• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Penggunaan Tapioka Sebagai Bahan Perekat Terhadap Sifat Fisik Wafer Ransum Komplit Berbasis Jerami Padi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Evaluasi Penggunaan Tapioka Sebagai Bahan Perekat Terhadap Sifat Fisik Wafer Ransum Komplit Berbasis Jerami Padi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

213 Evaluasi Penggunaan Tapioka Sebagai Bahan Perekat Terhadap Sifat Fisik Wafer Ransum Komplit Berbasis Jerami Padi

Anita Yuliasari

1

, Rasmi Murni

2*

, Suparjo

2

, Yatno

2

, Akmal

2

1 Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi

2 Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi

ABSTRAK

*Korespondensi Penulis e-mail :

[email protected]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui level terbaik penggunaan tepung ubi kayu pada wafer ransum komplit berbasis pelepah sawit (WRKPS) dinilai dari kualitas fisiknya. Perbandingan bahan pakan sumber serat dan konsentrat adalah 50:50. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu: WRKPS-3 (Ransum komplit menggunakan 3% tepung ubi kayu);

WRKPS-6 (Ransum komplit menggunakan 6% tepung ubi kayu); WRKPS-9 (Ransum komplit menggunakan 9% tepung ubi kayu); WRKPS-12 (Ransum komplit menggunakan 12% tepung ubi kayu) yang masing-masing diulang sebanyak 5 kali.

Peubah yang diamati yaitu: kadar air, kerapatan bahan, daya serap air dan berat jenis. Data dianalisis menggunakan Analisis Ragam (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan nilai tengah perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjut Polinomial Orthogonal (PO).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa level tepung ubi kayu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kerapatan bahan (kisaran nilai kerapatan 0,27-0,41 gr/cmᵌ), namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai kadar air, berat jenis dan daya serap air. Kisaran persentase kadar air adalah 37.36-38.02 %, berat jenis 0,92-0,91 g/ml dan daya serap air 185-174 %.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung ubi kayu sebanyak 12% sebagai perekat merupakan level terbaik pada pembuatan wafer ransum komplit berbasis pelepah sawit dinilai dari kualitas fisiknya

Kata kunci: tepung ubi kayu, kualitas fisik, wafer ransum komplit dan pelepah sawit

PENDAHULUAN

Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia, yang berperan penting dalam peningkatan produktivitas ternak. Produksi hijauan sangat tergantung pada musim. Pada musim hujan produksi hijauan melimpah, tetapi pada musim kemarau ketersediaan hijauan menjadi terbatas sehingga sering menghadapi masalah. Untuk itu perlu dicari solusi diantaranya dengan memanfaatkan hasil samping pertanian maupun perkebunan. Ternak ruminansia merupakan salah satu jenis ternak penghasil daging terbanyak dan tergolong dalam jenis ternak yang mampu mengkonsumsi pakan berserat tinggi. Salah satu limbah perkebunan berserat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah pelepah sawit. Salah satu hasil samping yang potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak adalah pelepah sawit (Elizabeth dan Ginting, 2003).

Luas tanaman perkebunan sawit di Provinsi Jambi pada tahun 2018 mencapai 907.10 Ha dengan total produksi kelapa sawit sebesar 203.680 Ton (Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi 2019). Dengan asumsi setiap hektar terdapat 130 pohon, dan setiap pohon dapat menghasilkan 22 - 26 pelepah/tahun dengan rataan berat pelepah dan daun sawit 4 - 6 kg/ pelepah (Rizali et al., 2018) maka diestimasi produksi pelepah sawit dalam satu hektar lahan sebesar 11.960kg.

Pelepah sawit juga mengandung zat makanan yang baik untuk ternak ruminansia yaitu bahan kering 21.68%, abu 4.09%, protein kasar 5.28%, lemak kasar 0.61%, serat kasar 39.85%, BETN 38.31 %, Neutral Detergent Fiber (NDF) 65.59 %, Acid Detergent Fiber (ADF) 52.72%, Hemiselulosa 12.87 %, Selulosa 27.79 %, dan Lignin 25.42 % (Imsya et al., 2014). Kelemahan pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan tunggal

(2)

214

adalah palatabilitas yang rendah dan kurangnya terpenuhi zat nutrisi bagi ternak yang mengkonsumsi. Untuk menghindari kemungkinan adanya pakan yang terbuang, banyaknya sisa serta untuk tujuan efisiensi dalam pemberian maka perlu dimanfaatkan teknologi pakan yaitu berupa pakan wafer.

Wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak hasil modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pencampuran (homogenisasi), pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentuhingga membentuk suatu pakan yang kompak. Bentuk wafer juga merupakan memiliki keuntungan dalam hal penanganan dan penyimpanan, dengan pencampuran bahan yang sesuai dengan kebutuhan ternak sehingga menjadi wafer pakan komplit (Purba et al., 2018).

Perekat adalah bahan baku yang berfungsi agar pakan menjadi lebih kompak dan stabil (Mulia et al., 2017). Tepung ubi kayu merupakan salah satu bahan yang potensial dijadikan perekat (Syamsu, 2007). Tepung ubi kayu memiliki kadar pati 63-71% (Koten, 2010) dan memiliki kadar amilosa sebesar 36% dan kadar amilopektin sebesar 51.95% (Pramesti et al., 2015). Sehingga tepung ubi kayu memiliki potensial sebagai bahan perekat dalam pembuatan wafer ransum komplit.

Sejauh ini penggunaan tepung ubi kayu sebagai bahan perekat belum diteliti, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penggunaan level tepung ubi kayu terbaik sebagai bahan perekat terhadap sifat fisik wafer ransum koplit komplit berbasis pelepah sawit.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Fapet Farm dan Laboratorium terpadu Fakultas Peternakan Universitas Jambi, dimulai dari tanggal 14 Juli 2020 sampai dengan tanggal 23 Oktober 2020.

Penelitian ini menggunakan limbah perkebunan yaitu: pelepah sawit sebagai sumber serat dan konsentrat yang digunakan yaitu jagung kuning, urea, dedak padi, mineral mix, bungkil kelapa, BIS, NaCl dan tepung ubi kayu.

Sedangkan peralatan untuk pembuatan wafer meliputi mesin giling, hammer mill, alat pencetak wafer, serbet, dandang pengukus, kompor gas, baskom, gelas ukur, oven 60ºC, nampan, timbangan, pisau, plastik, spidol, gunting, piring steroform dan dongkrak. Peralatan untuk analisis sifat fisik wafer meliputi timbangan analitik, gelas ukur, oven 105ºC, saringan, stopwatch, penggaris, cawan porselin, eksikator, penjepit.

Metode Penelitian

Pelepah sawit yang sudah dikumpulkan dicacah menggunakan mesin pencacah, kemudian dijemur dibawah sinar matahari selama 7 hari.

Setelah kering pelepah sawit digiling halus menggunakan hammer mill hingga berukuran sama. Kemudian siapkan dan timbang konsentrat maupun perekat sesuai dengan perlakuan. Bahan yang memiliki tekstur halus dan jumlah yang paling sedikit dicampur hingga merata, lalu bahan yang memiliki tekstur kasar dan jumlah yang lebih besar dimasukkan dan dicampur sedikit demi sedikit, lalu masukkan air 1:3 (1 ransum dan 3 air) dan aduk hingga homogen.

Bahan yang sudah homogen tersebut dikukus selama 20 menit, kemudian dicetak selama 10 menit. Kemudian keluarkan dan keringkan dalam oven 60˚C selama 24 jam, kemudian dilakukan pengujian sifat fisik wafer. Wafer disusun berdasarkan kebutuhan nutrien kambing Peranakan Etawah dengan bobot badan 20 kg dengan pertambahan bobot badan (PBB) rata-rata 50 gram/ekor/hari, konsumsi bahan kering 3% dari bobot badan dengan protein kasar (PK) 9,30% dan TDN 60% (Kearl, 1982).

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dilakukan yaitu:

WRKPS-3: Ransum komplit + 3% tepung ubi kayu WRKPS-6: Ransum komplit + 6% tepung ubi kayu WRKPS-9: Ransum komplit + 9% tepungubi kayu WRKPS-12:Ransum komplit +12% tepung ubi kayu

Tabel 1. Proporsi penggunaan bahan penyusun wafer ransum komplit pelepah sawit (WRKPS) (%)

Bahan Proporsi Penggunaan

WRKPS-3 WRKPS-6 WRKPS-9 WRKPS-12

Sumber serat

-Pelepah Sawit 50,00 50,00 50,00 50,00

Konsentrat

-Jagung giling 3,00 3,00 103,00 3,00

-Bungkil kelapa 3,00 9,00 16,00 24,00

-Dedak padi 3,00 3,00 3,00 3,00

-Mineral mix 1,00 1,00 1,00 1,00

-Urea 0,50 0,50 0,50 0,50

-NaCl 0,50 0,50 0,50 0,50

-BIS 36,00 27,00 17,00 6,00

-Tpg ubi kayu 3,00 6,00 9,00 12,00

Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00

(3)

215

Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah kerapatan bahan (Riswandi, 2017 dalam Trisyulianti et al., 2003), kadar air (AOAC, 2005), berat jenis (Nafisah, 2018), dan daya serap air (Yana et al., 2018).

Analisis Data

Data yang diperoleh setiap peubah yang diamati dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) sesuai rancangan penelitian. Apabila terdapat pengaruh nyata perlakuan terhadap peubah yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji Polinomial Orthogonal (Steel and Torrie, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kerapatan Bahan

Hasil analisis ragam ini menunjukan bahwa penggunaan berbagai level tepung ubi kayu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kerapatan bahan wafer ransum komplit. Nilai kerapatan bahan wafer ransum komplit pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Penggunaan level tepung ubi kayu 12%

menghasilkan nilai kerapatan yang paling tinggi dan pada level 3% menghasilkan nilai kerapatan terendah

Tabel 2. Rataan Kerapatan Bahan Wafer Ransum Komplit berbasis Pelepah Sawit

Perlakuan Kerapatan Bahan (gr/cm)

WRKPS-3 0,28 ± 0,01

WRKPS-6 0,33 ± 0,03

WRKPS-9 0,39 ± 0,06

WRKPS-12 0,42 ± 0.03

Hasil uji lanjut Polinomial Orthogonal (PO) menunjukkan bahwa persamaan yang didapat menggambarkan pengaruh tersebut berada pada persamaan linier yaitu Y= 0,2367 + 0,0157X

dengan nilai koefisisen determinasi R2 = 0,9779 dimana X adalah level tepung ubi kayu dan Y adalah nilai kerapatan. Berikut grafik menunjukkan nilai kerapatan bahan pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan level tepung ubi kayu terhadap kerapatan.

Hasil uji lanjut Polinomial Orthogonal (PO) menunjukkan hasil bahwa penggunaan level tepung ubi kayu sebagai perekat berpengaruh sangat nyata terhadap nilai kerapatan bahan dengan repon berupa linier yaitu terjadinya peningkatan, yang dimana semakin tinggi penggunaan level tepung ubi kayu maka menghasilkan nilai kerapatan bahan yang tinggi untuk wafer ransum komplit berbasis pelepah sawit.

Pada penggunaan level 12% tepung ubi kayu menghasilkan nilai kerapatan bahan sebesar 0.42 gr/cm³. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan (Trisyulianti. E. et al., 2003) yang menghasilkan rataan kerapatan berkisar antara 0.5-0.6 gr/cm³ yang menggunakan perekat tepung gaplek 5-10%. Tepung gaplek mampu memberikan kekompakkan pada wafer. Hal

ini diakrenakan tepung gaplek memiliki kadar pati 63-71% (Koten, 2010) dan memiliki kadar amilosa sebesar 36% dan kadar amilopektin sebesar 51.95% (Pramesti et al., 2015).

Kerapatan wafer mencerminkan ukuran kekompakan partikel penyusun bahan yang dibentuk. Kerapatan akan sangat tergantung pada kerapatan bahan baku yang digunakan, jumlah perekat serta besarnya tekanan kempa yang diberikan selama proses pembuatan wafer.

Kerapatan wafer akan menentukan tampilan fisik dan stabilitasnya (Syahrir et al., 2017). Wafer pakan yang mempunyai kerapatan tinggi akan memberikan tekstur yang padat dan keras sehingga mudah dalam penanganan baik penyimpanan maupun goncangan pada saat transportasi dan diperkirakan akan lebih tahan lama

(4)

216

dalam penyimpanan. Sebaliknya wafer pakan dengan kerapatan yang lebih rendah akan memperlihatkan bentuk wafer pakan yang tidak terlalu padat dan tekstur yang lebih lunak dan Penggunaan perekat gaplek baik dalam larutan maupun tepung sampai taraf 5% menghasilkan wafer ransum komplit dengan sifat fisik terbaik (Trisyulianti. E. et al., 2003).

Kadar Air

Hasil analisis ragam ini menunjukan bahwa penggunaan berbagai level tepung ubi kayu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar air wafer ransum komplit. Nilai kadar air wafer ransum komplit dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Kadar Air Wafer Ransum Komplit berbasis Pelepah Sawit

Perlakuan Kadar air (%)

WRKPS-3 37,37 ± 1,36

WRKPS-6 36,45 ± 1,36

WRKPS-9 37,93 ± 2,10

WRKPS-12 38,03 ± 1,77

Hasil analisis ragam menghasilkan nilai kadar air wafer yang relatif sama, nilai kadar air berkisar antara 36.45±1.36 sampai 38.03±1.77. Hal ini di pengaruhi oleh beberapa faktor yang sama di setiap perlakuan yaitu penambahan air sebanyak 1:3, ketebalan, kelembaban, dan suhu. Pakan yang memiliki kadar air terlalu tinggi kurang menguntungkan karena mudah ditumbuhi mikroba dan disukai serangga. Kadar air yang ideal untuk pakan kurang dari 14 %, hal ini menunjukkan pakan uji memiliki kualitas yang baik. Kandungan air mutlak diperlukan, akan tetapi dalam jumlah sedikit (Mulia et al., 2017). Kelembaban udara yang tidak stabil menyebabkan permukaan wafer menjadi gelap. Saat kelembaban relatif rendah maka cairan permukaan bahan akan banyak menguap (dehidrasi), sehingga pertumbuhan mikroba terhambat oleh dehidrasi dan permukaan bahan menjadi gelap (Retnani et al., 2009). Wafer yang disimpan semakin lama dan didukung dengan kenaikan kadar air diduga akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan mikroba semakin cepat (Triyanto et al., 2013).

Nilai nutrisi bahan pakan yang memiliki kadar air tinggi akan rendah dan daya simpannya relatif lebih singkat, tingginya kadar air menyebabkan bahan pakan akan mudah terserang

jamur dan menyebabkan rendahnya nilai nutrisi dan singkatnya daya simpan pakan sehingga kualitas pakan menurun dan dapat mengakibatkan keracunan bagi ternak (Yana et al., 2018).

Meningkatnya kadar air mengakibatkan pemuaian dari masing – masing partikel wafer ransum komplit dan melemahnya ikatan antar partikel, sehingga partikel – partikel wafer ransum komplit dapat membebaskan diri dari tekanan yang dialami pada waktu pengempaan, yang berakibat pada meningkatnya nilai daya serap airnya (Trisyulianti.

E. et al., 2003). Kelebihan air dalam pakan dapat menyebabkan pakan mudah rusak. Kenaikan atau penurunan kadar air juga dapat terjadi akibat pengaruh kelembaban dan suhu ruangan Perubahan kadar air sangat dipengaruhi kondisi lingkungan di sekitar penyimpanan dan biasanya peningkatan kadar air tersebut akan diikuti juga dengan peningkatan aktivitas air (Krisnan, 2008).

Berat Jenis

Hasil analisis ragam ini menunjukan bahwa penggunaan berbagai level tepung ubi kayu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat jenis wafer ransum komplit. Nilai berat jenis wafer ransum komplit pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Berat Jenis Wafer Ransum Komplit berbasis Pelepah Sawit

Perlakuan Berat Jenis (g/ml)

WRKPS-3 0,93 ± 0,04

WRKPS-6 0,93 ± 0,04

WRKPS-9 0,89 ± 0,10

WRKPS-12 0,91 ± 0,06

Hasil analisis ragam menghasilkan nilai berat jenis wafer yang relatif sama, nilai berat jenis berkisar antara 0.89±0.10 sampai 0.93±0.4. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan (Islami et al., 2018) yang menghasilkan rataan berat jenis berkisar antara 0.67-0.84 gr/ml yang menggunakan perekat molasses dan berbahan dasar rumput lapang. Berat jenis

memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan, disamping itu pula akan menentukan terhadap kerapatan tumpukan pakan (Krisnan, 2008).

Berat jenis wafer merupakan perbandingan berat wafer terhadap volume dan merupakan salah satu penentu kerapatan tumpukan. Wafer yang mempunyai berat jenis besar cenderung akan mudah terpisah atau kurang merekat. Faktor lain

(5)

217

yang berpengaruh adalah adanya perbedaan berat jenis yang cukup besar diantara partikel penyusun wafer (Islami et al., 2018). Hal ini dibuktikan oleh fakta dilapangan bahwa wafer ransum komplit yang dihasilkan untuk semua perlakuan menghasilkan wafer yang cukup baik.

Pada penelitian ini tidak ditemukan berat jenis yang besar menjadi mudah terpisah dari level tepung ubi kayu level 3% sampai 12% masih

menunjukkan kekompakan dan wafer tidak terpisah.

Daya Serap Air

Hasil analisis ragam ini menunjukan bahwa penggunaan berbagai level tepung ubi kayu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya serap air wafer ransum komplit. Nilai daya serap air wafer ransum komplit pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5

.

Tabel 5. Rataan Daya Serap Air Wafer Ransum Komplit berbasis Pelepah Sawit

Perlakuan Daya Serap Air (%)

WRKPS-3 185 ± 12,25

WRKPS-6 174 ± 17,10

WRKPS-9 174 ± 7,42

WRKPS-12 174 ± 10,83

Hasil analisis ragam menghasilkan nilai daya serap air yang relatif sama, nilai daya serap air berkisar antara 174±7.42 sampai 182±12.25.

Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan (Yana et al., 2018) yang menghasilkan rataan daya serap air berkisar antara 182.86-185.76. Daya serap air yang tinggi menyebabkan wafer cepat ditumbuhi mikroba dan cepat mengalami kerusakan. Daya serap air merupakan peubah yang menunjukkan besarnya kemampuan pakan wafer menarik air di sekelilingnya (kelembaban udara) yang berikatan dengan partikel bahan atau tertahan pada pori antara partikel bahan (Yana et al., 2018). Daya serap air berhubungan dengan kadar air yang dihasilkan. Wafer ransum komplit yang memiliki daya serap air yang tinggi akan membuat stabilitas dimensi wafer menjadi lunak dan cepat hancur jika terkena air sehingga disinyalir tidak tahan terhadap penyimpanan dalam kurun waktu yang lama (Islami et al., 2018). Kerusakan bahan pakan dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, ragi dan kapang, aktivitas enzim di dalam bahan pakan, serangga, parasit dan tikus, suhu pemanasan dan pendinginan, kadar air, udara, dan jangka waktu penyimpanan (Syananta et al., 2009).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung ubi kayu sebanyak 12 % sebagai perekat merupakan level terbaik pada pembuatan wafer ransum komplit berbasis pelepah sawit dinilai dari nilai kerapatan bahan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak dan Ibu Dosen yang telah banyak membimbing dan

memberi arahan, dan kepada teman tim penelitian yang telah membantu dalam kegiatan penelitian Teknologi Pakan Wafer Berbasis Pelepah Sawit ini.

DAFTAR PUSTAKA

AOAC. 2005. Official Method Of Analysis Of AOAC Internasional. 18th ed. AOAC International.

Gaithersburg, Maryland, USA.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. 2018. Luas Tanaman dan Produksi Perkebunan Menurut Jenis Tanaman. Badan Pusat Ststistik. Provinsi Jambi.

Elisabeth, J., dan S.P. Ginting. 2003. Pemanfaatan Hasil Samping Industri Kelapa Sawit Sebagai Bahan Pakan Ternak Sapi Potong, dalam Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu, 9-10

Ginting, E. 2008. Teknologi Penanganan Pascapanen dan Pengolahan Ubi kayu Menjadi Produk Antara untuk Mendukung Agroindustri.

Buletin Palawija No. 4. 2020

Imsya, A., E.B. Laconi, K.G. Wiryawan, dan Y.

Widyastuti. 2014. Biodegradasi Lignoselulosa Dengan Phanerochaete Chrysosporium Terhadap Perubahan Nilai Gizi Pelepah Sawit.

Jurnal Peternakakan Sriwijaya. Vol3 (2):p12–19.

Islami, R.Z., S. Nurjannah, I. Susilawati, H.K.

Mustafa, dan A. Rochana. 2018. Kualitas fisik wafer turiang padi yang dicampur dengan rumput lapang. Jurnal Ilmu Ternak. 18, 126–

130.

Kearl, L.C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. Utah State University. Logan, Utah

Koten, B.B. 2010. Perubahan Anti Nutrisi Pada Silase Buah Semu Jambu Mete Sebagai Pakan Dengan Menggunakan Berbagai Aras Tepung Gaplek dan Lama Pemeraman. Buletin Peternakan 34, 82-85.

(6)

218

Krisnan, R., dan S.P. Ginting. 2009. Penggunaan Solid Ex-Decanter Sebagai Perekat Pembuatan Pakan Komplit Berbentuk Pelet : Evaluasi Fisik Pakan Komplit Berbentuk Pelet, in: Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner.pp. 480–486.

Mulia, D.S., F. Wulandari, dan H. Maryanto. 2017.

Uji Fisik Pakan Ikan yang Menggunakan Binder Tepung Gaplek. Jurnal Riset Sains dan Teknolologi. 1, 37–44.

Nafisah, A. Sifat Fisik Dan Kimia Pollard Dan Dedak Padi Hasil Fraksinasi Menggunakan Pendekatan Bobot Molekul. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pramesti, H.A., K. Siadi, dan E. Cahyono. 2015.

Analisis Rasio Kadar Amilosa/Amilopektin Dalam Amilum Dari Beberapa Jenis Umbi. IJCS Indonesia. Jurnal Chemistry Scione. 4.

Purba, A.M.G.B., Yatno, dan R. Murni. 2018. Kadar Bahan Kering Dan Kualitas Fisik Ransum Komplit Berbasis Limbah Sawi Pada Lama Waktu Penyimpanan yang Berbeda. 227–239 Retnani, Y., W. Widiarti, I. Amiroh, L. Hermawati,

dan K.B. Satoto. 2009. Daya Simpan dan Palatabilitas Wafer Ransum Komplit Pucuk dan Ampas Tebu untukSapi Pedet. Media Peternak.

32, 130–136.

Riswandi, A. Imsya, S. Sandi, dan A.S.S. Putra.

2017. Evaluasi Kualitas Fisik Biscuit Berbahan Dasar Rumput Kumpai Minyak Dengan Level Legume Rawa (Neptunia Oleracea Lour) Yang Berbeda. Jurnal Peternakan Sriwijaya. 6(1):1- 11.

Steel. R.G. dan H.J. Torrie. 1989. Prinsip Dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan Biometric Ahli Bahasa B. Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Syahrir, S., M.M. Mide, dan Harfiah. 2017. Evaluasi Fisik Ransum Lengkap Berbentuk Wafer Bahan Utama Jerami Jagung dan Biomassa Murbei.

JITP 5, 90–96.

Trisyulianti, E., Suryahadi, dan V.N. Rakhma. 2003.

Pengaruh Penggunaan Molases dan Tepung Gaplek Sebagai Bahan Perekat Terhadap Sifat Wafer Ransum Komplit. Media Peternakan.

26(2):35-39.

Triyanto, E., W.H.E. Prasetiyono, dan S.

Mukodiningsih. 2013. Pengaruh Bahan Pengemas dan Lama Simpan Terhadap Kualitas Fisik Dan Kimia Wafer Pakan Komplit Berbasis Limbah Agroindustri. Animal Agricultural. 2, 400–409.

Yana, S., Zairiful, Y. Priabudiman, dan I. Panjaitan.

2018. Karakteristik Fisik Pakan Wafer Berbasis Bungkil Inti Sawit, in: Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian.

pp. 401–404.

Gambar

Tabel 2. Rataan Kerapatan Bahan Wafer Ransum Komplit berbasis Pelepah Sawit

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, pada level sistem yaitu intervensi pada pengaturan program kerja dan kebijakan dalam sistem pemerintah daerah sehingga dapat mendukung pencapaian tujuan yang

kinerja guru pada siklus 2 yakni 85,5%. Hasil ini sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan yaitu persentase rata – rata kinerja guru kelas III,

Pesan yang ingin disampaikan dalam karya musik Parikarma ini adalah membuka cara pandang tentang pemahaman bahwa dengan karya komposisi ini, penggabungan kedua mantra

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh economic value added, komposisi dewan komisaris independen dan return on assets terhadap nilai perusahaan pada

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu wilayah di Pesisir Utara Jawa Barat yang mengalami kerusakan paling parah diantara seluruh kabupaten di wilayah pesisir Utara

Cik Puan Tipah kemudiannya terkenangkan anaknya Rahim kerana kerap menulis surat dari London tentang kemerosotan moral di seluruh dunia oleh manusia pada zaman kini

diketahui kualitas dari daging sapi, makin lama penyimpanan makin sedikit jumlah pertumbuhan jumlah koloni bakteri, suhu yang dipakai untuk tahap penyimpanan adalah

penelitian ditemukan bahwa: (1) proporsi jumlah siswa SMA:SMK pada tahun 2014 adalah 51%:49%; (2) peningkatan jumlah siswa SMK tidak mendukung pertumbuhan ekonomi; (3)