SEMINAR NASIONAL PERlKANAN DAN KELAUTM bkh
PROSIDING
wsm BIDANG PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERAIRAN
SEMINAR NASIONAL m
Diselenggarakan oleh :
Fakultas Perlkanan dan llmu Kelautan
Unlversltas BawQaya (FPIK-UB) * A A
Bekerja sama dengan
\ IVWLANG, 08 NOVEMBER 2008
Balal Besar Rlset Soslal Ekonoml Kelautan dan Perlkanan (BBRSEKP)
dan
-
Balal Besar Rlset Pengolahan Produk dan Bloteknologi Kelautan dan Perlkanan (BBRPZB)
Pepustakaan lVasional
Rl :Katalog Dalam Terbitan
Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional 2008 Bidang Pemanfaatan Sumberdaya Perairan
:Penyusun
:Tim Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional 2008
Malang
:xxiv + 190 hal,
:2 1 x 29,7 cm
ISBN
:978-979-25-8026-6
Judul
:Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional 2008 Bidang Pemanfaatan Sumberdaya Perairan
Penyusun
:Tim Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional 2008 Penyunt
ing
:Tim Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional 2008 Desain Sampul
:Mochamad Fattah
Penerbi t
:Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Tel p/Fax
:(0341) 553 512/(0341) 557 837
Cetakan
:Pertama,Desember 2008
Prosiding seminar dan Konferensi Nasional 2008 Bidang Pemanfaatan Sumberdaya Perairan diterbitkan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang
Surat-Menyurat dapat dikirimkan pada alamat dibawah ini
:Sekretariat Panitia Seminar dan Konferensi Nasional 2008 Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan Universitas Brawijaya JI. Veteran Malang 65 145
Telp
:(0341) 553 512 Fax. (0341) 557 837
KAJIAN TUTUPAN SUBSTRAT DASAR Dl DAERAH TERUMBU KARANG Dl PULAU KARANG BERAS, PULAU AIR, PULAU PANGGANG DAN PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU,
DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
.
Beginer Subhan, Dondy Arafat, Giri Andono, Mursalin, Hawis Madduppa 1. Departemen llmu dan Teknologi Kelautan lnstitut Pertanian Bogor
2. Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta 3. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut-Pertanian Bogor
*
Present Address: Departemen llmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan. lnstitut Pertanian Bogor, Darmaga 16680 Bogor, Jawa Barat, IndonesiaE-mail : [email protected]
Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem utama yang menunjang kehidupan di Kepulauan Seribu. Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka merupakan beberapa pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu. Berbagai kegiatan dilakukan di daerah ekosistem terumbu karang misalnya penangkapan ikan pengambilan karang hias dan penambangan karang yang dapat mempengaruhi tutupan substrat dasar di daerah ini. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Pulau Karang Beras, Pulau Air,Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada tahun 2008. Hasil Penelitian ini didapat bahwa tutupan karang hidup pada ketiga pulau berkisar antara buruk dan baik. Kondisi yang baik ditemukan di Pulau Karang Beras daerah terbuka dengan penutupan sebesar 56,31% sedangkan yang buruk terdapat di Pulau Panggang daerah tertutup yaitu sebesar 23,09%. Karang-karang hidup yang ditemukan sebanyak 28 marga yang tegolong dalam 14 suku. Menurut lokasi atau pulau pengamatan maka diperoleh kategori pulau yang memiliki keanekaragaman marga tertinggi yakni pada Pulau air Jan Pulau Karang Beras dengan total dari 2 stasiun pengamatan (terbuka dan tertutup) diperoleh jumlah marga terbanyak sebesar 24 dan 23 marga. Pulau Pramuka dan Pulau Panggang memiliki jumlah marga termiskin yaitu masing-masing 18 marga. Marga terbesar yang ditemukan yakni dari suku Favidae sebanyak 8 marga dan yang terendah terdapat pada suku Helioporidae, Siderasteridae, Milleporidae, Mussidae, Oculinidae, Caryophyllidae dan Trachyphyllidae masing-masing sebanyak 1 marga.
Kata Kunci : Persen Penutupan, Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang
Disampaikan pada Seminar Nasional Hasil Riset Perikanan, 8 Nopember 2008 di Gedung Widyaloka Universitas Braw ijaya dan Fakultas Perikanan dan l lmu Kelautan Universitas Brawijaya
Pengantar
Terumbu kardng di Indonesia bagian barat mendapatkan leblh banyak tekanan dibandingkan dengan terumbu karang di bagian timur Indonesia (Chou 2000). Cesar (1996) menyatakan bahwa Kepulauan Seribu yang selama 25 tahun terakhir menanggung beban limbah dari Jakarta. Faktor utama yang membuat terumbu karang di Kepulauan Seribu semakin rentan adalah limbah domestik, limbah industri, dan penang!tapan ikan yang merusak (termasuk bom sianida) merupakan (Bryant et al.
1998; Erdmann 1996). Perairan Kepulauan Seribu juga menghadapi segala tekanan-tekanan lingkungan
tersebut.
Perairan ini terletak di 5'24' - 5'45 LS dan 106O25' -
106O40' BT (BTNKpS 2000), dan berada di sebelah utara Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Perairan Kepulauan Seribu merupakan perairan yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta, ke dala~n perairan ini bermuara 13 sungai dan daerah sekelilingnya merupaKan daerah dengan tingkat industrialisasi yang tinggi. Oleh karena itu perairan Kepulauan Seribv rawan terhadap pencemaran laut.
Selain itu, dengan berubahnya status kepulauan seribu menjadi Kabupaten administratif, diduga berpengarl~h terhadap kondisi terumbu karang di daerah tersebut.
Kegiatan penelitian ini merupakan kegiatan rutin
untuk memantau kondisi terumbu karang beberapa pulau yaitu Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem utama yang menunjang kehidupan di Kepulauan Seribu. Pulau Karang Beras, Pulau Air dan Pulau Panggang dan Pulau Pramuka merupakan beberapa pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu. Berbagai kegiatan dilakukan di daerah ekosistem terumbu karang misalnya penangkapan ikan pengambilan karang hias dan penambangan karang yang dapat mempengaruhi tutupan substrat dasar di daerah ini.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pramuka pada tahun 2008. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pemerintah setempat dalam mengambil kebijakan dalam pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan.
Material dan Metodologi
Penelitian dilakukan di Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada bulan Agustus 2008. Pada setiap pulau diambil dua titik yaitu daerah terbuka dan daerah tertutup. Metode LIT (Line Intercept Transect) English . et a1.(1997) dengan
menggunakan peralatan SCUBA dengan panjang % hingga 56,3 1. %, dimana kondisi tersebut termasuk transek 100 m pada kedalaman antara 3-7 m untuk dalam kategori buruk hingga baik. Berdasarkan pengambilan data penutupan karang. Kelimpahan G a m b a r 1, bahwa penutupan tertinggi ditemukan di marga diarnbil dengan metode Bell fransecf seluas 200 Pulau Karang
eras'
(Terbuka) sebesar 56,3 1%, m2. Literatur jlang digunakan untuk membantu sedangkan pada bagian tertutup Pulau Karang beras identifikasi dilapangan adalah Suharsono (2004). sebesar 45,5%. Di sisi lainnya, dari hasil penelitian ini diperoleh penutupan substrat dasar di Pulau -4ir padaHasil bagian terbuka dan tertutup untuk karang hidup yakni
Penutupan Substrat Dasar sebesar 27,18% dan 37,88%. Lokasi berikutnya yakni Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pulau Panggang, hasil yang diperoleh bahwa tutupan persen penutupan terumbu karang di Pulau Karang karang karang hidup sebesar 38,24 % (terbuka) dan Beras, Pulau Air dan Pulau Panggang berkisar 23,09 23,09 % (tertutup).
~ .... ,~ . .
T ~
-
G R - * NHIDUP_
F.. rn KARANG ~ MATI OABIOTIK OALGA m - BIOTA _..-_
LAIN ,1
-
120, i
Gambar 1 . Komposisi Substrat Dasar di Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka Pulau Karang beras di daerah terbuka memiliki dengan kedalaman 7 m. Pengamatan kondisi terumbu hamparan terumbu karang yang baik, ha1 ini terbukti karang pada lokasi ini dilakukan pada kedalaman 5 dari hasil pengamatan dengan transek garis sepanjang meter yang dianggap mewakili. Koloni terumbu 100 meter pada kisaran kedalaman 4 - 5 meter. Maka karang membentuk kelompok-kelompok yang dibatasi diperoleh persen penutupan karang hidup sebesar oleh karang mati. Hasil pengamatan dengan metode 56.31 % , dimana kondisi pada lokasi tersebut Line lnfercept Tran.recf, menunjukkan bahwa dikategorikan Saik (Gambar 1). Komposisi persentase penutupan karang hidup di stasiun tersebut berikutnya yakni Abiotik sebesar 27,74 % yang terdiri sebesar 45,50% yang dapat dikategorikan dalam dari pasir, lumpur dan batu-batuan. Kondisi tersebut kondisi sedang.
diduga bahwa di Pulau Karang beras bagian terbuka Komposisi karang keras yang mendominasi pada memiliki laju sedimentasi dan abrasi yang cukup daerah tertutup dari Pulau Karang beras memiliki tinggi, terlihat besarnya komposisi abiotik yang bentuk pertumbuhan bercabang yaitu dari jenis merupakan muatan dari darat yang terbawa oleh arus Acropora yang memiliki persentase sebesar 16,35%.
pesisir pantai. Selain itu, terdapat pula hamparan pecahan karang, Bentuk pertumbuhan karang hidup yang batu, pasir dan lumpur yang dikategorikan sebagai ditemukan pada lokasi Pulau Karang bagian terbuka abiotik sebesar 24,78%. Karang mati yang telah didominasi oleh jenis karang Karang Masiv yakni ditumbuhi algae mengindikasikan bahwa kematian sebesar 29,17 %, selebihnya dihuni oleh jenis - jenis karang tersebut telah terjadi cukup lama. Persentase karang Acropora branching, karang meja, dan penutupan karang mati yang ditumbuhi algae sebesar beberapa jenis kzrang ahermatipik. Namun demikian, 9,33% dan karang mati tanpa alga yakni 6,34%.
pada lokasi tersebut diduga terdapat kegiatan Selanjutnya, Kondisi ekosistem terumbu penangkapan yang kurang ramah lingkungan dengan karang di Pulau Air di daerah yang terbuka termasuk adanya pecahan karang, pemutihan karang dan karang dalam kategori sedang dimana penutupan karang mati dengan alga dengan komposisi persentase hidup sebesar 27,18%. Substrat dasar juga ditutupi penutupan sebesa~ 11,05 % dari transek garis unsur biotik lainnya yaitu alga, dan biota lain dimana
pengamatan. masing-masing penutupan sebesar 7,27% dan
Terumbu kara~ig di daerah tertutup Pulau 13,15%. Selain biotik, substrat dasar yang dominan Karang Beras tersebar mulai kedalaman 2 m sampai pada daerah itu ditutupi oleh karang mati (6,97%) dan
abiotik (45,43%) seperti pecahan karang (R), pasir (S) dan batu-batuan (RCK). Pada lokasi ini, arus dan gelombang pada musim barat sangat besar, sehingga dalam kondisi musim yang kurang mendukung diperkirakan terumbu karang mengalami tekanan lingkungan yang cukup tinggi. Ini merupakan salah satu penyebab kerusakan terumbu karang yang dikategorikan krjadian karena faktor alamiah.
Karang hidup yang ditemukan di lokasi ini terbagi dalam 10 bentuk pertumbuhan. Bentuk pertumbuhan yang dominan adalah bentuk bertumbuhan bercabang (CB) yang ditemukan sebanyak 9,38%, sedangkan pada unsur abiotik dominan adalah pecahan karang (R) yaitu sebesar 29,79%. Tingginya -unsur abiotik didaerah ini diduga akibat sari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan yang dilakukan dimasa lalu.
Hasil pengamatan di daerah tertutup di Pulau Air didapat hasil kondisi terumbu karang di daerah tersebut dalam kategori sedang. Penutupan karang di daerah tersebut adalah sebesar 37,88%. Substrat dasar di daerah ini ditutupi oleh beberapa unsur lain yaitu karang mati (12,29%), abiotik (27,08%), alga (3,83%) dan biota lain ( l8,92%).
Karang hidup yang ditemukan di daerah ini terbagi dalam 9 bentuk pertumbuhan dengan karang massif cukup banyak ditemukan menutupi substrar dasar sebesar 12,3 1%. Pada unsur abiotik batu (RCK) dan pecahan karang (R) merupakan unsur yang banyak ditemukan yaitu masing-masing sebesar 10,1% dan 12,78%. Selain kedua kategori tersebut, di daerah ini ditemukan pula beberapa koloni karang lunak (SC) dan spons (SP). Karang lunak yang ditemukan di daerah ini antara lain Sinularia sp dan Lobophytum sp. Spons yang ditemukan dari jenis Aaptos sp dan Xetospongia sp.
Pada lokasi terbuka dari Pulau Panggang diperoleh bahwa tutupan substrat dasar di lokasi ini tergolong sedang, yakni dengan persentase tutupan karang hidup sebesar 38,24%. Selain karang hidup, tutupan terbesar berikutnya yakni golongan abiotik yakni biasanya terdiri dari batu, pasir dan Lumpur. Persentase abiotik yang diperoleh yakni 38,44%. Hasil ini membuktikan, telah terjadi aktivitas nelayan yang mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang dengan melihat persentase rubble (patahan karang) sebesar 30,30%.
Kondisi ini dikatakan cukup besar, pengaruh dampak kegiatan perikanan yang tidak terkontrol, terhadap keberlangsungan terumbu karang di sekitar wilayah Pulau Panggang.
Daerah tertutup dari Pulau Panggang berada diantara Pulau Panggang dan Pu lau Pramuka. Lokasi ini biasa dijadikan lokasi pelayaran local dan kegiatan budidaya di sekitar pesisir pantan Pulau Panggang.
Pengamatan terumbu karang dilakukan pada kedalaman 4 meter, yang dianggap dapat mewakilkan
Tabel 1 . J
Acroporidae 2 Agaricidae
kondisi susbtrat dasar pada stasiun pengamatan tersebut.
Hasil yang diperoleh pada yakni, tutupan substrat dasar di Pulau Panggang di daerah tertutup dikategorikan buruk dengan persen karang mati sebesar 23,09%. Kemudian kelompok yang dominan yaitu dari kategori abiotik yakni sebesar 63,74 %.
Rincian dari kelompok abiotik tediri dari patahan karang (36,05 %), batu (10,74%) dan pasir (16,95%).
Meli hat jumlah persen patahan karang yang cukup besar, maka disuga daerah ini telah terekspos dan mengalami tekanan lingkungan yang cukup tinggi, jika kondisi tersebut berlanjut maka diperkirakan kerusakan yang lebih besar. Rehabilitasi pada titik- titik rawan harus segera direalisasikan oleh segala pihak yang berwenang, guna mencegah kerusakan dan mempertahankan sumberdaya yang ada.
Kerusakan terumbu karang di Kepulauan Seribu juga ditegaskan oleh de Vantier (1996) bahwa penurunan penutupan karang dan kekayaan jenis disebabkan oleh serangan populasi bintang laut berduri (Acanthaster planci), suhu tinggi akibat el-nino pada tahun 1991 dan 1993 (Brown & Suharsono 1990), kualitas air yang tidak baik dan praktek perikanan tangkap yang merusak (racun sianida dan muro-ami). Seiain itu, stress terumbu karang di Kepulauan Seribu juga disebabkan oleh aktivitas reklamasi, jetty, dan bagan (lijnet) (Ongkosongo & Natsir 1994).
Hasil yang berbeda ditemukan di Pulau Pramuka.
Kondisi penutupan karang di daerah di Pulau Pramuka di daerah tertutup termasuk dalam kategori baik.
Kondisi ini dapat dilihat dari persen penutupan karang hidup di daerah ini yaitu sebesar 50%. Unsur lain yang ditemukan di perairan pulau pramuka adalah karang mati, abiotik, alga dan biota lain.
Tingginya tutupan karang hidup di daerah ini diduga adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya terumbu karang bagi kehidupan mereka.
Selain itu, peningkatan kegiatan pariwisata di daerah ini cukup berpengaruh terhadap penghasilan masyarakat sehingga menjadi mata pecaharian alternatif selain menangkap ikan. Dugaan lain adalah dengan tingginya aktifitas manusia di pulau ini secara tidak langsung menjadikan proses pengawasan terhadap kegiatan yang merusak terumbu karang dapat berjalan dengan baik.
Kekayaan Marga
Hasil pengamatan ditemukan total marga karang batu sebanyak 28 marga yang tegolong dalam 14 suku. Hasil rekapitulasi data pada Tabel 1, maka dibentuk tingkatan marga dari masing-masing suku.
Marga terbesar yang ditemukan yakni dari suku Favidae sebanyak 8 marga dan yang terendah terdapat pada suku Helioporidae, Siderasteridae, Milleporidae, Mussidae, Oculinidae, Caryophyllidae dan Trachyphyllidae masing-masing sebanyak I marga.
amuka.
Caryophyllidae Faviidae Fungidae Helioporidae Merulinidae Milleporidae Mussidae Oculinidae Pocilloporidae Poritidae Siderasteridae Trachyphyllidae
Menurut lokasi atau pulau pengamatan maka diperoleh kategori pulau yang memiliki keanekaragaman marga tertinggi yakni pada Pulau air dan Pulau Karang Beras dengan total dari 2 stasiun pengamatan (terbuka dan tertutup) diperoleh jumlah marga terbanydc sebesar 24 dan 23 marga. Kemudian pada stasiun pengamatan di Pulau Panggang memililti jumlah marga termiskin yaitu masing-masing 18 marga (Gambar 2). Hal ini diduga adanya aktivitas dari nelayan setempat yang kurang ramah lingkungan dan kurang menjaga kestabilan ekosistem terumbu karang khususnya kareng hias.
Kelimpah-gn karailg keras tertinggi terdapat pada stasiun Pulau Air dan Pulau Karang Beras, sedangkan kelimpahan karang keras terendah terdapat
-
Jum lah Marga (ind) 15
Lokasi
pada ~ ' u l a u Panggang (Cambar 2). Kondisi ini karena hubungan ekosistem terumbu karang dan pengguna lahan pesisir yakni masyarakat Pulau Panggang lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Karang Beras.
Tekanan ekologi yang terbentuk baik secara alami maupun buatan merupakan penunjang degradasi ekosistem pesisir. Analisa keanekaragaman marga yang dianalisa dari 3 pulau lokasi pengamatan sangat bervariasi. Hal ,ini dipengaruhi pulau oleh kontur perairan pembentuk dataran substrat dasar. Dari sepuluh marga terbanyak berdasarkan kelimpahan tertinggi terdapat pada marga seperti; Acropora, Porites, Montipora, Fungia, Goniopora, Seriatopora, Galaxea, ~ o b o ~ h ~ l i a Chypastrea dun Favia.
Cambar. 2. Jumlah Marga di Pulau Karang Beras, Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka
Kelimpahan marga tertinggi terdapat pada karang keras dari jenis Acropora dan terendah terdapat pada karang jenis Favia sp. Acropora merupakan Karang keras yang memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan denga jenis karang lainnya dan sering ditemukan disetiap stasiun pengamatan.
. . .
~
1 EJ Fulau Karang B e r a s ! ; : '
/
(Terbuka) : , I ,i
m Pulau K a r a n g B e r a s(Tertutup)
I j
Pulau P a n g g a n g (Tertutup)
I
I1
Pulau P a n g g a n g (Terbuka)I I I
I I I
(
I Fulau Air (Tertutup)I ! o
Pulau Air (Terbuka) I I!
I Pulau R a r m k a (Tertutup)j 1
I
I
Kelimpahan tertinggi dari karang keras lainnya terdapat pada jenis karang Porites sp. dan Monripora sp. Montipora sp. hampir sama denga karang jenis Acropora sp yang memiliki pertumbuhan yang realtif cepat dan tipe pertumbuhan yang sering ditemukan adalah berbentuk lembaran filiose) dan bercabang. Sedangkan untuk karang jenis Porifes sp.
memiliki tingkat ketahanan yang relatif tinggi terhadap faktor-faktor pembatas dari pertumbuhan karang pada umumnya, seperti Gelombang. Jenis
karang Porites sp. terbanyak terdapat di Pulau Karang Beras, Pulau Air dan Pulau Panggang.
Kesimpulan
Persen penutupan terumbu karang di Pulau Karang Beras, Pulau Air dan Pulau Panggang termasuk dalam kategori buruk hingga baik. Total marga karang batu sebanyak 28 marga yang tegolong dalam 14 suku.
Marga terbesar yang ditemukan yakni dari suku Favidae dan yang terendah terdapat pada suku Helioporidae, ~iderasteridae, Milleporidae, Mussidae, Oculinidae, Caryophy l lidae dan Trachyphyl lidae.
Saran
Monitoring terumbu karang harus tetap dilaksanakan agar dapat diketahui kondisi terkini. Selain itu, pengawasan terhadap factor-faktor yang dapat merusak terumbu karang sebaiknya dipantau pula agar bila terjadi kerusakan dapat diduga penyebab kerusakan tersebut..
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan kepada Dinas Petemakan Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta yang telah memberikan bantuan pada kegiatan penelitan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Cesar H. 1996. The economic value of Indonesian coral reefs. The World Bank. July 1996. pp: 1-9.
Chou LM. 2000. Southeast Asian Reefs
-
StatusUpdate: Cambodia, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam. In: C. Wilkinson, editor. 2000. Status of Coral Reefs of the World: 2000.
AIMS Cape Ferguson, Queensland, and Dampier, Westem Australia. pp. 1 17- 129.
de Vantier LM1 1996. Decadal regional decline of coral reefs of the Thousand Islands, Indonesia: A case stu& in human impact. Report on the Coral reef management workshop for Pulau Seribu. No. 12: 95.
Erdmann MV. 1996. Destructivejishing practices in the Pulau Seribu Archipelago. Report on the coral reef management workshop for Pulau Seribu. No. I0
English S, Wilkinson C, 'Baker VJ. 1997. 2nd ed.
Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australia: ASEAN-Australia Marine Science Project. 368+xii pp.
Ongkosongo OSR, Natsir SM. 1994. Stresses to the Seribu coral reefs, Indonesia. Proceeding, Third ASEAN-Australia symposium on living coastal resources. (2): 93-1 0 1
Suharsono. 2004. Jenis-jenis karang di Indonesia.
Pusat Penelitian Oseanografi Jakarta: LIPI.
Brown BE, Suharsono. 1990. Damage and recovery of coral reefi afccted by El. Nino related seawater warming in the Thousand Islands, Indonesia. Coral Reefs ( 8 ) : 163- 170
Bryant D, Burke L, McManus J, Spalding M. 1998.
Reefs at risk. ICLARM and UNEP. Pp.56.