• Tidak ada hasil yang ditemukan

I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam struktur perekonomian Indonesia, sektor pertanian sangat berperan penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi pada kenyataannya, sektor tersebut tidak dipersiapkan untuk dapat bersaing dengan negara lain. Pada tahun 2010, pertumbuhannya hanya sekitar 3 persen, lebih rendah dari sektor pengangkutan dan komunikasi (12 persen), perdagangan (9 persen), dan jasa (4,9 persen), padahal sektor tersebut diperlukan untuk mendukung sektor lain sebagai bahan baku.

Berdasarkan data dari global competitiveness report Tahun 2010-2011, daya saing global Indonesia berada pada urutan 44 yang pada tahun sebelumnya berada pada peringkat 54. Walaupun ada peningkatan peringkat tetapi Indonesia masih berada pada tahap factor driven ke efficiency driven. Transisi tersebut menegidikasikan bahwa Indonesia, sudah memperbaiki sistem pemerintahan, infrastruktur, lingkungan makroekonomi, kesehatan dan pendidikan, tetapi belum mengoptimalkan pilar pendidikan yang tinggi, efisiensi pasar barang, tenaga kerja, pembangunan pasar finansial, perluasan pasar dan teknologi1.

Pentingnya daya saing dalam perdagangan internasional, dikarenakan adanya peluang pasar dan globalisasi yang bisa mengakibatkan negara-negara baru bersaing satu sama lain. Apabila suatu negara tidak bisa meningkatkan daya saing, maka produk-produk impor menjadi semakin banyak dan akan mempengaruhi perekonomian nasional.

Kondisi daya saing produk-produk pertanian di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Jepang, Singapura dan Cina. Indonesia masih mengekspor produk pertanian dalam bentuk segar sehingga harga jualnya rendah dan tidak bisa bersaing dengan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

1WEF_Global Competitiveness report 2010-2011. www3.weforum.org/docs/.

(2)

Ubi Jalar merupakan salah satu produk pertanian yang telah diekspor dalam bentuk segar maupun pasta. Indonesia memiliki lahan yang luas dan cocok untuk ditanami ubi jalar, tetapi permasalahan yang ada terkait dengan daya saing, jumlah produk bukan merupakan parameter tetapi kualitas produk yang lebih diutamakan.

Peningkatan kualitas dapat dicapai melalui Standarisasi Produk Nasional dengan menggunakan logo SNI pada setiap produk yang dipasarkan di dalam dan di luar negeri (diekspor), logo SNI untuk ubi jalar adalah SNI 01-4493-19982. Salah satu kebijakan yang telah direalisaikan yaitu dengan melakukan akreditasi terhadap Laboratorium penguji Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi- umbian (Balitkabi) untuk mendapatkan jaminan tertulis tentang mutu suatu produk.

Berdasarkan Nutrition Action Health letter, USA, ubi jalar menempati rangking satu dari 58 jenis sayuran sehingga disebut Sweet Potatoes is The King of Vegetables dan menurut WHO, ubi jalar mengandung vitamin A empat kali lebih tinggi dari wortel dan mengandung beta caroten serta antociamin3.

Indonesia berpotensi dalam pengembangan ubi jalar yang dapat dijadikan komoditi unggulan pada setiap wilayah yang mengindikasikan setiap propinsi bisa membudidayakan komoditi tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1. Peningkatan produksi tidak diimbangi dengan rata-rata konsumsi per kapita yaitu hanya 2,064 kg/kapita/tahun dibandingkan dengan beras 84,24 kg/kapita/tahun sebagai makanan pokok. Menurut data BPS (2009), konsumsi pangan dari tahun 2008- 2009 mengalami penurunan rata-rata sebesar 1 persen dapat dilihat pada Tabel 1.

2SNI penguat Daya Saing Bangsa. http://docs.google.com/.

315 Februari 2009. Telo (Ubi jalar) Indonesia diminati Jepang dan Korea. Edisi 816. Agrobis : Hlm 29. http://onlinebuku.com/2009/03/12

(3)

Tabel 1. Konsumsi Rata-rata per Kapita (Kg) Beberapa Bahan Pangan Tahun 2008 dan 2009

Jenis Bahan Makanan 2008 2009

Beras Lokal/Ketan

86,256 84,24

Jagung basah dengan kulit

1,152 0,576

Ketela pohon

7,056 5,088

Ubi Jalar

2,448 2,064

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 (diolah)

Pada tahun 2009, Jawa Barat merupakan propinsi sentra produksi ubi jalar di Indonesia yang memiliki produksi terbesar yaitu 469.646 ton dengan luas panen 33.387 ha dan produktivitas 140,67 ku/ha. Menurut data badan pusat statistik luas panen dan produksi ubi jalar di Jawa Barat berfluktuasi tiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Ubi Jalar Provinsi Jawa Barat

Tahun Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (Ton)

2006 29.805 130,53 389.043

2007 28.096 133,73 375.714

2008 27.252 138,15 376.490

2009 33.387 140,67 469.646

2010 30.071 143,32 430.969

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)

Produktivitas total dari semua varietas yang ditanam menunjukkan adanya peningkatan, tetapi jika dilihat dari masing-masing varietas menunjukkan penurunan misalnya varietas ubi Cilembu yang disebabkan oleh teknologi budidaya yang masih tradisional, faktor cuaca dan hasil rata-rata produktivitas paling rendah diantara varietas unggulan yang telah di lepas tahun 1977-2003 (Tabel 3).

(4)

Tabel 3. Varietas Unggul Ubi Jalar yang telah di lepas oleh Pemerintah Tahun 1977-2003

No Varietas Tahun Pelepasan Rata-rata hasil (Ton/Ha)

Umur (Bln)

1 Daya 1977 23 4

2 Borobudur 1981 25 3,5-4

3 Prambanan 1982 28 -

4 Muara Takus 1995 30-35 4-4,5

5 Mendut 1989 35 4

6 Kalasan 1991 40 2-3,5

7 Cangkuang 1998 30-31 4-4,5

8 Sewu 1998 28,5-30 4-4,5

9 Cilembu 2001 20 6-7

10 Sari 2001 30-35 3,5-4

11 Boko 2001 25-30 4-4,5

12 Sukuh 2001 25-30 4-4,5

13 Jago 2001 25-30 4-4,5

14 Kidal 2001 25-30 4-4,5

15 Shiroyutaka 2003 25-30 4-4,5

Sumber : Hilman, Yusdar, dkk dalam Jafar (2004)

Jawa Barat memiliki dua Kabupaten sebagai sentra produksi ubi Jalar, yaitu Kuningan dan Sumedang. Di Kuningan para petani menanam varietas AC dan Bogor yang diekspor ke Jepang dan Korea dalam bentuk pasta, sedangkan di Sumedang memiliki komoditi unggulan yaitu Cilembu yang telah diekspor ke Jepang, Singapura, Hongkong, dan Malaysia. Sejak Tahun 2003, pengembangan ubi Cilembu dilakukan di Kabupaten Bandung, Cianjur, Purwakarta dan Sukabumi.

Walaupun pada Tabel 3, produktivitas ubi Cilembu dapat mencapai 20 ton/Ha, tetapi pada kenyataannya hanya 11 ton/Ha dikarenakan penggunaan bibit yang terus menerus dan tidak ada upaya pemuliaan tanaman (teknologi) untuk

(5)

mempertahankan kualitas ubi tersebut supaya bisa bersaing dengan varietas lain baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Potensi daya saing dapat ditingkatkan melalui program OVOP (one village one product) yang berarti satu daerah satu produk. Program tersebut merupakan kerjasama antara Kementrian Koperasi dengan berbagai Usaha Kecil Menengah (UKM) sejak tahun 2008 setelah ada kebijakan penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 78 tahun 2007 tentang penerapan pendekatan OVOP untuk pengembangan IKM.

Program OVOP adalah program yang diarahkan untuk menghasilkan satu jenis komoditi unggulan yang berada dalam suatu kawasan tertentu yang berarti suatu desa. Adapun unsur-unsur yang melatarbelakangi adanya program tersebut adalah adanya kesesuaian potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, permodalan yang memadai, pemanfaatan teknologi, dan dukungan pemerintah untuk menjadikan suatu daerah sebagai penghasil produk berbasis lokal namun berdaya saing global.

Ubi Cilembu merupakan varietas yang paling rendah produktivitasnya dibandingkan dengan varietas lain, tetapi apabila dilihat dari segi ekonomi, ubi Cilembu memiliki harga jual yang tinggi. Di Jawa Barat, Ubi Cilembu mentah di tingkat pedagang besar seharga Rp 5.000,00-6.000,00 sedangkan untuk varietas AC dan Bogor hanya seharga Rp 2.400,00. Harga yang lebih tinggi, dikarenakan ubi Cilembu sudah terkenal di domestik dan luar negeri serta memiliki brand tersendiri yang menjadi nilai jual.

Daerah pemasaran domestik meliputi Pulau Jawa, Bali dan Sumatera, biasanya ubi Cilembu digunakan sebagai bahan baku industri untuk diolah menjadi makanan seperti keripik, tape, dodol, keremes, selai, saus, tepung, aneka kue, mie, es krim dan sirup, sedangkan di luar negeri dipasarkan di Jepang dijadikan sebagai bahan pangan tradisional, diolah menjadi ethanol, bahan baku kosmetik dan minuman khas Jepang shake serta di Malaysia diolah dengan cara dioven.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Pasundan dan Fakultas Pertanian Universitas Widyatama, Bandung, ubi Cilembu mengandung karbohidrat 60,72 persen, protein 1,4 persen,

(6)

lemak 0,7 persen, gula total 14,16 persen, sukrose 8,47 persen, vitamin C 80 mg, riboflavin 0,4 mg, niacin 0,6 mg, dan tanin 0,1 mg/100 gram4.

Sebagai varietas unggul, ubi Cilembu sangat disukai oleh pelaku usahatani maupun konsumen dan menduduki peringkat teratas pesanan internasional seperti Jepang, Korea, dan Malaysia. Negara yang menjadi importir yaitu Jepang dengan mengimpor 15 ton per dua minggu, sedangkan untuk negara Singapura dan Vietnam masih dalam tahap penjajakan5.

Tetapi pada tahun 2010, ekspor ke Singapura sebanyak 10 ton dan Hongkong 4 ton per dua minggu telah direalisasikan. Dengan adanya pasar yang terbuka lebar bisa menjadi peluang untuk menjadikan ubi Cilembu sebagai komoditi daerah yang bisa bersaing di pasar internasional guna menambah pendapatan daerah setempat maupun sebagai devisa negara.

1.2 Perumusan Masalah

Ubi Cilembu merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Sumedang, dan terdapat dua Desa yang menjadi sentra produksi Ubi Cilembu yaitu Cilembu (Kecamatan Pamulihan) dan Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong). Dua desa tersebut mempunyai luas panen, produktivitas, dan produksi ubi jalar pada Tahun 2010 yang paling besar diantara 10 kecamatan lainnya.

Produktivitasnya bisa mencapai 14 ton/Ha, dengan produksi 3 ton dan luas tanam rata-rata 2.300 Ha. Sehingga dua desa tersebut mengindikasikan bahwa keadaan tanah dan iklimnya lebih cocok dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

Selain itu, menanam ubi jalar sudah menjadi aktivitas secara turun-temurun, sehingga lebih banyak pengalaman yang didapatkan oleh petani yang berpengaruh terhadap jumlah produksi.

4Dwi Wiyana dan Rana Akbari. 24 Desember 2004. Ubi Cilembu Naik Pamor.

Tempo.http://www.arsip.net/id/link.php?lh

5 TMA. 16 Desember 2004. Ubi Cilembu Sumedang Rambah Pasar Vietnam.

Gatra. http://www.gatra.com/artikel.php?id=50639

(7)

Tabel 4. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Jalar di Kabupaten Sumedang Tahun 2010

Kecamatan Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha)

Produksi (Ton)

Sumedang Selatan

168 123,21 2.070

Sumedang Utara 85 13,68 1.163

Cimalaka 45 13,27 597

Tanjungsari 188 12,59 2.267

Sukasari 60 14,22 853

Rancakalong 222 13,69 3.079

Pamulihan 230 14,22 3.225

Situraja 87 13,29 1.156

Wado 43 12,33 530

Jatinunggal 64 12,19 780

Sumber : Dinas Pertanian Sumedang (2010)

Ubi Cilembu bersifat spesifik lokasi sehingga mengindikasikan bahwa kedua desa tersebut memiliki keunggulan sumberdaya alam. Pola tanam yang dilakukan adalah padi-ubi jalar, karena jenis sawahnya adalah tadah hujan. Lahan yang baik ditanami ubi jalar adalah sawah. Ubi jalar biasanya ditanam pada musim kemarau, dikarenakan pada musim hujan, kadar air menjadi lebih banyak dan mengakibatkan rasa ubi cilembu menjadi pahit serta banyaknya hama dan cacing yang bisa mengakibatkan produksi menjadi turun.

Produksi ubi Cilembu yang rendah bisa berimplikasi dengan keberlanjutan usaha budidaya tersebut dan dalam pemasarannya menjadi tidak terpenuhi baik untuk domestik maupun ekspor. Berkaitan dengan daya saing terutama keunggulan komparatif yang berasal dari keuntungan secara finansial, mengakibatkan penerimaan petani menjadi rendah dan tidak memiliki keunggulan kompetitif yang berdampak pada perekonomian secara keseluruhan.

(8)

Daya saing berbasis potensi daerah memiliki indikator utama dan spesifik, indikator utama merupakan indikator makro yang melibatkan semua pihak baik pemerintah daerah, swasta dan lembaga sosial, serta pihak-pihak yang berperan dalam pertumbuhan perekonomian daerah. Menurut Sumihardjo (2008), setiap indikator dan sub indikator dalam implementasinya memerlukan pengelolaan yang terintegrasi, terencana, konsisten dan berkesinambungan. Terdapat sembilan indikator makro penentu daya saing daerah dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Indikator Utama atau Makro Penentu Daya Saing Daerah

Sumber : Pusdik dan Studi Kebank-sentralan BI – 2002 : 16 diacu dalam Sumihardjo(2008)

Indikator tersebut bisa tercapai jika ada suatu kerjasama yang baik antara pihak pemerintah dan masyarakat dalam memanfaatkan potensi yang ada misalnya dalam hal sumberdaya alam, sumberdaya manusia, teknologi, kelembagaan, dan kebijakan pemerintah yang lebih bisa mempromosikan produknya ke luar negeri (ekspor) yang akhirnya bisa meningkatkan perekonomian daerah.

Terdapat lima kendala dan empat peluang dalam pengusahaan ubi Cilembu berdasarkan indikator utama tersebut diantaranya ilmu pengetahuan dan teknologi

Sistem Keuangan Keterbukaan

Perekonomian Daerah

Ilmu pengetahuan dan teknologi Infrastuktur dan

sumber daya alam

Daya saing daerah

Kelembagaan Governance dan

kebijakan pemerintah Sumberdaya manusia

Manajemen dan ekonomi mikro

(9)

sangat diperlukan untuk menjadikan ubi Cilembu sebagai komoditi unggulan Kabupaten Sumedang yaitu dengan menemukan alat untuk mengatasi hama lanas.

Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dikaji oleh Institut Pertanian Bogor, tetapi petani tidak bisa mengaplikasikannya dikarenakan biaya untuk mengadopsi teknologi tersebut sangat mahal, sehingga diperlukan peran pemerintah untuk membantu dalam hal pendanaan yang bisa dilihat dari indikator sistem keuangan suatu daerah yang harus lebih memperhatikan pelayanan publik.

Adanya bantuan pada saat pasca-panen pun harus diperhatikan karena belum adanya mesin pembersih dan pendingin. Mesin pembersih dibutuhkan untuk membersihkan kotoran ubi sebanyak 2 ton per hari hanya dua jam sedangkan dengan tenaga manusia memerlukan 10 tenaga kerja per hari. Mesin pendingin dengan suhu 12-130C diperlukan untuk menyimpan ubi cilembu agar tahan 3 bulan untuk menghindari dari serangan hama dan ada kekhasan yang dimiliki ubi Cilembu yaitu rasa ubi akan lebih manis jika setelah panen disimpan dahulu 5-7 hari.

Berdasarkan indikator perekonomian daerah, PDRB Kabupaten Sumedang berdasarkan lapangan usahanya Tahun 2010, didominasi oleh tiga lapangan usaha yaitu perdagangan, hotel, restoran (26,00 persen), industri pengolahan (24,07 persen) dan sektor pertanian (21,71 persen) diantaranya perkebunan (4,05 persen), tanaman bahan makanan (1,66 persen), peternakan (0,72 persen), perikanan (0,11) dan kehutanan (0,53). Tetapi pada kenyataannya, kebijakan terhadap bahan makanan (ubi Cilembu) tidak ada padahal sektor tersebut dapat menjadi keunggulan daerah Kabupaten Sumedang.

Petani di Cilembu dan Nagarawangi bisa mengatur pola tanamnya dan menanam ubi jalar di kebun. Di Cilembu petani menanam ubi jalar setahun satu kali sedangkan di Desa Nagarawangi bisa menanam 2 kali, tetapi belum memenuhi permintaan domestik maupun ekspor yang terus meningkat. Daerah pemasaran domestik meliputi Jawa Timur yang membutuhkan pasokan 4-5 ton sedangkan Sumatera dan Bali 9 ton per bulan. Untuk ekspor ke Jepang 7 ton dan Malaysia 10 ton per minggu. Sedangkan produksi di Kabupaten Sumedang hanya bisa memenuhi 50 persen dari permintaan baik di domestik maupun ekspor

(10)

sehingga bisa menjadi peluang untuk menambah pendapatan daerah dan kesejahteraan petani menjadi meningkat.

Berkaitan dengan sumeberdaya manusia, penduduk Cilembu dan Nagarawangi bermata pencaharian sebagai petani yaitu 744 orang (15 dan 20 persen) dari Pegawai Negeri Sipil serta pegawai lainnya yang kurang dari 5 persen. Kelembagaan yang dimiliki Desa Cilembu yaitu dua kelompok tani yaitu Kelompok Tani Sawah Lega dan Harapan Mulya. Lembaga pemasaran ubi Cilembu terdiri dari petani – pedagang pengumpul – pedagang besar atau eksportir. Dengan adanya semua lembaga pemasaran terdapat di desa Cilembu bisa menjadikan informasi tentang harga maupun kualitas produk bisa lebih transparan. Sedangkan untuk indikator sumberdaya alam sangat mendukung dan cocok untuk usahatani ubi Cilembu, sehingga bisa menghasilkan ubi dengan kualitas yang terbaik.

Berdasarkan informasi, harga ubi Cilembu di tingkat petani adalah Rp 2.500,00 per kg, tengkulak Rp 5.000,00 per kg, dan di kios Rp 10.000,00 per kg.

Sedangkan ubi yang sudah dioven berkisar antara Rp 13.000,00 per kg. Di supermarket Jepang, ubi Cilembu dijual dengan harga Rp 75.000,00 per kg, sedangkan di Singapura dijual dengan harga Rp 150.000,00/kg.

Di tingkat pedagang pengumpul dilakukan grading menjadi 3 tingkatan berdasarkan berat diantaranya grade A yang memiliki berat 500 gr per buah dengan harga Rp 3.500,00 per kg, grade B 250 gr/buah dengan harga Rp 2.000,00 per kg dan grade C 125 gr per buah dengan harga Rp 1.000,00 per kg untuk pemasaran domestik, sedangkan untuk pemasaran ekspor ke Jepang memiliki berat antara grade A dan grade B, dengan kulit tanpa bercak, terhindar dari hama dan penyakit, berbentuk lurus, dan matang sedangkan untuk pemasaran ke Malaysia berbentuk umbi basah (segar), dilakukan grading berdasarkan ukuran S (170 gram) dengan harga Rp 5.000,00, L (300 gram), dan XL (500 gram) harganya Rp 7.500,00 (Lampiran 3). Perbedaan harga antara penjualan domestik dan ekspor, bisa menjadikan kesempatan kepada petani supaya lebih bisa mempertahankan kualitas produk sesuai dengan permintaan konsumen.

Adanya peluang dan kendala berdasarkan indikator utama tersebut bisa menentukan daya saing berbasis potensi daerah komoditas unggulan ubi jalar

(11)

Cilembu. Daya saing bisa dilihat dari keunggulan yang dimiliki baik komparatif maupun kompetitif dan pengaruh kebijakan suatu negara terhadap keberlanjutan pengusahaan ubi Cilembu baik insentif maupun disinsentif yang akan menentukan efektivitas, efisiensi dan kelayakan suatu usaha. Adapun perumusan masalah yang bisa dianalisis dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) pengusahaan ubi Cilembu di Kabupaten Sumedang?

2. Bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah terhadap daya saing pengusahaan ubi jalar?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis daya saing pengusahaan ubi Cilembu di Kabupaten Sumedang.

2. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap pengusahaan ubi Cilembu.

1.4Manfaat Penelitian

1. Petani lebih mengetahui keunggulan ubi Cilembu, bukan hanya dari produk tetapi pemasarannya.

2. Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menyusun strategi pengembangan budidaya ubi Cilembu agar lebih meningkatkan daya saing.

Gambar

Tabel  2.  Luas  Panen,  Produktivitas, dan Produksi  Tanaman  Ubi  Jalar  Provinsi Jawa Barat
Tabel  3.  Varietas  Unggul  Ubi  Jalar  yang  telah  di lepas oleh  Pemerintah Tahun 1977-2003
Tabel  4.  Luas  Panen, Produktivitas,  dan  Produksi  Ubi  Jalar  di  Kabupaten Sumedang Tahun 2010
Gambar 1. Indikator Utama atau Makro Penentu Daya Saing Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Dengan hasil penelitian ini dapat dilihat keakuratan diagnostik potong beku, sitologi imprint intraoperasi, dan gambaran USG pada pasien dengan diagnosa tumor ovarium untuk

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis menyarankan supaya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian ekstrak kulit buah manggis

Sebab mutu sendiri memilik pengertian yang berbeda-beda, di antaranya mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan atau keinginan (Deming dalam Rubaman, Maman. Mei, 2008), Ace

Cuplikan percakapan berikut sebagai contoh adanya penggunaan kode yang berwujud bahasa asing dalam percakapan novel Ney Dawai Cinta Biola karya Hadi S.. Arifin

kot ke pelaku pasar (Identifikasi Persoalan) Pembentukan lembaga khusus Penataan Terpadu Kawasan Arjuna sbd perwakilan stakeholder Persiapan Penilaian (Tahap Perencanaan)

Dentin reparatif adalah matriks dentin tersier yang disekresikan sel odontoblast like cell yang berasal dari sel mesenkim yang belum terdiferensiasi, me- rupakan

1) Mengembangkan kurikulum mata pelajaran IPS. a) Menelaah prinsip-prinsip pengembangan kurikulum IPS. b) Memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS.

Reaktivitas : Tidak ada data tes khusus yang berhubungan dengan reaktivitas tersedia untuk produk ini atau bahan bakunya... Stabilitas