25 A. Teori Tentang Pasar
1. Pengertian Pasar, Pasar Tradisional, Pasar Modern
Berdasar Kamus Umum Bahasa Indonesia, pasar berarti tempat orang berjual beli sedangkan tradisional dimaknai sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang kepada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun..1
Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjualan lebih dari satu baik yang disebut pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.2
Kasmir mendefinisikan pasar sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Pasar juga dapat diartikan sebagai suatu mekanisme yang terjadi antara pembeli dan penjual atau tempat pertemuan antara kekuatan permintaan dan penawaran.3
Pasar adalah suatu tempat dimana pembeli dan penjual bertemu untuk membeli atau menjual barang dan jasa atau faktor-faktor produksi.
Di dalam bahasa sehari-hari pasar pada umumnya diartikan sebagai suatu lokasi dalam artian geografis. Tetapi dalam pengertian Teori Ekonomi Mikro adalah lebih luas lagi. Dalam Teori Ekonomi Mikro pasar meliputi juga “pertemuan” antara pembeli dan penjual dimana antara keduanya tidak saling melihat satu sama lain (misalnya antara importir karet yang bertempat tinggal di Amerika dan eksportir karet di Indonesia yang melakukan transaksi jual beli melalui talex).4
Pasar menurut kajian ekonomi memiliki pengertian; pasar adalah suatu tempat atau proses interksi antara permintaan (pembeli) dan
1 Weda Kupita, Rahadi Wasi Bintoro, Implementasi Kebijakan Zonasi Pasar Tradisional Dan Pasar Modern (Studi Di Kabupaten Purbalingga), (Purwokerto: Jurnal UNSOED, 2011), 1.
2 www.bpkp.go.id. Peraturan presiden RI.112, Penataan dan Pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, 2007. di akses pada tanggal 04-Agustus-2015 pukul 23.42.
3 Kasmir, Kewirausahaan, 156.
4 Ari Sudarman, Teori Ekonomi Mikro, (Yogyakarta: BPFE, 2004), 7.
penawaran (penjual) dari suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan. Jadi setiap proses yang mempertemukan antara pembeli dan penjual, maka akan membentuk harga yang disepakati antara pembeli dan penjual.5
Menurut teori persaingan sempurna ekonomi klasik, pasar terdiri atas sejumlah produsen dan konsumen kecil yang tidak menentu.
Kebebasan masuk dan keluar, kebebasan memilih teknologi dan metode produksi, serta kebebasan dan ketersediaan informasi, semuanya dijamin oleh pemerintah. Dalam keadaan pasar seperti ini, dituntut adanya teknologi yang efisien, sehingga pelaku pasar akan dapat bertahan hidup.6
Pasar tradisional adalah tempat orang berjual beli yang berlangsung di suatu tempat berdasarkan kebiasaan.7
Pasar tradisional adalah sebuah tempat yang terbuka di mana terjadi proses transaksi jual beli dengan adanya proses tawar-menawar.8 Pasar tradisional adalah pasar yang bentuk bangunannya relatif sederhana, dengan suasana yang kurang menyenangkan (ruang tempat usaha sempit, sarana parkir yang kurang memadai, kurang menjaga kebersihan pasar, dan penerangan yang kurang baik). Barang-barang yang diperdagangkan adalah barang kebutuhan sehari-hari dengan mutu barang yang kurang diperhatikan, harga barang relatif murah, dan cara pembeliannya dengan sistem tawar menawar. Para pedagangnya sebagian besar adalah golongan ekonomi lemah dan cara berdagangnya kurang profesional.9
Pasal 1 ayat (5) Perpres No. 112 Tahun 2007 memberikan pengertian toko modern sebagai berikut: Toko Modern adalah toko
5 Eko Supriyatno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam, (Malang: UIN-MALANG Press, 2008), 205.
6 Muhammad, Ekonomi Mikro dalam Perpektif Islam, 371.
7 Weda Kupita, Implementasi Kebijakan Zonasi Pasar Tradisional Dan Pasar Modern (Studi Di Kabupaten Purbalingga), 1.
8Utami Ayunita, Eksistensi Pasar Tradisional di Kabupaten Sleman, Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2011. Eis Al Masitoh, Up a y a Menjaga Eksistensi Pasar Tradisional: Studi Revitalisasi Pasar Piyungan Bantul, Skripsi, UIN Sunan Kalijaga.
9 Patimah, Pengaruh Hadirnya Minimarket Terhadap Usaha Pedagang Pasar Tradisional di
dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang ber- bentuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk Perku-lakan”.10
Dalam peraturan daerah (perda) No.2 Tahun 2002 tentang perpasaran swasta bahwa yang dimaksud hypermarket atau minimarket adalah sarana/tempat usaha untuk melakukan penjualan barang-barang kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan sembilan bahan pokok secara eceran dan langsung kepada konsumen akhir, yang didalamnya terdiri dari pasar swalayan atau toko yang serba ada.11
2. Bentuk-Bentuk Pasar
Jika dilihat dari bentuk pasar maka persaingan dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu12:
a. Monopoli sempurna, yaitu suatu perusahaan tertentu mempunyai kedudukan monopoli terhadap suatu barang atau jasa tertentu.
b. Oligopoli sempurna, yaitu apabila ada dua atau lebih (tetapi tidak banyak) perusahaan yang menghasilkan dan menjual komoditi yang pada dasarnya sama.
c. Oligopoli terdiferensiasi, yaitu apabila dua atau lebih (tidak banyak) perusahaan yang menghasilkan dan menjual produk terdiferensiasi sebagian, baik dalam mutu, model maupun pelayanan.
d. Persaingan monopolistik, yaitu cukup banyaknya perusahaan yang bersaing dan masing-masing mempunyai kemampuan mendeferensiasikan penawarannya. Serta yang biasanya mempunyai kemampuan pemasaran menjadi pemimpin pasar.
e. Persaingan sempurna, yaitu persaingan terjadi di mana demikian banyak perusahaan yang menghasilkan dan menjual barang atau jasa, sedangkan pembelinya pun banyak.
10 Weda Kupita, Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, TT.
11 Patimah, Pengaruh Hadirnya Minimarket Terhadap Usaha Pedagang Pasar Tradisional di Pasar Sumber,39.
12 Saladin Djaslim, Unsur-Unsur Inti Pemasaran, 71.
B. Teori Strategi Bersaing
Persaingan sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tujuan perusahaan, tidaklah dapat dihindarkan begitu saja. Di mana persaingan suatu fenomena umum yang mana persaingan merupakan salah satu alat yang efektif mendorong olah pikir dan kerja.
Sebelum melangkah lebih jauh tentang penjelasan strategi bersaing kiranya penulis menguraikan terlebih dahulu tentang pengertian strategi bersaing.13 Untuk lebih jelas penulis akan menyajikan tentang pengertian persaingan, pengertian strategi, pengertian strategi bersaing, yaitu:
1. Pengertian Persaingan
Persaingan berasal dari kata dasar “saing” yang berati berlomba atau (mengatasi, dahulu mendahului), dengan kata lain yakni usaha untuk memperhatikan keunggulan masing-masing yang dilakukan perseorangan atau badan hukum dalam bidang perdagangan, produksi, pertahanan dan sebagainya.14
Persaingan atau competition dalam bahasa inggris oleh Webster didefinisikan sebagai a struggle or contest between two or more persons for the same objects yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebuah perjuangan atau perlombaan diantara dua orang atau lebih untuk mencapai sasaran yang sama.
Dengan memperhatikan terminologi persaingan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap persaingan akan terdapat unsur-unsur sebagai berikut.
a. Ada dua pihak atau lebih yang terlibat dalam upaya saling mengungguli.
b. Ada kehendak di antara mereka untuk mencapai tujuan yang sama.
Kondisi persaingan merupakan suatu karakteristik yang lekat dengan kehidupan manusia yang cenderung untuk saling mengungguli dalam banyak hal. Meskipun demikian, Anderson berpendapat bahwa
13 Faisal Afif, Manajemen Pemasaran Global, (Bandung: PT. Eresco,1999), 117.
14 Neni Sri Imayati, Hukum Ekonomi Islam dan Ekonomi Islam dalam Perkembangan. (Bandung : Bandar Maju, 2003), 168.
persaingan di bidang ekonomi merupakan salah satu bentuk persaingan yang paling utama di antara sekian banyak persaingan antarmanusia, kelompok masyarakat, atau bahkan bangsa. Salah satu bentuk persaingan di bidang ekonomi adalah persaingan usaha yang secara sederhana bisa didefinisikan sebagai persaingan antara para penjual di dalam merebut pembeli dan pangsa pasar. 15
Kheman menyatakan bahwa persaingan ekonomi adalah: a situation where firms or seller independently strive for buyer’s patronage in order to achieve a particular business objective, for example, profits, sales or market share. Competitive rivalry may take place in terms of price, quantity, service, or combination of these and other factors that costumer may value dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebuah situasi dimana perusahaan-perusahaan atau penjual bebas berusaha untuk mendapat perlindungan dalam rangka mencapai tujuan bisnis tertentu, misalnya keuntungan, penjualan atau pangsa pasar. Persaingan kompetitif dapat terjadi dari segi harga, kuantitas, layanan, atau kombinasi dari itu dan faktor-faktor lain yang mungkin pelanggan dapat menilainya.16
Sama seperti yang dikemukakan definisi umum, dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa adanya dua pihak (firms or seller) yang bertujuan mencapai tujuan usaha tertentu seperti keuntungan, penjualan, ataupun pangsa pasar.
Pokok-pokok perumusan tentang persaingan17:
a. Persaingan merupakan kondisi ideal yang memiliki banyak aspek positif.
b. persaingan dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila persaingan itu terjadi sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi persaingan secara curang yang justru merugikan.
15 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 13-14.
16 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 13-14.
17 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 13-14.
c. Persaingan sebenarnya merupakan variabel yang dependen. Ia bisa bergerak dinamis dan berubah-ubah sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, termasuk kebijakan pemerintah maupun instrumen suatu pemerintah.
2. Pengertian Strategi Bersaing
Menurut Husein Umar strategi dalam pengertiannya yaitu suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi disertai penyusunan suatu cara atau bagaimana agar tujuan tersebut bisa dicapai.18
Menurut Philip Kotler pesaing adalah memberikan pemahaman pada kemampulabaan, posisi pasar, kepemimpinan, harga dalam industri, teknologi industri, produk pasar, pangsa pasar yang bisa diandalkan bahkan pada tingkat segmen agar usaha lebih berhasil jika hanya ditujukan pada konsumen tertentu saja.19
Menurut Kasmir pesaing adalah perusahaan yang menghasilkan atau menjual barang atau jasa yang sama atau mirip dengan produk yang kita tawarkan.20
Persaingan usaha sendiri dalam kamus manajemen dapat diartikan sebagai suatu kegiatan bersaing/ bertanding diantara pengusaha/ pebisnis yang satu dengan pengusaha/ pebisnis lainnya didalam memenangkan pangsa pasar (share market) dalam upaya melakukan penawaran produk barang dan jasa kepada konsumen dengan berbagai strategi pemasaran yang diterapkannya.21
Dapat disimpulkan bahwa strategi bersaing adalah pencarian- pencarian akan posisi bersaing yang menguntungkan di dalam industri, arena fundamental tempat persaingan terjadi. Tujuan dari strategi bersaing adalah menegakkan posisi yang menguntungkan dan dapat di
18 Husein Umar, Strategic Management in Actiaon. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), 31.
19 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Erlangga,1996), 256.
20 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.258
21
pertahankan terhadap kekuatan-kekuatan yang menentukan persaingan industri.22
3. Jenis Persaingan Usaha
Persaingan usaha terdiri dari:
a. Persaingan sehat (healthy competition)
Istilah ini menegaskan yang ingin di jamin adalah terciptanya persaingan yang sehat. Dengan melihat beberapa istilah di atas dapat dikatakan bahwa apapun istilah yang di pakai, semuanya berkaitan tiga hal yaitu :
1) Pencegahan atau peniadaan praktek monopoli 2) Menjamin persaingan yang sehat
3) Melarang persaingan yang tidak jujur b. Persaingan tidak sehat (unfair competition)
Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
C. Analisis Persaingan
Pesaing suatu usaha meliputi mereka yang berusaha memuaskan pelanggan dan kebutuhan pelanggan yang sama dan menyediakan penawaran yang serupa kepada pelanggan itu. Tetapi, pengusaha juga harus menaruh perhatian kepada pesaing lainnya yang mungkin menawarkan cara baru atau cara lain guna memuaskan kebutuhan yang sama. Pengusaha harus berusaha mengidentifikasi para pesaingnya dengan menggunakan baik analisis industri maupun pasar. Mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing akan memungkinkan pengusaha untuk mempertajam strateginya sendiri guna memanfaatkan keterbatasan pesaing sambil menghindari kemungkinan benturan di mana pesaing dirasakan kuat.23
22 Michael E Porter, Keunggulan Bersaing (Menciptakan dan Mempertahankan Kinerja Unggul), (Jakarta: Binarupa Aksara, 1994), 1.
23 Sofjan Assauri, Pemasaran, Dasar, Konsep dan Strategi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,1996), 2.
1. Kekuatan Pesaing
Menurut Michael E Porter, ada lima kekuatan yang menentukan daya tarik jangka panjang intrinsik suatu pasar, yaitu:
a. Peserta pesaing industri (industry competitors).
b. Pendatang baru potensial (potensial entrants).
c. Produk pengganti (substitutes) d. Pembeli (buyer)
e. Pemasok (suppliers)
Kelima kekuatan trsebut di atas dapat merupakan ancaman bagi perusahaan. Ancaman tersebut berupa.24
a. Ancaman adanya persaingan yang intensif dalam segmen.
b. Ancaman pendatang baru.
c. Amcaman produk subsitusi.
d. Ancaman meningkatnya kekuatan tawar menawar pembeli.
e. Ancaman meningkatnya kekuatan tawar menawar pemasok.
Untuk mengatasi lima kekuatan persaingan ada beberapa pendekatan strategis generik yang secara potensial akan berhasil untuk mengungguli perusahaan lain dalam suatu industri, yaitu:
a. Strategi Bersaing Generik Michael E Porter
1) A Low Cost Provider Strategy (Strategi Biaya Rendah)
Yaitu strategi biaya rendah untuk barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen secara keseluruhan. Biaya rendah dalam pengertian ini adalah kemampuan perusahaan untuk merancang, membuat, dan memasarkan sebuah produk dengan cara-cara yang lebih efesien dibanding pesaingnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifkasi kegiatan primer dan kegiatan pendukung dalam analisis value chan. Melalui analisis value chan akan dapat diketahui kegiatan-kegiatan mana yang perlu diminimisasi, dikurangi biayanya, diperangkat waktunya, dan sebagainya. Misalnya perusahaan mempunyai pemasok bahan baku
24 Phlip Kotler, Marketing Manajemen (Manajemen Pemasaran), (Jakarta: Erlangga, 2008),
yang langka, perusahaan mampu menguasai posisi bagian pasar yang dominan, bisa menerapkan teknologi hemat biaya, dan sebagainya.25
Strategi biaya rendah akan berhasil ketika: a) persaingan harga sangat ketat, b) produk industri bersifat standard, c) banyak cara untuk menciptakan diferensiasi, d) konsumen menggunakan produk dengan cara yang sama, e) biaya untuk berpindah kepenjual lain rendah, f) pembeli dalam jumlah besar dan mempunyai kekuatan untuk menurunkan harga, dan g) pendatang baru dalam industri menggunakan strategi harga rendah dalam menarik pembeli baru.26
2) A Broad Differentiation Strategy (Strategi yang lebih luas)
Strategi ini dilakukan dengan menawarkan produk dan jasa yang mempunyai keunikan/ beda dari produk dan jasa yang ditawarkan pesaing. Produk ini ditawarkan kepada konsumen dalam segmen pasar yang lebih luas. Prinsip ini dilakukan untuk mendapatkan pelanggan sebagai perhatian utama dan menawarkan produk yang mempunyai keunikan/beda dengan produk yang ditawarkan pesaing, baik dari segi kualitas produk, pelayanan, distribusi, dan sebagainya. Keunikan produk inilah yang siap dibayar mahal oleh pelanggan.27
Namun jika suatu saat produk yang mempunyai keunikan harganya turun, maka pelanggan akan mempersiapkan bahwa kualitas dan keunggulan produk tersebut sudah mulai menurun.
Deferensiasi merupakan strategi bersaing untuk mendapatkan keuntungan di atas rat-rata dalam industri karena loyalitas merek dan mendorong sensitivitas konsumen terhadap harga menjadi lebih rendah. Loyalitas konsumen ini akan menghalangi pesaing baru untuk bisa masuk dalm industri. Loyalitas konsumen sangat
25 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), 78.
26 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 78.
27 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 79.
menguntungkan perusahaan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang karena perusahaan akan tetap survive walaupun muncul produk-produk baru yang ditawarkan konsumen.
Contoh perusahaan yang menggunakan strategi ini adalah: sepatu merek “Adidas”, kaos “Polo”.28
Dalam implementasi strategi ini, perusahaan harus secara terus menerus mempelajari kebutuhan dan preferensi konsumen untuk mengetahui apa saja yang dianggap penting bagi konsumen, apa yang dipikirkan konsumen tentang “value”, dan berapa mereka bersedia membayarnya. Atribut diferensiasi dapat di telusur melalui analisis rantai nilai, termasuk pada aktivitas pembelian bahan baku, aktivitas riset dan pengembangan, teknologi, aktivitas manufaktur, outbond logistics, aktivitas distribusi, pemasaran, penjualan dan pelayanan.29
3) A Best Provider Strategy (Strategi Yang Menyediakan Lebih) Strategi ini dilakukan dengan menawarkan produk dan jasa berkualitas (unik/beda) dengan harga yang lebih rendah dari pesaing. Tujuan best cost provider strategy adalah memberikan nilai yang lebih kepada konsumen atas harga yang ditetapkan.
Untuk menjadi best cost provider strategy, perusahaan harus mempunyai sumber-sumber dan kemampuan untuk mencapai good to-excellent quality dengan harga yang lebih rendah dari pesaing, menyeimbangkan kinerja produk dengan harga yang lebih rendah dari pesaing, dan mampu memberikan pelayanan terbaik dibanding pesaing pada harga rendah.30
4) A Focused (or market niche) strategy Based on Lower Cost (Strategi Fokus Menawarkan Harga Rendah dari Pesaing)
Strategi ini dilakukan dengan menawarkan produk dan jasa dengan harga rendah dari pesaing, produk ini ditujukan kepada segmen pasar yang lebih sempit. Melalui strategi ini, perusahaan
28 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 79.
29 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 79.
30
dapat menghindari konfrontasi langsung dengan pesaing.
Perusahaan lebih fokus untuk melayani segmen pasar tertentu, dengan alasan bahwa pada segmen yang dipilih akan lebih efisien dibanding pesaingnya.
Tujuan strategi ini adalah melayani konsumen pada segmen yang sensitif terhadap harga. Strategi ini akan berhasil jika: target market niche31 cukup menguntungkan dan menawarkan pertumbuhan potensial, sangat sulit bagi pesaing untuk bisa masuk dalam industri tersebut, dan industri mempunyai banyak segmen.32 5) A Focused (or market niche) Strategy Based on Differentition
(Strategi Fokus Pada Keunikan Yang Berbeda)
Strategi ini dilakukan dengan menawarkan produk dan jasa yang beda/unik dari produk dan jasa yang ditawarkan pesaing kepada pangsa pasar yang lebih sempit. Pada strategi ini, perusahaan sangat yakin bahwa dengan melayani produk yang unik/beda pada segmen pasar yang sempit akan bisa diperoleh keuntungan tinggi, dengan alasan segmen yang dipilih akan lebih efisien dibanding pesaingnya. Tujuan strategi ini adalah melayani konsumen pada segmen sempit yang sensitif terhadap atribut produk atau jasa.33
b. Strategi Generik dari Glueck
1) Strategi Stabilitas (Stability Strategy)
Strategi ini dilakukan dengan tidak mengembangkan jenis dan jumlah produk, pangsa pasar, maupun fungsi-fungsi perusahaan. Alasan dilakukannya strategi ini adalah untuk:
a)Efisiensi sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
b)Risikonya rendah, karena perusahaan sudah mempunyai pengalaman beroperasi pada perusahaan tersebut. c) modal dan
31 Adalah perusahaan tidak mengadakan konfontrasi langsung namun mencari celah pasar yang mungkin dapat mereka rebut dari pasar yang mungkin belum terlayani oleh konsumennya.
32 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 80.
33 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 80.
sumber daya manusia terbatas. d) ekspansi akan berdampak negatif bagi perusahaan.34
2) Strategi Ekspansi (Expantion Strategy)
Strategi ini dilakukan dengan menambah jumlah dan jenis produk, pangsa pasar dan fungsi-fungsi perusahaan. kalau strategi ini dilakukan maka akan dapat meningkatkan pendapatan bagi perusahaan. namun strategi ini mempunyai risiko yang besar, karena strategi ekspansi yang tidak dapat menimbulkan kerugian finansial bagi perusahaan. ada beberapa alasan dilakukannya strategi ini, yaitu: 1) pasar belum jenuh, 2) perusahaan mempunyai modal untuk mengembangkan usaha, 3) Ekspansi akan menguntungkan bagi perusahaan, 4) adanya tekanan dari pemegang saham untuk melakukan ekspansi, 5) siklus kehidupan produk sedang berada pada tahap pertumbuhan.35
3) Strategi Penciutan (Retrenchment Strategy)
Strategi ini dilakukan dengan mengurangi jumlah dan jenis produk, pangsa pasar, dan fungsi-fungsi perusahaan strategi ini dilakukan dengan beberapa alasan, yaitu: 1) aliran kas (cash inflow) negatif, 2) siklus kehidupan produk berada pada tahap penurunan, 3) bisnis dibidang lain lebih menguntungkan, 4) perusahaan tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi persaingan bisnis saat ini, 5) bisnis saat ini rugi secara terus menerus.36
4) Strategi kombinasi
Strategi ini merupakan kombinasi dari strategi-strategi di atas. Strategi tersebut bisa dilakukan secara berurutan maupun bersamaan dalam jangka panjang. Alasan perusahaan melakukan strategi kombinasi, antara lain: 1) lingkungan internal maupun eksternal cepat berubah dan sering sulit dikontrol perusahaan. 2) persaingan sangat ketat. 3) semua produk mengalami siklus daur
34 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 80.
35 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 85.
36
hidup produk mulai dari perkenalan, pertumbuhan, kedewasaan, dan penurunan.37
2. Mengidentifikasi Pesaing
Untuk mengetahui jumlah dan jenis pesaing serta kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki, perusahaan perlu membuat peta persaingan yang lengkap. Pembuatan peta persaingan yang digunakan untuk melakukan analisis persaing memerlukan langkah-langkah yang tepat. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan identifikasi seluruh pesaing yang ada. Untuk mempermudah menetapkan langkah selanjutnya, identifikasi pesaing meliputi sebagai berikut38:
a. Jenis produk yang ditawarkan.
b. Melihat besarnya pasar yang dikuasai (market share) pesaing.
c. Identifikasi peluang dan ancaman.
d. Identifikasi keunggulan dan kelemahan.
3. Menganalisis Pesaing
Setelah perusahaan mengidentifikasi pesaing utamanya, dia harus mengetahui dengan pasti karakteristik perusahaan tersebut, khususnya strategi, tujuan, kekuatan dan kelemahan serta pola reaksi mereka.
Secara umum, setiap perusahaan harus memantau tiga variabel ketika menganalisa para pesaingnya39:
a. Pangsa pasar (share of market), pangsa pesaing atau pasar sasaran.
b. Pangsa ingatan (share of mind), persentase pelanggan yang
menyebut nama pesaing dalam menanggapi
pertanyaan,”sebutkanlah perusahaan di industry ini yang ada di pikiran anda”.
c. Pangsa hati (share of heart), persentase pelanggan yang menyebut nama pesaing dalam menghadapi pertanyaan,”sebutkanlah perusahaan yang produknya lebih anda sukai untuk dibeli.
37 Endah Prapti Lestari, Pemasaran Strategik Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, 86.
38 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), 260-261.
39 Saladin Djaslim, Unsur-Unsur Inti Pemasaran, (Bandung: Mandar Maju, 2003), 71.
D. Analisis Struktural dan Strategi Bersaing
Strategi bersaing yang efektif mencakup tindakan-tindakan menyerang/ofensif ataupun bertahan/defensif guna menciptakan posisi bertahan yang aman (defendable position) terhadap kelima kekuatan persaingan. Secara luas , ini sejumlah pendekatan yang mungkin:
1. Menempatkan perusahaan dalam posisi sedemikian rupa sehingga mampu memberikan pertahanan terbaik dalam menghadapi rangkaian kekuatan persaingan yang ada;
2. Mempengaruhi keseimbangan kekuatan melalui gerakan strategis, dan karenanyamemperbaiki posisi relatif perusahaan; atau
3. Mengantisipasi pergeseran pada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekuatan persaingan dan menanggapinya, sehingga mampu memanfaatkan perubahan dan memilih strategi yang cocok dengan keseimbangan persaingan yang baru sebelum lawan menyadarinya.40
Cara bersaing yang baik adalah dengan jalan menawarkan barang yang lebih bermutu, dengan menghindari pemborosan-pemborosan, dengan memberikan pelayanan yang baik dan membuat perusahaannya berbeda daripada yang lain.41
E. Strategi Pemasaran UKM Untuk Bersaing Dengan Brand Besar
Pengusaha kecil sekarang ini dituntut lebih kreatif dan inovatif untuk mengembangkan usahanya. Selain harus memikirkan kelangsungan bisnisnya, mereka juga harus bisa bersaing dengan brand yang sudah besar.
Sebenarnya, dalam kualitas produk, barang yang dihasilkan pelaku UKM tidak kalah bersaing dengan brand besar, yang membedakan hanyalah pangsa pasar.
Pengusaha dengan brand besar sudah memiliki nama sehingga dengan mudah mereka menarik hati pelanggan. Karenanya para pelaku UKM harus pandai untuk melihat peluang pasar tersebut sehingga bisa bersaing dengan pengusaha dengan brand yang sudah besar. Tak jarang pengusaha kecil merasa tidak mampu untuk menyaingi para pengusaha dengan brand besar.
Padahal kesempatan bersaing untuk pengusaha kecil juga masih terbuka
40 Michael E Porter, Strategi Bersaing, (Tangerang: KARISMA Publishing Group, 2007), 65.
41
lebar, peluang meraih pangsa pasar bisa mereka dapatkan dengan membuat strategi untuk mengembangkan usahanya.42
Berikut strategi pemasaran UKM untuk bersaing dengan brand besar:
1. Mengobservasi persaingan
Tidak selamanya persaingan pasar berdampak buruk bagi usaha kita. Kadang dari kompetitor kita bisa melihat dan belajar kiat-kiat sukses atau peluang usaha apa yang bisa kita contoh dan bisa kita kembangkan untuk usaha kita. Yang tidak kalah pentingnya Anda juga perlu mengobservasi perbandingan kisaran harga agar dapat memiliki peluang menggapai segmen pasar yang sesuai. Observasi barang atau harga lewat internet akan lebih mudah dan praktis, Anda bisa dengan mudah mencari dan menemukan sesuatu yang Anda inginkan.
2. Tampil Unik dan Menarik
Kreatifitas dan inovasi menghadirkan sebuah produk yang unik. Ini merupakan poin yang sangat penting untuk menarik minat pelanggan.
Produk yang terlihat unik dan menarik akan lebih banyak mengundang minat pelanggan dibandingkan dengan produk yang tampilannya biasa- biasa saja. Pelanggan akan lebih suka dan bahkan kembali lagi untuk menikmati produk kita jika tampilannya lebih menarik.
3. Menjaga Hubungan Baik Dengan Pelanggan
Menjaga hubungan baik dengan pelanggan menjadi salah satu kunci sukses berbisnis. Kepuasan pelanggan akan memberikan dampak yang positif terhadap kelangsungan suatu usaha. Jika pelanggan merasa puas dengan produk yang kita tawarkan maka kemungkinan besar mereka akan menikmati kembali produk kita dan tentunya secara tidak langsung akan menjadi media promosi bagi bisnis kita.
Hubungan yang baik dengan pelanggan perlu dijaga untuk menjaga loyalitas para konsumen dan meningkatkan omzet penjualan. Banyak pelanggan yang enggan kembali dan tidak loyal dengan suatu produk karena mereka mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan.
42 http://bisnisukm.com/tips-pemasaran-bersaing-dengan-brand-besar.html. di unduh pada tanggal 21 Agustus 2015, pukul 13.43 WIB.
Contohnya jika para pelaku brand besar menggunakan customer care untuk berkomunikasi dengan konsumen, Anda bisa berkomunikasi langsung dengan konsumen saat mereka menikmati produk kita atau bisa Anda follow up lewat handphone ataupun sosial media yang Anda gunakan.43
F. Strategi Bersaing dalam Hukum Nasional Indonesia
1. Peraturan Perundang-Undangan Umum Dan Sektoral Bersubstansi Persaingan Usaha
Kitab undang-undang hukum perdata
Diantara berbagai ketentuan yang terdapat pada KUH perdata, yang dapat melindungi pelaku usaha dari tindak pelaku usaha lain yang merugikan adalah pasal 1365, terkait dengan perihal “perbuatan melanggar hukum” dalam lingkup KUH perdata. Di dalam pasal ini dinyatakan bahwa:
“setiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Setiap pihak yang menderita kerugian akibat suatu persaingan yang tidak wajar, menurut pasal ini, dapat menuntut ganti rugi apabila dapat dibuktikan bahwa perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang “melanggar hukum”
Kitab undang-undang hukum pidana
Di dalam pasal 382 bis KUH Pidana dinyatakan bahwa:”barang siapa untuk mendapatkan, melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain, melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seseorang tertentu, diancam, jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurennya atau konkuren-konkuren orang lain itu, karena persaingan curang dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah.”
43http://bisnisukm.com/tips-pemasaran-bersaing-dengan-brand-besar.html. di unduh pada tanggal 21 Agustus 2015, pukul 13.43 WIB.
Pasal ini memberikan ancaman pidana penjara terhadap atau kepada orang yang melakukan “persaingan curang”. Seseorang disebut melakukan persaingan curang menurut pasal ini adalah apabila dapat dibuktikan memenuhi unsur-unsur bahwa:
1) Ia melakukan suatu perbuatan penipuan;
2) Penipuan itu dilakukan untuk memperdayai masyarakat atau orang lain;
3) Perbuatan itu dilakukan untuk menarik keuntungan di dalam usaha nya atau usaha orang lain;
4) Perbuatan itu dapat menimbulkan kerugian bagi saingannya.
Ketiadaan pemenuhan salah satu unsur, tidak dapat dipidana oleh pasal ini.
2. Undang-Undang No.5 Tahun 1984 Tentang Perindustrian
Di pasal 7 Undang-Undang No.5 tahun 1984 tentang perindustrian dinyatakan bahwa:44
“pemerintah melakukan industri, untuk:
1) Mewujudkan perkembangan industri yang lebih baik secara sehat dan berhasil guna;
2) Mengembangkan persaingan yang baik dan sehat, mencegah persaingan tidak jujur; dan
Mencegah pemusatan atau penguasaan industri oleh satu kelompok atau perorangan dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.”45 3. UU tentang usaha kecil (UU No. 9 Tahun 1995)
Di dalam pasal 8 UU No.9 Tahun 1995 ini dinyatakan bahwa pemerintah harus menjaga iklim usaha dalam kaitannya dengan persaingan, dengan membuat peraturan-peraturan yang diperlukan.
Untuk melindungi usaha-usaha kecil, pemerintah juga harus mencegah
44 Faisal Bahri, Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Ekonomi Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2002), 356.
45 Faisal Bahri, Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Ekonomi Indonesia, 356.
pembentukan struktur pasar yang mengarah pada pembentukan monopoli, oligopoli, dan monopsoni yang merugikan. 46
G. Strategi Bersaing Menurut Pandangan Strategi Marketing Syariah Strategi Bersaing Menurut Pandangan Strategi Marketing Syariah dalam buku Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, yaitu:
1. Segmentation (segmentasi)
Segmentasi adalah seni mengidentifikasikan serta memanfaatkan peluang-peluang yang muncul di pasar. Dan pada saat yang sama, ia adalah ilmu untuk melihat pasar berdasarkan variabel-variabel yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam melihat pasar, perusahaan harus kreatif dan inovatif menyikaapi perkembangan yang sedang terjadi, karena segmentasi merupakan langkah awal yang menentukan keseluruhan aktivitas perusahaan. Perusahaan dapat menentukan dimana mereka harus memberikan pelayanan terbaik dan dimana mereka mempunyai keunggulan kompetitif paling besar.47
Menurut karakteristiknya, pendeketan segmentasi terbagi 3, yaitu:
a. Static attribute segmentation, pendekatan yang dilakukan adalah dengan membagi pasar berdasarkan atribut-atribut yang sifatnya statis, seperti geografis atau demografis. Segmentasi geografis membagi pasar berdasarkan negara, kawasan, provinsi, atau kota. Segmentasi demografis membagi pasar berdasarkan umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, agama dan pendidikan.
b. Dynamic attribute segmentation, pendekatan yang dilakukan adalah dengan memerhatikan atribut-atribut yang dinamis, seperti psikografis dan perilaku (behavior). Segmentasi psikografis membagi pasar berdasarkan gaya hidup dan kepribadian. Sedangkan segmentasi perilaku berdasarkan sikap, penggunaan dan respons.
c. Individual segmentation, dilakukan atas unit terkecil pasar, yaitu individu perseorangan.48
46 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 73.
47 Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, Syariah Marketing, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2006), 165-169.
48
Dalam buku nya Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, menurut Muhamad Syafi’i Antonio, syariah mempunyai keunikan tersendiri, syariah tidak saja komprehensif, tetapi juga universal. Yang dimaksud dengan komprehensif adalah bahwa syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah).
Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Penciptanya. Adapun aspek sosial diturunkan menjadi rules of the game atau aturan main dalam kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan universal bermakna bahwa syariah dapat diterapkan setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia. Keuniversalan ini jelas terutama pada bidang sosial yang tidak membeda-bedakan antara kalangan Muslim dan non Muslim.49
2. Targeting (membidik target)
Targeting adalah strategi mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif, karena sumber daya yang dimiliki terbatas. Dengan menetukan target yang akan dibidik usaha kita akan lebih terarah.
Sebagai contoh perbedaan antara Rambo dan penembak jitu (sniper).
Dalam menembak musuhnya, Rambo menggunakan mesin yang membidik secara acak sehingga tidak efektif dan efisien. Sedangkan penembak jitu menembak musuhnya secara benar-benar jitu fokus, sehingga upaya dikeluarkannya efektif dan efisien. Untuk itulah, perusahaan perlu membidik pasar yang akan dimasuki yang tentunya harus sesuai dengan keunggulan daya saing (competitive advantage) yang dimiliki perusahaan.
Menurut Warrwn Keegan dalam bukunya Global Marketing Management, kriteria untuk mennetukan target market terbagi menjadi 3, yaitu:
1) Memastikan bahwa segmen pasar yang dipilih itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan (market size). Atau dapat pula memilih segmen yang pada saat ini masih kecil, tetapi menarik dan menguntungkan di masa mendatang (market growth).
49 Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, Syariah Marketing, 165-169.
2) Strategi targeting itu harus didasarkan pada keunggulan daya saing perusahaan (competitiv advantages). Keunggulan daya saing merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan itu memiliki kekuatan dan keahlian yang memadai untuk mendominasi segmen apasar yang dipilih.
3) Melihat situasi persaingan (competitive situation) yang terjadi.
Semakin tinggi tingkat persaingan, perusahaan perlu mengoptimalkan segala usaha yang ada secara efektif dan efisien sehingga targeting yang akan sesuai dengan keadaan yang ada di pasar.
Di tengah situasi persaingan yang semakin crowded ini, perusahaan tidak bisa lagi sekadar membidik rasio atau benak konsumen tidak bisa membedakan keunggulan masing-masing produk karena sudah terlalu banyak dan memang relatif tidak berbeda satu sama lain dari sisi fungsionalnya. Misalkan saja perangkat telepon seluler. Sudah belasan merek yang tersedia di pasar, dan secara fungsional sebenarnya relatif tidak ada perbedaan signifikan antara satu merek dan yang lainnya.
Karena itu, bagi perusahaan syariah, ia harus bisa membidik hati dan jiwa dari para calon konsumennya. Dengan begini, konsumen akan lebih terikat kepada produk atau perusahaan itu dan relasi yang terjalin bisa bertahan lebih lama (long-term), bukan hanya relasi yang bersifat singkat (short-term).50
3. Positioning
Positioning adalah strategi untuk merebut posisi di benak konsumen, sehingga strategi ini menyangkut bagaimana membangun kepercayaan, keyakinan, dan kompetensi bagi pelanggan.
Saat ini konsumen memegang peranan kunci untuk pembelian dan pemakaian produk-produk anda. Tersedianya berbagai pilihan yang masing-masing mempunyai sisi positif dan negatifnya membuat konsumen selalu membandingkan perusahaan anda dengan yang lain.
Untuk itulah positioning diperlukan agar citra terhadap produk atau
50
perusahaan anda dapat terbentuk sesuia dengan niat dan tujuan dari perusahaan.
Menurut Philip Kotler, positioning adalah aktivitas mendesain citra dari apa yang ditwarkan perusahaan sehingga mempunyai arti dan memosisikan diri di benak konsumen. Sedangkan bagi Yoram Wind, seorang profesor strategi pemasaran, positioning adalah bagaimana mendefinisikan identitas dan kepribadian perusahaan di benak pelanggan.
Jadi, positioning adalah suatu pernyataan mengenai bagaimana identitas produk atau perusahaan tertanam di benak konsumen yang mempunyai kesesuaian dengan kompetensi yang dimiliki perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan, kredibilitas, dan pengakuan dari konsumen.
Dalam memnetukan positioning sebelum produk di launch, perusahaan sudah berusaha untuk bisa menjadi perusahaan yang costumer –centric. Sebab positioning adalah apa yang ada di benak konsumen. Sehingga, sebelum menentukannya, hal yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah “reason to buy” dari konsumen. Positioning menawarkan value yang akan diterima konsumen. Setelah mengetahui apa permintaan dari pelanggan, perusahaan harus menyesuaikannya dengan kekuatan dan keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki.
Bagi perusahaan syariah, membangun positioning yang kuat dan positif sangatlah penting. Citra syariah yang dengan sendirinya akan terbentuk harus bisa dipertahankan dengan menawarkan value-value yang sesuai dengan prinsip syariah.51
Strategi bersaing apabila dilihat dari strategi marketing syariah dalam sebuah perusahaan dalam buku Muhammad Ismail Yusanto, yaitu sebagai berikut:
1. Pembuatan sasaran pemasaran
Menurut Bygrave (1996), sasaran pemasaran harus dinyatakan bagi setiap pasar sasaran dalam segi penjualan, kontribusi laba, dan
51 Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, Syariah Marketing, 175-177.
tujuan kualitatif lainnya, seperti membangun citra. Sasaran yang dimaksud paling sedikit bisa di bagi dalam dua kelompok, yakni sasaran prestasi pasar dan sasaran penunjang pemasaran. Sasaran prestasi pasar dimaksudkan untuk hasil yang lebih spesifik seperti penjualan dan laba. Adapun sasaran penunjang yang dimaksudkan untuk tugas yang menunjang hasil prestasi akhir seperti membangun kesadaran pelanggan dan ikut serta dalam upaya pendidikan. Sasaran juga harus terukur. Ini karena jika tidak, evaluasi perkembangan hasil akan sulit dilakukan.
2. Formulasi strategi Pemasaran
Menurut Bygrave (1996) yang bukunya The Portabel MBA in Entrepreneurship telah diterjemahkan dalam tujuh belas bahasa ini, strategi pemasaran adalah kumpulan petunjuk dan kebijakan yang digunakan secara efektif untuk mencocokkan program pemasaran (produk, harga, promosi, dan distribusi) dengan peluang pasar sasaran guna mencapai sasaran usaha. Dalam bahasa yang lebih sederhana, suatu strategi pemasaran pada dasarnya menunjuk bagaimana sasaran pemasaran dapat dicapai.52
Implementasi syariat dalam program pemasaran dapat dilihat, misalnya pada produk, barang dan jasa yang ditawarkan adalah yang berkualitas atau sesuai dengan yang dijanjikan. Pada variabel harga, terhadap pelanggan akan disajikan harga yang kompetitif. Pada saluran distribusi, pebisnis muslim sekali-kali tidak akan pernah melakukan tindakan kezaliman terhadap pesaing lain, suap untuk melicinkan saluran pasarnya, dan tindakan machiavelis lainnya. Pada promosi, pebisnis muslim juga akan menghindari iklan porno, bohong, dan promosi yang menghalalkan segala cara.
3. Perumusan program pemasaran
Merumuskan program pemasaran bagi suatu pasar sasaran terdiri atas langkah berikut.
a. Menentukan seberapa besar anggaran pemasarannya;
52 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, Menggagas Bisnis
b. Mengalokasikan anggaran tersebut kedalam variabel-variabel bauran pemasaran dari perusahaan;
c. Menentukan penggunaan sumber daya yang terbaik bagi setiap variabel bauran pemasaran.
4. Keputusan taktis-strategis pemasaran
Formulasi strategi pemasaran berakhir dengan ditetapkannya keputusan taktis-strategis yang memberikan kerangka kerja yang luas dan berjangka panjang (setahun atau biasanya lebih) bagi tindakan pemasaran. Keputusan ini menjadi keputusan fundamental yang memberi petunjuk tindakan sehari-hari keputusan yang dimaksud terdiri atas hal-hal berikut ini.53
a. Keputusan produk. Berkenaan dengan penetapan produk yang secara potensial dinilai oleh pasar sasaran atas kualitasnya, yakni paduan manfaat atau kepuasan yang ditimbulkan, atribut produk yang dibawanya, juga perluasan produk. Misalnya, cadillac. Ia ditetapkan sebagai produk mobil yang memberikan kenyamanan, ketenangan dan kepercayaan; memberikan kepuasan yang tinggi dari merek, kualitas dan gaya; serta memberikan pelayanan pascajual berupa garansi, citra perusahaan. Dan kenyamanan distribusi/pengiriman.
b. Keputusan penetapan harga. Keputusan ini memasukkan faktor biaya, persaingan, dan permintaan. Penetapan harga seyogianya dilakukan setelah perusahaan memonitor harga yang ditentukan kompetitif, tidak terlalu tinggi atau sebaliknya. Ada sejumlah cara untuk menentukan harga yang tepat. Strategi harga cost-plus, yakni harga dihitung dari biaya ditambah margin keuntungan yang diinginkan (presentase dari biaya). Strategi harga mark-up, dimana harga dihitung sebagai suatu presentase dari harga jual. Selain itu, ada strategi harga break-even (impas), harga dihitung dengan menentukan tingkat penjualan yang diperlukan untuk menutup seluruh biaya tetap dan variabel. Jika biaya tetap Rp. 100.000,00
53 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, 170.
biaya variabel per unit Rp.2,00 dan harga per unit Rp 4,00, maka perusahaanharus menjual 50.000 unit untuk mencapai titik impas (atau sama dengan 100.000/(4-2)). Strategi harga going rate berarti harga ditetapkan sama dengan harga produk pesaing.
c. Keputusan distribusi, disini, perusahaan memutuskan pilihan jaringan distribusi yang dipandang efektif dan efisien untuk menghubungkan produsen dengan konsumen atau pola produsen- agen-distributor-pengecer-konsumen. Atau dapat juga kombinasi dan modifikasi di antara dua pola umum tersebut. Pilihan pola distribusi sangat bergantung pada tingkaet efisiensi dan efektivitasnya.
d. Keputusan promosi. Promosi lebih luas dari sekadar iklan.
Keputusannya dapat berupa salah satu kombinasi dari penggunaan keempat elemen berikut. 1) promosi penjualan, diantaranya melalui pertandingan, kontes, contoh gratis, pameran perdagangan, kupon dan harga promosi. 2) iklan: iklan cetak, iklan tayangan, iklan billboard, serta logo dan informasi pada kemasan. 3) publisitas, seperti mencetak/menayangkan berita di media, laporan tahunan, juga pidato karyawan. 4) penjualan personal, seperti presentasi penjualan secara perorangan atau pemasaran jarak jauh (telemarketing). Semua elemen promosi ini harus dihindarkan dari tindak kebohongan, ilusi ketidaksenonohan, serta publikasi produk yang menghalalkan segala cara.
H. Menyikapi Persaingan Bisnis Sesuai Syariah
Sekalipun mendatangkan banyak perdebatan, gagasan perdagangan bebas dan persaingan bebas terus bergulir sebagai akibat bangkitnya kegairahan organisasi-organisasi bisnis dan perdagangan dunia. Faktanya, persaingan telah berkembang mengarah pada praktik-praktik persaingan liar yang menghalalkan segala cara (machiavelistik).
Islam sebagai sebuah aturan hidup yang khas, telah memberikan aturan-aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat praktik persaingan yang tidak sehat itu. Minimal ada tiga unsur yang
perlu dicermati dalam membahas persaingan bisnis menurut islam yaitu54 : (1) pihak-pihak yang bersaing ,(2) cara persaingan, dan (3) produk atau jasa yang dipersaingkan.
1. Pihak-pihak yang bersaing
Manusia merupakan pusat pengendali persaingan bisnis. Ia akan menjalankan bisnis nya terkait dengan pandangannya tentang bisnis yang digeluti nya. Hal terpenting yang berkaitan dengan faktor manusia adalah segi motivasi dan landasan ketika ia menjalankan praktik bisnisnya, termasuk persaingan yang terjadi didalamnya.
Bagi seorang muslim, bisnis yang dia lakukan adalah dalam rangka memperoleh dan mengembangkan kepemilikan harta. Harta yang dia peroleh tersebut adalah rezeki yang merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah. Rezeki tidak akan lari kemana-mana. Bila bukan rezekinya, sekuat apapun orang yang mengusahakan, ia tidak akan mendapatkannya. Begitupun sebaliknya. Seorang manusia tidak akan menemui ajalnya kecuali ia telah dicukupkan atas rezekinya. Tugas manusia adalah melakukan usaha untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jalan berbisnis. ia tidak takut sedikitpun akan kekurangannya rezeki atau kehilangan rezeki hanya karena anggapan rezeki itu “diambil” pesaingannya.
“dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, mereka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki- Nya. Dan, hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
(Al-Mulk: 15).
Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan menjadi kekuatan ruhiyah bagi seorang pebisnis muslim. Keyakinan ini menjadi landasan sikap tawakal yang kokoh dalam berbisnis. Selama berbisnis, ia senantiasa sandarkan segala sesuatunya kepada Allah.
Manakala bisnisnya memenangkan persaingan, ia bersyukur. Sebaliknya, ketika terpuruk dalam bersaing, ia bersabar. Intinya segala keadaan ia hadapi denga sikap positif tanpa meninggalkan hal-hal prinsip yang telah
54 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, 92.
Allah perintahkan kepadanya. Insya Allah perasaan stress atau tertekan semestinya tidak akan menimpa pebisnis muslim.55
Karenanya seorang muslim akan memandang berbisnis sebagai pelaksanaan perintah Allah untuk bertebaran di muka bumi dalam mencari karunia-Nya. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk menghalalkan segala cara untuk sekadar “memenangkan” persaingan.
Baginya, yang disebut persaingan adalah berebut menjadi terbaik.
Terbaik dihadapan Allah yang dicapai dengan cara sekuat tenaga untuk tetap setia menaati setiap aturan-Nya dalam berbisnis, sedangkan terbaik dihadapan manusia dengan menjalankan bisnis dengan produk yang bermutu, harga bersaing, dan dengan pelayanan total.
“dan, kami jadikan malam itu sebagai pakaian, dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (An-Naba: 10-11).
Dalam hal kerja, Islam memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos kerja yang tinggi, sebagaimana telah memerintahkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan landasan ini, persaingan tidak lagi diartikan sebagai usaha mematikan pesaingan lainnya, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dari usaha bisnisnya.
2. Segi cara bersaing
Berbisnis adalah bagian dari muamalah. Karenanya, bisnis juga tidak terlepas dari hukum-hukum yang mengatur masalah muamalah.
Karenanya, persaingan bebas yang menghalalkan segala cara merupakan praktik yang harus dihilangkan karena bertentangan dengan prinsip- prinsip muamalah Islami.
Dalam berbisnis, setiap orang akan berhubungan dengan pihak- pihak lain seperti rekanan bisnis dan pesaingan bisnis. Sebagai hubungan interpersonal, seorang pebisnis muslim tetap harus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mitra bisnisnya. Hanya saja, tidak mungkin bagi pebisnsis muslim bahwa pelayanan terbaik itu diartikan juga memberikan “servis” dengan hal yang dilarang syariah.
55 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, Menggagas Bisnis
Pemberian suap untuk memuluskan negosiasi, misalnya, jelas dilarang syariat. Atau, dengan cara memberi umpan perempuan, sebagaimana telah menjadi hal lumrah dalam praktik bisnis sekarang, juga dilarang.
Dalam berhubungan dengan rekan bisnis, setiap pebisnis muslim haruslah memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad-akad bisnis. Dalam berakad, haruslah sesuai dengan kenyataan tanpa manipulasi. Misalnya saja, memberikan sampel produk dengan kualitas yang sangat baik, padahal produk yang dikirimkan itu memiliki kualitas jelek.
Rasulullah SAW. Memberikan contoh bagaimana bersaing dengan baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah melakukan usaha untuk menghancurkan pesaing dagangnya. Walaupun ini tidak berarti Rasulullah berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya.
Yang beliau lakukan adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan menyebutkan spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada cacat pada barang tersebut. Secara alami, hal-hal seperti ini ternyata justru mampu meningkatkan kualitas penjualan dan menarik para pembeli tanpa menghancurkan pedagang lainnya.
Sementara itu, negara harus mampu menjamin terciptanya sistem yang kondusif dalam persaingan. Pemerintahan tidak diperkenakan memberikan fasilitas khusus kepada seseorang atau sekelompok bisnis semisal tentang teknologi, informasi pasar, pasokan bahan baku, hak monopoli, atau penghapusan pajak. 56
3. Produk (barang dan jasa) yang dipersaingkan
Beberapa keunggulan produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing adalah sebagai berikut.
a) Produk. produk usaha bisnis yang dipersaingkan baik barang maupun jasa harus halal. Spesifikasinya harus sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen untuk menghindari penipuan. Kualitasnya terjamin dan bersaing.
56 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, Menggagas Bisnis Islami, 96.
b) Harga. Bila ingin memenangkan persaingan, harga produk harus kompetitif. Dalam hal ini, tidak diperkenakan membanting harga dengan tujuan menjatuhkan pesaing.
c) Tempat. Tempat usaha harus baik, sehat, bersih, dan nyaman. Harus juga dihindarkan melengkapi tempat usaha itu dengan hal-hal yang diharamkan (misalnya gambar porno, minuman keras, dan sebagainya) untuk sekadar menari pembeli.
d) Pelayanan harus diberikan dengan ramah, tapi tidak boleh dengan cara yang mendekati maksiat. Misalnya dengan menempatkan perempuan cantik berpakaian seksi. Layanan purna jual merupakan servis yang akan melanggengkan pelanggan. Akan tetapi, ini diberikan dengan cuma-cuma atau sesuai dengan akad.57
57 Muhammad Ismail Yusanto, dan Muhammad Karebat Widjajakusuma, Menggagas Bisnis