuk penggunaan kata emansipasi yang muncul disini dan mengangkat tokoh perempuan yang menginspirasi.
Sebagai simpulan dalam upaya melihat dan memantau isu-isu yang diangkat sekitar hari Kartini 21 April 2022 melalui twitter menunjukkan bahwa adanya perhatian masyarakat netizen tentang hal ini. Walaupun secara umum kita bisa melihat mereka yang menggunakan kata perempuan lebih fokus pada isu perempuan, dibandingkan dengan kata wanita yang menggambarkan variasi penggunakan konsep, termasuk konsep emansipasi. Konsep ini memang muncul pada masa diskusi awal tentang perempuan, mereka yang berada di gerakan perempuan sudah muncul dengan konsep-konsep baru seperti kekerasan, pengetahuan perempuan, representasi dan lainnya. Bagi netizen, memperingati hari Kartini adalah bagian dari ekspresi yang mereka pahami tentang Kartini sebagai tokoh yang menginspirasi kaum perempuan khususnya bagi Bangsa dan Negara Indonesia. Kemudian, diskusi terkait sosok Kartini ini meluas hingga ada kata-kata tentang seperti BUMN yang mungkin kurang terkait dengan isu kepemimpinan perempuan.
Pada sisi lainnya, situs serius seperti historia.id juga memiliki pengaruh, meskipun mungkin tidak menjadi hub (penghubung) bagi khalayak umum dibandingkan dengan hub-hub lainnya (Editor: Dicky Rachmawan)
Referensi:
Bijl, P., & Chin, G. V. S. (Eds.). (2020). Appropriating Kartini, Colonial, National and Transational Memories of as Indonesian Icon. Yusof Ishak Institute.
Mahy, P. (2012). Being Kartini: Ceremony
and Print Media in the Commemoration of Indonesia’s First Feminist. Intersections: Gender and Sexuality in Asia and the Pacific, 28, 1–11.
Nuryanti, R., & Akob, B. (2019). Perempuan dalam Historiografi Indonesia, Eksistensi dan Dominasi.
Penerbit Buku Pendidikan Deepublish.
Santoso, W. M. (2022). SUMBANGAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI FEMINIS: REPRESENTASI PEREMPUAN INDONESIA. Penerbit BRIN. https://penerbit.
brin.go.id/press/catalog/view/530/403/6721-1 Smith, D. E. (1999). Writing The Social: Critique, Theory, and Investigations. In Writing the Social Text. University of Toronto Press. https://doi.
org/10.4324/9781315135991
Widyawati, N., Santoso, W. M., Maulana, I., Daraini, I. N., Windarsih, A., & Alamsyah, P.
(2021). COVID-19 in Twitter: Issues and Actors.
Jurnal Masyarakat Dan Budaya, 23(1), 105–125.
https://doi.org/10.14203/jmb.v23i1.1287
Yuliawati, S. (2018). Perempuan Atau Wanita?
Perbandingan Berbasis Korpus Tentang Leksikon Berbias Gender. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 8(1), 53. https://doi.
org/10.17510/paradigma.v8i1.227 Artikel dan Video Populer:
NU Online. 2021. Kisah RA Kartini Usul Bikin Tafsir Al Quran Kepada KH Sholeh Darat - KH Achmad Chalwani. NU Online Channel, 20 April 2021, diakses dari https://www.youtube.
com/watch?v=nYpBPLVzw2E, #nahdlatululama
#nuonline #kartini, diakses pada tanggal 23 April 2022.
Rahmanisa, Gia. 2021. Habis Gelap Terbitlah Terang, Terinspirasi dari Surah Al Baqarah.
Rumah Amal Salman, 22 April 2021, diakses dari https://rumahamal.org/news/habis_gelap_
terbitlah_terang_terinspirasi_dari_surah_al_
baqarah pada tanggal 23 April 2022.
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Sedangkan wordcloud yang menggunakan kata hanya pada satu kata seperti “perempuan”
dan kata “wanita” dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber: Gambar yang diolah oleh Penulis (2022)
Dari dua gambar (antara gambar 4 dan 5) ini terlihat bahwa di dalam gambar dengan kata perempuan, terlihat lebih fokus walau sederhana dengan katakata seperti kuat dan tangguh. Barangkali yang menarik adalah kata tulis yang mengacu pada karya Kartini dan juga menghimbau untuk mengikuti jejaknya dengan mengungkapkan kenyatan yang berkaitan dengan perempuan. Selain itu adalah tidak ada kata wanita, sehingga menunjukkan adanya pembeda yang jelas di dalamnya. Pada gambar dengan kata wanita, isunya menjadi lebih beragam, menangkap ucapan selamat hari Kartini dengan berbagai macam isunya.
20 www.pmb.brin.go.id Vol. 25. No. 28 https://pmb.brin.go.id/kilas-kartini-2022/
Liputan6.com. 2018. Rayakan Hari Kartini, Sudah Kenal Kartono? Liputan6dotcom, 21 Apr 2018 diakses dari https://www.liputan6.com/
citizen6/read/3473436/rayakan-hari-kartini- sudah-kenal-kartono pada tanggal 23 April 2022.
______________________________________
*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN
_______________________________________
Call for Article Website PMB 2022
KETENTUAN:
1. Tema Umum: isu populer tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia
2. Tema khusus: isu populer yang berhubungan dengan kluster penelitian PMB BRIN yaitu i) Agama & Filsafat, ii) Ekologi Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat (ESKM), iii) Hukum & Mas- yarakat, dan iv) Kebudayaan & Multikulturalisme
3. Belum pernah diterbitkan di/sedang dikirimkan ke media Lain (Blog/ Website/ Koran/ Ma- jalah/ Status Medsos, dll)
4. Menggunakan bahasa baku dengan gaya penulisan populer
5. Bukan saduran dan hasil plagiarisme. Penulis bertanggung jawab penuh terhadap artikelnya.
Redaksi tidak bertanggung jawab terhadap artikel yang ternyata adalah hasil saduran dan plagiarisme.
6. 3-4 Halaman A4 atau 800-1.000 kata (Tidak Termasuk Gambar/ Foto dan referensi)
7. Boleh menyertakan maksimal 2 Gambar/ Foto + Sumbernya (opsional). Redaksi akan memilih gambar yang sesuai.
8. Font Calibri 11, Spasi 1.5
9. Tuliskan Nama dan Asal Instansi di Bawah Judul Artikel
10. Daftar Referensi dan sitasi menggunakan American Phychological Association (APA Style Ci- tation)
11. Di akhir artikel, lampirkan Narasi Biodata (3-6 Kalimat) + Foto Close Up + Email Penulis (artikel dan biodata + foto dalam 1 file)
12. Jumlah artikel yang dimuat maksimal 6 judul artikel/ tahun untuk setiap penulis dari luar PMB BRIN
13. Seluruh penulis hanya boleh mempublikasikan 1 artikel per bulan
14. Seluruh artikel yang masuk akan mengalami proses seleksi dan revisi. Hasil seleksi (artikel diterima) akan dikabarkan melalui email.
15. Tersedia e-sertifikat apresiasi bagi Sahabat PMB BRIN yang artikelnya dipublikasikan di web- site kami.
16. Setiap akhir bulan Redaksi akan menerbitkan e-majalah Masyarakat dan Budaya (MB) yang berisi kumpulan artikel yang dipublikasikan di website PMB BRIN pada bulan tersebut. Re- daksi akan mengirimkan softcopy e-majalah MB kepada para penulis edisi bulanan. Bagi yang berminat mendapatkan softcopy e-majalah MB, silahkan menghubungi Redaksi melalui email [email protected].
17. Keputusan Redaksi Tidak Dapat Diganggu Gugat.
18. Informasi tambahan: Website PMB BRIN menerbitkan 1-2 artikel per minggu. Untuk itu proses penerbitan artikel membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena banyaknya artikel yang masuk dan adanya proses review, edit, revisi, serta antrian publikasi. Jika penulis ingin menar- ik kembali artikelnya (withdraw submission) dari Website PMB BRIN, mohon dilakukan sebe- lum proses review.
Terima Kasih
Redaksi Website PMB BRIN